KIROTO BOSO DJOWO

0

KIROTO BOSO DJOWO 





PERIBAHASA JAWA

1.     Adhang-adhang tetese embun.(Berharap sesuatu dengan hasil apa adanya. Seperti berharap pada tetes embun)

2.     Adigang, adigung, adiguna. (Mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kepintarannya)

3.     Ana dina, ana upa. (Tiap perjuangan selalu ada hasil yang nyata)

4.     Becik ketitik, ala ketara. (Perbuatan baik akan selalu dikenali, dan perbuatan buruk nantinya juga akan diketahui juga)

5.     Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh. (Upaya yang dilakukan perlahan, tapi akhirnya tujuannya akan tercapai)

6.     Kena iwake aja nganti buthek banyune. (Berusahalah mencapai tujuan tanpa menimbulkan kerusakan)

7.     Ngundhuh wohing pakerti. (Apa pun yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang sepadan)

8.     Sabar sareh mesthi bakal pikoleh. (Pekerjaan apa pun jangan dilakukan dengan tergesa-gesa agar berhasil)

9.     Sepi ing pamrih, rame ing gawe. (Melakukan pekerjaan tanpa pamrih)

10.                        Sluman slumun slamet. (Biarpun kurang hati-hati tapi masih diberi keselamatan)

11.                        Dhemit ora ndulit, setan ora doyan. (Berharap doa dan harapan agar selalu diberi keselamatan, tidak ada suatu halangan dan rintangan)

12.                        Beras wutah arang bali menyang takere. (Menggambarkan sesuatu yang sudah rusak tidak akan bisa kembali sama seperti semula)

13.                        Cuplak andheng-andheng, yen ora pernah panggonane bakal disingkirake. (Orang yang menyebabkan keburukan maka semua kebaikannya akan terhapus)

14.                        Dadiya banyu emoh nyawuk, dadiya godhong emoh nyuwek, dadiyo suket emoh nyenggut. (Menggambarkan orang yang saking jengkelnya hingga tidak mau bertegur sapa lagi)

15.                        Dandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dandhang. (Perkara yang buruk dianggap baik, sedangkan yang baik dianggap buruk)

16.                        Gupak pulute ora mangan nangkane. (Sudah ikut berjuang susah payah, tapi tidak ikut menikmati hasilnya)

17.                        Jagakake endhoge si blorok. (Berharap pada sesuatu yang belum pasti)

18.                        Jalma angkara mati murka. (Mendapat kesulitan karena kemarahannya sendiri)

19.                        Kakehan gludug kurang udan. (Terlalu banyak bicara namun tidak pernah memberi bukti)

20.                        Kebat kliwat, gancang pincang. (Tindakan yang tergesa-gesa pasti tidak sempurna)

21.                        Kendel ngringkel, dhadang ora godak. (Mengaku berani dan pintar, kenyataannya penakut dan bodoh)

22.                        Kumenthus ora pecus. (Menggambarkan orang yang banyak membual tanpa bukti dan perbuatan yang becus)

23.                        Lambe satumang kari samerang. (Orang yang sudah berkali-kali dinasihati tapi tak juga didengarkan)

24.                        Menthung koja kena sembagine. (Menggambarkan seseorang yang merasa telah memperdayai namun sebenarnya dia sediri yang telah terpedaya)

25.                        Milih-milih tebu oleh boleng. (Terlalu banyak memilih tapi pada akhirnya malah mendapatkan yang tidak baik)

26.                        Nabok nyilih tangan. (Menggambarkan orang yang tidak berani menghadapi musuhnya dan meminta bantuan orang lain diam-diam.)

27.                        Ngajari bebek nglangi. (Pekerjaan yang tidak ada manfaatnya)

28.                        Obah ngarep kobet mburi. (Segala tindakan pemimpin selalu jadi anak buahnya)

29.                        Pitik trondhol diumbar ing padaringan.(Orang yang diberi kepercayaan barang berharga, pada akhirnya hanya bisa menghabiskannya)

30.                        Sembur-sembur adus, siram-siram bayem.(Sebuah tujuan yang terlaksana karena mendapat dukungan banyak orang)

31.                        Bathok bolu isi madu. (Menggambarkan orang dari kalangan bawah tapi kaya ilmu pengetahuan)

32.                        Busuk ketekuk, pinter keblinger. (Orang bodoh ataupun pandai suatu saat sama-sama akan mengalami keusulitan)

33.                        Desa mawa cara, negara mawa tata. (Setiap daerah memiliki adat istiadat atau aturan yang berbeda)

34.                        Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan. (Meskipun tidak ada ikatan darah, namun terasa sudah seperti bagian dari keluarga, yang jika ada duka, ikut merasa sedih dan kehilangan)

35.                        Kacang ora ninggal lanjaran. (Kebiasaan anak selalu meniru dari orang tuanya)

36.                        Kebo mulih menyang kandhange. (Sejauh-jauh seseorang pergi, akhirnya akan pulang ke kampung halamannya)

37.                        Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang. (Menemui musibah yang tidak disangka-sangka.)

38.                         Mikul dhuwur mendhem jero. (Seorang anak yang menjunjung tinggi derajat orang tua.)

39.                        Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. (Hidup rukun pasti akan hidup sentosa, sebaliknya jika selalu bertikai pasti akan bercerai)

40.                        Tunggak jarak mrajak tunggak jati mati.(Perkara jelek merajalela sedangkan perkara baik tinggal sedikit)

 

Pepatah  Jawa penuh makna.

1.     Urip iku urup. (Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Sekecil apa pun manfaat yang kita berikan, jangan sampai menjadi orang yang meresahkan masyarakat)

2.     Ngono ya ngono ning aja ngono. (Boleh saja engkau berperilaku sekehendakmu, namun jangan sampai melanggar nilai atau norma sehingga merugikan orang lain)

3.     Sapa sira sapa ingsun. (Janganlah menggurui, memerintah, serta mencampuri urusan orang lain tanpa izin, apalagi memaksakan kehendak, biarlah masing-masing memiliki prinsip, pandangan, keyakinan serta pemikiran)

4.     Surga manut neroko katut. (Kehidupan seorang istri ditentukan dari baik-buruknya agama suami)

5.     Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman."(Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut-kejut, jangan manja)

6.     Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka. (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka)

7.     Mangan ora mangan sing penting ngumpul. (Makan tidak makan yang terpenting adalah bisa berkumpul)

8.     Anak polah bapa kepradah. (Tingkah laku anak mempunyai imbas bagi orang tua, tingkah laku anak yang buruk orang tua ikut terdampak buruk, begitu pula sebaliknya, jika perilaku anak baik, orang tua pun akan ikut terdampak baik)

9.     Busuk ketekuk, pinter keblinger. (Orang bodoh atau pandai suatu saat sama-sama akan mengalami kesulitan)

10.                        Tak kiro lali bales, tibake wes males. (Aku pikir lupa membalas, ternyata udah malas)

11.                        Dandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dandhang. (Perkara yang buruk dianggap baik, sedangkan yang baik dianggap buruk)

12.                        Bibit, bebet, bobot. (Menilai kualitas berdasarkan asal muasal, peranan, dan kiprah yang telah diperbuat)

13.                        Dhuwur wekasane, endhek wiwitane. (Kesengsaraan yang membuahkan kemuliaan)

14.                        Diobong ora kobong, disiram ora teles. (Menjadi pribadi yang ulet, tekun, tangguh menghadapi segala ujian dan rintangan, hingga berhasil merengkuh kemuliaan serta kejayaan)

15.                        Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. (Terjadinya dirimu karena diciptakannya ibu bapakmu sehingga kedua orang tua harus dimuliakan)

16.                        Jaman iku owah gingsir. (Ruang, waktu, serta zaman akan selalu dinamis dan berubah)

17.                        Kaya banyu karo lenga. (Tidak pernah rukun ibarat air dan minyak)

18.                        Nguyahi banyu segara. (Melakukan suatu perbuatan yang sia-sia belaka, ibarat menggarami lautan)

19.                        Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. (Hidup itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan)

20.                        Manunggaling kawula gusti. (Manunggalnya atau bersatunya antara kawula (hamba) dengan sifat-sifat Tuhannya)

21.                        Bedo neng lambe bedo neng ati. (Lain di mulut lain di hati)

22.                        Atose watu akik isih kalah karo atose omonganmu. (Kerasnya batu akik masih kalah dengan omonganmmu)

23.                        Wani ngalah, luhur wekasane. (Berani mengalah demi kepentingan bersama adalah sikap yang luhur. Begitulah watak kesatria yang berjiwa besar dan lapang dada)

24.                        Wani silit, wedi rai. (Seorang pengecut yang hanya berani di belakang layar, namun takut ketika behadapan secara langsung)

25.                        Asu rebutan balung. (Manusia berkonflik untuk memperebutkan suatu hal yang sifatnya sepele atau remeh temeh)

26.                        Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan Yang Maha Adil memberikan anugerah yang adil kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya)

27.                        Kebo nyusu gudel.(Kaum tua menimba ilmu atau berguru kepada kaum muda)

28.                        Crah agawe bubrah.(Pertentangan atau konflik menyebabkan perpecahan/kerusakan)

29.                        Krido lumahing asto.(Hamba yang mengemis dan peminta-minta)

30.                        Kutuk marani sunduk.(Mendekati mara bahaya)

31.                        Lamun sira durung wikan alamira pribadi, mara takona marang wong kang wus wikan.(Jikalau engkau belum memahami alam pribadimu, hendaknya engkau bertanya kepada yang telah memahaminya)

32.                        Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran.(Manusia itu memiliki sifat Tuhan)

33.                        Yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi.(Jadilah engkau pribadi yang mempunyai prinsip, tegas, dan tidak ragu ragu)

34.                        Kuat lakoni, ora kuat tinggal ngopi.(Kuat dilakukan, kalau tidak kuat ditinggal ngopi)

35.                        Mundur wae saingane konco dewe.(Mundur aja saingannya teman sendiri)

36.                        Ngono ya ngono ning aja ngono.(Boleh saja engkau berperilaku sekehendakmu, namun jangan sampai melanggar nilai atau norma sehingga merugikan orang lain)

37.                        Jenenge pasangan, yen ora pas yo mung dadi angan.(Namanya pasangan, kalau enggak pas yang cuma jadi angan)

38.                        Manungsa mung ngunduh wohing pakarti. (Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri)

39.                        Sak apik-apike wong yen awehi pitulung kanthi cara dedemitan. (Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi)

40.                        Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu. (Hidup itu terus berjalan, bersamaan dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, biar nasibmu baik)

41.                        Sabar iku ingaran mustikaning laku. (Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yang sangat indah dalam sebuah kehidupan)

42.                        Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa. (Jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa)

43.                        Yen urip mung isine isih nuruti nepsu, sing jenenge mulya mesti soyo angel ketemu. (Jika hidup masih dipenuhi dengan nafsu untuk bersenang-senang, yang namanya kemuliaan hidup akan semakin sulit ditemukan)

44.                        Aja mbedakake marang sak sapadha-pada. (Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia)

45.                        Ngapusi kui hakmu. Kewajibanku mung etok-etok ora ngerti yen mbok apusi. (Berbohong itu hakmu. Kewajibanku hanya pura-pura tidak tahu kalau kamu berbohong)

46.                        Ambeg utomo, andhap asor. (Selalu menjadi yang utama tapi selalu rendah hati)

47.                         Witing tresno jalaran soko kulino. Witing mulyo jalaran wani rekoso. (Bahwa cinta itu tumbuh lantaran ada kebiasaan, kemakmuran itu timbul karena berani bersusah dahulu)

48.                        Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit. (Dosa yang paling menyedihkan adalah pada mengeluh tidak punya duit)

49.                        Uripmu koyo wit gedhang duwe jantung tapi ora duwe ati. (Hidupmu seperti pohon pisang, punya jantung tapi tak punya hati)

50.                        Nek dipikir suwi suwi iku loro, nek dirsake yo tambah loro, loro tambah loro, papat. (Kalau dipikir lama-lama sakit, kalau dirasakan tambah sakit, dua tambah dua, empat)

51.                        Nek ngomong ojo manis-manis, mundak cangkeme dirubung semut. (Kalau bicara jangan manis-manis, nanti mulutnya diserbu semut)

52.                        Kadang mripat iso salah ndelok, kuping iso salah krungu, lambe iso salah ngomong, tapi ati ora bakal iso diapusi. (Terkadang mata bisa salah melihat, telinga bisa salah mendengar, mulut bisa salah mengucap, tapi hati tak bisa dibohongi dan membohongi)

53.                        Sing wis lunga lalekno, sing durung teko entenono, sing wis ono syukurono. (Yang sudah pergi lupakanlah, yang belum datang tunggulah, dan yang sudah ada syukurilah)

54.                        Waktu adalah uang. Yen kancamu mbok jak dolan raono wektu, brarti wonge lagi ra duwe duit. (Waktu adalah uang. Kalau temanmu tidak ada waktu untuk diajak jalan, artinya ia sedang tidak punya uang)

55.                        Niat kerjo, ora golek perkoro. Niat golek rejeki, ora golek rai. Ora balapan, opo maneh ugal-ugalan. (Niat bekerja, bukan cari perkara. Niat mencari rejeki, bukan cari perhatian belaka. Bukan balapan, apalagi ugal-ugalan)

56.                        Kacang iku gurih, tapi nek dikacangin iku perih. (Kacang itu gurih, tapi kalau dikacangin itu perih)

57.                        Gusti yen arek iku jodohku tulung cedakaken, yen mboten jodohku tulung jodohaken. (Tuhan jika orang itu adalah jodohku tolong dekatkanlah, dan jika bukan tolong jodohkanlah)

58.                        Akeh manungsa ngrasakaken tresna, tapi lalai lan ora kenal opo kui hakekate atresna. (Banyak manusia merasakan cinta, namun mereka lupa tidak mengenal hakikat cinta sebenarnya)

59.                        Uwong duwe pacar iku kudu sabar ambek pasangane. Opo meneh sing gak duwe. (Orang yang punya pacar itu haruslah bersabar dengan pasangan yang dimilikinya. Apalagi yang gak punya)

60.                        Iso nembang gak iso nyuling, iso nyawang gak iso nyanding. (Bisa nyanyi tidak bisa bermain seruling, bisa melihat tidak bisa mendampingi)

61.                        Arek lanang iku kuoso milih, arek wadon kuoso nolak. (Anak laki-laku bebas memilih, anak perempuan bebas menolak)

62.                        Ben akhire ora kecewa, dewe kudu ngerti kapan wektune berharap lan kapan wektune kudu mandeg. (Agar akhirnya tidak kecewa, kita harus mengerti kapan waktunya berharap dan kapan waktunya harus berhenti)

63.                        Move on kuwi dudu berusaha nglalekke ya, tapi ngikhlaske lan berusaha ngentukke sing luwih apik luwih seko sing mbiyen-mbiyen. (Move on itu bukan berusaha melupakan ya, tapi mengikhlaskan dan berusaha mendapatkan yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya)

64.                        Jarene wes ikhlas de'e karo sing liyo, kok iseh ngomong 'Nek Tuhan ra bakal mbales, karma sing mbales.' Mbok wes meneng wae luwih apik. (Katanya sudah ikhlas dia dengan yang lain, kok masih bilang 'Kalau Tuhan nggak akan membalas, karma yang balas.' Udah diam aja lebih baik)

65.                        Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui. (Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama)

 

Peribahasa Jawa, Nasihat Bijak dan Pesan Positif

1.     Ana dina, ana upa. (Ada hari, ada nasi). Selama orang mau bekerja dengan tekun pasti akan mendapatkan sesuap nasi (rezeki). Peribahasa yang mirip yaitu : Ora obah ora mamah (tak mau bergerak, bekerja, tak memperoleh makan). Ini menjadi semboyan bagi orang kecil menyemangati dirinya untuk bekerja.

2.     Kebo gupak ajak-ajak. (Kerbau penuh lumpur mengajak kotor yang bersentuhan dengannya). Ungkapan ini merupakan peringatan bahwa orang yang yang mempunyai sifat dan perbuatan buruk (kotor) cenderung suka mengajak (memengaruhi) orang lain mengikuti perbuatannya. Oleh karena itu, jauhilah orang seperti itu atau jangan berdekatan dengannya.

3.     Ngundhuh wohing pakerti. (Memetik buah perbuatan sendiri). Sebagaimana petani ketika menanam padi, pada saatnya nanti akan menuai padi, bukan jagung. Ini merupakan kiasan untuk orang yang melakukan perbuatan buruk pasti akan memperoleh keburukan pula di kemudian hari.

4.     Witing tresna jalaran saka kana. (Awal cinta karena biasa berdekatan). Peringatan bagi laki-laki maupun perempuan agar berhati-hati dalam berteman, karena kedekatan (keakraban) dapat menumbuhkan cinta.

5.     Anak polah, bapa kepradhah. (Anak meminta, bapak meluluskannya). Ini merupakan peringatan bagi orang tua agar bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya. Orang tua harus mempertimbangkan dengan cermat permintaan si anak, mengenai baik-buruk dan manfaatnya, agar tidak menimbulkan permasalahan dalam keluarga.

6.     Nabok nyilih tangan. (Memukul pinjam tangan orang lain). Kiasan terhadap orang licik yang tidak berani menghadapi musuhnya secara terbuka, namun meminta tolong (bantuan) orang lain dengan sembunyi-sembunyi.

7.     Kekudhung walulang macan. (Berkerudung kulit harimau). Gambaran orang yang berusaha mencapai keinginannya dengan menggunakan pengaruh dari penguasa atau orang yang ditakuti masyarakat.

8.     Becik ketitik, ala ketara. (Baik akan terbukti, diakui, buruk akan kelihatan sendiri). Anjuran agar siapa pun tidak takut berbuat baik. Meski awalnya belum kelihatan, pada saatnya akan menemukan makna dan dihargai. Dan jika berbuat buruk, sepandai-pandainya menutupi akhirnya akan ketahuan juga.

9.     Emban cindhe, emban siladan. (Menggendhong dengan selendang, menggendong dengan rautan bambu). Nasihat yang kebanyakan ditujukan pada orang tua (penguasa) agar tidak membeda-bedakan perhatiannya terhadap anak atau rakyat (bawahannya). Yang disukai jangan lantas diberi kemudahan, sementara yang tidak disukai terus-menerus disakiti (dipersulit hidupnya).

10.                        Kegedhen empyak kurang cagak. (Kebesaran atap kurang tiang). Gambaran dari orang yang berbuat sesuatu melebihi kemampuannya. Dengan memaksakan diri, sebagaimana dikiaskan rumah yang atapnya terlampau besar (lebar) dengan sedikit tiang, besar kemungkinan rumah (cita-citanya) tidak dapat didirikan (terwujud). Misalnya, terwujud (rumah dapat berdiri), konstruksinya akan rapuh sehingga mudah roboh dan akan menimbulkan masalah baru.

11.                        Dudu sanak dudu kadang, yen mati melu kelangan. (Bukan saudara bukan kerabat, kalau mati ikut kehilangan). Ungkapan terhadap jasa seseorang yang cukup besar bagi masyarakat sehingga ketika yang bersangkutan meninggal dunia, semua orang akan merasa kehilangan.

12.                        Kesandhung ing rata, kebentus ing tawang. (Tersandung di tempat yang rata, terbentur ke langit). Suatu kejadian yang jarang  terjadi. Bagaimana mungkin di tempat rata orang bisa tersandung dan kepala terbentur ke langit? Jika hal itu terjadi dikarenakan kurang hati-hati dan ceroboh. Ini merupakan peringatan agar orang selalu waspada dan berhati-hati dalam berbuat sesuatu.

13.                        Janma tan kena ingina. (Manusia jangan dihina). Peringatan bahwa orang bisa saja berbeda antara isi dan penampilannya. Jika dilihat dari penampilannya mungkin akan keliru karena banyak orang suka menyembunyikan (menyimpan) kemampuan yang jauh berbeda dengan apa yang kelihatan.

14.                        Kaya kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange. (Seperti sungai kehilangan lubuk, pasar kehilangan gema). Gambaran situasi dan kondisi zaman ketika adat kebiasaan serta tradisi mulai terkikis dan berganti dengan nilai-nilai baru yang belum sepenuhnya dimengerti oleh masyarakat.

15.                        Utha-uthu nggoleki selane garu. (Ke sana ke mari mencari celah sawah yang dibajak). Semangat seseorang yang terus berjuang tanpa lelah dan tidak malu dalam usaha mencari nafkah lewat pekerjaan apa pun yang ada di sekitarnya.

16.                        Mburu uceng kelangan deleg. (Mengejar ikan kecil, uceng, kehilangan tongkat untuk menyeberangi sungai). Perumpamaan terhadap usaha memperoleh hasil yang relatif kecil dengan mengabaikan usaha lain yang telah dijalankan, akhirnya justru rusak.

17.                        Sadawa-dawane lurung isih dawa gurung. (Sepanjang-panjangnya lorong, masih lebih panjang kerongkongan). Manusia suka menyebarkan informasi (berita) dari mulut ke mulut hingga dalam waktu singkat cepat menyebar ke berbagai kalangan.

18.                        Kaya suruh lumah-kurebe beda, nanging yen gineget padha rasane. (Seperti daun sirih, warna atas dan bawahnya beda, tapi kalau digigit sama rasanya). Misalnya, penilaian terhadap Belanda dan Jepang. Meski yang satu dari Eropa dan yang lain dari Asia, dulu tujuan datang ke Indonesia adalah sama, yaitu menjajah.

19.                        Ngelmu iku kelakone kanthi laku. (Menguasai ilmu itu tercapainya lewat proses, perjalanan, lahir maupun batin). Menurut pandangan Jawa, ngelmu (menjadikan ilmu itu perilaku) penyerapannya memerlukan kekuatan indra batin serta penghayatan pribadi, bukan dengan aktivitas otak atau pikiran saja.

 

Pepatah Jawa Bijak

1.     Anak polah bapa kepradah. Pepatah Jawa ini menceritakan tentang tingkah laku anak yang akan berimbas kepada orang tua. Jika akan bertingkah buruk, maka orang tua akan terlihat buruk. Begitu pun sebaliknya, jika anak berperilaku baik, watak orang tua juga terlihat baik.

2.     Asu gedhe menang kerahe. Singkatnya Paribasan Jawa ini berarti, “Kuat menindas yang lemah. Orang-orang yang berposisi tinggi cenderung menekan mereka yang berdiam di bawahnya. Ini merupakan tabiat buruk yang selalu diwanti-wanti oleh sesepuh zaman dulu.

3.     Asu rebutan balung. Kata-kata bijak Jawa ini berisi tentang manusia yang mempermasalahkan isu sepele. Seperti seekor anjing yang rebutan tulang, sebenarnya anjing tersebut masih bisa mencari tulang lain tanpa harus berkelahi.

4.     Bener saka kang Kuwasa iku ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan bener kang ora cocok karo benering Pangeran“ Menurut pepatah Jawa ini, ada dua jenis kebenaran di alam semesta. Kedua kebenaran itu adalah satu yang sejalan dengan ajaran Tuhan dan satu yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Bagi mereka yang selaras dengan ajaran Tuhan, mereka berada di jalan yang benar. Sementara itu, terkutuklah mereka yang menentang ajaran Tuhan, karena mereka berjalan di jalan penuh dosa.

5.     Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan. Semua ajaran-ajaran yang dibagikan oleh Tuhan tidak bisa dilanggar. Pasalnya, ajaran tersebut tidak bersifat angkara dan merugikan bersama.

6.     Bibit, Bebet, Bobot. Kamu pasti sudah sering mendengar Paribasan Jawa ini. Artinya sederhana, yaitu menilai orang dari watak, asal muasal, dan kiprah yang telah diperbuat orang .

7.     Cakra manggilingan. Menurut pepatah Jawa ini, kehidupan itu bersifat dinamis layaknya roda yang berputar. Dalam arti lain, pepatahnya sejalan dengan peribahasa tidak tinggi ketika dipuji, tidak jatuh ketika dimaki. Semua orang harus tetap menjalani hidup selaras dengan ajaran Tuhan.

8.     Dhemit ora ndulit, setan ora doyan. Hidup tidak selamanya susah. Semua orang bisa lepas dari mara bahaya.

9.     Diobong ora kobong, disiram ora teles. Paribasan Jawa ini mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah. Semua orang harus tekun dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup. Dengan begitu, mereka akan diberikan kejayaan di masa depan.

10.                         Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. Muliakanlah orang tuamu. Pepatah ini mengajarkan kita bahwa orang tua harus dihormati karena secara tidak langsung kita diciptakan oleh mereka.

11.                        Gusti Allah mboten sare. Secara harfiah, pepatah ini berarti, “Tuhan tidak pernah tidur. Artinya, semua perbuatan yang kita lakukan dibumi tidak pernah lepas dari mata Sang Kuasa. Semuanya pasti ada balasan, baik atau buruk.

12.                        Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi Kuwasa. Manusia jangan sampai terkecoh dengan dua jenis kebenaran. Pasalnya, menurut Paribasan Jawa ini, ada 2 jenis kebenaran di dunia, yaitu dari Tuhan dan dari orang berkuasa. Kita harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk lambang kebenaran pepatah jawa.

13.                        ng ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Seorang pemimpin harus bijak dan berjiwa kesatria untuk para pengikutnya. Mereka harus bisa menjadi teladan dan contoh yang menggerakkan hati dan membangun kekuatan di kalangan masyarakat.

14.                        Iro yudho wicaksono. Pepatah ini disebutkan pada mereka yang pemberani. Artinya tidak jauh dari seorang kesatria yang membela kebenaran dan menegakkan hukum berlandaskan prinsip kebijaksanaan.

15.                        Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungke kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-isini. Jangan pernah mengagungkan kekayaan di dunia karena tidak ada satu pun yang akan kita bawa ke liang kubur. Harta dan derajat tidak berarti kalau kita tidak memiliki sifat yang baik di mata Tuhan.

16.                        Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh. Arti peribahasa ini sama seperti berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Semua upaya yang dilakukan secara perlahan tetapi pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan.

17.                        Becik ketitik, ala ketara. Jangan sungkan berbuat baik, karena semua perbuatan baik pasti dikenali oleh Tuhan. Begitu juga sebaiknya, semua tabiat dan niat buruk akan diketahui dan dinilai Tuhan.

18.                        Sabar sareh mesthi bakal pikoleh. Pepatah Jawa ini merupakan kebalikan dari, “Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh. Menurut pepatah ini, pekerjaan yang dilakukan secara tergesa-gesa tidak akan membuahkan hasil. Hanya akan ada masalah yang menunggu kita di akhir upaya.

19.                        Cuplak andheng-andheng, yen ora pernah panggonane bakal disingkirake. Masyarakat Jawa terkenal dengan wataknya yang lembut dan bijaksana. Watak tersebut merupakan hasil dari ajaran Paribasan Jawa ini. Arti dari pepatah ini adalah semua orang yang menyebabkan keburukan, kebaikan dan pahalanya akan dihapus oleh Tuhan.

20.                         Kebo kabotan sungu. Pepatah Jawa berikutnya menjelaskan tentang orang yang susah bersyukur karena banyak beban hidup. Semua cobaan yang kita hadapi selama hidup merupakan ujian dari Yang Maha Kuasa. Orang yang tidak bijak akan melihatnya sebagai kesulitan dan beban hidup, sementara yang bertabiat baik akan bersyukur.

21.                        Ketemu Gusti iku lamun sira tansah eling. Salah satu cara mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa adalah dengan mengingat-Nya.Tuhan ada pada setiap langkah manusia dan Ia juga hadir dalam setiap denyut nadi kita.

22.                        Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kalanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. Artinya, “Jikalau engkau telah memahami alam pribadimu, alam abadi itu pun akan menjadi dekat. Pepatah ini mengingatkan kita untuk selalu dekat dengan jiwa dan rohani kita.

23.                        Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Arti inti dari Paribasan Jawa berikutnya ini adalah menyerbu tanpa pasukan dan menang tanpa merendahkan lawan. Ini merupakan sifat seorang kesatria yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa pada zaman dahulu kala.

24.                        Pangeran iku bisa ngowahi kahanan iku wae tan kena kinaya ngapa. Tuhan bisa mengubah apa saja sesuai dengan kemauan-Nya. Maka dari itu, janganlah kita bangga dengan harta dan jabatan di bumi karena itu bisa langsung diambil oleh Tuhan keesokan harinya.

25.                        Wani ngalah, luhur wekasane. Orang yang baik adalah orang yang berani mengalah demi kepentingan bersama. Kita diajarkan untuk tidak egois dalam menjalani hidup.

 

Falsafah Jawa tentang Keluarga

1.     Kacang manut lanjaran. Anak akan mengamati, meniru, serta mengikuti perilaku orang tuanya. Karena itu, orang tua harus selalu bersikap baik guna memberi contoh budi pekerti dan sopan santun pada anaknya.

2.     Mikul dhuwur, mendhem jero. Anak perlu menjunjung tinggi kebaikan orang tua serta mengubur dalam-dalam keburukan orang tua.

3.     Mangan ora mangan sing penting ngumpul. Meski merantau demi mencari kehidupan yang lebih baik penting, keluarga tidak boleh begitu saja dilupakan. Tetap ingatlah keluarga kita, karena keluarga adalah elemen penting dalam hidup kita dan merupakan tempat kita berasal.

4.     Anak polah, bapak kepradhah. Anak perlu menjaga perilakunya, karena apa pun yang dilakukan anak akan menimbulkan dampak yang harus ditanggung oleh orang tuanya. Ini juga bisa menjadi peringatan bagi orang tua agar bertanggung jawab terhadap kehidupan anak-anaknya.

5.     Dumadining sira iku lantaran anane bapak biyung ira. Secara harfiah, falsafah ini berarti "Adanya dirimu itu adalah melalui bapak-ibumu". Bila diartikan dapat bermakna, seorang anak perlu bersikap baik atau hormat pada orang tua, karena tanpa bapak dan ibunya, maka ia pun tidak akan ada.

6.     Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Relasi antar anggota keluarga yang rukun dan damai akan membuat hidup terasa bahagia, aman, dan sejahtera. Tapi sebaliknya, jika selalu bertikai, maka keluarga bisa terpecah belah dan penuh masalah.

7.     Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui. Falsafah ini kurang lebih memiliki arti bahwa membangun pernikahan yang kuat dan sukses tidaklah cukup dengan sekali jatuh cinta, tetapi butuh berkali-kali jatuh cinta pada pasangan Anda.

8.     Witing tresna jalaran saka kulina, witing mulya jalaran wani rekasa. Falsafah ini mempunyai makna bahwa cinta itu tumbuh karena kebiasaan dan kemakmuran timbul karena berani hidup bersusah dahulu.

9.     Emban cindhe, emban siladan. Secara harfiah, falsafah ini berarti "menggendong dengan selendang, menggendong dengan rautan bambu". Ungkapan ini bisa dimaknai bahwa orang tua tidak boleh membeda-bedakan perhatian kepada anak.

10.                        Abot telak karo anak. Mengartikan situasi di mana orang lebih mementingkan dirinya daripada anaknya sendiri.Falsafah Jawa tentang Keluarga

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Kuno Tentang Kehidupan

1.     Sabar iku lire momot kuat nandhang sakening coba lan pandhadharaning urip. (Sabar itu merupakan sebuah kemampuan untuk menahan segala macam godaan dalam hidup)

2.     Urip iku koyo kopi, yen ndak iso nikmati rasane panggah pait. (Hidup itu bagaikan secangkir kopi, jika kalian tidak bisa menikmatinya yang dirasa hanyalah pait)

3.     Aja milik barang kang melok. (Jangan tergiur barang yang berkilau)

4.     Manungsa mung ngunduh wohing pakarti. (Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri)

5.     Cekelana impenanmu, amarga yen impen mati, urip iku kaya manuk sing swiwine rusak, mula ora bisa mabur. (Berpegang teguh pada mimpi, karena jika mimpi mati, hidup adalah burung bersayap yang rusak, itu tidak bisa terbang)

6.     Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu. (Hidup itu terus berjalan, bersamaan dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, biar nasibmu baik)

7.     Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa. (Jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa)

8.     Nek wes onok sukurono, nek durung teko entenono, nek wes lungo lalekno, nek ilang iklasno. (Kalau sudah punya itu disyukuri, kalau belum datang ya dinanti, kalau sudah ditinggal pergi lupakan, kalau hilang ikhlaskan)

9.     Sak apik-apike wong yen awehi pitulung kanthi cara dedemita. (Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi)

10.                        Aja mbedakake marang sapadha-padha. (Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia)

11.                        Sabar iku ingaran mustikaning laku. (Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yang sangat indah dalam sebuah kehidupan)

12.                        Wong sabar rejekine jembar, ngalah urip luwih berkah. (Orang sabar rezekinya luas, mengalah hidup lebih berkah)

13.                        Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mblancangi, dhuwur tan nungkuli. (Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih, cepat tanpa harus mendahului, tinggi tanpa harus melebihi)

14.                        Ngeluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bhanda. (Berjuang tanpa membawa massa, menang tanpa merendahkan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kaya tanpa didasari harta)

15.                        Nek wes niat kerjo iku ojo golek perkoro, nek wes diniati golek rejeki iku ora usah golek rai. (Kalau sudah niat bekerja itu jangan cari perkara, kalau sudah diniati cari rezeki itu tidak usah cari muka)

16.                        Obat pahit ae marakke mari, mosok koe sing manis marakke loro. (Obat yang pahit saja bisa bikin sembuh, masak kamu yang manis bikin sakit)

17.                        Berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian, mantan wes neng penghulu aku iseh kesepian. (Berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian, mantan sudah di penghulu aku masih kesepian)

18.                        Tresno iku kadang koyo criping telo. Iso ajur nek ora ngati-ati le nggowo. (Cinta terkadang seperti keripik singkong, bisa hancur jika tidak hati-hati dibawa)

19.                        Aku tanpamu bagaikan sego kucing ilang karete. Ambyar. (Aku tanpamu bagai nasi kucing hilang karetnya, hancur)

20.                        Wes kadung ngomong sayang jebule wes nduwe gandengan, wes kadung tak sawang malah ninggal kenangan. (Sudah terlanjur menyatakan sayang, ternyata sudah punya gandengan, sudah terlanjur dipandang malah meninnggalkan kenangan)

21.                        Cintaku nang awakmu iku koyok kamera, fokus nang awakmu tok liyane ngeblur. (Cintaku padamu seperti kamera, fokus di kamu saja, yang lain blur)

22.                        Uwong duwe pacar iku kudu sabar ambek pasangane. Opo maneh seng gak duwe. (Orang yang punya pacar itu haruslah sabar dengan pasangan yang dimiikinya. Apa lagi yang nggak punya)

23.                         Ben akhire ora kecewa, dewe kudu ngerti kapan wektune berharap lan kapan wektune kudu mandeg. (Agar akhirnya tidak kecewa, kita harus mengerti kapan waktunya berharap dan kapan waktunya harus berhenti)

24.                        Arek lanang kuoso milih, arek wedok kuoso nolak. (Anak laki laki bebas memilih, anak perempuan bebas menolak)

25.                        Akeh cara dienggo bahagia, salah sijine ngeculke uwong sing nyia-nyiake kowe. (Banyak cara untuk bahagia, salah satunya melepaskan orang yang menyia-nyiakan kamu)

26.                        Tresna kanggo manungsa mung amerga katresnane marang Gusti Allah sing Nyiptaaken manungsa. (Cinta kepada seorang manusia hanya dikarenan kecintaan kepada Allah Tuhan Semesta Alam yang telah menciptakan manusia)

27.                        Nek koe tenanan tresno, Ojo koe nggawe eluh banyu motone, Ojo nyakiti atine, Ojo nggawe atine loro. (Jika kamu benar-benar cinta padanya, Jangan hiasi matanya dengan air mata, telinganya dengan dusta, hatinya dengan luka)

28.                        Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui. (Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama)

29.                        Akeh manungsa ngrasakake tresna, tapi lali lan ora kenal opo iku hakikate tresno. (Banyak orang merakan cinta, tapi lupa dan tidak kenal apa itu hakikat cinta)

30.                        Aku ra njaluk luweh, aku nggur njalok ojo lungo nek ati. (Aku nggak minta banyak, aku hanya minta jangan pergi dari hati)

31.                        Ana dina, ana upa. Tiap perjuangan selalu ada hasil yang nyata.

32.                        Adhang-adhang tetese embun Berharap sesuatu dengan hasil apa adanya. Seperti berharap pada tetes embun.

33.                        Gliyak-gliyak tumindak, sareh pakoleh. Upaya yang dilakukan perlahan, tapi akhirnya tujuannya akan tercapai.

34.                        Kena iwake aja nganti buthek banyune. Berusahalah mencapai tujuan tanpa menimbulkan kerusakan.

35.                        Sepi ing pamrih, rame ing gawe. Melakukan pekerjaan tanpa pamrih.

36.                        Sluman slumun slamet. Biarpun kurang hati-hati tapi masih diberi keselamatan.

37.                        Ngundhuh wohing pakerti. Apa pun yang kita lakukan akan membuahkan hasil yang sepadan.

38.                        Mikul dhuwur mendhem jero. Seorang anak yang menjunjung tinggi derajat orang tua.

39.                        Sabar sareh mesthi bakal pikoleh. Pekerjaan apapun jangan dilakukan dengan tergesa-gesa agar berhasil.

40.                         Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Hidup rukun pasti akan hidup sentosa, sebaliknya jika selalu bertikai pasti akan bercerai.

41.                        Dhemit ora ndulit, setan ora doyan. Berupa doa dan harapan agar selalu diberi keselamatan, tidak ada suatu halangan dan rintangan.

42.                        Tuna sathak bathi sanak. Merugi harta tapi mendapatkan sahabat.

43.                        Nabok nyilih tangan. Menggambarkan orang yang tidak berani menghadapi musuhnya dan meminta bantuan orang lain diam-diam.

44.                        Becik ketitik, ala ketara. Perbuatan baik akan selalu dikenali, dan perbuatan buruk nantinya juga akan diketahui juga.

45.                        Adigang, adigung, adiguna. (Mengandalkan kekuatan, kekuasaan dan kepintarannya.

46.                        Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.  (Tuhan itu dekat meski tubuh kita tidak dapat menyentuhnya, jauh tiada batasan)

47.                        Mohon, mangesthi, mangastuti, marem. (Selalu meminta petunjuk Tuhan untuk meyelaraskan antara ucapan dan perbuatan agar dapat berguna bagi sesama)

48.                        Ala lan becik iku gegandhengan, Kabeh kuwi saka kersaning Pangeran. (Kebaikan dan kejahatan ada bersama-sama, itu semua adalah kehendak Tuhan)

49.                        Golek sampurnaning urip lahir batin lan golek kusumpurnaning pati. (Kita bertanggung jawab untuk mencari kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat)

50.                        Urip kang utama, mateni kang sempurna. (Selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya)

51.                        Tresna kanggo manungsa mung amerga katresnane marang Gusti Allah sing Nyipta'aken manungsa. (Cinta kepada seorang manusia hanya dikarenakan kecintaan kepada Allah Tuhan Semesta Alam yang telah menciptakan manusia)

52.                        Gusti Allah paring pitedah bisa lewat bungah, bisa lewat susah. (Allah memberikan petunjuk bisa melalui bahagia, bisa melalui derita)

53.                        Gusti paring dalan kanggo uwong sing gelam ndalan. (Tuhan memberi jalan untuk manusia yang mau mengikuti jalan kebenaran)

54.                        Natas, nitis, netes. (Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali)

55.                        Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukmo. (Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan)

56.                        Ngapusi kui hakmu. Kewajibanku mung etok-etok ora ngerti yen mbok apusi. (Berbohong itu hakmu. Kewajibanku hanya pura-pura tidak tahu kalau kamu berbohong)

57.                        Witing tresno jalaran soko kulino. Witing mulyo jalaran wani rekoso. (Bahwa cinta itu tumbuh lantaran ada kebiasaan, kemakmuran itu timbul karena berani bersusah dahulu)

58.                        Manungsa mung ngunduh wohing pakarti. (Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri)

59.                        Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu. (Hidup itu terus berjalan, bersamaan dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, biar nasibmu baik)

60.                        Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa. (Jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa)

61.                        Pengenku, Aku iso muter wektu. Supoyo aku iso nemokne kowe lewih gasik. Ben Lewih dowo wektuku kanggo urip bareng sliramu. (Aku berharap, aku bisa memutar waktu kembali. Di mana aku bisa lebih awal menemukan dan mencintaimu lebih lama)

62.                        Aku ora pernah ngerti opo kui tresno, kajaba sak bare ketemu karo sliramu. (Aku tidak pernah tau cinta itu apa, kecuali setelah bertemu denganmu)

63.                        Koe kuwi koyo bintang, sing indah didelok tapi susah untuk digapai. (Kamu itu seperti bintang, yang indah dilihat tapi susah untuk digapai)

64.                        Cinta dudu perkoro sepiro kerepe kowe ngucapke, tapi sepiro akehe seng mbok buktike. (Cinta bukan perkara seberapa sering kamu mengucapkannya, tapi seberapa banyak kamu membuktikannya)

65.                        Tresno iku mergo ati, ora bakal owah tekane mati. (Cinta ini datang dari hati, tak bakal berubah sampai mati)

66.                        Angger aku nyawang sliramu, rasane kabeh macem roso bungah ning alam dunyo mandeg ono ing ngarep netraku.  (Ketika aku melihatmu, aku melihat semuanya ujung kebahagiaan dunia ini telah berhenti sekejap di mataku)

67.                        Padahal de’e mek konco, tapi angger de’e cedak karo wong liyo. Rasane cemburu. (Padahal dia hanya berteman, tapi setiap kali dekat dengan orang lain. Rasanya cemburu)

68.                        Kowe lungo nggowo kenangan, kowe teko maneh nggowo undangan. (Kamu pergi membawa kenangan, kamu dating lagi membawa sebuah undangan)

69.                        Iso nembang gak iso nyuling, iso nyawang gak iso nyanding. (bisa bersyair tidak bisa bermain seruling, bisa melihat tidak bisa mendampingi)

70.                        Janji tresnomu gede, Nyatane saiki mbok tinggalne. (Janji cintamu besar, kenyataannya sekarang kamu tinggalkan)

71.                        Aku ora malam mingguan, sandalku pedot. (Aku nggak malam mingguan, sandalku putus)

72.                        Gusti yen arek iku jodohku tulung dicidakaken, yen mboten joduhku tulung dijodohaken. (Tuhan jika dia adalah jodohku tolong didekatkan, dan jika bukan tolong dijodohkan)

73.                        Jenenge urip kui mesti akeh cobaan, yen akeh saweran kui jenenge dangdutan. (Namanya hidup itu pasti banyak cobaan, kalau banyak saweran namanya dangdutan)

74.                        Saat dewe podo-podo adoh, siji sing kudu koe ngerti, bakal tak jogo tresno iki sampe matek. (Saat jarak memisahkan kita, satu hal yang harus kamu tahu, aku akan menjaga cinta ini sampai mati)

75.                        Ra kepetuk sak wetoro rasane pengen weruh sliramu. (Tidak bertemu sebentar saja rasanya ingin melihat kamu)

76.                        Merdeka iku yen Soekarno mbe Hatta baris rapi ning njero dompet. Yen sing baris Pattimura, berarti isih perjuangan. (Merdeka itu kalau Soekarno dan Hatta baris rapi di dalam dompet. Kalau yang baris Pattimura, berarti masih perjuangan)

77.                        Dadi koe ngiri karo aku? Yo wis aku ngalah, aku tak nganan. (Jadi kamu iri sama aku? Ya sudah aku ngalah, aku ke kanan)

78.                        Tresno iku mergo ati, ora bakal owah tekane mati. (Cinta ini datang dari hati, tak bakal berubah sampai mati)

79.                        Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit. (Dosa yang paling menyedihkan adalah pada ngeluh tidak punya duit)

80.                        Kacang iku gurih, tapi nek dikacangin iku perih. (Kacang itu gurih, tapi kalau dikacangin itu perih)

81.                        Waktu adalah uang. Yen kancamu mbok jak dolan raono wektu, brarti wonge lagi ra duwe duit. (Waktu adalah uang. Kalau temanmu tidak ada waktu untuk diajak jalan, artinya ia sedang tidak punya uang)

82.                        Ojo mung ngopi, sekali-sekali ngeteh ben ngerti yen urip iku ora mung pait, tapi yo sepet. (Jangan cuma ngopi, sekali-kali ngeteh supaya tahu kalau hidup tak cuma pahit tapi juga sepet)

83.                        Ngimpi Seng dukur koyo langit, yen awakmu logor berarti turumu kurang nengah. (Bermimpilah setinggi langit, jika kamu terjatuh berarti tidurmu kurang ke tengah)

84.                        Aja mbedakake marang sak sapadha-pada. (Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia)

85.                        Ambeg utomo, andhap asor. (Selalu menjadi yang utama tetapi selalu rendah hati)

86.                        Kudu semangat masio gak ono sing nyemangati. (Harus Semangat Walau Tidak Ada yang Kasih Semangat)

87.                        Meneng widara uleran. (Terlihat baik namun sebenarnya buruk)

88.                        Nek wes niat kerjo iku, ojo golek perkoro, nek wes diniati golek rejeki iku ora usah golek rai. (Kalau sudah mendapatkan pekerjaan itu jangan cari perkara, kalau sudah diniati cari rezeki itu tidak usah cari muka)

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)