JOKO LODANG

0

SERAT JOKO LODANG





GAMBUH

1. Jaka Lodang gumandhul

Praptaning ngethengkrang sru muwus.

Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi.

Gunung mendhak jurang mbrenjul

Ingusir praja prang kasor.

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon

kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.

Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan

bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah

sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan

(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir

dari negerinya.

2.Nanging awya kliru

Sumurupa kanda kang tinamtu

Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti

Maksih katon tabetipun

Beda lawan jurang gesong.

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.

Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung

akan tetap masih terlihat bekasnya.

Lain sekali dengan jurang yang curam.

3. Nadyan bisa mbarenjul

Tanpa tawing enggal jugrugipun

Kalakone karsaning Hyang wus pinasti

Yen ngidak sangkalanipun

Sirna tata estining wong.

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,

namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.

(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.

Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik

tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).

Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan

akan terjadi pada tahun Jawa 1850.

(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).

Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.


SINOM

1. Sasedyane tanpa dadya

Sacipta-cipta tan polih

Kang reraton-raton rantas

Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani

Kongas ing kanistanipun

Wong agung nis gungira

Sudireng wirang jrih lalis

Ingkang cilik tan tolih ring cilikira.

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,

apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,

segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,

karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.

Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.

Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada

mati,

sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

2. Wong alim-alim pulasan

Njaba putih njero kuning

Ngulama mangsah maksiat

Madat madon minum main

Kaji-kaji ambataning

Dulban kethu putih mamprung

Wadon nir wadorina

Prabaweng salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung marono tingalira.

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.

Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.

Banyak ulama berbuat maksiat.

Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.

Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.

Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.

Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

3. Para sudagar ingargya

Jroning jaman keneng sarik

Marmane saisiningrat

Sangsarane saya mencit

Nir sad estining urip

Iku ta sengkalanipun

Pantoging nandang sudra

Yen wus tobat tanpa mosik

Sru nalangsa narima ngandel ing suksma.

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.

Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin

menjadi-jadi.

Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).

Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.

Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan

diri

kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.


MEGATRUH

1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu

Jaka Lodang nabda malih

Nanging ana marmanipun

Ing waca kang wus pinesthi

Estinen murih kelakon.

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.

Kemudian Joko Lodang berkata lagi :

Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,

didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya

segera dan dapat terjadi.

2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun

Neng sajroning madya akir

Wiku Sapta ngesthi Ratu

Adil parimarmeng dasih

Ing kono kersaning Manon.

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.

Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).

Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.

Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk

Malenuk samargi-margi

Marmane bungah kang nemu

Marga jroning kethuk isi

Kencana sesotya abyor.

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong

kecil)

yang berada banyak dijalan.

Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut

isinya tidak lain emas dan kencana.


SERAT SABDO JATI

MEGATRUH

1. Hawya pegat ngudiya RONGing budyayu

MarGAne suka basuki

Dimen luWAR kang kinayun

Kalising panggawe SIsip

Ingkang TAberi prihatos.

Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebajikan,

agar mendapat kegembiraan serta keselamatan serta tercapai segala

cita-cita,

terhindar dari perbuatan yang bukan-bukan, caranya haruslah gemar

prihatin.


2. Ulatna kang nganti bisane kepangguh

Galedehan kang sayekti

Talitinen awya kleru

Larasen sajroning ati

Tumanggap dimen tumanggon.

Dalam hidup keprihatinan ini pandanglah dengan seksama,

intropeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan didalam hati,

agar mudah menanggapi sesuatu.


3. Pamanggone aneng pangesthi rahayu

Angayomi ing tyas wening

Eninging ati kang suwung

Nanging sejatining isi

Isine cipta sayektos.

Dapatnya demikian kalau senantiasa mendambakan kebaikan,

mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini

kosong

namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.


4. Lakonana klawan sabaraning kalbu

Lamun obah niniwasi

Kasusupan setan gundhul

Ambebidung nggawa kendhi

Isine rupiah kethon.

Segalanya itu harus dijalankan dengan penuh kesabaran.

Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)

akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,

yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.


5. Lamun nganti korup mring panggawe dudu

Dadi panggonaning iblis

Mlebu mring alam pakewuh

Ewuh mring pananing ati

Temah wuru kabesturon.

Bila terpengaruh akan perbuatan yang bukan-bukan,

sudah jelas akan menjadi sarang iblis, senantiasa mendapatkan

kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan

itikad hati yang baik,

seolah-olah mabuk kepayang.


6. Nora kengguh mring pamardi reh budyayu

Hayuning tyas sipat kuping

Kinepung panggawe rusuh

Lali pasihaning Gusti

Ginuntingan dening Hyang Manon.

Bila sudah terlanjur demikian tidak tertarik terhadap perbuatan

yang menuju kepada kebajikan. Segala yang baik-baik lari dari dirinya,

sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran yang jelek.

Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.


7. Parandene kabeh kang samya andulu

Ulap kalilipen wedhi

Akeh ingkang padha sujut

Kinira yen Jabaranil

Kautus dening Hyang Manon.

Namun demikian yang melihat, bagaikan matanya kemasukan pasir,

tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, sehingga

yang jahat disukai dianggap utusan Tuhan.


8. Yeng kang uning marang sejatining dawuh

Kewuhan sajroning ati

Yen tiniru ora urus

Uripe kaesi-esi

Yen niruwa dadi asor.

Namun bagi yang bijaksana, sebenarnya repot didalam pikiran

melihat contoh-contoh tersebut. Bila diikuti hidupnya akan

tercela akhirnya menjadi sengsara.


9. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung

Anggelar sakalir-kalir

Kalamun temen tinemu

Kabegjane anekani

Kamurahane Hyang Manon.

Itu artinya tidak percaya kepada Tuhan, yang menitahkan bumi dan

langit, siapa yang berusaha dengan setekun-tekunnya akan mendapatkan

kebahagiaan. Karena Tuhan itu Maha Pemurah adanya.


10. Hanuhoni kabeh kang duwe panuwun

Yen temen-temen sayekti

Dewa aparing pitulung

Nora kurang sandhang bukti

Saciptanira kelakon.

Segala permintaan umatNya akan selalu diberi, bila dilakukan dengan

setulus hati.

Tuhan akan selalu memberi pertolongan, sandang pangan tercukupi

segala cita-cita dan kehendaknya tercapai.


11. Ki Pujangga nyambi paraweh pitutur

Saka pengunahing Widi

Ambuka warananipun

Aling-aling kang ngalingi

Angilang satemah katon.

Sambil memberi petuah Ki Pujangga juga akan membuka selubung

yang termasuk rahasia Tuhan, sehingga dapat diketahui.


12. Para jalma sajroning jaman pakewuh

Sudranira andadi

Rahurune saya ndarung

Keh tyas mirong murang margi

Kasekten wus nora katon.

Manusia-manusia yang hidup didalam jaman kerepotan,

cenderung meningkatnya perbuatan-perbuatan tercela,

makin menjadi-jadi, banyak pikiran-pikiran yang tidak berjalan

diatas riil kebenaran, keagungan jiwa sudah tidak tampak.


13. Katuwane winawas dahat matrenyuh

Kenyaming sasmita sayekti

Sanityasa tyas malatkunt

Kongas welase kepati

Sulaking jaman prihatos.

Lama kelamaan makin menimbulkan perasaan prihatin, merasakan ramalan

tersebut,

senantiasa merenung diri melihat jaman penuh keprihatinan tersebut.


14. Waluyane benjang lamun ana wiku

Memuji ngesthi sawiji

Sabuk tebu lir majenum

Galibedan tudang tuding

Anacahken sakehing wong.

Jaman yang repot itu akan selesai kelak bila sudah mencapat tahun 1877

(Wiku=7, Memuji=7, Ngesthi=8, Sawiji=1. Itu bertepatan dengan tahun Masehi

1945).

Ada orang yang berikat pinggang tebu perbuatannya seperti orang gila,

hilir mudik menunjuk kian kemari, menghitung banyaknya orang.


15. Iku lagi sirap jaman Kala Bendu

Kala Suba kang gumanti

Wong cilik bisa gumuyu

Nora kurang sandhang bukti

Sedyane kabeh kelakon.

Disitulah baru selesai Jaman Kala Bendu. Diganti dengan jaman Kala Suba.

Dimana diramalkan rakyat kecil bersuka ria, tidak kekurangan sandang dan

makan

seluruh kehendak dan cita-citanya tercapai.


16. Pandulune Ki Pujangga durung kemput

Mulur lir benang tinarik

Nanging kaseranging ngumur

Andungkap kasidan jati

Mulih mring jatining enggon.

Sayang sekali “pengelihatan” Sang Pujangga belum sampai selesai,

bagaikan menarik benang dari ikatannya.

Namun karena umur sudah tua sudah merasa hampir

datang saatnya meninggalkan dunia yang fana ini.


17.Amung kurang wolung ari kang kadulu

Tamating pati patitis

Wus katon neng lokil makpul

Angumpul ing madya ari

Amerengi Sri Budha Pon.

Yang terlihat hanya kurang 8 hai lagi, sudah sampai waktunya,

kembali menghadap Tuhannya. Tepatnya pada hari Rabu Pon.


18. Tanggal kaping lima antarane luhur

Selaning tahun Jimakir

Taluhu marjayeng janggur

Sengara winduning pati

Netepi ngumpul sak enggon.

Tanggal 5 bulan Sela

(Dulkangidah) tahun Jimakir Wuku Tolu,

Windu Sengara (atau tanggal 24 Desember 1873)

kira-kira waktu Lohor, itulah saat yang ditentukan

sang Pujangga kembali menghadap Tuhan.


19. Cinitra ri budha kaping wolulikur

Sawal ing tahun Jimakir

Candraning warsa pinetung

Sembah mekswa pejangga ji

Ki Pujangga pamit layoti.

Karya ini ditulis dihari Rabu tanggal 28 Sawal tahun Jimakir 1802.

(Sembah=2, Muswa=0, Pujangga=8, Ji=1) bertepatan dengan tahun masehi

1873).


SERAT KALATIDA

Sinom

1. Mangkya darajating praja

Kawuryan wus sunyaturi

Rurah pangrehing ukara

Karana tanpa palupi

Atilar silastuti

Sujana sarjana kelu

Kalulun kala tida

Tidhem tandhaning dumadi

Ardayengrat dene karoban rubeda.

Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.

Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat

diikuti lagi.

Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.

Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh

keragu-raguan).

Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.


2. Ratune ratu utama

Patihe patih linuwih

Pra nayaka tyas raharja

Panekare becik-becik

Paranedene tan dadi

Paliyasing Kala Bendu

Mandar mangkin andadra

Rubeda angrebedi

Beda-beda ardaning wong saknegara.

Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,

Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka

masyarakat baik,

namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.

Oleh karena daya jaman Kala Bendu.

Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.

Lain orang lain pikiran dan maksudnya.


3.Katetangi tangisira

Sira sang paramengkawi

Kawileting tyas duhkita

Katamen ing ren wirangi

Dening upaya sandi

Sumaruna angrawung

Mangimur manuhara

Met pamrih melik pakolih

Temah suka ing karsa tanpa wiweka.

Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,

mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.

Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur

sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.


4.Dasar karoban pawarta

Bebaratun ujar lamis

Pinudya dadya pangarsa

Wekasan malah kawuri

Yan pinikir sayekti

Mundhak apa aneng ngayun

Andhedher kaluputan

Siniraman banyu lali

Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.

Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,

bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.

Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?

Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.

Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah

kerepotan.


5. Ujaring panitisastra

Awewarah asung peling

Ing jaman keneng musibat

Wong ambeg jatmika kontit

Mengkono yen niteni

Pedah apa amituhu

Pawarta lolawara

Mundhuk angreranta ati

Angurbaya angiket cariteng kuna.

Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.

Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi

tidak terpakai.

Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin

akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya

kisah jaman dahulu kala.


6. Keni kinarta darsana

Panglimbang ala lan becik

Sayekti akeh kewala

Lelakon kang dadi tamsil

Masalahing ngaurip

Wahaninira tinemu

Temahan anarima

Mupus pepesthening takdir

Puluh-Puluh anglakoni kaelokan.

Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,

guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.

Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,

mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”

dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.

Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.


7. Amenangi jaman edan

Ewuh aya ing pambudi

Milu edan nora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya kaduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah karsa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih begja kang eling lawan waspada.

Hidup didalam jaman edan, memang repot.

Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya

jaman

tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.

Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang

lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa

ingat dan waspada.


8. Semono iku bebasan

Padu-padune kepengin

Enggih mekoten man Doblang

Bener ingkang angarani

Nanging sajroning batin

Sejatine nyamut-nyamut

Wis tuwa arep apa

Muhung mahas ing asepi

Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma.

Yah segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?

Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.

Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,

apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari

Tuhan.


9.Beda lan kang wus santosa

Kinarilah ing Hyang Widhi

Satiba malanganeya

Tan susah ngupaya kasil

Saking mangunah prapti

Pangeran paring pitulung

Marga samaning titah

Rupa sabarang pakolih

Parandene maksih taberi ikhtiyar.

Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.

Bagaimanapun nasibnya selalu baik.

Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.

Namun demikian masih juga berikhtiar.


10. Sakadare linakonan

Mung tumindak mara ati

Angger tan dadi prakara

Karana riwayat muni

Ikhtiyar iku yekti

Pamilihing reh rahayu

Sinambi budidaya

Kanthi awas lawan eling

Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma.

Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan

persoalan.

Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib

ikhtiar,

hanya harus memilih jalan yang baik.

Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan

waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.


11. Ya Allah ya Rasulullah

Kang sipat murah lan asih

Mugi-mugi aparinga

Pitulung ingkang martani

Ing alam awal akhir

Dumununging gesang ulun

Mangkya sampun awredha

Ing wekasan kadi pundi

Mula mugi wontena pitulung Tuwan.

Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,

mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang

akhir ini.

Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.

Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.


12. Sageda sabar santosa

Mati sajroning ngaurip

Kalis ing reh aruraha

Murka angkara sumingkir

Tarlen meleng malat sih

Sanityaseng tyas mematuh

Badharing sapudhendha

Antuk mayar sawetawis

BoRONG angGA saWARga meSI marTAya.

Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,

seolah-olah dapat mati didalam hidup.

Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.

Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan

sekedarnya.

Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.


SABDA TAMA

Gambuh

1. Rasaning tyas kayungyun

Angayomi lukitaning kalbu

Gambir wanakalawan hening ing ati

Kabekta kudu pitutur

Sumingkiring reh tyas mirong.

Tumbuhlah suatu keinginan melahirkan perasaan dengan hati yang hening

disebabkan ingin memberikan petuah-petuah agar dapat menyingkirkan hal-hal

yang salah.


2. Den samya amituhu

Ing sajroning Jaman Kala Bendu

Yogya samyanyenyuda hardaning ati

Kang anuntun mring pakewuh

Uwohing panggawe awon.

Diharap semuanya maklum bahwa dijaman Kala Bendu

sebaiknya mengurangi nafsu pribadi yang akan membenturkan kepada

kerepotan.

Hasilnya hanyalah perbuatan yang buruk.


3.Ngajapa tyas rahayu

Nyayomana sasameng tumuwuh

Wahanane ngendhakke angkara klindhih

Ngendhangken pakarti dudu

Dinulu luwar tibeng doh.

Sebaiknya senantiasa berbuat menuju kepada hal-hal yang baik.

Dapat memberi perlindungan kepada siapapun juga.

Perbuatan demikian akan melenyapkan angkara murka,

melenyapkan perbuatan yang bukan-bukan dan terbuang jauh.


4. Beda kang ngaji mumpung

Nir waspada rubedane tutut

Kakinthilan manggon anggung atut wuri

Tyas riwut ruwet dahuru

Korup sinerung agoroh.

Hal ini memang lain dengan yang ngaji pumpung.

Hilang kewaspadaannya dan kerepotanlah yang selalu dijumpai,

selalu mengikuti hidupnya. Hati senantiasa ruwet karena selalu berdusta.


5. Ilang budayanipun

Tanpa bayu weyane ngalumpuk

Sakciptane wardaya ambebayani

Ubayane nora payu

Kari ketaman pakewoh.

Lenyap kebudayaannya. Tidak memiliki kekuatan dan ceroboh.

Apa yang dipikir hanyalah hal-hal yang berbahaya.

Sumpah dan janji hanyalah dibibir belaka tidak seorangpun mempercayainya.

Akhirnya hanyalah kerepotan saja.


6. Rong asta wus katekuk

Kari ura-ura kang pakantuk

Dandanggula lagu palaran sayekti

Ngleluri para leluhur

Abot ing sih swami karo.

Sudah tidak berdaya. Hanya tinggallah berdendang.

Mendendangkan lagu dandang gula palaran hasil karya nenek moyang dahulu

kala,

betapa beratnya hidup ini seperti orang dimadu saja.


7. Galak gangsuling tembung

Ki Pujangga panggupitanipun

Rangu-rangu pamanguning reh harjanti

Tinanggap prana tumambuh

Katenta nawung prihatos.

Ki Pujangga didalam membuat karyanya mungkin ada kelebihan dan

kekurangannya.

Olah karena itu ada perasaan ragu-ragu dan khawatir,

barangkali terdapat kesalahan/kekeliruan tafsir, sebab sedang prihatin.


8. Wartine para jamhur

Pamawasing warsita datan wus

Wahanane apan owah angowahi

Yeku sansaya pakewuh

Ewuh aya kang linakon.

Menurut pendapat para ahli, wawasan mereka keadaan selalu berubah-ubah.

Meningkatkan kerepotan apa pula yang hendak dijalankan.


9. Sidining Kala Bendu

Saya ndadra hardaning tyas limut

Nora kena sinirep limpating budi

Lamun durung mangsanipun

Malah sumuke angradon.

Azabnya jaman Kala Bendu, makin menjadi-jadi nafsu angkara murka.

Tidak mungkin dikalahkan oleh budi yang baik.

Bila belum sampai saatnya akibatnya bahkan makin luar biasa.


10. Ing antara sapangu

Pangungaking kahanan wus mirud

Morat-marit panguripaning sesami

Sirna katentremanipun

Wong udrasa sak anggon-anggon.

Sementara itu keadaan sudah semakin tidak karu-karuwan,

penghidupan semakin morat-marit, tidak ketenteraman lagi, kesedihan

disana-sini.


11. Kemang isarat lebur

Bubar tanpa daya kabarubuh

Paribasan tidhem tandhaning dumadi

Begjane ula dahulu

Cangkem silite angaplok.

Segala dosa dan cara hancur lebur, seolah-olah hati dikuasai ketakutan.

Yang beruntung adalah ular berkepala dua, sebab kepala serta buntutnya

dapat makan.


12. Ndhungkari gunung-gunung

Kang geneng-geneng padha jinugrug

Parandene tan ana kang nanggulangi

Wedi kalamun sinembur

Upase lir wedang umob.

Gunung-gunung digempur, yang besar-besar dihancurkan

meskipun demikian tidak ada yang berani melawan.

Sebab mereka takut kalau disembur (disemprot ular) berbisa.

Bisa racun ular itu bagaikan air panas.


13. Kalonganing kaluwung

Prabanira kuning abang biru

Sumurupa iku mung soroting warih

Wewarahe para Rasul

Dudu jatining Hyang Manon.

Tetapi harap diketahui bahwa lengkungan pelangi yang

berwarna kuning merah dan biru sebenarnya hanyalah cahaya pantulan air.

Menurut ajaran Nabi itu bukanlah Tuhan yang sebenarnya.


14. Supaya pada emut

Amawasa benjang jroning tahun

Windu kuning kono ana wewe putih

Gegamane tebu wulung

Arsa angrebaseng wedhon.

Agar diingat-ingat. Kelak bila sudah menginjak tahun windu kuning

(Kencana) akan ada wewe putih (setan putih), yang bersenjatakan tebu hitam

akan menghancurkan wedhon (pocongan setan).

(Sebuah ramalan yang perlu dipecahkan).


15. Rasa wes karasuk

Kesuk lawan kala mangsanipun

Kawises kawasanira Hyang Widhi

Cahyaning wahyu tumelung

Tulus tan kena tinegor.

Agaknya sudah sampai waktunya, karena kekuasaan Tuhan telah datang jaman

kebaikan, tidak mungkin dihindari lagi.


16, Karkating tyas katuju

Jibar-jibur adus banyu wayu

Yuwanane turun-temurun tan enting

Liyan praja samyu sayuk

Keringan saenggon-enggon.

Kehendak hati pada waktu tersebut hanya didasarkan kepada ketentraman

sampai ke anak cucu. Negara-negara lain rukun sentosa dan dihormati

dimanapun.


17. Tatune kabeh tuntun

Lelarane waluya sadarum

Tyas prihatin ginantun suka mrepeki

Wong ngantuk anemu kethuk

Isine dinar sabokor.

Segala luka-luka (penderitaan) sudah hilang.

Perasaan prihatin berobah menjadi gembira ria.

Orang yang sedang mengantuk menemukan kethuk (gong kecil)

yang berisi emas kencana sebesar bokor.


18. Amung padha tinumpuk

Nora ana rusuh colong jupuk

Raja kaya cinancangan angeng nyawi

Tan ana nganggo tinunggu

Parandene tan cinolong.

Semua itu hanya ditumpuk saja, tidak ada yang berbuat curang maupun yang

mengambil. Hewan piraan diikat diluar tanpa ditunggu namun tidak ada yang

dicuri.


19. Diraning durta katut

Anglakoni ing panggawe runtut

Tyase katrem kayoman hayuning budi

Budyarja marjayeng limut

Amawas pangesthi awon.

Yang tadinya berbuat angkara sekarang ikut pula berbuat yang baik-baik.

Perasaannya terbawa oleh kebaikan budi. Yang baik dapat menghancurkan yang

jelek.


20. Ninggal pakarti dudu

Pradapaning parentah ginugu

Mring pakaryan saregep tetep nastiti

Ngisor dhuwur tyase jumbuh

Tan ana wahon winahon.

Banyak yang meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kurang baik. Mengikuti

peraturan-peraturan pemerintah. Semuanya rajin mengerjakan tugasnya

masing-masing. Yang dibawah maupun yang diatas hatinya sama saja. Tidak

ada yang saling mencela.


21.Ngratani sapraja agung

Keh sarjana sujana ing kewuh

Nora kewran mring caraka agal alit

Pulih duk jaman runuhun.

Tyase teteg teguh tanggon

Keadaan seperti itu terjadi diseluruh negeri. Banyak sekali orang-orang

ahli dalam bidang surat menyurat. Kembali seperti dijaman dahulu kala.

Semuanya berhati baja.


RAMALAN JOYOBOYO

Badan Penerbit Kwa Giok Djing, Kudus, Sapta Pujangga dan Sejarah Indonesia, hal. 55-68 :

Rawa dadi pada dadi bera

Iblis jalma manungsa

Iblis menjelis

manungsa sara

Wong salah bungah-bungah

Wong bener thenger-thenger.


Miturut ramalan saka Prabu Noto Aji Joyoboyo, yen wiwit Tanah Jawa diisi manungsa kaping pindone sahingga besuk tekane Kiamat Kubra (gantining Jaman), arep ngalami 2100 Taun Surya utawa 2163 taun candra, kang kabagi dadi telung periode jaman gedhe utawa diwastani TRIKALI.

Periode Jaman gedhe mau siji-sijine kabagi meneh dadi Pitung Jaman Cilik utawa kang kasebut SAPTA MALOKO.


Trikali kabagi dadi telu yaiku :

1. Kalisura (Jaman Alam Kaluhuran) suwene 700 Taun Surya.

2. Kalijaga (Jaman Panguripan) suwene 700 Taun Surya.

3. Kalisengoro (Jaman Ngalam Tirta) suwene 700 Taun Surya.

Ing kene sing arep dibahas namung Kalisengoro, sawijineng Trikali kang pungkasan.


Kalisengoro kabagi dadi Sapta Maloko, yaiku :

1. Kalajangga (Jaman Kembang Gadung)

2. Kalasekti (Jaman Kuasa)

3. Kalajaya (Jaman Hunggul)

4. Kalabendu (Jaman sengsara lan Angkaramurka)

5. Kalisuba (Jaman Kamulyan)

6. Kalisumbaga (Jaman Kasohor)

7. Kalisurata (Jaman Alus)



SERAT JOKO LODANG (1)


Gambuh

1. Jaka Lodang gumandhul

Praptaning ngethengkrang sru muwus

Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi

Gunung mendhak jurang mbrenjul

Ingusir praja prang kasor.

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon

kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras.

Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan

bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah

sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan

(akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.


2.Nanging awya kliru

Sumurupa kanda kang tinamtu

Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti

Maksih katon tabetipun

Beda lawan jurang gesong.

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini.

Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung

akan tetap masih terlihat bekasnya.

Lain sekali dengan jurang yang curam.


3. Nadyan bisa mbarenjul

Tanpa tawing enggal jugrugipun

Kalakone karsaning Hyang wus pinasti

Yen ngidak sangkalanipun

Sirna tata estining wong.

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung,

namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor.

(Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi.

Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik

tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan).

Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan

akan terjadi pada tahun Jawa 1850.

(Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1).

Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.


Sinom

1. Sasedyane tanpa dadya

Sacipta-cipta tan polih

Kang reraton-raton rantas

Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani

Kongas ing kanistanipun

Wong agung nis gungira

Sudireng wirang jrih lalis

Ingkang cilik tan tolih ring cilikira.

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud,

apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan,

segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah,

karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan.

Yang tampak hanyalah perbuatan-perbuatan tercela.

Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,

sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.


2. Wong alim-alim pulasan

Njaba putih njero kuning

Ngulama mangsah maksiat

Madat madon minum main

Kaji-kaji ambataning

Dulban kethu putih mamprung

Wadon nir wadorina

Prabaweng salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung marono tingalira.

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka.

Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak.

Banyak ulama berbuat maksiat.

Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi.

Para haji melemparkan ikat kepala hajinya.

Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda.

Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.


3. Para sudagar ingargya

Jroning jaman keneng sarik

Marmane saisiningrat

Sangsarane saya mencit

Nir sad estining urip

Iku ta sengkalanipun

Pantoging nandang sudra

Yen wus tobat tanpa mosik

Sru nalangsa narima ngandel ing suksma.

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut.

Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi.

Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1).

Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930.

Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri

kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.


Megatruh

1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu

Jaka Lodang nabda malih

Nanging ana marmanipun

Ing waca kang wus pinesthi

Estinen murih kelakon.

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih.

Kemudian Joko Lodang berkata lagi :

“Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab,

didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya

segera dan dapat terjadi “.


2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun

Neng sajroning madya akir

Wiku Sapta ngesthi Ratu

Adil parimarmeng dasih

Ing kono kersaning Manon.

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman.

Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1).

Bertepatan dengan tahun Masehi 1945.

Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.


3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk

Malenuk samargi-margi

Marmane bungah kang nemu

Marga jroning kethuk isi

Kencana sesotya abyor.

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil)

yang berada banyak dijalan.

Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut

isinya tidak lain emas dan kencana.



SERAT JAKALODANG

RANGGA WARSITA BASA KADATON

BASA KADATON RANGGA WARSITA

 

RONGeh jleg tumiBA

GAgaran santoSA

WARtane meh teKA

SIkara karoDA

TAtage tan kaTON

BArang-barang ngeRONG

SAguh tanpa raGA

KAtali kawaWAR

DAdal amekaSI

TONda murang taTA

 

Gambuh

Jaka Lodang gumandhul

Praptaning ngethengkrang sru muwus

Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi

Gunung mendhak jurang mbrenjul

Ingusir praja prang kasor

 Joko Lodang berayun lalu berlagak dengan sombong, sambil berkata dengan lantang. Hati- timbullah menjadi kehendak Tuhan bahwa kelak gunung-gunung akan rendah, sebaliknya jurang yang curam akan berubah, zaman yang serba terbalik, karena kalah maka akan diusir dari negerinya.

 

 Naning awya kliru

Sumurupa kanda kang tinamtu

Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti

Maksih katon tabetipun

Beda jurang gesong

Namun jangan salah memahami. membukalah kabar yang telah digariskan. Walau serendah apapun gunung akan tetap tampak terlihat. Berbeda dengan jurang yang curam.

 

Nadyan bisa mbarenjul

Tanpa tawing enggal jugrugipun

Kalakone karsaning Hyang wus pinasti

Yen ngidak sangkalanipun

Sirna tata estining wong

(Jurang) meskipun dapat timbul, namun jika tidak ada tanggulnya akan longsor juga. Kejadian itu sudah menjadi kehendak Tuhan YME, bilamana telah menginjak masa : tahun Jawa 1850. Sirna ; 0, Tata ; 5, Esti; 8 dan Wong ; 1. Atau tahun 1919-1920 masehi.

 

Sinom

Sasedyane tanpa dadya

Sacipta-cipta tan polih

Kang reraton-raton rantas

Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani

Kongas ing kanistanipun

Wong agung nis gungira

Sudireng wirang jrih lalis

Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Segala yang tidak terwujud, segala yang dicita-citakan mengalami kegagalan, yang tidak direncanakan, keputusan dan keputusan yang salah, ingin menang malah kalah. Datanglah Hukuman dahsyat dari Tuhan. Yang tampak adalah perbuatan nista. Orang besar kehilangan kebesarannya, pilih beli malu mati, rakyat kecil tidak memahami diri sendiri.

 

Wong alim-alim pulasan

njaba putih njero kuning

Ngulama mangsah maksiat

Madat madon minum main

Kaji-kaji ambataning

Dulban kethu putih mamprung

Wadon nir wadorina

Prabaweng salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang berlagak sok alim (penuh kepalsuan), luarnya “putih” dalemnya “kuning”, banyak ulama gemar maksiat. Suka mabuk, main perempuan, dan berjudi. Yang sudah naik haji pun rusak moral dan kelakuannya. Perempuan kehilangan kewanitaannya, karena mengejar harta benda. Harta benda menjadi tujuan hidup semua orang.

 

Para sudagar ingargya

Jroning jaman keneng sarik

Marmane sainingrat

Sangsarane Kita mencit

Nir sedih estin urip

Iku ta sengkalanipun

Pantoging nandang sudra

Yen wus tobat tanpa mosik

Sru nalangsa narima ngandel ing suksma

 

 

Para pedagang bersukaria, harta benda dipertuhan. Akibat penderitaan meliputi seluruh jagad, kesengsaraannya semakin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 ; Nir ; 0, Sedih; 6, Estining; 8, Urip ; 1. Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penderitaan setelah semua orang sadar dan sadar, kembali kepada jalan kebenaran.

 

Megatruh

Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu

Jaka Lodang nabda malih

Naning ana marmanipun

Ing waca kang wus pinesti

Estinen murih kelakon

Mbok Perawan berpangku tangan merasa sedih. Joko Lodang berkata lagi : “Namun ketahuilah bahwa ada hukum sebab akibat, dalam ramalan yang sudah ditentukan, upayakan mungkin terjadi”.

 

Sangkalane maksih nunggal jamanipun

Neng sajroning madya akir

Wiku Sapta ngesthi Ratu

Adil parimarmeng dasih

Ing kono kersaning Manon

Saatnya (kemerdekaan) masih dalam zaman yang sama. Di akhir pertengahan abad. Tahun Jawa 1877 Wiku ; 7, Sapta; 7, Ngesti ; 8, Ratu ; 1. Bertepatan dengan tahun 1945 masehi. Datanglah keadilan antara sesama manusia. Semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

 

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk

Malenuk samargi-margi

Marmane bungah kang nemu

Marga jroning kethuk isi

Kencana sesotya abyor

Kelak saat itu, segala sesuatu yang dapat diraih dengan sangat mudah, seperti orang yang mendapat kethuk (gong kecil) yang berada banyak dijalan. Gembira lah hati orang yang menemukan, sebab di dalam berisi emas kencana.




Imajier Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)