SEMAR MANEGES

0

Semar Maneges

 








Maneges adalah membuka kehampaan.

Semar Maneges ialah pergulatan manusia dalam menapaki kesejatian hidup dan melalui rintangan serta godaan yang ada di dunia fana.

Semar Maneges yaitu laku prihatin, sabar, jujur, tanggung jawab. Sedangkan metode nasehat terdapat di ajaran Pancawisaya yang memuat sikap rela, ikhlas, berhati-hati dan meningkatkan iman.

Ismaya-Dewabrata Di Kahyangan Alang-Alang Kumitir, Sanghyang Wenang menerima sowannya Ismaya dan Dewabrata. Keduanya maneges (bertanya) apakah peran masingmasing di marcapada masih dibutuhkan. Sanghyang Wenang bersabda Dewabrata dan Ismaya masih harus mengabdikan diri, membimbing para titah ke jalan utama dan kebenaran.  Oleh karena itu, keduanya diminta segera mengejawantah lagi. Ismaya dan Dewabrata kemudian pamit dan kembali ke  marcapada.    Keduanya langsung bertemu dengan Bhisma dan terjadilah peperangan sengit. Akhirnya, Bhisma badhar (berubah wujud aslinya) menjadi sukma Wahmuka dan Arimuka. Sementara itu, Dewabrata malih (berubah wujud) menjadi Bhisma asli dan Ismaya menjadi Semar. Sukma Wahmuka dan Arimuka terus mengamuk. Akan tetapi, Semar meladeni dengan mewejang keduanya untuk segera bertobat agar hidup mereka tidak kelambrangan (bergentayangan). Dengan izin Yang Mahakuasa, Semar lalu menyempurnakan kedua sukma itu masuk ke alam keabadian. Setelah suasana kondusif, Semar mengundang Pandawa datang ke Klampisireng. Di depan sang pamong, Puntadewa, Werkudara, dan Arjuna meminta maaf karena  kelancangan mereka. Mereka mengaku khilaf menerima saran dan nasihat Bhisma palsu atau jadi-jadian. Semar meminta Pandawa untuk senantiasa eling dan waspada karena cobaan seperti itu bukan yang pertama kali dan itu juga bukan yang terakhir. Ia mewantiwanti bahwa kodratnya Pandawa tidak akan terpisahkan dengan Semar yang merepresentasikan rakyat. Sekali lagi Puntadewa meminta ampun. Ia lalu memohon nasihat Semar, apa yang mesti dilakukan agar pandemi secepatnya lenyap dari Amarta. Semar mengatakan secara fisik, bangsa Amarta mesti menjaga jarak, tetapi batin dan hati tidak boleh berjarak. Antara pemimpin dan rakyat justru harus semakin raket-supeket (solid) untuk bersama-sama melawan pandemi. Bahu-membahu Hanya dengan persatuan dan kesatuan, serta gotong royong, kata Semar, bangsa Amarta akan selalu bisa mengatasi setiap masalah. Jangan sampai ada anasir-anasir yang berusaha memisahkan antara Pandawa dan rakyatnya. Puntadewa menghaturkan terima kasih kepada Semar yang diakuinya sering ditinggalkan. Padahal, sejak nenek moyangnya, Semar-lah yang membimbingnya. Ia berjanji tidak akan melupakan Semar yang sejatinya merupakan Bathara Ismaya mengejawantah.

 

CERITA SEMAR MANEGES

Cerita diawali dengan jejer Astina, dimana berkumpul Pandawa dan Kurawa sedang menghadap seorang pandita baru bernama Begawan Sukma Lawung. Mereka sedang membahas masalah perdamaian antara Pandawa-Kurawa dan menggagalkan perang Baratayudha Jayabinangun.

Belum begitu lama mereka berbincang-bincang, datanglah Ki Lurah Semar. Kedatangan Ki Lurah Semar sebagai wakil rakyat dalam pasamuan agung tersebut untuk meminta pertanggungjawaban dari Prabu Duryudana dan Prabu Puntadewa tentang kehidupan rakyat yang tidak tenteram.

Karena menurut Kyai Semar, keadaan bangsa yang tidak tenteram tersebut merupakan tanggung jawab dari Prabu Puntadewa dan Prabu Duryudana sebagai pemegang tampuk pemerintahan. Belum sampai kedua prayagung tersebut memberikan jawaban, sang guru yaitu Begawan Sukma Lawung memperkenalkan diri sekaligus mengutarakan maksudnya untuk menyatukan Pandawa-Kurawa dan menggagalkan Baratayudha serta meminta pendapat Kyai Semar.

Mendengar itu semua, Kyai Semar tidak setuju, karena Baratayudha itu adalah perang suci dimana yang nandur bakal ngunduh, utang bakal nyaur, nyilih mbalekake, nggawe bakale nganggo, utang wirang nyaur wirang, utang pati nyaur pati.

Di saat itulah, ada seorang murid sang begawan yang tidak terima dan tiba-tiba masuk ke pasewakan dan menyeret Kyai Semar keluar.

Di luar, Kyai Semar bertemu dengan Anoman, Setyaki, Antareja dan Gatutkaca. Mendengar pengakuan Kyai Semar yang diseret keluar secara paksa, mereka berempat tidak terima dan terjadilah pertempuran dengan siswa Begawan Sukma Lawung.

Melihat murid-muridnya kalah, Begawan Sukma Lawung memerintahkan Patih Sangkuni diikuti beberapa Kurawa mengejar Kyai Semar ke Karang Kadempel untuk menjadi saksi bersatunya Pandawa-Kurawa.

Raden Arjuna diperintah untuk mengikuti Patih Sangkuni, kalau-kalau gagal membawa Kyai Semar, sedangkan Raden Werkudara diminta mencari Prabu Kresna.

Di Karang Tumaritis, Patih Sangkuni, Prabu Karna dan Aswatama berhadapan dengan anak-anak Kyai Semar dan dibantu oleh Raden Abimanyu.

Begitu para Kurawa terdesak, Raden Arjuna maju ke pertempuran. Melihat orang tuanya yang maju, Raden Angkawijaya langsung lari menghindar, dan mau tidak mau Ki Lurah Semar harus menghadapinya. Untuk menghadapi Raden Arjuna, Kyai Semar memanggil Bathara Ismaya yang kemudian berubah menjadi Raden Arjuna, sehingga terjadilah pertarungan antara dua Arjuna.

Dalam pertarungan tersebut, Begawan Sukma Lawung turut campur dan mengeluarkan ajian Gelap Sayuta untuk menyingkirkan KyaiSemar.

Di lain tempat, Prabu Kresna dan Prabu Baladewa bertemu dengan Gareng, Petruk dan Bagong yang melarikan diri. Mereka bertiga kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpa orang tuanya. Tidak begitu lama, datanglah Raden Werkudara yang ditugaskan mencari Prabu Kresna.

Mendengar pernyataan Raden Werkudara tersebut, Prabu Kresna mengatakan, bukankah Raden Werkudara pernah menjadi seorang pandita dengan gelar Begawan Bima Suci, lantas dimana kawaskitan Begawan Bima Suci tersebut?

Pertanyaan tersebut membuat Raden Werkudara pergi tanpa pamit dan langsung menggendong Prabu Puntadewa dan Raden Arjuna untuk segera pulang ke Amarta.

Dalam pengejarannya, Begawan Sukma Lawung bertemu dengan seorang pandita.

Terjadilah pertarungan diantara kedua pandita tersebut dan berubahlah masing-masing ke wujud aslinya, yaitu Sang Hyang Manikmaya dan Kyai Nayantaka. Bathara Guru mengungkapkan maksudnya, dimana dia hanya ingin menguji kewaspadaan Prabu Duryudana dan Prabu Puntadewa dalam menyikapi keadaan masyarakat yang tidak tenteram.

Prabu Duryudana yang tidak terima dan hendak mengamuk bertemu dengan Kyai Semar. Ki Lurah Semar mengingatkan bahwa apa yang didapat dari peperangan. Disamping itu, Baratayudha tidak perlu diharapkan ataupun dihindari, karena manusia sebagai makhluk Tuhan hanya bertugas menjalani saja.

 

FILOSOFI SEMAR

Semar dalam Bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra  artinya  Membangun sarana Dari dasar dasar

Naya / Nayaka =/ Utusan mangrasul

Artinya : Mengembani Sifat Membangun Dan melaksanakan Perintah Allah demi Kesejahteraan Manusia.

Semar / Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya kebelakang.

Maknanya : Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal. Sedang tangan kirinya berarti  berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik.

 

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi . Semar barjalan menghadap ke atas maknanya : dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat.

Kain semar Parangkusumorojo: adalah perwujudan Dewonggowantah agar memayuhaayuning bawono adalah keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah adalah jongkok Semar tak pernah menyuruh namun memberikan Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua Semar tertawannya selalu diakhiri tangisan Semar berwajah mata menangis namun tertawa tertawa.

Semar berprofil berdiri sekaligus konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan simbol tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan ekspresi, persepsi dan pengertian tentang Illah yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas , dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa.

 

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Konon Kaki Semar adalah Kakek moyang yg pertama dan digambarkan sebagai perwujudan dari orang Jawa yg pertama. Karena mendapat “tugas khusus” dari Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan), maka Kaki Semar memiliki kemungkinan untuk terus hadir dgn keberadaan pada setiap saat, kepada siapa saja dan kapan saja menurut apa yg dikehendaki.

 

Salah satu ajaran hidup dari Kaki Semar

Gusti Kang Murbeng Dumadi

Masyarakat Jawa sudah mengenal suatu kekuatan yang maha dengan Nama Gusti Kang Murbeng Dumadi jauh sebelum agama masuk ke tanah Jawa dan sampai ke tradisi saat ini yang dikenal dengan Kejawen yang merupakan Tatanan Paugeraning Urip  atau Tatanan berdasarkan dengan Budi Perkerti Luhur.

Keyakinan dalam masyarakat mengenai konsep Ketuhanan adalah berdasarkan sesuatu yang Riil atau “Kesunyatan” yang kemudian di realisasikan dalam peri kehidupan sehari hari dan aturan positip agar masyarakat Jawa dapat hidup dengan baik dan bertanggung jawab.

Mengenai Sang Murbeng Dumadi, Kaki Semar mengatakan “Gusti Kang Murbeng Dumadi ing ngendi papan tetep siji, amergane thukule kepercayaan lan agomo soko kahanan,jaman,bongso lan budoyo kang bedo-bedo. Kang Murbeng Dumadi iso maujud opo wae ananging mewujudan iku dede Gusti Kang Murbeng Dumadi” atau dengan kata lain “ Tuhan Yang Maha Esa itu di sembah di junjung oleh semua manusia tanpa kecuali.oelh semua agama dan kepercayaan.Sejatinya Tuhan Yang Maha Esa itu Satu dan tak ada yang Lain. Yang membedakanya hanya cara menyembaah dan memujanya dimana hal tersebut terjadi karena munculnya agama dan kebudayaan dari jaman, waktu atau bangsa yang berbeda beda…”

 

Tiga hal yang mendasari Masyarakat Jawa mengenai Konsep Ketuhanan yaitu  :

1.     Kita Bisa Hidup karena ada yang meghidupkan, yang memberi hidup dan menghidupkan kita adalah Gusti Kang Murbeng Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa.

2.     Hendaknya dalam hidup ini kita berpegang pada “Rasa” yaitu dikenal dengan “Tepo seliro” artinya bila kita meraa sakit di cubit maka hendaklah jangan mencubit orang lain.

3.     Dalam kehidupan ini jangan suka memaksakan kehendak kepada orang lain Ojo Seneng Mekso seperti apa bila kita memiliki suatupakaian yang sangat cocok dengan kita, belum tentu baju itu akan sangat cocok dengan orang lain.

 

Kaki Semar memberikan piwulangnya mengenai konsep dasar penghayatan Mahluk Kepada penciptanyanya yaitu Manusia harus mengetahui Tujuh Sifat  Kang Murbeng Dumadi.

1.     Tuhan Itu Satu , Esa dan tak ada yang lain, dalam bahasa jawa di sebut “ Gusti Kang Murbeng Dumadi.

2.     Tuhan itu bisa mewujud apa saja , tetapi pewujudan itu bukanlah Tuhan.”Ananging wewujudan iku dede Gusti “ yang artinya “ yang berwujud itu adalah Karya Allah.

3.     Tuhan Itu ada dimana-mana.”Dadi Ojo Salah Panopo,Mulo nang ngendi papan uga ono Gusti “ maksudnya walau Tuhan ada dimana mana, Tuhan satu juga “Nang awakm ugo ono Gusti” maksudnya manusia itu dalam lingkupan Tuhan secara jiwa dan raga.Tuhan ada dalam dirinya tetapi manusia tak merasakanya dengan panca indra, hanya dapat di rasakan dengan “Roso” bahwa dia ada.”Ananging ojo sepisan pisan awakmu ngaku-aku Gusti”maksudnya manusia harus sadar jiwa dan raga ini hanyalah Karya Allah, walaupun DIA ada dalam Manusia tetapi jangan sekali kali manusia mengaku DIA.

4.     Tuhan Itu Langgeng, Tuhan Itu Abadi.dari masal dahulu, sekarang, esok dan sampai seterusnya Tuhan, Gusti Kang Murbeng Dumadi tetaplah Tuhan dan tak akan berubah.

5.     Tuhan Itu tidak Tidur “ Gusti Kang Murbeng Dumadi ora nyare” maksudnya Tuhan itu mengetahui segalanya dan semuanya, tak ada satupun kata hilaf dan lalai.

6.     Tuhan itu Maha Pengasih, Tuhan Itu Maha Penyayang.maksudnya Tuhan itu maha adil tak membeda bedakan kepada mahluknya, siapa yang berusaha dia yang akan mendapatkan.

7.     Tuhan Itu Esa dan Maha Kuasa, apa yang di putuskannya tak ada yang dapat menolaknya,

 

Dengan menyadari hal tersebut manusia di harapkan :

1.     Manungso urip ngunduh wohe pakertine dhewe dhewe” maksudnya manusia kaa menerima paa yang dia tanam, bila baik yang di tanam, maka yang baiklah akan dia terima.

2.     Manusia hidup pada saat ini adalah hasil / proses dari hidup sebelumnya.atau manungso urip tumimbal soko biyen,nek percoyo marang tumimbal ada petuah yang mengatakan  Apabila kamu hendak melihat hidupmu kelak, maka lihat lah hidupmu sekarang, bila hendak melihat hidupmu yang lalu, maka lihatlah hidupmu sekarang. Manungso urip nggowo apese dhewe dhewe” maksudnya agar kita menghilangkan sifat iri,dengki,tamak, sombong sebab saat mati tak ada sifat duniawi tersebut dibawa dan mengntungkan kita.

3.     Manusia tak akan mengerti Rahasia Tuhan, “Ati lan pikiran manungso ora bakal iso mangerteni kabeh rencananing Gusti Kang Murbeng Dumadi:”maka Manusia hiduplah “sak madyo” dan tak perlu “nggege mongso”.ada petuha mengatakan “ Hiduplah dengan usaha, tapi janganlah dengan harapan, karena bila gagal maka yang merasakan diri kita juga, Maka dalam hal ini Kaki semar menganjurkan Manusia memohon dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Esa dengan”Eling lan Percoyo,Sumarah lan seumeleh lan mituhu” kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

SUMARAH, SUMELEH, MITUHU

1.     Sumarah : Berserah, Pasrah, Percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sumarah ,manusia di harapkan percaya dan yakin akan kasih saying dan kekuasaan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Bhawa DIA lah yang mengatur dan aka memebrikan kebaikan dalam kehidupan kita. Keyakinan bahwa apabila kita menghadapai gelombang kehidupan maka Allah akan memebrikan jalan keluar yang terbaik bagi kita.

2.     Sumeleh artinya Patuh dan Bersandar kepada Allah Yang Maha Esa . Manusia sebagai hamba hanya lah berusaha dan keberhasilannya tergantung Kuasa Tuhan yang maha Esa, maka dengan sumeleh ni manusia di harapkan tak mudah putus asa dan teguh dalam usahanya .

3.     Mituhu artinya patuh taat dan disiplin.

4.     Tatanan Paugeraning Urip,

Petuah Kaki semar menenai Tatanan Paugeraning Urip bagi manusia dalam mengisi Kehidupanya di alam fana ini :

a.     Eling Lan Bekti marang Gusti Kang Murbeng Dumadi : maksudnya Manusia yang sadar akan dirinya akan selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa.dimana Allah yang Esa telah membrikan kesepantan bagi manusia untuk hidup dan berkarya di alam yang Indah ini.

b.     Percoyo lan Bekti Marang Utusane Gusti”: maksudnya Manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing masing, dimana semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah menganjurkan kebaikan.

c.      Setyo marang Khalifatullah utowo Penggede Negoto”: maksudnya sebaia manusia yang tingal di suatu wilayah,maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarka pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

d.     Bekti marang Bhumi Nusontoro” maksudnya sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlaukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.

e.      Bekti Marang Wong Tuwo : maksudnya Manusia ini tidak dengan semerta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara Ibu dan Bapaknya, maka hormatilah,mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita .

f.       Bekti Marang sedulur Tuwo”: Maksudnya adalah menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik dlama umur,pengetahuan maupun kemampuannya.

g.     Tresno marang kabeh kawulo Mudo : maksudnya menyayangi kawulo yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

h.     Tresno marang sepepadaning manungs : maksudnya semua manusia itu sama, hanya membedakan warna kulit dan dan budaya saja. Maka hormatila sesame manusia dimana mereka memiliki harka dan martabat yang sama dengan manusia lainya.

i.       Tresno marang sepepadaning Urip : maksudnya semua yang di ciptakan Allah adalah mahluk yang ada karena kehendak Allah yang Kuasa.memiliki fungsi masing masing.dengan menghormati semua ciptaan Allah maka kita telah menghargai dan menghormati kepada PENCIPTANYA.

j.       Hormat marang kabeh agomo, maksudnya hormatilah semua agama atau aliran dan para penganutnya.

k.     Percoyo marang Hukum Alam” : maksudnya selain Allah menurunkan kehidupan,Allah juga menurunkan Hukum Alam dan menjadi hokum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai,

l.       Percoyo marang kepribaden dhewe tan owah gingsir” : maksudnya manusia ini rapuh dan hatinya berubah ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menepatkan diri di hadapan Allah, agar selalu mendapat lindungan dan rahmat Nya dalam menjalani Hiudp dan kehidupan ini.

m.  Tatanan Paugeraning Urip yang 12 di atas di ringkas menjadi tiga konsep

n.     Hubungan Manusia dengan Allah/Tuhan Yang Maha Esa.

o.     Hubungan Manusia dengan sesama Manusia

p.    Hubungan Manusia dengan Alam Semesta.

q.     Kesemua tatanan di tersebut di atas adalah kaitannya dengan konsep “tatanan Menembah.

r.      Sangkan Paraning Dumadi : yaitu Sangkaning Dumadi dan Paraning Dumadi dimana maksudnya adalah agar manusia mengetahui dari mana dia berasal dan mau kemana dia akan kembali.

s.      Manunggaling Kawulo lan Gusti : yaitu manunggaling kawulo dengan Gusti adalah dengan melakukan smeua perintahnya, melakukan dan menuruti peraturan peraturan yang di perintakan dengan sbeaik baiknya.

t.       Kasedan Jati : yaitu dimana posisi kesadaran manusia sampai kepada tataran sangat menyadari dan telah melakukan atau menjalani kehidupan yang di sebutkan di atas sehingga semua telah menuruti kehendak Allah Tuhan Yang Maha Esa. Dengan istilah “Hidup sekali dan mati pun sekali .

u.     Tuntunan Sikap terhadap Paugeraning Urip. Kaki Semar menuntunkan sikap terhadapt Paugeraning Urip adalah dengan Kata sesanti atau Petuah OJO DUMEH,ELING LAN WASPODOkarena : Ojo dumeh, Eling lan waspodo” adalah bekal manusia menghadapi ujian dan perjuangan hidup dan menjadi senjata ampuh untuk menjadi kesatria utama dalam menaklukan dirinyasendiri dan mewujudkan “Roso setyo lan mituhu dumateng Gusti serta untuk  Hamemayu Hayuning Bawono. Ojo dumeh, Eling lan Waspodo” adalah sebagai penyeimbang, sehingga pada kondisi maupun situasi apapun manusia akan selamat”Rahayu”, tidak mudah panic dalam setiap pemecahan masalah yang di hadapinya. ojo dumeh, Eling lan Waspodo”sebagai sarana pencegahan terhadap kecerobohan dan kelalaian yang sering manusia lakukan, karena telah menyadari dan memahami serta mentaati semua kaidah Agama, Budi pekerti, maupun aturan aturan manusia lainnya.

v.     OJO DUMEH yang maksudnya “Jangan Mentang Mentang” adalah suatuperingatan agar manusia tidak larut dengan pa ayang di miliki atau di jalaninya, sehingga cendrung menjalani keputusan hidup yang negatip seperti :

1)    Mentang mentang kaya, maka kita menjadi sombong dan merasa semua dapat di beli dengan uang.

2)    Mentang menatng Miskin, maka kita menjadi putus asa dan mengakibatkan kita mengumpat sana sini kepada yang kaya.

3)    Siapa yang “mentang mentang” maka suatau saat akan menjadi sebagaimana dalma pribahasa Jawa :

a)     Sopo sing Dumeh bakal keweleh

b)    Sopo sing adigang bakal keplanggrang

c)     Sopo sing Adigung bakal kecemplung

d)    Sopo sing Adiguno bakal ciloko

e)     Sopo sing Becik bakal ketitik

f)      Sopo sing salah bakal seleh

g)     Sopo sing Temen bakal Tinemu

h)    Eling Lan Waspodo maksudnya Ingat dan Waspada.

i)       Ingat yang dijalani adalah inget dalam kaitan Menembah kepada Tuhan, ingat akan karunianya, Rahmanya,Nikmatnya , selalu ingat akan kesalahan kita kepada Tuhan, pelanggaran yang kita lakukan dan meminta ampunan kepada Nya. Dengan demikian akan lahirlah Budi perkerti yang luhur sehingga Eling ini akan melahirkan kepedulain kepada manusia dan lingkungan sekitarnya.

j)       Waspodo/Waspada adalah bentuk ke hati-hatian manusia dalam menjalankan hidup, teliti dan mengakibatkan kita menjadi Wara dalam memilih dalam keputusan kita sehari hari. Berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku. Mana yang merupakan perintah dan mana yang merupakan larangan akan menjadi terang dan jelas bagi kita.sehinga kta akan selamat dalam perjalanan hidup ini.

k)    Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo merupakan satu kesatuan yang dipahami secara utuh, sehingga manusia di harapkan menjadi Pasrah dan Yakin Kepada Kekuasaan Tuhan serta menjadi bijaksana,sederhana dan hati hati. Manusia menjadi “Bisa Merasa.” Bukan ”Merasa Bisa.” begitulah Semar berfilosofi.

l)       Dengan “Ojo Dumeh,Eling lan Waspodo”, maka dalam bahasa Jawa disebutkan :

a)     Ono Luwih,Luwih soko Ono

b)    Kang Kebak,Luwih dening kebak

c)     Kang suwung,Luwih dening Suwung

d)    Kang Pinter, Luwih dening Pinter

e)     Kang Sugih, Luwih dening Sugih..

 

 

Aji Gineng Sukawedha

(Lambang Pemahaman Seorang Pemimpin Terhadap Rakyatnya)

Lurah Semar Saat Mewejang Momongannya, Raden Permadi Arjuna

Wujud Bakti suci Arjuna pada Negara, dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa berupa Wahyu “Aji Gineng Sukawedha” penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar.

Keberhasilan ini adalah wujud kerja kerasnya yang dibantu oleh Ki Lurah Semar Bandranaya.

Wahyu Aji Gineng Sukawedha adalah ajian sakti yang oleh salah satu pemiliknya Pikulun Nagaraja, digunakan untuk mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini.  Sementara pemilik ajian serupa Prabu Newatakawaca, menempatkan aji gineng di dalam tenggorokannya. Baik Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi dan penyampaian pesan.  Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit mampu memahami kehendak bawahannya.  Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan dengan bawahannya.

Untuk mendapat wahyu tersebut  dari Batara Guru Arjuna, sengaja  dikadali oleh Bethara Guru, dikarenakan Bethara Guru berniat menyerahkan Aji Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.

Mengetahui hal tersebut, sebagai abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Lurah Semar  bergegas menuju kahyangan guna menuntut keadilan pada Bethara Guru, dikarenakan perjuangan dan pengorbanan Arjuna dalam menempuh Tapa brata, sudah dianggap layak guna memperoleh wahyu tersebut. Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Lurah Semar.  Lurah Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.

Dalam Lakon Semar Maneges, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan.  Nilai filosofis yang tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang pemimpin yang akan dapat dicapai apabila seorang ksatria/pemimpin senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam meraihnya.  Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah simbol seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja yang dianggap mengerti dan bertanggung jawab terhadap rakyat kecil.

Dengan wahyu gineng inilah Pandawa semakin kuwat mewakili kebenaran. Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan Negara Hasitana kepada Pandhawa.  Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita Durna.  Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di lereng Gunung Arjuna.  Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha. Alhasil Karnapun juga mendapat aji gineng yang serupa dengan milik Arjuna.

Di kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani.  Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.

Seperti saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah Pandhawa, Raden Arjuna, yang dikemudian hari ajian itupun digunakan Raden Permadi menumpas keangkaramurkaan Kurawa.

Aji Gineng  adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dikemudian hari juga dimiliki oleh Pikulun Nagaraja, yang kelak menjadi Guru Spritual Prabu Malwapati Angling Darma.  Ajian inilah yang pada akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri.  Dikarenakan, Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja.  Hasilnya, Angling Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini.  Setyowati membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini kepadanya.  Yang kedua, Aji Ginengdimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa.  Hingga Tak seorangpun mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini.  Namun dikarenakan raja tersebut menyalah gunakan aji luhur ini di jalan kesesatan, pada ahirnya raja sakti ini, terbunuh oleh ajiannya sendiri.



Imajiner Nuswantoro 



 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)