CERITA PANJI LARAS

0

CERITA PANJI LARAS



Imajiner Nuswantoro



Imajiner Nuswantoro



Petilasan Dewi Sekartaji di desa Janti Wates kabupaten Kediri 




Di abad ke 10, sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kahuripan dipimpin oleh seorang raja yang sangat bijaksana sehingga mencipatakan suasana kerajaan yang adil dan makmur. Karena cara memimpinnya yang disenangi oleh rakyat, Prabu Airlangga memerintah kerajaan tersebut hingga ia tua. Di penghujung kekuasaannya, Prabu Airlangga bermaksud mewariskan tahta Kerajaan Kahuripan kepada kedua puteranya, yaitu Jayengrana dan Jayanegara. Agar kerajaan tersebut dapat dibagi secara adil, Sang Prabu meminta bantuan seorang penasehat kerajaan yang jujur dan sakti, yaitu Empu Baradah. Dengan berbagai cara dan pertimbangan-pertimbangan Empu Baradah berhasil membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian, yakni Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri. Jenggala dipimpin Jayengnara selaku putra sulung Prabu Airlangga, sedangkan Kediri dipimpin oleh Jayanegara. Sementara, Selain itu, Prabu AirAngga beserta Isteri pergi bertapa ke Lereng Gunung Penaggungan. Seperti Ayahnya, Jayengnara dan Jayanegara juga sangat disenangi oleh rakyatnya.

Di suatu hari, permaisuri Raja Jayengrana pun mengandung yang mana kemudian melahirkan seorang putera nan rupawan yang diberi nama Panji Inukertapati. Sementara itu, tak lama setelah itu permaisuri raja Jayanegara pun melahirkan seorang puteri yang cantik jelita dan diberi nama Sekartaji. Panji dan Sekartaji sangat akrab. Oleh karenanya, ketika mereka sudah tumbuh dewasa Raja kakak beradik tersebut menjodohkan putera-puteri mereka. Panji dan Sekartaji pun sangat senang dan menyetujui hal tersebut. Kabar perkawanian keduanya menyebarluas ketelinga rakyat. Ketampanan dan kecantikan mereka pun sanagt dikagumi rakyatnya dan meluas hingga sampai ke luar wilayah Kediri. Suatu hari, kabar tantang ketampanan Raden Panji sampai ke telinga raksasa Ni Kadalwerdi, puteri dari Ki Kadalyaksa dan Nyi Kadalyaksi. Mendengar berita tersebut, Ni Kadalwerdi pun jatuh cinta kepada Raden Panji dan berkeinginan untuk menjadi permaisurinya. Keinginan ini mengundang orangtuanya terpaksa melakukan tindakan yang keji.

Agak keinginan Ni Kadalwerdi terpenuhi, Ki Kadalyaksa menyulap wajah dan tubuh puterinya persis seperti Dewi Sekartaji. Setelah itu, Ki Kadalyaksa dan Isteri menculik Dewi Sekartaji dan Ni Kadalwerdi pun datang ke istana Kediri dengan tubuh dan wajah persis seperti Dewi Sekartaji. Sebenarnya, sebelum kedatangan Ni Kadalwerdi ke istana, kabar hilangnya Dewi Sekartaji di keputren pun sudah menyebarluas. Hanya saja, ketika Ni Kadalweri dengan rupa yang persis Dewi Sekartaji datang ke istana, tak seorangpun yang menaruh curiga.

Di saat Ni Kadalwerdi hidup bahagia di istana bersama Raden Panji, Dewi Sekartaji terlunta-lunta di hutan belantara dengan kondisi sedang mengandung. Ketika ia berjalan di tengah hutan, ia melihat seorang lelaki tua sedang bertapa di dalam goa. Tanpa berpikir panjang, Dewi Sekartaji pun langsung ikut bertapa di goa tersebut. Hari mulai berganti, bulan pun demikian, kandungan dewi sekartaji makin membesar. Hingga di suatu pagi ia dibangunkan oleh lelaki tua tersebut karena kandungannya yang sudah mendekati waktu melahirkan. Dewi Sekartaji pun diajak lelaki tua itu ke gubuknya. Ternyata lelaki tua tersebut merupakan seorang pendeta, yaitu Pendeta Waskita. Ia pun sangat baik dan membantu proses melahirkan Dewi Sekartaji.

Panji Laras, begitulah nama putera yang dilahirkan oleh Dewi Sekartaji. Panji Laras pun tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan dan cerdas. Hari-harinya ditemani oleh seekor ayam jantan yang unik, ayam yang didapat Sekartaji di tengah hutan. Kala itu, ayam tersebut dilempar seekor kera dari atas pohon, kemudian dirawat dan dijagalah ayam tersebut oleh dewi sekartaji.


Keunikan ayam tersebut adalah kokoknya yang merdu seperti orang sedang bernyayi.

Bak… bak.. bak…..Kuku ruyuuuukkkk…

Jago si Panji Laras

Rumahnya tengah hutan

Atapnya daun pisang…..

Begitulah suara merdu ayam panji laras saat berkokok. Keunikan dan kehebatan ayam Panji Laras saat bertarung pun mulai terkenal luas. Kerajaan Kediri pun kerap mengetahuinya. Di suatu hari, ketika sudah mengetahui identitas dirinya dari Pendeta Waskita Panji Laras berniat menyabung ayamnya ke kerajan Kediri. Niat utama kedatangan PAnji Laras sebenarnya ingin bertemu dengan ayahnya, Raden Panji. Ketika sampai di Kerajaan Kediri, Panji Laras ditantang oleh PAngeran Muda, yaitu putera Raden Panji dengan Ni Kadalwerdi, raksasa yang telah menjelma menjadi Dewi Sekartaji. Dengan kehebatan dan kekuatannya, Ayam Panji Laras pun berhasil mengalahkan seluruh ayam Pangeran Muda. Bahkan setelah pertarungan ayam tersebut, Pangeran lMuda tidak menerima kekalahan tersebut karena ia telah menaruhkan seluruh istana kepada Pani Laras. Sementara Panji telah menaruhkan nyawanya. Setelah pertarugan ayam selesai, Pangeran Muda pun meneyerang Panji, yakni bermaksud mengahabisi Panji Laras. Dengan penuh keterpaksaan Panjipun melawan dan berhasil menewaskan Tuan Muda.

Setelah itu, dengan penuh ketakutan Panji Laras pun lari dengan menggait ayamnya kembali ke gubuknya di kaki Gunung Wilis. Ia takut dihukum karena telah menewaskan seorang putera raja. Smeentara itu, Raden Panji sudah semakin curiga kalau panji laras adalah anaknya, sebab wajah mereka sngatlah mirip. Raden Panji juga mulai curiga kalau pangeran muda bukanlah anaknya, Dewi Sekartaji yang selama ini tinggal bersamanya pun bukanlah Dewi Sekartaji yang sesungguhnya. Dengan kesungguhan hati, Raden Panji bersama kedua pengawalnya berniat mencari Panji Laras. Mereka pun mendengar kokok ayam Panji Laras di tengah hutan sehingga dapat menemukan gubuk yang menjadi tempat tinggal Panji Laras . Raden Panji dan para pengawalnya pun mendatangi gubuk tersebut dan berjumpa dengan kakek pendeta. Raden Panji pun bertanya banyak hal tentang identitas Panji Laras. Kakek pendeta pun menceritakan kisah mulanya dia bertemu dengan Dewi Sekartaji. Untuk memperjelas cerita tersebut, Pendeta Waskita  pun memanggil Dewi Sekartaji yang sedang berada di dapur. Raden Panji pun sangat terkejut melihat kenyataan itu. Dewi Sekartaji juga demikian. Rasa haru dan bahagia pun menyelimti mereka. Setelah itu, Raden Panji memohon kepada Pendeta Waskita untuk membawa kembali Dewi Sekartaji dan Panji Laras untuk kembali tinggal ke istana. Pendeta tua itu pun mengikhlaskan keprgian Panji Laras dan Dewi Sekartaji.

Kabar kepulangan dan ditemukannya Dewi Sekartaji akhirnya menyebarluas ke semua rakyat. Ni Kadalwerdi pun mendengar kabar tersebut. Setelah mengatahui hal ini, Ni Kadalwerdi pun langusng melarikan diri dari istana. Ia berlari ke tengah hutan dan menemui kedua orangtuanya. Bukannya mendukung puterinya, Ki Kadalyaksa dan Nyi Kadalyaksi pun menasehati puteri mereka bahwa tindakan buruk tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Selain itu, sebagai hukumannya mereka juga menyuruh Ni Kadalwerdi untuk bertapa di puncak Gunung Wilis memohon ampunan kepada Tuhan di sana.


ALUR

Hikayat ini menggunakan alur kronologis atau progresif. Dalam plot kronologis, awal cerita benar-benar “awal”, tengah benar-benar “tengah”, dan akhir cerita benar-benar merupakan “akhir”. Hal ini berarti bahwa dalam plot kronologis, cerita benar-benar dimulai dari eksposisi, melampaui komplikasi dan klimaks yang berawal dari konflik tertentu, dan berakhir pada pemecahan atau denoument (Sayuti, 2000: 57).

Alur dalam hikayat ini dapat diskemakan sebagai berikut :

Kala itu Prabu Air Langga membagi kerajaan kahuripan menjadi dua bagian yaitu kerajaan Kediri dan kerajaan Jenggala. Kediri dipimpin oleh Jayengrana sedangkan Jenggala dipimpin oleh Jayanegara. Suatu hari kedua kakak beradik tersebut menjodohkan putera dan puterinya, yaitu Raden Panji dan Dewi Sekartaji. Ketika mereka sudah kawin. Ki Kadalyaksa dan Isterinya menculik dewi Sekartaji dan membuangnya ke tengah hutan sehingga puteri mereka yang sudah disulap wajahnya menyerupai Dewi Sekartaji berhasil menjadi permaisuri Raden Panji dan tinggal menetap di istana Kediri. Bertahun-tahun lamanya raden Panji tinggal bersama Ni Kadawerdi. Hingga suatu hari mereka dikaruniai seorang putera. Sementara Dewi Sekartaji masih tetap bertahan hidup dan bertempat tinggal di Lereng gunung wilis bersama puteranya yang ia beri nama Panji serta pendeta tua yang sudah menyelamatkan nyawanya. Suatu hari ketika sudah tumbuh remaja, Panji mendatangi Kediri untuk menyabung ayam dan ia berhasil mengalahkan ayam-ayam putera raja Kediri serta tanpa sengaja dan penuh keterpaksaan ia juga menewaskan putera raja tersebut yang saat itu menyerang panji. Setelah peristiwa tersebut Raja Panji pun mencaritahu keberadaan panji bersama dua orang pengawalnya. Mereka bertiga pun berhasil menemukan panji di rumah pendeta tua di kaki gunung wilis. Raja Panji pun bersua kembali dengan sekartaji di sana dan membawa isteri dan anaknya kembali ke Istana Kediri. Sementara Ni Kadalwerdi pun melarikan diri dari istana karena mengetahui kabar bahwa Raja Panji telah menemukan Sekartaji beserta puteranya. Ia kabur ke tengah hutan dan mengadu kepada orangtuanya. Akan tetapi, kedua orangtuanya pun tidak membela anak tersebut bahkan mereka menasehati Ni Kadalwerdi bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan.

Berdasarkan uraian di atas, alur dalam hikayat ini sebenarnya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebelum dewi sekartaji diculik Ki Kadarlyaksa dan sesudah dewi sekartaji diculik Ki Kadalyaksa. Pada alur bagian pertama sebenarnya tidak terjadi konflik. Alur pada bagian ini hanya memaparkan bagaimana kehidupan rukun serta kebahagiaan kerajaan Jenggala dan Kediri. Sedangkan pada alur bagian kedua ceritanya penuh dengan konflik yang mana dimulai dari dewi sekartaji diculik, dia terlantar di hutan, dan juga lahirnya putera Kediri yang menyerupai raksasa. Akhir dari alur bagian kedua ini juga sarat akan nilai moral, yaitu bahwa suatu niat dan perbuatan buruk tidak akan berakhir indah. Sementara sebaliknya, kesabaran dan ketabahan dalam menjalani hidup akan berujung manis. Begitu juga halnya dengan kehidupan Ni Kadalwerdi yang berakhir tak seindah yang ia inginkan, beragam konflik menimpa dirinya. Mulai dari meninggalnya putera yang sangat ia saying hingga ia harus menyingkir secara sengaja dari istana Kediri. Di sisi lain, kesabaran dan keikhlasan dewi sekartaji membawa ia pada kebahagiaan. Kesabaran di sini dibuktikan dengan kegigihan dewi sekartaji membesarkan anaknya di tengah hutan hingga belasan tahun. Ia juga tidak tergesa-gesa untuk kembali ke Kediri bahkan merahasiakan identitasnya kepada puteranya.


PELAKU

Pelaku dalam hikayat ini terdiri atas :

1.      Raja Kahuripan, Prabu Airlangga, ayah dari Jayengrana dan Jayanegara

2.      Permaisuri Prabu Airlangga

3.      Jayengrana, putera sulung Prabu Airlangga, ayah Panji Inukertapati, Raja Kediri

4. Permaisuri Jayengrana

5. Jayanegara, ayah Dewi Sekartaji, Raja Jenggala

6.  Permaisuri Jayanegara

7.  Raden Panji

8.  Dewi Sekartaji

9.  Ni Kadalwerdi

10.  Panji Laras, putera Raden Panji dan Dewi Sekartaji

11.  Pangeran muda (putera Raden Panji dan Ni Kadalwerdi)

12.  Pendeta Waskita

13.  Ki Kadalyaksa, ayah Ni Kadalwerdi

14.  Nyi Kadalyaksi, ibu Ni Kadalwerdi

15.  Jarodeh dan Prasanta, Pengawal Raden Panji

Berdasarkan perannya dalam cerita hikayat ini, Dewi Sekartaji, Raden Panji, dan Panji Laras merupakan tokoh utama. Ketiga pelaku inilah yang terlibat aktif dalam suatu rangkaian peritiwa yang menjadi unsur cerita. Sementara itu, Ni Kadalwerdi yang dibantu kedua orangtuanya merupakan sosok tokoh antagonis yang dibutuhkan untuk menciptakan konflik.

Penokohan dilakukan dengan cara metode diskursif dan dramatis. Pada metode diskursif pengarang hnaya menceritakan kepada kita karakter tokohnya. Sedangkan dalam metode dramatis tokoh-tokoh dinyatakan seperti dalam drama. Pengarang membiarkan tokoh-tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri melalui kata-kata, tindakan-tindakan, ataupun perbuatan mereka sendiri (sayuti, 2000: 90-92).


METODE 

Contoh pemakain metode ini dalam hikayat Panji Laras adalah sebagai berikut.

“Karena sangat dicintai rakyatnya, Prabu Airlangga memerintah sampai tua Ia ingin meletakkan tahta pemerintahannya untuk diteruskan oleh puteranya. Ia mempunyai dua orang putera yang sangat disayanginya (hlm. 3).”

Dari kutipan di atas terlihat secara eksplisit bahwa Prabu Airlangga memiliki dua orang putera. Ia juga sangat dicintai oleh rakyatnya karena kebijaksanaan dan keadilannya.

“Sebenarnya Kadalyaksa seorang raksasa yang baik hati, tidak suka mengganggu manusia. Bahkan ia terkenal sakti dan suka membantu orang. Tetapi karena keinginan anaknya yang sangat dicintainya maka ia harus melakukan hal yang jahat (hlm. 13).”

Kutipan di atas juga secara terang-terangan menjelaskan bahwa Kadalyaksa pada dasarnya merupakan sosok raksasa yang baik hati. Akan tetapi, ia terpaksa melakukan tindakan jahat atas dasar dorongan puterinya.


METODE DRAMATIS

1. Teknik naming “pemberian nama tertentu”.

Untuk melukiskan gelar kebangsawanan dalam hikayat ini terdapat gelar khusus seperi prabu, raden, dewi, pangeran, dan permaisuri. Selain itu terdapat juga penggunaan gelar penghormatan seperti penggunaan Empu Baradah dan Pendeta Waskita. Empu Baradah dalam hikayat ini merupakan sosok penasehat Prabu Airlangga yang sangat dipercaya. Ia juga dikenal dengan kesaktian dan kebijaksanaannya. Sementara Pendeta Waskita merupakan pribadi yang baik dan taat kepada tuhan. 

2. Teknik pandangan seorang tokoh atau banyak tokoh terhadap tokoh tertentu.

Pada teknik ini tokoh dalam cerita dilukiskan berdasarkan pandagan tokoh yang lain terhadap tokoh tertentu yang menjadi objek. Beikut contoh penggunaannya yang tedapat dalam hikayat Panji Laras ini.

“Aku pernah melihat Raden Panji lewat di jalan itu ketika beliau hendak berburu ke hutan di sebelah selatan sana”, kata seorang gadis kepada teman-temannya ketika mereka mencuci pakaian di sungai. Ia menunjuk sebuah jalan menuju hutan tak jauh dari sungai tempat ia mencuci. Aduh selama hidup aku belum pernah melihat lelaki setampan itu” katanya bangga (hlm 9).”

Dari kutipan di atas dapat kita lihat bahwa tokoh lain secara langsung memuji ketampanan Raden Panji. Ia memberikan suatu pandangan atau pendapat terhadap tokoh lain, dalam hal ini tentunya Raden Panji sehingga pembaca bisa mengetahui bahwa tokoh yang bernama Raden Panji dalam hikayat ini merupakan sosok yang dikagumi karena ketampanannya.


TEKNIK FISIK

Teknik ini juga sering muncul dalam sebuah cerita untuk melukiskan watak dan sifat-sifat tokoh tertentu. Wujud fisikdapat dinyatakan secara langsung ataupun melalui mata dan pandangan tokoh lainnya (Sayuti, 2000: 105). Contoh dari teknik ini dapat dilihat pada kutipan berikut.

“Panji Laras heran melihat pangeran muda yang bertampang raksasa. Tubuhnya besar, perutnya buncit, matanya merah melotot, giginya besar-besar bertaring panjang. Padahal ia calon raja Kediri (hlm. 30).”

Kutipan di atas memberitahu para pembaca secara detail mengenai kondisi fisik Pangeran Muda. Para pembaca menjadi tahu bahwa Pangeran muda merupakan sosok raksasa yang mengerikan dengan sepasang mata merah, bergigi besar-besar,serta taring yang panjang.Melalui kutipan di atas para pembaca dapat memvisualisasikan wujud fisik pangeran muda dengan jelas.


LATAR

Rangkaian peristiwa dalam hikayat ini terjadi pada latar yang sangat beragam. Bermula dari kehidupan damai sang Prabu Airlangga di Kerajaan Kahuripan. Selanjutnya, menceritakan kehidupan Jayengrana dan Jayanegara di Jenggala dan Kediri. Tidak hanya sampai di sini, beragam pertiwa lainnya juga pernah terjadi di hutan belantara, daerah Gunung Wilis, lingkungan kerajaan, gubuk di tengah hutan, di pedesaaan, dan sebagainya.

Selain itu, waktu dan suasananya pun variatif. Dimulai dengan suasana yang membahagiakan, yaitu ketika Raden Panji dan Dewi Sekartaji hidup bahagia bersama di Kerajaan Kediri. Namun, suasana yang mengharukan pun kerap terjadi, contohnya saja ketika Dewi Sekartaji terdampar sendirian di hutan belantara setelah diculik oleh Ki Kadalyaksa. Hal ini juga sama halnya ketika Panji Laras menjadi bahan olo-olokan orang kampong ketika ia tidak tahu nama ibu dan ayahnya.


TEMA

Pokok permasalahan dari hikayat ini adalah mengenai cinta dan kesabaran. Kedua aspek ini merupakan unsur penting dalam terjadinya serangakaian peristiwa yang ada. Cinta di sini mengenai cinta orangtua terhadap anaknya, cinta sepsang suami isteri, dan bahkan cinta terlarang tokoh lain terhadap tokoh tertentu. Cinta dalam hikayat ini dapat menumbuhkan kebahagian serta juga bisa mengundang seseorang untuk melakukan kejahatan seperti halnya perbuatan Ni Kadalwerdi terhadap Dewi Sekartaji.

Sementara itu, kesabaran dalam hikayat ini terlukis pada watak Dewi Sekartaji ketika ia diculik Ki Kadalyaksi dan didamparkan kehutan belantara. Ia tetap ikhlas dan sabar berjuang membesarkan Panji Laras hingga tumbah remaja. Di sisi lain, sikap sabar juga tercermin pada karakter Ki Kadalyaksa dan Nyi kadalyaksi ketika mengetahui puteri kesayangan mereka menyingkir dari istana Kediri. Mereka menyadari keslaahan-kesalahan yang telah diperbuat dan bahkan mereka meminta puterinya untuk bertobat atas kesalahan tersebut.


NILAI 

Hikayat ini sangat sarat dengan nilai moral, sosial, dan edukasi. Hikayat ini mengajarkan kepada para pembaca bahwa sosok orangtua harus berlaku adil terhadap anaknya. Hal ini sebagaimana tercermin pada sikap Prabu Airlangga dalam membagi kerajaan Kahuripan menjadi dua bagian. Selain itu, sikap rukun serta saling mendukung antarsaudara juga dicerminkan pada hangatnya hubungan antara Jayengrana dan Jayanegara.

Sementara itu, nilai sosialnya tergambar pada sikap Pendeta Waskita yang dengan ikhlas membantu Dewi Sekartaji ketika tersesat di hutan. Bahkan Dewi Sekartaji pun hidup bersamanya selama belasan tahun sehingga ia sudah menggap Pendeta Waskita sebagai ayahnya. Tidak hanya itu, ketulusan dan besarnya sikap sosial Pendeta Waskita juga terlukis ketika ia dengan senang hat menjaga dan membesarkan Panji Laras.

Selanjutnya, nilai edukasi dalam hikayat ini tergambarkan pada sikap Ki Kadalyaksi dan Nyi Kadalyaksi yang tidak geram ketika mengetahui puterinya pergi meninggalkan kerajaan Kediri. Bahkan mereka dengan bijak menasehati anaknya kalau ia sudah menempuh tindakan yang buruk sehingga sesuatu yang wajar kalau kehidupannya berakhir tidak bahagia. Di samping itu, mereka juga meminta puteri agar memohon ampun kepada Tuhan atas segala perbuatannya selama ini dengan cara bertapa ke puncak Gunung Wilis.


PENGARUH KEHIDUPAN 

Berdasarkan tema dan alur yang diceritakan, dapat diketahui yang menjadi keyakinan pengarang yaitu bahwa suatu percintaan dan kehidupan rumah tangga tentunya akan menemui banyak rintangan yang mestinya dihadapi dengan kesabaran. Hal ini dapat dilihat pada kehidupan Raden Panji dan Dewi Sekartaji yang mengalami permasalahan yang begitu rumit namun dengan kesabaran dan keikhlasan semua dapat berakhir bahagia.


HIKAYAT

Hikayat Panji Laras dapat dikategorikan dalam hikayat sejarah, sebab hikayat ini menggambarkan suatu kehidupan di lingkungan kerajaan di masa lampu. Hal ini dapat dilihat dari latar yang digunakan, penamaan tokoh-tokoh, serta kisah yang diceritakan memuat akan asal asul serta seluk-beluk kehidupan Kerajaan Kediri di masa lampau. Selain itu, berdasarkan isi ceritanya hikayat ini juga dapat digolongkan dalam hikayat jenis rekaan karena mengandung usur-unsur yang bersifat fiktif.


PANJI LARAS & PANJI SEMIRANG

Kisah ini terjadi di Jaman Kali Yoga di Kala Pranit

Dimulai saat Mahaprabu Airlangga menjelang surut, maka putri sulungnya Sanggrama Wijaya Jaya Wardani atau Putri Kilisuci menggantikannya. Namun disebabkan putrinya (Sanggrama Wijaya) mandul (Kedhi),maka kratonnya akhirnya disebut Kraton Kedhi Putri yang lalu dikenal dgn nama Kuripan. Pada saat pas di wuku sungsang Sanggrama Wijaya mendapat wangsit yg bisa menyembuhkan dirinya adalah seorang pangeran dari Jambudipa (Kalimantan bukan di india) maka beliau mohon pamit ke pertapaan Resi Airlangga.

Putri Kilisuci lalu pergi ke Jambudipa dengan kapal laut. Karena beliau berdiri di anjungan depan maka dari daratan kapal kadangkala kelihatan dan muncul dan kadankala tertutup ombak, maka oleh Pangeran Aswawarman yang sedang bertapa di tepi pantai diberi julukan Dewi Timbul Buih, dan tempat mendaratnya Dewi Kilisuci dinamakan Balikpapan.

Sementara di Kedhiri Mahaprabu Airlangga serba bingung disebabkan kedua anak lakinya selalu bermusuhan dan tidak bisa rukun. Maka beliau memerintahkan Mpu Bogorpradah (Mpu Bharada) membagi Kedhiri menjadi 2 kerajaan yaitu Panjalu di barat sungai Gangga (sungai Brantas) dipegang oleh Mahapanji Lembu Amiluhur, dan di sebelah timur Gangga dinamakan Jenggala Manik dan dipegang oleh Mahapanji (Mapanji) Lembu Amiseno. Sejak diperlebar dan dibagi dua oleh Mpu Bogorpradah maka nama sungai diganti menjadi Brantas (untuk memberantas perang saudara), namun perang tetep tidak bisa dihindarkan. Disebabkan oleh kehebatan mpu Bharada tak ada pasukan yang bisa menyebrang sungai Brantas. Maka Lembu Amiseno mengutus Pangeran Inukertapati menyusup ke Panjalu, dan saat menyusup sempat ketahuan pasukan Panjalu dan dikejar. Beliau Inu Kertapati lari ke arah kepatihan, dan saat itu ketemu Dewi Anggraini Sekarjati (bukan Sekartaji) putri dari Mahapatih Panjalu Kudarawarsa. Terpikat kecantikan Dewi Anggraini, maka Raden Inukertapati dengan senanghati melaksanakan tugas  memata-mataii Panjalu.

Suatu ketika ketika Raden Inukertapati pulang dari kepatihan di Panjalu, ia ketahuan oleh salah satu penjaga kepatihan dan dilaporkan ke Mapanji Lembu Amiluhur. Hal ini menyebabkan Mapanji Lembu Amiluhur marah besar dan mengeksekusi seluruh keluarga Mapatih kudarawarsa termasuk Dewi Sekarjati.

Kejadian ini, terbunuhnya Dewi Sekarjati membuat shock Panji Laras putra Mapanji Amiluhur.  Dewi Sekarjati adalah teman baik Panji Laras dari kecil, maka beliau marah terhadap orang tuanya dan pergi meninggalkan kraton.

Sementara itu ketika Panji Inukertapati datang ke Panjalu dan tidak menemukan Dewi Sekarjati beliau bertanya ke beberapa masyarakat.  Setelah tahu peristiwa yang terjadi, beliau sangat kecewa dan pulang ke kasatriannya. Raden Inukertapati  sangat shock atas kejadian tersebut dan sangat merasa bersalah. Sejak saat itu kastriannya lalu dinamakan kraton Gegelan(kecewa). Dikarenakan salah ucap jadi Gegelang atau Gagelang, dan beliau dinamai Panji Sumirang (seorang pembuat wirang/malu dengan tingkah lakunya seperti orang gila). Lalu Raden Panji Inukertapati memilih pergi dari istana dan masuk ke hutan.

Disana beliau bertemu dengan Panji Laras dan mereka sepakat tidak akan mau pulang jika kedua orang tuanya masih berperang. Maka dengan sangat terpaksa Mapanji Lembu Amiluhur dan Mapanji Lembu Amiseso berdamai, dan memerintahkan Mpu Bharada agar mencari kedua putra mahkota.

Ketika akhirnya Mpu Bharasa bertemu keduanya, tak satupun  bersedia menjadi raja. Maka Panji Inuikertapati dibujuk mpu Bharada agar memindahkan pusat pemerintahan ke Galuh, dan Mpu Bharada berjanji jika Panji Inukertapati bersedia menjadi Mapanji (Raja) maka akan bisa bertemu Dewi Sekarjati lagi.

Atas usulan Mpu Bharada tersebut  Inu Kertapati dan Panji Laras bersedia pulang. Inu Kertapati kemudian menjadi Mapanji di Galuh (Bogor) bergelar Mapanji Kudawaneng Pati.

Ketika sedang berbicara berdua dengan Panji Laras di taman istana tepat di bulan purnama penuh, tiba-tiba arwah Dewi Sekarjati masuk ke Panji Laras dan berbicara “Masih ingat aku apa tidak kakang….aku Anggraini”. Peristiwa itulah yang dikenal dengan Galuh Candrakirana, yang artinya Bulan Purnama di Galuh

Kemudian setelah kejadian itu arwah Dewi Sekarjati sering masuk/trans ke Panji Laras sehingga keduanya menjadi wadat atau tidak menikah sama skali. Dan disaat-saat terakhir sebelum Dewi Klilisuci balik dan pulang membawa putranya, Dewi Anggraini Sekarjati sempat meminta besok di Jaman Kalawisesa beliau akan menitis ke putri Pakuan, kiranya kisah sejarah ini tidak dilupakan

Mahaprabu Airlangga adalah adik dari Shantika Maha Dewi. Putri Shantika Maha Dewi yang menyerahkan tahta kepada adiknya Airlangga. Putri Shantika Maha Dewi dan Airlangga adalah cicit dari Bandung Bondowoso, atau cucu dari Mpu Sindok yang bergelar Sang Prabu Isyana Tungga Wijaya.

Tempat peristiwa Galuh Candrakirana posisinya di Kebun Raya Bogor, dimana didalam KebonRaya terdapat makam dengan mahkota yang sering disowani oleh berbagai kalangan.


PANJI ASMARA BANGUN , DÈWI ANGGRAÈNI LAN DÈWI SÊKARTAJI
Sanadyan Dèwi Kilisuci (Sanggramawijaya Tunggadèwi) miyos sÃ¥kÃ¥ garwÃ¥ padmi , nanging piyambaké ora kêrsÃ¥ nampani wêwênang waris jumênêng nÃ¥tÃ¥ , malah milih mungkuraké kadonyan , mêrtÃ¥pÃ¥ ing GuwÃ¥ Sèlomanglèng , Gunung Klotok sisih kulon kuthÃ¥ Kadiri. 
Pêpancasané Dèwi Kilisuci agawé rÃ¥sÃ¥ prihatin lan sumêlangé Prabu Airlangga , yèn ing têmbé bisa dadèkaké papérangan rêbutan panguwÃ¥sÃ¥ antaraning putra-putrané. 
Prabu Airlangga banjur nêtêpaké yèn nagari Kahuripan kapèrang (dipalih) dadi loro. 
Mpu Bharada ingkang pinitÃ¥yÃ¥ ngayahi jêjibahan. Kanthi mahawan gêgÃ¥nÃ¥ manitih imÃ¥ , Mpu Bharada ngucuraké tirtÃ¥ suci kang ora Ã¥nÃ¥ êntèké sÃ¥kÃ¥ kêndhi , minÃ¥ngkÃ¥ watês antaraning nagari siji lan sijini. Sinartan tansah mamuji JawÃ¥tÃ¥ ugÃ¥ paring sabdÃ¥ , supÃ¥yÃ¥ ing têmbé nÃ¥tÃ¥ panguwÃ¥sÃ¥ nagari kêkalih , tansah ngutamakaké karukunan lan katêntrêmaning bawÃ¥nÃ¥. AmargÃ¥, sÃ¥pÃ¥ waé kang ngêrsaaké lan ngrêbut Ã¥pÃ¥ kang dudu wêwênangé , bakal antuk siku dêndhaning JawÃ¥tÃ¥.  
Kahuripan wus kapèrang dadi loro. Nagari Jênggala kuthå-nagariné ing Kahuripan , nguwasani tlatah Malang , Surabaya , Pasuruan , ingkang jumênêng nåtå Råjå Jayantaka Tunggadèwa (Prabu Lêmbu Amiluhur).
Wondéné nagari Kadiri (Panjalu) kuthÃ¥-nagariné ing Daha , nguwasani tlatah Kediri , Madiun , Ngawi , ingkang jumênêng nÃ¥tÃ¥ RÃ¥jÃ¥ Jayawarsya Tunggadèwa (Prabu Lêmbu Amijaya). 
Saturut lumakuning wêktu , nÃ¥tÃ¥ rÃ¥jÃ¥ kêkalih duwé kêkarêpan nyawijiaké manèh nagari Jênggala lan Kadiri , kanthi sarÃ¥nÃ¥ jodhohaké Radèn Panji Inu Kêrtapati (Panji Asmara Bangun) , Pangèran Adipati Anom nagari Jênggala karo Dèwi Sêkartaji (Galuh Candra Kirana) putri nagari Kadiri. 
Nanging tanpÃ¥ kawêruhan dèning sang nÃ¥tÃ¥ ugi ingkang ibu , Radèn Panji Asmara Bangun wis anggarwÃ¥ Dèwi Anggraèni , wanudyÃ¥ èndah sulistyÃ¥ ing warni nanging dudu trah kraton utÃ¥wÃ¥ bangsawan (trah luhur). 
"Ujaring mbok sambiwÃ¥rÃ¥ , pawartÃ¥ kang ginÃ¥wÃ¥ pawÃ¥nÃ¥ binandhunging karnÃ¥" , kêprungu dèning Prabu Lêmbu Amijaya , kang banjur ngutus dutÃ¥-nawÃ¥lÃ¥ sing isiné nakokaké bênêr lan orané pawÃ¥rtÃ¥ kang sumêbar ngênani Radèn Panji Asmara Bangun. Ã…pÃ¥ Prabu Lêmbu Amiluhur arêp murungaké jêjodhohan sing wis sinarujukan sêsarêngan. 
Prabu Lêmbu Amiluhur kang dahat kagèt maos surasané nawÃ¥lÃ¥ , banjur mundhut paniti priksÃ¥ marang mantri prÃ¥jÃ¥ kang pinitÃ¥yÃ¥. 
DutÃ¥ sÃ¥kÃ¥ nagari Kadiri banjur kinèn bali kanthi nggÃ¥wÃ¥ nawÃ¥lÃ¥ kang isiné Prabu Lêmbu Amiluhur ngaturaké kaluputan , amargÃ¥ dadi wong tuwÃ¥ kurang ing panggulawêntahing marang putrÃ¥. 
"SarèmaÃ¥ pinÃ¥rÃ¥ sÃ¥srÃ¥" ora Ã¥nÃ¥ sêdyÃ¥ murungaké jêjodhohan antaraning Dèwi Sêkartaji lan Radèn Panji Asmara Bangun. 
Prabu Lêmbu Amiluhur ugÃ¥ ngaturi yèn bakal ngrampungi rêribet kang digawé putrané. 
Prabu Lêmbu Amiluhur banjur paring dhawuh marang Udapati Kêrtala , putrané sÃ¥kÃ¥ garwÃ¥ ampil , kinèn nyirnaaké Dèwi Anggraèni. 
Udapati Kêrtala rumÃ¥ngsÃ¥ abot nglêksanani parèntahing sang Prabu , amargÃ¥ kajÃ¥bÃ¥ trêsnÃ¥ marang adhiné , uga mèlu bungah bagyÃ¥ (bahagia) ndulu karukunané sang adhi Radèn Panji Asmara Bangun karo Dèwi Anggraèni. 
Sawisé pinangih karo sang adhi lan Dèwi Anggraèni , Udapati Kêrtala banjur ngêndikÃ¥ , mênÃ¥wÃ¥ ingkang rÃ¥mÃ¥ Prabu nandhang gêrah , Radèn Panji Asmara Bangun kinèn sowan dhatêng wiku Dèwi Kilisuci , nyuwun usÃ¥dÃ¥ "Tlutuhing kayu kastubÃ¥ , roning sandilÃ¥tÃ¥". 
Sawisé Radèn Panji Asmara Bangun bidhal , Dèwi Anggraèni masrahaké patiné marang ingkang rÃ¥kÃ¥. Sang Dèwi wus "tanggap ing sasmita , limpat pasang ing grahitÃ¥" , mênÃ¥wÃ¥ têgêsé "tlutuhing kayu kastubÃ¥" kuwi gêtihé sang Dèwi , sêmono ugÃ¥ "ron sandilÃ¥tÃ¥" kuwi têgêsé ragané sang Dèwi. 
Prabu Lêmbu Amiluhur ngêrsaaké patiné Dèwi Anggraèni amargÃ¥ dianggêp dadi pêpalang jêjodhohané Raden Panji Asmara Bangun karo Dèwi Sêkartaji. 
Ing kadhaton Kadiri , Dèwi Sêkartaji nandhang sungkÃ¥wÃ¥ nalikÃ¥ krungu pawartÃ¥ yèn Radèn Panji Asmara Bangun wis anggarwÃ¥ Dèwi Anggraèni. 
Kanthi didhèrèkaké êmban kinasih , Dèwi Sêkartaji oncat sÃ¥kÃ¥ kadhaton tanpÃ¥ kawruhan ingkang rÃ¥mÃ¥ prabu. 
Radèn Panji AsmÃ¥rÃ¥ Bangun ugÃ¥ nandhang sungkÃ¥wÃ¥ nalikÃ¥ ngêrti ingkang garwÃ¥ Dèwi Anggraèni sampun pêjah , Ã¥pÃ¥ manèh kêprungu pawartÃ¥ yèn tunangané Dèwi Sêkartaji mèndrÃ¥ sÃ¥kÃ¥ kadhaton datan kawruhan tindaknyÃ¥.  
Radèn Panji Asmara Bangun banjur lungÃ¥ sÃ¥kÃ¥ kadhaton kanthi didhèrèkaké sawatÃ¥rÃ¥ prajurit , ngulandÃ¥rÃ¥ ngupadi Dèwi Sêkartaji. 
Cêkaké caritÃ¥ gancanging lampah , Radèn Panji Asmara Bangun bisÃ¥ kêpanggih karo Dèwi Sekartaji. 
NÃ¥tÃ¥ sumawÃ¥nÃ¥ pÃ¥rÃ¥ kawulÃ¥ nagari kêkalih samyÃ¥ sukÃ¥ marwÃ¥tÃ¥ sutÃ¥. 

Miturut sujarah : 
Prabu Airlangga mèrang prÃ¥jÃ¥ Kahuripan dadi loro ing warsÃ¥ 1042. 
Wêwêngkon sisih kulon dadi kraton Panjalu kanthi kuthÃ¥-nagari yasan ènggal sinêbut Daha , kaparingakên marang ingkang putrÃ¥ Sri Samarawijaya. 
Wondéné ingkang putrÃ¥ Mapanji Garasakan pinaringan wêwêngkon sisih wètan dadi kraton Janggala (Jênggala) kanthi kuthÃ¥-nagari lawas , yÃ¥ iku Kahuripan. 
Cathêtan : 
1. Ã…nÃ¥ sêratan sing mratèlaaké yèn sing mêjahi Dèwi Anggraèni winastanan Panji Braja Nata. 
2. Pêsaréané Dèwi Anggraèni ana ing Dusun Blambangan, Kecamatan Berbah, Sleman. 
3. Ã…nÃ¥ lampahan Ringgit Gêdhog sing nyaritaaké yèn prÃ¥jÃ¥ Kahuripan ugÃ¥ sinêbut Jênggala kuwi dipèrang dadi papat. 
1. Nagari Jênggala , ratuné Prabu Lêmbu Amiluhur. 
2. Nagari Kêdhiri (Mamênang) , ratuné Prabu Lêmbu Amijaya. 
3. Nagari Ngurawan , ratuné Prabu Lêmbu Amisèna.
4. Nagari Singasari , ratuné Prabu Jayantaka. 

Cathêtan lan sorogan têmbung. 
1. CaritÃ¥ kuwi sadurungé Mataram Islam , dadi bab asmÃ¥ lan nami prÃ¥jÃ¥ , mêsthiné ora kawÃ¥cÃ¥ , kaucapaké mawi paugêran "a" = "ó" 
- Prabu Airlangga , ora diucapaké : Airlónggó. 
- Mpu Bharada , ora diucapaké : Mpu Bharódó. 
- Jênggala , ora diucapaké : Jênggóló. 
2. ÈwÃ¥sêmono , kasumanggaakên dhumatêng pÃ¥rÃ¥ kadang ingkang nupiksÃ¥ anggènipun maos , ngucapakên. 
3. garwÃ¥ padmi = garwané ratu kang utÃ¥mÃ¥ (bhs. Ind. : permaisuri). 
4. Pangèran Adipati Anom : putrané ratu kang bakal gumanti nÃ¥tÃ¥. (bhs. Ind. : putra mahkota).      
5. Pêpancasan : katêtêpan, putusan.                   
6. Ujaring mbok sambiwÃ¥rÃ¥, pawartÃ¥ kang ginÃ¥wÃ¥ pawÃ¥nÃ¥ binandhunging karnÃ¥ : kabar yg disampaikan oleh ibu-ibu pedagang (saudagar) , bêrita yg terbawa angin bergema tersebar dan terdengar telinga. 
7. Dutå-nawålå : utusan pembawa surat.
8. SarèmÃ¥ pinÃ¥rÃ¥ sÃ¥srÃ¥ : rambut siji dipèrang sèwu. sithik bangêt , alus bangêt. 
9. Tanggap ing sasmitÃ¥ : bisÃ¥ mangêrtèni surasané pratÃ¥ndhÃ¥. 
10. Limpat pasang ing grahitÃ¥ : mumpuni babagan pangêrtèn , panyananing batin. 
11. Sukå marwåtå sutå : bungah bangêt.
12. MarwÃ¥tÃ¥ sutÃ¥ : (Kw) kÃ¥yÃ¥ gunung anakan. parwÃ¥tÃ¥ : gunung. sutÃ¥ : anak , putrÃ¥. 



Imajiner Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)