WAHYU KETENTREMAN (KISAH WAYANG KULIT JAWA)
Wahyu Katentreman merupakan salah satu cerita dalam dunia pewayangan yang sarat dengan makna filosofis dan spiritual yang memiliki arti wahyu atau anugerah yang membawa ketenangan dan kedamaian.
Wahyu Katentreman adalah anugerah atau petunjuk ilahi dalam cerita pewayangan Jawa yang melambangkan ketenteraman, kedamaian hidup, dan ketenangan batin.
Berikut inti mengenai Wahyu Katentreman:
1. Makna Filosofis: Wahyu ini mengajarkan bahwa kedamaian sejati tidak berasal dari harta atau kekuasaan, melainkan dari keikhlasan hati, pengendalian diri, kerukunan, serta keselarasan dengan kehendak Tuhan
2. Alur Cerita: Dalam pementasan wayang kulit, lakon ini sering mengisahkan usaha Semar bersama para ksatria untuk melenyapkan pagebluk (wabah atau kekacauan) dan memulihkan kedamaian.
3. Pesan Moral: Perjalanan para ksatria mendapatkan wahyu menggambarkan bahwa ketenteraman membutuhkan pengorbanan, kejujuran, gotong royong, dan persatuan antarsesama.
Tumuruning Wahyu Katentreman Jati adalah sebuah ungkapan atau frasa dalam bahasa Jawa yang berarti "turunnya anugerah atau petunjuk kedamaian yang sejati".
Frasa ini sering diasosiasikan dengan lakon atau cerita dalam pementasan wayang kulit, yang menggambarkan tercapainya ketenteraman, lenyapnya sifat angkara murka, dan bersatunya batin manusia dengan sumber kedamaian sejati.
Makna dan Konsep
1. Tumuruning: Turunnya atau datangnya suatu anugerah.
2. Wahyu: Petunjuk, anugerah, atau pulung dari Tuhan Yang Maha Esa.
3. Katentreman: Rasa aman, damai, tenang, dan tenteram lahir serta batin.
4. Jati: Sejati, yang hakiki, atau yang sebenarnya.
Secara filosofis, konsep ini melambangkan kondisi di mana ketenangan hidup dan kedamaian dunia dapat tercapai apabila hawa nafsu dan sifat angkara murka berhasil dikendalikan dari dalam diri manusia.
Dalam Tradisi Wayang
Sering dijadikan sebagai judul atau lakon carangan pementasan wayang kulit di berbagai daerah Jawa.
Pagelaran dengan lakon ini biasanya dimaknai sebagai doa bersama, bentuk rasa syukur, serta sarana tolak bala atau memohon kedamaian bagi suatu wilayah.
Semar Bodronoyo Melalui Wahyu Ketenteraman Berusaha Lenyapkan Pagebluk.
Dalam suatu Lakon Wayang tentang niat Semar Bodronoyo melenyapkan Pagebluk yang melanda Kampung halamannya Desa Karang Kadepel. Seperti diketahui Semar dan Bethara Kresna adalah dua figur yang dianggap sebagai kekuatan pendamping lima saudara Pandawa yang dalam cerita wayang merupakan wakil-wakil dari sikap dan tingkah laku yang baik. Semar seakan mewakili kaum jelata biarpun aslinya berasal dari kelompok para Dewa di Suralaya, sedangkan Bathara Kresna adalah kaum elite atau raja yang semasa mudanya diasuh Semar dan anak-anaknya.
Cerita ini dimulai dengan keinginan Semar sebagai perantara turunnya “Wahyu Ketenteraman”, suatu kekuatan untuk menentramkan masyarakat, agar bekerja secara gotong royong mengembangkan program ketenteraman bagi rakyat. Usaha itu dilakukan secara gotong royong melenyapkan Pagebluk yang melanda desanya. Semar sebagai perantara turunnya wahyu mendapat petunjuk Dewa agar wahyu dapat diberikan kepada yang berhak dengan penuh kedamaian. Karena itu Semar menugaskan kepada para putra Pendawa, anak-anak generasi muda, guna mendapatkan syarat-syarat mendapat wahyu berupa tiga pusaka Senjata Cakra milik Prabu Kresna, Jimat Kalimasada milik Prabu Punta Dewa dari Ngamarta, dar Dwarowati dan Kyai Nenggala milik Prabu Bolodewa.
Raden Gatutkaca putra dari Raden Werkudara mendapat tugas meminjam Senjata Cakra dari Prabu Kresna di Dwarowati. Dengan tekad yang luar biasa, “harus dapat”, Gatotkaca menghadap Bethara Kresna. Unutk menguji tekad itu Bathara Kresna seakan tidak mau meminjamkan senjata Cakra miliknya sehingga Gatutkaca “berani menantang” Prabu Kresna. Pada waktu diacungi Senjata Cakra Gatot siap menerima dengan akibat akan mati karena senjata Cakra terkenal sangat ampuh. Tetapi rupanya Prabu Kresna hanya ingin menggali seberapa besar tekad anak muda Gatutkaca bereaksi positip sebagai utusan Semar. Melihat reaksi anak muda dengan tekad yang tinggi itu, senjata Cakra diserahkan untuk dipersembahkan pada Semar sebagai syarat mendapatkan Wahyu Ketenteraman.
Puntadewa raja dari Ngamarta dalam pertemuan dengan keluarga Pandawa mendapat pesan dari Dewa akan munculnya Wahyu Ketenteraman, tetapi beliau belum mendapat pesan siapa di antara keluarga Pendawa yang akan memperoleh Wahyu tersebut. Dalam kesempatan itu datang Raden Ontoseno yang menyanggupkan diri mendapatkan Pusaka Jimat Kalimasada dari Raja Punta Dewa sebagai syarat Semar sebagai perantara mendapatkan Wahyu untuk Pandawa atau lainnya. Karena Ontoseno menyampaikan pesan itu secara polos, Raden Werkudara marah dan Raden Ontoseno dihajar habis-habisan karena dianggap tidak sopan karena permintaannya disertai suatu ancaman. Punta Dewa yang penyabar mengutus Janaka, adiknya, untuk melerai dan Jimat Kalimasada diserahkan kepada Ontoseno sebagai syarat Semar mendapatkan Wahyu Ketenteraman dari Dewa.
Utusan ketiga adalah putra Jangkar Bumi Raden Ontorejo untuk meminjam Pusaka Kyai Nenggala dari Prabu Bolodewo. Karena pusaka itu bertempat di kulit dan daging Raja Bolodewa, maka sang Prabu marah besar, tetapi Raden Ontorejo tetap bertekad mendapatkan pusaka tersebut. Karena Raden Ontorejo tidak mau mundur terjadilah pertempuran yang hebat. Karena kemarahan itu hampir saja Raden Ontoseno ditusuk dengan Pusaka Neggala.
Secara kebetulan Prabu Kresna datang dan sekaligus mengundang Prabu Bolodewo berkunjung ke Karang Kadepel untuk mendukung Semar sebagai perantara mendapatkan Wahyu Ketenteraman dari Dewa dengan syarat-syarat yang sedang dikumpulkan oleh anak-anak Pandowo.
Akhirnya semua keluarga berkumpul di kediaman Semar dan mendapat penjelasan bahwa Wahyu itu sudah ada pada Semar. Pada waktu berkumpul, Semar menjelaskan bahwa Wahyu yang ada di Kuncung akan segera masuk kepada salah satu yang hadir pada saat itu. Karena itu secara sengaja Semar mengumpulkan semua kerabat agar menyaksikan kepada siapa Wahyu akan menempatkan dirinya.
Dalam sekejap ternyata Wahyu Ketenteraman memilih masuk kepada Prabu Kresna. Semar mengharapkan agar semua yang hadir merasa tenteram karena Prabu Kresna adalah salah satu pengasuh dari Pandawa yang adalah adik dari Prabu Bolodewo. Semua kalangan merasa nyaman kecuali Keluarga Ngastina yang berontak ingin mendapatkan Wahyu tersebut. Tetapi karena keluarga Kresna, Punta Dewa dan Bolodewo kompak bersatu, amukan keluarga Kurawa dengan mudah dapat diselesaikan.
Mudah-mudahan cerita wahyu ketenteraman tersebut membawa kita bersatu melawan pagebluk dan ancaman dari dalam maupun dari luar negeri yang ingin membuat Indonesia Nusantara kacau balau karena ulah dan provokator LONDO IRENG / LONDO GODHONG. Semoga kita tenteram agar gangguan stabilitas keamanan, gangguan kejahatan, kesehatan (pagebluk), korupsi, disintegrasi bangsa, Intoleransi, kesenjangan sosial hingga perang dagang, perang nuklir, mengingat sumber daya alam Nusantara sangat melimpah, dan disegerakan berlalu dan kita menerima budaya baru yang lebih dinamis menuju Indonesia Emas, tercermin tujuan bangsa Indonesia seperti yang termaktub di dalam UUD 1945.
Tujuan bangsa Indonesia tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat.
Empat tujuan nasional atau negara Indonesia tersebut meliputi:
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia: Negara wajib memberikan rasa aman, perlindungan hukum, serta mempertahankan kedaulatan wilayah dan keselamatan seluruh rakyat dari ancaman baik dari dalam maupun luar negeri.
2. Memajukan kesejahteraan umum: Negara berupaya meningkatkan taraf hidup, kemakmuran, serta pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan) bagi seluruh rakyat Indonesia secara merata.
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa: Negara menjamin hak setiap warga negara untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas guna meningkatkan mutu sumber daya manusia.
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial: Indonesia berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian dunia melalui politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Imajiner Nuswantoro



