SEJARAH BANYUMAS
&
MANUSKRIP BABAD BANYUMAS
Banyumas berasal dari kata “banyu” yang artinya air dan “mas” yang artinya bukan hanya air jernih, tetapi air yang berbau keemasan atau kejayaan. Hingga pada akhirnya tanggal 6 April ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Banyumas bertepatan dengan pengukuhan Adipati Mrapat sebagai Adipati Wirasaba ke-7 pada tahun 1582.
Dalam Babad Banyumas merupakan naskah sastra sejarah tradisional yang memuat kisah asal-usul, legenda, serta dinamika sosial dan politik pendirian Kabupaten Banyumas di Jawa Tengah.
Versi Utama Babad Banyumas
1. Versi Wirjaatmadjan: Ditulis oleh Raden Wirjaatmadja (Patih Purwokerto) atas perintah Asisten Residen Wolff van Westerode pada tahun 1898, dan kemudian dilengkapi oleh Raden Poerwasoepradja pada tahun 1932. Versi ini dianggap sebagai rujukan baku atau buku sejarah utama.
2. Versi Mertadiredjan: Versi lain yang juga populer di kalangan masyarakat untuk memahami akar sejarah dan silsilah penguasa Banyumas.
Tokoh Penting dan Pendirian
1. Raden Joko Kaiman: Diangkat oleh Sultan Pajang sebagai Adipati Wirasaba VII dengan gelar Adipati Warga Utama II pada 6 April 1582, yang kemudian ditetapkan sebagai tonggak berdirinya Kabupaten Banyumas.
2. Kandungan Cerita: Mengisahkan silsilah dari masa Majapahit, hubungan dengan Kadipaten Pasirluhur dan Wirasaba, hingga suksesi kepemimpinan awal. Anda dapat mengunduh dan membaca naskah digitalnya melalui situs Babad Banyumas
Sejarah Banyumas adalah sejarah tentang perkembangan daerah kabupaten Banyumas di Jawa Tengah. Banyumas sebagai pemerintahan lokal sudah berdiri sejak zaman Majapahit, dengan penguasa yang terkenal yaitu Adipati Wirasaba Marga Utama (Kaduhu). Pada zaman Demak, wilayah Banyumas kemudian dipimpin oleh seorang kepercayaan Raden Patah yang bernama Adipati Pasirluhur Pangeran Senapati Mangkubumi I. Merujuk pada cerita-cerita rakyat setempat, yakni Babad Pasir (atau Babad Pasirluhur) dan Babad Banyumas, sebelumnya wilayah ini merupakan bagian dari Kadipaten Pasirluhur dan juga Kadipaten Wirasaba.
Cerita Pasirluhur
Babad Pasir berisi legenda mengenai kisah masa muda tiga putera Prabu Siliwangi, yakni Raden Banyakcatra atau Arya Banyakcatra, Raden Banyakblabur, dan Raden Banyakngampar. Banyakcatra pergi meninggalkan kerajaannya untuk mencari puteri yang diidamkannya, hingga tiba di Kadipaten Pasirluhur (di sebelah barat Purwokerto sekarang), yang ketika itu berada di bawah pemerintahan Adipati Kandadhaha. Tertarik dengan Dewi Ciptarasa, puteri Adipati Kandadhaha, Arya Banyakcatra kemudian menyamar menjadi orang biasa dengan nama Kamandaka. Namun sang Adipati belakangan tidak menyetujui hubungan yang terjalin antara Kamandaka dengan Dewi Ciptarasa.
Setelah melalui berbagai petualangan, termasuk menyamar sebagai Lutung Kasarung; bertarung dengan adiknya, Banyakngampar yang menyamar dengan nama Silihwarni; dan bertempur dengan Raja Pulebahas dari Nusa Kambangan; pada akhirnya Kamandaka diterima sebagai menantu Adipati Kandadhaha, setelah penyamarannya terbuka dan diketahui jati dirinya sebagai putera raja. Pada saatnya, Arya Banyakcatra mewarisi kedudukan mertuanya sebagai Adipati Pasirluhur. Sementara Arya Banyakngampar menjadi adipati di wilayah Dayeuhluhur (Majenang, Cilacap sekarang).
Berselang beberapa generasi, diceritakan bahwa salah satu keturunan Arya Banyakcatra yang menjadi penguasa Pasirluhur, yakni Banyakbelanak, diislamkan oleh Raden Patah, penguasa Demak, melalui seorang wali yang bergelar Pangeran Makdum. Adipati Banyakbelanak kemudian menjadi bawahan Demak yang setia dan banyak melakukan perjalanan untuk mengislamkan wilayah bagi kepentingan Demak, ke barat dan ke timur hingga ke wilayah Gagelang, Pranaraga (Ponorogo) dan Pasuruan. Oleh penguasa Demak ia kemudian diberi kekuasaan atas wilayah pedalaman, mulai dari Udug-udug Krawang hingga tugu mengangkang (Sundoro-Sumbing), dan digelari Pangeran Senapati Mangkubumi. Akan tetapi puteranya, yang kemudian naik menjadi penguasa Pasirluhur dan bergelar Adipati Tole, murtad dari agama Islam sehingga kemudian diserang oleh penguasa Demak yang baru, Pangeran Trenggana, dan kemudian posisinya digantikan oleh salah seorang kerabatnya.
Lahirnya Banyumas
Menurut Babad Banyumas, wilayah Banyumas sebelumnya termasuk bagian dari wilayah Wirasaba (sekarang terletak di Purbalingga). Adalah pada masa Adipati Wirasaba yang ke-7, yakni Adipati Wargohutomo (atau Adipati Warga Utama) ke-II yang memiliki nama muda R. Joko Kaiman, ketika wilayah Wirasaba dibagi menjadi empat daerah. Joko Kaiman adalah putera Arya Banyaksasra dari Pasirluhur.
Penguasa Wirasaba sebelumnya, Adipati Wargohutomo I, mati dibunuh oleh utusan Sultan Hadiwijaya dari Pajang pada tahun 1578. Akan tetapi menantunya, R. Joko Kaiman, dikukuhkan oleh Sultan Pajang sebagai penggantinya, dengan gelar Adipati Wargohutomo II. Meski demikian wilayahnya kemudian dibagi menjadi empat, yakni :
1. Wirasaba (lk. Purbalingga sekarang)
2. Banjar Petambakan (Banjarnegara)
3. Merden (wilayah Cilacap), dan
4. Kejawar (Banyumas).
Joko Kaiman berkedudukan di Kejawar, dan menjadi pemuka (wedana bupati) bagi ketiga wilayah lainnya. Karena membagi empat wilayahnya, Joko Kaiman juga dikenal sebagai Adipati Mrapat.
Pengukuhan Joko Kaiman sebagai Adipati Wirasaba ke-7 oleh Sultan Hadiwijaya diyakini terjadi pada hari bulan 12 Rabi'ul Awwal 990 H atau 6 April 1582 M. Tanggal inilah yang ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Banyumas.
IBUKOTA BANYUMAS
Kota Banyumas awalnya adalah kota kadipaten Kedjawar yang didirikan oleh Jaka Kaiman pada masa kekuasaan Kasultanan Pajang.
Setelah perang Diponegoro selesai wilayah Banyumas dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda, dan dibangunlah sistem Residente (Karsidenan). De Sturler pada 1 November 1830 di tunjuk dan di lantik menjadi Residen pertamanya, Belanda mulai membangun kota Banyumas sebagai ibukota Karsidenan Banyumas. Disamping itu Banyumas juga merupakan Ibukota Kabupaten Banyumas yang wilayahnya meliputi Onderdistrict Banyumas, Onderdistrict Adireja dan Onderdistrict Purworejo Kelampok. Kabupaten ini terpisah dengan kabupaten Ajibarang yang akhirnya pindah ke kota Purwokerto.
Pada masa yang sama Graaf Johannes van den Bosch menciptakan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Sistem ini mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. Walaupun pada pelaksanaanya sangat berbeda.
Residen menunjuk seorang wakil Residen (Orang Belanda) pada setiap wilayah Kabupaten, yang bertugas mengurusi masalah perpajakan di setiap wilayahnya.
Pada 1843, rumah karesidenan di Kampung Pesanggrahan dipindah ke Kajawar, Karanggandul. Bersamaan dengan itu, dibangun pula jalan Banyumas ke selatan hingga sampai Buntu. Lantas ditarik ke barat sampai Cilacap.
Banyumas pernah dilanda Banjir yang sangat besar selama empat hari empat malam (21-23 Februari 1861) seperti yang pernah di ramalkan oleh para sesepuh (catatan R.M.S Brotodiredjo dan R. Ngatidjo Darmosuwondo) yang berbunyi ”Besuk bakal hana betik mangan mangar” (Nanti akan ada ikan (Betik) makan bunga kelapa).
Kota Banyumas yang di bangun Belanda pada saat itu memiliki banyak sekali gedung-gedung megah dan kokoh. Diantaranya adalah Gedung Resident, Gedung Societeit, Kantor Post en Telegram, Kantor Telefon, European School, Holland Inlader School, Inlander School, hospital, Chinese School, Pandhuis Kantoor (Pegadaian), AFD bank, Hotel Carolina, Zoutpakhuis (Gudang Garam), Gevangenis (penjara), Brandspuit (gedung pemadam kebakaran), Districtshoofd (kantor Distrik), Bur. Gew. Wreken (gedung pekerjaan), Waterest Kantoor, Wachthuis (pos penjagaan) dan beberapa gedung lainnya. Selain itu rumah gedong orang-orang Belanda juga banyak didirikan di Banyumas, terutama di daerah Menganti dan Kedung Uter (Kedoengoeter).
Rumah dan Gedung Residen Banyumas
Pertunjukan kesenian rakyat pribumi di depan Hotel Slamet
Masyarakat kota Banyumas menonton pertandingan sepak bola di alun-alun Banyumas
Tentara dan perawat menonton sepakbola di alun-alun Banyumas
Pegawai rumah sakit Tentara mengunjungi pasar
Suasana ruang perawatan rumahsakit Tentara
Alun-alun Banyumas
Beberapa orang Belanda sedang berada di beranda gedung Harmonie
Jembatan diatas sungai Serayu yang menghubungkan Banyumas dengan Sokaraja
Suasana pasar di Banyumas
Pada saat di bangunnya Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS) Maos - Wonosobo pemerintah Hindia Belanda yang diwakili oleh Residen Banjoemas mengajukan dibangunnya jalur kereta ke kota Banyumas namun ditolak oleh SDS karena lokasinya yang susah dan membutuhkan biaya besar sedangkan jalur ini sangat tidak menguntungkan karena tidak adanya pabrik ataupun perkebunan. Sebenarnya jalur ini di minta hanya karena untuk mempermudah akses ke ibukota Batavia.
Sampai pada kepindahannya ke kota Purwokerto, kota Banyumas tidak pernah dibangun jalur kereta api yang merupakan akses penting untuk terhubung dengan Batavia (Jakarta).
Sumber Referensi :
- Knebel, J. 1898. "Babad Pasir, volgens een Banjoemaasch Handschrift". Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap der Kunsten en Wetenschappen, deel LI. Batavia :Egbert Heemen, 1779-1922.
- Graaf, H.J. de & Th.G.Th. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa, tinjauan sejarah politik abad XV dan XVI. (terj., ed.rev.) Jakarta :Pustaka Utama Grafiti & KITLV.
- Sudarmo, M.W.R. & B.S. Purwoko. 2009. Sejarah Banyumas Dari Masa ke Masa.
- Herusatoto, B. 2008. Banyumas: sejarah, budaya, bahasa, dan watak. Yogyakarta :LKiS. hlm.26.
- Graaf, H.J. de. 1954. "De regering van Panembahan Sénapati Ingalaga". Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde deel XIII. s'Gravenhage - Martinus Nijhoff.

















