SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU
ꦱꦱ꧀ꦠꦿꦗꦺꦤ꧀ꦝꦿꦲꦪꦸꦤꦶꦔꦿꦠ꧀ꦥꦔꦿꦸꦮꦠꦶꦁꦣꦶꦪꦸ
Dening : Imajiner Nuswantoro
Sastra Jendra sampai sekarang memang tidak di ketahui dari mana sumber aslinya, tetapi istilah Sastra Jendra di ketahui pernah di sebut oleh pujangga Yosodipuro, kemudian Raden Ngabehi Sindusatro dalam gubahan serat Arjunawijaya ke dalam sastra Jawa baru pada tahun 1930 yang berbentuk tembang macapat.
Sastra Jendra Hayu Ninggrat pangruwating barang sakalir, ingkang kawruh tan wonten malih, wus kawengku sastradi, pungkas-pungkasaning kawruh, ditya diyu raksesa, myang sato siningwanadri, lamun weruh artine sastra jendra (Arjunawijaya, pupuh sinom, hal 26).
Dalam sastra Jawa kuna istilah Sastra Jendra di kenal dalam teks Uttarakanda Jawa Kuna, gubahan dari teks Uttarakanda sanksekerta pada akhir abad 10 Masehi. Teks Uttarakanda Jawa kuna berisi tentang kisah kelahiran Rahwana. Sekitar tahun 1379, kisah Rahwana tersebut kemudian di gubah oleh Mpu Tantular menjadi Kekawin Arjunawijaya.
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu diartikan adalah Kitab Raja. Raja dalam hal ini dimaksudkan sebagai utusan, wakil Tuhan di dunia yang memberi keadilan, kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia / rakyat. Sedangkan makna Hayuningrat dalam Sastra Jendra adalah sebuah Kedamaian, Keselamatan.
Oleh karena itu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu secara utuh memiliki arti Kitab atau ajaran yang berasal dari Gusti Hyang Maha Agung tentang keselamatan, merubah nafsu ke angkaramurkaan kedalam cinta kasih, kedamaian, keselamatan (Pangruwating = Merubah, meruwat, Diyu = Raksasa / simbol keangkaramurkaan)
Jika di pahami dalam konteks budaya spiritual Jawa, kaweruh Sastra Jendra adalah ajaran luhur bagi kehidupan umat manusia di dunia. Oleh karena itu siapapun yang mengerti dan memahami Sastra Jendra, kelak di dalam kematiannya ia akan di tempatkan bersama dengan para dewa di nirwana (kasuwargan). Sastra Jendra tidak di peruntukan bagi para dewa, tidak juga malaikat dan Jin, namun hanya kepada manusia.
Dipilihnya manusia membawa Sastra Jendra adalah rahasia Tuhan, karena semua itu sudah menjadi kehendakNya.
(Ngilmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah = ilmu kehidupan yang menjadi rahasia Tuhan Yang Maha Esa).
Ngelmu wadining bumi kang sinengker Hyang Jagad Pratingkah adalah ajaran tentang rahasia alam semesta atau pengetahuan luhur yang dijaga dan berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.
Kalimat ini merupakan bagian dari konsep spiritual Jawa kuno yang berkaitan dengan Sastra Jendra Hayuningrat.
1. Arti Kata
- Ngelmu: Ilmu atau pengetahuan.
- Wadining bumi: Rahasia bumi atau rahasia alam semesta.
- Kang sinengker: Yang disembunyikan atau dirahasiakan.
- Hyang Jagad Pratingkah: Penguasa atau pencipta tatanan alam semesta (Tuhan Yang Maha Esa).
2. Makna Utama
Pengetahuan Sejati: Ilmu ini membahas hakikat hidup manusia dan rahasia penciptaan alam.
3. Pembersihan Diri:
- Tujuannya untuk meruwat atau melebur sifat angkara murka dalam diri manusia.
- Keselarasan Hidup: Mengajarkan manusia agar hidup selaras dengan alam dan Sang Pencipta demi keselamatan semesta.
Sebagai mahkluk yang paling sempurna dari seluruh mahkluk ciptaan Tuhan, manusia di tuntut memahami dan mencari jati dirinya untuk apa ia di ciptakan (eling purwaning dumadi), kemana arah hidup yang harus ia tuju (sangkan paraning dumadi), serta kemana tujuan akhir yang harus ia jalani (eling purnaning dumadi).
Eling purwaning dumadi adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti kesadaran diri dan ingatan batin manusia terhadap asal-usul penciptaan atau permulaan kehidupannya dari Sang Pencipta.
Makna dan Konsep
- Arti Kata: Eling berarti ingat atau sadar; purwa atau purwaning berarti permulaan atau asal mula; dumadi berarti kejadian, makhluk, atau terciptanya hidup.
- Kesadaran Spiritual: Konsep ini mengajak manusia agar senantiasa rendah hati dan mengenal Sang Maha Esa, karena menyadari diri mereka bukanlah apa-apa tanpa awal mula penciptaan oleh Tuhan.
- Kaitan dengan Budaya: Frasa ini sering disandingkan dengan ajaran sangkan paraning dumadi (ingat asal-usul dan tujuan hidup) dalam tradisi spiritual Jawa, pewayangan, maupun upacara adat seperti ruwatan.
- Penggunaan Religius: Dalam literatur Kristen berbahasa Jawa, kata Purwaning Dumadi juga digunakan sebagai terjemahan untuk Kitab Kejadian (kitab pertama dalam Perjanjian Lama).
Kitab Kejadian
Kitab Kejadian adalah kitab pertama dalam Perjanjian Lama dan bagian dari kelompok Taurat atau Pentateukh.
Gambaran Umum Kitab Kejadian :
- Arti Nama: Berasal dari kata Ibrani Bereshit (pada mulanya) dan sebutan Yunani Genesis (kelahiran atau permulaan).
- Isi Utama: Menceritakan awal mula penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, masuknya dosa ke dunia, serta sejarah nenek moyang bangsa Israel.
Kitab Kejadian adalah kitab pertama dari Perjanjian Lama dan ditulis oleh Nabi Musa. Itu memberikan sebuah laporan tentang banyak awal, seperti misalnya penciptaan bumi, penempatan hewan dan manusia di atas bumi, Kejatuhan Adam dan Hawa, wahyu tentang Injil kepada Adam, awal dari suku dan ras, asal usul berbagai bahasa di Babel, dan awal keluarga Abraham yang menuntun pada pembentukan bani Israel. Peran Yusuf sebagai pelindung Israel ditekankan dalam kitab Kejadian.
Wahyu zaman akhir membuktikan dan mengklarifikasi catatan kitab Kejadian (1 Ne. 5; Eter 1; Musa 1–8; Abr. 1–5).
Dalam kitab Kejadian, pasal 1–4 menuturkan penciptaan dunia dan perkembangan keluarga Adam. Pasal 5–10 mencatat sejarah Nuh. Pasal 11–20 menceritakan tentang Abraham dan keluarganya hingga masa Ishak. Pasal 21–35 mengikuti keluarga Ishak. Pasal 36 menceritakan tentang Esau dan keluarganya. Pasal 37–50 menceritakan tentang keluarga Yakub dan memberikan laporan tentang Yusuf yang dijual ke Mesir dan perannya dalam menyelamatkan bani Israel.
Sastra Jendra adalah kaweruh urip, ngilmu yang mengajarkan cinta kasih, kedamaian dan keselamatan umat manusia.
Kaweruh urip yaiku ngilmu utawa pemahaman babagan urip sejati sing asring dibahas ing piwulang kejawen lan filsafat Jawa.
Tegese Kaweruh Urip :
- Kaweruh: Tegese ilmu, pangerten, utawa pengetahuan.
- Urip: Tegese urip utawa kehidupan.
- Inti Piwulang: Sinau babagan asal-usule urip, tujuane urip ing donya, lan kepiye carane manungsa bisa nyambung karo Gusti Sing Maha Kuwasa.
Pokok Piwulang :
- Manunggaling Kawulo Gusti: Pikirane nyawiji lan ngerti marang sangkan paraning dumadi (saka ngendi lan bakal menyang endi).
- Urip Sejati: Ngenal urip sing sakbenere, sing ora mung uripe raga nanging uga uripe batin
Pancaran Sastra Jendra akan menjadi bias bagi kedamaian alam raya beserta dengan seluruh isinya. Di embanya Sastra jendra kepada umat manusia, karena bias manusia yang mengerti dan memahami Sastra Jendra akan memancarkan cinta kasih ke seluruh alam semesta, menghidupi segala yang tumbuh dan yang hidup di muka bumi, urip urup kang nguripi.
Urip urup kang nguripi adalah sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa yang berarti "hidup itu menyala dan harus bisa menghidupi atau memberi manfaat bagi sesama".
Arti Kata :
- Urip: Hidup.
- Urup: Nyala atau bercahaya (seperti api atau pelita).
- Kang nguripi: Yang menghidupkan atau memberikan penghidupan dan manfaat.
Makna Filosofis
Hidup tidak hanya untuk diri sendiri: Manusia ada di dunia bukan sekadar bernapas, melainkan harus membawa terang dan kebaikan bagi lingkungan.
- Memberi manfaat seluas-luasnya: Seperti api yang menerangi kegelapan, kehadiran seseorang hendaknya meringankan beban orang lain, rukun, dan peduli pada sesama.
- Menghindari hidup yang sia-sia: Ungkapan ini mengingatkan agar kita tidak menjadi manusia yang pasif atau meresahkan, melainkan menjadi pribadi yang berguna hingga akhir hayat.
Hidup tidak hanya sekedar untuk bernafas, tetapi juga memberi kehidupan, menjaga keseimbangan alam semesta dalam kedamaian. Keseimbangan alam semesta tak lepas dari peran umat manusia yang memang di beri kesempurnaan akal, pikiran, budi, dan nafsu. Kesempurnaan yang di berikan Tuhan kepada manusia adalah rahasia Tuhan, meski di dalam dirinya ia senantiasa di selimuti nafsu keangkaramurkaan yang bersumber dari anasir anasir yang mewujudkanya.
Cinta kasih manusia berada di dalam bathin yang paling dalam, tertutup oleh bias nafsu keangkaramurkaan. Untuk itulah atas kehendak Hyang Maha Agung, manusia harus mengemban Sastra Jendra, ajaran luhur kehidupan untuk meruwat, membalikan nafsu keangkaramurkaan menjadi cinta kasih, welas asih, kedamaian dan keselamatan. Cinta Kasih dalam Sastra Jendra adalah kaweruh urip "Sastra Cetha Tan Tinulis", (Sastra nyata tan ana wadahe kang kathon) Kitab kehidupan yang nyata namun tak ada wujudnya. Tiada wadah yang mampu menampung Sastra Jendra, tetapi Sastra Jendra ada di dalam kehidupan umat manusia.
Sastra Cetha Tan Tinulis (sering juga ditulis Sastra Cettha Tanpa Tinulis) adalah sebuah filsafat, ajaran, atau konsep spiritual Jawa yang secara harfiah berarti "tulisan/ajaran yang jelas namun tidak tertulis."
Secara mendalam, istilah ini merujuk pada ilmu sejati atau kebijaksanaan hidup yang tidak bisa ditemukan dalam buku, kitab, atau lembaran kertas, melainkan harus dibaca dan dipahami langsung dari alam semesta (makrokosmos) dan diri manusia itu sendiri (mikrokosmos).
Berikut adalah poin-poin penting untuk memahami konsep Sastra Cetha Tan Tinulis :
1. Alam Semesta sebagai Kitab yang Hidup
Dalam pandangan hidup Jawa (Kejawen), seluruh gerak alam, perubahan musim, perilaku hewan, hingga interaksi antarmanusia adalah lembaran-lembaran kitab yang sedang terbuka. Seseorang yang mampu membaca Sastra Cetha Tan Tinulis adalah mereka yang peka terhadap tanda-tanda alam (ilmu titen) dan mampu mengambil hikmat dari setiap kejadian.
2. Membaca Diri Sendiri (Ngaji Rasa)
Ajaran ini menekankan bahwa kebenaran sejati sudah tertanam di dalam hati nurani manusia (rasa sejati). Untuk "membacanya", seseorang tidak menggunakan mata lahir, melainkan menggunakan mata batin melalui proses meditasi, laku prihatin, atau refleksi diri yang mendalam.
3. Di atas Teori dan Dogma
Konsep ini mengingatkan bahwa pengetahuan yang tertulis (dalam buku atau teks) sering kali terbatas oleh kata-kata dan bisa disalahpahami. Sebaliknya, Sastra Cetha Tan Tinulis adalah pengetahuan yang bersifat eksperiensial—harus dialami, dirasakan, dan dipraktikkan sendiri dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi kebijaksanaan (ngelmu).
4. Hubungan dengan "Sastra Jendra Hayuningrat"
Dalam jagat pewayangan dan spiritualitas Jawa, konsep ini berkaitan erat dengan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, yaitu ajaran rahasia tentang asal-usul manusia, alam semesta, dan jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup (manunggaling kawula gusti) yang tidak bisa sembarangan dituliskan, melainkan diturunkan lewat pemahaman spiritual yang murni.
Secara singkat, Sastra Cetha Tan Tinulis adalah ajaran untuk membaca kehidupan dengan ketajaman rasa dan mata batin, sehingga manusia bisa hidup selaras dengan alam dan Sang Pencipta.
Sastra Jendra adalah cinta kasih, welas asih yang bersumber dari wadah ke Illahian yang di peruntukan bagi umat manusia. Manusia mengemban cinta kasih Sastra Jendra dan mewujudkanya dalam perilaku kehidupan, tetapi tak mampu mencari sumber cinta kasih Sastra Jendra, karena sumber segala cinta kasih Sastra Jendra adalah milik Hyang Maha Agung.
Sastra Jendra pungkasaning ngilmu kaweruh Jawa, tidak ada kesaktian yang mampu menandingi cinta kasih dalam Sastra Jendra, tidak ada satupun mahkluk hidup di jagad raya yang mampu mencari sumber cinta kasih di dalam Sastra Jendra, karena cinta kasih Sastra Jendra bersumber dari wadah ke Illahian air kehidupan Hyang Maha Agung.
Kaweruh Jawa Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu (sering disingkat Sastra Jendra) adalah puncak tertinggi filsafat Kebatinan Islam-Jawa (Kejawen) yang dianggap sebagai pungkasaning ngilmu kaweruh (akhir dari segala ilmu pengetahuan). Secara harfiah, namanya memiliki arti yang sangat mendalam:
- Sastra: Tulis, ajaran, atau ilmu pengetahuan.
- Jendra: Pemimpin, raja, atau berasal dari kata Indra (Tuhan/Agung).
- Hayuningrat: Keselamatan, kedamaian, dan keindahan alam semesta.
- Pangruwating Diyu: Melebur atau meruwat sifat-sifat raksasa (angkara murka, nafsu destruktif) dalam diri manusia.
Secara esensial, ilmu ini bukan sekadar mantra atau teks tertulis, melainkan sebuah laku spiritual untuk menemukan kedamaian tertinggi dan menyatukan diri dengan Sang Pencipta (Manunggaling Kawula Gusti).
Inti Ajaran Sastra Jendra
Sebagai pungkasaning ngilmu, Sastra Jendra merangkum seluruh perjalanan spiritual manusia Jawa ke dalam beberapa konsep utama:
- Pengenalan Diri (Sangkan Paraning Dumadi): Ilmu ini menjawab pertanyaan mendasar manusia Jawa: dari mana manusia berasal (sangkan), bagaimana harus hidup di dunia, dan ke mana tujuan akhir setelah mati (paran).
- Meruwat Sifat Kehewanan (Pangruwating Diyu): "Diyu" atau raksasa melambangkan nafsu angkara murka, keserakahan, dan ego yang ada di dalam dada setiap manusia. Sastra Jendra berfungsi untuk melebur sifat negatif tersebut menjadi sifat luhur yang membawa kedamaian (hayuningrat).
- Sastra Tanpa Papan Tulis: Ilmu ini tidak diajarkan lewat buku atau tulisan fisik, melainkan melalui keheningan rasa, meditasi (manepung), dan kesucian hati.
Kisah Legenda dalam Pewayangan
Dalam dunia pewayangan Jawa, ilmu ini sangat melekat pada kisah Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi.
Sastra Jendra adalah ilmu rahasia dewa yang tidak boleh diajarkan sembarangan karena getarannya bisa mengguncang jagat raya.
Begawan Wisrawa bermaksud membabarkan ilmu ini kepada Dewi Sukesi sebagai syarat lamaran untuk putranya.
Namun, karena mereka berdua belum sepenuhnya bersih dari nafsu manusiawi saat mempelajari ilmu suci ini, terjadi kegagalan spiritual.
Kegagalan tersebut justru melahirkan anak-anak berwujud raksasa yang menjadi simbol angkara murka, salah satunya adalah Rahwana (Dasamuka). Kisah ini menjadi peringatan dalam tradisi Jawa bahwa ilmu spiritual tertinggi membutuhkan kesiapan mental dan kesucian hati yang mutlak.
Kaweruh Sastra Jendra mengajarkan manusia hidup pada kodratnya dengan cinta kasih. Manusia harus mampu menjalankan tugas dan kewajibanya sebagai umat di dunia, di sisi yang lain manusia juga harus menjalankan kewajibanya kepada Yang Maha Menciptakan-Nya.
Sastra Jendra mengajarkan manusia memahami nafsu di dalam dirinya, meruwat dan membalikan nafsu kedalam cinta kasih. Karena tiada lain kesaktian dan kekuatan yang mampu mengendalikan nafsu, selain kekuatan cinta kasih di dalam Sastra Jendra.
Wejangan Sastra Jendra di ambil dari alkisah Ramayana. Kisah pewayangan lahirnya Rahwana, yang di awali pada saat Begawan Wisrawa mempersunting Dewi Sukesi untuk anaknya, Prabu Danareja, yang harus membayar mas kawin wedaran kaweruh Sastra Jendra. Kisah ini terus berlanjut sampai dengan lahirnya Rahwana, Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana. Ke empatnya hanyalah kiasan dari kaweruh yang di simbolkan sebagai empat nafsu dalam diri manusia.
Cinta kasih Sastra Jendra ada di dalam atma , dialah percikan ke Illahian, Nuur ke Illahian yang ada di dalam diri manusia. Atma yang ada di dalam kesucian manusia yang tak lagi memikirkan keduniawian. Atma yang ada di dalam diri para ksatria berwatak wiku. Atma dari kesucian laku pasemedi yang tak lagi terbius nafsu syahwat angkaramurka dan kemewahan dunia.
Jihad Melawan Hawa Nafsu
Jihad melawan hawa nafsu adalah perjuangan batin yang paling utama dan berat untuk mengendalikan keinginan diri dari perbuatan dosa, rasa malas beribadah, serta godaan duniawi.
Hakikat Jihad Melawan Hawa Nafsu :
- Musuh Terdekat: Hawa nafsu berada di dalam diri manusia dan menjadi ujian yang terus-menerus ada setiap hari.
- Dasar Perjuangan: Menurut penjelasan ulama di Rumaysho.Com, perang melawan hawa nafsu adalah fondasi utama sebelum seseorang mampu berjihad menghadapi musuh di luar.
- Kunci Ketaatan: Menguasai nafsu berarti menempatkan aturan Allah SWT di atas keinginan pribadi yang cenderung mengajak pada keburukan.
Cara Mengendalikan Hawa Nafsu :
- Memperbanyak Ibadah: Rutin melakukan shalat, dzikir, dan ibadah sunnah seperti puasa untuk menekan dorongan syahwat.
- Menjaga Diri: Menghindari lingkungan yang negatif serta senantiasa memohon kekuatan dan taufik kepada Allah SWT.
- Menerapkan Ilmu Tasawuf: Melatih diri (mujahadah) secara konsisten untuk menolak hal-hal yang diharamkan
Era sekarang sebagian umat Islam masih ada yang memahami jihad dengan perang secara fisik mengangkat senjata berhadapan dengan musuh, padahal jihat itu perang melawan kemiskinan, kebodohan, dan kebudayaan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW. Jihad akbar (jihad besar), jihad dengan mengendalikan hawa nasfu, beliau sampaikan setelah usai perang Badar. Orang hebat itu, orang yang mampu mengelola dan mengontrol emosi, bisa mengendalikan amarahnya di tengah-tengah gempuran budaya, ekonomi, kebodohan yang menyerang bangsa ini.
Makna Jihad
Kata jihat berasal dari kta Jahada artinya : usaha / Juhdun artinya, kekuatan. Secara Bahasa mencakup semua kegiatan yang positif dengan usaha menghabiskan segala daya kekuatan, baik berupa perkataan dan perbuatan. Rasulullah Saw. menyatakan jihad terbesar itu adaalah jihad mengendalikan hawa nafsu. Sesuai firmannya dalam Qs. al-Ankabut (69) :
“Dan orang yang berjihad di jalan kami, kami akan memberikan kepada mereka hidayah ke jalan- jalan kami”.
Al-'Ankabut · Ayat 69
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ٦٩
walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ, wa innallâha lama‘al-muḫsinîn
Artinya :
Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.
Sedangkan Nafsu menurut Syaikh Mutawalli Asy- Sya’rawi adalah bergabungnya jasad dan ruh yang memiliki keinginan baik/buruk . Maka jihad melawan hawa nafsu itu, berjuang dengan sesungguhnya dan sepenuh hati untuk mengendalikan diri untuk menguasai nafsu, bukan malah dikendalikan nafsu.
Pemetaan Jihad
Jihad dapat dapat dipetakan menjadi empat unsur:
- Pertama, Jihad melawan diri sendiri, sukses mengendalikan diri sendiri adalah pintu masuk untuk sukses mengendalikan di luar diri kita.
- Kedua, Jihad melawan hawa nafsu, berarti terampil mengelola hawa nafsu dengan baik.
- Ketiga, Jihad melawan Syaithan, manusia berdaya melawan bujuk rayu syaithan.
- Keempat, Jihad melawan dunia, memposisikan dunia bukan menjadi tujuan hidup, tetapi dunia menjadi sarana beribadah kepada Allah SWT.
Bentuk Jihad
Jihad itu bukan hanya sekedar perang fisik yang dipahami oleh Sebagian kecil umat Islam. Namun jihat yang sesungguhnya itu bentuknya sangat beragam antara lain :
- Taat kepada Allah SWT dan Rasululllah SAW, dengan mengamalkan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. secara kontinyu.
- Menghindari memposisikan hawa nafsu sebagai Tuhan, dengan memberhalakan hawa nafsu dapat melalaikan perintah Allah SWT. dan rasul-Nya. Sikap ini membawa pada perbuatan syirik Sesuai firman Allah SWT. QS. Al-Furqan ayat 43 :
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemeliharaan atasnya”
Al-Furqan · Ayat 43
اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًاۙ ٤٣
a ra'aita manittakhadza ilâhahû hawâh, a fa anta takûnu ‘alaihi wakîlâ
Artinya:
Sudahkah engkau (Nabi Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya ?
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Sudahkah engkau, wahai Rasul melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya, dengan selalu mengikuti hawa nafsunya. Orang-orang jahiliah, seperti dituturkan oleh Ibnu Abbas, selalu berganti sesembahan. Manakala ada sesembahan yang dipandang lebih baik, mereka akan mengganti sesembahan yang lama dengan yang baru. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya? Engkau, wahai Rasul, tidak akan bisa menahan mereka dari kesesatan, karena tugas kamu adalah menyampaikan ajaran
Membedakan ajakan nafsu atau bukan. Perbedaan ajakan nafsu yang dibimbing oleh syaithan, dan ajakan nafsu yang di bimbing oleh para malaikat sangat beda tipis. Kalau tidak jeli mencermatinya bisa terkecoh. Dari luar tampak bagus, dalamnya rusak, begitu sebaliknya dari luar tampak biasa, tatapi dalamnya emas. Kalau beramal itu berat, berarti ajakan Allah SWT, sementara kalau ajakan nafsu itu bergegas melaksanakan amalan sunnah, sehingga melupakan amalan wajib.
Hawa nafsu salah satu unsur yang ada pada diri manusia, yang bisa menghancurkan manusia. Untuk mampu mengendalikan diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh agar manusia tidak dikendalikan hawa nafsu, dengan tidak terlena urusan dunia terlalu cinta harta, jabatan / pangkat dan Wanita, sehingga melupakan Allah SWT
Manusia yang bisa menguasai hawa nafsu Allah SWT, memberikan apresiasi dengan memperoleh derajat melebihi derjat malaikat. Semoga Allah SWT, memberikan kekuatan untuk dapat mengendalikan hawa nafsu.
Jihad yang Paling Dasar
Berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.
Oleh karena itu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ
“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu Najjar dari Abu Dzarr)
Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim ketika menjelaskan surat Al-Ankabut ayat 69,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69).
Al-'Ankabut · Ayat 69
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ٦٩
walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ, wa innallâha lama‘al-muḫsinîn
Artinya :
Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Selanjutnya, Allah memberi janji kepada orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang berjihad dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan membela agama-Nya semata untuk mencari keridaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. Dia memberi balasan yang lebih baik kepada siapa saja yang mengembangkan sikap kebajikan dalam hal apa pun dan kepada siapa pun, tentu setelah semua kewajiban terpenuhi dengan sempurna.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya. Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan, dan menjihadi dunia.
Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridhaan-Nya yang akan menyampaikannya ke surga. Siapa yang meninggalkan jihad, maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.
Al-Junaid berkata, “(Maknanya), dan orang orang yang menjihadi hawa nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan-jalan ikhlas.
Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.” (Fawaidul Fawaid, hal. 177)
Inti Ajaran Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu merupakan salah satu ajaran filosofis-spiritual yang sangat terkenal dalam tradisi sastra Jawa, terutama melalui Serat Arjunasasrabahu dan kisah Begawan Wisrawa–Dewi Sukesi. Ungkapan ini sering dipahami sebagai ajaran tentang kesempurnaan pengetahuan batin, keselamatan dunia, serta kemampuan menundukkan sifat buruk dalam diri manusia.
1. Arti istilah
Secara sederhana, istilah tersebut dapat diuraikan:
- Sastra : pengetahuan, tulisan, ajaran atau ilmu.
- Jendra : sering ditafsirkan sebagai bentuk yang berkaitan dengan raja atau pengetahuan yang utama/luhur.
- Hayuningrat : keselamatan, keindahan, ketenteraman, atau keharmonisan dunia.
- Pangruwating : proses meruwat, membersihkan, membebaskan atau mentransformasikan.
- Diyu : raksasa; secara simbolis dapat dimaknai sebagai sifat manusia yang kasar, angkara murka, tamak, sombong dan dikuasai hawa nafsu.
Karena itu, secara filosofis Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dapat dirumuskan sebagai:
“Ilmu luhur untuk mencapai keselamatan dan keharmonisan kehidupan dengan meruwat atau menundukkan sifat ‘raksasa’ dalam diri manusia.”
Namun, perlu ditegaskan bahwa ini merupakan penafsiran filosofis, bukan terjemahan kata-per-kata yang tunggal dan mutlak. Tradisi manuskrip dan penafsiran Jawa terhadap istilah ini memiliki variasi.
2. Kisah asal-usulnya
Dalam tradisi pewayangan dan sastra Jawa, ajaran ini berkaitan erat dengan kisah Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi.
Dewi Sukesi dikisahkan ingin memperoleh penjelasan mengenai Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu sebagai syarat untuk memilih pasangan. Wisrawa kemudian memberikan penjelasan tentang ilmu tersebut.
Dalam perkembangan kisah, pengetahuan tersebut bukan sekadar pengetahuan intelektual. Ia berkaitan dengan kesadaran manusia, hubungan antara manusia dan kehidupan, serta pengendalian nafsu.
Kisah ini kemudian memiliki konsekuensi besar : hubungan Wisrawa dan Sukesi melahirkan tokoh-tokoh yang dalam tradisi pewayangan memiliki karakter sangat berbeda, terutama Rahwana/Dasamuka, Kumbakarna, Sarpakenaka, dan Wibisana.
Di sinilah terdapat pesan simbolik yang sangat penting.
Ilmu yang luhur tidak otomatis membuat seseorang menjadi luhur.
Pengetahuan dapat menghasilkan kebijaksanaan apabila diterima dengan kesadaran dan dikendalikan oleh moral. Sebaliknya, pengetahuan yang tidak disertai pengendalian diri dapat menjadi sumber kesombongan dan kehancuran.
3. “Diyu” sebagai simbol manusia
Bagian yang sangat penting adalah kata diyu.
Dalam pengertian literal, diyu berarti raksasa. Tetapi dalam pembacaan filosofis, diyu dapat dipandang sebagai simbol sifat buruk manusia.
“Raksasa” di dalam diri manusia antara lain :
1. Angkara murka
2. Keserakahan
3. Kesombongan
4. Kebencian
5. Iri hati
6. Keinginan menguasai orang lain
7. Hawa nafsu yang tidak terkendali
8. Penyalahgunaan kekuasaan
9. Ketidakmampuan mengendalikan ego
10. Kehilangan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama
Dengan demikian, pangruwating diyu bukan semata-mata ritual mengusir makhluk gaib.
Dalam perspektif filsafat Jawa, ia dapat dibaca sebagai proses transformasi manusia dari keadaan dikuasai nafsu menuju manusia yang mampu mengendalikan dirinya.
4. Hayuningrat
Kata hayuningrat mempunyai kedalaman makna.
Rahayu berkaitan dengan keselamatan, kesejahteraan dan ketenteraman, sedangkan rat berarti dunia atau kehidupan.
Maka hayuningrat dapat dipahami sebagai keadaan ketika kehidupan berada dalam harmoni.
Harmoni tersebut bukan hanya: manusia dengan manusia, tetapi juga:
- manusia dengan Tuhan;
- manusia dengan dirinya sendiri;
- manusia dengan masyarakat;
- manusia dengan alam;
- manusia dengan kekuasaan;
- manusia dengan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, konsep hayuningrat mempunyai dimensi spiritual, sosial, moral, ekologis dan politik.
5. Inti ajaran: mengalahkan diri sendiri
Salah satu pesan terdalam dari Sastrajendra adalah bahwa musuh terbesar manusia bukan selalu berada di luar dirinya.
Musuh terbesar dapat berada di dalam diri : ego, nafsu, keserakahan dan angkara murka.
Karena itu, kemenangan sejati bukan hanya kemampuan mengalahkan orang lain.
Kemenangan sejati adalah kemampuan mengalahkan keburukan dalam diri sendiri.
Inilah yang membuat konsep tersebut tetap relevan dalam kehidupan modern.
Seorang manusia dapat memiliki:
- ilmu tinggi,
- kekayaan,
- jabatan,
- kekuasaan,
- teknologi,
tetapi apabila tidak mampu mengendalikan dirinya, semua itu justru dapat menjadi alat penghancuran.
6. Hubungannya dengan konsep “memayu hayuning bawana”
Konsep ini dapat ditempatkan dalam kerangka besar filsafat Jawa:
Memayu Hayuning Bawana yang secara umum dapat dimaknai sebagai ikut menjaga, memperindah, memelihara dan menciptakan keselamatan dunia.
Urutannya dapat digambarkan:
Pembersihan diri → pengendalian hawa nafsu → kebijaksanaan → hubungan sosial yang harmonis → kesejahteraan masyarakat → kelestarian alam → hayuning bawana.
Dengan demikian :
Pangruwating diyu
↓
menundukkan sifat angkara
↓
Hayuning diri
↓
menjadi manusia yang lebih baik
↓
Hayuning sesama
↓
menciptakan kehidupan sosial yang harmonis
↓
Hayuning rat/bawana
↓
terciptanya kehidupan yang tenteram dan berkeadilan.
7. Bukan berarti menolak dunia
Ajaran ini juga tidak tepat jika dipahami sebagai ajakan untuk melarikan diri dari kehidupan dunia.
Justru sebaliknya.
Manusia harus hadir di dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.
Orang boleh :
- menjadi pejabat,
- menjadi pengusaha,
- menjadi ilmuwan,
- menjadi tentara,
- menjadi politisi,
- menjadi pemimpin,
tetapi kekuasaan dan kekayaan tersebut harus dikendalikan oleh budi pekerti dan kesadaran moral.
Dalam konteks ini, seseorang yang memiliki kekuasaan tetapi dikuasai keserakahan dapat dikatakan masih berada dalam keadaan “diyu” secara simbolis.
8. Relevansi dengan kepemimpinan
Sastrajendra juga dapat dibaca sebagai filsafat kepemimpinan.
Pemimpin ideal bukan hanya orang yang:
kuat → berkuasa → mampu memerintah.
Tetapi:
kuat → mampu mengendalikan diri → adil → bijaksana → melindungi rakyat.
Karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk mengendalikan egonya.
Kekuasaan tanpa pengendalian diri dapat berubah menjadi:
kekuasaan → kesewenang-wenangan → korupsi → konflik → kehancuran.
Sebaliknya:
kekuasaan + moral + kebijaksanaan → kesejahteraan → ketenteraman → hayuningrat.
9. Makna modern
Dalam kehidupan abad ke-21, konsep tersebut dapat diterapkan pada berbagai persoalan.
1. Korupsi.
“Diyu” dapat diwujudkan dalam bentuk keserakahan terhadap uang dan jabatan.
Pangruwating diyu berarti membangun sistem sekaligus karakter yang mampu mencegah manusia menyalahgunakan kekuasaan.
2. Konflik politik
Diyu dapat muncul sebagai:
- fanatisme,
- kebencian,
- manipulasi informasi,
- politik identitas,
- fitnah,
- propaganda.
Solusinya bukan menghilangkan perbedaan, tetapi mengendalikan ego politik dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
3.Media sosial
“Raksasa” modern dapat berupa:
- hoaks,
- ujaran kebencian,
- provokasi,
- penghinaan,
- manipulasi informasi.
Karena itu, pangruwating diyu dapat diterjemahkan secara modern sebagai literasi digital sekaligus pengendalian moral.
4. Lingkungan
Keserakahan manusia terhadap alam juga merupakan bentuk “diyu”.
Memayu hayuning bawana berarti pembangunan tidak boleh hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan:
manusia + alam + generasi mendatang.
10. Perspektif spiritual
Pada tingkat spiritual, Sastrajendra dapat dipahami sebagai perjalanan dari:
lahiriah → batiniah
dan:
nafsu → kesadaran
serta:
ego → kebijaksanaan.
Manusia belajar mengenali dirinya sendiri.
Pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Apa yang saya inginkan ?”
tetapi:
“Apakah keinginan saya membawa keselamatan bagi diri sendiri dan orang lain ?"
Inilah salah satu inti etika spiritual Jawa.
11. Hubungan dengan ajaran Islam
Karena istilah ini berasal dari tradisi sastra Jawa, ia bukan istilah Al-Qur'an atau hadis. Namun, beberapa nilai moralnya dapat dibandingkan secara hati-hati dengan prinsip Islam.
Misalnya konsep tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa.
Al-Qur'an menyatakan :
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS. Asy-Syams: 9)
Demikian pula konsep jihad terhadap hawa nafsu dalam pengertian moral dan spiritual memiliki titik perbandingan dengan gagasan pengendalian diri.
Namun, penting untuk membedakan:
- Sastrajendra = konsep dalam tradisi sastra/filsafat Jawa.
- Tazkiyatun nafs = konsep yang mempunyai dasar dalam tradisi Islam.
Keduanya dapat diperbandingkan pada nilai etik tertentu, tetapi tidak boleh disamakan secara historis maupun teologis.
12. Pesan filosofis paling dalam
Jika diringkas, ajaran ini dapat dibaca dalam lima tingkat:
a. Tingkat pertama — mengenal diri
Manusia harus mengetahui kelemahan dirinya.
b. Tingkat kedua — mengendalikan diri
Manusia tidak boleh menjadi budak hawa nafsu.
c. Tingkat ketiga — menyempurnakan budi
Ilmu harus menghasilkan kebijaksanaan dan perilaku baik.
d. Tingkat keempat — menjaga kehidupan
Kesadaran pribadi harus diwujudkan dalam kehidupan sosial.
e. Tingkat kelima — memayu hayuning bawana
Tujuan akhirnya adalah menciptakan kehidupan yang aman, damai, adil dan harmonis.
Kesimpulan
Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dapat dipahami sebagai salah satu simbol penting dalam filsafat spiritual Jawa tentang ilmu, kesadaran, pengendalian diri dan keselamatan kehidupan.
Maknanya tidak berhenti pada sebuah “ilmu rahasia” atau pengetahuan mistik. Dalam pembacaan filosofis, ajaran tersebut mengandung pesan bahwa ilmu harus disertai moral, kekuasaan harus disertai pengendalian diri, dan kehidupan manusia harus diarahkan menuju harmoni.
“Diyu” yang paling berbahaya bukanlah raksasa di luar diri manusia, melainkan raksasa yang hidup di dalam diri manusia sendiri: keserakahan, kesombongan, kebencian, hawa nafsu dan angkara murka.
Sedangkan “pangruwatan” adalah proses mengubah keadaan tersebut melalui kesadaran, pengendalian diri, kebijaksanaan dan laku kebajikan.
Dengan demikian, inti filosofinya dapat dirumuskan:
“Ilmu yang luhur bukanlah ilmu yang membuat manusia merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan ilmu yang mampu meruwat sifat raksasa dalam dirinya sehingga dirinya menjadi sumber keselamatan bagi sesama dan bagi dunia.”
Atau dalam rumusan singkat :
1. Sastrajendra → pengetahuan luhur
2. Hayuningrat → keselamatan dan keharmonisan dunia
3. Pangruwating → penyucian/transformasi
4. Diyu → angkara, ego dan hawa nafsu
Maka Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah perjalanan manusia dari penguasaan ilmu menuju penguasaan diri, dan dari penguasaan diri menuju pengabdian bagi keselamatan kehidupan.
Imajiner Nuswantoro


