PRABU NIWATAKAWACA

0

 PRABU NIWATAKAWACA



Imajiner Nuswantoro



Prabu Niwatakawaca waktu mudanya bernama Arya Nirbita. Ia adalah keturunan dari Prabu Pracona, raja raksasa negara Gowabarong yang tewas dalam peperangan melawan Bambang Tutuka/Gatotkaca di Suralaya. Karena ketekunannya bertapa Arya Nirbita menjadi sangat sakti. Ia tidak dapat mati bila noktah belang yang berada di langit-langit mulutnya tidak dikenai senjata.

Arya Nirbita berhasil menjadi raja di negara Manikmantaka dan bergelar Prabu Niwatakawaca. Ia meikah dengan Dewi Sanjiwati dan mempunyai dua orang putra masing-masing bernama : Arya Nilarudraka, yang setelah dewasa menjadi raja negara Tegalparang dan Dewi Mustakaweni. Seperti ayahnya, Prabu Pracona, Prabu Niwatakawaca juga ingin memperistri seorang bidadari. Ia kemudian pergi ke Suralaya melamar Dewi Supraba. Ketika lamarannya ditolak, Prabu Niwatakawaca mengamuk menyerang dan mengalahkan para Dewa.

Bhatara Guru dan Bahtara Narada turun ke Arcapada untuk meminta bantuan Arjuna yang waktu itu sedang mejadi brahmana di goa Mintaraga, gunung Indrakila bergelar Bagawan Ciptaning. Prabu Niwatakawaca akhirnya tewas dalam pertempuran melawan Arjuna setelah noktah belang yang berada dilangit-langit mulutnya terkena pusaka panah Pasopati yang dengan bantuan Dewi Supraba dapat mengetahui rahasia hidup mati Prabu Niwatakawaca.



Imajiner Nuswantoro



PESAN MORAL KISAH TERBUNUHNYA RAKSASA NIWATAKAWACA (PADA KAKAWIN ARJUNAWIWAHA)

Ringkasan tentang kakawin Arjunawiwāha ini merupakan perumpamaaan yang dilakukan oleh Mpu Kanwa dalam menggambarkan ketekunan dan kesabaran Airlangga dalam masa pengasingan di hutan. Hal ini kemudian dipertegas oleh C.C. Berg yang merupakan peneliti sastra berkebangsaan Belanda yang menyatakan bahwa Arjunawiwāha ini merupakan pujian yang ditunjukan kepada raja Airlangga. Kemahiran bujangga Kanwa dalam menuliskan tentang keindahan kakawin ini benar-benar dihayati dengan menggunakan rasa yang diresonansikan dalam bentuk goresan tinta yang penuh dengan makna. Lebih lanjut ditegaskan oleh abhinavagupta dengan pendapatnya yang dikenal dengan rasa dhvani yang menjelaskan bahwa pengalaman estetik tidak diperoleh sebagaimana pengalaman biasa, sebab obyek estetik tidak hanya menggetarkan indera melainkan juga yang menggerakan imanijasi (Hadi, 2014 : 205). 


Berikut kisah terbunuhnya raksasa Niwatakawaca :

Indra berangkat bersama pasukan para dewa dan bertempur melawan bala raksasa di lereng gunung Semeru. Ketika barisan para dewa dikalahkan oleh golongan raksasa, Arjuna datang menyerang sebagai penopang- belakang (tulak balakang) bagi mereka yang mundur minta dikasihani. Pada puncak pertempuran itu Arjuna memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), yaitu kutuk balik yang mengakhiri kesaktian Prabu Niwatakawaca. Arjuna sengaja ikut lari dengan berpura-pura kebingungan, hingga membuat raja raksasa yang sakti itu tertawa terbahak-bahak oleh karena kesenangan. Ketika dibidik dengan tomaranya Arjuna sengaja menjepitnya dan berpura-pura terjatuh di keretanya. Niwatakawaca datang berteriak menantang perang sambil tertawa kegirangan. Saat itulah ia terkecoh, terjerat tipu-muslihat (kasalib kabancana), karena tampaklah lidah pada mulut yang terbuka lebar. Maka binasalah raja raksasa yang sakti itu terkena bidikan panah manusia yang sakti pula. Arjuna dan para dewapun kembali ke kahyangan untuk merayakan kemenangan mereka. Akan tetapi ketika para dewa sedang sibuk mempercakapkan tentang perang yang telah mereka menangkan, Arjuna yang unggul jasanya (sang agunakaya) tidak banyak berbicara (tan jewah) dan tidak pula menunjukkan sikap kegirangan (tan wijah). Kemudian daripada itu Arjunapun menerima pahala kemuliaannya, yaitu ketika ia menjalani upacara penobatannya (abhiseka) sebagai Raja di Kahyangan Indraloka, dan melaksanakan pernikahannya (wiwaha) dengan ketujuh bidadari (widyadhari) yang utama. 

Sang Pujangga Kawi pun tenggelam dalam keindahan alam, dan sekaligus menyatu dengan keindahan yang mutlak, di kala ia telah mampu untuk mengatasi berbagai godaan dan cobaan. Ditemukannya sumber kidung bersyair yang berada di dalam dirinya, yaitu pada ujung pemusatan pikiran (dhyana), yang menuju kepada tataran keheningan (samadhi). Maka ditulisnyalah Kakawin Arjunawiwāha, yang memuja kebajikan (yasa), sebagai buah-usaha pujangga yang berbuat jasa, dan menjadi sebuah tanda peringatan (yasa). Bagaikan sebuah candi dengan prasasti yang mengabadikan baik kebajikan dari yang dipuja maupun ke-bakti-an dari yang memuja (Kuntarawijaya, 2007: 342). Demikianlah Kakawin Arjunawiwāha kemudian menjadi jalan perenungan (sadhana), yang dapat dibaca (amaca) maupun dilagukan (angidung). Ketiga-puluh enam pupuh dalam kakawin menjadi tingkat-tingkat kesadaran yang sarat dengan gelombang rasa rokhani. Maka ketiga rasa yang utama, yaitu yang dijumpai dalam suasana pertapaan (santa), pertempuran (vira), dan percintaan (srnggara), muncul secara bergantian untuk akhirnya bertemu dalam kesatuan rasa. 

Kesemuanya itu membawa pembaca dan pendengar kakawin, untuk beralih dari alam sakala kepada alam sakala-niskala. Maka haruslah semua yang membacanya menghadapi dan mengatasi tabir yang menyelubungi kesejatian makna (maya). Karena di dalam keindahan itupun terdapat godaan dan cobaan, yang membangkitkan gelora perasaan raga-jasmani, yaitu keadaan yang harus dilepaskan dalam rangka tercapainya hakekat rasa sejati. Selanjutnya dengan melakukan pembacaan berulang-kali akan terjadilah penggandaan buah-pikiran, yang bergerak menuju kepada satu pengertian. Sehingga pada saat alunan suara kidung berhenti terdengar, dan keheninganpun turun, tibalah jiwa pada keadaan yang mutlak. Sesungguhnya daya-cipta dalam diri Sang Pujangga Kawi menggambarkan kekuatan (sakti) yang berasal dari Hyang Batara Agung. Sedangkan kakawinnya melambangkan dunia yang telah tercipta (maya), yang penggubahannya itu menunjuk kepada kejadian penciptaan (lila). Karena itulah pembacanyapun diharapkan ikut bermain (lila), dengan menggumuli kakawin (maya), dalam rangka menemukan makna dan daya yang sejati (sakti).



Imajiner Nuswantoro



PRABU NIWATAKAWACA RAJA RAKSASA BERAMBISI MEMPERISTRI BIDADARI 

Niwatakawaca atau Prabu Niwatakawaca merupakan bangsa raksasa yang tergolong juga dalam mahluk gandarwa (sejenis dengan makhluk supranatural). Niawatakawaca merupakan keturunan dari Prabu Pracona, raja raksasa negara Gowabarong yang tewas dalam peperangan melawan Bambang Tutuka/Gatotkaca di Suralaya. Pada mulanya Niwatakawaca bernama Arya Nirbita


Istilah Niwatakawaca sendiri berarti "baju zirah yang kebal"


Niwatakawaca adalah makhluk yang meneror dunia, penguasa Negeri Imaimantaka, yang terletak di selatan wilayah Atas Angin. Penduduk di Negeri Imaimantaka adalah bangsa tak kasatmata sejenis jin dan gandarwa. Prabu Niwatakawaca berwatak temperamental, mudah marah dan gampang tersinggung meskipun tidak begitu luas wawasan dan kebijaksanaan yang dimilikinya. Ia mencita-citakan mempersatukan seluruh dunia wayang, tetapi dengan menggunakan upaya-upaya penaklukan, ancaman kekuatan dan kekerasan.

Kehancuran Prabu Niwatakawaca terjadi setelah ia sesumbar untuk menaklukkan Negeri Jonggring Saloka, tempat bermukim bangsa dewa, karena merasa tersaingi dengan negeri Amarta yang dipimpin oleh Prabu Yudistira. Niwatakawaca melihat bahwa negeri Amarta yang baru berdiri beberapa tahun sudah mampu mendirikan istana yang begitu megah dan mengundang jamuan makan selama 40 hari bagi semua raja dan punggawa di seluruh dunia wayang.

Niwatakawaca diceritakan sebagai sosok raksasa pengumbar nafsu yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu. Selain itu, karena merasa memiliki kesaktian tak tertandingi, Niwatakawaca gemar menakut-nakuti dan mengintimidasi pihak lain yang tidak menuruti kehendaknya.

Niwatakawaca telah menikah dengan Dewi Sanjiwati dan mempunyai dua orang putra. Masing-masing bernama Arya Nilarudraka, yang setelah dewasa menjadi raja negara Tegalparang dan Dewi Mustakaweni. Layaknya sang ayahanda yakni Prabu Pracona, Prabu Niwatakawaca juga gemar mengumbar keangkaramurkaan.

Dengan penuh nafsu angkara murka, Niwatakawaca merasa belum puas jika belum menggandeng Bathari Supraba, bidadari terkemuka Kahyangan. Ia lalu mengutus Patih Mamangdana melamar ke Kahyangan Jonggring Saloka. Dalam mengemban tugas, sang duta disertai bala yaksa pilihan. Ini sebagai antisipasi apabila lamarannya ditampik, kahyangan akan menyerang khayangan.

Di depan gerbang Kahyangan, kedatangan Mamangdana dihadang prajurit dorandara (pasukan Kahyangan). Karena menolak kembali, terjadilah peperangan. Mamangdana sempat mengobrak-abrik pasukan Kahyangan sebelum akhirnya dikalahkan para dewa. Melihat anak buahnya kewalahan, Niwatakawaca turun sendiri ke gelanggang.

Tidak ada satu dewa pun yang kuat menghadapi kesaktiannya. Maka, Bathara Narada terpaksa datang menemui Niwatakawaca di Repatkepanasan, alun-alun Kahyangan. Di sana, Narada dengan khidmat memberi nasihat. Menurut Narada, semua titah di jagat raya ini telah dipasang-pasangkan sesuai dengan kodratnya. Dewa berpasangan dengan dewi, bathara dengan bathari, kesatria-putri, raksasa-raksesi.

Atas dasar hukum alam itu, Narada mengingatkan Niwatakawaca untuk sadar dan tahu diri. Namun Niawatakawaca tetap keras kepala ingin memperistri Dewi Supraba, oleh karena itu Batara Narada kewalahan, sehingga ia mengatakan kepada Niawatakawaca untuk menunggu keputusan dari Sanghyang Manikmaya, atau Batara Guru.

Saat Narada siap melapor, Manikmaya mendahului bertanya, apa gerangan yang membuat Kahyangan terasa panas. Narada menjawab, ada raksasa yang kurang ajar yang meminta Supraba. Di sisi lain, terganggunya ketenteraman Kahyangan juga akibat kegenturan Arjuna bertapa di Indrakila dengan nama Mintaraga.

Manikmaya bersabda bahwa Arjuna yang akan memulihkan Kahyangan. Akan tetapi, sebagai bekalnya, Arjuna mesti lulus serangkaian ujian sehingga benar-benar siap menjadi jagonya dewa untuk mengusir Niwatakawaca. Lalu, diperintahkanlah tujuh bidadari untuk menggoda Arjuna.

Mereka ialah para bidadari unggulan, yaitu Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat. Namun, misi mereka gagal. Tidak seinci pun Mintaraga beringsut dari semadinya. Langkah berikutnya Bathara Indra mengejawantah dengan menyamar sebagai Resi Padya.

Ia menguji Mintaraga dalam hal berbagai ilmu. Lagi-lagi, sang petapa lulus. Lalu, Bathara Manikmaya turun tangan langsung menguji kualitas kesatria Pandawa tersebut.

Karena Niwatakawaca merupakan raksasa yang sangat sakti yang sangst sulit untuk dibunuh, utusan Suralaya pernah mencoba membunuh Niwatakawaca namun gagal, oleh karena itu Batara Guru sangat memikirkan ksatria sakti yang sekiranya dapat membunuh raja raksasa tersebut.

Melihat kualitas Arjuna, manikmaya memutuskan untuk mengutus ksatria itu untuk menghentikan Niwatakawaca. Mendapat perintah tersebut Arjuna memikirkan car acara yang akan dia gunakan, karena Arjuna tahu betul seberapa saktinya Niwatakawaca, maka dari itu ia bekerjasama dengan bidadari Supraba untuk mencari tahu kelehaman sang raja. Dengan bantuan Supraba, Prabu Niwatakawaca membongkar rahasia kekuatannya. Ternyata, rongga mulutnya merupakan kelemahan sang raja jin.

Setelah mengetahui rahasia kematian Niwatakawaca, Arjuna langsung menyiapkan pusaka panah Pasopati di tangan. Ia menantang Prabu Niwatakaca, Barang siapa yang menang akan mendapatkan Dewi Supraba.

Niwatakawaca dengan arogan menerima tantangan tersebut, namun belum sempat bertarung sengit Panah Pasopati menembus langit-langit mulut bertuliskan rajah Aji Gineng Sokaweda, seketika itu juga Prabu Niwatakawaca roboh menemui ajalnya. Atas keberhasilannya membunuh Prabu Niwatakawaca, Arjuna juga berhasil membaca rajah Aji Gineng Sokaweda, sehingga aji yang dapat digunakan untuk mengetahui pembicaraan binatang, menambah kewibawaan dan kesaktian itu dapat diserap oleh Arjuna.








Imajiner Nuswantoro


Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)