MULAT SALIRA HANGRASA WANI
ꦩꦸꦭꦠ꧀ꦱꦭꦶꦫꦲꦔꦿꦱꦮꦤꦶ
Mulat sarira hangrasa wani adalah ungkapan dalam falsafah Jawa kuno yang berarti berani mawas diri atau berani melakukan introspeksi secara jujur terhadap diri sendiri.
Mulat Sarira Hangrasa Wani
Rumangsa Mèlu Handarbèni
Wajib Mèlu Hanggondhèli
Selalu bertabiat mawas-diri,
Selalu merasakan turut memiliki,
Selalu memiliki kewajiban membela dan mempertahankan.
Mulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrungkebi - "berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga".
Kalimat ini adalah semboyan Pangeran Mangkunagara I.
Secara lengkap Tridarma berbunyi
1. Mulat sarira angrasa wani (ꦩꦸꦭꦠ꧀ꦱꦫꦶꦫꦲꦁꦫꦱꦮꦤꦶ, "berani berintrospeksi/mawas diri")
2. Rumangsa mèlu andarbèni (ꦫꦸꦩꦁꦱꦩꦺꦭꦸꦲꦤ꧀ꦢꦂꦧꦺꦤꦶ, "merasa ikut memiliki")
3. Wajib mèlu anggondhèli (ꦮꦗꦶꦧ꧀ꦩꦺꦭꦸꦲꦁꦒꦺꦴꦤ꧀ꦝꦺꦭ꧀ꦭꦶ, "berkewajiban ikut membela/mempertahankan")
Mulat sarira hangrasa wani adalah pepatah atau ungkapan dalam tradisi Jawa yang berarti berani mawas diri atau berani melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.
Arti Kata Per Kata
- Mulat: Melihat atau meninjau.
- Sarira: Badan atau diri sendiri.
- Hangrasa: Merasa.
- Wani: Berani.
Secara harfiah, frasa ini bermakna keberanian seseorang untuk melihat, mengenali, serta mengakui potensi, kekurangan, kesalahan, dan kebaikan di dalam dirinya sendiri.
Konteks Filosofis (Tridharma)
Ungkapan ini sering kali menjadi satu kesatuan utuh dengan dua nilai ajaran lain yang dipopulerkan oleh tokoh sejarah seperti Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa):
- Mulat sarira hangrasa wani: Berani mawas diri atau introspeksi.
- Rumangsa melu handarbeni: Merasa ikut memiliki.
- Wajib melu hangrungkebi / hanggondhèli: Berkewajiban ikut menjaga dan membela.
Sikap mawas diri ini mendasari kerendahan hati agar seseorang tidak mudah menyalahkan orang lain, serta menjadi landasan dalam bertindak bijak demi kebaikan bersama.
Mulat sarira hangrasa wani, rumangsa melu handarbeni, lan wajib melu hangrungkebi. Begitu nasihat Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunegara I.
UNGKAPAN JAWA DENGAN WANI
Wani dalam pengertian umum bahasa Jawa adalah berani, sama dengan pengertian Purun dalam Guna, kaya dan purun, yaitu keberanian yang dilandasi tekad dan komitmen kuat untuk melaksanakan sesuatu tugas.
Mulat Sarira Hangrasa Wani merupakan sebuah ungkapan dalam tradisi Jawa yang berarti berani mengenal potensi diri, sekaligus menyadari kekurangannya. Ungkapan ini melahirkan sikap rendah hati, yang dengan sikap rendah hati itu manusia dapat menata diri dengan baik. Pamuksa merupakan sebuah lakon yang menceritakan bahwa surga dan neraka merupakan suatu pilihan. Surga adalah kebersamaan dengan yang illahi sang sumber kebahagiaan, sedangkan neraka merupakan kebalikannya. Pandhu dan Tremboko telah memetik buah pilihannya. Pandhu masuk neraka bukan karena kesalahan dan dosanya tetapi lebih karena pilihan sendiri. Pilihan Pandhu untuk lebih mencintai duniawi merupakan sikap gegabah yang tidak mulat sarira hangrasa wani. Berkat bakti Bratasena dan Arjuna, puteranya serta dukungan pihak lain yang menaruh perhatian Pandhu diselamatkan. Penelitian ini membicarakan aspek moral, oleh karena itu digunakan pendekatan moral. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebuah pesan moral bahwa pertama, jika manusia ingin bahagia maka nilai surgawi merupakan priorotas yang pertama dan utama. Kedua, bahwa bakti anak terhadap orang tua yang dalam tradisi Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero mampu menyelamatkan orang tua dari kehinaan.
PENGGUNAAN KATA WANI
Penggunaan kata wani bergantung kalimatnya. Sebagai contoh:
1) Kalau orang mengatakan Bocah kok wani karo wong tuwa. Pengertian wani disini adalah anak yang tidak hormat pada orang tua.
2) Kalimat Aja wani-wani karo aku maksudnya semacam tantangan kalau ada orang mau kurang ajar kepada kita. Jangan berani-beraninya sama saya.
3) Pengertian Wani angas adalah kiasan untuk orang yang kelihatannya berani tetapi sebenarnya takut. (angas: gertak; diangasi: digertak; wani angas kurang lebihnya : Gertak sambal)
4) Kita juga kenal peribahasa Wani silit wedi rai. Gambaran orang-orang yang beraninya hanya kalau di belakang. Kalau berhadap-hadapan muka, dia diam seribu bahasa atau malah ngacir.
5) Kaduk wani kurang deduga adalah gambaran orang yang terlalu berani tetapi tanpa perhitungan. (Kaduk: kelebihan)
6) Kalimat Yen wania ing gampang wedia ing ewuh samubarang nora tumeka adalah nasihat Sri Rama kepada Hanoman. Jangan hanya berani mengerjakan yang mudah-mudah saja tapi gamang dengan yang sulit. Kalau semua orang seperti itu maka semuanya tidak akan kesampaian.
7) Yen wedi aja wani-wani, yen wani aja wedi-wedi, adalah nasihat supaya orang tidak ragu. Kalau memang takut ya jangan berani, kalau memang berani ya jangan maju-mundur lagi.
MULAT SARIRA HANGRASA WANI
Kalimat Mulat Sarira Hangrasa Wani adalah butir ke tiga dari Tri Dharma, ajaran Sri Mangkunegara I yang kita kenal dengan nama Pangeran Sambernyawa. Butir pertama dan keduanya adalah Rumangsa melu handarbeni dan Wajib melu hangrungkebi.
Kapankah kita akan Hangrasa Wani ?
Tumbuh rasa keberanian dalam diri kita ?
Tentusaja yang dimaksud adalah keberanian dalam pengertian purun, sehingga kita tidak akan :
1) Mau wani-wani tetapi rasanya wedi, disisi lain mau wedi-wedi tetapi sepertinya mampu, atau
2) Mau mengerjakan yang sulit sepertinya kok risikonya terlalu tinggi, tetapi kalau pilih mengerjakan yang gampang-gampang saja nanti dikatakan seandainya menang ora kondang, dan kalau kalah malah wirang, atau
3) Nekad tanpa petung sebagai orang yang “kaduk wani kirang deduga.” Pasti akan dikatakan “bonek” dan angka keberhasilannya juga rendah.
4) Atau mau melakukan sesuatu dengan sebelumnya bertanya: "Wani pira?"
Tentu kita tidak mau yang seperti itu.
Oleh sebab itu untuk “Hangrasa Wani” kita harus “Mulat Sarira” terlebih dahulu. “sarira” adalah badan. Maksudnya ya diri kita sendiri. Apa yang harus dilakukan diri sendiri sebelum “Hangrasa Wani?” Jawabannya adalah “mulat”. Pengertian umum “mulat” adalah “waspada”. Jadi kita ukur diri sendiri “Mampukah kita?” Berarti kita harus melakukan “self introspection” berarti dalam hidup ini kita senantiasa harus punya “sense of introspection”. Kita harus menata apa yang kita pikirkan, kita ucapkan yang yang lebih penting lagi adalah apa yang kita lakukan”.
Ringkasnya kita harus selalu “mawas diri” sebelum melangkah. Perlu digarisbawahi bahwa berani mengatakan tidak” adalah salah satu bentuk keberanian yang masih perlu ditingkatkan. Kalau sudah Mulat Sarira dan pikiran kita mengatakan tidak, mengapa yang kita lakukan justru sebaliknya? Berarti kita tidak melakukan Mulat sarira.
MULAT SARIRA ANGRASA WANI UNTUK PEMIMPIN
Seorang pemimpin dalam kepemimpinan berdasarkan sila-sila Pancasila berani memahami dan melaksanakan Kepanjangan dari kalimat ini adalah Mulat sarira angrasa wani, rumangsa melu andarbeni, wajib melu angrungkebi - "berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut menjaga". Saat menjadi pemimpin selalu melihat diri, apakah “kekuranganku”, sehingga kalau diberi kritikan atau masukan tidak cepat marah dan selalu menerima dengan “legowo”.Bukan malah bela diri, membela dirinya tetapi mesti “semeleh” adakah yang kurang bagiku, sehingga masih ada yang demikian mempersaalahkan.Mulat Sarira Hangrasa Wani. Mulat berarti melihat diri sendiri.Sarira berarti badan, tubuh. Hangrasa berarti merasa sedang. Wani artinya adalah berani.Untuk memahami arti kata-kata tersebut, harus dibaca dari belakang, yaitu : berani merasa, melihat diri sendiri.Makna yang terkandung didalam kata-kata tersebut adalah seorang pemimpin harus bersedia secara terbuka untuk melihat kesalahan yang terjadi dalam dirinya.Suatu sikap keberanian untuk mawas diri. Suatu prinsip umum yang menganjurkan kepada setiap orang, terutama seorang pemimpin untuk mau merenungkan, melakukan refleksi , apakah mereka sudah bebar-benar telah melakukan tugasnya sebacara baik atau belum. Sebagai pemimpin , apakah mereka telah berbuat banyak bagi kepentingan rakyat atau belum.Rumangsa Handarbeni. Kata Rumangsa berarti merasakan, menyadari. Handarbeni artinya memiliki.Secara harafiah berarti, ikut merasakan sebagai miliknya atau empunya. Kata-kata tersebut bermakna terhadap tugas, tanggung jawab seorang pemimpin yang harus menyadari bahwa tugas-tugas tersebut harus dirasakan, disadari sebagai miliknya.Apabila sesuatu atau tugas tersebut diterima dan dianggap sebagai miliknya, diharapkan dapat mendorong “melaksanakan tugas” tersebut secara tanggung jawab dan tidak setengah hati.Melu Hangrungkebi. Melu berarti ikut, sedang Hangrungkebi berarti melindungi, siap berkorban untuk membela.Secara harafiah berarti, siap berkorban untuk membela, melindungi atau mengamankan.Secara simbolis menggambarkan, menjadi seorang pemimpin harus selalu siap untuk berkorban dalam melaksanakan tugas-tugas kepemimpinannya dengan segala tantangan atau resikonya.Ketiga komitmen tersebut sering digambarkan dalam sebuah hubungan pemimpin dengan bawahannya. Bahwa bawahan bukan lagi seorang hamba melainkan adalah sahabat. Seorang hamba hanya melakukan tugas-tugasnya apabila disuruh oleh tuannya. Apabila tuannya tidak ada ditempat kemungkinan ia akan tidak melakukan sesuatu itu, tetapi seorang sahabat ia tahu kapan dan harus bagaimana ia melaksanakan tugas-tugasnya sebab itu miliknya, sebab itu adalah tanggungjawabnya sendiri.Merupakan salah satu faham kepemimpinan yang berpandangan bahwa hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin dilukiskan sebagai hubungan antara orang tua dengan anak.Faham ini didasarkan pada satu konsep pemikiran dasar agar dalam kehidupan satu organisasi bawahan selalu menunjukkan sikap loyal, hormat dan setia kepada pemimpin.Sebaliknya seorang pemimpin tampil menjadi panutan didalam pola pikir, sikap dan perilakunya selalu memberikan bimbingan, petunjuk dan tidak semena-mena kepada bawahan.Analog seperti suasana interaksi antara orang tua dan anaknya dalam satu keluarga rumah tangga.Seorang ayah yang baik ia tidak bertindak seperti Bos,tetapi terkadang sebagai teman atau sahabat bagi anak-anaknya, bertindak sebagai guru Bombingan Konseling, sebagai seorang ‘pelayan” atau sebagai seorang yang tegas dam bersikap.
Ia sangat memahami bahwa kepemimpinan itu suatu titipan dari Yang Maha Esa . Saatnya akan diambil dan harus diberikan kembali. Saat memimpin ia melaksanakan dengan kepemimpinan penuh kasih dan persaudaraan dengan hendak mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradap. Bukan dengan tangan besi, secara otoriter tetapi selalu mawas diri, berkaca diri sudahkah menjadi pelayan yang setia , bukan memecah belah tetapi mempersatukan seluruh rakyat Indonesia. Kepemimpinan yang tidak secara otoriter , bukan dengan tangan besi yang semua selalu didasarkan kepada pemimpinpinnya tetapi yang selalu mengajak bawahannya untuk memusyawarahkan hal hal tertentu, sehingga didapatkan keputusan yang bermanfaat bagi banyak orang dan setiap keputusan yang selalu bertumpu pada kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kepemimpinan berarti suatu kesempatan baginya untuk melayani, terutama bagi yang lemah, kecil, miskin, disabilitas atau yang berkebutuhan khusus. Dengan kepemimpinan ia lebih berkesempatan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi yang dipimpinnya, terutama dan bagi seluruh rakyat pada umumnya, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian kepemimpinan yang mulat sariro selalu Tidak ada korupsi, Kolusi, Manipulasi dalam seluruh pelayanannya karena untuk diabdikan kepada bumi pertiwi yang kita cintai.Selamat memimpin bapak pemimpin kami, semoga berkat kepemimpinan bapak/ibu kami semakin lebih mendapat perhatian dan kesejahteraan.
Imajiner Nuswantoro

