(1) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT : 1 - 11)

0

 (1) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT : 1 - 11)





Kajian Sastrajendra (1): Sastrajendra Hayuningrat

Bait ke 1-4, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Kinanthi amurwèng kayun,

wuryaning wasita jati,

jatine kang tinarbuka,

kawruh adi kang piningit.

Sastrajendra hayuningrat,

kang môngka wadining bumi.


Sastra têgêse pan kawruh,

yèku paningal kang êning.

Arja puniku minulya,

sukci kang ananirèki.

Endra pan agung asamar,

anglimputi saananing.


Sèsining kang buwana,

yèku jatining ngaurip,

jumênêng langgêng priyôngga.

Kang kawasa paring urip,

kang gumlar ing bumintara,

sanggyaning para dumadi.


Yèku kang wênang sinêbut,

Allah Tangala sajati,

kang agung mulya datira.

Kang elok sipatirèki,

ingkang wisesa asmanya,

sampurna apngalirèki.


Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Disertakan dalam memulai kehendak,

terlihat pesan sejati,

sejatinya yang terbuka,

pengetahuan luhur yang dirahasiakan.

Sastrajendra hayuningrat,

yang sebagai rahasia alam dunia.


Sastra di sini artinya adalah pengetahuan,

yaitu penglihatan yang jernih.

Arja itu dimuliakan,

karena suci keadaannya.

Endra artinya agung tak ada keraguan,

meliputi segalanya,

seisi dunia ini.


Yaitu sejatinya kehidupan,

berdiri langgeng sendiri.

Yang kuasa memberi hidup,

yang terhampar di alam bumi,

segala para makhluk.


Yaitu yang wajib disebut,

Allah Yang Maha Tinggi,

yang agung dan mulia DzatNya

Yang elok sifatnya,

yang kuasa namanya,

sempurna perbuatannya.


Kajian per kata:

Kinanthi (disertakan) amurwèng (dalam memulai) kayun (kehendak), wuryaning (memulai dari, disampaikan) wasita (pesan) jati (sejati), jatine (sejatinya) kang (yang) tinarbuka (terbuka), kawruh (pengetahuan) adi (luhur, lebih, ungguk) kang (yang) piningit (dirahasiakan). Disertakan dalam memulai kehendak, disampaikan dari pesan sejati, sejatinya yang terbuka, pengetahuan luhur yang dirahasiakan.


Disertakan dalam memulai kehendak, disampaikan pesan sejati. Sejatinya isi dari pesan itu hendak dibuka. Dari pengetahuan luhur yang sebelumnya sangat dirahasiakan.


Sastrajendra hayuningrat (sastrajendra hayuningrat), kang (yang) môngka (sebagai) wadining (rahasia) bumi (bumi, alam dunia). Sastrajendra hayuningrat, yang sebagai rahasia alam dunia.


Pesan itu bernama Sastrajendra hayuningrat. Yang selama ini dirahasiakan di alam dunia. Sastrajendera berasal dari kata; sastra + arja + endra. Apa pengertian dari ketiga kata tersebut?


Sastra (sastra) têgêse (artinya) pan (sungguh, memang) kawruh (pengetahuan), yèku (yaitu) paningal (penglihatan) kang (yang) êning (jernih). Sastra di sini artinya adalah pengetahuan, yaitu penglihatan yang jernih.


Sastra artinya pengetahuan, kumpulan dari penglihatan yang jernih. Bukan duga-duga atau hayalan manusia. Namun mempunyai dasar metodologi yang jelas, dan dapat dikuasai oleh siapapun yang mampu dan mempunyai kehendak.


Arja (arja) puniku (itu) minulya (dimuliakan), sukci (suci) kang (yang) ananirèki (keadaannya). Arja itu dimuliakan, karena suci keadaannya.


Arja artinya dimuliakan. Dimuliakan karena suci keadaannya. Bukan mulia karena dianggap mulia, tetapi mulia karena dzatnya yang mulia.


Endra (endra) pan (sungguh) agung (agung) asamar (tak ada keraguan), anglimputi (meliputi) saananing (segalanya), sèsining (seisi di) kang (yang) buwana (dunia). Endra artinya agung tak ada keraguan, meliputi segalanya, seisi dunia ini.


Endra artinya agung, tak ada keraguan lagi keagungannya meliputi segalanya. Meliputi seisi dunia. Jadi sastrajendra artinya pengetahuan tentang yang mulia, yang kemuliaanya meliputi segala isi dunia.


Yèku (yaitu) jatining (sejatinya) ngaurip (kehidupan), jumênêng (berdiri) langgêng (langgeng) priyôngga (sendiri). Yaitu sejatinya kehidupan, berdiri langgeng sendiri.


Yang demikian itu sejatinya kehidupan. Kehidupan sejati yang langgeng berdiri sendiri. Artinya tidak bergantung kepada kehidupan yang lain.


Kang (yang) kawasa (kuasa) paring (memberi) urip (hidup), kang (yang) gumlar (terhampar) ing (di) bumintara (alam bumi), sanggyaning (segala) para (para) dumadi (makhluk). Yang kuasa memberi hidup, yang terhampar di alam bumi, segala para makhluk.


Kehidupan yang berkuasa memberi hidup bagi yang terhampar di alam bumi, segala para makhluk di seluruh semesta alam.


Yèku (yaitu) kang (yang) wênang (wajib) sinêbut  (disebut), Allah (Allah) Tangala (Ta’ala, Maha Tinggi) sajati (sejati), kang (yang) agung (maha besar) mulya (mulia) datira (DzatNya). Yaitu yang wajib disebut, Allah Yang Maha Tinggi, yang agung dan mulia DzatNya.


Itulah yang disebut Allah Yang Maha Tinggi. Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Dzul jalaali wal ikram. Pemilik keagungan dan kemuliaan.


Kang (yang) elok (elok) sipatirèki (sifatnya), ingkang (yang) wisesa (kuasa) asmanya (namanya), sampurna (sempurna) apngalirèki (perbuatannya). Yang elok sifatnya, yang kuasa namanya, sempurna perbuatannya.


Yang elok sifatNya, tak tertandingi semua makhluk. Yang kuasa namanya, bukan sekedar tempelan, tapi nama yang sesuai sifatNya. Yang sempurna perbuatanNya, perbuatan yang muncul dalam bentuk kasih yang perkasa. Pencipta dan pemelihara. Melindungi dan mendidik makhlukNya. Menunjukkan jalan pada keselamatannya.




Kajian Sastrajendra (2): Weh Ayuning Rat Sawegung

Bait ke 5-7, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Wèh ayuning rat sawêgung,

amarna sipat sakalir,

kang andum rahsaning jagad.

Anyamadi ganal alit,

kang kawasa wicaksana,

kang adil murah ing dasih.


Tan ana ingkang nyakuthu,

jumênêng urip pribadi.

Ing satuhune dat sipat,

asma apngaling Hyang Widhi,

wus dumunung ing kaanan.

Ananing manungsa iki,


katitipan rahsanipun,

Pangeran Kang Maha Sukci.

Puniku wahananira,

dating sastra kang piningit,

sotyadi sasangkaning rat,

mêngku prasidaning dadi.


Terjemahan dalam bahasa Indonesia:


Memberi keindahan jagad seisinya,

memberi sifat semuanya,

yang membagi benih kehidupan seluruh jagad.

Memberi kebaikan pada yang besar dan kecil,

yang berkuasa bijaksana,

yang adil pemurah pada hambaNya.


Tak ada yang bersekutu,

hidup berdiri sendiri.

Sebenarnya Dzat Sifat,

Asma dan Perbuata Tuhan Yang Maha Benar,

sudah berada di dalam keadaan (Wujud).

Adanya manusia ini,


hanya dititipi benih kehidupan,

Tuhan Yang Maha Suci.

Itulah maknanya,

dzat dari sastra yang dirahasiakan,

permata indah penerang jagad,

yang mengandung proses terjadinya makhluk.


Kajian per kata:

Wèh (memberi) ayuning (keindahan) rat (jagad) sawêgung (seisinya), amarna (memberi) sipat (sifat) sakalir (semuanya), kang (yang) andum (membagikan) rahsaning (rahsa, benih kehidupan) jagad (dunia). Memberi keindahan jagad seisinya, memberi sifat semuanya, yang membagi benih kehidupan seluruh jagad.


Yang memberi keindahan pada jagad seisinya. Kaya ayu bisa bermakna indah. Juga bisa bermakna baik. Kebaikan pasti sinkron dengan keindahan. Bagi mereka yang terpesona oleh nilai-nilai, kebaikan sama mempesonanya dengan keindahan.


Yang memberi sifat pada semua makhluknya. Amarna artinya memberi warna. Maka jadilah makhluk semua berwarna-warni. Tak sama dan karenanya menjadi indah.


Yang memberi rahsa atau benih kehidupan jagad raya. Dengannya jagad ini tumbuh dan berkembang, serta berkesadaran. Jagad menjadi hidup, bukan semata dunia yang dingin dan kaku. Namun hangat dan berkembang.


Anyamadi (membuat baik) ganal (besar) alit (kecil), kang (yang) kawasa (berkuasa) wicaksana (bijaksana), kang (yang) adil (adil) murah (pemurah) ing (pada) dasih (hambaNya). Memberi kebaikan pada yang besar dan kecil, yang berkuasa bijaksana, yang adil pemurah pada hambaNya.


Yang membuat baik, kepada yang besar dan yang kecil. Semua tak dibedakanNya. Berkuasa dengan bijaksana, adil dan pemurah kepada hambanya. Bijaksana karena kekuasaanNya tidak ditegakkan untuk menunjukkan Dia kuasa. Dia tak butuh itu. Adil karena mampu mengangkat semua yang ada, sesuai tempatnya masing-masing. Pemurah karena tidak menuntut lebih dari kemampuan hambanya. Rahmat dan kasihNya mendahului murkanya. Dia takkan menggunakan kuasa sebelum memberikan bimbingan.


Tan (tak) ana (ada) ingkang (yang) nyakuthu (bersekutu), jumênêng (berdiri) urip (hidup) pribadi (sendiri). Tak ada yang bersekutu, hidup berdiri sendiri.


Yang tidak ada sekutu bagiNya. Dia berdiri sendiri. Hidup. Dan tidak bergantung kepada selainNya.


Ing  (dalam) satuhune (sebenarnya) dat (Dzat) sipat (sifat), asma (asma) apngaling (perbuatan) Hyang (Tuhan) Widhi (Yang Maha Benar), wus (sudah) dumunung (berada) ing (di) kaanan (keadaan). Sebenarnya Dzat Sifat, Asma dan Perbuata Tuhan Yang Maha Benar, sudah berada di dalam keadaan (Wujud).


Yang sebenarnya, dzat, sifat, asma dan perbuatan dari Tuhan Yang Maha Benar, sudah berada dalam Wujud. Wujud sejak mula. Tanpa ada yang mewujudkan. Wujud dengan sendirinya. Wujud bi dzatihi.


Ananing (adanya) manungsa (manusia) iki (ini), katitipan (dititipi) rahsanipun (benih kehidupan), Pangeran (Tuhan) Kang (Yang) Maha (Maha) Sukci (Suci). Adanya manusia ini, hanya dititipi benih kehidupan, Tuhan Yang Maha Suci.


Adanya manusia ini hanya dititipi benih kehidupan oleh Tuhan Yang Maha Suci. Manusia tidak bisa menjadi ada tanpaNya. Wujud manusia hanya ada karena selainnya, wujud bi ghairihi. Bahkan sesungguhnya wujud manusia hanya wujud pinjaman. Wujud yang bukan wujud, keberadaannya maya.


Puniku (itulah) wahananira (maknanya), dating (dzat dari) sastra (sastra) kang (yang) piningit (dirahasiakan), sotyadi (permata indah) sasangkaning (rembulan, penerang) rat (jagad), mêngku (yang mengandung) prasidaning (cara terjadinya, proses) dadi (kejadian, makhluk). Itulah maknanya, dzat dari sastra yang dirahasiakan, permata indah penerang jagad, yang mengandung proses terjadinya makhluk.


Itulah makna dari sastra yang dirahasiakan, sastrajendra hayuningrat. Ia adalah permata indah penerang jagad. Menyimpan cara kejadian dari makhluk sedunia. Barangsiapa menguasai maknanya, dia sanggup memayu hayuningrat, membuat indah keindahan jagad.





Kajian Sastrajendra (3): Pamoring Jalu Estri

Bait ke 8-11, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Arjaning parasdya nulus,

kang kawasa amumpuni,

saliring rasa dumina,

lêlantaraning ngaurip.

Tumuruning sastra cêtha,

jumênêng nukat ginaib


saking alaming alimut.

Gaibing Allah sajati,

tumitis ing dalêm rahsa.

Rahsaning priya duk lagi,

sêngsêming asmaragama,

pamoring jalu lan èstri.


Duk mêdhar rahsaning kakung,

lênyêp murcitaning aksi,

tiniyup ing kanikmatan.

Ing kono pamorirèki,

dating atma Kang Wisesa,

kadim sajatining urip.


Amoring dat lan rasèku,

ingaran wadi lan mani,

tumiba ing guwa garba,

acampuh kalawan madi,

yèku rahsaning wanita,

kumpule dadi sawiji


Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Kemuliaan pada kehendak lestari,

yang kuasa menguasai,

semua rasa terbuka,

menjadi perantara kehidupan.

Turunnya sastra jelas,

berdiri membuka yang ghaib,


dari alam yang gelap.

Ghaibnya Allah sesungguhnya,

mengejawantah di dalam bibit kehidupan.

Bibit kehidupan ketika sedang,

terpesona dalam ulah asmara,

bercampur suami dan istri.


Ketika mengeluarkan bibit kehidupan suami,

hanyut terjatuh dalam pandangan,

terhembus oleh kenikmatan.

Di situ bercampurnya,

dzat dari jiwa Yang Kuasa,

kekal sejati dalam hidup.


Menyatunya dzat dan rasa itu,

disebut wadzi dan mani.

Jatuh di dalam rahim,

bercampur hebat dengan madzi,

yaitu bibit kehidupan wanita,

berkumpulnya keduanya menjadi satu.


Kajian per kata:

Arjaning (kemuliaan pada) parasdya (kehendak) nulus (lestari), kang (yang) kawasa (Kuasa) amumpuni (menguasai), saliring (semua) rasa (rasa) dumina (terbuka), lêlantaraning (perantara dalam) ngaurip (kehidupan). Kemuliaan pada kehendak lestari, yang Kuasa menguasai, semua rasa terbuka, menjadi perantara kehidupan.


Kemuliaan kehendak lestari, menerus ke seluruh alam. Dari Yang Kuasa, menguasai semua rasa yang terbuka, menjadi perantara dalam kehidupan.


Tumuruning (turunnya) sastra (sastra) cêtha (jelas), jumênêng (berdiri) nukat (membuka) ginaib (yang ghaib), saking (dari) alaming (alam) alimut (yang gelap). Turunnya sastra jelas, berdiri membuka yang ghaib, dari alam yang gelap.


Perantaraannya adalah sastra yang jelas. Berdiri membuka yang ghaib dari alam yang gelap. Gelap bukan karena kurang cahaya, tapi karena tak dikenal. Tak dikenal karena ghaib, tak hadir dalam kehidupan nyata.


Gaibing (ghaibnya) Allah (Allah) sajati (sesungguhnya), tumitis (masuk, mengejawantah) ing (di) dalêm (dalem) rahsa (rasa, bibit kehidupan). Ghaibnya Allah sesungguhnya, mengejawantah di dalam bibit kehidupan.


Ghaibnya Allah sesungguhnya sudah mengejawantah di dalam bibit kehidupan. Dia tidak asing, tidak jauh. Dekat, bahkan lebih dekat daripada urat leher. Dia ghaib bagi makhluknya yang tak mengetahui, tak menyadari kehadiranNya.


Rahsaning (bibit kehidupan) priya (laki-laki) duk (ketika) lagi (sedang), sêngsêming (pesona) asmaragama (ulah asmara), pamoring (bercampur) jalu (suami) lan (dan) èstri (istri). Bibit kehidupan ketika sedang terpesona dalam ulah asmara, bercampur suami dan istri.


Sesungguhnya Dia hadir dalam setiap peristiwa. Bibit kehidupan yang ditiupkanNya di semesta membuka tabir keghaibanNya. Bagi yang memperhatikan bagaimana pesona ulah asmara, bercampurnya suami dan istri. Di sana Dia hadir sejak semula.


Duk (ketika) mêdhar (mengeluarkan) rahsaning (bibit kehidupan) kakung (suami), lênyêp (lepas, hanyut) murcitaning (terjatuh dalam) aksi (pandangan), tiniyup (dihembus) ing (oleh) kanikmatan (kenikmatan). Ketika mengeluarkan bibit kehidupan suami, hanyut terjatuh dalam pandangan, terhembus oleh kenikmatan.


Ketika mengeluarkan bibit kehidupan (air mani) suami hanyut terjatuh dalam pandangan, dihembus oleh kenikmatan sesaat. Saat ketika sesuatu yang bukan tubuh menyatu dalam angannya. Membuat dia mengalami orgasme, suatu kesadaran yang melampaui kesadaran badani.


Ing (di) kono (situ) pamorirèki (bercampurnya), dating (dzat dari) atma (atma, jiwa) Kang (yang) Wisesa (kuasa), kadim (kekal) sajatining (sejati dalam) urip (hidup). Di situ bercampurnya, dzat dari jiwa yang kuasa, kekal sejati dalam hidup.


Di situlah bercampurnya, Dzat dari jiwa Yang Kuasa, yang kekal. Inilah sejatinya hidup. Orang yang berhubungan seksual digerakkan ketertarikan yang di luar nalar mereka. Karena pada saat itulah lokus bagi pengejawantahan dari dzat atma sedang disiapkan.


Amoring (menyatunya) dat (dzat) lan (dan) rasèku (rasa itu), ingaran (disebut) wadi (wadzi) lan (dan) mani (mani). Menyatunya dzat dan rasa itu, disebut wadzi dan mani.


Menyatunya dzat dan rasa itu disebut wadzi dan mani. Mani menjadi tempat bibit kehidupan ditanam. Wadzi menjadi sarananya.


Tumiba (jatuh) ing (di) guwa garba (rahim), acampuh (bercampur hebat) kalawan (dengan) madi (madzi), yèku (yaitu) rahsaning (bibit kehidupan dari) wanita (wanita), kumpule (berkumpulnya) dadi (menjadi) sawiji (satu). Jatuh di dalam rahim, bercampur hebat dengan madzi, yaitu bibit kehidupan wanita, berkumpulnya keduanya menjadi satu.


Ketika bibit kehidupan (mani) jatuh ke dalam rahim, bercampurlah dengan madzi, yaitu bibit kehidupan dari wanita. Berkumpul keduanya, dan manunggal menjadi satu. Bibit kehidupan tumbuh. Yang materi berubah menjadi bukan materi, karena atma dari Yang Kuasa telah bersemayam.



Bersambung ke  :

(2) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT 12 - 29) 


(2) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT 12 - 29)

.


Imajiner Nuswantoro 









Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)