(2) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT 12 - 29)

0

 (2) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT 12 - 29)




Sambungan dari :

(1) KAJIAN SASTRAJENDRA HAYUNINGRAT (PUPUH KINANTHI, BAIT 1 - 11)

.


Kajian Sastrajendra (4): Sari-sarining Catur Warna

Bait ke 12-16, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Aran manikêm puniku,

yèku wêwadhahing urip,

wujud siji catur aran.

Mani madi lawan wadi,

manikêm sakawanira,

yèku wijining dumadi.


Dadining manungsa iku,

saking warna catur singgih.

Dene wiji kang ngaranan,

sarining bumi lan gêni,

miwah sarining maruta,

sakawan pathining warih


Kang samya ingakên iku,

laire sipating Widhi,

wus wujud nèng catur rahsa,

Yèku baboning jasmani,

minôngka sêsandhanira,

abuning roh kang sajati


Abuning roh têgêsipun,

baboning nyawa sakalir,

kang nguripi sakèh rasa,

ingaran nyawa rohkani,

Yèku tohjalining sastra,

sipat cahya Muhkamadi.


Mukamad ing têgêsipun,

wênang sinêmbah pinuji.

Sêsirahing kanikmatan,

rasaning buwana yêkti.

Satuhu sêsotyaningrat,

nirmala waluya jati


Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Yang disebut manikem itu,

yaitu tempat dari kehidupan,

wujudnya satu empat namanya.

Mani madzi dan wadzi,

manikem yang keempat,

itulah bibit dari kejadiannya.


Terjadinya manusia itu,

sungguh dari empat macam itu.

Adapun benih yang disebut tadi,

sarinya bumi dan api,

serta sarinya angin,

yang keempat saripati air.


Yang semua diakui itu,

lahirnya sifat dari Tuhan Yang Maha Benar,

sudah mewujud dalam empat benih kehidupan.

Yaitulah induk jasmani,

sebagai sandaran dari,

awan roh yang sejati.


Awan dari roh artinya,

induk dari nyawa semuanya,

yang menghidupi semua rasa,

disebut nyawa ruhani.

Demikianlah cara tajalli yang diuraikan dalam sastrajendra ini,

yakni sifat dari Nur Muhammad.


Muhammad itu artinya,

berhak dihormati dan dipuji.

Pemuka dari kenikmatan,

rasa dari dunia sungguh.

Sungguh permata dari jagad,

tanpa cela selamat yang benar.


Kajian per kata:

 Aran (yang disebut) manikêm (manikem) puniku (itu), yèku (yaitu) wêwadhahing (tempat dari) urip (kehidupan), wujud (wujud) siji (satu) catur (empat) aran (nama). Yang disebut manikem itu, yaitu tempat dari kehidupan, wujudnya satu empat namanya.


Bibit kehidupan dari suami (mani) dan istri (madzi) bercampur, dan tumbuhlah sesuatu yang lain, manikem. Itulah tempat kehidupan bersemi. Dia menjadi wadah bagi tumbuhnya manusia baru.


Mani (mani) madi (madzi) lawan (dan) wadi (wadzi), manikêm (manikem) sakawanira (yang keempat), yèku (itulah) wijining (bibit dari) dumadi (kejadian). Mani madzi dan wadzi, manikem yang keempat, itulah bibit dari kejadiannya.


Mani, madzi dan wadzi serta manikem, keempatnya itulah bibit dari manusia.


Dadining (terjadinya) manungsa (manusia) iku (itu), saking (dari) warna (macam) catur (empat) singgih (sungguh, benar). Terjadinya manusia itu, sungguh dari empat macam itu.


Terjadinya manusia dari empat macam itu.


Dene (adapun) wiji (benih) kang (yang) ngaranan (tersebut), sarining (sarinya) bumi (bumi) lan (dan) gêni (api), miwah (serta) sarining (sarinya) maruta (angin), sakawan (keempat) pathining (saripati) warih (air). Adapun benih yang disebut tadi, sarinya bumi dan api, serta sarinya angin, yang keempat saripati air.


Adapun keempat benih tersebut merupakan sari-sari dari bumi dan api, serta sari-sari dari angin dan air.


Kang (yang) samya (semua) ingakên (diakui) iku (itu), laire (lahirnya) sipating (sifat dari) Widhi (Tuhan Maha Benar), wus (sudah) wujud (mewujud) nèng (dalam) catur (keempat) rahsa (benih kehidupan). Yang semua diakui itu, lahirnya sifat dari Tuhan Yang Maha Benar, sudah mewujud dalam empat benih kehidupan.


Sifat Tuhan Yang Maha Benar mengejawantah secara lahir ke dalam empat benih kehidupan itu. Demikian cara Tuhan bertajalli ke alam lahir yang serba terbatas. Yang Esa mengejawantah menjadi banyak karena alam materi berazas keragaman. Tanpa menjadi banyak Tuhan tak dapat dipahami oleh manusia yang tinggal di alam materi yang beragam.


Yèku (yaitulah) baboning (induk dari) jasmani (jasmani), minôngka (sebagai) sêsandhanira (sandaran), abuning (awan dari) roh (roh) kang (yang) sajati (sejati). Yaitulah induk jasmani, sebagai sandaran dari awan roh yang sejati.


Di sini kata roh disifati dengan abun (awan) karena roh itu melayang dari angkasa. Dengan adanya jasmani maka roh mendapat tempat untuk bersemayam. Jasmani dengan demikian adalah sarang bagi roh dari Tuhan yang turun ke dunia materi. Dia perlu penguat karena yang bukan materi takkan muat di dalam materi. Manusia yang gabungan dari wujud bumi dan langitlah yang kuat mengendong roh itu. Inilah yang disebut amanat, yang langit pun tak kuat membawanya.


Abuning (awan dari) roh (roh) têgêsipun (artinya), baboning (induk dari) nyawa (nyawa) sakalir (semua), kang (yang) nguripi (menghidupi) sakèh (semua) rasa (rasa), ingaran (disebut) nyawa (nyawa) rohkani (ruhani). Awan dari roh artinya induk dari nyawa semuanya, yang menghidupi semua rasa, disebut nyawa ruhani.


Abun dari roh yang bersemayam dalam jasmani tadi menjadi induk dari nyawa semua kehidupan. Menghidupi semua rasa. Disebut juga sebagai nyawa ruhani. Inilah yang menjadi bakal sifat manusia.


Yèku (yaitulah) tohjalining (tajalli dari) sastra (sastra ini), sipat (sifat) cahya (cahaya) Muhkamadi (Muhammad). Demikianlah cara tajalli yang diuraikan dalam sastrajendra ini, yakni sifat dari Nur Muhammad.


Demikian tadi cara Allah bertajalli. Melalui serangkaian lapis penciptaan. Sebelum sampai ke dunia dan menjadi kehidupan yang kita saksikan, terlebih dahulu melalui Nur Muhammad.


Para mistikus di zaman dahulu mempunyai teori bagaimana Allah bertajalli ke dunia ini. Sebelum Allah menciptakan dunia seisinya dia terlebih dahulu menciptakan Nur Muhammad. Dia adalah prototype manusia di dunia. Segala yang ada di dunia diciptakan untuk menyambut kedatangan Nur Muhammad ke dunia. Perumpamaan Nur Muhammad ini seperti biji beringin yang ditanam. Lalu tumbuhlah pohon beringin yang besar, inilah dunia beserta isinya. Ketika pohon beringin itu sudah dewasa, maka munculah buahnya yang berupa biji beringin. Jadi Muhammad SAW memang lahir di zaman akhir, tetapi sesungguhnya dia mendahului seluruh manusia. Karena untuk dia dunia ini diciptakan.


Mukamad (Muhammad) ing (pada) têgêsipun (artinya), wênang (berhak) sinêmbah (dihormati) pinuji (dipuji). Muhammad itu artinya berhak dihormati dan dipuji.


Nama Muhammad itu sendiri dalam bahasa Arab artinya orang yang terpuji. Nama ini sesuai dengan hakekat Muhammad, yang memang pantas dipuji dan dihormati. Sinembah dari kata sembah yang artinya menghormat.


Sêsirahing (pemuka dari) kanikmatan (kenikmatan), rasaning (rasa dari) buwana (dunia) yêkti (sungguh). Pemuka dari kenikmatan, rasa dari dunia sungguh.


Muhammad adalah pemuka dari kenikmatan yang Tuhan berikan kepada jagad raya. Segala hal baik dari dunia ada padanya. Dia puncak dari apa yang dapat diraih oleh manusia. Dia insan kamil, manusia sempurna.


Satuhu (sungguh) sêsotyaningrat (permata dari jagad), nirmala (tanpa sakit, tanpa cela) waluya (selamat) jati (yang benar). Sungguh permata dari jagad, tanpa cela selamat yang benar.


Laksana permata dari jagad raya. Tanpa cela, contoh dari penempuh jalan selamat yang benar. Sebenar-benarnya.




Kajian Sastrajendra (5): Roroning Atunggal

Bait ke 17-20, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Jatine sapa ingkang wruh,

rêsmining jagad puniki,

minulya ing uripira,

sinung padhanging panggalih.

Praptaning pati sampurna,

dumunung ing swarga luwih.


Uriping suksmanirèku,

anunggal Hyang Suksma Sukci,

wus roro-roroning tunggal.

Tan kêna ingaran kalih,

iya uriping kawula,

satuhu uriping Gusti.


Kawasa wisesanipun,

kawula kalawan Gusti,

tan kêna yèn pisahêna.

Sampurna purwaning dadi,

langgêng kauripanira,

si kombang anèng swargadi.


Anuksmèng sagara madu,

madu maduning ngaurip,

anyamadi jiwa raga, 

iya ragane pribadi.

Kang kawasa marna sipat,

sipating manungsa iki.


Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Sejatinya siapa yang mengetahui,

keindahan jagad ini,

dimuliakan pada kehidupanmu,

diberi terang hati.

Sampai di kematian sempurna,

berada di surga indah.


Hidup dari ruhmu,

bersatu dengan Tuhan, Ruh yang Suci,

sudah menjadi dwi-tunggal.

Tak bisa disebut dua,

ya hidup dari hamba,

sungguh hidupnya Tuhan.                                             


Kuasa menguasai dari,

hamba dan Tuhan,

tak bisa dipisahkan.

Sempurna awal dari kejadian,

langgeng kehidupanmu,

si kombang berada di surga indah.


Menitis dalam lautan madu,

madu madunya hidup,

memperbagus jiwa raga,

raganya sendiri.

Yang Kuasa memberi sifat,

sifat dari manusia ini.


Kajian per kata:

Jatine (sejatinya) sapa (siapa) ingkang (yang) wruh (mengetahui), rêsmining (keindahan dari) jagad (jagad) puniki (ini), minulya (dimuliakan) ing (pada) uripira (kehidupanmu), sinung (diberi) padhanging (terang dari) panggalih (hati). Sejatinya siapa yang mengetahui, keindahan jagad ini, dimuliakan pada kehidupanmu, diberi terang hati.


Siapa yang mengetahui keindahan jagad ini, dia dimuliakan kehidupannya. Mulia karena memahami, bahwa segala sesuatu ada Tuhan di situ. Hatinya terang tiada keraguan.


Praptaning (sampai di) pati (kematian) sampurna (sempurna), dumunung (berada) ing (di) swarga (surga) luwih (lebih, indah). Sampai di kematian sempurna, berada di surga indah.


Sampai kematian menjelang, tempatnya ada di surga yang indah. Itupun sama saja antara dunia dan surga indah itu. Hatinya lebih tertarik dengan keindahan Tuhan Yang Maha Indah. Hal yang telah dia rasakan ketika masih di dunia.


Uriping (hidup dari) suksmanirèku (suksmamu), anunggal (bersatu) Hyang (Tuhan) Suksma (Ruh) Sukci (suci), wus (sudah) roro–roroning (dua dalam) tunggal (satu). Hidup dari ruhmu, bersatu dengan Tuhan, Ruh yang Suci, sudah menjadi dwi-tunggal.


Namun di surga hidupnya lebih memukau, bukan karena nikmat yang ditawarkan kepadanya di surga. Namun karena di sana dia menyatu bersama Tuhan. Tak dapat dibedakan lagi, sudah menjadi dwi-tunggal.


Tan (tak) kêna (bisa) ingaran (disebut) kalih (dua), iya (iya) uriping (hidup dari) kawula (hamba), satuhu (sungguh) uriping (hidupnya) Gusti (Tuhan). Tak bisa disebut dua, ya hidup dari hamba, sungguh hidupnya Tuhan.


Keduanya tak bisa disebut dua lagi, hidunya adalah hidup Tuhannya. Dia hanya menjadi apa yang dikehendakiNya.


Kawasa (kuasa) wisesanipun (menguasai dari), kawula (hamba) kalawan (dan) Gusti (Tuhan), tan (tak) kêna (bisa) yèn (kalau) pisahêna (dipisahkan). Kuasa menguasai dari, hamba dan Tuhan, tak bisa dipisahkan.


Yang Kuasa dan yang dikuasai antara hamba dan Tuhan sudah tak bisa dipisahkan. Ini bukan tentang itu, tetapi yang menguasai dan dikuasai adalah satu.


Sampurna (sempurna) purwaning (awal dari) dadi (kejadian), langgêng (langgeng) kauripanira (kehidupanmu), si (si) kombang (kombang) anèng (berada di) swargadi (surga indah). Sempurna awal dari kejadian, langgeng kehidupanmu, si kombang berada di surga indah.


Sudah kembali ke bentuk sempurna seperti awal kejadiannya. Langgeng dalam kehidupannya. Si kombang sudah kembali ke taman indah, tempat bunga yang dirindukannya tumbuh. Dalam banyak literatur religius surga memang selalu digambarkan sebagai taman yang indah. Ada banyak bunga dan buah serta pemandangan indah. Kebun-kebun menghijau, air mengalir jernih, buah ranum bergantungan, dsb. Kita manusia kotor seumpama kombang yang merindukan bunga bermekaran. Maka ketika kombang berhasil masuk ke taman, langkah senangnya dia. Itulah perumpamaan dari keindahan surgawi yang dirindukan banyak manusia.


Anuksmèng (menitis dalam) sagara (lautan) madu (madu), madu (madu) maduning (madunya) ngaurip (hidup), anyamadi (membuat baik) jiwa (jiwa) raga (raga), iya (ya) ragane (raganya) pribadi (sendiri). Menitis dalam lautan madu, madu madunya hidup, memperbagus jiwa raga, raganya sendiri.


Si kombang menitis ke lautan madu, hal yang selalu dicari dengan susah payah. Harus menghisap banyak bunga demi mendapatkannya. Kini madu itu terhampar di hadapannya dalam bentuk lautan. Arep nggo ciblon yo keno. Pora penuk?


Kang (Kang) Kawasa (Kuasa) marna (memberi) sipat (sifat), sipating (sifat dari) manungsa (manusia) iki (ini). Yang Kuasa memberi sifat, sifat dari manusia ini.


Untuk semua itu, Yang Kuasa memberi sifat kepada manusia. Agar mudah baginya untuk mendapatkan apa-apa yang dia rindukan. Tuhan memberi dari ruhNya dan meniupkan ke dalam diri manusia. Sehingga manusia yang kotor dari lembah dapat meniti tangga kemuliaan sehingga sampai ke taman abadi tadi.





Kajian Sastrajendra (6): Catur Wiji Manungsa

Bait ke 21-26, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Dadi saking rasa catur,

kang wus kajarwa ing ngarsi,

mani iku dadi rupa.

Madi uripe ing ati,

wadi dadi ngakal nyata,

manikêm nyawanirèki.


Wujuding catur warnèku,

katôndha nèng netra sami,

manikêm undêring netra,

mani iku dadi manik,

wadi pêputihing tingal,

dene kang ingaran madi.


urip ing netranirèku.

Warna ingarane singgih,

rahsaning paningal nyata,

punika ingaran madi.

De wiji kang catur aran,

sarining bumi pan dadi,


carmaning manungsa iku.

Sari gêni dadya daging,

sarining angin dadya rah,

pathining banyu pan dadi,

tulang myang otot prasamya,

sampurnaning wujud yêkti.


Kang wadhag lawan kang alus,

saking kodrating Hyang Widhi,

padha minôngka warana,

dadya sêsandhaning urip.

Uripe pinaring tôndha,

rahsa kang karasa sami,


pininta-pinta pinatut,

ing papan êmpanirèki.

Kabèh iku aran nyawa,

ana jalu ana èstri,

padha minôngka busana,

lantaran karsaning Widhi.



Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Terjadi dari empat rasa,

yang sudah diterangkan di depa,

mani itu menjadi rupa.

Madzi hidupnya di hati,

wadzi nyata menjadi akal,

manikem adalah nyawanya.


Wujud dari empat macam itu,

tertanda ada di mata semua,

manikem pusat dari mata,

mani itu menjadi manik-manik,

wadzi putih dari mata,

adapun yang disebut madzi


hidup dalam matanya,

berupa apa yang disebut,

rasa dari penglihatan,

itulah yang disebut madzi.

Adapun benih yang empat namanya,

sari bumi menjadi,


kulit dari manusia itu.

Sari api menjadi daging,

sari dari angin menjadi darah,

saripati dari air menjadi,

tulang dan otot semuanya,

menjadi sempurna dari wujud sejati.


Yang kasar dan yang halus,

dari kehendak Tuhan Yang Maha Benar,

semua sebagai penutup,

menjadi penyucian hidup.

Hidupnya diberi tanda,

benih kehidupan yang dirasakan sama,


dibagi-bagi dipantaskan,

pada tempat yang sesuai.

Semua itu disebut nyawa,

ada laki-laki ada perempuan,

semua sebagai pakaian,

karena kehendak dari Tuhan Yang Maha Benar.


Kajian per kata:

Dadi (terjadi) saking (dari) rahsa (rasa) catur (empat), kang (yang) wus (sudah) kajarwa (diterangkan) ing (di) ngarsi (depan), mani (mani) iku (itu) dadi (menjadi) rupa (rupa). Terjadi dari empat rasa, yang sudah diterangkan di depa, mani itu menjadi rupa.


Oleh karena itu, manusia dibuat dari empat rahsa, yang masing-masing saripati unsur-unsur kehidupan. Mani menjadi rupa atau bentuk kejadiannya.


Madi (madzi) uripe (hidupnya) ing (di) ati (hati), wadi (wadzi) dadi (menjadi) ngakal (akal) nyata (nyata), manikêm (manikem) nyawanirèki (nyawanya). Madzi hidupnya di hati, wadzi nyata menjadi akal, manikem adalah nyawanya.


Madzi hidupnya di hati. Wadzi menjadi akal. Dan manikem menjadi nyawanya.


Wujuding (wujud dari) catur (empat) warnèku (macam itu), katôndha (tertanda) nèng (ada di) netra (mata) sami (semua), manikêm (manikem) undêring (pusat dari) netra (mata), mani (mani) iku (itu) dadi (menjadi) manik (manik-manik), wadi (wadzi) pêputihing (putih dari) tingal (mata), dene (adapun) kang (yang) ingaran (disebut) madi (madzi), urip (hidup) ing (di) netranirèku (matanya), warna (berupa) ingarane (disebut) singgih (sungguh), rahsaning (rasa dari) paningal (penglihatan) nyata (nyata), punika (itulah) ingaran (yang disebut) madi (madzi). Wujud dari empat macam itu, tertanda ada di mata semua, manikem pusat dari mata, mani itu menjadi manik-manik, wadzi putih dari mata, adapun yang disebut madzu, hidup dalam matanya, berupa apa yang disebut, rasa dari penglihatan, iotulah yang disebut madzi.


Perumpamaan dari menyatuinya wujud yang empat macam itu dapat diumpamakan dengan mata. Manikem merupakan pusat dari mata, yang padanya penglihatan difokuskan sehingga membuat mata dapat melihat dunia.  Mani menjadi manik-manik atau bulatan hitam, yang dengannya cahaya yang masuk dikendalikan. Wadzi menjadi putih mata, yang membentuk bulatan sehingga mata dapat bergerak sesuai pandangan. Sedangkan madzi menjadi hidup mata itu, yang membuat mata bisa memandang. Seperti itulah perumpamaan dari empat macam rahsa itu menyatu. Kalau sudah menyatu dalam mata, maka tak dapat dibeda-bedakan lagi, semua menyatu membentuk penglihatan manusia.


De (adapun) wiji (benih) kang (yang) catur (empat) aran (namanya), sarining (sari dari) bumi (bumi) pan dadi (menjadi), carmaning (kulit dari) manungsa (manusia) iku (itu). Adapun benih yang empat namanya, sari bumi menjadi, kulit dari manusia itu.


Adapun benih yang empat namanya, yang berasal dari alam dunia, maka sari-sari dari bumi menjadi kulit manusia.


Sari (sari) gêni (api) dadya (menjadi) daging (daging), sarining (sari dari) angin (angin) dadya (menjadi) rah (darah), pathining (saripati dari) banyu (air) pan dadi (menjadi), tulang (tulang) myang (dan) otot (otot) prasamya (semuanya), sampurnaning (menjadi sempurna dari) wujud (wujud) yêkti (sejati). Sari api menjadi daging, sari dari angin menjadi darah, saripati dari air menjadi, tulang dan otot semuanya, menjadi sempurna dari wujud sejati.


Sari dari api menjadi daging. Sari-sari angin menjadi darah. Saripati dari air menjadi tulang dan otot semua. Dengan menyatunya organ-organ itu terbentuklah wujud fisik dari manusia.


Kang (yang) wadhag (kasar) lawan (dan) kang (yang) alus (halus), saking (dari) kodrating (kehendak dari) Hyang (Tuhan) Widhi (Maha Benar), padha (semua) minôngka (sebagai) warana (penutup), dadya (menjadi) sêsandhaning (penyucian dari) urip (hidup). Yang kasar dan yang halus, dari kehendak Tuhan Yang Maha Benar, semua sebagai penutup, menjadi penyucian hidup.


 Lengkap sudah wujud manusia. Yang kasar dan yang halus. Empat benih yang diturunkan Tuhan dari langit menjadi wujud halus. Empat sari-sari kehidupan menjadi wujud kasar. Kehendak Tuhan Yang Maha Benar, semua menjalankan fungsi masing-masing di dalam proses penyucian diri manusia.


Uripe (hidupnya) pinaring (diberi) tôndha (tanda), rahsa (benih kehidupan) kang (yang) karasa (dirasakan) sami (sama), pininta–pinta (dibagi-bagi) pinatut (dipantaskan), ing (pada) papan (tempat) êmpanirèki (yang sesuai). Hidupnya diberi tanda, benih kehidupan yang dirasakan sama, dibagi-bagi dipantaskan, pada tempat yang sesuai.


Hidup dari manusia diberi tanda berupa benih kehidupan yang dirasakan semuanya. Dibagi-bagi sesuai fungsinya, dipantaskan sesuai tempatnya.


Kabèh (semua) iku (itu) aran (disebut) nyawa (nyawa), ana (ada) jalu (laki-laki) ana (ada) èstri (perempuan), padha (semua) minôngka (sebagai) busana (pakaian), lantaran (karena) karsaning (kehendak dari) Widhi (Tuhan Yang Maha Benar). Semua itu disebut nyawa, ada laki-laki ada perempuan, semua sebagai pakaian, karena kehendak dari Tuhan Yang Maha Benar.


Semua itu disebut nyawa, yang membuat manusia hidup. Ada yang kemudian berupa laki-laki, ada yang berupa perempuan. Semua itu hanyalah pakaian, atau penampakan luarnya karena kehendak Tuhan yang menitahkan demikian.




Kajian Sastrajendera (7): Panutup

Bait ke 27-29, Kinanthi (metrum: 8a, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i), Serat Sastrajendra Hayuningrat.


Marma kang marsudi kawruh,

aywana katungkul sami,

dipun wruh ing sangkan paran.

Sangkan paraning dumadi,

paran praptaning kasidan,

wruh kasampurnaning pati.


Lah baya ngêndi gonipun,

Pangeran kang paring urip,

dèn wruh sajatining rêtna,

jroning cipta dèn kaliling.

Akèh sotya sama rupa,

aja nganti salah dalih.


Titipan umurirèku,

dèn katur mring kang nitipi,

kabèh sagolonganira,

gulungên dadi sawiji.

Yèn wus gumolong kang cipta,

ulihna purwaning dadi.



Terjemahan dalam bahasa Indonesia:

Maka dari itu yang tekun belajar pengetahuan,

jangan ada yang terlena semua,

ketahuilah pada asal mula dan tujuan.

Asal mula dan tujuan dari kehidupan,

tujuan dari kehidupan sampai pada kematian,

mengetahui kesempurnaan dari kematian.


Nah, bagaimana, dimana tempatnya,

Tuhan yang membei kehidupan,

ketahuilah sebenarnya permata,

dalam pikiran cermatilah.

Banyak permata sama rupanya,

jangan sampai salah terka.


Titipan umurmu itu,

haturkan kepada yang menitipkan,

semua segolonganmu,

gulunglah menjadi satu.

Kalau sudah bulat pikiranmu,

kembalikan pada awal dari kejadian.


Kajian per kata:

Marma (maka dari itu) kang (yang) marsudi (tekun belajar) kawruh (pengetahuan), aywana (jangan ada) katungkul (terlena) sami (semua), dipun wruh (ketahuilah) ing (pada) sangkan (asal mula) paran (tujuan). Maka dari itu yang tekun belajar pengetahuan, jangan ada yang terlena semua, ketahuilah pada asal mula dan tujuan.


Maka dari itu yang tekun belajar pengetahuan. Pengetahuan tentang kehidupan. Jangan sampai terlena semua ketahuilah tentang asal-mula dan tujuan.


Sangkan (asal mula) paraning (tujuan dari) dumadi (kehidupan), paran (tujuan) praptaning (sampai pada) kasidan (kematian), wruh (mengetahui) kasampurnaning (kesempurnaan dari) pati (kematian). Asal mula dan tujuan dari kehidupan, tujuan dari kehidupan sampai pada kematian, mengetahui kesempurnaan dari kematian.


Asal mula dan tujugan dari kehidupan. Tujuan hidup sampai pada kematian, serta mengetahu kesempurnaan dari kematian.


Lah (Nah) baya (bagaimana) ngêndi (dimana) gonipun (tempatnya), Pangeran (Tuhan) kang (yang) paring (memberi) urip (kehidupan), dèn wruh (ketahuilah) sajatining (sebenarnya) rêtna (permata), jroning (dalam) cipta (pikiran) dèn kaliling (cermatilah). Nah, bagaimana, dimana tempatnya, Tuhan yang memberi kehidupan, ketahuilah sebenarnya permata, dalam pikiran cermatilah.


Nah, bagaimana dan di mana tempatnya Tuhan memberi kehidupan yang sejati kepadamu. Semua itu ketahuilah dengan teliti. Seperti halnya engkau meneliti sebuah permata, lihatlah dan cermatilah.


Akèh (banyak) sotya (permata) sama (sama) rupa (rupanya), aja (jangan) nganti (sampai) salah (salah) dalih (terka). Banyak permata sama rupanya, jangan sampai salah terka.


Karena banyak yang seperti permata berkilaunya. Namun bukan permata, hanya batu yang rapuh. Perlu cermat dalam melihat agar tidak salah terka. Kehidupan pun demikian. Ada yang tampak seolah-olah sebagai kehidupan yang sejati, tetapi ternyata menipu pandangan. Maka telitilah dengan cermat agar tidak tertipu.


Titipan (titipan) umurirèku (umurmu itu), dèn katur (haturkan) mring (kepada) kang (yang) nitipi (menitipkan), kabèh (semua) sagolonganira (segolonganmu), gulungên (gulunglah) dadi (menjadi) sawiji (satu). Titipan umurmu itu, haturkan kepada yang menitipkan, semua segolonganmu, gulunglah menjadi satu.


Sungguh hidup ini hanya titipan. Umurmu ada yang memberi. Dan ada saat engkau harus menghaturkan kembali kepada yang menitipkan. Semua dari yang ada padamu, gulunglah, ringkaslah agar menjadi satu. Kelak tidak merepotkan untuk membawanya.


Yèn (kalau) wus (sudah) gumolong (bulat) kang cipta (pikiranmu), ulihna (kembalikan) purwaning (pada awal dari) dadi (kejadian). Kalau sudah bulat pikiranmu, kembalikan pada awal dari kejadian.


Kalau sudah ringkas, bulat dalam tekad (pikiran), kembalikan pada awal kejadianmu. Bawalah kembali kepada yang menitipkan pada awal kejadianmu.


Sekian kajian Serat Sastrajendra Hayuningrat. Semoga bermanfaat.




Reposting by, Imajiner Nuswantoro 




Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)