PANGERAN PONCOWATI & LANGGAR BUBRAH KUDUS
Pangeran Poncowati adalah tokoh sejarah di Kudus, diyakini sebagai bangsawan Majapahit yang diislamkan oleh Sunan Kudus.
Pangeran Poncowati adalah tokoh cikal bakal dan waliyullah di Kudus yang dalam cerita rakyat sering dihubungkan dengan masa peralihan Majapahit menuju Kesultanan Demak.
Peran dan Sejarah Singkat
- Tokoh Cikal Bakal: Makam Mbah Poncowati atau Mbah Buyut Poncowati terletak di Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
- Kaitan dengan Majapahit: Sebagian cerita rakyat dan tradisi lisan meyakini beliau sebagai bangsawan atau keturunan dari era akhir Majapahit, sementara sumber lokal lainnya menyebutnya sebagai panglima atau ulama pada masa awal perkembangan Islam sebelum atau bersamaan dengan era Sunan Kudus.
- Peninggalan Sejarah: Beliau juga dihubungkan dengan situs bersejarah seperti Langgar Bubrah di Kudus.
LANGGAR BUBRAH PENINGGALAN PANGERAN PONCOWATI MAHKOTA MAJAPAHIT
Bangunan bersejarah yaitu Langgar Bubrah disebut-sebut pembangunannya diprakarsai oleh bangsawan dari Majapahit bernama Pangeran Poncowati.
Bangunan bercorak Hindu itu masih dapat disaksikan hingga kini karena ada peran kebijaksanaan Sunan Kudus saat itu.
Langgar Bubrah terletak di RT 02, RW 05, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus jawa tengah.
Juru kunci Langgar Bubrah, mengatakan Pangeran Poncowati merupakan putra dari Majapahit yang masih bersaudara dengan Raden Patah, Raja Demak saat itu.
Poncowati yang masih memeluk agama Hindu memprakarsai berdirinya Langgar Bubrah untuk tempat ibadah. Langgar Bubrah itu dibangun sekitar tahun 1.400. Pangeran Poncowati diislamkan oleh Sunan Kudus. Saat itu Sunan Kudus masih menjabat sebagai senopati di Kerajaan Demak.
Sunan Kudus diperintah oleh Raden Patah yang saat itu menjabat sebagai Raja Demak untuk mengislamkan Pangeran Poncowati.
Proses Pangeran Poncowati masuk Islam terjadi pada tahun 1.511. Beriringan dengan itu, Islam kemudian masuk di Kudus.
Saat itu Pangeran Poncowati memberikan pertanyaan kepada Sunan Kudus terkait apa yang bisa ditawarkan oleh Islam. Karena Poncowati yang selama ini memeluk agama Hindu juga sudah mempelajari ketuhanan, sosialisasi, bercocok tanam dan lainnya.
Kemudian, Sunan Kudus menjawab jika agama Islam tidak akan menyembelih sapi. Hal itu sebagai wujud penghormatan terhadap umat Hindu.
Karena sapi itu kan wujud dari lembu Andini yang merupakan tunggangannya Dewa Brahmana.
Kebijaksanaan Sunan Kudus juga diwujudkan untuk tidak merobohkan bangunan Langgar Bubrah. Simbol-simbol Hindu yang terdapat di bagian Langgar Bubrah juga tetap dipertahankan.
Inilah kebijaksanaan Sunan Kudus, beliau yang merupakan wali tidak mau merusak, tidak menghilangkan dan tidak menghanguskan taStanan yang sudah ada, tetapi justru dikemas menjadi satu dengan tatanan serupa dengan Islam. Karena Islam itu indah dan tidak ada paksaan.
LANGGAR BUBRAH
Langgar Bubrah adalah situs cagar budaya berwujud sisa bangunan bata kuno di Dukuh Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, yang menjadi simbol akulturasi Hindu-Islam.
Fakta tentang Langgar Bubrah
- Lokasi: Terletak sekitar 200 meter dari kawasan Kauman Menara Kudus.
- Sejarah Singkat: Bangunan ini dipercaya berusia lebih tua dari Menara Kudus. Pada masa pra-Islam, tempat ini digunakan sebagai sarana ibadah atau tempat "nyawiji" (menyatukan diri) bercorak Hindu.
- Fungsi Baru: Setelah masuknya pengaruh Islam, fungsi situs bergeser menjadi tempat pengajian dan kegiatan warga setempat tanpa merusak struktur aslinya.
Situs Bersejarah Lain di Kudus
- Masjid Menara Kudus: Masjid peninggalan Sunan Kudus yang menaranya mirip bangunan candi sebagai bentuk toleransi dan perpaduan budaya.
- Makam Sunan Muria: Kompleks makam wali penyebar agama Islam di daerah Colo, Kabupaten Kudus.
- Museum Kretek: Tempat wisata sejarah yang menampilkan perjalanan industri dan identitas kretek khas Kudus
Langgar Bubrah, begitu nama bangunan unik di Kudus yang satu ini. Memiliki bentuk yang tak biasa, yakni berupa tumpukan batu bata yang tampak seolah berantakan atau bubrah dibanding bangunan bersejarah lain di Kabupaten Kudus.
Bangunan cagar budaya ini berada di Desa Demangan, RT 2 RW 4, Kecamatan Kota. Langgar Bubrah konon merupakan satu peninggalan yang sudah dibangun jauh sebelum Menara Kudus yang tersohor.
Lokasinya tak begitu jauh dari Menara Kudus, yaitu sekitar 300 meter. Untuk menuju Langgar Bubrah, dari arah pusat kota menuju arah jalan kampung Demangan. Jalannya ada di seberang akses arah ke Menara Kudus.
Begitu sampai ke lokasi, tampak tulisan besar 'Langgar Bubrah' terpasang di tiang khusus. Serta papan penanda yang menuliskan bangunan ini merupakan cagar budaya. Penandanya terpasang di dinding batu bata merah.
Adapun struktur bangunannya, berupa tumpukan batubata berwarna merah yang mengelilingi kompleks bangunan. Di beberapa bagian tembok terdapat batubata yang diukir sedemikian rupa.
Kemudian, terdapat pula atap genting berbentuk joglo, berwarna kecoklatan. Mirip rumah joglo khas kota ini. Di luarnya terdapat ada menhir dan yoni.
Menhir dan Yoni
Langgar Bubrah dibangun sekitar tahun 1456-an.
Jadi Sunan Kudus belum ada di sini. Penelitian arkeolog, yakni di kisaran 1456 masehi atau satu abad sebelum Sunan Kudus.
Jadi langgar itu (Langgar Bubrah) surau atau masjid. Jadi di sini serambi untuk laki-laki dan ada serambi untuk perempuan. Di serambi laki-laki ada mihrab, ada sisa pagar, ada pasucen.
Menurutnya, tempat ini kondisinya tetap seperti dulu yaitu untuk tempat ibadah atau salat, untuk tempat pertemuan, slametan, dan lainnya. Selain itu, tempat ini diprakarsai pembangunannya oleh Raden Poncowati, yang merupakan keturunan Majapahit, yang juga masih bersaudara dengan Raden Patah dari Kerajaan Demak.
Sunan Kudus masuk ke Kudus, diutus dari kerajaan Demak Bintoro oleh Raden Patah, yang juga saudara kandung Pangeran Poncowati. Sunan Kudus diminta untuk bujuk Pangeran Poncowati agar mau gabung Demak," bebernya dari sejarah yang diwariskan eyangnya dulu.
Singkatnya, tempat ini adalah lokasi untuk ibadah Pangeran Poncowati yang ketika itu masih menganut Hindu. Namun setelah menyatakan diri masuk Islam, tempat ini diubah jadi langgar.
Lantas soal kondisinya yang seperti sekarang ini, Parijoto menjelaskan jika bangunan langgar rusak setelah terjadi ledakan Gunung Muria.
Sekitar 500 tahun lalu. Ledakan Gunung Muria mengakibatkan lahar dingin yang turut merusak bangunan ini. Ledakan itu juga menyatukan Muria dan Kudus hingga saat ini.
Bangunan kuno Langgar Bubrah, yang berada tidak jauh dari Menara Kudus, menyimpan bukti sejarah peradaban sejak zaman dahulu. Warga setempat menyebut usia Langgar Bubrah lebih tua daripada Menara Kudus yang saat ini menjadi ikon ‘Kota Keretek’ tersebut.
Langgar Bubrah berbentuk joglo berupa tumpukan batu bata yang dilengkapi dngan ukiran-ukiran kuno. Di bagian luar, terdapat menhir dan yoni. Langgar adalah sebutan untuk sebuah tempat ibadah umat Islam, sedangkan bubrah dalam bahasa Jawa berarti hancur. Langgar Bubrah atau orang kuno menyebutnya Sigit Bubar ini dahulunya bekas masjid yang sudah tidak terpakai dan menjadi simbol akulturasi budaya antara Hindu dan Islam.
Juru kunci Langgar Bubrah generasi yang lain, mengatakan keberadaan bangunan cagar budaya ini berasal dari era zaman Raden Pengeran Poncowati atau sebelum Sunan Kudus. Hindunya berasal dari zaman Raden Pangeran Poncowati, dahulu Sunan Kudus adalah senopatinya Kerajaan Bintoro Demak yang diberikan tugas oleh Raden Patah untuk berdakwah di daerah Kudus.
Imajiner Nuswantoro










