DI MANA GUNUNG CENDHANA, SIAPA KYAI MUTAKALIMUN ?
PUPUH DHANDHANGGULA SEJARAH KYAI MUTAKALIMUN
Duk cinitra ri sukra pon enjing,
Lek ing Candra kaping eka welas,
Kasa prangbakat wukune,
Sapar ehe kang tahun,
Sangkalanya slira kakalih,
Hangesthi jeng Sri nata,
Dene kang cinatur,
Dhukuh ing ngardi candhana,
Kyai mutakalimun parabpireki,
Wus lami amartapa.
Kathah para ajar myang pra cantrik,
Ingkang samya tumut wismeng dhekah,
Tanapi pra manguyune,
Tambah raharjanipun,
Papethetan tarik mariwit,
Tinata rantap rantapan,
Asri yen dinulu,
Genggeng ngresepaken manah,
Kanan kering tanduran kawuryan dadi,
Tinon wus dadya praja.
Mutakalimun putranireki,
Pan lilima Pawestri Satunggal,
Pambarep ayu warnane,
Puniku wastanipun,
Endang sara dene kang Rayi,
Sakawan sami Priya,
Wastane kang sepuh,
Sira ki bagus Wiwaha,
Arinira arane bagus saruci,
Nulya Ki bagus Jalal.
Aksara Jawanipun :
ꦥꦸꦥꦸꦃꦣꦤ꧀ꦝꦁꦒꦸꦭꦱꦼꦗꦫꦃꦏꦾꦻꦩꦸꦠꦏꦭꦶꦩꦸꦤ꧀
ꦣꦸꦏ꧀ꦕꦶꦤꦶꦠꦿꦫꦶꦱꦸꦏꦿꦥꦺꦴꦤ꧀ꦌꦚ꧀ꦗꦶꦁ꧈
ꦊꦏ꧀ꦆꦁꦕꦤ꧀ꦝꦿꦏꦥꦶꦁꦄꦼꦏꦮꦺꦭꦱ꧀
ꦏꦱꦥꦿꦁꦧꦏꦠ꧀ꦮꦸꦏꦸꦤꦺ꧈
ꦱꦥꦂꦌꦲꦺꦏꦁꦠꦲꦸꦤ꧀
ꦱꦁꦏꦭꦚꦱ꧀ꦭꦶꦫꦏꦏꦭꦶꦃ꧈
ꦲꦔꦺꦱ꧀ꦛꦶꦗꦼꦁꦱꦿꦶꦤꦠ꧈
ꦣꦼꦤꦼꦏꦁꦕꦶꦤꦠꦸꦂ꧈
ꦣꦸꦏꦸꦃꦆꦁꦔꦂꦣꦶꦕꦤ꧀ꦝꦤ꧈
ꦏꦾꦻꦩꦸꦠꦏꦭꦶꦩꦸꦤ꧀ꦥꦫꦧ꧀ꦥꦶꦫꦺꦏꦶ꧈
ꦮꦸꦱ꧀ꦭꦩꦶꦄꦩꦂꦠꦥ꧉
ꦏꦛꦃꦥꦫꦄꦗꦂꦩꦾꦁꦥꦿꦕꦤ꧀ꦠꦿꦶꦏ꧀
ꦆꦁꦏꦁꦱꦩꦾꦠꦸꦩꦸꦠ꧀ꦮꦶꦱ꧀ꦩꦺꦁꦣꦼꦏꦃ꧈
ꦠꦤꦥꦶꦥꦿꦩꦔꦸꦪꦸꦤꦺ꧈
ꦠꦩ꧀ꦧꦃꦫꦲꦂꦗꦤꦶꦥꦸꦤ꧀
ꦥꦥꦺꦛꦺꦠꦤ꧀ꦠꦫꦶꦏ꧀ꦩꦫꦶꦮꦶꦠ꧀
ꦠꦶꦤꦠꦫꦤ꧀ꦠꦥ꧀ꦫꦤ꧀ꦠꦥꦤ꧀
ꦄꦱꦿꦶꦪꦺꦤ꧀ꦝꦶꦤꦸꦭꦸ꧈
ꦒꦼꦁꦒꦼꦁꦔꦿꦼꦱꦼꦥꦏꦺꦤ꧀ꦩꦤꦃ꧈
ꦏꦤꦤ꧀ꦏꦼꦫꦶꦁꦠꦤ꧀ꦝꦸꦫꦤ꧀ꦏꦮꦸꦂꦪꦤ꧀ꦝꦣꦶ꧈
ꦠꦶꦤꦺꦴꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦝꦣꦾꦥꦿꦗ꧉
ꦩꦸꦠꦏꦭꦶꦩꦸꦤ꧀ꦥꦸꦠꦿꦤꦶꦫꦺꦏꦶ꧈
ꦥꦤ꧀ꦭꦶꦭꦶꦩꦥꦮꦺꦱ꧀ꦠꦿꦶꦱꦠꦸꦁꦒꦭ꧀
ꦥꦩ꧀ꦧꦫꦺꦥ꧀ꦄꦪꦸꦮꦂꦤꦤꦺ꧈
ꦥꦸꦤꦶꦏꦸꦮꦱ꧀ꦠꦤꦶꦥꦸꦤ꧀
ꦌꦤ꧀ꦝꦁꦱꦫꦣꦼꦤꦼꦏꦁꦫꦪꦶ꧈
ꦱꦏꦮꦤ꧀ꦱꦩꦶꦥꦿꦶꦪ꧈
ꦮꦱ꧀ꦠꦤꦺꦏꦁꦱꦼꦥꦸꦃ꧈
ꦱꦶꦫꦏꦶꦧꦒꦸꦱ꧀ꦮꦶꦮꦲ꧈
ꦄꦫꦶꦤꦶꦫꦄꦫꦤꦺꦧꦒꦸꦱ꧀ꦱꦫꦸꦕꦶ꧈
ꦤꦸꦭꦾꦏꦶꦧꦒꦸꦱ꧀ꦗꦭꦭ꧀꧈
FILOSOFI PUPUH DHANDHANGGULA SEJARAH KYAI MUTAKALIMUNfilosofi PUPUH DHANDHANGGULA SEJARAH KYAI MUTAKALIMUN
Hubungan antara Filosofi Pupuh Dhandhanggula dan istilah Kyai Mutakalimun berakar kuat pada sastra suluk serta teologi Islam-Jawa (mistisisme sastera Islam nusantara). Dalam khazanah spiritual Jawa, istilah ini tidak merujuk pada sosok tokoh "Kiai" berupa manusia sejarah, melainkan personifikasi dari sifat Tuhan atau konsep ketauhidan yang diajarkan melalui tembang macapat.
Berikut adalah penjelasan komprehensif mengenai arti, filosofi, dan sejarah kedua konsep tersebut:
1. Filosofi Pupuh Dhandhanggula
Dhandhanggula adalah salah satu metrum dalam tembang macapat Jawa yang memiliki kedudukan spiritual sangat tinggi.
- Etimologi & Makna: Berasal dari kata gegedhangan (harapan/cita-cita) dan gula (manis/indah). Secara harfiah menggambarkan kehidupan manusia yang telah mencapai puncaknya papan, sandang, dan pangan yang mapan, serta rasa tenteram.
- Fase Kehidupan: Dalam siklus hidup manusia (metrum macapat), Dhandhanggula melambangkan fase kedewasaan rohani. Manusia tidak lagi sekadar mengejar nafsu duniawi, melainkan mulai mencari hakikat kebenaran, kebahagiaan sejati, dan harmoni hidup.
- Fungsi Sastra Suluk: Karena wataknya yang luwes, agung, dan meresap di hati, para pujangga Jawa dan Wali Songo kerap menggunakan Pupuh Dhandhanggula untuk membabarkan ilmu tauhid, makrifat, serta pencarian spiritual tingkat tinggi.
2. Silsilah Teologi: Siapa "Kyai Mutakalimun"?
Secara historis dan tekstual, Mutakalimun (atau Mutakallimin) bukanlah nama ulama lokal tertentu, melainkan istilah serapan dari teologi Islam (ilmu kalam).
- Definisi Bahasa: Mutakallimun adalah bentuk jamak dari Mutakallim, yang berarti ahli ilmu kalam (teolog) atau orang yang berbicara/menyampaikan firman.
- Sifat Dua Puluh: Dalam ajaran sifat 20 Allah yang populer di Nusantara, sifat ke-20 adalah Mutakalliman (Allah Maha Berkata-kata/Berfirman secara abadi tanpa membutuhkan organ mulut atau suara manusia).
- Personifikasi Jawa: Dalam tradisi penulisan naskah kuno (seperti Suluk Sarengat, Serat Kancil, atau sastra pesisiran), sifat Tuhan yang berkata-kata ini sering dipersonifikasikan dengan sebutan "Kyai Mutakalimun" atau "Alip Mutakallimun Wahid". Gelar "Kyai" disematkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi masyarakat Jawa terhadap entitas yang membawa kebenaran atau firman ilahi.
3. Integrasi Filosofi Dhandhanggula dan Kyai Mutakalimun.
Ketika sebuah naskah sastra-suluk menggunakan Pupuh Dhandhanggula untuk menceritakan isi atau wejangan dari Kyai Mutakalimun, bab yang dibahas biasanya mencakup:
- Sastra Jendra Hayuningrat (Ilmu Kasampurnan): Dialog spiritual mengenai asal-usul penciptaan manusia (Sangkan Paraning Dumadi). Huruf Alif dalam Alip Mutakallimun Wahid disimbolkan sebagai tiang tauhid yang tegak lurus menandakan bahwa segala ucapan yang keluar dari kebenaran sejati bermuara pada Allah yang Maha Esa.
- Pencarian Guru Sejati: Sifat Mutakallimun (Berfirman) mengajarkan manusia untuk "mendengar" firman Tuhan melalui hati nurani yang bersih (rasa sejati). Pupuh Dhandhanggula dalam banyak serat (seperti Serat Wulangreh karya Pakubuwono IV) menegaskan pentingnya berguru pada ulama yang mumpuni agar bisa memahami "kalam" atau perintah agama dengan benar tanpa salah tafsir.
- Simbol Arsitektur: Jejak filosofi ini juga diabadikan dalam bentuk Mustaka (kubah/pucuk) bangunan masjid kuno Jawa yang berbentuk gada bulat tegak lurus ke atas. Pucuk ini melambangkan Alip Mutakallimun Wahid, simbol penyampai firman Yang Maha Tunggal di alam semesta.
Kesimpulan
Secara singkat, Pupuh Dhandhanggula adalah wadah sastranya (metrum tembang yang manis dan mendalam), sedangkan Kyai Mutakalimun adalah personifikasi ajaran ketauhidan Islam mengenai sifat Allah yang Maha Berfirman (Mutakalliman). Perpaduan keduanya melahirkan ajaran spiritual yang mengajak manusia Jawa untuk meraih manisnya iman dengan selalu menyelaraskan hidup pada firman dan perintah Tuhan
Imajiner Nuswantoro

