Bharatayuda Jayabinangun - 4

0

 Bharatayuda Jayabinangun - 4

Dening Imajiner Nuswantoro



Imajiner Nuswantoro



Perang Baratayudha, atau lengkapnya Baratayuda Jayabinangun, perang antar darah  Barata, merupakan salah satu dari empat perang besar yang telah digariskan dewa dalam pewayangan, selain perang Pamuksa ketika Prabu Pandu menumpas pemberontakan Prabu Trembuku dari Pringgandani dan Perang Gojalisuta, perang  saudara anak bapak, antara Prabu Bomantara alias Prabu Sitija, dengan Prabu  Kresna dalam membela anaknya yang lainnya Samba Wisnubrata, serta perang

Guntarayana ketika Sang Begawan Ciptaning menjadi sraya, atas serangan Raja Hima Imantaka, Prabu Niwatakawaca, yang hendak mempersunting primadona kahyangan Jonggring Salaka, Dewi Supraba.

Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi senapati,  memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan disisi lain meluwar janji yang pernah terucap.


Lanjutan Bharatayuda Jayabinangun - 3


Karna Tanding : Karna Gugur


Imajiner Nuswantoro


Tak diceritakan bagaimana suasana ketika Adipati Karna bertemu dengan istri tercintanya, Surtikanti. Yang terjadi kemudian adalah waktu pagi yang terik, dimana pertempuran sengit berkecamuk kembali di padang Kurukasetra yang sudah berhari hari menjadi panggung ajang drama pertempuran yang mengerikan. Sisa sisa tenaga prajurit yang kini mulai jenuh dan lelah, hanya punya pilihan, segera perang selesai. Entah dirinya yang menjadi korban atau ia membunuh lawan lawannya dengan cepat.

Hawa panas menjelang penghujan menyengat menguatkan bau anyir darah dan busuk bangkai manusia dan hewan tunggangan para adipati serta segenap pembesar perang yang tak lagi sempat dirawat oleh sesama prajurit. Berserakan senjata yang bergeletakan mencuat diantara reruntuhan kereta perang, sungguh membuat meremang bulu kuduk orang orang yang bermental lemah. Belum lagi erangan para prajurit terluka menahan rasa sakit yang tak terkira, tetapi tidak kunjung ajal menjemput. Suara rintihan itu bagai nyanyian peri prayangan. Sementara burung gagak pemakan bangkai berputar kekitar diangkasa yang biru dengan gumpalan awan disana sini, menanti kapan waktunya untuk kembali berpesta pora.

Di salah satu sisi medan pertempuran, terdengar pembicaraan dua orang prajurit yang sama sama terluka, entah kepada sesama teman atau lawan. Yang mengalami luka serius menyandar pada pokok pohon kering, sementara lawan bicaranya tadi tertelungkup dengan sesekali terbatuk memuntahkan darah segar dari mulutnya.

“Sesungguhnya apakah yang kita dapat dari peperangan yang kita jalani, kisanak ?

“Inilah yang kita dapat!  Kebinasaan! Hukum alam telah menuliskan, keseimbangan alam telah mengharuskan manusia melakukan kekerasan, saling baku bunuh untuk kembali ke keseimbangan baru, baik itu melewati perang seperti ini, bencana alam, atau manusia dengan sadar mengerem lajunya jumlah turun. Kita ini sedang ada didalam bagian dari putaran proses itu, kisanak”.

Keduanya berbincang diantara desing anak panah dan denting senjata serta gelegarnya meriam dengan sesekali berhenti menahan rasa sakit, suara pembicaraan keduanya kadang tertelan oleh kemeretak roda kereta dan derap ladam kuda yang melintas disekitar mereka. Sementara  kepulan debu dan asap sendawa mengepul menyesakkan nafas.



(**)

Diceriterakan, adalah Raden Sanjaya. Yang merasa tertantang setelah bertemu dengan Wara Srikandhi dan menyatakan hendak memberi sesumbang jiwa raga terhadap para Pandawa. Akan tetapi niat baik Randen Sanjaya telah dianggap sebagai manusia yang bersifat oportunis.

“Sanjaya, kalau kamu hendak membela para Pandawa, kenapa tidak dari semula, kenapa baru sekarang ketika Kurawa sudah lemah, ketika kamu sudah merasa, tak akan para Kurawa menang atas Pandawa. Apakah itu jiwa dan watak seorang  prajurit?. Apakah itu bukan manusia yang bertujuan untuk mencari kemuliaan dan kesenangan belaka?. Apakah sekiranya bila kamu tidak bergabung dengan para Pandawa, Pandawa tidak akan menang?  Malah aku kira, permintaan bergabungnya kamu dengan para Pandawa adalah sebagai mata mata. Kenapa aku sebut begitu, karana sejak lahir, kamu adalah warga Panggombakan yang ada dalam wilayah Astina !”.

Tersentuh rasa panas hati Sanjaya yang dituding mencari kemuliaan atas kemenangan Pandawa, maka ia bersumpah akan menandingi kesaktian Adipati Karna. Berangkat ke medan perang Sanjaya dengan hati terluka oleh tuduhan yang tidak beralasan dari Wara Srikandi. Andai saja Sumbadra tidak terlambat dalam mencegah keberangkatan Sajaya yang sudah melangkah ke medan Kuru, maka mungkin kejadiannya akan berbeda. Memang Wara Sumbadra tahu, betapa ayah dari Senjaya, Raden Yamawidura, adalah seorang yang berjasa sangat besar pada Pandawa. Ketika terjadi peristiwa bale Sigala-gala, orang tua Sanjaya telah membaui hal yang mencurigakan ketika pesta itu diadakan oleh usul Sengkuni. Ketika itu Raden Yamawidura menyelamatkan para Pandawa dari api yang membakar pesanggrahan mereka, ketika mereka terbius tidur oleh para Kurawa. Kemudian mereka membakar habis seluruh pesanggrahan.

Yamawidura yang menjelma menjadi garangan putih, telah membuat lubang bawah tanah menembus sapta pratala dan menyelamatkan kemenakannya. Kemenakan yang selalu terlihat benar dimatanya, tetapi karena sesuatu hal ia harus sembunyi sembunyi menyelamatkannya. Hal itulah yang dikatakan Wara Sumbadra kepada Wara Srikandi, yang kemudian telah membuat sesal dihati Srikandi.

Namun rasa bersalah Wara Srikandi ketika mendengar keterangan dari Sumbadra, menjadi tidak berarti, ketika putra Yamawidura itu telah melangkah ke palagan.

Maka didalam peperangan Kurusetra itu, Sanjaya mencari sosok Adipati Karna. Ia hendak memperlihatkan kesungguhannya dalam menyatakan diri ada di pihak Pandawa. Ia berteriak lantang menantang Adipati Karna.

Ketika putra Awangga kedua yaitu Raden Wersasena mengetahui ayahnya ditantang oleh Raden Sanjaya, kemarahan anak muda itu terbangkit. Dihampirinya Sanjaya, ia tidak rela bila ayahnya ditantang oleh sesama anak muda lain.

“Heh Sanjaya! Sejak kapan kamu telah memberontak terhadap negara yang telah menghidupimu, yang telah memberi kumuliaan terhadap orang tuamu dan keluargamu?”.

“Sejak dulu memang aku lebih bersimpati terhadap putra uwa’ Pandu Dewanata. Sekaranglah aku hendak memperlihatkan betapa aku telah merasa salah, membiarkan saudara tuaku para Padawa ada dalam kesengsaraan yang berlarut larut. Sekarang katakan, dimana senapati Kurawa berada?”

“Tak usah kamu mencari dimana senapati itu, hadapi dulu putra Awangga sebagai putra senapati. Langkahi dulu mayatku sebelum kamu bisa berhadapan dengan ayahku!”.

“Baik, akan aku turuti kata katamu. Waspadalah!”

Pertempuran dua anak muda itu berlangsung sengit. Kelihatan mereka mencoba mengerahkan segenap kesaktiannya, untuk menentukan siapa salah satunya yang harus tewas ditangan masing masing.

Semakin lama semakin tegas terlihat, bahwa Sanjaya lebih unggul daripada Warsasena. Ketika sampai di puncak kemampuannya, Sanjaya menyudahi perlawanan Warsasena dengan menewaskannya. Kemarahan Adipati Karna tidak terbendung ketika mendengar anak lelakinya yang tinggal satu telah tewas.

Sorak sorai bala tentara telah mengatakan akhir dari pertempuran kedua anak muda itu. Segera Adipati Karna mendekati Sanjaya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pertempuran kembali terjadi. Tetapi kesaktian Sanjaya ternyata tidaklah imbang dihadapan Adipati Karna. Sekarang berganti, terdesak Sanjaya, dan tak lama kemudian keris Kyai Jalak mengakhiri hidup Raden Sanjaya. Ia gugur dalam usahanya membuktikan darma baktinya terhadap saudara saudara sepupunya para Pandawa.

Diceriterakan, telah tiba saat kedua satria pilihan dari kedua pihak akan bertemu dalam pertempuran atas nama darma satria. Ketika telah terdengar aba-aba bahwa Senapati dari Pihak Wirata telah siap siaga, maka segera Adipati Karna meloncat menaiki kereta perangnya. Tetapi oleh suasana hati Prabu Salya yang masih tetap panas, ada saja masalah kecil yang menjadikannya tidak berkenan. Ketika melihat menantunya telah menaiki kereta, dan ia masih ada dibawah, kemarahannya kembali meledak. “Apakah kamu bukan manusia yang mengerti tata bagaimana menghormati orang tua, keparat!  Orang tua masih dibawah, kamu sudah duduk nangkring diatas kereta!”.

Namun Adipati Karna mencoba membela diri, serba salah telah mendera hatinya dari waktu ke waktu  “Mohon seribu maaf  rama Prabu, maksud hamba dari semula, adalah hanya menetapi darma. Disini derajat kusir ada dibawah senapati”.

“Sudah tak terhitung berapa kali rasa sakit yang pernah melukai hatiku karena kelakuanmu. Sewaktu Prabu Kresna menjadi duta di awal perang kemarin, kamu sudah melukai hatiku dalam pasamuan agung. Belum sembuh luka itu, sekarang kamu melakukan hal yang sama, aku kamu jadikan seorang kusir. Kalau tidak sungkan dengan anak Prabu Duryudana, aku tidak sudi melihat mukamu yang membuat aku muak. Dan kamu tidak berwenang untuk memerintah aku!”. Kejengkelan Prabu Salya tidak juga reda.

“Rama, sekali lagi putra paduka mohon  maaf, kami persilahkan rama Prabu untuk menaiki kereta. Ketahuilah rama, sudah ada tanda tanda dalam diri putramu, detak jantung didada ini mengisyaratkan kematian putramu sudah menjelang. Kami persilakan rama Prabu untuk mengantarkan kematianku,  rama Prabu . . . . ”. Campur aduk perasaan kedua manusia menantu dan mertua itu mengawali langkahnya menuju ke palagan peperangan. Inilah titik dimana perasaan yang tidak sepenuhnya bulat telah melemahkan moral perang senapati Kurawa.

Baru saja kereta bergerak, mendadak melayang bagai awan hitam bergulung diatas palagan. Itulah Naga Raja  Guwa Barong, Prabu Hardawalika. Seekor naga yang mengincar kematian Arjuna. Adipati Karna yang melihat keanehan naga mengarah ketempat ia bersiap, segera menghentikan laju geraknya dan menanyakan maksudnya “Heh kamu mahluk yang mencurigakan, siapa kamu dan apa maksudmu membuat keruh suasana peperangan!”.

“Aku penjelmaan raja raksasa dari Guwa Barong. Aku bermaksud hendak membantu kamu menandingi Arjuna”. Naga raksasa itu dengan tidak ragu mengatakan maksudnya.

Tetapi sungguh tidak disangka, jawaban yang diterima adalah bentakan yang menyuruhnya ia pergi. “ Heh naga mrayang, Arjuna adalah saudaraku. Kalaupun aku berselisih sehari tujuh kalipun, tak akan pecah persaudaraanku. Menyingkirlah atau akan aku percepat sempurnanya kematianmu!”.

“Haaah . . perbuatan yang sia sia. Ternyata aku mengatakan hal ini kepada tempat mengadu yang salah. Tetapi hal ini tidak akan menghalangiku untuk membalas kematianku moyangku”. Melayang kembali Hardawalika kearah berlainan untuk mencari keberadaan Arjuna.

Kresna yang tidak pernah terhalangi kewaspadaanya sedikitpun, segera tahu apa yang ada dihadapannya, ketika awan mendung tiba tiba membayang diatasnya.

“Arjuna, diatas pertempuran itu ada seekor naga penjelmaan Prabu Hardawalika. Lepaskan panahmu, sempurnakan kematian Prabu Hardawalika”.

Tidak lagi membuang waktu, segera dipentangnya busur yang telah diisi anak panah. Melesat anak panah menempuh bayangan naga, sirna seketika ujud dari naga Hardawalika yang kembali membuat suasana palagan menjadi terang.

Kocap kacarita, kedua Senapati dari kedua belah pihak telah sama sama bergerak mendekat. Maka suasana palagan peperangan menjadi gaduh, kemudian setelah jarak keduanya menjadi semakin dekat kejadiannya justru menjadi terbalik. Peperangan segera terhenti bagai dikomando. Suasana yang berkembang menjadikannya Arjuna termangu. Prabu Kresna yang melihat suasana hati Arjuna segera dapat menebak apa yang dipikirkannya.

“Arjuna, tatalah rasa hatimu! Hari ini sudah sampai waktumu harus meladeni tanding dengan kakakmu, Adipati Karna”.

“Kanda, bagaimankah hamba dapat melayani tanding yuda dengan kanda Adipati Karna. Suasana beginilah yang selalu mengingatkan akan Ibu Kunti” keluh Arjuna.

Kresna telah tahu apa yang melatar belakangi maksud dari keberpihakan Karna terhadap Kurawa. Hal itu telah ia dengar sendiri tatkala ia bertemu dengannya empat mata, ketika ia telah usai menjadi duta terakhir sebelum pecah perang. Semuanya bagi Kresna sudah tidak ada hal yang meragukan. Namun ia tidak mengatakan apapun tentang itu terhadap Arjuna.

“Adikku, hari ini pejamkan matamu, tutuplah telingamu. Kamu hanya wajib mengingat satu hal, darma seorang satria yang harus mengenyahkan kemurkaan. Walaupun saudaramu itu adalah salah satu saudara tuamu, tetapi ia tetaplah ada pada golongan musuh. Dan ketahuilah, bahwa majunya kakakmu Adipati Karna itu, tidak seorangpun yang ditunggu, kecuali dirimu. Dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diwajibkan untuk mengantarkan kematiannya, kecuali dirimu.

Mari aku dandani kamu sebagaimana layaknya seorang senapati, dan akulah yang akan menjadi kusirmu”. Selesai berdandan busana Keprajuritan, segera mereka menaiki kereta Prabu Kresna, kereta Jaladara. Kereta perang dengan empat ekor kuda yang berasal dari empat benua yang berwarna berbeda setiap ekornya, merupakan hadiah Para Dewa. Bila dibandingkan dengan kereta Jatisura milik Adipati Karna yang telah remuk dilanda tubuh Gatutkaca, kesaktian kereta Jaladara bisa berkali kali lipat kekuatannya.

Suasana berkembang makin hening, diangkasa telah turun para dewata dengan segenap para durandara dan para bidadari. Mereka hendak menyaksikan peristiwa besar yang terjadi dipadang Kuru. Sebaran bunga bunga mewangi turun satu satu bagai kupu kupu yang beterbangan.

Karna yang melihat kedatangan Arjuna berhasrat untuk turun dari keretanya. Kresna yang melihat keraguan memancar dari wajah Arjuna mengisyaratkan untuk menyambut kedatangannya. Berkata ia kepada Arjuna

“Lihat! Kakakmu Adipati Karna sudah turun dari kereta perangnya, segera sambut dan ciumlah kakinya”.

Arjuna segera turun berjalan mendapatkan kakak tertua tunggal wadah dengannya

“Baktiku kanda Adipati”, Arjuna duduk bersimpuh dihadapan Adipati Karna setelah menghaturkan sembahnya.

“Arjuna, seumpama aku seorang anak kecil, pastilah aku sudah menagis meraung raung. Tetapi beginilah orang yang menjalani kewajiban. Aku bela bela diriku membutakan mata menutup rasa hati untuk mencapai kamukten. Sekarang aku sudah mendapatkannya dari Dinda Prabu Duryudana. Dan sekarang aku harus berhadapan dan tega berkelahi sesama saudara sekandung!”. Karna menumpahkan isi hatinya.

“Kanda Adipati, hamba disini memakai busana senapati bukan untuk menandingi paduka kanda Prabu. Tetapi membawa pesan dari ibu kita, Kunti, untuk kembali berkumpul bersama saudara paduka Para Pandawa. Air mawar bening pembasuh kaki  sudah disiapkan oleh adik adik paduka, Kanda Adipati”. Arjuna mencoba meluluhkan hati kakak tunggal ibu itu.

Kembali Adipati Karna menegaskan apa yang terrasa didalam hatinya. “ Lihat, air mataku jatuh berlinangan. Tetapi aku katakan, tidak tepat apa yang kamu katakan. Sudah berulang kali kamu memintaku untuk berkumpul bersama sama dengan saudaraku Pandawa. Begitu juga dengan Kanda Prabu Kresna, yang ketika itu datang kepadaku dan bicara empat mata. Sekarang sama halnya dengan dirimu, yang juga kembali mengajakku untuk berkumpul bersama. Bila aku menuruti permintaanmu, hidupku akan seperti halnya burung yang ada dalam sangkar emas. Tetapi hidupku tidak bisa bebas. Hidupku hanya kamu beri makan dan minum belaka. Apakah kamu senang bila mempunyai saudara dengan keadaan seperti yang aku katakan?”.

Sejenak mereka berdua saling berdiam diri. Sesaat kemudian Karna melanjutkan.”Tak ada seorangpun didunia ini yang dapat mengantarkan aku menuju alam kematianku, kecuali hanyalah dirimu, dinda Arjuna!  Dan bila aku nanti mati dalam perang tanding itu, sampaikan baktiku pada ibunda Kunti, yang tak sekalipun aku memberi ketentraman batin dalam hidupnya . . . “

Serak terpatah patah suara Adipati Karna ketika ia melanjutkan curahan isi hati terhadap Arjuna.

Kembali susana menjadi hening. Akan tetapi tiba tiba ia berkata dengan nada tegas.  “Hari ini adalah hari yang baik. Ayolah kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih perwira, lebih bertenaga, lebih sakti!”.

“Kanda, berikan kepadaku seribu maaf atas kelancangan hamba berani dengan saudara yang lebih tua”. Kembali Arjuna menghaturkan sembah, berkata ia, yang kemudian mengundurkan diri kembali menaiki kereta Jaladara.

Maka perang tanding dengan andalan ketepatan menggunakan anak panah berlangsung dengan seru. Keduanya sesama putra Kunti tidak sedikitpun berbeda ujudnya dalam busana keprajuritan. Keduanya menggunakan topong yang sama, sehingga banyak prajurit yang sedari tadi berhenti menonton sulit untuk membedakan yang mana Arjuna dan manakah yang Karna, kecuali pada kereta yang dinaikinya.

Pada suatu ketika topong kepala Adipati Karna terpental terkena panah Arjuna. Sejenak Karna meminta Prabu Salya untuk berhenti, dan berkata.

“Rama prabu, hampir saja hamba menanggung malu. Topong kepala hamba terpental oleh panah adi Arjuna”.

“Sudah aku katakan, tak hendak aku ikut campur dalam peristiwa ini. Aku hanya kusirmu. Tapi kali ini mari aku benahi rambutmu biar aku gelung”. Setengah hati Prabu Salya mendandani kembali putra menantunya.

Kembali adu ketangkasan olah warastra berlangsung. Kali ini Kunta Wijayandanu ada ditangan Karna. Waspada Prabu Salya dengan melihat senjata kedua setelah Kunta Druwasa yang telah sirna digunakan oleh Adipati Karna ketika berhadapan dengan Gatutkaca. Maka pada saat menantunya itu melepas anak panah, kendali kereta ditarik, kemudian kuda melonjak. Panah yang sejatinya akan tepat mengenai sasaran, hanya mengenai topong kepala Arjuna dan mencabik segenggam rambutnya.

“Aduh Kanda Prabu, topong hamba  jatuh terkena panah kanda Adipati. Apakah ini sebagai perlambang kekalahan yang akan menimpa hamba?”. Arjuna menanyakan.

“Bukan ! Itu peristiwa biasa. Biarlah aku tambal rambutmu dengan rambutku. Sekarang aku akan menggelung rambutmu kembali”. Jawab Kresna, yang kemudian menerapkan kembali gelung rambut baru pada kepala Arjuna.

Kembali kedua putra Kunti berdandan dengan cara yang sama. Semakin bingung para yang melihat pertempuran dua satria yang hampir kembar itu. Bahkan para dewata dan segenap bidadari dan durandara, melihatnya dengan terkagum.

Adu kesaktian telah berlangsung lama, segala macam kagunan dan ilmu pengabaran telah dikeluarkan. Saling mengimbangi dan saling memunahkan kawijayan antara kesaktian mereka berdua.

Namun Arjuna masih memegang satu senjata yang belum digunakan. Itulah panah Kyai Pasupati, yang bertajam dengan bentuk bulan sabit.

“Arjuna !”, Kresna memberikan isyarat, “Sekaranglah saatnya!. Hanya sampai disini hidup kakakmu Adipati. Segera lepaskan senjatamu Pasupati untuk mengantarkan kakakmu ke alam kelanggengan!”.

Panah Pasupati telah tersandang pada busur gading Kyai Gandewa, lepas anak panah berdesing bagai tak terlihat. Walau Arjuna melepaskannya sambil memejamkan mata karena tak tega dan rasa bersalah, namun panah dengan bagian tajam yang menyerupai bulan sabit itu mengenai leher Adipati Karna.

Tajamnya Kyai Pasupati tiada tara, sampai-sampai, kepala Adipati Karna dengan senyum yang masih tersungging dibibirnya tak bergeser sedikitpun dari lehernya. Jatuh terduduk jasad Adipati Karna bersandarkan kursi kereta. Geragapan Prabu Salya yang merasa khawatir dan setengah bersalah. Turun dari kereta ia, kemudian menghilang dari pabaratan, kembali ke Bulupitu.

Namun kejadian sejak dari awal pertempuran tadi, tidak terlepas dari sepasang mata yang selalu mengawasi setiap gerakan sekecil apapun yang dilakukan Prabu Salya. Itulah sepasang mata Aswatama!


(Bersambung)

Banyak sekali versi tentang cerita Karna Tanding. Petikan dan suntingan dari pagelaran demi pagelaran wayang purwa diatas,

adalah salah satunya yang terpilih untuk diketengahkan.


Dalam versi lain, saat tanding lawan arjuna, kereta perang Karna teperosok ke dalam lumpur. sesuai dengan kutukan dari guru Karna yaitu Ramaparasu atau Ramabargawa. Pada saat membetulkan roda ketera yg terperosok itulah, Kresna memerintahkan Arjuna membidik Karna. Gugurlah Karna dengan kepala terpenggal panah Arjuna.

Kocap kacarita, Karna menyamar sebagai seorang brahmana agar dapat diterima menjadi murid Ramaparasu, karena Ramaparasu tidak mau menerima murid dari golongan ksatria. Pada suatu saat terbongkarlah kebohongan Karna.

Merasa ditipu dan dikhianati, keluarlah kutukan dari sang guru.



Ketika Rahasia Itu Terungkap


Imajiner Nuswantoro


Kidung layu layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik rintik. Meski begitu, rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa. Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan atas keinginan sang ibu. Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya. Ia adalah sosok yang tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan harus tumpas oleh laku kebajikan. Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.

Dengan terbunuhnya Adipati Karna yang menyisakan dendam pembelaan dari Kyai Jalak yang gagal, maka secara kenyataan adalah, telah terhenti perang campuh para prajurit di arena padang Kurusetra. Dikatakan demikian karena jumlah prajurit Kurawa yang tinggal, boleh diumpamakan telah dapat dihitung dengan jari saja. Ditambah lagi kenyataan, bahwa para Kurawa seratus, yang tinggal hanya duapuluh orang termasuk Prabu Duryudana dan Kartamarma. Maka lengkaplah apa yang disebut sebagai kenyataan, bahwa perang Baratayuda sebenarnya sudah berakhir. Tetapi pengakuan terhadap kekalahan itu, belumlah terucap dari bibir Prabu Duryudana.

Sore ketika Adipati Karna telah gugur, mendung gelap yang disusul oleh rintik hujan, juga seakan mentahbiskan suasana dalam hati Panglima Tertinggi Kurawa yang juga terlimput oleh gelap. Dihadapannya Prabu Salya dengan sabar menunggu ucapan apa yang hendak terlontar dari bibir menantunya. Demikian juga Patih Harya Suman dan Raden Kartamarma, hanya tertunduk lesu. Keduanya berlaku serba canggung menyikapi keadaan dihadapannya. Keraguan akan hasrat menyampaikan usulan dan pemikiran, telah dikalahkan oleh rasa takut akan murka junjungannya.

Hal ini juga berlaku pada perasaan Aswatama yang sesungguhnya hanya berderajat rendah, hanya sebagai tuwa buru. Sebuah derajat rendah yang hanya mengurus segala keperluan para Kurawa dalam menyelenggarakan kegemaran mereka berburu dihutan. Derajat rendah itulah yang diberikan oleh penguasa Astina, ketika mendiang ayahnya diangkat menjadi guru bagi sekalian anak anak Pandawa dan Kurawa. Derajat yang sampai saat inipun masih tetap tersandang, walaupun waktu demi waktu telah berlalu. Apalagi ketika ia harus kehilangan kepercayaan dari Prabu Duryudana, pada saat ia membela pamannya Krepa. Juga tewasnya ayah tercinta yang merupakan gantungan baginya dalam mengabdi kepada Prabu Duryudana, telah lengkap meruntuhkan ketegaran dirinya terhadap penguasa tertinggi Astina. Lengkap sudah perasaan takut yang mencekam jiwanya. Padahal sesuatu yang hendak diajukan sebagai saksi mata atas suatu peristiwa di medan perang, telah mendesak kuat dalam hati untuk disampaikan. Tetapi mulutnya terkunci, tetap tak berani mengatakan sesuatu apapun. Dan iapun hanya diam tertunduk, duduk di tempat paling belakang dari pembesar yang hadir.

Dalam ketidak sabaran menunggu sabda Prabu Duryudana, akhirnya Prabu Salya berbicara. “ Anak Prabu, walaupun paduka anak Prabu tidak mengatakan dengan sepatah kata, namun saya sudah merasa, pastilah perkiraan saya benar. Pasti anak Prabu merasa kehilangan Senapati yang menjadi bebeteng negara, kakak iparmu, anak menantuku, Adipati Karna”.

Tetap bergeming Prabu Duryudana mendengarkan kata kata pemancing dari Prabu Salya, sehingga kembali ia melanjutkan.

“Menurut tata cara, seharusnya aku tetap diam menunggu. Tetapi oleh karena terdorong oleh gemuruh dalam dada, perkenankan aku mertuamu menyampaikan isi hati ini”

“Rama Prabu, itulah yang sebenarnya yang aku nanti. Besar hati anakmu tanpa dapat diumpamakan, karena sebegitu besarnya perhatian yang rama Prabu berikan terhadap putramu”. Akhirnya beberapa patah kata meluncur dari bibir Prabu Duryudana, terbawa oleh rasa penasaran, apakah yang hendak dikatakan oleh ayah mertuanya.

Mencoba tersenyum Prabu Salya. Senyum getir, karena suasana yang dihadapi tidaklah nyaman dirasakan. Tetapi ia tetap berusaha menguatkan hati Prabu Duryudana .“Kalaupun aku tidak memperhatikan anak Prabu, aku ini seakan menjadi manusia yang tidak lengkap panca indraku. Setelah saya timbang timbang, ternyata pancaindriaku masih lengkap. Oleh karena itu, aku akan menyampaikan sesuatu”.

“Waktu sepenuhnya aku serahkan kepada rama Prabu”. Duryudana kali ini mencoba pula tersenyum, walau terasa hambar.

Melihat menantunya serba kikuk, Prabu Salya tertawa. Walaupun tawa itu terdengar sumbang, namun Ia mencoba memecah kebuntuan suasana. “Terhitung selama perang berlangsung, aku baru bisa tertawa kali ini. Begitu anak Prabu mengatakan bahwa waktu telah sepenuhnya anak Prabu berikan, itu artinya anak Prabu masih mempunyai kepercayaan kepadaku”.

Prabu Salya kemudian mengangkat dan mengungkit peristiwa yang berlangsung pada masa lalu, ketika ia sedang ada pada balairung istananya di Mandaraka.

Ketika itu ia sedang merembuk bagaimana ia berrencana hendak memberikan negara kepada anak turun, serta bagaimana ia menyampaikan cara dalam menata negara. Ketika itu, tiba tiba ia dikejutkan dengan kedatangan dua orang utusan yang belum dikenalnya.  Ketika mereka mendekat dan memberikan surat. Ternyata mereka berdua mengundang untuk mendatangi pahargyan di suatu tempat yang merupakan pesanggrahan yang baru dibangun, pesanggrahan yang begitu indah. Disitu telah menunggu para wanita yang muda muda dan begitu cantik cantik. “Disitulah aku disuguhi makanan yang serba nikmat diiring tetabuhan dan kidung yang menyenangkan hati”. Prabu Salya meneruskan, “Tanpa ragu makanan yang serba nikmat itu aku makan dengan begitu lahapnya . Bawaannya aku belum makan ketika berangkat, maka sekejap aku telah menghabiskan sebagian besar hidangan yang telah tersaji”.

Setelah merenung sejenak, Prabu Salya menyambung, “Begitu aku sudah merasa kenyang, tiba tiba anak Prabu Duryudana datang dari belakang tanpa aku ketahui, dan memeluk aku. Sebagai orang yang mengerti akan tata krama dan balas budi dan terdorong oleh rasa puas karena semua kesenangan yang tersaji telah aku nikmati, maka ketika paduka anak Prabu meminta saya untuk bersedia berdiri di pihak anak Prabu ketika perang Baratayuda berlangsung nanti, seketika aku menyanggupi. Dan ini adalah peristiwa yang mengharuskan aku menyaksikan darah yang tertumpah. Darah yang mengalir dari tubuh tubuh anak kemenakanku sendiri”.

Suasana kembali hening ketika Prabu Salya mengakiri cerita yang berujung sesal. Kejadian awal dari mengapa ia terseret-seret dalam peristiwa besar ini. Maka ketika tak ada lagi yang membuka mulut, Prabu Duryudana memanggil Patih Harya Sangkuni.

“Paman, tinggal berapakah Kurawa sekarang?”

Geragapan Patih Sangkuni menjawab pertanyaan itu, setelah rasa terkejutnya hilang. “Kalau tidak salah hitung, tinggal duapuluh orang saja”.

“Apakah mereka menjadi ketakutan karena jumlah yang tinggal sedikit itu?”

“Sama sekali tidak, bahkan mereka mengharap, kapan gerangan hendak diperintah untuk beradu dada dengan para Pandawa”.

“Bagus! Kenapa begitu?“ Prabu Duryudana mempertegas pertanyaannya.

“Mereka itu mengingat dan merasa, bahwa hidup mereka semua adalah ada dalam perlindungan dari anak Prabu. Kenikmatan yang mereka terima selama ini, adalah berkat pemberian dari anak Prabu. Maka ketika mereka dihadapkan dalam peristiwa seperti ini, tak lain dan tak bukan, bahwa mereka telah rela menjadi tetameng, bahkan bebanten dalam membela kejayaan anak Prabu”. Jawab Sangkuni, yang adalah manusia super licik. Maka kata katanya kemudian lancar nyinyir mengalir menggelincirkan lawan bicaranya.

“Jagad dewa batara! Bila demikian, walaupun Kurawa cuma tinggal duapuluh orang, itu sudah cukup memberiku rasa besar hati. Mereka itulah manusia yang mengerti akan rasa kemanusiaan, manusia yang mengerti akan rasa kebaikan, manusia yang mengerti apa itu kewajiban. Bila demikian Paman, semua orang yang masih hidup di Astina, ternyata masih punya rasa bela negara, tanpa memandang dari mana asal muasalnya. Seumpama ada seseorang pembesar, seseorang yang menjadi sesembahan. Walaupun ia tidak dalam peperintahan negara Astina, tetapi ia memiliki kulit daging yang mukti wibawa di negara Astina ini. Hidupnya diliputi oleh segala kemewahan, dipuji puji dan diagung agungkan orang senegara. Namun ketika negara itu menjadi ajang kebrutalan musuh, menurut Paman Sangkuni bagaimana seharusnya manusia itu bersikap?”

Prabu Duryudana yang sedari kecil ada pada asuhan pamannya, sangat mengerti, umpan apakah yang tengah ia pasang. Maka semakin lancarlan kata katanya mengikuti arah pembicaraan pamannya itu.

“Wah, kalau saya . . . . ini kalau saya . . ., saya akan segera bertindak!  Segera saya akan melangkah ke palagan peperangan, mengatasi musuh yang hendak berbuat semena mena atas negara ini. Ini kalau saya . . .! “ dengan jumawa Patih Harya Suman menjawab.

“Apakah ada Paman, orang yang saya telah berikan semua rasa mukti wibawa, tetapi tidak mengerti akan balas budi itu?”

“Ada saja ! itulah istri paduka sendiri, Dewi Banuwati!”

Prabu Salya yang sudah kenyang makan asam garam, sebenarnya sudah tahu apa maksud pembicaran mereka berdua. Tetapi ia masih dengan sabar dan senyum mengembang di bibir mengikuti pembicaraan mereka. Ia menjadi penasaran, sandiwara itu akan sampai mana ujungnya. Maka ia tetap terdiam ketika  Prabu Duryudana kembali mengajukan pertanyaan kepada pamannya. “Apakah ada orang yang lain selain istriku?”

“Tidak, tidak ada lagi! Walaupun istri Paduka anak Prabu adalah wanita yang pada mulanya juga sudah mukti wibawa di Negara Mandaraka, tetapi ketika ia diperistri oleh paduka anak Prabu, ia telah mendapatkan jauh lebih tinggi derajat dan kemukten yang tiada taranya. Itulah, dari rasa sayang Paduka Angger Anak Prabu yang tiada terkira, sebetulnya dalam kenyataannya, negara Astina telah dipasrahkan seutuhnya kepada istri Paduka , Dewi Banuwati.”

“Itulah memang yang menjadi niat saya! Kalau demikian, yayi Banowati itu , seberapapun bobotnya harus menanggung semua baik buruk atas negara Astina ini?”.

“Tak jauhlah dari yang paduka kehendaki”.

“Tetapi paman, ia adalah seorang wanita. Apakah mungkin, wanita yang seharusnya hanya aku manjakan, bersolek, mempercantik diri, harus maju ke medan perang adu kesaktian dengan para Pendawa”.

“Lho kalau perlu memang demikian! Kalau semua para luhur sudah tidak mau tutun tangan, maka istri sendiripun harus ikut. Saya kira istri Paduka pun tidak akan rela melihat paduka kerepotan”. Sandiwara dengan dialog antar keduanya masih berlangsung, masih mengalir lancar. Dan Prabu Salya masih tetap sabar dalam duduknya.

Dan sampai disini Duryudana sedikit mentok, keteteter dengan kepiawaian pamannya mengolah kata. “Ya . . . . . tetapi . . . . . apakah ini . . . . . . , apakah aku harus menangis dihadapan istriku?  Si Paman jangan menyangka aku takut akan darah, tetapi istri itu . . .  yang sejatinya bukan sanak, tapi ia sudah merasakan enak, sudah aku ajak menikmati kenikmatan dan mukti wibawa. Waktu dalam keadaan enak, ia sudah merasakan kenikmatan. Tetapi ketika menemukan papa sengsara, seharusnya ia tidak menghindar dari segala kesulitan. Tetapi saya tak bisa hidup tenang tanpa dia, paman. Seumpama saya melangkah ke medan pertempuran berdua dengan istriku, Dewi Banowati, menurut si paman bagaimana?”

“Saya sangat setuju . . .sangat setuju!”

Tidak syak lagi, Prabu Salya yang mendengarkan dengan seksama dan tadinya tak hendak memotong pembicaraan mereka, sudah mengerti kemana gerangan arah pembicaraan itu. Tetapi saat ini ia menjadi gerah. Dan berkatalah Prabu Salya, setelah menarik nafas dalam dalam. Ia berusaha menekan perasaannya yang tiba tiba panas bagai terbakar bara api.

“Jagad Dewa Batara! Aku merasakan tidak ada sesuatu apapun terjadi. Tetapi kepala saya bagai terbakar panasnya bara api. Panasnya sedemikian menyengat hingga sampai ke dada ini. Di seluruh jagad ini tidak ada yang menandingi kepiawaian dari anak Prabu, apalagi bila sudah dipadukan dengan kepiawaian mengolah kata dari Patih Sengkuni. Tetapi kepintaran itu. bila sudah manunggal, dan kemudian dipakai di jalan yang tidak sesuai dalam keutamaan, bisa menjadi kabur dan ludes terbakar api. Saya mengerti. Kalau saya dibolehkan menggambarkan, anak Prabu saat ini sedang dalam posisi berpeluk tangan, tapi kelihatan olehku dari sini, Paduka anak Prabu seperti melambaikan tangannya. Melempar sesuatu kearah utara, tapi yang dikenai adalah benda yang diarah selatan, seperti halnya orang yang sedang memancing di air keruh. Yah, saya sudah tua. Tak usahlah disindir, saya ini sudah kenyang makan asam garam. Gambalangnya begini, paduka anak Prabu sekarang sedang bersedih atas gugurnya anak mantuku Adipati Karna. Paduka sebetulnya mengatakan, kenapa, orang  tua yang sudah dibuat mukti wibawa karena anak nya, tetapi orang itu sekarang diam saja. Bukankah itu yang Paduka maksudkan?”

Sudah disengaja Prabu Duryudana menyindir mertuanya itu. Tetapi ia sudah kadung basah, maka walau dengan debaran dada, ia mengatakan, “Silakan bila rama Prabu mengatakan demikian. Tetapi itu memang benar!”.

“Saya sudah mengatakan tadi, apakah saya hendak mengangkat muka melihat tingginya sosok para Pandawa?  Apakah saya tidak kuasa untuk merangkul betapapun besarnya ujud para Pandawa? Apakah saya harus gemetar melihat kesaktian Pandawa? Yang terlihat olehku, Pandawa itu adalah sebagai anak anak belaka. Bila aku mau, tandang para Pandawa dapat aku hentikan kurang dari setengah hari! Dalam setengah hari itu, mereka sudah pulang ke kahyangan Batara Yama. Oleh sebab itulah, saya hendak menjalankan sabda paduka dengan dua landasan. Ketika bebanten para Kurawa dimulai dari gugurnya Eyang Bisma, sampai Resi Durna, jagad sudah mengingatkan kepada paduka anak mantu, bahwa Baratayuda seharusnya dihentikanlah! Apakah sebenarnya pokok persoalannya? Siapakah sebenarnya yang menang, dan siapakah sebenarnya yang dikalahkan? Oleh sebab itu, silakan anak Prabu merasakan, betapa sengsaranya yang sudah gugur dalam perang ini. Itu yang pertama!”

“Kedua siapapun akan mengerti. Siapakan Prabu Karna itu? Adipati Karna itu manusia bukan manusia selayaknya manusia. Ia adalah anak Batara Surya yang menerangi jagat. Walaupun ini hanya cerita yang kadung dilebih lebihkan, tapi sewaktu terlahir dari goa garba Kunti, ia sudah mengenakan anting anting dan permata kawaca. Belum lagi jumlah pusakanya,  kunta Druwasa, Wijayandanu, siapakah yang kuat menadahkan dadanya pada pusaka itu? Keris kyai Jalak, siapapun tak mampu menadahkan dadanya. Bahkan bila ditujukan ke gunung , gunung itu akan menjadi runtuh, dan bila dikenakan terhadap lautan, samudra itupun akan mendidih. Walau demikian, Arjuna dapat mengalahkan dengan panah bertajam bentuk bulan sabit, Kyai Pasupati. Lepasnya panah Arjuna telah membawa kematian baginya. Bila anak Prabu hanya menuruti kehendak hati, aku hanya bisa berharap, anakku Banuwati kelak tidak menjadi janda”.

Diceritakan, Aswatama yang sedari tadi menahan beban perkara yang menghimpit dadanya, lama kelamaan ia menggeser duduknya maju mendekati Prabu Duryudana. Ia seakan terpicu, ketika mendengar peristiwa tanding satria sakti linuwih itu diungkap kembali. Keberaniannya tumbuh saat ia harus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.  Melihat gerak dan raut muka Aswatama yang mengandung sejuta keinginan untuk mengatakan susuatu, Prabu Duryudana memberikan sasmita kepadanya untuk mendekat.

“Aswatama adakah sesuatu yang hendak kamu katakan?”

“Perkenankan Paduka memberi seribu maaf, karena hamba berani beraninya memutus pembicaraan para agung”. Beriring sembah, Aswatama meminta waktu.

“Bila memang ada sesuatu yang penting untuk disampaikan, saya memberimu maaf. Silakan apa yang hendak kamu katakan?!”

Sejenak Aswatama terdiam. Bagaiamanapun ia harus menata hati untuk menyampaikan cerita yang menyangkut pembesar negara. Dalam pikirnya, sekarang atau tidak sama sekali. Dan ia telah terlanjur maju, tak ada lagi jalan kembali terbentang dihadapannya. Maka dengan tatag ia berkata, “Ketika sedang ramainya tetanding antara Sinuwun Adipati Karna dan Arjuna, mestinya Arjunalah yang mati”.

“Apa sebab kenapa kamu bicara terbalik dengan kenyataan?” terheran Prabu Duryudana mendengar kata kata Aswatama.

“Jalannya kereta yang dikendarai oleh sinuwun Adipati yang dikusiri oleh Prabu Salya, saya lihat sudah benar. Dan lepasnya panah kunta seharusnya telah pas mengenai leher Arjuna. Tetapi arah panah itu meleset, oleh sebab adanya seseorang pembesar yang telah melakukan kecurangan”

Sampai disini Prabu Duryudana sudah dapat menebak. Tetapi ia hendak mendengar sendiri, beranikah Aswatama menyampaikan dengan mulutnya sendiri. “Siapa pembesar yang melakukan itu?

“Tidak lagi hamba menutup nutupi, jalannya kereta yang seharusnya sudah benar. Namun tiba tiba kendali kekang kuda  ditarik, sehingga kuda menjadi binal dan kereta menjadi oleng. Panahpun tidak mengenai leher Arjuna, hanya mengenai sejumput rambutnya saja. Maka hamba berani bicara, bahwa gugurnya gusti Adipati Karna bukan karena Arjuna, tetapi oleh pakarti Prabu Salya!”

“Iblis keparat kamu Aswatama!”

Memerah muka Prabu Salya. Tak disangka seseorang mengamati dengan sempurna perbuatannya. Hendak dikemanakan muka itu bila rahasia itu terbongkar, maka yang bisa diperbuat adalah memaki sejadi jadinya Aswatama dan bertamengkan kekuasaan anak menantunya itu.

“Heh Asatama! Kamu anak Durna kan? Kamu disini pangkatmu hanya tuwa buru. Paling tinggi tugasmua hanya memberi makan kuda kuda kendaraan para Kurawa! Tahukah kamu, bahwa derajatmu hanya dibawah celanaku yang aku pakai ini. Kamu telah melakukan kesalahan. Kesalahanmu, pertama, kamu sudah berani beraninya memotong pembicaraan para agung. Kedua kamu sudah berani mengatakan yang bukan bukan!  Kamu sudah berani menuduh aku telah menyebabkan gugurnya mantuku. Dimana ada mertua yang tega terhadap anak menantu. Kemana kamu ketika gugurnya Bapakmu ketika itu? Kelihatan batang hidungmupun tidak! Kamu berniat merenggangkan hubungan antara aku dengan Prabu Duryudana, begitukah maksud dari kata katamu tadi ?! Hayoh iblis, kalau kamu memang anak Durna, segera ucapkan japa mantramu, hunus kerismu Cundamanik pemberian ibumu Batari Wilutama, bidadari yang berlaku selingkuh selamanya! Dalam hitungan yang ketujuh kamu tidak berani melangkah menghadapi Prabu Salya, akan kutebas batang lehermu!”

“Aduh rama Prabu, rama kami persikan berlaku sabar! Aswatamu itu hanya berderajat rendah. Tidak sepantasnyalah rama Prabu melayani Aswatama” maka Prabu Duryudana segera menghentikan langkah Prabu Salya ketika melihat mertuanya seakan telah kehilangan pengamatan dirinya.

“Belum lega rasanya bila aku tidak memenggal kepala Aswatama”. Masih dengan kata marah Prabu Salya dalam hadangan Prabu Duryudana.

“Rama Prabu, jangankan hanya seorang  Aswatama, dewapun tak akan mampu bila berhadapan dengan rama Prabu ketika sedang murka seperti itu. Mohon diingat rama Prabu, jangan mendengarkan suara orang cari muka seperti Aswatama.

Rama mesti mengingat, masih banyak kewajiban yang harus dijalankan. Mohon bersabar rama Prabu”.

“Huh Aswatama, bila tidak dalam sidang agung ini, kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu. Jangankan kamu, bila orang tuamu masih adapun, tak akan mundur sejangkah menghadapi orang tuamu itu!” masih juga belum berhenti kemarahan Prabu Salya, bahkan ia mengungkit ungkit ayah Aswatama.

Setelah suasana terkendali, Prabu Duryudana mendekati Aswatama. Ia telah membuat keputusan dengan menimbang bobot antara kedua orang yang bersilang pendapat itu. “Aswatama, jangan membuat suasana menjadi bertambah ruwet. Aku sudah tak lagi membutuhkan kamu. Pergilah!”

“Aduh Sinuwun, bila sudah tak lagi sinuwun mendengarkan kenyataan yang terjadi di palagan peperangan, kami minta diri sinuwun”. Luka hati Aswatama kembali kambuh, bahkan sekarang semakin parah. Keputusan hari kemarin bahwa ia akan menjadi seorang oportunis sejati telah mengeras. Dirinya yang dibobot ringan oleh Prabu Duryudana, mundur dari hadapannya dengan sejuta rencana tumbuh didalam rongga kepalanya.



Saat-saat Terakhir


Imajiner Nuswantoro


Aswatama segera pergi ke istal. Melepas kuda terbaik dari dalamnya, melepas tali yang mengikat ke toggak, kemudian ia memacu kudanya dengan kecepatan penuh meninggalkan percikan lumpur kotor. Ia seakan ingin membuang segala keruwetan yang mendera dadanya. Beban yang menindihnya, seakan hendak ia angkat dan campakkan, dengan cara memacu kuda itu sekencang kencangnya bagai dikejar setan. Tujuan yang semula telah ia rancang dengan rasa was-was, saat ini tidak lagi mendera dadanya. Sepenuh hati rencana telah digenggamnya tanpa keraguan sedikitpun. Banuwati, ya, Banuwati! Ia hendak menuju ke hadapannya. Ia adalah anak dari Prabu Salya dan istri dari Prabu Duryudana. Setelah kejadian di balairung tadi, sebuah rencana yang tertanam dari hari hari terakhir kemarin telah tumbuh subur. Dihatinya juga telah timbul tekad bahwa ia tak lagi merasa sebagai bawahan Prabu Duryudana.

Junjungannya dimasa lalu yang telah menilai kecil perannya selama ini. Ia merasa sadar sekarang  bahwa dimasa lalunya ia telah dikerdilkan dengan hanya diberi derajat yang hanya dipandang sebelah mata. Kekesalan yang terpendam mencapai puncaknya ketika ia telah dibobot ringan dengan pengusiran yang kedua kali terhadap dirinya.

Dendam membara juga berkobar dalam dadanya kepada Prabu Salya, orang tua Banowati. Ia hanya bisa berkata dalam hati, jangankan kepada menantunya Prabu Salya tega, kepada mertuanya-Resi Bagaspati-pun ia sampai hati menghabisi hidupnya hanya karena perasaan malu mempunyai mertua berujud raksasa. Tapi kata katanya tersekat pada korongkongan, tak terlahirkan oleh perasaan tidak enak kepada Prabu Duryudana. Maka ia hanya dapat mendendam, kepada Banuwati-lah ia hendak lampiaskan. Dan malam dengan hujan rintik itu telah membawanya menuju taman Kadilengeng. Malam ketika melintas kutaraja Astina, ia tak menemui kesulitan apapun. Semua prajurit tunggu istana telah mengenal Aswatama dengan baik. Dan taman Kadilengeng telah ada didepan mata.

Sementara itu di balairung Bulupitu, sepeninggal Aswatama, perasaan marah dan setengah dipermalukan oleh Aswatama., masih mendekam didalam hati Prabu Salya. Hingga ia tak lagi berminat mengatakan sesuatu apapun. Suasana hening melimputi suasana sidang. Mereka yang hadir seperti terpaku ditempatnya. Hanya dalam pikiran masing masing yang berputar putar menanggapi peristiwa yang baru saja terjadi. Ketika kesunyian itu masih saja terjadi, Prabu Duryudana akhirnya berkata kepada pamannya.

“Paman Harya Sengkuni, sungguh tidak masuk akal apa yang dikatakan oleh Aswatama. Seorang ayah menegakan kematian anaknya, walau itu hanya anak menantu. Apakah ia hanya bercerita atas karangan ia  sendiri? Apakah ada di dunia peristiwa semacam itu Paman?”

Patih Sengkuni kemudian mengangkat wajahnya. Dipandangi wajah Prabu Duryudana dengan perasaan ragu. Ia hendak menyelami apa sesungguhnya kehendak keponakannya dengan mengatakan demikian. Tapi ini memang menjadi watak Sengkuni, bahkan dengan nada meyakinkan ia mengipaskan kembali suasana yang sudah mengendap dengan jawabannya, “Ooooh Sinuwun, ada saja! Jangankankan mertua yang tega atas menantunya, sebaliknya menantu yang melakukan pembunuhan terhadap mertuanya juga juga ada. Bahkan ia telah membunuh mertuanya dengan tangannya sendiri”.

“Dimana peristiwa itu terjadi Paman? Siapakah orang yang telah tega berbuat demikian?” Prabu Duryudana kembali terbawa oleh arus pembicaraan Pamannya. Ia telah tahu apa  yang  dikehendaki pamannya.

Dan jawaban Patih Harya Sangkuni dengan tidak lagi ragu “Tidak jauh dari sini, bahkan . . . “

“Cukup . . . . . !” Kali ini Prabu Salya menukas dengan ketus. Bara kemarahan yang belum sempurna padam kini sudah kembali berkobar. Bahkan ia sudah tak lagi dapat mengendalikan nalarnya. Maka tak lagi ia berpikir panjang dan segera menyambung kata katanya, “Jangan lagi sandiwara seperti yang kau ucapkan  tadi itu diteruskan. Aku sudah mengerti arah pembicaraan itu, Suman! Bukankah engkau hendak mengatakan bahwa pada masa lalu aku telah membunuh ayah mertuaku sendiri?  Itukah yang kamu maksudkan dan kamu hubungkan dengan kematian anakku Basukarna? Sudahlah, aku ini sudah tahu arah tujuan dengan kata katamu. Kamu hendak memanasi aku kembali, agar aku mau maju ke Medan Kurukasetra ! Tanpa kamu panasi dengan kata kata itupun aku sudah mempunyai tekad, besok aku akan maju ke palagan peperangan. Lihatlah, esok anak anak Pandawa akan aku kirimkan ke alam kelanggengan. Aku ulangi, tidak perlu mamakan waktu lama, tak sampai setengah hari semua keinginanmu akan terwujud!”

“Lho Sinuwun Prabu Salya,  bukan maksud kami menceritakan tentang Paduka Prabu Salya, tapi bila paduka merasakan itu, ya silakan saja” Patih Sangkuni menjawab  dengan nada merendah. Tetapi dalam hatinya ia tertawa terbahak bahak, menyaksikan pancingannya berhasil diasambar sasarannya.

Sesak didalam dada Prabu Salya mendengar Patih Sangkuni yang masih saja memberi jawaban. Namun kini yang bicara adalah paman dari Prabu Duryudana.

Maka ia tidak bisa gegabah menyalurkan kemarahan sebagaimana dilakukan terhadap Aswatama. Tidak hendak berlarut larut dalam kemarahan, ia menghela nafas panjang. Ia berusaha sekuat tenaga untuk memadamkan bara yang membakar hatinya. Karena ia tak lagi mau termakan provokasi Sangkuni, ia berkata kepada Prabu Duryudana dengan berusaha setenang yang ia bisa.

“Baiklah anak Prabu Duryudana, saya meminta waktu sekejap saja. Aku ingin kembali dulu menemui ibumu, Setyawati. Rasa kangenku terhadap ibumu tak lagi dapat ditahan. Mohon jangan bergerak dulu ke medan Kuru sebelum aku kembali dari Mandaraka”.

“Baiklah rama Prabu, doa kami menyertai kepulangan rama” Duryudana melepaskan kepulangan sementara  Prabu Salya dengan rasa keraguan yang tetap menekan dadanya. Bahkan dalam hati kecilnya rasa frustrasi telah menuntunnya ke tindakan seorang pengecut.

“Paman Harya Sangkuni, segala merah hijaunya perang dan jalannya pertempuran aku serahkan kepada si paman untuk besok hari. Ikuti segala perintah dari Rama Prabu Salya. Besok  aku tidak akan ikut campur urusan perang yang sudah aku berikan sepenuhnya kepada si paman dan rama Prabu Salya”.

Malam itu juga kereta kebesaran Prabu Salya bergerak kencang menuju ke keputren Mandaraka. Prabu Salya pulang ke Mandaraka dengan hati masgul.

Dan kedatangan Prabu Salya pada saat lepas sore itu benar benar mengejutkan Prameswari Mandaraka, Dewi Setyawati.

“Sinuwun kanda Prabu, kaget dan gembira rasa hati ini, ketika melihat Paduka Sinuwun telah berada kembali di Mandaraka. Apakan perang sudah selesai? Siapakah yang unggul dalam perang yang pasti melelahkan jiwa dan raga itu?”

“Pastilah kedatanganku membuat kamu berdua menjadi kaget. Dan perlu dinda Setyawati, bahwa perang belumlah benar benar selesai. Kedatanganku sesungguhnya hanya melepas kangen, sebab, aku merasa sudah terlalu lama, sejak pecah perang, baru kali ini aku kembali ke Mandaraka meninggalkanmu.

Ketahuilah, bahwa esok hari aku akan menjadi senapati perang. Dan sebagai seorang senapati, ibaratnya adalah  seperti orang yang siap bepergian. Karena rasa sayangku terhadapmu, bila aku pergi nanti, maka kita harus pergi berdua. Secara kebetulan, bahwa kita berdua adalah orang yang punya hari lahir yang sama, maka bila kita pergi, sebaiknya juga kita pergi juga bersama-sama”.

Mendengar kata kata suaminya, Dewi Setyawati nampak tertegun. Sebagai seorang wanita anak Resi Bagaspati, yang tidak lain seorang pandita yang tak diragukan kewaskitaanya, ia sudah mempunyai firasat buruk terhadap apa yang dikatakan suaminya. Ia telah merelakan anak anak lelakinya habis dalam peperangan itu, tapi kali ini, ia tidak akan lagi rela melepas suaminya menjadi bebanten perang seperti yang terjadi pada anak anaknya. Maka ia bangkit dari duduknya dan bergelayut pada selendang suaminya. Prabu Salya yang melihat tingkah istrinya itu, kemudian tersenyum kepadanya. “Apa yang menjadi kekhawatiranmu Dinda Ratu, aku akan mendengarkan apa yang menjadi isi hatimu”, kata Salya masih dengan senyumnya.

“Kanda, anak anak lelaki kita, satu demi satu sudah gugur dalam membela Negara Astina. Bahkan anak perempuan kita Surtikanti juga telah bela pati atas kematian suminya Basukarna. Terlepas dari siapakah yang benar dalam perang itu, hamba sudah pasrah. Tapi, untuk kali ini, hamba tidak akan melepas kepergian  paduka kemedan perang. Cukuplah sudah pengorbanan kita untuk mukti wibawa anak kita Banuwati. Malah bila mungkin, mintalah anak mantu kita menyudahi pertempuran, dan anak kita sekalian diminta untuk kembali ke Mandaraka. Negara Mandaraka sudah tidak lagi mempunyai Pangeran Pati, biarkan anak mantu Prabu Duryudana-lah yang sekiranya dapat kita turunkan negara ini untuknya. Dan kita sudah saatnya untuk menikmati hari tua ini di Pertapaan Argabelah dengan memasrahkan diri kepada dat yang maha kasih. Mohon maaf kanda Prabu untuk kelancangan hamba memberikan pilihan kemungkinan yang tak lagi mengorbankan seorangpun.”

Masih dengan senyumnya, Prabu Salya malah berkata memuji. Makin rapat sang istri memeluk suaminya. Prabu Salya pun membalas dengn memegang tangan istrinya  “Itulah kenapa dari dulu aku menyayangimu, seorang anak gunung, yang jauh dari keramaian kota dan tata krama kerajaan. Tetapi dalam dirimu yang dikaruniai kecantikan yang sempurna, yang telah mampu merampas segenap sukmaku. Sampai sekarang walaupun engkau  sudah berputra putri dewasa, kecantikan itu tidak pudar dimakan oleh waktu, malah semakin bersinar. Dan tak kalah dari yang telah aku ucapkan tadi, adalah mengenai sosok dirimu secara keseluruhan. Dasar pemikiran cemerlang yang kamu punya itu, selalu muncul setiap kali aku merasa buntu dalam menjalankan tata kenegaraan. Hingga segala  pertimbangan atas buah pikiranmu selalu  menuntun aku keluar dari masalah pelik. Maka, walaupun kita dikatakan tidak pernah terpisah sejengkalpun seumpamanya, dari muda hingga rambut kita sudah dua warna, tetapi ketika aku berpisah walau sekejap, rasa kangen ini selalu saja memenuhi dadaku. Dan bukan oleh karena permintaan rama Resi Bagaspati, bila aku memperistrimu aku tidak boleh menduakan dinda Setyawati. Tetapi memang tidak ada gunanya aku menduakanmu. Dari dirimu, semua rasa tentram, rasa bahagia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, rasanya sudah dinda berikan tanpa henti hari demi hari, tahun demi tahun. Jangan lagi dipikirkan yang akan terjadi besok, lihat, malam ini suasana sangat indah! Kenapa kita tidak menikmati karunia yang telah dewata limpahkan?

Jatuh kedalam pelukan mesra,  Dewi Setyawati ke dada suaminya. Sanjungan suaminya yang dikenalnya sejak lama dan selalu saja dengan nada yang romantis telah berkali-kali ia dengar. Tapi kali ini sungguh ia dibuat terbang sukmanya. Dibimbingnya sang istri ke peraduan. Sudah tidak muda lagi keduanya, tetapi kemesraan diantaranya tetap terjalin waktu demi waktu. Tidak heran, bahwa lima orang putra putri telah lahir dari buah kasih mereka. Dan nama Setyawati adalah benar-benar sebagai ujud dari nama Endang Pujawati semasa gadisnya. Mereka berdua adalah manusia manusia yang dikaruniai kasih setia yang dalam satu sama lain.

Dipandangnya wajah istrinya ketika ia sudah terlelap terbuai mimpi indah. Dalam hatinya tak dapat dipungkiri, ia sangat mencintai istrinya. Dan Prabu Salya sangat memanjakan istrinya dengan berlaku setia penuh. Mungkin ia hendak membayar kesalahan yang telah dilakukan atas permintaannya dulu ketika rasa malunya mempunyai mertua berujud raksasa. Tetapi sesampainya di Mandaraka ketika memboyong istrinya, ia malah mendapat murka dari ayahnya, Prabu Mandrapati. Ia mengatakan hal yang sebenarnya terjadi atas mertuanya, tetapi ia tidak mengetahui bahwa Resi Bagaspati adalah saudara seperguruan ayahnya. Diusirlah Narasoma, Salya muda, ketika itu, yang diikuti oleh Madrim adiknya. Dari situlah ia menyerahkan Dewi Madrim dan Dewi Kunti ke tangan Pandu, atas pengakuan kekalahannya. Padahal ia telah memenangkan sayembara pilih dan berhak memboyong Kunti puteri Mandura. Kenangan masa lalu Salya terhenti ketika ia memutuskan sesuci dan masuk ke sanggar pamujan, meninggalkan sang istri yang masih terlelap tidur.

Kokok ayam yang pertama di pagi buta telah lama berlalu. Matahari di hari belum lagi bersiap menerangi semesta dengan cahaya merah diufuk timur. Dalam balutan busana putih di sanggar itu, Prabu Salya dikejutkan dengan kedatangan seorang utusan yang mengatakan telah menunggu dua orang tamu yang hendak menghadap.



Siasat Sang Pecundang


Imajiner Nuswantoro


Kita tinggalkan malam di Mandaraka. Ditempat yang lain, Aswatama dengan kebulatan tekad telah memasuki Taman Kadilengeng di lepas sore itu. Dan di taman itu, Dewi Banuwati tengah duduk didampingi oleh para dayang dayang-nya.  Mereka dengan setia memberikan bermacam hiburan yang ditujukan agar junjungannya dapat melupakan kemelut yang sedang menyelubungi negaranya. Ketika Aswatama masuk ke Taman Kadilengeng, suasana hingar bingar mendadak terhenti. Hampir semua mata menuju kearah kedatangan Aswatama. Semua menerka nerka, pasti ada sesuatu yang sangat penting hendak disampaikan oleh sang tamu. Sosok tamu yang semua sudah mengenalnya sebagai anak Pedanyang Sokalima, anak dari Sang Pujangga Astina.

Begitu pula dengan Dewi Banuwati, yang memendam seribu tanya. Ada apakah gerangan berita yang dibawa dari peperangan. Dalam suasana perang yang sudah berhari hari berlangsung, maka pastilah kejadian demi kejadian akan cepat berganti waktu demi waktu dan segala kemapanan pasti goyah  dengan cepat. Tidak menunggu lama, diperintahkan oleh Dewi Banuwati para dayang dayang-nya untuk segera menjauh darinya. Berita mengenai segala perubahan di peperangan hendak ia bicarakan empat mata saja dengan Aswatama.

Sembah bakti Aswatama telah dihaturkan. Basa basi telah diucapkan oleh keduanya. Bagi Aswatama, kebiasaan pada waktu waktu yang telah lampau, tetap ia lakukan demi siasat yang hendak ia jalankan. Kebiasaan yang masih berlaku hormat kepada istri Prabu Duryudana.  Walau dalam hatinya ia mengatakan bahwa ia tak akan lagi menjadi abdi negara Astina, tetapi pesona kecantikan Sang Dewi masih membuat dirinya juga tak berdaya dihadapan Banuwati.

Pada masa lalu, kekagumannya kepada kecantikan Banowati dipendamnya dalam-dalam. Karena dalam pikirannya, tidak sepantasnyalah ia mengagumi kecantikan dari junjungannya. Padahal dalam hatinya yang paling dalam, senyum Banuwati telah lama mengguncangkan hatinya. Setiap kali ia menyaksikan kemanjaan sikap dari Banuwati, ketidak berdayaannya atas keinginannya untuk memiliki Sang Dewi semakin menindih perasaannya. Tidak pantaslah juga, ia mengidam idamkan Banuwati yang cantik, Banuwati yang manja, Banuwati yang sorot matanya menyinarkan pesona bagi siapa saja yang menapnya. Tapi bagi Aswatama, tidak ada keberanian baginya untuk menatap mata itu. Ketika itu, keberaniannya hanya sebatas memandang pesona itu dari sudut matanya saja.

Tetapi saat ini sekuat tenaga ia hendak meruntuhkan tabu tabu atas masa lalu. Dan pada saat yang dipandang tepat nanti, ia ingin mereguk dengan segenap isi jiwanya, pesona yang terpancar dari sosok seorang Banuwati.

“Aswatama, apakah perang sudah usai?”  Itulah yang setiap kali diucapkan Sang Dewi ketika ada seseorang yang kembali dari peperangan. Kembali pertanyaan itu diucapkan. Aswatama dengan getar di dadanya mendengarkan ucapan dari bibir merah Banuwati masih dengan angan angannya. Sangat jarang Aswatama berhadapan langsung dengan Sang Dewi, bisa dikatakan tak lebih dari hitungan jari sebelah tangannya. Maklumlah jabatan yang ia sandang tidak memungkinkan sering bertemu, walau ia sudah berada di istana sejak dari muda. Pertanyaan Banuwati dengan nada yang kenes, sesuai sifat dasarnya, membuat runtuh jantung Aswatama yang berdentang keras. Begitu kuat ternyata pesona yang terpancar dari sosok Banuwati dari dekat. Hal inilah yang membuat kata-kata yang disusun sebelumnya, menjadi berantakan tak karuan.

Tetapi gugupnya Aswatama dimata Dewi Banuwati dartikan lain. Dimatanya, kegugupan itu mengisyaratkan telah terjadi sesuatu hal dalam peperangan yang menentukan yang  kehidupan negara selanjutnya. Dan Aswatama merasakan kesan yang memancar dari mata Banuwati itu. Maka timbullah keberaniannya untuk segera melakukan tindakan yang semula dirancangnya. Kembali ia dikejutkan dengan pertanyaan Banuwati mengulang.

Serta merta Aswatama menjawab, setelah terkaget dengan ulangan pertanyaan itu.

“Memang ada yang hamba akan laporkan Sang Dewi, mengenai kejadian penting di palagan peperangan.”

“Cepat katakan, Aswatama! “ Tak sabar Banuwati segera menyahut.

“Apakah Paduka Ratu berkenan  dengan apa yang hendak hamba katakan?”.

“Ya ya. . .  segera katakanlah.”

“Saat sekarang kekuatan Kurawa sudah dapat dikatakan lumpuh, dan tinggal menunggu saat saat terakhir perlawanan. Maka Baginda Prabu Duryudana memerintahkan kepada hamba untuk membawa Paduka Sang Dewi, keluar dari taman Kadelengeng”.

Oooh begitukah? Biarkan saja aku tetap di Keputren ini. Tak akan ada sesuatu yang membuat aku khawatir akan keselamatan diriku. Datar saja ucapan Dewi Banuwati, tak ada sedikitpun kecemasan membayang di wajahnya oleh sebab dari berita yang disampaikan Aswatama. Berita kekalahan Kurawa, sepertinya adalah hanya merupakan masalah kecil baginya. Aswatama hanya mengangguk anggukkan kepalanya, dan ia tidak terlalu heran dengan sikap Banuwati.

Sejenak Aswatama terdiam, kemudian otaknya kembali bekerja. Katanya kemudian.

“Tetapi ini adalah perintah dari Gusti Prabu Duryudana. Hamba akan bersalah bila tidak menjalankan titah yang telah digariskan”.

“Kembalilah ke Kurusetra. Katakan kepada kanda Prabu. Bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang keselamatanku. Musuh Kurawa pada perang Baratayuda adalah para Pandawa. Mereka itu adalah para kesatria yang tahu bagaimana memperlakukan musuh, mereka  tak akan mungkin mencelakakan aku. Apalagi sifat dimas . . . . “ Terhenti ucapan yang sudah ada dikerongkongannya dan segera ditelan kembali. Dan warna merah dadu menghiasi wajah Sang Dewi atas ketelanjurannya, walau terputus. Namun Aswatama segera tahu apa yang hendak Banuwati ucapkan. Dan ini telah membuat otak Aswama seketika terang benderang

“Tetapi perkenankan hamba berterus terang.  Gusti Prabu Duryudana sudah berada di suatu tempat. Mereka sudah menunggu jemputan ini. Disana sudah menunggu pula ayahnda Paduka Prabu Salya beserta Para Pandawa. Atas kehendak ayahanda Paduka Sang Dewi,  perdamaian diantara yang sedang berperang hendak diselenggarakan. Dan diperkenankan Gusti Ratu sebagai saksi atas perdamaian itu.  Dari pihak Kurawa akan langsung dipimpin oleh Gusti Prabu Duryudana, sedangkan dari Pihak Pandawa akan dipimpin oleh Raden Arjuna.”  Sengaja Aswatama menyebut nama Arjuna untuk memancing kenangan terhadap kekasih gelapnya.

“Ah . . .”, Banuwati berdesah, senyum dibibirnya hampir saja terkembang, tetapi segera dipalingkan mukanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dari sudut matanya, Aswatama mencuri pandang terhadap raut muka Sang Dewi Banuwati yang dengan susah payah hendak menyembunyikan perasaan yang berkecamuk dihatinya. Namun senyum sekilas tadi telah mengembangkan sejuta asa di hati Aswatama. Dalam hatinya mengatakan, “Inilah saatnya!” .

Sejenak hening disekitar mereka. Aswatama membiarkan saja perasaan Banuwati melayang layang. Namun Aswatama sudah tahu, apa pikiran yang membayang di rongga kepala Banuwati.

Tetapi tak lama suasana itu hening itu berlangsung, kemudian Banuwati memecahkan kesunyian.

“Bila begitu yang akan terjadi, apapun yang menurut rama Prabu Salya lakukan, hendaknya dilakukan. Tetapi yang aku sesalkan, kenapa baru sekarang kanda Prabu hendak berdamai setelah kekalahan nampak dipelupuk matanya. Perdamaian yang sebelumnya  telah membawa banyak korban!” Sejenak Dewi Banowati terdiam, kemudian ia menyambung.  “Tetapi baiklah, Aswatama, kapan kita hendak berangkat?”

“Sinuwun Prabu Duryudana tidak mau membuang-buang waktu lagi. Malam ini juga hamba dititahkan untuk segera mengantarkan Kusuma Dewi ke hadapannya”. Jawab Aswatama setelah menarik napas panjang. Kelegaan memenuhi dadanya, setelah sekian lama merasa  tertindih beban yang begitu berat.

“Kita perlu pengawal untuk perjalanan malam ini Aswatama!”

“Tidak perlu Gusti Ratu, ini akan memperlambat perjalanan kita. Sedangkan malam terus berjalan dan akan semakin larut bila waktu dibuang untuk mempersiapkan segala sesuatu. Toh kita besok sudah kembali lagi ke Astina”. Berpikir tangkas Aswatama segera menolak usul yang disampaikan Dewi Banuwati.

“Baiklah Aswatama, kita pergi sekarang!”.

Maka dengan persiapan singkat, Dewi Banuwati berganti busana dan segera menaiki kuda. Dan Aswatama menaiki kudanya pula. Tak kecurigaan apapun ketika mereka melewati penjagaan demi penjagaan, pengawalan terakhirpun  telah melepasnya. Dan tak terasa malam makin merambat dan perjalanan mereka semakin cepat.

Batas negara telah terlewat dan sawah kemudian ladang pegagan sudah mereka lalui. Hujan yang turun sore tadi telah lama reda,langit hanya menyisakan awan bergumpal di sana sini. Namun sebagian, masih menampakkan bintang bintang yang berkelipan malu malu. Kemudian tibalah mereka di padang perdu dan kemudian hutan dengan tumbuhan kayu besar yang makin pepat. Dan malam semakin merambat larut, sementara perjalanan terus berlanjut.

“Aswatama, apakah tempat itu masih jauh?” tanya Banuwati yang merasa curiga dengan perjalanan malam yang seperti tak berujung.

“Tinggal beberapa yojanya kita akan sampai?” Aswatama berkilah

“Benarkah? Aku lihat kita malah berputar putar arah tidak karuan bahkan kita memasuki hutan dan jurang yang curam di kanan kiri kita!” tanya Banuwati ketika sampai pada tempat yang lapang ditumbuhi beberapa pohon pohon perdu ditepi jurang.

“Mhmm . . . , baiklah! Sekarang aku tidak lagi hendak menyembunyikan apa sejatinya yang kulakukan terhadapmu”. Sejenak Dewi Banuwati bagai terhenti jantungnya. Ia mendengar ucapan Aswatama yang bernada lain dari biasanya. Tetapi sekuat tenaga ditenangkan hatinya. Doa akan keselamatannya ia panjatkan untuk mengatasi kejadian yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Dilain pihak, Aswatama  yang sudah sekian lama bersikap hormat sebagai anak Pedanyangan, ketika mengabdi pada Prabu Duryudana, kini berusaha bersikap tegak. Secara naluri Banuwati menjauhkan kudanya dari kuda tunggangan Aswatama.

Aswatama turun dari kudanya dan menambatkan di sebatang pohon. “Tempat yang agak lapang ini memungkinkan aku berterus terang terhadap Banuwati.”, demikian pikirnya dengan debar dada yang masih bergemuruh. Tetapi setelah diingat bahwa ia hanya berdua saja dengan Banuwati, dan apalah artinya wanita tanpa pendamping dihadapan lelaki yang terkodrat lebih kuat. Maka jebol-lah keraguan yang semula melimputi dirinya. Dipandangnya Banuwati dari ujung rambut hinggga ke ujung kaki dengan mata nyalang. Senyum aneh tersungging di bibir Aswatama bagai orang yang mabuk tuak.

Banuwati yang dipandang seperti itu merasa risih, dan ketakutan mulai membayang diwajahnya. Kembali hatinya dibesarkan, walau degup jantungnya masih juga tidak hendak reda. Setelah menarik nafas dalam dalam, ia menanya, dengan tetap duduk diatas punggung kuda.

“Sekarang katakan apa sebenarnya yang kamu kehendaki, Aswatama?” bergetar bibir Banuwati menanyakan maksud Aswatama. Padahal sebenarnya pertanyaan itu telah diketahui jawabnya. Namun ia masih menunggu jawab Aswatama yang masih dengan senyum kemenangan dibibirnya. Kemudian dilihatnya Aswatama berdiri didepan kuda, dan berkata dengan dada tengadah.

“Didunia ini tidak genap dua hitungan jumlah perempuan yang memiliki pesona yang begitu hebat. Pesona yang kamu miliki itu! Raja Astina yang begitu agung-pun bertekuk lutut. Menurut apa yang kamu perintahkan dengan tidak ada suatu katapun yang bernada menentang. Bahkan suatu contoh, bila keinginanmu untuk ketemu Arjuna tidak diturut, hanya sedikit kata rayuan dan seribu alasan, permintaan itu akhirnya dikabulkan. Benar benar Prabu Duryudana bagai kerbau yang dicocok hidungnya. Dan pesona dari dirimu tidak urung telah menebar keseluruh lingkunganmu. Pesonamu juga telah menyusup menembus dalam dijantungku. Setiap dirimu lewat didekatku, terasa dadaku hendak pecah. Ya, terus terang saja! Sudah lama aku memendam perasaan ini  terhadapmu, Banuwati. Perasaan cinta yang tadinya hampir tak mungkin kesampaian karena aku dulu mengabdi kepada Prabu Duryudana! Dan sekarang, Duryudana ada dalam keadaan sekarat. Daripada keduluan yang lain, terimalah takdirmu bahwa Aswatama adalah pemilik yang sah dari Banuwati untuk selanjutnya he he he . . . . !  Masih dengan ketawanya, Aswatama mendekat dan memandang dengan nyalang sosok Banuwati yang tertegun duduk diatas kuda. Tanpa berkedip, di kegelapan yang hanya tersinari bintang, sosok siluet Banuwati dikeremangan itu makin mempesona dimata anak Pedanyangan yang dimabuk keberhasilan itu. Hilang kewaspadaannya, dan tidak terpikir bahwa suatu saat, kuda itu dapat dilecut hingga lari dan tak dapat dikejar.

Sementara di dalam otak Banuwati berputar mencari celah untuk dapat melarikan diri. Tanpa sesadarnya kuda diarahkan mundur kembali menjauhi Aswatama yang  selalu mengikuti langkah kemana saja kuda Banuwati bergerak.

Banuwati yang lambat laun bisa menguasai dirinya, kemudian berusaha tersenyum. Ia sudah dapat melihat dengan jelas, langkah apa yang seharusnya dilakukan untuk mengatasi kesulitan yang menjepit dirinya.

“Ooh . . . begitukah? Siapapun, termasuk kamu dapat saja menjadi suamiku bila ia memiliki kecekatan berpikir. Dan gerak cepatmu telah membawamu untuk memboyong aku kemana kamu suka. Bawalah aku ke Timpuru atau ke Atasangin, kesanalah kita akan mukti wibawa meneruskan kejayaan Astina! Lihat bintang bintang dilangit adalah saksinya!”

Sang Dewi mengatakan sambil menunjuk ke langit dimana bintang-bintang masih bergelayutan.

Tanpa sadar bagai tersihir, Aswatama juga ikut mendongak ke langit. Dan saat yang sedikit itu digunakan dengan sempurna oleh Banuwati. Secepat kilat ditariknya kendali dan dipacu kuda itu tanpa menoleh kanan kiri. Kaget setengah mati Aswatama dan terlanggar kuda Banuwati. Bergulingan ia menahan sakit didadanya, dan merah padam mukanya oleh perasaan marah yang tidak terkirakan. Segera ia menuju kearah kudanya dengan tertatih tatih, dilepaskan ikatannya dengan terburu buru. Sumpah serapah membuncah dari mulutnya. Terlambat sedikit, kuda yang ditunggangi Banowati telah menghilang dikelebatan hutan dan pekatnya malam. Derap kaki kuda yang bergulung gulung menggema diantara tebing telah memperlambat usaha Aswatama dalam menelusuri jejak Banuwati. Sementara kabut telah turun setelah malam menjadi dingin menjelang pagi. Sempurnalah kesulitan Aswatama dalam melacak jejak buruannya.

Dewi Banuwati yang terlepas dari tangan Aswatama ternyata tidak mahir mengendalikan kudanya. Terpental pental ia diatas punggung kuda yang menjadi liar menyelusup diantara pepatnya pepohonan  hutan. Walau sekuat tenaga Banuwati bergayut, namun tetap ia tak berhasil menguasai keseimbangan badan diatas pelana. Ia terhempas dan terperosok ke dalam kelebatan perdu yang tumbuh menyebar ditebing jurang.



Jujurlah Pinten, Tangsen


Imajiner Nuswantoro


Bayangan jingga belum lagi terbias diantara mega mega di langit timur, ketika Aswatama telah berada jauh jaraknya dalam pencarian jejak Banuwati. Kelamnya hutan dan  kabut menjelang pagi amat mempersulitnya dalam melacak lari kuda yang ditumpangi Banuwati. Jejak kaki kuda dan patahan ranting yang masih baru kadang masih dapat terlihat sebagai tanda lacaknya, namun sejatinya kuda itu telah lama kehilangan penumpangnya yang terperosok jatuh di tempat yang sudah jauh tertinggal.

“Keparat Banuwati, kau telah membuat dendamku makin dalam! Ya, tidak ada yang dapat aku katakan, belum akan mati dengan dada lapang Aswatama, jika aku belum berhasil membunuh perempuan celaka yang berlindung dibalik kecantikan parasnya!” Perasaan sesal dan dendam melonjak lonjak dalam dada Aswatama. Segenap sisi hutan telah ia selusuri meneliti dengan seksama tanda tanda dimana adanya Dewi Banowati, namun Sang Dewi seolah ditabiri oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata.

Sementara itu di Mandaraka, abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.

“Pinten, Tangsen,  duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak, ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasihSang Uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan uwaknya. Tanya seputar keselamatan masing masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa basi.

“Kedatanganmu kemari, aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai anak piatu”. Sejenak Prabu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam. Matanya  menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya.

“Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata, ayahmu. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali keterangan itu datang dari diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ia ngidam kepengin naik Lembu Andini. Padahal ia tahu, Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. Itupun ia mengendarainya hanya sendirian saja”.

Yang diajak bercerita masih diam sambil sesekali mengangguk anggukkan kepalanya. Dibiarkannya uwaknya berceritera. Walaupun cerita itu sudah berkali kali ia dengar dari mulut uwaknya, Prabu Salya.

“Pinten, Tangsen, aku akan menceritakan kembali apa yang terjadi pada kedua orang tuamu. Dengarkan ya”. Prabu Salya menyambung, “Ibumu, Madrim,  ternyata meniru tindakan Istri Batara Guru, yaitu Dewi Uma, yang juga ingin menaiki Lembu Andini berdua dengan Batara Guru, suaminya. Walau banyak suara sumbang ingin menggagalkan permintaan Uma atas keinginannya itu, tetapi cinta Batara Guru terhadap Dewi Uma mengalahkan keberatan parampara kahyangan Jonggiri Kaelasa”.

Cerita yang diceritakan Prabu Salya melebar, namun demikian Nakula dan Sadewa masih saja mendengarkan dengan sesekali mengangguk kecil. “Waktu demi waktu berlalu, berdua melanglang jagat menaiki lembu Andini. Tak lah aneh, bila segala keinginan Batari Uma dituruti, karena cinta mereka sebagai suami istri yang baru mereka jalani. Mereka lupa bahwa berdua ada punggung Lembu Andini. Kekuatan asmara telah menggiring mereka  melakukan olah asmara diatas punggung Lembu Andini. Hingga kemudian meneteslah kama salah, jatuh kelautan dan menjelma menjadi raksasa yang dinamai Batara Kala. Dialah putra Batara Guru dengan Dewi Uma, yang membuat jagat yang semula tentram menjadi kisruh, yang suci-bening menjadi tercemar, yang tegak menjadi berantakan”.

“Tetapi ternyata perbuatan itu telah ditiru mentah mentah oleh ayahmu, Pandu. Walau Dewa telah memberi peringatan, tetapi ayahmu telah berlaku terlalu tinggi hati, mentang-mentang ayahmu telah sangat berjasa bagi Kahyangan. Ayahmu lupa bahwa ia telah diberikan anugrah ketika ia telah berhasil menyingkirkan musuh Kahyangan, Prabu Nagapaya. Ganjaran yang telah Dewa berikan berupa Minyak Tala. Bahkan ayahmu telah berjudi dengan nasibnya, dengan menyanggupi diri untuk menjadi kerak Kawah Candradimuka. Itulah ayahmu, watak tinggi hati dan rasa cinta terhadap ibumu yang tiada terkira, membuat ia lupa segalanya”.

Walau mereka berdua telah berkali kali mendengar cerita tentang kedua orang tuanya, tetapi tidak urung Nakula dan Sadewa telah meruntuhkan air matanya. Kali ini uwaknya menceriterakan kembali peristiwa yang mengiringi riwayat kejadian atas diri mereka berdua.

“Perlukah aku ceritakan bagaimana kematian kedua orang tuamu? “ Sejenak Nakula Sadewa terdiam. Mereka teringat, kedatangan mereka sebenarnya adalah dalam tugas negara. Seperti perintah yang diberikan oleh Prabu Kresna, mereka diberikan kewajiban untuk bagaimana melululuhkan hati uwaknya, agar dalam perang di terang hari nanti, uwaknya akan merelakan hidupnya untuk kejayaan Para Pandawa. Kresna telah mengetahui, bila tidak ada usaha untuk membuat Prabu Salya merelakan kematiannya, maka Para Pandawa tak akan dapat mengalahkan senapati bentukan Prabu Duryudana kali ini, yaitu Prabu Salya.

Maka Nakula dan Sadewa telah mengambil keputusan untuk mengulur perasaan Prabu Salya, agar nanti dengan gampang masuk mengutarakan maksudnya.

Mereka pun menjawab, “ Uwa Prabu, kami akan mendengarkan apa yang hendak Uwa Prabu ceriterakan”

“Baiklah.  Ketika kamu dikandung ibumu menjelang kelahiranmu, terjadi pemberontakan oleh  sebuah negara yang ada dalam bawahan Negara Astina. Negara Pringgondani yang  dipimpin oleh Prabu Trembuku hendak memisahkan diri dari kekuasaan Astina. Prabu Trembuku yang merasa sudah kuat dan mampu mengalahkan ayahmu telah dengan berani melakukan pememberontakan. Dalam perang tanding antara ayahmu dan Prabu Trembuku, ayahmu dapat mengalahkan kesaktian Prabu Trembuku yang kala itu menggunakan pusaka berujud keris yang bernama Kala Nadah. Sekali lagi kukatakan, ayahmu adalah orang yang tinggi hati. Prabu Trembuku, oleh ayahmu,  sudah dianggap tak berdaya, hingga ayahmu Pandu lengah. Ketika sesumbar atas kemenangannya, ayahmu melangkah hendak berdiri diatas tubuh Kala Trembuku, sebagai tanda atas kemenangannya. Namun Trembuku ternyata masih kuat untuk menusukkan senjata keris Kala Nadah ke telapak kaki ayahmu. Berhari hari Keris Kyai Kala Nadah mengeram dikakinya. Tak ada seorangpun yang mampu mencabut keris Kala Nadah, hingga membuat kesehatan ayahmu menurun hari demi hari. Dan akhirnya, ketika kamu berdua terlahir kedunia, yang disertai kematian ibumu karena kehabisan darah, ayahmu juga ikut wafat setelah memberi nama buat kamu berdua”.

Sebentar prabu Salya membenahi tempat duduknya dan bergeser duduknya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya. “Kegaiban terjadi, ketika kedua orang tuamu telah wafat, tiba tiba saja jasad keduanya telah hilang tak berbekas. Sudah menjadi suratan takdir bahwa kematian kedua orang tuamu adalah menuai apa apa yang mereka tanam. Janji ayahmu Pandu untuk sanggup menjadi kerak Neraka Yomani, telah berbuah. Ucapan orang tuamu ketika meminjam Lembu Andini, sanggup mukti waktu itu, dan sanggup sengsara kemudian telah menjadi kenyataan”.

“Keris perenggut nyawa ayahmu diberikan oleh pamanmu,Yamawidura, kepada Arjuna kakakmu. Sejak saat kamu berdua menghirup udara dunia, kamu sudah ada dalam asuhan ibu dari Puntadewa, Werkudara dan Arjuna, ya Kunti itulah yang memberi perlindungan atasmu sebagaimana ia memperlakukan kasihnya terhadap anak kandungnya.

Maka itu Pinten, Tangsen, perlakukan ibumu, Kunti, dengan kasih yang sepenuh hati. Perlakukan ibumu Kunti, seperti saudara saudaramu tua menyayangi ibunya”.

“Semua titah Uwa Prabu sudah hamba lakukan, sebagaimana Ibu Kunti dengan tak membeda bedakan kasihnya antara kami berdua dengan saudara saudara

kami yang lahir dari rahim ibu Kunti”. Jawab Nakula dan Sadewa serentak dengan suara yang sedikit serak, ketika uwaknya menghentikan ceritanya sesaat.

“Baik”, sekali ini Prabu Salya kembali menghela nafas panjang dengan senyum puas, “Selain dari pada itu anak anakku, kamu berdua hendaklah tidak pernah menyerah dalam menjalani Perang Baratayuda ini. Tetaplah ada pada kedekatan jarakmu dengan kakakmu Puntadewa. Aku lihat kamu sekarang malah datang kehadapanku di Mandaraka. Apa yang hendak kau sampaikan Pinten, Tangsen”.

Kedua bersaudara kembar itu saling berpandangan. Keduanya merasa pintu telah terbuka. Kemudian bersepakat dengan sinar matanya, siapakah yang hendak menyampaikan hal penting sebagai utusan dari Prabu Kresna. “Siapakah diantara kami Para Pandawa yang tidak merasa khawatir, sebab kami telah mendengar bahwa terang tanah hari ini, Uwa Prabu sudah diangkat wisuda sebagai senapati perang Astina. Tak lain yang akan dihadapi adalah kami semua saudara Pandawa”.

Berdebaran dada Nakula yang hendak menyatakan inti dari maksud kedatangannya. Kembali dengan suara parau ia mengatakan, “Maka Uwa Prabu, dari pada memperpanjang cerita, yang tidak urung nanti Para Pandawa akan runtuh di medan Kuru, maka kami akan menyerahkan kematian kami sekarang juga, Uwa. Dan akan jelaslah bahwa kematian kami, kemenakan Paduka Uwa Prabu, adalah atas tangan Paduka Uwa Salya”.

Terkaget sejenak Prabu Salya mendengarkan uraian kedua kemenakannya, dengan suara meninggi ia mengatakan, “ Heh . . . apa yang kamu ucapkan? Sedari tadi aku menceriterakan bagaimana keperwiraan orang tuamu, Pandu, juga dengan segala kelemahannya. Bagaimana orang tuamu yang semua orang di jagat ini telah tahu, ternyata ia juga adalah bagaikan seekor harimau yang sangat ditakuti. Kesaktian dan kewibawaan orang tuamu ibarat bisa menunduk-runtuhkan gunung Himawan. Tetapi apa yang terjadi terhadapmu, tidaklah membekas apa yang ada pada Pandu yang melekat pada dirimu. Harimau itu ternyata hanya beranak dua ekor tikus!”

Hening melimputi suasana sanggar pamujan, dengan pikiran berputar putar pada rongga kepala ketiga manusia didalam sanggar itu. Namun sejenak kemudian dengan suara berat Salya bertanya kepada kedua kemenakannya, “Baratayuda itu sebenarnya siapa yang berperkara?”

Hampir serempak kedua satria itu menjaawb, “Itu perkara hamba Para Pandawa dan Kurawa”.

“Bila benar begitu, kenapa perkara itu justru merembet kepada para pepundenmu, para orang tua orang tua yang seharusnya kamu beri kemukten. Kamu berikan kebahagian. Malah orang tua orang tua itu telah kamu jadikan korban. Dan bila kamu adalah manusia manusia yang berakal, tentunya kamu tidak akan menghadapku dan menyatakan minta aku bunuh disini. Itu seperti halnya kamu sudah melihat hal yang sudah pasti, sehingga kamu telah mengambil kesimpulan.” Kata Prabu Salya dengan kalimat yang bertekanan.

“Kalau kamu berdua datang bukan kepada Prabu Salya, maka tentu yang kau datangi sudah menumpahkan rasa iba. Tapi bagiku, kedatangan kamu berdua hanya merupakan gambaran dari betapa kamu berdua adalah sebetul betulnya manusia yang berjiwa kerdil”. Ketus Prabu Salya menyambung.

“Werkudara kakakmu, adalah seorang manusia yang teguh bukan hanya tergambar dari kewadagannya, tetapi keteguhannya merasuk jauh hingga ke lubuk hati dan jiwanya yang paling dalam. Aku telah menjadi saksi, betapa dengan keteguhannya, dengan segala kekuatannya ia berrenang dalam banjir darah yang ia ciptakan. Arjuna yang begitu titis dalam olah panah, sehingga sudah begitu banyak para sraya Prabu Duyudana yang tumbang oleh ketepatan olah warastra. Mereka adalah sebenar benarnya anak Pandu Dewanata. Dan tak kalah dari orang tuanya, orang muda Pandawa seperti Abimanyu dan Gatutkaca, telah bersimbah darah, dengan gagah berani mereka telah merelakan jiwanya, gugur menjadi kusuma bangsa”.

Lho sedangkan kamu itu apa? Datang berdua ke Mandaraka menyerahkan jiwa! Kamu takut menjalani peperangan heh?

“Terserahlah yang Uwak katakan . . . .” Nakula menjawab dengan lesu.

“Pinten, Tangsen, bukan Prabu Salya, bila menjadi samar dengan segala ulahmu. Dari aku mendengar berita kedatanganmu, melihat sosok kamu berdua, melilhatmu mencium kaki dengan air mata yang berlinangan; aku sejatinya sudah tahu. Itu bukan gambaran sosok anak Pandu !!

Keheningan kembali menyungkup. Hanya pandangan mata tajam Prabu Salya menghujam kearah kedua kemenakannya berganti ganti. Namun sebentar kemudian Prabu Salya mengatakan dengan nada tinggi hal yang membuat kedua satria kembar itu terhenyak, “Kedatanganmu kemari adalah ada yang menyuruhmu, iya apa iya . . ?! “

Menohok rasa kalimat tanya yang dilontarkan Prabu Salya, tak ada kata lain, Sadewa kali ini yang menjawab setelah terbungkam beberapa saat, “Kami mohon  maaf yang sebesar-besarnya Uwa Prabu . . . . .”

“Tidak . . , aku tidak akan memberimu maaf. . !” Masih dengan suara tinggi Prabu Salya menjawab ketus. Ia kecewa dengan kedua kemenakannya.

“Harus bagaimana hamba berdua Uwa Prabu?” Tanya Sadewa.

“Kamu berdua harus mengaku dulu, kamu sebetulnya disuruh seseorang untuk berbuat seperti itu?” Prabu Salya masih bersikeras.

“Ini hal yang sebenar-benarnya hamba lakukan atas kemauan kami sendiri . . .” Nakula dan Sadewa masih mencoba ingkar.

“Tidak . . . . tidak mungkin!! Kenyataan yang terjadi sekarang adalah macan yang beranak tikus. Ooooh Pandu, apa yang terjadi dengan anak kembarmu. Apakah bila kamu sudah berlinangan air mata dihadapanku, maka Salya akan larut. Ketahuilah, dalam perang nanti, siapa yang menjadi musuh Duryudana, ia akan menjadi musuh Salya pula!” Prabu Salya masih mencoba mengancam

“Silakan Uwa memarahi kami berdua . . . Tetapi biar bagaimanapun, silakan uwa Prabu untuk membunuh hamba berdua, sekarang juga di Mandaraka ini”. Sadewa tetap pada pendiriannya. Bagaimanapun pembekalan dari Prabu Kresna ketika ia hendak pergi  ke Mandaraka telah ia coba lakukan dengan sepenuh kekuatan untuk memenuhinya.

“Ketahuilah Pinten, Tangsen, aku masih berharap besar kepadamu berdua sepeninggal kakakmu Burisrawa dan Rukmarata. Aku masih berharap akan ada sejumput ketenteraman yang bisa kau berikan kepada uwakmu ini, sebab kamu berdua adalah masih darah dagingku sendiri”.

“Dari tata lahirku, aku ada di pihak Kurawa. Tapi tertanam dalam dalam dihati ini, Pandawa adalah kebenaran sejati dalam perang Barata ini”.

“Hmm . .”“Sekarang katakan kepadaku, begini, Pinten, Tangsen. Tirukan kata kataku: Uwa Prabu, bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina, kami para Pandawa minta kepada Uwa, hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawanya; Ayo katakan itu kepadaku . . . !“ Prabu Salya menggeram menahan pepatnya rasa hati. Akhirnya dengan nada datar ia mengatakan kepada kedua kemenakannya. Kalimat yang ia reka dan akan ia katakan inilah  yang seharusnya Nakula dan Sadewa katakan terus terang kepada dirinya.


Bersambung ke Baratayudha Jayabinangun - 5 :


Bharatayudha Jayabinangun - 5
 


Baratayudha

   




Imajiner Nuswantoro 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)