Bharatayuda Jayabinangun - 5
Dening Imajiner Nuswantoro
Perang Baratayudha, atau lengkapnya Baratayuda Jayabinangun, perang antar darah Barata, merupakan salah satu dari empat perang besar yang telah digariskan dewa dalam pewayangan, selain perang Pamuksa ketika Prabu Pandu menumpas pemberontakan Prabu Trembuku dari Pringgandani dan Perang Gojalisuta, perang saudara anak bapak, antara Prabu Bomantara alias Prabu Sitija, dengan Prabu Kresna dalam membela anaknya yang lainnya Samba Wisnubrata, serta perang
Guntarayana ketika Sang Begawan Ciptaning menjadi sraya, atas serangan Raja Hima Imantaka, Prabu Niwatakawaca, yang hendak mempersunting primadona kahyangan Jonggring Salaka, Dewi Supraba.
Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi senapati, memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan disisi lain meluwar janji yang pernah terucap.
Lanjutan Bharatayuda Jayabinangun - 4
Salya dan Bunga Cempaka Mulia
Nakula dan Sadewa kembali saling pandang. Namun tak ada kata sepakat apapun yang tersimpul dari pandangan sinar mata masing masing.
Keduanya mengalihkan pandangannya ketika Prabu Salya kembali memecah kesunyian, dengan pertanyaan disertai suara yang dalam. “Kamu berdua menginginkan unggul dalam perang Baratayuda, begitu bukan? Sekarang jawablah!”
“Tidak salah apa yang uwa Prabu tanyakan”. Jawab Sadewa.
“Sebab itu, tirukan kata kata yang aku ucapkan tadi”. Kembali Salya memerintahkan kepada kedua kemenakannya dengan setengah memaksa.
Kedua satria kembar itu kembali saling pandang. Kali ini Nakula bertanya kepada adiknya, Sadewa. “Bagaimana adikku, apa yang harus aku lakukan?”
“Tersesrahlah kanda, saya akan duduk dibelakang kanda saja.” Jawab Sadewa lesu
Kembali Nakula bersembah dengan mengatakan, “Dosa apakah yang akan menimpa kami . . . .” Baru berapa patah kata Nakula berkata , namun dengan cepat Prabu Salya memotong ucapan yang keluar dari bibir Nakula
“Bukan!! Bukan itu yang harus kamu katakan! Tetapi katakan dan tirukan kalimat yang telah aku ucapkan tadi”.
Sinar mata memaksa dari Prabu Salya telah menghujam ke mata Nakula ketika ia memandang uwaknya. Seakan tersihir oleh sinar mata uwaknya, maka ketika Prabu Salya menuntun kalimat demi kalimat itu, Nakula menuruti kata yang terucap dari bibir Prabu Salya bagai kerbau yang tercocok hidungnya.
“Uwa Prabu . . “
“Uwa Prabu”, tiru Nakula
“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina . . . .,”
“Bila nanti Uwa Prabu hendak maju ke medan Kuru sebagai senapati Astina,”
“Kami para Pandawa minta kepada Uwa . . . .”
“Kami para Pandawa minta kepada Uwa “
“Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa Uwa di peperangan. . . .”
Sesaat Nakula tak berkata sepatah katapun, hingga kalimat terakhir itu diulang oleh Prabu Salya. Dengan kalimat yang tersendat, akhirnya Nakula menggerakkan bibirnya, “Hendaknya Uwa Prabu menyerahkan nyawa di peprangan nanti”.
Bangkit Prabu Salya begitu kemenakannya mengucapkan kalimat terakhir itu. Dirangkulnya Nakula, dielusnya kepala kemenakannya itu dengan penuh kasih.
Setelah beberapa saat berlalu dengan keheningan, Prabu Salya melepas pelukan, kemudian duduk kembali. Katanya, “Kembar, itulah kalimat yang aku tunggu. Aku rela mengorbankan jiwa untuk kejayaan Para Pandawa. Dari semula aku tidak berlaku masa bodoh terhadap peristiwa yang terjadi dalam perang ini. Aku tidak samar dengan siapa sejatinya yang benar dan siapa yang salah, siapa yang jujur dan siapa yang curang. Dalam hal ini, Pandawa berhak mengadili siapa yang salah dalam perang Barata ini”. Keduanya hanya menganggukkan kepala dengan lemah.
“Begini Pinten, Tangsen, mulai saat ini, uwakmu akan turun tahta. Dengarkan kata kataku, aku akan turun tahta keprabon Mandaraka”. Nakula dan Sadewa menatap mata uwaknya dengan pandangan tidak mengerti. Sejurus kemudian Prabu Salya meneruskan, “Setelah aku, uwakmu, turun tahta, seisi Kerajaan Mandaraka dengan segenap jajahan dan bawahannya, aku akan serahkan kepada kamu berdua. Mulai saat ini, kamu berdua aku wisuda sebagai Raja-raja baru di Mandaraka. Kamu berdua akan aku beri nama Prabu Nakula dan Prabu Sadewa”.
Sejenak Nakula dan Sadewa terdiam. Dengan sang uwak mengatakan hal ini, maka jelaslah bahwa Prabu Salya tidak lagi bermain dalam tata lahir. Dengan menyerahkan Negara Mandaraka, maka sudah begitu terang benderang, kesanggupannya menyerahkan nyawa di Medan Kurusetra adalah tumbuh dan terlahir dari dalam hati yang terdalam. Maka Nakula dan Sadewa yang diberi kepercayaan hanya berkata menyanggupi “Hamba, uwa Prabu, semua yang uwa Prabu katakan akan hamba junjung tinggi”.
Kemudian Prabu Salya melanjutkan, “Kewajiban kamu berdua adalah; Nakula, kamu akan aku berikan tugas sebagai raja yang menangani urusan di dalam negara. Sedangkan Sadewa, kamu kuberikan kewajiban sebagai raja yang menangani urusan di luar negara. Yang saya maksudkan adalah, Sadewa, melakukan hubungan ketatanegaraan denga raja raja diluar Mandaraka. Sedangkan Nakula, lakukan penggalangan dengan raja raja jajahan yang ada dalam lingkup Negara Mandaraka”.
“ Menjadi raja itu sebenarnya tidaklah mudah tetapi juga tidak sulit. Tetapi ibarat orang yang hendak bepergian, ia haruslah membawa bekal yang cukup. Bila selayaknya orang yang bepergian dengan arti yang sebenarnya, cukuplah dengan bekal uang dan barang barang tertentu. Tetapi bila berbicara mengenai bekal bagi orang yang hendak menjadi pemimpin negara, haruslah kamu berdua memiliki sedikitnya empat hal yang harus kamu berdua kuasai”.
“Uwa Prabu, kami akan mendengarkan segala petuah yang hendak paduka berikan kepada kami berdua”, keduanya mengatakan kesanggupannya.
“Pertama, pujilah Asma yang Maha Agung atas kekuasaannya terhadap alam semesta. Mengertilah, bila kamu menjumpai sesuatu yang ada, pastilah ada yang menciptakan. Pencipta itu langgeng namun yang diciptakan akan rusak atau berganti oleh berlalunya waktu. Ikuti perubahan yang terjadi dan janganlah tetap tinggal dalam sesuatu yang tidak langgeng. Bergeraklah dalam perubahan bila tidak ingin terlindas oleh perubahan itu. Maka benarlah sebagian orang mengatakan perubahan itulah, langgeng yang sebenarnya.”.
“Kedua, lakukan tata cara bersembah, menurut tata cara yang telah digariskan atas kepercayaan masing masing. Jangan pernah memaksa tata cara dan kepercayaan lain yang sudah mereka anggap benar. Tetapi tegakkan terlebih dulu tata cara bersembah yang telah menjadi kepercayaanmu itu. Dan hendaknya kamu berdua jangan mengatur segala hal mengenai kepercayaan secara resmi dalam negara. Dengan keresmian pembentukan wadah kepercayan kepada yang Maha Tunggal oleh negara, ini akan mengakibatkan kapercayan yang telah terbentuk oleh negara akan menguasai dan bertindak sewenang wenang atas kepercayaan kelompok kepercayaan kecil yang lain. Awasi saja agar kepercayaan itu tumbuh dengan kewajaran dalam jalur yang lurus, tidak saling mengalahkan atas kebenaran menurut kepercayaan masing masing. Ciptakan kebebasan terhadap setiap pribadi dalam menentukan kepercayaan yang dipilih. Katakan kepada setiap pribadi dan golongan; jangan kalimat dalam kitab suci mereka, dipahami secara sempit, hingga mereka terkungkung oleh langit yang mereka ciptakan sendiri dari ajaran yang dianut”.
“Ketiga, pahami kebenaran sejati. Jangan pernah menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain dan jangan menyalahkan juga kebenaran yang sudah menjadi kepercayaanmu sendiri. Bila kamu senang menyalahkan kebenaran yang dianut orang lain apalagi kelewat mengatakan kepada pihak lain, bahwa kebenaran yang paling benar adalah kebenaran yang kau anut, maka mereka yang kau katai akan kembali menyalahkan kebenaran yang kau anut. Tentu kamu sudah tahu apa akibatnya”.
“Bila itu yang kau lakukan, maka kamu sudah bersifat Adigang, Adigung dan Adiguna. Sifat yang dimiliki oleh watak tiga binatang, yaitu; Adigang, sifat atau watak kijang, Adigung, watak seekor gajah dan Adiguna watak ular. Kijang yang menyombongkan dirinya dengan mengandalkan kecepatan larinya. Gajah yang mengandalkan dirimya yang paling besar dan kuat sedangkan ular yang sombong mengandalkan bisa atau racunnya yang mematikan. Bila sifat itu yang kamu majukan dalam menata negara, itu seperti halnya kamu tidak akan dapat menata negara dengan berlandaskan rasa keadilan. Kedilan yang sebenar benarnya adil dan dapat dirasakan oleh orang banyak adalah, tetaplah dalam perilaku yang berlapang dada terhadap perbedaan dan mengertilah akan rasa peri kemanusiaan”.
Nakula dan Sadewa yang mendengarkan petuah uwaknya tetap ditempat bagai terpaku pada lantai sanggar. Keduanya hanya duduk tertunduk dan mengangguk kecil bila sang uwak memandangnya meminta apakan ia memahami apa yang dikatakannya.
“Dan keempat, tetaplah selalu mencari ilmu dan pengetahuan yang selalu baru. Bisalah kamu berdua menyatukan antara ilmu dan pengetahuan. Orang yang menguasai imu itu sebenarnya bagaikan manusia yang berjalan dalam pekat malam namun diterangi dengan sinaran yang cukup terang, atau orang yang berjalan dalam licin namun ia bertongkat. Dan ilmu itu sejatinya berkuasa mengurai sesuatu barang atau keadaan yang kusut. Ilmu itu harus kamu jalankan atas landasan budi pekerti yang luhur. Orang yang berilmu dan berpengetahuan tinggi, akan menghancurkan sesamanya bila tidak berjalan diatas landasan budi pekerti yang luhur. Sebaliknya perilaku luhur budi yang didorong oleh ilmu pengetahuan akan menciptakan tata dunia yang tentram tertib dan adil ”.
Sampai disini Prabu Salya diam dan memandang kembali kedua kemenakannya. Yang dipandang hanya mengangguk tanda mengerti.
Lanjutnya “Sedikitnya empat hal inilah yang kamu harus penuhi ketika kamu menjadi raja.“Sekarang kembalilah. Kembalilah ke pesanggrahan Hupalawiya. Terang tanah yang sebentar lagi datang, aku sudah akan datang kembali ke medan Kurukasetra sebagai seorang senapati perang”.
“Baiklah Uwa Prabu, kami berdua undur diri, hendaklah kejadian nanti di Medan Kuru tidaklah menjadi timbulnya dosa baru bagi kami sendiri atau Para Saudara kami Pandawa nanti”. Serempak keduanya memohon diri setelah dianggap cukup semua peristiwa yang akan menentukan masa depan keduanya, uwaknya Prabu Salya serta saudaranya Para Pandawa.
“Ya, ya anakku, semoga semua akan berjalan baik. Puja keselamatan aku panjatkan kepada yang Maha Adil untuk kejayaan Para Pandawa”.
Undur diri Nakula dan Sahadewa dengan perasaan campur aduk. Kebesaran hati sang uwak telah mengusik ketidak tegaan kemenakannya. Terpikir bagaimana saudara saudaranya harus menyingkirkan rasa tega terhadap orang tua yang sebenarnya tidak condong dalam mengayomi Para Kurawa, walau uwaknya itu telah menyatakan kesanggupannya menyerahkan jiwa untuk kemenangan Para Pandawa.
Prabu Salya yang ditingalkan oleh kedua kemenakannya segera beranjak dari Sanggar Pemujaan. Ia teringat dengan kewajibannya bahwa hari ini harus segera kembali ke medan Kurukasetra. Ketika ia menengok kedalam tilam sari, dilihatnya istrinya Dewi Setyawati masih tertidur pulas memeluk guling. Termangu Prabu Salya memandang tubuh istrinya yang tergolek bagai boneka kencana. Ragu dalam hati Salya meninggalkan tempat istrinya berbaring diam dengan tarikan nafas yang teratur. Tetapi ia segera menetapkan diri akan kewajiban dan kesanggupannya terhadap menantunya, Prabu Duryudana. Tanpa membuang waktu lagi, bergegas ia berganti busana pamujan ke busana keprajuritan. Diperhatikan pusakanya seksama dengan perasaan yang tidak menentu.
Berangkatlah Prabu Salya dengan tanpa pamit dengan istrinya. Namun perasaan bersalah menghentak dalam dadanya. Ia telah meninggalkannya dengan sembunyi-sembunyi. Sepucuk surat telah ia letakkan di sisi pembaringan.
Kereta yang ditumpangi Prabu Salya yang melaju pesat di dini hari yang masih berembun. Semilir angin pagi yang menusuk tulang namun memberi kesegaran baru. Segala yang dilalui seakan akan bergerak cepat kearah belakang bagai scene cerita yang berkeradapan bingkai demi bingkai. Gambaran masa lalu, ketika ia pertama kali ketemu dengan istri tercintanya, Setyawati. Tidaklah mengherankan bahwa masa lalu itu terlintas, kegalauan hati masih berkecamuk ketika ia meninggalkan sang istri, telah membawanya mengenang masa lalu ketika dirinya masih muda.
Bingkai gambar itu dimulai saat pertama kali tatapan mata Salya muda itu saling bertumbuk dengan sinar mata Endang Pujawati, nama muda Setyawati.
Kejadian di Pertapaan Argabelah ketika dirinya tersuruk suruk meninggalkan kerajaan Mandaraka, setelah diusir oleh ayahndanya, Prabu Mandrakesywara.
Ayahnya yang kecewa dengan perintah kepada dirinya agar segera menikah telah ditolaknya dengan halus. Permintaan itu disodorkan oleh ayahnya waktu itu, agar ketika ayahndanya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, maka dirinya sudah bertaut dengan seorang wanita. Namun dirinya yang waktu itu masih bernama Narasoma, mengajukan syarat, bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang serupa persis dengan ibunya. Ayahnya yang salah memahami permintaan dirinya akhirnya mengusir dirinya hingga terlunta lunta sampai di Pertapaan Argabelah.
Tumbukan sinar mata di pertapaan Argabelah itu telah memercikkan api dan mengobarkan asmara keduanya. Maka ketika Endang Pujawati pun terbakar api itu, diseretnya sang ayah, Begawan Bagaspati, untuk menemui dirinya. Terperanjat dirinya waktu itu, ketika melihat ayah Pujawati yang ternyata berujud seorang raksasa. Dalam hati bergolak sebuah pertanyaan, benarkah Pujawati, wanita dengan sejuta pesona, berayah seorang pendeta raksasa? Tetapi pertanyaan ketidak mungkinan itu ditepisnya sendiri. Seketika akalnya berputar, bagaimana caranya memetik “bunga cempaka mulia indah nan mewangi, tetapi ditunggui oleh seekor buaya putih”. Apa kata ayahnya bila ia berbesan dengan seorang raksasa?!
“Pujawati, inikah satria yang kau katakan telah mempesonamu?” Begawan Bagaspati menanyakan kepada anaknya. Namun pertanyaan itu hanya basa basi saja. Dalam kenyataannya Begawan Bagaspati telah mengetahui apa yang sedang terjadi pada keduanya. Maka tanpa menunggu jawaban ayahnya, Begawan Bagaspati menanyakan kepada Narasoma.
“Raden siapakah andika sebenarnya?” Sapa Bagaspati.
“Heh Pendeta Raksasa, siapakah namamu?”, Sifat tinggi hati Salya muda tak mau kalah.
“Ooh tidak mau mengalah rupanya satria ini. Baiklah, namaku adalah Begawan Bagaspati. Sedangkan siapakah nama andika, Raden?” Tanya Bagaspati kembali.
“Akulah anak Raja Mandaraka, Prabu Mandrakesywara. Namaku Narasoma”. Kata Narasoma waktu itu dengan muka tengadah. Dirinya tak memungkiri bahwa dimasa muda, berwatak degsura. Namun dilain pihak Begawan Bagaspati seakan terhenyak. Mandrakesywara adalah salah seorang saudara seperguruannya, bertiga bersama seorang saudara seperguruan yang lain, yang bernama Begawan Bagaskara yang juga berujud seorang raksasa. Namun ia tak mengatakana sesuatau apapun. Sifat Narasoma dan alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, menuntunnya untuk tidak mengatakan sedikitpun mengenai jati dirinya.
“Raden, perkenankan andika menyembuhkan sakit yang diderita oleh anakku ini”. Bagaspati menjelaskan.
“Lho, kamu itu seorang pendita, yang pasti memiliki segala ilmu agal alus. Tidakkah kamu dapat menyembukan penyakit anakmu sendiri?”
“Tapi penyakitnya adalah penyakit asmara, Raden. Hanya seorang yang dapat menyembuhkan penyakit itu kecuali andika Raden. Bersediakah Raden mengobati anakku?”. Bagaspati berterus terang dengan bahasa halus. Tanyanya mengharap.
Sepercik sinar telah menerangi akal pikiran Narasoma ketika itu. Terbuka kesempatan bagaimana cara melenyapkan duri yang menghalangi hubunganku dengan wanita yang menjadi pujaan hati. “Baiklah, aku mempunyai syarat agar putrimu dapat sembuh dari sakit itu. Syaratnya kamu harus menjawab teka teki dariku. Sanggupkah?”
Utang Piutang Narasoma - Bagaspati
“Silakan Raden memberi teka teki kepadaku. Akan kujawab semampuku, bila aku tahu jawabannya”. Begawan Bagaspati adalah seorang Pendeta yang sudah tak lagi samar dengan polah tingkah manusia. Ia adalah manusia sakti yang mengetahui setiap keadaan didepan dengan penglihatannya yang tajam berdasarkan getar isyarat dan gelagat yang ia terima. Meskipun demikian ia masih juga ingin melihat dengan seutuhnya getaran itu dengan lebih jelas. Maka ia masih tetap ingin mendengarkan langsung kata teka teki dari mulut Narasoma.
“Ini teka-teki ku, dengarkan baik baik. Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu. Namun ternyata didekat bunga mekar itu, terdapat seekor buaya putih yang sedang menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka itu, bila buaya putih penunggu telah terbunuh”.
Sampai disini Begawan Bagaspati menarik nafas panjang. Ia sudah mengetahui maksud dari teka teki yang diberikan oleh Narasoma. Maka katanya kepada Pujawati, “Raden, tidak usah kau teruskan teka teki itu hingga selesai. Aku sudah dapat menebak teka teki itu. Pujawati, pergilah ke sanggar pamujan, siapkan segenap perangkat upacara kematian. Bentangkan selembar mori putih dan kekutug kemenyan beserta mertega sucinya. Segeralah anakku Pujawati”.
Seketika tercekat kerongkongan Pujawati. Kegelisahan telah merayapi jantungnya, namun ia masih saja meminta keterangan kepada ayahnya.
“Untuk apa dan siapa yang hendak diupacarai, Bapa?” Gemetar suara Pujawati.
“Sudahlah nanti kamu juga akan tahu sendiri. Bukankah engkau menghendaki Narasoma menjadi kekasih hatimu? Inilah syarat yang harus kamu sediakan dalam menjawab teka teki dari calon suamimu, Pangeran Pati Mandaraka, Raden Narasoma. Segeralah kamu lakukan apa permitaanku Pujawati”.
Dipandangnya Pujawati dengan sinar mata yang seakan menyihir Pujawati agar segera meninggalkan keduanya.
Sebagai anak yang selalu patuh, Pujawati mohon diri disertai pandangan Narasoma yang terpesona dengan tingkah dan kecantikannya. Dilain pihak Pujawati lengser dengan dihinggapi perasaan yang amat gundah.
Sepeninggal Pujawati, Begawan Bagaspati melangkah lebih dekat ke depan Narasoma. Kemudian ia mengatakan “Raden Narasoma, calon menantuku yang bagus, aku tidak samar dengan apa yang kau maui dengan teka teki yang kau ucapkan. Baiklah, aku akan meminta syarat bila menghendaki Pujawati sebagai istrimu”.
“Katakan Begawan, tentu aku akan kabulkan semua persyaratan yang kau ajukan”. Narasoma penuh percaya diri menyanggupi.
“Bila nanti kamu sudah beristrikan Pujawati, cintai dia dengan sepenuh kasih sayang. Janganlah kau perlakukan anakku dengan sia sia, walaupun ia hanya seorang anak perempuan gunung yang jauh dari suba sita dan kekurangan tata pergaulan kerajaan. Selanjutnya, bila nanti kamu sudah kembali ke Mandaraka, tidak urung nanti kamu akan menggantikan kedudukan ayahmu, Prabu Mandrakesywara. Walaupun kamu berwenang untuk mengambil selir seberapapun banyaknya, tetapi hendaknya engkau tetap setia dengan seorang Pujawati saja. Peganglah teguh janjimu bila tidak ingin menemui petaka”.
“Persyaratan yang mudah. Baiklah begawan, sekarang katakan jawaban atas pertanyaan teka-teki itu”. Jawab Narasoma, masih terbawa oleh pesona terhadap kecantikan seorang wanita. Maka segalanya mudah saja baginya menyangupi. Tetapi sesaat kemudian kembali Narasoma mengungkit tentang pertanyaan teka teki yang belum terjawab. Pertanyaan yang sebenarnya mudah jawabannya bagi seorang Bagaspati.
“Jawabannya gampang gampang susah. Gampang untuk mengucapkan dengan lidah, tetapi tidak gampang menyelesaikan dengan tindakan. Begini bagus Narasoma, kumbang jantan yang kau maksud disini adalah dirimu itu. Sedangkan rasa lapar pada si kumbang dan ingin menghisap madu itu adalah, rasa asmara yang tak tertahankan. Kembang cempaka mulya disini diartikan sebagai anakku Pujawati. Tidaklah samar lagi, siapa yang kau sebut sebagai buaya putih penunggu kembang cempaka, itu adalah aku sendiri”. Sejenak Begawan Bagaspati diam. Diamati raut wajah Narasoma yang tegang dan memendam gejolak pada matanya. Lanjut Begawan Bagaspati.
“Penjelasannya adalah, kamu kepengin menyunting anakku Pujawati, tetapi dirimu malu mempunyai mertua semacam aku ini. Maka kamu menginginkan, agar aku disingkirkan dari madyapada ini, agar kamu tidak mendapat malu didepan orang tuamu. Itukah yang kau maksud dengan teka teki itu, raden?”
Getaran hebat menjalari seluruh jantung Narasoma. Walaupun perumpamaan itu sudah yakin akan dijawab dengan mudah oleh Begawan Bagaspati, namun tak urung ia terjerumus dalam jurang rasa salah yang teramat dalam. Setelah diredam rasa itu dengan segala kekuatannya ia menjawab dengan gemetar; “Aduh Panembahan, benar tanpa sedikitpun yang tertinggal. Namun aku memintakan seribu maaf atas keinginanku yang sedemikian itu. Aku tidak ingkar, itulah sejatinya maksud dari teka teki itu”.
Sedikitpun tak ada raut marah atau kecewa Begawan Bagaspati terbayang diwajahnya Bahkan ia mengatakan kepada Narasoma, “Aku tidak kecewa dengan apa yang menjadi kehendakmu. Tetapi sungguhkah persyaratanku atas keinginanmu menyunting anakku dapat kau pegang teguh?”
“Ya, aku berjanji untuk memegang teguh persyaratan yang kau minta”. Serta merta Narasoma menjawab terdorong keterkejutan karena sikap Bagaspati yang dialaminya.
“Baiklah lega rasanya hati ini. Menantuku yang tampan, perkenankan aku menyebutmu menantuku sekarang. Tak ada waktu lagi kedepan aku menyebutkan kau sebagai menantuku, karena aku telah mengiklaskan jiwaku sekarang. Lekaslah agar tidak membuang waktu, segeralah cabut pusakamu, tancapkan ke dada ini”.
“Maafkan aku rama Begawan, semoga semua yang aku lakukan kalis dari semua dosa dosa”. Narasoma mencoba menjawab sambil tetap meredam getar di dada.
Maka keris pusaka Narasoma telah dihunus. Dipandangnya sejenak keris pusaka yang selama ini tak pernah mengecewakan dirinya. Tetapi ketika keris itu menyentuh dada Begawan Bagaspati, keris pusaka itu bagai menumbuk lembaran baja yang begitu tebal. Berdentang memercikkan api, ujung keris yang menerpa dada Begawan Bagaspati, tetapi segores lukapun tak nampak pada dada Sang Begawan. Tetapi tidak kalah kaget begawan Bagaspati dengan kegagalan yang dialami oleh Narasoma.
Dengan murka Narasoma berkata. “Heh Begawan Bagaspati, ternyata ucapanmu tidak lahir terus ke batinmu. Janjimu hanya sebatas sampai ke bibir saja, tidak terus ke hatimu. Kenapa kamu tidak juga merelakan jiwamu? Malah kamu mempertontonan kesaktianmu!”
“O o o . . . , Sabar Raden, ada suatu yang terlupa. Didalam tubuhku masih terpendam ajian yang dinamai Aji Candabhirawa. Ujudnya hanyalah manusia kerdil berwajah raksasa, tetapi bila ia dilukai oleh senjata, maka ia akan bertambah jumlahnya menjadi seratus. Bila mereka dilukai kembali, mereka akan berlipat jumlahnya menjadi seribu dan seterusnya. Ajian ini akan sekalian aku serahkan kepadamu dengan syarat kamu harus memelihara Candabirawa dengan sebaik-baiknya”.
“Ya, Baklah, rama Begawan, aku akan menerima segala yang kau kehendaki. Katakan syarat itu.”
“Sebentar aku hendak semadi, untuk menyuruh Candabhirawa keluar dari dalam hatiku”.
Beberapa saat Begawan Bagaspati mengatupkan tangannya, terpejam mata dalam khusuknya tepekur, menguncupkan empat panca indera, hanya indera perasa yang ia kerahkan dengan tajam. Sesaat terloncat ujud manusia kerdil dengan wajah yang menakutkan! Itulah Candabhirawa!
Mencium kaki seketika Candabhirawa dengan takzim. Kemudian ia menanyakan “ Oooh Begawan . . , ada apakah gerangan, hamba disuruh keluar dari gua garba paduka Sang Resi?”
“Sudah sampai waktuku untuk aku pergi ke keabadian sejati. Untuk itu sudah aku sediakan sosok pengganti untuk kamu mengabdi. Lihat, siapakah yang berdiri didepanmu. Itulah sosok yang akan kau huni sebagai penerus dari kejayaan Candabhirawa”.
Namun terbayang kekecewaan Candabhirawa, ketika ia melihat sosok yang dilihatnya. Sosok yang dilihatnya menyiratkan manusia yang kurang melakoni tindak prihatin. Sosok yang lebih mementingkan kesenangan pribadi belaka dan terkesan sombong. Maka dengan memelas ia mengatakan kepada Bagaspati.
“Aduh Bapa Resi, bisakah hamba ikut Bapa untuk selama lamanya? Hamba melihat hal yang berbeda dari pada yang biasanya hamba alami ketika bersama dengan kebiasaan Bapa Begawan. Yang aku lihat pada sosok itu tidaklah akan membuat aku betah tinggal pada raganya” meratap Candabirawa dikaki Sang Begawan. Begitu kecewa ia membayangkan perpisahan dengan Bagaspati.
“Raden! Raden sudah mendengar sendiri keluhan dari Candabirawa. Maka bila raden berkenan untuk diikuti oleh Candabhirawa bersama dengan kesaktiannya yang tiada tara, maka Raden harus berjanji sekali lagi untuk menyanggupi permintaan Aji Candabhirawa”.
“Akan aku penuhi perminatanmu Begawan, dengan segala kemampuan yang ada padaku. Apakah permintaannya?”
“Candabhirawa akan lapar, bila raden kenyang. Candabhirawa akan sedih bila Raden senang senang berlebihan dan segala sesuatu akan terbalik bila Raden merasakan kenikmatan yang berlebihan. Sanggupkah Raden hidup dalam suasana yang serba sederhana?”
“Baik, aku bersedia! Hendaknya bumi dan langit menjadi saksi.” kembali Narasoma mengucap janji.
“Sekarang ulangi lagi apa yang sudah Raden lakukan tadi. Segeralah, mumpung Pujawati belum kembali”. Sinar mata Begawan Bagaspati menerobos dinding hati Narasoma yang sedang terguncang menerima peristiwa yang datang secara bertubi tubi. Maka tanpa berpikir panjang, kembali keris pusakanya dicocokkan ke dada Begawan Bagaspati. Tak ayal lagi percobaan kedua ini telah berhasil. Tembus dada raksasa Bagaspati. Darah menyembur dari luka Begawan Bagaspati, bergetar seluruh tubuh sang Begawan. Tetapi ia tewas sesaat kemudian dengan bibir tersenyum puas.
Rasa bersalah yang berusaha ia tepiskan tak segera pergi. Gemetar tangannya yang masih menggenggam kerisnya, hingga ia tidak dapat melakukan apapun. Ia masih berdiri termangu mangu, hingga ia dikejutkan dengan suara yang menyapanya.
“Narasoma menantuku, aku titipkan anakku Pujawati sesuai dengan janjimu. Hingga nanti bila perang besar tiba dan kau jumpai senapati yang berdarah putih, pada saat itulah aku hendak menjemputmu bersama sama dengan anakku Pujawati. Aku akan menunggu di alam madya, hingga waktu itu tiba”. Terkesiap Narasoma ketika terdengar suara itu.
Tetapi seketika angan Salya buyar oleh suara gemuruh prajurit yang menunggu kedatangannya hingga siang hari di medan Kuru. Ya, kedatangan Salya di Tegal Kuru itu telah terlambat. Matahari di hari itu telah menuntaskan basah embun sedari lama.
Pada saat yang sama, kesiangan Sang Dewi Satyawati terbangun dari mimpi indah, ketika sinar matahari menerobos celah jendela kamarnya. Geragapan Sang Dewi membenahi pakaiannya yang kusut, menyisir rambunya dengan jari. Tatapan matanya seketika tertuju pada sepucuk surat yang tergeletak di pembaringan. Dibacanya dengan seksama surat itu yang menyatakan ia telah pergi kembali ke Kurusetra dan telah diserahkan negara Mandaraka kepada kemenakannya Nakula dan Sadewa.
Setengah teriak ia memanggil Endang Sugandini, saudara dekat putri dari Begawan Bagaskara. Endang Sugandini telah menjadi kawan setia Setyawati sejak ia dikalahkan oleh Prabu Salya dan diruwat dari ujudnya semula, raseksi bernama Tapayati, emban Prabu Kurandageni dari negara Girikedasar.
Yang dipanggil buru-buru datang. Yang dijumpainya, sedang menangis tersedu, “Sugandini, tenyata malam tadi adalah malam yang penuh kenangan. Aku sudah merasa bahwa malam tadi adalah malam terakhir bagi aku bersama kanda Prabu Salya. Sugandini aku akan pergi menyusul Kanda Prabu ke peperangan”.
“Kusumaratu, hamba tidak mau paduka pergi seorang diri. Hamba akan ikut bersama paduka kemedan Kuru”.
Sementara itu di Pandawa Mandala Yudha, Nakula dan Sadewa telah kembali dari Mandaraka. Telah diceritakan dengan lengkap apa yang terjadi sepanjang lepas tengah malam hingga ia tiba kembali di Pesanggrahan Hupalawiya. Setelah semuanya menjadi jelas bagi Prabu Kresna, ia membuka pembicaraan penting dengan Prabu Puntadewa.
“Sudah tiba waktu yang dijanjikan paman Prabu Salya, dinda Puntadewa!”.
“Apakah yang kanda Kresna maksudkan?” Tanya Prabu Puntadewa.
“Dinda, sudah saatnya dinda maju menjadi Senapati, menandingi senapati Kurawa, Paman Prabu Salya”.
“Kanda hamba tidak ingin lagi melihat mengalirnya darah yang tertumpah dari dada orang-orang tua kami yang hamba hormati”. Kembali Kresna melihat sifat asli dari Prabu Puntadewa.
“Tetapi ingatlah, berkali kali sudah kanda katakan, perang ini bukan lagi tempat untuk berbakti antara orang muda terhadap orang yang lebih tua, tetapi perang yang terjadi adalah perang yang berdasar atas keutamaan dan berpayungkan atas keadilan”. Jurus pertama Kresna ajukan dalam membujuk Prabu Puntadewa untuk mau maju sebagai senapati.
“Bila begitu kanda, kanda Prabu telah menentukan bahwa Uwa Prabu Salya adalah orang yang tidak berlaku adil. Dimanakah letak ketidak adilan yang terdapat pada diri Uwa Salya”. Jawab Prabu Puntadewa tenang.
“Tidakkah dinda melihat, bahwa Prabu Duryudana adalah sosok yang melakukan tindak angkara. Tetapi dinda lihat sendiri, paman Prabu Salya tetap membela tingkah pakarti yang dilakukan oleh kanda Duryudana”. Terus mendesak Kresna untuk meyakinkan Prabu Puntadewa.
“Tetapi hamba tidak bisa mengatakan bahwa Prabu Salya tidak bertindak adil. Mestinya kanda Prabu Kresna tahu, bahwa kanda Prabu Duryudana adalah salah seorang dari menantu Prabu Salya. Bila ada seorang mertua yang membela menantu, apakah ini bisa desebut salah” Prabu Puntadewa menjawab.
“Benar disatu sisi tapi tidak benar disisi yang lain. Memang benar bahwa Prabu Duryudana adalah menantu pada garis kekeluargaan. Tetapi dalam sisi kebenaran semesta, tindakan Prabu Salya adalah salah. Prabu Duryudana yang tidak bertindak dalam garis kebenaran, tidak selayaknya dibela oleh Paman Prabu Salya. Tidakkah dinda ketahui siapa yang seharusnya memiliki bumi Astina. Mestinya bukankah dinda Puntadewa?!”. Kresna masih ngotot merayu Prabu Punta.
“Tetapi kanda, saya sudah merelakan hal itu. Biarkan kanda Prabu Duryudana tetap menikmati manisnya madu yang terkulum. Perang Baratayuda dimualai bukan atas kemauan hamba, diakhiri sekarangpun juga bukan kemauan hamba”.
Krena menghela nafas panjang. Sulit sekali merasakan bagaimana ia harus menundukkan hati manusia yang begitu kukuh dalam memegang kesucian. Namun sejenak kemudian, rayuannya kembali mengalun, “Dinda, ini adalah perang Baratayuda. Yang sudah banyak memakan korban bukan saja dari prajurit kecil, tapi sudah meluas mengorbankan para orang orang tua kita dan anak anak kita yang harus kita lindungi dan orang yang seharusnya kita beri kemukten. Bila dahulu sewaktu peprangan dimulai dinda diam saja, sekarang begitu sudah banyak makan korban dengan mudahnya dinda hendak menghentikan. Mengapa pada awal pecah perang dinda diam saja”.
Masih dengan tenang Puntadewa menjawab, “Bila dulu hamba diam saja, itu tidak berarti hamba setuju. Tapi apalah saya ini, bila saudara kami yang empat sudah mempunyai kemauan yang tak dapat dihalangi, maka peristiwa yang seharusnya terjadi itu terjadilah. Biarlah semua orang didunia mengatakan, bahwa Puntadewa adalah seorang raja yang tidak teguh dalam menjalankan negara, dan tidak becus dalam memimpin adik adiknya. Hamba adalah orang yang siap untuk diberi cap sebagai raja yang pantas untuk dicela, tidak bisa dijadikan tauladan. Hamba menjadi raja bukan atas kemauan hamba, dan semua pengaturan tata negara sudah hamba berikan kepada saudara kami yang empat”.
Diam, suasana balairung kembali sunyi. Kresna setengah putus asa. Akhirnya ia berkata kepada Werkudara, “Werkudara, bisakah kamu memberi usulan bagaimana kakakmu itu bisa maju menandingi senapati Astina paman Prabu Salya?”.
“Hlaaa, jangankan aku. Yang sebagai adiknya. Kamu sendiri yang selalu menjadi tempat untuk mengurai kekusutanpun, tak lagi diturut omongannya!” . Jawaban Werkudara tidak membuat Kresna puas.
“Arjuna, kamu tentunya bisa memberikan sumbang saran?”. Pertanyaan Kresna beralih ke Arjuna.
“Aduh kanda, hamba yang sebaga saudara muda, apalah daya yang hamba miliki kanda Kresna”.
“Dimas Nakula Sadewa, bagaimana?” Kresna menanya kepada kembar dengan jawaban yang sudah ia perkirakan.
Yang disebut namanya hanya saling pandang.
“Jadi bagaimana Werkudara?” Kembali pertanyaan ditujukan kepada Werkudara.
“Baiklah, kanda Puntadewa. Bila sudah tidak ada rasa memiliki adik adikmu ini. Sekarang aku dan saudaramu yang empat akan melakukan bakar diri”.
“Silakan dinda. Tetapi setahuku, orang yang hendak bunuh diri dengan mengatakan kepada orang lain, itu biasanya perbuatan yang tidak sungguh sungguh”.
Jawab Puntadewa. Kresna yang mendengar jawaban Puntadewa tersenyum kepada Werkudara penuh arti.
“Kresna, aku sudah tidak sanggup!” keluh Bima seenaknya.
Kesunyian kembali menggenang, keputus asaan Kresna membuat ia tak kuasa untuk memutar otak yang seakan kusut. Tapi tiba tiba Puntadewa berkata, “Kanda, bila hamba diminta menjadi senapati menandingi senapati dari Astina hamba sanggup, tetapi hamba harus tetap kalis dari dosa. Hamba sanggup melakukan itu bila jaminan itu ada, kanda”.
Terang pikiran Prabu Kresna seketika mendengar kalimat kalimat yang tak terduga meluncur dari bibir Prabu Punta. Maka dengan sepenuh hati ia meyakinkan keinginan yang tertuang dari hati Prabu Puntadewa. “Baiklah dinda, saya pastikan dinda akan tetap suci dan tidak terlumuri dosa, bila yang memerintah paduka adalah Sang Hyang Wisnu. Lihatlah dinda, kanda akan memperlihatkan diri dalam bentuk Wisnu, dan dengarkan apa yang pukulun Sang Hyang Wisnu hendak katakan”.
Perlahan Prabu Kresna memuja semedi, dikerahkan kekuatan untuk membuka pintu batinnya dan mampu memperlihatkan kesejatian dirinya dalam rupa Batara Wisnu. Telah tercapai maksudnya, berkata ia kepada Prabu Puntadewa, “Heh titah ulun Puntadewa, hendaknya kamu segera maju ke medan perang. Tandingi kekuatan Prabu Salya dengan sarana Pusaka Jamus Kalimasadda. Lepaskan pusakamu untuk menyirnakan jasad Prabu Salya”.
Tersenyum Kresna ketika ia telah berhasil membujuk Prabu Puntadewa. Canggung gerak Prabu Puntadewa ketika menaiki kereta dengan sepasang kuda perang putih dengan didampingi oleh Nakula dan Sadewa. Sedangkan Arjuna dan Werkudara pun tidak mengambil jarak yang cukup jauh dalam menjaga keselamatan kakak sulungnya.
Sementara di padang Kurusetra, amuk Prabu Salya seakan tak terbendung. Berbagai macam senjata telah mengenai sosok Prabu Salya, namun tak satu senjata yang mampu melukai kulit Sang Senapati.Tak diketahui orang yang sedang berada di peperangan, Sukma Sang Bagaspati melayang menunggu saat yang ditunggu tunggu. “ Salya menantuku, sekarang sudah saatnya bagiku untuk menjemput kamu. Narasaoma, aku tidak membenci kamu walaupun kamu telah membunuhku. Tapi kehendakku, belum akan kembali ke tepet suci bila tidak bersama dengan anak dan menantuku. Nah sekarang lah waktunya. Aku akan menyatu dalam tubuh Puntadewa. Salya tunggu kedatanganku”. Melayang sukma Bagaspati menyatu dalam diri Prabu Punta.
Ketika melihat kedatangan Puntadewa yang menaiki kereta itu, hatinya tercekat. Ia sudah merasa terdapat aura aneh yang terpancar pada diri lawannya.
Salya Gugur
Semakin dekat Prabu Puntadewa, semakin berdebar jantung Prabu Salya. Firasatnya mengatakan inilah saat yang ia janjikan. Namun kemudian Prabu Salya teringat kembali akan keberadaan ajiannya yang diturunkan oleh mertuanya, Begawan Bagaspati. Aji Candabirawa.
Sejurus kemudian dipusatkannya segenap rasa dalam pamuja, meloncat dari goa garba ujud mahluk bajang berwajah raksasa. Itulah Aji Candhabhirawa!
“Raden Narasoma, hendak menyuruh apa kepadaku, Raden?!” Tanya Candabirawa.
“Sekali lagi aku meminta kerjamu. Lihat didepanku, dialah musuhku, Prabu Puntadewa. Bunuh dia!” Tanpa membantah, Candabirawa segera berlalu dari hadapan Prabu Salya. Ia kemudian mengamuk sejadi jadinya kearah para prajurit pengawal Prabu Puntadewa. Sementara Prabu Puntadewa sendiri telah rapat dijaga oleh para prajurit dan Arjuna serta Werkudara. Terkena senjata para prajurit yang terbang bagaikan gerimis yang tercurah dari langit, Candabirawa membelah diri. Menjadi sepuluh, seratus, seribu dan tanpa hitungan lagi yang dapat terlihat. Geger para prajurit Hupalawiya lari salang tunjang melihat kejadian disekelilingnya yang begitu nggegirisi. Kresna segera bertindak menghentikan rangsekan musuh dalam ujud mahluk kerdil yang begitu menyeramkan itu. Perintah Kresna untuk bertindak tanpa melawan amukan Candabirawa disebarkan ke seluruh prajurit yang segera menyingkir.
Ketika serangan berhenti, maka para mahluk kerdil itupun ikut terhenti, saling berpandang dan termangu mangu sejenak. Sebagian lagi larut menjadi semakin sedikit. Tetapi tak lama kemudian mereka bergerak kembali kearah dimana Prabu Puntadewa berada. Ketika sudah dekat jarak antara para manusia kerdil itu, tiba-tiba gerombolan itu berhenti mendadak. Mereka kemudian saling berbisik. “Heh teman temanku semua, kita sudah memperbanyak diri. Tapi begitu aku melihat ke arah Prabu Puntadewa, kelihatan olehku disitu bersemayam sesembahanku yang lama, Begawan Bagaspati. Teman, kita telah lama merasakan lapar dan capek ikut Prabu Salya yang kurang memperhatikan kita, terbawa oleh kesenangan yang ia jalankan sehari hari. Prabu Salya kebanyakan bersuka ria dari pada melakukan olah penyucian diri. Akan lebih baik bila kita ikut kepada sesembahan kita yang lama! Mari kawan semua, kita kembali ke haribaan Begawan Bagaspati”.
Bagai arus bah mengalir, para mahluk kerdil berwajah raksasa segera larut dalam raga Prabu Puntadewa. Peristiwa ajaib yang dilihat Prabu Salya membuatnya jantung Prabu Salya semakin berdebar. Guncang moral Prabu Salya, hingga terasa menyentuh dasar jantungnya yang terdalam. Semakin yakin ia bahwa saat yang djanjikannya telah tiba.
Prabu Puntadewa telah bersiap melepaskan panah dengan pusaka Jamus Kalimasadda yang disangkutkan pada bedhor anak panah. Busur telah terpegang pada tangan kirinya dan terutama ketetapan hati telah diambil. Tak akan menjadi dosa bila Batara Wisnu yang memerintahkan membunuh musuh.
Walau Prabu Puntadewa tidak sesering para saudaranya berolah warastra, tetapi sejatinya ia adalah salah satu murid Sokalima yang tidak jauh kemampuan olah senjata panah dibanding dengan Arjuna. Sebagaimana Arjuna yang mempunyai hati lebih tegar, maka Puntadewa sejatinya adalah pemanah jitu, baik menuju sasaran diam setipis rambut maupun sasaran bergerak secepat burung sikatan. Hatinya yang suci dan cenderung peragu-lah yang membuat ia tidak seterkenal adiknya, Arjuna, dalam olah warastra.
Maka ketika anak panah meluncur dari busurnya, tidaklah ia melakukannya untuk kedua kali. Sekali ia melepaskan anak panah kearah Prabu Salya, maka menancaplah anak panah itu kedada bidang Prabu Salya. Kulit Salya yang kebal terhadap berbagai macam senjata telah terpecah, rebah Prabu Salya!
Sakit di dada Prabu Salya tak terasakan, hanya kepuasan hati yang terasa ketika ia telah menyender di bangkai gajah. Ia telah memenuhi janji terhadap kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Janji itu telah terlaksana dengan sempurna. Senyum lemah di bibir Prabu Salya ketika menarik nafas dan menghembuskannya untuk terakhir kalinya.
Seketika perang berhenti. Prabu Punta yang tidak lagi ingin melihat tumpahnya darah segera memberi aba aba kembali ke pakuwon, sedangkan prajurit Kurawa dengan sendirinya telah mundur mencari pembesar yang sekiranya masih bisa menaungi.
Hanya Patih Sengkuni yang merasa telah putus asa telah berbuat nekad. Kenyataan yang begitu pahit seakan tidak dapat diterimanya dengan akal sehatnya. Kurawa seratus dengan bantuan begitu banyak raja seberang, telah tumpas oleh krida Para Pandawa. Dengan sesumbarnya yang mengesankan sebagai manusia yang telah kehilangan asa, ia gentayangan mengincar kematian Para Pandawa.
Patih Sengkuni adalah seseorang yang sejak kelahirannya telah ditakdirkan membawa watak culas. Kelahirannya ditandai dengan terusirnya seorang dewa dari pusat Kahyangan, Paparjawarna. Dewa yang memang memangku sifat culas yaitu Batara Dwapara. Terusirnya Batara Dwapara itu bersamaan dengan lahirnya Harya Suman, nama kecil dari Sengkuni atau Sakuni.
Putra Prabu Gandara itu telah disusupi oleh Batara Dwapara yang diperbolehkan oleh Sang Hyang Wenang untuk menitis kepada seorang anak manusia yang tertakdir sebagai tukang memanasi suasana. Maka sepanjang hidupnya, ia telah berlaku mengipas segala bentuk bara angkara sekecil apapun menjadi berkobar liar menyambar-nyambar.
Dengan tidak lebih duapuluh Kurawa yang tersisa, Harya Sengkuni mengamuk menarik perhatian Prabu Kresna dan Werkudara yang masih saja siaga menghadapi suasana yang mungkin saja terjadi.
“Werkudara! Lihat Sangkuni mengamuk! Jangan dikira ia yang bertubuh bungkuk dan lemah, dapat kamu kalahkan dengan segenap kekuatan tenagamu. Tetapi sebenarnyalah ia adalah seorang yang kebal senjata. Tetapi otakmu harus kau gunakan juga. Mungkin kamu dulu sudah ketahui, bahwa ia telah berlumurkan minyak Tala ketika cupu berisi minyak Tala peninggalan orang tuamu Prabu Pandu menjadi rebutan dan jatuh ke sumur dalam. Ketika itu Pendita Kumbayana telah berhasil mengangkat cupu itu, tetapi karena masih jadi rebutan dan minyak Tala itupun tumpah. Sangkuni telah melumuri dirinya dengan minyak Tala dengan bergulingan diatas tumpahan minyak. Tetapi ada yang terlewat, yaitu bagian duburnya. Bagian itulah yang kamu dapat jadikan sasaran awal untuk menyobek kulit dagingnya!”
Melompat Werkudara tidak sabar untuk menyelesaikan tugas di ujung sore itu. Didekati Sangkuni yang terbungkuk bungkuk sesumbar maciya ciya tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ilmu kebalnya telah membuat ia bagaikan tak ada yang bisa mengalahkannya. Lengah Arya Suman!
Dan sejumlah Kurawa yang mencoba menghadang menjadi sasaran amukan Werkudara. Mereka bagaikan laron yang masuk kedalam kobaran api. Tumpas Kurawa yang menghadang.
“Hayoh keparat Pandawa! Maju kemari bila masih bernyali melawan Harya Suman . . . . !” Belum habis kata kata Sangkuni, Werkudara telah menyambar tubuh lawannya yang memang tidak lagi gesit setelah raganya dirusak oleh Patih Gandamana. Patih Astina ketika Prabu Pandu Dewanata bertahta.
Pundak Harya Sangkuni dipegang erat, kemudian diangkat kakinya sehingga ia terbalik. Sejurus kemudian kuku Pancanaka Werkudara telah mendarat di sela sela bokong Sengkuni. Sementara kaki Werkudara telah menahan salah satu kaki Sengkuni yang satu lagi. Belah raga Sengkuni dengan jerit mengiring kematiannya.
“Werkudara, belum cukup kamu menangani raga Sengkuni. Ingat sumpah ibumu, Kunti, ketika ia telah dilecehkan olehnya, sehingga kemben ibumu melorot dan menjadi tontonan dan sorakan orang-orang Kurawa. Ketika itu ibumu bersumpah, tak akan berkemben bila tidak menggunakan kulit dari Patih Sengkuni yang telah mempermalukannya. Kuliti sekalian dinda!”
Senja telah menjelang usai gugurnya sang senapati utama, Prabu Salya. Layung senja oleh terbawa awan mendung melayang menyorotkan cahaya jingga, ketika Dewi Setyawati telah sampai di medan Kurukasetra. Berdua dengan Endang Sugandini, Dewi Satyawati seakan berenang dalam genangan darah. Sebentar sebentar ia membolak balik jenazah yang terkapar, mencari cari jangan jangan jenazah itu adalah sang suami. Sementara mendung makin tebal terkadang seleret petir menyambar menerangi walau sesaat sosok demi sosok yang ia perkirakan adalah raga Prabu Salya.
Ketika untuk kesekian kali kilat menerangi medan perang itu, Dewi Setyawati tak lagi ragu terhadap sosok yang ia perkirakan sebagai jenazah suaminya. Menjerit Dewi Setyawati memanggil nama suaminya. Dipeluk sosok yang belum lagi kering darah didadanya. “Kanda Prabu, paduka telah meninggalkan hamba. Paduka gugur sebagai tawur perang ini. Walau paduka telah tidak lagi bernyawa, namun sikap tubuh dalam gugur paduka, seakan akan melambai mengajak hamba turut serta”. Sejenak Setyawati menciumi jenazah suaminya yang sudah semakin dingin. Ditetapkannya hatinya untuk menyusul kematian suami tercintanya, “ Marilah kanda, ajakan kanda untuk pergi bersama seperti yang Paduka ucapkan semalam, tak kan kuasa hamba tolak”. Segera diraih cundrik, sejenis keris kecil yang terselip di pinggang Dewi Setyawati, tewas Sang Dewi menyusul kekasih hatinya. Sementara Begawan Bagaspati dengan senyum menjemput dan menggandeng anak dan menantunya menapaki keabadian.
Endang Sugandini yang sama sama mencari jenazah Prabu Salya tak jauh dari Dewi Setyawati segera datang menghampiri, ketika mendengar jerit saudara sekaligus temannya karibnya. Melihat Prabu Salya dan Dewi Setyawati yang keduanya saling berpeluk, terpekik. Tanpa pikir panjang segera ia juga melepas cundrik yang menancap di dada Dewi Setyawati, kemudian menyusul Salya dan Setyawati.
Sepi menguak di Kurukasetra setelah peristiwa itu. Awan mendung yang menggantung telah berubah menjadi hujan yang demikian lebat. Air hujan itu seakan telah mensucikan ketiga raga manusia yang memiliki kesetiaan tanpa cela.
Duryudana Gugur, Akhir Bharatayuda
Malam itu di Pesanggrahan Pandawa Mandalayuda, Prabu Puntadewa masih duduk di bangunan yang dirupa sebagai pendapa. Diantaranya duduk Prabu Matswapati dan Prabu Kresna.
“Eyang Baginda, tak ada rasa sedih seperti yang terjadi pada saat ini. Kemenangan demi kemenangan telah kami dapatkan hari demi hari disepanjang Perang Baratayuda Jayabinangun ini. Namun kemenangan demi kemenangan telah dibeli dengan jatuhnya tawur para saudara, orang tua, guru, dan semua orang yang sepantasnya hamba beri kemukten. Puncaknya, hari ini, tangan hamba telah mengantarkan Uwa Prabu Salya ke tepet suci. Sekecil ujud debupun, hamba tidak mengira, bahwa gerak tangan hamba ini akan menjadi lantaran perginya Uwa Mandaraka”.
Prabu Matswapati menarik nafas panjang. Apa yang dikatakan oleh Prabu Puntadewa adalah hal yang sangat dipahaminya. Sesal sekecil apapun pasti membekas di dada Puntadewa yang begitu teguh memegang kesucian diri. Maka sejurus kemudian ia berkata, “Cucu Prabu, sebagaimana telah terjadi pada trah Matsya, tumpasnya anak anak lelaki yang aku punyai Seta, Utara dan Wratsangka pada mulanya telah membuat sesal dan sedih. Tetapi semoga cucu Prabu menjadikan contoh dari perasaanku terhadap takdir. Semua kejadian yang telah terjadi hendaknya dipasrahkan saja kepada Yang Maha Mengatur. Berikanlah jiwa ini keringanan beban, serahkan segalanya kembali kepada-Nya, sehingga kita menjadi ringan dalam melangkahi hari hari didepan.
Kalimat yang dikatakan Eyangnya yang sangat dihormati telah sedikit memberi pencerahan di hati Prabu Puntadewa yang segera mengatakan isi hatinya yang masih terpendam “Sabda Eyang Baginda Matswapati sedapat mungkin akan hamba akan lakukan. Tetapi Eyang, masih ada beberapa saudara kita Kurawa termasuk Kanda Prabu Duryudana masih belum kelihatan dalam perang hari ini. Maka perkenankan hamba mohon kepada Kanda Prabu Kresna, mumpung dalam pertemuan ini juga hadir, agar besok hari untuk bersama sama membimbing saudara saudara kami Pandawa, untuk mencari keberadaan kanda Prabu Duryudana. Ajaklah kanda Prabu untuk kembali ke Astina”.
Sejenak Prabu Puntadewa terdiam, seakan ada sesuatu yang penting hendak disampaikan; “Eyang, hamba akan pasrahkan seutuhnya Negara Astina untuk membangun kembali diatas reruntuhan yang terjadi dalam perang. Hamba bersaudara telah mengambil keputusan untuk hanya menempati Negara yang kami bangun dengan keringat dan darah kami sendiri, Negara Indraparahasta atau Amarta!”
Tersenyum Prabu Matwapati, sangat mengerti ia akan keluhuran budi cucu yang satu itu. Keputusan yang sebenarnya telah disampaikannya pada sebelum korban berjatuhan dan menjadi luluh lantak. Walau kemenangan sudah dikatakan telah ada di tangan, tetapi keputusan semula masih saja ia pegang “Cucu Prabu Punta, begitu luhur budimu. Untukmu kaki Kresna, segera setelah sidang sore ini terlaksana, bersiaplah untuk mencari keberadaan Prabu Duryudana. Eyangmu sangat setuju dengan putusan yang diambil oleh cucu Puntadewa, yang hanya mengambil Negara yang dibangun atas landasan hutan Mertani ketika itu.
Maka ketika cerah mentari pagi telah menerangi hari, Prabu Kresna telah berada diluar Medan Kuru yang hari itu menjadi demikian sepi. Hiruk pikuk peperangan yang telah berlangsung sejak delapan belas hari telah menyisakan pemandangan yang begitu mengerikan.
Namun Prabu Kresna teringat akan ucapannya ketika Prabu Baladewa yang disisihkan dengan tipu dayanya, agar tidak ikut ikutan dalam perang, dan harus bertapa di Grojogan Sewu atau air terjun dengan seribu alur. Tetapi ia berjanji bahwa walaupun hanya sekejap sajapun, kakaknya diberi waktu untuk menyaksikan perang itu.
Disitu Prabu Baladewa bertapa memuja ke hadapan Dewa, agar diberikanlah kerukunan antara saudara saudaranya Kurawa dan Pandawa. Ketika itulah Kresna sudah sampai di tempat Prabu Baladewa bersemedi.
“Dosa besarlah namanya, Werkudara, bila seseorang membangunkan orang yang sedang bertapa. Tetapi kali ini ada hal yang tidak dapat ditunda lagi. Mari dinda, bantu aku mengheningkan cipta untuk membangunkan kanda Baladewa dengan aji Pameling”. Kata Kresna kepada Werkudara setelah berada di hadapan Prabu Baladewa yang selalu dijaga putranya Raden Setyaka.
Segera Prabu Kresna bersemadi membisikkan aji Pameling kearah telinga hati Prabu Baladewa. Demikianlah pesat cipta Prabu Kresna telah mampu mengubah jalannya waktu. Terkena aji Pameling, Prabu Baladewa seketika terbangun dari tapa. Bagai bangun dari tidur dengan mimpi yang nggegirisi, dihadapannya telah berdiri Kresna dan Werkudara.
“Dinda kamulah yang aku tunggu, apakah Baratayuda sudah dimulai. Atau bahkan perang sudah selesai?”
“Kurawa sudah tumpas hari ini kanda Prabu. Tetapi ada satu yang masih kita cari, Prabu Duyudana”. Jawab Kresna.
“Jagad dewa batara, ternyata tragis akhir hidup para Kurawa. Sudahlah, sekian saja Werkudara, cukup sampai disini kita menyudahi pertengkaran yang membawa kehancuran. Kamu harus ingat bahwa Pandawa dan Kurawa adalah berasal dari satu turun. Turun dari Eyang Wiyasa. Betapapun pasti Eyang Wiyasa sangat sedih melihat apa yang sudah terjadi”.
“Sudah aku ingatkan kanda Prabu Duryudana sejak semula tapi itulah yang terjadi” Jawab Werkudara.
“Mari Kanda, kita cari dimana dinda Duryudana sekarang berada. Dinda Punta sudah merelakan Negara Astina tetaplah menjadi milik Kurawa”. Ajak Kresna
Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali dengan mengerahkan ketajaman insting Kresna. Tak lama kemudian terlihat seekor gajah yang dengan tenangnya merumput.
“Lihat kanda, kita bertemu dengan gajah yang tidak asing lagi. Gajah Kyai Pamuk. Tetapi lihat lagi, dipunggung gajah itu terlihat busana dari Prabu Duryudana, serta bermacam senjata. Hamba pikir di telaga itulah Prabu Duryudana bersembunyi dibawah rimbunnya tanaman teratai merah yang mengambang”.
“Aku juga berpikir begitu. Biarlah aku akan memanggil Prabu Duryudana. Betapa kangennya rasa hati ini walau tidak sampai sebulan aku telah terpisah. Dan akan aku tebus tapaku untuk kedamaian antara saudara saudaraku Pandawa dan Kurawa”. Baladewa menimpali.
Dengan lantang kemudian Baladewa memanggil manggil Prabu Duryudana , “Dinda Prabu, ternyata dinda ada disini. Sudah kangen rasa ini untuk bertemu dengan dinda Prabu Duryudana. Saya kakakmu Prabu Baladewa. Dinda, perkenankan dinda keluar dari air telaga walaupun hanya sebentar. Kita dapat berbicara dari hati kehati”.
Suara itulah yang ditunggu tunggu Prabu Duryudana. Walau sayup suara Prabu Baladewa karena lebarnya telaga, namun ia telah yakin, yang ditunggu sudah tiba. Keluar dari tempat persembunyian ditengah telaga dan segera mendekati arah Prabu Baladewa. Berrangkulan keduanya tanpa menghiraukan sekelilingnya.
“Terimakasih kanda telah bersusah payah mencari kami, kanda. Kandalah yang selama ini hamba tunggu. Bukannya hamba lari dari tanggung jawab, ngeri atau pengecut, tetapi hamba ingin melawan musuh hamba dengan olah gada. Olah gada yang kanda Prabu ajarkan. Selayaknya kanda Prabu menjadi saksi ketrampilan olah gada yang aku tekuni. Sepantasnya guru menjadi saksi kesaktian muridnya”.Duryudana berkilah.
“Oooh dinda, kami datang bukan untuk menantang perang. Tetapi justru kami datang dengan ajakan berdamai. Telah banyak para orang tua tua kita yang menjadi tawur perang! Kami beserta para Pandawa telah bersepakat untuk mengajak paduka dinda untuk kembali ke Astina, dan melupakan kejadian yang telah lalu, yang sejatinya kita bisa jadikan pelajaran kita melangkah kedepan”. Baladewa mencoba memberikan penjelasan.
“Para Pandawa sudah menerima bahwa mereka rela menyerahkan Negara Astina dan hanya meminta negara Amarta yang mereka bangun dengan jerih payah sendiri”.
Namun jawaban Prabu Duryudana tidak menjadikannya persoalan selesai “Tidak, tidak kanda! Kanda telah mengecilkan hamba. Prajurit kami telah gugur berribu ribu jumlahnya. Apa gunanya hamba yang tinggal sendirian takut mati. Tidak! Hamba adalah raja besar. Raja yang sudah bertahun tahun hidup dalam kemuliaan. Tidak selayaknya hamba melepaskan begitu saja tanggung jawab itu”.
Dibiarkannya Prabu Duryudana menumpahkan rasa hatinya oleh Baladewa, sesat kemudian Duryudana menyambung “Kalah atau menang, Pandawa akan kecewa. Seumpama saya yang menang itu sudah menjadi kewajiban kami untuk membangun kembali kemuliaan kami, dan kemuliaan Prabu Duryudana akan menyudul hingga kelangit tujuh. Tetapi bila Pandawa yang menang, mereka akan kecewa. Negara Astina sudah hancur. Mereka hanya akan merawat anak anak yatim dan janda janda korban perang. Mereka hanya akan menemukan reruntuhan demi reruntuhan”.
Menarik nafas panjang Prabu Baladewa yang kemudian menggelengkan kepala lemah, katanya “Keterlaluan dinda Duryudana yang mempunyai watak gunung. Tak bisa diperlakukan rendah. Baiklah sekarang kanda akan menuruti kemauan dinda Prabu”.
“Paduka Kanda Prabu Baladewa hendaknya menjadi saksi, kami minta perang tanding gada dengan salah seorang Pendawa, yang mempunyai sosok seimbang”. Jawab Duryudana.
Demikianlah, setelah selesai mengenakan kembali busana keprajuritan yang terletak dipunggung gajah, maka Duryudana telah berhadapan dengan Werkudara. Satu lawan satu! Kresna mendekati Werkudara sebelum perang tanding dimulai dengan membisikkan sesuatu yang disusul anggukan kepala Werkudara penuh arti.
Ketika Prabu Duryudana bergeser, maka Werkudara-pun bergeser pula. Ia menyadari sepenuhnya, bahwa Duryudana itu sudah siap untuk meloncat menyerangnya.
Tetapi Werkudara-pun sadar, bahwa Duryudana mulai serangan gadanya dengan menjajagi kemampuannya, sebagaimana juga akan dilakukan oleh Werkudara.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Duryudana meloncat menyerang dengan penggada tepat kearah dada. Namun seperti yang diduga oleh Werkudara, Duryudana belum mempergunakan tataran ilmunya yang tertinggi. Meskipun demikian namun pukulan itu seakan-akan telah meluncur secepat lidah api dan melontarkan angin yang keras mendahului gerak tangan Duryudana yang terjulur itu.
Werkudara bergeser selangkah menyamping. Meskipun ia tahu bahwa lawannya belum menyerang dengan sepenuh kemampuan, namun Werkudara tidak mau merendahkannya. Karena itu, sejak awal ia telah mulai mengetrapkan ilmu kebalnya Bandung Bandawasa. Ilmu yang dapat melindungi ujud wadagnya, meskipun ia masih belum yakin jika serangan lawannya cukup kuat dengan lambaran ilmu yang sangat tinggi, hingga serangan itu akan dapat menyusup, dan memecahkan perisai ilmu kebal itu.
Berapa saat, pertarungan berjalan semakin seru. Tetapi baik Werkudara maupun Duryudana tidak mau tergesa-gesa. Justru karena masing-masing melihat kelebihan lawannya, mereka harus mebuat perhitungan yang sebaik-baiknya dalam pertempuran itu. Bagaimanapun mereka tidak boleh membuat kesalahan yang akan dapat menjerumuskan mereka kedalam kesulitan yang gawat.
Serangan-serangan Duryudana itu semakin cepat menyambar nyambar Werkudara dari segala arah. Langkahnya seakan-akan sama sekali tidak diberati oleh bobot tubuhnya. Seperti seekor burung sikatan Duryudana itu meloncat menyambar dan sekali sekali mematuk dengan gadanya.
Sengitnya perang tanding masih diawasi dengan tegang oleh Prabu Kresna dan Baladewa. Sebentar sebentar mimik muka keduanya menegang, sebentar kemudian kembali cair. Terasa kesiur angin panas dari ayunan gada mulai menampar tubuh keduanya dan memaksanya sedikit menjauh dari arena pertempuran. Sementara pukulan gada keduanya dari waktu ke waktu semakin dahsyat. Keduanya telah sampai pada tataran teringgi kemampuannya. Kekuatan yang bagaikan taufan saling menghantam badan keduanya, tetapi mereka adalah manusia manusia pilihan yang telah tertempa oleh pengalaman berguru dan pengalaman tempur yang panjang.
Duryudana melontarkan gelombang-gelombang pukulan gada yang dahsyat beruntun susul menyusul. Namun Werkudara dengan ajian Blabak Pengantol antol dan dibantu sukma Kumbakarna yang menyatu selagi Werkudara ada di lereng gunung Kutarunggu, sangat sulit ditaklukkan. Sementara tamparan serangan itupun mulai terasa bagaikan panasnya uap air yang sedang mendidih menyengat tubuhnya. Arena perang tanding telah menjadi hangus bagai terkena sengatan halilintar. Bahkan suara gelegar benturan kedua gada pusaka terdengar membahana bagai sejuta guruh dilangit berpetir.
Namun kekuatan Duryudana adalah kekuatan simbol dari angkara murka yang tidak begitu saja dapat diatasi oleh laku kebaikan. Maka perang tanding itu sudah seharian tanpa ada kelihatan siapa yang bakal unggul. Setingkat demi setingkat Duryudana itu meningkatkan ilmunya yang nggegirisi. Kekuatan angin yang melanda Werkudara oleh kesiur gadanya menjadi semakin dahsyat. Bahkan kemudian angin itu mulai berputar, Werkudara mulai merasa dirinya dihisap oleh pusaran angin yang begitu panas. Seolah-olah pusaran air yang mempunyai kekuatan tidak terbatas telah menghisapnya keatas. Sedangkan udara panas semakin lama menjadi semakin panas menerpa kulitnya. Namun aji Blabak Pangantol antol telah menerapkan dirinya bagai terpaku dalam tanah. Dalam satu kesempatan ketika Duryudana melompat menyerang, maka dikenai pahanya sebelah kiri Prabu Duryudana dengan penggada yang bagai bobot gunung Semeru. Dengan keluh terahan, disusul kata kata kotor, ambruk Prabu Duryudana!
Tetapi begitu Duryudana mencoba bangkit, sekali dua kali, tiga kali gada Werkudara masih saja menggempur tubuhnya. Remuk rempu tubuh Duryudana tak berujud lagi.
Prabu Baladewa murka melihat Prabu Duryudana yang sudah tidak berdaya terkena hajaran gada Werkudara. Walau ia mengerti bahwa kekuatan Duryudana tiada tara namun kekuatan gada Werkudara yang bagai bobot gunung Mahameru pasti akan menghancurkan sosok Duryudana.
“Keparat Werkudara ayoh tandingi aku Baladewa. Jangan mentang mentang kamu menang, sehingga kamu berlaku sia sia terhadap pihak yang kalah. Duryudana sudah tidak berdaya kamu perlakukan seperi layaknya binatang buruan! Ayoh tandingi Baladewa!”
Kresna yang dari tadi siaga menjaga agar tidak ada peristiwa yang mengkhawatirkan terjadi, telah menyongsong gerak Prabu Baladewa, “Sabar kanda, sabar. Hamba sudah bilang sebelumnya, kemauan hati tak lah kuasa untuk membelokkan takdir. Baratayuda dalah peristiwa luwarnya kaul atau janji, itu hal yang pertama. Kedua adalah arena tagih menagih antara yang menghutangi dan yang diberi hutang, baik dalam hal rasa ataupun budi pekerti. Dan ketiga adalah, syarat bagi hilangnya angkara murka. Hilangnya angkara itu kanda, tidaklah bisa sirna bila tidak bersamaan dengan yang menyandangnya”.
Kresna yang melihat di mata kakaknya sudah surut kemarahannya segera menyambung, “Mestinya ada banyak peristiwa yang tentunya kanda Prabu sudah mengerti bahwa Prabu Duryudana juga mempunyai hutang budi, hutang pati dan hutang seribu malu yang disandang manusia manusia yang telah ia hutangi. Maka kanda, ikhlaskan kematian Prabu Duryudana. Marilah kita bersama melangkah kedepan dalam satu tindakan bersama sama para saudara kita Pandawa, yang telah terbukti menjadi sarana hilangnya angkara”.
Hari kembali buram di sore itu sewaktu perang tanding berakhir. Kembali langit membiaskan layung senja yang entah kapan sore berlayung itu akan berakhir. Demikianlah, setelah merawat jenazah Duryudana maka ketiganya telah kembali menghadap Baginda Matswapati di Hupalawiya.
Golongan Kurawa, Kartamarma dan Aswatama masih berkeliaran. Namun Perang Dunia ke empat ini praktis telah berakhir . . . .
Surak surak manengker gumuruh
Swaraning wadya surak gambira
Unggul Baratayuda para Pandawa
Labuh Negara Astina balane
Kurawa gugur tengahing palagan
Pandawa . . . Pandawa unggul ing prang Baratayuda.
Sumber referensi & kutipan : hery_wae
https://caritawayang.blogspot.com/2015/03/bharatayuda.html?m=1
Imajiner Nuswantoro











