Bharatayuda Jayabinangun - 3

0

 Bharatayuda Jayabinangun - 3

Dening Imajiner Nuswantoro



Imajiner Nuswantoro


Perang Baratayudha, atau lengkapnya Baratayuda Jayabinangun, perang antar darah  Barata, merupakan salah satu dari empat perang besar yang telah digariskan dewa dalam pewayangan, selain perang Pamuksa ketika Prabu Pandu menumpas pemberontakan Prabu Trembuku dari Pringgandani dan Perang Gojalisuta, perang  saudara anak bapak, antara Prabu Bomantara alias Prabu Sitija, dengan Prabu  Kresna dalam membela anaknya yang lainnya Samba Wisnubrata, serta perang

Guntarayana ketika Sang Begawan Ciptaning menjadi sraya, atas serangan Raja Hima Imantaka, Prabu Niwatakawaca, yang hendak mempersunting primadona kahyangan Jonggring Salaka, Dewi Supraba.

Perang Baratayuda, perang dimana terjadi bagaimana prajurit yang maju menjadi senapati,  memetik hasil dari apa yang telah ditanam dan disisi lain meluwar janji yang pernah terucap.


Lanjutan Bharatayuda Jayabinangun - 2



Burisrawa Gugur


Imajiner Nuswantoro

Pegal, sebal, rasa Prabu Duryudana. Kembali ke Astina disela sela perang, dirancang bakal mengendurkan rasa tegang. Tetapi yang terjadi adalah rancangan yang berubah menjadi mentah. Yang ditemui di taman Kadilengeng bukan layanan penuh kasih sang istri yang didadamba siang dan malam sepeninggalnya dari istana. Yang ditemui ternyata hanyalah keruwetan yang menambah kusut masai keadaan hati didalam. Ricuh di taman Kadilengeng masih meninggalkan rasa sebah tetapi rindu terhadap sang istri, belum terlampiaskan. Sehingga rasa hati itu akhirnya terbayang  diwajah kusut sang Prabu.

Untuk mengobati segala rasa itu, segera ia mandi. Didalam mandinya, tetap yang terbayang adalah sang istri, Dewi Banowati.

Setelah mandi ia berganti busana kependitaan hendak bersamadi menenangkan batin. Ubarampe persembahan utama telah disediakan berupa sebongkah kemenyan sebesar kepala kerbau  yang diletakkan diatas pedupaan. Segera disulut dengan api secara hati hati, namun berkali kali gagal. Dalam sekian kali usaha akhirnya berhasil ia menyalakan pedupaan itu. Segera upacara dilakukan dengan duduk bersila, ia berusaha memusatkan perasaan heningnya, menutup semua sembilan lubang tubuhnya.

Bau kembang gadung dan semerbak bunga menur tercampur akar akaran, mewangi tercampur dengan asap dupa yang berkeluk meliuk naik keangkasa berbaur mega, yang bila terlihat bagai bayangan sosok dewata.

Tak lagi samar akan sinar pamor sang  suksma yang melayang dikeheningan sepi. Yang tersimpan didalam kalbu sang Prabu hanyalah kunci pembuka pintu hati. Dalam keadaan yang setengah sadar, bagai pesat laju lepasnya mimpi, sang sukma Duryudana menyusup dalam kesejatian rasa.

Namun belum tuntas dalam melakukan ritual itu, bayangan Dewi Banowati kembali membayang menggoda pemusatan rasa sang Prabu. Gagal sang Prabu mencapai puncak pemuja, kembali ia berusaha dari awal. Namun kembali ia gagal.

Berkali kali berusaha, berkali itu pula ia gagal dan gagal lagi. Murka sang Prabu Duryudana, ditendangnya pedupaan hingga pecah berantakan. Dalam hatinya ia memaki dewata yang dikiranya berbuat rencana buruk buat dirinya.

Merasa tak lagi ada gunanya ia kembali ke Astina, segera dipanggilnya tunggangan sang Prabu, berrupa gajah putih bernama Kyai Pamuk. Segera dipacu tunggangan itu kembali ke Pesanggrahan Bulupitu, dengan secepat cepatnya. Ia hendak melampiaskan kekesalan yang menggunung tumpuk menumpuk didadanya.

Tak beberapa lama saking cepat lari sang gajah, sore itu sudah kembali ke pesanggrahan Bulupitu, yang ditinggalkan setelah ricuh tempo hari.

Kembali ia menemukan kenyataan sangat pahit. Berita kematian adik iparnya, Jayadrata, membuatnya semakin murka.

“Paman Pendita Durna, sudah berapa hari andika menjadi senapati ? Kesanggupan andika paman dalam menumpas Pandawa, meringkus Puntadewa selama itu tak kelihatan nyatanya !  Gugurnya anakku yang merupakan kehilangan lebih dari seisi harta kekayaan negara, sekarang telah andika tambahi dengan menyusulnya adipati Banakeling, Jayadrata !  Itukah yang andika telah lakukan dalam ujud pengabdian sebagai senapati ! Kalau boleh aku sebut, andika adalah seorang guru yang telah melakukan pilih kasih. Paduka sang Penembahan telah melakukan perbuatan dengan standar ganda. Raga andika ada di sekitar para Kurawa,namun dikedalaman hati, para Pandawalah yang bersemayam dalam hati.

“Itu dapat dilihat dari pencapaian selama andika menjadi senapati. Hanya matinya Abimanyu-kah yang dapat andika lakukan ?  Taklah itu seimbang dengan gugurnya Pangeran Pati Astina, satu satunya anakku lelaki sebagai penyambung keturunanku. Apakah aku sendiri yang harus maju menjadi senapati !”

Pandita Durna yang dicerca sedemikian bertubi tubi, malu dalam hatinya. Melihat Prabu Duryudana masih hendak menyambung kata katanya, tak tahan ia. Segera pergi ia tanpa pamit. Dalam lubuk hatinya, sangatlah sakit diperlakukan demikian. Apalagi peristiwa kemarin hari, yang menyebabkan tewasnya adik iparnya, dan diusirnya Aswatama, membuat ia merasa bagai terkeping keping hancurnya hati.

Kejadian di Bulupitu menjadikan Prabu Salya sangat prihatin.

“Aduh anak Prabu, sudahkah anak Prabu berpikir jernih dengan kata katamu tadi ?” Salya  yang dari tadi diam, berbicara ia mengingatkan. “Akan susut kekuatan Kurawa bila ia tidak lagi ada pada pihak kita. Ia belumlah melangkah ke palagan dengan kekuatan dirinya. Selama ini ia baru menggunakan kekuatan orang orang disekelillingnya. Seharusnya anak Prabu memberi kesempatan kepadanya dengan lebih luas untuk meringkus para Pandawa dengan kekuatannya sendiri.”

Sesal sang Prabu tiada guna. Dipanggilnya patih Sangkuni “Paman Harya, segera susul Pandita Durna, sampaikan rasa sesalku yang tak kuat menahan beban rasa yang menggelayut didadaku. Mintalah ia segera untuk kembali ke Bulupitu”.

“Daulat titah anak Prabu. Malam ini juga akan aku cari beliau. Tak akan pamanmu pulang,  sebelum Kakang Durna  ditemukan. Namun bolehkah hamba ditemani Aswatama ?”

Tanya Sangkuni ragu, karena setahu ia , Aswatama telah menjadi orang yang tak disukai sang Prabu, ketika terjadi ricuh di Bulupitu. Namun otaknya yang encer mengatakan, Aswatama-lah yang hendak dijadikan pasal untuk merayu kembalinya Dahyang Durna, bila ia ketemu nanti.

“Terserahlah Paman mau ditemani siapa. Yang penting adalah kembalinya Pandita Durna”.

Mundur Patih Harya Sangkuni sambil menghaturkan sembah. Sesampainya diluar, diperintahkan prajurit pecalang untuk menghadirkan Aswatama. Malam gelap itu ia ditemani anak Durna berjalan tanpa tujuan, mencari seseorang dengan jejak yang tak nampak. Sasar susur kedua orang itu malam yang pekat mencari keberadaan Pandita Durna. Tak terasa mereka telah jauh meninggalakan medan Kurusetra.

Sementara di Bulupitu, merenung Prabu Duryudana memikirkan situasi yang terjadi atas barisannya. Setengah menyerah, setengah semangat berganti ganti terrasa didalam hatinya. Bagaimanapun juga, adanya orang tua itu telah menjadikan rasa dan pikirnya semangat, karena kesaktian gurunya itu sebenarnya sejajar dengan keberadaan Resi Bisma ketika itu, yang sama sama murid dari Ramaparasu. Petapa sakti yang panjang umurnya. Pertapa yang hidup sebelum jaman Ramayana berlaku hingga ia mempunyai murid Dewabrata dan Kumbayana yang kemudian ia dipanggil dewata sebagai penghuni kahyangan.

Prabu Duryudana akhirnya ia berpikir akan negaranya, Astina, bila ia maju sendiri ke peperangan sebagai senapati.

Bahkan sempat terlintas dipikirannya, bila ia mati dalam peperangan, maka suksesi kepemimpinan akan dikemanakan.

Teringat tentang hal ini, dipanggilnya adiknya Arya Dursasana. Dalam pikirnya, ia harus menyiapkan pangeran pati baru sebagai pengganti anak sulungnya Lesmana Mandrakumara.

“Adikku Dursasana, tahukah kenapa aku panggil kamu ?” Duryudana membuka pembicaraan dengan maksud menjajagi hati adik kesayangannya.

“Tidak kanda prabu. Kalaupun hamba sudah dipanggil pastilah hamba bakal dipercaya menjadi senapati. Ngiler rasanya bagaikan ngidam rujak cempaluk. Cepatlah kanda Prabu mengatakan, sekaranglah hamba harus melangkah kemedan pertempuran sebagai seorang senapati melawan Pandawa”.

Sudah menunggu sekian lama saya mengharap maju sebagai senapati, ikut perang di hari hari kemarinpunpun serba dibatasi. Apalagi dijadikan senapati.

Hari ini hamba dipanggil, gembiranya hati adikmu ini bagaikan mendapat ganjaran yang tiada ternilai harganya. Perkenankan adikmu ini, untuk segera melangkah ke peperangan “. Harapan akan tugas sebagai senapati memenuhi dada Dursasana.

“Jauh  dari yang kamu harapkan”. Tegas kata sang Prabu.

“Hah . . .  bagaimana sebenarnya ?. Kecewa berat Dursasana mendengar jawaban kakak sulungnya itu dengan seribu tanya dihatinya.

“ Hari ini, kamu saya suruh kamu pulang ke istana”. Makin tak mengerti ia mendengar jawaban kakaknya. Belum jelas apa yang dimaksud kakaknya, ia melanjutkan “Apakah ada musuh yang menerabas dari belakang ?”

“Ada pekerjaan yang harus kamu lakukan. Jagalah kakak mu Banuwati” Kaget setengah tak percaya ia mendengar titah kakaknya. Sampai sampai ia menanyakan kembali perintah itu, tapi jawabannya sama  saja.

Tidak puas Dursasana menawar “Bagaimanapun saya seorang prajurit, yang seharusnya maju ke medan perang. Kenapa haru kembali ke istana ? Kalau boleh kali ini hamba menolak perintah paduka”

“Apa kamu tidak takut aku  ?” tanya Duryudana mempengaruhi adiknya.

“Takut ? Pasti. Karena kanda prabu adalah raja hamba, juga kakak sulung hamba”. Kecewa Dursasana makin dalam. Keringat dingin yang mengalir diwajahnya dibiarkan mengalir. Ia tak peduli dengan keadaan dirinya ketika batinnya berontak hebat.

“Yang saya ingin sampaikan adalah, kekhawatiranku akan terjadinya apa apa terhadap kakak iparamu dan terhadap kamu sendiri”. Dijelaskannya maksud dari semua perintah terhadap adiknya.

Tabiat Dursasana dikenal sebagai seorang Kurawa pemberani cenderung ugal ugalan. Maka ketika diberi tugas menjaga wanita, batinnya sangat tidak terima. Tetapi apa daya, rasa bakti terhadap kakaknya mengalahkan segalanya.

Maka berangkatlah dengan langkah gontai, Raden Arya Prawira Dursasana. Semangat menggebu gebu diawal, terkubur oleh perintah kakaknya yang menyebabkan ia merasa, seakan didandani dengan bedak tebal dimukanya, dipoles bibirnya dengan gincu, sementara gelung rambutnya dirubah seperti bentuk gelung malang, gelung para wanita. Dalam perasaannya ia juga bagai dipakaikan kain minting minting bak dandanan wanita.



(**)

Hari telah berganti lagi, pagi baru menjelang. Kekosongan senapati membuat putra Mandaraka, Burisrawa, adik Banuwati, tanpa diperintah telah mengambil alih peran Pandita Durna. Segera ia menyusun barisan tanpa pola menyerang maju ke padang Kuru dengan ampyak awur awur, serabutan membabi buta.

Ketika dilapori bahwa hari itu pasukan Bulupitu datang dengan pimpinan Burisrawa, Werkudara yang sedang berjaga di garis depan, pesanggrahan Randugumbala segera bersiap menghadang.

Tetapi Setyaki, yang dari dulu sudah menjadi musuh bebuyutan, segera menyelonong kehadapan Arya Werkudara.


Imajiner Nuswantoro


 “Kanda Arya, ini yang aku tunggu dari kemarin ! Sekaranglah waktunya yang tepat untuk menuntaskan dendam berkepanjangan antara aku dengan Burisrawa” ingatan Setyaki berbalik ke masa masa lalu, yang berkali kali gagal menuntaskan permusuhan bebuyutan dengan Burisrawa. Terakhir kali ingatnya, ia bertempur sewaktu mengikut Prabu Kresna ketika didaulat menjadi kusirnya sebagai duta terakhir sebelum pecah perang.

“Bungkik, apa yang menjadi bekal kamu dalam menghadapi Burisrawa yang berbadan lebih besar dan kekuatan bagaikan orang hutan” Tanya Werkudara meyakinkan tekad Setyaki.

“Yang paling utama adalah tekad !” jawab Setyaki yakin.

“Tekad tidak cukup !” kembali Werkudara menjawab

“Jadi harus bagaimana ?” tanya Setyaki memancing.

“Sebelum kamu maju menghadapi Burisrawa, akan aku uji dulu kekuatanmu !“ Werkudara menawarkan cara

“Silakan kanda Arya !” Setyaki bersiap diri.

“Angkat Gada Lukitasari punyaku, bila kau sanggup mengangkatnya, kamu pantas menghadapi Burisrawa”. Ujian pertama ditawarkan.

Segera disorongkan batang gada kehadapan Setyaki, dengan sekali usaha, terangkat gada super berat Arya Bimasena.

“Bagus, kamu memang pantas menyandang nama Bima Kunting !” . Bima Kunting artinya adalah Bima dengan tubuh kecil. Dijuluki demikian, Setyaki tetap bangga.

“Tapi itu belum cukup ! Satu lagi, bila kamu bisa kuat menerima pukulan gadaku ini, kamu boleh berangkat sekarang !.” Kembali ujian kedua ditawarkan.

“Silakan kanda.” Kembali Setyaki bersiap diri.

Dipukulnya Setyaki dengan gada Rujakpolo. Gelegar suara benturan badan  Setyaki dengan batang gada bahkan menggetarkan tanah tempat Setyaki berpijak. Gelegar suara itu bagai menerpa  batang baja. Setyaki tetap bergeming. Gembira Werkudara menyaksikan kekuatan adik misannya.

“Ayoh berangkat akan aku awasi dari jauh !” Werkudara memberi aba-aba.

Bangga Setyaki lulus dalam ujian yang tidak ringan itu.

Semakin percaya diri Setyaki menghadapi Burisrawa. Iapun sesumbar. “Nanti siapapun yang kalah, tak ada seorangpun yang boleh membantu !”

Maka berhadapanlah kedua satria yang sudah lama saling mendendam. Bara dendam memercikkan semangat untuk saling mengalahkan dalam arena resmi ini. Mereka berdua bertekad untuk menyelesaikan adu kekuatan dengan kemenangan.

“Heee Setyaki yang datang menjemput aku, sudah bosan rasanya aku melihat kamu lagi. Kali ini adalah kali yang terakhir. Aku tak mau melihat tampangmu lagi. Biar aku tekuk kamu sekarng ! Tidak mungkin kamu mengalahkan aku !”

“Apapun katamu, sekarang tak ada lagi yang bakal menunda kematianmu !”.

“Apa yang kamu andalkan ? Besarnya badan, lebih besar aku. Kekuatan pasti lebih kuat aku. Majulah kemari orang kecil, terkena sambaran kakiku lunas nyawamu !”

“Jangan banyak mulut, serang aku sekarang juga !”

Adu kekuatan mulanya berjalan seimbang. Pukulan tangan kosong dada Setyaki dilancarkan Burisrawa. Berkelit sambil memiringkan badan Setyaki menghindar sambil mengayunkan sapuan kaki kanannya. Tak mau terkena sasaran kaki Setyaki, Burisrawa meloncat. Sambil berbalik badan, kakinya mengarah ke leher Setyaki.

Kali ini benturan tak dapat dielakkan lagi, Setyaki merunduk sambil mengerahkan kekuatan ditangannya, kaki Burisrawa ditebas dengan tangan berkekuatan penuh. Benturan keras terjadi. Sementara tangan Setyaki kesemutan, Burisrawa mendaratkan kakinya dengan terpincang pincang.

Kembali adu kekuatan kaki dan tangan keduanya berlangsung silih berganti. Saling serang dengan kekuatan raksasa, diselingi dengan ketangkasan beradu gada.

Setengah hari telah berlalu. Lama kelamaan kekuatan tenaga dari kedua satria itu makin dapat ditebak keseimbangannya. Walaupun Setyaki bertenaga raksasa penjelmaan raksasa Singa Mulangjaya, namun Burisrawa adalah anak raja Mandaraka yang hampir tak pernah betah tinggal di istana. Ia lebih suka berkelana dihutan hutan hingga kesisi lautan. Berguru pada berbagai orang sakti, hingga Batari Durga dan Betara Kala sekalipun pernah menjadi gurunya. Tak heran ia menjadi manusia dengan kekuatan gorila, karena rajinnya ia mencari kesaktian dan menyadap kekuatan alam.

Maka pada suatu saat, Setyaki terkunci oleh gerak pitingan Burisrawa. Setyaki mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi bagai terjepit ragum baja raksasa, rontaannya tak sanggup ia lepas dari jepitan kekuatan raksasa Burisrawa.

Bangga Burisrawa akan usahanya menjepit Setyaki “Disini akhir hidupmu Setyaki. Akan aku patahkan tulang belulangmu sedikit demi sedikit, agar kamu tahu, betapa sakitnya berani beraninya melawan Burisrawa !”.

Belas kasih Prabu Kresna melihat adik istrinya, Setyaboma, terjepit oleh kekuatan raksasa Burisrawa. Tapi di awal sudah ada perjanjian antar keduanya, bahwa peperangan tanding itu tidak boleh dibantu oleh siapapun. Tak kurang akal, Kresna memanggil Arjuna hendak melakukan sandiwara agar adik iparnya itu dapat ditolong.

“Arjuna, aku masih ragu terhadap trauma atas kematian anak anakmu. Apakah jiwamu sudah penuh kembali seperti semula atau belum ! Karena masih banyak para sakti yang masih bermukim di pesanggrahan Bulupitu. Ujian akan aku berikan, hingga aku tahu  sampai dimana kembalinya pemusatan pikirmu. Sekarang aku uji pemusatan pikiranmu, dengan memanah sehelai rambut yang ada ditanganku ini, kenai dengan panahmu Kyai Pasopati . . !”

“Marilah kanda Prabu, akan aku buktikan kembalinya kekuatan jiwa ragaku” mantap Arjuna menerima tantangan ujian itu.

Terlepas panah Pasupati memutus rambut yang terpegang Prabu Kresna, tetapi sejatinya, arah yang diharapkan Prabu Kresna adalah searah dengan keberadaan Burisrawa yang tengah memiting Setyaki. Maka tak ayal lagi terserempet Kyai Pasupati, lengan Burisrawa terputus, tergeletak jatuh ketanah.

Merasa pitingan lawan kendor, disertai raungan kesakitan Burisrawa, Setyaki punya kesempatan meraih gadanya. Dipukul kepala Burisrawa berkali kali, tewas seketika Burisrawa.

Bangga Setyaki melihat lawannya tergeletak tak bernyawa lagi. 

“Huh Burisrawa . . . ! Sumbarmu bagai hendak memecahkan langit ! Kepentok kesaktianku, mati kamu sekarang !” berkacak pinggang Setyaki didepan jasad Burisrawa.

“Setyaki siapa yang membunuh Burisrawa ?” Kresna yang menyusul kearah Setyaki menjajagi rasa bangga Setyaki.

“Tentu saja adikmu yang gagah sentosa ini !” kebanggaan Setyaki belum habis juga

“Coba lihat sekali lagi,  apa penyebab kamu bisa lepas dari pitingan lawanmu ?” tanya Kresna.

“Oooh  . . . . . jadi lengannya telah putus lebih dulu sebelum hamba pukul kepalanya ?”

“Makanya jadi orang jangan pandir, hayuh minggir , lihat ayah Burisrawa, Prabu Salya tidak terima !” Buru buru Setyaki diseret Prabu Kresna agar menjauhi jasad Burisrawa.

Memang yang terjadi adalah Prabu Salya hendak maju kemedan perang. Tapi tak tega Prabu Duryudana segera memegangi Prabu Salya, agar berlaku sabar terlebih dulu. Duryudana merasa belum saatnya sang mertua untuk bertindak walaupun tahu betapa sedihnya hati orang tua itu tatkala melihat anaknya lelaki yang tinggal satu itu, setelah kematian kakak Burisrawa, Rukmarata, maka yang tertinggal adalah ketiga anak perempuannya, Erawati, Surtikanti dan Banuwati.



Mahalnya sebuah harga diri



Imajiner Nuswantoro

Kembali kita ke taman Kadilengeng. Siang belum lagi menjelang, Dewi Banowati mencoba menyenangkan hati dengan berjalan jalan ditaman sari. Taman yang jalur jalannya lajur demi lajur dihampar batu akik hijau merah biru putih dan keemasan. Diterpa sinar matahari yang belum naik sempurna memancarkan sinar semburat bagai warna pelangi. Disuatu tempat yang menjadi kesukaannya, sang Dewi duduk diatas batu marmer putih mengkilap yang direka pokok kayu. Terpesona sang Dewi memandang taman yang asri itu dengan berbagai macam tanaman. Tanaman hias dalam jambangan yang ditata teliti, berpasang pasang, serasi warnanya dengan paduan bunga bunga yang harum mewangi. Tidak hanya dalam jambangan, bunga bunga perdu juga menghias hamparan taman bergerombol disela sela rumput lembut.

Bertambah indah suasana taman dengan terbangunnya rekaan telaga yang berair biru bening dengan berbagai macam ikan warna emas, merah, putih dan warna tembaga yang ditebar. Bila diterpa sinar matahari, seakan ikan ikan itu bagaikan bintang bintang malam yang saling bertukar tempat.

Tersenyum puas sang Dewi dengan kerja para abdi dalem yang setiap waktu memelihara dengan penuh cinta. Sejenak ia melupakan keresahan hati memikirkan perang yang belum juga usai. Resah hati yang membawanya setiap malam membakar sesaji dengan pedupaan yang bertumpuk tumpuk. Dalam setiap pemujaan sang Dewi selalu berharap, agar segeralah selesai perang yang sedang berkecamuk. Untuk kemenangan siapa, hanya Dewi Banowati saja yang tahu.

Belum puas Sang Dewi menikmati indahnya suasana, kali ini ia kembali kaget dengan kedatangan adik iparnya, Raden Dursasana. Ketika diketahui yang datang adalalah adik ipar yang tidak ia senangi, yang bertingkah laku mirip dengan adiknya sendiri, Burisrawa, setengah malas ia melambaikan tangannya agar iparnya itu segera mendekat. Dursasana segera menyampaikan sembahnya, kemudian duduk dengan takzim.

Terheran Dewi Banowati dengan kedatangan adik iparnya bergantian dengan suaminya yang hari hari kemarin datang. Dalam hatinya ia bertanya, ada kejadian apa lagi di peperangan. Siapa lagikah korban peperangan yang hendak dilaporkannya. Mudah mudahan hati ini kuat mendengar apapun yang terjadi. Atau ada sesuatukah yang sangat perlu, hingga adik iparnya yang dikenal sebagai manusia yang penuh kekerasan meninggalkan peperangan yang keras itu, tetapi malah datang ke taman sari. Tempat indah penuh kelembutan. Seribu tanya ia simpan sejenak.

Basa basi sang Dewi bertanya, “Baik baik sajakah kedatanganmu, adikku ?”.

“Sembah hamba kehadapan kakanda Banowati”. Dursasana menghaturkan baktinya.

“Apakah perang sudah selesai ?” tak sabar sang Dewi ingin mengetahui apa yang terjadi.

Dursasanapun mulai mengawali menceriterakan kenapa ia diminta untuk kembali ke istana.

“Pertama, kami mengabarkan kepada kanda Dewi, bahwa adik paduka Arya Burisrawa telah tewas dalam peperangan”.

Dewi Banuwati kembali hanya terdiam sesaat, seperti yang pernah terjadi ketika putranya, Lesmana Mandrakumara, tewas. Ia hanya melihat kedepan dengan tatapan kosong, tak ada rasa sedih yang terbersit dari wajahnya.

Banuwati dan Burisrawa, walaupun kakak beradik, dan pada kesehariannya keduanya sering bersama ada di Astina. Tetapi keduanya tidaklah seperti kakak beradik yang dekat dihati satu sama lain. Banuwati malah lebih dekat kepada adiknya yang jauh, dan lebih senang bersama ayah ibunya di Mandaraka, Arya Rukmarata, yang kini juga telah tewas.

Sama seperti adik iparnya, Dursasana, Burisrawa adalah manusia yang liar dan cenderung ugal ugalan. Kesamaan itu yang membuat Burisrawa dekat dengan Dursasana. Mereka hanya renggang bila Burisrawa sudah bosan dengan suasana resmi istana, dan kabur ke hutan hingga berbulan bulan, baru ia kembali lagi ke Astina. Apalagi setelah Burisrawa gagal mempersunting  Wara Sumbadra kala itu, hingga ia bersumpah, tak akan ia pulang ke Mandaraka, bila ia belum bisa mempersunting dewi impiannya yang gagal, atau memperistri wanita yang mirip dengan Sumbadra, seperti yang pernah diceriterakan.


Imajiner Nuswantoro


Akhirnya setelah diam sebentar, kata pasrahlah yang terucap dari bibir Banuwati “Perang itu, kalau tidak kalah ya menang. Kalau tidak membunuh, ia akan dibunuh. Kalau Burisrawa terbunuh, itu adalah bagian dari kodrat perang itu sendiri”

Mahfum dengan watak kakak iparnya, Dursasana kembali melanjutkan, “Yang kedua, adikmu diutus kanda Prabu, untuk kembali ke istana”.

“Dan hal inilah yang saya tidak mengerti, kenapa saya sebagai pangeran sepuh yang sekarang dijadikan pangeran pati sekaligus, harus disingkirkan, dan harus dikembalikan ke istana. Terus terang saja, kali ini saya ditugaskan oleh kakanda Prabu, untuk menjagai keberadaan paduka kanda Banowati”.

“Kalau begitu, kanda Prabu sebenarnya sedikit banyak mempunyai rasa curiga terhadap aku, begitukah ? Banuwati mulai kesal dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pikirnya, apakah ini buntut dari kericuhan kemarin ketika suaminya datang ?

“Ya, kira kira begitu. Saya juga tidak pernah bertanya lebih jauh kepada kanda Prabu, karena saya ini apalah. Hanya sebagai adiknya dan hanya sebagai abdinya. Dititahkan apapun hamba tidak akan sanggup menolak”. Dursasana sudah mulai jengah. Inilah suasana yang sudah ia ia bayangkan sebelumnya. Suasana yang paling tidak senangi, bergaul dengan wanita, apalagi wanita itu adalah kakak iparnya yang walau cantik, namun dimatanya ada sinar yang warna cahayanya sebagai sorot warna ndaru braja, komet berracun. Hal inilah yang  membuat Dursasana menjadi serba salah duduknya. Bergeser geser mencari posisi yang enak, namun tak juga ia menemukan posisi duduk yang nyaman. Gerah rasa seluruh tubuhnya, walau angin pagi masih tersisa bertiup membawa uap embun yang baru saja kering. Tak urung keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.

“ Menungguiku, apaku yang ditunggui. Katakan !  Kamu itu jadi seorang satria kok begitu bodoh, begitu dungunya ! “ berubah menjadi galak Dewi Banuwati. Suasana indahnya taman sudah hilang dari perasaannya.

“Apa sebabnya, saya yang hanya diperintah, kenapa saya dibodoh-bodohkan, didungu dungukan. Silakan kanda Dewi menjelaskan . . ” Dursasana menyabarkan diri. Mungkin bila ini bukan istri kakaknya ia sudah berdiri marah atau bahkan tangannya sudah melayang. Tabiat Dursasana yang tidak sabaran sebenarnya sudah mencapai ambang batas kekuatan menahan, namun rasa hormat kepada kakak sulungnya, tak pelak lagi mengorbankan habis sifat urakan yang menjadi ciri dari lahir. Bahkan gerakan tangannya yang biasanya tak pernah diam seakan terkunci ketat erat.

“Sebenarnya kamu itu sedang dicoba oleh kakakmu itu. Satria itu seharusnya berperang. Tetapi kakakmu mengatakan kamu harus kembali ke istana. Kenapa kamu menerima perintah itu dengan begitu lugunya. Apakah itu bukan dikatakan sebagai satria bodoh yang penakut dan jeri akan tumpahnya darah !”

Menuding nuding sang Dewi sambil bangkit dari duduknya dan berkacak pinggang. Panas hatinya dicurigai akan berbuat yang tidak tidak.

“Bukan itu kanda Dewi, yang memerintah tidak salah, yang diperintah juga tidak salah. Tetapi kenapa hamba yang diperintah dimarahi seperti ini ? Tapi terus terang kemarahan ini menjadi bahan pelajaran dimasa datang. Dan takut hamba terhadap kemarahan paduka kanda Dewi, hamba lebih takut akan kemurkaan kanda Prabu Duryudana”. Masih mencoba sabar Dursasana. “Dan bila hamba disuruh maju perang, maka betapapun saktinya lawan, akan hamba laksanakan titah kanda Prabu dengan senang hati”.

“Duh . . Sumbarmu ! Seperti bisa memecahkan balok besi, menjilat panasnya besi membara ! Sinis dewi Banawati berkata.

“Dapat hamba buktikan ! Bila kanda Dewi mengatakan hamba ini satria bodoh yang takut perang, hal itu adalah sebaliknya. Dan bila hamba diperintah untuk menjagai wanita, yang terjadi sebenarnya adalah . . . . . , kanda Prabu itu orang yang kelewat sabar . .”. Berhenti sejenak Dursasana ragu mengatakan, namun sejurus kemudian ia melanjutkan. “Tidak ada orang yang sabar didunia ini melebihi kanda Prabu. Walaupun di istana ini sebenarnya terdapat tanaman yang sangat berbisa, yang selalu tumbuh dan tumbuh dengan subur, yang pada akhirnya akan membuat gatal orang senegara. Tapi karena besarnya cinta kanda Prabu terhadap tanaman itu, maka yang terlihat, hanya bentuk dan rupanya yang cantik saja, sementara bisa racunnya tidak dihiraukan . . . “.

Kamu mengatakan begitu, aku ini kamu anggap apa ? bagaikan mendidih, darah diubun ubun dewi Banuwati, yang merasa dikenai hatinya.

“Nanti dulu . . , kalaupun hamba mengatakan perumpamaan terdapat tanaman berbisa yang dipelihara kanda Prabu, terus terang saja kanda Banowati, yang sebagai istri kanda Prabu, sebenarnya, paduka kanda Dewi tidak cinta lahir batin kepada kanda Prabu Duryudana. Kalau dilihat sepintas, perilaku kanda Dewi terhadap kanda Prabu itu seperti cinta yang sebenar benarnya. Tetapi hal itu hanya terhenti dalam tata lahir, dan dalam hati kanda Dewi yang sebenarnya, orang dinegara Astina ini sudah tahu semuanya. Termasuk hamba sendiri”. Keterus terangan Dursasana makin menjadi-jadi, ia memuntahkan seluruh isi hatinya. Ia melampiaskan belenggu rasa yang dari tadi menjerat erat

“Bagaimana ? Apa yang kamu ucapkan tadi itu, dihatiku cinta sama siapa ?” Banuwati menantang. Walaupun jawaban yang akan diucapkan oleh adik iparnya itu sebenarnya dirasa mudah untuk ditebak jawabannya, tapi ia masih hendak mencoba mencocokkan dengan perkiraannya.

“Terus  terang tadinya hamba tidak akan mengatakan sampai kesitu, tapi karena kanda Dewi sendiri yang menantang, akan hamba buka yang sebenarnya terjadi. Kanda pasti tahu, sesuatu yang tersimpan dihati kelamaan akan menjadi penyakit, sekarang sebaiknya hamba keluarkan unek unek dihati hamba”.

Dibawah sorot mata tajam kakak iparnya ia melanjutkan curahan isi hatinya. Terlanjur basah, mandi sajalah sekalian, pikirnya. Masalah ada aduan yang sampai kepada kakak sulungnya, itu soal nanti. Sekarang sekarang, nanti ya nanti. Kebiasaannya dalam berpikir pendek, menjadikannya ia meneruskan kata katanya dengan lancar.

“Saya memperhatikan setiap kali ada perang tanding antara Kurawa dan Pandawa, bila ada warga Pandawa yang menang, paduka bergembira dengan membagi bagikan hadiah kepada abdi dalem dan siapapun. Itu salah satu buktinya. Sebaliknya ? Contoh terakhir, ketika putra Paduka, Lesmana Sarojakusuma tewas, paduka menyalahkan kanda Prabu dan putra paduka sendiri, tetapi ketika Abimanyu yang tewas, paduka menangis histeris. Itu kejadiannya !

Maka pada setiap semedi, paduka kanda Dewi selalu memohon dewata, kapan kiranya Baratayuda berakhir dan Kurawa kalah serta musnah. Dengan demikian kanda Dewi dapat segera melaksanakan keinginan kanda Dewi untuk menjadi keset Arjuna. Iya kan ? Habis sudah, tumpah ruah segala kesah hati Dursasana tercurah.

“Keparat kamu Dursasana ! Kamu megucapkan sesuatu tanpa perhitungan. Ketahuan kamu sebagai satria yang takut darah, malah menguak rahasia orang lain. Kalau memang kamu sebagai satria sejati, dan kalau aku diberi wewenang untuk menjagokan, kamu aku adu dengan Arjuna, berani kamu ? Habis kesabaran Banuwati. Kebanggaanya akan Arjuna dimunculkan dengan tidak malu malu lagi.

“Jangankan Arjuna, Pendawa lima maju bersama tak akan hamba mundur sejangkah !” Kembali Dursasana sesumbar. Panas hatinya sudah semakin membakar perasaannya. Bahkan tempat yang didudukinya sudah terasa bagai beralaskan paku membara.

“Sumbarmu ! Tetapi kamupun bisa menang bila aku adu kamu dengan Arjuna, bila sudah terjadi kodok memakan liang nya !” Banuwati yang sudah terkena dengan telak isi hati dan kelakuan dibelakang suaminya serta bosan dengan kericuhan yang terjadi segera berbalik badan meninggalkan Dursasana yang tertawa senang sekaligus panas hatinya karena kata kata kakak iparnya.

Berdiri Arya Dursasana, setelah ditinggalkan Banuwati, lega rasanya seakan ia sudah terbebas sangkar yang mengurungnya. Dipandanginya kepergian Banuwati dengan berkacak pinggang dan muka yang ditengadahkan. Puas tetapi panas.

“Kena kamu Banuwati ! lagakmu seperti orang yang suci, tidak menengok ke tengkuk sendiri menuduh orang yang tidak tidak. Aku buka rahasiamu, mencak mencak seperti orang kalap. Kamu anggap aku ini apa ? Kalau kamu bukan istri kakakku sudah aku . . . . . . . Huhh . . ! Apakah aku kelihatan seperti orang yang bergelung malang dengan bibir berpoles gincu, diberi bedak tebal mukaku dan dipakaikan kemben tubuhku ? Lihat apa yang akan aku lakukan untuk membuktikan kata kataku.

Hari ini tak usah aku meminta ijin dari kanda Prabu, akan aku penggal kepala Arjuna, sekaligus semua saudaranya”. Panas hati Dursasana

membawa keputusannya untuk kembali melangkah ke hamparan padang Kuru.




Karno Tanding


Imajiner Nuswantoro


Karno Tanding adalah suatu babak pertempuran terbesar Baratayudo di Padang Kurusetra. Pertempuran dua senopati pilih tanding yaitu Arjuno dari kesatrian Madukoro sebagai panglima perang Negara Amarta melawan Adipati Basukarno dari Awonggo sebagai panglima perang Negara Astina.


Arjuno

Arjuno atau janoko lahir dari rahim seorang Ibu bernama Kunti Nalibronto dengan Raja Astina Pandu Dewonoto. Satria panengah Pandawa.


Basukarno

Basukarno atau karno lahir dari seorang rahim seorang Ibu bernama Kunti Nalibronto dengan seorang Dewa bernama Bethoro Suryo atau Dewa Matahari. Jauh sebelum Kunti Nalibronto belum bersuami pernah bermain main dengan aji pameling (sebuah kesaktian yang mampu mendatangkan siapapun yang dikehendaki). Sehingga datanglah Bethoro Suryo. Melihat kemolekan tubuh Kunti, Bethoro Suryo jatuh hati sehingga Kunti mengandung seorang bayi yang kemudian dilahirkan melewati telinga sehingga anak tersebut diberi nama "Karno" yang berarti telinga. Sebagai seorang putri raja besar Kunti malu karena melahirkan seorang anak sedangkan dia belum bersuami, maka anak tersebut di larung di sungai gangga. Kelak bayi ini diketemukan dan dipelihara oleh seorang kusir kerajaan bernama Adiroto.

Karno besar menjadi satrio tangguh, pintar memanah muncul pada waktu Pendadaran Siswa Sukolimo. Sepintar Arjuno dalam memanah tapi tidak bisa ikut berlatih di Padepokan Sukolimo (Padepokan Resi Durno) karena bukan keturunan bangsawan. Karno di usir dari ajang Pendadaran Siswa Sukolimo karena bukan darah bangsawan. "Kamu Hanya Anak Seorang Kusir" kata Arjuno. Karno menjadi malu dan rendah diri sehingga pergi. Sebagai Satu-satunya Satria yang mampu menandingi kecepatan panah Arjuno, Karno dicari oleh Prabu Duryudono Raja Astina dan mengangkatnya sebagai Adipati di Awonggo. Sebuah Kadipaten di bawah kekuasaan Astina, sehingga Karno bisa berlatih di Padepokan Sukolimo.


Hati Seorang Ibu

Karno Tanding adalah Sebuah Pertempuran Dua Saudara Kandung Se Ibu tapi berlainan Ayah. Sama-sama Sakti, sama-sama pintar dalam memanah. Sama-sama mempunyai senjata Sakti dari Dewa. Kunti Nalibronto hanya bisa meneteskan air mata melihat kedua putranya saling bertempur. Sebelum pertempuran Baratayuda dimulai kedua ksatria ini pernah dipertemukan oleh Ibunya. Seorang Ibu yang lembut dan bijaksana ini rela bersimpuh di kaki Karno meminta ampun atas penderitaan karno karena telah dibuangnya dan memohon untuk bergabung dengan saudaranya di Pandawa atau Amarta. Karena Kunti tahu benar kalau pertempuran Baratayuda benar terjadi maka hanya Karnolah yang mampu menghadapi Arjuno, itu berarti kedua putranya akan saling berhadapan. Dengan arifnya pula Karno memohon maaf tidak bisa bergabung dengan Pandawa karena beberapa alasan :

"Ibu, ....... sama sekali saya tidak dendam atas perlakuan Ibu kepadaku, hanyutnya aku di sungai gangga sampai aku besar sekarang ini adalah garis hidupku. Aku menjadi Adipati dan hidup bahagia adalah karena Prabu Duryudono, aku tidak mau disebut Satria Pengecut hanya muncul ketika ada kesenangan tapi lari dari kesusahan. Apa kata dewa kalau aku nanti bergabung dengan Pandawa. Suatu saat seandainya aku harus bertempur dengan adikku Arjuno itu juga sudah kehendak para dewa. Sekali lagi saya mohon maaf ibu, Nyuwun Agunging Wiloso. Biarkan aku menentukan hidupku Sendiri. " ......Kata Basukarno.

Arjuno juga hanya bisa tertunduk menangis. Walau bagaimanapun Karno adalah kakaknya meskipun lain ayah, rasa menyesal yang mendalam telah mengusir dari pendadaran siswa sukolimo.

Tangis Kunti semakin menjadi mendengar Jawaban Karno apalagi melihat kedua putranya itu saling berpelukan. Ketiganya larut dalam tangis kebahagiaan, kesedihan, keharuan, kebingungan hanya bisa berpelukan satu sama lain.


Perang Baratayudo

Perangnya darah Barata itu pecah dan Basukarno muncul sebagai senopati Astina ketika senjatanya Kunto wijoyodanu tertancap di tubuh Gatotkaca. Tak ayal lagi kedua putra kunti itu pasti saling berhadapan. Ketika Sangkakala berbunyi ........

Karno muncul dengan kereta perangnya didampingi prajurit bayangkara Awonggo berada di tengah ribuan pasukan Astina. Sebagai seorang Senopati besar kereta Karno di kusiri oleh seorang raja besar dan sakti yaitu Prabu Salyo.

Arjuno muncul dengan kereta perangnya didampingi prajurit bayangkara Madukoro berada di tengah ribuan pasukan Amarta. Sebagai seorang Senopati besar kereta Arjuno di kusiri oleh seorang raja besar dan sakti yaitu Prabu Kresna.

Ketika pertempuran terjadi dengan hebatnya terjadi keanehan dua ksatria yang lihai dalam memanah itu saling menghujankan anak panah tapi tidak satupun mengenai keduanya. Kadang berhenti kemudian saling pandang, saling meneteskan air mata. Prabu Salyo dan Prabu Kresno keduanya tahu, kedua putra kunti itu tidak saling tega untuk membunuh bahkan melukai sekalipun sehingga tidak satupun panah tepat sasaran.

Ketika sehari penuh saling bertempur, saling mengeluarkan senjata saktinya, saling menghujankan panah tapi tidak satupun yang mengenai tubuh. Prabu Kresno sebagai kusir Arjuno dan botohnya Amarta (Pandawa) Tahu persis senjata Pasopati yang dipasang di gandewa Arjuno. Maka Tali kendali kuda disentak sehingga kuda bergerak kedepan tepat ketika Pasopati terlepas dari gandewa yang semula diarahkan hanya di depan Karno tapi karena kereta bergerak kedepan maka Senjata Sakti Pasopati tepat mengenai leher Adipati Basukarno. Anak Dewa Surya itu tersungkur mengenai kereta sehingga kereta hancur. Pasukan Amarta Gemuruh Sorak sorai sebaliknya Pasukan Astina terdiam mundur melihat sedih Senopati Besar Astina gugur di medan Pertempuran Padang Kurusetra.


Paseban Amarta

Malam hari ketika parepatan para senopati di tenda pasukan Amarta Arjuno marah besar kepada Prabu Kresno karena Pasopati sebenarnya diarahkan tidak untuk mengenai Karno tapi karena gerakan kereta ke depan sehingga panah Pasopati pas mengenai leher Kakaknya Adipati Karno. Sebagai keturunan Dewa Wisnu Prabu Kreno lalu memberi nasehat dengan bijaknya "Ketika pertempuran semakin lama akan semakin banyak pasukan kedua belah pihak gugur yang berarti rakyat juga yang menjadi korban". Sambil meminta maaf Kresno berucap " Ini pertempuran Dimas, ketika ada senopati yang gugur itulah tugas mulia yang diembannya."


Paseban Astina

Malam hari ketika parepatan para senopati di tenda pasukan Astina. Semuanya tercenung, terdiam terlihat beberapa senopati belum kering air matanya. Ketika Prabu Duryudono mulai bersabda siapakah yang menjadi senopati selanjutnya. Mahapatih Haryo Sengkuni Mengusulkan Prabu Salyo sambil berucap bahwa kematian Senopati Basukarno karena perbuatan Prabu Salyo yang sengaja menggerakan kereta kedepan sehingga panah Arjuno tepat mengenai leher Karno. Prabu Salyo marah besar pada Mahapatih Haryo Sengkuni hampir terjadi perkelahian seandainya itu bukan di pasewakan dan Prabu Duryudono tidak melerai. Dan memang kemudian ditetapkan Prabu Salyolah yang menjadi Senopati selanjutnya.


Arti Pertempuran

Pertempuran, peperangan, perkelahian dan apapun itu namanya adalah simbol nafsu manusia yang tidak pernah mau mengerti tentang peradaban yang Agung di bumi ini. Selama kita masih merasa hebat masih merasa kuat dan masih merasa segalanya, selama itu pula hidup kita tidak akan pernah damai dan tentram. Perbaiki Ibadah ! Mendekatkan diri pada Siapa yang telah menciptakan diri kita adalah jalan yang benar untuk hidup manusia.



Karna Tanding 1 : Gatotkaca Gugur.

Sesungguhnya Dursasana waktu mendapat tugas dari kakaknya sudah enggan segera  berangkat ke istana. Namun kematian Burisrawa kawan karibnya yang hanya bisa ia saksikan dari jauh, sebab ia sudah menyanggupi kembali ke Astina, menjadikan ia terpicu untuk segera berangkat malam kemarin. Keengganan yang berkepanjangan memaksa dirinya menunda keberangkatannya, namun kini ia terpaksa kembali ke peperangan dengan hati yang panas terluka.


Imajiner Nuswantoro



Tak disangka oleh siapapun tadinya, malam kemarin itu sepeninggal Dursasana ternyata menjadi malam yang mengerikan. Prabu Salya yang terluka hatinya karena kematian putra kebanggaannya, satria Madyapura Arya Burisrawa, memarahi orang orang disekelilingnya. Sesabar-sabarnya Prabu Salya, kematian putra lelakinya yang terakhir kalinya ini, membuat ia betul-betul kehilangan kendali diri. Kemarahan melebar hingga lagi-lagi murka itu menyerempet kepada Adipati Karna. Tidak terima menjadi tumpuan kemarahan, Adipati Karna segera menyatakan madeg senapati malam itu juga. Dua kali ia telah dikenai hatinya oleh mertuanya dan sekali oleh resi Krepa, membuat ia kembali bergolak kemarahannya. Kemarahan yang tidak dapat dilampiaskan sebagaimana ia melampiaskan kepada Krepa, membuatnya ia memilih jalan lain untuk melampiaskan kekesalan hatinya.

Adipati Karna adalah seorang adipati dengan pengaruh kuat terhadap negara negara jajahannya, segera ia menyusun barisan yang berisi prajurit jajahan Awangga. Tak peduli lagi tentang tata krama perang yang berlaku, dengan menyalakan obor beribu-ribu ia menggerakkan pasukannya yang berujud para raksasa dari negara Pageralun yang dipimpin oleh Prabu Gajahsura, negara Pagerwaja yang dipimpin oleh Kelanasura dan negara Pagerwatangan dengan Lembusaka.

Majunya Adipati Karna sebagai senapati dan akan menggempur lasykar Randuwatangan malam itu benar benar tanpa tata krama, barisan raksasa membakari beberapa pasanggrahan garis depan dengan tiba tiba. Arya Drestajumna dan Wara Srikandi serta Setyaki yang lelah siang tadi bertarung sudah harus kembali menahan serangan musuh. Berita serangan itu akhirnya sampai ketelinga penghuni Randuwatangan.

Arjuna yang dari tadi duduk tenang segera menggeser duduknya. Panasnya hati mendengar kejadian yang tidak lazim, membuat ia menawarkan diri untuk menandingi majunya senapati Kurawa malam itu “Kanda Prabu, perkenankan adikmu ini hendak menandingi kesaktian kanda Basukarna. Bagi kami, kanda Adipati adalah jodoh kami dalam perang. Hamba mohon sekarang kami diijinkan. Inilah saat yang hamba nantikan kanda Prabu”.

“Arjuna, bila majunya Karna ada pada waktu yang benar, maka aku ijinkan kamu untuk menandinginya. Tapi sekarang yang terjadi adalah perang dengan tidak menggunakan tata aturan perang yang sudah disepakati. Perang waktu malam adalah tindakan yang bukan watak satria. Tenanglah lebih dulu, jangan terbawa oleh hawa kemarahan”.

“Werkudara, bila anakmu aku wisuda jadi prajurit untuk menghadapi musuh malam ini, apakah kamu setuju ?” Kresna yang dihadapi oleh Werkudara malam itu menanyakan kerelaannya.

“Anakku dilahirkan memang sebagai prajurit. Sudah semestinya peristiwa malam ini menjadi harapan bagi anakku untuk diberi kehormatan sebagai senapati. Tetapi kenapa harus Gatutkaca yang harus menjadi senapati malam ini ?”. Sahut Werkudara.

“Anakmulah yang mempunyai mata Suryakanta, yang dapat awas diwaktu malam, dan kotang Antrakusuma yang menyorot hingga dapat menerangi sekelilingnya”. Kresna menjelaskan dengan menyembunyikan kenyataan yang ia telah ketahui dari kitab Jitapsara. Saat inilah Gatutkaca harus pergi untuk menghadap hyang widi wasa.

“Apakah bila anakku ada apa-apanya, kamu bertanggung jawab atas penunjukanmu atas Gatutkaca ?” Kembali Werkudara dengan rasa was-was, naluri seorang ayah, menanyakan kepada Kresna.

“Aku adalah manusia yang mungkin dapat melakukan kesalahan, tetapi bila sampai anakmu gugur nanti, itu adalah mati dalam membela negara, mati sempurna sebagai kusuma bangsa, bukan mati sia sia. Kejadiannya akan tercatat dalam lembar sejarah dengan nama harum yang tak kan pernah tersapu oleh angin jaman. Masihkah kamu ragu ?” kembali Kresna meyakinkan hati adik iparnya yang masih saja ragu.

“Aku menurut apa kata katamu “ Werkudara akhirnya merelakan.

“Baik, adikku Drestajumna, panggil keponakanmu Gatutkaca menghadapku. Sekarang juga ”.

Segera menghadap Raden Gatutkaca kehadapan uwaknya, yang mengatakan bahwa kesaktian Gatutkaca-lah yang mampu membendung serangan Adipati Karna. Begitu mengetahui ia diberi kehormatan untuk menjadi senapati untuk berhadapan dengan Sang Arkasuta-Karna. Bangga hati Gatutkaca. Raden Arjuna-pun ikut memuji kesaktiannya yang dimiliki sang keponakan. Tersenyum lega hati dan gembira sang Gatutkaca setelah penantiannya, kapan ia akan diwisuda menjadi senapati dalam peperangan besar, segera malam ini terlaksana.

“Uwa Prabu, Rama Kyai, dan semua sesepuh, perkenankan hamba hendak berpamitan untuk maju ke medan pertempuran. Walaupun dalam dada ini tersimpan kemantapan diri yang besar, namun kesaktian uwa adipati Karna memang tidak dapat dianggap enteng. Dan tugas yang diberikan oleh para sesepuh dan orang tua kami, menjadikan rasa hamba bagaikan diberi kehormatan yang demikian tinggi, sejajar dengan derajat dari uwa Adipati Karna. Dan juga pemberian kesempatan sebagai senapati ini, putramu mengupamakan, sebagai hendak meraih bongkahan inten permata didalam taman surga”. Pamit Sang Purbaya kepada Prabu Kresna dan para sesepuh yang menyatakan sebagai meraih kebahagian sorga. Ia telah tidak sengaja berkata bagaikan pengucapan kata pamitan terakhir kalinya.

Kaget sang paman, Arjuna yang mendengar kata kata keponakannya itu. Kata kata terakhir ucapan Garutkaca, dalam pikiran Arjuna seperti halnya pamitan seseorang yang hendak mati. Segera dirangkulnya pundak Gatutkaca dengan air mata yang mulai menetes dikedua belah pipinya.

“Aduh anakku, kepergian adikmu Abimanyu sudah aku relakan. Ketika melihat sifat dan kesaktian yang kamu miliki, seakan tergantikan semua yang ada pada diri anakku. Namun dengan pernyataanmu tadi, aku merasakan adanya keanehan dalam ucapanmu tadi”.

“Permadi, tidak layaklah seorang satria memberi bekal tangis serta mengucapkan kata kata seperti itu kepada seorang senapati ketika ia hendak menunaikan tugasnya. Minggirlah, biar aku kalungi rangkaian melati buyut Prabu, sebagai tanda, bahwa sekaranglah saatnya Gatutkaca aku wisuda menjadi senapati”. Kata kata yang diucapkan Prabu Matswapati mau tidak mau membuat Arjuna menyisih memberikan kesempatan untuk eyangnya mengalungkan bunga sebagai tanda senapati.

Tak diceritakan persiapan prajurit Pringgandani, yang digerakkan oleh paman paman dari Raden Gatutkaca, Brajawikalpa, Brajalamatan dan para braja yang lain. Maka malam itu, campuh perang begitu mengerikan. Kedua pasukan yang berujud raksasa saling serang dengan suara raungan sebagaimana para raksasa. Suaranya terdengar bagai auman singa lapar dipadang rumput yang sedang berpesta bangkai kijang. Obor ditangan kiri dan senjata ditangan kanan mobat mabit membuat suasana perang menjadi begitu lain dari biasanya. Gemerlap pedang yang memantul dari cahaya merah obor berkilat bagai petir yang menyambar nyambar. Obor yang terpental jatuh seiring jatuhnya prajurit raksasa yang menjadi pecundang, tak urung membuat tanah yang mulai tergenang merah darah menjadi semakin merah. Bagaikan banjir api!  Dan diangkasapun terang obor dimedan Kuru seakan menelan sinar sang hyang wulan.

Tandang sang Gatutkaca tak kalah membikin giris siapapun yang melihatnya. Gerakannya bagai kilat hingga yang terlihat adalah ujud Gatutkaca seribu. Sigap tangannya menyambar nyambar kepala lawan. Yang lunak ditempelengnya hingga hancur, sedangkan yang liat dipuntirnya kepala hingga terlepas.

Ketiga sraya dari negara taklukan Awangga tak berdaya. Kelumpuhannya tinggal menunggu waktu kapan ia didekati oleh sang Gatutkaca, maka kepalanya akan segera lepas dari lehernya.

Benarlah, tanpa perlawanan berarti ketiga sraya itu berhasil disudahi oleh tangan kekar Gatutkaca.

Tetapi tidak hanya musuh yang tewas, kecepatan gerak dengan terbatasnya pandangan karena gelap malam dan sama sama berujud raksasa, para braja paman Gatutkaca ikut tewas oleh trengginasnya gerakannya yang begitu cepat.

Adipati Karna tidak dapat berbuat sesuatu lagi, selain harus menghadapi Gatutkaca sendiri. Maju ia setelah melihat prajuritnya banyak berkurang.

Segera Raden Gatutkaca dan Adipati Karna saling berhadapan. Adu kesaktian dan kekuatan saling dikeluarkan untuk melumpuhkan lawannya. Babak pertama Karna yang merasa keteter segera menerapkan ajiannya, Kalalupa. Ujud raksasa keluar dari tapak tangan Adipati Karna semakin banyak, menambah jumlah para raksasa yang dari ketiga negara jajahan Awangga. Dikerubut oleh makin banyak raksasa dengan perawakan yang sama, akhirnya membuat Gatutkaca keteteran. Segera serangan balik dilancarkan. Aji Narantaka warisan sang guru sekaligus buyut, Resi Seta, segera dirapal. Kobaran api menyembur dari kedua tapak tangan sang senapati, berkobar makin hebat padang Kurusetra oleh nyala api tambahan dari aji Narantaka. Semburan api dengan gemuruh keras membasmi raksasa jadian dari telapak tangan Karna. Mundur sang Adipati ngeri melihat semburan dahsyat api yang keluar dari ajian Narantaka senapati Pringgandani.

Terpesona Prabu Karna, dengan kesaktian sang Gatotkaca. Namun hal ini membawanya mengubah cara perangnya dengan menaiki kereta Jatisura, dengan kusirnya, yang juga patih Awangga, Patih Hadimanggala.

Malam yang sudah mencapai sunyi lewat tengah malam dihari lain, malam ini tidak berlaku. Geriap para raksasa yang sedang bertempur dengan geramannya masih membuat susana malam bagai terserang angin ribut. Kali ini ditambah dengan perbawa kesiur angin lesatan kereta Adipati Karna.

Diatas kereta, sang Adipati menyiapkan senjata Kunta Druwasa. Pusaka dewata yang dahulunya hendak dihadiahkan kepada Arjuna untuk memutus tali pusat Jabang Tetuka, bayi Gatutkaca, Atas keculasan Suryatmaja, nama Karna muda, pusaka itu jatuh ketangannya. Sedangkan Arjuna hanya mendapat sarungnya. Sarung itulah yang akhirnya bersemayam dalam puser sang Gatutkaca, ketika tali pusar berhasil diputus.

Waspada sang Gatutkaca ketika melihat Adipati Karna menghunus senjata Kunta Druwasa, dan bersiap melepaskan anak panahnya itu. Adipati Karna diuntungkan dengan sinar kutang Antrakusuma yang menyorot melebihi pijar sinar purnama didada musuhnya. Gatutkaca menghindari dengan naik lebih tinggi terbangnya, bersamaan lepasnya senjata Kunta. Ia melesat keatas awan, dengan harapan taklah panah Kunta berhasil mencapainya.

Kocap kacarita, Kala Bendana, paman sang Gatutkaca, si raksasa boncel yang berhati bersih. Ia  yang terbunuh tidak sengaja oleh keponakannya ketika bersaksi atas menduanya Abimanyu dalam beristri, dalam peristiwa Gendreh Kemasan, Ia masih tetap setia menunggu sang keponakan di alam madyantara.

Rasaksa lucu yang kini berujud sukma setengah sempurna itu, hendak menjemput sang keponakan pada waktunya, ketika perang besar Baratayuda berlangsung. Saat inilah yang ditunggu. Maka ia bersiap berkeliling diatas arena tegal Kuru malam itu.

Maka ketika melihat lepasan sang Kunta Druwasa, disambarnya anak panah yang sebenarnya tak kuat sampai di sasaran diatas awan itu dan dibawanya menghadap Gatutkaca.

Kaget sang Gatutkaca ketika melihat sang paman datang keatas awan dengan membawa Kyai Kunta Druwasa sambil menyapa.

“Anakku Gatutkaca, sudah sampai saatnya pamanmu menjemputmu, Mari anakku, aku gandeng tanganmu menuju sorga “.

Takzim Gatutkaca menghormat pamannya.“Oh, paman . . . Aku tidak mengelak akan kesediaanku sesuai dengan janjimu. Putramu ikhlas, mari paman. Tapi perkenankan anakmu meminta sesuatu darimu”. Tak dapat menolak Gatutkaca atas ajakan pamannya. Ia telah pasrah dan mengaku segala kesalahannya dimasa lalu. Ia minta sesuatu sebagai permintaan terakhir terhadap pamannya.

“Dengan senang hati, anakku. Apa permintaanmu ?” senyum sang paman menanyakan permintaan keponakannya.

“Kematianku harus membawa korban dipihak musuh sebanyak banyaknya, hingga perang malam ini berakhir”. Jawab Gatutkaca mantap.

“Baik aku bisa melakukannya !”

Maka diarahkannya pusaka Kunta itu ke arah pusar sang Gatutkaca yang tersenyum menerima takdirnya. Melayang sukma Raden Gatutkaca ketika pusaka Kyai Kunta Druwasa masuk kedalam sarungnya. Dengan rasa kasih, digandengnya tangan kemenakannya menuju swarga tunda sanga. Penantian panjang sang paman akan keinginannya pergi berbarengan ke suarga bersama kemenakan tersayang, hari ini berakhir.

Bersatunya Kunta Druwasa kedalam sarungnya, menimbulkan akibat yang hebat. Sejenak kemudian diiringi suara mendesing, kemudian disusul suara gelegar hebat bagai suara meteor, raga Gatutkaca melesat menuju medan peperangan dibawah sana. Kecepatan lesatan raga Gatutkaca tak terkira cepatnya menimpa kereta perang Adipati Karna beserta sang kusir Hadimanggala. Tewas seketika sang patih. Remuk kereta Jatisura terkena tubuh sang Gatutkaca yang meledak menggelegar, menimbulkan lubang besar bertumbak-tumbak luasnya.

Begitu pula dengan putra Adipati Karna, Warsakusuma yang ikut ayahnya dalam peperangan juga tewas. Namun Adipati Karna berhasil menghindar.

Akibatnya, arena bagai terkena bom dengan daya ledak tinggi, hingga menewaskan banyak barisan prajurit. Gelombang kejut yang terjadi dari ledakan tubuh sang Gatutkaca menimbulkan hawa panas yang dahsyat hingga mampu meleleh luluh lantakkan apapun yang ada disekitar jatuhnya raga. Jangankan tubuh manusia, hewan tunggangan dan para raksasa, persenjataan yang terbuat dari logam-pun, cair meleleh, kemudian  menjadi abu. Dan seketika perang terhenti !

Berhenti perang meninggalkan luka dalam dihati Werkudara. Segera dicarinya Adipati Karna yang lari tinggalkan gelanggang peperangan.

Segera Sri Kresna menghentikan tindakan Werkudara. Disabarkan hati adik iparnya agar menunda dendamnya. “Lebih baik beritahu istrimu lebih dulu mengenai kejadian yang berlangsung malam ini. “Mari kita datang bersama dengan saudaramu yang lain untuk menghibur hatinya”.

“Kalau mau pergi ke Pringgandani, pergilah ! Aku tidak tega melihat apa  yang akan terjadi disana !”. Werkudara pergi sendirian kearah tak tentu dengan hati yang kosong. Kerasnya baja perasaan sang Bimasena tidak kuasa untuk membayangkan, lebih jauh lagi melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa hancur perasaan istri yang sangat dicintainya. Istri sakti yang tindakannya dimasa lalu berbuah jasa yang sangat besar bagi kelangsungan hidupnya, bahkan bagi kelangsungan hidup dan kejayaan seluruh keluarga Pandawa.

Kedatangan para Pandawa di sisa malam tanpa suaminya, membuat Dewi Arimbi terkesiap hatinya. Naluri seorang ibu mengatakan ada sesuatu yang terjadi terhadap suami atau terlebih lagi bagi anaknya. Maka begitu diberitahu akan peristiwa yang terjadi malam tadi, ia berkeputusan untuk mengakhiri hidup dengan bakar diri dalam api suci. Demikan juga dengan Dewi Pregiwa, keduanya sepakat untuk bersama sama mengiring kepergian anak dan suami mereka. Semua saudara ipar dan Prabu Kresna tidak kuasa untuk membendung keinginannya. Maka upacara segera dimulai.

Dengan busana serba putih, sang Arimbi naik ke agni pancaka, menggandeng menantunya. Ia telah memutuskan pilihannya, tetap bersama suami atau mendampingi anak tunggal kekasih hatinya.




Dursasana Gugur



Imajiner Nuswantoro


Kembali seorang dari saudara Pendawa terkena tekanan jiwa karena kematian anak tercinta. Padahal mereka tahu, kematian bagi seseorang yang masuk dalam arena pertempuran pilihannya adalah mukti atau mati. Tetapi tetap saja terjadi, setelah kematian Abimanyu anak Arjuna yang menjadikan Arjuna kehilangan pegangan diri, kali ini Sang Bima Sena-pun mengalami hal yang sama.

Tidaklah ia menyalahkan siapapun, Prabu Kresna, Karna atau dirinya sendiri. Kerelaannya melepas kepergian anaknya menjadi senapati malam itu adalah atas niat suci. Namun kenyataan yang terjadi tidak urung membuat perasaannya yang teguh sedikit banyak telah terguncang. Ketiga anak lelakinya telah mendahuluinya meraih surga. Yang pertama ketika mengikhlaskan Antareja menjadi tawur atas kejayaan trah Pandawa sebelum pecah perang waktu lalu .

Kemudian berita telah sampai pula ditelinganya, ketika Antasena juga telah merelakannya akhir hidupnya atas keinginannya untuk tidak menyaksikan dan mengalami perang Barata, asalkan para orang tuanya unggul dalam perang itu. Ia dengan sukarela tersorot mata api yang tajam Batara Badawanganala, hingga lebur menjadi abu.*)

Maka ketika anak lelaki keduanya tersambut rana dalam peperangan, maka remuk redam hatinya tanpa dapat mengalirkan air mata. Dengan pikiran yang kosong Werkudara berjalan menjauhi arena peperangan. Tak terasa langkahnya sampai dipinggir bengawan Cingcingguling ketika waktu belum lagi menjelang siang. Rasa lelah semalaman dalam menghadapi barisan raksasa dari Pagerwaja, Pageralun dan Pagerwatangan, membebani raga sang Bima, ditambah jiwa yang terluka menganga, merana ditinggalkan semua anak tercintanya. Walau amuknya semalam telah menelan korban kedua adik dari Patih Sengkuni, Anggabasa dan Surabasanta, namun tetap ia tidak puas sebelum membalas kematian terhadap Adipati Karna. Rebahlah dibawah randu hutan dipinggir bengawan, sang Bima melepas lelah.

Satu bingkai demi bingkai bayangan peristiwa masa lalu mengalir bagai kejadian yang baru saja terjadi. Dibayangkannya sosok sang istri yang begitu menyayanginya dengan segenap jiwa dan raga. Wanita yang sesuai dengan angan angan ketika ia memilih istri. Wanita yang lembut namun perkasa dan sakti mandraguna.

Berkelebat bayangan kejadian pahit manis perjalanan kasih, hidup dan perjuangannya dengan sang istri. Saling bahu membahu dengannya ketika membangun Negara Amarta dari asal hutan Wisamarta yang demikian angker dengan penunggu para lelembut sakti. Para Drubiksa penghuni hutan yang ternyata mereka adalah pemilik negara maya dalam hutan itu, bahkan telah menyatu dalam jiwa masing masing pribadi para Pandawa. Terpesonanya diri ketika melihat perubahan ujud raseksi Arimbi yang begitu perkasa dan sakti, menjadi sedemikian cantik karena sabda sang ibu, Prita-Kunti Talibrata, ketika menyaksikan Arimbi yang demikian cantik budi perilakunya dalam membantu anak anaknya, sehingga tercetus kata mantra Sabda Tunggal Wenganing Rahsa ke telinga Arimbi.

Istri yang telah memberikan warna hidup hingga lebih cerah ketika ia melahirkan seorang putra yang walau masih ujud bayi merah, Jabang Tetuka, tetapi oleh olah para Dewata, anaknya itu dibuat cepat dewasa dengan kekuatan bagaikan berotot kawat tulang besi. Ia telah berhasil membebaskan Kahyangan Jonggring Saloka dengan mengenyahkan Prabu Kalapercona dan para punggawanya yang sedemikian sakti. Putra yang sangat ia banggakan dengan sosok yang dambaan yang melekat pada angan angannya. Putra sempurna yang merajai negara tinggalan dari orang tua ibunya, sekaligus musuh Pandu, orang tuanya, yaitu Prabu Trembuku. Itulah Negara Pringgandani.

Tetapi belum semua kelebat bayangan masa lalunya usai, angan angannya itu buyar, ketika terdengar suara berisik yang dikenalinya. Warna suara itu, suara teriakan sesumbar itu. Itulah suara sesumbar dari Dursasana.


Imajiner Nuswantoro


Manusia berangasan yang sedang panas hatinya sekembali dari taman Kadilengeng di istana Astina, nyerocos sepanjang jalan. Tantangan dari iparnya, Banuwati, untuk mengalahkan Arjuna, serta hinaan kepadanya yang dituduh sebagai manusia yang takut darah, menjadikannya ia sangat bernafsu untuk segera menaklukkan Pandawa.

Sekarang hati Werkudara menjadi gembira bukan main, seakan ia menjadi anak kecil yang mendapat mainan baru. Dalam hatinya mengatakan, inilah pelampiasan dendam atas kematian anaknya tadi malam.

Bangun ia dari rebahannya, segera diketatkan segala pakaian yang melekat ditubuhnya siap untuk bertempur kembali. Kelelahan jiwa raga yang mendera, berganti dengan kesegaran yang mengalir dari dalam rasa hati. Melompat sang Bima menuju kearah suara yang nyerocos sesumbar tak henti hentinya.

Demikan juga dengan Dursasana yang merasa sangat senang, ketika melihat Werkudara menghadang langkahnya. Tidak disangka, belum sampai dimedan peperangan, orang yang dicari muncul lebih cepat dari pada yang ia bayangkan.

“Hee . . .Wekudara, kamu ternyata ada disini ! Tidak usah repot repot mencarimu ditengah banyaknya manusia yang sedang menyabung nyawa !  Sekalian aku hendak membalaskan kematian anakku Dursala karena ulah anakmu Gatutkaca ! kalimat yang terucap disertai tawa yang mengalir dari mulutnya tanda kegembiraan karena keinginannya  akan segera terwujud.

“Apa maumu ?!” Bimasena menyahut sekenanya.

“Sekarang atau nanti,  di Palagan Kurusetra atau disini sama saja. Sekaranglah waktunya untuk kita mengadu kesaktian, satu lawan satu, siapakah sebenarnya yang mempunyai kaki yang lebih kokoh, lengan yang lebih kekar dan tenaga yang paling kuat diantara kita berdua !” yakin Dursasana kali ini dapat menjadi pahlawan ketika nanti ia dapat merobohkan tulang punggung trah Pandawa ini.

“Waspadalah, ayo kita mulai !” Siaga Werkudara setelah ia berhenti berucap.

Maka tanding antara tulang punggung kedua bersaudara Pandawa dan Kurawa mulai berlangsung. Kaki kanan Dursasana mengayun ke dada Werkudara dielakkan dengan sedikit memiringkan badan. Merasa tidak akan bisa mengenai sasaran, segera Dursasana menarik kembali serangannya, kemudian ganti tangan kirinya hendak menyapu pundak Bima. Gerakan Dursasana yang lurus menyerang pundaknya segera ditangkis dengan tangan kanan, benturan kedua tangan terjadi. Sentuhan tangan keduanya memulai kontak tenaga sebagai penjajakan atas kekuatan diantara keduanya. “He he he . . . . bagus juga kekuatanmu, jangan keburu senang dengan berhasil menghindari serangan pertamaku. Ayolah sekarang ganti kamu yang menyerang, aku tidak akan mengelak seberapapun kekuatan yang hendak kau kerahkan”

“Jangan banyak mulut, terimalah  kerasnya  tapak kakiku !”

Kembali keduanya siap dengan kuda kudanya. Kali ini kaki kanan Werkudara diangkat mengarah dada Dursasana yang mencoba menahan dengan kedua tangannya yang bersilang didepan dadanya. Ketika kaki Werkudara beradu dengan tangan Dursasana, segera Werkudara menambah daya kedut pada kakinya hingga Dursasana terpaksa menahan. Sejenak kemudian kekuatan kaki Werkudara telah mendesak tahanan serangan Dursasana yang terpaksa menggulingkan diri. Werkudara mencecar dengan hendak menginjaknya, namun waspada Dursasana yang segera menyapu gerakan kaki Werkudara sambil meloncat bangun. Benturan kaki keduanya terjadi dengan kerasnya dilambari dengan kekuatan ajian masing masing.

Terlempar keduanya beberapa langkah kebelakang dengan mulut masing masing mendesis menahan nyeri tulang kering mereka. Kemudian mulut Dursasana mengalirkan sumpah serapah seperti kebiasaanya.

Kembali Dursasana mengayunkan kaki mengarah ke lambung Werkudara yang sudah siap dengan kuda kudanya. Tetap dengan mulut yang tak mau diam dengan caci makinya. Kaki beradu kaki berulang terjadi, berganti kanan kiri diselingi sambaran kepalan tangan dari keduanya. Saling serang dan elak berlangsung seimbang pada mulanya. Tanding keduanya bagaikan perkelahian seekor gajah dengan seekor harimau. Gerak sentosa Werkudara yang kokoh maju setapak setapak menahan dan menyerang balik Dursasana yang berkelahi bagai seekor singa. Hutan pinggir sungai bagai terbabat oleh sabetan tangan dan kaki kedua musuh abadi itu. Tanaman perdu patah rata tanah, sedangkan yang besar besar batangnya bertumbangan bahkan ada yang rungkat beserta akarnya.

Tapi yang berkembang kemudian adalah akibat dari jejak laku dari keduanya. Werkudara yang telah tertempa secara fisik dan telah menyerap segala kesaktian dari Ajian Bandung Bandawasa, Blabag Pengantol-antol hingga menyatunya saudara tunggal bayu serta kekuatan raksasa Kumbakarna yang ia peroleh di sekitar hutan Kutarunggu. Ketika itu Kresna yang menyamar menjadi Begawan Kesawasiddi dan memberi wejangan Hastabrata kepada Arjuna, sehingga Werkudara mendapat tambahan kekuatan selagi ia mencari keberadaan Kresna dan Arjuna. Usaha “tarak brata” inilah yang  membuat ia lama kelamaan menjadikannya  Werkudara unggul telak daripada Dursasana yang jarang melakukan usaha peningkatan ilmu kesaktian dengan lebih enak tinggal di istana.

Ketika Dursasana gagal mengungguli dengan kekuatan tangan kosong, berganti ia mencoba menggunakan limpung dan kemudian gada. Werkudara melayani kemauan Dursasana dengan kuku pancanaka  dan batang gada Lukitasari. Dengan langkah mantap, Werkudara melayani serangan bertubi tubi dari Dursasana. Namun tetap saja, walau Dursasana mengerahkan segala kesaktiannya, keteguhan Werkudara tetap tak tergoyahkan.

Merasa keteteran dengan tandang Werkudara, Dursasana mencoba mencari akal lain dengan berusaha menguras tenaga lawan. Ia berlari dan melawan dengan berulang ulang kemudian melompati kali Cingcingguling.

“Werkudara  . . . . Ayuh kejar aku  keseberang! Kamu tunjukkan seberapa kuat tenaga seribu gajah yang kamu miliki ! “ Ia berharap sebelum kaki Werkudara menapak tebing seberang ia sudah kembali menyerang sehingga lawannya kehilangan keseimbangan kemudian  serangan beruntun dilancarkan hingga lawan dengan mudah disasarnya.

Ketika perkelahian itu berlangsung, Prabu Kresna yang kehilangan adiknya, segera melacak jejak Werkudara. Pengalaman ketika ia kehilangan jejak Arjuna ketika adiknya itu terkena tekanan jiwa atas kematian Abimanyu, membuat intuisi Kresna segera menemukan dimana adanya Werkudara yang mengalami kesamaan peristiwa seperti Arjuna ketika itu.

Maka ketika dilihatnya yang dicari sedang bertempur diarena yang tidak resmi dan ia berketapan hati Dursasana akan dikalahkannya, maka diutusnya seseorang untuk menjemput Drupadi.



Imajiner Nuswantoro



 


Dan memang benar. Tak lama kemudian usaha Dursasana dalam mengubah strategi menjadi tak berarti karena kalah unggul kekuatan dan kesaktiannya. Tambahan lagi, ketika campur tangan pihak ketiga juga ikut bermain. Sarka dan Tarka, kedua arwah tumbal yang tak rela atas kematiannya masih juga melanglang di alam madyantara juga hendak menuntut balas atas kematiannya.

Maka begitu kesempatan itu datang, juntaian akar pohon tepi sungai menjadi sarana atas dendam keduanya. Kaki Dursasana yang diperkirakan menginjak tebing sungai dengan mulus, tersandung akar dan goyah langkahnya. Kesempatan ini digunakan sepenuhnya oleh Werkudara yang dengan sigap menjambak rambut lawannya, dan kakinyapun mengunci gerak lawannya. Dengan tenaga penuh dipuntirnya tubuh Dursasana bagaikan seekor buaya memutar mangsanya, Werkudara memperlakukan tubuh musuhnya.

Pucat pasi wajah Dursasana ketika sudah terkunci tak bisa bergerak lagi dengan tulang yang sudah patah pada beberapa bagian. “ Adikku Werkudara, lepaskan aku ! Berikan kakakmu sedikit rasa kemanusiaanmu. Kendurkan pitinganmu, aku mengaku kalah, ampuni aku, berikan aku hidup. . . . . . . .” Memelas kata kata permohonan ampun meluncur dari mulut Dursasana.

“Tutup mulut buayamu yang kotor ! Kamu harus ingat ketika kamu masih dalam keadaan jaya, tingkah lakumu sungguh sangat membuat jengkel saudara sepupumu. Sekarang waktunya kamu menuai tindakanmu dahulu yang selalu mencari kematian kami semua bersaudara anak Pandu. Bahkan kakak iparku Drupadi hendak kau buat malu ketika kamu menang dalam judi dadu, hingga sumpahnya harus aku luwar, agar ia dapat kembali bergelung”. Mendengar permohonan ampun tidak digubris, dengan muka yang memerah marah dan gemetar, kemudian berubah pucat pasi tanda keputus asaan mendera dadanya.

Maka takdir menjemput akhir hidup manusia yang selalu berjalan dalam kepongahan itu dengan sumpah serapah yang masih membuncah dari mulutnya. Kekesalan Bima terlampiaskan dengan memelintir anggauta tubuh lawannya hingga tercerai berai. Tidak puas juga, bagian anggauta badan Dursasana yang sudah tercerai berai dilemparkan kesegala penjuru.

Memang demikian, Dewi Drupadi, ia pernah mempunyai janji, ia tak kan pernah bergelung rambutnya apabila ia belum berkeramas dengan darah Dursasana. Janji itu terucap ketika ia hendak dipermalukan oleh Dursasana di arena judi dadu. Janji itu terucap disaksikan oleh semua yang hadir dalam arena itu termasuk Prabu Kresna. Walaupun ia tak dapat dipermalukan karena pertolongan dewa, kain yang menutup tubuhnya tak dapat dilepas seakan tiada berujung. Maka kesempatan itu tak hendak dilalukan. Bima yang teringat akan sumpah kakak iparnya segera menyedot darah Dursasana dengan mulutnya hingga kumis dan jenggotnya tergenang merah darah. Sampai ditempat kakak iparnya Draupadi, dituangkannya darah Dursasana dari mulut dan perasan darah dari jenggot dan kumisnya, yang kemudian dipersembahkan dihadapan Drupadi yang dengan senang hati menjadikannya luwar atas janjinya ketika itu.


(Bersambung).

Pada versi pedalangan Banyumasan, ada empat anak Werkudara. Satu yang hampir tak pernah disebut, yaitu Raden Srenggini. Sedangkan pada masa lalu, pedalangan gaya Surakarta menyatakan Antasena dan Antareja adalah sosok yang sama.




Tekad Durna Menegakkan Kembali Harga Diri



Imajiner Nuswantoro


Sejenak kita kembali kepada saat padang Kurusetra bergejolak, atas kehendak Adipati Karna dalam menjalankan perang di waktu malam. Kita beralih ke tempat yang lain namun dalam waktu yang bersamaan, di hutan Minangsraya. Ditempat ini terlihat bentangan suasana alam nan luas. Suasana yang tergelar samar dan muram, seperti halnya cahaya kunang kunang. Tak berdaya sinarnya, kalah tertelan oleh cahaya bulan purnama di awang awang. Ketika itu pranata mangsa telah menunjuk pada musim kemarau dan awan tipis berarak di kaki langit, menjadikan terpesona yang melihatnya. Bahkan juga mahluk seisi hutanpun ikut terpana, batang pohon kayu besar-pun terbakar.

Gambaran suasana yang ada di hutan Minangsraya ini, saat Pandita Durna yang terlunta lunta dan sakit hati, dijatuhi murka sang Duryudana. Duduk bersila dibawah pohon baniyan, resi Durna mengheningkan cipta. Semua pancaindriya dimatikan, hanya rasa jati yang dimunculkan. Terseret sukma sang begawan kedalam alam layap leyep, alam samar. Dan pesatlah laju suksma sang Pandita melesat keharibaan sang gurunadi, guru sejati, Ramaparasu.

Kaget sang Ramaparasu melihat datangnya Kumbayana yang menampakkan wajah murung.

Sembah bakti telah dihaturkan ke haribaan Ramaparasu atau Ramabargawa. Kemudian Kumbayana menyampaikan segala isi hatinya.

“Guru, hamba telah kehilangan harta yang tak bernilai harganya. Bahkan seluruh raga ini telah terasa bagai terseret runtuhan gunung Mahameru. Luluh lantak sudah tak berujud lagi”

“Apa sebab kamu merasa demikian, segala kesaktian, guna kawijayan kanuragan, kasantikan telah kau terima dariku waktu lalu, bagaikan telah tertuang habis mengalir kepadamu. Dan bila kamu merasa telah kehilangan harta yang tak ternilai seperti yang kau sebutkan tadi, segera jelaskan apa maksudnya.” Rama Bargawa menanyakan, namun dalam hatinya ia tidak syak lagi, bahwa didepan telah menjelang peristiwa besar yang menanti garis perjalanan Kumbayana muridnya.

“Bapa Guru, hamba telah kehilangan kepercayaan dari junjungan hamba Prabu Duryudana dalam mengemban tugas sebagai seorang senapati. Inilah yang hamba anggap kehilangan yang terbesar dalam hidup. Kehilangan kepercayaan yang berturut turut terjadi, setelah putra kesayangan hamba satu satunya Aswatama, telah diusir jauh dari pandangan mata junjungannya. Dan kini kehilangan kepercayaan dari seorang raja mengenai kegagalan hamba dalam melakukan tugas, adalah, bagai runtuh dan leburnya harga diri. Sekali telah runtuh, banyak waktu dan usaha yang teramat sulit untuk mendirikannya kembali, malah mungkin tak kan pernah lagi terbangun kepercayaan itu lagi” sedih Kumbayana memuntahkan isi hatinya, mukanya tertunduk dalam, menanti jawab sang guru yang apapun ucapannya nanti, dalam niatnya ia akan menjalankan sepenuh hati.

“Jadi apa maksudmu sekarang ? Apalagikah yang harus aku berikan untuk mengatasi masalahmu ?” sang guru sebenarnya berwatak keras sepanjang hidupnya, namun sekarang tersentuh hatinya menanyakan maksud Kumbayana.

“Berilah hamba pencerahan. Krisis kepercayaan yang terjadi pada diri hamba sekarang, telah menutup nalar hamba terhadap segala pertimbangan dan keputusan yang harus hamba ambil. Sekali lagi mohon pencerahannya bapa guru.” Memohon dengan seribu hormat Kumbayana kepada sang guru.

“Sekarang kamu sedang menimbang perkara apa ?” Kembali Ramaparasu menegaskan pertanyaannya.

“Haruskah hamba meneruskan peran yang sedang hamba pikul dipundak ini, apakah cukup disini riwayat Kumbayana, dan kemudian beban itu kami letakkan ? Kemudian hamba minta kerelaan paduka guru, agar hamba dapat  menjadi abdi paduka guru selama lamanya !” Kumbayana mengakhiri kalimat itu dengan kesan mendalam bagi sang guru bahwa ia benar benar ada dalam keputus asaan yang berat.


Imajiner Nuswantoro


“Kumbayana, pantang bagi manusia sepertimu yang walaupun pada kenyataanya kamu adalah seorang pandita, namun dalam jiwamu masih bersemayam jiwa satria yang kuat. Seharusnya kamu tidaklah meletakkan beban yang disandangkan ke punggungmu, bila belum memperoleh kata perintah berhenti dari yang memberi beban. Apalagi menyerah kemudian memilih pergi ke alam kesejatian”. Sejenak Rama Parasu berhenti berbicara, ia mengamati perubahan air muka Kumbayana. Lanjutnya “Bila alam kesejatian yang hendak kau raih, jalan kearah itu janganlah dilalui melewati keputus asaan. Segeralah kembali ke medan Kurusetra. Tak perlulah kamu kembali kehadapan Duryudana, tapi segeralah kerjakan apa yang menjadi tugasmu. Menang atau kalah itu adalah darma satria. Menang kamu harus meneruskan darmamu, dan bila kalah, jalan kesejatianlah itulah benar yang seharusnya kau lalui menuju tepet suci. Itu adalah seharusnya jalan utama bagi seorang kesatria yang harus dilalui ”

“Baik, hamba akan menuruti segala sabda paduka Guru.” Mengangguk Kumbayana, mengerti yang dimaksudkan oleh gurunya.

“Terimalah bekal sarana sakti dalam menuntaskan tugas itu. Bulu merak ini mampu membuatmu tak kan terlihat dengan mata telanjang. Syaratnya adalah kamu tidak boleh bicara ketika menggunakannya.  Tetapi bila anak anakmu Pandawa kuasa untuk mengantarmu kealam abadi nanti, itu pertanda bahwa merekalah yang sebenarnya berlaku benar dan pantas memenangi perang, atau sebaliknya.”

Kembali ke raga, sukma sang Kumbayana, setelah mendapatkan pembekalan dari sang gurunadi. Langkah ringan Pandita Durna diayun kembali ke Kurusetra. Ia telah menimbang nimbang tentang hal dihadapannya. Mukti dan mati sekarang terlihat bagai hanya tersekat oleh lembaran setipis kulit bawang. Ketidak percayaan akan kemampuannya sebagai senapati, akan ia balikkan menjadi keberhasilan bagi negara tempat ia mengayom, bagi dirinya sendiri dan terpenting bagi anak turunnya Aswatama. Itulah tekad yang menguat di hatinya. Apapun kejadiannya nanti, telah tidak menjadi beban lagi baginya.

Malam tinggal sepotong. Malam yang ditempat lain, di padang Kurusetra baru saja terhenti persabungan nyawa, prajurit Pringgandani melawan prajurit dari negara Awangga dan segenap jajahannya. Malam dengan pemandangan dan peristiwa yang mengerikan. Namun ditempat ini, langkah Pandita Durna seakan diberkati alam semesta. Pemandangan alam yang dilalui menampakkan asrinya hamparan keindahan bagai sebuah tamasya. Bulan lepas  purnama mengambang dilangit, sinarnya terbias oleh air telaga bening bagai bayangan seekor kura kura yang mengambang. Sementara sisa gelap malam masih mengelipkan bintang bintang yang menyebar bagai terpencarnya sari bunga tertiup angin. Ayam hutan berkokok merdu dari arah ladang pegagan, ketika sang Pendita telah sampai dipinggir hutan menjelang terang fajar.



(**)

Dan ketika semburat merah matahari kembali menerangi hamparan perdu pinggir hutan Minangsraya, dilihatnya Patih Sangkuni berjalan diiring oleh anak terkasihnya Aswatama. Dapat akal ia untuk menguji ilmunya, segera ajian Laring Merak dirapal menurut petunjuk sang guru. Dicolek patih Sangkuni dengan gaya kocak kebiasaan mereka berdua yang sering bercanda.

“Aswatama, kamu mencolek colek aku, ada apa ?!” Sangkuni yang terheran, menanyakan ke Aswatama ketika punggungnya merasa ada yang menyentuh.

“Hamba tidak melakukan itu paman” sanggah Aswatama.

“Lha kalau begitu, pasti disini banyak jin setan periprayangan yang kerjaannya mengganggu manusia !” Sangkuni setengah berbisik mengatakan kepada Aswatama.

“Tapi hamba tak diganggunya. Mungkin hamba orang yang tidak banyak dosa jadi tidak diganggu.” Jawab Aswatama sekenanya.

“Kalau begitu aku ini manusia yang banyak dosa, begitu ?” kembali Sangkuni menegaskan.

“Ya begitu, memang kenyataannya !” terkekeh Pandita Durna menyahut. Maka tampaklah sosok Durna dihadapan keduanya.

Gembira Patih Sangkuni segera merangkul Pandita Durna. Kemudian berganti sang Pandita merangkul anak tunggal kesayangannya, Aswatama.

“Lha Wakne Gondel, sudah dua malam aku mencarimu, ayolah kakang, Sinuwun sudah mengharapkan wakne Gondel untuk meneruskan peran andika sebagai senapati. Sinuwun Prabu Duryudana menyampaikan rasa sesal yang tak terkira. Maklumlah, beliau banyak beban dipunggungnya yang kian berat. Apalagi kematian putra lelaki satu satunya, telah meruntuhkan moral perangnya. Tugas wakne Gondel sekarang adalah, mengangkat kembali moral sinuwun Prabu Duryudana.”

“ Ya aku sanggupi. Hari ini sebelum matahari tenggelam, aku sanggup menyelesaikan perang dengan kemenangan !“. Pendeta Durna menjanjikan.

“ Anakku Aswatama, untukmu aku pesankan, jangan dulu kamu ikut dalam pertempuran ini, pergilah menjauh dari arena. Kalau aku sudah dapat membuktikan kerjaku, pasti sinuwun Duryudana akan mengampuni kesalahan kamu “.

Berita kembalinya Pandita Durna telah memberi bahan bakar semangat baru bagi prajurit Kurawa. Prabu Duryudana gembira mendengar kedatangan kembali agul agul sakti sebagai senapati. Melebihi kegembiraan ketika malam tadi, kakak iparnya, Adipati Karna telah berhasil membunuh Gatutkaca.

Walaupun sang Pendita tidak langsung menghadap, namun kesediaannya kembali mengatur peperangan yang disampaikan oleh pamannya, Sangkuni, telah menjadikannya Duryudana bangkit kepercayaan dirinya lagi.

Perang campuh pun kembali berlangsung siang itu. Telah tersedot habis tenaga dalam peprangan malam kemarin, sisa prajurit Kurawa yang selamat dari kehancuran perang malam telah kembali bertarung mengadu peruntungan siang ini.

Melihat kelelahan yang mendera para prajurit Bulupitu, sang Senapati tidak tega. Maka diambil alihlah kendali peperangan dengan peran utama ada pada tangan Pandita Durna sendiri. Amukan sang Senapati tua, yang kembali dari pengasingan diri kemarin hari, membawa korban sedemikian besar bagi para prajurit Amarta. Senjata Jayangkunang ditangannya dengan ajian laring merak yang membuatnya tidak kasat mata. Mengerikan bagai seberkas api ndaru braja berkobaran ditengah palagan peperangan, menghanguskan siapapun yang berani menghadang gerakannya. Gerakannya yang kadang mematikan nyala kerisnya dan berpindah posisi amukannya membuat lawan kerepotan dalam menentukan dimana arena amukannya akan terjadi.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan bagi prajurit Amarta, Drestajumna segera menghadap Sri Kresna dan Arjuna.

“Dhuh para sekti, kami meminta pertimbangan kepada paduka, apakah yang harus kita lakukan agar dapat menghentikan amukan senapati yang tak terlihat dengan mata para prajurit”.

“Adimas Drestajumna, sudah aku pikirkan sebelum dimas sampai dihadapanku. Aku akan mengutus kakakmu Arjuna, untuk menghentikan jatuhnya korban dari tangan Pandita Durna”. Tenang Prabu Kresna memberikan ketegaran hati kepada sang senapati Pandawa.

“Adikku Arjuna, hanya kamulah yang dapat menghentikan amukan gurumu Resi Kumbayana. Hanya pesanku, jauhkan rasa yang mengatakan itu adalah gurumu yang harusnya kamu hormati dan patuhi semua perkataannya. Ingatlah kata kataku waktu lalu, yang mengatakan, ini adalah perang dimana tidak ada balas budi antara guru dengan muridnya. Yang ada hanyalah perang dimana tempat itu adalah arena untuk meluwar segala janji dan memetik yang kita tanam”. Kresna mengulangi pesan yang pernah ia sampaikan ketika perang baru saja berlangsung. Ketika itu ragu hati Arjuna menyaksikan lawannya adalah para saudara sendiri, paman, eyang, bahkan gurunya sendiri, hingga membuat semangatnya luluh dan ia jatuh terduduk dengan badan yang gemetar.

“Kata kata kanda Prabu akan kami junjung tinggi dan akan hamba laksanakan. Mohon petunjuk kanda Prabu selanjutnya” Mantap Janaka menjawab.

“Baiklah. Sarana untuk melihat keberadaan lawanmu adalah rumput Sulanjana yang kamu miliki sejak lama, pergunakanlah untukmu sendiri dan orang orang yang kamu percayai dalam membantu usahamu, adimas”. Pesan Prabu Kresna mengakhiri pembicaraan.

Maka beranjaklah Arjuna mengatur barisan dan menggunakan sarana agar dapat melihat dimana adanya musuh yang tidak terlihat itu. Sementara Kresna memberi pesan juga, agar mengulur waktu karena dirinya hendak mencari keberadaan Werkudara yang meninggalkan Tegal Kuru tanpa pamit hendak kemana.

Prabu Drupada yang mendapatkan jatah rumput sulanjana segera menghadang gerakan Pandita Durna. Ia merasa masih punya ganjalan dengan teman karibnya dahulu. Setengah memaksa kepada Arjuna dan anaknya Drestajumna, agar ia dapat melayani senapati Bulupitu itu.

Maka ketika sari rumput sulanjana sudah diteteskan pada matanya, Drupada dengan mudahnya mendapati dimana Begawan Durna berada.



Imajiner Nuswantoro


“Heh Kumbayana, tak ada gunanya kamu bersembunyi dalam ajianmu. Ayolah kita menentukan siapa sejatinya yang lebih benar dalam persoalan trah Barata ini”.

“Ooh . . kakang Sucitra, baik aku layani segenap kesaktian yang kamu miliki. Lupakan saat dahulu ketika bersama sama berguru. Lupakan saat kita sudah melewati simpang jalan dan kamu sudah mukti wibawa di Pancalaradya, yang mengakibatkan kamu kurang berkenan, karena aku kurang tata susila ketika aku menemuimu. Peristiwa yang  membuat marah adik iparmu Gandamana dan membuat cacat seluruh ragaku. Tapi dalam pertemuan ini, persahabatan kita harus berakhir dalam permusuhan. Salah satu dari kita harus berakhir masa pengabdiannya sebagai tokoh yang membawa kebenaran dalam sudut pandang kita masing masing”.

Maka bersiaplah kedua tokoh tua itu. Serangan demi serangan segera mengalir gencar. Pada mulanya anggauta tubuh sang Drupada yang lebih lengkap ditambah dengan ajiannya Lembu Sekilan mampu mendesak posisi sang Pandita yang hanya bertangan fungsi tunggal. Namun pandita Durna adalah seorang guru yang setiap kali menurunkan ilmunya bukan menjadi berkurang, tetapi malah semakin matang. Sementara Prabu Drupada adalah seorang raja yang walaupun sakti pada masa mudanya, tetapi kehidupan istana yang lebih menjanjikan kemewahan pelayanan membuat ia kurang terasah kemampuan fisiknya.

Maka kembali lelaku pengasahan ilmu yang berkesinambungan-lah yang unggul. Hal ini yang membuat Durna berada diatas angin. Apalagi ketika ada kesempatan terbuka, sang pandita mampu menancapkan senjatanya. Tembus dada sang Sucitra tua hingga kejantungnya.

“Kumbayana, aku mengakui kesaktianmu lebih unggul dariku, dan  rasanya sudah dekat ajalku . . . . . “ terpatah kata kata Sucitra yang sudah roboh ditanah yang bersimbah darah. Ia menyampaikan isi hati dihadapan Kumbayana yang masih berdiri mematung. Dengan nafas yang makin satu satu keluar dari mulut yang berlumur darah, Drupada lirih melanjutkan, “namun . . . persahabatan kita hendaknya tidak berhenti . . . . sampai disini. Aku akan sabar menungguimu kembali ke alam kelanggengan bersamamu . . . mudah mudahan waktu tunggu . . . .  ini tak akan lama”

Termangu sang Kumbayana ketika melihat teman seperguruan tewas ditangannya. Seketika tersadar ketika sorak sorai membahana mengabarkan tewasnya Prabu Drupada.

Dilain pihak, sesal sang Arjuna melihat mertuanya tewas. Tetapi itu tak lah berguna. Kehendak keras Prabu Drupada yang memintanya agar diberi kesempatan bertarung dengan teman lamanya, ternyata adalah saat ia mengantarkan jiwanya menuju keabadian.

Tak ada pilihan lagi bagi Arjuna-Dananjaya untuk mengatasi runtuhnya moral prajuritnya, karena gugurnya Prabu Drupada. Maka majulah ia kehadapan gurunya.

“Sembah baktiku kami haturkan kehadapan Bapa Guru” Dananjaya mengaturkan sembahnya.

“Ya, aku terima. Betapapun kamu sebagai musuhku, kamu tidak lupa akan suba sita. Inilah yang aku kagumi dari watak para anak Pandu” Durna terkesima dengan apa yang terjadi dihadapannya.

Lanjutnya “Lain dari itu, kesaktian anak Pandawa tidak aku ragukan lagi. Ajian Laring Merak yang aku banggakan tidaklah ada artinya dihadapanmu. Marilah kita mengakhiri cerita masa lalu. Sudah saatnya Baratayuda menentukan, mana pakarti kita sebelumnya  yang harus dipanen pada saat ini”.

Sekali lagi Arjuna melakukan sembahnya dan bangkit untuk melakukan kewajiban sebagai seorang prajurit yang tak lagi mengenal status sebagai guru dan murid.

Pertempuran tangan kosong telah dimulai. Arjuna yang masih ada perasaan sedikit segan terhadap gurunya, bertempur dengan  setengah hati. Pukulan dan gerak yang dilancarkan tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, maka tak lama kemudian punggungnya terkena sabetan kaki gurunya hingga ia merasa kesakitan. Tersengat rasa Arjuna yang berubah menjadi panas karena rasa sakit yang mendera bagian tubuh yang dikenai oleh Pandita Durna, kali ini ia bersungguh sungguh. Kesempurnaan raga dan timbunan kesaktian yang ditambah dengan tenaga yang lebih baik karena faktor usia, membuat ia mendesak sang Pandita.

Mundur Durna sejenak dan mencipta api berkobar dari senjatanya. Kobaran dahsyat api dari ajian guntur geni melanda medan Kurusetra membuat lari tunggang langgang prajurit Amarta.

Waspada sang Dananjaya, segera mencipta mendung pekat melayang diatas palagan. Seketika hujan deras disertai prahara melanda medan Kuru memadamkan kobaran api. Itulah ajian guntur wersa-prahara dari gurunya sendiri yang disempurnakan oleh Batara Indra. Adu kesaktian pengabaran berlangsung silih berganti. Segala bentuk kesaktian yang diciptakan Pandita Durna berhasil dipunahkan Arjuna, bahkan mendesak balik pertahanan Durna.

Ketika ilmunya dapat dipunahkan, segera Kumbayana melolos keris kecilnya Cis Jayangkunang dan kembali perang tanding senjata keris berlangsung seru. Perimbangan pertempuran berlangsung mengagumkan dengan keris Pulanggeni ditangan Arjuna, hingga banyak prajurit dari kedua pihak berhenti menonton tanding senjata itu.

Kematangan Sang Begawan dalam menggunakan ilmu kesaktiannya menjadikan peperangan berlangsung dengan seimbang. Hingga Kresna kembali dari pencarian terhadap Werkudara yang berhasil membunuh Dursasana, pertempuran masih tetap berlangsung sengit. Maka yang terjadi selanjutnya adalah perang strategi. Bila secara wajar pertempuran akan memakan waktu dan berlarut larut, maka segera ia menyusun strategi.

“Werkudara, ketahuilah, bahwa gurumu itu dalam bertempur mempunyai tujuan tertentu”.

“Apa maksudmu ? Werkudara menukas.

“Nanti dulu, aku akan menunjukkan kepadamu sesuatu. Ingatlah, beberapa hari ini gurumu meninggalkan peperangan karena sakit hati atas ketidak percayaan Duryudana kepada anak bapak Sokalima. Misi dari gurumu sekarang, tidak lain adalah mengembalikan harga dirinya dan sekaligus mengembalikan kepercayaan junjungannya kepada anak tercintanya, Aswatama. Semua yang ia lakukan adalah bermuara kepada kemukten bagi anak yang dicintainya itu”. Sejenak Kresna diam dan menyelidik, apakah kata katanya dimengerti oleh adik sepupunya itu.

Yang dipandanginya mengangguk setengah mengerti. “Teruskan dongengmu, biar aku tidak setengah setengah menelan omonganmu”

“Kamu lihat siapa yang menaiki gajah dan berperan sebagai senapati pendamping ?” Kresna bertanya, namun kembali ia meneruskan “Itu adalah raja dari negara Malawapati, Prabu Permeya”.

“Terus apa hubungannya dengan reka dayamu ?” Kembali Bima memotong.

“Gajah yang dinaiki itu bernama Hestitama, bunuh prabu Permeya dengan gajahnya sekalian, kemudian kabarkan pada semua prajurit agar mereka mengatakan Aswatama telah tewas !”

Melompat Werkudara dengan menimang gada Rujakpolo. Dihampiri Permeya yang duduk pongah diatas gajahnya. Terkejut Permeya ketika dihadapannya telah berdiri dengan teguh sosok Werkudara. Terkesiap darahnya ketika melihat gada ditangan Bima-Werkudara berputar mengancam dirinya. Tak pelak lagi mentalnya jatuh. Memang demikian, kesaktian Permeya memang tak sebanding dengan Werkudara. Maka disertai mental yang telah runtuh, tak sulit Werkudara menebas keduanya, Permeya beserta tunggangannya, gajah Estitama. Tanpa bisa mengaduh, keduanya tewas dengan isi kepala terburai.

Seperti direncanakan oleh Sri Kresna, geger para prajurit meneriakkan Aswatama telah tewas. Dan berita itu tak lama kemudian sampai ditelinga Begawan Durna.



Durna Gugur


Imajiner Nuswantoro


Bingung dan gundah rasa Sang Begawan mendengar teriakan bersahut sahutan yang mengabarkan kematian putranya Aswatama. Ia bertanya kesana kemari tentang kebenaran berita itu kepada beberapa prajurit yang ditemuinya. “Heh prajurit, apa benar Aswatama tewas ?”

“Benar begitu, ini yang saya dengar !” jawab beberapa prajurit yang ia tanya.

Ia berketetapan hati ia akan menanyakan kepada para Pandawa yang dianggapnya dapat berkata jujur. Bertemulah ia dengan Nakula dan Sadewa “Anakku kembar, kamu berdua adalah dua orang yang lugu, cepat katakan, apa benar Aswatama telah tewas ?”

“Itu yang saya dengar bapa, bahwa Aswatama telah tewas” keduanya menjawab seadanya. Namun jawaban keduanya yang tak mengurangi rasa penasaran, bahkan makin makin membuat ia bertambah bingung dan tubuhnya menjadi lunglai.” Ah . .  sama saja, bohong ! Kamu berdua memang tidak bisa dipercaya !” ketus sang Begawan, diputuskannya untuk mencari Puntadewa yang selamanya tak pernah bohong.

Melihat gelagat bahwa Pendita Durna hendak mencari tahu atas berita kematian anaknya kepada sepupunya Puntadewa, Kresna mendekati Puntadewa dan mengingatkan. “Adimas Puntadewa, kami hanya mengingatkan kepadamu agar berbuat sesuatu ketika nanti Bagawan Durna datang kepadamu, dan menanyakan tentang keberadaan Aswatama. Perbuatan dan perkataan adinda Prabu nanti bila berhadapan dengan Bapa Pandita, adalah titik dimana Pendawa akan unggul atas Kurawa atau sebaliknya”.

Kata kata bersayap Sri Kresna dimengerti oleh Puntadewa, “Akan kami lakukan apa yang diperingatkan oleh kanda Prabu”

Demikiankah, memang benar, Begawan Durna yang sudah kalang kabut pikirannya datang kepada Puntadewa menanyakan perihal anaknya.



Imajiner Nuswantoro



“Puntadewa anakku, kamu adalah satu diantara manusia langka yang mempunyai darah yang berwarna putih. Manusia berdarah putih yang bila darah itu menimpa bumi dapat menyebabkan bumi menjadi terbelah. Hati orang yang berdarah putih mempunyai kerelaan yang tiada terkira, apapun yang orang minta, tidak memandang itu dari golongan apapun, pasti akan ia kabulkan. Kata katanya juga tak akan pernah bohong barang sekalimatpun” Durna memuji-muji Puntadewa dan berharap ia mengatakan sejujurnya apa yang terjadi. Lanjutnya, “Sekarang aku sudah berhadapan dengan manusia semacam itu. Sekarang katakan, apakah benar Aswatama mati? Itu hal yang bohong, bukan ? Aswatama sekarang masih hidup, bukankah begitu ?!” Setengah mendesak  agar ia mengatakan hal yang sebenarnya dan mengharapkan agar anaknya masih dalam keadaan hidup.

Tetapi terbawa oleh kekalutan pikiran dan riuhnya suasana peperangan, maka ketika Puntadewa yang pantang berbohong mengatakan, “Bapa Guru, yang kami tahu, memang Hestitama mati” dan ia mengatakannya dengan tekanan kalimat pada kata tama sementara kalimat Hesti terucap pelan. Diterima dengan salah, maka jatuhlah Durna terkulai bersandar tebing batu. Setengah tega, ditinggalkan gurunya yang ada antara sadar dan tidak. Dalam hati Begawan Durna, jelaslah, Puntadewa yang tak pernah bohong mengatakan Aswatama telah tewas.

Ternyata tidak hanya kalutnya hati dan riuhnya suasana perang yang mengakibatkan Durna salah terima, sukma raja Paranggelung, Prabu Palgunadi yang sewaktu muda bernama Bambang Ekalaya atau Ekalawiya yang masih membayangi kehidupan Begawan Kumbayana di alam madyantara-pun, punya peran untuk meniupkan kalimat Aswatama ditelinga sang Begawan.


Imajiner Nuswantoro



Nah Bapa Guru, sekarang adalah waktunya bagi muridmu untuk membawamu ke alam dimana tak ada lagi aturan yang membatasimu, agar tidak menerima murid selain dari darah Barata. Bapa guru tak lagi dapat bertindak pilih kasih kepada setiap muridmu. Mari guru akan kita selesaikan perkara yang masih belum selesai waktu lalu” kata Prabu Palgunadi yang melihat “guru imaginasi”-nya menjadi tak berdaya atas keyakinan bahwa anaknya sudah tewas.



(**)

Demikianlah, diceritakan pada waktu itu, Prabu Palgunadi yang sangat gandrung dengan ilmu kanuragan. Walau ia sudah menjadi raja dengan segala kemewahan duniawi dan beristri cantik yang setia, Dewi Anggrahini, tetapi ia sangat kepincut dengan ilmu jaya kawijayan dan kanuragan yang diajarkan oleh Durna. Maka ia merelakan meninggalkan kerajaannya dan menyatakan niatnya berguru kepada Begawan Durna.

Jelas saja ia ditolak, karena Begawan Durna sudah diberi batasan, bahwa yang berhak menyerap ilmu darinya adalah hanya trah Barata, alias putra putra dari Adipati  Drestarastra dan Prabu Pandu, serta putra Raden Yamawidura.

Dengan perasaan sedih, Palgunadi pergi dari hadapan Begawan Durna.

Kerasnya tekad Palgunadi makin menjadi-jadi ketika ia ditolak berguru di Sokalima. Dengan ditemani istri setianya ia membangun arca berujud Begawan Durna ditempat pengasingannya. Dipusatkan pikirannya seakan setiap kali ia ada didepan arca Durna, ia sedang menerima ilmu kanuragan, kasantikan beserta segenap wejangannya.

Waktu berlalu, dan tahunpun berganti. Ketrampilan tata perkelahian dan olah panah sang Palgunadi sedemikian hebatnya, oleh karena ketekunannya dalam memusatkan pikiran dihadapan arca yang direka sebagai sang guru sejatinya.

Maka ketika ia sedang berkelana di hutan, bertemulah ia dengan Permadi-Arjuna. Harga diri memperebutkan buruan menjadikan perang tanding diantara keduanya.

Berhari hari tanding tiyasa berlangsung dengan imbang. Tetapi dalam olah permainan panah, Arjuna kalah oleh ketrampilan Palgunadi.

“Heh Arjuna, jangan menyesal kamu berhadapan dengan murid Sokalima, Begawan Durna. Masihkan kamu hendak menyamai kesaktianku ? Taklah kamu bakal mengalahkan murid terkasihnya !” Masygul dipermalukan, bahkan sumbar sang Palgunadi yang menyebut nama gurunya adalah juga sebagai guru musuhnya, ia kembali ke pertapaan Sukalima dan mengadukan peristiwa itu dan menuduh, bahwa gurunya telah secara diam diam berselingkuh dengan menerima murid selain saudara sedarah Barata-nya.

Tak terima dengan tuduhan itu, ia ingin membuktikan ketidak benaran tuduhan itu,dengan mengajak Arjuna ketempat Palgunadi berada.

Setelah bertemu, Ekalaya terkesiap hatinya. Sangat bersuka cita ia sehingga tak dapat berbuat apapun, kekagumannya atas Sang Begawan seakan mengunci segenap tindakannya. Setelah tersadar, ia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Begawan Durna, dan dengan takzim ia menghaturkan sembah, “Guru, perkenankan muridmu menghaturkan bakti atas kunjunganmu terhadap muridmu ini. Sungguh anugrah yang tak terhingga kedatangan paduka guru, sehingga sejenak hamba tak dapat berbuat sesuatu apapun dalam menerima kedatangan paduka guru yang tiba tiba ini”

Panas hati Arjuna melihat adegan didepannya, “Benarlah ternyata, bahwa bapa Durna telah menyalahi janji dihadapan para sesepuh kami”

“Eits, nanti dulu . . .! Inikah orang yang mengaku sebagai muridku? Bila memang sungguh begitu, lakukan layaknya seorang murid dihadapan gurunya”, Durna yang merasa terdesak oleh tuduhan yang dilontarkan dengan rasa kecemburuan yang besar dari Arjuna coba berkelit dengan susah payah.

“Apakah yang Guru hendak perintahkan kepada muridmu ini, akan hamba kerjakan sesuai kemampuan kami” mantap jawaban Palgunadi mengharap ia tidak disisihkan dari statusnya sebagai murid Sokalima. Tersenyum ia seakan segenap permintaan sang guru maya itu bakal ia penuhi. Tak tahu, bahwa olah rekayasa guru Durna mempunyai tujuan memunahkan segala ketrampilannya dalam olah warastra.

“Begini Palgunadi, bila kamu hendak diakui sebagai muridku, maka berikanlah cincin yang menyatu pada jari manismu itu !” Akal Durna seketika terang sewaktu melihat cincin Gandok Ampal yang menyatu pada jari manis Ekalaya.

“Aduh Sang Resi, adakah cara lain agar hamba dapat menukar permintaanmu, duh sang Guru ?” Memelas kata kata Ekalaya mendengar permintaan itu. Cincin Gandok Ampal yang melekat pada jarinya adalah penyeimbang gerak jari tangan yang menjadikan ia dapat dengan jitu membidik sasaran. Bahkan benda itu telah menyatu dalam kulit daging sehingga bila dilepaskan nanti, maka sama artinya ia menyerahkan kesaktian bahkan nyawanya.

Ketika ia masih berpikir dan gurunya pun berpikir sembari menunggu keputusan kata akhir dari Palgunadi, Arjuna menyelonong menyampaikan usulnya.

“Bapa Guru dan juga Palgunadi, bila tidak keberatan, maka cincin itu dapat dipertahankan melekat pada jarinya, asalkan ditukar dengan yang ada dibelakangmu itu, Palgunadi”

“Apa yang kamu maksudkan Arjuna ?” Tanya Palgunadi yang heran dengan permintaan Arjuna.

“Wanita dibelakangmu dapat kamu tukar dengan cincin yang melekat dijarimu. Bukankan itu hal yang bersifat adil Bapa Guru ? Jelas Arjuna sambil meminta pertimbangan kepada gurunya dan dijawab Sang Guru dengan menganggukkan kepalanya.

Memerah muka Palgunadi ketika sang istrinya disebut sebagai tanda tetukar atas pengakuan sebagai murid Sokalima. Kedua permintaan antara guru dan murid Sokalima itu telah menyudutkan pilihan atas kuatnya hasrat memiliki sesuatu. Ia akan merelakan nyawanya bila cincin itu ia serahkan, sedangkan kehormatan seorang suami akan memberontak bila seorang istri diminta lelaki lain

Berpikir keras Palgunadi menimbang yang manakah yang hendak ia pilih. Samar ia mendengar guru maya-nya mengingatkankan, “Palgunadi, aku tak punya cukup waktu aku menungguimu. Cepat putuskan pertimbanganmu”

Kaget Palgunadi, terputus angan angannya ketika ia diminta segera memutuskan pilihannya. Sejenak ia berbalik badan memandangi Anggraini. Wanita cantik itu tertunduk gelisah. Pilihan yang berat bagi suaminya. Anggraini adalah istri yang sangat mengerti sekali akan watak suaminya. Ia tahu betapa suaminya sangat gandrung dengan olah ilmu kanuragan aliran Sokalima. Pastilah ia tak akan mundur dalam mempertahankan status ilusinya, bahwa ia adalah murid perguruan Sokalima. Dan saat ini status guru-murid ilusi itu akan berganti dengan status diakui penuh, bila ia dapat menyerahkan salah satu dari dua pilihan itu.

Angan itu terputus ketika suara istrinya menanyakan beberapa hal,“Kanda, apakah rela bila seorang suami menyerahkan istrinya ? Apakah benar tindakan seorang suami yang merelakan istrinya dijamah lelaki lain ? Tidakkah seorang suami terusik kehormatannya bila belahan jiwanya dimiliki oleh orang yang tidak berhak memiliki . . . .”

“Baiklah . . . “ , potong Palgunadi sebelum istrinya meneruskan kalimatnya panjang lebar, “ Sekarang aku akan memutuskan !” Sejenak ia terdiam dan kembali menghadap Begawan Durna, yang tersenyum puas terhadap apapun yang Palgunadi hendak pilih. Bila ia memilih istrinya diserahkan kepada Arjuna, maka ia akan melihat, betapa Palgunadi akan  tersiksa dan goyah lahir-batinnya hingga ia merana, bahkan dapat berujung pada kematiannya. Bila ia akan menyerahkan cincin dijarinya, ia sangat yakin, cincin itu adalah keseimbangan jiwa raga bagi Palgunadi, dan ia akan tewas bila ia menyerahkan cincin sekaligus jarinya.

“Guru, aku telah memutuskan. Aku serahkan . . . . . cincinku beserta segenap jiwa dan ragaku” Tegar Ekalaya dengan pilihan hatinya. Bagaimanapun status murid Sokalima adalah kebanggaan tiada tara baginya. Kebanggaan yang sejatinya adalah semu dan membabi buta, telah mengantarkannya pada keputusan yang tak mengherankan bagi setiap manusia yang bersikap sangat fanatik terhadap kepercayaan yang sudah tertanam dalam sanubari, sebagai dogma yang tak mudah diasak. Bahkan, bagi sebagian orang seperti itu, mengorbankan jiwa raganya sekalipun ia rela melakukannya demi mempertahankan kebanggaan serta kebenaran yang dipercayainya. Padahal semua kebenaran adalah nisbi, dan kebenaran bagi suatu pihak, golongan atau perseorangan belum tentu benar bagi yang lain. Kebenaran sejati hanya terpancar dari hukum alam semesta.

Terkekeh Begawan Durna senang, tak peduli ia sebagai manusia yang timpang rasa keadilannya. Tak salah, bahwa ia telah diberi batasan serta janji bahwa hanya kepada trah Barata-lah ia boleh menurunkan ilmunya. Tak terbatas pada orang Pandawa dan Astina serta trah Yamawidura yang sekarang tinggal di Astina, tetapi Kurawa sabrang yang terpental pada kejadian Pandawa Traju-pun, tetap menjadi muridnya. Sekarang ia akan mengenyahkan satu trubusan yang mencederai janji itu, sekaligus membuktikan kepada murid terkasihnya, Arjuna, bahwa ia tidak ingkar janji.

“Segera letakkan jarimu diatas batu itu, relakan bahwa apa yang terjadi adalah atas dasar kesungguhanmu dan kesetiaanmu pada perguruan Sokalima”

“Baik bapa Guru, satu kata kata yang hendak aku sampaikan kepadamu, bila aku mati karena peristiwa ini, ini adalah suatu tanda bagi seorang guru yang pilih pilih menjatuhkan kasih bagi murid muridnya…..” antara rela dan tidak Palgunadi megutarakan isi hatinya.

“Sudahlah jangan banyak cakap, aku akan melaksanakannya sekarang juga” Durna tidak mau terpengaruh kata kata Palgunadi dengan memotong pembicaraannya.

Segera Palgunadi meletakkan telapak tangannya diatas batu, bersamaan dengan dicabutnya senjata Cundamanik. Putus jari manis Palgunadi beserta cincin Gandok Ampal dengan sekali iris. Tak dinyana begitu putus jari, yang seharusnya hanya cedera yang ia alami, tetapi kemudian yang terjadi adalah tubuh Palgunadi bergetar hebat. Desis kesakitan yang amat sangat keluar dari mulutnya, kemudian ia terkapar terbujur meregang nyawa. Tewas sang Palgunadi.

Tertegun Begawan Durna dan Arjuna melihat kejadian dihadapannya, hingga ia lengah. Cundamanik yang ada ditangan Durna secepat kilat ada pada genggaman Anggraini yang kemudian menusukkan keris ditangannya ke dada tembus di jantung. Menyusul sang istri setia kepangkuan suami tercinta ke alam sunya ruri. Terbujur dua orang yang saling mencinta itu dengan meninggalkan bau harum memenuhi sekitar tubuh keduanya.

Belum lagi tersadar sepenuhnya Begawan Durna, ia dikejutkan denga suara yang terngiang di telinganya, “Bapa Guru, telah sempurna aku sebagai  muridmu. Tetapi ajaranmu yang sebenarnya masih aku tunggu, sampai aku melihat waktu yang tepat untuk kembali mencecap ilmu darimu “



(**)


Imajiner Nuswantoro



Melihat sang Drestajumna diatas kereta senapati dengan pikiran kosong, sedih dan rasa duka mendalam setelah kematian ayahnya Prabu Drupada, maka bergeraklah sukma Palgunadi menuju kearah Drestajumna. Segera berubah raut muka Drestajumna menjadi liar ketika sukma Ekalaya menyatu dalam raganya.

“Durna ! dimana kamu ? Aku akan bela pati atas kematian ayahandaku. Ini adalah anaknya yang dari lahir sudah menggenggam busur ditangan kiri dan menggendong anak panah dipunggungku. Aku yang akan meringkusmu dan akan aku jadikan bulan bulanan kepalamu !” Sesumbar Drestajumna liar dengan mata jelalatan mencari dimana Durna berada.

Maka gembira hati Drestajumna ketika melihat Begawan Durna mengeluh panjang pendek menyesali kematian anaknya semata wayang.“Aswatamaaaaa . . . . , huuu . . . kamu adalah harapanku, satu satunya penyambung keturunan Atasangin. Kamu yang siang malam aku gadang gadang bakal menggantikan peran bapakmu. Sukur kalau kamu dapat aku jadikan raja agung binatara dan menguasai jagad. Anakku bagus tampan Aswatama, kamu adalah anak yang bukan sembarangan, tetapi kamu adalah  manusia linuwih. Kamulah anak setengah dewa, karena ibumu Wilutama adalah seorang bidadari. Maka kamu pasti akan dapat dengan mudah menguasai banyak jajahan. Bahkan negara Astinapun dapat kamu kuasai bila kamu sudah bertahta di Atasangin nanti. Anakku . . . , dimana jasadmu sekarang. Bila mungkin akan aku mintakan kepada ibumu agar kamu dapat dihidupkan kembali. Wilutama . . . , pertemukan aku dengan anak tampanmu. . .” menangis mengenaskan Durna sambil mulutnya meracau, berdiri condong bersandar tebing batu.

Malang begawan Durna, Drestajumna yang dalam penguasaan arwah Palgunadi melihat keberadaan Begawan Durna yang menangis meraung raung mengenang nasib anaknya. Tak satupun sosok Kurawa didekatnya karena mereka sibuk mencari keberadaan Aswatama yang diperintahkan untuk menjauh dari medan peperangan. Para Kurawa sebenarnya bermaksud untuk mempertemukan Aswatama dengan ayahnya agar selesai masalah kekalutan jiwa yang menimpa Begawan Durna.

Tanpa sepatah kata, Drestajumna segera meraih tubuh renta dan menjadikan tubuh itu sebagai layaknya kucing memainkan seekor tikus. Tak hanya sampai disitu, ditebasnya leher Begawan Durna. Kepala menggelinding ditanah berdebu dan dijadikan bola tendang dan kemudian dilemparkan jauh jauh.

Tewas Sang Kumbayana dan sukmanya dijemput oleh sahabatnya, Sucitra, yang tidak menunggu lama kedatangan karibnya itu ketika muda. “Lhadalah, tidak usah terlalu lama aku menunggumu, sahabat” sambut Sucitra dengan senyum mengambang di bibirnya dan kedua tangan mengembang menyambut kehadiaran Kumbayana. Keduanya berangkulan, layaknya sahabat kental yang sudah lama tidak saling jumpa.

Kumbayana yang menyambut uluran kedua tangan Sucitra dan dengan hangat membalasnya. “Hebatlah anakmu yang mengerti kemauan ayahnya, yang tak harus lama menunggu kedatanganku. Walaupun aku juga tahu bahwa muridku Palgunadi-pun sudah lama menunggu dan menyatu dalam raganya” Kumbayana memuji anak Sucitra yang telah mengantarkan ke hadapan sahabatnya. Bergandengan tangan dengan ceria keduanya melangkah menapaki tangga suci keabadian.



(**)

Diceritakan, ketika kepala itu telah hilang dari pandangan mata Drestajumna, barulah ia merasakan keletihan yang tiada terkira. Sukma Ekalawiya yang telah meninggalkan raganya menyadarkannya apa yang terjadi dihadapannya. “Aduh betapa berdosanya aku yang telah tega membunuh guru para pepundenku Pandawa. Betapa nistaku yang telah menghajar manusia sepuh yang sudah tak berdaya, walaupun ia telah menewaskan ayahandaku, tetapi ia melakukan dengan jiwa kesatrianya”. Drestajumna menyesali tindakannya.

Dipejamkan matanya seolah hendak mengusir bayangan yang memperlihatkan betapa ia telah secara keji membunuh guru para darah Barata. Betapa ia menjadi giris ketika ia membayangkan bila murid muridnya tidak terima atas perilaku yang telah ia lakukan. Tetapi semakin dalam dipejamkan mata itu, semakin kuat bayangan yang menghantui hatinya.

Ketika ia membuka kembali matanya, dihadapannya telah berdiri Prabu Kresna dan Werkudara.

Geragapan, ia kaget setengah mati karena rasa bersalah. Tetapi sejenak kemudian ia menjadi merasa sejuk hatinya, ketika Prabu Kresna meraihnya dan memeluk tubuhnya. Dan mengatakan, “Drestajumna, tidak ada yang perlu kamu sesali. Segalanya adalah sudah garis takdir dari yang maha kuasa. Bukan salahmu, sebagai titis Wisnu aku mengetahui bahwa tindakan kamu bukan atas kehendakmu sendiri. Sukma Palgunadi yang telah membalas ketidak adilan perilakunya dalam memperlakukan dirinya sebagai murid, adalah ganjaran yang setimpal. Segera ambil kembali kereta senapati perang, sebelum sore menjelang”

Ketika itu, berita kematian Pendita Durna telah sampai ketelinga Aswatama yang tengah bersembunyi. Ia langsung memperlihatkan diri dan bertemu ia dengan Patih Sengkuni. “Paman Harya, benarkah ayahandaku telah gugur ?” tak sabar ia menanti jawaban Sengkuni.


Imajiner Nuswantoro



“Benar anakku, kematian orang tuamu sungguh membuat siapapun menjadi miris dan menimbulkan rasa tak tega. Dipenggalnya kepala orang tuamu dan dijadikannya bola sepak yang ditendang kesana kemari”. Sengkuni menceritakan peristiwa yang terjadi dengan dibumbui cerita yang didramatisir.

“Siapa yang melakukan, Paman Harya !” muntap kemarahan Aswatama, kembali ia memerah mukanya dengan mata yang menyala nyalang, gemeratak giginya dan  sudut bibirnya bergetar.

“Pelakunya adalah Drestajumna . . . .  !”. belum selesai Sangkuni mengucapkan nama pelaku pembunuh orang tuanya, Aswatama telah melompat kearah palagan peperangan, sambil menghunus keris warisan orang tuanya, kyai Cundamanik. Dicarinya Drestajumna dengan kobaran api dari bilah keris yang menyala berkobar menyambar nyambar dengan bunyi yang menggelegar bergemuruh ditangannya.

Gentar Drestajumna yang melihat amukan anak Durna, dan ia berlari mundur karena merasakan tenaganya yang telah terkuras tadi dirasakannya tak kan lagi cukup  untuk menghadapi amukan Aswatama.Dan selagi ia mundur, ia bertemu dengan Setyaki yang segera mencengkeram bahu sang senapati dengan kemarahan, “Inikah senapati Hupalawiya? Ketika menghadapi orang tua yang dalam keadaan tanpa daya telah tega memenggal kepalanya? Inikah Senapati Randuwatangan? Yang dengan gagah berani membulan bulani kepala dari guru para pepunden Pandawa. Tetapi apa yang terjadi, ketika melihat amukan anaknya, senapati gagah itu ia telah “tinggal gelanggang colong playu” dengan muka pias pucat bagai segumpal kapas !”

“Setyaki, aku menjadi senapati bukan atas kemauanku sendiri. Aku jadi senapati adalah karena jejak laku sepanjang hidupku dimasa lalu yang dapat mengatasi segala kesulitan yang menghadang dihadapanku dan tak pernah gagal dalam melakukan tugas. Janganlah mencercaku tanpa dasar. Apakah kamu akan berusaha menggantikanku? Langkahi dulu mayatku sebelum kamu melakukan itu!”

Keduanya segera berhadapan dengan kuda kuda kaki yang siap menyerang. Tetapi hardikan yang keras telah menghentikan langkah keduanya. Suara hardikan itu datang dari mulut Prabu Kresna, “Setyaki, Drestajumna berhentilah! Alangkah memalukan bila ini menjadi tontonan musuh. Betapa hinanya kamu berdua yang tak urung juga akan mendera aku sebagai seorang penasihat perang”.

Kedua orang yang bersengketa itu akhirnya sama sama duduk bersimpuh menghadap Sang Prabu. “Setyaki, jangan menjadi pandir dan seolah olah kamulah yang paling benar. Tanyakan dulu latar belakang peristiwa pada yang bersangkutan. Jangan sesuatu dibawa dalam hawa amarah. Mengertikah kamu, Setyaki? Setyakipun mengangguk.”Mintalah maaf atas kelancanganmu” kembali Setyaki mengangguk dan meminta maaf atas kelakuannya tadi.

“Werkudara! Temui Aswatama cegahlah amukannya!” Kresna memberikan perintah kepada Werkudara yang selalu mengikuti kemana Kresna pergi. Kembali Werkudara masuk kedalam arena pertempuran yang masih berlangsung sengit menjelang usai sore hari. Dengan langkah tegap dan kembali menimang gada Rujakpolo dihampirinya Aswatama yang dengan garang ingin memburu Derstajumna.

Aswatama yang dihadang Werkudara makin marah. Segala usaha dikerahkan untuk mendesak lawannya, tetapi ia bagaikan sedang berusaha menembus kokohnya benteng baja.

Merasa tak ada urusan dengan Werkudara, ia memutuskan untuk mundur dengan mengucapkan sumpah, “Ingat orang orang Pancala, aku akan datang kembali menuntut balas atas kematian ayahku. Aku tak akan mati sebelum membasmi orang Pancala lelaki ataupun perempuan, beserta turunnya, tumpes kelor !”




Karna Salya Padhu



Imajiner Nuswantoro


Kembali remuk hati Aswatama. Belum lagi jelas pulihnya kepercayaan Prabu Duryudana kepadanya setelah terjadinya kericuhan di Bulupitu waktu lalu hingga menewaskan paman terkasihnya, Resi Krepa, kembali kematian ayahnya bagaikan meremuk redamkan sisa bagian hatinya yang masih utuh. Remuknya hati dibawanya menyingkir dari palagan peperangan disore yang mulai mendung. Seribu hitungan langkah yang ia rencanakan selanjutnya berkecamuk dalam pikirannya. Rencana bagaimana cara membalaskan sakit hati atas pokal orang Pancalaradya utamanya, dan orang Pandawa bersaudara atas kematian orang tuanya secara keseluruhan.

“Bapa, disini aku akan bersumpah untukmu atas perilaku Drestajumna. Belum merasa lega hati anakmu, bila belum bisa menumpas anak anak Pancalaradya. Sanggup anakmu ini melakoni usaha apapun, bahkan menjadi hewan paling hina-pun anakmu akan tetap berusaha menuntut balas atas kematianmu ”.kilat dan serentak suara gelegarnya menjadi saksi sumpah Aswatama.

Sedih hati Aswatama membawanya mengenang orang orang yang dicintainya. Pamannya, Krepa, yang menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri, pamannya itu  yang telah mencurahkan segala kasih sayang kepada dirinya, tak terbatas pada rasa sayang seorang paman. Dirinya yang ditinggal ayahnya sedari kecil di Timpuru telah mendekat-lekatkan hatinya kepada pamannya itu.

Sedangkan ayahnya yang menikahi ibu sambungnya, Krepi, bukan atas nama cinta, tetapi semata mata hanyalah berdasar usaha melepas beban mengasuh dirinya sebagai anak bayi Aswatama kecil. Dalih menikahi Krepi adalah perilaku yang menghindari diri dari kerepotan itu, demi mengejar angan tinggi seorang perantau muda yang haus akan pengalaman dan cecapan kebebasan masa mudanya.

Angan kebebasan berpetualang yang membawa ayahnya  menjadi rusak raga atas hajaran Raden Gandamana, namun ayah tercintanya juga diberkati kesaktian pinunjul ketika berguru kepada Rama Bargawa dan menjadi guru ilmu kanuragan para Kurawa dan Pandawa.

Kemudian bayangan angan Aswatama menerawang mengenang kasih sayang sang ayah ketika ia menyusul ke Sokalima. Ayahnya yang merasa bangga dengan sosok dirinya yang merupakan keturunan satu satunya. Bagi ayahnya adalah pelecut semangat hidup, ketika raganya telah rapuh dan tak lagi sempurna. Sosok dirinya yang mengingatkan atas sosok muda ayahnya, hingga ia dilimpahi kasih sayang tak terhingga dari ayahnya itu.

Tidak berpanjang panjang angan Aswatama, ketika Harya Suman yang mencari dirinya telah menemukannya.

“Aswatama, jangan lagi menyesali kematian orang tuamu berpanjang panjang, marilah anakku, aku iring langkahmu menuju balairung Bulupitu. Sinuwun Prabu Duryudana berkenan memanggilmu”

Ragu Aswatama mendengar perkataan Harya Suman. Dalam benaknya masih tersimpan ingatan, bagaimana junjungannnya Prabu Duryudana sangat marah, ketika ia berusaha membela pamannya terkasih, Resi Krapa, ketika pertengkaran pamannya itu dengan Adipati Karna, yang berujung pada kematian pamannya.


Harya Suman sangat mengerti perasaan Aswatama, maka ia melanjutkan.

“Sinuwun Prabu Duryudana memanggilmu atas kemurahan hati beliau, yang menganggap orang tuamu telah menjadi pahlawan atas gugurnya dalam membela para Kurawa dan melihat kesetiaanmu kepada negara. Ayolah anakku, jangan ragukan kata kata pamanmu. Aku yang akan menjadi jaminan atas sabda Prabu Duryudana”.

“Baiklah paman, hamba mengerti akan keadaan ini” Aswatama menuruti kata kata Patih Sangkuni. Ia ingin mengumpulkan kembali kekuatannya lahir dan batin. Dengan bergabung kembali ke barisan Kurawa, seribu kemungkinan akan ia dapatkan dalam usahanya membalaskan sakit hati kepada trah Pancala. Hitungan dalam kepalanya juga mengarah kepada suatu agenda tersendiri yang hanya ia yang tahu.



(**)

Malam kembali jatuh. Di Pesanggrahan Bulupitu, Prabu Duryudana sangat berduka dengan apa yang terjadi pada peperangan hari tadi. Kematian demi kematian para sanak saudara bahkan gurunya, telah membuat ia merasa telah terlolosi otot dan tulang tulang dari sekujur tubuhnya. Kematian gurunya Pendita Durna-lah yang membuat serasa lumpuh. Ditambah lagi dengan kematian adiknya Dursasana yang sudah ia terima dari abdi telik sandi. Kematiannya yang diluar arena resmi sangat ia sesalkan. Ditambah lagi dengan kematiannya yang sangat menyedihkan dengan badan yang tercerai berai, membuahkan dendam kepada Werkudara.

“Rama Prabu, sekaranglah waktunya putramu untuk maju sendiri kemedan pertempuran” Duryudana tidak lagi terkendali rasa hatinya ketika orang orang terkasihnya tewas satu persatu.

“Pikirkanlah baik baik langkah yang hendak kau ambil, anak mantu Prabu”. Salya mencoba menyabarkan hati menantunya. Kemudian ia mencoba memberikan pilihan. “Barangkali dengan telah tewasnya banyak andalan pihak kita, anak Prabu mempunyai pertimbangan untuk mengakhiri saja perang ini. Dan bila anak Prabu berkenan akan tindakan ini, aku sanggup untuk menjadi perantara dalam menyampaikan pesan perdamaian kepada adik adikmu Pandawa”.

“Tidak rama Prabu, akan sia sia pengorbanan yang telah diberikan oleh para prajurit dan senapati yang telah gugur. Tidak layak putramu berdamai dengan Para Pandawa dengan landasan bangkai para prajurit dan bergelimang dengan darah para bebanten perang”. Duryudana menjawab dengan tegas. Perasaan dendam yang membara didadanya atas kematian adik terkasihnya, Dursasana, telah mendorongnya mengatakan bantahan atas pilihan tawaran dari Prabu Salya.

“Baiklah, bila demikian. Anak Prabu masih mempunyai satria agul-agul yang kiraku dapat mengatasi keadaan ini dengan memenangi perang. Disini masih berdiri kokoh seorang calon senapati yang bukan orang sembarangan. Orang itu adalah anak dewa penerang hari, yang telah kuasa memenangi pertempuran malam dengan korban yang tak terkira jumlahnya termasuk senapati muda Gatutkaca”. Tutur Salya sambil melirik mantunya yang paling ia tidak sukai dari ketiga mantu yang lain sambil tersenyum penuh arti. Senyum yang keluar bukan dari hati yang tulus. Senyum yang setengah mengejek, karena rasa yang terlanjur tidak suka terhadap mantu itu. Juga senyum sinis itu disebabkan atas hasil kemenangan yang dicapainya baru baru ini yang tidak dilakukan dengan cara kesatria, layaknya perang yang terjadi di waktu waktu sebelumnya yang terjadi diwaktu yang wajar, siang hari.


Imajiner Nuswantoro


“Terimakasih rama Prabu, anakmu setuju atas kehendak rama. Hanya kepada kanda Adipati, kami menyandarkan kekuatan para Kurawa dalam memenangi perang ini. Kami harap kanda Adipati dapat melaksanakan segala gelar perang yang akan terlaksana besok pagi”.

“Kehormatan yang tiada terkira yang saya cadang siang dan malam telah terucap dari sabda paduka adinda Prabu. Ada satu permintaan yang akan kami sampaikan kepada adinda Prabu, dalam perang nanti, kami pasti akan berhadapan dengan adimas Arjuna. Ini sudah menjadi takdir yang sudah terucap dari sabda Batara Narada waktu lalu, bahwa kami berdua adimas Arjuna bakal bertemu kembali dalam medan Baratayuda. Dari itu, para Pandawa akan menampilkan adimas Arjuna sebagai senapati dari pihak Hupalawiya”. Kembali Adipati Karna mengingatkan akan peristiwa masa lalu ketika anugrah Kuntawijayandanu yang hendak diberikan kepada Arjuna sebagai pemutus tali pusar Gatutkaca, telah salah diterimakan kepada Karna-Suryatmaja.

Perkelahian keduanya terjadi ketika Arjuna tidak terima atas kesalahan pemberian pusaka itu, dan bahwa ia juga telah dibebani tugas oleh kakaknya, Bratasena Werkudara, untuk mendapatkan senjata yang bisa memutus tali pusar keponakannya. Pertempuran yang kemudian dipisah oleh Narada, dijanjikannya bakal terlaksana hingga salah satunya tewas pada saat Perang Baratayuda berlangsung nanti.

“Permintaan apakah yang hendak kanda sampaikan. Kalau masih dalam jangkauan kami, pasti akan kami kabulkan” Duryudana setengah menyanggupi permintaan yang hendak ia sampaikan.

“Adinda Prabu, Bila terjadi perang tanding dengan kereta perang nanti antara kami dengan dimas Arjuna, tidak urung adimas Arjuna akan dikusiri oleh Prabu Kresna. Bila ini yang terjadi, mohon kesanggupannya agar kami dikusiri juga oleh manusia yang setimbang dengan derajat Prabu Kresna”. Sejenak Karna diam, ragu dalam hati ia hendak menyampaikan maksudnya kepada adik iparnya itu.

Jeda kesunyian itu kemudian diseling dengan pertanyaan sang Prabu. “Kanda, apakah kanda hendak dikusiri oleh Kartamarma, ataukah oleh paman Harya Sangkuni? Akan kami perintahkan kapanpun, pasti keduanya dengan senang hati akan memenuhi kehendak kanda Adipati”.

Adipati Karna tersenyum hambar. Perasaan sungkan yang ia pendam sedari tadi telah ia keluarkan dan ia buang sedikit demi sedikit. Keinginan membalas perlakuan mertuanya yang selalu tidak cocok dihatinya, dalam peristiwa ini, bagaikan suatu sarana untuk melawan balik sikap mertuanya itu. Bagaimanapun permintaan seorang senapati akan dipenuhi tanpa harus tercampuri oleh urusan pribadi. Dan urusan negara ini akan dijadikan dalih dalam melawan sikap mertuanya itu. Inilah saatnya, pikir Karna.

“Adinda Prabu, bukan seorang Kartamarma atau Paman Sengkuni yang aku kehendaki. Keduanya belum setimbang dengan derajat yang disandang oleh Prabu Kresna. Satu satunya orang yang dapat menyamai derajatnya, adalah  . . . Rama Prabu Salya”.

Terkejut Salya dengan permintaan yang diajukan oleh menantunya. Tidak senang ia berkata. “Ooh . . , inikah ujud bakti seorang menantu terhadap mertuanya? Aku ini dianggap apa? Derajat Prabu Kresna yang kau anggap sebagai dalih agar mertuamu ini mau kau perintahkan aku sebagai kusirmu? Sekali menjadi mantu kualat, tetap menjadi menantu kualat juga. Belum juga sembuh rasa hati atas tuduhanmu diawal perang, telah kau lukai hati ini sekali lagi dengan permintaanmu yang merendahkan derajat raja Mandaraka”. Tanpa diduga sebelumnya oleh Karna, rayuannya atas derajat yang ia lontarkan kepada mertuanya, tidak mempan mengatasi anggapan rendah seorang kusir bagi dirinya. Bahkan kembali Salya mengungkit ungkit sakit hatinya atas tuduhan menantunya diawal perang.

“Rama Prabu, bila rama tidak berkenan atas permintaan kanda Adipati, baiklah sekarang putramu sendiri yang akan maju kemedan Kurusetra. Saya relakan jiwaku demi kemenangan yang hendak aku raih. Putramu minta diri untuk berangkat malam ini juga”. Duryudana mencoba untuk menarik perhatian ayah mertuanya. Ia berharap mertuanya akan menyanggupi permintaan kakak iparnya bila ia mengancam akan bertindak sendiri.

Kembali diluar dugaan, Salya berkata sambil tertawa sumbang. “Anak mantu Duyudana, aku ini orang tua yang sudah makan asam garam kehidupan. Tidak usahlah merajuk seperti itu. Dalam pendengaranku, kata kata anakmas Duryudana tadi, bukan keluar dari lubuk hati anakmas sendiri. Tidak usahlah memaksa dengan ancaman halus seperti yang anak Prabu katakan, aku akan menuruti keinginan menantuku Awangga yang tampan itu, anak mantu yang membuat anakku Surtikanti mabuk kepayang”. Akhirnya Salya menyanggupi permintaan itu. Karna yang mendengar permintaannya dikabulkan bukannya senang, namun ia malah tersenyum kecut penuh arti.

“Terimasih rama Prabu, yang telah mengabulkan permintaan anakmu ini. Mohon perkenannya adinda Prabu Duryudana, mulai malam ini kanjeng rama ada dalam tugas sebagai kusir senapati Awangga”. Adipati Karna akhirnya mengatakan kalimat seperti itu. Telah telanjur basah ia dalam melawan rasa benci dari sang mertua, maka sekalianlah basah dengan memerintahkan peran itu dari saat ini juga.

“Baiklah anakku tampan, perintahkan kepada kusirmu tugas apa yang hendak kau perintahkan untuk mengantarmu?” Salya sudah muak dengan tingkah menantunya sekalian memanjakan semu kemauan menantunya.

“Mohon maaf rama, mohon rama menemani kami untuk kembali sejenak ke Awangga. Anakmu mantu ingin ketemu sejenak dengan putri rama, Surtikanti. Sudah lama anakmu tidak memberi kabar ataupun berita. Dan pasti ia ingin mengetahui keselamatan suaminya. Sekali lagi mohon perkenannya. Ketemu dengan istri bukanlah masalah pribadi, ini sebagian dari tugas seorang senapati. Ketemu dengan istri adalah sebagai penguat jiwa, sebagai penambah moral bagi seorang lelaki sekaligus suami dalam menjalankan tugas. Apalagi ini adalah tugas luar biasa, tugas yang taruhannya adalah nyawa”. Karna mencoba memberi penjelasan kepada mertuanya.

Namun sang mertua yang sudah pegal hatinya setengah hati menjawah. “Dalih apapun yang kamu hendak berikan kepadaku, taklah menjadi sebuah arti. Mari ikuti aku, kita segera berangkat ke Awangga”

“Anak mantu Duryudana, perkenankan kami mohon diri sejenak. Kusir ini akan mengantarkan senapati agung”. Prabu Salya meminta diri.

“Semoga keselamatan rama Prabu dan Kanda Adipati menyertai perjalanan ini nanti” demikian Duryudana mengakhiri sidang dan beranjak mengikuti Prabu Salya dan Adipati Karna sampai di gapura pesanggrahan.

Lenyap bayang dua sosok menantu dan mertua itu di keremangan malam. Tetapi dua sosok tubuh yang lain muncul. Mereka adalah Harya Sangkuni dan Aswatama. Segera keduanya menghaturkan sembah kepada junjungannya . Diajaknya kemudian keduanya menuju balairung pesanggrahan.

Setelah basa basi sejenak, dan menceritakan apa yang terjadi baru saja, berkata Prabu Duryudana, “Aswatama, telah saya cabut kata kataku mengenai pengusiranmu dari hadapanku. Kematian ayahmu sebagai seorang tawur peperangan adalah labuh seorang pahlawan sejati. Sebagai seorang anak pahlawan, selayaknya kamu harus aku berikan perlakuan layaknya seorang anak pahlawan. Sedangkan perilakumu semasa pembuangan, aku lihat tetap bersikap sebagaimana prajurit yang setia terhadap negara. Itulah yang mendasari kamu aku dekatkan kembali dihadapanku”.

“Terimakasih atas kepercayaan gusti Prabu terhadap hamba. Akan kami pelihara sikap kesetiaan kami terhadap negara ini dengan kesanggupan hamba sebagai mata mata atas kedua parampara paduka gusti Prabu. Kenapa hamba mengatakan sanggup menjadi orang yang setia, dan hubungannya dengan kedua parampara paduka yang barusan pergi. Mohon seribu maaf, karena keduanya adalah masih ada hubungan batin dan jiwa dengan musuh paduka para Pandawa. Prabu Salya adalah uwak dari kembar Nakula dan Sadewa. Sedangkan kanda Adipati Karna adalah saudara tunggal wadah dengan para Pandawa melalui bibi paduka Dewi Kunti. Maka menurut hamba, keduanya harus diawasi benar benar pergerakannya. Sekali lagi sinuwun Prabu, hamba mohon maaf.

Hubungan gusti Prabu dengan mertua paduka kali ini hamba kesampingkan”. Aswatama menghaturkan kata kata itu dengan hati hati.

Sebenarnya ia khawatir mengatakan itu. Namun angin mengarah kepada dirinya hingga diberanikan dirinya mengutarakan isi hatinya.

Takut ia dengan kemurkaan kembali gustinya, ia menunduk dalam. Tetapi hatinya menjadi besar, ketika Patih Sengkuni mengamini kata katanya.” Anak Prabu, benar apa yang dikatakan Aswatama. Segala sesuatu dapat saja terjadi dengan keduanya. Kami sependapat, dan Aswatama akan membuktikan keterangan yang diberikan besok hari ketika perang esok hari telah usai”.

Maka malam itu ketika sudah larut, Aswatama tak segera dapat memejamkan matanya. Kenangan masa lalu dan rencana kedepan hilir mudik mengisi kepalanya. Tapi putusannya adalah, siapapun yang akan memenangi Baratayuda tidaklah menjadi persoalan baginya. Tak ada lagi untung rugi yang ia hitung hitung dalam perkara ini. Yang utama adalah bagaimana ia dapat membalaskan sakit hati terhadap pembunuh ayah dan pamannya, baik itu melalui tangannya sendiri maupun melalui tangan orang lain. Sekarang telah diputuskan, bahwa dirinya akan menjadi seorang oportunis sejati. Kurawa menang, dirinya aman, tetapi bila Pandawa yang menang, kembali ke Timpuru atau Atasangin menjadi pilihan terakhir. Bahkan dibayangkannya ia dapat menggulung kedua pihak yang sedang berperang, Pendawa dan Kurawa sekaligus, dan kemudian bertahta diatas bangkai mereka, nyakrawati mbahu denda di kerajaan Astina dengan permaisuri Dewi Banuwati. Entahlah ini dipikirkan ketika ia masih terjaga atau sudah terlelap dalam mimpi besarnya.



Bersambung ke Baratayudha Jayabinangun - 4 :


Baratayudha Jayabinangun





Baratayudha

   


Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)