TAN TIK SIOE SIAN (CHEN DE XIU / RAMA MOERTI / PANGERAN PAPAK)
(Jejak Kehidupan, Perjuangan, Ajaran, Petilasan di Tulungagung, Filosofi Hidup, dan Warisannya di Nusantara)
By, Imajiner Nuswantoro
SELAYANG PANDANG
Tan Tik Sioe Sian (Chen De Xiu / Rama Moerti / Pangeran Papak).
Tan Tik Sioe Sian (juga dikenal sebagai Chen De Xiu, Rama Moerti, atau Pangeran Papak) adalah seorang tokoh spiritual, sastrawan, ahli pengobatan tradisional, dan pendekar legendaris keturunan Tionghoa-Jawa yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia lahir di Surabaya pada 11 Juni 1884 dan sangat dihormati karena kedigdayaan spiritualnya serta keputusannya untuk meninggalkan keduniawian demi bertapa di lereng Gunung Wilis, Tulungagung.
Berikut adalah poin-poin penting mengenai kehidupan dan warisan Tan Tik Sioe Sian:
1. Profil dan Julukan
- Asal-usul: Lahir dari ayah berdarah Tionghoa (Tan Liong To) dan ibu bersuku Jawa. Kombinasi ini membentuk latar belakang budayanya yang kental dengan sinkretisme Jawa-Tionghoa.
- Pangeran Papak / Pendekar Jari Rata: Dijuluki "Papak" (rata) oleh masyarakat setempat karena sepuluh jari tangan dan kakinya memiliki panjang yang sama rata.
- Rama Moerti: Nama panggilan bernuansa Jawa-Sanskerta yang mencerminkan kedudukannya sebagai seorang guru spiritual atau sesepuh di tanah Jawa.
Kiprah Spiritual dan Kemampuan
- Pertapaan Gunung Wilis: Ia memilih menjauh dari keramaian kota dan melakukan tapabrata di sebuah goa buatan di Desa Sendang, lereng Gunung Wilis, Tulungagung. Tempat ini kini dikenal sebagai objek Wisata Religi Goa Tan Tik Sioe.
- Keahlian Medis & Sastra: Selain dikenal sakti, ia menguasai ilmu pengobatan herbal dan menulis berbagai karya sastra berisikan wejangan kehidupan, filsafat, serta teologi.
- Penghormatan Kedewaan: Setelah wafat, sosoknya tidak hanya dikenang sebagai manusia sakti, melainkan dipuja oleh sebagian masyarakat peranakan dan penganut spiritual sebagai salah satu dewa lokal (Shen) Nusantara. Di beberapa klenteng, terdapat altar khusus yang didedikasikan untuk menghormatinya
Ajaran Tan Tik Sioe Sian
Ajaran Tan Tik Sioe Sian (juga dikenal sebagai Chen De Xiu, Rama Moerti, atau Pangeran Papak) berpusat pada kebajikan moral, pembersihan hati (introspeksi diri), kesederhanaan ekstrem, dan sinkretisme spiritual antara spiritualitas Tionghoa (Taoisme/Buddhis) dengan kearifan lokal Jawa (Kejawen). Sebagai seorang pertapa abad ke-20 yang dihormati lintas budaya, beliau tidak mendoktrinkan suatu agama formal tertentu. Sebaliknya, beliau mengajarkan esensi budi pekerti universal.
Nama "Tik Sioe" sendiri secara harfiah memiliki arti "bertapa membersihkan hati demi kebajikan moral".
Berikut adalah poin-poin utama dari ajaran dan prinsip hidup Rama Moerti Tan Tik Sioe Sian:
1. Pembersihan Hati dan Karakter Utama.
Dalam catatan biografinya, ajaran utama beliau menuntut murid atau pengikutnya untuk memiliki watak yang bersih dan tulus melalui prinsip:
- Jujur Hati: Menjaga ketulusan pikiran dan tidak mencari keuntungan dari kebohongan.
- Tidak Bohong dan Dusta: Menghindari ucapan yang tidak sesuai dengan kebenaran.
- Tidak Pura-Pura: Menolak kemunafikan dalam bertindak maupun beribadah.
- Sabar dan Mawas Diri: Mengutamakan pengendalian emosi serta terus-menerus melakukan introspeksi terhadap kesalahan diri sendiri.
2. Pelepasan Keduniawian (Asketisme Ekstrem)
Sebagai seorang pertapa di lereng Gunung Wilis dan Goa Selomangleng, beliau mempraktikkan hidup suci dan mengajarkan pembatasan nafsu duniawi secara ketat:
- Hidup Selibat (Suci Melajang): Beliau tidak berkeluarga, tidak memiliki istri, maupun anak sepanjang hidupnya guna menjaga kesucian spiritual.
- Tidak Kemilikan (Anti-Materialisme): Melarang diri untuk memiliki ambisi menjadi kaya raya atau menumpuk harta benda.
- Tidak Memikirkan Uang: Beliau mengharamkan bayaran atau pamrih materi atas pertolongan yang diberikan (seperti pengobatan) serta menolak segala bentuk suap.
3. Pengendalian Diri dan Perilaku Sosial
Beliau menekankan pentingnya menjaga lisan dan sikap agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri:
- Tidak Murka: Menahan amarah dan kebencian terhadap sesama makhluk.
- Tidak Obrol dan Tidak Cerewet: Menghindari pembicaraan kosong yang tidak berguna atau menyebarkan gosip.
- Jauh Famili: Menjaga jarak dari ikatan emosional keluarga yang berlebihan agar bisa fokus pada pengabdian spiritual dan kemanusiaan.
4. Vegetarianisme Sejak Lahir
Secara personal, Tan Tik Sioe Sian tidak dapat mengonsumsi daging sejak kecil (jika memakannya, tubuhnya akan langsung memuntahkannya). Prinsip hidup suci tanpa membunuh makhluk hidup (vegetarian) ini menjadi teladan kuat dalam menjaga kesucian jasmani dan rohani bagi para pengikut jalurnya.
5. Sinkretisme Jawa-Tionghoa
Sebagai putra dari ayah Tionghoa dan ibu berdarah Jawa, ajarannya menjembatani dua tradisi besar. Karya sastra yang ditulisnya sering menggunakan nama pena "Rama Moortie" atau inisial "T.T.S.". Ajaran moralitasnya sangat selaras dengan konsep Sangkan Paraning Dumadi dan Manunggaling Kawula Gusti dalam Kejawen, sekaligus membawa napas Siutao (kultivasi diri) dari Taoisme. Karena keluhuran ajarannya, beliau kini dihormati baik di altar Klenteng maupun oleh para penganut kebatinan Jawa
Tan Tik Sioe Sian yang dalam berbagai sumber juga ditulis sebagai Tan Tiek Sioe, Chen De Xiu, Rama Moerti, atau dikenal masyarakat Jawa sebagai Pangeran Papak merupakan salah satu tokoh unik dalam sejarah Jawa dan Tionghoa-Indonesia. Ia dikenang sebagai seorang pendekar, tabib, sastrawan, pertapa, sekaligus guru moral yang ajarannya melampaui batas etnis maupun agama.
Perlu dicatat bahwa riwayat hidupnya memadukan catatan sejarah, tradisi lisan, dan kisah-kisah lokal. Karena itu, beberapa bagian biografinya memiliki beberapa versi yang belum dapat dipastikan secara historis.
Asal-usul
Mayoritas sumber menyebut Tan Tik Sioe lahir di Surabaya pada 11 Juni 1884. Ayahnya bernama Tan Liong To, seorang keturunan Tionghoa, sedangkan ibunya disebut berasal dari kalangan masyarakat Jawa. Latar belakang inilah yang membuatnya tumbuh dengan pengaruh budaya Tionghoa sekaligus Jawa.
Menurut tradisi lisan di Tulungagung, setelah kehilangan orang tuanya ia hidup terlantar sebelum akhirnya diasuh oleh seorang misionaris Belanda. Di masa inilah ia mulai mempelajari berbagai bahasa, sastra, ilmu pengobatan, dan kebudayaan Jawa. Namun kisah pengasuhan tersebut terutama berasal dari cerita masyarakat, bukan dokumen sejarah primer.
Perjalanan Kehidupan
Tan Tik Sioe pernah bekerja di pabrik minyak kacang di Tulungagung. Namun panggilan hidupnya bukan sekadar mencari nafkah.
Tan Tik Sioe lebih tertarik kepada :
- pencarian hakikat kehidupan,
- pengobatan masyarakat,
- ilmu bela diri,
- kesusastraan,
- pertapaan.
Sekitar tahun 1917–1922, Tan Tik Sioe melakukan pertapaan di lereng Gunung Wilis, Desa Sendang, Tulungagung. Masa ini dipercaya menjadi periode pembentukan pemikiran dan karya-karyanya.
Mengapa Disebut Pangeran Papak ?
Masyarakat memberi julukan Pangeran Papak karena jari-jari tangannya memiliki panjang yang hampir sama (papak/rata).
Karena keunikan tersebut, ia juga dikenal sebagai Pendekar Jari Rata.
Sebagai Pendekar
Dalam dunia persilatan, Tan Tik Sioe dikenal menguasai berbagai jurus kungfu.
Literatur biografinya menyebut salah satu jurus terkenal adalah:
1. Bidadari Menyebar Kembang
Namun lebih dari sekadar kemampuan bertarung, ilmu silat baginya merupakan latihan:
- pengendalian diri,
- disiplin,
- kesabaran,
- keseimbangan batin.
2. Sebagai Tabib
Ia terkenal membantu masyarakat tanpa memandang:
- suku,
- agama,
- status sosial.
Pengobatan yang dilakukannya memadukan:
- herbal,
- pengetahuan pengobatan Tionghoa,
- pendekatan spiritual,
- doa.
Dalam cerita rakyat, banyak kisah yang mengaitkannya dengan kemampuan supranatural. Kisah-kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi lokal dan tidak dapat diverifikasi sebagai fakta sejarah.
3. Sebagai Sastrawan
Tan Tik Sioe aktif menulis. Karya-karyanya dimuat di berbagai surat kabar Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta. Tan Tik Sioe juga berhubungan dengan kalangan penerbit dan sastrawan Tionghoa di Jawa, termasuk lingkungan penerbit Tan Khoen Swie di Kediri, yang berperan penting dalam perkembangan literasi berbahasa Melayu dan Jawa beraksara Latin.
4. Ajaran Tan Tik Sioe
Menurut para penjaga petilasan dan berbagai sumber lokal, inti ajarannya bukanlah mendirikan agama baru, melainkan pendidikan moral.
Pokok-pokok ajarannya antara lain:
- selalu mengoreksi diri;
- menenangkan pikiran;
- sabar menghadapi penderitaan;
- tidak mudah mengeluh;
- hidup sederhana;
- menghormati semua manusia;
- menolong sesama;
- mengendalikan hawa nafsu.
Di Goa Pertapaan Sendang terdapat ungkapan "ADEM HATIE", yang dipahami sebagai ajakan menjaga ketenangan batin, serta tulisan Kan Cen Siu Tao yang dimaknai sebagai "Pertapaan Rasa Sejati".
5. Kepedulian Sosial
Berbagai cerita masyarakat menggambarkan kepeduliannya melalui:
- mengobati orang miskin;
- membantu warga desa;
- memberikan nasihat kehidupan;
- menghibur masyarakat melalui kesenian;
- mengajarkan hidup rukun.
Nilai-nilai tersebut membuatnya dihormati oleh masyarakat Tionghoa maupun Jawa.
5. Goa Pertapaan di Tulungagung
Namanya sangat erat dengan dua petilasan di Tulungagung:
a. Goa Pertapaan di Desa Sendang, lereng Gunung Wilis.
Goa Pertapaan di Desa Sendang yang terletak di lereng Gunung Wilis, Tulungagung, lebih dikenal sebagai Goa Tan Tik Sioe. Tempat ini merupakan petilasan tempat pertapaan seorang tokoh spiritual keturunan Tionghoa bernama Tan Tiek Sioe (Rama Moorti), yang dibangun sekitar awal abad ke-20.
Detail penting dari situs ini meliputi :
- Lokasi & Akses: Berjarak sekitar 21 kilometer barat laut dari pusat kota Tulungagung. Goa ini memiliki bentuk seperti benteng yang terendam di dalam tanah, di mana pengunjung harus menuruni tangga dan melewati pintu kecil setinggi 50 cm untuk masuk.
- Arsitektur & Ruangan: Di dalam goa terdapat tiga ruangan utama, yakni ruang tamu, ruang tidur, dan ruang belakang untuk bersemedi. Pada ruang utama terukir tulisan "Kan Cen Siu Tao" (Pertapaan Rasa Sejati) dan "ADEM HATIE" yang menjadi pedoman ajarannya.
- Sejarah & Budaya: Tan Tiek Sioe menggunakan tempat ini sebagai lokasi bertapa pada tahun 1917 hingga 1922. Semasa hidupnya, beliau dikenal sebagai tokoh yang memadukan ajaran spiritual Tionghoa dan Nusantara, serta dekat dengan masyarakat setempat melalui kesenian tradisional seperti Jaranan dan Reyog Kendang.
b. Goa di Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan.
Goa yang dimaksud adalah Goa Tan Tik Sioe (atau Gua Tan Tik Syu) yang terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung. Tempat ini merupakan petilasan dan bekas lokasi pertapaan Tan Tiek Sioe, seorang tokoh legendaris yang dikenal sebagai ahli pengobatan, pendekar, dan sastrawan. Tan Tiek Sioe pernah menggunakan kawasan Sumberagung untuk melakukan pertapaan sebelum berpindah ke wilayah Sendang. Hingga saat ini, lokasi yang juga dikenal sebagai Pondok Harjo ini sering dikunjungi peziarah dan masyarakat yang melakukan wisata religi. Berdasarkan data lokasi pada Google Maps, tempat bersejarah ini beroperasi sepanjang hari.
Bangunan tersebut kini menjadi tujuan ziarah dan wisata religi. Di dalamnya terdapat ruang pertapaan, altar, serta berbagai simbol yang berkaitan dengan perjalanan spiritualnya.
6. Makam
Berbeda dengan petilasan yang berada di Tulungagung, berbagai sumber menyebut Tan Tik Sioe wafat di Penang, Malaysia, sekitar tahun 1929 pada usia 45 tahun setelah sempat tinggal di Singapura. Dengan demikian, lokasi yang terkenal di Tulungagung adalah goa pertapaan atau petilasan, bukan makamnya.
Filosofi bagi Kehidupan Masa Kini
Pemikiran Tan Tik Sioe masih relevan dalam kehidupan modern.
Di antaranya:
- Kesederhanaan lebih berharga daripada kemewahan.
- Introspeksi lebih penting daripada menyalahkan orang lain.
- Ilmu harus dipakai untuk membantu sesama.
- Kerukunan lebih utama daripada permusuhan.
- Ketenangan batin menjadi dasar pengambilan keputusan yang bijaksana.
- Pengendalian diri lebih kuat daripada kemenangan atas orang lain.
Contoh Penerapan Saat Ini
1. Dalam keluarga:
- saling menghormati;
- tidak mudah marah.
2. Dalam masyarakat:
- membantu tetangga;
- menjadi relawan sosial.
3. Dalam pekerjaan:
- bekerja dengan jujur;
- tidak korupsi.
4. Dalam pemerintahan:
- melayani rakyat dengan hati yang bersih.
Silsilah Keluarga dan Keturunan di Nusantara
Hingga kini tidak terdapat dokumen sejarah yang memuat silsilah lengkap keturunan Tan Tik Sioe di Nusantara. Yang diketahui dari sejumlah laporan adalah bahwa masih ada keturunannya yang sesekali berziarah ke petilasan di Tulungagung, tetapi garis genealoginya belum dipublikasikan secara lengkap dan terverifikasi.
KEBENARAN MAKAM TAN TIK SIOE SIAN (CHEN DE XIU / RAMA MOERTI / PANGERAN PAPAK)
(Kajian Sejarah, Tradisi Lisan, dan Bukti yang Tersedia)
Nama Tan Tik Sioe Sian (sering juga ditulis Tan Tiek Sioe, Tan Tik Siu, Rama Moerti, atau dikenal masyarakat Jawa sebagai Pangeran Papak) merupakan salah satu tokoh yang hingga kini masih menyisakan perdebatan mengenai kehidupan maupun lokasi makamnya. Sebagian masyarakat meyakini beliau sebagai seorang pendekar, tabib, sastrawan, sekaligus guru kebatinan, sedangkan sebagian lainnya mengenalnya sebagai tokoh spiritual lintas budaya Tionghoa-Jawa.
Yang menarik adalah munculnya pertanyaan:
Apakah makam Tan Tik Sioe Sian benar-benar berada di Tulungagung ?
Jawaban berdasarkan bukti sejarah yang tersedia adalah :
Belum terdapat bukti sejarah yang dapat memastikan adanya makam jasad Tan Tik Sioe Sian di Tulungagung. Yang ada dan dapat diverifikasi adalah petilasan, gua pertapaan, serta tempat penghormatan terhadap beliau.
Siapakah Tan Tik Sioe Sian ?
Beberapa sumber menyebut beliau lahir di Surabaya sekitar tahun 1884 dari keluarga Tionghoa. Ayahnya disebut bernama Tan Liong To, sedangkan ibunya berasal dari suku Jawa. Sejak muda ia dikenal mendalami sastra, pengobatan tradisional, seni bela diri, dan laku tapa.
Beliau dikenal dengan beberapa nama:
1. Tan Tik Sioe
2. Tan Tiek Sioe
3. Tan Tik Siu
4. Rama Moerti
5. Pangeran Papak
6. Tan Tik Sioe Sian
Nama Pangeran Papak berasal dari kondisi jari tangannya yang konon sama panjang (papak/rata).
Bukti Keberadaan di Tulungagung
Hal yang paling kuat secara historis bukanlah makamnya, melainkan keberadaan gua-gua pertapaan yang dikaitkan dengan dirinya.
Di Tulungagung terdapat dua lokasi utama yang secara turun-temurun dihubungkan dengan Tan Tik Sioe:
- Goa/Petilasan di Desa Sendang, lereng Gunung Wilis.
- Goa di Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan.
Di lokasi tersebut ditemukan berbagai tradisi penghormatan, altar, tulisan, cerita juru kunci, dan peninggalan yang menguatkan bahwa tempat itu dipandang sebagai lokasi pertapaan beliau, bukan sebagai makam jasadnya.
Apakah Makamnya Ada di Tulungagung ?
Inilah bagian yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Berdasarkan penelitian sejarah
Belum ditemukan:
- batu nisan asli;
- catatan pemakaman kolonial;
- arsip pemerintah Hindia Belanda;
- dokumen keluarga yang menyatakan jasad dimakamkan di Tulungagung.
Sebaliknya, sejumlah sumber biografi menyebut bahwa Tan Tik Sioe mengakhiri hidupnya di Penang, Malaysia, sekitar tahun 1929. Abu jenazahnya kemudian disebut dibawa kembali kepada keluarga di Tulungagung untuk dipelihara dan dihormati.
Kesaksian Biografi Keluarga
Salah satu biografi keluarga menjelaskan:
- beliau wafat di Penang;
- dilakukan kremasi;
- abu jenazah dibawa pulang ke Tulungagung;
- abu disimpan di altar keluarga dan dipuja menurut tradisi Tionghoa.
Apabila keterangan ini benar, maka:
- yang berada di Tulungagung bukan makam jasad, melainkan tempat penyimpanan abu (ash shrine) atau altar penghormatan.
Mengapa Banyak Orang Menyebut "Makam" ?
Dalam budaya Nusantara, istilah "makam" sering digunakan secara longgar.
Misalnya:
- petilasan
- tempat semedi
- lokasi moksa
- makam simbolis
- tempat menyimpan abu
Akibatnya masyarakat sering menyebut seluruh tempat ziarah sebagai "makam", walaupun secara arkeologis bukan kuburan.
Kasus ini juga terjadi pada Tan Tik Sioe.
Petilasan dan Makam Berbeda
Petilasan adalah tempat seseorang pernah tinggal, bertapa, atau beraktivitas.
Makam adalah tempat jasad atau abu jenazah dikebumikan atau disimpan secara resmi.
Dalam kasus Tan Tik Sioe:
- Goa Sendang adalah petilasan.
- Goa Sumberagung adalah petilasan.
- Altar keluarga merupakan tempat penghormatan abu menurut sebagian riwayat.
- Belum ada bukti adanya makam jasad di Tulungagung.
Mengapa Tetap Diziarahi ?
Peziarah datang bukan semata-mata karena makam, melainkan karena menghormati sosok yang diyakini berjasa. Tradisi ziarah berkembang di kalangan masyarakat Tionghoa maupun sebagian masyarakat Jawa yang memandang beliau sebagai guru moral dan spiritual.
Nilai-Nilai yang Diajarkan
Berbagai sumber menyebutkan bahwa ajaran Tan Tik Sioe lebih menekankan pembinaan diri daripada pendirian agama baru, antara lain:
- introspeksi diri;
- kesabaran;
- pengendalian hawa nafsu;
- hidup sederhana;
- membantu sesama;
- ketekunan belajar;
- ketenangan batin.
Mengapa Kisahnya Sulit Diverifikasi ?
Beberapa faktor penyebabnya ialah:
1. Banyak riwayat diwariskan secara lisan.
2. Sedikit arsip kolonial yang membahas dirinya.
3. Adanya berbagai versi nama.
4. Cerita rakyat bercampur dengan unsur legenda.
Sebagian dokumen berasal dari biografi keluarga sehingga perlu dikaji bersama sumber-sumber independen.
Kesimpulan
(**)
Tan Tik Sioe Sian adalah sosok yang memperlihatkan pertemuan budaya Tionghoa dan Jawa dalam satu pribadi. Ia dikenang bukan hanya sebagai pendekar atau tabib, tetapi juga sebagai pengajar nilai-nilai kemanusiaan: ketenangan batin, kesederhanaan, kepedulian kepada sesama, dan pencarian kebijaksanaan. Walaupun sebagian kisah hidupnya berkembang melalui legenda dan tradisi lisan, pengaruhnya tetap hidup melalui petilasan di Tulungagung dan penghormatan masyarakat lintas budaya terhadap warisan moral yang ditinggalkannya.
(**)
Berdasarkan bukti sejarah yang tersedia saat ini, dapat disimpulkan:
Keberadaan petilasan dan gua pertapaan Tan Tik Sioe di Tulungagung didukung oleh tradisi lokal, juru pelihara, serta berbagai dokumentasi.
Belum ditemukan bukti arkeologis maupun dokumen primer yang memastikan adanya makam jasad Tan Tik Sioe di Tulungagung.
Sejumlah riwayat keluarga justru menyebut beliau wafat di Penang, Malaysia, dikremasi, lalu abu jenazahnya dibawa ke Tulungagung untuk disimpan di altar keluarga.
Karena itu, penyebutan "makam Tan Tik Sioe Sian di Tulungagung" lebih tepat dipahami sebagai tempat penghormatan atau petilasan, kecuali di masa mendatang ditemukan bukti sejarah baru yang dapat mengubah kesimpulan tersebut.
Otobiografi Rama Moorti Tan Tik Sioe Sian Di Lereng Gunung Wilis

