AL QUR'AN BERISI BANYAK KISAH UMAT TERDAHULU DAN PARA NABI
(Kajian tentang Qashash al-Qur'an, Hubungannya dengan Kitab-Kitab Sebelumnya, serta Hikmah di Baliknya)
Oleh Imajiner Nuswantoro
Pendahuluan
Al -Qur'an berisi banyak kisah umat terdahulu dan nabi-nabi yang juga tercatat dalam tradisi kitab-kitab Ibrani (Perjanjian Lama). Namun, para ulama tafsir umumnya menyepakati bahwa porsi kisah (qishashul Qur'an) adalah sekitar sepertiga dari isi keseluruhan Al-Qur'an, bukan dua pertiga.
Isi Al-Qur'an secara garis besar mencakup :
- Akidah dan Tauhid (keimanan kepada Allah, malaikat, hari akhir)
- Ibadah dan Syariat (hukum, aturan, dan tata cara hidup)
- Akhlak dan Muamalah (tata krama, hubungan sosial)
- Kisah Masa Lalu (sejarah para nabi dan umat terdahulu)
Hubungan dengan Kitab-kitab Terdahulu
Kisah-kisah seperti Nabi Ibrahim, Musa, Nuh, dan Daud memang banyak termuat dalam Al-Qur'an. Dalam pandangan Islam, Al-Qur'an berfungsi sebagai mushaddiq (pembenar) terhadap ajaran dasar tauhid dan muhaimin (korektor atau penjaga) atas kitab-kitab sebelumnya. Menurut teologi Islam, rincian cerita dalam Al-Qur'an bukanlah hasil adopsi atau plagiasi, melainkan wahyu langsung yang mengoreksi distorsi yang mungkin terjadi dalam teks-teks sebelumnya
Al-Qur'an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi seluruh manusia. Selain memuat akidah, syariat, akhlak, hukum, dan ibadah, Al-Qur'an juga berisi banyak kisah (qashash) mengenai nabi-nabi, rasul, umat terdahulu, serta berbagai peristiwa sejarah yang mengandung pelajaran (ibrah).
Sebagian besar kisah tersebut juga dikenal dalam tradisi Yahudi dan Kristen melalui Taurat, Zabur, dan Injil, khususnya kitab-kitab yang dalam tradisi Kristen disebut Perjanjian Lama. Namun menurut ajaran Islam, Al-Qur'an bukanlah salinan atau duplikasi kitab-kitab sebelumnya, melainkan wahyu Allah yang membenarkan bagian-bagian yang benar, sekaligus meluruskan berbagai penyimpangan yang terjadi dalam penyampaian atau penafsiran sebelumnya.
Allah berfirman :
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." QS. Yusuf: 111
Yusuf · Ayat 111
لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَࣖ ١١١
laqad kâna fî qashashihim ‘ibratul li'ulil-albâb, mâ kâna ḫadîtsay yuftarâ wa lâkin tashdîqalladzî baina yadaihi wa tafshîla kulli syai'iw wa hudaw wa raḫmatal liqaumiy yu'minûnSungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. (Al-Qur’an) bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Sebagai penutup Surah Yusuf, Allah kembali mengingatkan bahwa pada kisah para nabi dan rasul, termasuk kisah Nabi Yusuf, terkandung pesan-pesan untuk dipelajari dan dihayati manusia. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Kisah-kisah dalam Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat atau sekadar dongeng pelipur lara, tetapi kisah-kisah itu membenarkan kandungan kitab-kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, Zabur, dan Injil, yang menjelaskan segala sesuatu tentang prinsip-prinsip nilai yang dibutuhkan manusia guna mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai petunjuk menuju jalan lurus dan rahmat yang penuh berkah bagi orang-orang yang beriman.
Allah juga berfirman:
"Dan Kami menceritakan kepadamu kisah-kisah terbaik melalui Al-Qur'an ini." QS. Yusuf: 3
Yusuf · Ayat 3
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْاٰنَۖ وَاِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الْغٰفِلِيْنَ ٣
naḫnu naqushshu ‘alaika aḫsanal-qashashi bimâ auḫainâ ilaika hâdzal-qur'âna wa ing kunta ming qablihî laminal-ghâfilînKami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu. Sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui.
Tafsir Wajiz / Tafsir Tahlili :
Allah menurunkan ayat ini dan sesudahnya ketika sekelompok orang Yahudi meminta Nabi Muhammad menceritakan kisah Nabi Yusuf dan Nabi Yakub, lalu turunlah ayat berikut ini. Kami akan menceritakan kepadamu wahai Nabi Muhammad suatu kisah umat-umat terdahulu untuk menguatkan hatimu dan menjadi pelajaran bagi umatmu. Kisah ini adalah kisah yang paling baik karena sarat dengan pesan, nasihat, dan pelajaran yang diuraikan dengan susunan bahasa yang indah dan menarik. Kisah itu Kami turunkan dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum Kami mewahyukannya itu termasuk orang yang tidak mengetahui tentang kisah-kisah umat terdahulu. Kisah-kisah para nabi dan orang-orang saleh yang dipaparkan dalam Al-Qur'an adalah menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad, karena sarat dengan pesan-pesan moral serta nasihat.
Berapa Porsi Kisah dalam Al-Qur'an ?
Para ulama ilmu Al-Qur'an seperti Imam Az-Zarkasyi, Imam As-Suyuthi, Manna' Al-Qaththan, dan Dr. Shubhi Ash-Shalih menjelaskan bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur'an mencakup sekitar sepertiga isi Al-Qur'an.
Pendapat ini muncul karena:
1. Kisah tersebar dalam hampir seluruh surah.
2. Banyak kisah diulang pada beberapa surah dengan sudut pandang berbeda.
3. Tujuan utamanya adalah pendidikan iman, bukan penyusunan sejarah kronologis.
Karena itu, pernyataan bahwa dua pertiga isi Al-Qur'an merupakan kisah tidak menjadi pendapat yang umum diterima dalam kajian ulama tafsir.
Tujuan Kisah dalam Al-Qur'an
Allah menjelaskan beberapa tujuan utama kisah tersebut.
1. Menguatkan Hati Nabi Muhammad SAW
"Semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu agar dengannya Kami teguhkan hatimu." QS. Hud: 120
2. Menjadi Pelajaran Bagi Orang Beriman QS. Yusuf: 111
3. Menunjukkan Kekuasaan Allah
Melalui kisah penciptaan, mukjizat para nabi, dan kehancuran kaum yang ingkar.
4. Menjadi Peringatan
Allah menunjukkan akibat kezaliman dan pembangkangan terhadap para nabi.
Nabi-Nabi yang Banyak Dikisahkan
Al-Qur'an menyebut sekitar 25 nabi secara eksplisit.
Di antaranya:
1. Nabi Adam
2. Nabi Nuh
3. Nabi Ibrahim
4. Nabi Ismail
5. Nabi Ishaq
6. Nabi Ya'qub
7. Nabi Yusuf
8. Nabi Musa
9. Nabi Harun
10. Nabi Dawud
11. Nabi Sulaiman
12. Nabi Yunus
13. Nabi Zakaria
14. Nabi Yahya
15. Nabi Isa
16. Nabi Muhammad SAW
2. Contoh Kisah dalam Al-Qur'an dan Kitab-Kitab Sebelumnya
1). Nabi Adam AS
2). Dalam Al-Qur'an
3). Penciptaan manusia
4). Sujud malaikat
5). Iblis membangkang
6). Adam tinggal di surga
7). Godaan setan
8). Turun ke bumi
9). Tobat Adam diterima Allah
Ayat:
QS. Al-Baqarah 30–39
QS. Al-A'raf 11–27
QS. Thaha 115–123
Dalam Tradisi Ibrani
Tercatat dalam:
Kitab Kejadian (Genesis) pasal 1–3.
Perbedaan
Dalam Al-Qur'an:
- Adam langsung bertobat.
- Allah menerima tobatnya.
- Tidak dikenal konsep dosa warisan (original sin).
2. Nabi Nuh AS
Dalam Al-Qur'an
- Berdakwah hampir 950 tahun.
- Membuat kapal.
- Datang banjir besar.
- Kaumnya binasa.
Ayat:
QS. Hud
QS. Nuh
QS. Al-Qamar
Dalam Kitab Kejadian
Genesis pasal 6–9.
3. Nabi Ibrahim AS
Dalam Al-Qur'an:
Menghancurkan berhala.
Dibakar Raja Namrud.
Hijrah.
Membangun Ka'bah.
Siap mengorbankan putranya atas perintah Allah.
Dalam Kitab Kejadian:
Genesis pasal 12–25.
Perbedaan penting adalah bahwa Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit nama putra yang hendak disembelih, sedangkan sebagian besar tradisi Yahudi dan Kristen menyebut Ishak. Mayoritas ulama Muslim berpendapat putra tersebut adalah Ismail berdasarkan hadis dan penafsiran klasik.
4. Nabi Yusuf AS
Al-Qur'an:
Seluruh kisah terdapat dalam satu surah penuh:
QS. Yusuf.
Dalam Taurat:
Genesis pasal 37–50.
Banyak bagian serupa:
- Dibuang saudara.
- Dijual sebagai budak.
- Menjadi pejabat Mesir.
- Menafsirkan mimpi.
Bertemu kembali dengan keluarganya.
5. Nabi Musa AS
Merupakan nabi yang paling sering disebut dalam Al-Qur'an.
Peristiwa:
- Lahir saat Fir'aun membunuh bayi laki-laki.
- Dihanyutkan di Sungai Nil.
- Diangkat menjadi nabi.
- Mukjizat tongkat.
- Laut terbelah.
- Turunnya Taurat.
Dalam Taurat:
- Kitab Keluaran (Exodus), Imamat (Leviticus), Bilangan (Numbers), dan Ulangan (Deuteronomy).
6. Nabi Dawud
Al-Qur'an:
- Mengalahkan Jalut.
- Diberi kitab Zabur.
- Menjadi raja.
Dalam Perjanjian Lama:
Kitab 1 Samuel dan 2 Samuel.
7. Nabi Sulaiman
Al-Qur'an:
- Memahami bahasa burung.
- Menguasai angin.
- Jin bekerja atas izin Allah.
- Kisah Ratu Saba.
Dalam Perjanjian Lama:
- Kitab 1 Raja-Raja.
8. Nabi Yunus
Al-Qur'an:
- Ditelan ikan besar.
- Berdoa dalam kegelapan.
Doanya:
"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim." QS. Al-Anbiya: 87
Dalam Perjanjian Lama:
Kitab Yunus.
9. Nabi Isa AS
Al-Qur'an:
- Lahir tanpa ayah.
- Mukjizat sejak bayi.
- Menyembuhkan orang sakit atas izin Allah.
- Tidak disalib menurut keyakinan Islam.
Dalam Perjanjian Baru:
- Empat Injil.
Apakah Al-Qur'an Menyalin Kitab Sebelumnya ?
Pandangan Islam menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan salinan kitab-kitab sebelumnya.
Al-Qur'an menyebut dirinya sebagai:
- Mushaddiq (membenarkan wahyu sebelumnya yang masih asli).
- Muhaimin (menjadi penjaga, pengawas, dan penyempurna terhadap kitab-kitab terdahulu).
Allah berfirman:
"Dan Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi penjaga terhadapnya." QS. Al-Ma'idah: 48
Karena itu, adanya kisah yang serupa dipahami sebagai konsekuensi bahwa sumber wahyu berasal dari Allah yang sama, sementara Al-Qur'an juga memberikan koreksi pada bagian-bagian yang menurut ajaran Islam telah mengalami perubahan atau penafsiran yang tidak tepat.
Hikmah Pengulangan Kisah
Mengapa kisah diulang?
Karena setiap pengulangan memiliki:
- tujuan dakwah yang berbeda,
- penekanan moral yang berbeda,
- konteks ayat yang berbeda,
- pelajaran yang berbeda.
Contohnya:
Kisah Nabi Musa muncul lebih dari seratus kali dalam berbagai surah dengan fokus yang berbeda-beda, seperti perjuangan menghadapi Fir'aun, penyampaian hukum, kesabaran, dan kepemimpinan.
HIKMAH DI BALIK AL-QUR'AN BERISI BANYAK KISAH UMAT TERDAHULU DAN PARA NABI
(Memahami Pelajaran Ilahi untuk Kehidupan Manusia Sepanjang Zaman)
Al-Qur'an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia. Salah satu ciri khas Al-Qur'an adalah banyaknya kisah (qashash) tentang para nabi, rasul, orang-orang saleh, kaum terdahulu, serta berbagai peristiwa sejarah.
Allah SWT tidak menurunkan kisah-kisah tersebut sekadar sebagai catatan sejarah, hiburan, atau dongeng masa lalu. Setiap kisah mengandung hikmah, pelajaran moral, petunjuk akidah, tuntunan akhlak, dan hukum kehidupan yang berlaku sepanjang zaman.
Allah SWT berfirman:
"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (QS. Yusuf: 111)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama kisah-kisah dalam Al-Qur'an adalah agar manusia mengambil ibrah (pelajaran), bukan sekadar mengetahui jalan cerita.
Mengapa Al-Qur'an Banyak Berisi Kisah ?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa sekitar seperempat hingga sepertiga isi Al-Qur'an berupa kisah para nabi, umat terdahulu, dan berbagai peristiwa yang memiliki nilai pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia lebih mudah memahami nilai-nilai kehidupan melalui contoh nyata daripada sekadar teori.
Kisah menjadi media pendidikan yang menyentuh akal, hati, dan jiwa sekaligus.
Hikmah Besar Kisah dalam Al-Qur'an
1. Menguatkan Keimanan kepada Allah
Semua nabi membawa pesan yang sama:
- "Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut."
- Melalui kisah mereka, manusia memahami bahwa hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Firman Allah:
"Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat." (QS. An-Nahl: 36)
2. Menguatkan Hati Nabi Muhammad SAW
Nabi Muhammad menghadapi berbagai penolakan, hinaan, dan tekanan dari kaum Quraisy. Allah menghibur beliau dengan menceritakan perjuangan nabi-nabi sebelumnya.
Firman Allah:
"Semua kisah para rasul yang Kami ceritakan kepadamu adalah untuk meneguhkan hatimu." (QS. Hud: 120)
3. Menunjukkan Sunnatullah dalam Sejarah
Al-Qur'an memperlihatkan pola yang terus berulang:
- Kebenaran selalu diuji.
- Orang beriman menghadapi cobaan.
- Kesombongan membawa kehancuran.
- Kesabaran berbuah kemenangan.
- Kezaliman tidak akan kekal.
- Prinsip ini berlaku pada setiap zaman.
4. Memberikan Teladan Akhlak Mulia
Setiap nabi memiliki keistimewaan akhlak.
Contohnya:
- Nabi Ibrahim AS: keteguhan tauhid.
- Nabi Yusuf AS: menjaga kehormatan dan memaafkan.
- Nabi Musa AS: keberanian menghadapi tirani.
- Nabi Sulaiman AS: kepemimpinan yang adil.
- Nabi Ayyub AS: kesabaran luar biasa.
- Nabi Muhammad SAW: akhlak yang sempurna.
5. Menjadi Peringatan bagi Orang yang Durhaka
Kaum-kaum terdahulu dibinasakan bukan karena lemahnya teknologi, tetapi karena kesombongan, kemusyrikan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran.
Contohnya:
- Kaum Nabi Nuh.
- Kaum 'Ad.
- Kaum Tsamud.
- Kaum Luth.
- Fir'aun.
- Qarun.
Semuanya menjadi pelajaran agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.
6. Membuktikan Kebenaran Wahyu
Nabi Muhammad SAW tidak belajar dari kitab-kitab terdahulu dan dikenal sebagai seorang yang ummi (tidak membaca dan menulis). Namun beliau mampu menyampaikan kisah-kisah para nabi dengan benar melalui wahyu Allah.
Hal ini menjadi salah satu bukti kenabian beliau.
Mengapa Kisah dalam Al-Qur'an Sering Diulang ?
Sebagian orang bertanya mengapa kisah Nabi Musa, Nabi Ibrahim, atau Nabi Nuh muncul di banyak surah.
Jawabannya karena setiap pengulangan memiliki tujuan yang berbeda.
Misalnya kisah Nabi Musa:
- Di satu surah menekankan dakwah.
- Di surah lain menonjolkan mukjizat.
- Di bagian lain menunjukkan kesabaran.
- Pada bagian berbeda menjadi peringatan bagi orang kafir.
Setiap pengulangan menghadirkan sudut pandang dan pelajaran yang berbeda.
Karakteristik Kisah Al-Qur'an
Berbeda dengan sejarah biasa, kisah Al-Qur'an memiliki ciri khas:
- Selalu benar.
- Tidak mengandung kebohongan.
- Berorientasi pada pendidikan.
- Fokus pada pelajaran, bukan detail yang tidak bermanfaat.
- Berlaku lintas zaman.
Pelajaran dari Beberapa Nabi
Nabi Adam AS
Pelajaran:
- Manusia dapat melakukan kesalahan.
- Pintu tobat selalu terbuka.
- Kesombongan seperti yang dilakukan Iblis membawa kehancuran.
Nabi Nuh AS
Pelajaran:
- Berdakwah membutuhkan kesabaran.
- Kebenaran tidak diukur dari banyaknya pengikut.
- Keselamatan berada pada ketaatan kepada Allah.
Nabi Ibrahim AS
Pelajaran:
- Tauhid harus ditegakkan meskipun menghadapi keluarga dan penguasa.
- Keikhlasan melahirkan keberkahan.
Nabi Yusuf AS
Pelajaran:
- Menjaga diri dari maksiat.
- Sabar menghadapi fitnah.
- Memaafkan orang yang berbuat zalim.
- Kepemimpinan yang amanah.
Nabi Musa AS
Pelajaran:
- Melawan kezaliman.
- Memimpin dengan keberanian.
- Bertawakal kepada Allah.
Nabi Ayyub AS
Pelajaran:
- Kesabaran ketika diuji kehilangan harta, keluarga, dan kesehatan.
Nabi Yunus AS
Pelajaran:
- Jangan berputus asa.
- Segera bertobat ketika menyadari kesalahan.
Nabi Muhammad SAW
Pelajaran:
- Rahmat bagi seluruh alam.
- Akhlak mulia.
- Kesabaran.
- Kasih sayang.
- Kepemimpinan.
- Keadilan.
Hikmah Kisah Kaum Terdahulu
Allah menceritakan kehancuran berbagai kaum agar manusia memahami akibat dari:
- Kesombongan.
- Korupsi dan pengkhianatan amanah.
- Penindasan.
- Kemusyrikan.
Kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan.
Penolakan terhadap para rasul.
Firman Allah:
"Maka berjalanlah di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang sebelum kamu." (QS. Ar-Rum: 42)
Relevansi dengan Kehidupan Modern
Walaupun terjadi ribuan tahun yang lalu, kisah-kisah Al-Qur'an tetap relevan.
Misalnya:
- Kesombongan Fir'aun dapat muncul dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan.
- Kekayaan Qarun mengingatkan agar harta tidak melahirkan kesombongan.
- Kaum Nabi Luth menjadi peringatan tentang penyimpangan moral.
- Kesabaran Nabi Ayyub mengajarkan keteguhan menghadapi ujian.
- Kejujuran Nabi Yusuf menjadi teladan bagi pejabat, pemimpin, dan profesional.
Dengan demikian, kisah-kisah Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga menjadi cermin untuk menilai kondisi masyarakat masa kini.
Fungsi Pendidikan Kisah dalam Al-Qur'an
Kisah-kisah tersebut membentuk manusia agar:
- Memiliki akidah yang kokoh.
- Berakhlak mulia.
- Bersabar dalam ujian.
- Berani menegakkan kebenaran.
- Menghindari kezaliman.
- Menjadi pemimpin yang adil.
- Menjaga amanah.
- Bertawakal kepada Allah.
- Mengambil pelajaran dari sejarah.
Kesimpulan :
Kisah-kisah dalam Al-Qur'an merupakan salah satu bagian penting dari kandungannya dan oleh banyak ulama diperkirakan mencakup sekitar sepertiga isi Al-Qur'an. Kisah tersebut bukan disampaikan sebagai catatan sejarah yang lengkap dan kronologis, melainkan sebagai sarana pendidikan iman, akhlak, dan penguatan keyakinan.
Banyak kisah memiliki kemiripan dengan yang terdapat dalam Taurat, Zabur, dan Injil karena menurut keyakinan Islam semuanya berasal dari tradisi wahyu yang sama. Namun, Al-Qur'an dipahami sebagai wahyu terakhir yang membenarkan kebenaran kitab-kitab sebelumnya sekaligus meluruskan bagian-bagian yang menurut ajaran Islam telah mengalami perubahan atau penyimpangan dalam transmisi maupun penafsirannya.
Dengan demikian, qashash al-Qur'an tidak hanya menjadi catatan tentang masa lalu, tetapi juga menjadi pedoman moral yang relevan bagi setiap generasi dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Kisah-kisah dalam Al-Qur'an merupakan bagian integral dari petunjuk Allah SWT bagi manusia. Melalui perjalanan para nabi dan umat terdahulu, Allah mengajarkan bahwa hukum-hukum-Nya (sunnatullah) berlaku sepanjang zaman: keimanan, kejujuran, kesabaran, dan keadilan akan membawa kepada keberhasilan, sedangkan kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran pada akhirnya membawa kehancuran.
Membaca kisah dalam Al-Qur'an hendaknya tidak berhenti pada mengetahui nama tokoh atau urutan peristiwa, tetapi berlanjut pada upaya mengambil ibrah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Al-Qur'an benar-benar menjadi petunjuk hidup yang relevan bagi setiap generasi hingga akhir zaman.
Daftar Pustaka
- Al-Qur'an al-Karim.
- Tafsir Ibnu Katsir.
- Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an.
- Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
- Tafsir al-Misbah.
- Fi Zilal al-Qur'an.
- Mafatih al-Ghaib.
Imajiner Nuswantoro

