NASKAH SEWAKA DARMA
Naskah Sewaka Darma (juga dikenal sebagai Kawih Panyaraman) adalah teks puisi religius Sunda kuno berbentuk puisi (kawih) yang berisi pedoman etika, moral, dan ajaran spiritual masyarakat Sunda masa lampau. Ditulis di atas daun lontar menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno, naskah ini diperkirakan berasal dari sekitar tahun 1435 Masehi.
Kawih Panyaraman adalah teks puisi Sunda kuno (abad ke-16) berupa dialog spiritual antara pendeta dan muridnya. Secara harfiah berarti "nyanyian untuk penyegaran" atau "obat rasa takut". Naskah ini ditulis pada daun lontar, berisi ajaran kebajikan, nilai moral, dan panduan mencapai pencerahan.
Teks aslinya memuat petunjuk praktis sehari-hari seperti menjaga panca indera (pendengaran, penglihatan, ucapan) agar terhindar dari malapetaka. Salah satu baitnya yang terkenal berbunyi :
"Ieu kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma."
(Inilah kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma).
Naskah Sewaka Darma merupakan salah satu karya sastra dan keagamaan terpenting dari tradisi Sunda Kuno. Naskah ini menjadi sumber utama untuk memahami pandangan hidup, filsafat, etika, dan ajaran spiritual masyarakat Sunda sebelum Islam berkembang luas di Tatar Sunda. Naskah tersebut diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-15, ditulis dengan aksara Sunda Kuno menggunakan bahasa Sunda Kuno pada media daun lontar.
Identitas Naskah
Nama: Sewaka Darma (Kawih Panyaraman)
Nomor koleksi: Kropak 408
Asal: Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Garut, Jawa Barat
Media: Daun lontar
Aksara: Sunda Kuno
Bahasa: Sunda Kuno
Bentuk: Puisi atau kawih
Jumlah: 37 lembar lontar (74 halaman, 67 halaman berisi tulisan)
Arti Nama Sewaka Darma
Secara etimologis:
- Sewaka berarti pelayan, pengabdi, atau seseorang yang mengabdikan diri.
- Darma (Dharma) berarti kebenaran, kewajiban, hukum kosmis, dan jalan hidup yang benar.
Dengan demikian, Sewaka Darma dapat dimaknai sebagai "pengabdian kepada dharma", yaitu ajaran tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan sesuai hukum moral dan spiritual.
Isi Pokok Naskah
Naskah ini berbentuk dialog dan petunjuk spiritual antara seorang guru dengan murid yang disebut Sang Sewaka Darma. Pokok-pokok ajarannya meliputi :
- Hakikat manusia dan jiwa (atma).
- Kewajiban menjalankan dharma.
- Pengendalian pikiran, ucapan, dan perbuatan.
- Pelepasan diri dari nafsu duniawi.
- Jalan menuju kaleupasan atau moksa.
- Hubungan manusia dengan alam semesta dan para dewata.
- Kehidupan yang sederhana, jujur, dan penuh kebijaksanaan.
Filsafat Kehidupan
Sewaka Darma mengajarkan bahwa manusia hendaknya:
- Menguasai hawa nafsu.
- Menjaga kesucian hati.
- Berkata benar.
- Berbuat sesuai dharma.
- Menghormati guru dan orang tua.
- Menjaga keseimbangan dengan alam.
- Mengembangkan kebijaksanaan sebagai jalan menuju pembebasan.
Konsep Moksa
Tujuan akhir kehidupan menurut Sewaka Darma adalah kaleupasan (moksa), yaitu terbebas dari penderitaan dan keterikatan dunia. Keadaan ini digambarkan sebagai kondisi yang hening, tanpa bentuk, tanpa suara, tanpa penderitaan, dan bersatu dengan Yang Mahakuasa.
Latar Keagamaan
Naskah ini memperlihatkan perpaduan antara:
- Siwaisme,
- unsur Hindu-Buddha,
- dan kearifan lokal Sunda Kuno.
Di dalamnya disebut tokoh-tokoh seperti Batara Wisnu, Batara Isora (Iswara), Siwa, Sanghyang Premana, dan Tunggal Wisesa, yang menunjukkan corak religius masyarakat Sunda pra-Islam.
Nilai-Nilai Universal
Walaupun lahir berabad-abad lalu, ajaran Sewaka Darma tetap relevan, antara lain:
- integritas moral,
- pengendalian diri,
- kejujuran,
- tanggung jawab,
- penghormatan kepada guru,
- harmoni dengan alam,
- dan pencarian kebijaksanaan sejati.
Kedudukan dalam Sastra Nusantara
Sewaka Darma merupakan salah satu mahakarya filologi Nusantara yang sejajar pentingnya dengan naskah-naskah klasik lain seperti Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Amanat Galunggung, dan berbagai kakawin Jawa Kuno. Melalui naskah ini, kita memperoleh gambaran mengenai filsafat, pendidikan, dan spiritualitas masyarakat Sunda Kuno.
Apabila Anda sedang menyusun buku tentang naskah-naskah Nusantara, Sewaka Darma layak ditempatkan sebagai salah satu karya klasik yang merekam warisan etika, filsafat, dan spiritualitas Sunda Kuno yang sangat bernilai bagi sejarah intelektual Indonesia.
Naskah Sewaka Darma
(Compl.Ver)
Ditulis : Buyut Ni Dawit (cicit Ni Dawit?) sekitar abad 17 M - 18 M
Lokasi: Kuta Wawatan ??
Koleksi: PerPusNas RI No Kropak: 408
Diteliti Oleh: Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Undang A. Darsa dan
Tien Wartini
1. Ini Kawih Panyaraman
Pikawih[h]eun ubar keueung
Ngarana Pangwereg Darma
Ngawangun Rasa Sorangan
/h/awak[k]aneun Sang Syisya
Nu huning Sewaka Darma
Anaking ulah Mo Yatna-yatna
Reungeu Sabda Sang pandit[t]/a
Ingeutkeun Hayuwa Lali
Teher Nging Ngenak-ngenak Rasa
Ngranan Ngapakeun Tali
Ingetkeun na Dasa Sila
Iseuskeun na Pa(n)ca Sakit
Iyan Ta ni(ng)kah-
2. Keun raga Mayahkeun arira
Ngalekaskeun Suku Tangan
Suku Milang awak Urang
Lamun Salah Le(ng)kah
Eta matak urang papa
leungeun Lamun Salah Cokot
Eta matak Urang papa
Ceuli Lamun Salah Denge
Eta matak urang papa
Panon Lamun Salah Jeueung
Eta matak urang Papa
Irung Lamun Salah Ambeu
Eta matak urang Papa
Sungut Lamun Salah Hakan
Eta matak Urang Papa
3. Manguni Salah Na Sabda
Lamun Sabda Teu Tuhu
Lamun Lain Sabda jati
Lamunna Hamo Ra[h]hayu
lamun Tiis Bawana
Eta anu disasalahkeun
Nu maka papa Kalesa
Sanyarah Na Angen-angen
Sapamilang Pangeusi Raga
Nu dipiawak Sarira
Eta nu matak malalat/ti/
Eta nu ngi(n)dit ngara(m)pid
Nu maanan kana Kawah
Lamun Salah di kreti
Hala he(d)ap hala Tineung
Hiri de(ng)ki di sakali(h)
makeya neuluh Ngaracun
4. Ngagunaan mijaheut(t)an
Sakara N(i)ng hedap dusta
mating-mating na Wong Sadu
Ja Barya Hanteu Dosa
Sinengguh Inya na Dusta
Anaking Ulah Mo Yatna-yatna
Mularakeun na Siksa Guru
Dina Guru Tala(pa)kan
Dina Jagat (u)padrawa
Cadu Sakti Sang Pandita
Anakaing mullah sya dekaja Jamuga
kena ti Dinya Sangkanna Suka-duka
Mula(h) (hala) lawan Hayu
Wwat Pati lawa Hurip
Ta(ng)kal sorga Lawan Papa
Lamun
5. Kana Sakitu a(ang) geus Lokat
A(ng)geus Kasikep Kagamel
Kapulih ka Ti(ng)kah Jati
Katimu Ama Kabikeun Ra(h)hayu
Hedap Herang Ma Na lilang
Dulur/r/an ku puja nyapu
Caangna di sarira
Pakeun Ngaran dina Jati
Adam Nyana Mritiyana
Nem(b)alan Sabda Sang Pandita Naga Pun
Ti Sang Nurgraha
Tuluykeun mulah kapalang
kasibatna di ngai(ng) sajati
Aing ayeuna akuwasakeun
raga ai(ng) Sabda geui(ng)
sa-
(**) Naskah Manuskrip Tidak Lengkap (hilang/ rusak)
Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630)
Terjemahan ini diambil dari Buku : “ Sewaka Darma (Kropak 408), Sanghyang Siksakandang Karesian (Kropak 630), Amanat Galunggung (Kropak 632),
Transkripsi dan Terjemahan” oleh Saleh Danasasmita, Ayatrohaedi, Tien Wartini, Undang Ahmad Darsa.
Naskah ini dibuat pada tahun 1518 M, memakai aksara Sunda kuno.
Terjemahan Sanghyang Siksakandang Karesian
I
Ya inilah yang akan diajarkan oleh sang budiman bagi mereka yang mencari kebahagiaan. Ada (ajaran) yang bernama sanghiyang siksakandang karesian untuk kewaspadaan semua orang. Inilah ujar sang budiman memaparkan sanghiyang siksakandang karesian.
Inilah sanghiyang dasa kreta1 untuk pegangan orang banyak. Siapapun yang hendak menegakkan sarana kesejahteraan agar dapat lama hidup, lama tinggal (di dunia). berhasil dalam peternakan, berha-sil dalam pertanian,2 selalu unggul dalam perang, sumbernya terletak pada orang banyak.
Inilah kenyataan yang disebut sanghiyang dasa kreta. Bayang bayang dasa sila, maya-maya3 sanghiyang dasa marga, perwujudan dasa indera untuk menyejahterakan dunia kehidupan di dunia yang luas.4
Ini (jalan) untuk kita menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang,5 bersih halaman bclakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil rumah terisi, lumbung terisi. kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, lama hidup. selalu6 sehat. sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan; Rumput, pohon-pohonan, rambat. semak, hijau subur tumbuhnya segala macam buah-buahan, banyak hujan, pepohonan tinggi karena subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan namanya.
Ini sanghiyang dasa kreta yang disebutkan sebagai bayang-bayang sanghiyang dasa sila,7 ya maya-maya sanghiyang dasa marga. perwujudan dasa indera. Inilah kenyataannya.
Telinga jangan mendengarkan yang tidak layak didengar karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun kalau telinga terpelihara, kita akan mendapat keutamaan dalam pendengaran.
Mata jangan sembarang melihat yang tidak layak dipandang karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila mata terpelihara, kita akan mendapat keutamaan dalam penglihatan.
Kulit jangan digelisahkan karena panas ataupun dingin sebab menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; tetapi kalau kulit terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari kulit.
Lidah jangan salah kecap karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila lidah terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari lidah.
Hidung jangan salah cium karena menjadi pintu bencana penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan
II
neraka: namun bila hidung terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari hidung.
Mulut jangan sembarang bicara karena menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila mulut terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari mulut.
Tangan jangan sembarang ambil karena menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila tangan terpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari tangan.
Kaki jangan sembarang melangkah karena menjadi pintu bencana, penyebab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila kaki tcrpelihara. kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari kaki.
Tumbung8 jangan dipakai keter9 karena menjadi pintu bencana di dasar kenistaan neraka; namun bila tumbung terpelihara, kita akan mendapat keutamaan yang berasal dari tumbung.
Baga-purusa10jangan dipakai berjinah, karena menjadi pintu bencana, penyabab kita mendapat celaka di dasar kenistaan neraka; namun bila baga-purusa terpelihara, kita akan memperoleh keutamaan dari baga dan purusa,
Ya itulah yang disebut dasa kreta. Kalau sudah terpelihara pintu (nafsu) yang sepuluh, sempurnalah perbuatan orang banyak. Demikian pula perbuatan sang raja.
Ini yang disebut dasa prebakti. Anak tunduk kepada bapak; isteri tunduk kepada suami; hamba tunduk kepada majikan11 siswa tunduk kepada guru; petani tunduk kepada wado; wado12 tunduk kepada mantri, mantri tunduk kepada nu nangganan; nu nangganan tunduk kepada mangkubumi; mangkubumi tunduk kepada raja; raja tunduk kepada dewata; dewata tunduk kepada hiyang. Ya itulah yang disebut dasa prebak ti
III
Ini yang harus dilaksanakan, amanat sang budiman sejati. Puji dan sembahku kepada Siwa, horrnatku kepada sanghiyang panca tatagata.13. Panca berarti lima, tata berarti ucap, gata berarti raga, Ya itulah yang memberikan kebaikan kepada semuanya.
Panca aksara14 adalah guru manusia. Panca aksara itu kenyataan yang terlihat, terasa dan tersaksikan oleh indera kita. Guru itu tempat bertanya orang banyak, Karena itu dinamakan guru manusia. Kebodohan itu baru ada setelah adanya dunia.
Ini kenyataanya. Namanya ya panca byapara.15 Sanghiyang pretiwi (tanah), air, cahaya, angin dan angkasa. Ujar sang budiman manusia besar: itu semua milik kita. Yang diibaratkan tanah yaitu kulit, yang diibaratkan air yaitu darah dan ludah, yang diibaratkan cahaya yaitu mata, yang diibaratkan angin yaitu tulang, yang diibaratkan angkasa yaitu kepala. Itulah yang disebut pretiwi dalam tubuh. Ya diibaratkan oleh penguasa bumi. Ya menjelma menjadi para rama, resi, ratu, disi dan tarahan.
Ini panca putera:16 pretiwi adalah Sang Mangukuhan, air adalah Sang Katungmaralah, cahaya adalah Sang Karungkalah, angin adalah Sang Sandanggreba, angkasa adalah Sang Wretikandayun,17
Ini panca kusika:18 Sang Kusika di Gunung, Sang Garga di Rumbut, Sang Mesti di Mahameru, Sang Purusa di Madiri. Sang Patanjala di Panjulan,
Kalau terpahami semua sanghiyang wuku19 lima di bumi tentu (tampak) menyenangkan (keadaan) semua tempat. Tempat itu disebut: purwa, daksina, pasima, utara, madya. Purba yaitu timur, tempat Hiyang Isora, putih warnanya. Daksina yaitu selatan, tempal Hiyang Brahma, merah warnanya. Pasima yaitu barat, tempat Hiyang Mahadewa, kuning warnanya.
Imajiner Nuswantoro

