KAI RAGA

0

 KAI RAGA



Imajiner Nuswantoro



Kai Raga adalah nama atau gelar yang tercatat sebagai penyalin atau penulis naskah-naskah Sunda kuno. Namanya tercantum dalam enam naskah Sunda kuno.

Identitas Kai Raga pernah ditelusuri oleh C.M. Pleyte. Ia berkunjung ke CIkuray pata tahun 1904. Sebelumnya ia telah mendapatkan keterangan bahwa pada tahun 1865 Raden Saleh mendapatkan beberapa naskah Sunda Kuno dari Kai Raga. Waktu itu Raden Saleh sedang bertugas berkeliling Priangan untuk mengumpulkan peninggalan bersejarah, termasuk naskah Sunda Kuno. Kai Raga yang dijumpai oleh Raden Saleh ternyata adalah cucu dari Kai Raga yang menjadi pemimpin kelompok keagamaan. Pertapaannya terletak di lereng Gunung CIkurat, Garut. Namun, keterangan mengenai cucu Kai Raga tersebut tidak diketahui lagi sejak tahun 1865. Pleyte meyakini bahwa keberadaannya dipastikan telah meninggal tanpa keturunaan.

Hingga kini baru ada enam naskah Sunda yang dinisbatkan kepada Kai Raga. Keenam naskah tersebut adalah: Carita Ratu Pakuan (Kropak 410 & Kropak 411), Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), Darmajati (Kropak 423) dan Wirid Nur Muhammad.

Kropak 410 berisi teks Carita Ratu Pakuan. Atja (1970) mencatat bahwa kisah ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, mengisahkan gunung-gunung pertapaan para pohaci (dewi lokal) yang hendak menitis kepada putri-putri bangsawan calon istri Ratu Pakuan atau Prabu Siliwangi. Bagian kedua mengisahkan Putri Ngambetkasih yang diperistri oleh Ratu Pakuan.

Kropak 410 tercatat dalam Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4 (1998), tetapi naskah tersebut tidak ada di Perpustakaan Nasional dan sejauh ini belum diketahui keberadaannya.[5] Keberadaan naskah ini sebelumnya tercatat oleh Pleyte dalam publikasi artikel “Poernawidjaja’s Hellevaart, of de Volledigeverlossing, Vierde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda” (1914). Dalam artikelnya itu Pleyte membaca sendiri teks dari sumber naskah kropak 410.[6] Dapat disimpulkan bahwa, kemungkinan besar naskah tersebut telah hilang dari koleksi Perpustakaan Nasional.

Kropak 411 berisi teks yang sama dan tampaknya merupakan salinan lain. Seperti halnya kropak 410, dari keterangan dalam katalog Perpustakaan Nasional, naskah ini juga tidak diketahui keberadaannya lagi sampai sekarang.

Keterangan yang tercantum dalam kolofon Kropak 410 dan 411 menggunakan aksara Sunda Kuno dan Bahasa Sunda Kuno yaitu: “sadu pun, sugan aya sastra leuwih sudaan, kurang wuwuhan. Beunang diajar nulis di Gunung Larang Srimanganti. beunang nganggeuskeun di sukra wage gunung larang srimanganti. Ini carik kai raga.” (Maaflah, bila ada tulisan berlebih, mohon dikurangi, jika kurang tambahi. Hasil belajar menulis di Gunung Larang Srimanganti dan telah selesai dituliskan pada hari Jumat wage di Gununglarang Srimanganti. Ini juru tulis Kai Raga).



Carita Purnawijaya

Carita Purnawijaya (Poernawidjaja’s Hellevaart) terdapat dalam dua kropak, yaitu 416 dan 423. Teksnya merupakan adaptasi naskah Jawa kuno yang bernapaskan agama Buddha, Kunjarakarna. Isinya mengisahkan Purnawijaya yang mendapatkan pencerahan dari Dewa Utama, perjalanannya ke neraka, dan paparan aspek-aspek filosofis yang dia dapatkan. Walaupun secara umum berisi teks yang sama, naskah Darmajati (kropak 423) memiliki bagian yang berbeda. Keduanya ditulis menggunakan Aksara Sunda Kuno dan bahasa Sunda Kuno.

Ketarangan di dalam kolofon Carita Purnawijaya (Kropak 416) dan Darmajati (Kropak 423) menunjukkan penulis atau penyalin naskahnya. “sugan aya sastra ala de ma, sugan salah gantian, sugan kurang wuwuhan. Beunang Kai Raga nulis, di gunung Larang Sri Manganti” (kalaulah ada tulisan jelek dan sia-sia, jika keliru perbaikilah, apabila kurang harap dilengkapi. Tulisan hasil Kai Raga, di Gunung Larang Srimanganti)



Kawih Paningkes

Kawih Paningkes (kropak 419) dan Gambaran Kosmologi Sunda (kropak 420) adalah naskah Sunda Kuno yang ditulis dengan aksara Sunda Kuno dan bahasa Sunda Kuno. Isinya membahas berbagai renungan masalah keagamaan. Dalam Gambaran Kosmologi Sunda terdapat dialog antara Pendeta Utama dengan Pwah Batari Sri tentang semua mahluk dalam menjalankan tugasnya masing-masing sesuai bayu, sabda, dan hedap, yaitu anugerah dari Sang Pencipta. Dalam teks ini juga ada disebutkan tuntunan keagamaan yang harus dilakukan. Kawih Paningkes merupakan risalah mengenai ajaran agama Hindu dengan kepercayaan pribumi. Hal tersebut tampak dengan penyebutan nama dewa dan dewi Hindu dengan nama-nama pohaci dan apsari yang khas Pasundan.


Naskah Kawih Paningkes (Kropak 419) diakhiri dengan kata-kata: “ini kang nulis kai raga nu keur tapa di sutanangtung”, sedangkan dalam bagian kolofon Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420) tertulis: “ini kang anulis Kai Raga, eukeur tapa di Sutanangtung. Sugan kurang wuwuhan, leuwih sudaan” (inilah penulis bernama Kai Raga, tengah bertapa di Suta Nangtung. Bila ada kekurangan mohon ditambah, jika berlebihan mohon dikurangi).



Wirid Nur Muhammad


Imajiner Nuswantoro




Wirid Nur Muhammad adalah koleksi Perpustakaan Nasional RI disimpan dalam kode KBG 75. Naskah ini ditulis dengan aksara Sunda Kuno. Berbahan kertas daluang, dengan sampul kertas marmer berwarna merah, terdiri dari 12 halaman. isinya perihal asal-muasal penciptaan alam dan manusia. Teksnya berisi proses penciptaan alam dan nabi Adam, ketika ia sendirian di surga, penciptaan Hawa dari rusuk kirinya, kemudian penyebutan silsilah dari nabi Adam hingga Prabu Siliwangi. Teks Wirid Nur Muhammad diperkirakan ditulis pada awal abad ke-18. Keterangan dalam kolofon menunjukkan bahwa naskah ditulis oleh Kai Raga pada hari Jum’at Kliwon, bulan Muharram. Karya ini cukup kontras jika dibandingkan dengan naskah lain yang tertulis atas namanya. Naskah ini telah diteliti oleh Ade Ahmad dalam tesisnya.

Naskah ini memiliki beberapa kemiripan dan karakteristik yang sangat dekat dengan naskah Carita Waruga Guru, sehingga naskah Carita Waruga Guru juga diperkirakan ditulis atau disalin oleh Kai Raga.



Perbandingan dengan Kiai Windusana

Masa hidup dan hasil karya Kai Raga dapat dibandingkan dengan Kiai Windusana yang memelihara dan menuliskan kembali sejumlah naskah Jawa Kuna, Jawa Pertengahan, dan Jawa Modern di lereng Gunung Merbabu sebagaimana yang ditelusuri I. Kuntara Wiryamartana dan Willem van der Molen. Menurut mereka Windusana hidup di sekitar abad ke-18. Ia dikenal sebagai pendeta tinggi dalam agama Buddha dan dilaporkan memiliki ribuan naskah yang aneh. Namun saat Bataviaasch Genootschap mengambil naskah-naskahnya pada tahun 1852, jumlahnya hanya berkisar empat ratusan naskah. Seperti halnya dalam koleksi naskah karya-karya Kai Raga, dalam koleksi Merapi-Merbabu Windusana juga ditemukan naskah-naskah yang bernafaskan keagamaan Islam.



Tatar Sunda

Pada tradisi menulis naskah kuno yang ada di tatar Sunda, nama pengarang maupun penyalin adalah sesuatu hal yang langka. Berbeda dengan budaya Jawa yang banyak mengenal nama pengarang dan penyalin seperti Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Mpu Sedah, dan Mpu Kanwa, di tatar Sunda hingga saat ini hanya dikenal tiga nama: Buyut Ni Dawit, Sang Bujangga Resi Laksha, dan Kai Raga.

Buyut Ni Dawit adalah pertapa perempuan. Berdasarkan data pada kolofon naskah Sewaka Darma (Kropak 408), ia bertapa di Pertapaan Ni Teja Puru Bancana. Pertapaan ini berada di Gunung Kumbang, yang menurut beberapa keterangan ada di wilayah Priangan Timur.

Sementara Sang Bujangga Resi Laksha menurut kolofon naskah Serat Buwana Pitu (Kropak 636) besar kemungkinan juga se-orang pertapa atau bahkan raja yang mundur dari kerajaannya dan menjadi seorang resi. Naskah Serat Buwana sendiri ditulis di Giri Sunya (Gunung Sunya).

Namun yang penting dicatat di sini adalah peran Kai Raga. Mengapa penting dicatat ? Karena sejauh ini, Kai Raga telah menuliskan lebih dari tiga naskah Sunda kuno. Bahkan bisa jadi bertambah banyak lagi, mengingat naskah-naskah Sunda kuna yang belum diteliti banyak. Hingga kini 50-an naskah Sunda kuna yang ada di Perpustakaan Nasional dan Kabuyutan Ciburuy, Garut, masih belum tergarap.

Adapun profil Kai Raga dapat kita baca keterangannya dari Ratu Pakuan (1970) karya Atja dan Tiga Pesona Sunda Kuna (2009) susunan J. Noorduyn dan A. Teeuw. Berdasarkan kedua buku tersebut, Kai Raga adalah pertapa yang tinggal di sekitar Sutanangtung, Gunung Larang Srimanganti. Gunung ini merupakan nama kuno Gunung Cikuray, Garut, dewasa ini.

Melalui penelusuran dan penafsiran Pleyte yang ada pada Ratu Pakuan dan Tiga Pesona Sunda Kuna, Kai Raga diperkirakan hidup pada awal abad ke-18. Penelusuran dan penafsiran Pleyte ini didasarkan atas perbandingan naskah-naskah yang ditulisnya dengan naskah Carita Waruga Guru yang menunjukkan kesamaan corak huruf.

Karya-karya tulis dan koleksi Kai Raga diturunkan kepada kerabatnya. Ia sendiri tidak meninggalkan keturunan. Dan, ketika Raden Saleh pada tahun 1856 mencari-cari peninggalan purbakala atas inisiatif Masyarakat Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia (BGKW), naskah-naskah peninggalan Kai Raga diserahkan kepada pelukis tersebut.



Kolofon

Hingga kini baru ada lima naskah Sunda yang dinisbatkan kepada Kai Raga. Kelima naskah tersebut adalah: Carita Ratu Pakuan (Kropak 410), Kropak 411, Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan Darmajati (Kropak 423).

Bukti kepenulisan Kai Raga dinyatakannya dalam bentuk kolofon pada masing-masing naskah di atas dan posisinya biasanya berada di akhir teks. Pada Kropak 410 dan 411, ada keterangan: sadu pun, sugan aya sastra leuwih sudaan, kurang wuwuhan. Beunang diajar nulis di Gunung Larang Srimanganti dan beunang nganggeuskeun di sukra wage gununglarang srimanganti. Ini carik kai raga. (Maaflah, bila ada tulisan berlebih, mohon dikurangi, jika kurang tambahi. Hasil belajar menulis di Gunung Larang Srimanganti dan telah selesai dituliskan pada hari Jumat wage di Gununglarang Srimanganti. Ini juru tulis Kai Raga) (Atja, 1970 dan Undang A. Darsa, 2007).

Demikian pula Carita Purnawijaya (Kropak 416) dan Darmajati (Kropak 423), keduanya menunjukkan keterangan yang sama. Kata-kata yang dimaksud adalah: sugan aya sastra ala de ma, sugan salah gantian, sugan kurang wuwuhan. Beunang Kai Raga nulis, di gunung Larang Sri Manganti (kalaulah ada tulisan jelek dan sia-sia, jika keliru perbaikilah, apabila kurang harap dilengkapi. Tulisan hasil Kai Raga, di Gunung Larang Srimanganti) (Undang A. Darsa, dkk. 2004).

Sementara menurut Atja (1970), Kawih Paningkes (Kropak 419) diakhiri dengan kata-kata: ini kang nulis kai raga nu keur tapa di sutanangtung. Sedangkan Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), menurut Undang A. Darsa dan Edi S. Ekadjati (2006) diakhiri dengan kata-kata: ini kang anulis Kai Raga, eukeur tapa di Sutanangtung. Sugan kurang wuwuhan, leuwih sudaan (inilah penulis bernama Kai Raga, tengah bertapa di Suta Nangtung. Bila ada kekurangan mohon ditambah, jika berlebihan mohon dikurangi).



Isi Karya

Secara garis besar, karya tulis Kai Raga dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, yang masuk ke rumpun sejarah. Kedua, masuk ke rumpun keagaamaan. Naskah Sunda kuno karya Kai Raga yang mewakili rumpun sejarah adalah Carita Ratu Pakuan (Kropak 410). Sementara yang mewakili keagaamaan adalah Carita Purnawijaya (Kropak 416), Kawih Paningkes (Kropak 419), Gambaran Kosmologi Sunda (Kropak 420), dan Darmajati (Kropak 423).

Sementara Kropak 411, sejauh ini belum diketahui keberadaannya. Karena dalam Perpustakaan Nasional Republik Indonesia: Katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4 (1998), naskah tersebut tidak didapatkan lagi datanya. Akan tetapi, catatan Pleyte dalam Poernawidjaja’s Hellevaart, of de Volledigeverlossing, Vierde bijdrage tot de kennis van het oude Soenda (1914), jelas menyebutkan keberadaan naskah tersebut. Dengan demikian, besar kemungkinan naskah tersebut telah raib dari koleksi Perpustakaan Nasional.

Carita Ratu Pakuan, sebagaimana catatan Atja (1970), dibagi dua bagian. Pertama, me-ngenai gunung-gunung pertapaan para pohaci yang akan menitis kepada para putri pejabat calon istri Ratu Pakuan atau Prabu Siliwangi. Kedua, mengenai kisah Putri Ngambetkasih diperistri Ratu Pakuan.

Carita Purnawijaya (Poernawidjaja’s Hellevaart) merupakan adaptasi naskah Jawa kuno yang bernapaskan agama Buddha, Kunjarakarna. Isinya menerangkan Purnawijaya yang mendapatkan pencerahan dari Dewa Utama, perjalanannya ke neraka, dan serta uraian masalah-masalah filosofis yang dia dapatkan. Naskah ini mirip sekali isinya dengan Darmajati, meski di beberapa bagian ada yang berbeda.

Selanjutnya, naskah Kawih Paningkes dan Gambaran Kosmologi Sunda pada dasarnya berisi tentang segala macam renungan mengenai masalah-masalah keagamaan. Gambaran Kosmologi Sunda berisi dialog antara Pendeta Utama dengan Pwah Batari Sri me-ngenai bagaimana semua mahluk menjalankan tugasnya masing-masing sesuai bayu, sabda, dan hedap anugerah dari Sang Pencipta. Selain itu, juga ada disebutkan me-ngenai tuntunan peribadatan yang harus dilakukan.

Sementara, Kawih Paningkes, menurut Ayatrohaedi, dkk. (1987), berisi embaran mengenai ajaran agama yang bercampur antara kepercayaan Hindu dengan kepercayaan pribumi. Hal tersebut terbukti dengan disebutkannya nama dewa dan dewi agama Hindu dengan nama-nama pohaci dan apsari yang khas Pasundan.

Demikianlah Kai Raga dan karya-karyanya. Dengan gambaran tersebut, tampak pentingnya pembacaan, transkripsi, serta alih bahasa naskah-naskah Sunda kuno. Upaya penggalian naskah-naskah Sunda kuno, yang kini masih banyak yang belum tergarap, bisa jadi kita akan memperoleh sejumlah data yang menyangkut nama penulis dan penyalin, wilayah, serta titimangsa kapan naskah ditulis. Dengan demikian akan kian jelaslah pemetaan literasi orang Sunda di masa lalu.



Sumber referensi :

(Kutipan dari Atep Kurnia, penulis lepas, bergiat di Pusat Studi Sunda/PSS)





Imajiner Nuswantoro 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)