Bodhisattva Sangharama (Qie Lan Pu Sa)
Bodhisattva Sangharama (atau lebih dikenal dalam tradisi Tionghoa sebagai Qie Lan Pu Sa - 伽藍菩薩) adalah salah satu sosok pelindung paling penting dalam tradisi Buddhis Mahayana, khususnya dalam budaya Tionghoa. Nama "Sangharama" sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "asrama para biksu" atau "vihara". Oleh karena itu, Beliau dihormati sebagai Bodhisattva Pelindung Dharma dan Vihara.
Berikut adalah ulasan lengkap mengenai asal-usul, transformasi sejarah, serta makna spiritual dari Bodhisattva Sangharama.
Origin dan Makna Nama
Secara harfiah, Sangharama (僧伽藍摩) merujuk pada tempat kediaman komunitas sangha (vihara atau tempat ibadah).
Dalam teks-teks Buddhis awal, istilah "Qie Lan Pu Sa" sebenarnya tidak merujuk pada satu individu saja, melainkan pada kelompok 18 Dewa Pelindung Qie Lan (Ghaṭīkāra, dkk) yang bertugas menjaga kesucian vihara, melindungi para biksu yang sedang bermeditasi, dan menangkal energi negatif.
Namun, seiring berjalannya waktu dan meleburnya Buddhisme dengan budaya lokal di Tiongkok, visualisasi dan pemujaan Bodhisattva Sangharama memusat pada satu sosok pahlawan legendaris: Jenderal Guan Yu (Guan Gong).
Transformasi Sejarah: Dari Jenderal Perang Menjadi Pelindung Vihara
Bagaimana seorang jenderal perang dari Zaman Tiga Negara (Samkok) bisa menjadi Bodhisattva dalam agama Buddha? Kisah ini tercatat dalam tradisi lisan dan kronik sejarah Tiongkok:
1. Kehidupan Guan Yu
Guan Yu adalah jenderal legendaris yang hidup pada abad ke-3 Masehi. Ia terkenal karena kesetiaan (Yi), keberanian, dan integritasnya yang tanpa pamrih. Setelah wafat karena dihukum mati oleh musuhnya, arwahnya konon berkeliaran di Gunung Yuquan karena membawa rasa penasaran dan amarah akibat kematiannya yang tragis.
2. Pertemuan dengan Master Zhiyi (Sui Dynasty, 589–618 M)
Pada masa Dinasti Sui, pendiri sekte Tiantai, Master Chan Zhiyi, sedang bermeditasi di Gunung Yuquan. Malam itu, arwah Guan Yu muncul di hadapannya dengan wujud yang mengerikan, menuntut pengembalian kepalanya yang terpenggal.
Master Zhiyi kemudian memberikan khotbah Dharma yang mendalam:
"Anda menuntut kepala Anda kembali, lalu bagaimana dengan kepala ratusan ribu musuh yang telah Anda penggal selama peperangan?"
Mendengar hal itu, arwah Guan Yu seketika tersadar (mencapai pencerahan batin). Ia merasa menyesal atas karma buruk masa lalunya, bersujud kepada Master Zhiyi, dan memohon untuk menerima Tisarana (Tiga Perlindungan) serta Pancasila Buddhis.
3. Sumpah Menjadi Pelindung Dharma
Setelah menjadi murid Buddhis, Guan Yu bersumpah untuk menggunakan kekuatan spiritualnya demi melindungi ajaran Buddha, menjaga vihara-vihara dari gangguan roh jahat, dan memastikan keselamatan para praktisi Dharma. Sejak saat itulah, altar untuk menghormatinya mulai dibangun di vihara-vihara Mahayana sebagai Bodhisattva Sangharama.
Karakteristik Visual dan Penggambaran Altarnya
Di dalam vihara Buddha Mahayana tradisional, Anda akan hampir selalu menemukan altar Bodhisattva Sangharama. Ciri-cirinya adalah:
- Posisi Altar: Biasanya ditempatkan di aula utama (Mahavira Hall), berpasangan dengan Bodhisattva Skanda (Wei Tuo Pu Sa). Jika Wei Tuo berada di sisi kiri (menghadap ke dalam/luar), maka Sangharama berada di sisi kanan altar utama Buddha.
- Wujud Visual: Digambarkan sebagai jenderal berwajah merah (melambangkan keberanian dan kesetiaan), berjanggut panjang yang indah, mengenakan baju zirah perang hijau yang megah di balik jubahnya.
- Atribut: Tangan kanannya sering kali memegang janggutnya atau senjata khasnya, Guan Dao (Pedang Naga Hijau), sedangkan tangan kirinya memegang buku sejarah "Chun Qiu" (Musim Semi dan Gugur), yang melambangkan keadilan dan kecerdasan taktis.
Makna Spiritual dan Relevansi Bagi Praktisi
Pemujaan kepada Bodhisattva Sangharama bukan sekadar memohon perlindungan fisik dari bahaya, melainkan memiliki simbolisme batin yang mendalam bagi umat Buddha:
- Simbol Keteguhan Hati: Watak asli Guan Yu yang setia sampai mati menginspirasi para praktisi untuk setia pada janji Bodhisattva dan tekun dalam melatih diri di jalan Dharma, tidak peduli seberapa berat godaan duniawi.
- Penjaga Pikiran (Internal Sangharama): Vihara yang sesungguhnya adalah pikiran kita sendiri. Bodhisattva Sangharama adalah simbol dari kesadaran penuh (mindfulness) yang menjaga gerbang pikiran agar tidak ditembus oleh "musuh-musuh" batin seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan.
- Transformasi Karma: Kisah hidupnya mengajarkan bahwa seburuk apa pun masa lalu seseorang (bahkan seorang jenderal yang banyak membunuh di medan perang), jika ada penyesalan yang tulus dan tekad untuk berbalik ke jalan kebajikan, ia bisa bertransformasi menjadi pelindung kesucian.
Tradisi Peringatan
Hari jadi atau hari peringatan Bodhisattva Sangharama dirayakan setiap tahun pada tanggal 13 bulan 5 penanggalan imlek (beberapa tradisi merayakannya pada tanggal 24 bulan 6 imlek). Pada hari tersebut, umat Buddha Mahayana biasanya mengadakan puja bakti khusus, melafalkan Sutra, dan mempersembahkan pelita serta buah-buahan di altarnya sebagai bentuk penghormatan atas perlindungan yang Beliau berikan kepada Sangha dan Dharma.

