Sunan Giri
(R. Ainul Yaqin / Jaka Samudra)
Sunan Giri atau R. 'Ainul Yaqin lahir di Blambangan tahun 1442 M dan meninggal tahun 1506 dimakamkan di desa Giri, Kebomas Gresik. Sunan Giri adalah anggota Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton yang berkedudukan di daerah Kabupaten Gresik. Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
Kisah Masa Muda Sunan Giri
Di balik ketokohan Sunan Giri sebagai salah satu Wali Songo dan penyebar Islam yang berpengaruh di Tanah Jawa, tersimpan kisah masa mudanya yang sarat makna. Raden Paku, nama asli Sunan Giri, ternyata merupakan santri unggulan dari Sunan Ampel, pendiri Pesantren Ampel Denta di Surabaya.
Dikisahkan bahwa sejak usia 11 tahun, Raden Paku yang waktu itu masih dikenal dengan nama Joko Samodra sudah menunjukkan kesungguhan dalam mencari ilmu. Ia diantarkan oleh ibu angkatnya, Nyai Gede Pinatih, dari Gresik ke Surabaya untuk belajar langsung kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel.
Awalnya, Joko Samodra rela bolak-balik Gresik-Surabaya setiap hari hanya untuk mengaji. Namun, ketekunan dan semangatnya membuat Sunan Ampel tersentuh, lalu memintanya tinggal di pesantren. Dari sinilah perjalanan intelektual dan spiritual Raden Paku dimulai.
Santri yang Bersinar
Pesantren Ampel kala itu dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang sangat disegani. Sunan Ampel tak hanya mengajarkan ilmu agama, tapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan para santrinya.
Joko Samodra tumbuh menjadi santri cerdas dan tekun, bahkan disebut lebih unggul dari teman-teman seangkatannya. Suatu malam, Sunan Ampel melihat cahaya terang memancar dari tubuh salah satu santri yang sedang salat tahajud. Untuk menandainya, ia mengikat ujung sarung santri tersebut.
Keesokan harinya, saat ditanya siapa yang merasa sarungnya terikat, Joko Samodra mengangkat tangan. Momen tersebut menjadi titik balik—Sunan Ampel meyakini bahwa pemuda ini memiliki keistimewaan.
Asal-Usul Terungkap
Setelah menyelidiki lebih jauh, Sunan Ampel teringat pesan dari sepupunya, Syeikh Maulana Ishak, yang pernah menitipkan seorang anak sebelum kembali ke Samudra Pasai. Dari Nyai Gede Pinatih, diketahui bahwa Joko Samodra adalah anak kandung Syeikh Maulana Ishak.
Sunan Ampel pun mengganti nama Joko Samodra menjadi Raden Paku, sesuai dengan wasiat ayahnya. Sejak saat itu, Raden Paku mendapat bimbingan langsung dari Sunan Ampel dalam berbagai ilmu, mulai dari Fikih, Tauhid, hingga tafsir Al-Qur’an.
Pendiri Giri Kedaton
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Raden Paku mendirikan Pesantren Giri di Gresik, yang kemudian dikenal dengan nama Giri Kedaton. Tempat ini menjadi pusat dakwah Islam yang berpengaruh, tidak hanya di Jawa, tetapi juga di kawasan Nusantara seperti Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.
Sebagai Sunan Giri, ia memainkan peran strategis dalam penyebaran Islam melalui jalur pendidikan, pemerintahan, dan diplomasi budaya. Kepemimpinannya juga dikenal bijaksana dan moderat, menjadikan Giri sebagai simbol kekuatan Islam yang mencerahkan.
Syekh Maulana Ishaq + Dewi Sekardadu
Berdasarkan cerita rakyat dan literatur sejarah mengenai Kerajaan Blambangan, putri raja Blambangan yang terkenal menikah dengan Syekh Maulana Ishaq adalah Dewi Sekardadu.
- Dewi Sekardadu adalah putri dari Raja Menak Sembuyu, penguasa Blambangan.
- Dewi Sekardadu menikah dengan Maulana Ishaq dan melahirkan Raden Paku (Sunan Giri), yang lahir pada tahun 1442 M.
- Meskipun tahun kelahiran pasti Dewi Sekardadu tidak disebutkan secara spesifik dalam hasil pencarian, kelahirannya dipastikan sebelum tahun 1442 M (tahun kelahiran putranya). Dia hidup pada masa Kerajaan Blambangan masih bercorak Hindu, sebelum masa keruntuhan Majapahit yang jatuh sekitar tahun 1478 M.
Dewi Sekardadu
Dewi Sekardadu adalah putri dari Prabu Menak Sembuyu, penguasa Kerajaan Blambangan pada abad ke-14, yang dikenal sebagai ibunda Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin). Ia menikah dengan Syekh Maulana Ishaq setelah disembuhkan dari penyakit parah. Kisahnya diwarnai tragedi setelah bayinya dibuang ke laut karena tipu muslihat, dan ia meninggal saat mencarinya.
Berikut keterangan penting mengenai Dewi Sekardadu :
- Asal-usul: Putri Raja Blambangan, Banyuwangi, Prabu Menak Sembuyu.
- Kisah Hidup: Menikah dengan Syekh Maulana Ishaq, seorang mubaligh dari Malaka.
- Tragedi: Putranya (Raden Ainul Yaqin) dipaksa dipisahkan dan dihanyutkan ke laut atas perintah kerajaan. Dewi Sekardadu dikabarkan meninggal dalam kesedihan saat mencari bayinya di tepi laut.
- Makam/Wisata Religi: Makamnya diyakini berada di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.
- Tradisi: Masyarakat nelayan di Sidoarjo sering berziarah ke makamnya, terutama saat upacara Nyadran.
- Akses Makam: Makam ini dikunjungi melalui dua jalur, yaitu darat (melintasi tambak) atau melalui jalur sungai menggunakan perahu dari Desa Bluru Kidul.
- Kisah Dewi Sekardadu merupakan legenda yang tertanam kuat di masyarakat pesisir Jawa Timur, khususnya Sidoarjo.
Menak Sembuyu (Menak Dedali Putih)
Menak Sembuyu adalah salah satu anak Prabu Hayam Wuruk Raja Majapahit (Brhe Wijaya IV), Hayam Wuruk Raja ke-4, memerintah 1350-1389 M.
Setelah pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan dipindahkan ke daerah Tembokrejo maka pengganti Bhre Wirabumi adalah Menak Dedali Putih atau Menak Sembuyu, salah satu putra Wirabumi yang terkenal sakti.
Menak Dedali Putih ini adalah putra Bhre Wirabumi yang oleh Raja Majapahit diberi haknya kembali dari ayahnya. Selanjutnya Lekkerkerker menyebutkan bahwa Menak Dedali Putih tewas dalam peperangan melawan Kerajaan Majapahit. (Lekkerkerker, hal. 1034).
Dasanama bagi seorang raja atau orang yang berpengaruh dalam suatu kerajaan atau tempat adalah hal yang wajar, hingga Menak Dedali Putih sendiri mempunyai nama-nama lain, misalnya : Menak Sembuyu dan lain-lainnya. Sebagaimana kelanjutan tulisan tersebut :
- "Situs Macan Putih yang terletak di sekitar dusun Gombolirang, desa Macan Putih, Kecamatan kabat, Kabupaten Banyuwangi, secara etimologi mungkin berasal dari nama seorang Raja Blambangan. Sesudah Bhre Wirabumi meninggal dunia pada tahun 1328 Saka (1406 M) dan raja tersebut bemama Macan Putih yang dianggap sangat berperan."
- Nama Macan Putih tersebut mungkin dapat juga di identifikasikan dengan nama Rabut Macan pethak dalam prasasti Pasrujambe, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Tulisan Rabut Macanpethak pada prasasti singkat tersebut mungkin dipahat oleh seorang peziarah (pelaku Sidhayatra) dari daerah Macan Putih (Banyuwangi) yang ingin mendaki gunung Semeru untuk maksud tertentu.
- Keberadaan Macan Putih sebagai Raja Blambangan yang pemah melakukan sidhayatra mendaki Gunung Semeru pada tahun 1459 M. tersebut, secara kronologis sezaman dengan keberadaan berdirinya keraton Blambangan II yang terletak di kawasan situs Tembokrejo Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi (Drs. Abd. Choliq, hal. 16.17).
BACA JUGA :
NYAI AGENG PINATIH
.
Karena Fitnah Dibuang Raja Blambangan, Bayi Sunan Giri Menjadi Bercahaya di Laut Lepas
Kisahnya dimulai saat putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu sedang sakit dan raja membuat sandiwara, untuk menyembuhkan penyakit putrinya itu.
Sayembara itu menyebutkan, barang siapa yang mampu menyembuhkan putri Dewi Sekardadu, maka akan diangkat sebagai menantu Raja dan akan mendapatkan hadiah separuh dari Kerajaan Blambangan. Ternyata yang berhasil menyembuhkan sakit Dewi Sekardadu adalah Maulana Ishaq. Tetapi, tujuan utama Maulana Ishaq bukan hanya semata-mata untuk memenangkan sayembara. Namun juga menyebarkan agama Islam.
Konflik dengan raja terjadi saat Maulana Ishaq meminta Raja untuk memeluk agama Islam. Dia menolak dan dengan marah mengancam akan membunuh Maulana Ishaq.
Konflik ini tidak terpecahkan. Maulana Ishaq lalu memilih pergi meninggalkan Blambangan dan istrinya Dewi Sekardadu yang sedang hamil tua. Saat ditinggal Maulana Ishaq, Blambangan ditimpa bencana kekeringan dan kelaparan. Raja menganggap bencana itu disebabkan bayi yang sedang dikandung putrinya. Maka, setelah dilahirkan Raja meminta bayi itu dibuang ke laut.
Tentu saja hal ini membuat sedih Dewi Sekardadu atas keputusan ayahnya itu. Ia ikut mengantarkan putranya dibawa oleh para utusan raja ke tepi pantai. Di hadapan mata kepalanya sendiri, peti yang di dalamnya terbaring putranya itu dibuang ke tengah laut.
Pasca peristiwa itu, Dewi Sekardadu kian lemah dan sangat sedih. Ia pun memutuskan tidak kembali ke istana dan memilih mengembara entah kemana, tidak ada yang tahu seorang pun kemana sang putri raja itu pergi. Hingga suatu ketika konon Dewi Sekardadu ditemukan meninggal dunia di tengah hutan dan tidak seorang pun yang mengetahui dimana jenazahnya terbaring.
Di sisi lain nasib Raden Paku yang terombang-ambing di lautan akhirnya ditemukan oleh pedagang dari Gresik saat hendak menuju Bali. Konon saat melintasi dekat peti sang calon waliyullah ini perahu oleng dan berputar-putar terus di tengah lautan.
Perahu tak bisa maju dan tidak bisa mundur. Bahkan saat diperiksa di tengah laut dari perahu tampak sebuah sinar terang. Ternyata sinar terang itu muncul dari peti yang terapung-apung di tengah laut. Setelah peti diambil dan dibuka, mereka terkejut karena di dalamnya ada bayi laki-laki yang menangis mengiba-iba.
Menariknya saat perahu hendak menuju Bali, perahu masih oleng dan tak bisa melaju ke arah timur. Keputusan pun diambil dengan tidak meneruskan perjalanan ke Bali dan kembali ke Gresik. Selanjutnya bayi laki-laki itu diserahkan kepada majikan mereka di Gresik bernama Nyai Gede Pinatih.
Saat dewasa, Sunan Giri dibawa ke Ampel Denta untuk berguru kepada Sunan Ampel. Di sini, Sunan Giri dikenal sebagai Joko Samudro dan menjadi saudara seperguruan Sunan Bonang. Setelah dewasa, Sunan Giri mengikuti jejak ayahnya.
Dia ikut menyebarkan agama Islam dan dikenal karena strategi dakwahnya. Ada tiga strategi dakwah Sunan Giri, yakni pendidikan, budaya, dan politik. Dalam hal pendidikan, dia mendirikan pondok pesantren bernama Pesantren Giri. Pondok pesantren itu didirikan di sebuah bukit di Desa Sidomukti, Kebomas.
Sejak itu, Joko Samudro dikenal Sunan Giri. Melalui Pesantren Giri ini, Sunan Giri akhirnya menyebarkan agama Islam. Dia mendidik santri-santrinya yang tersebar luas hingga Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku, untuk ikut menyebarkan agama Islam.
Pengaruhnya sangat besar, hingga Pesantren Giri itu berubah menjadi sebuah kerajaan kecil bernama Giri Kedaton. Kerajaan Giri Kedaton ini menguasai wilayah Gresik dan sekitarnya hingga beberapa genarasi sampai akhirnya tumbang oleh Sultan Agung dari Mataram Islam.
Selain melalui pendidikan, Sunan Giri menyebarkan Islam dengan kebudayaan. Dia mendatangi langsung warga, mengajak mereka berkumpul dalam satu acara selamatan, upacara dan sebagainya. Kemudian juga lewat seni pertunjukan, nyanyi-nyanyian. Melalui cara ini, Islam dapat diterima di Jawa.
Selain itu, Sunan Giri juga mengajarkan Islam lewat politik. Sebagai Raja di wilayah itu, Sunan Giri memiliki kewenangan yang tidak terbatas. Sunan Giri mangkat, pada 913 H atau 1506 Masehi di sebuah bukit di Giri.
Dalam beberapa naskah babad disebutkan bahwa Sunan Giri merupakan putra dari Maulana Ishaq dengan putri Menak Sembunyu, penguasa Blambangan, yang bernama Dewi Sekardadu. Dengan demikian, Sunan Giri merupakan keponakan Sunan Gresik dan cucu dari Maulana Jumadil Kubra.
Selain nama Joko Samudro, Sunan Giri juga memilik sejumlah nama lain yakni, Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, dan Raden Ainul Yaqin. Sunan Giri lahir di Blambangan, pada tahun 1442 masehi.
Raden Paku (Sunan Giri) merupakan putra dari seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah bernama Syaikh Maulana Ishaq yang menikah dengan Dewi Sekardadu. Dewi Sekardadu adalah putri Prabu Menak Sembuyung / Sembuyu, sang penguasa wilayah Blambangan.
Kelahiran Raden Paku diangap membawa petaka berupa wabah penyakit di wilayah Blambangan, Pasai. Sehingga Dewi dipaksa Prabu Menak Sembuyung (ayahnya) untuk membuang Raden Paku yang masih bayi. Dewi Sekardadu akhirnya membuang putranya ke Selat Bali.
Peti yang membawa Raden Paku, ditemukan sekelompok awak kapal, yaitu Sabar dan Sobir. Raden Paku lalu dibawa ke daerah Gresik. Saat tiba di Gresik, Raden Paku diangkat menjadi anak dari saudagar kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, Raden Paku diberi nama Joko Samudra.
Ketika masa remaja, Joko Samudra diperintahkan oleh ibunya untuk berguru kepada Sunan Ampel. Tidak lama mengajar Raden Paku, Sunan Ampel mengetahui siapa Joko Samudra yang sesungguhnya. Sunan Ampel lalu mengirim Joko Samudra bersama Sunan Bonang menuju Pasai untuk mendalami ajaran Islam.
Setelah sampai di Pasai, mereka diterima oleh Maulana Ishaq yaitu ayah Joko sendiri. Di sinilah Joko Samudra mengetahui nama dia yang sesungguhnya, yaitu Raden Paku. Raden Paku juga mengetahui asal mula kenapa dia dibuang dari Blambangan.
Tinggal di Pasai selama tiga tahun, Raden Paku dan Sunan Bonang dipersilakan kembali ke tanah Jawa. Ayahnya memberikan sebuah bungkusan kain kecil yang berisi tanah. Ayah Raden Paku berpesan kepada anaknya untuk membangun sebuah pesantren di Gresik dengan mencari tanah yang sama persis dengan tanah yang ada di bungkusan itu.
Legenda Bayi yang Dibuang di Laut
Makam Dewi Sekardadu hingga kini masih menjadi perdebatan. Ada yang menyebut di Desa Ketingan Sidoarjo, namun ada juga yang mengatakan makamnya ada di Desa Gununganyar, Kebomas, Gresik, Jatim.
Konon, asal nama Desa Ketingan yang berada di areal pertambakan dekat laut itu diambil dari nama ikan keting (seperti lele) yang berjasa karena telah membantu menepikan jasad Dewi Sekardadu setelah tenggelam di samudera saat mencari bayinya.
Sang bayi yang berada dalam peti yang dipaku rapat diombang-ambingkan oleh ombak samudera hingga akhirnya ditemukan oleh anak buah Nyai Ageng Pinatih di kawasan Laut Gresik.
Nyai Ageng Pinatih merawat sang bayi dengan penuh kasih hingga menyekolahkannya ke pesantren Sunan Ampel di Surabaya. Kelak ia tumbuh menjadi manusia dewasa dengan nama Raden Paku atau Jaka Samudra. Setelah mendapatkan tempaan ilmu dari para wali pendahulunya beliau bergelar Sunan Giri.
Masyarakat Gresik meyakini kalau makam Dewi Sekardadu justru berada di Blambangan yang sekarang dikenal dengan nama Banyuwangi. Sebagai anak yang berbakti kepada ibundanya, Sunan Giri juga melakukan ziarah ke pusara Dewi Sekardadu di Banyuwangi.
Konon makam Dewi Sekardadu berada di sebuah bukit. Mengingat jarak Kota Gresik dan Banyuwangi yang cukup jauh maka sang sunan bermunajat kepada Allah agar makam Dewi Sekardadu beserta bukitnya dipindahkan ke kota di mana beliau mengajarkan Islam pertama kali.
Setelah khusyuk berdoa akhirnya permohonan Sunan Giri dikabulkan Allah. Tiba-tiba muncullah suara gemuruh. Anak dan istri beliau sempat ketakutan dengan suara itu.
“Secara gaib makam Dewi Sekardadu yang tak lain ibundanya sendiri itu beserta bukitnya muncul di sebelah selatan pesantren (Giri Kedaton) yang didirikannya. Tempat di mana makam berada kemudian dinamakan Desa Gunung Anyar,” kata Alifan, juru kunci makam Sekardadu di Gresik, Jatim.
Dalam sejarah disebut, Dewi Sekardadu merupakan putri Prabu Minak Sembuyu dari bumi Blambangan, Banyuwangi. Ia dikenal sebagai putri yang rupawan sekaligus baik hati.
Suatu saat, kecantikan sang Dewi ternoda seiring dengan menjamurnya wabah penyakit yang menyerang warga. Banyak penduduk yang mati secara tiba-tiba tanpa diketahui sebab musababnya, sakit di pagi hari, malam harinya meninggal dan begitu seterusnya. Penyakit aneh tersebut juga menyerang Dewi Sekardadu.
Melihat fenomena yang tak lazim, Prabu Minak Sembuyu kelabakan. Dia sungguh sangat khawatir kalau putri tunggalnya sampai menemui ajal lantaran sakit yang diderita tak kunjung bisa disembuhkan. Ia pun berbulat tekad menggelar sayembara. Siapa pun orangnya yang bisa menyembuhkan sakit putrinya, jika itu pria bakal dijadikan suaminya dan jika perempuan, akan dijadikan saudara.
Sayembara tersebut didengar oleh Syekh Maulana Ishaq, asal negeri Timur Tengah yang saat itu sedang berdakwah. Beliau langsung mendaftarkan diri ikut sayembara. Tapi juru dakwah tersebut mengajukan syarat, jika berhasil menyembuhkan, ia minta Minak Sembuyu dan seluruh pengikutnya harus masuk Islam. Tanpa banyak kata, Minak Sembuyu menyanggupi syarat tersebut.
Tapi apa dikata, setelah Syekh Maulana Ishaq berhasil mengobati Dewi Sekardadu sampai sembuh dan mempersuntingnya, Minak Sembuyu justru ingkar janji, ia dan para pengikutnya ogah memeluk agama Islam. Bahkan, dia berusaha membunuh Syekh Maulana Ishaq.
Sadar dirinya dalam bahaya, Syekh Maulana Ishaq pamit kepada istrinya meninggalkan Blambangan. Ia berpesan kelak jika lahir laki-laki agar diberi nama Raden Paku.
Raja Blambangan murka. Ia khawatir Raden Paku bakal merusak wibawanya. Karena itu, ia memutuskan untuk membuang cucunya ini ke laut. Para prajurit memasukkan si bayi ke dalam peti dan mengapungkannya. Mengetahui anak tercintanya dibuang ke laut, Dewi Sekardadu menceburkan diri ke laut mengejar-ngejar anaknya. Namun akhirnya Dewi Sekardadu meninggal.
Bayi Raden Paku ditemukan dan kemudian diasuh oleh Nyai Gede Pinatih di Gresik. Karena ditemukan di laut, dia menamakan bayi tersebut Joko Samudra. Ketika sudah cukup dewasa, Joko Samudra dibawa ibunya ke Ampeldenta (kini di Surabaya) untuk belajar agama kepada Sunan Ampel.
Tak berapa lama setelah mengajarnya, Sunan Ampel mengetahui identitas sebenarnya dari murid kesayangannya itu. Kemudian, Sunan Ampel mengirimnya beserta Makdhum Ibrahim (Sunan Bonang), untuk mendalami ajaran Islam di Pasai.
Mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Joko Samudra. Di sinilah, Joko Samudra, yang ternyata bernama Raden Paku (Sunan Giri), mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang.
Kisah Sunan Giri (2)
Syekh Maulana Ishak
Di awal abad 14 M, kerajaan Blambangan diperintah oleh Prabu Mena Sembuyu, salah seorang keturunan Prabu Hayam Wuruk dari kerajaan Majapahit. Raja dan rakyatnya memeluk agam Hindu dan sebagian ada yang memeluk agama Budha.
Pada suatu hari Parbu Menak Sembuyu gelisah, demikian pula permaisurinya pasalnya puteri mereka satu-satunya jatuh selama beberapa bulan. Sudah diusahakan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang puteri belum sembuh juga.
Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang dilanda wabah penyakit. Banyak sudah korban berjatuhan. Menurut gambaran babad tanah jawa esok sakit sorenya mati. Seluruh penduduk sangat prihatin, berduka dan hampir semua kegiatan sehari-hari menjadi macet total.
Atas saran permaisuri Prabu Menak Sembuyu mengadakan sayembara, siapa yang dapat menyembuhkan puterinya akan diambil menantu dan siapa yang dapat mengusir wabah penyakit di Blambangan akan diangkat sebagai Bupati atau Raja Muda. Sayembara disebar hampir keseluruh pelosok negeri. Tapi sudah berbulan-bulan tidak juga ada yang dapat memenangkan sayembara tersebut.
Permaisuri makin sedih hatinya, prabu Menak Sembuyu berusaha menghibur isterinya dengan menugaskan Patih Baju Sengara untuk mencari pertapa sakti guna mengobati penyakit puterinya.
Diiringi beberapa prajurit pilihan, Patih Baju Sengara berangkat melaksanakan tugasnya. Para pertapa biasanya tinggal dipuncak lereng-lereng gunung, maka kesanalah tujuan Patih Bajul Sengara.
Patih Bajul Sengara akhirnya bertemu dengan Resi Kandabaya yang mengetahui adanya tokoh sakti dari negeri seberang. Orang yang dimaksud adalah Syekh Maulana Ishak yang sedang berdakwah secara sembunyi-sembunyi dinegeri Blambangan.
Patih Bajul Sengara bertemu dengan Syekh Maulana Ishak yang sedang bertafakkur disebuah goa. Syekh Maulana Ishak mau mengobati puteri Prabu Menak Sembuyu dengan syarat Prabu mau masuk atau memeluk agama Islam. Syekh Maulana Ishak memang piawai dibidang ilmu kedokteran, puteri Dewi Sekar Dadu sembuh sekali diobati. Wabah penyakit juga lenyap dari wilayah Blambangan. Sesuai janji Raja maka Syekh Maulana Ishak dikawinkan dengan Dewi Sekardadu. Kemudian diberi kedudukan sebagai Adipati untuk menguasai sebagian wilayah Blambangan.
Hasutan Sang Patih
Tujuh bulan sudah Syekh Maulana Ishak menjadi adipati baru di Blambangan, makin hari semakin bertambah banyak penduduk Blambangan yang memeluk agama Islam. Sementara Patih Bajul Sengara tak henti-hentinya mempengaruhi sang prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya. Hati Prabu Menak Sembuyu jadi panas mengetahui hal ini.
Patih Bajul Sengara sendiri sepengetahuan sang Prabu sudah mengadakan teroe pada pengikut Syekh Maulana Ishak. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang dipimpin Syekh Maulana Ishak diculik, disiksa dan dipaksa kembali pada agama lama.
Pada saat itu Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak sadar bila diteruskan akan terjadi pertumpahan darah yang seharusnya tidak perlu. Kasihan rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka dia segera pamit kepada isterinya untuk meninggalkan Blambangan.
Akhirnya, pada tengah malam dengan hati yang berat karena harus meninggalkan isteri tercinta yang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak berangkat meninggalkan Blambangan seorang diri. Esok harinya sepasukan besar prajurit Blambangan yang dipimpin Patih Bajul Sengara menerobos masuk wilayah Kadipaten yang sudah ditinggalkan Syekh Maulana Ishak.
Dua bulan kemudian dari rahim Sekardadu lahir bayi laki-laki yang elok rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa senagn dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan itu. Bayi itu lain daripada yag lain, wajahnya mengeluarkan cahaya terang.
Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara, dibiarkannya bayi itu mendapat limpahan kasih sayang keluarganya selama empat puluh hari. Sesudah itu dia menghasut Prabu Menak Sembuyu. Kebetulan pada saat itu wabah penyakit berjangkit kembali di Blambangan, maka Patih baju Sengara berulah lagi..
Bayi itu! Benar Gusti Prabu! Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencan dikemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal diBlambangan ini disebabkan adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi itu! Kilah patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat.
Sang Prabu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dalam hatinya dia terlanjur menyukai kehadiran cucunya itu. Namun sang Patih tiada bosan-bosannya menteror dengan hasutan dan tuduhan keji yang akhirnya sang Prabu terpengaruh juga.
Walau demikian tiada tega juga dia memerintahkan pembunuhan atas cucunya itu secara langsung. Bayi yang masih berusia empat puluh hari dimasukkan kedalam peti dan diperintahkan untuk dibuang ke samudera.
Joko Samudra
Pada suatu malam ada sebuah perahu dagang dari Gresik melintasi selat Bali. Ketika perahu itu berada ditengah-tengah selat Bali tiba-tiba terjadi keanehan, perahu itu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundurpun tak bisa.
Nahkoda memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan ini, meungkinkah perahunya membentur karang. Setelah diperiksa ternyata perahu itu hanya menabrak sebuah peti berukir indah, seperti peti milik kaum bangsawan yang digunakan menyimpan barang berharga. Nahkoda memerintahkan mengambil peti itu. Semua orang terkejut karena didalamnya terdapat seorang bayi mungil yang bertubuh montok dan rupawan. Nahkoda merasa gembira menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tidak berprikemanusiaan.
Nahkoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke pulau Bali. Tapi perahu tidak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan digerakkan kearah Gresik ternyata perahu itu melaju dengan cepatnya.
Dihadapan Nyai Ageng Pinatih janda kaya raya pemilik Kapal Nahkoda berkata sambil membuka peti itu. Peti inilah yang menyebabkan kami kembali ke Gresik dalam waktu secepat ini. Kami tak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali, kata sang nahkoda.
Bayi…? Bayi siapa ini ? gumam Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.
Kami menemukannya di tengah samudera selat Bali, jawab nahkoda kapal.
Bayi ini kemudian mereka serahkan kepada Nyai Ageng Pinatih untuk diambil sebagai anak angkat. Memang sudah lama dia menginginkan seorang anak. Karena bayi ini ditemukan di tengah smudera maka Nyai Ageng Pinatih kemudian memberinya nama Joko Samudra.
Ketika berumur 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samudra untuk berguru kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Surabaya. Menurut beberapa sumber mula pertama Joko Samudra setiap hari pergi ke Surabaya dan sorenya kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja dipesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi dalam mempelajari agama Islam.
Pada suatu malam, seperti biasanya Raden Rahmat hendak mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat Tahajjud, mendoakan muridnya dan mendoakan umat agar selamat di dunia dan di akhirat. Sebelum berwudhu Raden Rahmat menyempatkan diri melihat-lihat para santri yang tidur di asrama.
Tiba-tiba Raden Rahmat terkejut. Ada sinar terang memancar dari salah seorang santrinya. Selama beberpa saat beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan mata. Untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan ampel memberi ikatan pada sarung murid itu.
Esok harinya, sesudah sholat subuh Sunan Ampel memanggil murid-muridnya itu.
Siapakah diantara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan? Tanya Sunan Ampel.
Saya Kanjeng Sunan…..ujar Joko Samudra.
Melihat yang mengacungkan tangan adalah Joko Samudra, Sunan Ampel makin yakin bahwa anak itu pastilah bukan anak sembarangan. Kebetulan pada saat itu Nyai Ageng Pinatih datang untuk menengok Joko Samudra, kesempatan itu digunakan Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal-usul Joko Samudra.
Nyai Ageng Pinatih menjawab sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samudra ditemukan ditengah selat Bali ketika masih bayi. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi dirumah Nyai Ageng Pinatih.
Teringat pada pesan Syekh Maulana Ishak sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu diganti menjadi Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih menurut saja apa kata Sunan Ampel, dia percaya penuh kepada wali besar yang dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu.
Raden Paku
Sewaktu mondok dipesantren Ampeldenta, Raden Paku sangat akrab bersahabat dengan putera Raden Rahmat yang bernama Raden Makdum Ibrahim. Keduanya bagai saudara kandung saja, saling menyayangi dan saling mengingatkan.
Setelah berusia 16 tahun, kedua pemuda itu dianjurkan untuk menimba ilmu pengetahuan yang lebih tinggi di negeri seberang sambil meluaskan pengetahuan.
Di negeri Pasai banyak orang pandai dari berbagai negeri. Disana juga ada ulama besar yang bergelar Syekh Awwallul Islam. Dialah ayah kandung yang nama aslinya adalah Syekh Maulana Ishak. Pergilah kesana tuntutlah ilmunya yang tinggi dan teladanilah kesabarannya dalam mengasuh para santri dan berjuang menyebarkan agama Islam. Hal itu akan berguna kelak bagi kehidupanmu di masa yang akan datang.
Pesan itu dilaksanakan oleh Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim. Dan begitu sampai di negeri Pasai keduanya disambut gembira, penuh rasa haru dan bahagia oleh Syekh Maulana Ishak ayah kandung Raden Paku yang tak pernah melihat anaknya sejak bayi.
Raden Paku menceritakan riwayat hidupnya sejak masih kecil ditemukan ditengah samudera dan kemudian diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih dan berguru pada Sunan Ampel di Surabaya.
Sebaliknya Syekh Maulana Ishak kemudian menceritakan pengalamannya di saat berdakwah di Blambangan sehingga dipaksa harus meninggalkan isteri yang sangat dicintainya.
Raden Paku menangis sesegukan mendengar kisah itu. Bukan menangis kemalangan dirinya yang disia-siakan kakeknya yaitu Prabu Menak Sembuyu tetapi memikirkan nasib ibunya yang tak diketahui lagi tempatnya berada. Apakah ibunya masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Di negeri Pasai banyak ulama besar dari negeri asing yang menetap dan membuka pelajaran agama Islam kepada penduduk setempat, hal ini tidak disia-siakan oleh Raden Paku dan Maulana Makdum Ibrahim. Kedua pemuda itu belajar agama dengan tekun, baik kepada Syekh Maulana Ishak sendiri maupun kepada guru-guru agama lainnya.
Ada yang beranggapan bahwa Raden Paku dikaruniai Ilmu Laduni yaitu ilmu yang langsung berasal dari Tuhan, sehingga kecerdasan otaknya seolah tiada bandingnya. Disamping belajar ilmu Tauhid mereka juga mempelajari ilmu Tasawuf dari ulama Iran, Bagdad dan Gujarat yang banyak menetap di negeri Pasai.
Ilmu yang dipelajari itu berpengaruh dan menjiwai kehidupan Raden Paku dalam perilakunya sehari-hari sehingga kentara benar bila ia mempunyai ilmu tingkat tinggi, ilmu yang sebenarnya hanya dimiliki ulama yang berusia lanjut dan berpengalaman. Gurunya kemudian memberinya gelar Syekh Maulana Ainul Yaqin.
Setelah tiga tahun berada di pusat Pasai. Dan masa belajarnya itu sudah dianggap cukup oleh Syekh Maulana Ishak, kedua pemuda itu diperintahkan kembali ke tanah jawa. Oleh ayahnya, Raden Paku diberi sebuah bungkusan kain putih berisi tanah.
Kelak, bila tiba masanya dirikanlah pesantren di Gresik, carilah tanah yang sama betul dengan tanah dalam bungkusan ini disitulah kau membangun pesantren, demikianlah pesan anahnya.
Kedua pemuda itu kemudian kembali ke Surabaya. Melaporkan segala pengalamannya kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel memerintahkan Makdum Ibrahim berdakwah di Tuban, sedangkan Raden Paku diperintah pulang ke Gresik kembali ke ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih.
Membersihkan Diri
Pada usia 23 tahun, Raden Paku diperintah oleh ibunya untuk mengawal barang dagangan ke pulau Banjar atau Kalimantan. Tugas ini diterimanya dengan senang hati. Nahkoda kapal diserahkan kepada pelaut kawakan yaitu Abu Hurairah. Walau pucuk pimpinan berada di tangan Abu Hurairah tapi Nyai Ageng Pinatih memberi kuasa pula kepada Raden Paku untuk ikut memasarkan dagangan di Pulau Banjar.
Tiga buah kapal berangkat meninggalkan pelabuhan Gresik dengan penuh muatan. Biasanya, sesudah dagangan itu habis terjual di Pulau Banjar maka Abu Hurairah diperintah membawa barang dagangan dari pulau Banjar yang sekiranya laku di pulau Jawa, seperti rotan, damar, emas dan lain-lain. Dengan demikian keuntungan yang diperoleh menjadi berlipat ganda, tapi kali tidak, sesudah kapal merapat dipelabuhan Banjar, Raden paku membagi-bagikan barang dagangannya dari Gresik itu secara gratis kepada penduduk setempat.
Tentu saja hal ini membuat Abu Hurairah menjadi cemas. Dia segera memprotes tindakan Raden Paku, Raden….kita pasti akan mendapat murka Nyai Ageng Pinatih. Mengapa barang dagangan kita diberikan secara cuma-cuma?
Jangan kuatir paman, kada Raden Paku. Tindakan saya ini sudah tepat. Penduduk Banjar saat ini sedang dilanda musibah. Mereka dilanda kekeringan dan kurang pangan. Sedangkan ibu sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dari mereka, sudahkah ibu memberikan hartanya dengan membayar zakat kepada mereka? Saya kira belum, nah sekaranglah saatnya ibu mengeluarkan zakat untuk membersihkan diri.
Itu diluar wewenang saya Raden, kata Abu Hurairah. Jika kita tidak memperoleh uang lalu dengan apa kita mengisi perahu supaya tidak oleng dihantam gelombang dan badai?
Raden Paku terdiam beberapa saat. Dia sudah maklum bila dagangan habis biasanya Abu Hurairah akan mengisi kapal atau perahu dengan barang dagangan dari Kalimantan. Tapi sekarang tak ada uang dengan apa dagangan pulau Banjar akan dibeli.
Paman tak usah risau, kata Raden Paku dengan tenangnya. Supaya kapal tidak oleng isilah karung-karung kita dengan batu dan pasir.
Memang benar, mereka dapat berlayar hingga dipantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati Abu Hurairah menjadi kebat-kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk bertemu dengan Nyai Ageng Pinatih.
Dugaan Abu Hurairah benar. Nyai Ageng Pinatih terbakar amarahnya demi mendengar perbuatan Raden Paku yang dianggap tidak normal.
Sebaiknya ibu lihat dulu pinta Raden Paku.
Sudah, jangan banyak bicara. Buang saja pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja hardik Nyai Ageng Pinatih.
Tapi ketika awak kapal membuka karung-karung itu mereka terkejut. Karung-karung itu isinya menjadi barang-barang dagangan yang biasa mereka bawa dari banjar, seperti rotan, damar , kain dan emas serta intan. Bila ditaksir harganya jauh lebih besar ketimbang dagangan yang disedekahkan kepada penduduk Banjar.
Perkawinan Raden Paku
Al-kisah ada seorang bangsawan Majapahit bernama Ki Ageng Supa Bungkul ia mempunyai sebuah pohon delima yang aneh didepan rumahnya. Setiap kali ada orang yang hendak mengambil buah delima yang berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka, kalau tidak ditimpa penyakit berat tentulah orang tersebut meninggal dunia. Suatu ketika Raden Paku tanpa sengaja lewat didepan pekarangan Ki Ageng Supa Bungkul. Begitu ia berjalan dibawah pohon delima tiba-tiba pohon itu jatuh mengenai kepala Raden Paku.
Ki Ageng Bungkul pun tiba-tiba muncul dan mencegat Raden Paku dan ia berkata, kau harus kawin dengan puteriku Dewi Wardah.
Memang, Ki Ageng Bungkul telah mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka ia akan dijodohkan dengan puterinya yang bernama Dewi Wardah. Raden Paku bingung menghadapi hal itu. Maka peristiwa itu disampaikan kepada Sunan Ampel.
Tak usah bingung, Ki Ageng Bungku adalah serang muslim yang baik. Aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu. Demikian kata Sunan Ampel.
Tapi…….bukankah saya hendak menikah dengan puteri Kanjeng Sunan Yaitu dengan Dewi Murtasiah ujar Raden Paku.
Tidak mengapa? Kata Sunan Ampel. Sesudah melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiha selanjutnya kau akan melangsungkan perkawinan dengan Dewi Wardah.
Itulah liku-liku perjalan hidup Raden Paku. Dalam sehari ia menikah dua kali. Menjadi menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi menantu Ki Ageng Bungkuk seorang bangsawan Majapahit yang hingga sekarang makamnya terawat baik di Surabaya.
Sesudah berumah tangga, Raden Paku makin giat berdagang dan berlayar antar pulau. Sambil berlayar itu beliau menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga namanya cukup terkenal di kepulauan nusantara.
Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya, ia ingin berkonsentrasi menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Ia pun minta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.
Nyai Ageng Pinatih yang kaya raya itu tidak keberatan, andaikata hartanya yang banyak itu dimakan setiap hari dengan anak dan menantunya rasanya tiada akan habis, terlebih juragan Abu Hurairah orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih menyatakan kesanggupannya untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan miliknya, maka wanita itu ikhlas melepaskan Raden Paku yang hendak mendirikan pesantren.
Mulailah Raden Paku bertafakkur digoa yang sunyi, 40 hari 40 malam beliau tidak keluar goa. Hanya bermunajat kepada Allah. Tempat Raden Paku bertafakkur itu hingga sekarang masih ada yaitu desa Kembangan dan Kebomas.
Usai bertafakkur teringatlah Raden Paku pada pesan ayahnya sewaktu belajar di negeri Pasai. Dia pun berjalan berkeliling daerah yang tanahnya mirip dengan tanah yang dibawa dari negeri Pasai.
Melalui desa Margonoto, sampailah Raden Paku didaerah perbukitan yang hawanya sejuk, hatinya terasa damai, ia pun mencocokkan tanah yang dibawanya dengan tanah ditempat itu. Ternyata cocok sekali. Maka di desa Sidomukti itulah ia kemudian mendirikan pesantren. Karena tempat itu adalah dataran tinggi atau gunung maka dinamakanlah Pesantren Giri. Giri dalam bahasa sansekerta artinya gunung.
Atas dukkungan isteri-isteri dan ibunya juga dukungan spiritual dari Sunan ampel, tidak begitu lama hanya dalam waktu tiga tahun pesantren Giri sudah terkenal ke seluruh nusantara.
Menurut Dr.H.J. De Graaf, sesudah pulang dari pengembaraannya atau berguru ke negeri Pasai, ia memperkenalkan diri kepada dunia, kemudian berkedudukan diatas bukit di Gresik dan ia menjadi orang pertama yang paling terkenal dari Sunan-sunan Giri yang ada. Diatas gunung tersebut seharusnya ada istana karena dikalangan rakyat dibicarakan adanya Giri Kedatin (Kerajaan Giri). Murid-murid Sunan Giri berdatangan dari segala penjuru, seperti Maluku, Madura, Lomnok, Makasar, Hitu dan Ternate. Demikian menurut De Graaf.
Menurut babad tanah jawa murid-murid Sunan Giri itu justru bertebaran hampir diseluruh penjuru benua besar, seperti Eropa (Rum), Arab, Mesir, Cina dan lain-lain. Semua itu adalah penggambaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar yang sangat dihormati orang pada jamannya. Disamping pesantrennya yang besar ia juga membangun mesjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan iman umatnya. Untuk para santri yang datang dari jauh beliau juga membangun asrama yang luas.
Disekitar bukti tersebut sebenarnya dahulu jarang dihuni oleh penduduk dikarenakan sulitnya mendapatkan air. Tetapi dengan adanya Sunan Giri masalah air itu dapat diatasi. Cara Sunan Giri membuat sumur atau sumber air itu sangat aneh dan gaib hanya beliau seorang yang mampu melakukannya.
Peresmian Mesjid Demak
Dalam peresmian mesjid Demak Sunan Kalijaga mengusulkan agar dibuka dengan pertunjukkan wayang kulit yang pada waktu itu bentuknya masih wayang beber yaitu gambar manusia yang dibeber pada sebuah kulit binatang.
Usul Sunan Kalijaga ditolak oleh Sunan Giri, karena wayang yang bergambar manusia haram hukumnya dalam ajaran Islam, demikian menurut Sunan Giri.
Jika sunan Kalijaga mengusulkan peresmian mesjid Demak dengan membuka pagelaran wayang kulit, kemudian diadakan dakwah dan rakyat berkumpul boleh masuk setelah mengucapkan syahadat, maka Sunan Giri mengusulkan agar mesjid Demak diresmikan pada saat hari Jum’at sembari melaksanakan Sholat jamaah Jum’at.
Sunan Kalijaga berjiwa besar kemudian mengadakan kompromi dengan Sunan Giri. Sebelum Sunan Kalijaga telah merubah bentuk wayang kulit sehingga gambarannya tidak bisa disebut sebagai gambar manusia lagi, lebih mirip karikatur seperti bentuk wayang yang ada sekarang ini.
Sunan Kalijaga membawa wayang kreasinya itu dihadapan Sidang para wali. Keran tidak bisa disebut gambar manusia maka akhirnya Sunan Giri menyetujui wayang kulit itu digunakan sebagai media dakwah.
Perubahan bentuk wayang kulit itu adalah dikarenakan sanggahan Sunan Giri. Karena itu Sunan Kalijaga memberi tanda khusus pada momentum penting itu. Pemimpin para dewa dalam pewayangan oleh Sunan Kalijaga dinamakan Sang Hyang Girinata yang arti sebenarnya adalah sunan Giri yang menata.
Maka perdebatan tentang peresmian mesjid Demak bisa diatasi. Peresmian itu akan diawali dengan sholat jum’at kemudian diteruskan dengan pertunjukkan wayang kulit yang dimainkan oleh ki dalang Sunan Kalijaga.
Jasa-jasa Sunan Giri
Jasa yang terbesar tentu saja perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam di tanah jayw bahkan ke nusantara.
Beliau pernah menjadi hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar, seorang wali yang dianggap murtad karena menyebarkan faham Pantheisme dan meremehkan syariat Islam yang disebarkan para wali lainnya. Dengan demikian sunan Giri ikut menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham Ahlussunnah wal jama’ah.
Keteguhannya dalam menyiarkan agama Islam secara murni dan konsekuen membawa dampak positif bagi generasi Islam berikutnya. Islam yang disiarkannya adalah Islam sesuai ajaran Nabi tanpa dicampuri dengan adat istiadat lama.
Di dalam kesenian beliau juga berjasa besar, karena beliaulah yang pertama kali menciptakan Asmaradana dan Pucung, beliau pula yang menciptakan tembang dan tembang dolanan anak-anak yang bernafas Islam antara lain: jamuran, Cublak-ublak Suweng, Jithungan dan Delikan.
Sembari melakukan permainan yang disebut jelungan itu biasanya anak-anak akan menyanyikan lagu Padhang Bulan :
“Padhang-padhang bulan, ayo gage dha dolanan,
Dolanane na ing latar,
Ngalap padhang gilar-gilar,
Nundhung begog hangetikar.”
(malam terang bulan, marilah lekas bermain, bermain dihalaman, mengambil dihalaman, mengambil manfaat benderangnya rembulan, mengusir gelap yang lari terbirit-birit)
Maksud dari lagu dolanan padhang bulan :
Agama Islam telah datang, maka marilah kita segera menuntut penghidupan, dimuka bumi ini, untuk mengambil manfaat dari agama Islam, agar hilang lenyaplah kebodohan dan kesesatan.
Para Pengganti Sunan Giri
Sunan Giri atau Raden Paku lahir pada tahun 1412 M, memerintah kerajaan Giri kurang lebih 20 tahun. Sewaktu memerintah Giri Kedaton beliau bergelar Prabu Satmata. Pengaruh Sunan giri sangatlah besar terhadap kerajaan Islam di jawa maupun di luar jawa. Sebagi buktinya adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah mendapat pengesahan dari Sunan Giri.
Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama 200 tahun. Sesudah Sunan Giri meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya yaitu:
1. Sunan Dalem
2. Sunan Sedomargi
3. Sunan Giri Prapen
4. Sunan Kawis Guwa
5. Panembahan Ageng Giri
6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
7. Pangeran Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri
8. Pengeran Singosari
Pangeran Singosari ini berjuang gigih mempertahankan diri dari serbuan Sunan Amangkurat II yang dibantu oleh VOC dan Kapten Jonker. Sesudah pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedaton. Meski demikian kharisma Sunan Giri sebagai ulama besar wali terkemuka tetap abadi sepanjang masa.
Imajiner Nuswantoro



