NYAI AGENG PINATIH

0

 NYAI AGENG PINATIH 



Imajiner Nuswantoro


Nyai Ageng Pinatih (juga dijuluki : Nyai Gede Pinatih, Nyai Ageng Samboja, Nyai Ageng Maloka, Nyai Salamah, Nyai Gede Tandes) adalah tokoh yang dipercaya masyarakat Gresik sebagai syahbandar perempuan Gresik yang menjabat pada 1458-1477. Julukan Samboja berasal dari nama negara Kamboja, Pinatih berasal dari kata Patih, Maloka dari nama negeri Malaka, Salamah bermakna berprestasi dalam bahasa Jawa.

Ada sumber lain bahwa, Nyai Gede Pinatih adalah seorang bangsawati Muslim dari Palembang pada masa kerajaan Majapahit. Ia adalah putri dari kepala daerah Xuan-Wei-Shi Shi Jin Qing dari Palembang.



Kisahnya :

Menurut sejarawan Oemar Zainuddin dalam bukunya yang berjudul Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial Budaya dan Ekonomi (Penerbit Ruas), Nyai Gede Pinatih adalah seorang perempuan pertama di Nusantara pada zaman kesultanan untuk memungut bea cukai dan mengawasi para pedagang asing.

Singkat cerita, Nyai Ageng Pinatih pergi dari Keraton Blambangan karena suaminya bermaksud hendak menikah lagi. Lalu beliau pergi ke Majapahit guna menemui saudara perempuannya yang menjadi permaisuri Raja Brawijaya. Oleh Raja Brawijaya, beliau dihadiahi sebidang tanah di Gresik dan akhirnya menetap di Gresik sejak 1412 M.

Selepas itu, Nyai Ageng Pinatih mencoba mengembangkan bakat usaha dagangnya sampai terkenal menjadi pemilik beberapa kapal dagang. sampai suatu Nyai Gede Pinatih diangkat menjadi Syahbandar Gresik pada 1458 M.


Perpindahan ke Gresik

Menurut cerita rakyat, Nyai Ageng Pinatih merupakan istri dari Patih Semboja, berasal dari Kerajaan Blambangan yang Hindu, yang diusir dari kerajaannya oleh Prabu Menak Sembuyu (Menak Jinggo) karena Patih Semboja mendukung ajaran Syekh Maulana Ishaq. Karena itu, Patih Semboja menemui Raja Majapahit dan mengabdi sebagai pejabat tinggi di Kerajaan Majapahit. Raja Majapahit Brawijaya memberi Nyai Ageng Pinatih sebidang tanah di Gresik dan menetap di Gresik sejak 1412. Ia dipercaya berasal dari Champa dan tinggal di Gresik Wetan, sekitar 200 meter dari Desa Gapura.

Menurut buku Gresik Sejarah dan Harijadi yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Gresik, Nyai Ageng Pinatih diberi hak oleh raja Majapahit untuk bermukim menjadi saudagar di Gresik. Nyai Ageng Pinatih dipercaya memiliki barang dagangan dan kapal dalam jumlah besar, serta usaha dan relasinya luas di Pulau Jawa.


Pelabuhan Gresik

Nyai Ageng Pinatih diberi hak oleh raja Majapahit untuk bermukim menjadi saudagar di Gresik. Nyai Ageng Pinatih dipercaya memiliki barang dagangan dan kapal dalam jumlah besar, serta usaha dan relasinya luas di Pulau Jawa. Pelabuhan Gresik sudah ada sebelum berdirinya Giri Kedaton dan dengan cepat menjadi pelabuhan dagang besar pada dasawarsa kedua abad XIV. Hal tersebut dipercaya disebabkan oleh stabilitas pemerintahan Kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Maharaja Sri Rajasanegara atau Raja Hayam Wuruk.

Karena semakin banyaknya kapal singgah di pelabuhan, maka seorang syahbandar diperlukan untuk mengatur pelabuhan. Dalam pengangkatannya, seorang syahbandar harus menguasai berbagai bahasa, memahami ilmu perdagangan, dan memiliki relasi yang luas. Nyai Ageng Pinatih dianggap memenuhi syarat tersebut.


Syahbandar Gresik

Pada 1458 M, ia diangkat menjadi Syahbandar oleh Raja Majapahit Brawijaya V untuk menggantikan Ali Hutomo yang wafat pada 1449. Pusat Pelabuhan Gresik lalu berpindah dari Desa Bandaran ke Desa Kelingan (sekarang Kebungson atau Pakelingan). Pada masa ia menjabat, pelabuhan Gresik mencapai kejayaannya. Ia dikisahkan membangun tempat pembuatan kapal dan peti kemasan yang disebut Blandongan, menyediakan tempat perbaikan peti yang digunakan untuk menyimpan barang yang diangkut ke dalam kapal, serta menyediakan kuda sebagai alat transportasi untuk mengangkut barang dari pedalaman menuju pelabuhan atau sebaliknya.

Dalam cerita rakyat lain, Dinasti Ming dikisahkan mengangkat Nyai Ageng Pinatih sebagai Syahbandar Gresik menggantikan Cheng Ho yang bertugas mengontrol keamanan wilayah Jawa dan Sumatra dari aksi perampokan kapal-kapal dagang yang melalui wilayah tersebut. Di Palembang, Cheng Ho mendirikan Kantor Perdamaian yang mengurus dan bertanggung jawab dan menjaga keamanan. Shi Jinqing atau Shi Daniang kemudian diangkat sebagai Syahbandar Gresik dan dijuluki Nyai Ageng Pinatih. Menurut Chen Yu Sung, ayah Nyai Ageng Pinatih adalah utusan utama yang diangkat oleh penguasa Majapahit di Palembang untuk mengurus soal keadamaan dan administrasi kenegaraan di Palembang setelah runtuhnya Kerajaan Sriwijaya.

Nyai Ageng Pinatih dipercaya sebagai perempuan pertama di Nusantara yang memungut bea cukai dan mengawasi pedagang asing pada zaman kesultanan.


BACA JUGA :

Sunan Giri (R. Ainul Yaqin / Jaka Samudra)
.


Ibu Angkat Sunan Giri

Konon, pada 1443 M saat Sunan Giri masih bayi, sunang Giri adalah anak dari pasangan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu, dibuang ke laut oleh Dewi Sekardadu yang terletak di Selat Bali. Dewi Sekardadu adalah putri Prabu Menak Sembuyu, seorang penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit.

Karena Kelahiran Sunan Giri dianggap membawa kutukan yang berupa wabah penyakit di wilayah blambangan. Maka, Dewi Sekardadu dipaksa oleh sang ayahanda yang tak lain adalah Prabu Menak Sembuyu untuk membuang jabang bayi sunan giri yang baru dilahirkannya itu. Kemudian, karena diperintah oleh sang ayah, mau atau tidak, rela atau tidak, Dewi Sekardadu harus menghanyutkan anaknya itu ke Selat Bali.

Singkat cerita, Bayi tersebut ditemukan para anak buah Nyai Ageng Pinatih sendiri di tengah samudera. Pada saat itu kapal Nyai Ageng Pinatih kebetulan hendak berlayar menuju Pulau Bali. Hampir semua Perhatian para awak kapal tertuju pada sebuah peti yang terapung-apung di tengah laut. Bahkan, kapal mereka sempat menabrak peti yang kelak menjadi aeorang wali besar di pulau Jawa.

Tanpa pikir panjang para awak kapal mengangkat peti yang didalamnya berisi seorang bayi yang kelak bernama Joko Samudro itu. dan ketika dibuka, ternyata di dalam peti ada seorang bayi laki-kali. Para awak kapal anak buah Nyai Ageng Pinatih lalu memutuskan tidak jadi melanjutkan perjalanan menuju Bali yang tentu harus mendapat restu dari sang pemilik kapal. Hingga akhirnya, para ABK iti memilih kembali ke Gresik untuk melaporkan penemuan peti yang berisi bayi tersebut kepada Nyai Ageng Pinatih.



Kematian

Menurut buku Grisse Tempo Doeloe, Nyai Ageng Pinatih tidak lagi aktif sebagai syahbandar pada 1477 karena sakit parah kemudian wafat. Makam di Kebungson sekitar 300 meter sebelah utara Alun-Alun Kota Gresik dipercaya sebagai makamnya. Tidak diketahui siapa penggantinya sebagai syahbandar.

Namun, Oemar Zainuddin dalam buku Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial Budaya Dan Ekonomi (Penerbit Ruas), menyebut Nyai Ageng Pinatih meninggal pada 1483 M.



Imajiner Nuswantoro


Nyi Gede Pinatih, Berdakwah dengan Sarana Ekonomi

Dalam literatur sejarah, Nyai Ageng Pinatih atau Nyai Gede Pinatih dikirim ke tanah Gresik pada abad ke-15 Masehi. Dia dikirim dari Blambangan atau saat ini bernama Banyuwangi untuk misi keagamaan. Mengawali misinya, Nyai Ageng Pinatih menemui saudara perempuannya, permaisuri penguasa Majapahit kala itu, Raja Brawijaya.

Demi memuluskan misi keagamaan tersebut, Raja Brawijaya menghadiahkan sebidang lahan di tanah Gresik. Akhirnya, 1412 Masehi, Nyai Ageng Pinatih memutuskan untuk menetap dan menggarap atas tanah tersebut. Beliau menyadari bahwa untuk memaksimalkan hadiah itu, tidak hanya perlu bekal ilmu agama. Perlu juga ilmu dagang atau ilmu ekonomi.

Untuk mendapatkan itu semua, Nyai Ageng Pinatih memulai dengan nyantri ke beberapa ulama tersohor saat itu. Para ulama yang dijadikan guru untuk belajar agama adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmatullah alias Sunan Ampel di Surabaya. Untungnya, dua dari sembilan Walisongo itu juga mahir tentang ilmu dagang. Selain belajar ilmu agama, Nyi Gede Pinatih juga belajar ilmu dagang dan ekonomi pada kedua tokoh tersebut.

Berkat ilmu agama yang diperoleh dari para gurunya, Nyai Ageng Pinatih mampu menyebarkan Islam kepada warga di tanah Gresik. Dalam menjalankan misi menyebarkan Islam tersebut Nyi Gede Pinatih memandang perlunya peningkatan ekonomi sebagai bekal dan sarana dakwah. Artinya bekal dakwah tidak hanya ilmu agama, tetapi juga perlu kekuatan ekonomi. Untuk itu, berbekal dengan ilmu ekonomi yang diperoleh dari gurunya, Nyi Gede Pinatih membuka usaha perdagangan. Bahkan, juga memanfaatkan tanah Gresik yang memiliki banyak pesisir pantai untuk dijadikan sebagai pusat perdagangan.

Usaha perdagangan yang dirintis Nyai Ageng Pinatih berhasil dan sukses. Dia berhasil memiliki banyak kapal dagang. Kapal-kalap ini digunakan sebagai moda transportasi dagang yang membawa barang dagangan dari Gresik ke wilayah lain, baik di wilayah Majapahit maupun Blambangan serta wilayah lain. Demikian sebaliknya, membawa barang dagangan dari daerah lain untuk dipasarkan di Gresik dan sekitarnya.

Atas keberhasilannya mengembangkan usaha perdagangan, pada 1458, Kerajaan Majapahit mengangkatnya sebagai Syahbandar Pelabuhan Gresik.Menurut Oemar Zainuddin dalam buku Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial Budaya Dan Ekonomi, Nyai Ageng Pinatih adalah perempuan pertama di Nusantara yang menjadi pejabat syahbandar yang tugasnya pada memungut bea cukai dan mengawasi pedagang asing. Tugas sebagai pejabat sahbandar ini dijalankan sampai meninggal tahun 1478 Masehi, tepatnya pada 12/13 Syawal tahun 1478 M dan dimakamkan di Desa kebungson (100 meter utara Alun-alun Gresik). Nyai Ageng Pinatih dikenal sebagai ulama perempuan yang juga menjadi kepala pelabuhan dan pengusaha sukses di era Kerajaan Majapahit.

Menurut catatan sejarah, Nyai Ageng Pinatih adalah sosok yang mengasuh dan menyusui Joko Samudro. Hingga saat ini tempat menyusuinya dikenal dengan kampung Pesuson atau lebih dikenal Kebungson. Di kisahkan, pada sekitar tahun 1443 M saat Nyi Gede Pinatih berusia 30 tahun menemukan bayi yang hanyut di lautan. Bayi itu kemudian dipungut dan dirawat kemudian diberi nama Joko Samudro. Selanjutnya Nyai Ageng Pinatih memberikan pendidikan agama melaui Sunan Ampel di Pondok Ampeldenta Surabaya. Oleh Sunan Ampel, Joko Samudro diberi nama Raden Pak yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.

Hampir belum ada naskah yang menceritakan khusus mengenai sosok Nyi Gede Pinatih ini. Tetapi keberadaanya selalu disebut dalam sejarah Sunan Giri. Hampir semua catatan sejarah Sunan Giri selalu menyebut dan mengkaitkan dengan Nyi Gede Pinatih.  Ini sukup membuktikan pentingnya peran Nyi Ageng Pinatih dalam perjuangan Islam khususnya yang terkait degan sosok Sunan Giri. Peran penting Nyi Ageng Pinatih terhadap perjuangan penyebaran Islam yang dilakukan Sunan Giri disebutkan dalam Babad Gresik, Jilid I versi Radya Pustaka Surakarta: Alih tulisan dan Bahasa oleh Soekarman B.Sc (Gresik: Panitia Hari Jadi Kota Gresik, 1990), Umar Hasyim, Sunan Giri dan Pemerintahan Giri Kedhaton  (Kudus: Menara Kudus, 1978), A.F. Moh. Erfan, Sejarah Kehidupan Sunan Giri (Penghulu Juru kunci Pesarean Sunan Giri).






Imajiner Nuswantoro


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)