Petilasan Prabu Tawang Alun Desa Bayu Kecamatan Songgon Banyuwangi
Hong Wilaheng Sekaring Bahwono Langgeng
Ring Rahina Galungan Tangkil Ring Situs Pertapaan Prabu Tawang Alun Raja Blambangan
Mugio Rahayu
Murah Rejeki Sandang
Pangan lan Papan dengan prinsip yang kuat akan selalu ku jaga Mandat
Tatanan Leluhur ku harga diri serta ajaran-ajaran leluhur lebih mulai dari apa pun Becik Ketitik Olo Ketoro
Rahayu Rahayu Rahayu
Kamulyaning Jagat
Tawang Alun
Oh Sang Prabu
Raja adil jembar dhadhane
Sifat welas
Sifat asih
Gemerujug pangapurane
Petilasan adalah tempat keramat atau yang dikeramatkan karena dulunya pernah menjadi tempat tinggal, tempat singgah, ataupun makam dari orang-orang yang memiliki status tinggi di masyarakat misalnya raja, punggawa kerajaan atau kerabat raja, tokoh agama maharesi atau resi, syeh atau wali, pemimpin ataupun tokoh penting masyarakat, orang-orang sakti yang disegani karena kecerdasan, kesaktian atapun karena keluhuran budi pekertinya.
Tawang Alun memiliki empat orang anak laki laki dari permaisuri Dewi Sumekar putri dari seorang Panglima perangnya yang bernama Arya Balater.
Empat orang anak Tawang Alun dari Dewi Sumekar adalah :
1. Macanapura,
2. Sasranagara,
3. Gajah Binarong dan
4. Yang terakhir bernama Kartanagara atau sering disebut sebagai Ketanagara
Tawang Alun juga memiliki anak dari istrinya yang kedua yaitu
1. Pangeran Wilaludra,
2. Wilatulis,
3. Wilakrama,
4. Wilaatmaja,
5. Wiraguna,
6. Wirayudha dan
7. Wiradha.
Tawang Alun memiliki seorang Guru bernama Wangsakarya yang sangat sakti, di ceritakan dalam babad Tawang Alun bahwa pernah suatu hari ketika Tawang Alun dan rombongan diundang ke keraton Mataram oleh Senopati Raja Mataram, tepatnya dialun alun keraton mataram, Wangsakarya mengadu kesaktian dengan Pangeran Kadilangu yang seorang guru dari Sunan Mataram, dalam adu kesaktian itu, Pangeran Kadilangu menemui ajal ditangan Keris sakti yang bernama Si Gagak milik Wangsakarya.
Dalam insiden di alun alun keraton Mataram itu juga empat orang anak anak Tawang Alun yg ikut dalam rombongan juga menyatakan diri bahwa Ayahanda mereka tidak akan Sudi lagi tunduk terhadap kekuasaan Mataram, dalam bahasa Bali mereka menetapkan diri bahwa Blambangan adalah kerajaan yang berdaulat, pernyataan keras dari anak anak Tawang alun sontak membuat situasi Paseban agung keraton Mataram makin memanas!
Tujung orang panglima Blambangan mengamuk dengan mencabuti pohon pohon kelapa disekitar balai Paseban , semua yang hadir bubar menyelamatkan diri masing masing, Tawang Alun pulang ke Blambangan tanpa pamit ke Raja Mataram !!.
Sejak kejadian yang menghebohkan itu, hubungan antara Mataram dengan Blambangan telah putus.
Pelinggih Kanjeng Ratu Pantai Selatan (Sane Mewastra Hijau) yang berdiri di Pura Tawang Alun Banyuwangi Jawa Timur. Sumbangsih dan Punia Ratu Aji Wedakarna.
Berikut dokumentasinya :
Imajiner Nuswantoro





