KISAH TAWANG ALUN

0

 KISAH TAWANG ALUN 



Imajiner Nuswantoro


Tentang Silsilah 

Putra-putri Menak Seruyu / Prabu Tawang Alun I, raja Blambangan tahun 1633-1646

1. Mas Raja Sanep / Prabu Tawang Alun II. Putra sulung, menjadi raja tahun 1649-1691.

Kemerdekakan Blambangan dari Mataram 

Memindahkan ibukota dari Kedawung (Jember) ke Macan Putih (Banyuwangi. Dikenang sebagai salah satu raja terbesar Blambangan.

2. Mas Willa / Prabu Wilabrata. Adik kembar Tawang Alun II. Menjadi raja tahun 1647-1649 dan 1653-1659. Sempat berkonflik dengan kakak kembarnya terkait tahta, berakhir dengan perang saudara yang membunuh dirinya.

3. Mas Ayu Tunjungsekar. Patih kerajaan pada masa pemerintahan Wilabrata. Tewas dalam perang saudara melawan kakak tertuanya Tawang Alun II.

4. Mas Ayu Melok. Menjadi juru (raja daerah/kerajaan bawahan/bagian) di Kedawung sesuai perang saudara.

5. Mas Ayu Gringsing. Panglima perang yang ikut memimpin pemberontakan melawan Mataram tahun 1646. Seusai perang saudara, ikut menjabat sebagai juru di Kedawung bersama Mas Ayu Melok.


Jejak Penelusuran :

- Wila / Mas Lego (Pangeran Wilabrata) / PANGERAN LANANG DANGIRAN / KI AGENG BRONDONG / SUNAN BOTOPUTIH 

- Saudara kembar PANGERAN LANANG DANGIRAN / KI AGENG BRONDONG / SUNAN BOTOPUTIH adalah Tawang Alun II / Mas Senepo Handoyokusumo.



Tawang Alun memiliki empat orang anak laki laki dari permaisuri Dewi Sumekar putri dari seorang Panglima perangnya yang bernama Arya Balater.

Empat orang anak Tawang Alun dari Dewi Sumekar adalah :

1. Macanapura, 

2. Sasranagara, 

3. Gajah Binarong dan 

4. Yang terakhir bernama Kartanagara atau sering disebut sebagai Ketanagara


Tawang Alun juga memiliki anak dari istrinya yang kedua yaitu 

1. Pangeran Wilaludra, 

2. Wilatulis, 

3. Wilakrama, 

4. Wilaatmaja, 

5. Wiraguna, 

6. Wirayudha dan 

7. Wiradha.


Tawang Alun memiliki seorang Guru bernama Wangsakarya yang sangat sakti, di ceritakan dalam babad Tawang Alun bahwa pernah suatu hari ketika Tawang Alun dan rombongan diundang ke keraton Mataram oleh Senopati Raja Mataram, tepatnya dialun alun keraton mataram, Wangsakarya mengadu kesaktian dengan Pangeran Kadilangu yang seorang guru dari Sunan Mataram, dalam adu kesaktian itu, Pangeran Kadilangu menemui ajal ditangan Keris sakti yang bernama Si Gagak milik Wangsakarya.


Dalam insiden di alun alun keraton Mataram itu juga empat orang  anak anak Tawang Alun yg ikut dalam rombongan juga menyatakan diri bahwa Ayahanda mereka tidak akan Sudi lagi tunduk terhadap kekuasaan Mataram, dalam bahasa Bali mereka menetapkan diri bahwa Blambangan adalah kerajaan yang berdaulat, pernyataan keras dari anak anak Tawang alun sontak membuat situasi Paseban agung keraton Mataram makin memanas!

Tujung orang panglima Blambangan mengamuk dengan mencabuti pohon pohon kelapa disekitar balai Paseban , semua yang hadir bubar menyelamatkan diri masing masing, Tawang Alun pulang ke Blambangan tanpa pamit ke Raja Mataram !!.

Sejak kejadian yang menghebohkan itu, hubungan antara Mataram dengan Blambangan telah putus.


Kerajaan Kedawung 

Kedawung adalah Negeri yang didirikan oleh Tampa Una, memiliki lima orang anak, dari lima orang anak itu dua orang putra bernama Tawang Alun dan Wila, dan tiga orang putri bernama Tunjungsari, Melok, Gringsing. Setelah Tampa Una Meninggal, kedudukannya digantikan oleh Tawang Alun sebagai Pangeran Kedawung. Sedangkan Mas Wila diangkat sebagai Patihnya.

Setelah memerintah selama empat tahun, Tawang Alun mendengar isu yg kurang mengenakkan, isu yang berkembang dikalangan keraton bahwa sang adik Mas Wila menginginkan  tahtanya. Maka kemudian isu itu ditanggapi oleh Tawang Alun dengan menyerahkan tahta kerajaan Kedawung ke adik kandungnya dan Tawang Alun sendiri memutuskan untuk pergi dari istana bersama 40 orang pengikut setianya,  tentu setelah mendapat izin dari Wila adiknya yang sudah diangkat menjadi raja baru di Kedawung.


Tawang Alun dan rombongan mengembara dan mendirikan pemukiman baru di hutan Bayu, lereng Gunung Raung, pemukiman yang kemudian menjadi makmur dan penduduknya makin bertambah pesat sekitar 2000 orang lebih, belom terhitung anak anak. Tawang Alun sudah mendiami Bayu selama enam tahun, Mas Wila yang cemburu, marah karena semakin hari bertambah banyak jumlah penduduk Kedawung yg pindah ke Bayu. Mas Wila kemudian dengan mengutus 4000 pasukan dibawah sang Patih (adik perempuannya) menyerang Bayu, namun sial, dalam pertempuran itu Kedawung kalah, Tunjungsari sebagai Patih tewas bersama putra Mas Wila yg bernama Wilatruna. Kemudian disusul oleh sang Raja sendiri ikut tewas.

Dua tahun berselang, Kedawung mengangkat Dua saudari Tawang Alun bernama Melok sebagai Ratu dan Gringsing sebagai Patihnya, sementara Tawang Alun masih bertahan di Bayu.


Pada suatu hari Tawang Alun menyepi di Kaki Gung Raung hendak bersemadi, sesudah tujuh malam terdengar suara ghaib yang memberitahukan bahwa seekor Harimau / Macan putih akan membawanya ke hutan Sudimara tempat kerajaannya yang baru.

Tujuh hari Tawang Alun berjalan sebelum akhirnya bertemu dengan Harimau putih yang di dengarnya saat bersemadi, Diatas punggung Harimau putih Tawang Alun mencapai hutan Sudimara, di bantu penduduk sekitar Tawang Alun mendirikan istana kerajaan baru dan diberi nama istana Macan Putih !


Tawang Alun memiliki empat orang anak laki laki dari permaisuri Dewi Sumekar putri dari seorang Panglima perangnya yang bernama Arya Balater.

Empat orang anak Tawang Alun dari Dewi Sumekar adalah Macanapura, Sasranagara, Gajah Binarong dan yang terakhir bernama Kartanagara atau sering disebut sebagai Ketanagara


Tawang Alun juga memiliki anak dari istrinya yang kedua yaitu Pangeran Wilaludra, Wilatulis, Wilakrama, Wilaatmaja, Wiraguna, Wirayudha dan Wiradha.


Tawang Alun memiliki seorang Guru bernama Wangsakarya yang sangat sakti, di ceritakan dalam babad Tawang Alun bahwa pernah suatu hari ketika Tawang Alun dan rombongan diundang ke keraton Mataram oleh Senopati Raja Mataram, tepatnya dialun alun keraton mataram, Wangsakarya mengadu kesaktian dengan Pangeran Kadilangu yang seorang guru dari Sunan Mataram, dalam adu kesaktian itu, Pangeran Kadilangu menemui ajal ditangan Keris sakti yang bernama Si Gagak milik Wangsakarya.

Dalam insiden di alun alun keraton Mataram itu juga empat orang  anak anak Tawang Alun yg ikut dalam rombongan juga menyatakan diri bahwa Ayahanda mereka tidak akan Sudi lagi tunduk terhadap kekuasaan Mataram, dalam bahasa Bali mereka menetapkan diri bahwa Blambangan adalah kerajaan yang berdaulat, pernyataan keras dari anak anak Tawang alun sontak membuat situasi Paseban agung keraton Mataram makin memanas!

Tujung orang panglima Blambangan mengamuk dengan mencabuti pohon pohon kelapa disekitar balai Paseban , semua yang hadir bubar menyelamatkan diri masing masing, Tawang Alun pulang ke Blambangan tanpa pamit ke Raja Mataram !!.

Sejak kejadian yang menghebohkan itu, hubungan antara Mataram dengan Blambangan telah putus.

Prabhu Tawang Alun wafat dalam usia yang sangat sepuh tahun 1691, selama menjadi raja Blambangan di istana Macan Putih, Negeri Blambangan mencapai puncak kejayaannya, hubungan bilateral dengan negeri lain juga terjalin baik, penduduk Blambangan hidup makmur, Sumber lain mengatakan bahwa wilayah Blambangan terbentang dari Lumajang hingga Bali.

Namun sayang seribu sayang, pasca wafatnya Tawang Alun, Blambangan dilanda perang saudara , perebutan tahta Blambangan antar keturunan Tawang Alun tidak terelakkan, hal ini dimanfaatkan oleh pihak pihak lain untuk bisa menguasai Blambangan. 




MANGKATNYA TAWANG ALUN

Pada tanggal 18 September  1691 terjadi tsunami duka yang menggulung hati 400 perempuan cantik di negeri Blambangan. 

Pasalnya, Prabu Tawang Alun mangkat meninggalkan negeri yang “gemah ripah loh jinawi”. Tak hanya meninggalkan negeri subur yang dipimpinnya, ia juga meninggalkan 400 orang isteri yang sangat mencintainya.

Sudah hampir sebulan Prabu Tawang Alun mangkat, tetapi langit dan bumi Blambangan beserta isinya masih menggemakan kerinduan pada sosoknya.

Pada tanggal 13 oktober 1691, atau tepatnya 25 hari pasca kematian Sang Raja, sebanyak 270 wanita cantik bersiap diri di sebuah upacara pelepasan jenazah Prabu Tawang Alun. Ribuan pasang mata rakyat Blambangan menyaksikan upacara ngaben tersebut  dengan tatapan mata hening. 

270 wanita janda raja itu sedang terlihat berdandan tanpa rasa sedih dan saling tersenyum. Mereka tampak lebih cantik dan teramat bahagia ditengah upacara yang sangat merah meriah dan sakral.

Di tempat terbuka nan luas, dengan tumpukan kayu pilihan yang tertata apik, ke-270 perempuan cantik tersebut berbaring dengan tenang dan tanpa rasa sedih ber iring iringan dengan jenazah Sang Prabu. Sekejap kemudian bara api pun berkobar-kobar melahap tubuh mereka.

Ke 270 wanita isteri raja tawang alun  itu mangkat dengan mengorbankan nyawanya atas nama cinta, pengorbanan, dan kesetiaan pada suami. 

Kematian 270 janda cantik Prabu Tawang Alun  didalam tradisi kebudayaan jawa kuno di sebut “Pati Obong”  tetapi dalam kaca mata pandang modern menyebut sebagai “Bunuh Diri Masal”.

Sumber babat mengatakan bahwa Abu Jenazah Prabhu Tawang Alun di Larung di pantai Pulo Merah Banyuwangi.

Jurnal Belanda menulis prosesi mesatya yang terjadi di Blambangan merupakan sesuatu yang sangat mengerikan.

Paska kematian Prabhu Tawang Alun, Blambangan dilanda perebutan kekuasaan, Pangeran Pati Sasranagara yang merasa lebih tua mengangkat dirinya menjadi raja tanpa berunding dengan siapapun, saudara saudaranya, sanak keluarga dan kaum bangsawan Blambangan bersepakat untuk mengepung istana Macan putih dan membunuhnya .

Pangeran Pati Sasranagara sudah tujuh tahun naik tahta, dari permaisuri ya yang asal Pasuruan yaitu Mas Ayu Gadhing beliau mempunyai 2 anak, Dewi Surabaya dan Mas Purba yang baru berumur 3 tahun , 

Rencana pengepungan diketahui oleh Sasranagara, Ia kemudian keluar istana dan menghunus kerisnya Si Sanggabuwana dan sesumbar akan membunuh siapa saja yang melawannya, pertempuran sengit terjadi, permaisuri Mas Ayu Gadhing dan putranya Purba berhasil lolos dari maut dengan menyelinap lewat saluran bawah tanah, mereka keluar istana ditemani oleh Mbok Cina inang pengasuh Purba, sedangkan anak Sasranagara yg lain sudah lama ikut sang Paman Macanapura, diantara para penyerang itu terdapat sang Guru Wangsakarya ( Buyut Cungking ) yang mengetahui titik kelemahan Sasranagara, Sang Raja hanya bisa mati dengan senjata mustika Baru Klitihk, senjata mustika berupa tulup yang akan membunuh Raja dan mematahkan ilmu kebalnya. Dengan berbekal tulup Baru Klitik, Ngabehi Sutanangga berhasil membunuh Sang Raja. Perang selama tujuh hari tujuh malam itupun berakhir.

Setelah Pangeran Pati Sasranagara terbunuh, maka diangkat lah Pangeran Macanapura menjadi Raja Blambangan yang baru.



KERAJAAN BLAMBANGAN DI KUASAI VOC

Setelah Tawang Alun meninggal, Blambangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Buleleng di Bali. Setelah itu, VOC Belanda berusaha menguasai Blambangan. Perang pun meletus pada 25 Maret 1767 dan pusat Blambangan dapat dikuasai VOC. Namun, perjuangan rakyat Blambangan tak pernah padam. Pangeran Agung Wilis atau Wong Agung Wilis, yang baru dilantik menjadi raja Blambangan, langsung angkat senjata melawan VOC. Sayang, Pangeran Agung Wilis dapat ditangkap VOC dan diasingkan ke Selong, dekat Pasuruan.




PUTRI BLAMBANGAN 

Telah dituliskan Dalam Babad Tawang Alun bahawa saat Sri Susuhunan Prabu Tawang Alun II mangkat, istrinya yang berjumlah 400 ikut dalam pengorbanan SATI kedalam api pengabenan. Hal ini juga dicatat dalam sebuah catatan Belanda. Tidak hanya bangsawan istri-istri Sinuhun Prabu Tawang Alun terkenal cantik dan anggun membuat setiap mata yang melihat terkagum dan terpesona.


Menurut Dr. F. Epp (1849) : Orang Balambangan memiliki perawakan yang tidak terlalu hitam warna kulitnya dan jarang mengalami cacat penyakit. Satu lagi, yang paling penting, bahwa diantara 100 orang wanita Balambangan misalnya, lebih banyak ditemukan yang cantik daripada yang jelek.

Tak heran jika dalam banyak literatur, wanita Balambangan memang terkenal cantik sehingga banyak tokoh2 terkenal dalam Sejarah, juga beristri orang Blambangan. Diantaranya :


1. Sahadewa/Sadewa/Sudamala menikahi seorang cucu dari Pandita Citragotra di Prangalas. Inilah asal usul kisah Sritanjung.

2. Syaikh Maulana Ishaq juga ber-istrikan puteri Balambangan namanya Dewi Sekardadu yang merupakan putri raja Blambangan saat itu Prabu Menak Sembuyu (1433-1461)

3. Dalem Waturenggong (raja terbesar Gelgel-Bali), pernah melamar salah satu puteri Balambangan yang bernama Ni Bas, namun lamaran itu ditolak.

4. Danghyang Nirartha, guru suci agama hindu itu juga beristrikan wanita Balambangan bernama Ni Sripatni Saraswati.

5. Rshi Dwijaya (putera Dang Hyang Nirarta) beristrikan puteri dari raja Blambangan ke-IV Menak Pangseng ( 1531- 1546 ) yang bernama dewi Kemuning.

6. Sunan Gunung Jati juga beristri puteri dari Balambangan bernama Nyimas Tepasari.

7. Sultan Agung Mataram juga beristri (selir) dari Balambangan bernama Mas Ayu Gandha literasi Blambangan) atau Mas Ayu Kilara (literasi Mataram)

8. Trunojoyo atau Panembahan Maduretna yang merupakan salah satu dari tiga orang penghancur Mataram dan berhasil menggulingkan kekuasaan Sultan Amangkurat I dan II. Beliau beristrikan puteri Blambangan bernama Mas Ayu Meloka ( 1655-1657 ).

9. Untung Suropati, raja Pasuruan itu juga beristerikan puteri Balambangan bernama Mas Ayu Sekar

10. Raja Madura/Bangkalan terkenal, Cakraningrat V, juga menikahi wanita Balambangan.

11. Karaeng Galesong putra I Mallombassi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin pejuang Bugis juga ber-istri putri Blambangan bernama Dewi Maduratna

12. Raden Prabujaka putera Susuhunan Pakubuwana IV beristrikan wanita Blambangan bernama Mas Ayu Ratu

13. Dan lain-lain, para pangeran Majapahit, Kediri, Lumajang, Mengwi, Surabaya, dll juga cari istri di Balambangan.


Mengapa wanita Balambangan sangat menarik ?

Mungkin Selain cantik alasan yang sama dengan Mataram bisa dipertimbangkan, yaitu kisah saat wanita Balambangan banyak yang menjadi inang menyusui anak-anak bangsawan Mataram karena memiliki air susu berwarna Wulung (putih kebiruan). Ini tidak ada di sembarang wanita.

Wanita-wanita Blambangan juga terkenal gigih dalam mempertahankan harga dirinya, perlawanan yang terkenal mengenai kegigihan wanita-wanita Blambangan adalah ketika terjadinya perang Bayu II pada tahun 1772 dipimpin oleh Sayu Wiwit dan laskar Srikandi Blambangan diantaranya Sayu Praba, Sayu Hamrik, Sayu Murti, dan Sayu Kampia.

Gen keberanian ini juga terdapat didalam wanita-wanita Bali dalam setiap perang Puputan di Bali yang selalu mengurai rambutnya sambil memegang keris.




Sumber Referensi :

- Babat Tawang Alun

Sri Margana: Java Las Frontier: The Struggle for Hegomony of Blambangan

- Babad Tawang Alun




Imajiner Nuswantoro


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)