Perang Puputan Bayu Sebanyak Korban 60 Ribu Rakyat Blambangan

0

 Perang Puputan Bayu Sebanyak Korban 60 Ribu Rakyat Blambangan




Imajiner Nuswantoro


Asal Mula

Perang Bayu (1771-1773) adalah perang yang diakibatkan oleh penyerahan sepihak Java’s Oosthoek (daerah Pasuruan hingga Blambangan) kepada kongsi dagang VOC yang dilakukan oleh Sunan Pakubuwono II melalui Perjanjian Ponorogo pada tahun 1743. Perang Bayu tidak bisa dilepaskan dari Perang Puputan Kabakaba dan Perang Wilis sebelumnya.



Imajiner Nuswantoro
Foto : Pakubuwono II



Imajiner Nuswantoro
Foto : Pakubuwono II


Bermula dari keputusan Sunan Pakubuwono II yang dikenal memiliki hubungan yang akrab dengan kongsi dagang VOC secara sukarela menyerahkan daerah sebelah timur Pasuruan kepada VOC.

Pada awalnya, VOC tidak ingin ikut campur dalam perselisihan antara Blambangan dan Mataram. Namun kemudian VOC melirik kongsi dagang Inggris yang sejak tahun 1766 telah bekerja sama dengan Blambangan dan Mengwi. Ulupampang (sekarang Benculuk – Cluring) dibawah kongsi dagang Inggris kemudian bertumbuh menjadi lokasi perdagangan yang maju.


Imajiner Nuswantoro
Foto : Bendera VOC



Imajiner Nuswantoro
Foto : Kapal VOC


Pada tanggal 12 Agustus 1766, Johanes Voss, selaku Gubernur VOC di Semarang, mengeluarkan surat perintah perihal pengadaan patroli di Selat Bali dan sekitarnya. Hal tersebut adalah langkah VOC untuk menanggapi agresifnya perdangangan Inggris di Blambangan, dan kacaunya keamanan jalur utama perdagangan VOC di tepi laut Jawa. Pemerintah Belanda di Batavia juga memutuskan untuk menangkapi kapal-kapal Inggris dan elemen-elemen lain yang tidak disukai , serta mengambil tindakan-tindakan pengamanan kepada batas-batas wilayah yang dianggap miliknya.

Keadaan tambah parah ketika penetrasi VOC semakin berat, misalnya setiap bekel (lurah) harus menyerahkan dua ekor kerbau. Selain itu VOC menuntut 3,5 gulden kepada setiap kepala keluarga, dan harus diserahkan setiap tahun. Sesuatu yang sangat berat di tengah sedikitnya waktu untuk pergi ke sawah dan ladang karena kewajiban kerja paksa tanpa upah dan makan.

Penetrasi VOC yang sedemikian keras mengakibatkan rakyat memilih untuk menyingkir ke hutan. Tempat yang paling banyak menampung pengungsian itu adalah dusun Bayu. Sebuah tempat yang subur di lereng Gunung Raung sebelah barat Songgon dan Derwana. Di Bayu berkumpul para penentang Belanda di bawah pimpinan Mas Rempeg yang didukung oleh guru-gurunya.



Persiapan

Kepergiannya Mas Rempeg ke Bayu diperkirakan setelah tanggal 18 Mei 1768. Mas Rempek datang ke Bayu bersama seorang lurah dari Kuta Lateng. Ketika menyadari bahwa kekuatan senjata yang dimiliki masih terbatas, hanya mempunyai senjata yang sedikit, yakni tombak, lembing, keris serta pedang, sedangkan senapan dan meriam yang dibanggakan waktu itu telah jatuh ke tangan VOC waktu perang Ulupampang, Banyualit dan Lateng, sedang orang Tionghoa dan Bugis yang dulunya bersedia memberikan senjata juga sudah ditangkap pada waktu Ulupampang jatuh.

Dukungan untuk Mas Rempeg juga datang dari para bekel dari 62 desa; 25 desa di bagian barat, 14 desa di wilayah selatan, 9 desa di wilayah timur dan 2 desa di sebelah utara. Kemudian masih datang lagi 12 bekel dari desa lainnya.

Dengan dukungan tersebut Bayu berkembang menjadi suatu kekuatan yang tangguh dan kuat.

Kurang lebih 2000 orang berada di dalam naungan Benteng Bayu yang sangat kuat, di depan terdapat pagar yang terbuat dari batang-batang pohon besar yang bagian atasnya dibuat runcing dan batang-batang pohonnya berjajar sangat rapat satu sama lain yang disebut palisada. Di belakang pagar terdapat lubang-lubang perlindungan di dalam tanah. Di dalam benteng, cadangan pangan sangat melimpah serta dilengkapi dengan gamelan beserta pemainnya sebagai lambang kekuasaan dan kekuatan. Perlengkapan perang sudah lengkap untuk memulai peperangan. Atas pengaruhnya yang kuat ia oleh pengikutnya dianugerahi gelar Pangeran Jagapati.

Pengikut Pangeran Jagapati dengan demikian berasal dari seluruh wilayah Blambangan baik di ibu kota (nagari) Lateng maupun di luar ibu kota (jawikuta). Dukungan yang sangat besar dari luar terutama dari Blambangan sendiri membuat kedudukan Pangeran Jagapati sangat kuat, sehingga mampu menguasai sember daya yang lain. Pangeran Jagapati dapat menguasai daerah penghasil beras di seluruh Blambangan.

Dengan dukungan ekonomi yang kuat maka dengan mudah akan membangun kekuatan militer dan cadangan logistik perang. Maka berkobarnya peperangan tinggal menunggu waktu saja.



Imajiner Nuswantoro


Perang Bayu 1

Pada tanggal 2 Agustus 1771, dua utusan VOC berangkat bersama serombongan pasukan dari Ulupampang menuju Bayu. Kepergian mereka bermaksud memisahkan penduduk Blambangan dari pengaruh Mas Rempeg. Setibanya di Bayu orang-orang Blambangan pengikut kedua pemimpin itu justeru membelot dan memihak kepada Pangeran Jagapati. Kedua pemimpin ditinggal pengikutnya dan hanya ditemani beberapa orang yang berasal dari Surabaya. Lalu terjadi pertikaian kecil yang mengakibatkan kalahnya utusan VOC. Sementara rakyat Blambangan terus bergerak ke Bayu sambil membawa harta benda yang mereka miliki.


Peristiwa tersebut diceritakan dalam terjemahan Babad Bayu pupuh II 5-20 sebagai berikut :

“Ketika pasukan Kertawijaya dan Jaksanagara tiba di Bayu, Pangeran Jagapati bersama 30 orang pengikutnya menempatkan diri di sebelah menyebelah bagian jalan yang sempit. Jayaleksana memberikan aba-aba menembak, tapi ia dan pasukannya segera terkurung. Meskipun begitu, ia masih juga menuntut supaya Pangeran Jagapati takluk. Kalau mau takluk, orang Bayu akan diampuni dan selamat, mereka tak usah bekerja untuk Kompeni dan akan menerima hadiah sarung pedang dari baja dua warna, dan akan disambut dengan segala penghormatan apabila datang berseba. Tiba-tiba pasukan Jayalaksana kabur masuk hutan, maka para punggawa sendirilah yang harus mengangkut pulang jenazah patih. Gegerlah seluruh kota.”



Babad Bayu pupuh II 5-20

Tanggal 5 Agustus 1771, VOC mengirim pasukan bersenjata menuju ke benteng Bayu. Di luar dugaan VOC pada waktu terjadi pertempuran awal, terdapat sebagian prajurit VOC dari pribumi membelot memihak kepada Pangeran Jagapati. Biesheuvel,Residen Blambangan, beserta pasukan VOC bergerak menyerang Benteng Bayu. Namun, mereka dikalahkan Pangeran Jagapati karena pertahanan benteng Bayu yang ternyata sangat kuat.

Pada waktu yang bersamaan, Schophoff, Wakil Residen Bischeuvel masuk ke berbagai desa di Blambangan, bermaksud mempengaruhi penduduk untuk tidak memihak Pangeran Jagapati. Pada hari yang sama pasukan VOC menyerang Gambiran, sebuah dusun penghasil beras yang sangat subur yang menjadi salah satu penyangga logistik beras benteng Bayu. Tujuannya agar Pangeran Jagapati yang berkedudukan di Bayu kekurangan bahan makanan.

Namun, ketika ia beserta pasukannya berada di Desa Gambiran, mereka diserang oleh sekitar 200 pasukan Blambangan sambil meneriakkan kata-kata: “Amok! Amok!” yang artinya mengamuk atau marah. Pasukan VOC kemudian menuju Tomogoro yang terletak sekitar 6 km di sebelah tenggara Bayu merupakan penghasil beras yang paling dekat dengan Bayu dan Tomogoro merupakan tempat yang sangat penting bagi Pangeran Jagapati. Selain itu Tomogoro juga menjadi tempat menimbun semua persediaan yang diperlukan sebelum diangkut ke Bayu.

Namun semua usaha dari VOC tersebut gagal, sehingga VOC terpaksa meminta bantuan pasukan yang lumayan besar. Ketika bala bantuan datang untuk VOC, bersamaan dengan itu Pangeran Jagapati mendapatkan bantuan 300 orang dari Bali lengkap dengan senjata dan bahan makanan, dan berhasil mengepung benteng VOC di Kuta Lateng.

Jalan-jalan ke Panarukan oleh para pejuang Bayu dijaga dengan ketat dan diberi penghalang-penghalang dari kayu gelondongan, jembatan-jembatan dirusak untuk mempersulit transportasi pasukan dan perbekalan VOC.

Penyerbuan Pangeran Jagapati ke Lateng ini mampu menangkap dan menawan banyak serdadu VOC dan merebut sepeti mesiu dan 1200 peluru serta senjata.

Karena kekalahan yang ditimbulkan oleh Pangeran Jagapati dan para pejuang Bayu itu maka memaksa Gubernur Van der Burgh mengirim surat ke Pieter Luzac (gezaghebber Ujung Timur), agar penduduk Senthong (dekat Bondowoso) dicegah berhubungan dengan penduduk Blambangan dan Lumajang. Juga agar dilakukan penelitian sebab-sebab kekalahan serdadu VOC.

Pasukan VOC berhasil mengalahkan para pejuang Blambangan di Kuta Lateng. Sedangkan kapten Reygers berhasil menghancurkan gudang persediaan makan di Banjar (Kecamatan Glagah), menguasai Grajagan di Pantai Selatan dan membakar sekitar 300 koyan beras (1 koyan sekitar 185 kg) atau 55,5 ton. Pada waktu yang bersamaan VOC mengeluarkan surat-surat pengampunan bagi penduduk yang mau meninggalkan Bayu.

Kapten Reygers setelah berhasil mendesak para pejuang Blambangan di Kuta Lateng, pada tanggal 13 Desember 1771 beserta pasukannya berangkat menyerang benteng Bayu. Pengalaman pahit VOC menyerang Bayu dari arah selatan, memaksa VOC menyerang Bayu dari arah utara.

Keesokan harinya 14 Desember 1771 Reygers memerintahkan penyerangan dengan kekuatan 2000 laskar Madura di bawah pimpinan Alapalap, sebagai laskar terdepan. Di belakangnya dilapisi oleh serdadu Eropa yang dilengkapi dengan meriam yang dipimpin oleh Sersan Mayor van Schaar.

Pada tanggal 20 Desember 1771 pasukan VOC turun kembali ke Kuta Lateng. Orang Eropa yang masih tersisa juga ikut turun, diantaranya Sersan Mayor Ostrousky yang terluka berat. Sebagian terbesar dari mereka sudah tidak bersenjata lagi. Mereka dalam keadaan sangat lelah, letih. Mereka berjalan berkelompok-kelompok kembali ke Kuta Lateng. Mereka menumpahkan kesalahan atas kekalahannya pada diri Sersan Mayor van Schaar yang bersikap pengecut.

Setelah penyerangan ke Bayu mengalami kekalahan pada 20 Desember 1771, maka banyak anggota pasukan pribumi yang melarikan diri.



Perang Bayu 2

Pada 1 Oktober 1772, setelah hampir satu tahun gagal menyerang Bayu, VOC mengadakan penyerangan lagi ke Bayu. Songgon yang tidak diduduki sisa pengikut Pangeran Jagapati kembali dijadikan benteng pertahanan untuk menyerang Bayu.

Pada 11 Oktober 1772 pagi hari, VOC mengerahkan semua kekuatannya menggempur Bayu dengan tembakan-tembakan meriam.

Sekitar bulan Desember 1772 pejuang Bayu mengalami kekurangan perbekalan karena bahan makanan yang ada ternyata tak mampu mencukupi kebutuhan semua laskar yang ditarik dan dipusatkan ke Bayu. Bayu sudah sulit dipertahankan lagi. Namun mereka masih mengadakan perlawanan sekuatnya.

Pasukan Kapten Heinrich mendapat rampasan beberapa jenis senjata berupa 1 meriam dan 3 mortir ukuran 4 dim milik pejuang Bayu. Para prajurit pribumi VOC mendapat rampasan 100 pucuk senjata berlaras panjang dan 200 kuda serta masih banyak lainnya dari dalam benteng Bayu.



Setelah Perang

Pemimpin Blambangan banyak yang menyingkir ke Nusa Barung (pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa, masuk daerah Puger – Jember). Schophoff menyuruh mengirimkan 264 orang Blambangan ke Surabaya baik pria, wanita dan anak-anak. Sampai tanggal 7 November 1772 sudah 2.505 orang pria dan wanita yang tertangkap.

Akibat perang, VOC banyak kehilangan sejumlah pejabat dan perwira militernya. Mereka itu adalah Residen Cornelis van Biesheuvel, Sersan Mayor van Schaar, Letnan Kornet Tinne, Vandrig Ostrousley, Kapten Reygers, dan ratusan pasukan Eropa. Sebanyak 10 ribu pasukan yang didatangkan oleh VOC dari berbagai daerah untuk menggempur Blambangan banyak yang tewas. VOC juga mengeluarkan kebijakan untuk menarik simpati agar orang-orang yang kembali ke Blambangan diberikan hadiah 2,5 rijksdalder (sekitar 6 gulden).

VOC juga membebaskan penarikan pajak selama 15 tahun. Baru pada tahun 1786, VOC bisa menerima 9600 pikul beras, persewaan tempat-tempat sarang burung walet, ikan, teripang, serta kulit mutiara.



Kisah Banyuwangi 

Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger (putra Wong Agung Wilis) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.



Imajiner Nuswantoro



Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda (Lekkerkerker, 1923).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan kejayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan (Ibid.1923 :1045).

Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur (termasuk Blambangan) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi (yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 (5 tahun) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi (puncaknya) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.



Imajiner Nuswantoro



Perang Puputan Bayu Sebanyak Korban 65 Ribu Rakyat Blambangan

Perang Puputan Bayu merupakan aksi perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajahan Belanda pada 1771. Perang ini menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Banyuwangi.

Sebanyak 60 ribu rakyat Blambangan gugur dalam perang ini. Bahkan, akibat perang ini, dari 65 ribu total penduduk Blambangan kala itu, tinggal menyisakan 5 ribu jiwa saja.

"Wong Agung Wilis dan pengikutnya akhirnya tertangkap dan diasingkan ke Banda, Kepulauan Maluku, pada 1768. Sementara Pangeran Jagapati berhasil menyelamatkan diri dan menempati daerah bernama Bayu di lereng Gunung Raung,"

Penyebab terjadinya Puputan Bayu ini lantaran warga Blambangan geram dan tak tahan dengan aturan penjajah Belanda yang mencekik kehidupan mereka. Belanda mempekerjakan paksa warga dan tidak menyediakan makanan bagi mereka. Kesengsaraan, kelaparan, serta serba hidup kekurangan yang kemudian memicu penyakit dan berakhir pada kematian yang sangat tinggi.

Akibat dari itu warga Blambangan melawan. Di bawah kepemimpinan anak dari Raja Blambangan Danureja, yakni Wong Agung Wilis. Mereka menyerang VOC, namun tertangkap dan kemudian diasingkan ke Banda, Kepulauan Maluku, pada 1768,"



Imajiner Nuswantoro
Pangeran Jayapati 


Sepeninggal Wilis, kesewenang-wenangan VOC terhadap rakyat Blambangan semakin menjadi-jadi. Kondisi ini membuat banyak warga pergi dari kampungnya untuk menyelamatkan diri. Yang menjadi tempat tujuan adalah suatu daerah bernama Bayu (sekarang termasuk wilayah Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi) yang terletak di lereng Gunung Raung. Pangeran Jagapati juga datang ke tempat ini bersama para pengikutnya yang masih tersisa.

Mendengar Pangeran Jagapati berada di Bayu, semakin banyak rakyat Blambangan yang berdatangan ke tempat itu. Mereka yakin, Pangeran Jagapati mampu melanjutkan perjuangan Wong Agung Wilis untuk menghentikan kekejian Belanda.

Yang paling menyeramkan bagi Belanda adalah sebelum perang Puputan Bayu. Masyarakat Blambangan itu keji. Mereka tak segan memenggal kepala tentara Belanda yang tertangkap kemudian diarak keliling kampung. Kepala itu kemudian diletakkan di pinggir jalan menuju Desa Bayu. Hal ini lah yang membuat mereka kemudian menyerang warga yang bersembunyi di Bayu.

Di bawah komando Pangeran Jagapati, rakyat Blambangan sepakat untuk melakukan perang puputan atau pertempuran habis-habisan. Mereka memilih gugur di medan laga ketimbang harus menyerah kepada VOC.



Pangeran Jagapati (lahir dengan nama Mas Rempeg, ada juga yang menyebut Rempeg Jagapati; lahir di Pakis (sekarang desa Pakis di Kecamatan Songgon), Blambangan, 1740-an hingga 1750-an - Meninggal di Bayu, Blambangan, 19 Desember 1771) adalah pemimpin perlawanan rakyat Blambangan dalam Perang Bayu.


Pada 18 Desember 1771, ribuan prajurit Blambangan bergerak menuju arena pertempuran. Ini merupakan puncak dari peperangan yang sudah berlangsung sejak awal Agustus 1771.

Dan terjadilah Puputan Bayu, perang besar-besaran di tanah Banyuwangi. Serangan pejuang Bayu yang mendadak, membuat pasukan VOC terdesak. Saat itulah pasukan VOC banyak yang terjebak dalam jebakan yang dinamakan sungga (parit yang di dalamnya dipenuhi sunggrak) yang telah dibuat oleh pejuang Bayu. Pasukan VOC yang terjebak dan dihujam dari atas.

Belanda menyatakan serangan ini sebagai de dramatische vernietiging van Compagniesleger (kehancuran dramatis pasukan kompeni). Sersan Mayor van Schaar, komandan pasukan VOC, Letnan Kornet Tinne dan ratusan serdadu Eropa lainnya tewas dalam perang itu. Hanya beberapa serdadu yang tersisa. Sementara, warga Blambangan harus kehilangan pemimpinnya. Pangeran Jagapati gugur satu hari kemudian, 19 Desember 1771, karena terluka akibat perang,"

"Akibat perang ini sekitar 60.000 rakyat Blambangan (Banyuwangi) gugur, hilang, ataupun menyingkir ke hutan untuk menyelamatkan diri dari VOC. Angka tersebut dianggap sangat besar karena jumlah penduduk Blambangan waktu itu 65.000 orang,"



Imajiner Nuswantoro 


Imajiner Nuswantoro




Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)