BRAy Adipati Sedah Mirah Putri Blambangan
Putri Sedah Merah adalah tokoh dalam dongeng atau roman sejarah rakyat Blambangan yang dikisahkan memiliki hubungan asmara dengan Mas Jolang (putra Mahkota Kesultanan Mataram).
Sedah Mirah mempunyai arti dan makna dari bahasa Jawa yang berarti sirih, maknanya adalah obat atau pengobatan. Mirah artinya murah dan mudah. Sedah Mirah adalah kemudahan mendapatkan obat atau kesembuhan dan tidak perlu mengeluarkan biaya besar. Yang pasti, BRAy Adipati Sedah Mirah adalah seorang yang serba bisa, termasuk kecakapannya dalam ilmu pengobatan tradisional Jawa. Begitulah beliau menjelaskan bagaimana kehidupannya di zaman dulu pada saat masih hidup dengan raga. Sekarang beliau telah hidup tanpa raga dan mencapai tataran kamulyan sejati karena amal perbuatannya sewaktu hidup, beliau mengabdikan hidupnya agar berguna untuk banyak orang.
Sedah Mirah memiliki arti perempuan yang menawan, dermawan, dan sholehah. Nama ini mengandung harapan agar sang anak tumbuh menjadi sosok yang anggun dan berharga bagi sekitarnya.
Cerita ini menggabungkan fakta historis dan rekaan, sering dikaitkan dengan peristiwa di bumi Mataram.
Raden Mas Jolang (Panembahan Hanyakrawati), raja kedua Mataram Islam (1601-1613), adalah putra Panembahan Senopati dari permaisuri Ratu Mas Waskitajawi asal Pati. Ia adalah putra kesepuluh Senopati, namun putra keempat dari permaisuri. Mas Jolang wafat tahun 1613 dan digantikan putranya, Sultan Agung.
- Kisah Rakyat: Cerita ini sering dianggap sebagai "Roman Sejarah" yang merupakan bagian dari kebudayaan rakyat Banyuwangi.
- Hubungan Mataram: Kisah Putri Sedah Merah menjadi bagian dari narasi perhubungan antara wilayah Blambangan (Banyuwangi) dengan Kesultanan Mataram.
Susuhunan Anyakrawati atau Sunan Nyakrawati memiliki nama asli Raden Mas Jolang, dia adalah putra dari Panembahan Senapati yang lahir dari permaisuri bernama Waskita Jawi yang bergelar sebagai Kanjeng Ratu Mas (putri dari Ki Panjawi).
Raden Mas Jolang tumbuh sangat dekat dengan ayahnya, Panembahan Senapati. Ia memiliki watak yang sama seperti ayahnya yang gemar mengembara dan ahli dalam memanah, dia juga memiliki kebiasaan berburu. Sebagai seorang raja, dia memiliki selera tinggi terutama dalam menata lingkungan karaton, yang belum begitu sempurna sepeninggalan Panembahan Senapati.
Masa pemerintahnya relatif pendek. Dia memerintah selama dua belas tahun. Pada 1601-1613. Anyakrawati wafat pada tahun 1613 karena kecelakaan sewaktu berburu rusa di hutan Krapyak. Dari peristiwa itu ia dikenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak (Panembahan yang Meninggal di Krapyak).
Sebelum peristiwa tragis yang mengakibatkan mangkatnya Anyakrawati, ia pernah berwasiat kepada Patih Mandaraka untuk mengusulkan Raden Mas Jatmika, dalam melanjutkan tapuk kepemimpinan negara.
Wasiat yang pernah disampaikan Anyakrawati itu rupanya menimbulkan persoalan serius. Sebab, dia pernah berjanji mengangkat Raden Mas Wuryah sebagai calon raja. Raden Mas Wuryah anak dari permaisuri pertama. Ibunya bergelar Ratu Tulungayu, dari Ponorogo.
Sedangkan Raden Mas Jatmika lahir dari Ratu Mas Adi yang bernama Dyah Banawati, putri Pangeran Benawa dari Pajang. Saat itu status ibunya belum menjadi permaisuri. Anyakrawati masih menjadi pangeran. Sebaliknya, Raden Mas Wuryah lahir ketika Anyakrawati sudah bertakhta. Usia keduanya terpaut jauh. Saat Anyakrawati wafat, Wuryah baru berumur 8 tahun dan Jatmika telah berumur 20 tahun.
Makam B.Ray. Sedah Mirah
Makam B.Ray. Sedah Mirah dan sumur Madusoka adalah dua situs yang berada di kompleks di dalam tembok Benteng Srimanganti, petilasan Keraton Mataram Kartasura. Keraton Kartasura memiliki dua benteng, bagian dalam bernama Srimanganti dan bagian luar Baluwarti. Di dalam Benteng Srimanganti terdapat masjid, bangsal, dan permakaman.
BRAy Adipati Sedah Mirah telah wafat pada tahun 1826 M (versi)
Sementara Benteng Baluwarti terletak hanya sekitar beberapa meter dari Benteng Srimanganti. Benteng Keraton Kartasura adalah Baluwarti di bagian luar. Benteng Baluwarti konon memiliki panjang lebih dari satu kilometer. Namun, kini bangunan benteng yang tersisa hanya 100 meter.
BRAy Adipati Sedah Mirah mengatakan jika beliau sesungguhnya adalah garwa ampil atau selir dari ISKS Paku Buwono IV (1768-1820), dari pernikahannya dengan PB IV ini kemudian beliau menurunkan ISKS PB VI (1807-1846) yang mendapat julukan Sinuhun Bangun Tapa karena kegemaran beliau melakukan tapa brata. Eyang Adipati BRAy Sedah Mirah meminta kami datang marak sowan ke makam beliau yang berada di suatu tempat bekas Keraton Surakarta. Di sana lah makam BRAy Sedah Mirah berada, beliau berjanji akan membimbing kami hingga menemukan makamnya. Beliau hanya ada satu permintaan, untuk dibawakan sedikit saja bunga mawar warna jingga. Kami berangkat berlima dengan tujuan mencari makam Adipati BRAy Sedah Mirah.
Segudang Prestasi BRAy Sedah Mirah
B.R.Ay Adipati Sedah Mirah pada masa hidupnya memiliki segudang prestasi besar. Selain dikenal berparas cantik, juga pandai berdiplomasi serta memiliki ilmu pengasihan tinggi sehingga beliau sebagai wanita mempunyai kharisma dan wibawa luar biasa. Sebagai pemimpin, beliau pemimpin yang dicintai rakyatnya, pemimpin yang disayangi rajanya, dihormati kawan, sekaligus disegani lawan. BRAy Adipati Sedah Mirah adalah seorang pujangga, beliaulah penulis Kitab Ponconiti. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pemegang babon serat yasan dalem Susuhunan seperti kitab Wulang Reh yasan dalem PB IV, dan serat babad Centhini yang ditulis semasa PB V. Kepandaiannya dalam bidang olah kanuragan atau ilmu beladiri pencak silat, membuat sang Raja berkenan menganugerahkan gelar padanya sebagai seorang Adipati. Berkat kepiawaian beliau banyak bidang khususnya spiritual, BRAy Adipati Sedah Mirah dipercaya oleh Keraton untuk mengemban tugas sebagai pemimpin upacara dan ritual sakral yakni Adhang Dhandhang Kyai Duda atau menanak nasi menggunakan alat berupa kukusan dan dhandhang yang terbuat dari tembaga. Dhandhang Kyai Duda adalah pusaka peninggalan Ki Ageng Tarub dan istrinya yang seorang bidadari Dewi Nawang Wulan. Berkat dhandhang pusaka ini pula bidadari Dewi Nawang Wulan menanak nasi cukup hanya satu butir beras tetapi nasinya bisa dimakan orang banyak. Selanjutnya BRAy Adipati Sedah Mirah memimpin acara labuh semua bekas acara ritual adhang dhandhang Kyai Duda ke pantai selatan tepatnya di pantai Parangkusumo. Acara ini cukup langka karena diadakan hanya setiap 8 tahun atau sewindu sekali.
Begitulah sekilas tentang BRAy Adipati Sedah Mirah. Banyak sekali nama Sedah Mirah, tetapi saat ini hanya ada dua yang saya kenal secara langsung. Yang satunya adalah Punggawa Keraton Kidul namanya Nyai Sedah Mirah, dan satu lagi punggawa bernama Nyai Nitipiro.
Sedah Mirah merupakan seorang perempuan yang memiliki jiwa kepribadian yang tangguh, mandiri dan baik. Tokoh Sedah Mirah ini hidup pada zaman kerajaan Mataram, termasuk menjadi salah satu tokoh wanita yang pemberani. Pada zamannya, dia mampu mengemban posisi jenderal perang pada saat jamannya.
Imajiner Nuswantoro


