KISAH NABI SYIS (BERBAGAI SUMBER DAN VERSI)

0

 KISAH NABI SYIS (BERBAGAI SUMBER DAN VERSI)



Imajiner Nuswantoro




Asal usul Bathara Guru  (Versi Kitab Paramayoga)

Asal Usul Sang Hyang Manikmaya (Bathara Guru)

Cerita ini merupakan cuplikan dari ringkasan Kitab Paramayoga oleh Ki Sondong Mandali. Kitab Paramayoga itu sendiri ditulis oleh R.Ng. Ranggawarsita. Beliau menulis Kitab Paramayoga konon terinspirasi Serat Kandha yang ditulis oleh kakek buyut beliau yaitu R.Ng. Yasadipura I.

Dalam membaca ringkasan ini hendaknya menggunakan pikiran yang terbuka lebar dan mencerna pelan pelan sehingga tidak muncul penilaian yang keliru terhadap serat ini.

Ringkasan ini terdapat dalam Buku Bawarasa Kawruh Kejawen edisi Bahasa Indonesia karya Ki Sondong Mandali yang diterbitkan oleh Yayasan Sekarjagad Semarang dan buku tersebut saat ini sudah out of print. Dalam postingan ini Bathara Narada meng-edit seperlunya tanpa mengubah isi cerita.



Imajiner Nuswantoro



JILID I

Catatan 1 :

Paramayoga menyebutkan bahwa Nabi Adam memiliki anak 40 pasang kembar dampit ditambah 2 yang tidak lahir secara kembar. Yang laki-laki Sayidina Sis, sedang yang perempuan Siti Hanun. Diceritakan bahwa nabi Adam berkehendak menjodohkan anak-anak kembar dampitnya dengan cara silang. Namun Siti Hawa, isterinya, menentang dan ingin menjodohkan anak kembar dampitnya dengan pasangan masing-masing. Alasannya sudah merupakan ketentuan takdir dijodohkan sejak dalam kandungan. Dari silang sengketa antara Adam dan Hawa tersebut kemudian sama-sama marah dan sama-sama mengeluarkan rahsa yang diterjemahkan sebagai darah. Penulis (Ki Sondong Mandali) sendiri menterjemahkan sebagai “dayaning urip” (daya hidup).

Rahsa tersebut kemudian ditempatkan dalam cupumanik (cupu = wadah, manik = inti) dan sama-sama dipanjatkan doa. Rahsa dalam cupumanik Nabi Adam berubah menjadi orok bayi namun hanya ragangan, atau tubuh yang belum bernyawa. Atas kemurahan kodrat dan iradat Allah, bayi yang ada pada cupumanik milik Nabi Adam menjadi lengkap perwujudannya sebagai manusia yang sempurna, kemudian cahaya nurbuwah (kenabian) yang ada di badan Nabi Adam berpindah ke dalam tubuh bayi hingga dapat hidup sempurna. Adam mendapatkan bisikan dari Allah agar bayi tersebut dinamakan Sayidina Sis (Nabi Sis) yang dalam Jitapsara (Kitab susunan Begawan Palasara, Jawa) disebut Sang Hyang Sita. Nabi Adam memanjatkan syukur kepada Allah dan menjalankan bisikan gaib tersebut dan bayi digendongnya. Tiba-tiba datang badai (angin ribut) yang ikut menerbangkan cupu tempat bayi hingga jatuh di tengah Samudera Hijau dan diterima malaikat Ngazazil.



Catatan 2 :

Cerita tersebut diatas secara samar-samar telah menjelaskan bagaimana Adam (dalam pengertian “ilahi” sebagai Hyang Adhama, Atman, Dzat Sejatining Urip) beremanasi atau bertajalli menjadi Sang Hyang Sita (Nabi Sis). Jelasnya, kelahiran Sang Hyang Sita (Nabi Sis) bukan melalui proses biologis antara Adam dan Hawa. Namun oleh sebab keluarnya rahsa atau “dayaning urip” dan atas kemurahan kodrat dan iradat Allah.

Nabi Sis atau Sang Hyang Sita mendapatkan jodoh dari Allah berupa bidadari bernama Dewi Mulat. Malaikat Ngazazil mengetahui dan mendengar bahwa kelak di kemudian hari keturunan Adam akan sangat dikasihi Allah. Maka Ngazazil selalu berdoa kepada Allah dan selalu berupaya agar keturunan Adam dan keturunannya bisa menyatu. Maksudnya, agar dirinya dapat menurunkan raja-raja bagi manusia. Doa Ngazazil dikabulkan, kemudian anaknya, Dlajah, dibuat mirip dengan Dewi Mulat untuk menggantikan isteri Nabi Sis tersebut. Sedang Dewi Mulat disembunyikan. Setelah Ngazazil mengetahui nutfah Nabi Sis (Sang Hyang Sita) jatuh di telanakan (rahim) Dlajah, maka cepat-cepat Dlajah dibawa pulang ke kahyangannya dan Dewi Mulat dimunculkan kembali.

Dewi Mulat melahirkan anak kembar pada waktu julungwangi atau saat matahari terbit. Yang satu berwujud bayi laki-laki dan yang satunya berwujud Cahya (Nur).

Pada waktu yang sama Dlajah juga melahirkan, tepat saat julungpujut atau saat matahari tenggelam. Yang dilahirkan Dlajah berwujud Asrar (rahsa) yang berkilauan memancarkan cahaya laksana embun pagi di daun talas. Selanjutnya Asrar tersebut dibawa Ngazazil ke Kusniyamalebari dan dipersatukan dengan anak Nabi Sis dengan Dewi Mulat yang berwujud Cahya (Nur). Kemudian berubah menjadi laksana bayi laki-laki yang masih diliputi cahaya dan tidak dapat dipegang.Kakek bayi-bayi tersebut, Nabi Adam (Hyang Adhama), memberi nama Anwas (Nasa, dalam Jitapsara) kepada cucunya yang berwujud bayi laki-laki (dari Dewi Mulat) dan Anwar (Nara, dalam Jitapsara) kepada cucunya yang berwujud cahya (persatuan antara anak Dewi Mulat dan anak Dlajah).

Sayid Anwas tekun beribadah kepada Allah SWT., sedang Sayid Anwar gemar bertapa dan berkelana hingga bertemu dengan Malaikat Ngazazil dan berguru kepadanya. Sayid Anwar mendapatkan berbagai ilmu kesaktian. Bisa berubah sebagai laki-laki atau perempuan, bisa menghilang dan kasat mata (tidak bisa diindera). Juga bisa terbang ke angkasa dan masuk ke perut bumi. Ketika Sayid Anwar pulang dan bertemu Nabi Adam, maka kakeknya melihat berubahnya perilaku cucunya itu. Nabi Adam paham bahwa perubahan itu dikarenakan ulah Ngazazil dan berkata kepada Nabi Sis, bahwa kelak Sayid Anwar akan murtad dari ajaran agama yang dipeluk kakek dan ayahnya.



Catatan 3 :

Kisah Sayid Anwar (Sang Hyang Nurcahya) tersebut juga dengan samar-samar mengisahkan proses beremanasinya Sang Hyang Sita (Nabi Sis) menjadi Sang Hyang Nuircahya (Sayid Anwar). Meskipun kelahirannya melalui ibu : Dewi Mulat dan Dlajah, namun jelas sekali bahwa Dewi Mulat bidadari pemberian Allah, sedang Dlajah “anak” malaikat Ngazazil. Paramayoga tidak secara jelas menguraikan tentang malaikat Ngazazil dan bagaimana ceritanya bisa punya “anak” bernama Dlajah. Disinilah “kehalusan” pujangga Jawa dalam menukil ajaran Islam tentang Allah Swt. dan Malaikat. Para pujangga Jawa menghormati ketauhidan Islam dengan menempatkan Allah Swt. pada wilayah “tan kena kinayangapa”. Serta tetap membuat misteri tentang posisi Malaikat. Secara samar-samar memposisikan kesetaraan Malaikat dengan Hyang Adhama, sehingga disebutkan bahwa Malaikat Ngazazil berkehendak ikut menurunkan raja-raja penguasa manusia. Secara tersirat menyatakan bahwa Malaikat (sebagai Kuasa Allah) ikut mengatur “uriping manungsa”. Maksudnya, ikut terlibat dalam proses beremanasinya Dzat Sejating Urip selanjutnya.



Imajiner Nuswantoro



KISAH NABI SYITH DALAM VERSI JAWA

Nabi Adam yang sangat menyayangi Syith memohon kepada Tuhan agar suatu ketika nanti Syith menjadi ketua bagi keturunan saudara-saudaranya.

Ketika Nabi Adam berdoa, Azazil mendengarnya. Maka iblis itu berhasrat untuk mencampurkan darah keturunannya dengan darah Syith.

Di ruang tamu, isteri Syith iaitu Dewi Mulat sedang tertidur. Azazil gunakan kesempatan tersebut untuk menukar Dewi Mulat dengan puterinya yang bernama Dewi Dlajah.

Disebabkan Dewi Dlajah memiliki wajah yang serupa dengan Dewi Mulat, Syith melihat 'isterinya' yang hanya mengenakan pakaian nipis telah menimbulkan ghairah. Syith menyetubuhi Dlajah.

Seusai Syith melepaskan benihnya ke dalam rahim Dlajah, Azazil menukar semula puterinya itu dengan Mulat. Belum puas sekali bersenggama, Syith kembali memancarkan benihnya ke dalam rahim Mulat.

Waktu terus berlalu, sehingga lahirnya putera-putera Syith. Dari rahim Mulat, lahirlah anak lelaki normal dan cahaya berkilauan. Dari rahim Dlajah, lahirlah gumpalan darah yang berkilauan.

Azazil menyatukan gumpalan darah itu dengan cahaya berkilauan dari rahim Mulat. Anak lelaki Mulat diberi nama Sayid Anwas. Anak lelaki paduan Mulat dan Dlajah diberi nama Sayid Adwar.

Semasa kecil, Sayid Anwas yang dikurniai wajah tampan itu diasuh oleh Nabi Adam. Sedangkan Sayid Adwar yang berparas mempesona itu diasuh oleh Azazil.

Sebagai puteri yang 'terberkati', kedua putera Syith tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa. Yang berbeza antara keduanya adalah, Sayid Anwas sukakan ilmu agama, sedangkan Sayid Adwar sukakan tirakat dan bertapa.

Sayid Adwar yang telah menginjak usia dewasa bertanya kepada Azazil, “Sebenarnya siapa ayahku?”

Azazil pun menjawab, “Ketahuilah, cucu! Kau masih keturunan Syith. Kalau kau ingin bertemu dengan ayahmu. Maka carilah Syith.”

Mendengar kata-kata Azazil, Sayid Adwar segera mencari Syith. Setelah bertemu dengan Syith, pada mulanya Syith tidak mengakui Sayid Adwar sebagai anaknya.

Tapi setelah mendapat wahyu dari Tuhan, Syith merangkul Sayid Adwar. Rangkulan haru antara ayah dan anaknya.

Seperti Sayid Anwas, Sayid Adwar kemudian hidup di bawah asuhan Nabi Adam. Nabi Adam berpesan pada Sayid Adwar agar tidak meminum 'Air Kehidupan'. Namun, pesanan itu dilanggar dan Sayid Adwar diusir oleh Adam.

Dengan penuh rasa kecewa, Sayid Adwar akhirnya pergi meninggalkan Adam untuk berkelana. Di tengah perjalanan, Sayid Adwar bertemu dengan Malaikat Harut dan Marut. Mereka menuju ke arah tepian Sungai Nil. Di tepian Sungai Nil tersebut, dia bertemu dengan beberapa anak Adam lainnya.

Bersama bapa-bapa saudaranya, Sayid Adwar belajar ilmu laduni yang dapat melihat masa depan dan juga berbagai ilmu lainnya. Sesudah mendapatkan bekalan ilmu secukupnya, Sayid Adwar melanjutkan perjalanan ke arah Lemah Dewani yang terletak di antara Pulau Maldewa dan Laksdewa.

Di pulau kecil tersebut, Sayid Adwar bertapa dengan melihat matahari dari terbit hingga terbenam. Setelah tujuh tahun bertapa, Sayid Adwar dapat menundukkan bangsa jin.

Apabila mengetahui bangsa jin telah dikalahkan oleh Sayid Adwar, Prabu Naradi merasa kekuasaannya terancam dan mengajak Sayid Adwar untuk berlawan. Dalam pertarungan itu, Prabu Nuradi mengalami kekalahan.

Sesudah turun tahkta, Prabu Naradi mengangkat Sayid Adwar sebagai Raja Jin dan menyerahkan puterinya menjadi permaisuri Sayid Adwar. Setelah menjadi raja, Sayid Adwar memiliki gelaran Prabu Nurasa.

Prabu Nurasa yang telah tinggal abadi di tempat yang tinggi (kayangan) menjadi seorang murtad dari ajaran keturunan Adam. Ketika menjadi raja, Lemah Dewani diubah menjadi Tanah Jawa. Dari Prabu Nurasa, lahirlah keturunan-keturunan yang menjadi raja di Tanah Jawa.

Sementara itu di tempat lain, Sayid Anwas yang tumbuh dewasa dalam asuhan Adam telah melahirkan manusia-manusia yang dimulai dari Nabi Idris, Ibrahim, Musa, Isa hingga pada Muhammad SAW.

Selain melahirkan keturunan orang soleh, keturunan Sayid Anwas juga melahirkan suku-suku bangsa yang hebat seperti Arab, Arya dan bangsa-bangsa besar lainnya.

Sedangkan keturunan Sayid Adwar banyak melahirkan bangsa-bangsa besar pada zaman kerajaan Jawa. Cukup banyak raja-raja keturunan Sayid Adwar yang menguasai bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.

Dalam putaran peradaban, antara keturunan Sayid Adwar dan Sayid Anwas telah banyak yang mengalami bersilangan. Dari persilangan-persilangan inilah yang membuat kehidupan mereka saling bertindih.

Ada keturunan Sayid Anwas yang mengikut jejak pemikiran Sayid Adwar yang sesat. Tidak sedikit pula keturunan Sayid Adwar yang kembali pada ajaran nenek moyang mereka dan menganut agama yang diajarkan Adam serta leluhur mereka, Nabi Syith.

Namun dari semua itu, baik dari keturunan Sayid Anwas mahupun keturunan Sayid Adwar, mereka sama-sama mempunyai darah yang hebat, sehinggakan tidak sedikit dari mereka yang menjadi pemimpin-pemimpin bangsa lainnya.






Kisah Nabi Adam dan Sis

Di dalam Taman Surga lahir seorang manusia yang diberi nama Adam. Ketika Tuhan memilihnya sebagai kalifah, para malaikat yang dipimpin Ajajil mengajukan keberatan karena umat manusia mereka anggap hanya bisa berbuat kerusakan saja. Maka, Tuhan pun mengajari Adam berbagai macam ilmu pengetahuan yang membuatnya mampu mengalahkan kepandaian para malaikat.

Di hadapan para malaikat, Tuhan menguji kepandaian Adam. Para malaikat akhirnya mengakui keunggulan Adam. Tuhan kemudian memerintahkan semua malaikat untuk bersujud menghormat kepadanya. Para malaikat serentak bersujud melaksanakan perintah Tuhan, kecuali makhluk bernama Ajajil.

Ajajil menolak bersujud kepada Adam karena baginya hanya Tuhan semata yang pantas disembah. Meskipun mengajukan berbagai alasan, tetap saja Ajajil dianggap sebagai pembangkang. Ajajil kemudian dikeluarkan dari Taman Surga dan dijuluki sebagai Sang Iblis.

Nabi Adam kemudian menikah dengan wanita pilihan Tuhan yang bernama Hawa. Keduanya diizinkan menikmati segala macam isi Taman Surga kecuali buah dari sebuah pohon larangan.

Sementara itu Ajajil Sang Iblis datang menyusup ke dalam Taman Surga dengan menyamar sebagai seekor ular. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa Adam tidak sempurna dan bisa dikalahkan. Melalui kepandaiannya berbicara, ular samaran Ajajil berhasil menghasut Adam dan Hawa sehingga keduanya memakan buah pohon larangan tersebut. Mengetahui hal itu, Tuhan pun menghukum pasangan tersebut keluar dari Taman Surga.

Adam kemudian membangun tempat tinggal baru di daerah Asia Barat Daya bernama Kerajaan Kusniyamalebari. Setelah memimpin selama 129 tahun, barulah Adam dan Hawa memiliki keturunan. Setiap kali melahirkan mereka mendapatkan putra dan putri sekaligus. Putra yang tampan lahir bersama putri yang cantik, sedangkan putra yang jelek lahir bersama putri yang jelek pula.

Setelah lahir lima pasangan, Adam dan Hawa berniat menikahkan putra dan putri mereka itu. Adam memutuskan untuk menikahkan putra yang tampan dengan putri yang jelek, serta sebaliknya. Sementara itu, Hawa mengusulkan agar putra yang tampan dinikahkan dengan putri yang cantik, serta putra yang jelek dengan putri yang jelek, sesuai pasangan kelahiran masing-masing.

Adam dan Hawa sama-sama saling mempertahankan pendapat. Keduanya sepakat mengeluarkan rahsa untuk mendapatkan petunjuk dari Tuhan. Atas kehendak Tuhan, rahsa milik Adam tercipta menjadi bayi namun hanya berwujud ragangan, sementara rahsa milik Hawa tetap berwujud darah. Menyaksikan hal itu Hawa pasrah terhadap keputusan Adam.

Beberapa waktu kemudian, cahaya nubuwah Adam keluar dari dahinya dan berpindah pada tubuh ragangan bayi tersebut. Akibatnya, ragangan bayi itu hidup menjadi bayi normal. Tuhan memberi petunjuk supaya bayi tersebut diberi nama Sis, di mana kelak ia akan menurunkan para pemimpin dunia. Adam sangat bersyukur dan membawa bayi Sis pulang.

Setelah Adam pergi, cupu yang tadinya digunakan sebagai wadah rahsa terhempas oleh angin kencang sehingga jatuh di dekat Samudera Hijau. Cupu tersebut ditemukan oleh Malaikat Ajajil dan disimpannya sebagai pusaka, dan diberi nama Cupumanik Astagina.

Beberapa tahun kemudian Sis tumbuh menjadi manusia istimewa yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Selain memiliki lima pasang kakak, Sis juga memiliki 35 pasang adik dan seorang adik perempuan yang lahir tanpa pasangan bernama, Siti Hunun.

Pada suatu hari Nabi Adam mengutus Sayid Sis untuk mengambil buah di Taman Surga. Sis berhasil memasuki tempat tersebut dan mendapatkan buah yang diinginkan ayahnya. Selain itu, Sis juga mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa seorang bidadari bernama Dewi Mulat.

Sis kemudian menikah dengan Mulat. Keduanya hidup berumah tangga di negeri Kusniyamalebari.



Set menurut kepercayaan Islam.

Set (Syits) (sekitar 3630-2718 SM), hidup selama kurang lebih 912 tahun, meninggal pada usia 1042 tahun. Menikah dengan Azura (Hazurah), kemudian mengandung seorang anak yang bernama Enos pada usia 105 tahun. Ia salah seorang anak Adam, yang dianggap sebagai salah satu dari nabi-nabi dalam Islam. Ia juga termasuk guru Nabi Idris yang pertama kali mengajarkan baca-tulis, ilmu falak, Menjinakkan kuda dan lain-lain.



Sunan Kalijogo

Kidung Rumeksa Ing Wengi

Ana kidung rumekso ing wengi

Teguh hayu luputa ing lara

luputa bilahi kabeh

jim setan datan purun

paneluhan tan ana wani

niwah panggawe ala

gunaning wong luput

geni atemahan tirta

maling adoh tan ana ngarah ing mami

guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali

Sakeh ngama pan sami mirunda

Welas asih pandulune

Sakehing braja luput

Kadi kapuk tibaning wesi

Sakehing wisa tawa

Sato galak tutut

Kayu aeng lemah sangar

Songing landhak guwaning

Wong lemah miring

Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir

Nadyan arca myang segara asat

Temahan rahayu kabeh

Apan sarira ayu

Ingideran kang widadari

Rineksa malaekat

Lan sagung pra rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma

Ati Adam utekku baginda Esis

Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih

Nabi Yakup pamiryarsaningwang

Dawud suwaraku mangke

Nabi brahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami

Nabi Yusuf rupeng wang

Edris ing rambutku

Baginda Ngali kuliting wang

Abubakar getih daging Ngumar singgih

Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih

Siti aminah bayuning angga

Ayup ing ususku mangke

Nabi Nuh ing jejantung

Nabi Yunus ing otot mami

Netraku ya Muhamad

Pamuluku Rasul

Pinayungan Adam Kawa

Sampun pepak sakathahe para nabi

Dadya sarira tunggal



Terjemahan dalam bahasa indonesia :

Ada kidung rumekso ing wengi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas

dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun

tidak mau. Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat.

guna-guna tersingkir. Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku.

Segala bahaya akan lenyap.

Semua penyakit pulang ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi. Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak. Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.

Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering. Pada akhirnya semua slamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan. Hatiku Adam dan otakku nabi Sis. Ucapanku adalah nabi Musa.

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia. Nabi Yakup pendenganranku. Nabi Daud menjadi suaraku. Nabi Ibrahim sebagai nyawaku. Nabi sulaiman

menjadi kesaktianku. Nabi Yusuf menjadi rupaku. Nabi Idris menjadi

rupaku. Ali sebagai kulitku. Abubakar darahku dan Umar dagingku.

Sedangkan Usman sebagai tulangku.

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia. Siti fatimah sebagai

kekuatan badanku. Nanti nabi Ayub ada didalam ususku. Nabi Nuh

didalam jantungku. Nabi Yunus didalam otakku. Mataku ialah Nabi

Muhamad. Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa. Maka

lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.



Dalam versi yang lain Sanghyang Wenang

Sanghyang Wenang adalah nama seorang dewa senior dalam tradisi pewayangan Jawa. Ia dianggap sebagai leluhur Batara Guru, pemimpinKahyangan Suralaya. Ia sendiri bertempat tinggal di Kahyangan Awang-awang Kumitir.

Kisah kehidupan Sanghyang Wenang yang diangkat dalam pentas pewayangan antara lain bersumber dari naskah Serat Paramayoga yang disusun oleh pujangga Ranggawarsita.



Asal-usul

Serat Paramayoga merupakan karya sastra berbahasa Jawa yang isinya merupakan perpaduan unsur Islam, Hindu, dan Jawa asli. Tokoh Sanghyang Wenang misalnya, disebut sebagai leluhur dewa-dewa Mahabharata sekaligus keturunan dari Nabi Adam.

Sanghyang Wenang merupakan putra Sanghyang Nurrasa, putra Sanghyang Nurcahya, putra Nabi Sis, putra Nabi Adam. Ia memiliki seorang kakak bernama Sanghyang Darmajaka dan seorang adik bernama Sanghyang Pramanawisesa.

Setelah dewasa, Sanghyang Wenang mewarisi takhta Kahyangan Pulau Dewa dari ayahnya. Kahyangan ini konon sekarang terletak di negara Maladewa, di sebelah barat India.



Berselisih dengan Nabi Sulaiman

Sanghyang Wenang dipuja bagaikan Tuhan oleh para penduduk Pulau Dewa yang saat itu kebanyakan dari bangsa jin. Hal ini didengar olehNabi Sulaiman pemimpin Bani Israil. Para pengikut Nabi Sulaiman mendesak supaya Sanghyang Wenang diberi hukuman. Nabi Sulaiman pun mengirim panglimanya yang bernama Jin Sakar untuk menyerang Pulau Dewa.

Jin Sakar tiba di tujuannya. Namun justru dirinya yang berhasil dikalahkan Sanghyang Wenang. Jin Sakar dikirim balik untuk mencuri rahasia kesaktian Nabi Sulaiman, yaitu Cincin Maklukatgaib pemberian Tuhan. Setelah berhasil mencuri cincin tersebut, Jin Sakar kembali ke Pulau Dewa, namun Cincin Maklukatgaib jatuh tercebur ke dasar laut.

Nabi Sulaiman jatuh sakit setelah kehilangan cincinnya. Berkat doanya yang tekun, ia pun memperoleh kesembuhan. Pulau Dewa tempat Sanghyang Wenang dipasangi tumbal sehingga meledak dan hancur menjadi pulau-pulau kecil. Sanghyang Wenang sendiri bahkan sampai mengungsi ke dasar laut.



Membangun Kahyangan Tengguru

Beberapa tahun kemudian setelah Nabi Sulaiman meninggal, Sanghyang Wenang pun muncul kembali dan membangun kahyangan baru di Gunung Tengguru. Setelah memimpin sekian tahun lamanya, Sanghyang Wenang mewariskan takhta kahyangan kepada putranya yang bernama Sanghyang Tunggal. Setelah itu, ia sendiri juga manunggal, bersatu ke dalam diri putranya itu.

Meskipun Sanghyang Wenang telah bersatu ke dalam diri Sanghyang Tunggal, namun para dalang dalam pementasan wayang masih tetap memunculkan tokoh Sanghyang Wenang dalam lakon-lakon tertentu. Hal ini dimungkinkan karena setelah bersatu dengan ayahnya, Sanghyang Tunggal tetap memakai nama ayahnya, yaitu Sanghyang Wenang sebagai salah satu nama julukannya.



SYAYID ANWAS & SYAYID ANWAR ADALAH LELUHUR PARA NABI DAN DEWA

Kisah perjalanan anak-anak Nabi Adam dan Siti Hawa, dimulai dari kisah pembunuhan Kabil dan Habil, kelahiran Nabi Syis dan keturunannya. Kelak akan ada keturunan Nabi Syis yang menjadi  para nabi dan rasul sedangkan keturunan yang lain akan menjadi para Dewa. baik keturunan Anwas maupun Anwar kelak akan menjadi keturunan linuwih. Sumber kisah ini adalah Serat paramayoga dan dipadukan beberpa kisah dari Timur Tengah.



Tatacara Pernikahan anak-anak Adam dan Hawa.

Telah lama Nabi Adam dan Siti Hawa berumah tangga. Setiap kali melahirkan selalu terlahir sepasang putra-putri. Kini, anak-anak mereka sudah pada besar. Sudah saatnya mereka untuk menikah, namun Adam dan Hawa saling bersilang pendapat tentang tatacara pernikahan mereka. Adam berpendapat “Menurut kanda, putra pertama harus dinikahkan dengan putri kedua sementara putra kedua dinikahkan dengan putri pertama dan begitu seterusnya.” tapi Hawa berpendapat “ Dinda tidak setuju! seharusnya putra pertama harus menikahi putri pertama sementara putra kedua harus menikahi putri kedua karena dianggap telah berjodoh sejak di dalam rahim.” Persilangan pendapat ini membuat keduanya terus berselisih tanpa ada yang mengalah, sampai pada akhirnya mereka berdoa meminta petunjuk dari Tuhan Yang Maha Agung. Lalu datanglah Malaikat Jibril membawa sebuah cupu (kotak menyimpan air). Oleh Malaikat Jibril, cupu itu disebut Cupu Kamandalu. Atas seizin-Nya, Malaikat Jibril mengambil intisari benih Adam dan Hawa untuk ditempatkan ke dalam cupu itu. Benih Adam diletakkan di tutup cupu sementara benih Hawa di bagian dalam badan cupu. Setelah beberapa hari, atas kehendak Yang Maha Kuasa, benih Adam berubah menjadi calon janin. Sementara benih Hawa tidak berubah. Karena itulah, Hawa akhirnya menurut dan pasrah menyerahkan keputusan tentang cara pernikahan putra-putri mereka sesuai pendapat Adam. Setelah Nabi Adam dan Siti Hawa pergi, Malaikat Jibril datang lagi atas perintah Sanghyang Maha Agung untuk menyatukan benih Adam dan Hawa. Lalu benih yang telah dipersatukan itu segera dimasukkan kedalam rahim Hawa secara gaib. Nabi Adam kemudian menyimpan cupu Kamandalu di dalam ruang penyimpanan pusaka.



Kisah Kabil dan Habil, pembunuhan pertama di muka bumi.

Walaupun pernikahan telah dilangsungkan sesuai cara Nabi Adam, ada juga pihak yang tak puas. Yaitu Kabil, sang putra tertua. Dia tak terima dinikahkan dengan Labudha yang berwajah ala kadarnya, sementara kakak Labudha yaitu Habil dinikahkan dengan adik Kabil, Aklimah yang cantik. Akhirnya mereka berdua diperintahkan Adam sesuai wahyu dari Yang Maha Kuasa untuk mempersembahkan kurban. Barangsiapa yang sesajinya diterima, maka dia berhak menikahi Aklimah. Habil bersedia dengan harapan agar sang kakak insyaf. Maka mereka mempersiapkan sesaji. Kabil adalah seorang petani jadi dia akan menyajikan hasil panennya. Namun karena sifat kikir, dengki, dan sombong telah menyelimutinya, maka dia lebih memilih buah-buahan dan gandum yang buruk, sedangkan yang baik disimpan sendiri. Sementara itu Habil yang seorang peternak mengurbankan hewan-hewan peliharaannya. Karena murah hati dan penuh iman, maka ia pilihkan domba terbaik untuk dijadikan sesaji. Tuhan Yang Maha Kuasa kemudian mengirimkan api untuk membakar salah satu sesaji kurban dari dua putra Adam itu. Rupanya api membakar sesaji Habil, tanda kurbannya telah diterima. Kabil menjadi semakin kesal dan dengki hingga pada suatu hari ketika Habil sedang menggembala, Kabil memukul Habil dengan sebongkah batu hingga pecah kepalanya. Habil yang tidak melawan akhirnya mati terbunuh di tangan saudaranya sendiri.

Kabil menjadi bingung dan gelisah setelah membunuh Habil. Harus diapakan jenazah adiknya itu sehinggalah datang sepasang gagak.



Imajiner Nuswantoro

Ilham dari burung gagakGagak-gagak itu berkelahi memperebutkan jenazah Habil.



Salah satu gagak itu mati lalu gagak yang masih hidup segera menggali lubang dan menguburkan bangkai burung gagak yang mati itu di dalam tanah. Merasa dapat petunjuk, Kabil segera mengubur Habil seperti yang dicontohkan burung gagak. Kabil tidak bertobat pada dosanya membunuh malah ia melarikan Aklimah menjauhi Kusniyamalebari.



Kelahiran Nabi Syis.

Semenjak kematian Habil, Adam berduka. Nabi Adam berdo’a agar mendapatkan pengganti Habil. Hingga pada suatu ketika, datanglah topan badai di negeri Kusniyamalebari. Angin menerbangkan pepohonan dan tanah. Ruangan tempat Nabi Adam menyimpan cupu Kamandalu pemberian Malaikat Jibril menjadi berantakan bahkan cupu itu hilang, terbawa angin topan. Bersamaan pula dengan itu, Siti Hawa melahirkan lagi. Kali ini berbeda, bukan anak kembar yang lahir namun anak tunggal. Lahirlah dari rahim Hawa seorang bayi laki-laki. Bayi inilah yang dulu ditanamkan Malaikat Jibril melalui cupu Kamandalu waktu itu lalu secara gaib dipindahkan atas seizin-Nya. Nabi Adam memberi nama putranya itu Syis yang berarti hadiah.



Siti Hawa Mengidamkan Buah-buahan Taman Surga.

Singkat cerita, Syis tumbuh sebagai seorang yang saleh, berbudi, dan memiliki kebijaksanaan melebihi anak-anak Adam yang lain. Pada suatu hari, sang ibu, Siti Hawa hamil kembali dan kini tengah mengidam makan buah-buahan dari Taman Surga. Syis berkata “wahai ibu, jangan khawatir. Aku akan meminta izin pada Yang Maha Memiliki agar mendapatkan buah-buahan surga idaman ibu” singkat cerita, Syis segera berangkat untuk meminta izin kepada Yang Maha Agung. Di perjalanan, Syis digoda dan diserang oleh bangsa setan pengikut Azazil. Namun segala godaan dan tipu daya setan berhasil dikalahkan oleh Syis. Setan-setan itu berhasil diusir pergi.


Imajiner Nuswantoro


Syis mendapatkan Dewi Mulat

Kemudian di dalam hutan ia bertafakur selama empat puluh hari agar diizinkan oleh Sanghyang Maha Agung memasuki Taman Surga. Setelah empat puluh hari, Malaikat Jibril dan Mikhail datang menemui Syis memenuhi perintahNya. Kepada Syis, ia diizinkan masuk Taman Surga. Di dalam Taman Surga, Syis memetik berbagai buah-buahan idaman sang ibu. Setelah dirasa cukup, Malaikat Jibril menyampaikan keputusan Yang Maha Agung,yakni menikahkan Syis dengan salah satu bidadari surga yaitu Dewi Mulat. Menurut Yang Maha Esa, kelak keturunan Syis akan menjadi menjadi manusia-manusia utama, sebahagian dari mereka akan menjadi para nabi dan raja maka yang menjadi pendamping Syis haruslah wanita yang mulia pula. Syis sangat bersyukur.

Singkat cerita, setelah menikah, Syis segera kembali ke dunia membawa Dewi Mulat dan berumahtangga di Kusniyamalebari. Buah-buahan dari Taman Surga segera dipersembahkan kepada sang ibu. Suka citalah Siti Hawa. Saat waktunya tiba, Siti Hawa melahirkan putra-putri kembar seperti biasa. Nabi Adam memberi nama putra-putrinya itu Kayumaras dan Hindunmaras.



Azazil meminta seorang Anak Perempuan

Tanpa disadari Syis, rupanya Azazil berhasil mencuri dengar pembicaraannya dengan Malaikat Jibril di Taman Surga. Azazil kemudian bertafakur agar diberi seorang putri.dia berharap agar melalui putrinya, kelak lahir keturunan Syis yang menjadi raja dan penguasa umat manusia. Tuhan memang Maha Adil. Ia mengabulkan permintaan Azazil. Dari sepercik benih Azazil, Yang Maha Pencipta menciptakan seorang perempuan yang wajah dan bentuk tubuhnya sama persis dengan Dewi Mulat yang kemudian diberi nama Dewi Dlajah. Azazil segera membawa putrinya itu ke negeri Kusniyamalebari supaya bisa mengandung benih Syis. Azazil memasuki rumah Syis secara diam-diam dan menyirep Dewi Mulat lalu ditukar dengan Dewi Dlajah. Setelah beberapa hari, setelah mengetahui Dewi Dlajah telah disenggamai Syis yang tak bisa membedakan istrinya, Azazil mengembalikan Dewi Mulat dan membawa pulang Dewi Dlajah.



Anwas-Anwar Lahir

Hari bergantin pekan, pekan berganti bulan. Tak terasa Dewi Mulat sudah waktunya . melahirkan. Tepat pada saat matahari terbit (julung wangi), lahirlah dari rahimnya anak kembar, hanya yang satu berwujud bayi laki-laki biasa dan yang satunya berupa nur (cahya). Di tempat lain di saat yang hampir bersamaan, saat matahari terbenam (julung pujut) Dewi Dlajah melahirkan anak. Namun wujudnya berupa Asrar (plasma nutfah yang bercahaya), berkilau bagikan berlian. Oleh Azazil, Asrar itu dibawa ke Kusniyamalebari secara diam diam dan disatukan dengan anak Syis dan Dewi Mulat yang berwujud nur (cahya). Atas kehendak Yang Maha Kuasa, Asrar dan Nur itu berubah menjadi sosok bayi laki-laki yang berkilauan bagai mutiara dan nyaris tembus pandang lalu Azazil meninggalkannya. Selang beberapa waktu, Nabi Adam datang untuk memberi nama anak-anak Syis. Anak yang berwujud bayi laki-laki biasa diberi nama Anwas (Enos) sementara yang berwujud bayi laki-laki yang diliputi cahaya diberi nama Anwar(Nara). Nabi Adam mendapat firasat bahwa kelak Anwas akan menurunkan orang-orang pilihan Yang Mahakuasa yang kelak ditutup oleh orang bernama Isa A.S dan Muhammad SAW, sementara Anwar akan berpaling dari ajaran Adam dan Syis dan memilih jalannya sendiri namun keturunannya juga kelak akan menjadi para raja dan tokoh besar di muka bumi. Syis menjadi bimbang dan menyerahkan sepenuhnya kepada Sanghyang Maha Agung, Tuhan yang Maha Berkehendak.



Anwar berguru di hutan dan di laut kepada Boponya

Singkat cerita, Anwas tumbuh menjadi seorang yang alim, tekun ibadahnya kepada Sanghyang Maha Agung, Tuhan Semesta Alam. Segala ilmu dan kebijaksanaan dari ayahnya telah ia kuasai. Sementara Anwar sangatlah gemar bertapa dan menyepi jauh dari keramaian. Hingga pada suatu hari ia berguru kepada seorang yang sakti di hutan Ambalah. Oleh orang sakti itu, Anwar diajarkan ilmu amblas bumi, ilmu berjalan di atas air, kemampuan terbang, ilmu menghilang, dan berubah wujud. Sekembalinya dari hutan Ambalah, Nabi Adam melihat perubahan pada diri Anwar. Nabi Adam berrtanya, “cucuku Anwar, kau dari mana saja?” “aku pergi ke hutan untuk menyepi lalu akau bertemu seorang yang sakti dan aku diajari berbagai ilmu.” Adam sadar bahwa orang sakti itu adalah Azazil yang sedang menyamar lalu mengingatkan Anwar untuk tidak berhubungan dengan orang sakti itu lagi karena ia adalah Azazil, penghulu penduduk langit yang pernah menolak sujud kepada Adam.



Wafatnya Nabi Adam

Beberapa tahun kemudian, Nabi Adam telah berusia 1000 tahun. Cahaya kenabian di dahinya turun kepada Syis. Beberapa hari setelah cahaya kenabian turun, Nabi Adam sakit keras dan kini dalam keadaan sakaratulmaut, merasa ajalnya sudah dekat. Di sekitarnya telah berkumpu Siti Hawa, sang istri dan seluruh putra, cucu, cicit, piut, dan canggah mereka. Diantara mereka ada Khanukh, cicit Anwas, anak Sayyid Yared (kelak dia menjadi nabi menggantikan Syis bergelar Nabi Idris). Anwas dan Anwar turut prihatin akan keadaan sang kakek. Tak lama kemudian, datanglah dua malaikat yang diutus Yang Maha Agung datang ke Kusniyamalebari. Mereka adalah Malaikat Jibril dan Malaikat Izrail. Malaikat Izrail bertugas mencabut atma (nyawa) Nabi Adam dan Malaikat Jibril mewartakan bahwa Syis yang akan menjadi pelanjut Adam sebagai nabi juga mengangkat Kayumaras sebagai pemimpin Kusniyamalebari yang baru bergelar Sultan Kayumuthu. Demikianlah, Nabi Adam pun wafat. Para anggota keluarga serentak memanjatkan doa mengantarkan kepergian atmanya ke hadirat-Nya.



Berpalingnya Anwar demi Umur Panjang

Empat puluh hari berlalu setelah wafatnya Nabi Adam, dua putra Nabi Syis, Anwas dan Anwar saling berdebat tentang hakikat rahasia kehidupan. Anwas berpendapat “rahasia kehidupan yang ada dalam ajaran yang diajarkan kakek dan ayah adalah yang benar. Kitab dan sahifah adalah peninggalannya berisi rahasia-rahasia menjalani kehidupan ini karena berasal dari Yang Maha Kuasa. Mencari cara-cara lain untuk mengungkapnya adalah sebuah kesia-siaan belaka.” “aku tidak setuju, kakang. ilmu dari Tuhan itu sangat luas tak berbatas dan tak hanya tertampung dalam kitab dan sahifah saja. Alam ini juga mengajarkan itu semua. Hukum sebab-akibat di alam ini yang menuntun kita dalam mempelajari hakikat kehidupan. Terlebih setelah melihat kakek diwafatkan di usia 1000 tahun. Kalau pun ajaran kakek dan ayah benar harusnya bisa menghindarkan kita dari kematian seperti halnya para malaikat yang berumur panjang.” Anwas tidak setuju “tidak, adikku! Malaikat dan manusia berbeda penciptaannya. Mereka terbuat dari cahaya yang tak bisa padam sedangkan kita dari saripati tanah yang hanya terang jika terkena cahaya. Cepat atau lambat, kita akan kembali menjadi materi gelap.” “kalau kita berusaha kita bisa seperti malaikat.bisa berusia panjang dan abadi.”



Imajiner Nuswantoro

Anwas-Anwar Tandhing



Anwar yang bersikeras mencari kehidupan abadi dihalangi Anwas. Keduanya terlibat pertarungan. Karena Anwar lebih sakti, Anwas kalah. Anwas bersedih hati dan malu. Ia kemudian bersumpah “Anwar, dengarkan sumpahku. Sekarang aku mungkin kalah tapi kelak lain lagi. Kelak akan datang suatu masa dimana ada keturunanku yang bisa menundukkan keturunanmu!”



Imajiner Nuswantoro


Pencarian Tirta Maolkayat.

Lalu Anwar bertemu dengan Azazil, sang kakek dari pihak ibu. Azazil juga mengungkapkan bahwa ia lah orang sakti yang dulu ditemuinya di hutan. Azazil memberitahukan rahasia “Anwar cucuku, kalau kamu ingin bisa berumur panjang seperti para malaikat, pergilah ke Tanah Lulmat jauh di Kutub Utara. Akan turun disana air ajaib yang bisa membuat pemakainya berumur panjang sampai hari kiamat tiba.” Maka pergiah Anwar ke utara. Setelah sekian lama ia sampai di kutub utara. Udaranya begitu dingin membekukan. Dimana-mana hanya ada es dan salju. Tapi anehnya ada sebidang tanah yang justru ditumbuhi rumput dan terasa cukup hangat. Itu lah Tanah Lulmat. Anwar kemudian bertapa dan berdoa memohon kemurahan Tuhan yang Maha Kuasa. Setelah sekian lama menahan cuaca yang begitu membekukan, Yang Maha Kuasa menjawab doa Anwar. Datanglah sekumpulan awan mendung dari Lautan Rahmat. Dari awan mendung itu, turunlah air keabadian yang disebut juga Tirta Maolkayat. Anwar kemudian mandi dan meminum air itu. Sejak saat itu Anwar menjadi makhluk berumur panjang. Anwar berniat untuk menampung air itu agar bisa diminum oleh keturunannya nanti namun ia tak tahu caranya. Lalu datanglah Azazil membawa cupu Kamandalu dan menyerahkannya pada sang cucu. Dahulu, cupu itu adalah milik Nabi Adam pemberian Malaikat Jibril dan wadah itu lah tempat dimana benih Adam dan Hawa menyatu menjadi calon bayi Nabi Syis. Cupu itu terhempas angin topan saat kelahiran Nabi Syis dan ditemukan Azazil terapung di tengah samudera. Anwar segera membuka cupu Kamandalu dan ajaib, seluruh Tirta Maolkayat masuk dan dapat tertampung semua.


 

Pengembaraan Anwar

Anwar kemudian meninggalkan dari Kutub Utara yang dingin membekukan itu. Di tengah perjalanan sedang musim dingin. Terjadi badai hebat yang menurunkan hujan es yang sangat lebat. Anwar memutuskan berteduh di dalam lubang sebuah pohon gundul.



Imajiner Nuswantoro

Anwar mandi Tirta Maolkayat



Sembari berteduh, Anwar kembali bertafakur. Lalu terdengar suara yang memerintahkannya mengambil akar pohon tempatnya berteduh. Suara itu mengatakan bahwa pohon itu bernama pohon Rewan (Kalpataru), anak pohon Sidratul Muntaha. Kemudian Anwar dengan kesaktiannya, mengambil akar pohon itu dan menjadikannya pusaka bernama Kayulata Mahosadi. Khasiatnya membuat orang sakit menjadi sembuh, orang lemah jadi perkasa bahkan orang mati yang belum waktunya bisa hidup lagi. Setelah badai es reda,  Anwar melanjutkan perjalanan. Anwar memutuskan untuk tidak kembali ke Kusniyamalebari. Dalam pengembaraannya, ia bertemu dua malaikat bekas bawahan Azazil, Harut dan Marut. Anwar belajar banyak dari mereka diantaranya ilmu teleportasi dan meraga sukma. Ketika ditanya dimana letak surga dan neraka, mereka membohongi Anwar bahwa surga dan neraka itu ada di ujung dunia. Anwar yang polos segera mencari ujung dunia namun semakin dicari ujung dunia itu tak pernah ada. Anwar terus mengembara ke seluruh dunia selama bertahun-tahun karenannya. Lalu sampailah ia di benua Afrika. Di sana ia bertemu dengan salah satu paman dan bibinya, Latta dan Ujwa (Uzza). Mereka adalah salah satu putra-putri Nabi Adam yang memilih mengikuti Kabil dan murtad dari jalan Adam. Di sana, Anwar belajar ilmu sihir, ilmu perbintangan, ilmu astrologi, ilmu meramal, ilmu berbicara dengan hewan dan tumbuhan, dan cara-cara agar tetap awet muda walaupun sudah berumur panjang. Anwar kemudian bertanya tentang letak Taman Surga dan Kerak Neraka. Latta dan Ujwa mengatakan kalau ingin menemukan kedua tempat itu, harus mengarungi Sungai Nil hingga ke hulunya. Lalu mendaki Gunung Kapsi yang sedang bergemuruh dan mengeluarkan api yang menyala-nyala. Anwar yang polos kemudian berpamitan kepada paman dan bibinya itu.



Turunnya Mustika Retnadumilah

Setelah mengarungi Sungai Nil yang panjang itu, sampailah di hulunya yaitu Danau Jambirijahari. Setelah mengambil air di sana untuk keperluan minum, Anwar mendaki gunung yang terus menyemburkan lahar dan api. Sesampainya di puncak ia kembali bertafakur memohon bisa melihat Taman Surga dan Kerak Neraka. Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan permohonan Anwar. Pemandangan di sekeliling Anwar berubah menjadi indah dan menyenangkan layaknya Taman Surga lalu seketika berubah menjadi seram dan mengerikan layaknya di dasar Kerak Neraka. Pemandangan itu menghilang setelah turunnya sebuah batu permata berbentuk bulat sempurna dari langit. Bersamaan itu, terdengarlah suara bahwa itulah Mustika Retnadumilah. Dengan batu permata itu, Anwar bisa melihat pemandangan dunia dan seisi jagatraya, melihat indahnya Taman Surga, dan ngerinya Kerak Neraka.



Anwar Menghindari Air Bah

Setelah menerima Mustika Retnadumilah, dia mengembara ke arah timur, melewati Kusniyamalebari. Ketika melewati perbatasan, dia melihat ada badai topan dan air bah besar melanda seluruh Kusniyamalebari. Rumah-rumah penduduk, pepohonan, hutan, bukit bahkan gunung-gunung terendam air. tidak ada yang tersisa kecuali sebuah bahtera yang mengarungi air bah dahsyat itu. Di dalam bahtera itu ada delapan puluh empat orang beserta hewan-hewan yang ada disana. Salah satu orang itu dikenal oleh Anwar. Dia keturunan Anwas, yaitu Nuh, anak Lamekh, cicit Khanukh (Idris). Suara dari langit muncul dan kemudian menjelaskan pada Anwar bahwa Nuh sudah ditunjuk olehNya untuk menggantikan Syis dan Khanukh sebagai nabi malah menjadi rasul pertama. Di masa Nabi Nuh banyak orang telah lupa ajaran Adam, Syis, dan Khanukh (Idris) sehingga banyaklah kerusakan maka Tuhan pun memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat bahtera dan mengangkut keluarganya dan semua orang yang masih ikut dengannya beserta segala hewan berpasang-pasangan. Lalu Yang Maha Kuasa menurunkan badai topan dan hujan lebat untuk menenggelamkan orang-orang yang berbuat kerusakan itu. Anwar kemudian mengarungi air bah itu dengan menumpang diam-diam di bahtera selama berhari-hari tanpa ketahuan. Begitu empat puluh hari, air bah mulai surut. Sebelum Anwar melanjutkan perjalanan, dilihatnya Nabi Nuh yang baru turun dari bahtera melakukan syukuran dan di atasnya pelangi terbentang tanda Sanghyang Maha Agung menerima syukuran itu.



Bertukarnya Raga kasar dengan Raga Halus.

Lalu, sampailah ia di tanah Hindustan. Di sana, ia kembali mengembara tanpa tujuan selama berabad-abad mengelilingi Benua Asia hingga tepi Samudera besar sehingga tanpa terasa bahwa waktu sudah berganti jaman. Kala itu sudah zaman nabi Musa-dan Harun, dua bersaudara cicit Nabi Yakub.



Imajiner Nuswantoro
Anwar menjadi manusia berbadan ruhani



Setelah sekian lama,ia kembali bertemu dengan Azazil sekali lagi dan diberi ilmu baru. Diantaranya : ilmu pangiwa-pangenen, ilmu patraping panitisan (ilmu reinkarnasi), ilmu weruh sedurung winarah (tahu perkara gaib dan bisa melihat masa depan),  ilmu mati sajroning urip, urip sajroning mati, hingga ilmu cakra manggilingan (ilmu untuk melakukan perjalanan, menghentikan, dan memutarbalikkan waktu). Azazil kemudian berkata pada Anwar”cucuku, bertapalah di pulau Laksadwipa (Laksadewa) di barat jazirah Hindustan. Setelah itu kau akan menjadi panjang umur sepenuhnya.” “baik, guru Azazil. Titahmu akan ku junjung dan ku laksanakan.” Singkat cerita, Anwar bertapa dengan melihat matahari. Bila matahari terbit maka ia menghadap timur. Bila tengah hari ia menengadahkan kepala dan bila matahari terbenam, ia menghadap ke barat. Atas kehendak Tuhan yang Maha Kuasa, setelah tujuh tahun bertapa, Anwar telah hilang raga jasmaninya, hanya tinggal raga rohani saja dan berpindah ke dimensi para jin. Bumi dan langit tiada beda, terang tiada matahari, tiada bulan. Semuanya menjadi tiada dalam rengkuhan cahaya hingga seluruh kehendaknya langsung mendapat restu Sanghyang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam. Anwar mengganti namanya menjadi Sang Dewa Nurcahya.



Asal Mula Dewa Pertama

Singkat cerita, Sang Dewa Nurcahya telah menguasai segala ilmu. Semenjak berbadan ruhani, dengan seizin Yang Maha Kuasa, ia mampu menundukkan bangsa jin di pulau Dewa (pulau ini membentang dari Malwadwipa hingga ke Laksadwipa) dan menjadi dipuja para jin. Prabu Nurhadi, raja jin kerajaan Pulau Dewa berkeinginan untuk mencobai Nurcahya. Bertemulah Prabu Nurhadi dan Dewa Nurcahya. Berbagai kesaktian diadu hinggalah Prabu Nurhadi kalah telak. Prabu Nurhadi kemudian mempersembahkan putrinya, Dewi Nurrini untuk Sang Dewa Nurcahya. Pernikahan pun dilangsungkan dan dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang putra yang berwujud akyan (badan halus) bernama Nurrahsa dan itulah pertama kalinya bangsa dewa muncul sebagai tandingan para malaikat. Sang Dewa Nurcahya menuliskan kisah hidupnya di dalam sebuah kitab ajaib bernama Pustakadarya. Kitab itu tak berwujud namun dapat ditulis hanya dengan suara dan hanya dapat dibaca dengan mata batin. Saat Nurrahsa telah dewasa dan sudah berumah tangga, kini saatnya Sang Dewa Nurcahya turun takhta dan segera melantik sang putra menjadi raja baru Pulau Dewa. Kitab Pustakdarya, Mustika Retnadumilah, Cupu Kamandalu yang berisi Tirta Maolkayat, dan Kayulata Mahosadi juga diwariskan padanya. Setelah itu, Sang Dewa Nurcahya menitis dan bersatu jiwa raga dengan sang putra. Sementara Dewi Nurrini bersatu dengan menantunya, Dewi Sarwati, istri Nurrahsa.




Imajiner Nuswantoro 

Imajiner Nuswantoro








Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)