Banten Sebelum Zaman Islam - Kajian Arkeologi di Banten Girang (932? - 1526)
Buku "Banten Sebelum Zaman Islam: Kajian Arkeologi di Banten Girang 932? - 1526" merupakan karya penting dari Claude Guillot, Lukman Nurhakim, dan Sonny Wibisono yang merekonstruksi sejarah Banten selama enam abad sebelum masa Islamisasi.
Berikut keterangan utama dari kajian arkeologi tersebut:
- Pusat Pemerintahan Kuno: Banten Girang (berarti "Banten di Hulu") terletak sekitar 10 km dari pelabuhan Banten (Banten Lama) di sepanjang Sungai Cibanten. Situs ini merupakan ibu kota atau pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di wilayah Banten sejak abad ke-10.
- Pusat Perdagangan Internasional: Temuan arkeologis berupa keramik asing (terutama dari Cina), manik-manik, dan mata uang menunjukkan bahwa Banten Girang sudah terlibat dalam jejaring perdagangan Asia jauh sebelum kedatangan Islam. Komoditas utamanya adalah lada yang ditanam di Banten Selatan hingga Lampung.
- Struktur Pertahanan: Hasil penggalian (1988–1992) mengungkap adanya struktur kota dengan sistem pertahanan berupa parit dan dinding tanah yang mengelilingi permukiman.
- Kehidupan Keagamaan: Ditemukan bukti pengaruh Hindu-Buddha, termasuk Arca Dwarapala di Sungai Cibanten dan gua-gua buatan untuk fungsi spiritual. Situs ini juga memiliki keterkaitan spiritual dengan Gunung Pulosari yang dianggap tempat suci.
- Akhir Masa Pra-Islam: Eksistensi Banten Girang sebagai pusat Hindu-Buddha berakhir pada tahun 1526 setelah ditaklukkan oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Sunan Gunung Jati. Pusat pemerintahan kemudian dipindahkan ke pesisir (Banten Lama) oleh Sultan Hasanuddin.
PC


