Manuskrip Naskah Kuno Durma

0

Manuskrip Naskah Kuno Durma



https://syehhakediri.blogspot.com/2024/11/manuskrip-naskah-kuno-durma.html


Manuskrip adalah dokumen tertulis yang tidak dicetak atau diperbanyak dengan cara lain, dan memiliki arti penting bagi kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dalam kajian Filologi, kata naskah dan manuskrip digunakan secara bergantian. 

 

Sementara itu, Durma juga bisa merujuk pada tembang macapat yang bertemakan suasana seram, menakutkan, mencekam, dan horor. Tembang Durma memiliki watak yang keras, tegas, dan penuh dengan gejolak amarah. 

 

Berikut adalah beberapa hal terkait Tembang Durma :

Kata "durma" berasal dari bahasa Jawa klasik yang artinya harimau. 

Tembang Durma menggambarkan kisah manusia yang telah memperoleh kenikmatan dari tuhan dan berada dalam kondisi kecukupan. 

Amanat tembang Durma adalah memberikan gambaran mengenai ikatan yang erat antara setiap manusia sebagai makhluk sosial. 

Tembang Durma dibuat dengan aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya, seperti jumlah baris, suku kata, dan nada


Dalam mempelajari budaya Jawa, masyarakat Indonesia akan mempelajari tentang amanat tembang durma beserta contohnya. Tembang adalah salah satu karya sastra yang masih terus dilestarikan sampai saat ini.

Walaupun tembang tidak terkenal seperti di zaman dulu, tetapi masih ada beberapa masyarakat di Jawa yang masih menampilkan tembang di acara-acara tertentu. Setiap tembang yang ditampilkan memiliki makna tersendiri.



Pengertian dan Amanat Tembang Durma

Mengutip dari buku Serat Kandha Suluk Tembang Wayang, Bram Dalgunadi, (hal 115), pengertian tembang durma adalah berasal dari kata “durma”, yaitu bahasa Jawa klasik yang artinya harimau.

Sesuai dengan arti kata tersebut, tembang durma memiliki watak atau biasa digunakan dalam suasana seram. Biasanya, digunakan untuk menampilkan suasana yang menegangkan, horor, menakutkan, atau membuat miris.

Adapun amanat tembang durma adalah memberikan gambaran mengenai ikatan yang erat antara setiap manusia sebagai makhluk sosial. Jadi, dalam menjalani kehidupannya, setiap manusia akan membutuhkan manusia yang lain.


Karena rasa saling bergantung ini membuat manusia merasa harus bertanggung jawab terhadap orang lain dan diri sendiri. Tanggung jawab utama yang harus dilakukan manusia adalah menghargai adanya perbedaan.

Setiap manusia tidak boleh memaksakan kehendak orang lain yang berbeda pandangan. Sikap tanggung jawab ini yang bisa menghilangkan rasa curiga atau berpikiran negatif dengan orang lain sehingga semua manusia bisa hidup dengan nyaman.

Sama dengan tembang jenis lainnya, tembang durma dibuat dengan aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, setiap manusia yang mendengar tembang durma harus memahami dengan benar amanat yang disampaikan.



Contoh Tembang Durma

Di bawah ini ada beberapa contoh tembang durma yang sering ditampilkan di acara tertentu masyarakat Jawa.


Contoh 1

Ingkang Eling Iku Ngelingake Marang

Sanak dulur kang lali

Kang nedya raharja

Mangkono tindak sira

Yen tan ngugu ya uwis

Teka menenga

Mung aja sok ngrasani



Contoh 2

Bener luput ala becik lawan beja

Cilaka mapan saking

Ing badan priyangga

Dudu saking wong liya

Pramila den ngati ati

Sakeh durgama

Singgahana den aglis


Walaupun tembang durma biasanya dibawakan di suasana yang menegangkan, tetapi masyarakat tetap harus mengerti amanat tembang durma agar bisa menerapkannya dalam kehidupan. 



20 Contoh Tembang Durma dalam Bahasa Jawa

Ada beragam jenis tembang macapat yang dikenal dalam karya sastra Jawa. Kali ini akan diulas pengertian dan contoh tembang durma. Tembang merupakan lirik atau sajak yang memiliki irama nada. Salah satu jenis tembang macapat adalah tembang durma. Durma berasal dari bahasa Jawa klasik yang artinya macan atau harimau. Seperti arti namanya, tembang ini diperuntukkan untuk lirik-lirik dengan suasana seram, menakutkan, mencekam, membuat miris, horor, dan tegang.



Tembang durma memiliki aturan penulisan sebagai berikut :


https://syehhakediri.blogspot.com/2024/11/manuskrip-naskah-kuno-durma.html



Contoh Tembang Durma   


Wadya bala Siyem kalawan Manila,

kagyatira tan sipi,

mundur tur uninga,

marang narendranira,

yen wonten sarpa gang prapti,

saking jro taman,

galak anerak baris.



Paman paman apa wartane ing ndalan

Ing ndalan akeh pepati

Mati kena apa

Mati suduk sarira

Ing jaja trusing gigir

Akari ragaBadan kari anglinthing



Taruh hidup ini dengan bersahaja

Bahagya disyukuri

Sapari-polahin peksi

Tak cathet sajroning batos



Damarwulan aja ngucireng ngayuda 

Baliya sun anteni 

Mangsa sun mundura 

Lah Bisma den prayitna 

Katiban pusaka mami 

Mara tibakna Curiganira nuli (Langendriyan)



Risang sarpa uninga pinagut yuda,

sumebut andhatengi,

sumembur wisanya,

kadya riris sumebar,

wadya bala anadhahi,

surak gumerah,

lan tengara tinitir.



Angur silih den adu padha manungsa,

babegjan padha siji,

iku buron sarpa,

tan nganggo kira-kira,

lawan ora idhep wedi,

daya cilika,

gedhe sapuluh tiris.



Gumarudug anawat sela lir udan,

tanapi gada bindi,

kunta myang senjata,

tibeng angganing sarpa,

datan mantra anedhasi,

sangsaya krura,

molah amuter pethit,



Duk miarsa Subali madeg krodhanya,

sugal dennya nauri:apa talingira,

dene kabina-bina,

ambegmu angluluwihi,

ndhasmu tan kaprah,

buta gedheging bumi.



Maputeran panyabete kering kanan,

sinosog waos biting,

tan mantra tumama,

saya keh wadya bala,

kang ngemasi kapalipis,

kang teguh rosa,

picondhang mempis-mempis.



Alon matur mring kang paman 

Sri Manila,dede wados puniki,paran karseng rama,

hulun datan kawagang,

ngandika Sri Bramasekti,

sira menenga,

ingsun arsa mungkasi.



Dhuk miarsa krodha prabu Dasamuka,

denira wre Subali,sedya ngluwihana,

lawan isining jagad,

nudingi asru dennya ngling,

kagila-gila,

si monyet ingkang pinrih.



Kadya kilat sisik mubyar kabaskaran,

yayah tinubing rukmi,sumiyut gumebyar, 

nibani wadyabala,

sewu prajurit kaplipis,

remuk sumebar,

singlar-singlar keh mati.   



Ing wusana bubar larut asar-saran,

tan kena den adhangi,

mring para punggawa,

ginebugan ameksa,

kang saweneh ana angling,

sapa kang kelar,

tumanggah mesthi mati.



Wadya wuri giniring mring ratunira,

bentet samya ngebyuki,

surak lir ampuhan,tambuh kehing gegaman,

sang naga molah nguwati,

nembur magalak,

hruning wisa lir riris.   



Solahing kang yuda ananggulang sarpa,

tan mantra angawali,

malah keh picondhang,

duka prabu kalihnya,

mangsah ratanira gumrit,

mangekapada,menthang langkap pinusthi.



Datan kewran karya tangkising kagunan,

sang mindha sarpa nuli,manjongok angakak,

meh parek lawan rata,

sirahing naga ngungkuli,

rataning nata,

netra katon gumilir.   



Diyu ditya manungsa sanadyan dewa,

nora keha nimbangi,

guna kuringaprang,

mengko monyet ngalunyat,

peksa lumuwih neng bumi,

lah kalahena,

wuk kuring aprang dhingin.



Sining jagad apa sira dhewe ingkang,

sineren guna sekti,

buta palawija,

migena wong atapa,

yen sira kudu ajurit,

lah tekakena,

budimu sun kembari.   



Krodha prabu Rawana narik candrasa,

pinrang luput ngoncati,

Subali malumpat,

mbedhol wit gorarupa,

pinuter saengga giri,

Sri Dasamuka,

pinupuh angoncati.


Nateng Siyem kalawan nateng Manila,prapta tunggiling kardi,harsa amisesa,

marang randha Dhadhapan,

yata risang sarpa uning,

yen praptanira,

rising narpati kalih.



Manuskrip Naskah Kuno Durma

Manuskrip adalah dokumen tertulis yang tidak dicetak atau diperbanyak dengan cara lain, dan memiliki arti penting bagi kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dalam kajian Filologi, kata naskah dan manuskrip digunakan secara bergantian. 

 

Sementara itu, Durma juga bisa merujuk pada tembang macapat yang bertemakan suasana seram, menakutkan, mencekam, dan horor. Tembang Durma memiliki watak yang keras, tegas, dan penuh dengan gejolak amarah. 

 

Berikut adalah beberapa hal terkait Tembang Durma :

Kata "durma" berasal dari bahasa Jawa klasik yang artinya harimau. 

Tembang Durma menggambarkan kisah manusia yang telah memperoleh kenikmatan dari tuhan dan berada dalam kondisi kecukupan. 

Amanat tembang Durma adalah memberikan gambaran mengenai ikatan yang erat antara setiap manusia sebagai makhluk sosial. 

Tembang Durma dibuat dengan aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya, seperti jumlah baris, suku kata, dan nada


Dalam mempelajari budaya Jawa, masyarakat Indonesia akan mempelajari tentang amanat tembang durma beserta contohnya. Tembang adalah salah satu karya sastra yang masih terus dilestarikan sampai saat ini.

Walaupun tembang tidak terkenal seperti di zaman dulu, tetapi masih ada beberapa masyarakat di Jawa yang masih menampilkan tembang di acara-acara tertentu. Setiap tembang yang ditampilkan memiliki makna tersendiri.



Pengertian dan Amanat Tembang Durma

Mengutip dari buku Serat Kandha Suluk Tembang Wayang, Bram Dalgunadi, (hal 115), pengertian tembang durma adalah berasal dari kata “durma”, yaitu bahasa Jawa klasik yang artinya harimau.

Sesuai dengan arti kata tersebut, tembang durma memiliki watak atau biasa digunakan dalam suasana seram. Biasanya, digunakan untuk menampilkan suasana yang menegangkan, horor, menakutkan, atau membuat miris.

Adapun amanat tembang durma adalah memberikan gambaran mengenai ikatan yang erat antara setiap manusia sebagai makhluk sosial. Jadi, dalam menjalani kehidupannya, setiap manusia akan membutuhkan manusia yang lain.


Karena rasa saling bergantung ini membuat manusia merasa harus bertanggung jawab terhadap orang lain dan diri sendiri. Tanggung jawab utama yang harus dilakukan manusia adalah menghargai adanya perbedaan.

Setiap manusia tidak boleh memaksakan kehendak orang lain yang berbeda pandangan. Sikap tanggung jawab ini yang bisa menghilangkan rasa curiga atau berpikiran negatif dengan orang lain sehingga semua manusia bisa hidup dengan nyaman.

Sama dengan tembang jenis lainnya, tembang durma dibuat dengan aturan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Oleh karena itu, setiap manusia yang mendengar tembang durma harus memahami dengan benar amanat yang disampaikan.



Contoh Tembang Durma

Di bawah ini ada beberapa contoh tembang durma yang sering ditampilkan di acara tertentu masyarakat Jawa.


Contoh 1

Ingkang Eling Iku Ngelingake Marang

Sanak dulur kang lali

Kang nedya raharja

Mangkono tindak sira

Yen tan ngugu ya uwis

Teka menenga

Mung aja sok ngrasani



Contoh 2

Bener luput ala becik lawan beja

Cilaka mapan saking

Ing badan priyangga

Dudu saking wong liya

Pramila den ngati ati

Sakeh durgama

Singgahana den aglis


Walaupun tembang durma biasanya dibawakan di suasana yang menegangkan, tetapi masyarakat tetap harus mengerti amanat tembang durma agar bisa menerapkannya dalam kehidupan. 



20 Contoh Tembang Durma dalam Bahasa Jawa

Ada beragam jenis tembang macapat yang dikenal dalam karya sastra Jawa. Kali ini akan diulas pengertian dan contoh tembang durma. Tembang merupakan lirik atau sajak yang memiliki irama nada. Salah satu jenis tembang macapat adalah tembang durma. Durma berasal dari bahasa Jawa klasik yang artinya macan atau harimau. Seperti arti namanya, tembang ini diperuntukkan untuk lirik-lirik dengan suasana seram, menakutkan, mencekam, membuat miris, horor, dan tegang.


Tembang durma memiliki aturan penulisan sebagai berikut :


https://syehhakediri.blogspot.com/2024/11/manuskrip-naskah-kuno-durma.html


https://syehhakediri.blogspot.com/2024/11/manuskrip-naskah-kuno-durma.html



Contoh Tembang Durma   


Wadya bala Siyem kalawan Manila,

kagyatira tan sipi,

mundur tur uninga,

marang narendranira,

yen wonten sarpa gang prapti,

saking jro taman,

galak anerak baris.



Paman paman apa wartane ing ndalan

Ing ndalan akeh pepati

Mati kena apa

Mati suduk sarira

Ing jaja trusing gigir

Akari ragaBadan kari anglinthing



Taruh hidup ini dengan bersahaja

Bahagya disyukuri

Sapari-polahin peksi

Tak cathet sajroning batos



Damarwulan aja ngucireng ngayuda 

Baliya sun anteni 

Mangsa sun mundura 

Lah Bisma den prayitna 

Katiban pusaka mami 

Mara tibakna Curiganira nuli (Langendriyan)



Risang sarpa uninga pinagut yuda,

sumebut andhatengi,

sumembur wisanya,

kadya riris sumebar,

wadya bala anadhahi,

surak gumerah,

lan tengara tinitir.



Angur silih den adu padha manungsa,

babegjan padha siji,

iku buron sarpa,

tan nganggo kira-kira,

lawan ora idhep wedi,

daya cilika,

gedhe sapuluh tiris.



Gumarudug anawat sela lir udan,

tanapi gada bindi,

kunta myang senjata,

tibeng angganing sarpa,

datan mantra anedhasi,

sangsaya krura,

molah amuter pethit,



Duk miarsa Subali madeg krodhanya,

sugal dennya nauri:apa talingira,

dene kabina-bina,

ambegmu angluluwihi,

ndhasmu tan kaprah,

buta gedheging bumi.



Maputeran panyabete kering kanan,

sinosog waos biting,

tan mantra tumama,

saya keh wadya bala,

kang ngemasi kapalipis,

kang teguh rosa,

picondhang mempis-mempis.



Alon matur mring kang paman 

Sri Manila,dede wados puniki,paran karseng rama,

hulun datan kawagang,

ngandika Sri Bramasekti,

sira menenga,

ingsun arsa mungkasi.



Berikut Makna Tembang Durma.

Durma mampu memberikan gambaran ikatan yang sangat erat dan kuat antar manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam melakoni kehidupannya, hampir semua manusia mempunyai ketergantungan pada manusia yang lain.


Adanya ketergantungan ini seringkali membuat manusia seperti merasa dituntut agar bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain.


Terkait tanggung jawab paling utama adalah dalam kehidupan manusia adalah menghargai adanya perbedaan. Manusia tidak boleh memaksakan kehendak sesuai dengan kemauan dirinya sendiri.


Sifat tanggung jawab hendaknya selalu diutamakan karena dia mampu melahirkan rasa nyaman sekalian rasa yakin terhadap diri sendiri maupun orang lain.


Dengan senantiasa memegang teguh rasa bertanggung-jawab ikatan ketergantungan antara manusia dengan sesamanya juga jadi serasi serta harmonis.


Sehingga dapat dikatakan tanggungjawab inilah yang mampu melenyapkan rasa saling curiga serta buruk sangka dalam kehidupan manusia.


Saling percaya dan senantiasa bertanggungjawab atas tugas yang diembannya merupakan senjata utama manusia dalam melestarikan jenisnya selama ribuan tahun lamanya.


Seperti tembang macapat lainnya penciptaan tembang durma diikat dengan aturan yang telah ditetapkan sejak dulu kala. Terkait dengan aturan atau paugeran yang mengikat dalam penciptaan tembang durma adalah sebagai berikut :


Paugeran Tembang Durma

Tembang durma memiliki paugeran sebagai berikut :


Guru Gatra

Jumlah gatra yang dimiliki tembang durma sebanyak tujuh.

Guru Lagu

Gatra 1 = a

Gatra 2 = i

Gatra 3 = a

Gatra 4 = a

Gatra 5 = i

Gatra 6 = a

Gatra 7 = a

Guru Wilangan

Gatra 1 = 12 kata

Gatra 2 = 7 kata

Gatra 3 = 6 kata

Gatra 4 = 7 kata

Gatra 5 = 8 kata

Gatra 6 = 5 kata

Gatra 7 = 7 kata


Setelah mengetahui paugeran atau aturan yang ada dalam tembang durma. Sekarang kamu dapat membuat tembang durma versimu sendiri.



Berbagai Contoh Tembang Durma Beserta Artinya :


Ingkang eling Iku ngelingake marang

sanak dulur kang lali

Kang nedya raharja

Mangkono tindak sira

Yen tan ngugu ya uwis

Teka menenga

Mung aja sok ngrasani


Artinya :

Yang sadar itu ingatlah pada

sanak saudara yang lupa

cuma ingin hidup sejahtera

itulah yang harus dilakukan

kalau tidak percaya ya sudah

Tinggal diam saja

Hanya jangan membicarakannya di belakang



Bener luput ala becik lawan beja

cilaka mapan saking

ing badan priyangga

dudu saking wong liya

pramila den ngati ati

sakeh durgama

singgahana den aglis


Artinya :

Benar, salah, kurang baik, baik, 

demikian juga keberuntungan

celaka bersemayam dari

dalam dirinya sendiri

bukan dari orang lain

buat itu barhati- hatilah

dari banyaknya bahaya

menyingkirlah lekas



Babo babo teka age tandhingana

Sun prajurit linuwih

Sekti mandraguna

Prawira ing ngayuda

Kang tandhing haywa lumaris

Tan wurung sira

Sirna ndepani bumi


Artinya :

Mari kesini lekas lawanlah

Saya prajurit mumpuni

sakti mandraguna

kesatria dalam peperangan

yang melawan telah banyak

pada kesimpulannya kamupun

mati tersungkur di tanah



Ingkang eling Iku ngelingana marang

sanak kadang kang lali

Den nedya raharja

Mangkono tindak ira

Yen tan ngugu ya uwis

Teka menenga

Mung aja sok ngrasani


Artinya :

Yang sadar itu ingatlah pada

sanak saudara yang lupa

cuma ingin hidup sejahtera

itulah yang harus dilakukan

kalau tidak percaya ya sudah

Tinggal diam saja



Bener luput ala becik lawan beja

Cilaka mapan saking

Ing badan priyangga

Dudu saking wong liya

Pramila den ngati ati

Sakeh durgama

Singgahana den aglis


Artinya :

Benar salah, buruk baik, dan beruntung,

atau celaka sebenarnya berasal dari,

diri sendiri,

bukan dari orang lain.

Maka dari itu berhati-hatilah,

semua fitnah,

dihindari dan diingat selalu



Ingkang tansah eling mring lampah utama

Nut kandhanipun ati

Ja ngenut angkara

Kudu bisa kok singkiri

Godhane setan

Sing sok ngapusi ati


Artinya :

Ingatlah selalu perilaku utama

Ikutilah kata hati

Jangan mengikuti angkara

Harus bisa kamu hindari

Godaan setan

Yang kadang menipu hati



Susah lan seneng nggeguyu bebarengan

Ing tengahipun wengi

Ngunjukake donga

Marang Gusti Pangeran

Kang njagi jagad saisi

Duk jaman kuna

Tekan jaman saiki


Artinya :

Susah dan senang tertawa bersama

Di tengah malam

Melantunkan donga

Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

Yang menjaga dunia

Sejak jaman kuna

Hingga jaman sekarang



Nyawang langit kang nembe kelangan surya

Sedhih rasane ati

Akeh wong kang gela

Merga ngrasa kapusan

Janjine mung kari janji

Getun tan guna

Wis aja dibaleni


Artinya :

Memandang langit yang baru kehilangan matahari

Sedhih rasanya hati

Banyak orang yang kecewa

Karena merasa tertipu

Janji tingglah janji

Menyesal sudah tiada berguna

Jangan diulangi lagi



Nyawang langit wengi rinenggan rembulan

Tentrem rasane ati

Samungkure ndonga

Mring kang Maha Kuasa

Ing alam kang padhang iki

Aja sumelang

Marang petenge wengi


Artinya

Memandang langit malam yang berhiaskan rembulan

Tentramlah hatiku

Setelah memanjatkan doa

Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

Di alam yang terang ini

Jangan khawatir

Dengan gelapnya malam



Nganti sesuk kapan anggenku ndedonga

Bakal trus daklampahi

Nadyan nyawa oncat

Bakal terus ndedonga

Mring Gusti Kang Maha Suci

Gusti Kang Nyata

Ngripta jagad saisi


Artinya :

Sampai besuk kapan aku berdoa

Akan terus kulakukan

Meski nyawa ini pergi

Aku akan terus berdoa

Kepada Tuhan Yang Maha Suci

Tuhan Yang Nyata

Menciptakan dunia dan seisinya



Imajiner Nuswantoro

ꦆꦩꦗꦶꦤꦺꦂꦤꦸꦱ꧀ꦮꦤ꧀ꦠꦺꦴꦫꦺꦴ


Berikut penulis sajikan Manuskrip Naskah Kuno Durma dalam bentuk PDF (Free Download) :


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)