Serat Kalatidha Aksara Jawa

0

 Serat Kalatidha Aksara Jawa



https://syehhakediri.blogspot.com/2024/09/serat-kalatidha-aksara-jawa.html


Raden Ngabehi Rangga Warsita (Jawa : ꦫꦺꦴꦁꦒꦮꦂꦰꦶꦠ, Ronggawarsita[a], 14 Maret 1802–24 Desember 1873) adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.

Syair Serat Kalatidha karya Ronggo Warsito terdiri atas 12 bait dari tembang macapat sinom.


꧇꧑꧇

ꦩꦁꦏꦾꦣꦫꦗꦠꦶꦁꦥꦿꦗ

ꦏꦮꦸꦂꦪꦤ꧀ꦮꦸꦱ꧀ꦱꦸꦚꦫꦸꦫꦶ

ꦫꦸꦫꦃꦥꦔꦿꦺꦲꦶꦁꦈꦏꦫ

ꦏꦫꦤꦠꦤ꧀ꦥꦥꦭꦸꦥꦶ꧉ 

ꦥꦺꦴꦤꦁꦥꦫꦩꦺꦁꦏꦮꦶ

ꦏꦮꦶꦭꦺꦠꦶꦁꦠꦾꦱ꧀ꦩꦭꦠ꧀ꦏꦸꦁ

ꦏꦺꦴꦔꦱ꧀ꦏꦱꦸꦣꦿꦤꦶꦫ

ꦠꦶꦣꦺꦩ꧀ꦠꦤ꧀ꦝꦤꦶꦁꦣꦸꦩꦣꦶ꧉

ꦲꦂꦣꦪꦺꦔꦿꦠ꧀ꦝꦼꦤꦶꦁꦏꦫꦺꦴꦧꦤ꧀ꦫꦸꦧꦺꦣ꧉

1

Mangkya darajating praja

kawuryan wus sunya-ruri

rurah pangrehing ukara

karana tanpa palupi. 

Ponang parameng-kawi

kawileting tyas malatkung

kongas kasudranira

tidhem tandhaning dumadi.

Hardayengrat dening karoban rubeda.

Artinya :

Sekarang derajat negara

terlihat telah suram

pelaksanaan undang-undang sudah rusak

karena tanpa teladan.

Kini, Sang Pujangga

hatinya diliputi rasa sedih, prihatin

tampak jelas kehina-dinannya

amat suram tanda-tanda kehidupan. 

Akibat kesukaran duniawi, bertubi-tubi kebanjiran bencana.



꧇꧒꧇

ꦫꦠꦸꦤꦺꦫꦠꦸꦈꦠꦩ

ꦥꦠꦶꦲꦺꦥꦠꦶꦃꦭꦶꦤꦸꦮꦶꦃ

ꦥꦿꦤꦪꦏꦠꦾꦱ꧀ꦫꦲꦂꦗ

ꦥꦤꦺꦏꦫꦺꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀

ꦥꦫꦤ꧀ꦝꦺꦤꦺꦠꦤ꧀ꦝꦣꦶ

ꦥꦭꦶꦪꦱꦶꦁꦏꦭꦧꦺꦤ꧀ꦝꦸ

ꦩꦭꦃꦱꦁꦏꦶꦤ꧀ꦄꦤ꧀ꦝꦣꦿ

ꦫꦸꦧꦺꦣꦏꦁꦔꦿꦼꦫꦶꦧꦺꦣꦶ꧉

ꦧꦺꦣꦧꦺꦣꦲꦂꦣꦤꦺꦮꦺꦴꦁꦱꦤꦒꦫ

2

Ratune ratu utama

patihe patih linuwih

pra nayaka tyas raharja

panekare becik-becik

parandene tan dadi

paliyasing kalabendu

Malah sangkin andadra

rubeda kang ngreribedi.

Beda-beda hardane wong sanagara.

Artinya :

Raja yang tengah berkuasa adalah raja utama

perdana menterinya pun seorang yang terpilih

para menteri juga bercita-cita menyejahterakan rakyat pegawai aparatnya pun baik-baik,

meski demikian tidak menjadi

penolak atas zaman terkutuk ini,

malahan keadaan semakin menjadi-jadi

berbagai rintangan yang mengganggu. 

Berbeda-beda perbuatan angkara orang seluruh negara.



꧇꧓꧇

ꦏꦠꦠꦔꦶꦠꦔꦶꦱꦶꦫ

ꦱꦶꦫꦱꦁꦥꦫꦩꦺꦁꦏꦮꦶ

ꦏꦮꦶꦭꦺꦠꦶꦁꦠꦾꦱ꧀ꦝꦸꦃꦠꦶꦠ

ꦏꦠꦩꦤ꧀ꦆꦁꦉꦃꦮꦶꦫꦔꦶ

ꦣꦼꦤꦶꦁꦈꦥꦪꦱꦤ꧀ꦝꦶ

ꦱꦸꦩꦫꦸꦤꦄꦤꦫꦮꦁ

ꦥꦁꦭꦶꦥꦸꦂꦩꦤꦸꦲꦫ

ꦩꦼꦠ꧀ꦥꦩꦿꦶꦃꦩꦺꦭꦶꦏ꧀ꦥꦏꦺꦴꦭꦶꦃ

꧋ꦠꦼꦩꦃꦱꦸꦃꦲꦆꦁꦏꦂꦱꦠꦤ꧀ꦥꦮꦼꦮꦼꦏ꧉

3

Katatangi tangisira

sira sang parameng kawi

kawileting tyas duhtita

kataman ing reh wirangi

dening upaya sandi

sumaruna anarawang

panglipur manuhara

met pamrih melik pakolih

temah suh-ha ing karsa tanpa weweka.

Artinya :

Daripada menangis sedih, bangkitlah

wahai Sang Pujangga

meski diliputi penuh duka cita

mendapatkan rasa malu

atas berbagai fitnahan orang 

mereka yang mendekatimu bergaul,

menghibur, seolah membuat enak hatimu,

padahal bermaksud memperoleh keuntungan,

sehingga merusak cita-cita luhur, karena tanpa kehati-hatianmu.



꧇꧔꧇

ꦣꦱꦂꦏꦫꦺꦴꦧꦤ꧀ꦥꦮꦂꦠ

ꦧꦧꦫꦠꦤ꧀ꦈꦗꦂꦭꦩꦶꦱ꧀

ꦥꦶꦤꦸꦣꦾꦣꦝꦾꦥꦔꦂꦱ

ꦮꦼꦏꦱꦤ꧀ꦩꦭꦃꦏꦮꦸꦫꦶ꧉

ꦪꦺꦤ꧀ꦥꦶꦤꦶꦏꦶꦂꦱꦪꦺꦏ꧀ꦠꦶ

ꦥꦼꦣꦃꦄꦥꦄꦤꦺꦁꦔꦪꦸꦤ꧀

ꦄꦤ꧀ꦝꦺꦣꦺꦂꦏꦭꦸꦥꦸꦠꦤ꧀

ꦱꦶꦤꦶꦫꦩꦤ꧀ꦧꦚꦸꦭꦭꦶ꧉

ꦭꦩꦸꦤ꧀ꦠꦸꦮꦸꦃꦣꦝꦶꦏꦼꦏꦼꦩ꧀ꦧꦔꦶꦁꦧꦺꦏ꧉

4

Dhasar karoban pawarta

babaratan ujar lamis

pinudya dadya pangarsa

wekasan malah kawuri.

Yen pinikir sayekti

pedah apa aneng ngayun

andhedher kaluputan

siniraman banyu lali.

Lamun tuwuh dadi kekembanging beka.

Artinya :

Dasarnya terbetik berbagai berita,

kabar angin yang berujar munafik

Sang Pujangga hendak diangkat menjadi pemuka,

akhirnya malahan berada di belakang.

Apabila dipikir-pikir dengan benar

berfaedah apa berada di muka?

Menanam benih-benih kesalahan

disirami oleh air kelupaan. 

Apabila tumbuh berkembang menjadi kesukaran.



꧇꧕꧇

ꦈꦗꦫꦶꦁꦥꦤꦶꦠꦶꦱꦱ꧀ꦠꦿ

ꦄꦮꦮꦫꦃꦄꦱꦸꦁꦥꦼꦭꦶꦁ

ꦆꦁꦗꦩꦤ꧀ꦏꦼꦤꦼꦁꦩꦸꦱꦶꦧꦠ꧀

ꦮꦺꦴꦁꦄꦩ꧀ꦧꦼꦏ꧀ꦗꦠ꧀ꦩꦶꦏꦏꦺꦴꦤ꧀ꦠꦶꦠ꧀꧈

ꦩꦁꦏꦺꦴꦤꦺꦴꦪꦺꦤ꧀ꦤꦶꦠꦺꦤꦶ꧉

ꦥꦼꦣꦃꦄꦥꦄꦩꦶꦠꦸꦲꦸ

ꦥꦮꦂꦠꦭꦭꦮꦺꦴꦫ

ꦩꦸꦤ꧀ꦝꦏ꧀ꦄꦔꦿꦺꦴꦫꦺꦴꦤ꧀ꦠꦄꦠꦶ꧉

ꦄꦔꦸꦂꦧꦪꦔꦶꦏꦺꦠꦕꦫꦶꦠꦺꦁꦏꦸꦤ꧉

5

Ujaring Panitisastra

awawarah asung peling

ing jaman keneng musibat

wong ambek jatmika kontit.

Mangkono yen niteni.

Pedah apa amituhu

pawarta lalawora

mundhak angroronta ati.

Angur-baya ngiketa cariteng kuna.

Artinya :

Menurut buku Panitisastra

memberi ajaran dan peringatan

di dalam zaman yang penuh bencana

bahwa orang berjiwa bijak justru kalah dan berada di belakang.

Demikian apabila mau memperhatikan tanda-tanda zaman.

Apakah gunanya kita percaya

pada berita-berita kosong

justru terasa semakin menyakitkan hati. 

Lebih baik menulis cerita-cerita kuno.



꧇꧖꧇

ꦏꦼꦤꦶꦏꦶꦤꦂꦪꦣꦂꦱꦤ

ꦥꦭꦶꦩ꧀ꦧꦁꦄꦭꦭꦤ꧀ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀꧈

ꦱꦪꦺꦏ꧀ꦠꦶꦄꦏꦺꦃꦏꦼꦮꦭ

ꦭꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦏꦁꦣꦝꦶꦠꦩ꧀ꦱꦶꦭ꧀

ꦩꦱꦭꦲꦶꦁꦔꦻꦴꦫꦶꦥ꧀

ꦮꦲꦤꦶꦫꦠꦶꦤꦼꦩꦸ

ꦠꦼꦩꦲꦤ꧀ꦄꦤꦫꦶꦩ

ꦩꦸꦥꦸꦱ꧀ꦥꦥꦱ꧀ꦛꦺꦤꦶꦁꦠꦏ꧀ꦝꦶꦂ

ꦥꦸꦭꦸꦃꦥꦸꦭꦸꦃꦄꦁꦭꦏꦺꦴꦤꦶꦏꦌꦭꦺꦴꦏꦤ꧀꧈

6

Keni kinarya darsana

palimbang ala lan becik.

Sayekti akeh kewala

lalakon kang dadi tamsil

masalahing ngaurip

wahanira tinemu

temahan anarima

mupus papasthening takdir

puluh-puluh anglakoni kaelokan.

Artinya :

Hal itu dapat digunakan sebagai teladan

untuk membandingkan hal buruk dan baik.

Tentunya banyak juga

lakuan-lakuan yang menjadi contoh

tentang masalah-masalah hidup

hingga akhirnya ditemukannya,

keadaan tawakal (narima),

menyadari akan ketentuan takdir Tuhan,

bagaimana pula hal ini mengalami keanehan.



꧇꧗꧇

ꦄꦩꦺꦤꦔꦶꦗꦩꦤ꧀ꦌꦣꦤ꧀

ꦄꦼꦮꦸꦃꦄꦪꦆꦁꦥꦩ꧀ꦧꦸꦣꦶ

ꦩꦼꦭꦸꦌꦣꦤ꧀ꦤꦺꦴꦫꦠꦲꦤ꧀

ꦪꦺꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦶꦭꦸꦄꦁꦭꦏꦺꦴꦤꦶ

ꦧꦺꦴꦪꦏꦣꦸꦩꦤ꧀ꦩꦺꦭꦶꦏ꧀

ꦏꦭꦶꦫꦺꦤ꧀ꦮꦏꦱꦤꦶꦥꦸꦤ꧀꧈

ꦣꦶꦭꦭꦃꦏꦼꦂꦱꦄꦭ꧀ꦭꦃ

ꦧꦼꦒ꧀ꦗꦧꦼꦒ꧀ꦗꦤꦶꦁꦏꦁꦭꦭꦶ

ꦭꦸꦮꦶꦃꦧꦼꦒ꧀ꦗꦏꦁꦌꦭꦶꦁꦭꦤ꧀ꦮꦱ꧀ꦥꦣ

7

Amenangi jaman edan

ewuh aya ing pambudi

Melu edan nora tahan

yen tan milu anglakoni

boya kaduman melik

kaliren wakasanipun.

Dilalah kersa Allah

begja-begjaning kang lali

luwih begja kang eling lan waspada.

Artinya :

Menghadapi zaman edan

keadaan menjadi serba sulit

turut serta edan tidak tahan

apabila tidak turut serta melakukan

tidak mendapatkan bagian

akhirnya menderita kelaparan.

Sudah kehendak Tuhan Allah

betapun bahagianya orang yang lupa

lebih berbahagia mereka yang sadar dan waspada.



꧇꧘꧇

ꦱꦩꦺꦴꦤꦺꦴꦆꦏꦸꦧꦧꦱꦤ꧀

ꦥꦣꦸꦥꦣꦸꦤꦶꦁꦏꦥꦺꦔꦶꦤ꧀

ꦄꦼꦁꦒꦶꦃꦩꦏꦺꦴꦠꦺꦤ꧀ꦩꦤ꧀ꦝꦺꦴꦥ꧀ꦭꦁ

ꦧꦼꦤꦼꦂꦆꦁꦏꦁꦔꦫꦤꦶ

ꦤꦔꦶꦁꦱꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁꦧꦠꦶꦤ꧀

ꦱꦼꦗꦠꦶꦤꦺꦚꦩꦸꦠ꧀ꦚꦩꦸꦠ꧀꧈

ꦮꦶꦱ꧀ꦠꦸꦮꦄꦫꦺꦥ꧀ꦄꦥ

ꦩꦸꦲꦸꦁꦩꦲꦱꦶꦁꦔꦱꦺꦥꦶ

꧋ꦱꦸꦥꦪꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦥꦫꦶꦩꦩꦤꦶꦁꦲꦾꦁꦱꦸꦏ꧀ꦱ꧀ꦩ꧉

8

Samono iku babasan

padu-paduning kapengin

enggih makoten Man Doplang

bener ingkang ngarani

nanging sajroning batin

sejatine nyamut-nyamut.

Wis tuwa arep apa

muhung mahasing ngasepi

supayantuk parimamaning Hyang Suksma.

Artinya :

Demikianlah perumpamaannya

padahal mereka menginginkan,

bukankah demikian Paman Doplang?

Benar juga yang menyangkanya,

namun di dalam batin

sesungguhnya hal itu masih jauh.

Sudah tua mau apalagi,

sebaiknya menjauhkan diri dari keramaian duniawi

supaya mendapatkan anugerah kasih Tuhan Yang Maha Esa.



꧇꧙꧇

ꦧꦺꦣꦭꦤ꧀ꦏꦁꦮꦸꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦠꦺꦴꦱ

ꦏꦶꦤꦫꦶꦭꦤ꧀ꦆꦁꦲꦾꦁꦮꦶꦣꦶ

ꦱꦠꦶꦧꦩꦭꦔꦤꦺꦪ

ꦠꦤ꧀ꦱꦸꦱꦃꦔꦸꦥꦪꦏꦱꦶꦭ꧀

ꦱꦏꦶꦁꦩꦔꦸꦤꦃꦥꦿꦥ꧀ꦠꦶ

ꦥꦔꦺꦫꦤ꧀ꦥꦫꦶꦁꦥꦶꦠꦸꦭꦸꦁ

ꦩꦂꦒꦱꦩꦤꦶꦁꦠꦶꦠꦃ

ꦫꦸꦥꦱꦧꦫꦁꦥꦶꦏꦺꦴꦭꦶꦃ

ꦥꦫꦤ꧀ꦝꦺꦤꦺꦩꦱꦶꦃꦠꦧꦺꦫꦶꦆꦏ꦳꧀ꦠꦶꦪꦂ꧉

9

Beda lan kang wus santosa

kinarilan ing Hyang Widhi

satiba malanganeya

tan susah ngupaya kasil

saking mangunah prapti

Pangeran paring pitulung

marga samaning titah

rupa sabarang pikolih

parandene masih taberi ikhtiyar.

Artinya :

Berbeda bagi mereka yang telah teguh sentosa jiwanya dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa

betapapun tingkah laku perbuatannya

tidak susah untuk mendapatkan penghasilan

oleh karena dari datangnya pertolongan Tuhan

Tuhan senantiasa memberi petunjuk dan pertolongan

jalannya melalui sesama makhluk

berupa segala sesuatu yang bermanfaat.

Meskipun demikian, dia masih tetap tekun rajin berusaha.



꧇꧑꧐꧇

ꦱꦏꦣꦫꦺꦭꦶꦤꦏꦺꦴꦤꦤ꧀

ꦩꦸꦁꦠꦸꦩꦶꦤ꧀ꦝꦏ꧀ꦩꦫꦄꦠꦶ

ꦄꦁꦒꦺꦂꦠꦤ꧀ꦝꦣꦶꦥꦿꦏꦫ

ꦏꦫꦤꦮꦶꦫꦪꦠ꧀ꦩꦸꦤꦶ

ꦆꦏ꦳꧀ꦠꦶꦪꦂꦆꦏꦸꦪꦼꦏ꧀ꦠꦶ

ꦥꦩꦶꦭꦶꦲꦺꦉꦃꦫꦲꦪꦸ

ꦱꦶꦤꦩ꧀ꦧꦶꦧꦸꦣꦶꦣꦪ

ꦏꦤ꧀ꦛꦶꦄꦮꦱ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦌꦭꦶꦁ

꧋ꦏꦁꦏꦌꦱ꧀ꦛꦶꦄꦤ꧀ꦠꦸꦏꦥꦂꦩꦤꦶꦁꦱꦸꦏ꧀ꦱ꧀ꦩ꧉

10

Sakadare linakonan

mung tumindak mara ati

angger tan dadi prakara

karana wirayat muni

ikhtiyar iku yekti

pamilihe reh rahayu

sinambi budi daya

kanthi awas lawan eling

kang kaesthi antuka parmaning Suksma.

Artinya :

Sekadar menjalani hidup

hanya semata bertindak mengenakkan hati

asalkan tidak menjadi suatu masalah

dengan memperhatikan petuah orang tua

bahwa ikhtiar itu sesungguhnya

memilih jalan agar selamat

sambil terus berusaha

disertai dengan awas dan sadar

yang bertujuan agar mendapatkan kasih anugerah Tuhan.



꧇꧑꧑꧇

ꦪꦄꦭ꧀ꦭꦃꦪꦫꦱꦸꦭꦸꦭ꧀ꦭꦃ

ꦏꦁꦱꦶꦥꦠ꧀ꦩꦸꦫꦃꦭꦤ꧀ꦄꦱꦶꦃ

ꦩꦸꦒꦶꦩꦸꦒꦶꦄꦥꦫꦶꦔ

ꦥꦶꦠꦸꦭꦸꦁꦆꦁꦏꦁꦤꦂꦠꦤꦶ

ꦆꦁꦄꦭꦩ꧀ꦄꦮꦭ꧀ꦄꦏ꦳ꦶꦂ

ꦣꦸꦩꦸꦤꦸꦁꦆꦁꦒꦼꦱꦁꦈꦭꦸꦤ꧀

ꦩꦁꦏꦾꦱꦩ꧀ꦥꦸꦤ꧀ꦄꦮꦿꦺꦣ

ꦆꦁꦮꦼꦏꦱꦤ꧀ꦏꦣꦶꦥꦸꦤ꧀ꦝꦶ

ꦩꦶꦭꦩꦸꦒꦶꦮꦺꦴꦤ꧀ꦠꦺꦤꦥꦶꦠꦸꦭꦸꦁꦠꦸꦮꦤ꧀

11

Ya Allah ya Rasulullah

kang sipat murah lan asih

mugi-mugi aparinga

pitulung ingkang nartani

ing alam awal akhir

dumunung ing gesang ulun

mangkya sampun awredha

ing wekasan kadi pundi

mila mugi wontena pitulung Tuwan.

Artinya :

Ya Allah, ya Rasulullah

yang bersifat pemurah dan pengasih

semoga berkenan melimpahkan

pertolongan yang menyelamatkan

di dunia hingga ke akhirat

tempat hidup hamba

padahal sekarang (hamba) sudah tua

pada akhirnya nanti bagaimana (terserah),

maka semoga ada pertolongan Tuhan.



꧇꧑꧒꧇

ꦱꦒꦺꦣꦱꦧꦂꦱꦤ꧀ꦠꦺꦴꦱ

ꦩꦠꦶꦱꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁꦔꦻꦴꦫꦶꦥ꧀ꦏꦭꦶꦱ꧀

ꦆꦁꦉꦃꦲꦸꦫꦸꦲꦫ

ꦩꦸꦂꦏꦄꦁꦏꦫꦱꦸꦩꦶꦁꦏꦶꦂ

ꦠꦂꦭꦺꦤ꧀ꦩꦼꦭꦺꦁꦩꦼꦭꦠ꧀ꦱꦶꦃ

ꦱꦤꦶꦠꦾꦱꦺꦁꦠꦾꦱ꧀ꦩꦩꦠꦸꦃ

ꦧꦣꦫꦶꦁꦱꦥꦸꦣꦺꦤ꧀ꦝ

ꦄꦤ꧀ꦠꦸꦏ꧀ꦮꦗꦂꦱꦮꦠꦮꦶꦱ꧀

ꦧꦺꦴꦫꦺꦴꦁꦄꦁꦒꦱꦸꦮꦂꦒꦩꦼꦱꦶꦩꦂꦠꦪ꧉

12

Sageda sabar santosa

mati sajroning ngaurip kalis

ing reh huru-hara

murka angkara sumingkir

tarlen meleng melatsih

sanityaseng tyas mamatuh

badharing sapudhendha

antuk wajar sawatawis

borong angga suwarga mesi martaya.

Artinya :

Sekadar menjalani hidup

hanya semata bertindak mengenakkan hati

asalkan tidak menjadi suatu masalah

dengan memperhatikan petuah orang tua

bahwa ikhtiar itu sesungguhnya

memilih jalan agar selamat

sambil terus berusaha

disertai dengan awas dan sadar

yang bertujuan agar mendapatkan kasih anugerah Tuhan.



Ranggawarsita

(Dikutip dari Wikipedia Indonesia)

Raden Ngabehi Rangga Warsita (Ronggo Warsito) bernama asli Bagus Burhan.

Dia adalah pujangga besar yang hidup di Kasunanan Surakarta.


Raden Ngabehi Rangga Warsita (bahasa Jawa : ꦫꦺꦴꦁꦒꦮꦂꦰꦶꦠ, translit. Ronggawarsita[a], 14 Maret 1802–24 Desember 1873) adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar terakhir tanah Jawa.


Raden Ngabehi Rangga Warsita

Nama asalꦫꦢꦺꦤ꧀ꦔꦧꦺꦲꦶꦫꦺꦴꦁꦒꦮꦂꦰꦶꦠ [radɛn ŋabɛhi rɔŋgɔ warsitɔ]

Lahir Bagoes Boerhan

14 Maret 1802

Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Hindia BelandaMeninggal24 Desember 1873 (umur 71)

Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Hindia Belanda

Sebab meninggal Misterius

Makam Palar, Trucuk, Klaten

Koordinat : 7.707535°S 110.6797339°E

Tempat tinggal Surakarta

Pekerjaan Pujangga

Tahun aktif1845-1873



Asal-Usul

Nama aslinya adalah Bagus Burhan. Ia adalah putra dari Mas Pajangswara (juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita. Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II, pujangga utama Kasunanan Surakarta.


Ayah Bagus Burhan merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah keturunan dari Kesultanan Demak. Bagus Burhan diasuh oleh Ki Tanujaya, abdi dari ayahnya.



Masa muda

Sewaktu muda Burhan terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.


Ketika pulang ke Surakarta, Burhan diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV). Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom tanggal 28 Oktober 1819.


Pada masa pemerintahan Pakubuwana V (1820–1823), karier Burhan tersendat-sendat karena raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burhan dinaikkan.


Pada tanggal 9 November 1821 Burhan menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon, Burhan berkelana sampai ke Pulau Bali untuk mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.


Karier sebagai pujangga

Bagus Burhan diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845.


Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.


Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.



Kehidupan pribadi

Kematian

Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajati yang ia tulis sendiri. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.


Penulis yang berpendapat demikian adalah Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979). Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak elit keraton Kasunanan Surakarta yang berpendapat kalau Ranggawarsita adalah peramal ulung sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri.


Ranggawarsita dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Makamnya pernah dikunjungi dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Gus Dur pada masa mereka menjabat.



ꦄꦩꦺꦤꦔꦶꦗ꦳ꦩꦤ꧀ꦌꦣꦤ꧀‌

ꦌꦮꦸꦲꦪꦆꦁꦥꦩ꧀ꦧꦸꦣꦶ꧈

ꦩꦺꦭꦸꦔꦺꦣꦤ꧀ꦤꦺꦴꦫꦠꦲꦤ꧀‌

ꦪꦺꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦺꦭꦸꦄꦁꦭꦏꦺꦴꦤꦶ꧈

ꦧꦺꦴꦪꦏꦼꦣꦸꦩꦤ꧀ꦩꦺꦭꦶꦏ꧀‌ꦏꦭꦶꦫꦺꦤ꧀ꦮꦼꦏꦱꦤꦶꦥꦸꦤ꧀‌

꧋ꦤ꧀ꦝꦶꦭꦭꦃꦏꦼꦂꦱꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ꦧꦼꦒ꧀ꦗꦧꦼꦒ꧀ꦗꦤꦶꦁꦏꦁꦭꦭꦶ꧈

꧋ꦭꦸꦮꦶꦃꦧꦼꦒ꧀ꦗꦏꦁꦌꦭꦶꦁꦏ꧀ꦭꦮꦤ꧀ꦮꦱ꧀ꦥꦣ꧉


amenangi zaman édan, 

éwuhaya ing pambudi, 

mélu ngédan nora tahan, 

yén tan mélu anglakoni, 

boya keduman mélik, kaliren wekasanipun, 

ndilalah kersa Allah, begja-begjaning kang lali, 

luwih begja kang éling klawan waspada.

Terjemahannya sebagai berikut :

menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak,ikut gila tidak akan tahan,tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian,kelaparan pada akhirnya,namun telah menjadi kehendak Allah,sebahagia-bahagianya orang yang lalai,akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.



Karya sastra

Karya sastra tulisan Ranggawarsita antara lain :

- Bambang Dwihastha: cariyos Ringgit Purwa

- Bausastra Kawi atau Kamus Kawi - - Jawa, beserta C.F. Winter sr.

- Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata, beserta C.F. Winter sr.

- Sapta dharma

- Serat Aji Pamasa

- Serat Candrarini

- Serat Cemporet

- Serat Jaka Lodang

- Serat Jayengbaya

- Serat Kalatidha

- Serat Panitisastra

- Serat Pandji Jayeng Tilam

- Serat Paramasastra

- Serat Paramayoga

- Serat Pawarsakan

- Serat Pustaka Raja

- Suluk Saloka Jiwa

- Serat Wedaraga

- Serat Witaradya

- Sri Kresna Barata

- Wirid Hidayat Jati

- Wirid Ma'lumat Jati

- Serat Sabda Jati


Ramalan tentang kemerdekaan Indonesia

Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikan sendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro. Dalam suasana serba memprihatinkan itu, Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak pada tahun Wiku Sapta Ngesthi Janma.


Kalimat yang terdiri atas empat kata tersebut terdapat dalam Serat Jaka Lodang, dan merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan akan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala adalah dibalik dari belakang ke depan, yaitu 1877 Saka, yang bertepatan dengan 1945 Masehi, yaitu tahun kemerdekan Republik Indonesia.


Pengalaman pribadi Presiden Soekarno pada masa penjajahan adalah ketika berjumpa dengan para petani miskin yang tetap bersemangat di dalam penderitaan, karena mereka yakin pada kebenaran ramalan Ranggawarsita tentang datangnya kemerdekaan di kemudian hari.




Imajier Nuswantoro 





Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)