Becik Ketitik, Ala Ketara ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦏꦼꦠꦶꦠꦶꦏ꧀‌ꦄꦭꦏꦼꦠꦫ

0

 Becik Ketitik, Ala Ketara

ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦏꦼꦠꦶꦠꦶꦏ꧀‌ꦄꦭꦏꦼꦠꦫ




Becik ketitik, ala ketara tegese kabeh apa wae sing dilakokake manungsa iku becik lan apik bakal ketara / kethok bukak dewe.


Aksara Jawanipun :
꧋ꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦏꦼꦠꦶꦠꦶꦏ꧀‌ꦄꦭꦏꦼꦠꦫꦠꦼꦒꦼꦱꦼꦏꦧꦺꦃꦄꦥꦮꦌꦱꦶꦁꦣꦶꦭꦏꦺꦴꦏꦏꦺꦩꦤꦸꦁꦱꦆꦏꦸꦧꦼꦕꦶꦏ꧀ꦭꦤ꧀ꦄꦥꦶꦏ꧀ꦧꦏꦭ꧀ꦏꦼꦠꦫ/ꦏꦼꦛꦺꦴꦏ꧀ꦧꦸꦏꦏ꧀ꦝꦼꦮꦼ꧉


Pemaknaan Becik ketitik, ala ketara dalam bahasa Indonesia :
Becik ketitik, ala ketara merupakan peribahasa Jawa yang artinya kebaikan kelihatan, kejelekan ketahuan.
Maknanya, setiap perbuatan yang baik pasti akan diketahui. Demikian sebaliknya, perilaku busuk cepat atau lambat juga pasti terungkap. Ini warisan ajaran luhur nenek moyang yang menggariskan bahwa hidup itu mesti melandaskan pada budi pekerti mulia.


Becik ketitik, ala ketara yaitu perbuatan baik akan selalu dikenali, dan perbuatan buruk nantinya juga akan diketahui juga.

Becik ketitik ala ketara artinya tindakan baik akan kelihatan, tindakan buruk juga kan kelihatan.

Jika diterjemahkan dari bahasa Jawa, becik artinya baik dan ketitik artinya titik.
Lalu, ala artinya buruk dan ketara artinya terlihat.
Hal ini berarti sekecil apapun perbuatan baik atau buruk akan ketahuan.


Makna Becik Ketitik Ala Ketara
Becik ketitik ala ketara memiliki makna mendalam bahwa kita tidak boleh meremehkan atau mengabaikan tindakan kecil yang tampak kurang signifikan karena dampak jangka panjangnya bisa sangat besar dan berpengaruh.


Ungkapan becik ketitik ala ketara mengingatkan manusia untuk selalu memiliki pandangan mendalam dari suatu tindakan atau peristiwa.

Tidak hanya melihat sebuah peristiwa dari permukaan sebab dampak nyata seringkali baru terlihat setelah beberapa waktu.



Becik Ketitik Ala Ketara Kaitan dalam Surah Al Zalzalah Ayat 7 - 8

Islam hadir dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan masyarakat setempat. Pada masyarakat nusantara kebudayaan sebelum islam hadir ialah budaya animisme, dinamisme, agama Hindu serta Budha. Komunikasi antar budaya memandang bahwa masyarakat ialah bentuk dari hubungan yang terjadi baik aspek kecil hingga besar. Komunikasi antar budaya memandang bahwa adanya perbedaan kebiasaan antara budaya satu dengan yang lainnya. Dalam surat Al – Zalzalah ayat 7 – 8 menunjukkan bahwa firman Allah SWT terhadap perbuatan manusia sekecil apapun akan mendapatkan balasannya. Hal ini selaras dengan falsafah jawa yang berbunyi “becik ketitik ala ketara” bermakna “perbuatan baik dan perbuatan yang jelek suatu saat akan nampak dan ketahuan pada akhirnya”. Oleh karena itu penulisan ini bertujuan untuk menggabarkan bagaimana pesan dakwah dari hubungan budaya serta ajaran agama dalam surat Al Zalzalah serta dalam falsafah becik ketitik ala ketara. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa dalam berdakwah untuk memperhatikan etika komuinikasi budaya untuk dapat memahami strategi dakwah di masyarakat serta penyampaian makna yang dapat diterima masyarakat.



Tafsir Surat Az-Zalzalah Ayat 7 dan 8.
(Jangan Sekali-kali Remehkan Kebaikan, Walaupun Sedikitpun)

Berikut ini adalah teks, terjemahan, sababun nuzul dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas surat Az-Zalzalah ayat 7 dan 8:
 

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ (٧) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ (٨)
(7) Fa may ya'mal misqāla żarratin khairay yarah. (8) wa may ya'mal misqāla żarratin syarray yarah.
 
Artinya, (7) "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. (8) Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya".
 

Sababun Nuzul Surat Az-Zalzalah Ayat 7 dan 8
Imam Jalaluddin As-Suyuti (wafat 911 H) dalam kitabnya, Lubabun Nuqul menyebutkan riwayat Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jubair tentang asbabun nuzul surat az-Zalzalah ayat 7 dan 8 sebagai berikut : 
 

Tafsir Surat Az-Zalzalah Ayat 6: Ketika Pahala dan Siksa Manusia Tampak di Depan Mata

أخرج ابن أبي حاتم عن سعيد بن جبير قال لما نزلت ويطعمون الطعام على حبه الآية كان المسلمون يرون أنهم لا يؤجرون على الشئ القليل إذا أعطوه وكان آخرون يرون أنهم لا يلامون على الذنب اليسير الكذبة والنظرة والغيبة وأشباه ذلك ويقولون إنما وعد الله النار على الكبائر فأنزل الله فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
Artinya, "Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Said bin Jubair, dia berkata, "Ketika turun ayat 8 surat Al-Insan :


وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya", kaum Muslimin mengira bahwa mereka tidak akan diberi pahala bila memberikan sesuatu yang sedikit.

Sedangkan yang lainnya mengira bahwa mereka tidak dicela karena melakukan dosa kecil, dusta, melihat (yang haram), menggunjing dan yang memyerupainya. Mereka mengatakan bahwa Allah hanya akan memberikan siksaan pada dosa-dosa besar. Karena itu kemudian Allah swt menurunkan ayat 7 dan 8 surat Al-Zalzalah : "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (baIasan)nya"."  (Jalaluddin As-Suyuti, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, [Beirut, Darul Kutub 'Ilmiyah], halaman 215).
 


Ragam Tafsir Surat Az-Zalzalah Ayat 7 dan 8

Syekh Mustafa Al-Maraghi (wafat 1371 H) menjelaskan kata zarrah dalam tafsirnya sebagai berikut :
 

الذرة: النملة الصغيرة، أو هى الهباء الذي يرى فى ضوء الشمس إذا دخلت من نافذة، ومثقال الذرة: وزنها، وهو مثل فى الصغر
Artinya, "Az-Zarah adalah semut kecil atau debu berterbangan yang terlihat dalam cahaya matahari ketika masuk dari jendela atau lubang angin-angin. Sedangkan kata misqāla żarrat "seberat zarah" merupakan ilustrasi sesuatu yang kecil." (Ahmad bin Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, [Mesir: Matba'ah Musthafa Al-Babil Halabi: 1365H/1946M], juz XXX, halaman 218).
 

Tafsir Surat Az-Zalzalah Ayat 4-5: Saat Bumi Berbicara atas Perilaku Manusia

Syekh Nawawi Banten (wafat 1316 H) menafsirkan ayat 7 dengan makna: "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, yakni seberat semut kecil dia akan melihatnya." Kemudian ia menyebutkan perkataan Imam Ahmad bin Ka'ab Al-Qurazhi, sebagai berikut :


قال أحمد بن كعب القرظي: فمن يعمل مثقال ذرة من خير وهو كافر فإنه يرى ثواب ذلك في الدنيا حتى يلقى الآخرة، وليس له فيها شيء، ومن يعمل مثقال ذرة من شر من مؤمن يرى عقوبته في الدنيا في نفسه، وماله، وأهله، وولده حتى يخرج من الدنيا وليس له عند الله تعالى شر
Artinya, "Ahmad bin Ka'ab Al-Qurazhi berkata: "Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah sedangkan dia seorang kafir, maka dia akan melihat balasanya di dunia, hingga di akhirat ia tidak mendapatkan apapun di sana; dan siapa dari seorang mukmin yang mengerjakan keburukan seberat zarrah, dia akan melihat hukumannya di dunia pada dirinya, harta, keluarga dan anaknya, sehingga ia keluar dari dunia dengan tidak ada keburukannya di sisi Allah swt."

Kemudian beliau menjelaskan ayat 8: " Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah yakni seberat semut paling kecil, ia akan melihatnya." Beliau menyebutkan perkataan Ibnu Abbas sebagai berikut :
 

ليس من مؤمن، ولا كافر عمل خيرا، أو شرا إلا أراه الله إياه، فأما المؤمن فيغفر الله سيئاته، ويثيبه بحسناته، وأما الكافر فترد حسناته ويعذب بسيئاته
Artinya, "Tidaklah seorang mukmin dan kafir yang melakukan kebaikan atau kejelekan kecuali Allah akan memperlihatkan kepadanya. Namun, orang mukmin akan diberi ampun dan diberi pahala atas kebaikannya. Sedangkan orang kafir kebaikannya akan ditolak dan disiksa sebab kejelekannya." (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsîrul Munîr li Ma’âlimit Tanzîl, [Surabaya, Al-Hidayah], juz II, halaman 656).
 
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa orang kafir akan disiksa sebab kekafirannya, sedangkan kebaikannya hanya akan bermanfaat baginya selama di dunia saja, seperti menolak kejahatan atau bahaya dari dirinya. Adapun di akhirat, kebaikannya tersebut tidak akan bermanfaat dan tidak akan dapat membebaskannya dari siksaan kekafiran, ini yang menjadikannya kekal di neraka.
 
Kedua ayat tersebut memberikan motivasi untuk berbuat kebaikan sekalipun itu remeh, serta untuk tidak menyepelekan kejelakan atau keburukan sekalipun itu remeh dan sedikit. Karena semua akan ada balasanya. Dalam hadits shahih disebutkan :
 

لا تحقرنّ من المعروف شيئا، ولو أن تفرغ من دلوك في إناء المستسقي، ولو أن تلقى أخاك، ووجهك إليه منبسط
Artinya, "Jangan sekali-kali meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya menjulurkan timba untuk memberi minum orang yang minta minum; dan meskipun itu hanya dengan wajah berseri ketika bertemu temanmu."(Wahbah bin Musthafa Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1418 H], juz XXX, halaman 362). 


Imajiner Nuswantoro



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)