KISAH WAYANG PURWA ATAU PAKELIRAN PURWA

0

KISAH Wayang Purwa atau Pakeliran Purwa

 

 


Wayang Purwa adalah perlambang kehidupan manusia di dunia ini. Berdasarkan dari sejarahnya, induk/sumber cerita wayang itu, baik Ramayana maupun Mahabharata, kedua-duanya itu merupakan Weda (kitab suci) agama hindu yang kelima, yang disebut panca weda. Kedua kitab tersebut memuat pelajaran weda yang disusun berujud cerita. Serat Ramayana diciptakan oleh Resi Walmiki menceritakan pelaksanaan karya Awatara Rama untuk mensejahterakan dunia. Serat Mahabharata diciptakan oleh Resi Wyasa, menceritakan pelaksanaan karya Awatara Krisna juga untuk mensejahterakan dunia.

 

Berkaitan penciptaan pada dunia wayang pada intinya cerita wayang berasal dari dewa-dewa bernama Hyang Manikmaya (Betara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar). Mereka adalah putera dari Hyang Tunggal. Hyang Tunggal tidak diwujudkan dalam wayang. Kedua putra itu muncul secara bersamaan dalam bentuk cahaya. Manikmaya bercahaya bersinar-sinar. Ismaya bercahaya kehitam-hitaman. Kedua cahaya ini berebut untuk mendapatkan status sebagai yang tertua diantara mereka.

 

Kemudian Hyang Tunggal bersabda, bahwa yang tertua adalah cahaya yang kehitam-hitaman, tetapi diramalkan bahwa dia tak dapat berjiwa sebagai Dewa Ia diberi nama Ismaya. Karena ia memiliki sifat sebagai manusia maka dititahkan supaya tetap tinggal di dunia dan mengasuh turunan Dewa yang berdarah Pendawa. Maka diturunkanlah ia kedunia dan bernama Semar, yang berbentuk manusia yang sangat jelek rupa. Cahaya yang bersinar terang diberi nama Manikmaya dan tetap tinggal di Suralaja (kerajaan Dewa). Manikmaya merasa bangga, karena tidak mempunyai cacat dan sangat berkuasa. Tetapi sikap yang demikian itu menyebabkan Hyang Tunggal memberinya beberapa kelemahan.

 

Kedua kejadian ini   merupakan perlambang. Ismaya adalah lambang badan manusia yang kasar dan Manikmaya lambang kehalusan bathin manusia. Raga kasar (Semar) senantiasa menjaga kelima Pendawa yang berujud Panca indera atau kelima perasaan tubuh manusia: indera penciuman (Yudistira); indera pendengaran (Werkodara); indera penglihatan (Arjuna); indera perasa (Nakula), dan indera peraba (Sadewa). Tugas dari Semar adalah menjaga kesejahteraan Pendawa , supaya mereka menjauhi peperangan dengan Korawa (rasa amarah). Tetapi Hyang Manikmaya lah yang senantiasa menggoda sehingga Pendawa dan Kurawa tidak pernah berhenti berperang. Hingga akhirnya terjadilah Baratayuda, di mana Pendawalah yang menjadi pemenangnya.

 

Pada pagelaran wayang kulit nilai-nilai yang diajarkan terkait dengan cerita dan tokoh-tokoh tertentu. Adapun nilai-nilai dalam pagelaran diantaranya adalah nilai kepahlawanan contoh: tokoh Kumbakarna, Adipati Karna, nilai kesetiaan contoh: tokoh Dewi Sinta, Raden Sumantri (Patih Suwanda) dan sebagainya; nilai keangkara murkaan contoh: tokoh Rahwana, Duryudana dan sebagainya; nilai kejujuran  contoh: Tokoh Puntadewa dan sebagainya. dan sebagainya. dan sebagainya; Di sini masih banyak nilai-nilai yang lain yang patut ditimba manfaatnya bagi kita semua. Selain itu dalam pegelaran wayang kulit juga terdapat lambang-lambang yang mengambarkan kisah hidup manusia di dunia. Kalau kita mengamati lakon Dewa Ruci di dalamnya mengandung lambang kehidupan manusia di dalam mencapai cita-cita hidup kita harus dapat melewati beberapa tantangan, kalau kita berhasil mencapainya kita akan mendapatkan buahnya.

 

Pergelaran seni pedalangan, baik untuk waktu semalam suntuk maupun untuk 4 jam atau hanya waktu 2 jam, namun lakon tersebut kedudukannya tetap, ialah merupakan pokok dari pada pergelaran seni pedalangan. Lakon-lakon pewayangan menyangkut apa yang disebut pakem yang dalam bahasa Jawa berarti: pathokan, paugeran atau wewaton. Pakem meliputi 2 macam hal yang dalam pergelaran terpadu menjadi satu kesatuan, yaitu : (1). Pakem tentang lakon; dan (2). Pakem yang mengenai tehnik perkeliran. Pada waktu dipergelarkan dalam perkeliran dua pakem itu satu sama lain saling isi-mengisi dan jalin-menjalin, sehingga dapat mendatangkan suatu proses cerita yang mengandung keindahan serta pendidikan yang tinggi.

 

Lakon-lakon pewayangan yang begitu banyak dipergelarkan dewasa ini, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 bagian, ialah: 1. Lakon wayang yang disebut pakem; 2. Lakon wayang yang disebut carangan; 3. Lakon wayang yang disebut gubahan; 4. Lakon wayang yang disebut karangan. Penjelasan dari lakon pewayangan tersebut sebagai berikut : 1. Lakon pakem : yang disebut lakon-lakon pakem itu sebagian besar ceritanya mengambil dari sumber-sumber cerita dari perpustakaan wayang, misalnya: lakon Bale Sigala-gala, pandawa dadu, baratayuda, rama gandrung, subali lena, anoman duta, brubuh ngalengka dan lain sebagainya. 2.  Lakon carangan : yang disebut carangan itu hanya garis pokoknya saja yang bersumber pada perpustakaan wayang, diberi tambahan atau bumbu-bumbu berupa carangan (carang Jw = dahan), seperti lakon-lakon : babad alas mertani, partakrama, aji narantaka, abimanyu lahir dll. 3. Lakon gubahan : yang disebut gubahan itu ialah lakon yang tidak bersumber pada buku-buku cerita wayang, tetapi hanya menggunakan nama dan negara-negara dari tokoh-tokoh yang termuat dalam buku-buku cerita wayang, misalnya lakon-lakon: irawan Bagna, gambiranom, dewa amral, dewa katong dsb. 4. Lakon karangan : yang disebut lakon karangan itu ialah suatu lakon yang sama sekali lepas dari cerita wayang yang terdapat dalam buku-buku sumber cerita wayang, misalnya lakon-lakon : praja binangun, linggarjati, dan sebagainya. Dalam lakon praja binangun tersebut diketengahkan nama tokoh-tokoh wayang seperti : ratadahana (Jendral Spoor), Kala Miyara (Meiyer), Dewi Saptawulan (Juliana), Bumiandap (Nederland) dan sebagainya.

 

Untuk mengetahui sesuatu lakon wayang itu apakah pakem atau bukan, tidaklah mudah, apabila orang tidak mengenal dan memahami sumber cerita wayang. Adapun sumber cerita wayang itu ada 2 macam yaitu: 1. Sumber-sumber cerita wayang yang berupa buku-buku, misalnya : Maha Bharata, Ramayana, Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dll; 2. Sumber-sumber cerita wayang yang semula berasal dari lakon carangan atau gubahan yang telah lama disukai oleh masyarakat. Sumber-sumber cerita ini disebut pakem purwa-carita yang kini sudah banyak juga yang dibukukan, misalnya lakon-lakon: Abimanyu kerem, doraweca, Suryatmaja maling dan sebagainya. Purwakanda adalah salah satu sumber cerita wayang di Yogyakarta yang memuat kisah sejak bathara guru menerima kekuasaan dari sanghyang tunggal sampai dengan bertahtanya R. Yudayana sebagai Raja di negeri Ngastina. Buku tersebut berbentuk tembang dan yang ada mungkin hanya di Yogyakarta saja, baik dalam karaton maupun diluarnya. Serat purwakanda tersebut dihimpun atas perintah almarhum Sri Sultan Hamengkubuwono V. Penghimpunan dan penyusunan Serat Purwakanda ini kira-kira bersamaan waktunya dengan almarhum R.Ng.Ronggowarsita di Solo, yang juga menghimpun dan menyusun Serat Pustaka Raja Purwasita yang terkenal itu. Serat purwakanda tesebut oleh sebagian dalang-dalang di Yogyakarta, terutama dalang-dalang dari keraton Yogyakarta dijadikan sumber lakon-lakon wayang dalam perkelirannya,sedangkan di Solo adalah Serat Raja Purwasito.

 

Pakem tehnik perkeliran atau wewaton tehnik perkeliran itu setiap daerah atau setiap gaya tentu ada dan sudah barang tentu tidak dapat diabaikan sama sekali. Hal itu erat sekali hubungannya dengan perasaan indah yang hidup di masing-masing daerah. Misalnya perkeliran gaya sala berbeda dengan gaya yogya. Berbeda pula dengan gaya banyumas, tegal, jawa timur, dll. Mungkin hal ini pula sangkut-pautnya dengan falsafah hidup dalam masyarakat itu sendiri-sendiri.

 

 

 

Sumber Cerita Wayang Kulit Yogya

Sumber cerita untuk wayang kulit purwa di Indonesia bersumbar pada serat Mahabarata dan Ramayana yang berasal dari India, yang telah disalin atau disusun kedalam bahasa jawa Kuna. Kitap Mahabarata ini dihimpun oleh Wyasa Kresna Dwipayana, yang merupakan kumpulan cerita yang populer pada jaman Brahmana, antara tahun 400 sebelum dan 400 sesuadah masehi. Isi kitab itu terdiri dari 18 parwa (Soekmana, 1973: 110), yaitu menceritakan peperangan Pandawa dan Kurawa selama 18 hari, kedealapan belas parwa itu adalah :

 

1. Adi parwa

Pada bagian parwa ini berisi tentang asal-usul dan masa kanak-kanak pandawa dan kurawa, yaitu dimulai dari cerita prabu Sentanu mencari orang yang mau menyusui anaknya yang masih bayi bernama Dewabrata dan menemukan dewi Setyawati yang kemudian diperistri serta memiliki dua putra. Sebelumnya Dewi Setyawati dengan Begawan Parasara telah memiliki satu putra yang bernama Abiyasa (Wiyasa), sampai dengan cerita tentang para putra Destarastra yang jumlahnya 100 oranr, disebut para Sata kurawa dan keturunan Pandudewanata yang berjumlah lima dinamakan dengan para pandawa.

 

2. Sabda parwa

Bagian parwa ini berisikan tentang, berbagai usaha para Kurawa untuk membinasakan para pandawa, karena keinginannya untuk menguasai negara Astina. Salah satu muslihat yang diprakarsai oleh patih Sangkuni adalah bermain dadu dengan taruhan negara dan dibuang ke hutan selama 13 tahun lamanya dengan tahun terakhir harus menyamar sebagai masyarakat biasa dan tidak diketahui oleh para kurawa, jika diketahui oleh kurawa harus melaksanakan hukuman tersebut mulai dari awal lagi.

 

3. Wana parwa

Parwa ini mengkisahkan kehidupan para pandawa dalam menjalani hukuman buang selama 13 tahun setelah kalah main dadu. Oleh Wyasa mereka mendapat nasehat agar

Arjuna bertapa di puncak gunung Himalaya, dengan maksud memohon kepada para dewa agar diberikan senjata-senjata sakti kepada para pandawa yang akan digunakan untuk senjata perang jika harus berperang melawan para kurawa.

 

4. Wirata parwa

Bagian dari episude ini menceritakan tentang kehiduapan para paidawa dalam menjalani hukuman buang pada tahun terakhir dan menyamar sebagai masyarakat Wirata, mereka menyamar sebagai ahli membuat dadu, tukang ma>ak, juru rias, tukang jagal hewan dan mereka diterima sebagai abdi di istana.

 

5. Udyaga parwa

Bagian parwa ini menceritakan tentang kehidupan para pandawa pada tahun ke-14 dan telah kembali ke negara Amarta (Indraprasta). Para pandawa meminta bantuan Batara Kresna untuk berunding dengan para kurawa tentang negara Astina, namun kurawa tidak mau mengembalikan separoh negara Astina, sehingga mereka akan berperang untuk mempertahankan haknya masing-masing.

 

6. Bisma parwa

Bagian dari parwa ini menceritakan tentang senapati Bisma sebagai panglima perang Kurawa, melawan Raden Trustajumena sebagai Panglima di pihak Pandawa. Setelah ditentukan aturan main dalam peperangan diantaranya jika malam hari perperangan berhenti digunakan untuk beristirahat dan mengurus yang gugur. Peperangan tahap awal ini berlangsung di Tegalkurusetra, setelah mamasuki hari kesepuluh gugurlah Bisma, tetapi sebelum meninggal Bisma memberikan wejangan-wej angan kepada para pandawa dan kurawa.

 

7. Drona parwa

Pada bagian parwa ini menceritakan tentang Pandita Durna yang diangkat sebagai Panglima perang para Kurawa, untuk menghadapi senapati Pandawa, pada hari ke 15 perang antara Kurawa dan pandawa itu Pandita Durna gugur ditangan Raden Trutajumena.

 

8. Karna parwa

Dalam parwa ini menceritakan perang tanding antara Adipati Karna yang menjadi panglima perang Kurawa, melawan Arjuna senapati Pandawa, setelah gugurnya

Abimanyu dan Gatutkaca. Di samgping itu diceritakan pula keberhasilan Werkudara (Bima) dalam membunuh Dursasana. Pada hari ke 17 Aijuna berhasil membunuh Adipati Karna.

 

9. Salya parwa

Parwa ini menceritakan tentang senapati Kurawa Prabu Salya, tetapi pada hari itu juga ia gugur di medan perang, sehingga pihak kurawa tinggal Duryudana, karena selama peperangan yang telah berjalan 18 hari itu saudaranya gugui’ satu persatu. Oleh karena itu raja Astina ini ingin mengundurkan diri dari peperangan dan menyesali semua yang telah terjadi serta bersedia mengembalikan negara Astina kepada para pandawa. Sikap Duryudana ini mendapat ejekan dari para pandawa, sehingga akhirnya Duryudana tampil dalam medan perang melawan Werkudara. Dalam perang tanding itu Duryudana gugur.

 

10. Sauptika parwa

Dalam parwa ini menceritakan tentang Aswatama yang dendam terhadap prajurit Pancala dan berhasil membunuh Trustajumena, setelah hari ke 18 perang antara kurawa dan Pandawa. Aswatama melarikan diri dan berlindung paba Wyasa. Keesokan harinya disusul oleh Aijuna berkat Wyasa pertikaian itu dapat di damaikan, akhirnya Aswatama menyerahkan senjata dan kesaktiannya, serta mengundurkan diri menjadi pertapa.

 

11. Stri parwa

Dalam parwa ini menceritakan tentang Destarastra, Gendari, para pandawa dan istri para pahlawan datang ke Kurusetra. Mereka menyesali semua yang telah terjadi dan semua pahlawan yang telah gugur di perabukan.

 

12. Santi parwa

Parwa ini menceritakan tentang para pandawa yang berada di hutan sebulan lamanya untuk membersihkan diri. Yudistira segan menduduki kerajaan yang telah memakan korban yang demikian banyak dan menawarkan kepada Arjuna untuk menjadi raja. Di samping itu berisi juga tentang Wyasa dan Kresna memberikan wejangan-wejangan tentang kewajiban satria dan nasib manusia. Akhirnya Pandawa kembali ke Istana, Yudistira menuaikan kewajibannya sebgai raja.

 

13. Anusasana parwa

Parwa ini berisikan berbagai macam cerita yang dirangkaikan dengan wejangan-wejangan mengenai kebatinan dan kewajiban raja yang ditujukan kepada raja baru Yudistira.

 

14. Aswametika parwa

Bagian Parwa ini berisikan tentang Yudistira mengadakan selamatan aswamedha, yaitu melepaskan seekor kuda yang diikuti oleh Aijuna beserta prajurit. Selama satu tahun lamanya kuda itu mengembara, dan setiap jengkal tanah yang clilalui menjadi kekuasaan Yudistira

 

15. Asramasika parwa

Parwa ini menceritakan tentang Drestarastra dan istrinya serta dewi Kunti menarik diri ke dalam hutan untuk menjadi pertapa. Tiga tahun kemudian mereka mati karena hutan tempat tinggal mereka terbakar oleh api sesajinya sendiri

 

16. Mausola parwa

Pada bagian parwa ini menceritakan musnahnya kerajaan Kresna akibat berkobarnya perang saudara diantara kaum Yudawa, rakyat Kresna sendiri. Bela dewa mati, Kresna sendiri menarik diri ke hutan dan mati terbunuh oleh pemburu secara tidak sengaja.

 

17. Mahaprasthanika parwa

Parwa ini menceritakan tentang para Pandawa yang telah mengundurkan diri dari dunia ramai, setalah mahkota kerajaan Astina diserahkan kepada Parikesit anak Abimanyu. Dalam pengembaraan itu mereka satu persatu mati. Mula-mula Drupadi meninggal kemudian berturut-turut Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Werkudara (Bima). Akhirnya tinggal Yudistira beserta anjing kesayangannya yang selalu mengikutinya. Yudistira menolak jika anjing itu tidak diperbolehkan turut serta. Anjing menjilma menjadi Batara Darma, Yudistira bersama-sama para pandawa ke indraloka.

 

18. Swarga parwa

Parwa ini berisikan tentang para pandawa yang telah mengalami pembersihan jiwa di neraka untuk beberapa lama, kemudian naik sorga. Sebaliknya para kurawa yang semula berada di surga, dipindah ke neraka untuk masa yang tidak tertentu.

Kitab Ramayana di karang oleh Walmiki pada permulaan tarikh masehi yang teriri dari tujuh kanda (Soekmana, 1973 : 106) yaitu :

 

1. Bala kanda

Pada bagian kanda ini menceritakan tentang kelahiran Rama dan Lasmana, sampai dengan perkawinannya denga dewi Sinta.

 

2. Ayodya kanda

Kanda ini menceritakan tentang keinginan Dasarata yang sudah tua untuk lengser dari kedudukannya sebagai raja untuk digantikan oleh putranya yang bernama Rama. Namun atas permintan istrinya yang bernama Kekayi keinginan itu tidak dapat dilaksanakan, bahkan Rama dan istriya beserta raden Lesmana harus menjalani hidup ditengah hutan selama 14 tahun

 

3. Aranya kanda

Kanda ini menceritakan tentang keadaan Rama dan keluarganya di dalam hutan yang selalu berbuat kebaikan bagi para pertapa yang selalu diganggu oleh para raksasa. Ketika Rama, istrinya dan adiknya Lesmana berada di hutan diketahui oleh raja Alengka yang bernama Dasamuka atas pemberitahuan Sarpakenaka, sehingga raja raksasa ini berhasil menculik dewi Sinta.

 

4. Kiskenda kanda

Dalam kanda ini diceritakan tentang penggembaraan mencari istrinya Rama beijumpa dengan raja kera bernama Sugriwa yang sedang berperang melawan saudaranya Subali. Raja kera ini besepakat untuk membantu Rama dengan bala tentara keranya untuk mendapatkan kembali istrinya, tetapi harus membantunya untuk mengalahkan musuhnya terlebih dahulu.

 

5. Saudara kanda

Pada kanda ini diceritakan tentang tokoh kera yang bernama Senggana (Anoman) yang menunaikan tugas sebagai duta untuk meneliti kebenaran dan kesetiaan dewi Sinta di negara Alengka. Di samping itu Anoman berhasil mengukur kekuatan negara Alengka dengan jalan membakar istana Alengka.

 

6. Yuda kanda

Kanda ini berisi tentang peperangan besar antara raja Alengka melawan Rama yang dibantu oleh bala tentara kera dari kerajaan Kiskenda. Cerita dimulai dari keberhasilan Rama membuat bendungan (jembatan) yang menghubungkan dengan negara Alengka, atas bantuan dewa laut, kemudian diceritakan pula tentang pengusiran Wibisana dari Alengka karena tidak setuju dengan keputusan rajanya. Selanjutnya menceritakan peperangan yang berakhir dengan terbunuhnya Rahwana oleh Rama. Wibisana dinobatkan menjadi raja di Alengka serta menceritakan tentang dewi Sinta yang dibakar dalam perapian.

 

7. Utara kanda

Dalam kanda ini banyak terdapat cerita yang tidak ada hubungannya dengan cerita Rama, hanya sepertiga bagian akhir dari kanda ini bercerita Rama. Diceritakan banwa Rama yang telah mejadi raja itu mendengan isu yang menyangsikan kesucian Sinta. Untuk memberikan contoh kepada rakyatnya dewi Sinta di usir dari istana. Ketiga Rama mengadakan upacara aswameda, Kusa dan Lawa hadir sebagai pembawa nyanyian. Oleh karena yang dibawakan adalah wiracarita ramayana, segera diketahui bahwa kedua satria itu adalah anaknya, maka dengan diantar oleh Walmiki dewi Sinta kembali ke istana.

Demikian isi secara ringkas tentang serat Mahabarata dan Ramayana yang menjadi sumber cerita wayang kulit purwa. Sudah barang tentu yang diacu dalam cerita wayang kulit purwa itu tidak lagi bersumber pada serat Mahabarata dan ramayana aslinya tetapi serat-serat yang telah digubah oleh para sastrawan Indonesia, tentu saja dalam gubahan itu akan dipengaruhi oleh alam pikiran dan kondisi sosial budaya di negara ini, bahkan pengaruh lokal itu sangat kuat sehingga ceritanya sudah sangat jauh berbeda dengan sumber aslinya.

 

Penulisan cerita wayang kulit dalam bahasa Jawa yang bersumber pada kedua kitab tersebut di atas jumlahnya sangat banyak dan menjadi sumber cerita kedaerahan, salah satunya adalah Serat Purwakanda yang menjadi sumber cerita bagi wayang kulit gaya Yogyakarta. Serat Purwakanda ditulis atas perintah Sri Sultan Hamengku Bhuwono V pada tanggal 29 Oktober 1847 di Yogyakarta. Hal ini seperti terungkap dalam beberapa pupuh tembang Asmarandana sebagai berikut :

(I)

Tatkala wiwit tinulis Siyang wanci pukul tiga Ing dinten jumuah kliwon Tanggalira ping sangalas Ing wulan dulkaidah Tahun dai senngkalanipun Panca wiku sanda tunggal

 

(II)

Anuju ing mangsa kalih Wukunira madangkuran Lambang rangkir winiraos Wulan walandi kaetang Oktober tanggalira Neggih ta ping sangalikur Sewu hasta trus lintang

 

(III)

Kawandasa pitu nenggih Tigang atus seket tiga Kang angka merta lampah Yasa dalem sri narendra, Sultan mangkubuwana Senapati ing apupuh Ngabdulrahman sayidina

 

(IV)

Panetep Panata sami

Kuliputolah ping gangsal

Kemandur ing bintang leyo

Ing Nederlan saha ingkang

Anggengani kedatyan

Ngayogyakarta rat agung

Amangun serat babat purwa (Suyamto,1987:1)

 

Serat Purwakanda ini selesai ditulis pada hari Ahad (Minggu) Kliwon, tanggal 30 Juli 1848. Mulai saat itu semua cerita wayang kulit di Yogyakarta mengacu pada serat tersebut.

Sumber cerita yang dikembangkan dalam buku ini pada prinsipnya mengambil sumber utama pada Serat Purwakanda, di samping sumber lain yang dapat mendukung dan menyempurnakan serta membuat semakin hidupnya cerita tokoh tersebut. Buku acuan yang menjadi sumber utama adalah Buku terjemahan Serat Purwakanda, jilid I & II, oleh Slamet Riyadi, dkk, di terbitkan oleh Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, 1984/1985.

 

Buku Serat Purwakanda, jilid I & II, alih aksara oleh Suyamto, Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, 1987. Buku-buku pendukung lainnya diantaranya adalah buku Silsilah Wayang purwa Mawa Carita, jilid I – VII, oleh S. Padmasukaca, Penerbit PT Citra Jayamurti, Surabaya, 1985. Buku Sejarah Wayang Purwa, oleh Hardjawirogo, Penerbit Balai Pustaka, 1989, Buku Ensiklopedia Wayang Purwa I (Compendium), yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Kesenian, Proyek Pembinaan Kesenian.

 

Buku Pedhlangan Ngayogyakarta jilid I, Gegaran Pamulangan Habirandha, karangan R.M. Mudjnattistomo, dkk. Diterbitkan oleh Yayasan Habirandha Ngayogyakarta, 1977. Catatan Kagungan Dalem Ringgit Suwargen, paniti N.B. Cerma Gupita dan N.B. Cermawicara, Kawedanan Hageng Punakawan Kridamardawa Kraton Yogyakarta, 1994.

 

Catatan Kagungan dalem Ringgit Ampilan, paniti. M.B. Cermagupita dan M.B. Cermawicara, Kawedanan Hageng Punakawan Kridamardawa Kraton Yogyakarta, 1994 Buku Wayang Kulit Purwa gaya Yogyakarta, karangan Sunarto Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 1989. Buku Seni Gatra Wayang kulit Purwa, Karangan Sunarto, Penerbit Dahara Prize, Semarang, 1997.

 

Buku Pengetahuan Bahan Kulit untuk Seni dan Industri, karangan Sunarto, penerbit Kanisius Yogyakarta, 2001, Buku Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta, Morfologi, Tatahan, Sunggingan dan Teknik Pembuatannya, Karangan Sagio dan Samsugi, Penerbit Masagung, Jakarta, 1991.

Buku Seni Kriya Wayang Kulit, Seni Rupa Tatahan dan Sunggingan, Penerbit Pustaka Utama Grafuti, Jakarta 1991. Buku Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman, karangan G. Moedjanto, Penerbit Kanisius Yogyakarta 1994. Buku Studi Komparatif Gaya Seni Yogya-Solo, karangan SP Gustami, penerbit Yayasan untuk Indonesia Yogyakarta bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2000. Buku Bentuk dan Fungsi kayon Wayang kulit purwa gaya Yogyakarta, susunan Sunarto, Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 1991, Buku Konsep Gunungan dalam Seni Budaya Jawa Manifestasinya di Bidang Seni Ornamen sebuah Studi pendahuluan, susunan SP Gustami, Lembaga Penelitian Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 1989.

Beberapa kaset cerita Kresna Duta Dalang Gaya Yogyakarta seperti Timbul Cermamanggala (Hadiprayitno) dari Bantul Yogyakarta, Produksi Fajar Record.

Kaset cerita wayang kulit oleh Dalang Hadi Sugita dari Kulonpraga. Di samping itu penulisan cerita wayang kulit Gaya Yogyakarta ini berdasarkan sumber-sumber lesan yang diceritakan oleh para dalang wayang gaya Yogyakarta yang sudah dikenal lainnya atau sumber-sumber yang memiliki tingkat dapat dipercayaan tinggi, baik budayawan, perajin dan sebagainya.

 

 

 

Imajiner Nuswantoro

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)