KISAH BATARA KALA LAHIR (KISAH PARA DEWA)

0

Kisah Batara Kala Lahir 

(Kisah Para Dewa)

 

 


Ilustrasi gambaran Bathara Kala muda dan dewasa


Kisah ini menceritakan tentang kelahiran Batara Kala yang terjadi dari kama salah Batara Guru, dilanjutkan dengan peristiwa Batari Uma berubah wujud menjadi Batari Durga. Kisah ini disusun berdasarkan sumber Serat Paramayoga karya Raden Ngabehi Ranggawarsita dengan sedikit pengembangan.

 


Dewa Kala

Dewa Bhatara Kala adalah sosok makhluk raksasa yang menyeramkan, konon lahir Saniscara Kliwon Wuku Wayang (yang terkenal dengan Tumpek Wayang) dan merupakan putra dari Dewa Siwa dengan Dewi Durga.

 Dimana upacara mapag kala disebutkan sebagai peringatan untuk menyambut kehadiran Bhatara Kala yang bertujuan untuk keharmonisan kembali alam ini.

Dalam mithologi caru diceritakan ketika alam semesta ini pertama kali diciptakan, setelah yang baik-baik diciptakan, maka kemudian Bhatari Uma berubah rupa menjadi Bhatari Durgha dan Pretenjala juga berubah rupa menjadi Bhatara Kala ini,

 lalu bersama-sama menciptakan segala jenis bhuta kala dengan segala penyakit serta godaan-godaan yang ditimbulkan, sehingga di alam semesta ini terjadilah ketidak harmonisan antara sifat baik dan buruk (Rwa Bhineda).

Kisahnya Dewa Bhatara / Batara Kala ini biasanya diceritakan secara lengkap dalam drama ritual Sapuh Leger yang dijadikan pedoman untuk mengadakan Upacara Bebayuhan Weton Sapuh Leger pada anaknya yang lahir pada wuku wayang atau tepatnya pada tumpek wayang.

 

Sebagaimana yang disebutkan juga,

Palinggih Bhatara Kala, putra Dewa Siwa ini yang berada di Merajan dengan Bhiseka Ratu Ngurah dan Pengapit Lawang (dua buah di kiri-kanan Pamedal Agung)

disebutkan bertugas menjadi pecalang atau penjaga Sanggah Pamrajan sebagai tempat suci pekarangan rumah.

 

 

SEKILAs KISAH CERITA BatHARA Kala Lahir

Pada suatu saat kahyangan geger kena pengaruh Batara Kanekaputra, cucu Sang Hyang Nurrada yang sedang bertapa sambil menggenggam Cupu Retna Dumilah. Bathara Guru segera memerintahkan para dewa untuk menghentikan tapa Sang Hyang Kanekaputra. Namun, para dewa gagal menunaikan tugas itu karena kalah sakti.

 

Akhirnya, terpaksa Batara Guru turun tangan. Sewaktu keduanya sedang berperang tanding, datang Sang Hyang Nurada melerai mereka. Diambil kese-pakatan, Batara Guru harus mengakui Kaneputra sebagai saudara tua, sedang Kanekaputra harus membantu tugas-tugas Batara Guru. Agar cucunya itu berhasil dalam tugasnya, Sang Hyang Nurrada lalu menyatu dengan Kanekaputra. Selanjutnya, Kane-kaputra lebih dikenal dengan nama Batara Narada.

 

Sesudah kesepakatan itu, ternyata Batara Guru masih menginginkan Cupu Retna Dumilah yang dipegang Kanekaputra. Cupu itu dimintanya, tetapi Kanekaputra tidak memberikannya, malahan membuang cupu itu jauh-jauh. Para dewa lalu berusaha menemukan cupu itu, sampai ke bumi lapis ketujuh yang dikuasai Sang Hyang Antaboga. Terjadi perang antara para dewa dengan Sang Hyang Antaboga. Para dewa kalah, dan kembali ke kahyangan.

 

Ketika para dewa sedang melaporkan kega-galannya pada Bathara Guru, datanglah Sang Hyang Antaboga menghadap dan menyerahkan Cupu Retna Dumilah. Namun, sebelum cupu itu sampai ke tangan Batara Guru, para dewa telah lebih dahulu mem-perebutkannya, sehingga cupu itu jatuh, pecah menjelma menjadi seberkas cahaya indah berkemilau. Cahaya itu kemudian berubah ujud lagi menjadi tiga bidadari cantik, masing-masing bernama Dewi Widowati alias Tisnawati, Dewi Sri, dan Dewi Lokati alias Dewi Rumingrat. Walaupun mereka bertubuh tiga, tetapi berjiwa satu, yang kemudian disebut Hapsari Triwati.

 

Suatu ketika, Bathara Guru memeriksa keadaan alam raya, didampingi istrinya, Dewi Uma. Mereka mengendarai Lembu Andini.

Saat senja itu tiba-tiba Batara Guru menyaksikan betis istrinya, langsung timbul birahinya. Batara Guru mengajak istrinya berolah asmara di punggung Lembu Andini. Dewi Uma menolak, padahal saat itu nafsu birahi Batara Guru sudah hampir sampai pada puncaknya. Maka jatuhlah kama benih dewa itu ke permukaan samudra.

Peristiwa ini menyebabkan mereka bertengkar hebat. Batara Guru mengutuk Dewi Uma menjadi raseksi (raksasa perempuan) dan diganti namanya dengan Durga, sedangkan Dewi Uma mengutuk suaminya sehingga bertaring.

 

Sementara itu kama benih Bathara Guru yang jatuh di samudra menjelma menjadi makhluk ganas dan rakus, yang ujudnya mengerikan. Makhluk itu segera pergi ke kahyangan dan minta pada Bathara Guru agar diakui sebagai anaknya. Tuntutan itu dipenuhi, dan makhluk itu diberi nama Batara Kala. Untuk mengurangi kerakusan Batara Kala, Batara Guru memotong taring anaknya dan dari dua taring itu diciptanya senjata ampuh: Kaladite dan Kalanadah.

 

 

 

Mitologi BatHARA Kala Dalam Pewayangan Jawa

Menurut cerita wayang Purwa. Ini terjadi ketika pada suatu saat Bathara Guru bertamasya bersama istrinya, Dewi Uma, menunggang Lembu Andini mengarungi angkasa. Di atas Nusa Kambangan, dalam keindahan pemandangan senja hari, Bathara Guru tergiur melihat betis istrinya. Ia lalu merayu Dewi Uma agar mau melayani hasratnya saat itu juga, di atas punggung Andini. Tetapi istrinya menolak. Selain karena malu, Dewi Uma menganggap perbuatan semacam itu tidak pantas dilakukan.

 

Karena gairah Bathara Guru tak tertahankan lagi, akhirnya jatuhlah kama benihnya ke samudra. Seketika itu juga air laut bergolak hebat. Benih kama Batara Guru menjelma menjadi makhluk yang mengerikan. Dengan cepat makluk itu tumbuh menjadi besar. la menyerang apa saja, melahap apa saja. Untuk meredakan kekalutan yang terjadi, Bathara Guru memerintahkan beberapa orang dewa membasmi makhluk itu. Namun dewa-dewa itu tak ada yang mampu menghadapi makhluk itu. Mereka akhirnya bahkan lari pulang ke kahyangan. Makhluk ganas itu segera mengejar para dewa sampai ke Kahyangan Suralaya, tempat kediaman Bathara Guru. Setelah berhadapan dengan Batara Guru makhluk itu menuntut penjelasan, ia anak siapa, untuk kemudian minta nama dari ayahnya. Batara Guru yang maklum keadaannya, segera memberi tahu bahwa makhluk itu adalah anaknya yang terjadi karena kama salah. Batara Guru memberinya nama Kala, dan mengangkatnya sederajat dengan dewa, sama dengan anak-anaknya yang lain. Dengan demikian, ia bergelar Batara Kala.

Setelah mendapat nama, Batara Kala lalu minta diberi istri dan tempat tinggal. Kebetulan, sesaat sebelumnya Batara Guru dan Dewi Uma baru saja bertengkar sehingga mereka saling mengutuk. Dewi Uma yang tadinya cantik jelita dikutuk menjadi raseksi (raksasa wanita) dan diberi nama Batari Durga. Batari Durga lalu dijadikan istri Batara Kala,  karena memang di dunia raksasa tidak mengenal norma-norma perkawinan. Mereka diberi tempat di Kahyangan Setra Gandamayit, di telatah Hutan Krendawahana. Perkawinan ini kemudian membuahkan dua orang anak. Yang sulung bernama Kala Gotana berujud raksasa mengerikan, sedangkan anaknya yang kedua bernama Dewasrani yang tampan. Selain yang dua itu, dalam beberapa lakon carangan, mereka masih mempunyai beberapa anak lagi.

 

Karena Bathara Kala makhluk yang amat rakus dan ganas, Batara Guru khawatir kalau-kalau manusia di bumi akan punah dimangsanya. Oleh sebab itu Bathara Guru lalu berusaha mengurangi kerakusan anaknya itu. Sebagai ayahnya, Batara Guru minta agar Batara Kala mendekat dan sungkem (berjongkok dan menyembah) di hadapannya. Batara Kala melaksanakan permintaan ayahnya itu. Namun ketika sampai ke dekat Batara Guru, pemuka dewa itu tiba-tiba memotong kedua taring dan lidah Bathara Kala yang mengandung bisa.

 

Oleh Bathara Guru, potongan lidah Batara Kala kemudian dicipta menjadi senjata ampuh berupa anak panah dan diberi nama Pasupati. Anak panah ini kelak menjadi milik Arjuna. Sedangkan taring kirinya menjadi keris bernama Kaladite, yang kemudian menjadi milik Adipati Karna. Potongan taring kanan Batara Kala dicipta menjadi keris yang diberi nama Kalanadah. Keris ampuh ini kelak akan dianugerahkan kepada Arjuna, kemudian Arjuna memberikannya kepada Gatotkaca sebagai kancing gelung.

 

Bathara Guru juga memberi ketentuan, hanya anak sukerta saja yang boleh dimangsa Batara Kala. Namun anak sukerta itu pun tidak boleh dimangsa, bilamana si anak telah diruwat oleh orang tuanya.

 

Beberapa daftar anak yang tergolong sukerta :

1.     Ontang-anting, anak tungal, baik lelaki maupun perempuan.

2.     Kedana-kedini, dua bersaudara, yang satu lelaki yang satu perempuan.

3.     Uger-uger, dua bersaudara, lelaki semua.

4.     Lumunting, anak yang lahir tanpa ari-ari.

5.     Sendang kapit pancuran, tiga anak yang sulung laki-laki, yang tengah perempuan, dan yang bungsu laki-laki.

6.     Pancuran kapit sendang, kebalikan dari nomor 5.

7.     Kembang sepasang, dua perempuan semua.

8.     Sarimpi, empat orang perempuan semua.

9.     Pandawa, lima orang lelaki semua.

10. Pandawi, lima orang perempuan semua.

11. Pandawa ipil-ipil, lima anak, empat perempuan, yang bungsu lelaki, dll.

 

Untuk menghindari jadi mangsa Batara Kala harus diadakan upacara ruwatan. Maka untuk lakon-lakon seperti itu di dalam pedalangan disebut lakon Murwakala atau lakon ruwatan. Di dalam lakon pedalangan Batara Kala selalu memakan para pandawa karena dianggapnya Pandawa adalah orang ontang anting. Tetapi karena Pandawa selalu didekati titisan Wisnu yaitu Bathara Kresna. Maka Bathara Kala selalu tidak berhasil memakan Pandawa.

 

Bathara Kala, sebagaimana halnya golongan dewa dalam pewayangan lainnya, tidak pernah mati. Pada zaman pemerintahan Prabu Jayabaya di Kediri, Bathara Kala yang menjelma di dunia sebagai Prabu Yaksadewa, membunuh Anoman. Pada Wayang Bali, Batara Kala menjadi repertoar satu-satunya dalam pergelaran Wayang Sapuh Leger, kalau di Pulau Jawa, lakon Murwakala.

 

 

BATHARA GURU MENGAJAK BATARI UMA BERPESIAR

Meskipun telah membangun Kahyangan Argadumilah yang tidak kalah indahnya dibanding Kahyangan Tengguru, namun perasaan Bathara Guru masih sangat kecewa atas kekalahannya melawan mukjizat Nabi Isa. Ia hanya bisa menyesali perbuatannya yang telah menyerang Kerajaan Bani Israil dan melanggar nasihat Sanghyang Padawenang.

 

Untuk menghibur diri, Bathara Guru mengajak Batari Uma pergi berpesiar menikmati keindahan Pulau Jawa. Batari Uma awalnya tidak bersedia karena ia mendapatkan firasat akan terjadi hal yang tidak baik. Namun Batara Guru terus-menerus mendesak sehingga Batari Uma akhirnya menurut juga.

 


LAHIRNYA KAMA SALAH

Batara Guru dan Batari Uma pun berangkat dengan mengendarai Lembu Andini. Mereka terbang di angkasa menikmati keindahan Pulau Jawa dari atas. Ketika melewati Laut Selatan, saat itu hari sudah menjelang senja. Sinar matahari terbenam yang kemerah-merahan menerpa tubuh Batari Uma sehingga membuatnya terlihat semakin cantik.

 

Tiba-tiba saja Batara Guru terbangkit nafsu birahinya. Maklum saja, sejak kelahiran Batara Wisnu yang melalui ajian Asmaragama, Asmaracipta, dan Asmaraturida, ia tidak pernah lagi melakukan persetubuhan dengan sang istri, sehingga kali ini nafsunya bagaikan meledak dan berkobar-kobar.

 

Batara Guru pun mengajak Batari Uma bersetubuh di atas punggung Lembu Andini saat itu juga. Batari Uma menolak karena malu, namun Batara Guru terus memaksa dan mengancam hendak menggunakan kekerasan. Batari Uma mengingatkan Batara Guru selaku raja dewata tidak sepantasnya bersikap seperti raksasa. Ucapan Batari Uma yang sedang terdesak itu berubah menjadi kutukan. Seketika, Batara Guru pun mendapatkan cacat ketiga, yaitu memiliki dua buah taring panjang seperti raksasa. Maka, sejak saat itu Batara Guru mendapatkan julukan baru, yaitu Sanghyang Randuwana, yang bermakna "memiliki taring seperti buah randu hutan".

 

Batara Guru sangat murka atas kutukan yang menimpa dirinya. Keinginannya bersetubuh pun berubah menjadi niat untuk memerkosa istri sendiri. Tubuh Batari Uma kemudian diangkat dan didudukkan di atas pangkuannya. Karena nafsu birahi sudah tak terkendalikan, air mani Batara Guru pun memancar keluar. Namun Batari Uma meronta menghindarinya sehingga air mani tersebut jatuh ke laut. Tiba-tiba saja air laut yang terkena tumpahan air mani sang raja dewata langsung mendidih dan mengepulkan asap.

 


KAMA SALAH BERUBAH WUJUD MENJADI RAKSASA

Dengan perasaan kecewa bercampur malu, Batara Guru memutuskan pulang ke Kahyangan Argadumilah. Tiba-tiba datang dewa penjaga lautan yang bernama Batara Baruna menghadap kepadanya. Batara Baruna ini adalah putra Batara Gangga, putra Batara Hermaya, putra Sanghyang Hening, yaitu paman Batara Guru.

 

Batara Baruna melaporkan bahwa di Laut Selatan telah tercipta api berkobar-kobar yang menewaskan banyak ikan dan binatang air. Batara Baruna mengaku kesulitan memadamkan api tersebut, karena semakin dipadamkan justru semakin bertambah besar. Kedatangannya ke Kahyangan Argadumilah ini adalah untuk memohon bantuan kepada Batara Guru supaya turun tangan menyelamatkan segenap binatang laut.

 

Batara Guru paham bahwa api tersebut sesungguhnya berasal dari "kama salah", yaitu luapan nafsu birahi salah tempat yang tadi tumpah dan membuat air laut mendidih. Rupanya gelembung kama salah tersebut kini telah berkembang dan tumbuh menjadi api yang berkobar-kobar. Batara Guru lalu memerintahkan Batara Sambu supaya memimpin para adik dan para sepupu untuk memadamkan kobaran Kama Salah tersebut.

 

Batara Sambu dan pasukan dewata telah tiba di Laut Selatan dan mengepung api yang berkobar-kobar itu. Mereka lantas mengerahkan segala cara untuk memadamkan api Kama Salah. Namun, bukannya padam, api tersebut justru berkobar semakin besar. Para dewa lantas melemparkan berbagai senjata pusaka ke dalam kobaran api. Namun, secara ajaib api itu justru berubah wujud menjadi raksasa mengerikan. Semakin para dewa menghujaninya dengan senjata, raksasa itu justru semakin bertambah besar dan kuat.

 

Raksasa Kama Salah itu lalu mengamuk melakukan serangan balasan. Para dewa pun kocar-kacir dibuatnya. Mereka berhamburan terbang kembali ke Kahyangan Argadumilah. Si Kama Salah terus mengejar sambil menanyakan siapa dirinya, dan siapa orang tuanya.

 


KAMA SALAH MENDAPAT NAMA BATARA KALA

Kama Salah mengejar para dewa sampai memasuki Kahyangan Argadumilah. Batara Guru dengan tenang menyambut kedatangannya dan menyuruhnya duduk di lantai. Kama Salah heran melihat wujud Batara Guru yang jauh lebih kecil dari dirinya namun berani memberikan perintah begitu saja. Batara Guru pun memperkenalkan diri sebagai raja dewata, penguasa seluruh dunia. Kama Salah merasa kebetulan, karena Batara Guru pasti bisa menceritakan siapa asal-usulnya, dan siapa orang tuanya.

 

Batara Guru bersedia menceritakan asal-usul Kama Salah apabila raksasa tersebut memberikan sembah bakti yang tulus kepadanya. Kama Salah pun membungkuk menghaturkan sembah. Pada saat itulah Batara Guru tiba-tiba memangkas rambut raksasa itu. Kama Salah terkejut dan mendongak. Secepat kilat Batara Guru memotong dua buah taringnya, dan menusuk lidahnya hingga semua bisa di dalam mulut raksasa itu mengalir keluar. Begitu kehilangan dua buah taring dan bisa di lidahnya, tubuh Kama Salah langsung lemas tak berdaya dan terkulai di lantai.

 

Batara Guru kemudian memperkenalkan dirinya sebagai ayah dari Kama Salah. Sejak hari itu Kama Salah diakuinya sebagai putra, dan diberi nama Batara Kala, karena lahir pada saat senjakala. Putra nomor enam itu lalu diperintahkan untuk tinggal di Pulau Nusakambangan yang terletak di Laut Selatan. Batara Kala berterima kasih dan berangkat menuruti perintah sang ayah.

 

Batara Guru kemudian menyerahkan kedua taring Batara Kala yang dipotongnya tadi kepada Batara Ramayadi dan Batara Anggajali supaya ditempa menjadi senjata. Kedua empu kahyangan itu lalu mengubah taring-taring tersebut menjadi dua bilah keris pusaka, yang diberi nama Keris Kalanadah dan Keris Kaladite.

 


BATARI UMA DIKUTUK MENJADI BATARI DURGA




Berita tentang Batara Guru memiliki anak berwujud raksasa besar dan mengerikan telah membuatnya merasa sangat malu. Ia pun menimpakan kesalahan kepada Batari Uma yang seharusnya tidak menolak sewaktu diajak bersetubuh di atas punggung Lembu Andini tadi. Batara Guru pun menemui Batari Uma dan menceritakan segalanya. Ia memarahi Batari Uma sebagai istri tidaklah pantas menolak perintah suami.

 

Batari Uma balas mengatakan bahwa terciptanya Batara Kala tidak lain karena kesalahan Batara Guru sendiri yang tidak dapat mengendalikan nafsu birahi. Jawaban ini membuat Batara Guru tersinggung dan semakin marah. Batara Guru lalu menjambak rambut sang istri dan memukuli badannya. Kedua kaki Batari Uma diangkat sehingga tubuhnya pun tergantung dengan kepala di bawah.

 

Batari Uma menjerit memohon ampun dengan suara yang melengking menyayat hati. Batara Guru tidak peduli dan menyebut jeritan Batari Uma itu seperti suara raksasi. Karena Batara Guru memiliki ajian Kawastrawam, membuat apa yang ia ucapkan menjadi kenyataan. Seketika wujud Batari Uma pun berubah menjadi raksasi buruk rupa.

 

Batara Guru menyesali kutukannya, namun semua sudah terlambat. Sejak saat itu Batari Uma diganti namanya menjadi Batari Durga dan diperintahkan untuk tinggal di Hutan Setragandamayit, memimpin para hantu dan siluman. Kelak ia akan berubah cantik kembali jika diruwat oleh seorang yang paling muda dari lima bersaudara Pandawa.

 

Batari Uma yang telah berganti nama menjadi Batari Durga itu pun menerima keputusan sang suami dengan perasaan sedih. Ia lalu berangkat meninggalkan Kahyangan Argadumilah dan pergi ke Hutan Setragandamayit untuk membangun kahyangan pribadi di sana.

 

Keterangan :

Bathara = Batara 

 

Imajiner Nuswantoro

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)