Suluk Malang Sumirang
Suluk Malang Sumirang iku suluk sing ngagungaké kasampurnaning manungsa tumuju Allah. Dicaritakaké yèn suluk iku ditulis déning Sunan Panggung sing ngadhepi ukuman obong amarga dianggep nyalahi saréngat agama Islam. Suluk iki kalebu sastra sing misuwur saka kasusastran Jawa Anyar lan kira-kira
Pethikan
Dosa
gung alit tan dèn singgahi
ujar
kupur kapir kang dèn ambah
wus
liwung pasikepane
tan
andulu dinulu
tan
angrasa tan angrasani
wus
tan ana pinaran
pan
jatining suwung
ing
suwunge iku ana
ing
anané iku surasa sajati
wus
tan ana rinasa
Pan
dudu rasa karasèng lathi
dudu
rasané apa pa lawan
dudu
rasa kang ginawe
dudu
rasaning guyu
dudu
rasa kang angrasani
rasa
dudu rarasan
kang
rasa amengku
sakèhing
rasa karasa
rasa
jati tan karasa jiwa jisim
rasa
mulya wisesa
(Kang
Lesungpipiet)
Cuaca
cerah, langit bertabur bintang sepanjang mata mengarah, rembulanpun sedang
berada dalam puncaknya, purnama sempurna. Angin laut berhembus halus menerpa
lembut seorang lelaki yang duduk diam di atas pasir pantai, Tegal Utara. Lelaki
itu hampir menginjak usia ke-40 Tahun, kulitnya sawo matang, mempunyai wajah
yang tampan dan cerah, secerah langit malam ini. Ia memakai udeng, surjan, dan
celana hitam, pakaian khas rakyat Jawa pada umumnya. Dialah Drajat, yang lebih
di kenal masyarakat sebagai Sunan Panggung.
Ia
sedang berada dalam masa pengasingan dari dewan wali karena telah dinilai gagal
sebagai pengawas yang dikirim Demak Bintoro ke Pengging, untuk menghentikan
sepak terjang Syekh Siti Djenar dan Adipati Pengging, bukannya menghentikan,
tapi Sunan Panggung malah menentang Dewan Wali dan mengikuti ajaran Syekh Siti
Djenar. Membuat ia harus dihukum dengan diasingkan.
Sudah
malam ke-7 ia tafakur di pantai ini, mencari petunjuk Tuhan, tentang
kesejatian. Hampir tengah malam ketika rembulan sampai pada ubun-ubun kepala,
dari langit muncul cahaya putih keemasan, serupa bintang jatuh, melesat dengan
cepat menerpa Sunan Panggung, tubuhnya sekejap bercahaya. Sang Sunan membuka
mata, ia tersenyum lalu berdiri mengangkat tangannya, mengucap syukur dan
berdoa.
Dari
kedua telapak tangannya, muncul cahaya yang bermanifesti menjadi seekor anjing
hitam dan anjing merah. Itulah wujud nafsu ‘luwamah’ dan ‘amarah’ yang sudah
beliau keluarkan dari tubuh wadagnya. Anjing hitam diberi nama ‘Iman’ dan
anjing merah diberi nama ‘Tauhid’. Kemanapun Sunan Panggung pergi, kedua anjing
tersebut selalu mengikutinya, duduk di belakang ketika Sang Sunan sedang sholat
atau membaca Al-Qur’an.
Tingkah
laku yang terkesan nganeh-nganehi itu segera menjadi bahan pembicaraan orang
banyak, membuat Kesultanan Demak Bintoro kembali gempar. Dewan Wali segera
berembug, untuk menjatuhkan hukuman kepada Sunan Panggung karena telah dinilai
sesat, mengajarkan ilmu sejati dengan meninggalkan syariat dan menjalankan
sholat dhaim yaitu sholat di dalam bathin. Keputusan Dewan Wali sudah bulat,
Sunan Panggung dijatuhi hukuman mati.
Utusan
dari Demak Bintoro segera dikirim untuk menjemput Sunan Panggung. Setelah
sampai di Tegal, Sunan Bonang mengutarakan maksudnya bahwa Dewan telah
memutuskan membawa Sunan Panggung ke Demak untuk menjalani hukuman mati, yaitu
dengan cara dibakar dalam Tumangan (api unggun). Sunan Panggung tidaklah gentar
sekalipun karena semua itu adalah kehendak Tuhan. Sunan mengajukan syarat agar
ada yang memanggul kedua anjingnya karena anjingnya sedang sakit. Permintaan
itu disanggupi Sunan Bonang yang semakin tidak mengerti tingkah Sunan Panggung.
Berangkatlah rombongan itu menuju Kesultanan Demak Bintoro.
Tahun
1452 disaksikan oleh Sultan Demak Bintoro, Dewan Wali, abdi dalem dan lapisan
masyarakat Demak Bintoro. Sunan Panggung dieksekusi. Kobaran api menyala-nyala
dalam tumpukan kayu yang menggunung. Sebelum masuk kedalam kobaran api itu,
Sunan Panggung meminta restu kepada Sultan Demak untuk disediakan nasi tumpeng.
Permintaan itu dikabulkan, akan tetapi setelah nasi tumpeng diberikan, Sunan
Panggung melemparkannya kedalam api yang menjilat-jilat udara, serta merta
kedua anjing piaraannya memburu masuk kedalam Tumangan tersebut.
Ajaib!
Kobaran api yang membara tersebut padam seketika, dan kedua anjing tersebut keluar
dari tumpukan kayu tanpa terbakar sama sekali. Seluruh yang hadir menjadi
terkesima dan masygul. Ditengah kemasygulan itu, Sultan Demak berkata “Duh ta
kakang, sampun nyumerepi ing keh lampah elok, nanging maksih kirang utamine
lamun mboten andhika pribadi kang umanjing agni, kirang antepipun dene among
asusilih kirik lan tarumpah karo” (Duh kakang, sudah kami saksikan peristiwa
yang masygul, akan tetapi masih belum sempurna kalau bukan kakang sendiri yang
masuk kedalam kobaran api, kurang meyakinkan jika hanya diganti oleh anjing dan
nasi tumpeng saja)
Dengan
tenang Sunan Panggung berkata “Duh Sultan sampun kuatir, manira pribadi kang
umanjing latu” (Duh Paduka Sultan jangan khawatir, saya sendiri akan masuk
kedalam bara api) Sambil menunggu kembali api dinyalakan Sunan Panggung menulis
sebuah pedoman agar ilmu yang sudah ia peroleh dari Tuhan dalam perjalanan
hidupnya dapat berguna bagi masyarakat banyak. Setelah api kembali berkobar,
segera Sunan Panggung masuk kedalam Tumangan tersebut diikuti kedua anjingnya.
Setelah api padam, musnahlah jasad Sunan Panggung dan kedua anjingnya.
Meninggalkan sebuah suluk (pedoman) yang belakangan dikenal dengan nama Suluk
Malang Sumirang.
Maksud
dari suluk tersebut adalah suatu peringatan kepada manusia agar jangan
terburu-buru mengambil keputusan terhadap seseorang yang nampaknya menyalahi
segala hukum (Malang Sumirang) dan tidak menurut syariat sebagai kafir dan
kufur. Sebab bisa jadi orang tersebut pada hakekatnya lebih berdekatan dengan
Tuhan. Tuhanlah Yang Maha tahu tentang kadar keimanan dan ketauhidan
makhluknya.
Begitulah
sepenggal kisah Syekh Abdulrahman yang lebih dikenal sebagai Sunan Panggung,
Sunan Drajat, Sunan Geseng maupun Mbah Panggung. Makam atau petilasannya ada di
Kelurahan Panggung, Kota Tegal. Yang dikenal sebagai Kawasan Keputihan dan
daerah Pamali bagi pentas seni wayang. Konon kabarnya Sunan Panggung sangat
tidak menyukai Wayang. Sudah bertahun-tahun pada malam-malam tertentu makamnya
dipenuhi peziarah yang ‘ngalab berkah’, bukan hanya dari kalangan masyarakat
biasa tapi juga kalangan penjabat dari dalam maupun luar kota.
Pangeran Panggung 2 anjing dan Suluk Malang Sumirang
Saat
utusan dari Sultan Trenggana Demak
menemui Pangeran Panggung yang tengah memberikan makan pada 2 anjingnya Iman
dan Tokid. Iman berwarna hitam dan Tokid berwarna kemerah-merahan. Utusan itu
beruluk salam dan memperkenalkan.
“Kami
diutus Paduka Sultan penyambung lidah syariah, tuan Pangeran diminta menghadap”
Demi
diperintahkan oleh kakaknya, Sultan Trenggana, Pangeran Panggung membalasnya,
“Baik aku segera mempersiapkan untuk berangkat”. Dalam pemikirannya Sultan
Trenggana membutuhkan dirinya lantaran ada masalah yang berkaitan hukum
syariah.
Kemarahan
Trenggana cukup beralasan, saat Dewan Walisanga datang menghadapnya, mengadu.
Berkatalah Sunan Bonang, “Kanjeng Sultan izinkan hamba memberitahukan berkaitan
dengan kakak Paduka mengajarkan ajaran Islam sungguh bertolak belakang.
Bagaimana dikatakan belajar hukum Islam, jika dirinya sendiri dinajisi oleh 2
ekor anjing setianya yang membuntuti, bahkan hingga masuk ke masjid. Tentu ini
merusak kewibawaan Islam di Demak dan masyarakat pada umumnya”.
“Lalu
apa yang harus saya lakukan dan perbuat Kanjeng Wali ?”
Dan
kalimat Sunan Bonang menggelegar, “Pangeran Panggung harus dibakar
hidup-hidup!”
Wali
Sanga lainnya memberikan persetujuan
“Baiklah
aku siapkan api unggun dan utusan untuk menjemput kakakku di Randusanga”
Kisah
itu ditorehkan soal Pangeran Panggung atau masyarakat Tegal dan sekitarnya
menyebutnya dengan Sunan Panggung atau Mbah Panggung. Makam Pangeran Panggung
berada dikompleks makam muslim Panggung Kota Tegal. Kisahnya menyerupai narasi
sufi Jawa Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang. Kisahnya merupakan kisah
radikalisme yang oleh George Quinn, Wali Berandal Tanah Jawa (2019) jauh lebih
radikal ketimbang kisah Al-Hallaj.
Keterpesonaan
masyarakat Jawa pada Siti Jenar bukan tanpa alasan. Salah satunya diguratkan
oleh Raden Panji Natarata atau Raden Sasrawijaya menuliskan Serat Siti Jenar
yang dirujuj dari Serat Babad Demak. Pokok permasalahan yang didedah hakikat
manusia yang sejati tidak lain adalah hakikat alam semesta mewujud atas
kehendaknya sendiri (Quin, 2019 : 184).
Hakikat
tasawuf Jawa adalah jagad kebatinan yang mengolah nafs (diri, psike, ego dan
roh). Komponen nafs yang meliputi sufiah (hasrat), mutmainah (egosentrifugal),
luamah (egosetripetal, pengutamaan pada diri sendiri) dan amarah (energi).
Pangeran
Panggung sama halnya dengan Siti Jenar merepresentasikan soal radikalisme
spiritual yang menolak pembakuan baku agama. Kekhawatiran akan pengaruh dampak
ajaran itulah yang menjadikan Pangeran Panggung bernasib sama dengan Siti
Jenar. Ada dugaan Pangeran Panggung belajar tasawuf Syekh Siti Jenar. Sebuah studi mengenai Pangeran Panggung
ditulis D.A Rinkes dengan judul De
Heiligen van Jawa: Pangeran Panggoeng zijne honden en het wajangspel (1926).
Rinkes
menginformasikan soal Pangeran Panggung berdasarkan tradisi lokal merupakan
putra dari Sunan Bonang yang ditugaskan untuk mengajarkan agama di Tegal,
“Volgens de locale traditie was kjai embah Panggoeng en zoon van Soenan Bonang
die de opdracht had gekregen om te Tegal…” (hlm. 137). Kompleks makam
bercungkup itu dimakamkan isteri Pangeran Panggung dan 2 pengikut setianya:
Iman dan Tokid berwujud anjing. Yang menarik dari tulisan Rinkes didapatkan
bahwa setiap Kamis Wage dan Jumat Kliwon, banyak peziarah yang bermalam untuk
menziarahi makam Pangeran Panggung berdoa guna melayangkan dan hajat keinginan
mereka.
Malang Sumirang versus Ragam Baku Islam
Jejak
ajaran dan pandangan Pangeran Panggung melindap dalam karya Suluk Malang
Sumirang. Sayang masterpiece karya Pangeran Panggung ini musnah senyampang
dengan sempat terbakarnya makam Pangeran Panggung pada akhir abad XIX. Hal ini
ditulis pula dalam buku DA Rinkes, De Heiligen van Java (periksa halaman 137).
Apa
yang menarik dari Suluk Malang Sumirang? Mari kita lihat analisa George Quinn,
Wali Berandal Tanah Jawa (2018 : 189-190). Ia menyebut bahwa Suluk Malang
Sumirang merupakan teks yang melawan ragam baku Islam. Ragam baku menurutnya
adalah arus utama tauhid Islam yang berpandangan bahwa Allah dan manusia
berlainan dalam segala hal,. Bahkan kesempurnaan Islami terdapat dalam
keyakinan dan praktik kaum kafir :
Ananging
aran tokidan
Lawan
ujar kupur kapir iku kaki
Aja
masih rerasan
Yen
tan wruha ujar kupur kapir
Pasthi
wong iku during sampurna
Maksi
bakal pangrawuhe
Pan
kupur kapir iku
Yaiku
sampurna jati
Pan
weka ing kasidan
Kupur
kapir iku
Iya
sadat iya salat
Iya
idhep, iya urip,. Iya jati
Iku
jatining salat
Inilah
radikalisme Pangeran Panggung yang sejajar dengan Syekh Siti Jenar dalam
berpandangan soal bergama dan berkeyakinan. Memang sepintas teks Malang
Sumirang menyerang mereka yang menjalankan syariah. Ini merupakan paradoks.
Keyakinan pada umumnya hukum syariah dan mekanisme beribadah secara umum
sebagai landasan masuk untuk pencapaian tahap berikutnya. Malang Sumirang mengajarkan bahwa pengetahuan
rohani/spiritual tidak sempit dan bersifat menolak eksklusif.
Pada
akhirnya, “dalam hampa terdapat Ada, dalam Ada terdapat hakikat sejati”. Maka
saat diperintahkan Sultan Trenggana untuk memasuki lautan api yang
dipersiapkan. George Quinn dengan bahasa sastrawinya menuliskan sebagai
berikut:
Sesampainya
di tengah kobaran api, Pangeran Panggung menancapkan tongkatnya di tanah dan
dengan menggunakan tongkatnya di tanah dan dengan menggunakan tongkatnya
sebagai meja, ditulisnya sebuah suluk di tengah kobaran api. Ketika Pangeran
Panggung selesai menulis, api telah padam. Diserahkannya karya yang sudah jadi
itu kepada Sultan dan Wali Sanga. Kemudian Sang Pangeran melambai ceria, lalu
menghilang dan mengembara dengan ditemani anjingnya.
Radikalisme
itu telah sirna senyampang dengan musnahnya teks Suluk Malang Sumirang yang
menimpa makam Pangeran Panggung dalam abad akhir XIX. Para peziarah tak lagi
mempersoalkan soal keradikalan Pangeran Panggung. Mereka mendaraskan wirid dan
doa layaknya peziarah pada umumnya.
Cerita
Syekh Malang Sumirang, Dibakar Sunan Kudus di Alun-alun Demak Karena Dianggap
Sesat
Syekh
Malang Sumirang atau juga dikenal dengan nama Sunan Panggung merupakan salah
satu ulama penyebar Islam tanah Jawa pada masa pemerintahan Sultan Trenggono,
penguasa Kerajaan Demak ketiga (1488-1521).
Di
tengah perjalanannya Syekh Malang Sumirang tiba-tiba menempuh laku hidup yang
tidak lazim. Malang Sumirang melepas segala hal yang bersifat keduniawian. Di
hatinya yang ada hanya Tuhan, sehingga hari-harinya hanya diisi dengan
merenung.
Ketidaklaziman
itu membuat sebagian masyarakat menganggapnya telah gila. Namun yang membuat
resah ketika Malang Sumirang menilai ibadah lahiriah sebagai kungkungan, yang
itu tidak bermanfaat bagi batin yang telah menyatu dengan Tuhan.
Puncaknya
ketika Syekh Malang Sumirang tiba-tiba memelihara dua ekor anjing yang secara
syariat dilarang. Anjing berbulu hitam diberinya nama Iman dan yang berbulu
kemerahan bernama Tokid (Tauhid). Kedua ekor anjing itu mengiringi kemana pun
Syekh Malang Sumirang pergi.
“Mereka
bahkan ikut Jumatan di masjid, duduk di belakang tuannya, dan turut menyerap
hukum Nabi dengan tekun,” tulis George Quinn dalam buku Wali Berandal Tanah
Jawa.
Sejumlah
sumber menyebut Syekh Malang Sumirang memiliki nama kecil Raden Jatiswara. Ia
adalah putra kedua Raden Santri atau Ali Murtadho atau Ali Musada, kakak
kandung Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Ibu Malang Sumirang adalah putri
bangsawan asal Jipang Panolan (sekarang Cepu, Kabupaten Blora).
Syekh
Malang Sumirang memiliki kakak kandung bernama Raden Usman Haji atau Ngusman
Haji yang dikenal sebagai Sunan Ngudung. Selisih usia keduanya 20 tahun. Sunan
Ngudung adalah ayah Jakfar Shadiq atau Sunan Kudus.
Sejak
kecil Syekh Malang Sumirang dikenal sebagai bocah yang cerdas dan pemberani.
Oleh ayahnya, ia dipondokkan ke pesantren Sunan Ampel yang tak lain pamannya
sendiri.
“Di
Pesantren Ampeldenta, Raden Jatiswara bersahabat akrab dengan Kebo Kenanga,
teman sesama santri yang sebaya umurnya. Mereka juga bergaul dekat dengan Sunan
Ali Hasan (kelak menjadi Syekh Siti Jenar) yang juga menjadi santri di Ampel,”
tulis Yudhi AW dalam buku Jalan Gila
Menuju Tuhan, Kisah Moksanya Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging & Syekh
Malang Sumirang dalam Babad Jaka Tingkir (2013).
Dari
Ampel Denta, Malang Sumirang melanjutkan nyantri ke pesantren Sunan Giri di
Gresik. Ia menyukai ilmu tasawuf. Selepas dari pesantren Giri Kedaton Syekh
Malang Sumirang memutuskan mengembara. Ia tinggal di mana saja di mana sebagian
orang menjumpainya berada di atas pohon besar.
Pohon
besar itu menjadi tempatnya istirahat sekaligus melakukan laku tirakat. Konon dari situ ia mendapat julukan Sunan
Panggung. Selama sepuluh tahun Syekh Malang Sumirang menjalani kehidupan tak
lazim. Ia menyebut hidupnya sebagai Thariq Rabbani atau jalan gila menuju
Tuhan.
Namun
yang membuat marah penguasa Kerajaan Demak ketika Syekh Malang Sumirang
terang-terangan memelihara dua ekor anjing yang diberinya nama iman dan tokid.
Malang Sumirang dituding sesat sekaligus dianggap telah menghina ajaran
syariat.
Sultan
Kudus yang mana sebagai keponakan Syekh Malang Sumirang diminta Sultan
Trenggono untuk mengajak pamannya kembali ke jalan lurus. Syekh Malang Sumirang
diminta mengakui kesalahannya. Jika tidak, Sultan Demak akan menjatuhkan
hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup.
Yudhi
AW dalam Jalan Gila Menuju Tuhan, Kisah Moksanya Syekh Siti Jenar, Ki Ageng
Pengging & Syekh Malang Sumirang dalam Babad Jaka Tingkir menyebut Sunan
Kudus berusaha melobi pamannya agar hukuman mati urung dilaksanakan.
“Ayolah,
Paman Malang Sumirang. Dalem mohon dengan sangat, mengakulah kalau Paman telah
salah jalan. Kita bisa kumpul sebagai kerabat,” kata Sunan Kudus.
Apa
jawaban Syekh Malang Sumirang? Ia tetap teguh dengan pendiriannya. Ia tetap
meyakini apa yang dilakukan tidak ada yang salah. “Nakmas Kudus. Apa yang kau
sedihkan? Perpisahan badan kita? Ooo..itu masalah kecil. Aku tak perlu
melakukan masalah itu,” jawab Syekh Malang Sumirang.
Diceritakan
dalam Babad Jaka Tingkir, Sunan Kudus hanya bisa terdiam, pasrah dalam
kesedihan. Musyawarah para ulama dan kerajaan Demak akhirnya memutuskan hukuman mati dijatuhkan. Keputusan
disiarkan secara luas, di mana eksekusi berlangsung di alun-alun Demak.
Kayu
bakar pun disiapkan. Kayu disusun bertumpuk-tumpuk dengan sebuah ruangan
sebagai tempat Syekh Malang Sumirang. Mengetahui persiapan pelaksanaan hukuman
itu Malang Sumirang tetap tenang.
Air
mukanya tetap tak terlihat rasa takut maupun sedih. Ia justru gembira. “Ia
malah teramat girang karena merasa akan bersatu dengan Tuhan yang sudah lama ia
idamkan masanya,” demikian Babad Jaka Tingkir mengisahkan.
Sultan
Trenggono dan ulama Wali Songo kembali memberi kesempatan Malang Sumirang
bertobat. Cukup mengakui semua kesalahan dan menyatakan kembali ke jalan yang
benar, putusan hukuman mati akan dicabut. Namun Syekh Malang Sumirang tetap
dengan sikapnya.
Pada
hari Senin, disaksikan rakyat Demak, hukuman mati itu dilaksanakan. Para wali
dan pemuka agama Demak yang dipimpin Sunan Drajat hadir di sekitar alun-alun.
Mereka berada di dalam Masjid Agung, duduk di kursi masing-masing.
Sementara
Sultan Trenggono duduk di atas kursi kencana, di atas panggung yang sengaja
dibangun di antara beringin sepasang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman
mati.
Lepas
salat dhuhur, Syekh Malang Sumirang digelandang menuju alun-alun. Rakyat Demak
menyambut dengan sorak – sorai. Sebelum diletakkan di antara tumpukan kayu
bakar, Malang Sumirang ditempatkan di depan para ulama, di tempat paling
rendah.
Posisi
itu merupakan simbol bahwa dulunya Malang Sumirang ini adalah seorang ulama
namun karena kelakukannya sendiri maka kini ia berada di tempat yang paling
rendah.
Dewan
wali menunjuk Sunan Kudus sebagai eksekutor hukuman mati. Penunjukan itu untuk
menegaskan: Untuk menegakkan sebuah kebenaran, tak ada toleransi lagi. Biar saudara
sendiri, kalau memang salah harus tetap dihukum.
“Paman,
maafkan saya, dengan terpaksa saya harus melaksanakan titah. Ini adalah
keputusan dari mufakat bersama, yakni musyawarah antara segenap wali dengan
Kanjeng Sultan dengan didasarkan pada Al-Qur’an, Hadist, Ijmak dan Qiyas,” ujar
Sunan Kudus seperti disarikan dari Babad Jaka Tingkir.
Dengan
tenang Syekh Malang Sumirang mempersilahkan keponakannya melaksanakan tugasnya.
“Laksanakan tugasmu, Nak. Engkau tak usah ragu. Aku sudah siap menanggung perbuatanku,
tak akan lari aku dari tanggung jawab. Bakarlah kayu-kayu ini. Hanya saja kalau
diperkenankan, aku minta sesuatu padamu”.
Dalam
Babad Jaka Tingkir diceritakan, Syekh Malang Sumirang meminta dua bundel kertas
beserta tinta yang hendak ditulis sebagai sebuah wasiat. Yang mengejutkan Sunan
Kudus, Syekh Malang Sumirang yang berada di tumpukan kayu memulai menulis
setelah api berkobar hebat.
Paman
Sunan Kudus itu duduk bersila di tengah kobaran api di mana dua ekor anjingnya
ada di dekatnya. Ajaibnya, api tak menyentuh kulitnya. Begitu juga dua ekor
anjingnya, tidak terbakar. Malang Sumirang terus menulis.
“Api
itu terus menjilat, menyala-nyala, berkobar-kobar, membumbung tinggi ke atas.
Namun sang terhukum masih saja tenteram di dalamnya, seakan tengah bernaung di
kolam bening saja”.
Saat
api mengecil dan akhirnya mati, tulisan pada bundel kertas itu selesai. Semua
mata melihat Syekh Malang Sumirang dan dua ekor anjingnya tetap segar bugar.
Semua tercengang. Para wali, Sultan Demak, para mufti, para pandita agung, para
ksatria dan adipati serta segenap punggawa menteri, saling pandang.
Dengan
senyum mengembang, Malang Sumirang berdiri meninggalkan tempat duduknya.
Dihampirinya Sunan Drajat dan menyalaminya. Satu-persatu wali dijabat
tangannya. Yang terakhir Syekh Malang Sumirang menyalami Sultan Trenggono.
Ia
kemudian kembali kepada Sunan Drajat untuk menyerahkan bundel kertas
bertuliskan suluk tulisan tangannya. “Ia beri nama suluk itu sebagai Suluk
Malang Sumirang, sebagai pijakan menuju ilmu rasa yang meliputi rahsa,” tulis
Yudhi AW dalam Jalan Gila Menuju Tuhan, Kisah Moksanya Syekh Siti Jenar, Ki
Ageng Pengging & Syekh Malang Sumirang dalam Babad Jaka Tingkir.
Suluk
yang berbentuk tembang Dhandhanggula itu berisi ajaran ketuhanan. Sebuah
penyingkapan tabir rahasia, berisi kata-kata yang menyurat sekaligus
tersembunyi maknanya. Juga tentang pemakluman atas Kesejatian Sang Maha
Mengawasi, penjelasan bagi kesempurnaan ilmu, menyeluruh hingga tuntas.
“Suluk
Malang Sumirang karangan Pangeran Panggung (Syekh Malang Sumirang) adalah karya
luar biasa. Karya tersebut tergolong dalam sekelompok teks keagamaan yang
berkenaan dengan tasawuf gaya Jawa,” kata peneliti asing George Quinn dalam
Wali Berandal Tanah Jawa.
Usai
menyerahkan suluk Malang Sumirang, paman Sunan Kudus itu kemudian melanjutkan
pengembaraanya ke wilayah pesisir pantai utara. Sejumlah versi menyebut pengembaraan
Syekh Malang Sumirang atau Sunan Panggung berhenti di wilayah Tegal, Jawa
Tengah.
Sebuah
makam tua di sebelah utara alun-alun Kota Tegal, tepatnya di belakang masjid
Panggung diyakini sebagai pesarean Syekh Malang Sumirang. Setiap Kamis Wage dan
Jumat Kliwon, banyak peziarah berdoa di depan pusaranya.
Konon,
kitab suluk Malang Sumirang tersimpan di area makam. Namun kitab itu kemudian
diyakini turut musnah seiring terjadinya peristiwa kebakaran yang menghanguskan
komplek pesarean Mbah Panggung atau Syekh Malang Sumirang.
SULUK MALANG SUMIRANG
Sunan
Panggung Sunan Panggung dihukum oleh kraton Demak dengan dibakar hidup-hidup
karena dianggap telah melanggar sarak dan menyebarkan ajaran sesat. Saat itu
Sunan Panggung memang memimpin barisan oposisi yang selalu mengkritik
kebijaksanaan Sultan Demak yang selalu didukung oleh para wali. Kraton Demak
berdiri kokoh salah satunya karena sokongan cendekiawan yang tergabung dalam
Dewan Wali Sanga. Kitab-kitab yang terbit pada jaman ini yaitu: 1) Suluk Sunan
Bonang, 2) Suluk Sukarsa, 3) Suluk Malang Sumirang, 4) Koja-Kojahan, dan 5)
Niti Sruti. Pengertian Wali Sanga dapat dipahami secara denotatif maupun
konotatif. Dalam pengertian denotatif nama Wali Sanga berarti sejumlah guru
besar atau ulama yang diberi tugas untuk dakwah dalam wilayah tertentu. Dalam
pengertian konotatif bahwa seseorang yang mampu mengendalikan babahan hawa
sanga (9 lubang pada diri manusia), maka dia akan memperoleh predikat kewalian
yang mulia dan Selamat dunia akhirat.
Tanggab
Sasmita Tanggap sasmita adalah responsif terhadap informasi simbolik. Orang
yang tanggap sasmita mempunyai perasaan yang halus sehingga dirinya mudah
menyesuaikan diri. Tanda-tanda yang bersifat semiotis memerlukan ketajaman
perasaan untuk menangkap maknanya. Tinggi rendahnya kepemimpinan Jawa salah
satunya ditandai dengan kemampuannya dalam mengolah isyarat alamiah. Bahkan
untuk memberi instruksi pun kadang-kadang lebih mengena dengan pasemon atau
perlambang. Semiotika Jawa mengandung makna yang menekankan pada perasaan. Ada
ungkapan ing sasmita amrih lantip berarti supaya dapat menangkap arti simbolik
dengan ketajaman batin.
Suluk
Malang Sumirang adalahajaran Sunan panggung dari Kasultanan Demak. Ajaran ini
berupa kritik atau sindiran kepadapara ahli Sariat. SelanjutnyaSunan Panggung
dihukum denga cara dibakar sebab dianggep menyebarkab aliran sesat.
Berikut
ini petikan Suluk Malang Sumirang :
PUPUH DHANDHANGGULA
01
Malang
sumirang amurang niti, anrang baya dènira mong gita, raryw anom akèh duduné,
anggelar ujar luput, anrang baya tan wruh ing wisthi, angucap tan wruh ing
trap, kaduk andalurung, pangucapé lalaluya, ambalasar dhahat amalangsengiti,
tan kena winikalpa.
02
Andaluya
kadadawan angling, tan apatut lan ujar ing sastra, lan murang dadalan gedhé,
ambawur tatar-tutur, anut marga kang dèn-singkiri, anasar ambalasar, amegat
kekuncung, tan ana ujar kerasa, liwang-liwung pangucapé burak barik, nulya kaya
wong édan.
03
Idhep-idhepé
kadya raryalit, tan angrasa dosa yèn dinosan, tan angricik tan angroncé, datan
ahitang-hitung, batal karam tan dèn-singgahi, wus manjing abirawa, liwung tanpa
tutur, anganggé sawenang-wenang, sampun kèrem makamé wong kupur kapir, tan ana
dèn-sèntaha.
04
Angrusak
sarak ujar sarèhing, acawengah lan ajar ing sastra, asuwala lan wong akèh,
winangsitan andarung, kedah anut lampah tan yukti, mulané ambalasar, wus
amanggé antuk, jatining apurohita, marminipun tan ana dèn-walangati, sakèhing
pringgabaya.
05
Pangucapé
wus tanpa kekering, oranana bayané kang wikan, dhateng kawula jatiné, tan ana
bayanipun, anging tan wruh jatinirêki, pan jatining sarira, tan roro tetelu,
kady angganing reringgitan, duk sang Panjy asusupan rahina wengi, kesah saking
nagara.
06
Anêng
Gegelang lumampah carmin, anukma aran dhalang Jaruman, dèn-pendhem
kulabangsané, ndatan ana kang weruh, lamun Panji ingkang angringgit, baloboken
ing rupa, pan jatine tan wruh, akèh ngarani dhadhalang, dhahat tan wruh yen
sira putra ing Ke1ing, kang amindha dhadhalang.
07
Adoh
kadohan tingalirêki, aparek reké tan kaparekan, yèn sang Panji rupané,
dèn-senggèh baya dudu, lamun sira Panji angringgit, balokloken ing tingal, pan
jatining kawruh, lir Wisnu kelayan Kresna, ora Wisnu anging Kresna Dwarawati,
amumpuni nagara.
08
Wisésa
Kresna jati tan sipi, kang pinujyêng jagad pramudita, tan ana wruh ing polahé,
lir Kresna jati Wisnu, kang amanggih datan pinanggih, pan iya déning nyata,
kajatenirêku, mulané lumbrah ing jagad, angestoken kawignyan sang Wisnumurti,
nyatané arya Kresna.
09
Mangkana
kang wus awas ing jati, oranana jatining pangéran, anging kawula jatiné, kang
tan wruh kéngar korup, pan kabandhang idhepirêki, katimpur déning sastra, milu
kapiluyu, ing wartaning wong akathah, pangèstiné dèn-senggèh wonten kakalih,
kang murba kang wisésa.
10
Yèn
ingsun masih ngucap kang lair, angur matiya duk lagi jabang, ora ngangka ora
ngamé, akèh wong angrempelu, tata lapal kang dèn-rasani, sembayang lan puwasa,
dèn-gunggung tan surud, den-senggèh anelamna, tambuh gawé awuwuh kadya raragi,
akèh dadi brahala.
11
Pangrungunisun
duk raré alit, nora selam déning wong sembayang, nora selam déning anggèn, tan
selam déning saum, nora selam déning kulambi, tan selam déning dhestar, ing
pangrungunisun, éwuh tegesé wong selam, nora selam déning anampik amilih, ing
karam lawan kalal.
12
Kang
wus prapta ing selamé singgih, kang wisésa tuwin adi mulya, sampun teka ing
omahé, wulu salembar iku, brestha geseng tan ana kari, angganing anêng donya,
kadya adedunung, lir sang Panji angumbara, sajatiné yèn mantuk ing gunung urip,
mulya putrêng Jenggala.
13
Akèh
wong korup déning sejati, sotaning wong dèrèng purohita, dèn-pisah-pisah
jatiné, dèn-senggèh seos wujud, sajatiné kang dèn-rasani, umbang ing kapiran,
tambuh kang den-temu, iku ora iki ilang, mider-mider jatiné kang dèn-ulati, tan
wruh kang ingulatan.
14
Brahalane
den-gendong den-indit malah kabotan dening daadapen mangke dereng wruh jatine
dening wong tanga guru amungakĕn wartaning tulis kang ketang jatining lyan
den-tutur anggalur den-turut kadya dadalan kajatene deweke nora kalingling lali
pejah min-Wang.
15
Dosa
gung alit kang den-singgahi ujar kupur-kapir tan den-ucap iku wong anom kawruhe
sembayang tan surud puwasane den ati-ati tan ayun kaselanan kalimput ing hukum
kang sampun tekeng kasidan sembah puji puwasa tan den-wigati nora rasa-rinasan.
16
Sakeh
ing doss tan den-singgahi ujar kupur-kapir tan den-tulak wus liwang-liwung
polahe tan andulu dinulu tan angrasa tan den-rasani tan amaran pinaran wus
jatining suwung ing suwunge iku ana ing anane iku surasa sejati tan kĕna
den-ucapna.
17
Dudu
rasa kang kĕraseng lati dudu rasa rasaning pacuwan dudu rasa kang ginawe dudu
rasa rasaning guyu dudu rasa rasaning lati dudu rasa rĕrasan rasaku amengku
salir ing rasa surasa. mulya putreng Jènggala rasa jati kang kerasa jiwa jisim
rasa mulya wisesa.
18
Kang
wus tumeka ing rasa jati panĕmbahe da tanpa lawanan lir banyu mili pujine ing
ĕnĕnge anebut ing unine iya amuji solahe raganira dadi pujinipun tĕkeng wulune
salĕmbar ing osike tan sipi dadi pamuji pamuji dawakira.
19
Ingkang
tan awas puniku pasti dadi kawulane kang wus awas tĕka ing sĕmbah pujine amung
jatining wĕruh pamujine rahina wĕngi mantĕp paran kang awas ujar iku luput
ananging aran tokidan lawan ujar kupur-kapir iku kaki aja masih rĕrasan.
20
Yen
tan wruha ujar k„p„r-“pir pasti woog iku durung ~”„, maksih bakai pangawruhe
pan kupur-kapir iku iya iku sampurna jati pan wèkas ing kasidan kupur-kapir iku
iya sadat iya salat iya idĕp iya urip iya jati iku jatining salat.
21
Sun-marenana
angedarneling sun-sapiye ta bok kadĕdawan mĕnawa mèdal cucude ajana milu-milu
mapan iku ujar tan yakti pan mangkana ing lampah anrang baya iku rare anom
ambĕlasar tanpa gawe gawene sok murmg niti anggung malang sumirang.
PUPUH KINANTHI
01
Dosa
gung alit tan dèn singgahi, ujar kupur kapir kang dèn ambah, wus liwung
pasikepane, tan andulu dinulu, tan angrasa tan angrasani, wus tan ana pinaran,
pan jatining suwung, ing suwunge iku ana, ing anane iku surasa sajati, wus tan
ana rinasa.
02
Pan
dudu rasa karasèng lathi, dudu rasane apa pa lawan, dudu rasa kang ginawe, dudu
rasaning guyu, dudu rasa kang angrasani, rasa dudu rarasan, kang rasa amengku,
sakèhing rasa karasa, rasa jati tan karasa jiwa jisim, rasa mulya wisesa.
03
Kang
wus tumeka ing rasa jati, sembahyanging tan mawas nalika, luwir banyu mili
jatine, tan ana jatinipun, mona muni turu atangi, saosiking sarira, pujine
lumintu, rahina wengi tan pegat, puji iku rahina wengi sirèki, akèh dadi
brahala.
04
Pengunguningsun
duk lare cilik, nora Selam dening asembahyang, tan Selam dening pangangge,
tan
Selam dening saum, nora Selam dening nastiti, tan Selam dening tapa, nora
dening laku, tan Selam dening aksara, nora Selam yèn anut aksara iki, tininggal
ora esah.
05
Selame
ika kadi punendi, kang ingaranan Selam punika, dening punapa Selame, pan ing
kapir iku, nora dening mangan bawi, yadyan asembahyanga, yèn durung aweruh, ing
sejatining wong Selam, midera anglikasan amontang manting, jatine kapir kawak.

.jpeg)