SEMAR MANEGES

0

Semar Maneges

 


Cerita diawali dengan jejer Astina, dimana berkumpul Pandawa dan Kurawa sedang menghadap seorang pandita baru bernama Begawan Sukma Lawung. Mereka sedang membahas masalah perdamaian antara Pandawa-Kurawa dan menggagalkan perang Baratayudha Jayabinangun.

Belum begitu lama mereka berbincang-bincang, datanglah Ki Lurah Semar. Kedatangan Ki Lurah Semar sebagai wakil rakyat dalam pasamuan agung tersebut untuk meminta pertanggungjawaban dari Prabu Duryudana dan Prabu Puntadewa tentang kehidupan rakyat yang tidak tenteram.

Karena menurut Kyai Semar, keadaan bangsa yang tidak tenteram tersebut merupakan tanggung jawab dari Prabu Puntadewa dan Prabu Duryudana sebagai pemegang tampuk pemerintahan. Belum sampai kedua prayagung tersebut memberikan jawaban, sang guru yaitu Begawan Sukma Lawung memperkenalkan diri sekaligus mengutarakan maksudnya untuk menyatukan Pandawa-Kurawa dan menggagalkan Baratayudha serta meminta pendapat Kyai Semar.

Mendengar itu semua, Kyai Semar tidak setuju, karena Baratayudha itu adalah perang suci dimana yang nandur bakal ngunduh, utang bakal nyaur, nyilih mbalekake, nggawe bakale nganggo, utang wirang nyaur wirang, utang pati nyaur pati.

Di saat itulah, ada seorang murid sang begawan yang tidak terima dan tiba-tiba masuk ke pasewakan dan menyeret Kyai Semar keluar.

Di luar, Kyai Semar bertemu dengan Anoman, Setyaki, Antareja dan Gatutkaca. Mendengar pengakuan Kyai Semar yang diseret keluar secara paksa, mereka berempat tidak terima dan terjadilah pertempuran dengan siswa Begawan Sukma Lawung.

Melihat murid-muridnya kalah, Begawan Sukma Lawung memerintahkan Patih Sangkuni diikuti beberapa Kurawa mengejar Kyai Semar ke Karang Kadempel untuk menjadi saksi bersatunya Pandawa-Kurawa.

Raden Arjuna diperintah untuk mengikuti Patih Sangkuni, kalau-kalau gagal membawa Kyai Semar, sedangkan Raden Werkudara diminta mencari Prabu Kresna.

Di Karang Tumaritis, Patih Sangkuni, Prabu Karna dan Aswatama berhadapan dengan anak-anak Kyai Semar dan dibantu oleh Raden Abimanyu.

Begitu para Kurawa terdesak, Raden Arjuna maju ke pertempuran. Melihat orang tuanya yang maju, Raden Angkawijaya langsung lari menghindar, dan mau tidak mau Ki Lurah Semar harus menghadapinya. Untuk menghadapi Raden Arjuna, Kyai Semar memanggil Bathara Ismaya yang kemudian berubah menjadi Raden Arjuna, sehingga terjadilah pertarungan antara dua Arjuna.

Dalam pertarungan tersebut, Begawan Sukma Lawung turut campur dan mengeluarkan ajian Gelap Sayuta untuk menyingkirkan KyaiSemar.

Di lain tempat, Prabu Kresna dan Prabu Baladewa bertemu dengan Gareng, Petruk dan Bagong yang melarikan diri. Mereka bertiga kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpa orang tuanya. Tidak begitu lama, datanglah Raden Werkudara yang ditugaskan mencari Prabu Kresna.

Mendengar pernyataan Raden Werkudara tersebut, Prabu Kresna mengatakan, bukankah Raden Werkudara pernah menjadi seorang pandita dengan gelar Begawan Bima Suci, lantas dimana kawaskitan Begawan Bima Suci tersebut?

Pertanyaan tersebut membuat Raden Werkudara pergi tanpa pamit dan langsung menggendong Prabu Puntadewa dan Raden Arjuna untuk segera pulang ke Amarta.

Dalam pengejarannya, Begawan Sukma Lawung bertemu dengan seorang pandita.

Terjadilah pertarungan diantara kedua pandita tersebut dan berubahlah masing-masing ke wujud aslinya, yaitu Sang Hyang Manikmaya dan Kyai Nayantaka. Bathara Guru mengungkapkan maksudnya, dimana dia hanya ingin menguji kewaspadaan Prabu Duryudana dan Prabu Puntadewa dalam menyikapi keadaan masyarakat yang tidak tenteram.

Prabu Duryudana yang tidak terima dan hendak mengamuk bertemu dengan Kyai Semar. Ki Lurah Semar mengingatkan bahwa apa yang didapat dari peperangan?

Disamping itu, Baratayudha tidak perlu diharapkan ataupun dihindari, karena manusia sebagai makhluk Tuhan hanya bertugas menjalani saja.

 

SEMAR MANEGES 2

Semar Maneges menceritakan perjuangan Arjuna dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa yang berupa Wahyu Aji Gineng Sukawedha. Keberhasilannya ini adalah kerja kerasnya dibantu oleh Ki Lurah Semar Badranaya. Sekali lagi –selain Wahyu Tohjali- Arjuna akan dikadali oleh Bethara Guru yang berniat menyerahkan Aji Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.

Sebagai abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Semar Maneges (baca: gugat) ke kahyangan, menuntut keadilan. Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Semar. Lurah Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.

Mendengar nama wahyu yang kali ini diturunkan oleh dewa, yaitu Aji Gineng Sukawedha, setidaknya akan mengingatkan anda pada cerita yang juga melibatkan nama aji ini. Pertama, Aji Gineng adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dimiliki oleh Pikulun Nagaraja, Guru Spritual Prabu Angling Darma. Ajian inilah yang pada akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri. Ketika itu, Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja. Hasilnya, Angling Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini. Setyowati membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini kepadanya. Yang kedua, Aji Gineng dimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa. Tak seorangpun mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini. Berbekal Ajian ini, Newatakawaca berniat memperisteri Dewi Supraba, Primadona para bidadari di Kahyangan. Tetapi dengan memperalat Sup raba juga akhirnya Begawan Ciptaning berhasil membunuh Newatakawaca dengan jalan memanah aji Gineng yang berada di tenggorokan sang raksasa.

Dalam Lakon Semar Maneges Kali ini, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan. Nilai filosofis yang tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang prajurit akan dapat dicapai apabila seorang ksatria senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam meraihnya. Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah symbol seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja. Pertanyaannya adalah, kenapa Aji Gineng?

Aji Gineng adalah ajian sakti yang oleh Pikulun Nagaraja bisa digunakan untuk mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini. Sementara Prabu Newatakawaca menempatkan aji gineg di dalam tenggorokannya (katakanlah: mulut). Baik Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi dan penyampaian pesan. Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit mampu memahami kehendak bawahannya. Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan dengan bawahan. Barangkali itulah pesan yang akan disampaikan oleh Ki H Anom Soeroto.

Entahlah! Yang pasti, ceritanya begini. Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan Negara Hasitana kepada Pandhawa. Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita Durna. Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di lereng Gunung Arjuna. Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha.

Di kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani. Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.

Seperti saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah Pandhawa, Raden Arjuna. Tetapi bagaiman peran Ki Lurah Semar? Bagaimana mungkin seorang Ksatria sekelas Arjuna menyerahkan hidup matinya kepada seorang Lurah yang merupakan representasi Wong Cilik? Bagaimana Arjuna Semar mengekspresikan kepercayaan kepada wong cilik dan bukan wong licik?

Semoga dengan ini kita bisa mempertahankan kasanah budaya jawa yg makin lama makin kian punah.

 

Semar Maneges

Kisah Pandawa menghadapi krisis ekonomi (paceklik) akibat pagebluk itu dibawakan dalang wayang kulit Ki Cahyo Kuntadi

Amarta kedatangan tamu Resi Bhisma dari Pertapaan Talkandha.

Ini peristiwa njanur gunung atau tidak biasa. Raja Amarta Prabu Puntadewa dan keluarga Pandawa lainnya menyambutnya dengan senang hati di tengah kedukaan karena sedang dilanda pandemi. Bhisma mengatakan kehadirannya untuk menyampaikan keprihatinannya yang mendalam kepada Pandawa. Ini juga terdorong karena hanya Amarta saja yang belum bisa lepas dari pandemi. Negaranegara lain, dengan persoalan yang sama, sudah mulai bangkit. Puntadewa berterima kasih atas simpati Bhisma. Ia pun meminta saran dan nasihat sang resi bagaimana caranya agar Amarta bisa segera mentas dari persoalan. Berlarutnya pandemi semakin membuat rakyat kian menderita. Menurut Bhisma, satu-satunya cara agar Amarta segera pulih ialah dengan menyingkirkan Semar dari bumi Amarta. Sang Badranaya mesti disirnakan karena ia dianggap sebagai biang kerok suburnya pageblug di Amarta. Tanpa berpikir wening (mendalam), Puntadewa memerintahkan Arjuna, yang paling dekat dengan Panakawan, untuk mengeksekusi Semar. Werkudara pun diminta membantunya. Keduanya kemudian pamit dan bergegas menuju ke Dusun Klampisireng, tempat tinggal Semar. Semar kaget dengan kehadiran mendadak kedua momongannya dengan gelagat amarah. Apalagi, setelah Arjuna dan Werkudara menyatakan bahwa kedatangan mereka untuk mengusirnya dari bumi Amarta. Belum tahu duduk permasalahannya, Semar didesak segera meninggalkan Amarta. Bila tidak bersedia, ia akan dipaksa dengan kekerasan. Semar menolak pergi dan mempersilakan keduanya bila ingin melakukan apa pun. Namun, Arjuna dan Werkudara ternyata tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Semar.

Sejurus kemudian datanglah Bhisma dengan maksud sama. Semar juga bertanya kepada tamunya itu kenapa dirinya harus pergi dari Amarta.  Bhisma menuduh Semar menjadi biang keladi pandemi karena menggelorakan budaya ke manamana, apalagi itu tidak ada dalam ajaran agama. Semar mengatakan budaya merupakan jati diri bangsa dan itu juga tidak dilarang dalam agama. Budaya dan agama jangan dibenturkan. Lalu, ia menjelaskan pakaian dan semua aksesori yang dikenakan Bhisma itu juga merupakan budaya. Singkat cerita, karena tersudut, Bhisma bersikeras jika Semar tidak segera meninggalkan Amarta, dirinya akan memaksanya.  Semar tetap menolak. Kemudian Bhisma mengerahkan ajian gelapsayuta sehingga Semar seperti tersapu angin dan hilang bak ditelan bumi.

 

Ismaya-Dewabrata

Di Kahyangan Alang-Alang Kumitir, Sanghyang Wenang menerima sowannya Ismaya dan Dewabrata. Keduanya maneges (bertanya) apakah peran masingmasing di marcapada masih dibutuhkan. Sanghyang Wenang bersabda Dewabrata dan Ismaya masih harus mengabdikan diri, membimbing para titah ke jalan utama dan kebenaran.  Oleh karena itu, keduanya diminta segera mengejawantah lagi. Ismaya dan Dewabrata kemudian pamit dan kembali ke  marcapada.    Keduanya langsung bertemu dengan Bhisma dan terjadilah peperangan sengit. Akhirnya, Bhisma badhar (berubah wujud aslinya) menjadi sukma Wahmuka dan Arimuka. Sementara itu, Dewabrata malih (berubah wujud) menjadi Bhisma asli dan Ismaya menjadi Semar. Sukma Wahmuka dan Arimuka terus mengamuk. Akan tetapi, Semar meladeni dengan mewejang keduanya untuk segera bertobat agar hidup mereka tidak kelambrangan (bergentayangan). Dengan izin Yang Mahakuasa, Semar lalu menyempurnakan kedua sukma itu masuk ke alam keabadian. Setelah suasana kondusif, Semar mengundang Pandawa datang ke Klampisireng. Di depan sang pamong, Puntadewa, Werkudara, dan Arjuna meminta maaf karena  kelancangan mereka. Mereka mengaku khilaf menerima saran dan nasihat Bhisma palsu atau jadi-jadian. Semar meminta Pandawa untuk senantiasa eling dan waspada karena cobaan seperti itu bukan yang pertama kali dan itu juga bukan yang terakhir. Ia mewantiwanti bahwa kodratnya Pandawa tidak akan terpisahkan dengan Semar yang merepresentasikan rakyat. Sekali lagi Puntadewa meminta ampun. Ia lalu memohon nasihat Semar, apa yang mesti dilakukan agar pandemi secepatnya lenyap dari Amarta. Semar mengatakan secara fisik, bangsa Amarta mesti menjaga jarak, tetapi batin dan hati tidak boleh berjarak. Antara pemimpin dan rakyat justru harus semakin raket-supeket (solid) untuk bersama-sama melawan pandemi.

 

Bahu-membahu

Hanya dengan persatuan dan kesatuan, serta gotong royong, kata Semar, bangsa Amarta akan selalu bisa mengatasi setiap masalah. Jangan sampai ada anasir-anasir yang berusaha memisahkan antara Pandawa dan rakyatnya. Puntadewa menghaturkan terima kasih kepada Semar yang diakuinya sering ditinggalkan. Padahal, sejak nenek moyangnya, Semar-lah yang membimbingnya. Ia berjanji tidak akan melupakan Semar yang sejatinya merupakan Bathara Ismaya mengejawantah.

Inti kisah sanggit itu merupakan kekompakan antara pemimpin dan rakyat menjadi kunci mengatasi persoalan bangsa. Jangan saling menyalahkan, tetapi harus bersatu dan bahu membahu mengatasi pandemi yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.


SEMAR

Sebagai orang Jawa, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya wayang. Karena wayang kulit ini sangat identik dengan kesenian dari Jawa. Pertunjukan wayang biasanya dimainkan oleh dalang dan seringkali dipentaskan semalam suntuk. Lakon yang dimainkan pun juga bermacam-macam. Umumnya mengangkat kisah Mahabharata dan Ramayana.Ada salah satu tokoh wayang yang selalu dijadikan sebagai sang penyampai pesan itu, tak lain dan tak bukan adalah Semar.

Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Sebagai titah  atau makhluk Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau amalan baik kepada bendara alias juragan bin majikan, juga kepada bangsa dan negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak, maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi.

Yang menarik pada sebagian masyarakat Jawa masih menganggap Semar merupakan sosok filosofis yang diyakini menjadi pamong para kesatria agung. Siapapun tokoh yang berdekatan dengan Semar dan dari mana ia berasal akan merasa tentram dan ujung-ujungnya mengalami pencerahan. Bapak dari tokoh punakawan Gareng, Petruk, dan Bagong ini seolah tidak pernah mengenal kata sedih. Bicaranya spontan tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur. Sehingga orang yang sedih menjadi gembira, mereka yang susah bisa tertawa. Itulah Semar yang tumakninah mengawal kebenaran dan hati nurani pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik".

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar "kuncung" (jarwodoso/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Ciri sosok semar adalah :

1.     Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua

2.     Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan

3.     Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa

4.     Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok

5.     Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya.

Dalam lakon wayang kulit sebenarnya ada tokoh punakawan yang lain yang merupakan “anak-anak” dari Semar, yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Menurut salah satu literatur disebutkan bahwa sesungguhnya Gareng, Petruk dan Bagong bukanlah anak kandung Semar. Gareng sebenarnya adalah putra seorang pendeta yang dikutuk dan Semarlah yang telah berhasil membebaskan kutukan itu. Petruk sendiri sebenarnya adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sedangkan Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Namun demikian hanya tokoh Semar saja yang selalu hadir di setiap lakon apapun. Baik itu dalam pewayangan Jawa Tengah, pewayangan Sunda, ataupun pewayangan Jawa Timuran. Sementara ketiga punakawan yang lain belum tentu ada.

Artinya tokoh Semar dianggap sebagai figur sentral dalam setiap pementasan wayang kulit karena merupakan sang penyampai pesan. Tentu saja gaya penyampaian pesan ala Semar tidaklah seserius tokoh wayang yang lain karena pada dasarnya Semar seringkali berbicara sambil bercanda. Nah, disinilah letak menariknya tokoh Semar. Serius, tapi juga santai. Dengan cara “sersan” inilah mungkin diharapkan pesan moral lewat tokoh Semar, lebih mudah diterima dan dicerna oleh setiap penikmat pertunjukan wayang.

Dalam kisah Mahabharata, Semar ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh dari para Pandawa yang merupakan keturunan Resi Manumanasa. Sementara dalam kisah Ramayana, Semar juga ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh Sri Rama dan Sugriwa. Sehingga boleh dikata tokoh Semar akan selalu muncul dalam setiap pementasan wayang kulit, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan. Dalam hal ini Semar tidak hanya berperan sebagai abdi atau pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Semar dikisahkan bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan merupakan penjelmaan dari Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru yang sekaligus juga merupakan raja para dewa. Memang ada beberapa versi tentang asal-usul dari tokoh Semar ini. Namun semua pada dasarnya menyebut bahwa tokoh ini merupakan penjelmaan dari dewa. Semar juga merupakan lurah yang berdomisili di Karangdempel. Karang berarti gersang. Sedangkan dempel berarti keteguhan jiwa.

Kalau kita perhatikan, betapa banyak filosofi dari tokoh Semar ini yang sangat mengagumkan. Dalam filosofi Jawa, Semar disebut dengan Badranaya. Berasal dari kata bebadra yang artinya membangun sarana dari dasar dan naya atau nayaka yang berarti utusan. Maksudnya mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia. Secara Javanologi, Semar berarti haseming samar-samar. Sedangkan secara harafiah, Semar berarti sang penuntun makna kehidupan.

Secara fisik, Semar tidak laki-laki dan bukan pula perempuan. Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, yang merupakan simbol dari pria dan wanita. Tangan kanan Semar ke atas, maknanya bahwa sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal. Sedang tangan kirinya ke belakang, bermakna berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik.

Semar berambut “kuncung” seperti anak-anak. Maknanya hendak mengatakan bahwa akuning sang kuncung, yaitu sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan melayani umat tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan perintah Allah. Ketika barjalan, Semar selalu menghadap keatas. Maknanya adalah dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas atau Tuhan Yang Maha Pengasih serta Penyayang umat.

Selain itu Semar juga selalu mengenakan kain jarik motif  Parangkusumorojo, yang merupakan perwujudan Dewonggowantah atau untuk menuntun manusia agar memayuhayuning bawono, yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri fisik Semar yang sangat unik lainnya adalah bentuk tubuhnya yang bulat. Ini merupakan simbol dari bumi atau jagad raya, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya. Semar juga tampak selalu tersenyum, tapi matanya sembab. Ini menggambarkan simbol suka dan duka. Wajahnya tampak tua, tapi rambutnya berkuncung seperti anak kecil. Ini merupakan simbol tua dan muda. Ia merupakan penjelmaan dewa, tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Ini merupakan simbol dari atasan dan bawahan.

Bagi saya Semar mempunyai banyak keistimewaan. Selain ciri-ciri fisik, keistimewaan Semar yang lain adalah tentang statusnya. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya disejajarkan dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Menurut versi aslinya, penasehat pihak Pandawa dalam perang Baratayuda adalah Kresna. Akan tetapi dalam pewayangan, penasehat Pandawa menjadi dua yaitu Kresna dan Semar.

Sering dikisahkan bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan kata lain ada saja pejabat keraton yang melakukan tindakan melawan hukum yang merugikan masyarakat.

Sebagai penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana.  Bisa bergaul dengan siapa saja, baik  dengan kalangan atas maupun kalangan bawah. Selain itu juga tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas  melakukan tindakan preventif, persuasif dan represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.

Bila kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi. Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng). Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.

Semar seolah-olah tidak pernah mengenal kata sedih. Bila berbicaranya selalu spontan, tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur sehingga orang yang sedih menjadi gembira. Orang yang sedang susah bisa tertawa. Itulah sosok Semar yang selalu tumakninah, mengawal kebenaran dan hati nurani para Pandawa sebagai representasi tokoh dunia putih.

Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah, yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar, mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka bisa dipastikan negara yang dipimpinnya akan menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

Sekarang coba kita perhatikan para pejabat di negara kita. Apakah mereka sudah benar-benar mengemban amanat rakyat? Apakah mereka berani mempertaruhkan segalanya demi kebenaran? Ah, sepertinya koq masih jauh dari angan-angan ya. Mungkin para pejabat di negara kita ini perlu kali ya belajar dari sosok Semar. Karena dengan memahami falsafah Jawa dan perilaku Semar tadi pasti akan diperoleh banyak manfaat bagi kehidupan di dunia ini. Dan yang pasti jika semua pejabat kita bisa mencontoh sosok Semar, niscaya negara kita akan menjadi negara yang makmur, gemah ripah loh jinawi.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)