Semar Maneges
Cerita
diawali dengan jejer Astina, dimana berkumpul Pandawa dan Kurawa sedang
menghadap seorang pandita baru bernama Begawan Sukma Lawung. Mereka sedang
membahas masalah perdamaian antara Pandawa-Kurawa dan menggagalkan perang
Baratayudha Jayabinangun.
Belum
begitu lama mereka berbincang-bincang, datanglah Ki Lurah Semar. Kedatangan Ki
Lurah Semar sebagai wakil rakyat dalam pasamuan agung tersebut untuk meminta
pertanggungjawaban dari Prabu Duryudana dan Prabu Puntadewa tentang kehidupan
rakyat yang tidak tenteram.
Karena
menurut Kyai Semar, keadaan bangsa yang tidak tenteram tersebut merupakan
tanggung jawab dari Prabu Puntadewa dan Prabu Duryudana sebagai pemegang tampuk
pemerintahan. Belum sampai kedua prayagung tersebut memberikan jawaban, sang
guru yaitu Begawan Sukma Lawung memperkenalkan diri sekaligus mengutarakan
maksudnya untuk menyatukan Pandawa-Kurawa dan menggagalkan Baratayudha serta
meminta pendapat Kyai Semar.
Mendengar
itu semua, Kyai Semar tidak setuju, karena Baratayudha itu adalah perang suci
dimana yang nandur bakal ngunduh, utang bakal nyaur, nyilih mbalekake, nggawe
bakale nganggo, utang wirang nyaur wirang, utang pati nyaur pati.
Di
saat itulah, ada seorang murid sang begawan yang tidak terima dan tiba-tiba
masuk ke pasewakan dan menyeret Kyai Semar keluar.
Di
luar, Kyai Semar bertemu dengan Anoman, Setyaki, Antareja dan Gatutkaca.
Mendengar pengakuan Kyai Semar yang diseret keluar secara paksa, mereka
berempat tidak terima dan terjadilah pertempuran dengan siswa Begawan Sukma
Lawung.
Melihat
murid-muridnya kalah, Begawan Sukma Lawung memerintahkan Patih Sangkuni diikuti
beberapa Kurawa mengejar Kyai Semar ke Karang Kadempel untuk menjadi saksi
bersatunya Pandawa-Kurawa.
Raden
Arjuna diperintah untuk mengikuti Patih Sangkuni, kalau-kalau gagal membawa
Kyai Semar, sedangkan Raden Werkudara diminta mencari Prabu Kresna.
Di
Karang Tumaritis, Patih Sangkuni, Prabu Karna dan Aswatama berhadapan dengan
anak-anak Kyai Semar dan dibantu oleh Raden Abimanyu.
Begitu
para Kurawa terdesak, Raden Arjuna maju ke pertempuran. Melihat orang tuanya
yang maju, Raden Angkawijaya langsung lari menghindar, dan mau tidak mau Ki
Lurah Semar harus menghadapinya. Untuk menghadapi Raden Arjuna, Kyai Semar
memanggil Bathara Ismaya yang kemudian berubah menjadi Raden Arjuna, sehingga terjadilah
pertarungan antara dua Arjuna.
Dalam
pertarungan tersebut, Begawan Sukma Lawung turut campur dan mengeluarkan ajian
Gelap Sayuta untuk menyingkirkan KyaiSemar.
Di
lain tempat, Prabu Kresna dan Prabu Baladewa bertemu dengan Gareng, Petruk dan
Bagong yang melarikan diri. Mereka bertiga kemudian menceritakan semua kejadian
yang menimpa orang tuanya. Tidak begitu lama, datanglah Raden Werkudara yang
ditugaskan mencari Prabu Kresna.
Mendengar
pernyataan Raden Werkudara tersebut, Prabu Kresna mengatakan, bukankah Raden
Werkudara pernah menjadi seorang pandita dengan gelar Begawan Bima Suci, lantas
dimana kawaskitan Begawan Bima Suci tersebut?
Pertanyaan
tersebut membuat Raden Werkudara pergi tanpa pamit dan langsung menggendong
Prabu Puntadewa dan Raden Arjuna untuk segera pulang ke Amarta.
Dalam
pengejarannya, Begawan Sukma Lawung bertemu dengan seorang pandita.
Terjadilah
pertarungan diantara kedua pandita tersebut dan berubahlah masing-masing ke
wujud aslinya, yaitu Sang Hyang Manikmaya dan Kyai Nayantaka. Bathara Guru
mengungkapkan maksudnya, dimana dia hanya ingin menguji kewaspadaan Prabu
Duryudana dan Prabu Puntadewa dalam menyikapi keadaan masyarakat yang tidak
tenteram.
Prabu
Duryudana yang tidak terima dan hendak mengamuk bertemu dengan Kyai Semar. Ki
Lurah Semar mengingatkan bahwa apa yang didapat dari peperangan?
Disamping
itu, Baratayudha tidak perlu diharapkan ataupun dihindari, karena manusia
sebagai makhluk Tuhan hanya bertugas menjalani saja.
SEMAR MANEGES 2
Semar
Maneges menceritakan perjuangan Arjuna dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha
Kuasa yang berupa Wahyu Aji Gineng Sukawedha. Keberhasilannya ini adalah kerja
kerasnya dibantu oleh Ki Lurah Semar Badranaya. Sekali lagi –selain Wahyu
Tohjali- Arjuna akan dikadali oleh Bethara Guru yang berniat menyerahkan Aji
Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.
Sebagai
abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Semar Maneges (baca: gugat)
ke kahyangan, menuntut keadilan. Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh
Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Semar. Lurah
Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita
untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.
Mendengar
nama wahyu yang kali ini diturunkan oleh dewa, yaitu Aji Gineng Sukawedha,
setidaknya akan mengingatkan anda pada cerita yang juga melibatkan nama aji
ini. Pertama, Aji Gineng adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dimiliki oleh
Pikulun Nagaraja, Guru Spritual Prabu Angling Darma. Ajian inilah yang pada
akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri. Ketika itu,
Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja. Hasilnya, Angling
Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini. Setyowati
membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini
kepadanya. Yang kedua, Aji Gineng dimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton
Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa. Tak seorangpun mampu
menandingi kesaktian Raja Raksasa ini. Berbekal Ajian ini, Newatakawaca berniat
memperisteri Dewi Supraba, Primadona para bidadari di Kahyangan. Tetapi dengan
memperalat Sup raba juga akhirnya Begawan Ciptaning berhasil membunuh
Newatakawaca dengan jalan memanah aji Gineng yang berada di tenggorokan sang
raksasa.
Dalam
Lakon Semar Maneges Kali ini, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu
yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan. Nilai filosofis yang
tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang prajurit akan dapat
dicapai apabila seorang ksatria senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam
meraihnya. Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah symbol
seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja.
Pertanyaannya adalah, kenapa Aji Gineng?
Aji
Gineng adalah ajian sakti yang oleh Pikulun Nagaraja bisa digunakan untuk
mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini. Sementara Prabu Newatakawaca
menempatkan aji gineg di dalam tenggorokannya (katakanlah: mulut). Baik
Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi
dan penyampaian pesan. Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit
mampu memahami kehendak bawahannya. Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan
dengan bawahan. Barangkali itulah pesan yang akan disampaikan oleh Ki H Anom
Soeroto.
Entahlah!
Yang pasti, ceritanya begini. Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin
ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan
Negara Hasitana kepada Pandhawa. Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita
Durna. Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya
Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di
lereng Gunung Arjuna. Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan
Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha.
Di
kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga
bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani.
Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa
Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak
lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.
Seperti
saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah
Pandhawa, Raden Arjuna. Tetapi bagaiman peran Ki Lurah Semar? Bagaimana mungkin
seorang Ksatria sekelas Arjuna menyerahkan hidup matinya kepada seorang Lurah
yang merupakan representasi Wong Cilik? Bagaimana Arjuna Semar mengekspresikan
kepercayaan kepada wong cilik dan bukan wong licik?
Semoga
dengan ini kita bisa mempertahankan kasanah budaya jawa yg makin lama makin
kian punah.
Semar Maneges
Kisah Pandawa menghadapi krisis ekonomi (paceklik) akibat pagebluk itu dibawakan dalang wayang kulit Ki Cahyo Kuntadi
Amarta kedatangan tamu Resi Bhisma dari Pertapaan Talkandha.
Ini
peristiwa njanur gunung atau tidak biasa. Raja Amarta Prabu Puntadewa dan
keluarga Pandawa lainnya menyambutnya dengan senang hati di tengah kedukaan
karena sedang dilanda pandemi. Bhisma mengatakan kehadirannya untuk
menyampaikan keprihatinannya yang mendalam kepada Pandawa. Ini juga terdorong
karena hanya Amarta saja yang belum bisa lepas dari pandemi. Negaranegara lain,
dengan persoalan yang sama, sudah mulai bangkit. Puntadewa berterima kasih atas
simpati Bhisma. Ia pun meminta saran dan nasihat sang resi bagaimana caranya
agar Amarta bisa segera mentas dari persoalan. Berlarutnya pandemi semakin
membuat rakyat kian menderita. Menurut Bhisma, satu-satunya cara agar Amarta
segera pulih ialah dengan menyingkirkan Semar dari bumi Amarta. Sang Badranaya
mesti disirnakan karena ia dianggap sebagai biang kerok suburnya pageblug di
Amarta. Tanpa berpikir wening (mendalam), Puntadewa memerintahkan Arjuna, yang
paling dekat dengan Panakawan, untuk mengeksekusi Semar. Werkudara pun diminta
membantunya. Keduanya kemudian pamit dan bergegas menuju ke Dusun Klampisireng,
tempat tinggal Semar. Semar kaget dengan kehadiran mendadak kedua momongannya
dengan gelagat amarah. Apalagi, setelah Arjuna dan Werkudara menyatakan bahwa
kedatangan mereka untuk mengusirnya dari bumi Amarta. Belum tahu duduk
permasalahannya, Semar didesak segera meninggalkan Amarta. Bila tidak bersedia,
ia akan dipaksa dengan kekerasan. Semar menolak pergi dan mempersilakan
keduanya bila ingin melakukan apa pun. Namun, Arjuna dan Werkudara ternyata
tidak mampu berbuat apa-apa terhadap Semar.
Sejurus
kemudian datanglah Bhisma dengan maksud sama. Semar juga bertanya kepada
tamunya itu kenapa dirinya harus pergi dari Amarta. Bhisma menuduh Semar menjadi biang keladi
pandemi karena menggelorakan budaya ke manamana, apalagi itu tidak ada dalam
ajaran agama. Semar mengatakan budaya merupakan jati diri bangsa dan itu juga
tidak dilarang dalam agama. Budaya dan agama jangan dibenturkan. Lalu, ia
menjelaskan pakaian dan semua aksesori yang dikenakan Bhisma itu juga merupakan
budaya. Singkat cerita, karena tersudut, Bhisma bersikeras jika Semar tidak
segera meninggalkan Amarta, dirinya akan memaksanya. Semar tetap menolak. Kemudian Bhisma mengerahkan
ajian gelapsayuta sehingga Semar seperti tersapu angin dan hilang bak ditelan
bumi.
Ismaya-Dewabrata
Di
Kahyangan Alang-Alang Kumitir, Sanghyang Wenang menerima sowannya Ismaya dan
Dewabrata. Keduanya maneges (bertanya) apakah peran masingmasing di marcapada
masih dibutuhkan. Sanghyang Wenang bersabda Dewabrata dan Ismaya masih harus
mengabdikan diri, membimbing para titah ke jalan utama dan kebenaran. Oleh karena itu, keduanya diminta segera
mengejawantah lagi. Ismaya dan Dewabrata kemudian pamit dan kembali ke marcapada.
Keduanya langsung bertemu dengan Bhisma dan terjadilah peperangan
sengit. Akhirnya, Bhisma badhar (berubah wujud aslinya) menjadi sukma Wahmuka
dan Arimuka. Sementara itu, Dewabrata malih (berubah wujud) menjadi Bhisma asli
dan Ismaya menjadi Semar. Sukma Wahmuka dan Arimuka terus mengamuk. Akan
tetapi, Semar meladeni dengan mewejang keduanya untuk segera bertobat agar
hidup mereka tidak kelambrangan (bergentayangan). Dengan izin Yang Mahakuasa,
Semar lalu menyempurnakan kedua sukma itu masuk ke alam keabadian. Setelah
suasana kondusif, Semar mengundang Pandawa datang ke Klampisireng. Di depan
sang pamong, Puntadewa, Werkudara, dan Arjuna meminta maaf karena kelancangan mereka. Mereka mengaku khilaf
menerima saran dan nasihat Bhisma palsu atau jadi-jadian. Semar meminta Pandawa
untuk senantiasa eling dan waspada karena cobaan seperti itu bukan yang pertama
kali dan itu juga bukan yang terakhir. Ia mewantiwanti bahwa kodratnya Pandawa
tidak akan terpisahkan dengan Semar yang merepresentasikan rakyat. Sekali lagi
Puntadewa meminta ampun. Ia lalu memohon nasihat Semar, apa yang mesti
dilakukan agar pandemi secepatnya lenyap dari Amarta. Semar mengatakan secara
fisik, bangsa Amarta mesti menjaga jarak, tetapi batin dan hati tidak boleh
berjarak. Antara pemimpin dan rakyat justru harus semakin raket-supeket (solid)
untuk bersama-sama melawan pandemi.
Bahu-membahu
Hanya
dengan persatuan dan kesatuan, serta gotong royong, kata Semar, bangsa Amarta
akan selalu bisa mengatasi setiap masalah. Jangan sampai ada anasir-anasir yang
berusaha memisahkan antara Pandawa dan rakyatnya. Puntadewa menghaturkan terima
kasih kepada Semar yang diakuinya sering ditinggalkan. Padahal, sejak nenek
moyangnya, Semar-lah yang membimbingnya. Ia berjanji tidak akan melupakan Semar
yang sejatinya merupakan Bathara Ismaya mengejawantah.
Inti
kisah sanggit itu merupakan kekompakan antara pemimpin dan rakyat menjadi kunci
mengatasi persoalan bangsa. Jangan saling menyalahkan, tetapi harus bersatu dan
bahu membahu mengatasi pandemi yang hingga saat ini belum menunjukkan
tanda-tanda akan segera berakhir.
SEMAR
Sebagai
orang Jawa, tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya wayang. Karena
wayang kulit ini sangat identik dengan kesenian dari Jawa. Pertunjukan wayang
biasanya dimainkan oleh dalang dan seringkali dipentaskan semalam suntuk. Lakon
yang dimainkan pun juga bermacam-macam. Umumnya mengangkat kisah Mahabharata
dan Ramayana.Ada salah satu tokoh wayang yang selalu dijadikan sebagai sang
penyampai pesan itu, tak lain dan tak bukan adalah Semar.
Semar
dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang
Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh
tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi
sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada
tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka
bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu
hayuning sasama). Sebagai titah atau
makhluk Semar mengemban amanat untuk ngawula (mengabdi) berupa dharma atau
amalan baik kepada bendara alias juragan bin majikan, juga kepada bangsa dan
negara. Ini dibuktikan ketika Jonggring Saloka kayangan para dewa bergejolak,
maka Semar turun tangan lewat Semar Mbangun Kayangan (Semar membangun
Kayangan). Begitu muncul ketidakadilan dan ketidakbenaran sistem, maka Semar
pun tergerak dalam Semar Gugat (Semar Menggugat), dan masih banyak lagi.
Yang
menarik pada sebagian masyarakat Jawa masih menganggap Semar merupakan sosok
filosofis yang diyakini menjadi pamong para kesatria agung. Siapapun tokoh yang
berdekatan dengan Semar dan dari mana ia berasal akan merasa tentram dan
ujung-ujungnya mengalami pencerahan. Bapak dari tokoh punakawan Gareng, Petruk,
dan Bagong ini seolah tidak pernah mengenal kata sedih. Bicaranya spontan
tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur. Sehingga orang
yang sedih menjadi gembira, mereka yang susah bisa tertawa. Itulah Semar yang
tumakninah mengawal kebenaran dan hati nurani pandawa sebagai representasi
tokoh dunia putih.
Javanologi
: Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang
Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan
tangan kirinya kebelakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak
mengatakan simbul Sang Maha Tumggal". Sedang tangan kirinya bermakna
"berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral
namun simpatik".
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar "kuncung" (jarwodoso/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Ciri sosok semar adalah :
1.
Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga
berwajah sangat tua
2.
Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
3.
Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
4.
Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
5.
Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi
atas nasehatnya.
Dalam
lakon wayang kulit sebenarnya ada tokoh punakawan yang lain yang merupakan
“anak-anak” dari Semar, yaitu Gareng, Petruk dan Bagong. Menurut salah satu
literatur disebutkan bahwa sesungguhnya Gareng, Petruk dan Bagong bukanlah anak
kandung Semar. Gareng sebenarnya adalah putra seorang pendeta yang dikutuk dan
Semarlah yang telah berhasil membebaskan kutukan itu. Petruk sendiri sebenarnya
adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sedangkan Bagong tercipta dari
bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Namun
demikian hanya tokoh Semar saja yang selalu hadir di setiap lakon apapun. Baik
itu dalam pewayangan Jawa Tengah, pewayangan Sunda, ataupun pewayangan Jawa
Timuran. Sementara ketiga punakawan yang lain belum tentu ada.
Artinya
tokoh Semar dianggap sebagai figur sentral dalam setiap pementasan wayang kulit
karena merupakan sang penyampai pesan. Tentu saja gaya penyampaian pesan ala
Semar tidaklah seserius tokoh wayang yang lain karena pada dasarnya Semar
seringkali berbicara sambil bercanda. Nah, disinilah letak menariknya tokoh
Semar. Serius, tapi juga santai. Dengan cara “sersan” inilah mungkin diharapkan
pesan moral lewat tokoh Semar, lebih mudah diterima dan dicerna oleh setiap
penikmat pertunjukan wayang.
Dalam
kisah Mahabharata, Semar ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh dari para
Pandawa yang merupakan keturunan Resi Manumanasa. Sementara dalam kisah
Ramayana, Semar juga ditampilkan sebagai abdi atau pengasuh Sri Rama dan
Sugriwa. Sehingga boleh dikata tokoh Semar akan selalu muncul dalam setiap pementasan
wayang kulit, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan. Dalam hal ini
Semar tidak hanya berperan sebagai abdi atau pengikut saja, melainkan juga
sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.
Dalam
perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Semar
dikisahkan bukan sekadar rakyat jelata biasa, melainkan merupakan penjelmaan
dari Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru yang sekaligus juga merupakan raja
para dewa. Memang ada beberapa versi tentang asal-usul dari tokoh Semar ini.
Namun semua pada dasarnya menyebut bahwa tokoh ini merupakan penjelmaan dari
dewa. Semar juga merupakan lurah yang berdomisili di Karangdempel. Karang
berarti gersang. Sedangkan dempel berarti keteguhan jiwa.
Kalau
kita perhatikan, betapa banyak filosofi dari tokoh Semar ini yang sangat
mengagumkan. Dalam filosofi Jawa, Semar disebut dengan Badranaya. Berasal dari
kata bebadra yang artinya membangun sarana dari dasar dan naya atau nayaka yang
berarti utusan. Maksudnya mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah
Allah demi kesejahteraan manusia. Secara
Javanologi, Semar berarti haseming samar-samar. Sedangkan secara harafiah,
Semar berarti sang penuntun makna kehidupan.
Secara
fisik, Semar tidak laki-laki dan bukan pula perempuan. Ia berkelamin laki-laki,
tetapi memiliki payudara seperti perempuan, yang merupakan simbol dari pria dan
wanita. Tangan kanan Semar ke atas, maknanya bahwa sebagai pribadi tokoh semar
hendak mengatakan simbol Sang Maha Tunggal. Sedang tangan kirinya ke belakang,
bermakna berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral
namun simpatik.
Semar
berambut “kuncung” seperti anak-anak. Maknanya hendak mengatakan bahwa akuning
sang kuncung, yaitu sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan melayani
umat tanpa pamrih untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan perintah
Allah. Ketika barjalan, Semar selalu menghadap keatas. Maknanya adalah dalam
perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu
memandang ke atas atau Tuhan Yang Maha Pengasih serta Penyayang umat.
Selain
itu Semar juga selalu mengenakan kain jarik motif Parangkusumorojo, yang merupakan perwujudan
Dewonggowantah atau untuk menuntun manusia agar memayuhayuning bawono, yaitu
menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.
Ciri
fisik Semar yang sangat unik lainnya adalah bentuk tubuhnya yang bulat. Ini
merupakan simbol dari bumi atau jagad raya, tempat tinggal umat manusia dan
makhluk lainnya. Semar juga tampak selalu tersenyum, tapi matanya sembab. Ini
menggambarkan simbol suka dan duka. Wajahnya tampak tua, tapi rambutnya
berkuncung seperti anak kecil. Ini merupakan simbol tua dan muda. Ia merupakan
penjelmaan dewa, tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Ini merupakan simbol dari
atasan dan bawahan.
Bagi
saya Semar mempunyai banyak keistimewaan. Selain ciri-ciri fisik, keistimewaan
Semar yang lain adalah tentang statusnya. Meskipun statusnya hanya sebagai
abdi, namun keluhurannya disejajarkan dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata.
Menurut versi aslinya, penasehat pihak Pandawa dalam perang Baratayuda adalah
Kresna. Akan tetapi dalam pewayangan, penasehat Pandawa menjadi dua yaitu
Kresna dan Semar.
Sering
dikisahkan bahwa senjata Semar adalah kentut. Konon kentut Semar ini bisa
membuat pusing para punggawa keraton yang tidak menjalankan tugasnya sesuai
ketentuan yang berlaku. Dengan kata lain ada saja pejabat keraton yang
melakukan tindakan melawan hukum yang merugikan masyarakat.
Sebagai
penjelmaan dewa, Semar dikenal juga sangat arif dan bijaksana. Bisa bergaul dengan siapa saja, baik dengan kalangan atas maupun kalangan bawah.
Selain itu juga tanggap terhadap perubahan jaman. Akan tetapi jika menemukan
ketidakadilan dan tindakan sewenang-wenang, maka Semar akan dengan tegas melakukan tindakan preventif, persuasif dan
represif. Bisa dikatakan kalau Semar ini rela mempertaruhkan segalanya demi
amanat yang diterimanya dari Sang Maha Kuasa.
Bila
kita cermati ucapan Semar setiap kali mengawali dialog : “mbergegeg, ugeg-ugeg,
hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” Yang artinya diam, bergerak atau berusaha,
makan, walaupun sedikit, abadi. Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira
begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg)
dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan
terasa abadi (langgeng). Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar
kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup
untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.
Semar
seolah-olah tidak pernah mengenal kata sedih. Bila berbicaranya selalu spontan,
tetapi mengandung kebenaran. Setiap bertutur selalu menghibur sehingga orang
yang sedih menjadi gembira. Orang yang sedang susah bisa tertawa. Itulah sosok
Semar yang selalu tumakninah, mengawal kebenaran dan hati nurani para Pandawa
sebagai representasi tokoh dunia putih.
Semar
merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi,
apabila para pemerintah, yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar,
mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka bisa dipastikan
negara yang dipimpinnya akan menjadi nagara yang unggul dan sentosa.
Sekarang
coba kita perhatikan para pejabat di negara kita. Apakah mereka sudah
benar-benar mengemban amanat rakyat? Apakah mereka berani mempertaruhkan
segalanya demi kebenaran? Ah, sepertinya koq masih jauh dari angan-angan ya.
Mungkin para pejabat di negara kita ini perlu kali ya belajar dari sosok Semar.
Karena dengan memahami falsafah Jawa dan perilaku Semar tadi pasti akan
diperoleh banyak manfaat bagi kehidupan di dunia ini. Dan yang pasti jika semua
pejabat kita bisa mencontoh sosok Semar, niscaya negara kita akan menjadi
negara yang makmur, gemah ripah loh jinawi.

