ANOMAN MANEGES

0

ANOMAN MANEGES

 


Berawal dari kerajaan Astina yang kedatangan begawan baru (Begawan Lumono) Yang sangat di segani oleh Prabu duryudono dan para kurawa, pada waktu itu Begawan Lumono Menyuruh Prabu Duryudono agar Pandhowo Beserta Prabu Bolodewo Raja Mandura Mau datang ke astina, setelah para Pandawa dan Bolodewo hadir Begawan Lumono menyampaikan wejangan bahwa astina dan amarta harus bersatu dan perang Barata Yuda akan di tiadakan, Tetapi harus memakai sesaji korban manusia.

Adapun korban yang dipilih adalah Raja Duworowati Prabu Batara Kresna Dan Semar, karena menurut Begawan Lumono Kresna dan Semarlah yang menjadi sebab ketidak akuran Pandawa dan Kurawa. Mendengar hal tersebut marahlah Prabu Bolodewo terjadi keributan antara prabu Bolodewo dan Begawan Lumono.

Prabu Bolodewo Meninggalkan kerajaan Astina dan pergi menemui Kresna untuk menyampaikan apa yang terjadi di Astina. Sepeninggalnya Prabu bolodewo Prabu puntodewo mengutus Arjuno tuk Menjemput Prabu Kresno dan Semar agar datang ke Astina.

Ternyata Putra Pandawa Gatutkaca Dan Antarja menyusul tuk menjemput para pandawa namun oleh kurawa di halangi sehingga terjadi peperangan.

Dan dimenangkan oleh para kurawa atas bantuan begawan lomono, dan tuk sementara gatutkaca dan antarja menyingkir mencari bantuan.

Dan arjuna yang di utus oleh kakaknya telah sampai di negara duworowati bersama brotoseno,di kerajaan ternyata sudah ada Prabu bolodewo yang tadinya pulang namun tidak ke mandura, Arjunopun menyampaikan maksut kedatanganya namun ditolak Oleh prabu kresna dan terjadi perselisihan,Patih sengkuni yang ikut hadir di kerajaan Duworowati menjadi sasaran amuk setiaki sehingga Arjuno tidak berhasil menjemput Kresna, Brotoseno pulang bersama Arjuno bermaksut menjemput semar setelah gagal menjemput Kresna.

Di tempat semar Anoman datang menghadap bersama putranya (Bambang Purwaganti) bermaksut menanyakan kenapa hingga umur sudah tua masih belum bisa pergi ke alam baka, oleh semar diberi wejangan agar Anoman bersabar dan melanjutkan darma baktinya di dunia,belum selesai semar ngasih wejangan datang Raja Baranjono (murid Begawan Lumono) bertujuan membunuh Kiai Semar atas perintah Begawan lomono, sehingga terjadi pertempuran antara prabu baranjono dan putra Anoman Bambang Purwoganti ,ternyata Prabu baranjono membawa pasukan dan semuanya mati, Namun tuk menghadapi prabu Baranjono Anoman sendiri yang maju dan ahirnya prabu baranjono tewas, Namun karena murid begawan sakti baranjono hidup lagi.

Sementara Anoman Dan penghuni lainya sibuk perang Arjuno telah sampai didalam rumah kiai Semar dan mengajak pergi ke astina Tanpa sepengetahuan Anoman Dan para penghuni lainya.

Dan anomanpun tidak berani menghadapi Raden Arjuno, Saking bingungnya Anoman Pergi ke kahyangan tuk menanyakan apa maksut kejadian yang telah terjadi di alam semesta.

Tidak lama kemudian Prabu Kresna Dan Prabu Bolodewo Sampai di Karang Kadempel, namun sudah terlambat dan ahirnya para punokawan didandani menjadi para kesatria yang gagah .Gareng Jadi Bambang Cokrowongso Petruk Cokroyudo, Bagong Cokrojiyo,dan disuruh ke astina.

Di kahyangan Alang alang kumitir anoman di wejang atas pertanyaanya kepada Hyang Wenang, dan di ajak melihat situasi tempat penyiksaan dan tempat kebahagiaan,sehingga Anoman menjadi semakin tabah dan setelah itu disuruh kembali tuk membantu Kiai Semar dengan berubah wujud menjadi Seorang Brahmana (Reksi Amongrogo)

Sesampainya di pinggir Kerajaan Astina Among rogo ketemu Gatutkaca Dan antarja dan Siap membantu kesulitan yang dihadapi kedua satria tersebut.

Didalam kerajaan Astina Semar dan Begawan Lumono beradu mulut mengadu kepintaran, sementara semar dan lomono masih debat di alun alun penjelmaan para punokawan membuat kisruh para kurawa tidak bisa mengatasi sehingga lomono turun tangan sendiri dan mengajak baranjono tuk menghadapi para perusuh tadi, dengan kesaktian lomono dan baranjono para punakawan dapat dikalahkan, Dan Resi amongrogo datang membantu para punokawan dan pandowo menghadapi lomono, namun resi Amongrogo dihadapi baranjono yang ternyata adalah penjelmaan gudoyitno (sukmanya Dosomuko)Dan Lomono Berhadapan Dengan Semar. Ternyata Lomono penjelmaan Batara kala Sebelum bertempur Semar sudah tau kalau yang menjadi lomono adalah Batara kala, Dan ahirnya pandawa dan kurawa tidak tersesat atas ajaran lomono.

Karena kedok Begawan Lumono telah terbongkar oleh Semar, akhirnya Lumono si Bethara Kala kembali ke kayangan setra ganda mayit.

Sumber referensi : Anoman Maneges - Ki Anom Suroto

 

Anoman Maneges (versi)

Berkisah tentang Negara Astina yang kedatangan seorang pandhita sakti mandraguna bernama Resi Lomana dan kegelisahan Anoman yang menanyakan kenapa umur sudah tua masih belum bisa pergi ke alam baka. Resi Lomana menyatakan perselisihan antara Pandhawa dan Korawa disebabkan ulah dua orang dilingkungan Pendawa, yaitu Prabu Kresna dan Semar.  Oleh karena itu, melenyapkan Semar dan Kresna menjadi target utama Resi Lomana. "Namun karena Pandhawa memiliki pegangan Jamus Kalimasada (kalimat Syahadat) dan berpijak pada tatanan apik sebagaimana Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 dimiliki Indonesia, niat jahat Resi Lomana yang sejatinya penjelmaan Batara Kala tidak bisa terwujud. Adapun Anoman diberi wejangan Semar agar bersabar dan melanjutkan darma baktinya di dunia,"

 

ANOMAN MANEGES

Pagelaran Wayang Kulit

Lakon     : Anoman Maneges

Dhalang  : Ki Seno Nugroho

 

ANOMAN MANEGES

Episode 1

Hong ilaheng, Hong ilaheng

hawignam hastu nama sidham

mastu silah mring Hyang Jagad Karana

siram tandha kawisesaning bisana

sana sinawung langening wilapa

estu maksih lestantum lampahing cerita Mahabarata

winursita ngupama prameng niskara

karanta dyan tumiyeng jaman purwa

winisudha trahing  kang dinama-dama

pinardi tameng lelata mangkya rekap wasananira gupita

tan wing pralambang matumpa-tumpa

marma panggung, panggeng

panggunggung sang murweng kata

Hoong......

Hong ilaheng, Hong ilaheng

semoga tiada aral melintang

atas restu Hyang Jagad Karana

sebagai tanda kehebatan yang dituturkan

dengan keindahan syair yang masih sesuai dengan cerita Mahabarata

dituangkan melalui bahasa tutur yang berimbang

agar menjadi contoh orang-orang yang utama

dikisahkan agar terbebas dari mara bahaya dari zaman ke zaman

dibersihkan dari segala dosa

agar hidup sejahtera sampai akhir zaman

tiada cela oleh berbagai cobaan

dan diutamakan dengan berbagai nuansa

Hoong.......

Anenggih pundi ingkang kaeka adi dasa purwa. Eka sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh, purwa wiwitan

Sanadyan kathah titahing dewa ingkang kasangga ing angkasa sinangga ing pratiwi, kapit ing samudra

kathah ingkang sami anggara raras nanging boten kadi Dwaraka, ya Dwarawati, ya Jenggala Manik

Mila kinarya bebuka ngupaya nagari satus jangkep kekalih, nadyan sewu tan antuk sedasa.

Dhasar negari panjang punjung, pasir, wukir, loh jinawi, gemah aripah, karta tur raharja......

Kisah ini diawali dari sebuah negeri yang termashur, sekalipun kisahnya diatas bentang langit, terbenam didasar bumi, tenggelam di dasar samudera tetap saja berjaya. Sebuah negeri yang subur makmur sejahtera dan sentosa, sebuah negara yang bernama Dwarawati ya Dwaraka yang juga bernama Jenggala Manik.

Duduk seorang raja disinggasana yang terbuat dari emas, permata bertebaran diseluruh kemegahan istana, seorang raja yang bernama Prabu Sri Bathara Kresna yang juga bernama Hari Mukti, Sasra Sumpena, Sang Narayana, Sang Danardana, Sang Wisnu Dewa juga bernama Sang Wisnu Murti.

Saat itu kerajaan Dwarawati sedang menggelar pasewakan agung, hadir dihadapan sang raja seorang senopati Dwarawati Arya Setyaki, patih Udawa dan para punggawa kerajaan.

Selang beberapa waktu kemudian hadir juga seorang raja dari Mandura Prabu Baladewa

   " Hyang Agung mugya ngayomi praja Dwarawati sak isinipun, kaka Prabu dereng sawetawis dangu rawuhipun jengandika kaka Prabu Mandura, yayi Dwarawati ngaturaken pasegan pana krami konjuk ngersa paduka kanjeng kaka Prabu jimat sesembahan kula.... " kata Prabu Kresna menyambut kedatangan Prabu Baladewa dari Mandura

   " Jagad wasesaning ubathara wayah, ubathara jagad endra jala dewaku.... " jawab Prabu Baladewa " Ya yayi Prabu wus tak tanpa asung panbagyane si adhi yayi Prabu Kresna akarya bombomg penggalihe pun kakang, mung keparenga pun kakang ngaturake pudya astawane pun kakang katur ngarsa yayi Prabu Kresna ing Dwarawati... "

   " Kula pundi cundaka panglingga murdha saestu mewahana kabagyane gesang kula, boten langkung kasekecakna anggen paduka lenggah.... "

   " Ya yayi Prabu Dwarawati, wis ora kurang kepenak praptane pun kakang ana ing Dwarawati dina samengko iki yayi Kresna.... "

Arya Setyaki senopati Dwarawati juga menghaturkan salam pambagya salam ta'jim kepada Prabu Baladewa, begitu juga dengan Patih Udawa.

Beberapa saat kemudian Prabu Kresna menanyakan maksud kedatangan Prabu Baladewa ke Dwarawati

   " Kakang Prabu, sumengka pengawak badra andamar sasi, wonten wigatos menapa paduka kepareng rawuh wonten praja Dwarawati....? "

   " Ya yayi, ingkeng sepisan praptanipun pun kakang tilik marang karahayone sira si adhi sak gotrah sak kulowarga merga wis watara suwi pun kakang ora pinanggihan klawan yayi Dwarawati kepasan yogja katujue nginu dene yayi Kresna nedheng nganakake pasewakan agung. Syukur yayi dene para kadang sentana, punggawa, yayi Prabu sak kulowarga tansah pinaringan barokahe Gusti kang Maha Agung, manggihi basuki niskala.... "

   " Matur sembah nuwun tanpa pepindan  .... Selajengipun punapa ingkeng dados wigatosipun kaka Prabu.....? "

   " Wis dikeparengake aku matur yayi Prabu....? " tanya Prabu Baladewa

   " Sampun kaka Prabu kula sumanggakaken.... "

Hanjrah ingkang puspita rum

kasiliring samirana mrik

sekar gadhung..... kongas gandanya....

maweh raras renaning driya.....

Oong......

Harumnya bunga menyebar

wanginya terbawa hembusan angin

kembang gadhung..... semerbak baunya....

membuat hati amatlah senang.....

Oong......

   " Yayi Prabu.... " kata Prabu Baladewa

   " Wonten tinimbalan ingkeng dhawuh kaka Prabu...." jawab Prabu Kresna

   " Sak temene pun kakang bakal atur pelapuran marang yayi Kresna babagan kadang-kadangmu para Pandhawa, apa si adhi durung tau weruh, apa si adhi durung tau ngerti....? "

   " Mengku suraos kados pundi kaka Prabu paring dhawuh mekaten....? " tanya Prabu Kresna

   " Yen ngono yayi Kresna durung oleh kabar ingkeng wis sumebar warata sak indhengin jagad....? "

   " Dereng kaka Prabu.... "

   " Kresna, kowe tak jarwani ya yayi yen sawetara ana sak candra suwene kadangmu Pandhawa Werkudara klawan si Arjuna manunggal anaing negara Ngastina dadi siji karo yayi Prabu Duryudana karo sak Kurawane, ndadekake bingung penggalihe pun kakang. Ing atase antarane Pandhawa lan Kurawa kuwi wiwit biyen tekan saiki, kit kuncung nganti gelung ora tau ana rukune, pendhak-pendhak mesthi padha regejegan, pendak-pendak mesthi padha benthak sirah, nanging lakok elok temen nalika semono pun kakang prapta anaing negara Ngastina lakok Werkudara lan Janoko wis mapan ana ning kana. Jarene nampa rembuge yayi Prabu Duryudana bakal maringake negara Ngastina ora kethang sak sigar semangka....? "

   " Kaka Prabu..... Menawi tetela mekaten menika pekabaran ingkeng sahe.... " kata Prabu Kresna

   " Loh, kok isa ngono....? "tanya Prabu Baladewa

   " Jalaran mangkin boten saget kedadosan wujudipun perang ageng Bharatayudha Jayabinangun, menawi yayi Prabu Duryudana sampun wonten suka lilaning penggalih Ngastina sampun wonten panguwasane kadang-kadang kula Pandhawa.... "

   " Yen ditonton saka tata gelar lahir pancen apik, nanging yen digelar digulung digoleki tuna lan bathine apa yayi Dwarawati ora pangling karo watak wantune para sata Kurasa, ingkeng pendak-pendak gawe kapitunane para Pandhawa, kuwatire pun kakang manunggale Werkudara lan Janoko mengko dadi jalaran Kurawa ingkeng wis samapta ing gati gawe karti sampika cintrakane kadangmu Pandhawa yayi..... Mula saka kuwi yayi aja tidha-tidha tak jaluk si adhi aja lumuh ngentasi perkara, merga yayi Prabu Dwarawati minangka kusire para Pandhawa, yen ana apa-apa tumrap para Pandhawa aja nganti sing diluputke yayi Prabu Dwarawati....!? "

Dereng ngantos paripurna sami imbal wacana, nalika semanten geger wonten pasewakan agung Dwarawati, apa kang dadi darunane ora ana macan mbedhal saka krangkeng ora ana gajah medhot saka wantilan, kejawi namung sowanipun pendhita saking Kendalisada Begawan Anoman ya Begawan Mayangkara minggah dateng datulaya, ndadosaken geger para kawula.... Hee kanca ana dayoh, minggir, minggir..... njaluk dalan, njaluk dalan......!!

Belum sampai selesai pembicaraan, saat itu jadi gempar di pasewakan agung itu, apa yang menjadi penyebabnya tidak ada macan yang lepas dari krangkeng tidak ada gajah yang lepas dari ikatan, ternyata karena kehadiran seorang wanara pendhita dari Kendalisada Begawan Anoman, ya Begawan Mayangkara menjadikan geger para kawula. Hee kawan ada tamu, minggir, minggir.... minta jalan .....minta jalan..... !!

   " Jagad wasesaning ubathara wayah bathara jagad kaka Prabu....? "

   " Yayi Prabu Dwarawati piye....? " jawab Prabu Baladewa

   " Dereng paripurna anggen kula nampi pengendikane paduka menika kadi dene sowanipun Anoman ingkeng ngabyantara wonten ngarsa keng yayi Dwarawati.... "

   " Tumuli timbalana yayi.... " kata Prabu Baladewa " Apa wigatine dene kakang Mayangkara prapta ana ing Dwarawati yayi.... "

   " Anoman, kakang Anoman padha raharja praptamu, kakang Mayangkara....? "

   " Nuwun amit pasang alimantabik, keparenga kula ngaturaken sembah pangabekti sinuwun, kanjeng dewaji sesembahan kula.... " kata Anoman menyampaikan sembah pangabektinya

   " Ya ya Anoman ndak tampa, ora liwat pangestuku tampanana.... " kata Prabu Kresna

   " Kula pundi nggo jimat paripe dayanana ing kasantosan "

   " Eneng wigati apa Anoman sowanmu mangka tanpa tinimbalan, yen ana wigati matura marang ingsun purna madya wusana gage aturna Anoman....? "

   " Waleh-waleh menapa sinuwun, sowan kula menika namung badhe nanjihaken ningali dateng kawontenanipun gusti kula sang nata Dwarawati.... "

   " Bab perkara apa....? " tanya Prabu Kresna

   " Nuwun sewu sinuwun, kula menika nyumpena, pasumpenan kula kalawau manjing wonten puspa tajem, guragapan raose manah kula lajeng kula tuwuh raos kuwatir lan sumelang dateng gusti kula Prabu Kresna.... "

   " Senggana, sing jenenge impen kuwi rak ming kembange wong turu, aja banget-banget nggonmu metung marang pasumpenan.... "

   " Nyuwun pangapunten sinuwun.... Jejer kula menika brahmana, mangka kula menika remen ngonceki dateng barang-barang ngaten menika, dateng madyaning pasumpenan cetha bilih nalika semanten nata Dwarawati nedheng nete baito lelayaran wonten sak tengahe bengawan, dumadakan boten ngertos sangkan parane lakok toyane bengawan menika kalawau mbena lajeng saget numplak dateng lampahing baito, wekasan gusti kula Prabu Dwarawati kendang kapracondang kabeta bantere warih.... Guragapan kula wungu saking nendra ngawuningani pasumpenan ingkang kados mekaten ngantos kula nanjihaken kawontenanipun paduka gusti sang nata Prabu Kresna, mekaten menggih wigatose sowan kula sinuwun.... "

Dereng paripurna sami imbal wacana, kasaru geger njaba wonten sowanipun Begawan Durna anganthi ingkeng putra kekalih Raden Werkudara miwah Raden Arjuna ndadosaken kaget sang nata Dwarawati....!

 

Episode 2

Dereng paripurna sami imbal wacana, kasaru geger jaba wonten sowanipun Begawan Durna anganthi ingkeng putra kekalih Raden Werkudara miwah Raden Arjuna ndadosaken kaget sang Nata Dwarawati

Belum selesai dalam pembicaraan terjadi geger diluar karena hadirnya Begawan Durna bersama dengan dua anak muridnya Raden Werkudara dan Raden Arjuna menjadikan kaget sang Nata Dwarawati

Karena mengetahui kehadiran Begawan Durna bersama dengan dua orang muridnya Werkudara dan Arjuna, semua yang dipasewakan agung memberikan tempat untuk mereka bertiga. Begawan Durna duduk didepan senopati Dwarawati Arya Setyaki dan patih Udawa berdampingan dengan Werkudara dan Arjuna. Sedang Prabu Baladewa pindah tempat duduk dibelakang Prabu Kresna di depan Anoman

   " Kaka Prabu, dateng Dwarawati kok wonten dayoh dridil kados mekaten.....? " kata Prabu Kresna kepada Prabu Baladewa

   " Lo la iya.... bar ketekan Anoman lalok iki bapa Durna didampingi Werkudara karo Janoko wigatine apa Kresna....? Tumuli timbalana, Werkudara lan Janoko kuwi kadangmu, Begawan Durna kuwi pepundhen, nglungguhana bawa leksana.... " kata Prabu Baladewa

   " Inggih ngestokaken dhawuh.... "

   " Nanging yen karepe Begawan Durna bakal mbuthek banyu bening arep obak-obak katrentremane Dwarawati aja melu-melu mengko bakal ana pendhita tak uwek-uwek cangkeme....! "

   " Kaka Prabu menika dereng menapa-menapa kok sampun duka...? "

   " Aku rak wis kandha karo si adhi, Werkudara karo Janoko kuwi saiki wis manunggal ana ning negara Ngastina, mula nang ndi-ndi saiki karo Begawan Durna ora tau pisah, mula sing ati-ati yayi, aku ngerti watak wantune Begawan Durna.... "

   " Bapa Durna, winantu ing suka basuki rawuhipun....? " kata Prabu Kresna menyambut kedatangan Begawan Durna

   " Ooo lole, lole.... kenthos waluh gembol monyor-monyor.... duk neng dungkul wana dadi alas, alas dadi wana.... Werkudara....! " kata Begawan Durna yang malah berbicara dengan Werkudara dan Arjuna

   " Ya... " jawab Werkudara

   " Arjuna.... "

   " Kula wonten dhawuh.... " jawab Arjuna

   " Sing tatag, tangguh, tanggon atimu ya ngger.... Aku sing guneman, nek ana apa-apa kowe sing tumandang....! "

   " Ya, ngestokke dhawuh Durna bapakku.... " jawab Werkudara

   " Nuwun inggih ngestokaken dhawuh bapa.... " jawab Arjuna

   " Laa.... ngandel ora, wis didum dhewe-dhewe.... " kata Prabu Baladewa " Sing guneman Durna sing tumandhang Werkudara.... Apa anggepe nek wis gawa Werkudara kuwi terus menangan apa piye, apa dianggep Baladewa wedi karo Werkudara ngono pa piye....? "

   " Kaka Prabu mendhel kemawon mangkin ndak malah boten rampung-rampung.... " kata Prabu Kresna mengingatkan Prabu Baladewa

    " Ya, aku tak meneng.... "

   " Nuwun sewu bapa penemban, rawuh jengandika winantu ing suka basuki....? " kata Prabu Kresna

   " Oo inggih, inggih.... tansah pinaringan kawigatan nir ing sambe kala tebih saking rubeda, kepareng kula ngaturaken pudya astawanipun ingkeng bapa nggih ngger.... " kata Begawan Durna

   " Bapa penemban kula tampi ndadosaken suka marwata suta raose manah....

Werkudara kowe slamet....? "

    " Ya Kresna kakangku, tansah pinaringan nir ing sambe kala praptaku.... " jawab Werkudara

   " Arjuna, kowe padha raharja yayi....? "

   " Nuwun inggih kaka Prabu, kula raharja boten wonten setunggal alangan punapa, sembah bekti kula konjuk kaka Prabu.... " jawab Arjuna

   " Bapa Durna katuran karahargyan....? " kata Prabu Baladewa

   " Ooo anak angger Prabu Baladewa wilujeng ngger, kula ngaturaken salam kula katur ngger.... " jawab Begawan Durna

   " Nggih kula tampi, dipun sekecakaken anggenipun lenggah.... "

   " Inggih, inggih ngestokaken dhawuh "

   " Werkudara slamet....? " sapa Prabu Baladewa

   " Baladewa kakangku slamet tekaku, aku ngaturke bektiku katur.... " jawab Werkudara

   " Ya tak tampa, pangestunipun kakang tampanana.... "

   " Ndak gegem, ndadekke jimat.... "

   " Arjuna wilujeng..... "

   " Kaka Prabu Mandura tansah pinaringan kawigatan, kula ngaturaken bekti kula konjuk.... "

   " Ya Janoko, tak tampa.....

   " Bapa penemban, wonten menapa dene rawuh dateng praja Dwarawati, menawi kepareng kula midangetaken menapa wigatosipun bapa penemban Sukalima.....? " kata Prabu Kresna

   " Oo, menika ngaten nggih ngger.... Kepareng kula konjuk atur, kacarita anak kula Werkudara kalian pun Janoko menika sampun satunggal candra sawetawis mapan wonten negari Ngastina, lah menapa ta pengajape dene anak kula Werkudara lan Janoko menika manunggal kalian kadangipun Kurawa, mergi piyambakipun sampun saget gelar saget gulung kawontenan, paedah menapa menawi perang bratayudha menika dipun lampahi, menawi perang antawisipun kadang piyambak namung rebut kamukten negara Ngastina, menika saru dinulu, kok ngantos direwangi padha benthak sirah, padha paten-patenan tunggal sedulur, tunggal darah menika rak boten sahe to ngger..... "

   " Inggih penemban menika boten sahe.... " kata Prabu Kresna menanggapi Begawan Durna

   " Na, menawi boten sahe saking dinten sak mangke Bratayudha menika sampun boten kalampahan.... "

   " Lo lo boten kalampahan.... ? "

   " Inggih boten badhe kalampahan amargi Werkudara, Janoko sampun manunggal wonten Ngastina, ngendikane anak Prabu Duryudana,  Werkudara lan Janoko mangkin badhe dipun dhawuhi supados tapak asta wontening nawala kekancingan, Werkudara Janoko badhe nampi negari Ngastina boten ketang namung sepalih. Sepalih dipun lenggahi Pandhawa lima cacahipun ingkeng sepalih dipun lenggahi para sata Kurawa. Pandhawa lan Kurawa padha urip bebarengan wonten negara Ngastina mad-sinamadhan daya dinayan, tunggal rasa lan karsane saget sayuk rukun. Wondene sowan kula wonten negari Dwarawati menika ugi badhe nglarapaken Werkudara napa dene Janoko badhe monjuk atur ngersa paduka anak Prabu Sri Bhatara Kresna.... Werkudara gek ndang matura.....! "

   " Durna bapakku, waa.... aku ora tekan.... " kata Werkudara

   " Nganggo genter....! " kata Begawan Durna

   " Tegese aku ora tekan nggonku arep matur karo Jlitheng kakangku..... "

   " Janoko piye....? " tanya Begawan Durna

   " Bapa penemban, nadyan kula nggih boten wantun matur ngarsa paduka sinuwun Dwarawati.... " jawab Arjuna

   " Naa..... rak tenan to.... Iki wis ana niyat sing siningit sak jroning ati Werkudara apa dene Janoko, nyatane wong loro didhawuhi matur neng ngarsane yayi Prabu Dwarawati, Werkudara ora tekan, Janoko ora tekan olehe matur, yayi sing ati-ati....!! "

   " Kaka Prabu lenggah ingkeng prayogi menika perkawis kula.... " kata Prabu Kresna mengingatkan Prabu Baladewa

   " Werkudara lan Janoko wong arep matur wae kok ora tekan.... Hoo.... satriya kok cendhik-cendhik, matur kaya ngono wae kok ora tekan.... " kata Begawan Durna " Beda karo aku, aku apa-apa iki mesthi tekan, model piye wae mesthi tekan, orang mung mak kethawil-kethawil ora karuan.... Aku tak matur, wong iki sing penting atine, angger atine gedhe mesthi bakal tekan apa sing dikarepne....

Menika ngaten nggih ngger.... anak kula Werkudara ugi Janoko boten dumugi anggenipun badhe matur dateng anak Prabu Dwarawati, mila ingkeng bapa Sukalima ingkeng badhe matur....

   " Kula sumanggakaken bapa penemban Durna.... " kata Prabu Kresna

   " Inggih, inggih, menika ngaten nggih ngger.... dhawuhipun anak Prabu Duryudana dateng Werkudara ugi Janoko, Bratayudha menika jangkaning jagad, Bratayudha menika ingkang gadhah damel menika para jawata, boten titah sewantah, menika perkawis ingkeng ageng. Para brahmana nyebataken menika perang suci luaring punaki, sapa sing utang bakal nyaur, sapa sing njilih balekake, sapa sing tumindake ala ning kana bakal antuk wahyuning sirna, menika Bratayudha.... "

   " Inggih penemban lajeng....? "

   " La mula saking menika Brratayudha menawi badhe diwurungaken jebul syarat srananipun menika angel, syarat srananipun menika boten gampil..... "

   " Syarat srananipun menika boten gampil menika kados pundi penemban.....? " tanya Prabu Kresna

   " Ngendikane anak Prabu Duryudana ingkeng sampun manekung nyuwun ngarsane Gusti, nampi sasmita bilih Bratayudha saget dipun wurungaken, saget dipun batalaken menawi anak Prabu Sri Bathara Kresna rawuh wonten Ngastina sareng sak lampah kula kalian lampahipun anak kula Werkudara lan Janoko. Sampun kula cawisaken jempana ijol-ijolan, tandu kinarya nandu anak Prabu Dwarawati rawuh wonten praja Ngastina supados nekseni wurunge Bratayudha Jayabinangun. Lajeng kula gadhah pemanggih, apa ta sebape anak Prabu kedhah dados seksi jebul panjenengan menika titise Bathara Wisnu, penjenengan menika pujanggane para Pandhawa panjenengan menika kusire para Pandhawa. Nek kusir lan pujanggane sampun nyarujuki Pandhawa rukun kalih Kurawa, ooo temtu jagad menika badhe ayem tentrem, boten wonten tiyang regejegan langkung-langkung Pandhawa lan Kurawa sampun manunggal dados setunggal.... "

    " Kaka Prabu sampun mireng piyambak.....? " tanya Prabu Kresna

   " Si adhi arep diboyong menyang Ngastina....? " jawab Prabu Baladewa

   " Inggih kasinggihan mekaten.... "

   " Yen manut saka pitungane pun kakang aja gelem...." kata Prabu Baladewa " Pun kakang wis apal karo watak wantune para Kurawa lan wong-wong Ngastina, mesthi ana sandi kang siningit saka Kurawa, cilik si adhi bakal dikrenah cintrakane gedhe-gedhene Kresna mesthi bakal diperjaya, wong Ngastina kuwi wong kang watak angkara budi candhala....! "

   " Nuwun sewu ngger anak Prabu Baladewa boten ngaten kok ngger.... " sahut Begawan Durna " Sinuwun Dwarawati badhe wilujeng nir ing sambe kala wonten negari Ngastina, mangkin menawi wonten menapa-menapa dateng anak Prabu Dwarawati, menawi ngantos babak kulite, putung balunge, metu gethihe, Durna ingkang sagah nglintoni gesangipun Nata Dwarawati....!! "

   " Ora usah percaya karo Begawan Durna.....! " kata Prabu Baladewa  " Begawan Durna kuwi tukang sumpah tur tukang ndobos, dheweke sumpah ora mung pisan iki, wis bola-bali, nek ming sumpahe Durna wae Baladewa ora bakal percaya....!! "

   " Lah menika sahe, ....eh anu napa nuwun sewu menika lepat ngger..... " kata Begawan Durna gelagapan " Kula menika pendhita lo ngger.... Kula menika brahmana, kula menika resi, resi menika kedhah resik njaba njeronipun....

Sak mangkin ngaten mawon ngger.... Anak Prabu Dwarawati kersa rawuh dateng Ngastina napa boten, menawi kersa maturnuwun tegesipun paduka menika setunggale nalendra ingkeng ugi nggayuh dateng katentraman ugi karukunan, nanging menawi boten kersa rawuh wonten negari Ngastina.... Ooo, saget kula wastani nek panjenengan menika sing benthik-benthikke Kurawa klawan Pandhawa supaya ora rukun kuwi cetha ratu Dwarawati sing ngangkah dadine Bratayudha, ratu Dwarawati sing seneng nek Bratayudha Kurawa dadi tumpes kelor tanpa sisa. Cetha sing nduwe watak angkara budi candhala kuwi dudu ratu Ngastina ning ratu Dwarawati....!! "

Dhadha muntap lir kinetap

duka yayah sinipi

jaja bang mawinga wengis

kumedhot padoning lathi

netra kocak ngondar andhir

Ooong.....

-Kemarahan- didada seketika memuncak

seperti ditampar

marah yang teramat sangat

dada memerah menyorotkan kebengisan

bibirnya bergetar gemetaran

bola mata seakan kocak dan berputar-putar

Ooong.....

   " Waah.... panuksmaning jajal laknat skertane bawana iblis keparat.....!! Begawan Durna....!!! "

   " Wonten dhawuh sinuwun.... " jawab Begawan Durna gemetaran ketakutan

   " Sampean wau muni piye....?!! "

   " Pun lali...."

   " Sampean wau muni pripun....?!! " Prabu Baladewa mengulang pertanyaanya dan makin marah

   " Nggih, ning pun lali.... " jawab Begawan Durna makin ketakutan

   " Lagi ngomong kok lali, iki pendhita bosok apa piye....??!! "

   " Nggih, radi bosok..... Anu, nyuwun pangapunten ngger, kula menika boten wonten perkawis kalian penjenengan nanging perkawis kula menika kalian sinuwun Dwarawati, sinuwun Mandura boten usah tumut-tumut perkawis menika, perkawis menika urusanipun tiyang Ngastina kalian Nata Dwarawati.... "

   " Sampean ngerti boten kula menika sinten...?!! " teriak Prabu Baladewa

   " Penjenengan anak Prabu Baladewa.... " jawab Begawan Durna

   " Baladewa karo Kresna kuwi apane....!!? "

   " Inggih, kakang adhi, kakang adhi..... " jawab Begawan Durna ketakutan

   " Nek ana sing ngunek-ngunekke ratu Dwarawati terus Baladewa ora trima niku trep boten, cocok boten....??! "

   " Nggih cocok, cocok.... " jawab Begawan Durna sambil menunduk ketakutan

   " Kok sampean isa muni dudu urusane Prabu Baladewa dhasar sampean napa...?!! "

   " Boten ngangge dhasar.... jeru banget.... "

   " Pendhita kok omongane mencla-mencle....!? Begawan Durna bali wae....!! "

   " Bali teng pundi....? "

    " Bali neng negara Ngastina....!! "

   " Oo.... menawi kula bali dateng Ngastina boten saget mboyong Nata Dwarawati kula mangkin didukani anak Prabu Duryudana....?! "

   " Perkara diseneni sak karepmu, perkara dikapak-kapakke sak karepmu... !! Kresna ora bakal tekan Ngastina, nek isa boyong Kresna boyongen, kudu isa ngasorake Baladewa, isa ngalahke kadigdayane Nata Mandura boyongen Nata Dwarawati....!!! "

    " Werkudara.... kowe kok meneng wae, aku wis gembrobyos kaya ngene kowe kok meneng wae....?

Janoko.... iki aku ditantang lo Janoko....??! " kata Begawan Durna mengadu kepada Werkudara dan Arjuna.

Tapi dua orang muridnya yang disampingnya hanya diam menunduk menghadapi kemarahan Prabu Baladewa

   " Sampean wadul karo murid sampean, Werkudara karo Janoko, sampean wadul, apa dikira Baladewa wedi, apa dikira Baladewa lirip....?! Baladewa ora bakal wedi, ora bakal wedi karo sapa wae, aja kok titah sewantah, dewa mudhun neng jagad Baladewa ora bakal lirip....!!

Sampean ora usah ngecomang dleming neng kene, ora padha minggat tak dupaki kabeh rahimu.....!!! "

   " Ooo.... cilaka iki mengko, ayo lunga wae Werkudara....!! "

Melihat kemarahan Prabu Baladewa yang sudah tidak terkendali maka Begawan Durna ketakutan melompat keluar dari siti inggil Dwarawati diikuti Werkudara dan Arjuna

 

Episode : 3

Tandhang Sri Baladewa

nanggalanira pinusti ing asta

swandana umangsah

praptaning rananggana umiyat yitna

krura sru wirodra

Ooong.....

Prabu Baladewa bertindak

senjata Nenggala-nya dalam genggaman tangan

bersiap untuk berperang

tiba di medan peperangan melihat dengan waspada

berseru dengan lantang dan galak

Ooong.....

Melihat kemarahan Prabu Baladewa yang sudah tidak terkendali maka Begawan Durna ketakutan melompat keluar  dari siti inggil Dwarawati diikuti Werkudara dan Arjuna

   " Kaka Prabu.... " kata Prabu Kresna kepada Prabu Baladewa

   " Ya yayi piye....? "

   " Menapa ngaten menika sampun leres....? "

   " Tumrap aku wis bener....! " jawab Prabu Baladewa

   " Nanging kirang pener tumrap Dwarawati... "

   " Loh, kok ora pener tumrap Dwarawati....? "

   " Menika negari wonten pranatanipun, bapa Durna nadyan kadoso menapa menika pujangganipun negari Ngastina tur nganthi kadang kula Werkudara napa dene Janoko. Estunipun badhe kula rembag sarana aris sampun ngantos dados muntapipun kadang kula kekalih, lakok tanpa taliwara kaka Prabu ngantos duka-duka nantang kalih Begawan Durna....?! "

   " Mengko dhisik ta.... aku iki ngewangi kowe, kok kowe malah ora seneng ki piye....? " sanggah Prabu Baladewa

   " Inggih boten remen, mergi cak-cak'anipun ingkang kula boten remen. Cak-cak'an tata budaya wonten Dwarawati menika, menawi wonten tamu utawi dayoh ora kena gawe kagole, ora kena gawe nesune dayoh. Mergi kadoso menapa tamu menika kedhah dijunjung derajate, amargi dayoh tumrap kula mujudaken setunggale sesembahan ingkang kedhah diladosi. Menawi tata budaya dateng Mandura ngaten sumangga, ning pun ngantos dipun trapaken dhateng Dwarawati.... "

   " Sentyaki piye....? " tanya Prabu Baladewa

   " Kula sumanggakaken.... " jawab Arya Setyaki

   " Aku salah iki piye....? "

   " Kula sumanggakaken.... Penjenengan nggih kados mekaten tumindak boten tetarosan dateng sinuwun Dwarawati rumiyen....? " kata Setyaki

   " Niyatku iki apik, arep mbelani yayi Prabu Kresna, ning lakok aku diluputke....?! "

Tiba-tiba Anoman beranjak maju menghadap Prabu Kresna

   " Sinuwun kula badhe monjuk atur dateng sinuwun Dwarawati.... "

   " Ya Anoman ana apa....? " tanya Prabu Kresna

   " Dewaji, kados lelampahan pasumpenan kula, bilih sugeng paduka badhe dipun jangka kalian tiyang-tiyang Ngastina. Mila dinten sak mangke kula nyuwun idhi palilah, gandheng kula menika ingkeng tansah ngayomi dateng titising Bathara Wisnu, menawi wonten tiyang ingkeng badhe numasika badhe damel sambekala dateng gusti kula Dwarawati, Kurawa napa dene Werkudara lan Arjuna badhe mboyong jengandika kula ingkeng badhe dados pepalang paduka gusti kula Dwarawati.... "

   " Anoman, surtiti ngati-ati duga-duga digawa, wis entuk idhi palilahe Nata Dwarawati gage lakonana Senggana....! "

   " Nuwun inggih nyuwun pamit, nyuwun tambahe pangestu...." kata Anoman dengan menghaturkan sembah pangabekti

   " Sing ati-ati aja kaya bocah cilik Anoman...."

Anoman meninggalkan paseban agung untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan dilakukan oleh orang-orang Ngastina

   " Na, cak-cak'an kados Anoman kalawau leres kaka Prabu, menawi badhe tumindak kedhah nyuwun idhi palilah Nata Dwarawati amargi kula ingkang wenang murbawssesa dateng praja Dwaraka.... " kata Prabu Kresna setelah melihat kepergian Anoman

   " Ya, pun kakang salah.... " kata Prabu Baladewa " .... aku ingkeng kleru njaluk ngapura, pun kakang ora bakal tumandhang ngadhepi para sata Kurawa... "

   " Nanging perkawis menika kedhah tanggel jawab....Penjenengan ingkeng miwiti perkawis menika kedhah saget ngrampungi.... "

   " Oh ya, aku tanggung jawab, yen ana apa-apa mengko pun kakang bakal sabyantu marang si Anoman....

   "Sentyaki, tentreme praja tak pasrahke marang sira, senopati Dwarawati.... " kata Prabu Kresna memberi perintah

   " Nuwun inggih ngestokaken dhawuh.... " jawab Arya Setyaki sebagai senopati Dwarawati

   " Semono uga kakang Patih Udawa, ketapke para wadyabala  aja nganthi ana ingkeng brojol seka selo-selane nggaru....! "

   " Nok non, ngestokaken dhawuh, nyuwun tambahe pangestu... "

   " Sing ati-ati, aja kaya bocah cilik....! "

Sementara itu diluar kerajaannya Dwarawati, Begawan Durna dengan diiring kedua muridnya Werkudara dan Janoko menemui Prabu Kumaradewa seorang murid yang baru  Begawan Durna yang saat itu bersama dengan Patih Sengkuni

   " Ooo.... blegudug suwalu gembol sumorante sumorante, howella, howella.... anakku wong bagus Kumaradewa....! " seru Begawan Durna

   " Wonten dhawuh paduka menapa penemban....? " jawab Kumaradewa

   " Kowe tak timbali iki sayekti njumbuhake apa sing tok jaluk nalika semana kowe suwita karo Begawan Durna.... "

   " Inggih.... "

   " Ingkeng dadi wigatine kowe kepingin nyucup ngelmune Begawan Durna, kabeh mau bakal tak paringake ning ana syarat pitukone.....! " kata Begawan Durna

   " Kula badhe nedyani ugi sagah napa ingkeng dados dhawuhipun bapa penemban Durna "

   " Iki aku arep mboyong ratu Dwarawati menyang Ngastina, ewadene sambekalane akeh banget...." kata Begawan Durna " ... Mengko sak mangsa-mangsa Kurawa ora ana sing isa nanggulangi kridane wadya bala Dwarawati kowe kudu isa ngrampungi kridane wong Dwarawati, yen perlu sirnakna kabeh wong Dwarawati, kudu isa ngrangket ratu Dwarawati kinarya tumbal Bratayudha Jayabinangun....! "

   " Waa ladyalah....! Inggih, inggih.... Menawi namung babagan guna kasantikan kaprawiran kemawon kula boten badhe ajrih, dipun tandingaken dateng sinten kemawon kula sagah...! " kata Kumaradewa

   " Dik Patih.... "

   " Kula wonten dhawuh kakang penemban.... " jawab Patih Sengkuni

   " Niki kula wastani kriwikan dadi grojogan, geguyon dadi tangisan, kula ajeng mboyong ratu Dwarawati wonten pepalange.... " kata Begawan Durna

   " Sinten kakang penemban.....? "

   " Nggih mestine nayaka lan para kawula Dwarawati.... Pun sak niki Kurawa diketatke....!! "

   " Nuwun inggih kakang penemban ngestokaken dhawuh "

   " Werkudara....! " seru Begawan Durna

   " Ya piye Durna bapakku....? " jawab Werkudara

   " Lan kowe Janoko.....! "

   " Nuwun inggih bapa penemban....? " jawab Arjuna

   " Werkudara lan Janoko aja mingkuh rasamu, aja menggok dalan pikiranmu ya ngger.... Tetepa anggonmu rukun karo Sata Kurawa, kena tak tetepake yen to sing benthik-benthikke Kurawa karo Pandawa nganthi padha padu ora ana liya kejaba ratu Dwarawati, kowe wis ngerti dhewe to buktine....ing atase titise Bathara Wisnu sing kudune nggayuh ketentraman lan kautaman tak boyong nang kok ora gelem, apa ngono kuwi ratu sing nitis Bathara Wisnu? Ooo.... wis ora wangun kowe suwita karo ratu Dwarawati....!! "

   " Durna bapakku ya.... "

   " He'em.... Ora ndadak walang ati ngger, yen pancen kowe arep ngabekti karo Begawan Durna ngamuka neng Dwarawati Werkudara aja wedhi kangelan.....!! "

   " Waa..... aja ana sing melu-melu, Kresna kakangku yen pancen ora gelem rawuh neng Ngastina, waa.... aku sing bakal negakna karo Kresna.....!! " kata Werkudara

   " Bagus, bagus..... tegakna, tegakna.... ora papa kowe kelangan Kresna ning isih caket Begawan Durna kabeh mesti bakal tentrem....! " kata Begawan Durna " Janoko ya ngono aja nganthi kowe beda karo kakangmu  ....! "

   " Bapa penemban, menawi kaka Prabu Dwarawati boten kersa rawuh wonten negari Ngastina paripeksa kula ingkeng kedhah mentala dateng koko Prabu Dwarawati....!! " kata Arjuna

   " Bener, bener kaya ngono kuwi ngger.... Dik Patih....!! "

   " Kula wonten dhawuh kakang penemban.... " kata Patih Sengkuni

   " Para Sata Kurawa diketapke, nek ora isa menang karo wong Dwarawati, Werkudara karo Janoko sing maju, nek ora isa menang pasrahke anak muridku Kumaradewa....! "

   " Nuwun inggih kakang penemban ngestokaken dhawuh....! "

Patih Sengkuni menyiapkan  pasukan perang kerajaan Ngastina untuk menggempur kerajaan Dwarawati. Kartamarma dan para Kurawa berada dibarisan depan.

Gemuruh bala tentara kerajaan Ngatina langsung disambut pasukan perang kerajaan Dwarawati, pertempuranpun tak terelakkan

   " Wah.... pancen wong Dwarawati ora kena disangga entheng lan ora kena digawe becik.....! "kata Kartamarma sebagai senopati Ngastina

   " Ora usah ndadak kokehan bebangal Kartamarma.....!! " sambut Arya Setyaki senopati Dwarawati " Hayo.... Begawan Durna bali neng Ngastina ora, ora bali aja takon dosa senadyan Kurawa segelar papan Sentyaki ora bakal mundhur....!! "

   " Babo, babo....!! wani karo aku....?! " tantang Kartamarma

   " Sing tak wedheni apamu....!! " jawab Setyaki

   " Ora minggat seka ngarepku tak tebak dhadhamu dadi marganing patimu....!! "

   " Singa lena prapteng lalis, aja lena pangendamu Kartamarma sida tak pecah sirahmu....!! "

   " Wohh... -brakk-....!! "teriak Kartamarma terkena pukulan Setyaki

Mereka bertarung diatara dua pasukan yang saling serang, suara dentingan pedang, tombak dan suara jeritan prajurit yang terkena sabetan pedang dan tombak

Kedua senopati saling adu tendangan dan pukulan, saling adu kadigjayaan. Tapi Arya Setyaki adalah seorang senopati yang benar-benar mahir dalam olah krida dan kanuragan, perlawanan Kartamarma tidak berarti sekalipun dengan membawa pedang, tombak, sekali lengah Kartamarma disapu dengan gada wesi kuning jatuh terkapar....!

   " Ayo, ayo, ayo...... maju.....!!! "

Aswatama datang memimpin pasukan untuk mengeroyok Setyaki, datang Anoman untuk membantu, prajurit Ngastina dibuat kocar-kacir lari tunggang langgang.

Tubuh Aswatama digulung-gulung, seluruh tubuhnya dicabik-cabik Anoman hingga berlumuran darah.

Begawan Durna dan Patih Sengkuni menyaksikan kekalahan Kurawa menghadapi pasukan Dwarawati

   " Hoo.... Lole, lole.... ora eneng apa-apane Kurawa dhik Patih....?! "

   " Kurawa niku isa menang karo wong Dwarawati niku gek kapan to kakang penemban..... " kata Patih Sengkuni " Lawong Kurawa padha males nek dike gladen olah krida, ajeng dikon isa menang saka ngendi....?! "

   " Ooo lole, lole.... Werkudara, Werkudara.....!! " teriak Begawan Durna memanggil Werkudara

   " Durna bapakku piye.....? " jawab Werkudara mendekati Begawan Durna

   " Sentyaki karo Anoman ngamuk kae ngger.... Yen kowe ora isa bandha, ora isa mateni Sentyaki, Ooo.... ora sudi aku ngakoni murid karo kowe....!! "

   " Waa.... Ya aja melu-melu tak patenane Sentyaki.....!! "

 

Episode 4

Mundhur sang rekyana patih

undang mring pra wadyabala sawega

umyung swaranipun bende beri

gubar gurnang kalawan

puksur tambar suling

pepanden tunggul daludag

bandhera mwah kakandha mawarna-warna

pindha jaladiyan asri kawuryan

Ooong.....

Mundurlah sang senopati

-lalu- memanggil para bala tentara

-agar- bersiap siaga

ramai suara bende dan gong

gubar, gurnang, juga

puksur, tambur, suling,

berbagai umbul-umbul

juga berbagai bendera berwarna-warni

terlihat indah bagai samudera

Ooong.....

Setelah Arya Setyaki senopati Dwarawati berhasil memukul mundur Kartamarma dan pasukannya ia harus berhadapan dengan Werkudara yang saat ini berada dipihak kerajaan Ngastina

   " Waa.... Setyaki....!! " seru Werkudara

   " Kula wonten dhawuh kakang mas.... " jawab Setyaki

   " Kowe ora usah melu-melu perkara iki, minggira aja adu balung karo Werkudara....!! "

   " Kang mas, kula menika senopati negari Dwarawati, menawi wonten tiyang ingkang badhe damel risak Dwarawati kula ingkeng kedhah ngayomi negari Dwarawati ....!! "

   " Yen ngono kowe wani karo Werkudara....?! "

   " Nuwun sewu, kula boten badhe ajrih....! "

   " Waa.... sida tak pecah ndasmu....!! "

Sudah jadi watak Werkudara yang kasar dan tanpa kompromi Setyaki senopati Dwarawati langsung ditendang dipukul, diinjak-injak. Setyaki sama sekali tidak diberi kesempatan melawan, para prajurit Dwarawati yang berusaha menolong malah bubar kocar-kacir karena amukan Werkudara.

   " Waa.... wani nantang Werkudara njaluk mati kowe....!! "

.... -brakk-...!! .... -brakk....!!!

Tubuh Setyaki dibanting, dinjak-injak, dilemparkan dan jatuh didepan Prabu Baladewa

   " Setyaki kok tiba neng ngarepe Baladewa....?! " kata Prabu Baladewa heran

   " Kaka Prabu,  kakang mas Jodhipati mbelani dateng Begawan Durna, mbelani tiyang-tiyang Ngastina, nyatanipun mekaten....! "

   " Nyatane ngono piye....?? "

   " Inggih kula dipun pulasara kalian kakang mas Werkudara, prajurit Dwarawati sami bubar mawut boten kantenan.... "

   " Kowe senopati Dwarawati dipulasara Werkudara kok wedi nyapo....? "

   " Boten ajrih nanging boten uman papan.... " kata Setyaki

   " Kowe kalah....??! "

   " Inggih kula kawon.... "

   " Iblis laknat ngugu karepe dhewe.... Werkudara....!! Iki sing dadi mungsuhmu Baladewa, aja Setyaki mbok pulasara, hayo tandingana Baladewa legane atiku.....!!! "

.

Namun ditengah kemarahan Prabu Baladewa, Prabu Kresna tiba-tiba datang menghalangi Prabu Baladewa

   " Badhe tindak dateng pundi....? "

   " Arep nesu jane.....?! "

   " Lakok boten cios....? " tanya Prabu Kresna

   " La ana kowe.... " jawab Prabu Baladewa

   " Setyaki menika senopati kula.... "

   " Ya... "

   " Kaka Prabu kalawau rak sampun dhawuh, ora arep melu-melu nek dereng angsal idhi palilah saking Nata Dwarawati, napa kula pun dhawuh....? "

   " Ya durung..... "

   " Lakok badhe nesu....? "

   " Ya timbangane sepi, ora ana sing nesu...!? La njur aku dikon ngapa coba, Setyaki laporan karo aku nek dipulasara Werkudara mosok aku meneng wae....?! "

.   " Menika perkawis kula, kaka Prabu kendhel boten sah tumut-tumut.... "

   " Setyaki kuwi adhiku....!? " bantah Prabu Baladewa

   " Inggih kula ngertos, ning niki senopati Dwarawati menika tanggel jawab kula, penjenengan boten usah tumut-tumut...."

   " Ya wis, ora entuk nesu....? " kata Prabu Baladewa

   " Boten, penjenengan kendhel kemawon....

Setyaki....!? "

   " Kula wonten dhawuh sinuwun....? " jawab Setyaki

   " Kowe mundhur....? "

   " Inggih.... "

   " Tatu awakmu....?! "

   " Dipun tendangi, dipun idak-idak kakang mas Jodhipati, kula dipun pulasara dene kakang mas Werkudara.... "

   " Kok kowe ora mbales....? "

   " Kula boten wonten kalodhangan saget mbales.... "

   " Ya terus....? "

   " Kula diajar diuncalaken ngantos dhawah dateng ngajenge kaka Prabu Mandura, lajeng kula matur dateng ngarsane kaka Prabu Baladewa...."

   " La, aku dilapori Setyaki kaya ngono kuwi aku mesthi muntap....! Ing atase aku wong tuwa dilapori adhi lanang, Setyaki diajar ora entuk nesu piye....?! " kata Prabu Baladewa protes

   " Inggih, penjenengan mendhel, mendhel kaka Prabu....! "

   " Mila kula lajeng mundhur, kula kados pundi....? " kata Setyaki

   " Nek wani tandingana, wani ora....? " tanya Prabu Kresna

   " Wantun.... "

   " Ora usah sambat, senopati kok sambat kuwi cara ngendi....? Senopati mbelani ratu, mbelani negara kok sambat karo wong tuwa kuwi cara ngendi....? Yen ora saguh dadi senopati dadi nayaka liyane wae, nek wis niyat dadi senopati, arepa tekaning pati diwujudi....!! "

   " Nuwun inggih, nyuwun pamit....! "

Setyaki langsung melompat pergi menghadapi Werkudara, Prabu Baladewa beranjak melihat kepergian Setyaki

   " Wah, modar tenan bocah kae mengko ....? Kowe iki kok kebangeten, ana wong njaluk tulung kok ora entuk....? "

   " Sampun kersane, mangke ndak Setyaki menika dadi wong cengeng, dadi wong sing aleman, pendak-pendak kalah njaluk tulung, kula boten remen. Nek wis gelem dadi senopati kudu teteg, tangguh, tanggon atine, ora dadi cingeng kados ngoten niku.... "

   " Ning nek diajar Werkudara cilik lara gedhene tekaning pati....? "

   " Nek lara kula tambani, nek mati, kula nyuwun dateng ngarsane Gusti supados saget gesang waluya jati.... "

   " Loh, nganggo apa...? "

   " Kembang Cangkok Wijayamulya.... "

   " Oh, ya ya.... " kata Prabu Baladewa merasa lega

   " La gene ngerti.....Kaka Prabu mboten sah kuwatir, Kresna menika ngertos.... Pintera Baladewa mesthi okeh sing suwita neng Mandura tinimbang Dwarawati..... " kata Prabu Kresna sambil ngeloyor pergi

   " Kresna sing ati-ati yayi....! "

   " Inggih kaka Prabu...." terdengar suara Prabu Kresna dari jauh

Saat itu di medan peperangan Setyaki dihajar Werkudara untuk yang kedua kalinya tanpa bisa melawan

   " Waa.... ora kena dielingke sida tak pecah sirahmu....!! " .... brakk....!! ..... -brakk....!!!

Tubuh Setyaki dihempaskan ke batu, ditendang, diinjak-injak hingga ambruk meringkuk tak berdaya

Mengetahui keadaan Setyaki, Prabu Baladewa berlari-lari panik berteriak-teriak

   " Waahh ladyalah.....! Kresna....!! Kresna.... Wah iki piye yayi Prabu.... Setyaki mati....!!! "

Datang Prabu Kresna dan mendekati tubuh Setyaki

   " Waah yayi Prabu.... iki piye..... Setyaki ora ambegan, Setyaki glethak kaya ngene kok kowe meneng wae, aja meneng wae, gek ndang tambanana, gek ndang uripna....!!? "

   " Sseett.....!! Pun kendhel, kendhel....! " Prabu Kresna menyuruh diam

   " La aku dikon meneng piye, arek iki glethak kaya ngene kok dikon meneng....!!? " teriak Prabu Baladewa

   " Setyaki....!? "

   " Wonten dhawuh.... "

   " Huu....asem koen iki ngapusi....!! Tak kira mati....!!? " kata Prabu Baladewa sambil nyentak kepala Setyaki

   " Inggih, nanging awak kula sakit, kula boten kiyat glawat kaka Prabu....!? "

   " Laa..... krungu ora, Setyaki iki awake lara wis ora kuwat glawat diajar Werkudara....!!? "

   " Setyaki piye....? " tanya Prabu Kresna

   " Inggih prasaja mawon kula kawon.... "

   " Nek ngono Dwarawati bedah, pun kakang bakal diboyong neng Ngastina.....!? "

   " Sampun ngantos....!! " kata Setyaki

   " La kowe wis sambat kalah, senopati nek wis sambat kalah terus ratune arep nyapo....? "

   " Kaka Prabu, tinimbang kula mangertosi panjenengan dipun boyong wonten Ngastina, kula pasrah pejah kemawon, kula senopati sing bodho ora isa ngilangi sukertane negara, kula aturi mejahi kula kemawon kaka Prabu.....!!? " kata Setyaki sambil menangis

   " Terus, nek kowe wis mati rampung perkarane, ya....? Dwarawati bedhah pun kakang diboyong neng Ngastina, apa rumangsamu jenenge Setyaki ora dieling-eling karo para kawula, biyen ana senopati peng-pengan jenenge Setyaki ngakune setya bekti marang ratu Dwarawati marang negara Dwarawati, mbarang perang kalah njaluk mati terus dipateni. Matine ora karo mungsuh ning karo ratu Dwarawati dhewe merga wis sambat njaluk mati. Apa ngono kuwi ngarumke marang jenenge senopati, apa ngono kuwi ngreksa karo jenenge senopati, hayo wangsulan....!? "

   " Boten.... "

   " Kowe mati kena wae, ning kudu mungsuh Werkudara nganthi mati, kowe lagi dianggep senopati tenanan....! "

   " Wah piye iki....Aa'..... aku entuk usul ora....? " kata Prabu Baladewa panik

   " Pareng, ning boten angsal nesu.....!? " jawab Prabu Kresna

   " Ya nek cara aku iki kowe padha karo jlomprongna Setyaki neng jurang kasengsaran, Setyaki wis kalah karo Werkudara isih tok kon maju nganthi tekaning pati.....?!! "

   " Menika jiwane senopati.....! "

   " Wah..... ora perkara jiwa senopati ora perkara sumpahe senopati..... Ning iki perkara kamanungsan, iki adhimu Setyaki ngladeni kowe pirang-pirang puluh tahun enthek-enthekane mung mbok kon mati nganggo cara ngono kuwi, kowe nduwe rasa kamanungsan ora.....?!! "

   " Kaka Prabu.... "

   " Piye....? "

   " Menika wonten pundi....? "

   " Ya neng Dwarawati.... "

   " Ingkeng nggadhahi purba wasesa sinten....? "

   " Ha ya situ....! "

   " Ratu kok muni ha ya situ....? Menika perkawis kula.... " kata Prabu Kresna

   " Ning Setyaki iki mesakke....!!? "

   " Inggih ngertos, menika sampun teng petangan kula.... "

   " Setyaki maju maneh....!! " perintah Prabu Kresna

   " Menawi dipun ajar....? "

   " Kowe ora bakal krasa lara nek diajar....! " kata Prabu Kresna

   " Sabapipun....? " tanya Setyaki

   " Tak wenehi ngampil pusaka.... "

Mendengar ucapan Prabu Kresna, Setyaki langsung bangkit semangat

   " Tenane.....!!? "

   " Lo lo lo.... kok ngomong tenane.....? "

   " Anu sinuwun, estu napa...? "

   " Ya tenan, kowe tak paringi ngampil pusaka Sekar Cangkok Wijayamulya....! "

   " Laa, ngono kuwi jenenge lagi adil, disilihke kembang kuwi, aja mung ditandhur neng omah dhewe.....! " kata Prabu Baladewa ikut semangat kegirangan

   " Kaka Prabu penjenengan niku, kembang pusaka kok ditandhur sak penake dhewe.... "

   " Lo la iya.... disilihke Satyaki.... Dayane apa Kresna....? " tanya Prabu Baladewa

   " Menawi Setyaki dipun jothosi mboten kraos, ditamaki pusaka boten tumama lan mboten saget pejah awit sampun mundhi Sekar Cangkok Wijayamulya.... "

   " Wahh jian, iki kowe arep gleleng Setyaki, cepakna sirahmu kowe ditendangi Werkudara ora krasa lara, kowe disudet Kuku Pancanaka ora bakal tumama, kowe ora isa tekaning pati, wahh..... gek ndang dijaluk-dijaluk....!! "

   " Inggih.... "

   " Gek ndang dijaluk aku tak pingin weruh kaya ngapa wujude Sekar cangkok Wijayamulya,  kit mbiyen nganthi sak iki aku dadi kakangne lanang durung tau ngerti wujude Sekar Cangkok Wijayamulya.... Hemm.... bokongku nganthi gatel Setyaki....!!? "

   " Kenging menapa....? "

   " Wahh.... klebon kewan cilik pirang-pirang sajake wis nyusuh neng kono, nggon sing anget pating kruntek gak karu-karuan....!? "

   " Setyaki.... Sekar cangkok Wijayamulya tampanana....!! " kata Prabu Kresna

   " Nuwun inggih ngestokaken dhawuh sinuwun....! "

Prabu Sri Bathara Kresna mengeluarkan pusaka Sekar Cangkok Wijayamulya yang keluar dari kancing gelungnya dan Prabu Baladewa maju mendekati pusaka tersebut dengan terheran-heran

   " Ee'eee.... la gene mung kaya tetehan.....!? "

   " Tetehan pripun to menika pusaka.... "

   " La iya, ming kaya ngene iki, wite cilik kembange elik ngono wae kok Sekar Cangkok Wijayamulya....!? " kata Prabu Baladewa

   " Menawi ngece mangke kuwalat lo kaka Prabu....!? "

   " Ya ora lah, kembang kok malati.... gek ndang dijupuk gek ndang dipundhi Setyaki....!! "

   " Nuwun inggih ngestokaken dhawuh.... "

Pusaka Sekar Cangkok Wijayamulya sudah dibawa Setyaki dimasukkan kedalam kancing gelungnya

   " Setyaki wis kanggonan pusaka mangkato, ning pesenku yen dikapak-kapakke karo Werkudara apa dene Janoko kowe ora entuk mbales, merga kuwi kadangku.... Wis mangkato....! "

   " Nyuwun inggih ngestokaken dhawuh, nyuwun tambahe pangestu.....! " Setyaki sembah sungkem kepada Prabu Kresna

Setyaki kehadapan Prabu Baladewa

   " Nyuwun pangestu....! " kata Setyaki sambil berdiri

   " Nyembah no....!! "

   " Oh, nggih nyuwun pangapunten kesupen.... "

   " Wah jian gleleng kowe nganthi lali sungkem karo pun kakang... Wis mundhi pusaka Sekar cangkok Wijayamulya nganthi sak penake dhewe....!? " kata Prabu Baladewa

   " Mangkat perang....!! " kata Setyaki beranjak pergi dengan gagah dan percaya diri

   " Waahh..... seneng aku, ha ha ha....ndhelok wong perang....!! " kata Prabu Baladewa dengan senang dan bangga mengikuti perginya Setyaki

   " Kaka Prabu ampun caket-caket mangkin ndak malah wonten menapa-menapa....! "

   " Ya Kresna....! "

 

Episode 5

Umyang swaraning wadya

wus samapta munya

kendhang gong beri arebut papan

ing sajuru-juru

tan ana liru pernah

rekyana patih mangka cucuking

pra wadya kuswa

risang Wresniwira mahambeg sudira

prawira tumangguh

Ooong......

Ramai suara bala tentara

sudah siap dibunyikan (pertanda perang)

kendhang gong beri silih berganti

pada sesuai-irama- waktunya

tidak ada yang salah-giliran-waktunya

senopati yang berada di depan

-dari barisan- para prajurit

adalah kesatriya dari bangsa Wresni yang berwatak pemberani

perwira yang tangguh

Ooong.....

Arya Setyaki senopati Dwarawati untuk yang ketiga kalinya berhadapan perang dengan Werkudara, tapi kali ini Werkudara heran menyaksikan tingkah laku Setyaki

   " Nyoh.... nyoh....!! " Setyaki beberapa kali menunduk menyodorkan kepalanya kepada Werkudara

   " Waa.... Setyaki ngapa....? "

   " Sampean rene arep nyapo....? " Setyaki balik bertanya

   " Arep nglabrak kowe, nglabrak wong Dwarawati....!! "

   " La iya iki ajaren.... ayo, nyoh....!! " kata Setyaki sambil menyodor-nyodorkan kepalanya

   " Waa.......?! "

   " Ora usah wah weh, ayo gek ndang.... ajaren Setyaki....!! "

   " Waa.... tak pecah ndasmu....!!? " teriak Werkudara

   " Ayo jajal....!? "

   .... - bruakk- ....!! .... -brakk....!!! Werkudara menendang, memukul Setyaki dengan keras

   " Waa.... ora papa....??! " kata Werkudara heran

   " Cah glelenge le..... nyoh.... nyoh....!! " kata Setyaki sambil menyodorkan kepalanya

   " Waa.... modar kowe....!! " .... -prakk- ....!! -brakk - ....!!!

   " Kukune digawe, aja mung dinggo goleki upil....! " kata Setyaki mengejek Werkudara

   " Waa.... nyepelekke.... Tak sudet Kuku Pancanaka modar kowe....!! .... hugh....!! .... heeggh...!!! .... Waa .... ora mempan....?? "

   " Waa....wong edan.....!! " .... -pruakk-.....!! ..... -brakk- ....!!!

Werkudara penasaran masih menghajar Setyaki

   " Ora papa le.....!!? "

   " Waaa......??! " Werkudara melompat kabur ketakutan, dikejar Setyaki

   " Hayo.... amuk suramrata jaya mrata....!!"

Dari jauh Prabu Baladewa melihat pertarungan mereka, melihat Setyaki menang, Prabu Baladewa berteriak-teriak kegirangan

   " Waaa.... ha ha ha...., ayo terus Setyaki.... Werkudara kalah.... ha ha ha.... wle wle wle wle, wlo, wlo, wlo....!! "

Setyaki berhadapan dengan Arjuna

   " Hayo.....amuk suramrata jaya mrata imbang yen padha-padha... !! .... Nyoh.... nyoh....!! " kata Setyaki sambil menyodorkan kepalanya di depan Arjuna

   " Nyapo kowe Setyaki....??! " tanya Arjuna heran

   " Kang mas badhe menapa....? "

   " Arep nglabrak kowe....!! "

   " Ya ayo.... nyoh....! nyoh....! Nadyan sampean lelananging jagad lancure bhawana, jagone dewa Setyaki ora wedi.... nyoh....! nyoh....!! " kata Setyaki sambil menyodor-nyodorkan kepalanya

   " Sida pecah sirahmu....!! "

.... -praakk-....!! brakk....!! .... -bruakk....!!!

   " Ora krasa apa-apa....!? "

   " Wong edan.....!! " .... brakk....!! brakk....!!!

   " Nganggo pusaka.... ayo, nyoh....! aku tak mapan....!! "

   " Ketiban kerisku sida brodol ususmu tinjung akherat nyawamu....!! " sesumbar Arjuna

   " Ayo gek ndang, aku tak mapan....nyoh....!! " kata Setyaki menyodorkan dadanya  kehadapan Arjuna

   " Menungsa ora tatanan, .... ora tinjung akherat nyawamu aja diundang Janoko....!! Mati dhening aku kowe....!! "

Arjuna menusukkan keris ke dada Setyaki ....chuss....!! seketika itu Setyaki ambruk dihadapan Arjuna

   " Hayo.... nek pancen kowe satriya digdaya tangiha....!! " sesumbar Arjuna

   " Di kon tangi ya tangi....!! " kata Setyaki sambil bangkit berdiri lagi.

   " Wong edan.....!! " Arjuna kaget dan melompat kabur ketakutan

   " Hayo.... amuk suramrata jaya mrata.....!!! "

Prabu Baladewa berteriak-teriak sambil melonjak-lonjak kegirangan melihat Arjuna kalah dengan Setyaki

   " Waaa..... ayo terus Setyaki.... waaa ha ha ha ha..... Janoko kalah.... wle wle wle..... wlo wlo wlo wlo..... weekk, weeekk.....!!! "

Prabu Kresna melihat dari jauh heran menyaksikan tingkah laku Prabu Baladewa

   " Ratu kok kaya ngono ta ya.... Lawong adhine menang kok ya olehe ngguyu cekaka'an karo ngewer-ngewer cangkem nganti wle wle wle..... Kaka Prabu, mbok ampun kados lare alit, Setyaki menang boten usah seneng-seneng kados ngaten menika.....!!? "

Prabu Kresna datang mendekati Setyaki, tak lama kemudian  datang Prabu Baladewa

   " Waaa..... ha ha ha.... Werkudara, Janoko padha mundhur..... ha ha ha.....!! "

   " Kaka Prabu, sampun kados ngaten, biasa kemawon menawi Setyaki menang.... "

   " Haaa.... ha ha ha.... aku bombong aku seneng, Setyaki digdaya sekti kalitan jaya ningrang, disudet kuku Pancanakane  Werkudara ora papa, pusakane Janoko ora tumama..... Waahh gleleng adhiku Setyaki.... ha ha ha..."

   "Setyaki piye....? " tanya Prabu Kresna

   " Matur sembah nuwun..... " jawab Setyaki

   " Ya padha-padha...."

   " Nanging sareng kula gagas-gagas dadi wong menangan boten penak.... " kata Setyaki

   " Loh, kok ora penak....? "

   " Kula diajar, kula dijhotos, ditendang, ditamaki pusaka boten napa-napa, para prajurit pada sorak-sorak, ning kula boten angsal mbales teng ati rasane lara kaya dirajang-rajang....kula niki senopati kula niki prejurit ora mbales niku rasane lara....! "

   " Eee.... ya bener kuwi....! " sela Prabu Baladewa " Jejere senopati kok ora entuk males kuwi cara ngendi, atine rak ya lara ya Setyaki.....!? "

   " Inggih, sakit manah kula kaka Prabu..... "

   " Ya sing ditabah-tabahke ya Setyaki.... pancen Kresna ya ngono kuwi.....!? " kata Prabu Baladewa

   " Meksa kurang to kowe....? " tanya Prabu Kresna

   " Inggih kirang..... "

   " Ya, kowe kena mbales, ning ora karo Werkudara lan Janoko, kae adhiku lanang lagi lali.... "

   " Inggih..... "

   " Werkudara wae itungen lehe ngantem ping pira, Janoko ping pira..... Wis ngerti to sapa sing mbok bales....?! "

   " Estu napa....?? "

   " Ya tenan, aku nek ngomong ki tenanan....! " kata Prabu Kresna

   " Lahir batin....? "

   " Ya lahir batin.....! "

   " Sampun angsal pikantuk palilah.....?? "

   " Wis entuk palilah.....!! "

   " Oh nggih nyuwun pangestu......!! " Saking senangnya Setyaki langsung melompat berbalik sampai nabrak Prabu Baladewa...... Waaa -brakk.....!!!

   " Ooo.... cenanangan......!!! " teriak Prabu Baladewa kaget

   " Ora to, mengko dhisik, Setyaki kok gembira nyapo, lehe mlayu sampek nabrak aku.....?! "

   " Kaka Prabu napa boten ngertos....? "

   " Ora, ora ngerti.....? "

   " Ingkeng sowan kalawau rak Begawan Durna.... "

   " Ya, ditutke Janoko karo Werkudara.....? "

   " Setyaki pingin males, kula dhawuh Setyaki kowe kena mbales, itungen Werkudara lehe ngantem ping pira, Janoko lehe ngantem ping pira, lehe males ora karo Janoko napa Werkudara.... "

   " La karo sapa.....?? " tanya Prabu Baladewa

   " Nggih kalih lengganane Setyaki, Begawan Durna....! "

   " Waaa ha ha ha ha..... Ha ha ha....!! "

   " Kaka Prabu.....! "

   " Piye....? "

   " Ratu kok ngguyune kaya maling.....!? " kata Prabu Kresna

   " Maling cengelmu kuwi.....! Kowe iki ngunekke kakangmu kok kaya maling sak penake dhewe.....! Waaa ha ha ha ha....... Wah jian seneng aku, tak ndhelok Setyaki..... tak ndhelok Setyaki....!!? " Prabu Baladewa pergi mengikuti Setyaki

Setyaki bertemu Werkudara langsung menyodorkan kepalanya agar dipukul

   " Waa..... cah ampuh, cah gleleng......!? "

   " Ora usah ndadak ngalem..... ayo nyoh....! " kata Setyaki menyodorkan kepalanya

   " Waa...... " -brakk......!!!

   " Siji....! "

   " Waa..... ndadak diitungi .....?? "

   " Ya ben sak karepku..... nyoh....!! "

   " Waa..... " -brakk......!!!

   " Wolu....! "

   " Waa..... mundake kok akeh....??! "

   " Ya ben, saiki bank plecit neng ndi-ndi ana mundake okeh....!! " kata Setyaki

   " Waa..... modar kowe......!! " -brakk.....!!! "

   " Rong puluh....! "

   " ..... -brakk.....!!!

   " Seket lima.....! "

   " ..... -brakk....!!!

   " Sangang puluh wolu.....! "

      ..... -brakk....!!!

   " Satus seket....! "

   " Waa..... mbalesa.....!! "

   " Tak bales, mati dening aku kowe.....!! " Teriak Setyaki tapi terus melompat lari menghindari Werkudara

Setyaki berhadapan dengan Arjuna

   " Amuk suramrata jaya mrata..... hayo.... nyoh.....!! " Setyaki menyodorkan kepalanya

   " Nyapo iki....?! " tanya Arjuna heran

   " Gek ndang wis ajaren Setyaki.....!! "

Arjuna memukul kepala Setyaki sekeras-kerasnya

.... -brakk....!!!

   " Satus seket ditambah wolu likur..... Satus wolung puluh loro.....! "

   " Menungsa edan.....!! "-brakk....!!!

   " Rongatus pitung puluh siji....! "

   ..... -brakk-.....!!!

   " Telungatus.....!! "

   ..... -brakk- .....!!!

   " Patangatus.....!! "

   " Hayo mbalesa....!! "

   " Mati dening aku kowe....!! " Setyaki melompat lari menghidari Arjuna

Begawan Durna terlihat dari jauh sedang sendirian menahan rasa ngantuk...... -degluk..... -degluk-..,.. -degluk.....

Setyaki mendekati Begawan Durna pelan-pelan

Begitu dekat kepala Begawan Durna disahut langsung dijhotos sekeras-kerasnya

   " Yaaaa..... !!! " -brakk....brakk....brakk .....!!!

   " Hadohh...... hadooohhh.....lole, lole..... hadoohh mati aku......!! " .... prakk.....!!!.... -brakk-....!!!.... -brakk.....!!!!

Setyaki melampiaskan kemarahannya tidak perduli Begawan Durna sudah tak sadarkan diri

   " Hayo sida tinjung akherat nyawamu.....!!! ... -brakk....!! -brakk....!!! -brakk....!!! -brakk....!!!

   " Waah puas....!! " kata Setyaki lalu ngeloyor pergi

Datang Prabu Baladewa mendekati Begawan Durna yang sedang terkapar

   " Asem Setyaki iki, aku ora dingengehi.....!?? "

   " Huuu.....!! " -brakk.....!!! Prabu Baladewa menendang tubuh Begawan Durna " Hayo tangiha.....!! Tangiha....!! Kapok modar kowe.... hayo tangiha.....! Boyongen Kresna.... Huhh pendhita ndok bosok kowe....!! Hiihh.... -brakk-...!!!

Setelah melampiaskan kemarahannya Prabu Baladewa pergi. Tak lama kemudian datang Prabu Kresna

   " Iih kowe.....!! -buukk....!! "

Terdengar suara Prabu Baladewa " Ya gene kowe ya melu nggajul.....!? "

   " Boten kaka Prabu, kula namung mesakke kemawon, he he he...."

Datang Werkudara bersama Arjuna mendekati tubuh Begawan Durna yang meringkuk tak berdaya

   " Waa..... Durna bapakku kena ngapa....?? "

   " Bapa penemban.... kenging menapa bapa.....?? " kata Arjuna panik

Tapi tak lama kemudian Setyaki datang lagi, langsung menendang tubuh Begawan Durna sekeras-kerasnya

..... -brakk....!!!

   " Ajeng mbelani mangga nek ajeng mbelani.....! " kata Setyaki kepada Werkudara dan Arjuna " Hayo.... belanana Setyaki ora wedhi, Setyaki ora isa dipateni....!! "

Werkudara dan Arjuna diam saja

   " Hayo nek ajeng mbelani guru sampean.....!! " .... -brakk....!!! kata Setyaki dan menendang lagi tubuh Begawan Durna lalu ngeloyor pergi

Datang Prabu Baladewa dan langsung menendang tubuh Begawan Durna.... -brakk....!!!

   " Kowe arep mbelani, arep mbelani gurumu ya.....!! " teriak Prabu Baladewa " Wong salah tok belani wong luput tok belani....!! Kowe iki satriya, kowe iki satriya piye hem....?! Kudune mbok petung pakartine Durna kuwi bener ora....! Ayo muniha.....!! Tak kandhakke Setyaki kowe mengko, Setyaki diantem ora krasa lara, ditamaki pusaka ora tumama.....!! Setyaki kae ora isa dipateni....!! Ayo meniha kowe..... Muniha....!!? "

Werkudara dan Arjuna hanya diam saja mengadapi kemarahan Prabu Baladewa. Lalu Prabu Baladewa pergi.

Datang Prabu Kresna

   " Piye.... nek wis ngene iki dadine piye hem....? Lawong Kresna kok mbok nggo dolanan, kewirangan kowe neng Dwarawati....!? " kata Prabu Kresna terus pergi

   " Werkudara..... Werkudara......! " tiba-tiba terdengar suara Begawan Durna, merangkak-rangkak mau bangun

   " Waa..... piye Durna bapakku.....?? "

   " Ooo..... pancen bleguduk monyor-monyor.... Werkudara aku tangekna....! "

   " Ya kene, ndak cekeli tangiha....! " kata Werkudara sambil membantu Begawan Durna untuk bangun

   " Ooo lole lole.... dha siya-siya karo Begawan Durna.... Muridku loro Werkudara, Janoko kalah karo Setyaki..... Ooo ngger anak Prabu Kumaradewa, kowe ora isa mateni Kresna aku ora sudi menehi ngelmu karo kowe Kumaradewa.....!! "

Episode 6

Sigra kang bala tumingal

acampuh samya medali

lwir thathit wileding gada

Ooong.....

dhangyang gung manguncang niti

Ooong.....

Dengan segera prajurit yang nampak

bercampur saling menyerang

seperti kilat menyambar beradunya wewangian

Ooong......

pandhita agung terus menerus kemayan -merapal mantra-

Ooong.....

Mendengar perintah Begawan Durna, Prabu Kumaradewa langsung melesat maju ke medan pertempuran dengan senjata pusaka di tangannya

   " Panuksmaning jajal laknat skertaning bawana iblis keparat....! Wah, abot pitukone. Nanging gandheng jroning atiku uga nduwe rasa serik gething lan sengit karo titising Bathara Wisnu, mbiyen mungsuhku Prabu Rama Wijaya wis tekaning pati, Wisnu manitis marang Ratu Dwarawati.... Tak clorong pusaka ora sirna marga layu aja diundang Prabu Kumaradewa leganing atiku.....!! "

Saat itu Prabu Kumaradewa menghunus pusaka membentangkan jemparing diarahkan ke dada Prabu Sri Bathara Kresna

Jumeneng sang Nata Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, nalika semanten wus weruh lampahing jemparing ingkeng den lepasaken dene sang Prabu Kumaradewa parandene mangke ing batos nedya den ungalaken dhadhane sang Nata Dwarawati, tanggap wontening gegantangan nenggih sang Anoman anggenipun rumaos dados pengayome tuwin pamomonging titising Bathara Wisnu, cumlarat saking dirgantara jumeneng sak ngajenge Nata Dwarawati tumandhuk dhadhane sang Anoman sirna marga layu, ngumpruk tanpa daya....!

Diam berdiri saat itu sang Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, saat itu sudah mengetahui larinya pusaka jemparing yang dilepaskan sang Prabu Kumaradewa yang dengan sengaja dibidikkan tepat kedada sang Raja Dwarawati, tanggap sang Anoman yang merasa sebagai pengayom dan pamomong titisnya Bathara Wisnu, melesat dari angkasa dan berhenti berdiri dihadapan sang Raja Dwarawati tembus dadanya sang Anoman oleh pusaka hingga menemukan ajal, tubuhnya ambruk tak berdaya....!

Pusaka jemparing yang dilepaskan Prabu Kumaradewa melesat secepat kilat mengarah ke dada sang Prabu Sri Bathara Kresna, namun secepat itu juga sang Anoman menghadang larinya pusaka hingga pusaka jemparing menghantam dada Anoman hingga ambruk tanpa daya

   " Aduh.... mati aku.....!!! "

   " Woohh.... Anoman....!!? " teriak Prabu Kresna kaget mengetahui Anoman ambruk terkena pusaka jemparing

Sigra lolos sukma saking raga, ngambah alam mantara, tanggap sang Nata Dwarawati nyumurupi sang Anoman nyendal tali wangsul sukma nilaraken raga, sigra tanggap nututi tindake sang Anoman sang Nata Dwarawati

Segera lepas sukma dari raga, melayang ke alam sukma, tanggap sang Raja Dwarawati mengetahui sang Anoman dalam keadaan lepas sukmanya meninggalkan raga, segera tanggap mengkuti sukma sang Anoman sang Raja Dwarawati

Sukma sang Anoman lepas dari raganya, maka tanggap sang Prabu Kresna dengan hening keluar sukmanya mengikuti sukma sang Anoman.

Hingga jasad Prabu Kresna pun berdiri tak bernyawa

Prabu Kumaradewa melompat menari-nari kegirangan setelah mengetahui sang Anoman dan Prabu Kresna dalam keadaan tidak bernyawa

   " Haaa.... ha, ha, ha....e'aa.... e'aa.... e'aa.... e'aa..... ha ha ha ha..... Hayoh kowe ora bakal isa glawat pusakaku tumandhuk neng dhadhane kethek putih sing bisa tata jalma.... Waa ladyalah..... Ha ha ha ha.... Anoman modar, iki piwalesku nggonmu wis orak-arik prejurit Ngalengka nalika semana, ewone prejurit yaksa bosah baseh kaya babatan pacing....!

   " Hee prejurit....! Aja digawe macak, raga loro iki diboyong neng negara Ngastina....!! " perintah Prabu Kumaradewa kepada pasukannya

   " Ayo .... yo, yo, yo..... goyong, gotong.... dibandha, dibandha.... krincung sikile..... yo, yo, yo......!!! " suara riuh para prajurit membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna diikat digotong dibawa ke kerajaan Ngastina

Begawan Durna pun merasa senang bukan kepalang menyaksikan Prabu Kumaradewa telah berhasil membunuh Anoman dan Prabu Kresna, karena saking senangnya menari-nari dihadapan Prabu Kumaradewa

   " Haaa ha ha ha..... e'oo.... e'oo.... e'oo.... e'ee....e'ee ....!! e'oo.... e'oo... e'oo.... e'ee.... e'ee......!! "

   " Oo lole, lole..... Anak lanang anak anung anandhita, bocah mursid isa mikul dhuwur mendhem jero karo wong tuwa..... Kumaradewa murid kesayangnku ngger, ya mung kowe sing bisa nyirnakake Ratu Dwarawati karo si Anoman munyuk putih, modar dina iki kwandane dibandha dikrincung sikile neng negara Ngastina. Syokur, syokur ngger..... ha ha ha ha....! "

   " Bapa penemban nanging kula nyuwun pitumbasipun....! " kata Prabu Kumaradewa

   " Pitukone apa ngger.....? "

   " Kula estunipun boten kepingin ngelmu.... "

   " Loh, njaluk apa....? Apa njaluk bandha dunya, mas picis, mas inten berlian kowe njupuka neng Sukalima, Sukalima kuwi nadyan pertapan ning sugih ora bakal kekurangan bab bandha dunya tak kandhani....! "

   " Boten.... " jawab Prabu Kumaradewa

   " Apa kowe njaluk kreta kencana tinarik kuda wolu sing ampuh-ampuh, njupuka....! "

   " Boten menika penemban..... "

   " La njaluk apa....? Apa kowe njaluk tumpakan gajah cacahe patang puluh....? "

   " Kula nyuwun saget kasembadan saget mboyong titise Widyawati ingkeng sak menika mapan dateng Kasatrian Madukara, ingkeng aran Dewi Wara Sembadra menika kedhah kula boyong dateng negari kula.... "

   " Sembadra.....?? " tanya Begawan Durna heran

   " Inggih kula ngersakaken Dewi Wara Sembadra.....! "

   " Kumaradewa, aja seru-seru.... Neng kene ana bojone....!? " kata Begawan Durna sambil merendahkan suaranya

   " Inggih kula ngertos..... "

   " Nek kowe butuh Wara Sembadra ora papa, ora papa, tak usahakake...."

   " Caranipun kados pundi.....? " tanya Prabu Kumaradewa

   " Ooo.... kowe ora ngerti, Janoko kuwi karo aku manut banget....! Aja kok mung bojone, tak jaluk nyawane diwenehke....! "

   " Oo nggih....? "

   " He'em..... Aku isa wae ngomong, Janoko kowe wis ora pantes urip neng alam ndunya, kowe kudu ngabekti karo bapa guru supaya bapa gurumu isa langgeng uripe, kowe kudu tekaning pati, Janoko mesthi terus nyerahke nyawane, mangga bapa, terus tak suduk dhadhane Janoko blus ....!

Janoko mati Sembadra randa terus tok gawa....! "

   " Estu napa....!!? "

   " Alon-alon...."

   " Estu napa penemban...." tanya Prabu Kumaradewa penasaran.

   " Ya wis ngono kuwi, sistimatis ngono kuwi...! "

   " Oh inggih, inggih..... wah gampil sanget....! "

   " Ya gampang, pokoke nek golek wong wedok kuwi gampang nek karo aku....! "

   " Ngaten....? "

   " He'em.... merga aku ya ana sing tak incer...."

   " Loh, ingkeng dipun incer menika napa.....? "

   " Janoko mati, Sembadra randha, randhane ana siji maneh sing tak incer...."

   " Sinten.....? "

   " Sri Wahyuni ..... Eh anu Srikandi.... Sri Wahyuni rak kancane dhalange.... he, he, he.... "

   " Srikandi penemban.....?? "

   " Ya, Srikandi mbiyen kuwi yayangku.... "

   " Loh, menapa nggih....? "

   " Ya, kuwi putri Pancawala, kuwi mbiyen seneng karo aku, ning gandheng Janoko kuwi thukmis direbut karo Janoko.... Jan-jane aku iki ya lara ati karo Janoko, merga Janoko wani ngrebut maniking atiku.....! "

   " Mekaten....? "

   " He'em, he'em...."

   " Ning mangkin nek Srikandi boten purun kalih penjenengan.....? "

   " Hello, ora gelem ya dipeksa. Srikandi angger tak wenehi japamantra, tak tamani aji jaya kawijayan, tak tamani aji pengasihan.... Kuwi mengko isa malik paningale, Srikandi yen nyawang aku nadyan wis tuwa ngene iki ning rumangsane Srikandi aku iki baguse ngungkuli Janoko, kuwi mengko wong ora gelem dadi gelem, wong ora tresna dadi tresna...! "

   " Oh ngaten....? "

   " Wis ngono wae ya Kumaradewa.... Mengko perkara Wara Sembadra tak gayuhke, ning kowe sing tentrem, aja kesusu, aja grusa-grusu. Saiki, dina iki ngumpul neng negara Ngastina murungake Bratayudha Jayabinangun.....! "

   " Inggih, inggih ngestokaken dhawuh.... "

   " Aja nganti krungu Janoko kowe kepingin mengku garwa karo Wara Sembadra....! "

   " Inggih ngestokaken dhawuh, sumangga kula dherekaken penemban....! "

Saat itu di kraton Dwarawati Prabu Baladewa panik karena mengetahui Anoman telah mati juga jasad Prabu Kresna diringkus para prajuritnya Prabu Kumaradewa dibawa ke kerajaan Ngastina

   " Waaa..... ladylah.... Setyaki , ketiwasan... Setyaki.....!! Waah.... iki piye kok kahanane dadi kaya ngene iki Setyaki...!!? "  teriak-teriak Prabu Baladewa mencari Setyaki

   " Ketiwasan kados pundi kaka Prabu.....??! "

   " Waahh, kowe kok ora weruh sing sak nyatane, yayi Prabu Dwarawati dibandha, dikrincung sikile karo para Kurawa, kadangmu Kendalisada ya tekaning pati..... Waahh kedadehane kok kaya ngene, aku kudu piye Setyaki.....?!! "

   " Kaka Prabu, menawi jengandika namung kados mekaten boten badhe ngrampungaken perkawis menika, upami kula dados jengandika, dados kadangipun sepuh Nata Dwarawati kula badhe ampyak awur-awur dadi apa wae tak wujudi...!! "

   " Waaa ya Setyaki..... ayo ampyak awur-awur nang negara Ngastina..... Wong-wong Ngastina tak grethel ngango Nenggala keparat..... !!! "

Episode 7

Myat langening kalangyan

aglar pandam muncar

tinon lir kekonang

surem soroting tan padhang

Oong.....

Ooong......

kasor lan pajaring

purnama gegana

dhasare mangsa ketiga

ima inaweng ing ujung ancala

asenen karya wigena

miwah isining wana

wreksa gung tinunu

Ooong......

Melihat indahnya tempat yang disukai

bertebaran suluh (dilah) menyala

terlihat seperti -cahaya- kunang-kunang

sinarnya suram tidaklah terang

Oong.....

Ooong.....

kalah dengan -sinar- yang dipancarkan

-oleh- rembulan diangkasa

karena memang musim kemarau

awan yang menutupi puncak gunung

bersorot menyedihkan

juga isi hutan

pohon-pohon yang besar terbakar

Ooong......

Di rumah Ki Lurah Semar Badranaya, Raden Abimanyu sowan, yang saat itu punakawan Semar Badranaya sedang berkumpul bersama anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong

   " Hee.... mbegegeg ugeg-ugeg.... hmel-hmel, sak dhulitha..... Ndara Abimanyu rawuh dateng Karang Kadempel. Hee.... wonten menapa gus, kok kados sumengka tindakipun, kula ngaturaken sembah pangabekti kula konjuk nggih den....? " kata Semar menyambut kedatangan Abimanyu

   " Ya siwa Semar bektimu tak tampa, pangestuku tampana..."jawab Abimanyu

   " Eee nggih nggih, kula pundi ngge jimat dayanana ing kasantosan...."

   " Ndara kula ngaturaken sembah pangabekti kula nggih den.... " kata Nala Gareng

   " Kula nggih ngaturaken sembah pangabekti ndara.... " kata Petruk

   " Inyong Bagong nggih nyuwun sangu ndara.... eh anu ngaturaken sembah sungkem konjuk ndara.... "

   " Kowe iki kok clometan karo ndara Abimanyu to Gong...! " kata Petruk mengingatkan Bagong

   " Anu, aku mau ki slier-slier.... tak kira nek dha njaluk sangu, he he he.... " kata Bagong sambil bercanda

   " Wis to thole, ada padha gojekan wigatekke ngendikane ndaramu thole....! " kata Semar memperingatkan anak-anaknya

   " Iya Nala Gareng, Petruk lan Bagong bektimu tak tampa " jawab Abimanyu

   " Siwa Semar...." kata Abimanyu

   " Eeh kula ndara....? "

   " Apa siwa Nayantaka ora krungu kabar yen to dina iki kanjeng rama panenggak klawan kanjeng rama panengah wis lenggah anaing Ngastina, padha diblithuk dening tembung manis dening para Kurawa ingkeng bakal balekake negara Ngastina sak sigar semangka. Mangka kuwatire Abimanyu kiyai Nayantaka ngerti dhewe lamun kanjeng rama banget nggone percaya klawan eyang penemban  Sukalima wekasan ora isa menggalih kanthi wening.... Kepiye mungguh pinemune kiyai Semar yen nganthi wong tuwaku ora tanggap karo rekadayane wong-wong Kurawa kaya ngapa mengko kedaehane wong tuwaku sak kloron wo Semar.....? "

Semar eko den prayitno

semu ririh eko balik

Oong.....

titi yoni ganda yoni

tri sonya purnama sasi

Gilar-gilar tengahing latar

Oong.....

Milangana lintang bima sekti

katon ambyar ing angkasa

Ooong....

   " Hee..... lakok mekaten to .... Mangka kanjeng rama menika satriya pinunjul, kekalihipun menika satriya lanthip panggrahitane ewadene lakok tasih saget dipun blithuk dening Begawan Durna. Hee.... den, menawi sampean boten ngemutaken keng rama padha karo sampean niku mentala nyumurupi dateng kasangsaranipun ingkeng keng rama kekalih. Saking surasa ingkeng kula waos para Kurawa niku namung badhe ndamel tumpese para Pandhawa, ugi ndara sinuwun Dwarawati sak menika dipun rah patine kalih para Kurawa ndara....! "

   " Ngestokake dhawuhmu wa Semar.... Mula saka kuwi wa Semar apadene Nala Gareng, Petruk lan Bagong ayo tutna laku jlantraku prapta anaing Ngastina, yen pancen kanjeng rama apa dene kanjeng wa Jodhipati ora bisa tak emutake sarana aris kudu tak rodaparipeksa kondur marang Ngamarta wo Semar....! "

   " Hee.... nggih den, sumangga kula dherekaken lampahe ndara Abimanyu.... "

Semar Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong mengiring kepergian Abimanyu menuju kerajaan Ngastina

Pada saat yang bersamaan di khayangan Ondar-Andhir Bhawana sukma Mayangkara menghadap Sang Hyang Wenang

   " Om mastumana sidam sekaring bawana langgeng.... Mayangkara ingkeng sowan ngabyantara neng ngarsa ulun, padha raharja kanthi sak praptamu ngger Senggana....? "

   " Inggih pukulun, tansah winantu kabagyan sowan kula tebih saking sambekala, keparenga kula ngaturaken sembah sumungkeming pangabekti konjuk pukulun.... " kata sukma Mayangkara

   " Ya Anoman, ulun tampa kanthi bombong tyas ulun ora liwat pangestu ulun tampanana.... "

   " Kula pundi ngge jimat ndayanana ing kasantosan pukulun.... "

   " Apa parigawene dene jeneng kita sowan ngabyantara, mara gage matura ana panjenengan ulun supaya terwaca nggone ulun nampa klawan atur kita.... "

   " Nuwun inggih pukulun, estunipun anggen kula sowan ngabyantara ngersa paduka pukulun menika jalaran wonten margi prayoga anggen kula nyuwun prisa ngimuti bilih gesang kula menika sampun mangabad-abad laminipun wiwit kula linahiraken wonten jagad sehingga kula suwita dateng Prabu Rama Wijaya ing Pancawati malah sak mangkin sampun kepengker tebih lelampahan Prabu Rama Wijaya sesembahan kula sampun manjing dateng kasuwargan, nanging ewadene Anoman tasih dipun keparengaken gesang wontening madyapada. Pukulun.... Namung estine manah kula badhe nyuwun priksa benjang menapa kula menika nyaketi dhateng suruping pati kula pukulun.....? "

   " Hong Ilaheng sekaring bawana langgeng.... Anoman, sumurupa lamun kita nanjihake klawan panjenengan ulun babagan besok kapan nggon kita bakal sowan marang ayunane Gusti ingkang akarya jagad, besok kapan rampunge kewajiban kita, sayekti yen to kita maneges klawan panjenengan ulun titi kelungguhan samengko, iki durung paja-paja nyaketi ingkang mbok upaya yaiku manjing suruping pati. Samengko nedheng-nedhenge jaman Pandhawa, lamun kita mangerteni bakal dina tumapaking wanci kita sowan ana ngayunane Gusti ingkang Maha Kuwasa isih pirang-pirang puluh tahun maneh. Lamun kita besok wus menangi turun Pandhawa ingkeng kaping nem kuwi bakal nyaketi klawan pati kita Senggana.....! "

   " Menawi dipun keparingaken kula nyuwun pitedhah turun Pandhawa ingkeng nem menika jaman menapa pukulun....? "tanya sukma Mayangkara

   " Ya Senggana, besok ana negara ingkeng winastan Wastina lan negara Mamenang, negara loro kuwi mau sayekti dadi turuning Pandhawa nanging padha ora rukun, lamun kita bisa ngrukunake negara loro mau kanthi ngraketake putra putri ya kuwi telu cacahe Prameni, Pramesti lan Sesanti pikantuk satriya kang aran Dharmakusuma, Dharmasakara lan Dharmasasangka kang mengkono bakal nyaketi klawan dina patimu Senggana.... "

   " Matur sembah nuwun sanget tanpa pepindan pukulun.... Nadyan tesih tebih anggen kula nglampahi gesang wontening jagad, nanging sampun padhang raose manahipun Anoman anggen kula dharmakaken gesang kula wontening janaluka.... "

   " Senggana.... wong kang katrima uripe mau kaperang dadi loro. Siji, wong kang ora umur dawa, sartane wong kang pinaringan umur panjang. Wong kang pinaringan umur dawa sayekti pinarcaya Hyang Maha Nasa ngrampungi dharmane urip anaing alam padhang jalaran dipercaya dening sing gawe jagad.

Ingkeng ke loro, wong kang ora umur dawa mau tinesnranan kang Maha Kuasa kacelak kapundhut anaing ngayunane Gusti ingkang Maha Agung.

   " Mekaten pukulun....? "

   " Ya Mayangkara, mula kang saka kuwi Anoman trimakna sarta sabar ekhlas nggon kita napaki urip. Baliya marang marcapada jagad butuh ketentraman, mangka kita ingkeng kudu ambabar katentreman, Senggana...! "

   " Nyuwun pamit pukulun, nyuwun tambahe pangestu.... "

   " Sing ati-ati Bambang Sengana....! "

Sukma Mayangkara, Bambang Senggana turun ke marcapada, namun ditengah jalan bertemu dengan sukma Narayana, Sukma Wicara, sukmanya Prabu Sri Bathara Kresna

   " Pepundhen kula Sukma Wicara kula ngaturaken sembah bekti kula konjuk sinuwun.... "

   " Ya, ya Anoman ndak tampa, ora lewat pangestuku tampana.... "

   " Kenging menapa paduka ngantos sumusul dateng kula manjing dateng alam mantara sinuwun.....? "

   " Senggana.. .! "

   " Wonten dhawuh sinuwun..... "

   " Kaya ngapa lenggahing Sang Hyang Bathara Wisnu lamun ora tinunggu pengayoming sarta pamomonging titising Bathara Wisnu ya kuwi mung kejaba Pendhita Kendalisada ya Resi Anoman, mula nalika ketaman pusaka ingsun sumurup lamun sira kakang Anoman banjur ngrogoh sukma manjing alam mantara. Mula Nata Dwarawati ora kendhat nggone tansah thutwunthat tindake kakang Mayangkara, Nata Dwarawati Sukma Wicara ora bakal bisa pisah klawan Mayangkara...."

   " Sinuwun , sampun cumeplong raose manah kula sampun kasembadan sowan dateng ngarsane Sang Hyang Padawenang ingkeng wigati namung nanjihaken benjang menapa telas tulise pun Mayangkara.... "

   " Wis entuk katrangan Senggana....? "

   " Nuwun inggih sampun pikantuk katrangan, nanging jebul anggen kula momong dateng titising Bathara Wisnu menika tesih dangu, tesih turunipun kaping nem saking turunipun pepunden kula Pandhawa....."

   " Ya Senggana, ora susah gresah nggresula, ayo bali marang marcapada tuntaske kewajibanmu....! "

   " Sumangga, kula dherekaken sinuwun.... "

Tapi ditengah perjalanan kedua sukma itu, sukma Narayana dan sukma Mayangkara berhenti karena Sukma Narayana mengetahui mengetahui apa yang terjadi dengan jasadnya yang tertinggal di marcapada

   " Senggana....! "

   " Kula wonten dhawuh.... "

   " Kowe karo aku sawetara durung bisa bali menyang raga jati.... "

   " Sabapipun menapa sinuwun....? " tanya sukma Mayangkara

   " Sabab ragaku sartane ragamu diboyong dene sata Kurawa anaing Ngastina, saiki ming kari ngulir budi ngasah kadewasan kepiye carane isa mbalik menyang ragaku uga ragamu supaya isa dadi papan dununge papan sukma sejati.... "

   " Inggih, menawi mekaten sumangga pados sarana.... "

   " Hayo Anoman, golek cara....! "

   " Sumangga sinuwun kula dherekaken....! "

Episode : 8

Bumi gonjang-ganjig langit kelap-kelap

katon lir kincanging alis risang maweh gadrung

Oong.....

sabarang kadulu wukir moyag-mayig

saking tyas baliwur lumaris agandrung

Ooong.....

Bumi terguncang-guncang langit gelap kilat menyambar-nyambar

tampak seperti gerak alis orang yang lagi kasmaran

Oong.....

semua yang terlihat -seperti- gunung yang bergoyang-goyang

dari hati yang kacau -iapun- berjalan memikat

Oong......

Di tengah perjalanan menuju kerajaan Ngastina, Abimanyu berhenti, tampak hatinya ragu, kacau, gundah gulana. Membuat para punakawan yang mengiringinya menjadi bingung penuh dengan tanda tanya

   " Eee.... pripun den, kok mandeg mangu-mangu jarene ajeng ngelingake dateng kanjeng rama kekalih anggenipun kaliput manunggal kalian para sata Kurawa....? " tanya Semar Badranaya

   ' Nggih ndara, sajake kaya ragu-ragu....? " kata Nala Gareng

   " Ya kakang Semar, Nala Gareng, Petruk lan Bagong, piye nggonku ora mangu-mangu rasaku lamun sing bakal ndak adhepi wong tuwaku dhewe, doh nyana cerak nyana wong da ngarani Abimanyu wani karo wong tuwa lamun nganthi ora kersa kondur menyang Ngamarta.... "

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara teriakan Prabu Baladewa berlari-lari bersama Setyaki

   " Abimanyu malah neng kene iki Setyaki....!! Setyaki.... kowe neng ngendi....?!! "

   " Nuwun inggih kaka Prabu.... " jawab Setyaki mendekati Prabu Baladewa dihadapan Abimanyu dan para punakawan

   " Kula ngaturaken sembah pangabekti kula konjuk wa Mandura... " kata Abimanyu sembari sungkem dihadapan Prabu Baladewa

   " Abimanyu tak tampa, ora liwat pangestuku tampanana "

   " Kula pundhi ngge jimat paripe.... "

   " Hee.... sinuwun Mandura kula ngaturaken sembah pangabekti kula ndara.... " kata Semar Badranaya

   " Ya Semar tak tampa.... "

   " Sinuwun, Nala Gareng ngaturaken sembah.... "

   " Ya Nala Gareng tak tampa.... "

   " Sinuwun Mandura ngaturaken sembah pangabekti.... " kata Petruk

   " Ya Petruk tak tampa.... "

   " Ya Baladewa tak tampa....!! " sahut Bagong

   " Hush....! Bagong tak jothos modar kowe....!? " ujar Prabu Baladewa

   " Anu, ngaturaken sembah pangabekti he he he ..."

   " Ya Bagong tak tampa.... "

   " Wonten menapa ngantos jengandika mlajar-mlajar kalian paman Garbaruji, menawi kepareng kula nyuwun dhawuh....? " kata Abimanyu

   " Ya Abimanyu, kepasan yogja katujue nginu kowe mapan anaing kene. Kowe tak kandhani ya ngger, sumurupa yen to negara Dwarawati dina samengko bedhah saka pokal gawene para sata Kurawa ingkeng nggawa jago ratu saka sabrang kang aran Prabu Kumaradewa, malah kakang Anoman apadene yayi Prabu Dwarawati wis tumekaning pati diboyong ana negara Ngastina, Abimanyu....!! "

   " Kanjeng wa Prabu Mandura sampun ngantos tumut-tumut, lilanana Abimanyu badhe ngamuk punggung wonten negari Ngastina....!! " kata Abimanyu dan langsung melesat pergi ke Ngastina

   " Woh, Setyaki....!! Aja meneng wae ayo nututi Abimanyu....!! " kata Prabu Baladewa

   " Inggih kula dherekaken kaka Prabu....! " jawab Setyaki dan mereka berdua mengikuti perginya Abimanyu

Tinggal Semar dan anak-anaknya

   " Hee.... iki kriwikan dadi grojogan geguyon dadi tangisan. Mangka ndaramu Abimanyu nek wis duka ora kaya ndara Abimanyu, eee.... kae ora mrucut karo sing gerang ya kuwi ndara Janoko, kepiye iki mengko olehe arep ngandhani Nala Gareng....? "

Semar Badranaya saat itu melihat sekelebat bayangan, sukma Mayangkara masuk kedalam tubuh Nala Gareng dan sukma Narayana masuk kedalam tubuh Bagong

   " Hee.... kowe anak-anakku aja mung meneng wae ayo da melu mbhudi daya aja padha meneng wae.....? Lakok Nala Gareng mripate dadi putih kabeh. Hee.... kowe kena ngapa....?? "

   " Kweekk..... kweekk..... werrrkk....!! " Nala Gareng malah melompat-lompat ke pohon lalu melompat terbang ke arah Ngastina

Bagong juga tiba-tiba bisa terbang melompat pergi mengikuti Nala Gareng. Melihat keadaan itu Petruk jadi panik

   " Waduk pak.....! Nala Gareng mau mripate malik putih terus cuet-cuet mencolot kaya kethek, Bagong malah isa mabur kae pak.....!? "

   " Eee.... kok dadi kaya ngene thole.... Ning aku mau sak kleraman kethok ana Anoman karo sinuwun Dwarawati.... ora usah bingung, ayo tutke wae lakune Nala Gareng karo Bagong thole....! "

Semar Badranaya dan Petruk mengikuti perginya Nala Gareng dan Bagong ke arah kerajaan Ngastina

Saat itu di istana kerajaan Ngastina Begawan Durna bersama dengan Prabu Kumaradewa membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna  kedepan Prabu Duryudana

   " Ladyalah.....!! Bapa Durna....! " seru Prabu Duryudana

   " Wonten dhawuh ngger.....? " jawab Begawan Durna

   " Penjenengan nyuwun menapa....? "

   " Kula boten nyuwun menapa-napa ngger.... " jawab Begawan Durna

   " Sampean ngendika napa nawon sing sampean jaluk, niki wis klakon penjangka kula anggen kula kepingin ndadekake Nata Dwarawati kula dadosaken tumbal teng negara Ngastina kangge srana murungaken Braratayudha Jayabinangun, malah sak mangke Anoman sirna marga layu tegesipun sampun ngurangi kekiyatanipun para Pandhawa.... "

   " Inggih ngger, lajeng keparengipun kados pundi.....? " tanya Begawan Durna

   " Ketapke para sata Kurawa, kuwandane Nata Dwarawati bakal tak tugel anaing alun-alun Ngastina....!! "

Arsa kinarya tumbal Nata Dwarawati, ndadak sak kala mangke wonten ingkang ngamuk punggung sura tamtama nenggih Ki Lurah Nala Gareng ingkeng kapanjingan sukmane sang Anoman miwah Ki Lurah Bagong ingkeng kapanjingan sukmane Nata Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, dados geger madyane pasewakan praja Ngastina

Sengaja dibuat tumbal Raja Dwarawati, tiba-tiba saat itu ada yang ngamuk membuat onar yaitu Ki Lurah Nala Gareng yang kerasukan sukmanya Anoman dan Ki Lurah Bagong yang kerasukan sukmanya Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, jadi gempar ditengah pasewakan  kerajaan Ngastina

Nala Gareng melompat terbang menyerang

Prabu Duryudana dan dan semua yang hadir hingga mereka kaget lari kabur ketakutan. Sukma Mayangkara keluar dari tubuh Nala Gareng dan masuk kedalam jasad Anoman.

   " Aku kok isa tekan kene ya Gong.....? " tanya Gareng kepada Bagong yang masih kerasukan sukmanya Prabu Kresna

   " Niwang sukmana mangadi luwih, ana sasmitaning ingsun jagad ubathara, Nala Gareng.....! "

   " Nala Gareng ndasmu kuwi....! Aku kakangmu kok Nala Gareng....? "

   " Mangertenana yen to sejatine ingsun iki dudu Bagong.... "

   " Dudu Bagong, sapa....? "

   " Hu hu hu hu....aku iki bendaramu Dwarawati kowe aja sembrono Nala Gareng...."

Tapi belum selesai Bagong ngomong sukma Narayana keluar dan masuk kedalam jasad Prabu Kresna.

Prabu Kresna bangun

   " Muni piye kowe mau....? " tanya Prabu Kresna

   " Mboten kok ndara, kok sampean isa urip....? " kata Bagong

   " Aku mau ki nyilih ragamu Bagong ..... " kata Prabu Kresna

   " Huu.... sesok maneh ya nyewa no, kok mung nyilih.....?! "

   " Anoman, aku boyongen bali neng Dwarawati....! " kata Prabu Kresna

   " Inggih ngestokaken dhawuh sinuwun.... " jawab Anoman

   " Loh, piye to iki kok da nggawe acara dhewe....?? " kata Bagong heran

   " Wis ben, menenga ra sah crewet kowe iki, butuhe gek ndang rampung.....! " kata Nala Gareng

   " Oh ya ya.... Ya wis gek ndang Anoman, gek ndang digotong sinuwun Dwarawati....! "

   " Inggih Ki Lurah....! " jawab Anoman

Prabu Kresna dibawa Anoman pergi ke kraton Dwarawati

Terdengar teriakan suara Prabu Kumaradewa

   " Iblis laknat....!! Ming derajate punakawan wae gawe geger tak sabet pedang tugel gulumu..... !!! "

   ".....Ayo lariii.......!!! " Bagong dan Gareng saling tabrakan lari kabur ketakutan

Abimanyu bertemu dengan Arjuna, tapi Ajuna heran dihadapannya Abimanyu berdiri tegak berkacak pinggang

   " Abimanyu....!? "

   " Kasinggihan kanjeng rama.... "

   " Kok malangkerik neng ngarepe wong tuwa....? "

   " Penjenengan kondur mboten..... ? " kata Abimanyu " Menawi boten purun kondur paripaksa Abimanyu ngamuk wonten Ngastina....! "

   " Yen ngamuk neng Ngastina mugsuhe ramamu....! Apa kira-kira wani karo wong tuwamu....? "

   " Sing tak wedheni apamu, hayoh ngajak apa kowe.... !! "

Terjadi perang tanding antara anak dan bapak, keduanya sama-sama kuat sama-sama digdaya, yang pada akhirnya Arjuna menyadari kesalahannya dan bersama putranya kembali ke Ngamarta

Satriya Pringgandani Gathutkaca berhadapan dengan Werkudara, tapi datang Prabu Baladewa. Gathutkaca diseret mundur

   " Sing ngakon kowe metu sapa....? Olehmu salin ki kapan? Ora ngerti apa-apa kok mara-mara njedul, aku wae sing ngadhepi bapakmu....!! " kata Prabu Baladewa

   " Nuwun inggih wa, kula boten pareng methuki kanjeng rama....? " kata Gathutkaca

   " Ora entuk....!! Bali wae nang Pringgondani.....!! "

   " Nyuwun nggih wa Mandura, ngestokaken dhawuh....! " kata Gathutkaca dan langsung pergi kembali ke Pringgondani

   " Waa.... Gatot ora entuk methukke aku.... ? " kata Werkudara

   " Ora usah, Baladewa sing methukke kowe, sing kit sore mau wis eksis ....! "

   " Waa..... Janoko tak jak bali nang Ngastina....!! "

   " Ora isa...!! Janoko wis nglumpuk neng negara Ngamarta... Werkudara....!! "

   " Piye....? "

   " Kowe iki isa metung apa ora hem....? " kata Prabu Baladewa " Kowe isa gelar isa nggulung ora, yen si adhi bakal murungake Bratayudha kowe iki tuna apa ora, pitungen aja mung waton sak kepenakmu dhewe kowe ngumpul karo para sata Kurawa, kowe ora apal karo watak wantune para sata Kurawa, kowe ora pangling karo watak wantune para Kurawa ingkeng watak angkara budi chandala. Kowe tekan kana jan-jane ora bakal diwenehi negara sak sigar semangka ning bakal dikrenah patimu karo para Kurawa, lakok kowe nglumpuk nang Ngastina kuwi karepmu piye....?? "

   " Waaaa..... "

   " Ora usah wah weh, ayo wangsulan.... !! " bentak Prabu Baladewa

   " Aja nganthi okeh korban bratayudha..... " jawab Werkudara

   " Bratayudha kuwi apa....?! "

   " Perang.... " jawab Werkudara

   " Perang apa.... ? "

   " Perange Pandhawa lan Kurawa.... " jawab Werkudara

   " Kowe ngerti ora tegese Bratayudha? Brata laku, yudha perang. Brantayudha, branta asmara yudha perang, perange wong kang nandhang kasmaran karo pakerti sing becik kelakohan sing apik nganthi direwangi Brantayudha. Brata laku, yudha perang. Perang sing nganggo tatanan, perang sing nganggo laku, ora ampyak awur-awur sak penake dhewe....! "

   " Ya.... "

   " Neng kana katandha sapa sing nyilih bakal mbalekake, sapa sing utang bakal nyaur, sapa sing nduwe watak angkara budi chandala mesthi wahyune bakal sirna. Nang kana bakal katandha antarane Pandhawa lan Kurawa kuwi bener sapa, sing bener mesthi menang, sing salah mesthi bakale kalah, lakok arep mbok wurungke.....? Nek ngono kowe seneng jagad iki kebak kamurkan, kowe seneng yen angkara murka nderbala neng jagad hem......? Terus kewajibane Werkudara minangka satriyane praja dadi sarana tentreming jagad kuwi nang ngendi aku tak takon....??! Ayo wangsulan....?! Aja meneng wae....!!? "

   " Apa kira-kira Werkudara wis kelangan jiwa kasatriyane?...." lanjut Prabu Baladewa "Nek kowe wis kelangan jiwa kasatriyane ora usah ndadak bali neng negara Ngamarta, kumpula karo para..... Wloobbs....!! "

Werkudara membungkam mulut Prabu Baladewa terus ngeloyor pergi

   " Behh... !! Ana wong ngomong kok dibingkem cangkeme.... !!?  "

   " Ya, aku salah...! " terdengar suara Werkudara dari jauh

   " Na, rak ngono....!! "

Prabu Kumaradewa menjadi marah besar tidak bisa terima karena apa yang direncanakan jadi bubar berantakan

   " Waahh.... bubar mawut beburonku ilang kabeh, Ratu Dwarawati, Kethek Puteh. Begawan Durna cidra ora ngupaya golekake geganthelaning atiku titising Widyawati, ora lega rasane atiku yen ora boyong titising Widyawati ampyak awur-awur.....!!! "

Punakawan Petruk mau menyusul Nala Gareng dan Bagong tapi begitu mengetahui Prabu Kumaradewa membawa prajurit dan para Kurawa, Petruk berbalik lari menemui Anoman Pendhita dari Kendalisada

   " Wonten napa Ki Lurah kok mlajar-mlajar....? " tanya Anoman

   " Jagone Kurawa ngamuk, sumbare, ora lega rasane atiku yen ora boyong titising Widyawati ampyak awur-awur....!! Titising Widyawati kuwi sapa Man....? "

   " Menika rumiyen ingkeng nitis dateng pepunden kula Dewi Shinta.... "

   " Na saiki nitis neng sapa....? " tanya Petruk

   " Dateng ingkeng bendara Dewi Wara Sembadra "

   " Oo .... dadi kae ngarah ndara Wara Sembadra....? "

   " Inggih Ki Lurah.... "

   " Sing oyak-oyak kit mbiyen titising Widyawati sapa Man ....? "

   " Yitma Pariyitma, sukmane Dasamuka..... " jawab Anoman

   " Na, nek iki ora kowe sing nandhangi ora rampung-rampung....!? "

   " Nyuwun pangestunipun Ki Lurah....!! "

Anoman melesat pergi mencari Prabu Kumaradewa

   " Waaah..... ha ha ha ha..... Kethek Putih, tuwek keklek ora modar-modar, kowe ora pangling karo aku, ya.....?!! "

   " Ora bakal pangling, Yitma, Priyitma, Gudayitma, Dasamuka....!! "

   " Yaa dhasar para nyata, ora leren nggonku ngobrak-abrik jagad sak isine.....!! "

   " Waaahh....!! -brakk....!! brakk....!!! "

Terjadi perang tanding antara Anoman melawan Prabu Kumaradewa, mereka sama-sama digdaya sama-sama kuat, bumi terguncang seperti gempa karena pertarungan mereka.... Namun dari dulu Anoman tidak bisa terkalahkan Anoman berkelit melompat-lompat menerkam leher Prabu Kumaradewa

   " Waaaduhh...... aaa..... mati aku....!!! "

Prabu Kumaradewa  ambruk tewas tubuhnya hangus terbakar berubah menjadi sukma Dasamuka

Begawan Durna bersama dengan Kurawa mau menyerang negara Ngamarta

   " Hoo.... Lole, lole.....  sumalole, alas dadi wana, wana dadi yamaha sekuter.... Nggugu karepe dhewe, pendhak dina ora klakon gawe ringkihing para Pandhawa, gawe sirnaning para Pandhawa, ya.... Ora kena dialus tak agal kowe ngger....!! "

Di perbatasan negara Ngamarta Begawan Durna dihadang Werkudara, tubuh Begawan Durna diangkat sama Werkudara

   " Werkudara...! patenana aku yen kowe ora gelem bali neng Ngastina, patenana aku Werkudara....!! "

   " Waa..... kowe bali nang Sukalima.....!!! "

Tubuh Begawan Durna dilempar Werkudara hingga jatuh di Sukalima

Kartamarma dan para Kurawa yang lain beramai-ramai mengeroyok Werkudara, tapi tidak satupun yang bisa mengalahkan satriya Jodhipati itu, hingga para Kurawa kocar-kacir lari tunggang langgang

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Sri Bathara Kresna menerima kehadiran Werkudara, Anoman dan Semar Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong

   " Waa.... Jlitheng kakangku.....! "

   " Werkudara piye....? "

   " Aku njaluk ngapura, uga Jlamprong tak jalukna pangapura dene aku wis kalepyan, aku wis lali marang kahanan sing sak nyatane....! "

   " Werkudara, ora dadi ngapa yayi, merga menungsa urip neng alam padhang kuwi kanggonan ina, lali, salah, apes lan mati.... "

   " Ya... "

   " Mula besok maneh yen arep tumindak apa wae pitungen nganggo nalar sing genep, pitungen tuna lan bathine aja nganthi getun tiba mburi mengko ora ana paedahe....! "

   " Ya... "

   " Ayo yayi, manunggal marang Praja Ngamarta, tetunggalan, Pandhawan Lima ora bakal bisa pisah. Lan sak teruse ora bisa rukun karo para sata Kurawa yen to kudu ora nglakoni kodrate jagad Bratayudha Jayabinangun... "

   " Kresna kakangku ya... ! "

   " Purnaning gati kakang Semar....!? "

   " Hee..... nggih, sedanten samiya muji syokur dumateng ngarsane Gusti ingkeng Maha Agung, mugi para Pandhawa tansah pinaringan jaya jaya wijayanti nir ing sambe kala. Hee..... sura dira jaya ningrat leburing dening pangastuti, mugi sedanten sedulur sahabat kinasih ugi sami pinaringan kesarasan rahayu wilujeng, dipun ijabahi sedanten gegayuhanipun, sugeng makarya sugeng pinanggih wonten lampahan sanesipun ndara...."

 

Episode 6

Sigra kang bala tumingal

acampuh samya medali

lwir thathit wileding gada

Ooong.....

dhangyang gung manguncang niti

Ooong.....

Dengan segera prajurit yang nampak

bercampur saling menyerang

seperti kilat menyambar beradunya wewangian

Ooong......

pandhita agung terus menerus kemayan -merapal mantra-

Ooong.....

Mendengar perintah Begawan Durna, Prabu Kumaradewa langsung melesat maju ke medan pertempuran dengan senjata pusaka di tangannya

   " Panuksmaning jajal laknat skertaning bawana iblis keparat....! Wah, abot pitukone. Nanging gandheng jroning atiku uga nduwe rasa serik gething lan sengit karo titising Bathara Wisnu, mbiyen mungsuhku Prabu Rama Wijaya wis tekaning pati, Wisnu manitis marang Ratu Dwarawati.... Tak clorong pusaka ora sirna marga layu aja diundang Prabu Kumaradewa leganing atiku.....!! "

Saat itu Prabu Kumaradewa menghunus pusaka membentangkan jemparing diarahkan ke dada Prabu Sri Bathara Kresna

Jumeneng sang Nata Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, nalika semanten wus weruh lampahing jemparing ingkeng den lepasaken dene sang Prabu Kumaradewa parandene mangke ing batos nedya den ungalaken dhadhane sang Nata Dwarawati, tanggap wontening gegantangan nenggih sang Anoman anggenipun rumaos dados pengayome tuwin pamomonging titising Bathara Wisnu, cumlarat saking dirgantara jumeneng sak ngajenge Nata Dwarawati tumandhuk dhadhane sang Anoman sirna marga layu, ngumpruk tanpa daya....!

Diam berdiri saat itu sang Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, saat itu sudah mengetahui larinya pusaka jemparing yang dilepaskan sang Prabu Kumaradewa yang dengan sengaja dibidikkan tepat kedada sang Raja Dwarawati, tanggap sang Anoman yang merasa sebagai pengayom dan pamomong titisnya Bathara Wisnu, melesat dari angkasa dan berhenti berdiri dihadapan sang Raja Dwarawati tembus dadanya sang Anoman oleh pusaka hingga menemukan ajal, tubuhnya ambruk tak berdaya....!

Pusaka jemparing yang dilepaskan Prabu Kumaradewa melesat secepat kilat mengarah ke dada sang Prabu Sri Bathara Kresna, namun secepat itu juga sang Anoman menghadang larinya pusaka hingga pusaka jemparing menghantam dada Anoman hingga ambruk tanpa daya

   " Aduh.... mati aku.....!!! "

   " Woohh.... Anoman....!!? " teriak Prabu Kresna kaget mengetahui Anoman ambruk terkena pusaka jemparing

Sigra lolos sukma saking raga, ngambah alam mantara, tanggap sang Nata Dwarawati nyumurupi sang Anoman nyendal tali wangsul sukma nilaraken raga, sigra tanggap nututi tindake sang Anoman sang Nata Dwarawati

Segera lepas sukma dari raga, melayang ke alam sukma, tanggap sang Raja Dwarawati mengetahui sang Anoman dalam keadaan lepas sukmanya meninggalkan raga, segera tanggap mengkuti sukma sang Anoman sang Raja Dwarawati

Sukma sang Anoman lepas dari raganya, maka tanggap sang Prabu Kresna dengan hening keluar sukmanya mengikuti sukma sang Anoman.

Hingga jasad Prabu Kresna pun berdiri tak bernyawa

Prabu Kumaradewa melompat menari-nari kegirangan setelah mengetahui sang Anoman dan Prabu Kresna dalam keadaan tidak bernyawa

   " Haaa.... ha, ha, ha....e'aa.... e'aa.... e'aa.... e'aa..... ha ha ha ha..... Hayoh kowe ora bakal isa glawat pusakaku tumandhuk neng dhadhane kethek putih sing bisa tata jalma.... Waa ladyalah..... Ha ha ha ha.... Anoman modar, iki piwalesku nggonmu wis orak-arik prejurit Ngalengka nalika semana, ewone prejurit yaksa bosah baseh kaya babatan pacing....!

   " Hee prejurit....! Aja digawe macak, raga loro iki diboyong neng negara Ngastina....!! " perintah Prabu Kumaradewa kepada pasukannya

   " Ayo .... yo, yo, yo..... goyong, gotong.... dibandha, dibandha.... krincung sikile..... yo, yo, yo......!!! " suara riuh para prajurit membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna diikat digotong dibawa ke kerajaan Ngastina

Begawan Durna pun merasa senang bukan kepalang menyaksikan Prabu Kumaradewa telah berhasil membunuh Anoman dan Prabu Kresna, karena saking senangnya menari-nari dihadapan Prabu Kumaradewa

   " Haaa ha ha ha..... e'oo.... e'oo.... e'oo.... e'ee....e'ee ....!! e'oo.... e'oo... e'oo.... e'ee.... e'ee......!! "

   " Oo lole, lole..... Anak lanang anak anung anandhita, bocah mursid isa mikul dhuwur mendhem jero karo wong tuwa..... Kumaradewa murid kesayangnku ngger, ya mung kowe sing bisa nyirnakake Ratu Dwarawati karo si Anoman munyuk putih, modar dina iki kwandane dibandha dikrincung sikile neng negara Ngastina. Syokur, syokur ngger..... ha ha ha ha....! "

   " Bapa penemban nanging kula nyuwun pitumbasipun....! " kata Prabu Kumaradewa

   " Pitukone apa ngger.....? "

   " Kula estunipun boten kepingin ngelmu.... "

   " Loh, njaluk apa....? Apa njaluk bandha dunya, mas picis, mas inten berlian kowe njupuka neng Sukalima, Sukalima kuwi nadyan pertapan ning sugih ora bakal kekurangan bab bandha dunya tak kandhani....! "

   " Boten.... " jawab Prabu Kumaradewa

   " Apa kowe njaluk kreta kencana tinarik kuda wolu sing ampuh-ampuh, njupuka....! "

   " Boten menika penemban..... "

   " La njaluk apa....? Apa kowe njaluk tumpakan gajah cacahe patang puluh....? "

   " Kula nyuwun saget kasembadan saget mboyong titise Widyawati ingkeng sak menika mapan dateng Kasatrian Madukara, ingkeng aran Dewi Wara Sembadra menika kedhah kula boyong dateng negari kula.... "

   " Sembadra.....?? " tanya Begawan Durna heran

   " Inggih kula ngersakaken Dewi Wara Sembadra.....! "

   " Kumaradewa, aja seru-seru.... Neng kene ana bojone....!? " kata Begawan Durna sambil merendahkan suaranya

   " Inggih kula ngertos..... "

   " Nek kowe butuh Wara Sembadra ora papa, ora papa, tak usahakake...."

   " Caranipun kados pundi.....? " tanya Prabu Kumaradewa

   " Ooo.... kowe ora ngerti, Janoko kuwi karo aku manut banget....! Aja kok mung bojone, tak jaluk nyawane diwenehke....! "

   " Oo nggih....? "

   " He'em..... Aku isa wae ngomong, Janoko kowe wis ora pantes urip neng alam ndunya, kowe kudu ngabekti karo bapa guru supaya bapa gurumu isa langgeng uripe, kowe kudu tekaning pati, Janoko mesthi terus nyerahke nyawane, mangga bapa, terus tak suduk dhadhane Janoko blus ....!

Janoko mati Sembadra randa terus tok gawa....! "

   " Estu napa....!!? "

   " Alon-alon...."

   " Estu napa penemban...." tanya Prabu Kumaradewa penasaran.

   " Ya wis ngono kuwi, sistimatis ngono kuwi...! "

   " Oh inggih, inggih..... wah gampil sanget....! "

   " Ya gampang, pokoke nek golek wong wedok kuwi gampang nek karo aku....! "

   " Ngaten....? "

   " He'em.... merga aku ya ana sing tak incer...."

   " Loh, ingkeng dipun incer menika napa.....? "

   " Janoko mati, Sembadra randha, randhane ana siji maneh sing tak incer...."

   " Sinten.....? "

   " Sri Wahyuni ..... Eh anu Srikandi.... Sri Wahyuni rak kancane dhalange.... he, he, he.... "

   " Srikandi penemban.....?? "

   " Ya, Srikandi mbiyen kuwi yayangku.... "

   " Loh, menapa nggih....? "

   " Ya, kuwi putri Pancawala, kuwi mbiyen seneng karo aku, ning gandheng Janoko kuwi thukmis direbut karo Janoko.... Jan-jane aku iki ya lara ati karo Janoko, merga Janoko wani ngrebut maniking atiku.....! "

   " Mekaten....? "

   " He'em, he'em...."

   " Ning mangkin nek Srikandi boten purun kalih penjenengan.....? "

   " Hello, ora gelem ya dipeksa. Srikandi angger tak wenehi japamantra, tak tamani aji jaya kawijayan, tak tamani aji pengasihan.... Kuwi mengko isa malik paningale, Srikandi yen nyawang aku nadyan wis tuwa ngene iki ning rumangsane Srikandi aku iki baguse ngungkuli Janoko, kuwi mengko wong ora gelem dadi gelem, wong ora tresna dadi tresna...! "

   " Oh ngaten....? "

   " Wis ngono wae ya Kumaradewa.... Mengko perkara Wara Sembadra tak gayuhke, ning kowe sing tentrem, aja kesusu, aja grusa-grusu. Saiki, dina iki ngumpul neng negara Ngastina murungake Bratayudha Jayabinangun.....! "

   " Inggih, inggih ngestokaken dhawuh.... "

   " Aja nganti krungu Janoko kowe kepingin mengku garwa karo Wara Sembadra....! "

   " Inggih ngestokaken dhawuh, sumangga kula dherekaken penemban....! "

Saat itu di kraton Dwarawati Prabu Baladewa panik karena mengetahui Anoman telah mati juga jasad Prabu Kresna diringkus para prajuritnya Prabu Kumaradewa dibawa ke kerajaan Ngastina

   " Waaa..... ladylah.... Setyaki , ketiwasan... Setyaki.....!! Waah.... iki piye kok kahanane dadi kaya ngene iki Setyaki...!!? "  teriak-teriak Prabu Baladewa mencari Setyaki

   " Ketiwasan kados pundi kaka Prabu.....??! "

   " Waahh, kowe kok ora weruh sing sak nyatane, yayi Prabu Dwarawati dibandha, dikrincung sikile karo para Kurawa, kadangmu Kendalisada ya tekaning pati..... Waahh kedadehane kok kaya ngene, aku kudu piye Setyaki.....?!! "

   " Kaka Prabu, menawi jengandika namung kados mekaten boten badhe ngrampungaken perkawis menika, upami kula dados jengandika, dados kadangipun sepuh Nata Dwarawati kula badhe ampyak awur-awur dadi apa wae tak wujudi...!! "

   " Waaa ya Setyaki..... ayo ampyak awur-awur nang negara Ngastina..... Wong-wong Ngastina tak grethel ngango Nenggala keparat..... !!! "

 

Episode 7

Myat langening kalangyan

aglar pandam muncar

tinon lir kekonang

surem soroting tan padhang

Oong.....

Ooong......

kasor lan pajaring

purnama gegana

dhasare mangsa ketiga

ima inaweng ing ujung ancala

asenen karya wigena

miwah isining wana

wreksa gung tinunu

Ooong......

Melihat indahnya tempat yang disukai

bertebaran suluh (dilah) menyala

terlihat seperti -cahaya- kunang-kunang

sinarnya suram tidaklah terang

Oong.....

Ooong.....

kalah dengan -sinar- yang dipancarkan

-oleh- rembulan diangkasa

karena memang musim kemarau

awan yang menutupi puncak gunung

bersorot menyedihkan

juga isi hutan

pohon-pohon yang besar terbakar

Ooong......

Di rumah Ki Lurah Semar Badranaya, Raden Abimanyu sowan, yang saat itu punakawan Semar Badranaya sedang berkumpul bersama anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong

   " Hee.... mbegegeg ugeg-ugeg.... hmel-hmel, sak dhulitha..... Ndara Abimanyu rawuh dateng Karang Kadempel. Hee.... wonten menapa gus, kok kados sumengka tindakipun, kula ngaturaken sembah pangabekti kula konjuk nggih den....? " kata Semar menyambut kedatangan Abimanyu

   " Ya siwa Semar bektimu tak tampa, pangestuku tampana..."jawab Abimanyu

   " Eee nggih nggih, kula pundi ngge jimat dayanana ing kasantosan...."

   " Ndara kula ngaturaken sembah pangabekti kula nggih den.... " kata Nala Gareng

   " Kula nggih ngaturaken sembah pangabekti ndara.... " kata Petruk

   " Inyong Bagong nggih nyuwun sangu ndara.... eh anu ngaturaken sembah sungkem konjuk ndara.... "

   " Kowe iki kok clometan karo ndara Abimanyu to Gong...! " kata Petruk mengingatkan Bagong

   " Anu, aku mau ki slier-slier.... tak kira nek dha njaluk sangu, he he he.... " kata Bagong sambil bercanda

   " Wis to thole, ada padha gojekan wigatekke ngendikane ndaramu thole....! " kata Semar memperingatkan anak-anaknya

   " Iya Nala Gareng, Petruk lan Bagong bektimu tak tampa " jawab Abimanyu

   " Siwa Semar...." kata Abimanyu

   " Eeh kula ndara....? "

   " Apa siwa Nayantaka ora krungu kabar yen to dina iki kanjeng rama panenggak klawan kanjeng rama panengah wis lenggah anaing Ngastina, padha diblithuk dening tembung manis dening para Kurawa ingkeng bakal balekake negara Ngastina sak sigar semangka. Mangka kuwatire Abimanyu kiyai Nayantaka ngerti dhewe lamun kanjeng rama banget nggone percaya klawan eyang penemban  Sukalima wekasan ora isa menggalih kanthi wening.... Kepiye mungguh pinemune kiyai Semar yen nganthi wong tuwaku ora tanggap karo rekadayane wong-wong Kurawa kaya ngapa mengko kedaehane wong tuwaku sak kloron wo Semar.....? "

Semar eko den prayitno

semu ririh eko balik

Oong.....

titi yoni ganda yoni

tri sonya purnama sasi

Gilar-gilar tengahing latar

Oong.....

Milangana lintang bima sekti

katon ambyar ing angkasa

Ooong....

   " Hee..... lakok mekaten to .... Mangka kanjeng rama menika satriya pinunjul, kekalihipun menika satriya lanthip panggrahitane ewadene lakok tasih saget dipun blithuk dening Begawan Durna. Hee.... den, menawi sampean boten ngemutaken keng rama padha karo sampean niku mentala nyumurupi dateng kasangsaranipun ingkeng keng rama kekalih. Saking surasa ingkeng kula waos para Kurawa niku namung badhe ndamel tumpese para Pandhawa, ugi ndara sinuwun Dwarawati sak menika dipun rah patine kalih para Kurawa ndara....! "

   " Ngestokake dhawuhmu wa Semar.... Mula saka kuwi wa Semar apadene Nala Gareng, Petruk lan Bagong ayo tutna laku jlantraku prapta anaing Ngastina, yen pancen kanjeng rama apa dene kanjeng wa Jodhipati ora bisa tak emutake sarana aris kudu tak rodaparipeksa kondur marang Ngamarta wo Semar....! "

   " Hee.... nggih den, sumangga kula dherekaken lampahe ndara Abimanyu.... "

Semar Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong mengiring kepergian Abimanyu menuju kerajaan Ngastina

Pada saat yang bersamaan di khayangan Ondar-Andhir Bhawana sukma Mayangkara menghadap Sang Hyang Wenang

   " Om mastumana sidam sekaring bawana langgeng.... Mayangkara ingkeng sowan ngabyantara neng ngarsa ulun, padha raharja kanthi sak praptamu ngger Senggana....? "

   " Inggih pukulun, tansah winantu kabagyan sowan kula tebih saking sambekala, keparenga kula ngaturaken sembah sumungkeming pangabekti konjuk pukulun.... " kata sukma Mayangkara

   " Ya Anoman, ulun tampa kanthi bombong tyas ulun ora liwat pangestu ulun tampanana.... "

   " Kula pundi ngge jimat ndayanana ing kasantosan pukulun.... "

   " Apa parigawene dene jeneng kita sowan ngabyantara, mara gage matura ana panjenengan ulun supaya terwaca nggone ulun nampa klawan atur kita.... "

   " Nuwun inggih pukulun, estunipun anggen kula sowan ngabyantara ngersa paduka pukulun menika jalaran wonten margi prayoga anggen kula nyuwun prisa ngimuti bilih gesang kula menika sampun mangabad-abad laminipun wiwit kula linahiraken wonten jagad sehingga kula suwita dateng Prabu Rama Wijaya ing Pancawati malah sak mangkin sampun kepengker tebih lelampahan Prabu Rama Wijaya sesembahan kula sampun manjing dateng kasuwargan, nanging ewadene Anoman tasih dipun keparengaken gesang wontening madyapada. Pukulun.... Namung estine manah kula badhe nyuwun priksa benjang menapa kula menika nyaketi dhateng suruping pati kula pukulun.....? "

   " Hong Ilaheng sekaring bawana langgeng.... Anoman, sumurupa lamun kita nanjihake klawan panjenengan ulun babagan besok kapan nggon kita bakal sowan marang ayunane Gusti ingkang akarya jagad, besok kapan rampunge kewajiban kita, sayekti yen to kita maneges klawan panjenengan ulun titi kelungguhan samengko, iki durung paja-paja nyaketi ingkang mbok upaya yaiku manjing suruping pati. Samengko nedheng-nedhenge jaman Pandhawa, lamun kita mangerteni bakal dina tumapaking wanci kita sowan ana ngayunane Gusti ingkang Maha Kuwasa isih pirang-pirang puluh tahun maneh. Lamun kita besok wus menangi turun Pandhawa ingkeng kaping nem kuwi bakal nyaketi klawan pati kita Senggana.....! "

   " Menawi dipun keparingaken kula nyuwun pitedhah turun Pandhawa ingkeng nem menika jaman menapa pukulun....? "tanya sukma Mayangkara

   " Ya Senggana, besok ana negara ingkeng winastan Wastina lan negara Mamenang, negara loro kuwi mau sayekti dadi turuning Pandhawa nanging padha ora rukun, lamun kita bisa ngrukunake negara loro mau kanthi ngraketake putra putri ya kuwi telu cacahe Prameni, Pramesti lan Sesanti pikantuk satriya kang aran Dharmakusuma, Dharmasakara lan Dharmasasangka kang mengkono bakal nyaketi klawan dina patimu Senggana.... "

   " Matur sembah nuwun sanget tanpa pepindan pukulun.... Nadyan tesih tebih anggen kula nglampahi gesang wontening jagad, nanging sampun padhang raose manahipun Anoman anggen kula dharmakaken gesang kula wontening janaluka.... "

   " Senggana.... wong kang katrima uripe mau kaperang dadi loro. Siji, wong kang ora umur dawa, sartane wong kang pinaringan umur panjang. Wong kang pinaringan umur dawa sayekti pinarcaya Hyang Maha Nasa ngrampungi dharmane urip anaing alam padhang jalaran dipercaya dening sing gawe jagad.

Ingkeng ke loro, wong kang ora umur dawa mau tinesnranan kang Maha Kuasa kacelak kapundhut anaing ngayunane Gusti ingkang Maha Agung.

   " Mekaten pukulun....? "

   " Ya Mayangkara, mula kang saka kuwi Anoman trimakna sarta sabar ekhlas nggon kita napaki urip. Baliya marang marcapada jagad butuh ketentraman, mangka kita ingkeng kudu ambabar katentreman, Senggana...! "

   " Nyuwun pamit pukulun, nyuwun tambahe pangestu.... "

   " Sing ati-ati Bambang Sengana....! "

Sukma Mayangkara, Bambang Senggana turun ke marcapada, namun ditengah jalan bertemu dengan sukma Narayana, Sukma Wicara, sukmanya Prabu Sri Bathara Kresna

   " Pepundhen kula Sukma Wicara kula ngaturaken sembah bekti kula konjuk sinuwun.... "

   " Ya, ya Anoman ndak tampa, ora lewat pangestuku tampana.... "

   " Kenging menapa paduka ngantos sumusul dateng kula manjing dateng alam mantara sinuwun.....? "

   " Senggana.. .! "

   " Wonten dhawuh sinuwun..... "

   " Kaya ngapa lenggahing Sang Hyang Bathara Wisnu lamun ora tinunggu pengayoming sarta pamomonging titising Bathara Wisnu ya kuwi mung kejaba Pendhita Kendalisada ya Resi Anoman, mula nalika ketaman pusaka ingsun sumurup lamun sira kakang Anoman banjur ngrogoh sukma manjing alam mantara. Mula Nata Dwarawati ora kendhat nggone tansah thutwunthat tindake kakang Mayangkara, Nata Dwarawati Sukma Wicara ora bakal bisa pisah klawan Mayangkara...."

   " Sinuwun , sampun cumeplong raose manah kula sampun kasembadan sowan dateng ngarsane Sang Hyang Padawenang ingkeng wigati namung nanjihaken benjang menapa telas tulise pun Mayangkara.... "

   " Wis entuk katrangan Senggana....? "

   " Nuwun inggih sampun pikantuk katrangan, nanging jebul anggen kula momong dateng titising Bathara Wisnu menika tesih dangu, tesih turunipun kaping nem saking turunipun pepunden kula Pandhawa....."

   " Ya Senggana, ora susah gresah nggresula, ayo bali marang marcapada tuntaske kewajibanmu....! "

   " Sumangga, kula dherekaken sinuwun.... "

Tapi ditengah perjalanan kedua sukma itu, sukma Narayana dan sukma Mayangkara berhenti karena Sukma Narayana mengetahui mengetahui apa yang terjadi dengan jasadnya yang tertinggal di marcapada

   " Senggana....! "

   " Kula wonten dhawuh.... "

   " Kowe karo aku sawetara durung bisa bali menyang raga jati.... "

   " Sabapipun menapa sinuwun....? " tanya sukma Mayangkara

   " Sabab ragaku sartane ragamu diboyong dene sata Kurawa anaing Ngastina, saiki ming kari ngulir budi ngasah kadewasan kepiye carane isa mbalik menyang ragaku uga ragamu supaya isa dadi papan dununge papan sukma sejati.... "

   " Inggih, menawi mekaten sumangga pados sarana.... "

   " Hayo Anoman, golek cara....! "

   " Sumangga sinuwun kula dherekaken....! "

 

Episode : 8

Bumi gonjang-ganjig langit kelap-kelap

katon lir kincanging alis risang maweh gadrung

Oong.....

sabarang kadulu wukir moyag-mayig

saking tyas baliwur lumaris agandrung

Ooong.....

Bumi terguncang-guncang langit gelap kilat menyambar-nyambar

tampak seperti gerak alis orang yang lagi kasmaran

Oong.....

semua yang terlihat -seperti- gunung yang bergoyang-goyang

dari hati yang kacau -iapun- berjalan memikat

Oong......

Di tengah perjalanan menuju kerajaan Ngastina, Abimanyu berhenti, tampak hatinya ragu, kacau, gundah gulana. Membuat para punakawan yang mengiringinya menjadi bingung penuh dengan tanda tanya

   " Eee.... pripun den, kok mandeg mangu-mangu jarene ajeng ngelingake dateng kanjeng rama kekalih anggenipun kaliput manunggal kalian para sata Kurawa....? " tanya Semar Badranaya

   ' Nggih ndara, sajake kaya ragu-ragu....? " kata Nala Gareng

   " Ya kakang Semar, Nala Gareng, Petruk lan Bagong, piye nggonku ora mangu-mangu rasaku lamun sing bakal ndak adhepi wong tuwaku dhewe, doh nyana cerak nyana wong da ngarani Abimanyu wani karo wong tuwa lamun nganthi ora kersa kondur menyang Ngamarta.... "

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara teriakan Prabu Baladewa berlari-lari bersama Setyaki

   " Abimanyu malah neng kene iki Setyaki....!! Setyaki.... kowe neng ngendi....?!! "

   " Nuwun inggih kaka Prabu.... " jawab Setyaki mendekati Prabu Baladewa dihadapan Abimanyu dan para punakawan

   " Kula ngaturaken sembah pangabekti kula konjuk wa Mandura... " kata Abimanyu sembari sungkem dihadapan Prabu Baladewa

   " Abimanyu tak tampa, ora liwat pangestuku tampanana "

   " Kula pundhi ngge jimat paripe.... "

   " Hee.... sinuwun Mandura kula ngaturaken sembah pangabekti kula ndara.... " kata Semar Badranaya

   " Ya Semar tak tampa.... "

   " Sinuwun, Nala Gareng ngaturaken sembah.... "

   " Ya Nala Gareng tak tampa.... "

   " Sinuwun Mandura ngaturaken sembah pangabekti.... " kata Petruk

   " Ya Petruk tak tampa.... "

   " Ya Baladewa tak tampa....!! " sahut Bagong

   " Hush....! Bagong tak jothos modar kowe....!? " ujar Prabu Baladewa

   " Anu, ngaturaken sembah pangabekti he he he ..."

   " Ya Bagong tak tampa.... "

   " Wonten menapa ngantos jengandika mlajar-mlajar kalian paman Garbaruji, menawi kepareng kula nyuwun dhawuh....? " kata Abimanyu

   " Ya Abimanyu, kepasan yogja katujue nginu kowe mapan anaing kene. Kowe tak kandhani ya ngger, sumurupa yen to negara Dwarawati dina samengko bedhah saka pokal gawene para sata Kurawa ingkeng nggawa jago ratu saka sabrang kang aran Prabu Kumaradewa, malah kakang Anoman apadene yayi Prabu Dwarawati wis tumekaning pati diboyong ana negara Ngastina, Abimanyu....!! "

   " Kanjeng wa Prabu Mandura sampun ngantos tumut-tumut, lilanana Abimanyu badhe ngamuk punggung wonten negari Ngastina....!! " kata Abimanyu dan langsung melesat pergi ke Ngastina

   " Woh, Setyaki....!! Aja meneng wae ayo nututi Abimanyu....!! " kata Prabu Baladewa

   " Inggih kula dherekaken kaka Prabu....! " jawab Setyaki dan mereka berdua mengikuti perginya Abimanyu

Tinggal Semar dan anak-anaknya

   " Hee.... iki kriwikan dadi grojogan geguyon dadi tangisan. Mangka ndaramu Abimanyu nek wis duka ora kaya ndara Abimanyu, eee.... kae ora mrucut karo sing gerang ya kuwi ndara Janoko, kepiye iki mengko olehe arep ngandhani Nala Gareng....? "

Semar Badranaya saat itu melihat sekelebat bayangan, sukma Mayangkara masuk kedalam tubuh Nala Gareng dan sukma Narayana masuk kedalam tubuh Bagong

   " Hee.... kowe anak-anakku aja mung meneng wae ayo da melu mbhudi daya aja padha meneng wae.....? Lakok Nala Gareng mripate dadi putih kabeh. Hee.... kowe kena ngapa....?? "

   " Kweekk..... kweekk..... werrrkk....!! " Nala Gareng malah melompat-lompat ke pohon lalu melompat terbang ke arah Ngastina

Bagong juga tiba-tiba bisa terbang melompat pergi mengikuti Nala Gareng. Melihat keadaan itu Petruk jadi panik

   " Waduk pak.....! Nala Gareng mau mripate malik putih terus cuet-cuet mencolot kaya kethek, Bagong malah isa mabur kae pak.....!? "

   " Eee.... kok dadi kaya ngene thole.... Ning aku mau sak kleraman kethok ana Anoman karo sinuwun Dwarawati.... ora usah bingung, ayo tutke wae lakune Nala Gareng karo Bagong thole....! "

Semar Badranaya dan Petruk mengikuti perginya Nala Gareng dan Bagong ke arah kerajaan Ngastina

Saat itu di istana kerajaan Ngastina Begawan Durna bersama dengan Prabu Kumaradewa membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna  kedepan Prabu Duryudana

   " Ladyalah.....!! Bapa Durna....! " seru Prabu Duryudana

   " Wonten dhawuh ngger.....? " jawab Begawan Durna

   " Penjenengan nyuwun menapa....? "

   " Kula boten nyuwun menapa-napa ngger.... " jawab Begawan Durna

   " Sampean ngendika napa nawon sing sampean jaluk, niki wis klakon penjangka kula anggen kula kepingin ndadekake Nata Dwarawati kula dadosaken tumbal teng negara Ngastina kangge srana murungaken Braratayudha Jayabinangun, malah sak mangke Anoman sirna marga layu tegesipun sampun ngurangi kekiyatanipun para Pandhawa.... "

   " Inggih ngger, lajeng keparengipun kados pundi.....? " tanya Begawan Durna

   " Ketapke para sata Kurawa, kuwandane Nata Dwarawati bakal tak tugel anaing alun-alun Ngastina....!! "

Arsa kinarya tumbal Nata Dwarawati, ndadak sak kala mangke wonten ingkang ngamuk punggung sura tamtama nenggih Ki Lurah Nala Gareng ingkeng kapanjingan sukmane sang Anoman miwah Ki Lurah Bagong ingkeng kapanjingan sukmane Nata Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, dados geger madyane pasewakan praja Ngastina

Sengaja dibuat tumbal Raja Dwarawati, tiba-tiba saat itu ada yang ngamuk membuat onar yaitu Ki Lurah Nala Gareng yang kerasukan sukmanya Anoman dan Ki Lurah Bagong yang kerasukan sukmanya Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, jadi gempar ditengah pasewakan  kerajaan Ngastina

Nala Gareng melompat terbang menyerang

Prabu Duryudana dan dan semua yang hadir hingga mereka kaget lari kabur ketakutan. Sukma Mayangkara keluar dari tubuh Nala Gareng dan masuk kedalam jasad Anoman.

   " Aku kok isa tekan kene ya Gong.....? " tanya Gareng kepada Bagong yang masih kerasukan sukmanya Prabu Kresna

   " Niwang sukmana mangadi luwih, ana sasmitaning ingsun jagad ubathara, Nala Gareng.....! "

   " Nala Gareng ndasmu kuwi....! Aku kakangmu kok Nala Gareng....? "

   " Mangertenana yen to sejatine ingsun iki dudu Bagong.... "

   " Dudu Bagong, sapa....? "

   " Hu hu hu hu....aku iki bendaramu Dwarawati kowe aja sembrono Nala Gareng...."

Tapi belum selesai Bagong ngomong sukma Narayana keluar dan masuk kedalam jasad Prabu Kresna.

Prabu Kresna bangun

   " Muni piye kowe mau....? " tanya Prabu Kresna

   " Mboten kok ndara, kok sampean isa urip....? " kata Bagong

   " Aku mau ki nyilih ragamu Bagong ..... " kata Prabu Kresna

   " Huu.... sesok maneh ya nyewa no, kok mung nyilih.....?! "

   " Anoman, aku boyongen bali neng Dwarawati....! " kata Prabu Kresna

   " Inggih ngestokaken dhawuh sinuwun.... " jawab Anoman

   " Loh, piye to iki kok da nggawe acara dhewe....?? " kata Bagong heran

   " Wis ben, menenga ra sah crewet kowe iki, butuhe gek ndang rampung.....! " kata Nala Gareng

   " Oh ya ya.... Ya wis gek ndang Anoman, gek ndang digotong sinuwun Dwarawati....! "

   " Inggih Ki Lurah....! " jawab Anoman

Prabu Kresna dibawa Anoman pergi ke kraton Dwarawati

Terdengar teriakan suara Prabu Kumaradewa

   " Iblis laknat....!! Ming derajate punakawan wae gawe geger tak sabet pedang tugel gulumu..... !!! "

   ".....Ayo lariii.......!!! " Bagong dan Gareng saling tabrakan lari kabur ketakutan

Abimanyu bertemu dengan Arjuna, tapi Ajuna heran dihadapannya Abimanyu berdiri tegak berkacak pinggang

   " Abimanyu....!? "

   " Kasinggihan kanjeng rama.... "

   " Kok malangkerik neng ngarepe wong tuwa....? "

   " Penjenengan kondur mboten..... ? " kata Abimanyu " Menawi boten purun kondur paripaksa Abimanyu ngamuk wonten Ngastina....! "

   " Yen ngamuk neng Ngastina mugsuhe ramamu....! Apa kira-kira wani karo wong tuwamu....? "

   " Sing tak wedheni apamu, hayoh ngajak apa kowe.... !! "

Terjadi perang tanding antara anak dan bapak, keduanya sama-sama kuat sama-sama digdaya, yang pada akhirnya Arjuna menyadari kesalahannya dan bersama putranya kembali ke Ngamarta

Satriya Pringgandani Gathutkaca berhadapan dengan Werkudara, tapi datang Prabu Baladewa. Gathutkaca diseret mundur

   " Sing ngakon kowe metu sapa....? Olehmu salin ki kapan? Ora ngerti apa-apa kok mara-mara njedul, aku wae sing ngadhepi bapakmu....!! " kata Prabu Baladewa

   " Nuwun inggih wa, kula boten pareng methuki kanjeng rama....? " kata Gathutkaca

   " Ora entuk....!! Bali wae nang Pringgondani.....!! "

   " Nyuwun nggih wa Mandura, ngestokaken dhawuh....! " kata Gathutkaca dan langsung pergi kembali ke Pringgondani

   " Waa.... Gatot ora entuk methukke aku.... ? " kata Werkudara

   " Ora usah, Baladewa sing methukke kowe, sing kit sore mau wis eksis ....! "

   " Waa..... Janoko tak jak bali nang Ngastina....!! "

   " Ora isa...!! Janoko wis nglumpuk neng negara Ngamarta... Werkudara....!! "

   " Piye....? "

   " Kowe iki isa metung apa ora hem....? " kata Prabu Baladewa " Kowe isa gelar isa nggulung ora, yen si adhi bakal murungake Bratayudha kowe iki tuna apa ora, pitungen aja mung waton sak kepenakmu dhewe kowe ngumpul karo para sata Kurawa, kowe ora apal karo watak wantune para sata Kurawa, kowe ora pangling karo watak wantune para Kurawa ingkeng watak angkara budi chandala. Kowe tekan kana jan-jane ora bakal diwenehi negara sak sigar semangka ning bakal dikrenah patimu karo para Kurawa, lakok kowe nglumpuk nang Ngastina kuwi karepmu piye....?? "

   " Waaaa..... "

   " Ora usah wah weh, ayo wangsulan.... !! " bentak Prabu Baladewa

   " Aja nganthi okeh korban bratayudha..... " jawab Werkudara

   " Bratayudha kuwi apa....?! "

   " Perang.... " jawab Werkudara

   " Perang apa.... ? "

   " Perange Pandhawa lan Kurawa.... " jawab Werkudara

   " Kowe ngerti ora tegese Bratayudha? Brata laku, yudha perang. Brantayudha, branta asmara yudha perang, perange wong kang nandhang kasmaran karo pakerti sing becik kelakohan sing apik nganthi direwangi Brantayudha. Brata laku, yudha perang. Perang sing nganggo tatanan, perang sing nganggo laku, ora ampyak awur-awur sak penake dhewe....! "

   " Ya.... "

   " Neng kana katandha sapa sing nyilih bakal mbalekake, sapa sing utang bakal nyaur, sapa sing nduwe watak angkara budi chandala mesthi wahyune bakal sirna. Nang kana bakal katandha antarane Pandhawa lan Kurawa kuwi bener sapa, sing bener mesthi menang, sing salah mesthi bakale kalah, lakok arep mbok wurungke.....? Nek ngono kowe seneng jagad iki kebak kamurkan, kowe seneng yen angkara murka nderbala neng jagad hem......? Terus kewajibane Werkudara minangka satriyane praja dadi sarana tentreming jagad kuwi nang ngendi aku tak takon....??! Ayo wangsulan....?! Aja meneng wae....!!? "

   " Apa kira-kira Werkudara wis kelangan jiwa kasatriyane?...." lanjut Prabu Baladewa "Nek kowe wis kelangan jiwa kasatriyane ora usah ndadak bali neng negara Ngamarta, kumpula karo para..... Wloobbs....!! "

Werkudara membungkam mulut Prabu Baladewa terus ngeloyor pergi

   " Behh... !! Ana wong ngomong kok dibingkem cangkeme.... !!?  "

   " Ya, aku salah...! " terdengar suara Werkudara dari jauh

   " Na, rak ngono....!! "

Prabu Kumaradewa menjadi marah besar tidak bisa terima karena apa yang direncanakan jadi bubar berantakan

   " Waahh.... bubar mawut beburonku ilang kabeh, Ratu Dwarawati, Kethek Puteh. Begawan Durna cidra ora ngupaya golekake geganthelaning atiku titising Widyawati, ora lega rasane atiku yen ora boyong titising Widyawati ampyak awur-awur.....!!! "

Punakawan Petruk mau menyusul Nala Gareng dan Bagong tapi begitu mengetahui Prabu Kumaradewa membawa prajurit dan para Kurawa, Petruk berbalik lari menemui Anoman Pendhita dari Kendalisada

   " Wonten napa Ki Lurah kok mlajar-mlajar....? " tanya Anoman

   " Jagone Kurawa ngamuk, sumbare, ora lega rasane atiku yen ora boyong titising Widyawati ampyak awur-awur....!! Titising Widyawati kuwi sapa Man....? "

   " Menika rumiyen ingkeng nitis dateng pepunden kula Dewi Shinta.... "

   " Na saiki nitis neng sapa....? " tanya Petruk

   " Dateng ingkeng bendara Dewi Wara Sembadra "

   " Oo .... dadi kae ngarah ndara Wara Sembadra....? "

   " Inggih Ki Lurah.... "

   " Sing oyak-oyak kit mbiyen titising Widyawati sapa Man ....? "

   " Yitma Pariyitma, sukmane Dasamuka..... " jawab Anoman

   " Na, nek iki ora kowe sing nandhangi ora rampung-rampung....!? "

   " Nyuwun pangestunipun Ki Lurah....!! "

Anoman melesat pergi mencari Prabu Kumaradewa

   " Waaah..... ha ha ha ha..... Kethek Putih, tuwek keklek ora modar-modar, kowe ora pangling karo aku, ya.....?!! "

   " Ora bakal pangling, Yitma, Priyitma, Gudayitma, Dasamuka....!! "

   " Yaa dhasar para nyata, ora leren nggonku ngobrak-abrik jagad sak isine.....!! "

   " Waaahh....!! -brakk....!! brakk....!!! "

Terjadi perang tanding antara Anoman melawan Prabu Kumaradewa, mereka sama-sama digdaya sama-sama kuat, bumi terguncang seperti gempa karena pertarungan mereka.... Namun dari dulu Anoman tidak bisa terkalahkan Anoman berkelit melompat-lompat menerkam leher Prabu Kumaradewa

   " Waaaduhh...... aaa..... mati aku....!!! "

Prabu Kumaradewa  ambruk tewas tubuhnya hangus terbakar berubah menjadi sukma Dasamuka

Begawan Durna bersama dengan Kurawa mau menyerang negara Ngamarta

   " Hoo.... Lole, lole.....  sumalole, alas dadi wana, wana dadi yamaha sekuter.... Nggugu karepe dhewe, pendhak dina ora klakon gawe ringkihing para Pandhawa, gawe sirnaning para Pandhawa, ya.... Ora kena dialus tak agal kowe ngger....!! "

Di perbatasan negara Ngamarta Begawan Durna dihadang Werkudara, tubuh Begawan Durna diangkat sama Werkudara

   " Werkudara...! patenana aku yen kowe ora gelem bali neng Ngastina, patenana aku Werkudara....!! "

   " Waa..... kowe bali nang Sukalima.....!!! "

Tubuh Begawan Durna dilempar Werkudara hingga jatuh di Sukalima

Kartamarma dan para Kurawa yang lain beramai-ramai mengeroyok Werkudara, tapi tidak satupun yang bisa mengalahkan satriya Jodhipati itu, hingga para Kurawa kocar-kacir lari tunggang langgang

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Sri Bathara Kresna menerima kehadiran Werkudara, Anoman dan Semar Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong

   " Waa.... Jlitheng kakangku.....! "

   " Werkudara piye....? "

   " Aku njaluk ngapura, uga Jlamprong tak jalukna pangapura dene aku wis kalepyan, aku wis lali marang kahanan sing sak nyatane....! "

   " Werkudara, ora dadi ngapa yayi, merga menungsa urip neng alam padhang kuwi kanggonan ina, lali, salah, apes lan mati.... "

   " Ya... "

   " Mula besok maneh yen arep tumindak apa wae pitungen nganggo nalar sing genep, pitungen tuna lan bathine aja nganthi getun tiba mburi mengko ora ana paedahe....! "

   " Ya... "

   " Ayo yayi, manunggal marang Praja Ngamarta, tetunggalan, Pandhawan Lima ora bakal bisa pisah. Lan sak teruse ora bisa rukun karo para sata Kurawa yen to kudu ora nglakoni kodrate jagad Bratayudha Jayabinangun... "

   " Kresna kakangku ya... ! "

   " Purnaning gati kakang Semar....!? "

   " Hee..... nggih, sedanten samiya muji syokur dumateng ngarsane Gusti ingkeng Maha Agung, mugi para Pandhawa tansah pinaringan jaya jaya wijayanti nir ing sambe kala. Hee..... sura dira jaya ningrat leburing dening pangastuti, mugi sedanten sedulur sahabat kinasih ugi sami pinaringan kesarasan rahayu wilujeng, dipun ijabahi sedanten gegayuhanipun, sugeng makarya sugeng pinanggih wonten lampahan sanesipun ndara...."

 

Sumber referensia :

Pagelaran Wayang Kulit

Lakon : Anoman Maneges

Dhalang : Bp Ki Seno Nugroho

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)