ANOMAN MANEGES
Berawal
dari kerajaan Astina yang kedatangan begawan baru (Begawan Lumono) Yang sangat
di segani oleh Prabu duryudono dan para kurawa, pada waktu itu Begawan Lumono
Menyuruh Prabu Duryudono agar Pandhowo Beserta Prabu Bolodewo Raja Mandura Mau
datang ke astina, setelah para Pandawa dan Bolodewo hadir Begawan Lumono
menyampaikan wejangan bahwa astina dan amarta harus bersatu dan perang Barata
Yuda akan di tiadakan, Tetapi harus memakai sesaji korban manusia.
Adapun
korban yang dipilih adalah Raja Duworowati Prabu Batara Kresna Dan Semar,
karena menurut Begawan Lumono Kresna dan Semarlah yang menjadi sebab ketidak
akuran Pandawa dan Kurawa. Mendengar hal tersebut marahlah Prabu Bolodewo
terjadi keributan antara prabu Bolodewo dan Begawan Lumono.
Prabu
Bolodewo Meninggalkan kerajaan Astina dan pergi menemui Kresna untuk
menyampaikan apa yang terjadi di Astina. Sepeninggalnya Prabu bolodewo Prabu
puntodewo mengutus Arjuno tuk Menjemput Prabu Kresno dan Semar agar datang ke
Astina.
Ternyata
Putra Pandawa Gatutkaca Dan Antarja menyusul tuk menjemput para pandawa namun
oleh kurawa di halangi sehingga terjadi peperangan.
Dan
dimenangkan oleh para kurawa atas bantuan begawan lomono, dan tuk sementara
gatutkaca dan antarja menyingkir mencari bantuan.
Dan
arjuna yang di utus oleh kakaknya telah sampai di negara duworowati bersama
brotoseno,di kerajaan ternyata sudah ada Prabu bolodewo yang tadinya pulang
namun tidak ke mandura, Arjunopun menyampaikan maksut kedatanganya namun
ditolak Oleh prabu kresna dan terjadi perselisihan,Patih sengkuni yang ikut
hadir di kerajaan Duworowati menjadi sasaran amuk setiaki sehingga Arjuno tidak
berhasil menjemput Kresna, Brotoseno pulang bersama Arjuno bermaksut menjemput
semar setelah gagal menjemput Kresna.
Di
tempat semar Anoman datang menghadap bersama putranya (Bambang Purwaganti)
bermaksut menanyakan kenapa hingga umur sudah tua masih belum bisa pergi ke
alam baka, oleh semar diberi wejangan agar Anoman bersabar dan melanjutkan
darma baktinya di dunia,belum selesai semar ngasih wejangan datang Raja
Baranjono (murid Begawan Lumono) bertujuan membunuh Kiai Semar atas perintah
Begawan lomono, sehingga terjadi pertempuran antara prabu baranjono dan putra
Anoman Bambang Purwoganti ,ternyata Prabu baranjono membawa pasukan dan
semuanya mati, Namun tuk menghadapi prabu Baranjono Anoman sendiri yang maju
dan ahirnya prabu baranjono tewas, Namun karena murid begawan sakti baranjono
hidup lagi.
Sementara
Anoman Dan penghuni lainya sibuk perang Arjuno telah sampai didalam rumah kiai
Semar dan mengajak pergi ke astina Tanpa sepengetahuan Anoman Dan para penghuni
lainya.
Dan
anomanpun tidak berani menghadapi Raden Arjuno, Saking bingungnya Anoman Pergi
ke kahyangan tuk menanyakan apa maksut kejadian yang telah terjadi di alam
semesta.
Tidak
lama kemudian Prabu Kresna Dan Prabu Bolodewo Sampai di Karang Kadempel, namun
sudah terlambat dan ahirnya para punokawan didandani menjadi para kesatria yang
gagah .Gareng Jadi Bambang Cokrowongso Petruk Cokroyudo, Bagong Cokrojiyo,dan
disuruh ke astina.
Di
kahyangan Alang alang kumitir anoman di wejang atas pertanyaanya kepada Hyang
Wenang, dan di ajak melihat situasi tempat penyiksaan dan tempat
kebahagiaan,sehingga Anoman menjadi semakin tabah dan setelah itu disuruh
kembali tuk membantu Kiai Semar dengan berubah wujud menjadi Seorang Brahmana (Reksi
Amongrogo)
Sesampainya
di pinggir Kerajaan Astina Among rogo ketemu Gatutkaca Dan antarja dan Siap
membantu kesulitan yang dihadapi kedua satria tersebut.
Didalam
kerajaan Astina Semar dan Begawan Lumono beradu mulut mengadu kepintaran,
sementara semar dan lomono masih debat di alun alun penjelmaan para punokawan
membuat kisruh para kurawa tidak bisa mengatasi sehingga lomono turun tangan
sendiri dan mengajak baranjono tuk menghadapi para perusuh tadi, dengan
kesaktian lomono dan baranjono para punakawan dapat dikalahkan, Dan Resi
amongrogo datang membantu para punokawan dan pandowo menghadapi lomono, namun
resi Amongrogo dihadapi baranjono yang ternyata adalah penjelmaan gudoyitno
(sukmanya Dosomuko)Dan Lomono Berhadapan Dengan Semar. Ternyata Lomono
penjelmaan Batara kala Sebelum bertempur Semar sudah tau kalau yang menjadi
lomono adalah Batara kala, Dan ahirnya pandawa dan kurawa tidak tersesat atas
ajaran lomono.
Karena kedok Begawan Lumono telah terbongkar oleh Semar, akhirnya Lumono si Bethara Kala kembali ke kayangan setra ganda mayit.
Sumber
referensi : Anoman Maneges - Ki Anom Suroto
Anoman Maneges (versi)
Berkisah
tentang Negara Astina yang kedatangan seorang pandhita sakti mandraguna bernama
Resi Lomana dan kegelisahan Anoman yang menanyakan kenapa umur sudah tua masih
belum bisa pergi ke alam baka. Resi Lomana menyatakan perselisihan antara
Pandhawa dan Korawa disebabkan ulah dua orang dilingkungan Pendawa, yaitu Prabu
Kresna dan Semar. Oleh karena itu, melenyapkan
Semar dan Kresna menjadi target utama Resi Lomana. "Namun karena Pandhawa
memiliki pegangan Jamus Kalimasada (kalimat Syahadat) dan berpijak pada tatanan
apik sebagaimana Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 dimiliki Indonesia, niat
jahat Resi Lomana yang sejatinya penjelmaan Batara Kala tidak bisa terwujud.
Adapun Anoman diberi wejangan Semar agar bersabar dan melanjutkan darma
baktinya di dunia,"
ANOMAN MANEGES
Pagelaran
Wayang Kulit
Lakon : Anoman Maneges
Dhalang : Ki Seno Nugroho
ANOMAN MANEGES
Episode 1
Hong
ilaheng, Hong ilaheng
hawignam
hastu nama sidham
mastu
silah mring Hyang Jagad Karana
siram
tandha kawisesaning bisana
sana
sinawung langening wilapa
estu
maksih lestantum lampahing cerita Mahabarata
winursita
ngupama prameng niskara
karanta
dyan tumiyeng jaman purwa
winisudha
trahing kang dinama-dama
pinardi
tameng lelata mangkya rekap wasananira gupita
tan
wing pralambang matumpa-tumpa
marma
panggung, panggeng
panggunggung
sang murweng kata
Hoong......
Hong
ilaheng, Hong ilaheng
semoga
tiada aral melintang
atas
restu Hyang Jagad Karana
sebagai
tanda kehebatan yang dituturkan
dengan
keindahan syair yang masih sesuai dengan cerita Mahabarata
dituangkan
melalui bahasa tutur yang berimbang
agar
menjadi contoh orang-orang yang utama
dikisahkan
agar terbebas dari mara bahaya dari zaman ke zaman
dibersihkan
dari segala dosa
agar
hidup sejahtera sampai akhir zaman
tiada
cela oleh berbagai cobaan
dan
diutamakan dengan berbagai nuansa
Hoong.......
Anenggih
pundi ingkang kaeka adi dasa purwa. Eka sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh,
purwa wiwitan
Sanadyan
kathah titahing dewa ingkang kasangga ing angkasa sinangga ing pratiwi, kapit
ing samudra
kathah
ingkang sami anggara raras nanging boten kadi Dwaraka, ya Dwarawati, ya
Jenggala Manik
Mila
kinarya bebuka ngupaya nagari satus jangkep kekalih, nadyan sewu tan antuk
sedasa.
Dhasar
negari panjang punjung, pasir, wukir, loh jinawi, gemah aripah, karta tur
raharja......
Kisah
ini diawali dari sebuah negeri yang termashur, sekalipun kisahnya diatas
bentang langit, terbenam didasar bumi, tenggelam di dasar samudera tetap saja
berjaya. Sebuah negeri yang subur makmur sejahtera dan sentosa, sebuah negara
yang bernama Dwarawati ya Dwaraka yang juga bernama Jenggala Manik.
Duduk
seorang raja disinggasana yang terbuat dari emas, permata bertebaran diseluruh
kemegahan istana, seorang raja yang bernama Prabu Sri Bathara Kresna yang juga
bernama Hari Mukti, Sasra Sumpena, Sang Narayana, Sang Danardana, Sang Wisnu
Dewa juga bernama Sang Wisnu Murti.
Saat
itu kerajaan Dwarawati sedang menggelar pasewakan agung, hadir dihadapan sang
raja seorang senopati Dwarawati Arya Setyaki, patih Udawa dan para punggawa
kerajaan.
Selang
beberapa waktu kemudian hadir juga seorang raja dari Mandura Prabu Baladewa
" Hyang Agung mugya ngayomi praja
Dwarawati sak isinipun, kaka Prabu dereng sawetawis dangu rawuhipun jengandika
kaka Prabu Mandura, yayi Dwarawati ngaturaken pasegan pana krami konjuk ngersa
paduka kanjeng kaka Prabu jimat sesembahan kula.... " kata Prabu Kresna
menyambut kedatangan Prabu Baladewa dari Mandura
" Jagad wasesaning ubathara wayah,
ubathara jagad endra jala dewaku.... " jawab Prabu Baladewa " Ya yayi
Prabu wus tak tanpa asung panbagyane si adhi yayi Prabu Kresna akarya bombomg
penggalihe pun kakang, mung keparenga pun kakang ngaturake pudya astawane pun
kakang katur ngarsa yayi Prabu Kresna ing Dwarawati... "
" Kula pundi cundaka panglingga murdha
saestu mewahana kabagyane gesang kula, boten langkung kasekecakna anggen paduka
lenggah.... "
" Ya yayi Prabu Dwarawati, wis ora
kurang kepenak praptane pun kakang ana ing Dwarawati dina samengko iki yayi
Kresna.... "
Arya
Setyaki senopati Dwarawati juga menghaturkan salam pambagya salam ta'jim kepada
Prabu Baladewa, begitu juga dengan Patih Udawa.
Beberapa
saat kemudian Prabu Kresna menanyakan maksud kedatangan Prabu Baladewa ke
Dwarawati
" Kakang Prabu, sumengka pengawak badra
andamar sasi, wonten wigatos menapa paduka kepareng rawuh wonten praja
Dwarawati....? "
" Ya yayi, ingkeng sepisan praptanipun
pun kakang tilik marang karahayone sira si adhi sak gotrah sak kulowarga merga
wis watara suwi pun kakang ora pinanggihan klawan yayi Dwarawati kepasan yogja
katujue nginu dene yayi Kresna nedheng nganakake pasewakan agung. Syukur yayi
dene para kadang sentana, punggawa, yayi Prabu sak kulowarga tansah pinaringan
barokahe Gusti kang Maha Agung, manggihi basuki niskala.... "
" Matur sembah nuwun tanpa
pepindan .... Selajengipun punapa
ingkeng dados wigatosipun kaka Prabu.....? "
" Wis dikeparengake aku matur yayi
Prabu....? " tanya Prabu Baladewa
" Sampun kaka Prabu kula
sumanggakaken.... "
Hanjrah
ingkang puspita rum
kasiliring
samirana mrik
sekar
gadhung..... kongas gandanya....
maweh
raras renaning driya.....
Oong......
Harumnya
bunga menyebar
wanginya
terbawa hembusan angin
kembang
gadhung..... semerbak baunya....
membuat
hati amatlah senang.....
Oong......
" Yayi Prabu.... " kata Prabu
Baladewa
" Wonten tinimbalan ingkeng dhawuh kaka
Prabu...." jawab Prabu Kresna
" Sak temene pun kakang bakal atur
pelapuran marang yayi Kresna babagan kadang-kadangmu para Pandhawa, apa si adhi
durung tau weruh, apa si adhi durung tau ngerti....? "
" Mengku suraos kados pundi kaka Prabu
paring dhawuh mekaten....? " tanya Prabu Kresna
" Yen ngono yayi Kresna durung oleh
kabar ingkeng wis sumebar warata sak indhengin jagad....? "
" Dereng kaka Prabu.... "
" Kresna, kowe tak jarwani ya yayi yen
sawetara ana sak candra suwene kadangmu Pandhawa Werkudara klawan si Arjuna
manunggal anaing negara Ngastina dadi siji karo yayi Prabu Duryudana karo sak
Kurawane, ndadekake bingung penggalihe pun kakang. Ing atase antarane Pandhawa
lan Kurawa kuwi wiwit biyen tekan saiki, kit kuncung nganti gelung ora tau ana
rukune, pendhak-pendhak mesthi padha regejegan, pendak-pendak mesthi padha
benthak sirah, nanging lakok elok temen nalika semono pun kakang prapta anaing
negara Ngastina lakok Werkudara lan Janoko wis mapan ana ning kana. Jarene
nampa rembuge yayi Prabu Duryudana bakal maringake negara Ngastina ora kethang
sak sigar semangka....? "
" Kaka Prabu..... Menawi tetela mekaten
menika pekabaran ingkeng sahe.... " kata Prabu Kresna
" Loh, kok isa ngono....? "tanya
Prabu Baladewa
" Jalaran mangkin boten saget kedadosan
wujudipun perang ageng Bharatayudha Jayabinangun, menawi yayi Prabu Duryudana
sampun wonten suka lilaning penggalih Ngastina sampun wonten panguwasane
kadang-kadang kula Pandhawa.... "
" Yen ditonton saka tata gelar lahir
pancen apik, nanging yen digelar digulung digoleki tuna lan bathine apa yayi
Dwarawati ora pangling karo watak wantune para sata Kurasa, ingkeng
pendak-pendak gawe kapitunane para Pandhawa, kuwatire pun kakang manunggale Werkudara
lan Janoko mengko dadi jalaran Kurawa ingkeng wis samapta ing gati gawe karti
sampika cintrakane kadangmu Pandhawa yayi..... Mula saka kuwi yayi aja
tidha-tidha tak jaluk si adhi aja lumuh ngentasi perkara, merga yayi Prabu
Dwarawati minangka kusire para Pandhawa, yen ana apa-apa tumrap para Pandhawa
aja nganti sing diluputke yayi Prabu Dwarawati....!? "
Dereng
ngantos paripurna sami imbal wacana, nalika semanten geger wonten pasewakan
agung Dwarawati, apa kang dadi darunane ora ana macan mbedhal saka krangkeng
ora ana gajah medhot saka wantilan, kejawi namung sowanipun pendhita saking
Kendalisada Begawan Anoman ya Begawan Mayangkara minggah dateng datulaya,
ndadosaken geger para kawula.... Hee kanca ana dayoh, minggir, minggir.....
njaluk dalan, njaluk dalan......!!
Belum
sampai selesai pembicaraan, saat itu jadi gempar di pasewakan agung itu, apa
yang menjadi penyebabnya tidak ada macan yang lepas dari krangkeng tidak ada
gajah yang lepas dari ikatan, ternyata karena kehadiran seorang wanara pendhita
dari Kendalisada Begawan Anoman, ya Begawan Mayangkara menjadikan geger para
kawula. Hee kawan ada tamu, minggir, minggir.... minta jalan .....minta
jalan..... !!
" Jagad wasesaning ubathara wayah
bathara jagad kaka Prabu....? "
" Yayi Prabu Dwarawati piye....? "
jawab Prabu Baladewa
" Dereng paripurna anggen kula nampi
pengendikane paduka menika kadi dene sowanipun Anoman ingkeng ngabyantara
wonten ngarsa keng yayi Dwarawati.... "
" Tumuli timbalana yayi.... " kata
Prabu Baladewa " Apa wigatine dene kakang Mayangkara prapta ana ing
Dwarawati yayi.... "
" Anoman, kakang Anoman padha raharja
praptamu, kakang Mayangkara....? "
" Nuwun amit pasang alimantabik,
keparenga kula ngaturaken sembah pangabekti sinuwun, kanjeng dewaji sesembahan
kula.... " kata Anoman menyampaikan sembah pangabektinya
" Ya ya Anoman ndak tampa, ora liwat
pangestuku tampanana.... " kata Prabu Kresna
" Kula pundi nggo jimat paripe dayanana
ing kasantosan "
" Eneng wigati apa Anoman sowanmu
mangka tanpa tinimbalan, yen ana wigati matura marang ingsun purna madya wusana
gage aturna Anoman....? "
" Waleh-waleh menapa sinuwun, sowan
kula menika namung badhe nanjihaken ningali dateng kawontenanipun gusti kula
sang nata Dwarawati.... "
" Bab perkara apa....? " tanya
Prabu Kresna
" Nuwun sewu sinuwun, kula menika
nyumpena, pasumpenan kula kalawau manjing wonten puspa tajem, guragapan raose
manah kula lajeng kula tuwuh raos kuwatir lan sumelang dateng gusti kula Prabu
Kresna.... "
" Senggana, sing jenenge impen kuwi rak
ming kembange wong turu, aja banget-banget nggonmu metung marang pasumpenan....
"
" Nyuwun pangapunten sinuwun.... Jejer
kula menika brahmana, mangka kula menika remen ngonceki dateng barang-barang
ngaten menika, dateng madyaning pasumpenan cetha bilih nalika semanten nata
Dwarawati nedheng nete baito lelayaran wonten sak tengahe bengawan, dumadakan
boten ngertos sangkan parane lakok toyane bengawan menika kalawau mbena lajeng
saget numplak dateng lampahing baito, wekasan gusti kula Prabu Dwarawati
kendang kapracondang kabeta bantere warih.... Guragapan kula wungu saking
nendra ngawuningani pasumpenan ingkang kados mekaten ngantos kula nanjihaken
kawontenanipun paduka gusti sang nata Prabu Kresna, mekaten menggih wigatose
sowan kula sinuwun.... "
Dereng
paripurna sami imbal wacana, kasaru geger njaba wonten sowanipun Begawan Durna
anganthi ingkeng putra kekalih Raden Werkudara miwah Raden Arjuna ndadosaken
kaget sang nata Dwarawati....!
Episode 2
Dereng
paripurna sami imbal wacana, kasaru geger jaba wonten sowanipun Begawan Durna
anganthi ingkeng putra kekalih Raden Werkudara miwah Raden Arjuna ndadosaken
kaget sang Nata Dwarawati
Belum
selesai dalam pembicaraan terjadi geger diluar karena hadirnya Begawan Durna
bersama dengan dua anak muridnya Raden Werkudara dan Raden Arjuna menjadikan
kaget sang Nata Dwarawati
Karena
mengetahui kehadiran Begawan Durna bersama dengan dua orang muridnya Werkudara
dan Arjuna, semua yang dipasewakan agung memberikan tempat untuk mereka
bertiga. Begawan Durna duduk didepan senopati Dwarawati Arya Setyaki dan patih
Udawa berdampingan dengan Werkudara dan Arjuna. Sedang Prabu Baladewa pindah
tempat duduk dibelakang Prabu Kresna di depan Anoman
" Kaka Prabu, dateng Dwarawati kok
wonten dayoh dridil kados mekaten.....? " kata Prabu Kresna kepada Prabu
Baladewa
" Lo la iya.... bar ketekan Anoman
lalok iki bapa Durna didampingi Werkudara karo Janoko wigatine apa Kresna....?
Tumuli timbalana, Werkudara lan Janoko kuwi kadangmu, Begawan Durna kuwi pepundhen,
nglungguhana bawa leksana.... " kata Prabu Baladewa
" Inggih ngestokaken dhawuh.... "
" Nanging yen karepe Begawan Durna
bakal mbuthek banyu bening arep obak-obak katrentremane Dwarawati aja melu-melu
mengko bakal ana pendhita tak uwek-uwek cangkeme....! "
" Kaka Prabu menika dereng
menapa-menapa kok sampun duka...? "
" Aku rak wis kandha karo si adhi,
Werkudara karo Janoko kuwi saiki wis manunggal ana ning negara Ngastina, mula
nang ndi-ndi saiki karo Begawan Durna ora tau pisah, mula sing ati-ati yayi,
aku ngerti watak wantune Begawan Durna.... "
" Bapa Durna, winantu ing suka basuki
rawuhipun....? " kata Prabu Kresna menyambut kedatangan Begawan Durna
" Ooo lole, lole.... kenthos waluh
gembol monyor-monyor.... duk neng dungkul wana dadi alas, alas dadi wana....
Werkudara....! " kata Begawan Durna yang malah berbicara dengan Werkudara
dan Arjuna
" Ya... " jawab Werkudara
" Arjuna.... "
" Kula wonten dhawuh.... " jawab
Arjuna
" Sing tatag, tangguh, tanggon atimu ya
ngger.... Aku sing guneman, nek ana apa-apa kowe sing tumandang....! "
" Ya, ngestokke dhawuh Durna
bapakku.... " jawab Werkudara
" Nuwun inggih ngestokaken dhawuh
bapa.... " jawab Arjuna
" Laa.... ngandel ora, wis didum
dhewe-dhewe.... " kata Prabu Baladewa " Sing guneman Durna sing
tumandhang Werkudara.... Apa anggepe nek wis gawa Werkudara kuwi terus menangan
apa piye, apa dianggep Baladewa wedi karo Werkudara ngono pa piye....? "
" Kaka Prabu mendhel kemawon mangkin
ndak malah boten rampung-rampung.... " kata Prabu Kresna mengingatkan
Prabu Baladewa
" Ya, aku tak meneng.... "
" Nuwun sewu bapa penemban, rawuh
jengandika winantu ing suka basuki....? " kata Prabu Kresna
" Oo inggih, inggih.... tansah
pinaringan kawigatan nir ing sambe kala tebih saking rubeda, kepareng kula
ngaturaken pudya astawanipun ingkeng bapa nggih ngger.... " kata Begawan
Durna
" Bapa penemban kula tampi ndadosaken
suka marwata suta raose manah....
Werkudara
kowe slamet....? "
" Ya Kresna kakangku, tansah pinaringan
nir ing sambe kala praptaku.... " jawab Werkudara
" Arjuna, kowe padha raharja yayi....?
"
" Nuwun inggih kaka Prabu, kula raharja
boten wonten setunggal alangan punapa, sembah bekti kula konjuk kaka Prabu....
" jawab Arjuna
" Bapa Durna katuran karahargyan....?
" kata Prabu Baladewa
" Ooo anak angger Prabu Baladewa
wilujeng ngger, kula ngaturaken salam kula katur ngger.... " jawab Begawan
Durna
" Nggih kula tampi, dipun sekecakaken
anggenipun lenggah.... "
" Inggih, inggih ngestokaken dhawuh
"
" Werkudara slamet....? " sapa
Prabu Baladewa
" Baladewa kakangku slamet tekaku, aku
ngaturke bektiku katur.... " jawab Werkudara
" Ya tak tampa, pangestunipun kakang
tampanana.... "
" Ndak gegem, ndadekke jimat.... "
" Arjuna wilujeng..... "
" Kaka Prabu Mandura tansah pinaringan
kawigatan, kula ngaturaken bekti kula konjuk.... "
" Ya Janoko, tak tampa.....
" Bapa penemban, wonten menapa dene
rawuh dateng praja Dwarawati, menawi kepareng kula midangetaken menapa
wigatosipun bapa penemban Sukalima.....? " kata Prabu Kresna
" Oo, menika ngaten nggih ngger....
Kepareng kula konjuk atur, kacarita anak kula Werkudara kalian pun Janoko
menika sampun satunggal candra sawetawis mapan wonten negari Ngastina, lah
menapa ta pengajape dene anak kula Werkudara lan Janoko menika manunggal kalian
kadangipun Kurawa, mergi piyambakipun sampun saget gelar saget gulung
kawontenan, paedah menapa menawi perang bratayudha menika dipun lampahi, menawi
perang antawisipun kadang piyambak namung rebut kamukten negara Ngastina,
menika saru dinulu, kok ngantos direwangi padha benthak sirah, padha
paten-patenan tunggal sedulur, tunggal darah menika rak boten sahe to
ngger..... "
" Inggih penemban menika boten sahe....
" kata Prabu Kresna menanggapi Begawan Durna
" Na, menawi boten sahe saking dinten
sak mangke Bratayudha menika sampun boten kalampahan.... "
" Lo lo boten kalampahan.... ? "
" Inggih boten badhe kalampahan amargi
Werkudara, Janoko sampun manunggal wonten Ngastina, ngendikane anak Prabu
Duryudana, Werkudara lan Janoko mangkin
badhe dipun dhawuhi supados tapak asta wontening nawala kekancingan, Werkudara
Janoko badhe nampi negari Ngastina boten ketang namung sepalih. Sepalih dipun
lenggahi Pandhawa lima cacahipun ingkeng sepalih dipun lenggahi para sata
Kurawa. Pandhawa lan Kurawa padha urip bebarengan wonten negara Ngastina
mad-sinamadhan daya dinayan, tunggal rasa lan karsane saget sayuk rukun.
Wondene sowan kula wonten negari Dwarawati menika ugi badhe nglarapaken
Werkudara napa dene Janoko badhe monjuk atur ngersa paduka anak Prabu Sri
Bhatara Kresna.... Werkudara gek ndang matura.....! "
" Durna bapakku, waa.... aku ora
tekan.... " kata Werkudara
" Nganggo genter....! " kata
Begawan Durna
" Tegese aku ora tekan nggonku arep
matur karo Jlitheng kakangku..... "
" Janoko piye....? " tanya Begawan
Durna
" Bapa penemban, nadyan kula nggih
boten wantun matur ngarsa paduka sinuwun Dwarawati.... " jawab Arjuna
" Naa..... rak tenan to.... Iki wis ana
niyat sing siningit sak jroning ati Werkudara apa dene Janoko, nyatane wong
loro didhawuhi matur neng ngarsane yayi Prabu Dwarawati, Werkudara ora tekan,
Janoko ora tekan olehe matur, yayi sing ati-ati....!! "
" Kaka Prabu lenggah ingkeng prayogi
menika perkawis kula.... " kata Prabu Kresna mengingatkan Prabu Baladewa
" Werkudara lan Janoko wong arep matur
wae kok ora tekan.... Hoo.... satriya kok cendhik-cendhik, matur kaya ngono wae
kok ora tekan.... " kata Begawan Durna " Beda karo aku, aku apa-apa
iki mesthi tekan, model piye wae mesthi tekan, orang mung mak kethawil-kethawil
ora karuan.... Aku tak matur, wong iki sing penting atine, angger atine gedhe
mesthi bakal tekan apa sing dikarepne....
Menika
ngaten nggih ngger.... anak kula Werkudara ugi Janoko boten dumugi anggenipun
badhe matur dateng anak Prabu Dwarawati, mila ingkeng bapa Sukalima ingkeng badhe
matur....
" Kula sumanggakaken bapa penemban
Durna.... " kata Prabu Kresna
" Inggih, inggih, menika ngaten nggih
ngger.... dhawuhipun anak Prabu Duryudana dateng Werkudara ugi Janoko,
Bratayudha menika jangkaning jagad, Bratayudha menika ingkang gadhah damel
menika para jawata, boten titah sewantah, menika perkawis ingkeng ageng. Para
brahmana nyebataken menika perang suci luaring punaki, sapa sing utang bakal
nyaur, sapa sing njilih balekake, sapa sing tumindake ala ning kana bakal antuk
wahyuning sirna, menika Bratayudha.... "
" Inggih penemban lajeng....? "
" La mula saking menika Brratayudha
menawi badhe diwurungaken jebul syarat srananipun menika angel, syarat
srananipun menika boten gampil..... "
" Syarat srananipun menika boten gampil
menika kados pundi penemban.....? " tanya Prabu Kresna
" Ngendikane anak Prabu Duryudana
ingkeng sampun manekung nyuwun ngarsane Gusti, nampi sasmita bilih Bratayudha
saget dipun wurungaken, saget dipun batalaken menawi anak Prabu Sri Bathara
Kresna rawuh wonten Ngastina sareng sak lampah kula kalian lampahipun anak kula
Werkudara lan Janoko. Sampun kula cawisaken jempana ijol-ijolan, tandu kinarya
nandu anak Prabu Dwarawati rawuh wonten praja Ngastina supados nekseni wurunge
Bratayudha Jayabinangun. Lajeng kula gadhah pemanggih, apa ta sebape anak Prabu
kedhah dados seksi jebul panjenengan menika titise Bathara Wisnu, penjenengan
menika pujanggane para Pandhawa panjenengan menika kusire para Pandhawa. Nek
kusir lan pujanggane sampun nyarujuki Pandhawa rukun kalih Kurawa, ooo temtu
jagad menika badhe ayem tentrem, boten wonten tiyang regejegan
langkung-langkung Pandhawa lan Kurawa sampun manunggal dados setunggal....
"
" Kaka Prabu sampun mireng
piyambak.....? " tanya Prabu Kresna
" Si adhi arep diboyong menyang
Ngastina....? " jawab Prabu Baladewa
" Inggih kasinggihan mekaten.... "
" Yen manut saka pitungane pun kakang
aja gelem...." kata Prabu Baladewa " Pun kakang wis apal karo watak
wantune para Kurawa lan wong-wong Ngastina, mesthi ana sandi kang siningit saka
Kurawa, cilik si adhi bakal dikrenah cintrakane gedhe-gedhene Kresna mesthi
bakal diperjaya, wong Ngastina kuwi wong kang watak angkara budi candhala....!
"
" Nuwun sewu ngger anak Prabu Baladewa
boten ngaten kok ngger.... " sahut Begawan Durna " Sinuwun Dwarawati
badhe wilujeng nir ing sambe kala wonten negari Ngastina, mangkin menawi wonten
menapa-menapa dateng anak Prabu Dwarawati, menawi ngantos babak kulite, putung
balunge, metu gethihe, Durna ingkang sagah nglintoni gesangipun Nata
Dwarawati....!! "
" Ora usah percaya karo Begawan Durna.....!
" kata Prabu Baladewa "
Begawan Durna kuwi tukang sumpah tur tukang ndobos, dheweke sumpah ora mung
pisan iki, wis bola-bali, nek ming sumpahe Durna wae Baladewa ora bakal
percaya....!! "
" Lah menika sahe, ....eh anu napa
nuwun sewu menika lepat ngger..... " kata Begawan Durna gelagapan "
Kula menika pendhita lo ngger.... Kula menika brahmana, kula menika resi, resi
menika kedhah resik njaba njeronipun....
Sak
mangkin ngaten mawon ngger.... Anak Prabu Dwarawati kersa rawuh dateng Ngastina
napa boten, menawi kersa maturnuwun tegesipun paduka menika setunggale nalendra
ingkeng ugi nggayuh dateng katentraman ugi karukunan, nanging menawi boten
kersa rawuh wonten negari Ngastina.... Ooo, saget kula wastani nek panjenengan
menika sing benthik-benthikke Kurawa klawan Pandhawa supaya ora rukun kuwi
cetha ratu Dwarawati sing ngangkah dadine Bratayudha, ratu Dwarawati sing
seneng nek Bratayudha Kurawa dadi tumpes kelor tanpa sisa. Cetha sing nduwe
watak angkara budi candhala kuwi dudu ratu Ngastina ning ratu Dwarawati....!!
"
Dhadha
muntap lir kinetap
duka
yayah sinipi
jaja
bang mawinga wengis
kumedhot
padoning lathi
netra
kocak ngondar andhir
Ooong.....
-Kemarahan-
didada seketika memuncak
seperti
ditampar
marah
yang teramat sangat
dada
memerah menyorotkan kebengisan
bibirnya
bergetar gemetaran
bola
mata seakan kocak dan berputar-putar
Ooong.....
" Waah.... panuksmaning jajal laknat
skertane bawana iblis keparat.....!! Begawan Durna....!!! "
" Wonten dhawuh sinuwun.... "
jawab Begawan Durna gemetaran ketakutan
" Sampean wau muni piye....?!! "
" Pun lali...."
" Sampean wau muni pripun....?!! "
Prabu Baladewa mengulang pertanyaanya dan makin marah
" Nggih, ning pun lali.... " jawab
Begawan Durna makin ketakutan
" Lagi ngomong kok lali, iki pendhita
bosok apa piye....??!! "
" Nggih, radi bosok..... Anu, nyuwun
pangapunten ngger, kula menika boten wonten perkawis kalian penjenengan nanging
perkawis kula menika kalian sinuwun Dwarawati, sinuwun Mandura boten usah
tumut-tumut perkawis menika, perkawis menika urusanipun tiyang Ngastina kalian
Nata Dwarawati.... "
" Sampean ngerti boten kula menika
sinten...?!! " teriak Prabu Baladewa
" Penjenengan anak Prabu Baladewa....
" jawab Begawan Durna
" Baladewa karo Kresna kuwi
apane....!!? "
" Inggih, kakang adhi, kakang adhi.....
" jawab Begawan Durna ketakutan
" Nek ana sing ngunek-ngunekke ratu
Dwarawati terus Baladewa ora trima niku trep boten, cocok boten....??! "
" Nggih cocok, cocok.... " jawab
Begawan Durna sambil menunduk ketakutan
" Kok sampean isa muni dudu urusane
Prabu Baladewa dhasar sampean napa...?!! "
" Boten ngangge dhasar.... jeru
banget.... "
" Pendhita kok omongane
mencla-mencle....!? Begawan Durna bali wae....!! "
" Bali teng pundi....? "
" Bali neng negara Ngastina....!!
"
" Oo.... menawi kula bali dateng
Ngastina boten saget mboyong Nata Dwarawati kula mangkin didukani anak Prabu
Duryudana....?! "
" Perkara diseneni sak karepmu, perkara
dikapak-kapakke sak karepmu... !! Kresna ora bakal tekan Ngastina, nek isa
boyong Kresna boyongen, kudu isa ngasorake Baladewa, isa ngalahke kadigdayane
Nata Mandura boyongen Nata Dwarawati....!!! "
" Werkudara.... kowe kok meneng wae,
aku wis gembrobyos kaya ngene kowe kok meneng wae....?
Janoko....
iki aku ditantang lo Janoko....??! " kata Begawan Durna mengadu kepada
Werkudara dan Arjuna.
Tapi
dua orang muridnya yang disampingnya hanya diam menunduk menghadapi kemarahan
Prabu Baladewa
" Sampean wadul karo murid sampean,
Werkudara karo Janoko, sampean wadul, apa dikira Baladewa wedi, apa dikira
Baladewa lirip....?! Baladewa ora bakal wedi, ora bakal wedi karo sapa wae, aja
kok titah sewantah, dewa mudhun neng jagad Baladewa ora bakal lirip....!!
Sampean
ora usah ngecomang dleming neng kene, ora padha minggat tak dupaki kabeh
rahimu.....!!! "
" Ooo.... cilaka iki mengko, ayo lunga
wae Werkudara....!! "
Melihat
kemarahan Prabu Baladewa yang sudah tidak terkendali maka Begawan Durna
ketakutan melompat keluar dari siti inggil Dwarawati diikuti Werkudara dan
Arjuna
Episode : 3
Tandhang
Sri Baladewa
nanggalanira
pinusti ing asta
swandana
umangsah
praptaning
rananggana umiyat yitna
krura
sru wirodra
Ooong.....
Prabu
Baladewa bertindak
senjata
Nenggala-nya dalam genggaman tangan
bersiap
untuk berperang
tiba
di medan peperangan melihat dengan waspada
berseru
dengan lantang dan galak
Ooong.....
Melihat
kemarahan Prabu Baladewa yang sudah tidak terkendali maka Begawan Durna
ketakutan melompat keluar dari siti
inggil Dwarawati diikuti Werkudara dan Arjuna
" Kaka Prabu.... " kata Prabu
Kresna kepada Prabu Baladewa
" Ya yayi piye....? "
" Menapa ngaten menika sampun
leres....? "
" Tumrap aku wis bener....! "
jawab Prabu Baladewa
" Nanging kirang pener tumrap
Dwarawati... "
" Loh, kok ora pener tumrap
Dwarawati....? "
" Menika negari wonten pranatanipun,
bapa Durna nadyan kadoso menapa menika pujangganipun negari Ngastina tur
nganthi kadang kula Werkudara napa dene Janoko. Estunipun badhe kula rembag
sarana aris sampun ngantos dados muntapipun kadang kula kekalih, lakok tanpa
taliwara kaka Prabu ngantos duka-duka nantang kalih Begawan Durna....?! "
" Mengko dhisik ta.... aku iki ngewangi
kowe, kok kowe malah ora seneng ki piye....? " sanggah Prabu Baladewa
" Inggih boten remen, mergi
cak-cak'anipun ingkang kula boten remen. Cak-cak'an tata budaya wonten
Dwarawati menika, menawi wonten tamu utawi dayoh ora kena gawe kagole, ora kena
gawe nesune dayoh. Mergi kadoso menapa tamu menika kedhah dijunjung derajate,
amargi dayoh tumrap kula mujudaken setunggale sesembahan ingkang kedhah
diladosi. Menawi tata budaya dateng Mandura ngaten sumangga, ning pun ngantos
dipun trapaken dhateng Dwarawati.... "
" Sentyaki piye....? " tanya Prabu
Baladewa
" Kula sumanggakaken.... " jawab
Arya Setyaki
" Aku salah iki piye....? "
" Kula sumanggakaken.... Penjenengan
nggih kados mekaten tumindak boten tetarosan dateng sinuwun Dwarawati
rumiyen....? " kata Setyaki
" Niyatku iki apik, arep mbelani yayi
Prabu Kresna, ning lakok aku diluputke....?! "
Tiba-tiba
Anoman beranjak maju menghadap Prabu Kresna
" Sinuwun kula badhe monjuk atur dateng
sinuwun Dwarawati.... "
" Ya Anoman ana apa....? " tanya
Prabu Kresna
" Dewaji, kados lelampahan pasumpenan
kula, bilih sugeng paduka badhe dipun jangka kalian tiyang-tiyang Ngastina.
Mila dinten sak mangke kula nyuwun idhi palilah, gandheng kula menika ingkeng
tansah ngayomi dateng titising Bathara Wisnu, menawi wonten tiyang ingkeng
badhe numasika badhe damel sambekala dateng gusti kula Dwarawati, Kurawa napa
dene Werkudara lan Arjuna badhe mboyong jengandika kula ingkeng badhe dados
pepalang paduka gusti kula Dwarawati.... "
" Anoman, surtiti ngati-ati duga-duga
digawa, wis entuk idhi palilahe Nata Dwarawati gage lakonana Senggana....!
"
" Nuwun inggih nyuwun pamit, nyuwun
tambahe pangestu...." kata Anoman dengan menghaturkan sembah pangabekti
" Sing ati-ati aja kaya bocah cilik
Anoman...."
Anoman
meninggalkan paseban agung untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang
akan dilakukan oleh orang-orang Ngastina
" Na, cak-cak'an kados Anoman kalawau
leres kaka Prabu, menawi badhe tumindak kedhah nyuwun idhi palilah Nata
Dwarawati amargi kula ingkang wenang murbawssesa dateng praja Dwaraka....
" kata Prabu Kresna setelah melihat kepergian Anoman
" Ya, pun kakang salah.... " kata
Prabu Baladewa " .... aku ingkeng kleru njaluk ngapura, pun kakang ora
bakal tumandhang ngadhepi para sata Kurawa... "
" Nanging perkawis menika kedhah
tanggel jawab....Penjenengan ingkeng miwiti perkawis menika kedhah saget
ngrampungi.... "
" Oh ya, aku tanggung jawab, yen ana
apa-apa mengko pun kakang bakal sabyantu marang si Anoman....
"Sentyaki, tentreme praja tak pasrahke
marang sira, senopati Dwarawati.... " kata Prabu Kresna memberi perintah
" Nuwun inggih ngestokaken dhawuh....
" jawab Arya Setyaki sebagai senopati Dwarawati
" Semono uga kakang Patih Udawa,
ketapke para wadyabala aja nganthi ana
ingkeng brojol seka selo-selane nggaru....! "
" Nok non, ngestokaken dhawuh, nyuwun
tambahe pangestu... "
" Sing ati-ati, aja kaya bocah
cilik....! "
Sementara
itu diluar kerajaannya Dwarawati, Begawan Durna dengan diiring kedua muridnya
Werkudara dan Janoko menemui Prabu Kumaradewa seorang murid yang baru Begawan Durna yang saat itu bersama dengan
Patih Sengkuni
" Ooo.... blegudug suwalu gembol
sumorante sumorante, howella, howella.... anakku wong bagus Kumaradewa....!
" seru Begawan Durna
" Wonten dhawuh paduka menapa
penemban....? " jawab Kumaradewa
" Kowe tak timbali iki sayekti
njumbuhake apa sing tok jaluk nalika semana kowe suwita karo Begawan Durna....
"
" Inggih.... "
" Ingkeng dadi wigatine kowe kepingin
nyucup ngelmune Begawan Durna, kabeh mau bakal tak paringake ning ana syarat
pitukone.....! " kata Begawan Durna
" Kula badhe nedyani ugi sagah napa
ingkeng dados dhawuhipun bapa penemban Durna "
" Iki aku arep mboyong ratu Dwarawati
menyang Ngastina, ewadene sambekalane akeh banget...." kata Begawan Durna
" ... Mengko sak mangsa-mangsa Kurawa ora ana sing isa nanggulangi kridane
wadya bala Dwarawati kowe kudu isa ngrampungi kridane wong Dwarawati, yen perlu
sirnakna kabeh wong Dwarawati, kudu isa ngrangket ratu Dwarawati kinarya tumbal
Bratayudha Jayabinangun....! "
" Waa ladyalah....! Inggih, inggih....
Menawi namung babagan guna kasantikan kaprawiran kemawon kula boten badhe
ajrih, dipun tandingaken dateng sinten kemawon kula sagah...! " kata
Kumaradewa
" Dik Patih.... "
" Kula wonten dhawuh kakang
penemban.... " jawab Patih Sengkuni
" Niki kula wastani kriwikan dadi
grojogan, geguyon dadi tangisan, kula ajeng mboyong ratu Dwarawati wonten
pepalange.... " kata Begawan Durna
"
Sinten kakang penemban.....? "
" Nggih mestine nayaka lan para kawula
Dwarawati.... Pun sak niki Kurawa diketatke....!! "
" Nuwun inggih kakang penemban
ngestokaken dhawuh "
" Werkudara....! " seru Begawan
Durna
" Ya piye Durna bapakku....? "
jawab Werkudara
" Lan kowe Janoko.....! "
" Nuwun inggih bapa penemban....?
" jawab Arjuna
" Werkudara lan Janoko aja mingkuh
rasamu, aja menggok dalan pikiranmu ya ngger.... Tetepa anggonmu rukun karo
Sata Kurawa, kena tak tetepake yen to sing benthik-benthikke Kurawa karo
Pandawa nganthi padha padu ora ana liya kejaba ratu Dwarawati, kowe wis ngerti
dhewe to buktine....ing atase titise Bathara Wisnu sing kudune nggayuh
ketentraman lan kautaman tak boyong nang kok ora gelem, apa ngono kuwi ratu
sing nitis Bathara Wisnu? Ooo.... wis ora wangun kowe suwita karo ratu
Dwarawati....!! "
" Durna bapakku ya.... "
" He'em.... Ora ndadak walang ati
ngger, yen pancen kowe arep ngabekti karo Begawan Durna ngamuka neng Dwarawati
Werkudara aja wedhi kangelan.....!! "
" Waa..... aja ana sing melu-melu,
Kresna kakangku yen pancen ora gelem rawuh neng Ngastina, waa.... aku sing
bakal negakna karo Kresna.....!! " kata Werkudara
" Bagus, bagus..... tegakna,
tegakna.... ora papa kowe kelangan Kresna ning isih caket Begawan Durna kabeh
mesti bakal tentrem....! " kata Begawan Durna " Janoko ya ngono aja
nganthi kowe beda karo kakangmu ....!
"
" Bapa penemban, menawi kaka Prabu
Dwarawati boten kersa rawuh wonten negari Ngastina paripeksa kula ingkeng
kedhah mentala dateng koko Prabu Dwarawati....!! " kata Arjuna
" Bener, bener kaya ngono kuwi
ngger.... Dik Patih....!! "
" Kula wonten dhawuh kakang
penemban.... " kata Patih Sengkuni
" Para Sata Kurawa diketapke, nek ora
isa menang karo wong Dwarawati, Werkudara karo Janoko sing maju, nek ora isa
menang pasrahke anak muridku Kumaradewa....! "
" Nuwun inggih kakang penemban
ngestokaken dhawuh....! "
Patih
Sengkuni menyiapkan pasukan perang
kerajaan Ngastina untuk menggempur kerajaan Dwarawati. Kartamarma dan para
Kurawa berada dibarisan depan.
Gemuruh
bala tentara kerajaan Ngatina langsung disambut pasukan perang kerajaan
Dwarawati, pertempuranpun tak terelakkan
" Wah.... pancen wong Dwarawati ora
kena disangga entheng lan ora kena digawe becik.....! "kata Kartamarma
sebagai senopati Ngastina
" Ora usah ndadak kokehan bebangal
Kartamarma.....!! " sambut Arya Setyaki senopati Dwarawati " Hayo....
Begawan Durna bali neng Ngastina ora, ora bali aja takon dosa senadyan Kurawa
segelar papan Sentyaki ora bakal mundhur....!! "
" Babo, babo....!! wani karo aku....?!
" tantang Kartamarma
" Sing tak wedheni apamu....!! "
jawab Setyaki
" Ora minggat seka ngarepku tak tebak
dhadhamu dadi marganing patimu....!! "
" Singa lena prapteng lalis, aja lena
pangendamu Kartamarma sida tak pecah sirahmu....!! "
" Wohh... -brakk-....!! "teriak
Kartamarma terkena pukulan Setyaki
Mereka
bertarung diatara dua pasukan yang saling serang, suara dentingan pedang,
tombak dan suara jeritan prajurit yang terkena sabetan pedang dan tombak
Kedua
senopati saling adu tendangan dan pukulan, saling adu kadigjayaan. Tapi Arya
Setyaki adalah seorang senopati yang benar-benar mahir dalam olah krida dan
kanuragan, perlawanan Kartamarma tidak berarti sekalipun dengan membawa pedang,
tombak, sekali lengah Kartamarma disapu dengan gada wesi kuning jatuh
terkapar....!
" Ayo, ayo, ayo...... maju.....!!!
"
Aswatama
datang memimpin pasukan untuk mengeroyok Setyaki, datang Anoman untuk membantu,
prajurit Ngastina dibuat kocar-kacir lari tunggang langgang.
Tubuh
Aswatama digulung-gulung, seluruh tubuhnya dicabik-cabik Anoman hingga
berlumuran darah.
Begawan
Durna dan Patih Sengkuni menyaksikan kekalahan Kurawa menghadapi pasukan
Dwarawati
" Hoo.... Lole, lole.... ora eneng
apa-apane Kurawa dhik Patih....?! "
" Kurawa niku isa menang karo wong
Dwarawati niku gek kapan to kakang penemban..... " kata Patih Sengkuni
" Lawong Kurawa padha males nek dike gladen olah krida, ajeng dikon isa
menang saka ngendi....?! "
" Ooo lole, lole.... Werkudara,
Werkudara.....!! " teriak Begawan Durna memanggil Werkudara
" Durna bapakku piye.....? " jawab
Werkudara mendekati Begawan Durna
" Sentyaki karo Anoman ngamuk kae
ngger.... Yen kowe ora isa bandha, ora isa mateni Sentyaki, Ooo.... ora sudi
aku ngakoni murid karo kowe....!! "
" Waa.... Ya aja melu-melu tak patenane
Sentyaki.....!! "
Episode
4
Mundhur
sang rekyana patih
undang
mring pra wadyabala sawega
umyung
swaranipun bende beri
gubar
gurnang kalawan
puksur
tambar suling
pepanden
tunggul daludag
bandhera
mwah kakandha mawarna-warna
pindha
jaladiyan asri kawuryan
Ooong.....
Mundurlah
sang senopati
-lalu-
memanggil para bala tentara
-agar-
bersiap siaga
ramai
suara bende dan gong
gubar,
gurnang, juga
puksur,
tambur, suling,
berbagai
umbul-umbul
juga
berbagai bendera berwarna-warni
terlihat
indah bagai samudera
Ooong.....
Setelah
Arya Setyaki senopati Dwarawati berhasil memukul mundur Kartamarma dan
pasukannya ia harus berhadapan dengan Werkudara yang saat ini berada dipihak
kerajaan Ngastina
" Waa.... Setyaki....!! " seru
Werkudara
" Kula wonten dhawuh kakang mas....
" jawab Setyaki
" Kowe ora usah melu-melu perkara iki,
minggira aja adu balung karo Werkudara....!! "
" Kang mas, kula menika senopati negari
Dwarawati, menawi wonten tiyang ingkang badhe damel risak Dwarawati kula
ingkeng kedhah ngayomi negari Dwarawati ....!! "
"
Yen ngono kowe wani karo Werkudara....?! "
" Nuwun sewu, kula boten badhe
ajrih....! "
" Waa.... sida tak pecah ndasmu....!!
"
Sudah
jadi watak Werkudara yang kasar dan tanpa kompromi Setyaki senopati Dwarawati
langsung ditendang dipukul, diinjak-injak. Setyaki sama sekali tidak diberi
kesempatan melawan, para prajurit Dwarawati yang berusaha menolong malah bubar
kocar-kacir karena amukan Werkudara.
" Waa.... wani nantang Werkudara njaluk
mati kowe....!! "
....
-brakk-...!! .... -brakk....!!!
Tubuh
Setyaki dibanting, dinjak-injak, dilemparkan dan jatuh didepan Prabu Baladewa
" Setyaki kok tiba neng ngarepe
Baladewa....?! " kata Prabu Baladewa heran
" Kaka Prabu, kakang mas Jodhipati mbelani dateng Begawan
Durna, mbelani tiyang-tiyang Ngastina, nyatanipun mekaten....! "
" Nyatane ngono piye....?? "
" Inggih kula dipun pulasara kalian
kakang mas Werkudara, prajurit Dwarawati sami bubar mawut boten kantenan....
"
" Kowe senopati Dwarawati dipulasara
Werkudara kok wedi nyapo....? "
" Boten ajrih nanging boten uman
papan.... " kata Setyaki
" Kowe kalah....??! "
" Inggih kula kawon.... "
" Iblis laknat ngugu karepe dhewe....
Werkudara....!! Iki sing dadi mungsuhmu Baladewa, aja Setyaki mbok pulasara,
hayo tandingana Baladewa legane atiku.....!!! "
.
Namun
ditengah kemarahan Prabu Baladewa, Prabu Kresna tiba-tiba datang menghalangi
Prabu Baladewa
" Badhe tindak dateng pundi....? "
" Arep nesu jane.....?! "
" Lakok boten cios....? " tanya
Prabu Kresna
" La ana kowe.... " jawab Prabu
Baladewa
" Setyaki menika senopati kula....
"
" Ya... "
" Kaka Prabu kalawau rak sampun dhawuh,
ora arep melu-melu nek dereng angsal idhi palilah saking Nata Dwarawati, napa
kula pun dhawuh....? "
" Ya durung..... "
" Lakok badhe nesu....? "
" Ya timbangane sepi, ora ana sing
nesu...!? La njur aku dikon ngapa coba, Setyaki laporan karo aku nek dipulasara
Werkudara mosok aku meneng wae....?! "
. " Menika perkawis kula, kaka Prabu
kendhel boten sah tumut-tumut.... "
" Setyaki kuwi adhiku....!? "
bantah Prabu Baladewa
" Inggih kula ngertos, ning niki
senopati Dwarawati menika tanggel jawab kula, penjenengan boten usah
tumut-tumut...."
" Ya wis, ora entuk nesu....? "
kata Prabu Baladewa
" Boten, penjenengan kendhel
kemawon....
Setyaki....!?
"
" Kula wonten dhawuh sinuwun....?
" jawab Setyaki
" Kowe mundhur....? "
" Inggih.... "
" Tatu awakmu....?! "
" Dipun tendangi, dipun idak-idak
kakang mas Jodhipati, kula dipun pulasara dene kakang mas Werkudara.... "
" Kok kowe ora mbales....? "
" Kula boten wonten kalodhangan saget
mbales.... "
" Ya terus....? "
" Kula diajar diuncalaken ngantos
dhawah dateng ngajenge kaka Prabu Mandura, lajeng kula matur dateng ngarsane
kaka Prabu Baladewa...."
" La, aku dilapori Setyaki kaya ngono
kuwi aku mesthi muntap....! Ing atase aku wong tuwa dilapori adhi lanang,
Setyaki diajar ora entuk nesu piye....?! " kata Prabu Baladewa protes
" Inggih, penjenengan mendhel, mendhel
kaka Prabu....! "
" Mila kula lajeng mundhur, kula kados
pundi....? " kata Setyaki
" Nek wani tandingana, wani ora....?
" tanya Prabu Kresna
" Wantun.... "
" Ora usah sambat, senopati kok sambat
kuwi cara ngendi....? Senopati mbelani ratu, mbelani negara kok sambat karo
wong tuwa kuwi cara ngendi....? Yen ora saguh dadi senopati dadi nayaka liyane
wae, nek wis niyat dadi senopati, arepa tekaning pati diwujudi....!! "
" Nuwun inggih, nyuwun pamit....!
"
Setyaki
langsung melompat pergi menghadapi Werkudara, Prabu Baladewa beranjak melihat
kepergian Setyaki
" Wah, modar tenan bocah kae mengko
....? Kowe iki kok kebangeten, ana wong njaluk tulung kok ora entuk....? "
" Sampun kersane, mangke ndak Setyaki
menika dadi wong cengeng, dadi wong sing aleman, pendak-pendak kalah njaluk
tulung, kula boten remen. Nek wis gelem dadi senopati kudu teteg, tangguh,
tanggon atine, ora dadi cingeng kados ngoten niku.... "
" Ning nek diajar Werkudara cilik lara
gedhene tekaning pati....? "
" Nek lara kula tambani, nek mati, kula
nyuwun dateng ngarsane Gusti supados saget gesang waluya jati.... "
" Loh, nganggo apa...? "
" Kembang Cangkok Wijayamulya....
"
" Oh, ya ya.... " kata Prabu
Baladewa merasa lega
" La gene ngerti.....Kaka Prabu mboten
sah kuwatir, Kresna menika ngertos.... Pintera Baladewa mesthi okeh sing suwita
neng Mandura tinimbang Dwarawati..... " kata Prabu Kresna sambil ngeloyor
pergi
" Kresna sing ati-ati yayi....! "
" Inggih kaka Prabu...." terdengar
suara Prabu Kresna dari jauh
Saat
itu di medan peperangan Setyaki dihajar Werkudara untuk yang kedua kalinya
tanpa bisa melawan
" Waa.... ora kena dielingke sida tak
pecah sirahmu....!! " .... brakk....!! ..... -brakk....!!!
Tubuh
Setyaki dihempaskan ke batu, ditendang, diinjak-injak hingga ambruk meringkuk
tak berdaya
Mengetahui
keadaan Setyaki, Prabu Baladewa berlari-lari panik berteriak-teriak
" Waahh ladyalah.....! Kresna....!!
Kresna.... Wah iki piye yayi Prabu.... Setyaki mati....!!! "
Datang
Prabu Kresna dan mendekati tubuh Setyaki
" Waah yayi Prabu.... iki piye.....
Setyaki ora ambegan, Setyaki glethak kaya ngene kok kowe meneng wae, aja meneng
wae, gek ndang tambanana, gek ndang uripna....!!? "
" Sseett.....!! Pun kendhel,
kendhel....! " Prabu Kresna menyuruh diam
" La aku dikon meneng piye, arek iki
glethak kaya ngene kok dikon meneng....!!? " teriak Prabu Baladewa
" Setyaki....!? "
" Wonten dhawuh.... "
" Huu....asem koen iki ngapusi....!!
Tak kira mati....!!? " kata Prabu Baladewa sambil nyentak kepala Setyaki
" Inggih, nanging awak kula sakit, kula
boten kiyat glawat kaka Prabu....!? "
" Laa..... krungu ora, Setyaki iki
awake lara wis ora kuwat glawat diajar Werkudara....!!? "
" Setyaki piye....? " tanya Prabu
Kresna
" Inggih prasaja mawon kula kawon....
"
" Nek ngono Dwarawati bedah, pun kakang
bakal diboyong neng Ngastina.....!? "
" Sampun ngantos....!! " kata
Setyaki
" La kowe wis sambat kalah, senopati
nek wis sambat kalah terus ratune arep nyapo....? "
" Kaka Prabu, tinimbang kula mangertosi
panjenengan dipun boyong wonten Ngastina, kula pasrah pejah kemawon, kula
senopati sing bodho ora isa ngilangi sukertane negara, kula aturi mejahi kula
kemawon kaka Prabu.....!!? " kata Setyaki sambil menangis
" Terus, nek kowe wis mati rampung
perkarane, ya....? Dwarawati bedhah pun kakang diboyong neng Ngastina, apa
rumangsamu jenenge Setyaki ora dieling-eling karo para kawula, biyen ana
senopati peng-pengan jenenge Setyaki ngakune setya bekti marang ratu Dwarawati
marang negara Dwarawati, mbarang perang kalah njaluk mati terus dipateni.
Matine ora karo mungsuh ning karo ratu Dwarawati dhewe merga wis sambat njaluk
mati. Apa ngono kuwi ngarumke marang jenenge senopati, apa ngono kuwi ngreksa
karo jenenge senopati, hayo wangsulan....!? "
" Boten.... "
" Kowe mati kena wae, ning kudu mungsuh
Werkudara nganthi mati, kowe lagi dianggep senopati tenanan....! "
" Wah piye iki....Aa'..... aku entuk
usul ora....? " kata Prabu Baladewa panik
" Pareng, ning boten angsal nesu.....!?
" jawab Prabu Kresna
" Ya nek cara aku iki kowe padha karo
jlomprongna Setyaki neng jurang kasengsaran, Setyaki wis kalah karo Werkudara
isih tok kon maju nganthi tekaning pati.....?!! "
" Menika jiwane senopati.....! "
" Wah..... ora perkara jiwa senopati
ora perkara sumpahe senopati..... Ning iki perkara kamanungsan, iki adhimu
Setyaki ngladeni kowe pirang-pirang puluh tahun enthek-enthekane mung mbok kon
mati nganggo cara ngono kuwi, kowe nduwe rasa kamanungsan ora.....?!! "
" Kaka Prabu.... "
" Piye....? "
"
Menika wonten pundi....? "
" Ya neng Dwarawati.... "
" Ingkeng nggadhahi purba wasesa
sinten....? "
" Ha ya situ....! "
" Ratu kok muni ha ya situ....? Menika
perkawis kula.... " kata Prabu Kresna
" Ning Setyaki iki mesakke....!!?
"
" Inggih ngertos, menika sampun teng
petangan kula.... "
" Setyaki maju maneh....!! "
perintah Prabu Kresna
" Menawi dipun ajar....? "
" Kowe ora bakal krasa lara nek
diajar....! " kata Prabu Kresna
" Sabapipun....? " tanya Setyaki
" Tak wenehi ngampil pusaka.... "
Mendengar
ucapan Prabu Kresna, Setyaki langsung bangkit semangat
" Tenane.....!!? "
" Lo lo lo.... kok ngomong tenane.....?
"
" Anu sinuwun, estu napa...? "
" Ya tenan, kowe tak paringi ngampil
pusaka Sekar Cangkok Wijayamulya....! "
" Laa, ngono kuwi jenenge lagi adil,
disilihke kembang kuwi, aja mung ditandhur neng omah dhewe.....! " kata
Prabu Baladewa ikut semangat kegirangan
" Kaka Prabu penjenengan niku, kembang
pusaka kok ditandhur sak penake dhewe.... "
"
Lo la iya.... disilihke Satyaki.... Dayane apa Kresna....? " tanya Prabu
Baladewa
" Menawi Setyaki dipun jothosi mboten
kraos, ditamaki pusaka boten tumama lan mboten saget pejah awit sampun mundhi
Sekar Cangkok Wijayamulya.... "
" Wahh jian, iki kowe arep gleleng
Setyaki, cepakna sirahmu kowe ditendangi Werkudara ora krasa lara, kowe disudet
Kuku Pancanaka ora bakal tumama, kowe ora isa tekaning pati, wahh..... gek
ndang dijaluk-dijaluk....!! "
" Inggih.... "
" Gek ndang dijaluk aku tak pingin
weruh kaya ngapa wujude Sekar cangkok Wijayamulya, kit mbiyen nganthi sak iki aku dadi kakangne
lanang durung tau ngerti wujude Sekar Cangkok Wijayamulya.... Hemm.... bokongku
nganthi gatel Setyaki....!!? "
" Kenging menapa....? "
" Wahh.... klebon kewan cilik
pirang-pirang sajake wis nyusuh neng kono, nggon sing anget pating kruntek gak
karu-karuan....!? "
" Setyaki.... Sekar cangkok Wijayamulya
tampanana....!! " kata Prabu Kresna
" Nuwun inggih ngestokaken dhawuh
sinuwun....! "
Prabu
Sri Bathara Kresna mengeluarkan pusaka Sekar Cangkok Wijayamulya yang keluar
dari kancing gelungnya dan Prabu Baladewa maju mendekati pusaka tersebut dengan
terheran-heran
" Ee'eee.... la gene mung kaya
tetehan.....!? "
"
Tetehan pripun to menika pusaka.... "
" La iya, ming kaya ngene iki, wite
cilik kembange elik ngono wae kok Sekar Cangkok Wijayamulya....!? " kata
Prabu Baladewa
" Menawi ngece mangke kuwalat lo kaka
Prabu....!? "
" Ya ora lah, kembang kok malati....
gek ndang dijupuk gek ndang dipundhi Setyaki....!! "
" Nuwun inggih ngestokaken dhawuh....
"
Pusaka
Sekar Cangkok Wijayamulya sudah dibawa Setyaki dimasukkan kedalam kancing
gelungnya
" Setyaki wis kanggonan pusaka
mangkato, ning pesenku yen dikapak-kapakke karo Werkudara apa dene Janoko kowe
ora entuk mbales, merga kuwi kadangku.... Wis mangkato....! "
" Nyuwun inggih ngestokaken dhawuh,
nyuwun tambahe pangestu.....! " Setyaki sembah sungkem kepada Prabu Kresna
Setyaki
kehadapan Prabu Baladewa
" Nyuwun pangestu....! " kata
Setyaki sambil berdiri
" Nyembah no....!! "
" Oh, nggih nyuwun pangapunten
kesupen.... "
" Wah jian gleleng kowe nganthi lali
sungkem karo pun kakang... Wis mundhi pusaka Sekar cangkok Wijayamulya nganthi
sak penake dhewe....!? " kata Prabu Baladewa
" Mangkat perang....!! " kata
Setyaki beranjak pergi dengan gagah dan percaya diri
" Waahh..... seneng aku, ha ha
ha....ndhelok wong perang....!! " kata Prabu Baladewa dengan senang dan
bangga mengikuti perginya Setyaki
" Kaka Prabu ampun caket-caket mangkin
ndak malah wonten menapa-menapa....! "
" Ya Kresna....! "
Episode 5
Umyang
swaraning wadya
wus
samapta munya
kendhang
gong beri arebut papan
ing
sajuru-juru
tan
ana liru pernah
rekyana
patih mangka cucuking
pra
wadya kuswa
risang
Wresniwira mahambeg sudira
prawira
tumangguh
Ooong......
Ramai
suara bala tentara
sudah
siap dibunyikan (pertanda perang)
kendhang
gong beri silih berganti
pada
sesuai-irama- waktunya
tidak
ada yang salah-giliran-waktunya
senopati
yang berada di depan
-dari
barisan- para prajurit
adalah
kesatriya dari bangsa Wresni yang berwatak pemberani
perwira
yang tangguh
Ooong.....
Arya
Setyaki senopati Dwarawati untuk yang ketiga kalinya berhadapan perang dengan
Werkudara, tapi kali ini Werkudara heran menyaksikan tingkah laku Setyaki
" Nyoh.... nyoh....!! " Setyaki
beberapa kali menunduk menyodorkan kepalanya kepada Werkudara
" Waa.... Setyaki ngapa....? "
" Sampean rene arep nyapo....? "
Setyaki balik bertanya
" Arep nglabrak kowe, nglabrak wong
Dwarawati....!! "
" La iya iki ajaren.... ayo, nyoh....!!
" kata Setyaki sambil menyodor-nyodorkan kepalanya
" Waa.......?! "
" Ora usah wah weh, ayo gek ndang....
ajaren Setyaki....!! "
" Waa.... tak pecah ndasmu....!!?
" teriak Werkudara
" Ayo jajal....!? "
.... - bruakk- ....!! .... -brakk....!!!
Werkudara menendang, memukul Setyaki dengan keras
" Waa.... ora papa....??! " kata
Werkudara heran
" Cah glelenge le..... nyoh....
nyoh....!! " kata Setyaki sambil menyodorkan kepalanya
" Waa.... modar kowe....!! " ....
-prakk- ....!! -brakk - ....!!!
" Kukune digawe, aja mung dinggo goleki
upil....! " kata Setyaki mengejek Werkudara
" Waa.... nyepelekke.... Tak sudet Kuku
Pancanaka modar kowe....!! .... hugh....!! .... heeggh...!!! .... Waa .... ora
mempan....?? "
" Waa....wong edan.....!! " ....
-pruakk-.....!! ..... -brakk- ....!!!
Werkudara
penasaran masih menghajar Setyaki
" Ora papa le.....!!? "
" Waaa......??! " Werkudara
melompat kabur ketakutan, dikejar Setyaki
" Hayo.... amuk suramrata jaya
mrata....!!"
Dari
jauh Prabu Baladewa melihat pertarungan mereka, melihat Setyaki menang, Prabu
Baladewa berteriak-teriak kegirangan
" Waaa.... ha ha ha...., ayo terus
Setyaki.... Werkudara kalah.... ha ha ha.... wle wle wle wle, wlo, wlo,
wlo....!! "
Setyaki
berhadapan dengan Arjuna
" Hayo.....amuk suramrata jaya mrata
imbang yen padha-padha... !! .... Nyoh.... nyoh....!! " kata Setyaki
sambil menyodorkan kepalanya di depan Arjuna
" Nyapo kowe Setyaki....??! "
tanya Arjuna heran
" Kang mas badhe menapa....? "
" Arep nglabrak kowe....!! "
" Ya ayo.... nyoh....! nyoh....! Nadyan
sampean lelananging jagad lancure bhawana, jagone dewa Setyaki ora wedi....
nyoh....! nyoh....!! " kata Setyaki sambil menyodor-nyodorkan kepalanya
" Sida pecah sirahmu....!! "
....
-praakk-....!! brakk....!! .... -bruakk....!!!
" Ora krasa apa-apa....!? "
" Wong edan.....!! " .... brakk....!!
brakk....!!!
" Nganggo pusaka.... ayo, nyoh....! aku
tak mapan....!! "
" Ketiban kerisku sida brodol ususmu
tinjung akherat nyawamu....!! " sesumbar Arjuna
" Ayo gek ndang, aku tak
mapan....nyoh....!! " kata Setyaki menyodorkan dadanya kehadapan Arjuna
" Menungsa ora tatanan, .... ora
tinjung akherat nyawamu aja diundang Janoko....!! Mati dhening aku kowe....!!
"
Arjuna
menusukkan keris ke dada Setyaki ....chuss....!! seketika itu Setyaki ambruk
dihadapan Arjuna
" Hayo.... nek pancen kowe satriya
digdaya tangiha....!! " sesumbar Arjuna
" Di kon tangi ya tangi....!! "
kata Setyaki sambil bangkit berdiri lagi.
" Wong edan.....!! " Arjuna kaget
dan melompat kabur ketakutan
" Hayo.... amuk suramrata jaya
mrata.....!!! "
Prabu
Baladewa berteriak-teriak sambil melonjak-lonjak kegirangan melihat Arjuna
kalah dengan Setyaki
" Waaa..... ayo terus Setyaki.... waaa
ha ha ha ha..... Janoko kalah.... wle wle wle..... wlo wlo wlo wlo..... weekk,
weeekk.....!!! "
Prabu
Kresna melihat dari jauh heran menyaksikan tingkah laku Prabu Baladewa
" Ratu kok kaya ngono ta ya.... Lawong
adhine menang kok ya olehe ngguyu cekaka'an karo ngewer-ngewer cangkem nganti
wle wle wle..... Kaka Prabu, mbok ampun kados lare alit, Setyaki menang boten
usah seneng-seneng kados ngaten menika.....!!? "
Prabu
Kresna datang mendekati Setyaki, tak lama kemudian datang Prabu Baladewa
" Waaa..... ha ha ha.... Werkudara,
Janoko padha mundhur..... ha ha ha.....!! "
" Kaka Prabu, sampun kados ngaten,
biasa kemawon menawi Setyaki menang.... "
" Haaa.... ha ha ha.... aku bombong aku
seneng, Setyaki digdaya sekti kalitan jaya ningrang, disudet kuku
Pancanakane Werkudara ora papa, pusakane
Janoko ora tumama..... Waahh gleleng adhiku Setyaki.... ha ha ha..."
"Setyaki piye....? " tanya Prabu
Kresna
" Matur sembah nuwun..... " jawab
Setyaki
" Ya padha-padha...."
" Nanging sareng kula gagas-gagas dadi
wong menangan boten penak.... " kata Setyaki
"
Loh, kok ora penak....? "
" Kula diajar, kula dijhotos,
ditendang, ditamaki pusaka boten napa-napa, para prajurit pada sorak-sorak,
ning kula boten angsal mbales teng ati rasane lara kaya dirajang-rajang....kula
niki senopati kula niki prejurit ora mbales niku rasane lara....! "
" Eee.... ya bener kuwi....! "
sela Prabu Baladewa " Jejere senopati kok ora entuk males kuwi cara
ngendi, atine rak ya lara ya Setyaki.....!? "
" Inggih, sakit manah kula kaka
Prabu..... "
" Ya sing ditabah-tabahke ya
Setyaki.... pancen Kresna ya ngono kuwi.....!? " kata Prabu Baladewa
" Meksa kurang to kowe....? "
tanya Prabu Kresna
" Inggih kirang..... "
" Ya, kowe kena mbales, ning ora karo
Werkudara lan Janoko, kae adhiku lanang lagi lali.... "
" Inggih..... "
" Werkudara wae itungen lehe ngantem
ping pira, Janoko ping pira..... Wis ngerti to sapa sing mbok bales....?!
"
" Estu napa....?? "
" Ya tenan, aku nek ngomong ki
tenanan....! " kata Prabu Kresna
" Lahir batin....? "
" Ya lahir batin.....! "
" Sampun angsal pikantuk palilah.....??
"
" Wis entuk palilah.....!! "
" Oh nggih nyuwun pangestu......!!
" Saking senangnya Setyaki langsung melompat berbalik sampai nabrak Prabu
Baladewa...... Waaa -brakk.....!!!
" Ooo.... cenanangan......!!! "
teriak Prabu Baladewa kaget
" Ora to, mengko dhisik, Setyaki kok
gembira nyapo, lehe mlayu sampek nabrak aku.....?! "
" Kaka Prabu napa boten ngertos....?
"
" Ora, ora ngerti.....? "
" Ingkeng sowan kalawau rak Begawan
Durna.... "
" Ya, ditutke Janoko karo
Werkudara.....? "
" Setyaki pingin males, kula dhawuh Setyaki
kowe kena mbales, itungen Werkudara lehe ngantem ping pira, Janoko lehe ngantem
ping pira, lehe males ora karo Janoko napa Werkudara.... "
" La karo sapa.....?? " tanya
Prabu Baladewa
" Nggih kalih lengganane Setyaki,
Begawan Durna....! "
" Waaa ha ha ha ha..... Ha ha ha....!!
"
" Kaka Prabu.....! "
" Piye....? "
" Ratu kok ngguyune kaya maling.....!?
" kata Prabu Kresna
" Maling cengelmu kuwi.....! Kowe iki
ngunekke kakangmu kok kaya maling sak penake dhewe.....! Waaa ha ha ha
ha....... Wah jian seneng aku, tak ndhelok Setyaki..... tak ndhelok
Setyaki....!!? " Prabu Baladewa pergi mengikuti Setyaki
Setyaki
bertemu Werkudara langsung menyodorkan kepalanya agar dipukul
" Waa..... cah ampuh, cah
gleleng......!? "
" Ora usah ndadak ngalem..... ayo
nyoh....! " kata Setyaki menyodorkan kepalanya
" Waa...... " -brakk......!!!
" Siji....! "
" Waa..... ndadak diitungi .....??
"
" Ya ben sak karepku..... nyoh....!!
"
" Waa..... " -brakk......!!!
" Wolu....! "
" Waa..... mundake kok akeh....??!
"
" Ya ben, saiki bank plecit neng
ndi-ndi ana mundake okeh....!! " kata Setyaki
" Waa..... modar kowe......!! "
-brakk.....!!! "
" Rong puluh....! "
" ..... -brakk.....!!!
" Seket lima.....! "
" ..... -brakk....!!!
" Sangang puluh wolu.....! "
..... -brakk....!!!
" Satus seket....! "
" Waa..... mbalesa.....!! "
" Tak bales, mati dening aku
kowe.....!! " Teriak Setyaki tapi terus melompat lari menghindari
Werkudara
Setyaki
berhadapan dengan Arjuna
" Amuk suramrata jaya mrata.....
hayo.... nyoh.....!! " Setyaki menyodorkan kepalanya
" Nyapo iki....?! " tanya Arjuna
heran
" Gek ndang wis ajaren Setyaki.....!!
"
Arjuna
memukul kepala Setyaki sekeras-kerasnya
....
-brakk....!!!
" Satus seket ditambah wolu likur.....
Satus wolung puluh loro.....! "
" Menungsa edan.....!!
"-brakk....!!!
" Rongatus pitung puluh siji....!
"
..... -brakk-.....!!!
" Telungatus.....!! "
..... -brakk- .....!!!
" Patangatus.....!! "
" Hayo mbalesa....!! "
" Mati dening aku kowe....!! "
Setyaki melompat lari menghidari Arjuna
Begawan
Durna terlihat dari jauh sedang sendirian menahan rasa ngantuk......
-degluk..... -degluk-..,.. -degluk.....
Setyaki
mendekati Begawan Durna pelan-pelan
Begitu
dekat kepala Begawan Durna disahut langsung dijhotos sekeras-kerasnya
" Yaaaa..... !!! "
-brakk....brakk....brakk .....!!!
" Hadohh...... hadooohhh.....lole,
lole..... hadoohh mati aku......!! " .... prakk.....!!!....
-brakk-....!!!.... -brakk.....!!!!
Setyaki
melampiaskan kemarahannya tidak perduli Begawan Durna sudah tak sadarkan diri
" Hayo sida tinjung akherat
nyawamu.....!!! ... -brakk....!! -brakk....!!! -brakk....!!! -brakk....!!!
" Waah puas....!! " kata Setyaki
lalu ngeloyor pergi
Datang
Prabu Baladewa mendekati Begawan Durna yang sedang terkapar
" Asem Setyaki iki, aku ora
dingengehi.....!?? "
" Huuu.....!! " -brakk.....!!!
Prabu Baladewa menendang tubuh Begawan Durna " Hayo tangiha.....!!
Tangiha....!! Kapok modar kowe.... hayo tangiha.....! Boyongen Kresna.... Huhh
pendhita ndok bosok kowe....!! Hiihh.... -brakk-...!!!
Setelah
melampiaskan kemarahannya Prabu Baladewa pergi. Tak lama kemudian datang Prabu
Kresna
" Iih kowe.....!! -buukk....!! "
Terdengar
suara Prabu Baladewa " Ya gene kowe ya melu nggajul.....!? "
" Boten kaka Prabu, kula namung mesakke
kemawon, he he he...."
Datang
Werkudara bersama Arjuna mendekati tubuh Begawan Durna yang meringkuk tak
berdaya
"
Waa..... Durna bapakku kena ngapa....?? "
" Bapa penemban.... kenging menapa
bapa.....?? " kata Arjuna panik
Tapi
tak lama kemudian Setyaki datang lagi, langsung menendang tubuh Begawan Durna
sekeras-kerasnya
.....
-brakk....!!!
" Ajeng mbelani mangga nek ajeng
mbelani.....! " kata Setyaki kepada Werkudara dan Arjuna " Hayo....
belanana Setyaki ora wedhi, Setyaki ora isa dipateni....!! "
Werkudara
dan Arjuna diam saja
" Hayo nek ajeng mbelani guru
sampean.....!! " .... -brakk....!!! kata Setyaki dan menendang lagi tubuh
Begawan Durna lalu ngeloyor pergi
Datang
Prabu Baladewa dan langsung menendang tubuh Begawan Durna.... -brakk....!!!
" Kowe arep mbelani, arep mbelani
gurumu ya.....!! " teriak Prabu Baladewa " Wong salah tok belani wong
luput tok belani....!! Kowe iki satriya, kowe iki satriya piye hem....?! Kudune
mbok petung pakartine Durna kuwi bener ora....! Ayo muniha.....!! Tak kandhakke
Setyaki kowe mengko, Setyaki diantem ora krasa lara, ditamaki pusaka ora
tumama.....!! Setyaki kae ora isa dipateni....!! Ayo meniha kowe.....
Muniha....!!? "
Werkudara
dan Arjuna hanya diam saja mengadapi kemarahan Prabu Baladewa. Lalu Prabu
Baladewa pergi.
Datang
Prabu Kresna
" Piye.... nek wis ngene iki dadine
piye hem....? Lawong Kresna kok mbok nggo dolanan, kewirangan kowe neng
Dwarawati....!? " kata Prabu Kresna terus pergi
" Werkudara..... Werkudara......!
" tiba-tiba terdengar suara Begawan Durna, merangkak-rangkak mau bangun
" Waa..... piye Durna bapakku.....??
"
" Ooo..... pancen bleguduk
monyor-monyor.... Werkudara aku tangekna....! "
" Ya kene, ndak cekeli tangiha....!
" kata Werkudara sambil membantu Begawan Durna untuk bangun
" Ooo lole lole.... dha siya-siya karo
Begawan Durna.... Muridku loro Werkudara, Janoko kalah karo Setyaki..... Ooo
ngger anak Prabu Kumaradewa, kowe ora isa mateni Kresna aku ora sudi menehi
ngelmu karo kowe Kumaradewa.....!! "
Episode
6
Sigra
kang bala tumingal
acampuh
samya medali
lwir
thathit wileding gada
Ooong.....
dhangyang
gung manguncang niti
Ooong.....
Dengan
segera prajurit yang nampak
bercampur
saling menyerang
seperti
kilat menyambar beradunya wewangian
Ooong......
pandhita
agung terus menerus kemayan -merapal mantra-
Ooong.....
Mendengar
perintah Begawan Durna, Prabu Kumaradewa langsung melesat maju ke medan
pertempuran dengan senjata pusaka di tangannya
" Panuksmaning jajal laknat skertaning
bawana iblis keparat....! Wah, abot pitukone. Nanging gandheng jroning atiku
uga nduwe rasa serik gething lan sengit karo titising Bathara Wisnu, mbiyen
mungsuhku Prabu Rama Wijaya wis tekaning pati, Wisnu manitis marang Ratu
Dwarawati.... Tak clorong pusaka ora sirna marga layu aja diundang Prabu
Kumaradewa leganing atiku.....!! "
Saat
itu Prabu Kumaradewa menghunus pusaka membentangkan jemparing diarahkan ke dada
Prabu Sri Bathara Kresna
Jumeneng
sang Nata Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, nalika semanten wus weruh
lampahing jemparing ingkeng den lepasaken dene sang Prabu Kumaradewa parandene
mangke ing batos nedya den ungalaken dhadhane sang Nata Dwarawati, tanggap
wontening gegantangan nenggih sang Anoman anggenipun rumaos dados pengayome
tuwin pamomonging titising Bathara Wisnu, cumlarat saking dirgantara jumeneng
sak ngajenge Nata Dwarawati tumandhuk dhadhane sang Anoman sirna marga layu,
ngumpruk tanpa daya....!
Diam
berdiri saat itu sang Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, saat itu sudah
mengetahui larinya pusaka jemparing yang dilepaskan sang Prabu Kumaradewa yang
dengan sengaja dibidikkan tepat kedada sang Raja Dwarawati, tanggap sang Anoman
yang merasa sebagai pengayom dan pamomong titisnya Bathara Wisnu, melesat dari
angkasa dan berhenti berdiri dihadapan sang Raja Dwarawati tembus dadanya sang
Anoman oleh pusaka hingga menemukan ajal, tubuhnya ambruk tak berdaya....!
Pusaka
jemparing yang dilepaskan Prabu Kumaradewa melesat secepat kilat mengarah ke
dada sang Prabu Sri Bathara Kresna, namun secepat itu juga sang Anoman
menghadang larinya pusaka hingga pusaka jemparing menghantam dada Anoman hingga
ambruk tanpa daya
" Aduh.... mati aku.....!!! "
" Woohh.... Anoman....!!? " teriak
Prabu Kresna kaget mengetahui Anoman ambruk terkena pusaka jemparing
Sigra
lolos sukma saking raga, ngambah alam mantara, tanggap sang Nata Dwarawati
nyumurupi sang Anoman nyendal tali wangsul sukma nilaraken raga, sigra tanggap
nututi tindake sang Anoman sang Nata Dwarawati
Segera
lepas sukma dari raga, melayang ke alam sukma, tanggap sang Raja Dwarawati
mengetahui sang Anoman dalam keadaan lepas sukmanya meninggalkan raga, segera
tanggap mengkuti sukma sang Anoman sang Raja Dwarawati
Sukma
sang Anoman lepas dari raganya, maka tanggap sang Prabu Kresna dengan hening
keluar sukmanya mengikuti sukma sang Anoman.
Hingga
jasad Prabu Kresna pun berdiri tak bernyawa
Prabu
Kumaradewa melompat menari-nari kegirangan setelah mengetahui sang Anoman dan
Prabu Kresna dalam keadaan tidak bernyawa
" Haaa.... ha, ha, ha....e'aa....
e'aa.... e'aa.... e'aa..... ha ha ha ha..... Hayoh kowe ora bakal isa glawat
pusakaku tumandhuk neng dhadhane kethek putih sing bisa tata jalma.... Waa
ladyalah..... Ha ha ha ha.... Anoman modar, iki piwalesku nggonmu wis orak-arik
prejurit Ngalengka nalika semana, ewone prejurit yaksa bosah baseh kaya babatan
pacing....!
" Hee prejurit....! Aja digawe macak,
raga loro iki diboyong neng negara Ngastina....!! " perintah Prabu
Kumaradewa kepada pasukannya
" Ayo .... yo, yo, yo..... goyong,
gotong.... dibandha, dibandha.... krincung sikile..... yo, yo, yo......!!!
" suara riuh para prajurit membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna diikat
digotong dibawa ke kerajaan Ngastina
Begawan
Durna pun merasa senang bukan kepalang menyaksikan Prabu Kumaradewa telah
berhasil membunuh Anoman dan Prabu Kresna, karena saking senangnya menari-nari
dihadapan Prabu Kumaradewa
"
Haaa ha ha ha..... e'oo.... e'oo.... e'oo.... e'ee....e'ee ....!! e'oo....
e'oo... e'oo.... e'ee.... e'ee......!! "
" Oo lole, lole..... Anak lanang anak
anung anandhita, bocah mursid isa mikul dhuwur mendhem jero karo wong tuwa.....
Kumaradewa murid kesayangnku ngger, ya mung kowe sing bisa nyirnakake Ratu
Dwarawati karo si Anoman munyuk putih, modar dina iki kwandane dibandha
dikrincung sikile neng negara Ngastina. Syokur, syokur ngger..... ha ha ha
ha....! "
" Bapa penemban nanging kula nyuwun
pitumbasipun....! " kata Prabu Kumaradewa
" Pitukone apa ngger.....? "
" Kula estunipun boten kepingin
ngelmu.... "
" Loh, njaluk apa....? Apa njaluk
bandha dunya, mas picis, mas inten berlian kowe njupuka neng Sukalima, Sukalima
kuwi nadyan pertapan ning sugih ora bakal kekurangan bab bandha dunya tak
kandhani....! "
" Boten.... " jawab Prabu
Kumaradewa
" Apa kowe njaluk kreta kencana tinarik
kuda wolu sing ampuh-ampuh, njupuka....! "
" Boten menika penemban..... "
" La njaluk apa....? Apa kowe njaluk
tumpakan gajah cacahe patang puluh....? "
" Kula nyuwun saget kasembadan saget
mboyong titise Widyawati ingkeng sak menika mapan dateng Kasatrian Madukara,
ingkeng aran Dewi Wara Sembadra menika kedhah kula boyong dateng negari
kula.... "
" Sembadra.....?? " tanya Begawan
Durna heran
" Inggih kula ngersakaken Dewi Wara
Sembadra.....! "
" Kumaradewa, aja seru-seru.... Neng
kene ana bojone....!? " kata Begawan Durna sambil merendahkan suaranya
" Inggih kula ngertos..... "
" Nek kowe butuh Wara Sembadra ora
papa, ora papa, tak usahakake...."
" Caranipun kados pundi.....? "
tanya Prabu Kumaradewa
" Ooo.... kowe ora ngerti, Janoko kuwi
karo aku manut banget....! Aja kok mung bojone, tak jaluk nyawane
diwenehke....! "
" Oo nggih....? "
" He'em..... Aku isa wae ngomong,
Janoko kowe wis ora pantes urip neng alam ndunya, kowe kudu ngabekti karo bapa
guru supaya bapa gurumu isa langgeng uripe, kowe kudu tekaning pati, Janoko
mesthi terus nyerahke nyawane, mangga bapa, terus tak suduk dhadhane Janoko
blus ....!
Janoko
mati Sembadra randa terus tok gawa....! "
" Estu napa....!!? "
" Alon-alon...."
" Estu napa penemban...." tanya
Prabu Kumaradewa penasaran.
" Ya wis ngono kuwi, sistimatis ngono
kuwi...! "
" Oh inggih, inggih..... wah gampil
sanget....! "
" Ya gampang, pokoke nek golek wong
wedok kuwi gampang nek karo aku....! "
" Ngaten....? "
" He'em.... merga aku ya ana sing tak
incer...."
" Loh, ingkeng dipun incer menika
napa.....? "
" Janoko mati, Sembadra randha,
randhane ana siji maneh sing tak incer...."
" Sinten.....? "
" Sri Wahyuni ..... Eh anu Srikandi....
Sri Wahyuni rak kancane dhalange.... he, he, he.... "
" Srikandi penemban.....?? "
" Ya, Srikandi mbiyen kuwi yayangku....
"
" Loh, menapa nggih....? "
" Ya, kuwi putri Pancawala, kuwi mbiyen
seneng karo aku, ning gandheng Janoko kuwi thukmis direbut karo Janoko....
Jan-jane aku iki ya lara ati karo Janoko, merga Janoko wani ngrebut maniking
atiku.....! "
" Mekaten....? "
" He'em, he'em...."
" Ning mangkin nek Srikandi boten purun
kalih penjenengan.....? "
" Hello, ora gelem ya dipeksa. Srikandi
angger tak wenehi japamantra, tak tamani aji jaya kawijayan, tak tamani aji
pengasihan.... Kuwi mengko isa malik paningale, Srikandi yen nyawang aku nadyan
wis tuwa ngene iki ning rumangsane Srikandi aku iki baguse ngungkuli Janoko,
kuwi mengko wong ora gelem dadi gelem, wong ora tresna dadi tresna...! "
" Oh ngaten....? "
" Wis ngono wae ya Kumaradewa....
Mengko perkara Wara Sembadra tak gayuhke, ning kowe sing tentrem, aja kesusu,
aja grusa-grusu. Saiki, dina iki ngumpul neng negara Ngastina murungake
Bratayudha Jayabinangun.....! "
" Inggih, inggih ngestokaken dhawuh....
"
" Aja nganti krungu Janoko kowe
kepingin mengku garwa karo Wara Sembadra....! "
" Inggih ngestokaken dhawuh, sumangga
kula dherekaken penemban....! "
Saat
itu di kraton Dwarawati Prabu Baladewa panik karena mengetahui Anoman telah
mati juga jasad Prabu Kresna diringkus para prajuritnya Prabu Kumaradewa dibawa
ke kerajaan Ngastina
" Waaa..... ladylah.... Setyaki , ketiwasan...
Setyaki.....!! Waah.... iki piye kok kahanane dadi kaya ngene iki Setyaki...!!?
" teriak-teriak Prabu Baladewa
mencari Setyaki
" Ketiwasan kados pundi kaka
Prabu.....??! "
" Waahh, kowe kok ora weruh sing sak
nyatane, yayi Prabu Dwarawati dibandha, dikrincung sikile karo para Kurawa,
kadangmu Kendalisada ya tekaning pati..... Waahh kedadehane kok kaya ngene, aku
kudu piye Setyaki.....?!! "
" Kaka Prabu, menawi jengandika namung
kados mekaten boten badhe ngrampungaken perkawis menika, upami kula dados
jengandika, dados kadangipun sepuh Nata Dwarawati kula badhe ampyak awur-awur
dadi apa wae tak wujudi...!! "
" Waaa ya Setyaki..... ayo ampyak
awur-awur nang negara Ngastina..... Wong-wong Ngastina tak grethel ngango
Nenggala keparat..... !!! "
Episode
7
Myat
langening kalangyan
aglar
pandam muncar
tinon
lir kekonang
surem
soroting tan padhang
Oong.....
Ooong......
kasor
lan pajaring
purnama
gegana
dhasare
mangsa ketiga
ima
inaweng ing ujung ancala
asenen
karya wigena
miwah
isining wana
wreksa
gung tinunu
Ooong......
Melihat
indahnya tempat yang disukai
bertebaran
suluh (dilah) menyala
terlihat
seperti -cahaya- kunang-kunang
sinarnya
suram tidaklah terang
Oong.....
Ooong.....
kalah
dengan -sinar- yang dipancarkan
-oleh-
rembulan diangkasa
karena
memang musim kemarau
awan
yang menutupi puncak gunung
bersorot
menyedihkan
juga
isi hutan
pohon-pohon
yang besar terbakar
Ooong......
Di
rumah Ki Lurah Semar Badranaya, Raden Abimanyu sowan, yang saat itu punakawan
Semar Badranaya sedang berkumpul bersama anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan
Bagong
" Hee.... mbegegeg ugeg-ugeg....
hmel-hmel, sak dhulitha..... Ndara Abimanyu rawuh dateng Karang Kadempel.
Hee.... wonten menapa gus, kok kados sumengka tindakipun, kula ngaturaken
sembah pangabekti kula konjuk nggih den....? " kata Semar menyambut
kedatangan Abimanyu
" Ya siwa Semar bektimu tak tampa,
pangestuku tampana..."jawab Abimanyu
" Eee nggih nggih, kula pundi ngge
jimat dayanana ing kasantosan...."
" Ndara kula ngaturaken sembah
pangabekti kula nggih den.... " kata Nala Gareng
" Kula nggih ngaturaken sembah
pangabekti ndara.... " kata Petruk
" Inyong Bagong nggih nyuwun sangu
ndara.... eh anu ngaturaken sembah sungkem konjuk ndara.... "
" Kowe iki kok clometan karo ndara
Abimanyu to Gong...! " kata Petruk mengingatkan Bagong
" Anu, aku mau ki slier-slier.... tak
kira nek dha njaluk sangu, he he he.... " kata Bagong sambil bercanda
" Wis to thole, ada padha gojekan
wigatekke ngendikane ndaramu thole....! " kata Semar memperingatkan
anak-anaknya
" Iya Nala Gareng, Petruk lan Bagong
bektimu tak tampa " jawab Abimanyu
" Siwa Semar...." kata Abimanyu
" Eeh kula ndara....? "
" Apa siwa Nayantaka ora krungu kabar
yen to dina iki kanjeng rama panenggak klawan kanjeng rama panengah wis lenggah
anaing Ngastina, padha diblithuk dening tembung manis dening para Kurawa
ingkeng bakal balekake negara Ngastina sak sigar semangka. Mangka kuwatire
Abimanyu kiyai Nayantaka ngerti dhewe lamun kanjeng rama banget nggone percaya
klawan eyang penemban Sukalima wekasan
ora isa menggalih kanthi wening.... Kepiye mungguh pinemune kiyai Semar yen
nganthi wong tuwaku ora tanggap karo rekadayane wong-wong Kurawa kaya ngapa
mengko kedaehane wong tuwaku sak kloron wo Semar.....? "
Semar
eko den prayitno
semu
ririh eko balik
Oong.....
titi
yoni ganda yoni
tri
sonya purnama sasi
Gilar-gilar
tengahing latar
Oong.....
Milangana
lintang bima sekti
katon
ambyar ing angkasa
Ooong....
" Hee..... lakok mekaten to .... Mangka
kanjeng rama menika satriya pinunjul, kekalihipun menika satriya lanthip
panggrahitane ewadene lakok tasih saget dipun blithuk dening Begawan Durna.
Hee.... den, menawi sampean boten ngemutaken keng rama padha karo sampean niku
mentala nyumurupi dateng kasangsaranipun ingkeng keng rama kekalih. Saking
surasa ingkeng kula waos para Kurawa niku namung badhe ndamel tumpese para
Pandhawa, ugi ndara sinuwun Dwarawati sak menika dipun rah patine kalih para
Kurawa ndara....! "
" Ngestokake dhawuhmu wa Semar.... Mula
saka kuwi wa Semar apadene Nala Gareng, Petruk lan Bagong ayo tutna laku
jlantraku prapta anaing Ngastina, yen pancen kanjeng rama apa dene kanjeng wa
Jodhipati ora bisa tak emutake sarana aris kudu tak rodaparipeksa kondur marang
Ngamarta wo Semar....! "
" Hee.... nggih den, sumangga kula
dherekaken lampahe ndara Abimanyu.... "
Semar
Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong mengiring kepergian
Abimanyu menuju kerajaan Ngastina
Pada
saat yang bersamaan di khayangan Ondar-Andhir Bhawana sukma Mayangkara
menghadap Sang Hyang Wenang
" Om mastumana sidam sekaring bawana
langgeng.... Mayangkara ingkeng sowan ngabyantara neng ngarsa ulun, padha
raharja kanthi sak praptamu ngger Senggana....? "
" Inggih pukulun, tansah winantu
kabagyan sowan kula tebih saking sambekala, keparenga kula ngaturaken sembah
sumungkeming pangabekti konjuk pukulun.... " kata sukma Mayangkara
" Ya Anoman, ulun tampa kanthi bombong
tyas ulun ora liwat pangestu ulun tampanana.... "
" Kula pundi ngge jimat ndayanana ing
kasantosan pukulun.... "
" Apa parigawene dene jeneng kita sowan
ngabyantara, mara gage matura ana panjenengan ulun supaya terwaca nggone ulun
nampa klawan atur kita.... "
" Nuwun inggih pukulun, estunipun
anggen kula sowan ngabyantara ngersa paduka pukulun menika jalaran wonten margi
prayoga anggen kula nyuwun prisa ngimuti bilih gesang kula menika sampun
mangabad-abad laminipun wiwit kula linahiraken wonten jagad sehingga kula
suwita dateng Prabu Rama Wijaya ing Pancawati malah sak mangkin sampun
kepengker tebih lelampahan Prabu Rama Wijaya sesembahan kula sampun manjing
dateng kasuwargan, nanging ewadene Anoman tasih dipun keparengaken gesang
wontening madyapada. Pukulun.... Namung estine manah kula badhe nyuwun priksa
benjang menapa kula menika nyaketi dhateng suruping pati kula pukulun.....?
"
" Hong Ilaheng sekaring bawana
langgeng.... Anoman, sumurupa lamun kita nanjihake klawan panjenengan ulun
babagan besok kapan nggon kita bakal sowan marang ayunane Gusti ingkang akarya
jagad, besok kapan rampunge kewajiban kita, sayekti yen to kita maneges klawan
panjenengan ulun titi kelungguhan samengko, iki durung paja-paja nyaketi
ingkang mbok upaya yaiku manjing suruping pati. Samengko nedheng-nedhenge jaman
Pandhawa, lamun kita mangerteni bakal dina tumapaking wanci kita sowan ana
ngayunane Gusti ingkang Maha Kuwasa isih pirang-pirang puluh tahun maneh. Lamun
kita besok wus menangi turun Pandhawa ingkeng kaping nem kuwi bakal nyaketi
klawan pati kita Senggana.....! "
" Menawi dipun keparingaken kula nyuwun
pitedhah turun Pandhawa ingkeng nem menika jaman menapa pukulun....?
"tanya sukma Mayangkara
" Ya Senggana, besok ana negara ingkeng
winastan Wastina lan negara Mamenang, negara loro kuwi mau sayekti dadi
turuning Pandhawa nanging padha ora rukun, lamun kita bisa ngrukunake negara
loro mau kanthi ngraketake putra putri ya kuwi telu cacahe Prameni, Pramesti
lan Sesanti pikantuk satriya kang aran Dharmakusuma, Dharmasakara lan
Dharmasasangka kang mengkono bakal nyaketi klawan dina patimu Senggana....
"
" Matur sembah nuwun sanget tanpa
pepindan pukulun.... Nadyan tesih tebih anggen kula nglampahi gesang wontening
jagad, nanging sampun padhang raose manahipun Anoman anggen kula dharmakaken
gesang kula wontening janaluka.... "
" Senggana.... wong kang katrima uripe
mau kaperang dadi loro. Siji, wong kang ora umur dawa, sartane wong kang
pinaringan umur panjang. Wong kang pinaringan umur dawa sayekti pinarcaya Hyang
Maha Nasa ngrampungi dharmane urip anaing alam padhang jalaran dipercaya dening
sing gawe jagad.
Ingkeng
ke loro, wong kang ora umur dawa mau tinesnranan kang Maha Kuasa kacelak kapundhut
anaing ngayunane Gusti ingkang Maha Agung.
" Mekaten pukulun....? "
" Ya Mayangkara, mula kang saka kuwi
Anoman trimakna sarta sabar ekhlas nggon kita napaki urip. Baliya marang
marcapada jagad butuh ketentraman, mangka kita ingkeng kudu ambabar
katentreman, Senggana...! "
" Nyuwun pamit pukulun, nyuwun tambahe
pangestu.... "
" Sing ati-ati Bambang Sengana....!
"
Sukma
Mayangkara, Bambang Senggana turun ke marcapada, namun ditengah jalan bertemu
dengan sukma Narayana, Sukma Wicara, sukmanya Prabu Sri Bathara Kresna
" Pepundhen kula Sukma Wicara kula
ngaturaken sembah bekti kula konjuk sinuwun.... "
" Ya, ya Anoman ndak tampa, ora lewat
pangestuku tampana.... "
" Kenging menapa paduka ngantos sumusul
dateng kula manjing dateng alam mantara sinuwun.....? "
" Senggana.. .! "
" Wonten dhawuh sinuwun..... "
" Kaya ngapa lenggahing Sang Hyang
Bathara Wisnu lamun ora tinunggu pengayoming sarta pamomonging titising Bathara
Wisnu ya kuwi mung kejaba Pendhita Kendalisada ya Resi Anoman, mula nalika
ketaman pusaka ingsun sumurup lamun sira kakang Anoman banjur ngrogoh sukma
manjing alam mantara. Mula Nata Dwarawati ora kendhat nggone tansah thutwunthat
tindake kakang Mayangkara, Nata Dwarawati Sukma Wicara ora bakal bisa pisah
klawan Mayangkara...."
" Sinuwun , sampun cumeplong raose
manah kula sampun kasembadan sowan dateng ngarsane Sang Hyang Padawenang
ingkeng wigati namung nanjihaken benjang menapa telas tulise pun Mayangkara....
"
" Wis entuk katrangan Senggana....?
"
" Nuwun inggih sampun pikantuk
katrangan, nanging jebul anggen kula momong dateng titising Bathara Wisnu
menika tesih dangu, tesih turunipun kaping nem saking turunipun pepunden kula
Pandhawa....."
" Ya Senggana, ora susah gresah
nggresula, ayo bali marang marcapada tuntaske kewajibanmu....! "
" Sumangga, kula dherekaken sinuwun....
"
Tapi
ditengah perjalanan kedua sukma itu, sukma Narayana dan sukma Mayangkara
berhenti karena Sukma Narayana mengetahui mengetahui apa yang terjadi dengan
jasadnya yang tertinggal di marcapada
" Senggana....! "
" Kula wonten dhawuh.... "
" Kowe karo aku sawetara durung bisa
bali menyang raga jati.... "
" Sabapipun menapa sinuwun....? "
tanya sukma Mayangkara
" Sabab ragaku sartane ragamu diboyong
dene sata Kurawa anaing Ngastina, saiki ming kari ngulir budi ngasah kadewasan
kepiye carane isa mbalik menyang ragaku uga ragamu supaya isa dadi papan
dununge papan sukma sejati.... "
" Inggih, menawi mekaten sumangga pados
sarana.... "
" Hayo Anoman, golek cara....! "
" Sumangga sinuwun kula dherekaken....!
"
Episode
: 8
Bumi
gonjang-ganjig langit kelap-kelap
katon
lir kincanging alis risang maweh gadrung
Oong.....
sabarang
kadulu wukir moyag-mayig
saking
tyas baliwur lumaris agandrung
Ooong.....
Bumi
terguncang-guncang langit gelap kilat menyambar-nyambar
tampak
seperti gerak alis orang yang lagi kasmaran
Oong.....
semua
yang terlihat -seperti- gunung yang bergoyang-goyang
dari
hati yang kacau -iapun- berjalan memikat
Oong......
Di
tengah perjalanan menuju kerajaan Ngastina, Abimanyu berhenti, tampak hatinya
ragu, kacau, gundah gulana. Membuat para punakawan yang mengiringinya menjadi
bingung penuh dengan tanda tanya
" Eee.... pripun den, kok mandeg
mangu-mangu jarene ajeng ngelingake dateng kanjeng rama kekalih anggenipun
kaliput manunggal kalian para sata Kurawa....? " tanya Semar Badranaya
' Nggih ndara, sajake kaya ragu-ragu....?
" kata Nala Gareng
" Ya kakang Semar, Nala Gareng, Petruk
lan Bagong, piye nggonku ora mangu-mangu rasaku lamun sing bakal ndak adhepi
wong tuwaku dhewe, doh nyana cerak nyana wong da ngarani Abimanyu wani karo
wong tuwa lamun nganthi ora kersa kondur menyang Ngamarta.... "
Tiba-tiba
dari jauh terdengar suara teriakan Prabu Baladewa berlari-lari bersama Setyaki
" Abimanyu malah neng kene iki
Setyaki....!! Setyaki.... kowe neng ngendi....?!! "
" Nuwun inggih kaka Prabu.... "
jawab Setyaki mendekati Prabu Baladewa dihadapan Abimanyu dan para punakawan
" Kula ngaturaken sembah pangabekti
kula konjuk wa Mandura... " kata Abimanyu sembari sungkem dihadapan Prabu
Baladewa
" Abimanyu tak tampa, ora liwat
pangestuku tampanana "
" Kula pundhi ngge jimat paripe....
"
" Hee.... sinuwun Mandura kula ngaturaken
sembah pangabekti kula ndara.... " kata Semar Badranaya
" Ya Semar tak tampa.... "
" Sinuwun, Nala Gareng ngaturaken
sembah.... "
" Ya Nala Gareng tak tampa.... "
" Sinuwun Mandura ngaturaken sembah
pangabekti.... " kata Petruk
" Ya Petruk tak tampa.... "
" Ya Baladewa tak tampa....!! "
sahut Bagong
" Hush....! Bagong tak jothos modar
kowe....!? " ujar Prabu Baladewa
" Anu, ngaturaken sembah pangabekti he
he he ..."
" Ya Bagong tak tampa.... "
" Wonten menapa ngantos jengandika
mlajar-mlajar kalian paman Garbaruji, menawi kepareng kula nyuwun dhawuh....?
" kata Abimanyu
" Ya Abimanyu, kepasan yogja katujue
nginu kowe mapan anaing kene. Kowe tak kandhani ya ngger, sumurupa yen to
negara Dwarawati dina samengko bedhah saka pokal gawene para sata Kurawa
ingkeng nggawa jago ratu saka sabrang kang aran Prabu Kumaradewa, malah kakang
Anoman apadene yayi Prabu Dwarawati wis tumekaning pati diboyong ana negara
Ngastina, Abimanyu....!! "
" Kanjeng wa Prabu Mandura sampun
ngantos tumut-tumut, lilanana Abimanyu badhe ngamuk punggung wonten negari
Ngastina....!! " kata Abimanyu dan langsung melesat pergi ke Ngastina
" Woh, Setyaki....!! Aja meneng wae ayo
nututi Abimanyu....!! " kata Prabu Baladewa
" Inggih kula dherekaken kaka
Prabu....! " jawab Setyaki dan mereka berdua mengikuti perginya Abimanyu
Tinggal
Semar dan anak-anaknya
" Hee.... iki kriwikan dadi grojogan
geguyon dadi tangisan. Mangka ndaramu Abimanyu nek wis duka ora kaya ndara
Abimanyu, eee.... kae ora mrucut karo sing gerang ya kuwi ndara Janoko, kepiye
iki mengko olehe arep ngandhani Nala Gareng....? "
Semar
Badranaya saat itu melihat sekelebat bayangan, sukma Mayangkara masuk kedalam
tubuh Nala Gareng dan sukma Narayana masuk kedalam tubuh Bagong
" Hee.... kowe anak-anakku aja mung
meneng wae ayo da melu mbhudi daya aja padha meneng wae.....? Lakok Nala Gareng
mripate dadi putih kabeh. Hee.... kowe kena ngapa....?? "
" Kweekk..... kweekk..... werrrkk....!!
" Nala Gareng malah melompat-lompat ke pohon lalu melompat terbang ke arah
Ngastina
Bagong
juga tiba-tiba bisa terbang melompat pergi mengikuti Nala Gareng. Melihat
keadaan itu Petruk jadi panik
" Waduk pak.....! Nala Gareng mau
mripate malik putih terus cuet-cuet mencolot kaya kethek, Bagong malah isa
mabur kae pak.....!? "
" Eee.... kok dadi kaya ngene thole....
Ning aku mau sak kleraman kethok ana Anoman karo sinuwun Dwarawati.... ora usah
bingung, ayo tutke wae lakune Nala Gareng karo Bagong thole....! "
Semar
Badranaya dan Petruk mengikuti perginya Nala Gareng dan Bagong ke arah kerajaan
Ngastina
Saat
itu di istana kerajaan Ngastina Begawan Durna bersama dengan Prabu Kumaradewa
membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna
kedepan Prabu Duryudana
" Ladyalah.....!! Bapa Durna....!
" seru Prabu Duryudana
" Wonten dhawuh ngger.....? "
jawab Begawan Durna
" Penjenengan nyuwun menapa....? "
" Kula boten nyuwun menapa-napa
ngger.... " jawab Begawan Durna
" Sampean ngendika napa nawon sing
sampean jaluk, niki wis klakon penjangka kula anggen kula kepingin ndadekake
Nata Dwarawati kula dadosaken tumbal teng negara Ngastina kangge srana
murungaken Braratayudha Jayabinangun, malah sak mangke Anoman sirna marga layu
tegesipun sampun ngurangi kekiyatanipun para Pandhawa.... "
" Inggih ngger, lajeng keparengipun
kados pundi.....? " tanya Begawan Durna
" Ketapke para sata Kurawa, kuwandane
Nata Dwarawati bakal tak tugel anaing alun-alun Ngastina....!! "
Arsa
kinarya tumbal Nata Dwarawati, ndadak sak kala mangke wonten ingkang ngamuk
punggung sura tamtama nenggih Ki Lurah Nala Gareng ingkeng kapanjingan sukmane
sang Anoman miwah Ki Lurah Bagong ingkeng kapanjingan sukmane Nata Dwarawati
Prabu Sri Bathara Kresna, dados geger madyane pasewakan praja Ngastina
Sengaja
dibuat tumbal Raja Dwarawati, tiba-tiba saat itu ada yang ngamuk membuat onar
yaitu Ki Lurah Nala Gareng yang kerasukan sukmanya Anoman dan Ki Lurah Bagong
yang kerasukan sukmanya Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, jadi gempar
ditengah pasewakan kerajaan Ngastina
Nala
Gareng melompat terbang menyerang
Prabu
Duryudana dan dan semua yang hadir hingga mereka kaget lari kabur ketakutan.
Sukma Mayangkara keluar dari tubuh Nala Gareng dan masuk kedalam jasad Anoman.
" Aku kok isa tekan kene ya Gong.....?
" tanya Gareng kepada Bagong yang masih kerasukan sukmanya Prabu Kresna
" Niwang sukmana mangadi luwih, ana
sasmitaning ingsun jagad ubathara, Nala Gareng.....! "
" Nala Gareng ndasmu kuwi....! Aku
kakangmu kok Nala Gareng....? "
" Mangertenana yen to sejatine ingsun
iki dudu Bagong.... "
" Dudu Bagong, sapa....? "
" Hu hu hu hu....aku iki bendaramu
Dwarawati kowe aja sembrono Nala Gareng...."
Tapi
belum selesai Bagong ngomong sukma Narayana keluar dan masuk kedalam jasad
Prabu Kresna.
Prabu
Kresna bangun
" Muni piye kowe mau....? " tanya
Prabu Kresna
" Mboten kok ndara, kok sampean isa
urip....? " kata Bagong
" Aku mau ki nyilih ragamu Bagong .....
" kata Prabu Kresna
" Huu.... sesok maneh ya nyewa no, kok
mung nyilih.....?! "
" Anoman, aku boyongen bali neng
Dwarawati....! " kata Prabu Kresna
" Inggih ngestokaken dhawuh sinuwun....
" jawab Anoman
" Loh, piye to iki kok da nggawe acara
dhewe....?? " kata Bagong heran
" Wis ben, menenga ra sah crewet kowe
iki, butuhe gek ndang rampung.....! " kata Nala Gareng
" Oh ya ya.... Ya wis gek ndang Anoman,
gek ndang digotong sinuwun Dwarawati....! "
" Inggih Ki Lurah....! " jawab
Anoman
Prabu
Kresna dibawa Anoman pergi ke kraton Dwarawati
Terdengar
teriakan suara Prabu Kumaradewa
" Iblis laknat....!! Ming derajate punakawan
wae gawe geger tak sabet pedang tugel gulumu..... !!! "
".....Ayo lariii.......!!! "
Bagong dan Gareng saling tabrakan lari kabur ketakutan
Abimanyu
bertemu dengan Arjuna, tapi Ajuna heran dihadapannya Abimanyu berdiri tegak
berkacak pinggang
"
Abimanyu....!? "
" Kasinggihan kanjeng rama.... "
" Kok malangkerik neng ngarepe wong
tuwa....? "
" Penjenengan kondur mboten..... ?
" kata Abimanyu " Menawi boten purun kondur paripaksa Abimanyu ngamuk
wonten Ngastina....! "
" Yen ngamuk neng Ngastina mugsuhe
ramamu....! Apa kira-kira wani karo wong tuwamu....? "
" Sing tak wedheni apamu, hayoh ngajak
apa kowe.... !! "
Terjadi
perang tanding antara anak dan bapak, keduanya sama-sama kuat sama-sama
digdaya, yang pada akhirnya Arjuna menyadari kesalahannya dan bersama putranya
kembali ke Ngamarta
Satriya
Pringgandani Gathutkaca berhadapan dengan Werkudara, tapi datang Prabu
Baladewa. Gathutkaca diseret mundur
" Sing ngakon kowe metu sapa....?
Olehmu salin ki kapan? Ora ngerti apa-apa kok mara-mara njedul, aku wae sing
ngadhepi bapakmu....!! " kata Prabu Baladewa
" Nuwun inggih wa, kula boten pareng
methuki kanjeng rama....? " kata Gathutkaca
" Ora entuk....!! Bali wae nang
Pringgondani.....!! "
" Nyuwun nggih wa Mandura, ngestokaken
dhawuh....! " kata Gathutkaca dan langsung pergi kembali ke Pringgondani
" Waa.... Gatot ora entuk methukke
aku.... ? " kata Werkudara
" Ora usah, Baladewa sing methukke
kowe, sing kit sore mau wis eksis ....! "
" Waa..... Janoko tak jak bali nang
Ngastina....!! "
" Ora isa...!! Janoko wis nglumpuk neng
negara Ngamarta... Werkudara....!! "
" Piye....? "
" Kowe iki isa metung apa ora hem....?
" kata Prabu Baladewa " Kowe isa gelar isa nggulung ora, yen si adhi
bakal murungake Bratayudha kowe iki tuna apa ora, pitungen aja mung waton sak
kepenakmu dhewe kowe ngumpul karo para sata Kurawa, kowe ora apal karo watak
wantune para sata Kurawa, kowe ora pangling karo watak wantune para Kurawa
ingkeng watak angkara budi chandala. Kowe tekan kana jan-jane ora bakal
diwenehi negara sak sigar semangka ning bakal dikrenah patimu karo para Kurawa,
lakok kowe nglumpuk nang Ngastina kuwi karepmu piye....?? "
" Waaaa..... "
" Ora usah wah weh, ayo wangsulan....
!! " bentak Prabu Baladewa
" Aja nganthi okeh korban
bratayudha..... " jawab Werkudara
" Bratayudha kuwi apa....?! "
" Perang.... " jawab Werkudara
" Perang apa.... ? "
" Perange Pandhawa lan Kurawa....
" jawab Werkudara
" Kowe ngerti ora tegese Bratayudha?
Brata laku, yudha perang. Brantayudha, branta asmara yudha perang, perange wong
kang nandhang kasmaran karo pakerti sing becik kelakohan sing apik nganthi
direwangi Brantayudha. Brata laku, yudha perang. Perang sing nganggo tatanan,
perang sing nganggo laku, ora ampyak awur-awur sak penake dhewe....! "
" Ya.... "
" Neng kana katandha sapa sing nyilih
bakal mbalekake, sapa sing utang bakal nyaur, sapa sing nduwe watak angkara
budi chandala mesthi wahyune bakal sirna. Nang kana bakal katandha antarane
Pandhawa lan Kurawa kuwi bener sapa, sing bener mesthi menang, sing salah
mesthi bakale kalah, lakok arep mbok wurungke.....? Nek ngono kowe seneng jagad
iki kebak kamurkan, kowe seneng yen angkara murka nderbala neng jagad
hem......? Terus kewajibane Werkudara minangka satriyane praja dadi sarana
tentreming jagad kuwi nang ngendi aku tak takon....??! Ayo wangsulan....?! Aja
meneng wae....!!? "
" Apa kira-kira Werkudara wis kelangan
jiwa kasatriyane?...." lanjut Prabu Baladewa "Nek kowe wis kelangan
jiwa kasatriyane ora usah ndadak bali neng negara Ngamarta, kumpula karo
para..... Wloobbs....!! "
Werkudara
membungkam mulut Prabu Baladewa terus ngeloyor pergi
" Behh... !! Ana wong ngomong kok
dibingkem cangkeme.... !!? "
" Ya, aku salah...! " terdengar
suara Werkudara dari jauh
" Na, rak ngono....!! "
Prabu
Kumaradewa menjadi marah besar tidak bisa terima karena apa yang direncanakan
jadi bubar berantakan
" Waahh.... bubar mawut beburonku ilang
kabeh, Ratu Dwarawati, Kethek Puteh. Begawan Durna cidra ora ngupaya golekake
geganthelaning atiku titising Widyawati, ora lega rasane atiku yen ora boyong
titising Widyawati ampyak awur-awur.....!!! "
Punakawan
Petruk mau menyusul Nala Gareng dan Bagong tapi begitu mengetahui Prabu
Kumaradewa membawa prajurit dan para Kurawa, Petruk berbalik lari menemui
Anoman Pendhita dari Kendalisada
" Wonten napa Ki Lurah kok
mlajar-mlajar....? " tanya Anoman
" Jagone Kurawa ngamuk, sumbare, ora
lega rasane atiku yen ora boyong titising Widyawati ampyak awur-awur....!!
Titising Widyawati kuwi sapa Man....? "
" Menika rumiyen ingkeng nitis dateng
pepunden kula Dewi Shinta.... "
" Na saiki nitis neng sapa....? "
tanya Petruk
" Dateng ingkeng bendara Dewi Wara
Sembadra "
" Oo .... dadi kae ngarah ndara Wara
Sembadra....? "
" Inggih Ki Lurah.... "
" Sing oyak-oyak kit mbiyen titising
Widyawati sapa Man ....? "
" Yitma Pariyitma, sukmane
Dasamuka..... " jawab Anoman
" Na, nek iki ora kowe sing nandhangi
ora rampung-rampung....!? "
" Nyuwun pangestunipun Ki Lurah....!!
"
Anoman
melesat pergi mencari Prabu Kumaradewa
" Waaah..... ha ha ha ha..... Kethek
Putih, tuwek keklek ora modar-modar, kowe ora pangling karo aku, ya.....?!!
"
" Ora bakal pangling, Yitma, Priyitma,
Gudayitma, Dasamuka....!! "
" Yaa dhasar para nyata, ora leren
nggonku ngobrak-abrik jagad sak isine.....!! "
" Waaahh....!! -brakk....!!
brakk....!!! "
Terjadi
perang tanding antara Anoman melawan Prabu Kumaradewa, mereka sama-sama digdaya
sama-sama kuat, bumi terguncang seperti gempa karena pertarungan mereka....
Namun dari dulu Anoman tidak bisa terkalahkan Anoman berkelit melompat-lompat
menerkam leher Prabu Kumaradewa
" Waaaduhh...... aaa..... mati
aku....!!! "
Prabu
Kumaradewa ambruk tewas tubuhnya hangus
terbakar berubah menjadi sukma Dasamuka
Begawan
Durna bersama dengan Kurawa mau menyerang negara Ngamarta
" Hoo.... Lole, lole..... sumalole, alas dadi wana, wana dadi yamaha
sekuter.... Nggugu karepe dhewe, pendhak dina ora klakon gawe ringkihing para
Pandhawa, gawe sirnaning para Pandhawa, ya.... Ora kena dialus tak agal kowe
ngger....!! "
Di
perbatasan negara Ngamarta Begawan Durna dihadang Werkudara, tubuh Begawan
Durna diangkat sama Werkudara
" Werkudara...! patenana aku yen kowe
ora gelem bali neng Ngastina, patenana aku Werkudara....!! "
" Waa..... kowe bali nang
Sukalima.....!!! "
Tubuh
Begawan Durna dilempar Werkudara hingga jatuh di Sukalima
Kartamarma
dan para Kurawa yang lain beramai-ramai mengeroyok Werkudara, tapi tidak
satupun yang bisa mengalahkan satriya Jodhipati itu, hingga para Kurawa
kocar-kacir lari tunggang langgang
Di
Kerajaan Dwarawati, Prabu Sri Bathara Kresna menerima kehadiran Werkudara,
Anoman dan Semar Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong
" Waa.... Jlitheng kakangku.....!
"
" Werkudara piye....? "
" Aku njaluk ngapura, uga Jlamprong tak
jalukna pangapura dene aku wis kalepyan, aku wis lali marang kahanan sing sak
nyatane....! "
" Werkudara, ora dadi ngapa yayi, merga
menungsa urip neng alam padhang kuwi kanggonan ina, lali, salah, apes lan mati....
"
" Ya... "
" Mula besok maneh yen arep tumindak
apa wae pitungen nganggo nalar sing genep, pitungen tuna lan bathine aja
nganthi getun tiba mburi mengko ora ana paedahe....! "
" Ya... "
" Ayo yayi, manunggal marang Praja
Ngamarta, tetunggalan, Pandhawan Lima ora bakal bisa pisah. Lan sak teruse ora
bisa rukun karo para sata Kurawa yen to kudu ora nglakoni kodrate jagad
Bratayudha Jayabinangun... "
" Kresna kakangku ya... ! "
" Purnaning gati kakang Semar....!?
"
" Hee..... nggih, sedanten samiya muji
syokur dumateng ngarsane Gusti ingkeng Maha Agung, mugi para Pandhawa tansah
pinaringan jaya jaya wijayanti nir ing sambe kala. Hee..... sura dira jaya
ningrat leburing dening pangastuti, mugi sedanten sedulur sahabat kinasih ugi
sami pinaringan kesarasan rahayu wilujeng, dipun ijabahi sedanten
gegayuhanipun, sugeng makarya sugeng pinanggih wonten lampahan sanesipun
ndara...."
Episode 6
Sigra
kang bala tumingal
acampuh
samya medali
lwir
thathit wileding gada
Ooong.....
dhangyang
gung manguncang niti
Ooong.....
Dengan
segera prajurit yang nampak
bercampur
saling menyerang
seperti
kilat menyambar beradunya wewangian
Ooong......
pandhita
agung terus menerus kemayan -merapal mantra-
Ooong.....
Mendengar
perintah Begawan Durna, Prabu Kumaradewa langsung melesat maju ke medan
pertempuran dengan senjata pusaka di tangannya
" Panuksmaning jajal laknat skertaning
bawana iblis keparat....! Wah, abot pitukone. Nanging gandheng jroning atiku
uga nduwe rasa serik gething lan sengit karo titising Bathara Wisnu, mbiyen
mungsuhku Prabu Rama Wijaya wis tekaning pati, Wisnu manitis marang Ratu
Dwarawati.... Tak clorong pusaka ora sirna marga layu aja diundang Prabu
Kumaradewa leganing atiku.....!! "
Saat
itu Prabu Kumaradewa menghunus pusaka membentangkan jemparing diarahkan ke dada
Prabu Sri Bathara Kresna
Jumeneng
sang Nata Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, nalika semanten wus weruh
lampahing jemparing ingkeng den lepasaken dene sang Prabu Kumaradewa parandene
mangke ing batos nedya den ungalaken dhadhane sang Nata Dwarawati, tanggap
wontening gegantangan nenggih sang Anoman anggenipun rumaos dados pengayome
tuwin pamomonging titising Bathara Wisnu, cumlarat saking dirgantara jumeneng
sak ngajenge Nata Dwarawati tumandhuk dhadhane sang Anoman sirna marga layu,
ngumpruk tanpa daya....!
Diam
berdiri saat itu sang Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, saat itu sudah
mengetahui larinya pusaka jemparing yang dilepaskan sang Prabu Kumaradewa yang
dengan sengaja dibidikkan tepat kedada sang Raja Dwarawati, tanggap sang Anoman
yang merasa sebagai pengayom dan pamomong titisnya Bathara Wisnu, melesat dari
angkasa dan berhenti berdiri dihadapan sang Raja Dwarawati tembus dadanya sang
Anoman oleh pusaka hingga menemukan ajal, tubuhnya ambruk tak berdaya....!
Pusaka
jemparing yang dilepaskan Prabu Kumaradewa melesat secepat kilat mengarah ke
dada sang Prabu Sri Bathara Kresna, namun secepat itu juga sang Anoman
menghadang larinya pusaka hingga pusaka jemparing menghantam dada Anoman hingga
ambruk tanpa daya
" Aduh.... mati aku.....!!! "
" Woohh.... Anoman....!!? " teriak
Prabu Kresna kaget mengetahui Anoman ambruk terkena pusaka jemparing
Sigra
lolos sukma saking raga, ngambah alam mantara, tanggap sang Nata Dwarawati
nyumurupi sang Anoman nyendal tali wangsul sukma nilaraken raga, sigra tanggap
nututi tindake sang Anoman sang Nata Dwarawati
Segera
lepas sukma dari raga, melayang ke alam sukma, tanggap sang Raja Dwarawati
mengetahui sang Anoman dalam keadaan lepas sukmanya meninggalkan raga, segera
tanggap mengkuti sukma sang Anoman sang Raja Dwarawati
Sukma
sang Anoman lepas dari raganya, maka tanggap sang Prabu Kresna dengan hening
keluar sukmanya mengikuti sukma sang Anoman.
Hingga
jasad Prabu Kresna pun berdiri tak bernyawa
Prabu
Kumaradewa melompat menari-nari kegirangan setelah mengetahui sang Anoman dan Prabu
Kresna dalam keadaan tidak bernyawa
" Haaa.... ha, ha, ha....e'aa....
e'aa.... e'aa.... e'aa..... ha ha ha ha..... Hayoh kowe ora bakal isa glawat
pusakaku tumandhuk neng dhadhane kethek putih sing bisa tata jalma.... Waa
ladyalah..... Ha ha ha ha.... Anoman modar, iki piwalesku nggonmu wis orak-arik
prejurit Ngalengka nalika semana, ewone prejurit yaksa bosah baseh kaya babatan
pacing....!
" Hee prejurit....! Aja digawe macak,
raga loro iki diboyong neng negara Ngastina....!! " perintah Prabu Kumaradewa
kepada pasukannya
" Ayo .... yo, yo, yo..... goyong,
gotong.... dibandha, dibandha.... krincung sikile..... yo, yo, yo......!!!
" suara riuh para prajurit membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna diikat
digotong dibawa ke kerajaan Ngastina
Begawan
Durna pun merasa senang bukan kepalang menyaksikan Prabu Kumaradewa telah
berhasil membunuh Anoman dan Prabu Kresna, karena saking senangnya menari-nari
dihadapan Prabu Kumaradewa
" Haaa ha ha ha..... e'oo.... e'oo....
e'oo.... e'ee....e'ee ....!! e'oo.... e'oo... e'oo.... e'ee.... e'ee......!!
"
" Oo lole, lole..... Anak lanang anak
anung anandhita, bocah mursid isa mikul dhuwur mendhem jero karo wong tuwa.....
Kumaradewa murid kesayangnku ngger, ya mung kowe sing bisa nyirnakake Ratu
Dwarawati karo si Anoman munyuk putih, modar dina iki kwandane dibandha
dikrincung sikile neng negara Ngastina. Syokur, syokur ngger..... ha ha ha
ha....! "
" Bapa penemban nanging kula nyuwun
pitumbasipun....! " kata Prabu Kumaradewa
" Pitukone apa ngger.....? "
" Kula estunipun boten kepingin
ngelmu.... "
" Loh, njaluk apa....? Apa njaluk
bandha dunya, mas picis, mas inten berlian kowe njupuka neng Sukalima, Sukalima
kuwi nadyan pertapan ning sugih ora bakal kekurangan bab bandha dunya tak
kandhani....! "
" Boten.... " jawab Prabu
Kumaradewa
" Apa kowe njaluk kreta kencana tinarik
kuda wolu sing ampuh-ampuh, njupuka....! "
" Boten menika penemban..... "
" La njaluk apa....? Apa kowe njaluk
tumpakan gajah cacahe patang puluh....? "
" Kula nyuwun saget kasembadan saget
mboyong titise Widyawati ingkeng sak menika mapan dateng Kasatrian Madukara,
ingkeng aran Dewi Wara Sembadra menika kedhah kula boyong dateng negari
kula.... "
" Sembadra.....?? " tanya Begawan
Durna heran
" Inggih kula ngersakaken Dewi Wara
Sembadra.....! "
" Kumaradewa, aja seru-seru.... Neng
kene ana bojone....!? " kata Begawan Durna sambil merendahkan suaranya
" Inggih kula ngertos..... "
" Nek kowe butuh Wara Sembadra ora
papa, ora papa, tak usahakake...."
" Caranipun kados pundi.....? "
tanya Prabu Kumaradewa
" Ooo.... kowe ora ngerti, Janoko kuwi
karo aku manut banget....! Aja kok mung bojone, tak jaluk nyawane
diwenehke....! "
" Oo nggih....? "
" He'em..... Aku isa wae ngomong,
Janoko kowe wis ora pantes urip neng alam ndunya, kowe kudu ngabekti karo bapa
guru supaya bapa gurumu isa langgeng uripe, kowe kudu tekaning pati, Janoko
mesthi terus nyerahke nyawane, mangga bapa, terus tak suduk dhadhane Janoko
blus ....!
Janoko
mati Sembadra randa terus tok gawa....! "
" Estu napa....!!? "
" Alon-alon...."
" Estu napa penemban...." tanya
Prabu Kumaradewa penasaran.
" Ya wis ngono kuwi, sistimatis ngono
kuwi...! "
"
Oh inggih, inggih..... wah gampil sanget....! "
" Ya gampang, pokoke nek golek wong
wedok kuwi gampang nek karo aku....! "
" Ngaten....? "
" He'em.... merga aku ya ana sing tak
incer...."
" Loh, ingkeng dipun incer menika
napa.....? "
" Janoko mati, Sembadra randha,
randhane ana siji maneh sing tak incer...."
" Sinten.....? "
" Sri Wahyuni ..... Eh anu Srikandi....
Sri Wahyuni rak kancane dhalange.... he, he, he.... "
" Srikandi penemban.....?? "
" Ya, Srikandi mbiyen kuwi yayangku....
"
" Loh, menapa nggih....? "
" Ya, kuwi putri Pancawala, kuwi mbiyen
seneng karo aku, ning gandheng Janoko kuwi thukmis direbut karo Janoko....
Jan-jane aku iki ya lara ati karo Janoko, merga Janoko wani ngrebut maniking
atiku.....! "
" Mekaten....? "
" He'em, he'em...."
" Ning mangkin nek Srikandi boten purun
kalih penjenengan.....? "
" Hello, ora gelem ya dipeksa. Srikandi
angger tak wenehi japamantra, tak tamani aji jaya kawijayan, tak tamani aji
pengasihan.... Kuwi mengko isa malik paningale, Srikandi yen nyawang aku nadyan
wis tuwa ngene iki ning rumangsane Srikandi aku iki baguse ngungkuli Janoko,
kuwi mengko wong ora gelem dadi gelem, wong ora tresna dadi tresna...! "
" Oh ngaten....? "
" Wis ngono wae ya Kumaradewa....
Mengko perkara Wara Sembadra tak gayuhke, ning kowe sing tentrem, aja kesusu,
aja grusa-grusu. Saiki, dina iki ngumpul neng negara Ngastina murungake
Bratayudha Jayabinangun.....! "
" Inggih, inggih ngestokaken dhawuh....
"
" Aja nganti krungu Janoko kowe
kepingin mengku garwa karo Wara Sembadra....! "
" Inggih ngestokaken dhawuh, sumangga
kula dherekaken penemban....! "
Saat
itu di kraton Dwarawati Prabu Baladewa panik karena mengetahui Anoman telah
mati juga jasad Prabu Kresna diringkus para prajuritnya Prabu Kumaradewa dibawa
ke kerajaan Ngastina
" Waaa..... ladylah.... Setyaki ,
ketiwasan... Setyaki.....!! Waah.... iki piye kok kahanane dadi kaya ngene iki
Setyaki...!!? " teriak-teriak Prabu
Baladewa mencari Setyaki
" Ketiwasan kados pundi kaka
Prabu.....??! "
" Waahh, kowe kok ora weruh sing sak
nyatane, yayi Prabu Dwarawati dibandha, dikrincung sikile karo para Kurawa,
kadangmu Kendalisada ya tekaning pati..... Waahh kedadehane kok kaya ngene, aku
kudu piye Setyaki.....?!! "
" Kaka Prabu, menawi jengandika namung
kados mekaten boten badhe ngrampungaken perkawis menika, upami kula dados
jengandika, dados kadangipun sepuh Nata Dwarawati kula badhe ampyak awur-awur
dadi apa wae tak wujudi...!! "
" Waaa ya Setyaki..... ayo ampyak
awur-awur nang negara Ngastina..... Wong-wong Ngastina tak grethel ngango
Nenggala keparat..... !!! "
Episode 7
Myat
langening kalangyan
aglar
pandam muncar
tinon
lir kekonang
surem
soroting tan padhang
Oong.....
Ooong......
kasor
lan pajaring
purnama
gegana
dhasare
mangsa ketiga
ima
inaweng ing ujung ancala
asenen
karya wigena
miwah
isining wana
wreksa
gung tinunu
Ooong......
Melihat
indahnya tempat yang disukai
bertebaran
suluh (dilah) menyala
terlihat
seperti -cahaya- kunang-kunang
sinarnya
suram tidaklah terang
Oong.....
Ooong.....
kalah
dengan -sinar- yang dipancarkan
-oleh-
rembulan diangkasa
karena
memang musim kemarau
awan
yang menutupi puncak gunung
bersorot
menyedihkan
juga
isi hutan
pohon-pohon
yang besar terbakar
Ooong......
Di
rumah Ki Lurah Semar Badranaya, Raden Abimanyu sowan, yang saat itu punakawan
Semar Badranaya sedang berkumpul bersama anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan
Bagong
" Hee.... mbegegeg ugeg-ugeg....
hmel-hmel, sak dhulitha..... Ndara Abimanyu rawuh dateng Karang Kadempel.
Hee.... wonten menapa gus, kok kados sumengka tindakipun, kula ngaturaken
sembah pangabekti kula konjuk nggih den....? " kata Semar menyambut
kedatangan Abimanyu
" Ya siwa Semar bektimu tak tampa,
pangestuku tampana..."jawab Abimanyu
" Eee nggih nggih, kula pundi ngge
jimat dayanana ing kasantosan...."
" Ndara kula ngaturaken sembah
pangabekti kula nggih den.... " kata Nala Gareng
" Kula nggih ngaturaken sembah
pangabekti ndara.... " kata Petruk
" Inyong Bagong nggih nyuwun sangu
ndara.... eh anu ngaturaken sembah sungkem konjuk ndara.... "
" Kowe iki kok clometan karo ndara
Abimanyu to Gong...! " kata Petruk mengingatkan Bagong
" Anu, aku mau ki slier-slier.... tak
kira nek dha njaluk sangu, he he he.... " kata Bagong sambil bercanda
" Wis to thole, ada padha gojekan
wigatekke ngendikane ndaramu thole....! " kata Semar memperingatkan
anak-anaknya
" Iya Nala Gareng, Petruk lan Bagong
bektimu tak tampa " jawab Abimanyu
" Siwa Semar...." kata Abimanyu
" Eeh kula ndara....? "
" Apa siwa Nayantaka ora krungu kabar
yen to dina iki kanjeng rama panenggak klawan kanjeng rama panengah wis lenggah
anaing Ngastina, padha diblithuk dening tembung manis dening para Kurawa
ingkeng bakal balekake negara Ngastina sak sigar semangka. Mangka kuwatire
Abimanyu kiyai Nayantaka ngerti dhewe lamun kanjeng rama banget nggone percaya
klawan eyang penemban Sukalima wekasan
ora isa menggalih kanthi wening.... Kepiye mungguh pinemune kiyai Semar yen
nganthi wong tuwaku ora tanggap karo rekadayane wong-wong Kurawa kaya ngapa
mengko kedaehane wong tuwaku sak kloron wo Semar.....? "
Semar
eko den prayitno
semu
ririh eko balik
Oong.....
titi
yoni ganda yoni
tri
sonya purnama sasi
Gilar-gilar
tengahing latar
Oong.....
Milangana
lintang bima sekti
katon
ambyar ing angkasa
Ooong....
" Hee..... lakok mekaten to .... Mangka
kanjeng rama menika satriya pinunjul, kekalihipun menika satriya lanthip
panggrahitane ewadene lakok tasih saget dipun blithuk dening Begawan Durna.
Hee.... den, menawi sampean boten ngemutaken keng rama padha karo sampean niku
mentala nyumurupi dateng kasangsaranipun ingkeng keng rama kekalih. Saking
surasa ingkeng kula waos para Kurawa niku namung badhe ndamel tumpese para
Pandhawa, ugi ndara sinuwun Dwarawati sak menika dipun rah patine kalih para
Kurawa ndara....! "
" Ngestokake dhawuhmu wa Semar.... Mula
saka kuwi wa Semar apadene Nala Gareng, Petruk lan Bagong ayo tutna laku
jlantraku prapta anaing Ngastina, yen pancen kanjeng rama apa dene kanjeng wa
Jodhipati ora bisa tak emutake sarana aris kudu tak rodaparipeksa kondur marang
Ngamarta wo Semar....! "
" Hee.... nggih den, sumangga kula
dherekaken lampahe ndara Abimanyu.... "
Semar
Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong mengiring kepergian
Abimanyu menuju kerajaan Ngastina
Pada
saat yang bersamaan di khayangan Ondar-Andhir Bhawana sukma Mayangkara
menghadap Sang Hyang Wenang
" Om mastumana sidam sekaring bawana
langgeng.... Mayangkara ingkeng sowan ngabyantara neng ngarsa ulun, padha
raharja kanthi sak praptamu ngger Senggana....? "
" Inggih pukulun, tansah winantu
kabagyan sowan kula tebih saking sambekala, keparenga kula ngaturaken sembah
sumungkeming pangabekti konjuk pukulun.... " kata sukma Mayangkara
" Ya Anoman, ulun tampa kanthi bombong
tyas ulun ora liwat pangestu ulun tampanana.... "
" Kula pundi ngge jimat ndayanana ing
kasantosan pukulun.... "
" Apa parigawene dene jeneng kita sowan
ngabyantara, mara gage matura ana panjenengan ulun supaya terwaca nggone ulun
nampa klawan atur kita.... "
" Nuwun inggih pukulun, estunipun
anggen kula sowan ngabyantara ngersa paduka pukulun menika jalaran wonten margi
prayoga anggen kula nyuwun prisa ngimuti bilih gesang kula menika sampun
mangabad-abad laminipun wiwit kula linahiraken wonten jagad sehingga kula
suwita dateng Prabu Rama Wijaya ing Pancawati malah sak mangkin sampun
kepengker tebih lelampahan Prabu Rama Wijaya sesembahan kula sampun manjing
dateng kasuwargan, nanging ewadene Anoman tasih dipun keparengaken gesang
wontening madyapada. Pukulun.... Namung estine manah kula badhe nyuwun priksa
benjang menapa kula menika nyaketi dhateng suruping pati kula pukulun.....?
"
" Hong Ilaheng sekaring bawana
langgeng.... Anoman, sumurupa lamun kita nanjihake klawan panjenengan ulun
babagan besok kapan nggon kita bakal sowan marang ayunane Gusti ingkang akarya
jagad, besok kapan rampunge kewajiban kita, sayekti yen to kita maneges klawan
panjenengan ulun titi kelungguhan samengko, iki durung paja-paja nyaketi
ingkang mbok upaya yaiku manjing suruping pati. Samengko nedheng-nedhenge jaman
Pandhawa, lamun kita mangerteni bakal dina tumapaking wanci kita sowan ana
ngayunane Gusti ingkang Maha Kuwasa isih pirang-pirang puluh tahun maneh. Lamun
kita besok wus menangi turun Pandhawa ingkeng kaping nem kuwi bakal nyaketi
klawan pati kita Senggana.....! "
" Menawi dipun keparingaken kula nyuwun
pitedhah turun Pandhawa ingkeng nem menika jaman menapa pukulun....?
"tanya sukma Mayangkara
" Ya Senggana, besok ana negara ingkeng
winastan Wastina lan negara Mamenang, negara loro kuwi mau sayekti dadi
turuning Pandhawa nanging padha ora rukun, lamun kita bisa ngrukunake negara
loro mau kanthi ngraketake putra putri ya kuwi telu cacahe Prameni, Pramesti
lan Sesanti pikantuk satriya kang aran Dharmakusuma, Dharmasakara lan
Dharmasasangka kang mengkono bakal nyaketi klawan dina patimu Senggana....
"
" Matur sembah nuwun sanget tanpa
pepindan pukulun.... Nadyan tesih tebih anggen kula nglampahi gesang wontening
jagad, nanging sampun padhang raose manahipun Anoman anggen kula dharmakaken
gesang kula wontening janaluka.... "
" Senggana.... wong kang katrima uripe
mau kaperang dadi loro. Siji, wong kang ora umur dawa, sartane wong kang
pinaringan umur panjang. Wong kang pinaringan umur dawa sayekti pinarcaya Hyang
Maha Nasa ngrampungi dharmane urip anaing alam padhang jalaran dipercaya dening
sing gawe jagad.
Ingkeng
ke loro, wong kang ora umur dawa mau tinesnranan kang Maha Kuasa kacelak
kapundhut anaing ngayunane Gusti ingkang Maha Agung.
" Mekaten pukulun....? "
" Ya Mayangkara, mula kang saka kuwi
Anoman trimakna sarta sabar ekhlas nggon kita napaki urip. Baliya marang
marcapada jagad butuh ketentraman, mangka kita ingkeng kudu ambabar
katentreman, Senggana...! "
" Nyuwun pamit pukulun, nyuwun tambahe
pangestu.... "
" Sing ati-ati Bambang Sengana....!
"
Sukma
Mayangkara, Bambang Senggana turun ke marcapada, namun ditengah jalan bertemu
dengan sukma Narayana, Sukma Wicara, sukmanya Prabu Sri Bathara Kresna
" Pepundhen kula Sukma Wicara kula
ngaturaken sembah bekti kula konjuk sinuwun.... "
" Ya, ya Anoman ndak tampa, ora lewat
pangestuku tampana.... "
" Kenging menapa paduka ngantos sumusul
dateng kula manjing dateng alam mantara sinuwun.....? "
" Senggana.. .! "
" Wonten dhawuh sinuwun..... "
" Kaya ngapa lenggahing Sang Hyang
Bathara Wisnu lamun ora tinunggu pengayoming sarta pamomonging titising Bathara
Wisnu ya kuwi mung kejaba Pendhita Kendalisada ya Resi Anoman, mula nalika
ketaman pusaka ingsun sumurup lamun sira kakang Anoman banjur ngrogoh sukma
manjing alam mantara. Mula Nata Dwarawati ora kendhat nggone tansah thutwunthat
tindake kakang Mayangkara, Nata Dwarawati Sukma Wicara ora bakal bisa pisah
klawan Mayangkara...."
" Sinuwun , sampun cumeplong raose
manah kula sampun kasembadan sowan dateng ngarsane Sang Hyang Padawenang
ingkeng wigati namung nanjihaken benjang menapa telas tulise pun Mayangkara....
"
" Wis entuk katrangan Senggana....?
"
" Nuwun inggih sampun pikantuk
katrangan, nanging jebul anggen kula momong dateng titising Bathara Wisnu
menika tesih dangu, tesih turunipun kaping nem saking turunipun pepunden kula
Pandhawa....."
" Ya Senggana, ora susah gresah
nggresula, ayo bali marang marcapada tuntaske kewajibanmu....! "
" Sumangga, kula dherekaken sinuwun....
"
Tapi
ditengah perjalanan kedua sukma itu, sukma Narayana dan sukma Mayangkara
berhenti karena Sukma Narayana mengetahui mengetahui apa yang terjadi dengan
jasadnya yang tertinggal di marcapada
" Senggana....! "
" Kula wonten dhawuh.... "
" Kowe karo aku sawetara durung bisa
bali menyang raga jati.... "
" Sabapipun menapa sinuwun....? "
tanya sukma Mayangkara
" Sabab ragaku sartane ragamu diboyong
dene sata Kurawa anaing Ngastina, saiki ming kari ngulir budi ngasah kadewasan
kepiye carane isa mbalik menyang ragaku uga ragamu supaya isa dadi papan
dununge papan sukma sejati.... "
" Inggih, menawi mekaten sumangga pados
sarana.... "
" Hayo Anoman, golek cara....! "
" Sumangga sinuwun kula dherekaken....!
"
Episode : 8
Bumi
gonjang-ganjig langit kelap-kelap
katon
lir kincanging alis risang maweh gadrung
Oong.....
sabarang
kadulu wukir moyag-mayig
saking
tyas baliwur lumaris agandrung
Ooong.....
Bumi
terguncang-guncang langit gelap kilat menyambar-nyambar
tampak
seperti gerak alis orang yang lagi kasmaran
Oong.....
semua
yang terlihat -seperti- gunung yang bergoyang-goyang
dari
hati yang kacau -iapun- berjalan memikat
Oong......
Di
tengah perjalanan menuju kerajaan Ngastina, Abimanyu berhenti, tampak hatinya
ragu, kacau, gundah gulana. Membuat para punakawan yang mengiringinya menjadi
bingung penuh dengan tanda tanya
" Eee.... pripun den, kok mandeg
mangu-mangu jarene ajeng ngelingake dateng kanjeng rama kekalih anggenipun
kaliput manunggal kalian para sata Kurawa....? " tanya Semar Badranaya
' Nggih ndara, sajake kaya ragu-ragu....?
" kata Nala Gareng
" Ya kakang Semar, Nala Gareng, Petruk
lan Bagong, piye nggonku ora mangu-mangu rasaku lamun sing bakal ndak adhepi
wong tuwaku dhewe, doh nyana cerak nyana wong da ngarani Abimanyu wani karo
wong tuwa lamun nganthi ora kersa kondur menyang Ngamarta.... "
Tiba-tiba
dari jauh terdengar suara teriakan Prabu Baladewa berlari-lari bersama Setyaki
" Abimanyu malah neng kene iki
Setyaki....!! Setyaki.... kowe neng ngendi....?!! "
" Nuwun inggih kaka Prabu.... "
jawab Setyaki mendekati Prabu Baladewa dihadapan Abimanyu dan para punakawan
" Kula ngaturaken sembah pangabekti kula
konjuk wa Mandura... " kata Abimanyu sembari sungkem dihadapan Prabu
Baladewa
" Abimanyu tak tampa, ora liwat
pangestuku tampanana "
" Kula pundhi ngge jimat paripe....
"
" Hee.... sinuwun Mandura kula
ngaturaken sembah pangabekti kula ndara.... " kata Semar Badranaya
" Ya Semar tak tampa.... "
" Sinuwun, Nala Gareng ngaturaken
sembah.... "
" Ya Nala Gareng tak tampa.... "
" Sinuwun Mandura ngaturaken sembah
pangabekti.... " kata Petruk
" Ya Petruk tak tampa.... "
" Ya Baladewa tak tampa....!! "
sahut Bagong
" Hush....! Bagong tak jothos modar
kowe....!? " ujar Prabu Baladewa
" Anu, ngaturaken sembah pangabekti he
he he ..."
" Ya Bagong tak tampa.... "
" Wonten menapa ngantos jengandika
mlajar-mlajar kalian paman Garbaruji, menawi kepareng kula nyuwun dhawuh....?
" kata Abimanyu
" Ya Abimanyu, kepasan yogja katujue
nginu kowe mapan anaing kene. Kowe tak kandhani ya ngger, sumurupa yen to
negara Dwarawati dina samengko bedhah saka pokal gawene para sata Kurawa ingkeng
nggawa jago ratu saka sabrang kang aran Prabu Kumaradewa, malah kakang Anoman
apadene yayi Prabu Dwarawati wis tumekaning pati diboyong ana negara Ngastina,
Abimanyu....!! "
" Kanjeng wa Prabu Mandura sampun
ngantos tumut-tumut, lilanana Abimanyu badhe ngamuk punggung wonten negari
Ngastina....!! " kata Abimanyu dan langsung melesat pergi ke Ngastina
" Woh, Setyaki....!! Aja meneng wae ayo
nututi Abimanyu....!! " kata Prabu Baladewa
" Inggih kula dherekaken kaka
Prabu....! " jawab Setyaki dan mereka berdua mengikuti perginya Abimanyu
Tinggal
Semar dan anak-anaknya
" Hee.... iki kriwikan dadi grojogan
geguyon dadi tangisan. Mangka ndaramu Abimanyu nek wis duka ora kaya ndara
Abimanyu, eee.... kae ora mrucut karo sing gerang ya kuwi ndara Janoko, kepiye
iki mengko olehe arep ngandhani Nala Gareng....? "
Semar
Badranaya saat itu melihat sekelebat bayangan, sukma Mayangkara masuk kedalam
tubuh Nala Gareng dan sukma Narayana masuk kedalam tubuh Bagong
" Hee.... kowe anak-anakku aja mung
meneng wae ayo da melu mbhudi daya aja padha meneng wae.....? Lakok Nala Gareng
mripate dadi putih kabeh. Hee.... kowe kena ngapa....?? "
" Kweekk..... kweekk..... werrrkk....!!
" Nala Gareng malah melompat-lompat ke pohon lalu melompat terbang ke arah
Ngastina
Bagong
juga tiba-tiba bisa terbang melompat pergi mengikuti Nala Gareng. Melihat
keadaan itu Petruk jadi panik
" Waduk pak.....! Nala Gareng mau
mripate malik putih terus cuet-cuet mencolot kaya kethek, Bagong malah isa
mabur kae pak.....!? "
" Eee.... kok dadi kaya ngene thole....
Ning aku mau sak kleraman kethok ana Anoman karo sinuwun Dwarawati.... ora usah
bingung, ayo tutke wae lakune Nala Gareng karo Bagong thole....! "
Semar
Badranaya dan Petruk mengikuti perginya Nala Gareng dan Bagong ke arah kerajaan
Ngastina
Saat
itu di istana kerajaan Ngastina Begawan Durna bersama dengan Prabu Kumaradewa
membawa jasad Anoman dan Prabu Kresna
kedepan Prabu Duryudana
" Ladyalah.....!! Bapa Durna....!
" seru Prabu Duryudana
" Wonten dhawuh ngger.....? "
jawab Begawan Durna
" Penjenengan nyuwun menapa....? "
" Kula boten nyuwun menapa-napa
ngger.... " jawab Begawan Durna
"
Sampean ngendika napa nawon sing sampean jaluk, niki wis klakon penjangka kula
anggen kula kepingin ndadekake Nata Dwarawati kula dadosaken tumbal teng negara
Ngastina kangge srana murungaken Braratayudha Jayabinangun, malah sak mangke
Anoman sirna marga layu tegesipun sampun ngurangi kekiyatanipun para
Pandhawa.... "
" Inggih ngger, lajeng keparengipun
kados pundi.....? " tanya Begawan Durna
" Ketapke para sata Kurawa, kuwandane
Nata Dwarawati bakal tak tugel anaing alun-alun Ngastina....!! "
Arsa
kinarya tumbal Nata Dwarawati, ndadak sak kala mangke wonten ingkang ngamuk
punggung sura tamtama nenggih Ki Lurah Nala Gareng ingkeng kapanjingan sukmane
sang Anoman miwah Ki Lurah Bagong ingkeng kapanjingan sukmane Nata Dwarawati
Prabu Sri Bathara Kresna, dados geger madyane pasewakan praja Ngastina
Sengaja
dibuat tumbal Raja Dwarawati, tiba-tiba saat itu ada yang ngamuk membuat onar
yaitu Ki Lurah Nala Gareng yang kerasukan sukmanya Anoman dan Ki Lurah Bagong
yang kerasukan sukmanya Raja Dwarawati Prabu Sri Bathara Kresna, jadi gempar
ditengah pasewakan kerajaan Ngastina
Nala
Gareng melompat terbang menyerang
Prabu
Duryudana dan dan semua yang hadir hingga mereka kaget lari kabur ketakutan.
Sukma Mayangkara keluar dari tubuh Nala Gareng dan masuk kedalam jasad Anoman.
" Aku kok isa tekan kene ya Gong.....?
" tanya Gareng kepada Bagong yang masih kerasukan sukmanya Prabu Kresna
" Niwang sukmana mangadi luwih, ana
sasmitaning ingsun jagad ubathara, Nala Gareng.....! "
" Nala Gareng ndasmu kuwi....! Aku
kakangmu kok Nala Gareng....? "
" Mangertenana yen to sejatine ingsun
iki dudu Bagong.... "
" Dudu Bagong, sapa....? "
" Hu hu hu hu....aku iki bendaramu
Dwarawati kowe aja sembrono Nala Gareng...."
Tapi
belum selesai Bagong ngomong sukma Narayana keluar dan masuk kedalam jasad
Prabu Kresna.
Prabu
Kresna bangun
" Muni piye kowe mau....? " tanya
Prabu Kresna
" Mboten kok ndara, kok sampean isa
urip....? " kata Bagong
" Aku mau ki nyilih ragamu Bagong .....
" kata Prabu Kresna
"
Huu.... sesok maneh ya nyewa no, kok mung nyilih.....?! "
" Anoman, aku boyongen bali neng
Dwarawati....! " kata Prabu Kresna
" Inggih ngestokaken dhawuh sinuwun....
" jawab Anoman
" Loh, piye to iki kok da nggawe acara
dhewe....?? " kata Bagong heran
" Wis ben, menenga ra sah crewet kowe
iki, butuhe gek ndang rampung.....! " kata Nala Gareng
" Oh ya ya.... Ya wis gek ndang Anoman,
gek ndang digotong sinuwun Dwarawati....! "
" Inggih Ki Lurah....! " jawab
Anoman
Prabu
Kresna dibawa Anoman pergi ke kraton Dwarawati
Terdengar
teriakan suara Prabu Kumaradewa
" Iblis laknat....!! Ming derajate
punakawan wae gawe geger tak sabet pedang tugel gulumu..... !!! "
".....Ayo lariii.......!!! "
Bagong dan Gareng saling tabrakan lari kabur ketakutan
Abimanyu
bertemu dengan Arjuna, tapi Ajuna heran dihadapannya Abimanyu berdiri tegak
berkacak pinggang
" Abimanyu....!? "
" Kasinggihan kanjeng rama.... "
" Kok malangkerik neng ngarepe wong
tuwa....? "
" Penjenengan kondur mboten..... ?
" kata Abimanyu " Menawi boten purun kondur paripaksa Abimanyu ngamuk
wonten Ngastina....! "
" Yen ngamuk neng Ngastina mugsuhe
ramamu....! Apa kira-kira wani karo wong tuwamu....? "
"
Sing tak wedheni apamu, hayoh ngajak apa kowe.... !! "
Terjadi
perang tanding antara anak dan bapak, keduanya sama-sama kuat sama-sama
digdaya, yang pada akhirnya Arjuna menyadari kesalahannya dan bersama putranya
kembali ke Ngamarta
Satriya
Pringgandani Gathutkaca berhadapan dengan Werkudara, tapi datang Prabu
Baladewa. Gathutkaca diseret mundur
" Sing ngakon kowe metu sapa....?
Olehmu salin ki kapan? Ora ngerti apa-apa kok mara-mara njedul, aku wae sing
ngadhepi bapakmu....!! " kata Prabu Baladewa
" Nuwun inggih wa, kula boten pareng
methuki kanjeng rama....? " kata Gathutkaca
" Ora entuk....!! Bali wae nang
Pringgondani.....!! "
" Nyuwun nggih wa Mandura, ngestokaken
dhawuh....! " kata Gathutkaca dan langsung pergi kembali ke Pringgondani
" Waa.... Gatot ora entuk methukke
aku.... ? " kata Werkudara
" Ora usah, Baladewa sing methukke
kowe, sing kit sore mau wis eksis ....! "
" Waa..... Janoko tak jak bali nang
Ngastina....!! "
" Ora isa...!! Janoko wis nglumpuk neng
negara Ngamarta... Werkudara....!! "
" Piye....? "
" Kowe iki isa metung apa ora hem....?
" kata Prabu Baladewa " Kowe isa gelar isa nggulung ora, yen si adhi
bakal murungake Bratayudha kowe iki tuna apa ora, pitungen aja mung waton sak
kepenakmu dhewe kowe ngumpul karo para sata Kurawa, kowe ora apal karo watak
wantune para sata Kurawa, kowe ora pangling karo watak wantune para Kurawa
ingkeng watak angkara budi chandala. Kowe tekan kana jan-jane ora bakal
diwenehi negara sak sigar semangka ning bakal dikrenah patimu karo para Kurawa,
lakok kowe nglumpuk nang Ngastina kuwi karepmu piye....?? "
" Waaaa..... "
" Ora usah wah weh, ayo wangsulan....
!! " bentak Prabu Baladewa
" Aja nganthi okeh korban
bratayudha..... " jawab Werkudara
" Bratayudha kuwi apa....?! "
" Perang.... " jawab Werkudara
" Perang apa.... ? "
" Perange Pandhawa lan Kurawa....
" jawab Werkudara
" Kowe ngerti ora tegese Bratayudha?
Brata laku, yudha perang. Brantayudha, branta asmara yudha perang, perange wong
kang nandhang kasmaran karo pakerti sing becik kelakohan sing apik nganthi
direwangi Brantayudha. Brata laku, yudha perang. Perang sing nganggo tatanan,
perang sing nganggo laku, ora ampyak awur-awur sak penake dhewe....! "
" Ya.... "
" Neng kana katandha sapa sing nyilih
bakal mbalekake, sapa sing utang bakal nyaur, sapa sing nduwe watak angkara
budi chandala mesthi wahyune bakal sirna. Nang kana bakal katandha antarane
Pandhawa lan Kurawa kuwi bener sapa, sing bener mesthi menang, sing salah
mesthi bakale kalah, lakok arep mbok wurungke.....? Nek ngono kowe seneng jagad
iki kebak kamurkan, kowe seneng yen angkara murka nderbala neng jagad
hem......? Terus kewajibane Werkudara minangka satriyane praja dadi sarana
tentreming jagad kuwi nang ngendi aku tak takon....??! Ayo wangsulan....?! Aja
meneng wae....!!? "
" Apa kira-kira Werkudara wis kelangan
jiwa kasatriyane?...." lanjut Prabu Baladewa "Nek kowe wis kelangan
jiwa kasatriyane ora usah ndadak bali neng negara Ngamarta, kumpula karo
para..... Wloobbs....!! "
Werkudara
membungkam mulut Prabu Baladewa terus ngeloyor pergi
" Behh... !! Ana wong ngomong kok
dibingkem cangkeme.... !!? "
" Ya, aku salah...! " terdengar
suara Werkudara dari jauh
" Na, rak ngono....!! "
Prabu
Kumaradewa menjadi marah besar tidak bisa terima karena apa yang direncanakan
jadi bubar berantakan
" Waahh.... bubar mawut beburonku ilang
kabeh, Ratu Dwarawati, Kethek Puteh. Begawan Durna cidra ora ngupaya golekake
geganthelaning atiku titising Widyawati, ora lega rasane atiku yen ora boyong
titising Widyawati ampyak awur-awur.....!!! "
Punakawan
Petruk mau menyusul Nala Gareng dan Bagong tapi begitu mengetahui Prabu
Kumaradewa membawa prajurit dan para Kurawa, Petruk berbalik lari menemui
Anoman Pendhita dari Kendalisada
" Wonten napa Ki Lurah kok
mlajar-mlajar....? " tanya Anoman
" Jagone Kurawa ngamuk, sumbare, ora
lega rasane atiku yen ora boyong titising Widyawati ampyak awur-awur....!!
Titising Widyawati kuwi sapa Man....? "
" Menika rumiyen ingkeng nitis dateng
pepunden kula Dewi Shinta.... "
" Na saiki nitis neng sapa....? "
tanya Petruk
" Dateng ingkeng bendara Dewi Wara
Sembadra "
" Oo .... dadi kae ngarah ndara Wara
Sembadra....? "
" Inggih Ki Lurah.... "
" Sing oyak-oyak kit mbiyen titising
Widyawati sapa Man ....? "
" Yitma Pariyitma, sukmane
Dasamuka..... " jawab Anoman
" Na, nek iki ora kowe sing nandhangi
ora rampung-rampung....!? "
" Nyuwun pangestunipun Ki Lurah....!!
"
Anoman
melesat pergi mencari Prabu Kumaradewa
" Waaah..... ha ha ha ha..... Kethek
Putih, tuwek keklek ora modar-modar, kowe ora pangling karo aku, ya.....?!!
"
" Ora bakal pangling, Yitma, Priyitma,
Gudayitma, Dasamuka....!! "
" Yaa dhasar para nyata, ora leren
nggonku ngobrak-abrik jagad sak isine.....!! "
" Waaahh....!! -brakk....!!
brakk....!!! "
Terjadi
perang tanding antara Anoman melawan Prabu Kumaradewa, mereka sama-sama digdaya
sama-sama kuat, bumi terguncang seperti gempa karena pertarungan mereka....
Namun dari dulu Anoman tidak bisa terkalahkan Anoman berkelit melompat-lompat
menerkam leher Prabu Kumaradewa
" Waaaduhh...... aaa..... mati
aku....!!! "
Prabu
Kumaradewa ambruk tewas tubuhnya hangus
terbakar berubah menjadi sukma Dasamuka
Begawan
Durna bersama dengan Kurawa mau menyerang negara Ngamarta
" Hoo.... Lole, lole..... sumalole, alas dadi wana, wana dadi yamaha
sekuter.... Nggugu karepe dhewe, pendhak dina ora klakon gawe ringkihing para
Pandhawa, gawe sirnaning para Pandhawa, ya.... Ora kena dialus tak agal kowe
ngger....!! "
Di
perbatasan negara Ngamarta Begawan Durna dihadang Werkudara, tubuh Begawan
Durna diangkat sama Werkudara
" Werkudara...! patenana aku yen kowe
ora gelem bali neng Ngastina, patenana aku Werkudara....!! "
" Waa..... kowe bali nang Sukalima.....!!!
"
Tubuh
Begawan Durna dilempar Werkudara hingga jatuh di Sukalima
Kartamarma
dan para Kurawa yang lain beramai-ramai mengeroyok Werkudara, tapi tidak
satupun yang bisa mengalahkan satriya Jodhipati itu, hingga para Kurawa
kocar-kacir lari tunggang langgang
Di
Kerajaan Dwarawati, Prabu Sri Bathara Kresna menerima kehadiran Werkudara,
Anoman dan Semar Badranaya dan anak-anaknya, Nala Gareng, Petruk dan Bagong
" Waa.... Jlitheng kakangku.....!
"
" Werkudara piye....? "
" Aku njaluk ngapura, uga Jlamprong tak
jalukna pangapura dene aku wis kalepyan, aku wis lali marang kahanan sing sak
nyatane....! "
" Werkudara, ora dadi ngapa yayi, merga
menungsa urip neng alam padhang kuwi kanggonan ina, lali, salah, apes lan
mati.... "
" Ya... "
" Mula besok maneh yen arep tumindak
apa wae pitungen nganggo nalar sing genep, pitungen tuna lan bathine aja
nganthi getun tiba mburi mengko ora ana paedahe....! "
" Ya... "
" Ayo yayi, manunggal marang Praja
Ngamarta, tetunggalan, Pandhawan Lima ora bakal bisa pisah. Lan sak teruse ora
bisa rukun karo para sata Kurawa yen to kudu ora nglakoni kodrate jagad
Bratayudha Jayabinangun... "
" Kresna kakangku ya... ! "
" Purnaning gati kakang Semar....!?
"
" Hee..... nggih, sedanten samiya muji
syokur dumateng ngarsane Gusti ingkeng Maha Agung, mugi para Pandhawa tansah
pinaringan jaya jaya wijayanti nir ing sambe kala. Hee..... sura dira jaya
ningrat leburing dening pangastuti, mugi sedanten sedulur sahabat kinasih ugi
sami pinaringan kesarasan rahayu wilujeng, dipun ijabahi sedanten
gegayuhanipun, sugeng makarya sugeng pinanggih wonten lampahan sanesipun
ndara...."
Sumber
referensia :
Pagelaran
Wayang Kulit
Lakon
: Anoman Maneges
Dhalang
: Bp Ki Seno Nugroho

