SULUK SARIDIN (SYEH/SYEKH JANGKUNG)

0

SULUK SARIDIN (SYEH/SYEKH JANGKUNG)

 


Sebelum ke Suluknya ada baiknya kita ketahui siapa itu Syeikh Jangkung, beliau bernama asli Saridin, termasuk para pemerhati sufi. Bila ingin melihat jejak masa lalu, silakan mengunjungi makamnya yang terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen yang berjarak sekitar 17 kilometer dari Kota Pati menuju Kabupaten Purwodadi. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalan perkampungan yang sudah beraspal. Setiap hari Jumat, makam tersebut dipadati pengunjung dari sejumlah daerah di tanah air, seperti dari Jateng, Jatim, Jabar, dan Sumatera. Bahkan, ada pengunjung yang berasal dari Negara Malaysia dan Singapura. Upacara haul (hari lahir) dilaksanakan setiap tanggal 14 dan 15 bulan Rajab yang dimulai dengan upacara ganti kelambu, pengajian, dan pasar malam.

Menurut sejarahnya, Saridin (Syeh Jangkung) dilahirkan di Desa Tayu, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Setelah dewasa berkelana ke sejumlah daerah di pulau jawa, bahkan sampai di Sumatera untuk menyebarkan Agama Islam. Waktu masih hidup, dia berwasiat agar dimakamkan di Desa Landon. Di kompleks Makam Saridin terdapat pula makam isterinya, yakni RA Retno Jinoli dan RA Pandan Arum.

Saridin atau sering disebut Syeh Jangkung adalah salah satu penyebar agama Islam di Indonesia yang terkenal di Karesidenan Pati. Selain terkenal di Pati, Jawa Tengah, Saridin atau Syech Jangkung ternyata juga diakui sebagai leluhur atau nenek moyang warga Dusun Dukuh yang terletak di Desa Glagah Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan Desa Lendah di Kulonprogo, DIY Serta di sejarah keturunan anak cucu syech jangkung yang pangreh praja antara tahun 1700 masehi s/d 1900 masehi di Karesidenan Pati menikah dengan trah Tubagus Panembahan Ratu I Sultan Zainul Arifin (cicit Sunan Gunung Jati) Kesultanan Cirebon, trah Mataram,trah pangeran Kudus(Sarengat), trah citrasoma, trah condronegara bupati pati dan keturunan Syech Jangkung yaitu Putra Tertua Syekh Jangkung Raden Bagus Momok Landoh adalah anak Syekh Jangkung dan Nyai Ageng Sarini (Putri dari Pakeringan/kawisguwo/trah sunan giri) Makam sebelahnya Nyai Ageng Sombro / Nyai Ageng Miyana (Nyai Ageng Branjung) di Komplek Makam Kyai Ageng Raden Miyana /Kyai Ageng Raden Dharmoyono Surgi(Trah Sunan Giri) Makam Jati Kembar Landoh Kayen Kab.Pati., serta ada Dr.Moewardi adalah Pahlawan Nasional Kemerdekaan Indonesia yang gugur sebagai Pahlawan Kusuma bangsa yang masih keturunan langsung dari Syech Jangkung, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga dari Raden Moekmin/Raden Tirtakusuma (Pangeran Tengah) putra syech jangkung dan Raden Ayu Pandanarum putri Kesultanan Cirebon Panembahan Ratu I Sultan Zainul Arifin garis silsilah ayah Dr.Moewardi Yaitu Mas Sastrowardojo/Raden Soemito Sastrowardojo.Syech Jangkung dan Raden Ayu Retno Jinoli Putri Sultan Mataram ke 2 Sultan Anyakrawati Raden Mas djolang dan Ratu Tulung Ayu, Syekh Jangkung dan istri Raden Ayu Retnodiluwih putri dari Kesultanan Palembang memiliki anak Raden ayu Dyah Sunti, Syekh Jangkung dan istri Nyai Ageng Bakirah (putri Ki Ageng Prayaguna) gebanganom Semawis Demak memiliki anak Raden Kulup (Pangeran Dagan ariningong), serta istri dari putri khatib tuban / Ki Ageng Miguruh,

Saridin tokoh spiritual Panembahan Tandhoh Landhoh yang dulu mendiami Kabupaten Pati di zaman era bupatinya Ki Panjawi dan anaknya Ki Panjawi yaitu Adipati Wasis Jayakusuma Adipati Pragola yang ke I Wasis Joyo Kusumo yang bergelar Adipati Pragola I/Adipati Pathi Seda Ing Biting Taji Makam Gunung Pati Kota Semarang Berputra Adipati Pragola II/Adipati Pathi Seda Kadhaton Makam Sendang Sani Kab.Pati , di zaman itu ada satu tokoh yang turut andil menyebarkan agama Islam bagi masyarakat setempat. Dia adalah Syech Jangkung putra dari Sunan Muria dan Dewi Sujinah Putri Sunan Ngudung, beliau dikenal warga sebagai ulama berkharisma dan ahli Tasawuf sekaligus murid dan cucu Sunan Kalijaga.

Konon, Syech Jangkung diutus Sunan Kalijaga menyiarkan Islam pertama kali di sebuah desa bernama Desa Miyono. Masa hidup Saridin Syech Jangkung yang Lahir di tahun 1540 an masehi untuk mengasah kewaskitaan dan ilmunya waktu dari anak - anak hingga dewasa, melalui pengetahuan agama bersantri bersama sunan Kudus (hingga sunan Kudus Wafat di tahun 1550 an masehi) hingga selesai santri di zaman Panembahan Kudus(Kali/Poncowati). Saridin juga mendapatkan ilmu agama islam oleh Sunan Muria ayah saridin (hingga sunan Muria Wafat di tahun 1560 an masehi) dan memperdalam ilmu dan kewaskitaan bersama sang kakek Sunan Kalijaga(hingga tahun 1570 an masehi "bukti otentik" yaitu Sunan Kalijaga mengalami periode waktu di tahun saat Danang Sutawijaya mendirikan awal Kesultanan Mataram di tahun 1586 masehi sebagai pengganti Kesultanan Pajang untuk memerintah di Tanah Jawa) serta menurut Babad Tanah Jawi versi Meisma, dinyatakan Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat kediaman Panembahan Senopati di Mataram memberikan saran bagaimana cara membangun kota. Dengan demikian, Sunan Kalijaga diperkirakan hidupnya lebih dari 130 tahun lamanya yakni sejak pertengahan abad ke-1455 masehi sampai dengan akhir abad 1590 masehi. 

Hal ini dapat dihubungkan dengan gelar kepala Perdikan Kadilangu semula Sunan Kalijaga dilanjutkan oleh anaknya yaitu Sunan Hadi di tahun 1590 an masehi, tetapi gelar "Sunan Hadi" di gunakan pada Mas Jolang di Mataram dengan gelar "Sunan Hadi Prabu Hanyokrowati" di tahun 1601 masehi s/d 1613 masehi), dan gelar kepala Perdikan Kadilangu sebelumnya "Sunan Hadi" itu diganti dengan sebutan "Panembahan Hadi". Dengan demikian, Sunan Kalijaga sudah diganti putranya sebagai Kepala Perdikan Kadilangu sebelum zaman Mas Jolang yaitu sejak berdirinya Kesultanan Mataram Pemerintahan Danang Sutawijaya (1590 masehi). dan Pernikahan Syekh Jangkung Saridin dengan Raden Ayu Retno Jinoli di Tahun 1595 an masehi Putri Sultan Mataram ke 2 Sultan Anyakrawati Raden Mas djolang dan Ratu Tulung Ayu.(pada tahun 1595 masehi Raden Mas djolang masih menjabat sebagai Adipati Anom/Putra Mahkota).

Waktu kecil Saridin juga sudah terbiasa di momong keluarga besar Sunan Kalijaga yaitu Ki gede Miyono paman saridin, Kyai Ageng Raden Miyana / Ki gede Miyono/Ki Ageng Dharmoyono adalah putra pasangan Empu Supo dengan Dewi Sari Wulan/rasawulan adik dari Sunan Kalijaga dan ki gede Miyono adalah adik sepupu Sunan Muria, Ki gede Miyono adalah pendiri desa Miyono atau di sebut landoh kayen di daerah Pati sekarang, letak makam Ki gede Miyono 2 km ke arah timur dari makam syekh jangkung yaitu di makam jati kembar Landoh Kayen Pati, Ki gede Miyono adalah juga trah giri Kedaton/ Sunan Giri dari jalur laki-laki, yaitu "Prabu Anom" Pangeran Sendang Sedayu Blambangan Gelar Syekh Maulana Ishaq Al Maghribi (Ki Supo Sepuh Majapahit) karena menikahi Dewi Sekardadu berputra Sunan Giri/ Raden Paku 'Joko Samudera"/ Prabu Satmata berputra Pangeran Sedayu Prabu Darmokusumo (Komplek makam Masjid Demak) /Tumenggung Adipati Supondriyo (empu Supondriyo makam giri Kedaton) berputra empu supomadurangin (Empu Supo) makam sunan Kalijaga komplek Kadilangu berputra 4 orang yaitu :

1. Ki Gede Miyono/Ki Ageng Dharmoyono, 

2. Ki berganjing (Darmoyoso), 

3. Nyai Branjung (Sombro), 

4. Joko Suro (Mpu Suro/Mpu Supo Nem/muda).

(keluarga Pangeran Sedayu Empu Supo paman Saridin Syech Jangkung adalah pembuat senjata perang pamungkas pusaka andalan Sunan Kalijaga yang di gunakan selama periode konflik perang :

1. Era akhir Majapahit(keris sengkelat empu supo mengalahkan Keris Kyai Condong Campur milik MahaRaja Brawijaya V Majapahit),

2. Demak(keris nagasasra Raden Fatah), 

3. Kesultanan Pajang (keris kyai carubuk yang di gunakan Sultan pajang mas karebet Joko Tingkir untuk mengalahkan Keris Kyai Setan Kober saat perang tanding dengan utusan Adipati jipang panolan Arya Panangsang),

4. Hingga tombak Ki Plered/Kyai Plered "bukti otentik" adalah milik Sunan Kalijaga yang di gunakan Danang Sutawijaya . (Konon senjata pusaka buatan keluarga mpu supo adalah yang menentukan transisi suksesi Wahyu keprabon kerajaan Jawa Nusantara di era akhir Majapahit tahun 1480 Masehi hingga awal Mataram tahun 1586 masehi).

Syeh Jangkung (Saridin) wafat tahun 1563 Tahun Saka Jawa tepatnya tanggal 15 Rajab atau Hari Minggu Pahing tanggal 20 Oktober 1641 masehi berselang waktu 4 tahun kemudian adik ipar Syekh Jangkung yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo Wafat di tahun 1645 Masehi.

 

Gelar dan Silsilah

Asal Usul Nama Syeh Jangkung ialah untuk memudahkan dalam berucap kata Syarifuddin dalam logat jawa memang agak kesulitan, sehingga kata Syarifuddin berubah menjadi “Saridin”. Gelar “Syeh” bagi Saridin, beliau mendapatkannya dari negara Ngerum (Andalusia, saat itu sebagai pusat perawi Hadits dan pusat kerajaan Islam terbesar didunia). Adapun gelar “Syeh Jangkung” beliau dapat dari gurunya dan juga kakeknya yaitu Raden Syahid Sunan Kalijaga. Karena Saridin ini selalu dijangkung oleh gurunya. Makna kata di jangkung menurut bahasa Indonesia dilindungi, diayomi, dipelihara, dididik, dan selalu dalam naungannya.

Silsilah Raden Saridin (Syech Jangkung Miyana) atau Sunan Landoh Miyana 

Menurut Naskah Pustoko Darah Agung Rangkainya sebagai berikut :

1.     Abdul Muthalib (Adipati Mekah)

2.     Sayyid Abbas bin Abdul-Muththalib

3.     Abdullah bin Abbas berputra Sayyid Abdul Azhar / Abdullah Al Akbar / Syekh Abdul 'Wahid' Qurnayn Al baghdadi

4.     Syaikh Wais/Waqid Arumni

5.     Syaikh Mudzakir Arumni

6.     Syaikh Abdullah

7.     Syaikh Kharmia/kharmis (Kurames)

8.     Syaikh Mubarak

9.     Syaikh Abdullah

10. Syaikh Ma'ruf / Madhra'uf

11. Syaikh Arifin

12. Syaikh Hasanuddin

13. Syaikh Jamal

14. Syaikh Ahmad

15. Syaikh Abdullah

16. Syaikh Abbas

17. Syaikh Abdullah

18. Syaikh Kurames / Khoromis (Ulama di Mekah)

19. Abdur Rahman / Kyai Lanang Baya / Arya Wiraraja / Mahapatih Raja Majapahit ke 1 Raden Wijaya/Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka (Ario Teja, Bupati Tuban)

20. Ario Teja I (Bupati Tuban)

21. Ario Teja Laku (Bupati Tuban)

22. Ario Teja II/ Raden Arya Tejakusuma (Bupati Tuban)

23. Raden Sahur Tumenggung Wilatikta/Raden Arya Malayakusuma (Bupati Tuban & Jepara)

24. Raden Mas Said (Sunan Kalijaga/Syekh Malaya)

25. Raden Umar Said (Sunan Muria)

26. Raden Syarifuddin/Saridin (Syech Jangkung Miyana) Sunan Landoh Miyana.

 

Silsilah Raden Saridin (Syech Jangkung Miyana) atau Sunan Landoh Miyana dari jalur ibu Sayyidah Dewi Sujinah Rangkainya sebagai berikut :

1.     Nabi Muhammad Rasulullah SAW

2.     Sayyidah Fatimah az-Zahra (RHA)

3.     Al Imam Al Husain bin Ali As Syahid Karbala Iraq (RA)

4.     Al Imam (Ali bin Husain) Ali Zainal Abidin

5.     Al Imam Muhammad al-Baqir

6.     Al Imam Ja'far ash-Shadiq

7.     Al Imam Ali al-Uraidhi

8.     Al Imam Muhammad an-Naqib

9.     Al Imam Isa ar-Rumi

10. Al Imam Ahmad al-Muhajir

11. As Sayyid Abdullah /Ubaidillah bin Ahmad

12. As sayyid Alawi bin Abdullah/Alawi bin Ubaidillah Alawi Awwal / Al-Ba'alawi / Al-Mubtakir

13. As Sayyid Muhammad Shahibus Shaumah

14. As Sayyid Alawi Ats Tsani

15. As Sayyid Ali Khali' Qasam

16. As Sayyid Muhammad Shahib Mirbath

17. As Sayyid Alawi Ammil Faqih

18. As Sayyid Abdul Malik bin Alwi Azmatkhan

19. As Sayyid Amir Khan Abdullah

20. As Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin

21. As Sayyid Husain Jamaluddin Akbar al-Husaini

22. Sri Sultan Champa / Raja Champa "As Sayyid Syekh Maulana Ibrahim Zainuddin As'Samarqandi (gesikharjo Tuban)" Imam Champa/Sultan "Raja" Champa"(Champa "Vietnam tengah &selatan)

23. As Sayyid Ali Murthada "Raden Santri Gresik"

24. As Sayyid Utsman Haji "Sunan Ngudung"

25. Sayyidah Dewi Sujinah (Komplek Makam Keluarga Sunan Kudus di menara kudus)

26. Raden Syarifuddin/Saridin (Syech Jangkung Miyana) Sunan Landoh Miyana.

 

Keahlian

Saridin waktu kecilnya saat masih anak - anak menjadi santri di perguruan Sunan Kudus Kemampuannya di atas para santri yang merasa diri senior. tetapi juga Sunan Kudus merupakan paman Saridin dari (ibu "Sidin" panggilan kesayangan ibu syeh jangkung) dewi sujinah adalah adik Sunan Kudus. Sebagai murid baru dalam bidang agama, orang Miyono itu lebih pintar ketimbang para santri lain.

Belum lagi soal kemampuan dalam ilmu kasepuhan. Hal itu membuat dia harus menghadapi persoalan tersendiri di perguruan tersebut. Dan itulah dia tunjukkan ketika beradu argumentasi dengan sang guru soal air dan ikan.

Untuk menguji kewaskitaan Saridin, Sunan Kudus bertanya, “Apakah setiap air pasti ada ikannya?” Saridin dengan ringan menjawab, “Ada, Kanjeng Sunan Kudus.”

Mendengar jawaban itu, sang guru memerintah seorang murid memetik buah kelapa dari pohon di halaman. Buah kelapa itu dipecah. Ternyata kebenaran jawaban Saridin terbukti. Dalam buah kelapa itu memang ada sejumlah ikan. Karena itulah Sunan Kudus atau Djafar Sodiq sebagai guru tersenyum simpul. Akan tetapi santri murid-murid lain yang iri dan tidak suka hal tersebut menganggap Saridin lancang dan pamer kepintaran. Karena itu lain hari, ketika bertugas mengisi bak mandi dan tempat wudu, para santri mengerjai dia. Para santri mempergunakan semua ember untuk mengambil air.

Saridin tidak enak hati. Karena ketika para santri yang mendapat giliran mengisi bak air, termasuk dia, sibuk bertugas, dia menganggur karena tak kebagian ember. Dia meminjam ember kepada seorang santri.

Namun apa jawab santri itu? ”Kalau mau bekerja, itu kan ada keranjang.” Dasar Saridin. Keranjang itu dia ambil untuk mengangkut air. Dalam waktu sekejap bak mandi dan tempat wudu itu penuh air. Santri lain pun hanya bengong.

 

Kerbau Landoh

Setelah Di resmikan Oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo Dengan Disaksikan oleh Para Bupati Dan Abdi Dalem Mataram Menjadi "Panembahan Landoh" Syekh Jangkung Saridin membuka perguruan dengan nama "Panembahan Landoh ""Sigit Kalimosodo" di Miyono dan memiliki 25 Desa di (Distrik Landoh-Tayu) daerah pati yang dalam waktu relatif singkat tersebar luas sampai di Kudus dan sekitarnya. Kendati demikian, Saridin bersama anak lelakinya,Raden Bagus Momok Landoh/Raden Saretno, Raden Kulup (Pangeran Dagan), Raden Tirtokusumo(pangeran Tengah) beserta murid-muridnya, tetap bercocok tanam.

 

Di Dalam Serat (Seh Jangkung Babad Landoh), Seh Jangkung Panembahan Landhoh Memiliki 4 anak di antaranya;

1.     Raden Bagus Momok Landoh. (Raden Bagus Momok Landoh adalah Anak Syekh Jangkung dan Nyai Ageng Sarini Putri Pakeringan).

2.     Raden Ayu Dyah Sunti (Raden Ayu Dyah Sunti adalah Anak Syekh Jangkung dan Raden Ayu retno Diluwih Putri Sultan Kesultanan Palembang).

3.     Pangeran Tengah/Pangeran Tirtakusuma/Raden Mukmin Tirtakusuma/ Raden Bagus Momok Hasan Bashori Tirtakusuma(Bani Hasan Bashori Tirtakusuma - adalah Anak Syekh Jangkung dan Raden Ayu Pandan Arum Putri Sultan Kesultanan Cirebon) Memiliki Anak Raden Amir/ Pangeran Tirta Menggala Berputra Raden Rahmat / Pangeran Kertamenggala dan Raden Sahid, Pangeran Kertamenggala/Raden Rahmat Menikah dengan Raden Ayu Rara Kuning(Raden Ayu Pembayun) Putri Bupati Demak Adipati Tumenggung Padmanegara di Tahun 1725 Masehi, Berputra diantaranya Kyai Raden Kertowijoyo lahir 1750, Berputra Kyai Raden Soedipoero, Berputra Kyai Raden Soerodiwiryo, Berputra Raden Soemito Sastrowardoyo, Berputra Dokter Moewardi lahir 30 januari 1907.

4.     Pangeran Landoh/Pangeran Dagan/Raden Kulub/Raden Bagus Momok Kulub Hasan Haji (Bani Raden Kulub Hasan Haji adalah anak Syekh Jangkung dan Nyai Ageng Bakirah binti Ki Ageng Prayaguna (Bakul Legen), Pangeran Dagan/Raden Kulub Menikah dengan Raden Ayu Putri Prajakusuma Memiliki Anak Raden Ishak/Pangeran Landoh Natakusuma/Pangeran Natakusuma Menikah dengan Raden Ayu Rara Sulbiyah Berputra Kyai Ageng Raden Sadad/ Kyai Ageng Masad (Raden Kidang Sembrana Landoh).

 

Silsilah Gusti Raden Ayu Retno Jinoli menurut Naskah Pustoko Darah Agung Rangkainya sebagai berikut :

1.     Prabu Brawijaya/Bhre Kerthabumi

2.     Raden Bondan Kejawan

3.     Ki Getas Pandawa

4.     Raden Bagus Songgom/Ki Ageng Sela

5.     Raden Bagus Enis/Ki Ageng Enis

6.     Raden Bagus Kacung/Ki Ageng Pamanahan

7.     Raden Bagus "Srubut" Dananjaya/ Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati)

8.     Raden Mas Djolang

9.     Gusti Raden Ayu Retno Jinoli.

Dari jalur KI Panjawi sebagai berikut Silsilah Gusti Raden Ayu Retno Jinoli  :

1.     Sunan Kalijaga

2.     Raden Ayu Panengah / Nyai Ageng Ngerang III

3.     Ki Panjawi Bupati Pati

4.     Ratu Mas Waskita Jawi

5.     Raden Mas Djolang

6.     Gusti Raden Ayu Retno Jinoli.

Sebagai tenaga bantu untuk membajak sawah,Raden Bagus Momok Landoh/Raden Saretno minta dibelikan seekor kerbau milik seorang warga Dukuh Landoh. Meski kerbau itu boleh dibilang tidak lagi muda umurnya, tenaganya sangat diperlukan sehingga hampir tak pernah berhenti dipekerjakan di sawah.

Mungkin karena terlalu diforsir tenaganya, suatu hari kerbau itu jatuh tersungkur dan orang-orang yang melihatnya menganggap hewan piaraan itu sudah mati. Namun saat dirawat Saridin, kerbau itu bugar kembali seperti sedia kala.

 

Membagi

Dalam peristiwa tersebut, masalah bangkit dan tegarnya kembali kerbau Landoh yang sudah mati itu konon karena Saridin telah memberikan sebagian umurnya kepada binatang tersebut. Dengan demikian, bila suatu saat Saridin yang bergelar Syeh Jangkung meninggal, kerbau itu juga mati.

Hingga usia Saridin uzur, kerbau itu masih tetap kuat untuk membajak di sawah. Ketika Syeh Jangkung dipanggil menghadap Yang Kuasa pada tanggal 14 - 15 Rojab 1563 Tahun Saka Jawa / 19 - 20 Oktober 1641 masehi yang hingga kini masyarakat di sekitar makam syekh jangkung di landoh Kayen, pati memperingati haul syekh jangkung di tanggal 14 - 15 rojab, dan di makam syekh jangkung juga terdapat makam istri Syekh Jangkung yaitu Nyai Ageng Bakirah Ibunda Raden Kulub (Pangeran Dagan Ariningong)(Putri Ki Prayoguna Bakul Legen), R.A.Retno jinoli, dan R.A.Pandanarum, serta 500 meter di sebelah utara dari lokasi makam Syekh Jangkung terdapat Makam Anak laki laki Syekh Jangkung yaitu Raden Bagus Momok Landoh (Sigit Gus Momok Landoh).

Dan saat kerbau tersebut harus disembelih. Yang aneh, meski sudah dapat dirobohkan dan pisau tajam digunakan menggorok lehernya, ternyata tidak mempan. Bahkan, kerbau itu bisa kembali berdiri. Kejadian aneh itu membuat Raden Bagus Momok Landoh memberikan senjata peninggalan Branjung. Dengan senjata itu, leher kerbau itu bisa dipotong, kemudian dagingnya diberikan kepada para pelayat.

kerbau Landoh yang telah disembelih saat Syeh Jangkung meninggal. Lulang (kulit) binatang itu dibagi-bagikan pula kepada warga. Entah siapa yang mulai meyakini, kulit kerbau itu tidak dimasak tapi disimpan sebagai piandel.

Barangsiapa memiliki lulang kerbau Landoh, konon orang tersebut tidak mempan dibacok senjata tajam. Jika kulit kerbau itu masih lengkap dengan bulunya. Keyakinan itu barangkali timbul bermula ketika kerbau Landoh disembelih, ternyata tidak bisa putus lehernya.

 

RIWAYAT HIDUP DAN KELUARGA

Syekh Jangkung Lahir Sekitar Tahun 1540 an M. beliau adalah putri dari Sunan Muria dan Nyai Sujinah atau Dewi Samaran adik dari Sunan Kudus. beliau terlahir dengan nama Raden Syarifuddin atau sering disebut dengan Saridin

 

RIWAYAT KELUARGA S SYEKH JANGKUNG

Syekh Jangkung mempunyai empat istri yaitu :

Pertama, Sarini dan dikarunia putra:

Raden Bagus Momok Landoh

Raden Ayu Retno Jinoli yang merupakan kakak Sultan Agung kerajaan Mataram.

Raden Ayu Pandan Arum Putri kerajaan Cirebon yang dianugrahi putra :

Momok Hasan Bashori atau Raden Tirto Kusumo

Rohayati putri dari Patih Palembang dan dikaruniai putra:

Momok Hasan Haji

 

NASAB SYEKH JANGKUNG

Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti

Al-Imam Al-Husain bin

Al-Imam Ali Zainal Abidin bin

Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin

Al-Imam Ja’far Shadiq bin

Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin

Al-Imam Muhammad An-Naqib bin

Al-Imam Isa Ar-Rumi bin

Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin

As-Sayyid Ubaidillah bin

As-Sayyid Alwi bin

As-Sayyid Muhammad bin

As-Sayyid Alwi bin

As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin

As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin

As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin

As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin

As-Sayyid Abdullah bin

As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin

As-Sayyid Ali Nuruddin bin

As- Sayyid Maulana Mansur bin

Ahmad Sahuri alias Raden Sahur alias Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban ke-8)

Sunan Kalijaga alias Raden Said

Raden Umar Said (Sunan Muria) menikah dengan Dewi Sujinah adik Sunan Kudus

Raden Syarifuddin atau Saridin Atau Syekh Jangkung.

 

WAFAT

Syekh Jangkung diperkirakan wafat sekitar tahun 15 Rojab 1563 Tahun Saka(Jawa) / 20 Oktober 1641 Masehi. Beliau dimakamkan di desa Landoh, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pati Jawa Tengah. Di kompleks makam Syekh Jangkung terdapat pula makam istrinya, yaitu Retno Jinoli dan RA. Pandan Arum.

 

SANAD ILMU DAN PENDIDIKAN SYEKH JANGKUNG

Beliau dibesarkan dan dididik oleh orangtua angkatnya Kyai dan Nyai Ageng Kiringan

 

GURU-GURU SYEKH JANGKUNG

Sunan Muria

Sunan Bonang

Sunan Kalijaga

Sunan Kudus

 

PENERUS SYEKH JANGKUNG

ANAK-ANAK SYEKH JANGKUNG

Raden Bagus Momok Landoh

Raden Momok Hasan Bashori atau Raden Tirto Kusumo

Raden Momok Hasan Haji


MURID-MURID SYEKH JANGKUNG

Prayaguna

Bakirah

 

PERJALANAN HIDUP DAN DAKWAH SYEKH JANGKUNG

Syekh Jangkung, dikenal sebagai Wali Allah penuh karomah, beliau punya sejarah panjang dengan berbagai macam versi dan terus menjadi buah bibir bagi masyarakat luas. Dari segi nama, ada yang menyebut Syekh Jangkung karena kisahnya bersama Sunan Kalijaga. Serta ada juga yang menjulukinya Kiai Landoh, karena pernah memelihara Kerbau Landoh.

Melalui ringkasan Drs. W. Darmanto, Penilik Kebudayaan Kecamatan Kajen dalam “Saridin, Seri I” yang sumbernya didapat dari cerita lisan masyarakat sekitar, Ada dua versi kisah kelahiran dan masa kecil Mbah Saridin.

Versi pertama, dari kisah tutur masyarakat ada yang menceritakan bahwa Mbah Saridin merupakan anak kandung Sunan Muria dan Dewi Sujinah, sengaja dipondokkan ke tempat Kyai Ageng Kiringan. Mengingat hubungan dekat antara dua keluarga; yaitu Syekh Muhammad Abdul Syakur, Bapak kandung dari Kyai Ageng Kiringan yang merupakan santri kesayangan Sunan Muria.

Sementara versi kedua, Kyai Ageng Kiringan merupakan ayah angkat dari Saridin. Kyai Ageng Kiringan atau Syekh Abdullah Asyiq Ibn Abdul Syakur bersama dengan Nyai Ageng Dewi Limaran atau Nyai Ageng Kiringan dan keduanya merupakan murid setia Sunan Muria. Kakak angkat Mbah Saridin, adalah Nyi Branjung, anak tunggal dari Kyai Ageng Kiringan dan Dewi Limaran. Ketika masih bayi, Mbah Saridin dilarung di aliran Sungai Tayu, Yitna. Kemudian diambil oleh Sunan Kalijaga dan diberikan kepada Kyai Ageng Kiringan yang sebelumnya telah bertirakat penuh tiga hari tiga malam di pinggiran sungai saat fajar tiba. Ibu kandung beliau sendiri merupakan Dewi Sujinah adik dari Sunan Kudus.

Sunan Muria juga berpengaruh besar terhadap jalan kewalian Mbah Saridin. Bila ditarik kesimpulan secara runtut, Mbah Saridin memiliki nasab kewalian dari Sunan Muria, dinaikkan garis ke atas sampai pada nama Sayyidina Huseinn. Namun mendapat gemblengan kanuragan dari tiga tokoh besar yakni Sunan Bonang, Sunan Kudus, serta Sunan Kalijaga. Adapun gelar Jangkung beliau dapat dari gurunya dan juga kakeknya yaitu Raden Sahid atau Sunan Kalijaga. Karena Saridin ini selalu dijangkung oleh gurunya. Makna kata jangkung menurut bahasa Indonesia dilindungi, diayomi, dipelihara, dididik, dan selalu dalam naungannya.

 

MASA KECIL SYEKH JANGKUNG

Bagi sebagian warga Pati, Jawa Tengah nama Syekh Jangkung tidak bisa dilepaskan dengan cerita mengenai kesaktian Syekh Jangkung atau juga dikenal sebagai Saridin yang begitu melegenda. Menurut Babad Pati, Saridin adalah anak angkat Kyai Ageng Kiringan yang ditemukan di pinggir sungai. Selama ini Kyai Ageng Kiringan memang mendambakan anak lelaki meski telah memiliki putri yang bernama Nyi Branjung. Berkat do‟anya yang khusuk pada suatu hari ditemukanlah seorang bayi laki-laki dengan perantara gaib Sunan Kalijaga yang mengatakan sesungguhnya bayi itu adalah putra sunan Muria, Bayi itu berselimutkan kain kemben yang berasal dari kain penutup dada sang ibu. “Asuhlah dengan bijak, agar kelak menjadi anak yang berbakti kepada orangtua dan agama. Adapun kemben itu kelak akan menjadi senjata yang ampuh untuk mengatasi setiap bahaya yang mengancamnya,” kata Sunan Kalijaga seperti dimimpikan oleh Kyai Ageng Kiringan.

Tentu saja Kyai dan Nyai Ageng Kiringan sangat berbahagia dan berjanji akan melaksanakan amanat dari Sunan Kalijaga itu sebaik-baiknya. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah orang desa, bersepakatlah untuk memberi nama sang bayi itu sesuai dengan adat pedesaan, yaitu Syarifuddin. Untuk memudahkan masyarakat Jawa mengucapkannya sesuai logat, nama “Syarifuddin” berubah menjadi “Saridin”.

Dengan penuh kasih sayang suami istri itu mendewasakan Nyi Branjung dan Saridin sebagai kakak beradik hingga keduanya berumah tangga. Setelah beranjak remaja, Kyai Ageng Kiringan mengirimnya untuk berguru kepada Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, wajar saja kalau Saridin memiliki ilmu pengetahuan Agama yang sangat luas. Akan tetapi tidak pernah membuat beliau menjadi sombong. Bahkan beliau bersikap lugu layaknya orang desa.

Setelah beranjak dewasa Nyi Branjung kakak Saridin dinikahkan dengan Prawiroyudo seorang abdi dalem tumenggung Niti Kusumo dari Mataram yang menjadi buronan. Setelah Kyai Ageng Keringan wafat, Prawiroyudo mengajak Branjung pindah ke Miyono. Setelah di Miyono Prawiroyudo berterus terang bahwa dirinya adalah buronan Kasultanan Mataram dan meminta agar ia kini di panggil Ki Branjung. Ketika tinggal bersama kakaknya di Miyono inilah Saridin bertemu dan menikah dengan Sarini putri tunggal Kyai Truno Upet. Dari pernikahan ini Saridin dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Momok.

Nyi Branjung dan Saridin oleh orang tuanya mendapat peninggalan warisan berupa kebun pohon durian. Dan keduanya telah setuju untuk membagi uang hasil penjualan panenan buah durian tersebut. Ki Branjung atau Prawiroyudo yang merupakan suami Nyi Branjung yang telah menyamarkan namanya dengan nama istrinya tersebut menjadi Branjung menawarkan kepada Saridin jika ada buah durian yang jatuh di malam hari maka yang memilikinya adalah Ki Branjung, sedangkan yang jatuh di siang hari maka yang memilikinya adalah Saridin. Untuk menjaga hubungan yang baik dengan saudaranya, Saridin menerima dengan senang hati tawaran Branjung tersebut. Saridin adalah seorang yang sakti, ia kemudian bersemedi pada malam hari memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar durian-durian itu tidak ada yang jatuh pada malam hari, tetapi berjatuhan pada siang hari. Dengan demikian sesuai dengan perjanjian maka durian-durian itu menjadi milik Saridin. Allah SWT mengabulkan permohonan Saridin.

Ternyata buah durian yang jatuh di siang hari lebih banyak daripada buah durian yang jatuh di malam hari. Sehingga membuat Ki Branjung mengadakan tawaran lagi, yaitu Saridin mendapat buah durian yang jatuh di malam hari dan kakaknya Branjung mendapat bagian buah durian yang jatuh di siang hari. Harapannya ialah memperoleh banyak durian yang berjatuhan di siang hari. Allah Maha Adil, sekali lagi Saridin memohon dan bersemedi agar durian-durian itu tidak dijatuhkan pada siang hari, tetapi pada malam hari. Permohonan Saridin terkabul, durian-durian berjatuhan pada malam hari. Hal ini membuat Branjung kecewa dan penasaran, karena tidak mendapatkan durian, maka mencari akal bagaimana cara untuk mendapatkan durian-durian itu. Maka munculah niat buruk Branjung untuk mencuri durian-durian yang jatuh pada malam hari.

Agar niat Ki Branjung untuk mencuri buah durian tidak diketahui oleh Saridin, ia menyamar dengan memakai pakaian dari kulit harimau. Saridin merasa keheranan mengapa buah durian yang biasanya jatuh banyak di malam hari tidak ada yang jatuh. Setelah diteliti ternyata dicuri oleh harimau. Saridin kemudian membuat tombak runcing dari bambu. Pada saat harimau mencuri buah durian, Saridin menusukkan tombak bambu tersebut tepat pada tubuh harimau hingga tewas. Tidak disangka ternyata yang dibunuh bukan harimau, tetapi kakak iparnya sendiri

 

MASA MENJALANI HUKUMAN DI KADIPATEN PATI

Masyarakat Desa Miyono gempar. Ki Branjung, salah satu warga yang cukup terpandang karena kekayaannya, ditemukan tewas di kebun belakang rumahnya. Segera petugas dari desa mengusut ke tempat kejadian perkara, menyelidiki sebab kematian Branjung dan siapa pembunuhnya.Di saat warga Desa Miyono sudah berkerumun di rumah Ki Branjung tiba-tiba muncul Saridin. Masyarakat langsung menunjukkan pandangan pada adik ipar Branjung yang terkenal melarat itu. Saridin datang dengan sebilah bambu runcing yang ujungnya berlumuran darah. Segera Saridin dipanggil. “Kemari kamu, Din,” ujar seorang petugas. “Ya… saya tuan,” jawab Saridin.

“Kamu tahu siapa yang membunuh Branjung?” ujar petugas itu sambil menunjuk mayat Branjung dengan sikap menyelidik. Saridin menggeleng. Tapi petugas yang sudah curiga itu tak mau menyerah. Mayat Branjung yang mengenakan baju macan ia rapikan lagi hingga tubuh Branjung yang terbaring itu kini menyerupai macan. “Nah, kalau ini kamu tahu siapa yang membunuh?” tanya petugas itu lagi.“Lha, kalau macan ini saya membunuh,” jawab Saridin. Tak ayal warga Desa Miyono gempar dengan pernyataan Saridin itu. Berarti Saridin-lah yang membunuh Branjung.

Dibawalah Saridin menghadap Kepala Desa untuk disidang secara adat. “Saridin, benar kamu telah membunuh kakak iparmu?” tanya kepala desa menegaskan. “Pak kepala desa, demi Allah saya tidak membunuh kakak ipar sendiri,” jawab Saridin polos. Sebagaimana dilakukan petugas keamanan desanya, kepala desa lalu menutup lagi tubuh Branjung dengan pakaian macannya. “Nah, kalau macan ini kamu yang membunuh?” tanya kepala desa. “Ya, betul saya yang membunuh macan ini sebab ia mencuri durian saya,” jawab Saridin. Begitu terus sampai berulang-ulang. Saridin tetap tidak mengakui telah membunuh Branjung. Ia hanya membunuh macan, sebab memang itulah yang terjadi.

Kepala desa merasa bingung apa yang harus ia putuskan. Di satu sisi ia mengetahui bahwa Branjung telah dibunuh oleh Saridin, tapi Saridin tidak bisa dihukum sebab yang ia bunuh adalah macan, samaran kakak iparnya. Karena merasa tidak bisa mencari solusi masalah yang baru pertama kali terjadi ini, Kepala Desa Miyono membawa kasus ini ke Kadipaten Pati.

Di hadapan Joyokusumo, Bupati Pati, kejadian tadi kembali berulang. Kalau pakaian macan Branjung dibuka, Saridin tidak mengakui ia telah membunuh, sedang kalau pakaian Branjung dirapatkan Saridin mengakui ia telah membunuh. Akhirnya Bupati tersebut merasa Saridin yang dihadapannya ini adalah orang desa yang lugu dan dungu maka dengan sedikit berbohong ia berkata.

“Ya sudah, Din, kalau begitu macan yang salah, karena macan salah, ia harus dikubur, kamu sendiri akan saya beri penghargaan karena telah membunuh macan. Kamu nanti akan saya pindahkan ke bangunan besar, di sana kamu akan diberi makan gratis setiap hari, kamu bebas tidur atau mengerjakan apa saja, tapi kamu tidak boleh keluar, kamu hanya boleh keluar kalau kamu bisa. Nanti kalau kamu mau mandi akan ada orang yang mengantar dan menjaga  kamu,” ujar Joyo Kusumo kepada Saridin. Sebagai orang yang melarat tentu saja Saridin senang mau diberi makan gratis. Apalagi kalau mandi akan diantar, “Wah, mirip Priyayi,” ujar Saridin gembira. Maka dibawalah Saridin ke tempat enak yang tidak lain adalah penjara itu. Di sana ia mendekam sebagai tahanan. Disitulah Saridin mulai menyadari apa yang menimpanya. Karena Bupati membolehkan dirinya keluar dari penjara kalau ia bisa. Saridin ingin keluar untuk minta maaf pada istrinya sebab telah menjadi suami yang berulah. Di sana pula Saridin menghayati wejangan Sunan Bonang, yang mengatakan, jika seorang manusia telah menyatukan rasa dengan Sang Pencipta, apa yang diinginkan pasti akan terlaksana.

Sebelum dimasukkan ke dalam rumah berjeruji besi tersebut, Saridin bertanya kepada petugas apakah boleh pulang kalau rindu anak dan istrinya. Petugas menjawab: “Boleh, asal bisa.” Beberapa hari kemudian, Saridin memohon kesempatan pulang kerumahnya. Akan tetapi jangankan dibukakan pintu oleh para sipir penjara, bahkan izin pun tidak diperbolehkannya. Sadarlah Saridin bahwa dirinya telah ditipu. Di tengah-tengah keyakinannya tersebut, Saridin yang cerdas, melihat secercah celah kelemahan dalam memutuskan hukuman penjara atas dirinya. Kelemahan itu adalah pernyataan Adipati Joyokusumo yang intinya ia boleh pulang apabila bisa. Oleh karena itu, ia pun memohon kehadirat Allah SWT agar diberi-Nya kesempatan untuk dapat keluar dari penjara sekedar untuk melihat keadaan anak-istrinya.

Karena dalam peristiwa tewasnya Ki Branjung itu sesungguhnya Saridin berada di pihak yang diperlakukan tidak adil. Maka Allah SWT mengabulkan permohonannya. Pada suatu malam yang sepi, Saridin mengamalkan kesaktiannya sehingga terbebaslah dari rumah penjara itu tanpa diketahui para penjaga yang selalu siaga setiap saat. Setelah sampai di rumah, Saridin melihat istrinya Sarini hendak diperkosa oleh petinggi Miyono. Melihat kedatangan Saridin, petinggi Miyono kaget dan langsung melarikan diri, kemudian melaporkan kepulangan Saridin kepada Adipati Joyokusumo. Kejadian ini membuat geger Kadipaten Pati. Setelah pulang menjenguk istri dan anaknya, Saridin kembali ke penjara. Tanpa merasa bersalah, Saridin mengakui kalau dia telah pulang ke rumah untuk menjenguk istri dan istrinya.

Hal ini membuat proses hukuman kematiannya pun dipercepat. Saridin kemudian dimasukkan kedalam peti, namun yang terjadi justru prajurit yang berada di dalam peti tersebut, sehingga membuat geram para prajurit. Karena merasa dipermainkan para prajurit membawa Saridin ketiang gantungan di alun-alun kadipaten. Ketika tali sudah dipasang dan hendak ditarik ternyata tali tersebut menjadi sangat berat, dan Saridin juga menawarkan diri untuk ikut serta dalam menarik tali gantungan tersebut dan dijawab boleh kalo bisa. Akhirnya Saridin turut serta menarik tali tersebut yang menyebabkan salah seorang anggota prajurit terpental yang kemudian Saridin dikejar-kejar para prajurit hingga sampai terusir dari wilayah Kadipaten Pati.

 

MENUNTUT ILMU DI PESANTREN SUNAN KUDUS

Berkat pertolongan dari Allah yang melekat pada dirinya, beliau berhasil meloloskan diri. Dan sejak saat itu, Saridin hidup sebagai buronan Kadipaten Pati. Dalam keadaan sedih hidup sebagai buronan Saridin bertemu dengan Sunan Kalijaga. Kemudian Sunan Kalijaga mengingatkan agar ia tidak sembarangan dalam menggunakan anugrah kelebihan yang melekat pada dirinya. Sunan Kalijaga menyarankan Saridin untuk berziarah ke makam ibunya di Keringan. Oleh karena itu Saridin pun bergegas pergi ke makam Nyi Sujinah. Setelah beberapa malam lamanya nyepi di makam Nyi Sujinah bergelar Dewi Samaran, Saridin pun bertemu dengan ibunya itu. Dalam mimpinya tersebut ibunya menyarankan agar ia berguru kepada Sunan Kudus.

Akhirnya beliau pun tinggal di untuk menuntut ilmu di Pesantren Kudus. Sesuai tradisi di Pesantren Kudus, kefasihan dan kemerduan suara dalam membaca al-Qur’an dan lain-lain menjadi prioritas utama, membaca syahadat pun mesti seindah mungkin. Sehingga wajar santri Pesantren kota Kudus begitu fasih dalam membaca al-Qur’an. Pada satu waktu Sunan Kudus mengadakan pengujian terhadap semua santri termasuk Saridin, untuk membaca syahadat satu persatu. Semua santri begitu fasih dan lancar dalam membaca syahadat. Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes membaca syahadat, beliau berdiri tegap, berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap kedepan. Kemudian menarik napas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya komat-kamit entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat. Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak beliau berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan memilih kelapa yang paling tinggi terus meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.

Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak (daun kelapa kering) di puncak batang kelapa). Beliau menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan, terus naik dan menginjakkan kakinya di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriak dan melompat tinggi dan melampaui pucuk kelapa, kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.  Badan Saridin menimpa bumi,terkapar. Tetapi anehnya tidak suara benda jatuh ke bumi. Sebagian santri berlari mendekat untuk melihat Saridin. Tetapi ternyata itu tidak perlu. Saridin membuka matanya dengan wajahnya tetap kosong seperti tidak ada apa-apa. Ia bangkit dan membungkuk menghadap Sunan Kudus dan berkata: “ Sami’na wa atha’na aku telah mendengarkan dan aku telah mematuhi.” Gemparlah seluruh pesantren dan penduduk berduyun-duyun berkumpul dalam ketidak mengertian dan kekaguman. Saling bertanya dan bergumam namun tidak menghasilkan pengertian apa pun. Akhirnya Sunan Kudus mengumpulkan para santri dan penduduk masuk ke dalam masjid.

Sunan Kudus kemudian berkata kepada Saridin, mengapa Saridin menjatuhkan dari pohon kelapa? Saridin menjawab, “Kalau hanya sekedar mengucapkan kalimat syahadat seperti yang dilakukan para santri seperti tadi,anak kecil pun bisa. Maka, saya memaknai syahadat dengan menjatuhkan diri dari pohon kelapa seperti ini. Sebab, bersyahadat maknanya adalah keyakinan atau keimanan kepada Gusti Allah di dalam hati.” Begitulah makna hakikat kalimat syahadat yang ada dalam benak Saridin. Itu mengisyaratkan adanya keyakinan yang mendalam dalam diri Saridin. Kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Jika dengan menjatuhkan diri dari pohon kelapa tadi akhirnya mati, berarti ketetapan kematiannya memang saat itu juga. Karena tidak mati, berarti dia memang belum saatnya mati.

Kemudian Sunan Kudus berkata kepada para santri dan penduduk,“Saridin telah bersyahadat, bukan membaca syahadat. Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa.” Menurut Saridin Syahadat adalah mempersembahkan seluruh hidup dan dirinya. Saridin tidak takut mati, karena hidup dan mati adalah kehendak Tuhan.

Kemudian Sunan Kudus berkata: “Bagaimana sekarang kalau aku menyuruhmu makan jamu gamping yang panas dan membakar tenggorokan dan perutmu? “Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau aku kemudian mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati.” Sunan Kudus melanjutkan: “Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, Insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain? ”Maksud Sunan? ”Bagaimama kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?”

“Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku Kanjeng Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri, Jawab Saridin. Setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama, dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Allah melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyakinannya, dengan tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunnatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda. ”Sunan Kudus bertanya lagi, ”Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan bunglon, apa katamu? ”Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya. Akhirnya seluruhnya yang hadir terdiam, tak lama kemudian Sunan Kudus membubarkan acara tersebut.

Karena murid baru beliau sering dikerjai oleh murid-murid lama. Para santri setiap hari diwajibkan mengisi tempat air untuk wudu. Nah, Saridin yang juga terkena kewajiban itu rupanya tidak kebagian ember. Para santri lama tak ada satupun yang mau meminjamkan ember padanya. Melihat Saridin bingung kesulitan mendapatkan ember, seorang santri bilang dengan maksud mengolok. “Din, kamu tidak kebagian ember ya, tuh ada keranjang…. Bawa saja air di sumur itu pakai keranjang,” ujar santri itu sambil menahan senyum. Terdorong melaksanakan kewajibannya Saridin membawa saja keranjang rumput itu. Ajaib, air yang seharusnya lolos di sela-sela lubang keranjang itu, malah dapat tertampung hingga Saridin dapat mengisi tempat wudu sampai penuh. Para santri yang melihat hanya melongo melihat ulah Saridin.

Berita itu akhirnya sampai kepada Sunan Kudus. Di hadapan mursyidnya itu Saridin dengan jujur menceritakan semuanya tanpa ada satupun yang tertinggal. Menganggap Saridin sedang menyombongkan diri dengan kelebihannya, Sunan Kudus lalu mengetes Saridin. “Din… kamu kan tadi mengisi air, sekarang di tempat wudhu itu apakah ada ikannya?” tanya Sunan Kudus. “Setiap air pasti ada ikannya, Kanjeng Sunan, begitu pula di tempat air wudu itu,” jawab Saridin polos. Para santri yang mendengar jawaban Saridin kontan tertawa. “Mana mungkin tempat wudhu ada ikannya,” pikir mereka. Tapi setelah di cek memang betul ditemukan ikan di dalamnya.

Sunan Kudus gusar melihatnya, kali ini Sunan Kudus merasa ditantang. “Baik, Saridin, sekarang apa yang ada ditanganku ini?” ujar Sunan Kudus. “Buah kelapa, kanjeng,” jawab Saridin pelan.

“Katamu setiap air ada ikannya, kelapa ini didalamnya ada airnya, apakah kau tetap mengatakan bahwa dalam kelapa ini ada ikannya?” tanya Sunan Kudus lagi. “Ada Kanjeng,” jawab Saridin polos. Kembali hadirin tertawa karena menganggap Saridin dungu. Tapi setelah kelapa itu dibelah kagetlah mereka semua, termasuk Sunan Kudus, karena didalamnya ada ikan hidup yang berenang di air kelapa. Menganggap Saridin melakukan hal-hal yang tak patut, yaitu memperlihatkan karomah diri pada orang lain. Menyadari bahwa budaya memamerkan segala bentuk anugerah Allah bisa mengancam eksistensi Pesantren Kudus sebagai salah satu pusat dakwah Islamiah, maka Sunan Kudus mempersilahkan Saridin untuk meninggalkan wilayah Kudus dan tidak menginjakkan kakinya di bumi Kudus.

Setelah diusir oleh Sunan Kudus, Saridin tidak pulang ke Landhoh, namun masuk ke dalam jumbleng (tempat buang air besar) Kaputren Kudus untuk bertapa. Keberadaan Saridin kemudian diketahui oleh salah satu putri Kudus yang hendak buang air. Putri Kudus tersebut tak lain adalah Nyai Sunan, ketika Nyai Sunan Kudus merasa akan buang air besar, maka masuklah Nyai Sunan ke jumbleng atau WC tersebut. Baru saja Nyai Sunan ingin jongkok, Saridin tertawa terbahak-bahak. Nyai Sunan terkejut dan tak mengira sama sekali bahwa tempat itu telah ada manusia masuk. Serta-merta Nyai Sunan lari untuk melaporkan hal itu kepada Sunan Kudus. Demi mendengar laporan Nyai Sunan, Sunan Kudus segera ke belakang menyatakan kemarahannya. Para santripun serentak menghambur ke arah jumbleng, mereka hendak mengeroyok Saridin, namun Sunan Kudus melarangnya karena Saridin berada di pihak yang benar, yaitu tidak menginjakkan kakinya di tanah Kudus melainkan ia berdiri di atas batang bambu di atas kotoran manusia yang berada di Jumbleng tersebut. Kemudian terjadi dialog antara Saridin dan Sunan Kudus. Sunan Kudus bertanya: “Sampai kapan kamu akan berjongkok di situ?” “Terserah Sunan,” jawab Saridin, “Hamba bermaksud berguru kepada Sunan. Hamba mohon diterima menjadi murid Sunan. Untuk itu hamba bersedia melakukan apapun yang Sunan perintahkan.” “Kamu mau jongkok disitu sepekan?” “Sendiko, Sunan.” Dan Saridin benar-benar jongkok di jumbleng itu sampai sepekan.

Karena jengkel dengan kelakuan Saridin akhirnya Sunan Kudus murka dan dikejarnya Saridin untuk diberikan hukuman setimpal. Tetapi Saridin berlari dan terus berlari hingga sampailah di suatu sungai dan menceburkan dirinya. Ketika Sunan Kudus sampai di tempat itu Saridin naik ke darat dan melarikan diri dengan meninggalkan bau busuk (bacin, Jawa) dan akhirnya tempat tersebut diberi nama desa Bacin. Saridin terus berlari ke arah barat. Ketika Sunan Kudus sampai di suatu tempat, Sunan Kudus beserta para pengawalnya menginjak-injak pekarangan yang baru dibuat dan rusak, maka tempat itu kemudian disebut desa Karanganyar dari perkataan pekarangan yang baru dibuat. Kemudian Sunan Kudus terus mengejar Saridin kearah selatan. Saridin berlari terus dan sampai disuatu tanggul dan disitu beliau beristirahat. Ditanggul itu Saridin dengan iseng  mendatangkan angin ke arah Sunan Kudus , tetapi dapat ditahan oleh Sunan Kudus, hanya pengikutnya yang terkena angin sehingga banyak yang berjatuhan. Maka tempat tersebut diberi nama Tanggul Angin.

Saridin terus berlari dan berlari akhirnya sampai disuatu tempat ia bersembunyi dan naik di atas pohon cangkring yang tinggi. Tiada berapa lama Sunan Kudus datang dan Saridin melihat kedatangannya terus meloncat turun dan melarikan diri. Kemudian tempat itu diberi nama desa Cangkring diambil dari nama pohon Cangkring tersebut.Saridin masih juga berlari dan tak akan mau menyerah ataupun menghentikan larinya. Jarak antara Saridin dan yang mengejarnya semakin jauh. Sampai di sebuah pasar Saridin langsung masuk. Melihat kelakuan Saridin seperti kurang sehat akalnya, orang-orang di pasar menjadi bubar. Orang yang sedang berjualan mengemasi barang dagangannya dan orang yang sedang berbelanja terus saja lari menjauhi Saridin. Sementara itu, Sunan Kudus dan pengikutnya telah sampai di pasar itu. Melihat orang berlari-lari itu, Sunan Kudus bertanya kepada seorang diantaranya. Orang yang ditanyakannya menjawab bahwa di pasar itu telah kedatangan seorang yang berperawakan tinggi, masih muda tetapi badannya penuh dengan kotoran manusia. Mendengar penuturan itu, Sunan Kudus pun tahu bahwa orang yang dimaksudkan adalah Saridin. Berkatalah Sunan Kudus, bahwa karena orang-orang yang di pasar itu menjadi bubar, maka tempat tersebut dinamakan Pasar Bubar.

Demikianlah satu babak dalam cerita Saridin yang turun temurun dalam tradisi masyarakat Pati. Tokoh ini dikenal masyarakat sebagai seorang wali yang memiliki keluguan tiada tara. Ia memang rakyat biasa yang polos, tapi justru karena kepolosannya itulah yang membuat menguasai ilmu hakikat. Sunan Kalijaga. Wali keramat inilah yang mengajarkan Saridin ilmu hakikat. Makanya kemudian Saridin mengamalkan beberapa wejangan sufistik dari Sunan Bonang yang beliau dapatkan dari Sunan Kalijaga.


PERJALANAN MENGEMBARA DAN DAKWAH SYEKH JANGKUNG

Dengan putus asa Saridin pergi, rupanya hal yang dialaminya diketahui Sunan Kalijaga. Wali yang bijak ini lalu menasehati Saridin untuk sabar sekalipun perbuatannya tadi dilakukan tanpa maksud menyombongkan diri. Sikap Sunan Kudus juga dijelaskan oleh Sunan Kalijaga sebagai sikap yang wajar seorang manusia biasa yang merasa malu jika dipermalukan di depan orang lain di hadapan murid-muridnya. Setelah peristiwa itu Sunan Kalijaga menyuruh Saridin mengasingkan diri untuk lebih dalam mengenal Allah SWT serta menjalani latihan-latihan rohani untuk menyatu dengan-Nya.

Kemudian Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali dua buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalau tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalau tidak ada air yang turun. Setelah berhari-hari bertapa di laut dan hanyut terbawa ombak akhirnya dia terdampar di salah satu kerajaan di Pulau Sumatera ada yang mengatakan daerah Palembang. Yang belum masuk dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. Raja tersebut menganggap remeh Sultan Agung. Saridin menyela omongan Raja tersebut, dia merasa terpanggil sebagai seorang yang sama-sama dari Tanah Jawa. Beliau  mengaku sebagai hamba Mataram yang mau menguji kesaktian dengan sang raja. “Aku bisa menghitung kekuatan pasukan kerajaan ini, yang paduka gelar di alun-alun kerajaan,” kata Saridin. Ribuan pasukan itu telah siap siaga untuk melawan Sultan Agung Mataram. “Ya, coba kalau bisa kamu menghitung ribuan pasukanku dengan tepat, aku akan mengaku kalah sama kamu, Saridin,”.

Lalu Saridin melesat dengan cepat ke atas, berlari dari ujung ke ujung tombak yang mengacung ke langit. Semua dihitung dengan cepat seperti kilat. Dia kemudian berada dihadapan raja dengan menebak jumlah pasukan yang berbaris. Raja itu pun tertunduk, bergetar dan ciut nyalinya menghadapi kesaktian Saridin. Seketika itu raja takluk dihadapan Saridin, namun dia tidak menerima sembah bakti. Saridin menyarankan untuk tunduk kepada Sultan Agung saja, sebab Saridin adalah salah satu hamba dari Mataram. Dengan demikian raja tersebut tunduk-takluk kepada Sultan Agung tanpa perlawanan sama sekali. Bahkan beliau juga membantu memberantas pemberontak disana dan dinikahkan dengan Putri dari Patih Palembang yang bernama Rohayati sebagai hadiah. Selain sakti mandraguna, Saridin juga dikenal sebagai ahli berdakwah Agama Islam. Beramal ibadah, membantu kaum du’afa dan para fakir-miskin. konon kabarnya Saridin melanjutkan perjalanan ke Timur Tengah hingga mendapatkan gelar Syekh.

Setelah lama mengembara Syekh Jangkung ingin kembali ke daerah asalnya, yaitu Miyono., ia kemudian dikenal sebagai sufi yang namanya cukup disegani di masa Kerajaan Mataram. Ia mengajarkan konsep-konsep tasawuf pada orang-orang yang ingin mengaji padanya.  Ketenaran Saridin sampai ke wilayah Mataram. Kehebatan Syeh Jangkung akhirnya sampai di telinga Sultan Agung Raja Mataram. Sultan Agung sedang bingung karena warga di Alas Roban mengadu karena saat ini banyak warga yang menderita karena Ki Jati, penguasa alas Roban sangat kejam dan banyak membunuh warga yang akan membuka ladang di daerah itu. Ki Jati adalah orang yang sangat sakti yang bisa berubah menjadi siluman ular yang sangat ganas. Tidak itu saja. Ki Jati yang menganut aliran sesat, selalu menculik gadis-gadis muda di sekitar alas roban untuk dijadikan tumbal agar dia tetap digdaya dengan ilmu hitamnya. Sultan Agung lalu minta tolong pada Syeh Jangkung untuk menumpasnya. Syeh Jangkung lalu mendatangi Ki Jati.

Terjadilah pertarungan hebat antara Syeh Jangkung dengan Ki Jati. Ki Jati kalah dan Syeh Jangkung minta agar Ki Jati berjanji akan meninggalkan alas roban. Namun Ki Jati masih menyimpan dendam pada Syeh Jangkung. Atas jasanya menumpas penguasa Alas Roban, Syeh Jangkung mendapat hadiah dari penguasa Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting kakak perempuannya, Retno Jinoli. Saat Syeh Jangkung berbahagia akan melaksanakan pernikahannya, Ki Jati yang masih dendam raganya masuk kedalam Retni Jinoli. Syeh Jangkung kini harus berhadapan dengan siluman ular Alas Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli. Dengan sungguh-sungguh Syeh Jangkung menyembuhkan calon istrinya. Istri Syeh Jangkung sembuh dan siluman ular yang masuk ke raga Retno Jinali diusir keluar. Wanita trah Keraton Mataram itu lalu menjadi istri sah Syeh Jangkung dan diboyong ke Miyono.

Sebagai keturunan ningrat dan ulama, Syekh Jangkung pernah mengemban amanah Sultan Cirebon untuk menumpas pemberontakan yang telah melakukan penculikan terhadap putri Sultan Cirebon, Ratu Pandan Arum. Untuk menumpasnya, Syekh Jangkung dibantu oleh Sunan Kalijaga, Sayyid Widagdo, Sayyid Abdullah Asyiq, dan Sayyid Panjunan. Misi ini mendapat keberhasilan yang gemilang meskipun salah satu anggota ulama ini ada yang syahid, yaitu Sayyid Widagdo.

 

LEGENDA KEBO LANDOH

Ketika usia Syech Jangkung mendekati senja dia memilih hidup sebagai petani dengan membuka perkampungan baru di kawasan Pati, Jawa Tengah. Dalam perjalanan mencari perkampungan sampailah di Desa Lose. Di sini, dia bertemu dengan tujuh orang yang sedang memperbaiki atap sebuah rumah. Dari sinilah Syekh Jangkung ingin membuktikan kebaikan perilaku ketujuh orang tersebut. Lantas, dia mengalihkan perhatian mereka dengan bertanya apakah ada warga sekitar yang akan menjual kerbau. Maksud Syekh jika ada maka dia ingin membeli dua ekor dengan alasan untuk keperluan membajak sawah. Ke tujuh orang melihat pakaian Syekh Jangkung yang compang-camping tidak mengindahkan pertanyaan tersebut. Malah menghinanya dengan jawabannya yang menyakitkan. Mereka mengatakan di desanya tidak akan ada orang menjual kerbau padanya. Namun, bila mau dia akan diberi kerbau yang sudah mati. Di luar perkiraan ke-tujuh orang itu, Syekh Jangkung menerima tawaran mereka. Lalu berangkatlah mereka bersama menuju tempat kerbau mati.

Syekh Jangkung lantas menatap seonggok kerbau yang sudah tidak bergerak itu. Badannya sangat besar dengan tanduk yang sudah melengkung. Melihat kerbau itu, Syekh Jangkung lantas salat dan meminta kepada Allah agar kerbau itu dihidupkan kembali. “Sekarang bangunlah,” ujar Syekh Jangkung sambil mengelus-elus tanduk kerbau itu. Aneh bin ajaib, tiba-tiba kerbau itu mengibaskan ekornya menandakan dia hidup kembali. Tahu kejadian ajaib itu serta merta ke tujuh orang yang semula meremehkan diri Syech Jangkung langsung bersujud untuk menyampaikan permintaan maafnya. Sejak itu Syekh Jangkung membuka perkampungan di tempat ke tujuh orang tersebut. Yang lantas dikenal dengan nama Desa Landoh, Kecamatan Kajen, Pati. Sebelum meninggal dunia, Syekh Jangkung berpesan agar kelak kerbau itu disembelih dan dibagikan kepada seluruh penduduk. Tapi, ketika dia meninggal dunia, kerbau itu menghilang dan baru muncul pada hari ke 40.

Oleh anaknya, kerbau itu disembelih dan dibagikan kepada penduduk Landoh. Sementara itu, kulitnya (lulang) disimpan dengan rapi. Suatu ketika ada seorang pedagang yang kehilangan sabuk pengikat barang dagangan. Dia mengadu kepada Tirtokusumo, anak Syekh Jangkung yang akhirnya memberikan tulang kerbau peninggalan ayahnya. Namun, di pinggir kampung sapi yang mengenakan tulang kerbau itu mengamuk. Tak seorang pun yang berhasil membunuhnya. Anehnya, sapi itu tiba-tiba menjadi kebal terhadap senjata. Ketika sapi itu kelelahan, Tirokusumo mengambil tulang kerbau itu. Dan, sapi itupun dengan mudah bisa dibunuh dengan tombak. Dari kejadian tersebut, akhirnya masyarakat yakin jika tulang Kebo Landoh adalah jimat sakti untuk kekebalan. Tirtokusumo kemudian membagikan kulit tersebut dalam ukuran kecil kepada penduduk Desa Landoh, termasuk Sultan Agung.

 

KETELADANAN SYEKH JANGKUNG

Meskipun jejak langkah Saridin masih merupakan misteri, namun setidaknya menurut juru kunci makam Saridin, RH. Damhari Panoto Jiwo, menjelaskan bahwa Saridin dilahirkan di Landoh, Kiringan, Tayu, Pati. Nama Saridin berarti inti sarinya agama (esensi agama). Maka semangat belajar atau berguru Saridin juga sangat tinggi. Guru-gurunya antara lain: Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus. Kehidupan Saridin tidak terlepas dari pengaruh guru-gurunya tersebut. Seperti Mijil  dan  Maskumambang.  Sunan Kudus juga ahli tasawwuf dengan paham wihdatul wujud yang berpengaruh terhadap Saridin tentang membaca syahadat Saridin malah memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan diri.

Berbeda dengan Sunan Kudus yang memilih berdakwah dengan menetap di pesantren, Sunan Kalijaga sebaliknya, ia memilih berdakwah dengan berkeliling. Menurutnya, seluruh penjuru dunia adalah pesantren sehingga ia tidak memiliki pondok pesantren. Sunan Kalijaga melegalkan semedi dan sesaji sebagai media penyebaran Islam. Dakwahnya melalui media seperti tembang, wayang, gamelan, dan syair pujian pesantren. Sunan Kalijaga juga ahli tasawwuf. Kebiasaan Saridin bersemedi kemungkinan besar mengikuti jejak Sunan Kalijaga. Demikian juga Sunan Bonang juga ahli dalam bidang dan tasawwuf. Sunan Kalijaga mengajarkan berbagai jenis tapa dan mengajak bertapa kepada muridnya. Sunan Kalijaga tidak hanya mengajak, tetapi juga melakukannya,  sebagaimana  diperintahkan oleh Sunan Bonang waktu Sunan Kalijaga hendak berguru kepadanya. Bertapa di sini dapat dimaknai secara tersirat, yaitu menahan atau mencegah.

Selanjutnya, Saridin mendapat gelar Syekh Jangkung karena keinginan, ucapan, dan kemauannya senantiasa dikabulkan oleh Allah Swt. Syekh Jangkung memanfaatkan segala kelebihannya untuk mengabdi ke beberapa negeri yaitu kasultanan Cirebon, Mataram, Palembang, dan Rum. Saridin adalah tipe orang yang mempunyai kekuatan ruhani dan nurani dibandingkan dengan teman-temannya. Beliau  juga tipe orang yang lebih cenderung melihat landasan vertikal, jalur ke atas, hablum minallah. Berarti dia bukan tipe orang yang gampang terpengaruh melihat sebab akibat, kemakhlukan, muamalah, jalur menyamping atau landasan horisontal (hablum minannas).

Syekh Jangkung adalah orang yang lugu, jujur, ulet, sabar, apa adanya, qana‟ah, tidak serakah. Syekh Jangkung juga adalah seorang tokoh yang selalu taat beribadah kepada Allah. Apapun yang dijalaninya, dia selalu percaya bahwa Allahlah yang telah mengatur segalanya. Cara berdakwah Syekh Jangkung adalah dengan cara lugas dan kejujuran, tetapi disertai dengan mental tauhid dan keyakinan kepada Allah yang kuat sehingga tekun beribadah. Syekh Jangkung menunjukkan bukti kekuasaan Allah kepada masyarakat dengan selalu terkabul do‟anya sehingga memudahkan beliau dalam berdakwah dan menunjukkan bahwa ia orang yang dekat dengan Allah, sehingga keislamannya tidak bisa diragukan lagi.

Syekh jangkung adalah sosok waliyullah (kekasih Allah) yang alim, zahid, dan Wirai. Ia tidak terpesona dengan gemerlapnya dunia meskipun harta berlimpah ruah selalu saja mendekati dirinya tanpa harus diminta. Hidup di lingkungan istana yang serba mewah tidak membuat dirinya tergiur dengan harta dan jabatan. Ia ingin meninggalkan segala kemewahan dan lebih memilih hidup di tengah-tengah masyarakat untuk menyebarkan agama Islam. Wali Allah adalah orang-orang yang dekat kepada Allah, karena mereka menyerahkan diri kepada-Nya, mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (menjadikan Allah sebagai pemimpin mereka), serta mereka akan mendapatkan perlindungan dari Allah.

Religiusitas Saridin yang sufistik-populis berdampak pada cara dakwahnya yang merakyat, dapat menyesuaikan kondisi sosial, keagamaan, dan kebudayaan masyarakatnya. Dengan karamah-karamah yang luar biasa, membuatnya menjadi seorang waliyullah yang banyak disebut-sebut masyarakat, ditambah sikap-sikap yang nyleneh, membuat masyarakat semakin mengenangnya.

 

 

SULUK SARIDIN

MUQADIMAH

Bismillah, wengi iki ingsung madep, ngawiti murih pakerti, pakertining budi kang fitri, sujud ingsun, ing ngarsané Dzat Kang Maha Suci.

Artinya :

Bismillah,malam ini hamba menghadap, mengawali meraih hikmah/ hikmah budi yang suci, hamba bersujud, di hadapan Keagungan Yang Mahasuci.

 

Bismillah ar-rahman ar-rahim, rabu mbengi, malam kamis, tanggal lima las, wulan poso, posoning ati ngilangi fitnah, posoning rogo ngeker tingkah.

Artinya :

Bismillâh ar-Rahmân ar-Rahîm, Rabu malam Kamis, tanggal 15 bulan Ramadhan, puasa hati menghilangkan fitnah, puasa raga mencegah tingkah buruk.

 

Bismillah, dhuh Pangeran Kang Maha Suci, niat ingsun ndalu niki, kawula kang ngawiti, nulis serat kang ingsun arani, serat Hidayat Bahrul Qalbi, anggayuh Sangkan Paraning Dumadi.

Artinya :

Bismillâh, wahai Tuhan Yang Mahasuci, niat hamba malam ini, hamba yang mengawali, menulis surat yang dinamai, surat Hidayat Bahrul Qalbi, untuk memahami asal tujuan hidup ini.

 

Bismillah, dhuh Pangeran mugi hanebihna, saking nafsu ingsun iki, kang nistha sipatipun, tansah ngajak ing laku drengki, ngedohi perkawis kang wigati.

Artinya :

Bismillâh, wahai Tuhan semoga Engkau menjauhkan, dari nafsu hamba ini, yang buruk sifatnya, senantiasa mengajak berlaku dengki, menjauhi perkara yang baik.

 

Bismillah, kanthi nyebut asmaning Allah, Dzat ingkang Maha Welas, Dzat ingkang Maha Asih, kawula nyenyuwun, kanthi tawasul marang Gusti Rasul, Rasul kang aran Nur Muhammad, mugiya kerso paring sapangat, kanthi pambuka ummul kitab.

Artinya :

Bismillâh, dengan menyebut nama Allah, Dzat Yang Maha Pengasih, Dzat Yang Maha Penyayang, hamba memohon, melalui perantara Rasul, Rasul yang bernama Nur Muhammad, semoga berkenan memberi syafaat, dengan pembukaan membaca ummul kitab.

 

Sun tulis kersaneng rasa, rasaning wong tanah Jawa, sun tulis kersaneng ati, atining jiwa kang Jawi, ati kang suci, tanda urip kang sejati, sun tulis kersaning agami, ageming diri ingkang suci.

Artinya :

Hamba tulis karena rasa, perasaan orang tanah Jawa, hamba tulis karena hati, hati dari jiwa yang keluar, hati yang suci, tanda hidup yang sejati, hamba tulis karena agama, pegangan diri yang suci.

 

Kang tinulis dudu ajaran, kang tinulis dudu tuntunan, iki serat sakdermo mahami, opo kang tinebut ing Kitab Suci, iki serat amung mangerteni, tindak lampahé Kanjeng Nabi.

Artinya :

Yang tertulis bukan ajaran,yang tertulis bukan tuntunan,surat ini sekadar memahami,apa yang tersebut dalam Kitab Suci,surat ini sekadar mengetahui,perilaku hidup Kanjeng Nabi.

 

Apa kang ana ing serat iki, mong rasa sedehing ati, ati kang tanpa doyo, mirsani tindak lampahing konco, ingkang tebih saking budi, budining rasa kamanungsan, sirna ilang apa kang dadi tuntunan.

Artinya :

Apa yang ada di surat ini,hanya rasa kesedihan hati,hati yang tiada berdaya,melihat sikap perilaku saudara,yang jauh dari budi,budi rasa kemanusiaan,hilang sudah apa yang menjadi tuntunan.

 

Mugi-mugi dadiho pitutur, marang awak déwé ingsun, syukur nyumrambahi para sadulur, nyoto iku dadi sesuwun, ing ngarsane Dzat Kang Luhur.

Artinya :

Semoga menjadi petunjuk,terhadap diri hamba sendiri,syukur bisa berguna untuk sesama, itulah yang menjadi permohonan,di hadapan Dzat Yang Mahaagung.

 

01. SYARIAT

Mangertiyo sira kabéh, narimoho kanthi saréh, opo kang dadi toto lan aturan, opo kang dadi pinesténan, anggoning ngabdi marang Pangeran.

Artinya :

Mengertilah kalian semua,terimalah dengan segala kerendahan jiwa,terimalah dengan tulus dan rela,apa yang menjadi ketetapan dan aturan,apa yang telah digariskan,untuk mengabdi pada Keagungan Tuhan.

 

Basa sarak istilah ‘Arbi, tedah isarat urip niki, mulo kénging nampik milih, pundhi ingkang dipun lampahi, anggoning ngabdi marang Ilahi.

Artinya :

Istilah syarak adalah bahasa Arab,yang berarti petunjuk atau pedoman untuk menjalani kehidupan ‘agama’,untuk itulah diperbolehkan memilih,mana yang akan dijalani sesuai dengan kemampuan diri,guna mengabdi pada Keagungan Ilahi.

 

Saréngat iku tan ora keno, tininggal selagi kuwoso, ageming diri kang wigati, cecekelan maring kitab suci, amrih murih rahmating Gusti.

Artinya :

Apa yang telah di-syari‘at-kan hendaknya jangan kita tinggal,selama diri ini mampu untuk menjalankan,aturan yang menjadi pegangan hidup kita,aturan yang sudah dijelaskan dalam kitab suci al-Qur’an,Itu semua, tidak lain hanya usaha kita untuk mendapat rahmat, dan pengampunan dari Yang Maha Kuasa.

 

Saréngat iku keno dén aran, patemoné badan lawan lésan, ono maneh kang pepiling, sareh anggoné kidmat, nyembah ngabdi marang Dzat.

Artinya :

Syariat juga diartikan, sebuah pertemuan antara badan dengan lisan,bertemunya raga dengan apa yang dikata,ada juga yang memberi pengertian,bahwa syariat adalah pasrah dalam berkhidmat,menyembah dan mengabdi pada Keagungan Yang Mahasuci.

 

Saréngat utawi sembah raga iku, pakartining wong amagang laku, sesucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wektu, wantu wataking wawaton.

Artinya :

Syari`at atau Sembah Raga itu,merupakan tahap persiapan, di mana seseorang harus melewati proses pembersihan diri,dengan cara mengikuti peraturan-peraturan yang ada,dan yang sudah ditentukan—rukun Islam.

 

Mulo iling-ilingo kang tinebut iki, sadat, sholat kanthi kidmat, zakat bondo lawan badan, poso sak jroning wulan ramadhan, tinemu haji pinongko mampu, ngudi luhuring budi kang estu.

Artinya :

Maka ingat-ingatlah apa yang tersebut di bawah ini, syahadat dengan penuh keihklasan, shalat dengan khusuk dan penuh ketakdhiman, mengeluarkan zakat harta dan badan untuk sesame, puasa pada bulan ramadhan atas nama pengabdian pada Tuhan, menunaikan ibadah haji untuk meraih kehalusan budi pekerti.

 

Limo cukup tan kurang, dadi rukune agami Islam, wajib kagem ingkang baligh, ngaqil, eling tur kinarasan, menawi lali ugi nyauri.

Artinya :

Lima sudah tersebut tidak kurang, menjadi ketetapan sebagai rukun Islam, wajib dilakukan bagi orang ‘Islam’ yang sudah baligh, berakal, tidak gila dan sehat, adapun, jika lupa menjalankan hendaknya diganti pada waktu yang lain.

 

Syaringat ugi kawastanan, laku sembah mawi badan, sembah suci maring Hyang, Hyang ingkang nyipto alam, sembahyang tinemu pungkasan.

Artinya :

Syariat juga dinamakan, melakukan penyembahan dengan menggunakan anggota badan, menyembah pada Keagungan Tuhan, Tuhan yang menciptakan alam, Sembah Hyang, begitu kiranya nama yang diberikan.

 

SYAHADAT

Sampun dados pengawitan, tiyang ingkang mlebet Islam, anyekseni wujuding Pangeran, mahos sadat kanthi temenan, madep-manteb ananing iman.

Artinya :

Sudah menjadi pembukaan, bagi orang yang ingin masuk Islam, bersaksi akan wujudnya Tuhan, bersungguh-sungguh membaca syahadat, disertai ketetapan hati untuk beriman.

 

Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Tinucapo mawi lisan, Sareh legowo tanpa pameksan, Mlebet wonten njroning ati, Dadiho pusoko anggoning ngabdi.

Artinya :

Asyhadu an-lâ ilâha illâ Allâh wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah, ucapkanlah dengan lisan, penuh kesadaran tanpa paksaan, masukkan maknanya ke dalam hati, semoga menjadi pusaka untuk terus mengabdi.

 

Tan ana Pangeran, kang wajib dén sembah, kejawi amung Gusti Allah, semanten ugi Rasul Muhammad, kang dadi lantaran pitulungé umat.

Artinya :

Hamba bersaksi bahwa tak ada tuhan, yang wajib disembah, kecuali Allah swt, begitu pula dengan Nabi Agung Muhammad saw, yang menjadi perantara pertolongan umat.

 

SHALAT

Syarat limo ajo lali, kadas najis, badan kedah suci, nutup aurat kanti kiat, jumeneng panggonan mboten mlarat, ngerti wektu madep kiblat, sampurno ingkang dipun serat.

Artinya :

Lima syarat jangan lupa, badan harus suci dari hadats dan najis, menutup aurat jika tidak kesulitan, dilaksanakan di tempat yang suci, mengerti waktu untuk melakukan shalat, lalu menghadap kiblat, sempurna sudah yang ditulis.

 

Wolu las kang dadi mufakat, rukun sahe nglakoni shalat, niat nejo, ngadek ingkang kiat, takbir banjur mahos surat, al-fatihah ampun ngantos lepat.

Artinya :

Delapan belas yang menjadi mufakat, rukun sahnya menjalankan shalat, niat melakukan shalat, berdiri bagi kita yang mampu, mengucapkan takbiratul ikhram membaca surat, al-Fatichah jangan sampai keliru.

 

Rukuk, tumakninah banjur ngadek, aran iktidal kanti jejek, tumakninah semanten ugi, banjur sujud tumurun ing bumi, sareng tumakninah ingkang mesti, kinaranan ing tumakninah, meneng sedelok sak wuse obah.

Artinya :

Rukuk dengan tenang lalu berdiri, disebut i’tidal dengan tegap, hendaknya juga tenang seperti rukuk, lalu sujud turun ke bumi, bersama thumakninah yang benar, dinamakan thumakninah, diam sebentar setelah bergerak.

 

Sewelas iku lungguh, antarane rong sujudan, tumuli tumakninah, kaping telulas lungguh akhir, banjur maos pamuji dikir.

Artinya :

Sebelas itu duduk, di antara dua sujud, disertai thumakninah, tiga belas duduk akhir, lalu membaca pujian dzikir.

 

Limolas iku moco sholawat, kagem Gusti Rosul Muhammad, tumuli salam kang kawitan, sertane niat rampungan, tertib sempurna dadi pungkasan.

Artinya :

Lima belas membaca shalawat, kepada Rasul Muhammad, kemudian salam yang pertama, bersama niat keluar shalat, tertib menjadi kesempurnaan.

 

ZAKAT

Zakat iku wus dadi prentah, den lampahi setahun pindah, tumprap wong kang rijkine torah, supados bersih awak lan bondo, ojo pisan-pisan awak déwé leno.

Artinya :

Zakat sudah menjadi perintah, dilakukan setahun sekali, bagi orang yang hartanya berlimpah, supa bersih raga dan harta, jangan sekali-kali kita lupa.

 

Umume wong dho ngenthoni, malem bodho idul fitri, zakat firah den arani, bersihaké badan lawan ati, zakat maal ugo mengkono, nanging kaprahing dho orak lélo.

Artinya :

Umumnya orang mengeluarkan, malam Hari Raya Idul Fitri, zakat fitrah dinamai, membersihkan raga dan hati, zakat harta juga begitu, namun umumnya pada tidak rela.

 

Ampun supé niating ati, nglakoni rukun pardune agami, lillahi ta`ala iku krentekno, amrih murih ridaning Gusti, supados dadi abdi kang mulyo.

Artinya :

Jangan lupa niat di hati, menjalankan rukun fradhunya agama, karena Allah tanamkanlah, untuk mendapat keridhaan-Nya, supaya menjadi hamba yang mulia.

 

PUASA

Islam, balék, kiat, ngakal, papat sampun kinebatan, wonten maleh ingkang lintu, Islam, balék lawan ngakal, dados sarat nglampahi siam.

Artinya :

Islam, baligh, kuat, berakal, empat sudah disebutkan, ada juga yang mengatakan, Islam, baligh, dan berakal, menjadi syarat menjalankan puasa.

 

Kados sarat rukun ugi sami, kedah dilampai kanthi wigati, niat ikhlas jroning ati, cegah dahar lawan ngombé, nejo jimak kaping teluné, mutah-mutah kang digawé.

Artinya :

Seperti syarat, rukun juga sama, harus dijalanlan dengan hati-hati, niat ikhlas di dalam hati, mencegah makan dan minum, jangan bersetubuh nomor tiga, jangan memuntahkan sesuatu karena sengaja.

 

Papat jangkep sampun cekap, dadus sarat rukuné pasa, ngatos-ngatos ampun léna, mugiyo hasil ingkang dipun seja, tentreming ati urip kang mulya.

Artinya :

Empat genap sudah cukup, menjadi syarat rukunnya puasa, hati-hati jangan terlena, semoga berhasil apa yang diinginkan, tentramnya hati hidup dengan mulia.

 

HAJI

Limo akhir dadi kasampurnan, ngelampahi rukun parduné Islam, bidal zaroh ing tanah mekah, menawi kiat bandane torah, lego manah tinggal pitnah kamanungsan.

Artinya :

Lima terakhir menjadi kesempurnaan, menjalankan rukun fardhunya Islam, pergi ziarah ke tanah Makah, jika kuat dan hartanya berlimpah, hati rela menjauhi fitnah kemanusiaan.

 

Pitu dadi sepakatan, sarat kaji kang temenan, Islam, balik, ngakal, merdeka, ananing banda lawan sarana, aman dalan sertané panggonan.

Artinya :

Tujuh jadi kesepakatan, syarat haji yang betulan, Islam, baligh, berakal, merdeka, adanya harta dan sarana, aman jalan beserta tempat.

 

Ikram sertané niat, dadi rukun kang kawitan, wukuf anteng ing ngaropah, towaf mlaku ngubengi kakbah, limo sangi ojo lali, sopa marwah pitu bola-bali.

Artinya :

Ikhram beserta niat, menjadi rukun yang pertama, thawaf berjalan mengelilingi ka‘bah, lima sa’i jangan lupa, safa-marwah tujuh kali.

 

02. THARIQAT

Muji sukur Dzat Kang Rahman, tarékat iku sak dermo dalan, panemoné lisan ing pikiran, nimbang nanting lawan heneng, bener luputé sira kanthi héling.

Artinya :

Puji syukur Dzat Yang Penyayang,tarekat hanyalah sekadar jalan,bertemunya ucapan dalam pikiran,menimbang memilih dengan tenang,benar tidaknya engkau dengan penuh kesadaran.

 

Tarékat ugi kawastanan, sembah cipto kang temenan, nyegah nafsu kang ngambra-ambra, ngedohi sipat durangkara, srah lampah ing Bathara.

Artinya :

Tarekat juga dinamakan, sembah cipta yang sebenarnya, mencegah nafsu yang merajalela, menjauhi sifat keburukan, berserah di hadapan Tuhan.

 

Semanten ugi aweh pitutur, makna tarékat ingkang luhur, den serupaaken kados segoro, minongko saréngat dadus perahu, kang tinemu mawi ngélmu.

Artinya :

Kiranya juga memberi penuturan,makna tarekat yang luhur,diibaratkan laksana samudera,dengan syariat sebagai perahunya,yang ditemukan dengan ilmu.

 

Mila ampun ngantos luput, dingin nglampahi saréngat, tumuli tarékat menawi kiat, namung kaprahé piyambak niki, supe anggenipun ngawiti.

Artinya :

Maka jangan sampai keliru, mendahulukan menjalani syariat, kemudian tarekat jika mampu, namun umumnya kita ini, lupa saat memulai.

 

Mila saksampunipun, dalem sawek sesuwunan, mugiya tansah pinaringan, jembaring dalan kanugrahan, rahmat welas asihing Pangeran.

Artinya :

Maka setelahnya, hamba senantiasa memohon, semoga terus mendapat, lapangnya jalan anugerah, cinta dan kasih sayang Tuhan.

 

SYAHADAT

Lamuno sampun kinucapan, rong sadat kanthi iman, kaleh puniko dereng nyekapi, kangge ngudari budi pekerti, basuh resék sucining ati.

Artinya :

Jika sudah diucapkan, dua syahadat dengan iman, dua ini belumlah cukup, untuk mengurai budi pekerti, membasuh bersih sucinya hati.

 

Prayuginipun ugi mangertosi, sifat Agungé Hyang Widhi, kaleh doso gampil dipun éngeti, wujud, kidam lawan baqa, mukalapah lil kawadisi.

Artinya :

Seyogyanya juga mengerti, sifat Keagungan Tuhan, dua puluh mudah dimengerti, wujud, qidam, dan baqa, mukhalafah lil hawâdis.

 

Limo qiyam binafsihi, wahdaniyat, kodrat, irodat, songo ilmu doso hayat, samak basar lawan kalam, pat belas iku aran kadiran.

Artinya :

Lima qiyâmuhu bi nanafsihi, wahdaniyat, qodrat, iradat, sembilan ilmu, sepuluh hayat, sama&lsquo, bashar, kalam, empat belas qadiran.

 

Muridan kaping limolas, aliman, hayan pitulasé, lawan samian ampun supé, banjur basiron madep manteb, mutakalliman ingkang tetep.

Artinya :

Muridan nomor lima belas, aliman, hayan nomor tujuh belas, kemudian samian jangan lupa, terus bashiran dengan mantab, mutakalliman yang tetap.

 

Nuli papat kinanggitan, dadi sifat mulyané utusan, sidik, tablik ora mungkur, patonah sabar kanthi srah, anteng-meneng teteping amanah.

Artinya :

Kemudian empat disebutkan, menjadi sifat kemuliaan utusan, sidiq, tabligh tidak mundur, fathanah sabar dengan berserah, diam tenang bersama amanah.

 

Kaleh doso sampun kasebat, mugiyo angsal nikmating rahmat, tambah sekawan tansah ingeti, dadiho dalan sucining ati, ngertosi sir Hyang Widhi.

Artinya :

Dua puluh sudah disebut, semoga mendapat nikmatnya rahmat, ditambah empat teruslah ingat, jadilah jalan mensucikan hati, mengetahui rahasia Yang Mahasuci.

 

SHALAT

Limang waktu dipun pesti, nyekel ngegem sucining agami, agami budi kang nami Islam, rasul Muhammad dadi lantaran, tumurune sapangat, rahmat lan salam.

Artinya :

 

Lima waktu sudah pasti, memegang kesucian agama,agama budi yang bernama Islam,rasul Muhammad yang menjadi perantara,turunnya pertolongan, rahmat, dan keselamatan.

 

Rino wengi ojo nganti lali, menawi kiat anggoné nglampahi, kronten salat dadi tondo, tulus iklasing manah kito, nyepeng agami tanpo pamekso.

Artinya :

Siang malam jangan lupa, jika kuat dalam menjalani, karena shalat menjadi tanda, tulus ikhlasnya hati kita, mengikuti agama tanpa dipaksa.

 

Ngisak, subuh kanthi tuwuh, tumuli luhur lawan asar, dumugi maghrib ampun kesasar, lumampahano srah lan sabar, jangkep gangsal unénan Islam.

Artinya :

Isyak, Shubuh dengan penuh, kemudian Luhur dan Ashar,sampai Maghrib jangan kesasar, jalanilah dengan pasrah dan sabar, genap lima disebut Islam.

 

Kanthi nyebut asmané Allah, Sak niki kita badé milai, ngudari makna ingkang wigati, makna saéstu limang wektu, pramila ingsun sesuwunan, tambahing dungo panjengan.

Artinya :

Dengan menyebut nama Allah, sekarang kita akan mulai, mengurai makna yang tersembunyi,makna sesungguhnya lima waktu,karenanya hamba memohon,tambahnya doa Anda sekalian.

 

ISYAK

Sun kawiti lawan ngisak, wektu peteng jroning awak, mengi kinancan cahya wulan, sartané lintang tambah padang, madangi petengé dalan.

Artinya :

Hamba mulai dengan isyak,waktu gelap dalam jiwa,malam bersama cahaya bulan,bersanding bintang bertambah terang,menerangi gelapnya jalan.

 

Semono ugi awak nira, wonten jroning rahim ibu, dewekan tanpa konco, amung cahyo welasing Gusti, ingkang tansah angrencangi.

Artinya :

Seperti itu jasad kamu,di dalam rahim seorang ibu,sendirian tanpa teman, hanya cahaya kasih Tuhan, yang senantiasa menemani.

 

SHUBUH

Tumuli subuh sak wusé fajar, banjur serngéngé metu mak byar, padang jinglang sedanten kahanan, sami guyu awak kinarasan, lumampah ngudi panguripan.

Artinya :

Kemudian shubuh setelah fajar,lalu matahari keluar bersinar,terang benderang semua keadaan,bersama tertawa badan sehat,berjalan mencari kehidupan.

 

Duh sedulur mangertiya, iku dadi tanda lahiring sira, lahir saking jroning batin, batin ingkang luhur, batin ingkang agung.

Artinya :

Wahai saudara mengertilah, itu menjadi tanda kelahiranmu, lahir dari dalam batin, batin yang luhur, batin yang agung.

 

ZHUHUR

Luhur teranging awan, tumancep duwuring bun-bunan, panas siro ngraosaké, tibaning cahyo serngéngé, lérén sedélok gonmu agawé.

Artinya :

Zhuhur terangnya siang,menancap di atas ubun-ubun, panas kiranya kau rasakan, jatuhnya cahaya matahari, berhenti sebentar dalam bekerja.

 

Semono ugo podho gatékno, lumampahing umur siro, awet cilik tumeko gedé, tibaning akal biso mbedakké, becik lan olo kelakuné.

Artinya :

Seperti itu juga pahamilah, perjalanan hidup kamu,dari kecil hingga dewasa,saat akal bisa membedakan, baik dan buruk perbuatanmu.

 

ASHAR

Ngasar sak durungé surup, ati-ati noto ing ati, cawésno opo kang dadi kekarep, ojo kesusu ngonmu lumaku, sakdermo buru howo nepsu.

Artinya :

Ashar sebelum terbenam, hati-hatilah menata hati, persiapkan apa yang menjadi keinginan, jangan tergesa-gesa kamu berjalan,hanya sekadar menuruti hawa nafsu.

 

Mulo podho waspadaha, dho dijogo agemaning jiwa, yo ngéné iki kang aran urip, cilik, gedé tumeko tuwo, bisoho siro ngrumangsani, ojo siro ngrumongso biso.

Artinya :

Maka waspadalah, jagalah selalu pegangan jiwa,ya seperti ini yang namanya hidup, kecil, besar, sampai tua,bisalah engkau merasa,janganlah engkau merasa bisa.

 

MAGHRIB

Maghrib kalampah wengi, serngéngé surup ing arah kéblat, purna oléhé madangi jagad, mego kuning banjur jedul, tondo rino sampun kliwat.

Artinya :

Maghrib mendekati malam,matahari terbenam di arah kiblat, selesai sudah menerangi dunia, mega kuning kemudian keluar, tanda siang sudah terlewat.

 

Duh sedérék mugiyo melok, bilih urip mung sedélok, cilik, gedé tumeko tuwa, banjur pejah sak nalika, wangsul ngersané Dzat Kang Kuwasa.

Artinya :

Wahai saudara saksikanlah, bahwa hidup hanya sebentar, kecil, besar, sampai tua, kemudian mati seketika, kembali ke hadapan Yang Kuasa.

 

ZAKAT

Lamuno siro kanugrahan, pikantuk rijki ora kurang, gunakno kanthi wicaksono, ampun supé menawi tirah, ngedalaken zakat pitrah.

Artinya :

Jika engkau diberi anugerah, mendapat rezeki tidak kurang, gunakanlah dengan bijaksana, jangan lupa jika tersisa, mengeluarkan zakat fitrah.

 

Zakat lumantar ngresiki awak, lahir batin boten risak, menawi bondo tasih luwih, tumancepno roso asih, zakat mal kanthi pekulih.

Artinya :

Zakat untuk membersihkan diri, lahir batin tidak rusak, jika harta masih berlimpah, tanamkanlah rasa belas kasih, zakat kekayaan tanpa pamrih.

 

Pakir, miskin, tiyang jroning paran, ibnu sabil kawastanan, lumampah ngamil, tiyang katah utang, rikab, tiyang ingkang berjuang, muallap nembé mlebu Islam.

Artinya :

Fakir, miskin, orang berpergian,ibn sabil dinamakan,kemudian amil, orang yang banyak hutang, budak, tiyang ingkang berjuang,muallaf yang baru masuk Islam.

 

Zakat nglatih jiwo lan rogo, tumindak becik kanthi lélo, ngraosaken sarané liyan, ngudari sifat kamanungsan, supados angsal teteping iman.

Artinya :

Zakat melatih jiwa dan raga,menjalankan kebajikan dengan rela,merasakan penderitaan sesame,mengurai sifat kemanusiaan, supaya mendapat tetapnya iman.

 

PUASA

Posoning rogo énténg dilakoni, cegah dahar lan ngombé jroning ari, ananging pasaning jiwa, iku kang kudhu dén reksa, tumindak asih sepining cela.

Artinya :

Puasa badan mudah dilakukan,mencegah makam dan minum sepanjang hari,namun puasa jiwa,itu yang seharusnya dijaga,menebar kasih sayang menjauhi pencelaan.

 

Semanten ugi pasaning ati, tumindak alus sarengé budi, supados ngunduh wohing pakerti, pilu mahasing sepi, mayu hayuning bumi.

Artinya :

Demikian pula puasa hati, sikap lemah lembut sebagai cermin kehalusan budi, supaya mendapat kebaikan sesuai dengan apa yang dingini, tiada harapan yang diinginkan, kecuali hanya ketentraman dan keselamatan dalam kehidupan.

 

HAJI

Kaji dadi kasampurnan, rukun lima kinebatan, mungguhing danten tiyang Islam, zarohi tanah ingkang mulyo, menawi tirah anané bondo.

Artinya :

Haji menjadi kesempurnaan,rukum lima yang disebutkan, untuk semua orang Islam, mengunjungi tanah yang mulia, jika ada kelebihan harta.

 

Nanging ojo siro kliru, mahami opo kang dén tuju, amergo kaji sakdermo dalan, dudu tujuan luhuring badan, pak kaji dadi tembungan.

Artinya :

Tapi janganlah engkau keliru,memahami apa yang dituju,karena haji hanya sekadar jalan,bukan tujuan kemuliaan badan, jika pulang dipanggil Pak Haji.

 

Kaji ugi dadi latihan, pisahing siro ninggal kadonyan, bojo, anak lan keluarga, krabat karéb, sederek sedaya, kanca, musuh dho lélakna.

Artinya :

Haji juga untuk latihan, perpisahanmu meninggalkan keduniaan, istri, anak, dan keluarga,karib kerabat, semua saudara, teman dan musuh relakanlah.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)