SERAT SANDI PARAMAYOGA (Karya Raden Ngabei Rangga Warsita)

0

 SERAT SANDI PARAMAYOGA

(Karya Raden Ngabei Rangga Warsita)




Kacarios pustaka parama yoga,....lampahipun anwar (nara) nelasak ing wana wasa ringkedipun carios kepanggih idajil medal saking latu mahalap halap idajil ngaken ratune jagad gumelar, tumuli anwar sumungkem lajeng kapurih lelana sak ilining bengawan NIL dangu anggenipun mangun teki tekating batin pengin nyumurupi gambaran suwarga tuwin neraka katekan idajil malih sang anwar kaparingan cupu manik astagina kinarya lintuning gambaran suwarga neraka. Lajeng tutwuri idajil  lelana wonten tanah LUHMAT mendet toya panggesangan gelisipun carios saking gentur anggenipun medu raga anwar abandan cahya jejuluk sang hyang nur cahya.


Gancaranipun lelampahan sang hyang nurcahya saged wanuh kaliyan bangsane jim, lami-lami Sang Hyang Nurcahya angsal jatukrama putrine jin (anakipun prabu nur adi) ingkang wekasan sang hyang nurcahya kagungan putra nami sanghyang NURASA akhir dewasanipun nurrasa, Sang Hyang Nurcahya nunggal sajiwa kaliyan sang hyang nurasa nutugaken anggenipun lampah samadi.


Serat sandi paramayoga (versi pendapat & mitos)

Semenjak muncul kehendak kehidupan dilambangkan SITA, disitu SANG HIDUP SEJATI Mengeluarkan perbawa berupa cahaya gumilang tanpa bayangan oleh karena itu anwar bernama NURCAHYA penjabaran cahaya terjadi jika sudah bertempat di rahsa terurai menjadi beraneka warna tapi disaat itu belum terwarana (terdindingi), cahaya yang gumilang tersebut tetap menjadi sipating DZAT.


Disitu sudah mulai ada kantha (seperti kaca) isbatnya pada wujud kita menjadi dzatnya Atma (hidupnya semua ciptaan) keadaan masih menyatu pada dzat yang sipat ESA tidak ada jamannya tidak ada maqomnya, tidak ada arahnya tidak ada tempatnya dinamakan martabat ALAM WAKIDIYAH disimbulkan cerita sang hyang nurcahya mendapat air kehidupan dari mustikanya MEGA penjabaran 

Dan perkembangannya cahaya di isbatkan wujud kita yaitu berwujud cahaya PRAMANA, yang berkuasa mengatur jiwa yang beraga cahaya.

Cahaya PRAMANA mempunyai urub 8 warna, yaitu : hitam, merah, kuning, putih, hijau, biru, wungu dan dadu cahaya 8 warna dalam tubuh kita isbatnya pambukanya NETRA/MATA (penglihatan kita) disimbulkan sang hyang nurcahya mendapatkan CUPU MANIK ASTAGINA yang artinya cupu = tempat, manik = cahaya, hasta = 8, gina = fungsi maksudnya cahaya 8 warna  berkembang menjadi sifat 8 bisa di sebut BIRAHI hasta asmara :

1. Asmara turida.

2. Asmara gama.

3. Asmara tantra.

4. Asmara dana.

5. Asmara tura.

.....

Sang hyang nurcahya di lambangkan me ikah dengan putri jin yang akhirnya punya ana NURASA artinya dalam kenyataannya daya perbawa cahaya itu jika sudah kawarana (terdindingi) oleh RASA SEJATI.

Jadi terutama untuk makluk hidup akan ada dayanya sifat itu dan bisa sempurna jika sudah diterima oleh RAHSA,Yaitu rahsanya saresmi (perkawinan laki-laki dan perempuan).

Keterangan rasa sejati akan di jabarkan pada cerita Hyang Nurasa.


Keterangan kisah ini menurut penemu dalang kuna adalah kisah BUKAK KAWAH dalam acara mantu yang pertama, pambiwara biasanya menerangkan arti cupu manik astagina selanjutnya meminum RUJAK DEGAN......,

SALAM BUDAYA RAHAYU RAHAYU RAHAYU


SERAT PARAMAYOGA

Jaka Sengkala sudah mati. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya Jaka Sengkala sempat membaca Serat Paramayoga yang ditulis Ronggowarsito. Isi surat itu lebih banyak menceritakan kodrat sepak terjangnya sebagai manusia yang bernama Aji Saka. Padahal dirinya di kampungnya lebih keren dikenal dengan Jaka Sengkala. Ia menanyakan pada Si Empu Ronggowarsito, kenapa sekarang tidak ada guru yang lahir lagi dari seorang ibu ? Saat menja wab, Si Empu Ronggowarsito, hanya berkomentar : Manusia sekarang ini sudah memiliki pakaian. Manusia tidak perlu lahir dari rahim ibu !

Aneh. Itu yang dirasakan Jaka Sengkala. Pernah suatu ketika dirinya dalam pengembaraan menemukan seorang manusia yang sedang duduk di atas lautan membikin tosan ajibajra dan berbagai senjata lainnya. Manusia ini membikin senjata tidak menggunakan api dan sejenisnya. Senjata itu dibikin hanya dari tangan dan napasnya. Jaka Sengkala pun tahu itulah ayahnya sejati. Jaka Sengkala tahu yang ia temui tidak lain adalah Empu Anggajali. Pada Si Empu ini dirinya menanyakan , mengapakah sekarang tidak ada lagi guru lahir dari seorang ibu? Ketika menjawab pertanyaan Jaka Sengkala, Si Empu Anggajali hanya mengulangi jawaban Si Empu Ronggowarsito. Mendengar jawaban kedua empu tersebut Jaka Sengkala kian lunglai. 

Apakah maksud Pakaian ? 

Pertanyaan ini terbawa dalam alam bawah sadarnya. Jaka Sengkala akhirnya tertidur. 

Maka esok hari ini Jaka Sengkala memutuskan mencoba mencari Ki lurah Semar. Beberapa orang dikampunya menganggap Ki Lurah Semar manusia setengah dewa. Pernah ia mendengar bisikan dari seseorang kalau Ki Lurah Semar punya aji aji yang keren. Kentut. Dari ceritera maupun testimoni orang orang kampung juga, kentut Ki Lurah Semar bisa memadamkam semburan asap bergolak dan amuknya api neraka ! Naudzubillahimindalik. Waow .... 

Berarti Ki Lurah Semar ini bisa menyelesaikan masalah-masalah rumit dunia. Lha masalah masalah akhirat saja bisa selesai !, gumam Jaka Sengkala dalam hati. Tanpa disangka, jawaban Ki Lurah Semar atas pertanyaan Jaka Sengkala agak sedikit lega. Jawaban yang melegakan. Jawaban yang Branding. Jawaban Ki Lurah Semar berkelabat dengan kecepatan cahaya merangkum ruang yang panjang.

Begini Tole, pertanyaan yang kamu ajukan itu sebetulnya hanya dua saja. “Pengalaman” dan “berita”. Sama halnya dengan bedanya malam dan siang. Dalam hal berpakaian misalnya,. Setiap orang berpakaian, kan? Kapan pakaian itu dilepas, hanya soal waktu. Tubuh berfungsi sebagai pakaian, punya ukuran yang hanya pas uuntuk pemiliknya masing-masing. Tak bisa tubuh yang satu dipakai oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya. Jika terjadi yang demikian, muncul kekacauan. Seperti kerasukan. Orang yang kerasukan tak mampu lagi memegang dirinya sendiri. Tak mampu mengenali pakaianya lagi. Kemana-mana, kita memakai pakaian itu sehingga menjadi identitas. Tak tahunya malah menjadi beban. Selama hidup kita hanya disibukkan oleh pakaian itu. Mengapa orang mau berpikir keras perkara pakaian, mengapa orang mau berpikir tidak keras perkara pakaian? Setiap orang punya piliha, padahal tidak ada yang menyuruh memilih. Jaka Sengkala nanar. Betul juga petuah ki Lurah ini. Orang senang karena punya penampilan. Jaka Sengkala pernah direkam saat dirinya menjadi tukang sapu jalanan dengan memakai seragam yang apik, potongan maupun warnanya. Jika tidak suka berpenampilan, dianggap tidak punya selera, padahal orang memilih penampilan karena kebutuhan dan rasa kesadaran. Pakaian memang didudukkan paling depan lebih dari jati diri. Dari sini awalnya kesalahan penilaian. Jaka Sengkala cukup peduli soal pakaian, sedia makanan bervitamin dan kalori tinggi, tetapi Jaka Sengkala tiba-tiba mati dadak karena pakaiannya memberontak. Tahulah sekarang Jaka Sengkala alias Aji Saka siapa guru sebenarnya. Ki Lurah Semar, guru tanpa pernah berpakaian. Sebelum mati Jaka Sengkala mengulang membaca Serat Paramayoga yang ditulis Ronggowarsito. Mengapa tidak ada lagi guru yang lahir dari rahim ibu. Banyaknya para guru yang memiliki pakaian yang bercahaya. Pakaian itu menembus lorong kabut. Pakaian guru saat ini seluruh jejaknya diteranginya, tak mengenal bayangan lagi, tak mengenal gelap. Mereka dilahirkan dari pakaian yang terang benderang dengan warna warni. Jaka Sengkala telah mati. Guru sekarang lahir dari berjuta-juta pakaian. Dibandingkan dirinya dulu saat akan mencari Tirtamarta Kamandadhalu. Sungguh bersyukur Jaka Sengkala setelah memperoleh Tirtamarta Kamandadhalu, jadi insan kamil di Pulau Jawa. Jaka sengkala masih ingat nasehat ayahnya Empu Anggajali. Tole, siro yen wus samubarang anggayuh nglampahi dwijo kamukten, siro pangemuto sapada-pada,(Pada saat ilmu kamu genggam, tetaplah mengikuti ada-istiadat di kampungmu), disi lain dalam nasehat ayahnya, siro lelaku taberi ngati ati kalodangan manah manembah ing Gusti Murbehing Jagat Dewantara (tapi untuk urusan batin (iman), kamu janganlah sampai melupakan beribadah kepada Gusti Allah yang sesungguhnya). 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)