Kidung Harsawijaya
Kidung Harsawijaya adalah kidung yang mengambil tema tentang kisah didirikannya Majapahit oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya menjadi raja pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Kidung Harsawijaya menceritakan tentang jatuhnya kerajaan Singasari dan munculnya kerajaan baru yang berlandaskan pada kerajaan sebelumnya, Majapahit. Singasari dipimpin oleh raja yang bernama Narashinga, beserta permaisurinya raja memiliki putra bernama Harsawijaya. Harsawijaya adalah putera raja yang cerdas, tampan dan gagah berani.
Sebagai
salah satu kerajaan besar di tanah air, Kerajaan Majapahit sampai sekarang
masih menjadi bahan studi yang menarik bagi para pecinta sejarah. Mulai dari
masa berdirinya Kerajaan Majapahit sampai dengan masa keruntuhannya menjadi
materi yang didalami. Keberadaan Kerajaan Majapahit ini bisa diketahui melalui
berbagai peninggalannya yang tersebar di berbagai tempat. Selain beberapa
peninggalan Kerajaan Majapahit yang digunakan sebagai sumber informasi tentang
keberadaannya, ternyata juga ada sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit yang
lainnya. Ada beberapa sumber sejarah Kerajaan Majapahit yang bisa dijadikan
sumber informasi tentang Kerajaan Majapahit.
Sumber
berita sejarah Kerajaan Majapahit ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang berupa
sebuah prasasti, ada juga yang berupa kitab. Nah, maka dari itu pada kesempatan
kali ini blog sejarah majapahit lengkap akan mengulas mengenai beberapa sumber
berita sejarah Kerajaan Majapahit untuk Anda. Untuk lebih jelasnya, simak
penjelasannya di bawah ini.
1.
Prasasti Butok. Kerajaan Majapahit ini meski merupakan
kerajaan besar dengan pengaruh yang begitu luas, namun hanya sedikit
meninggalkan prasasti. Sampai saat ini hal ini juga masih menjadi pertanyaan,
apakah memang prasasti Kerajaan Majapahit ini belum bisa ditemukan ataukah
memang Kerajaan Majapahit kurang memperhatikan pesan kepada masa depan.
Sehingga sumber berita sejarah Kerajaan Majapahit ini sangat sedikit, yang
salah satunya adalah Prasasti Butok (1244 M). Prasasti Butok populer juga
disebut dengan Prasasti Gunung Butak. Prasasti Butak ini diyakini dikeluarkan
atau dibuat oleh Raden Wijaya yang berarti juga dibuat pada masa berdirinya
Kerajaan Majapahit. Prasasti Butok ini diperkirakan dibuat segera setelah Raden
Wijaya berhasil naik tahta. Prasasti Butok ini bibuat untuk mengenang peristiwa
runtuhnya Kerajaan Singhasari dan perjuangan Raden Wijaya dalam mendirikan
Kerajaan Majapahit.
2.
Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama.
Sumber berita sejarah Kerajaan
Majapahit selanjutnya adalah Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama.
Kidung Harsawijaya ini berisi tentang cerita keruntuhan Kerajaan sebelum
Majapahit yaitu Kerajaan Singasari. Kerajaan Singasari sendiri sering disebut
sebagai cikal bakal dari Kerajaan Majapahit yang dibangun Raden Wijaya.
Sedangkan Kidung Panji Wijayakrama adalah berisi tentang cerita perjuangan
Raden Wijaya (baca : Asal Usul dan Biografi Raden Wijaya) saat menghadapi
musuh-musuhnya. Kebanyakan musuh yang dilawan Raden Wijaya adalah beberapa
kerajaan lain di masa-masa awal mendirikan Kerajaan Majapahit.
Kidung
Harsawijaya merupakan kidung yang mengambil tema tentang kisah didirikannya
Majapahit oleh Raden Wijaya. Raden Wijaya menjadi raja pertama dengan gelar
Krtarajasa Jayawardhana. Berikut adalah ikhtisar dari Kidung Harsawijaya
disarikan dari Kalangwan karya P.J. Zoetmulder (dengan penyesuaian bahasa
seperlunya).
Sekilas Kidung Harsawijaya
Raja
Narasingha dari Singhasari beserta sang prameswari dianugrahi seorang putra
yang diberi nama Harsawijaya. Harsawijaya tumbuh menjadi seorang pangeran yang
rupawan, cerdas dan gagah berani, serta unggul dalam tiap cabang seni. Sang
Pangeran dibesarkan bersama dengan putra-putra pejabat kraton, yang kemudian
menjadi teman-temannya sehari-hari. Mereka adalah Lawe, Nambi, Sora, Pedang,
Dangdi, Gajah Pagon dan Lembu Peteng.
Suatu
saat Sang Raja sakit parah. Ketika beliau merasa bahwa ajal semakin dekat, maka
diangkatlah saudara sepupu dari Narasingha yaitu Krtanegara sebagai pewaris
(sementara) tahta kerajaan. Sekaligus sebagai pengasuh putranya, Harsawijaya.
Kelak jika dia sudah cukup dewasa ia dapat mengambil alih pemerintahan.
Di
bawah pemerintahan raja yang baru, kerajaan mengalami kemunduran. Patih, kepala
para brahmin dan pejabat-pejabat tinggi lainnya mengundurkan diri karena mereka
tidak setuju dengan cara Krtanagara mempergunakan kekuasaannya. Krtanegara
memutuskan kedua puterinya Puspawati dan Pusparasmi diberikan kepada putera
mahkota sebagai isteri; ia sendiri akan mengundurkan diri sebagai seorang
pertapa (bagawan). Keputusan ini diambil ketika Harsawijaya telah sampai pada
usia dewasa dan telah cukup usia untuk dinobatkan menjadi raja (abhiseka).
Saat
itu pula patih Aněngah mengusulkan agar diadakan suatu ekspedisi ke Malayu dan
memaksa raja negeri itu untuk menyerahkan kedua puterinya, Dara Pětak dan Dara
Jingga, kepada Harsawijaya, untuk dijadikan mahadewi (istri yang sederajat
dengan permaisuri). Dan dengan demikian menggenapi angka empat bagi
istri-istrinya.
Krtanagara
telah diingatkan oleh bekas patih, Raganata bahwa Jayakatwang raja Kadiri
(Daha) dan vasalnya, sudah cukup lama tidak menghadap ke kraton. Raganata juga
memperingatkan tidak bijaksana jika kraton tidak dilindungi oleh pasukan. Namun
peringatan dari Raganata ini diabaikan oleh sang Raja.
Kemudian
Raja mengajak Pangeran Harsawijaya untuk berkunjung ke Keputrian. Keberadaannya di sana bertujuan memberi kabar
mengenai keputusan rapat. Bahwa kedua putri Krtanagara itu akan dinikahkan
dengan Harsawijaya.
Pasukan
Singhasari yang berencana melakukan ekspedisi ke Malayu berangkat dari Tuban.
Momen ini dimanfaatkan Wiraraja seorang pejabat di bawah Narasingha, namun
disingkirkan di era Krtanagara, dan dijadikan adipati di Madura untuk balas
dendam. Wiraraja melihat saat itu kekosongan Singhasari dari para pasukan adalah
kesempatan yang baik.
Wiraraja
mengutus Wirondaya, putranya untuk menghasut Jayakatwang agar ia memberontak.
Maka, Jayakatwang pun minta nasihat pada sang patih. Patih Kebo Mundarang
mengingatkan bahwa ayah raja Jayakatwang merupakan raja terakhir di Kadiri,
yang kemudian dikalahkan dan dijadikan bawahan oleh pendahulu Krtanagara. Sang
patih memberi nasihat supaya Jayakatwang jangan melewatkan kesempatan ini dan
merebut kembali kemerdekaannya serta menghukum Singhasari untuk segala
penghinaan yang ditimpakan kepada wangsa Kadiri. Kemudian disusunlah strategi
penyerangan Singhasari dengan dua cara. Yakni akan ada dua pasukan yang
berperang, yang satu akan mengikuti rute ke utara diiringi sebanyak mungkin
keramaian sehingga diketahui oleh umum, sedangkan yang lain secara diam-diam
dam tersembunyi akan melintasi hutan-hutan di selatan.
Di
lain pihak Ratu Singhasari diberitahu mengenai malapetaka yang akan datang
melalui sebuah impian. Mimpi itu menceritakan bahwa hanya Harsawijaya yang akan
lolos dari malapetaka. Mendengarr cerita itu, Sang Raja mengira bahawa
malapetaka itu berkaitan dengan ekspedisi Pamalayu. Maka ia memerintahkan para
pendeta untuk melakukan upacara-upacara yang tepat guna menghalau bahaya. Pada
saat yang sama, datanglah laporan dari Madura yang menyebut-nyebut bahaya yang
datang dari pihak Jayakatwang.
Namun
Krtanagara tidak mau percaya pada berita tadi. Dan oleh patihnya dia didukung
dalam rasa aman yang palsu. Tetapi tiba-tiba sang Raja dikejutkan oleh
pengungsi-pengungsi dari utara yang membanjiri ibu kota. Mereka membawa berita
bahwa pasukan Daha mendekati ibu kota.
Maka,
berangkatlah Harsawijaya bersama sebuah rombongan kecil untuk mengahadang pasukan Daha. Tapi mengingat usia Harsawijaya
yang masih muda dan kurang pengalaman, maka Krtanagara mengutus patihnya dan
sisa pasukan yang ada untuk menyusul Harsawijaya.
Melihat
kekosongan di ibukota kerajaan, maka pasukan kedua dari Daha keluar dari
persembunyiannya dan menyerang keraton. Terjadilah pertempuran sengit yang
kemudian juga menewaskan raja. Patih yang datang setelah mendengar kabar
tersebut, segera kembali, juga tewas dalam pertempuran.
Harsawijaya
yang berhasil mengalahkan pasukan Daha di Singhasari pun kembali ke ibukota. Ia
mencoba merebut kembali kraton namun mengalami kegagalan dan melarikan diri.
Pasukan Daha berusaha mengejar mereka, namun berhasil dihalau sehingga
mengundurkan diri ke Singhasari. Pasukan Harsawijaya sempat mengadakan serbuan
mendadak ke Singhasari dan berhasil membebaskan putri sulung dari Krtanagara.
Sementara putri bungsu dibawa ke Daha.
Di
kemudian hari Harsawijaya memutuskan untuk melarikan diri dari Singhasari, karena
keadaaan sudah tidak memungkinkan lagi. Dalam pelariannya ini Harsawijaya dan
rekan-rekannya mengembara ke hutan dekat pantai utara, hingga akhirnya tiba di
pertapaan Santasmrti, kepala brahmin pada masa pemerintahan ayah Harsawijaya.
Di pertapaan tersebut, mereka disambut dengan ramah. Atas saran dari
Santasmrti, mereka menyeberang ke Madura untuk minta bantuan Wiraraja.
Sementara
keadaan di Daha, selepas pemberontakan, Jayakatwang pun berkuasa di seluruh
pulau Jawa. Para tawanan termasuk puteri bungsu Krtanagara yang dibawa ke Daha
diperlakukannya seperti anak kandungnya sendiri.
Sementara
di Madura, Harsawijaya sedang menunggu saat yang tepat; ia dibantu Wiraraja
dalam merencanakan kembalinya. Kepada Wiraraja, dia menjanjikan akan memberi
separuh kerajaannya sebagai anugerah atas bantuannya yang tak terhingga itu.
Atas nasihat Wiraraja pula, Harsawijaya memutuskan untuk pergi ke Daha dan
mencoba apakah Jayakatwang berbaik hati kepadanya. Kedatangan Harsawijaya ke
Daha ditempatkan di Tamansari Baginda. Kehadiran Harsawijaya di Tamansari mampu
membuat sang raja dan para mantri terpesona oleh penampilan dan kelakuannya
yang selaras dengan kedudukannya sebagai putra mahkota.
Sementara
pasukan Singhasari pulang dari ekspedisinya dan membawa kedua puteri dari
Malayu. Mereka berlabuh di Canggu dan setelah mendengar apa yang terjadi,
menawarkan jasa mereka kepada Harsawijaya dengan menyatakan kesediannya
bertempur baginya. Esoknya diadakan pesta tahunan di Galangan. Sang Pangeran
akan ke kraton untuk bersembah sujud kepada raja yang mempermaklumkan
kehendaknya, agar pesta ini dirayakan dengan suatu pertandingan. Pertandingan
antara para ksatria Daha akan melawan para ksatria dari Singhasari. Dalam
pertandingan tersebut, ksatria dari Singhasari ternyata lebih kuat daripada
rekan-rekan mereka dari Daha.
Taman
Sari Bagenda terlalu sempit untuk banyak tamu. Maka raja atas nasihat sang
patih memutuskan agar Harsawijaya bersama anak buahnya akan bermukim di Trik,
sebidang tanah penuh hutan, di tepi sungai dan tak jauh dari Daha. Keesokan
hari mereka berangkat dan segera mulai membersihkan hutan. Wirondaya
memberitahu ayahnya, Wiraraja, bahwa bagaimana keadaan telah berubah. Wiraraja
lalu datang dengan orang-orang Madura untuk membantu Harsawijaya.
Pemukiman
baru itu dinamakan Majapahit. Nama Majapahit diambil dari buah-buah Maja yang
tumbuh di lokasi tersebut pahit rasanya. Segera tempatnya diperluas dan
Harsawijaya memperoleh izin untuk menetap di sana selamanya. Jayakatwang sadar
akan bahaya yang mengancamnya dari sana, tetapi dia menerima nasibnya secara
stoik, “karena dalam hidup ini nasib untung dan malang silih berganti dan tak
ada sesuatu pun yang lestari”. Wiraraja pulang ke Madura.
Hubungan
Majapahit dan Daha terjalin dengan baik untuk waktu yang cukup lama. Kemudian
Harsawijaya mengambil keputusan bahwa telah tiba saatnya untuk melaksanakan
rencanannya. Maka dia pun berunding dengan para sekutunya, mayoritas dari
mereka setuju jika diadakan serangan terbuka. Namun pada akhirnya mereka setuju
untuk mengikuti saran Rangga Lawe untuk minta nasihat pada Wiraraja terlebih
dahulu.
Wiraraja
memiliki rencana lain, ia akan minta sahabatnya Raja Tatar untuk membantu
menyerang Daha. Sebagai umpan ditawarkan kepadanya anak Jayakatwang, Ratna
Kesari. Harsawijaya setuju. Sembari menantikan kedatangan pasukan Madura serta
sekutu dari Tatar, pernikahan Harsawijaya dengan Puspawati dirayakan.
Ketika
mendengar bahwa raja Tatar mendarat di Canggu, Jayakatwang menganggap
kewajibannya sebagai seorang ksatriya agar jangan menghindari pertempuran,
biarpun dia tidak meragukan hasilnya. Menurut keputusan sang hyang Widhi
saatnya telah tiba, agar kekuasaan terhadap pulau Jawa beralih dari Kadiri
(Daha) ke Majapahit. Jayakatwang pun memberitahukan pada para wanita dan puteri
di keraton bagaimana keadaannya, dan bahwa dia bertekad untuk gugur dalam
pertempuran. Semuanya termasuk Pusparasmi, memperlihatkan rasa marahnya karena
sikap Harsawijaya yang tak kenal terima kasih dan yang mengkhianati
pelindungnya.
Di
Majapahit, Harsawijaya tengah berbincang-bincang dengan Puspawati, yang
mengusulkan agar Harsawijaya menikahi kedua putri dari Melayu juga. Pada saat
perbincangan berlangsung, datanglah Patih dari Tatar. Patih ini melaporkan
bahwa raja dan pasukannya berkemah di sebelah utara ladang Bobot Sari. Janji
mengenai puteri Daha diteguhkan dan dicapai kata sepakat, bahwa ketiga pasukan
(yaitu dari Majapahit, Madura dan Tatar) akan menuju Bobot Sari sehingga tempat
itu akan didekati dari tiga sudut, dan mereka akan berjumpa di sana.
Esoknya
setelah berpamitan dengan Puspawati ia menuju Bobot Sari sebagai panglima
tentara Majapahit. Setelah ketiga tentara menempati posisinya masing-masing,
tentara musuh pun nampak. Jayakatwang
bersama para mantri tua tidak ambil bagian dalam pertempuran yang menyusul. Walaupun
bertempur dengan gagah berani namun pasukan-pasukan Daha dapat dikalahkan di
tiga front. Kemudian muncullah Jayakatwang yang duduk di atas seekor gajah; ia
siap menghadapi maut dalam pertandingan dengan Harsawijaya.
Para
prajurit Majapahit segan mengangkat senjata melawan sang raja, dan Harsawijaya
pun bimbang ketika akhirnya berhadapan muka dengan raja yang menjadi sahabat
dan pelindungnya. Kemudian sambil tetap duduk di atas gajahnya, sang raja
melakukan samadhi dan tiba-tiba lenyap di angkasa. Semua yang hadir dan
menyaksikan akhir hidup seorang raja yang sungguh-sungguh agung, kagum akan
peristiwa yang gaib itu. Ia disusul para mantri yang bertempur sampai mati.
Atas
nasihat Wiraraja, Harsawijaya minta para prajurit Tatar agar mengundurkan diri
dahulu ke perkemahannya, sementara ia mengurus perabuan para ksatriya yang
gugur. Selepas itu dia menuju ke Daha untuk melindungi para penghuni keputrian.
Rupanya semua penghuni keputrian bunuh diri setelah mendengar berita tentang
kematian sang raja, kecuali Pusparasmi yang dicegah oleh sang ratu dan Ratna
Kesari. Desas-desus mengenai sang puteri yang dibawa ke Majapahit itu telah
didengar raja Tatar. Sang Raja juga telah mengutus patihnya untuk menuntut apa
yang dijanjikan kepadanya. Harsawijaya tetap diam dan merasa malu karena ia
dituduh telah melanggar janjinya, tetapi Wiraraja menerangkan, bahwa sang
puteri telah merenggut nyawanya sendiri.
Utusan
Tatar kembali ke rajanya dengan berita tersebut. Tetapi kekecewaan raja Tatar
berubah menjadi kemarahan, ketika desas-desus tadi ternyata benar. Ia bertekad
untuk merebut sang puteri dengan kekerasan.
Sementara
di Majapahit, Puspawati, dengan didampingi Dara Pětak, bersiap-siap untuk
menyambut sang pemenang dengan upacara kebesaran. Ia masih harus menghibur hati
Dara Jingga yang merana karena terpisah dari ayahnya beserta adiknya,
Pusparasmi (yang masih berduka karena kehilangan kawan-kawannya, sang ratu
beserta puteri Daha).
Tibalah
Harsawijaya. Sebelum ia memasuki keraton, ia harus memperhatikan dulu keadaan
negara serta membicarakan sejumlah tindakan yang diambil terkait perselisihan
dengan raja Tatar. Harsawijaya tidak bersedia menyerahkan Pusparasmi,
tunangannya sejak mereka masih tinggal di Singhasari; ia lebih suka mati
mempertahankan haknya atas Pusparasmi. Pasukan-pasukan disiagakan, kemudian ia
menjumpai kedua puteri dan pernikahannya dengan Pusparasmi dirayakan. Ketika
bala pasukan Tatar terdengar mendekat, Harsawijaya menerangkan kepada
Pusparasmi, apa yang mereka kehendaki. Ia bertanya apakah sang putri lebih suka
menjadi isteri raja Tatar, tetapi usul ini ditolak sang putri dengan marah.
Dengan
suara gaduh pasukan Tatar memasuki Majapahit sambil memekik, agar sang putri
diserahkan. Disusul dengan pertempuran sengit, tetapi para penyerbu dikalahkan
dan raja mereka tewas. Setelah jenazah-jenazah tersebut diperabukan, dikirimlah
utusan-utusan kepada mpu Santasmrti di Gunung Himagiri; ia diundang untuk
melakukan upacara pensucian serta menobatkan Harsawijaya menjadi raja
(abiseka). Baru selang satu bulan sang brahmin tiba. Pada upacara abiseka yang
dilangsungkan pada tanggal 15 bulan Karttika, raja diberi nama penobatan
Krtarajasa. Santasmrti menolak untuk tetap tinggal di Majapahit tetapi
mengusulkan murid kesayangan Widyajnana sebagai penggantinya.
Setelah
memberikan pelajaran terakhir mengenai kewajiban seorang raja, ia berangkat.
Sahabat-sahabat Harsawijaya diangkat menjadi pejabat-pejabat tinggi di kerajaan
Majapahit; Rangga Lawe menjadi patih amangkubumi. Di bawah pemerintahan
Krtarajasa, kerajaan bertambah sejahtera dan pulau-pulau lain pun (nusantara) Bali,
Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, Gurun, Wandan, Tanjungpura, Dompo, Palembang dan
Makassar disebut-sebut di sini mengakuinya sebagai atasan mereka.
Kidung
Harsawijaya sebagai kidung historis
P.J
Zoetmulder menyebutkan jika kidung Harsawijaya termasuk dalam kidung historis.
Penggolongan ini karena Kidung Harsawijaya seperti ketiga kidung lainnya yaitu,
Rangga Lawe, Sorandaka dan Sundabahannya diambil dari tradisi historis mengenai
kerajaan Majapahit. Ruang lingkup kidung Harsawijaya adalah peristiwa-peristiwa
yang menyebabkan jatuhnya kerajaan Singhasari serta didirikannya kerajaan baru
yang untuk sebagian meneruskan kerajaan sebelumnya.
Sekalipun
jika ditinjau dari aspek substansial, maka akan terlihat sejumlah perbedaan
yang signifikan antara Kidung ini dengan sejumlah karya sastra lain Negarakertagama
sebagai sumber utama dalam sejarah Majapahit atau bahkan dengan sumber lain
yang lebih kuat misalnya Prasasti Kudadu. Perbedaan tersebut meliputi :
1.
Silsilah / genealogi dari Harsawijaya.
Di dalam Kidung Harsawijaya
disebutkan jika Harsawijaya (Raden Wijaya) adalah putra dari Raja Narasingha,
pewaris resmi Kerajaan Singhasari. Namun karena dia belum dewasa, maka tahta
masih dipegang oleh saudara sepupu dari sang raja yaitu Krtanagara. Penjelasan
di atas tentu berbeda dengan sejumlah teks lain tentang siapakah Raden Wijaya.
Negarakertagama pupuh 47 menyebut bahwa Radeh Wijaya dalam teks tersebut
disebut Dyah Wijaya adalah putra dari Dyah Lembu Tal, cucu dari Narasinghamurti
sekaligus menantu dari Krtanegara. Hal ini juga didukung oleh Piagam Kudadu.
Piagam pertama yang dikeluarkannya saat
sudah menjadi raja. Prasasti ini dikeluarkan pada tahun 1294 Masehi.
2.
Jumlah putri Krtanagara. Kidung Harsawijaya
menyebutkan bahwa raja Krtanagara hanya memiliki dua putri yaitu Pusparasmi dan
Puspawati. Sementara Negarakratagama pupuh 46 menyebutkan jika Krtanegara
memiliki 4 putri dengan kesemuanya kemudian dinikahi oleh Wijaya.
3.
Jumlah istri Harsawijaya.
Tentang perkawinannya dengan putri
Krtanegara juga terdapat perbedaan. Kidung Harsawijaya menyebutkan bahwa raja
Krtanagara hanya memiliki dua putri yaitu Pusparasmi dan Puspawati. Mereka
berdua pula yang menjadi pasangan dari Raden Wijaya. Ditambah dengan pernikahan
dengan Dara Petak dan Dara Jingga, dua puteri dari Kerajaan Melayu. Ini sekali lagi berbeda dengan uraian dalam
Nagarakertagama, yang menyebutkan bahwa Krtarajasa Jayawardhana (nama abhiseka
Raden Wijaya) menikahi empat putri dari Krtanegara yaitu Tribhuwana, Mahadewi,
Jayendradewi, dan Gayatri (yang digelari Rajapatni). Pemberitaan ini didukung
dengan Piagam Penanggungan (1296) dan piagam yang bertarikh 1305. Selain Keempat putri Krtanegara, itu Raden
Wijaya juga menikah dengan putri Indreswari, yang kemudian melahirkan
Jayanagara. Indreswari ini diidentifikasi sebagai Dara Petak. Penjelasan
pernikahan ini ada di dalam Nagarakertagama, Pararaton, Kidung Panji
Wijayakrama dan Harsawijaya. Namun tidak tertera dalam prasasti manapun.
Sementara Dara Jingga tidak diambil istri oleh Raden Wijaya. Dara Jingga diperistri
oleh pembesar yang lain. Slamet Muljana
mengidentifikasi jika pembesar ini bernama Adwayabrahma, seorang mahamantri
dari kerajaan Singhasari. Dara Jingga di kemudian hari melahirkan seorang
putra, yaitu Adityawarman.
Penulisan
artikel blog ini hanya merupakan sebuah telaah singkat terhadap ikhtisar dari
Kidung Harsawijaya (yang disarikan oleh P.J Zoetmulder dalam Kalangwan).
Nampaknya memang tidak tepat jika Kidung
ini dijadikan sumber primer dari sebuah penulisan sejarah. Mungkin lebih tepat
jika dijadikan sebagai sumber pembanding. Namun apapun kategorinya, Kidung
Harsawijaya termasuk salah satu karya sastra yang cukup menarik dengan tema
tradisi historis. Zoetmulder menyebut ada sejumlah kidung yang menggunakan tema
historis sebagai substansinya. Mereka adalah Kidung Harsawijaya, Rangga Lawe,
Sorandaka, Sunda dan Panji Wijayakrama. Kidung-kidung tersebut dalam
substansinya terkadang menyampaikan fakta yang berbeda satu sama lain.
Sumber:
Muljana,
Slamet. 2009. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta : LKiS. (Cetakan IV)
Zoetmulder,
P.J. 1983. Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Penerbit Djambatan.

