DZUL WAJHAEN (BERMUKA DUA)

0

DZUL WAJHAEN (BERMUKA DUA)

Sifat bermuka dua lebih dikenal dengan double standard personality juga dikenal dengan split personality ini sangat berbahaya.

Karena anda akan menemukan di hadapan anda seseorang yang berubah di belakang anda. Karakter orang yang seperti ini juga dikenal dalam bahasa agama disebut dzul wajhaen.

Sebuah karakter yang dilabel sebagai asyarrin naas (seburuk-buruk) manusia (hadits).

Manusia berwajah dua paling pintar menampilkan keindahan di hadapan seseorang. Namun di belakangnya dia akan menusuk tanpa belas kasih dan rasa. Tersenyum manis tapi beri’tikad bengis.

Dalam dunia informasi, khususnya dunia maya dan media sosial, hal seperti ini dapat ditangkap dengan mudah. Seseorang seringkali tampil seolah zuhud, wars, bahkan nampak suci dengan postingan-postingan pesan seolah dunia tidak penting.

Postingan-postingannya seolah menafikan urgensi dunia. Bahkan seringkali dengan meme tangisan seolah menampilkan hati yang lembut.

Akan tetapi kenyataannya dibalik dari postingan-postingan itu, Allah Maha Tahu, seseorang itu memiliki kepentingan duniawi yang diselimuti oleh propaganda-propaganda ukhrawi.

Di sinilah puasa hadir dengan keberkahannya. Puasa yang benar akan meluruskan seseorang, baik pada karakter batin maupun karakter lahirnya. Puasa yang merupakan ibadah yang paling personal sifatnya pertama kali mengajarkan kejujuran pada diri sendiri. Bahwa apa yang dinampakkan secara lahir harusnya selaras dengan kata batin. Semoga puasa menjaga kita dari sifat diuble standard dan wajah ganda ini. Dunia telah muak dengan kepura-puraan dan kemunafikan. Bahkan kepura-puraan dalam ekspresi relijiositas sekalipun.

Kejujuran pada diri itu terbangun di atas kejujuran pada Pencipta. Karena memang iman yang memang menjadi asas perintah puasa (wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atasmu berpuasa). Dengan kejujuran batin ini akan terlahir karakter lahir yang juga jujur. Kadang memang kejujuran itu pahit. Tapi itu lebih mulia dari karakter paradoksikal pada diri seseorang.

Srigala berbulu domba merupakan sebuah penggambaran sifat seseorang yang nampak lembut tapi hatinya penuh dendam kusumat, kemarahan dan dengki. Yang jika saja mendapatkan peluangnya akan terlampiaskan dengan menerkam mangsanya.

Karakter yang nampak dari seseorang yang berkarakter airmata srigala adalah “dzul wajhaen” (bermuka ganda). Di hadapan anda dia menunduk-nunduk tersenyum. Di belakang anda dia akan menusuk anda dengan samurai.

Al-Qur’an menggambarkan karakter seperti ini dengan kata “mudzabdzabiina baena haa ulaa wa haa ulaa”. Bergelantung di antara dua lembah kepentingan. Dan kerap ketika berada di lembah seberang meninggalkan bara api pada lembah yang lain.

Manusia berairmata srigala itu tidak punya pendirian. Manusia yang bagaikan cecak, meloncat dari dinding ke dinding demi seekor nyamuk untuk ditelan. Yang dicari hanya kepentingan dan mencari keselamatan ketika dihadapkan kepada masalah.

Secara agama sesungguhnya prilaku seperti itu merupakan penampakan penyakit hypocrisy (kemunafikan) seseorang. Jiwa orang menafik itu lemah. Tidak punya pegangan dan mudah hanyut oleh ombak kepentingan.

Hati yang sehat akan teguh dengan keadaan apapun. Tentangan dan/atau godaan akan berlalu biasa sebagai bagian alami dari kehidupan. Orang dengan hati yang sehat akan kokoh bagaikan baja atau karam di tengah derasnya ombak lautan kehidupan.

Airmata srigala itu sering diekspresikan secara horizontal kepada sesama. Tapi tidak jarang juga oleh sebagian diekspresikan secara vertikal kepada Tuhan. Seolah Allah bisa dikelabui dengan airmata dalam raungan belas kasih.



DZUL WAJHAIN (BERMUKA DUA YANG TERCELA)

Terdapat hadis-hadis sahih yang melarang sifat dzul-wajhain (bermuka dua). Di antaranya hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الوَجْهَيْنِ، الذي يَأْتي هَؤُلَاءِ بوَجْهٍ، وهَؤُلَاءِ بوَجْهٍ

“Seburuk-buruk manusia adalah dzul-wajhain (orang yang bermuka dua), yaitu orang yang ketika di tengah sekelompok orang, ia menampakkan suatu wajah, namun di tengah sekelompok orang lain, ia menampakkan wajah yang lain” (HR. Bukhari no. 7179, Muslim no. 2526).

Demikian juga hadis dari ‘Ammar bin Yasar Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كان لهُ وجْهانِ في الدنيا كان لهُ يومَ القيامةِ لِسانانِ من نارٍ

“Siapa yang memiliki dua wajah di dunia, ia akan memiliki dua lidah dari api di akhirat” (HR. Abu Daud no. 4873, disahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 892).

Demikian juga hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا ينبَغِي لذِي الوَجهينِ أنْ يكونَ أَمينًا

“Orang yang memiliki dua wajah sebaiknya tidak dipercayai” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad no. 238, Al Albani mengatakan, “hasan shahih”).

Bilal bin Sa’ad Rahimahullah (seorang ulama tabi’in) menjelaskan maksud dzul-wajhain dalam hadis-hadis di atas dengan mengatakan,

لا تكن ذا وجهين ، وذا لسانين ,تظهر للناس ليحمدوك وقلبك فاجر

“Janganlah Engkau menjadi orang yang mempunyai dua wajah dan dua lisan. Engkau menampakkan hal-hal terpuji di depan orang-orang, padahal hatimu fajir (penuh kemaksiatan)” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al Ikhlash wan Niyyah, no. 25).

Dengan kata lain, dzul-wajhain adalah orang-orang munafik, baik nifaq i’tiqadi ataupun nifaq ‘amali. Nifaq i’tiqadi adalah menampakkan diri sebagai mukmin, namun dalam hatinya menyembunyikan kekufuran. Nifaq ‘amali adalah menampakkan diri sebagai orang saleh, namun dalam hatinya menyembunyikan ke-fajir-an. Keduanya termasuk dzul-wajhain.

Sebagian ulama mengatakan orang yang melakukan namimah (adu domba) juga termasuk dzul-wajhain. Sebagaimana hadis dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَجِدُ مِن شِرارِ النَّاسِ يَومَ القِيامةِ، الَّذي يأتي هؤلاء بِحَديثِ هؤلاء، وهؤلاء بِحَديثِ هؤلاء

“Engkau akan dapati seburuk-buruk manusia di hari kiamat adalah yang datang kepada sekelompok orang dengan suatu perkataan dan datang kepada sekelompok orang lainnya dengan perkataan yang lain” (HR. Ahmad no. 9171, disahihkan Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad).

Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah mengatakan,

وهو من جملة صورة النمام، وإنما كان ذو الوجهين أشر الناس لأن حاله حال المنافق إذ هو متملِّقٌ بالباطل وبالكذب من مدخل للفساد بين الناس

“Dzul-wajhain mencakup juga orang yang melakukan adu domba. Dzul-wajhain menjadi orang yang terburuk karena keadaannya sama dengan orang munafik. Karena ia menyelipkan kebatilan dan kedustaan untuk merusak manusia” (Fathul Bari, 10: 475).

Adapun orang yang menampakkan sikap yang berbeda di tengah orang-orang sesuai dengan keadaannya, ini tidak termasuk dzul-wajhain yang dicela dalam hadis. Kami berikan contoh, misalnya :

– Seorang suami, ketika di luar rumah bersikap wibawa, sedangkan di tengah keluarganya ia ceria dan jenaka.

– Seorang penuntut ilmu di tengah teman-temannya ia banyak bicara, sedangkan di depan gurunya ia banyak diam.

– Seorang warga biasa bicara bahasa sehari-hari, lalu ketika ada pejabat ia berbahasa halus dan sopan.

Ini semua bukan termasuk dzul-wajhain yang dimaksud dalam hadis. Bahkan ini semua terpuji karena termasuk menempatkan sikap yang tepat pada tempatnya. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis,

أنزلوا النَّاسَ منازلَهم

“Perlakukanlah orang lain dengan perlakuan yang sesuai untuk mereka masing-masing” (HR. Abu Daud no. 4842. Hadis ini dihasankan oleh Syu’aib Al Arnauth dan didaifkan oleh Al Albani. Namun maknanya benar, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ibnu Baz Rahimahullah).

Demikian juga perintah para salaf untuk berbicara dengan suatu kaum sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu juga berkata,

حَدِّثُوا النَّاسَ، بما يَعْرِفُونَ أتُحِبُّونَ أنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ ورَسولُهُ

“Bicaralah kepada orang lain sesuai dengan apa yang mereka pahami. Apakah Engkau ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari no. 127).

Ini menunjukkan bahwa berbicara dengan orang-orang dengan sikap yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan pemahaman mereka, tanpa mengatakan kedustaan dan kebatilan, adalah sikap yang dibenarkan dan tidak termasuk dzul-wajhain.


HADIST NABI MUHAMMAD SAW MENYEBUTKAN MANUSIA PALING BURUK 

Dalam hadist yang diriwayatkan Imam Muslim dijelaskan bahwa orang yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua. Bermuka dua mengandung arti orang munafik, tidak jujur, palsu dan pembohong.

Agama Islam sangat melarang manusia menjadi bermuka dua atau munafik. Bahkan Agama Islam mengancam orang-orang munafik dengan siksaan yang pedih atau neraka jahanam.

حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَجِدُونَ مِنْ شَرِّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Kalian akan menjumpai seburuk-buruk manusia, yaitu orang yang bermuka dua, dia datang ke sini dengan satu sikap dan bila datang ke yang lain dengan sikap yang lain." (HR Muslim)

Maksud hadist ini, Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa manusia akan menjumpai manusia paling buruk yaitu orang bermuka dua atau munafik. Terkait hal ini dalam hadist lain maknanya sama hanya redaksinya berbeda.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ

Abu Hurairah mengatakan mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sejelek-jelek manusia adalah orang yang bermuka dua, dia datang ke sini dengan satu sikap dan bila datang ke yang lain dengan sikap yang lain." (HR Muslim)


CIRI-CIRI BERMUKA DUA PATUT DIWASPADAI 
Mempunyai teman, relasi, rekan usaha atau Siapapun, yang tulus dan bisa diajak berbagi adalah sebuah keuntungan dan berkah. Namun realitanya terkadang tidak semua tersebut diatas itu tulus, terkadang ada yang bermuka dua, anggap saja sebagai penguji Iman dan bijaksana kita. Inilah yang perlu diwaspadai karena orang yang bermuka dua ini bisa diam-diam menusuk kita dari belakang (musuh dalam selimut). Patut diwaspadai orang-orang bermuka dua itu. Intinya tetap Istiqomah, berprasangka baik dan hati-hati segala sesuatu keputusan. Ambil keputusan yang ringan resikonya, jika ragu-ragu lebih baik tinggalkan saja.
Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
1. Suka membicarakan rahasia orang lain.
Kalau seseorang sudah bernai membeberkan rahasia orang lainm itu tandanya dia bukan orang yang bisa dipercaya. Kamu perlu berhati-hati dengan ornag seperti ini, karena besar kemungkinan saat kamu tak bersamanya, kamu yang akan dijadikan sebagai bahan gosip.
2. Memuji secara berlebihan.
Kamu juga patut berhati-hati terhadap orang yang suka memuji secara berlebihan. Karena mungkin itu dilakukannya untuk mendapatkan simpatimu. Orang seperti ini biasanya diam-diam menusuk dari belakang. Di depan saja terlihat manis, namun di belakang mereka akan bersikap sebaliknya.
3. Bahagia melihat orang lain menderita.
Orang yang bermuka dua juga dipenuhi dengan rasa iri dan dengki. Mereka akan bahagia melihat orang lain dalam kesusahan dan sebaliknya tidak suka melihat orang lain bahagia. Mereka juga selalu berusaha mencari-cari kesalahan orang lain untuk membuat dirinya terlihat lebih baik.
4. Omongannya tidak bisa dipegang.
Suka berubah-ubah juga menjadi salah satu ciri dari orang yang bermuka dua. Mereka tidak pernah konsisten dengan apa yang dikatakannya dan cenderung plin plan. Mereka biasanya sengaja melakukan ini untuk mengecohmu.
5. Sikapnya berbeda saat ada orang lain.
Jika di depanmu mereka bersikap apa adanya dan tidak jaim (jaga imit/reputasi). Tapi saat ada orang lain, mereka akan berpura-pura menjadi orang yang menyenangkan untuk membuat kesan agar disukai. Ini dilakukan untuk mencari perhatian agar mereka memiliki kesan yang baik.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)