JAMUS KALIMASADA / KALIMOSODO

0

JAMUS KALIMASADA / KALIMOSODO

Jamus Kalimosodo (Jimat Dalam Diri, Dalam Jiwa) 



Kalimosodo atau Kalimasadha dalam Cerita Pewayangan istilah Jamus Kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannya tentang pengertian/kawruh. 

Barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja atau mempunyai kekuasaan yang besar.

Jimad kalimosodo adalah nama sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki Prabu Puntodewo atau Prabu Yudhistira (Samiaji) dari kerajaan Amartha, pemimpin para pendowo, yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian. Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang dikeramatkan di dalam kerajaan amarto, warisan dari Kyai Semar, Jamus Kalimasada adalah pusaka untuk menangkal kesengsaraan, nasib celaka, bebendu atau hukuman dari Tuhan. 

Jamus Kalimosodo diwahyukan kepada Pendawa Lima dan diteruskan kepada para puteranya. Jadi para putera Pendawa Lima merupakan pralampita, pengejawantahan dari panca indera manusia yang meliputi mata, hidung, telinga, lidah, dan kulit dan anggota badan.

Pertama adalah Sang Pretiwindya putera dari Prabu Yudhistira sebagai perlambang indera penglihatan, Sang Sutasoma, putera Sang Werkudara sebagai perlambang dari indera penciuman, ketiga yakni Sang Sutakirti putera Sang Arjuna sebagai perlambang indera pendengaran, ke empat yakni kembar Raden Nakula dan Raden Sadewa, putera Raden Nakula yakni Sang Satanika sebagai perlambang lidah sebagai indera perasa, dan Sang Srutakarma putera dari Raden Sadewa sebagai perlambang kulit dan seluruh anggota badan sebagai indera perasa pula.

Kelima putera tersebut dari satu isteri Pendawa Lima yakni Dewi Drupadi sebagai wujud retasan dari Yang Maha Kuasa (purbawisesaning gesang). Sehingga dapat diambil intisarinya yakni asal muasalnya panca indera tidak lain dari wujud ciptaan Sang Khaliq, Tuhan Yang Maha Kuasa, Sang Hyang Wenang, Gusti Kang Maha Wisesa. Tetapi, Sang Werkudara dari isteri Dewi Arimbi kemudian dikaruniai anak bernama Gatutkaca, selanjutnya sebagai perlambang dari pamicara. Pamicara atau bicara dengan bahasa manusia, bukanlah kewenangan Sang Hyang Wenag, purbawasesaning gesang hanya menciptakan suara untuk makhluknya, tidak menciptakan bahasa manusia. Bahasa atau bicara, wicara, merupakan hasil karya peradaban manusia, sehingga Gatutkaca bukan menjadi putera Werkudara dengan Dewi Drupadi, tetapi dengan Dewi Arimbi. Sang Werkudara sendiri merupakan perlambang hawa atau udara, maka Gatutkaca adalah putera Werkudara dengan Dewi Arimbi, bukan dengan Dewi Drupadi. Artinya, bahwa nafas dan suara asalnya dari hawa atau udara. Maka jika mulut dubungkam, dan hidung ditutup, pasti tidak akan bisa bicara.


BACA JUGA :

Sunan Kalijaga Bertemu Prabu Yudhistira di Pertapaan (Yudhistira Maharaja Membawahi Tanah Jawa Bagian Timur)

.


VERSI SUNAN KALIJAGA 

Versi Sunan Kalijaga ketika agama Islam datang ke Nusantara, bahkan oleh salah satu wali songo (sembilan wali) Sunan Kalijaga wayang dijadikan alat untuk penyebaran dakwah agama Islam yang memasukkan unsur Islam dalam kandungan cerita Mahabharata, sebagai contoh : Puntodewa atau Yudistira sebagai raja di Amartapura mempunyai jimat yang bernama Jamus Kalimasada yang merupakan pegangan atau lambang keunggulan sebagai raja diterjemahkan sebagai Kalimat Sahadat yang melambangkan keunggulan Islam sebagai pegangan hidup dengan pengakuan tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad sebagai utusanNya.

Konon diceritakan Puntadewa belum bisa meninggal sebelum ada yang bisa menjabarkan jimat Kalimasada yang kemudian dalam pertapaannya bertemu dengan Sunan Kalijaga di hutan Ketangga yang menjabarkan Kalimasada sebagai Kalimat Sahadat dan yang meng-Islamkan Puntodewa atau Yudistira yang kemudian bisa menemui ajalnya dalam Islam (apabila dipikirkan secara rational tentu saja tidak masuk akal karena Puntadewa bagaimanapun adalah produk dari budaya Hindu tentu saja ini adalah kepandaian dari walisongo untuk meng-Islamkan masyarakat yang pada saat itu masih mayoritas Hindu). 

Dalam hal seberapa besar Islam betul betul secara effektif mempunyai pengaruh yang besar dalam wayang purwo atau kulit masyarakat Islam masih banyak meragukan, oleh karena itu ada sebagian masyarakat Islam bahkan mengharamkan wayang purwo atau kulit yang jelas nafas Hindunya atau Jawanya lebih menonjol dibandingkan dengan nafas Islamnya, lepas dari kenyataan bahwa wayang purwo atau kulit masih tetap digemari masyarakat Jawa yang Islam maupun yang bukan Islam. Kalimosodo atau Kalimasadha dalam Budaya Jawa.

Ada beberapa versi yang menafsirkan (nafsirake) Jamus Kalimosodo :

1.  Ada yang menginterpretasikan dua kalimah syahadat.

2.  Ada yang menginterpretasikan lahirnya pancasila.

3.  Ada yang menginterpretasikan tokoh pewayangan pandawa lima.

Bagaimana cara penyampaian dakwah semuanya salahkah ? Tentu tidak, karena cara pandang setiap orang tidaklah sama hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan isi / makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian Jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian Jamus Kalimosodo secara singkat adalah : Kalimasada (Kalima usada atau jajampi wari gangsal) lima macam jamu atau lima macam tindakan (lelampahan gangsal) yang harus dilakukan setiap orang agar mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat (kawilujengan).

Lima macam tindakan tersebut adalah :

1.  Suci = setia, jujur.

2.  Sentausa = adil paramarta, tanggungjawab.

3. Kebenaran = sabar, belas kasih, rendah hati.

4. Pintar/kepandaian = pandai ilmu, pandai mengenakkan hati sesama, pandai meredam hawa nafsu.

5. Kesusilaan = selalu sopan-santun, teguh memegang tatakrama Langkah Kelima perkara tadi tidak boleh diabaikan salah satunya. Jadi harus dilakukan serempak bersama-sama, atau diistilahkan Jawa ayam kapenang. Sebutan ayam kapenang tersebut kemudian digunakan sebagai paugeran atau patokan yang menjadi petunjuk

Dalam pewayangan, ayam kapenang tersebut menjadi perwujudan watak masing-masing Satria Pendawa Lima. Sehingga disebut sebagai ayam kapenang artinya telur ayam sak petarangan, yang mengandung maksud pecah satu maka akan pecah semua. Ini untuk membahasakan guyub rukun nya para kesatria Pendawa Lima dalam tali persaudaraan, ada yang mati satu maka yang lain pasti akan membelanya. Langkah Lima perkara tersebut harus dijalankan secara kompak bersama-sama, jika salah satu tidak jalan maka akan mengalami kegagalan. 

Seumpama, walaupun sudah menjalankan kesetiaan, kesantosaan, kepandaian, kesusilaan, tetapi buta akan kebenaran sudah tentu tidak menjadi manungso pinunjul. 

Kebenaran dilupakan, artinya tidak memahami akan benar salahnya tindakan, perbuatan, dan pekerjaan. Maka kesetiaan dan kesantosaannya hanya untuk mendukung kepada perbuatan, tindakan, pekerjaan yang tidak benar. Kepandaian dan kesusilaannya juga hanya untuk membodohi (Jawa = minteri) orang lain. 

Perbuatan demikian yang menjadikan musabab menganggap enteng segala bahaya dan resiko, yang tidak bisa ditolak hanya dengan doa, justru sebaliknya, niscaya manusia akan jatuh dalam duka dan kesengsaraan.

 

ARTI KALIMASADA

Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian :

Ka = huruf atau pengejaan Ka Lima = angka 5

Sada = lidi atau tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu.  Jadi kelima ini haruslah utuh (selalu 5). 

Kelima unsur kalimasada teridiri dari :

1.   Ka Donyan (Keduniawian) ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal yang bersifat duniawian, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2.   Ka Hewanan ( sifat binatang) ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh : asusila. amoral, tidak beretika dll.

3.   Ka Robanan, Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu, nafsu itu harus dikendalikan.

4.  Ka Setanan Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya, contoh : gengsi, sombong (ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5.   Ka Tuhanan artinya kosong Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada.

Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan pusaka mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian Asli dari jamus kalimosodo di atas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya, setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya. Karena pengertian di atas adalah pengertian sebenarnya dari jamus kalimusodo.

Pusaka Puntadewa Serat Jamus Kalimasada Asalnya Dari Kalimat Syahadat

Serat Jamus Kalimasada adalah nama sebuah pusaka dalam dunia pewayangan yang dimiliki oleh Prabu Puntadewa (Yudistira), pemimpin para Pandawa. Pusaka ini berwujud kitab, dan merupakan benda yang sangat dikeramatkan dalam Kerajaan Amarta.

 

Asal-Usul Kata

Sebagian pendapat mengatakan bahwa istilah Kalimasada berasal dari kata Kalimat Syahadat, yaitu sebuah kalimat utama dalam agama Islam. Kalimat tersebut berisi pengakuan tentang adanya Tuhan yang tunggal, serta Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya.

Menurut ajaran tersebut, istilah Kalimasada diciptakan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang penyebar agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke-16. Konon, Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah, antara lain ia memasukkan istilah Kalimat Syahadat ke dalam dunia pewayangan.

Namun pendapat lain mengatakan bahwa sebelum datangnya agama Islam, istilah Kalimasada sudah dikenal dalam kesussastraan Jawa. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Dr.Kuntar Wiryamartana SJ. Istilah Kalimasada bukan berasal dari kata Kalimat Syahadat, melainkan berasal dari kata Kalimahosaddha.

Istilah Kalimahosaddha ditemukan dalam naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis pada tahun 1157 atau abad ke-12, pada masa pemerintahan Maharaja Jayabhaya di Kerajaan Kadiri. Istilah tersebut jika dipilah menjadi Kali-Maha-Usaddha, yang bermakna obat mujarab Dewi Kali.


VERSI KAKAWIN BHARATAYUDHA

Kakawin Bharatayudha mengisahkan perang besar antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Pada hari ke-18 panglima pihak Korawa yang bernama Salya bertempur melawan Yudistira. Yudistira melemparkan kitab pusakanya yang bernama Pustaka Kalimahosaddha ke arah Salya. Kitab tersebut berubah menjadi tombak yang menembus dada Salya.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa istilah Kalimahosaddha sudah dikenal masyarakat Jawa sejak beberapa abad sebelum munculnya Sunan Kalijaga. Mungkin yang terjadi adalah Sunan Kalijaga memadukan istilah Kalimahosaddha dengan Kalimat Syahadat menjadi Kalimasada sebagai sarana untuk berdakwah. Tokoh ini memang terkenal sebagai ulama sekaligus budayawan di Tanah Jawa.

 

Kisah dalam Pewayangan

Salah satu kisah pewayangan Jawa menceritakan tentang asal-usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.

Batara Guru raja kahyangan meminta bantuan Resi Satrukem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Dengan menggunakan kesaktiannya, Satrukem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.

Satrukem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama Resi Wyasa atau Abyasa. Ketika kelima cucu Abyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta, pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana.

Di antara pusaka-pusaka Kerajaan Amarta, Jamus Kalimasada menempati peringkat utama. Kisah-kisah pedalangan banyak yang bercerita tentang upaya musuh-musuh Pandawa untuk mencuri Kalimasada. Meskipun demikian pusaka keramat tersebut senantiasa kembali dapat direbut oleh Yudistira dan keempat adiknya.

prabu Darmakusuma alias prabu Yudistira dari negara Amarta, setelah semua saudaranya (Pandawa) meninggal, beliau mengembara ke segala penjuru dunia. Beliau tidak dapat meninggal dunia selama beliau mengagem jimat pusaka Jamus Kalimasada. Dan beliau mencari ada manusia yang dapat membaca dan membabar makna jimat pusaka miliknya.

Sampai akhirnya beliau mengembara ke Tanah Jawa. Di satu pihak, Sunan Kalijaga mengetahui dari kejauhan, ada sinar putih menjulang tinggi ke angkasa. Karena tertarik beliau mencari pemilik ataupun sumber sinar putih putih tersebut. Akhirnya ditemukanlah sumber sinar putih yang menjulang tinggi ke angkasa tersebut, yang berasal dari tubuh Prabu Yudistira yang bertapa di salah satu tempat di selatan Pulau Jawa. Dan terjadilah dialog antara keduanya.

Akhirnya Prabu Yudistira meminta Sunan Kalijaga untuk bisa membabar makna jimat pusaka Jamus Kalimasada. Setelah dibaca ternyata, jimat ini adalah kalimat syahadat. Setelah dibaca oleh kanjeng Sunan, maka wafatlah Prabu Yudistira. Oya sebelumnya konon ada beberapa lontar dan pusaka keluar dari badan prabu Yudistira.

Kisah ini entah terjadi beneran ataupun bukan, saya juga tidak dapat memberikan bukti otentik. Yang jelas ada hikmah penuh makna yang terkandung di dalamnya.


VERSI BEDA MAKNA 

Ada versi lain juga tentang jimat Jamus Kalimasada yang bukan bermakna kalimah syahadat, hal tersebut monggo-monggo kemawon, karena perbedaan adalah rahmat dan lebih indah lagi untuk menghargai perbedaan ini.

Catatan :

1.   Prabu Darmakusuma adalah putra Batara Darma yang tidak pernah berdusta sekalipun seumur hidupnya, kecuali ketika pada saat beliau ditanya oleh Begawan Durna ketika menjelang perang Baratayudha nyaris berakhir, tentang benar atau tidaknya kematian putra Begawan Durna, Aswatama. Pada saat itu terjadilah kebohongan putih dengan pernyataan dari Prabu Yudistira : benar yang mati adalah Aswatama, kemudian disusul suara lirih nyaris tak terdengar, tapi Aswatama yang seekor gajah. Pernyataan ini membuat Begawan Durna putus asa dan tidak bergairah lagi dalam berperang sehingga Begawan Durna-pun akhirnya tewas. Pesan moral kisah ini, coba kalo dibandingkan ama diri kita sehari-hari, bisakah kita berkata jujur seumur hidup

2.   Konon, makam Prabu Yudistira ada di belakang masjid agung kota Demak. Wallahu Alam.

3.   Konon, Prabu Yudistira mewariskan salah satu senjata pusaka berupa keris kepada Sunan Kalijaga. Entah dimana sekarang pusaka tersebut.

 

Jamus Kalimasada (versi 2)

Penerapan dari pada Jamus Kalimasada yang kita kenal dalam cerita wayang yaitu sebagai pusaka Prabu Punta Dewa Ratu Amarta, dan ternyata kita hubungkan dengan ajaran Islam cocok, berikut ulasanya.

Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya.

Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di Pancer (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan Papat-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya. Karena dengan menggunakan Papat. Papat kalima pancer merupakan sebuah wacana yang perlu terus kita gali dan kita renungkan plus bertukar fikiran dengan orang-orang tua kita yang sudah mumpuni baik dari ilmu tahid dan ilmu rasanya.

Menurut petunjuknya papat kalima pancer itu pusatnya ada di Pancer (yaitu lubuk hati yang paling dalam) dan Papat-nya adalah unsur-unsur ilahi yang kita sendiri hak untuk mendapatkannya.

Karena dengan menggunakan Papat itu kita bisa selalu ingat kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai penguasa alam semesta ini.

Papat yang pertama adalah Nur-Nya Allah (Nurullah = Cahaya dari Allah) bias dari asma-asma Allah dan sifat-sifat Allah, tanda dari Pancer-nya yaitu dalam segala sesuatu/ gerak gerik selalu Berserah Diri kepada Allah dan pengakuan kita sebagai mahluknya merasa tiada daya secara ruhani dan tiada kekuatan secara jasmani kecuali hanya Allah yang memberikan gerah hidup dan kehidupan, dan berupaya untuk selalu meng-ibadahkan segala sesuatu untuk beribadah kepada Allah memohon Ridho Allah, Rahmat Allah.

Papat yang kedua adalah Nur Muhammad (cahaya syafa’at yang Allah cipta untuk Hambanya (Rasulullah) yang Allah mulyakan setelah kita berserah diri kepada Allah lewat Pancer (lubuk hati yang paling dalam) ada sebuah kelembutan sebagai sebuah rahmat yang Allah berikan kepada mahluknya agar kita tunduk dan lemah lembut kepada Allah, selalu merasa sayang kepada apapun dan siapapun sebagaimana Rasulullah mempunyai perangai yang lembut dan berahlak mulia bagi semua mahluk.

Papat yang ketiga yaitu Malaikat sebagai kendaraan untuk membawa Nurullah dan Nur Muhammad tadi kedalam diri kita pada waktu kita berserah diri kepada Allah dan mengibadahkan segala sesuatu hanya untuk Allah dan fungsi malaikat ini untuk membantu memintakan permohonan ampun mendoakan kepada kita sebagai mahluk yang lemah, banyak berbuat dosa (karena manusia tempat salah dan lupa) dan nominal mereka tidak sedikit mendukung kita dalam beribadah kepada Allah.

Papat yang ke empat adalah Karomah yaitu berisi doa-doa dari para orang sholeh terdahulu (doa dari para Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan para Auliya serta Sholihin yang telah mendahului kita) yang oleh allah diberikan kesempatan untuk membantu mendoakan segala hajat hidup kita dalam mengarungi kehidupan didunia sebagai bekal ibadah nanti kita setelah meninggal (akhirat). Semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, keluarga kita, mengampuni kita, dan orang-orang yang mempunyai hak dan kewajiban atas kita yang seiman serta mengampuni sesepuh-sesepuh kita. Semoga Allah memberikan Taufiq dan hidayah kepada kita dan mereka dan semoga kita dan mereka semua dijadikan golongan dari hamba-hamba Allah yang sholeh.

Ada beberapa versi yang menafsirkankan Jamus Kalimosodo :

1. Ada yang menafsirkan dua kalimah syahada.

2. Ada yang menafsirkan  lahirnya pancasil.

3. Ada yang menafsirkan tokoh pewayangan pandawa lima.

Hal yang terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan isi / makna dari Jamus Kalimosodo sebagai orang yang berpengertian jawa yang mendapatkan warisan dari leluhur Jawa, pengertian Jamus kalimusodo secara singkat istilah Jamus Kalimosodo terdapat dalam kisah pewayangan Baratayudha, suatu jamus/surat yang ada tulisannya tentang pengertian/kawruh. 

Barang siapa mendapat kawruh ini ia akan menjadi raja / mempunyai kekuasaan yang bisa memiliki kitab Jamus Kalimasada.  

Kitab ini dimiliki oleh prabu yudistira (Samiaji) yang selalu menang dalam peperangan dan akhirnya masuk surga tanpa kematian memiliki dalam hal ini adalah bukan saling berebut tetapi saling berebut memiliki makna. Arti Kalimasada terdiri dari beberapa bagian :

Ka = huruf/pengejaan Ka, 

Lima = angka 5,

Sada = lidi/tulang rusuk daun kelapa yang diartikan Selalu, Jadi kelima ini haruslah utuh (selalu 5),

Kelima unsur kalimasada teridiri dari :

1.   KaDonyan (Keduniawian). ojo ngoyo dateng dunyo yang arti singkatnya adalah jangan mengutamakan hal-hal yang bersifat duniawi, kebutuhan duniawi kita kejar tapi jangan diutamakan.

2.  Ka Hewanan ( sifat binatang). ojo tumindak kaya dene hewan, cotoh:asusila. amoral, tidak beretika dll.

3.  KaRobanan. Ojo ngumbar hawa nafsu yang arti singkatnya jangan memelihra hawa nafsu-nafsu itu harus dikendalikan.

4.  Kasetanan. Ojo tumindak sing duduk samestine yang arti singkatnya jangan bertindak yang tidak semestinya alias gengsi, sombong( ingin seperti Gusti), menyesatkan, berbuat licik dll.

5.   KaTuhanan. artinya kosong Gusti Allah iku tan keno kinoyo ngopo nanging ono yang artinya Gusti Allah tidak dapat diceritakan secara apapun tapi toh ada. Gantharwa adalah salah satunya yang diberikan pusaka mewarisi warisan dari leluhur Jawa. Pengertian asli dari Jamus Kalimosodo diatas adalah isi murni dari pengertian sebenarnya, setiap orang boleh membungkusnya dengan bungkus apapun tetapi jangan sampai kehilangan makna aslinya, karena pengertian diatas adalah pengertian sebenarnya dari Jamus Kalimosodo.

 

SYAHADAT (1)

Syahadat adalah sebuah kalimat yang diucapkan dengan sebagai bentuk persaksian seseorang sebagai bentuk pengakuan dan kesaksian bahwa telah memeluk agama Islam.

Perlu diketahui, kalimat syahadat juga termasuk dalam rukun Islam pertama. Sebab, setiap pemeluk agama Islam diwajibkan untuk menjalankan kelima rukun Islam. Makanya memahami apa arti syahadat itu sangat penting bagi seorang muslim.

Faktanya, selain diucapkan saat kita pertama kali memeluk agama ini, dua kalimat syahadat juga menjadi kalimat kunci bagi seseorang untuk masuk ke dalam alam surga. Jika kalimat ini menjadi kalimat ucapan terakhir dalam hidup duniawi, maka akan diberikan jaminan surga.

Berikut adalah bacaan latin syahadat beserta artinya :

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Asyhadu a la-ilaha – illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rosulullahSetelah mengikrarkan dua kalimat syahadat dan mengetahui makna yang terkandung di dalam keduanya dan segala konsekuensinya, manusia latas dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang kita ketahui bahwa syahadat terdiri dari dua kalimat yang keduanya memiliki arti yang saling berkaitan.

Berikut adalah kalimat Syahadatain :

Ayshadu An-la ilaha illallah yang artinya saya bersaksi tiada tuhan selain Allah,

Wa Ayshadu Anna Muhammada Rasulullah yang artinya dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. (Hamid Ahmad At-Thahir, 2010).

 

Arti Syahadat

Artinya : Aku bersaksi Bahwa Tidak ada Tuhan yang hak wajib disembah Kecuali Allah. Dan Aku Bersaksi Bahwa Nabi Muahmmad itu adalah Utusan Allah.

Menyadur dalam Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Teknologi Pendidikan UIN Sumatera Utara, syahadat adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, yakni syahida yang bersaksi. Secara harfiah, arti syahadat adalah memberikan kesaksian dan memberikan pengakuan.

Sebagai seorang Muslim tentunya kita sudah sering mendengar lantunan kalimat syahadat. Kalimat yang diucapkan setidaknya sekali selama seumur hidup ini dapat diartikan sebagai bentuk kepasrahan seseorang kepada Allah. Selain itu, kalimat syahadat ini juga menjelaskan bahwa ia percaya dan bersedia untuk menjalankan apa yang diperintahkan oleh agama dan menjauhi apa yang dilarang oleh agama.

Kalimat kedua dapat diartikan sebagai bentuk kesediaan diri untuk mengikuti sunnah Nabi, ittiba’, tidak taklid atau ikut-ikutan dalam mengerjakan suatu amalan ibadah, terlebih lagi menjauhi segala perbuatan bid’ah apapun bentuknya sebagai bentuk utama dari penerapan sekaligus konsekuensi terhadap kalimat syahadat.

Makna kata Muhammad Rasulullah menuntut kesediaan menjadikan Rasullullah sebagai teladan, sehingga bernilai disisi Allah. Kalimat ini menjadikan seorang muslim memiliki rasa cinta, ridho dengan segala yang dicontohkan dari segi amal, perkataan dan semua tingkah laku beliau. (Ummu Yasmin, 2004:48).

 

Keutamaan Membaca Kalimat Syahadat

Mengutip dalam berbagai sumber, terdapat beberapa keutamaan yang terkandung dalam dua kalimat syahadat. Diantaranya adalah sebagai berikut.

1.  Jaminan Masuk Surga. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Barang siapa yang akhir perkataannya sebelum menginggal dunia adalah laa ilaaha illallah, maka dia akan masuk surga." (HR. Abu daud).

2.   Penumbuh Sifat Tawakkal. Tawakkal dapat diartikan sebagai kepercayaan hati terhadap Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Seseorang yang tawakal atau berserah diri kepada Allah SWT. Maka jiwanya akan selalu tenang dan tidak bingung jika menemukan berbagai macam masalah yang di hadapi, karena kita sudah menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Seseorang yang berdzikir setiap hari mengucap kalimat syahadat maka akan tumbuh sifat tawakal di dalam dirinya.

3.  Dizikir Paling Utama. Perlu anda ketahui bahwa dua kalimat syahadat merupakan bacaan dzikir yang paling utama di mata Allah SWT.

4.   Kebaikan. Terdapat sebuah kisah inspiratif bahwa ada seorang bernama Abu Dzar yang bertanya pada Rasulullah: "Katakanlah padaku wahai Rasulullah, ajari aku amalan yang dapat menjauhkanku dari neraka." Kemudian Nabi Muhammad bersabda, "Apabila engkau melakukan kejelekan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapat sepuluh yang semisal." Lalu Abu dzar berkata, "Wahai Rasulullah apakah kalimat laa ilaaha illallah merupakan kebaikan? Rasulullah bersabda "Kalimat itu merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan."

 

Syahadat (2)

Bacaan syahadat menempati kedudukan penting dalam Islam yakni sebagai rukun Islam yang pertama. Bila rukun Islam diibaratkan dengan sebuah bangunan, maka bacaan syahadat merupakan fondasinya.

Bukti pentingnya kedudukan bacaan syahadat dalam Islam dapat dibuktikan dalam salah satu hadits Rasulullah SAW. Beliau menyebutkan dua kalimat syahadat sebagai perkara pertama yng membangun agama Islam.

Berikut lafalnya :

الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Artinya: "Islam dibangun atas lima perkara. Mengucapkan dua kalimat syahadat, sholat lima waktu, zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan ibadah haji di tanah suci,." (HR Bukhari Muslim).

Syahadat secara etimologis mengandung makna kesaksian. Artinya, bacaan syahadat merupakan kesaksian dan pengakuan yang diiringi dengan pemahaman. Sehingga kita dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Seorang muslim yang baik tidak hanya mengucapkan sekali saja ucapan syahadat, sebab setiap menunaikan shalat akan diulangi berkali-kali bacaan syahadat itu".

Sementara itu, bacaan syahadat terbagi menjadi dua yakni : 

1. Syahadat Tauhid dan.

2.  Syahadat Rasul. 

 

Jenis bacaan syahadat

1.   Syahadat tauhid. Bacaan syahadat tauhid berisikan kesaksian secara lisan dan meyakini dalam hati bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain dari Allah SWT. Bacaan syahadat tauhid berbunyi,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

         Asyhadu an laa ilaaha illallaahu,

Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah."

2.      Syahadat rasul. Bacaan syahadat rasul artinya berisikan kesaksian bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusanNya. Sekaligus meyakini bahwa apapun yang disampaikan dan dilakukannya adalah benar sesuai dengan syariatNya. Berikut bacaan syahadat rasul,

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Asyhaduanna muhammadar rasuulullah

Artinya: "Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."

 Selain syahadat tauhid dan syahadat rasul, ajaran Islam juga mengenal bacaan dua kalimat syahadat atau syahadatain. Makna yang dikandung dalam bacaan dua kalimat syahadat adalah menafikan ketuhanan dari siapa pun dan apa pun yang selain Allah SWT.

Kemudian menetapkan dalam hati bahwa ketuhanan itu hanya milikNya. Sekaligus sebagai wujud sikap pengakuan terhadap kerasulan yang diemban oleh Nabi Muhammad SAW. Ini bunyi bacaan dua kalimat syahadat lengkap dengan latin dan artinya,

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah

Artinya: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah." 

Ada waktu-waktu tertentu yang disyariatkan untuk mengucapkan bacaan syahadat tersebut. Waktu mengucapkan bacaan syahadat adalah :

1.  Ketika seseorang akan masuk Islam (mualaf).

2.  Adzan dan iqomah ketika bayi baru lahir.

3.  Waktu sholat fardhu atau pun sunnah.

4.   Adzan dan iqomah.

 

BACA JUGA : 

Pusaka Puntadewa Serat Jamus Kalimasada Asalnya Dari Kalimat Syahadat

.


JAMUS KALIMASADA

Versi Centhini (133:13-20) Pustaka Jamus Kalimasada

Pupuh 133 Pangkur (metrum : 8a, 11i, 8u, 7a, 12u, 8a, 8i), bait ke-13 sampai bait ke-20, Serat Centhini :

Mangsuli Sri Yudhisthira, mangke-mangke ta mangke Sunan Kali, wangune arsa abêndu, andakwa raganingwang, andahwèni damêl wilalat tan sarju, babo botên pisan-pisan. Mênggah (ng)gèn kula nèng riki.

botên sawêg sapunika, sampun lami nglampahi pitêdahing, sasmita nalika ulun, tapa dhasar samodra, laminira ngantos ênêm atus taun. Ujaring wasitatama, kinèn tapa wontên ngriki,

pasthi antuk kang sinêdya, ingkang sagêd (n)jalari pêjahmami. Sabab ing satuhunipun, kula sêdya ngupaya, ing margine sagêd dhumatêng ing lampus. Duk miyarsa (n)Jêng Susunan, katingal pasêmon manis,

sumèh wijiling wicara, nulya tanya têmbung amêrakati, dhuh mitraningsun sinuhun, sabab saking punapa, sariranta tan sagêd tumêkèng lampus. Mèsêm risang Yudhisthira, lah makatên Sunan Kali.

Kala ulun winisudha, madêg nata lajêng dipunparingi, jajimat dening Dewagung, nama Kalimasada, ingkang ugi anami Pustaka-jamus, dumugi ing sapunika, taksih kula pundhi-pundhi.

Pratistha ing asta kanan, malah-malah sampun saklangkung lami, asta tan sagêd tumêlung, miwah tan sagêd mêgar. Sunan Kali kataman aturing prabu, sangsaya pangungunira, wasana tatanya malih,

Mênggah ungêling sêratan, ing jijimat punika kadospundi, kalawan suraosipun. Dhuh Sunan Kalijaga, kula matur inggih ing sayêktosipun, sampun ngantos kang sumêrap, ambikak kewala ajrih.

Jalaran dhawuhing dewa, namung kinèn ngangge jijimat pripih, mila kula jrih kalangkung, bilih nguninganana. Sunan Kali mèsêm ngandika jro kalbu, ika wong bodho balaka, nadyan ngrêti nanging wêdi.

 

Penafsiran dan pemaknaan :

Mangsuli (menjawab) Sri Yudhisthira (Sri Yudhistira), mangke–mangke (sebentar-sebentar) ta (to) mangke (sebentar) Sunan Kali (sunan Kalijaga), wangune (rupanya) arsa (akan) abêndu (marah), andakwa (mendakwa) raganingwang (kepadaku), andahwèni (menjahili) damêl (memasang) wilalat (tuah) tan (rak) sarju (setuju). Babo (aduh) botên (tidak) pisan-pisan (sama sekali). Menjawab Sri Yudhistira, “Sebentar, sebentar to sebentar Sunan Kali, rupanya (Anda) akan marah mendakwa kepadaku menjahili dengan memasang tuah karena tak setuju. Aduh tidak sama sekali!

Raja Yudhistira terkejut dengan pernyataan Sunan Kalijaga yang baru saja disampaikan. Serta merta membantah kecurigaan Sang Sunan. Beliau menyatakan bahwa sama sekali dia tidak bertujuan untuk mengganggu pekerjaan pembabatan hutan itu.

Mênggah (adapun) (ng)gèn (pada, keberadaan) kula (saya) nèng (ada di) riki (sini), botên (tidak, bukan) sawêg (baru) sapunika (sekarang), sampun (sudah) lami (lama) nglampahi (melakukan) pitêdahing (petunjuk), sasmita (isyarat) nalika (ketika) ulun (saya), tapa (bertapa) dhasar (di dasar) samodra (samudera), laminira (lamanya) ngantos (sampai) ênêm (enam) atus (ratus) taun (tahun). “Adapun keberadaan saya  berada di sini bukan baru sekarang ini, (tapi) sudah lama melakukan (bertapa) sesuai petunjuk isyarat yang diterima ketika saya bertapa di dasar samudera selama enam ratus tahun.”

Prabu Yudhistira menjelaskan awal mula dia bertapa di sini dan menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak ada kaitan dengan pekerjaan pembabatan hutan untuk negara baru. Dia melakukan tapa dengan segala akibat yang terjadi karena mengikuti petunjuk yang dia terima pada pertapaan sebelumnya di dasar samudera selama enam ratus tahun.

Ujaring (perkataan) wasitatama (pesan yang baik itu), kinèn (disuruh) tapa (bertapa) wontên (ada) ngriki (di sini), pasthi (pasti) antuk (mendapat) kang (yang) sinêdya (diharapkan), ingkang (yang) sagêd (bisa) (n)jalari (menjadi sebab) pêjahmami (kematian saya). “Perkataan dalam pesan baik itu, disuruh bertapa di sini, pasti mendapat yang diharapkan, bisa menjadi sebab kematian saya.”

Prabu Yudhistira menjelaskan bahwa pertapaannya tidak ada sangkut pautnya dengan pendirian negara baru tersebut. Dia hanya mematuhi pesan baik yang diterima ketika bertapa di dasar lautan. Yakni agar kehendaknya untuk mati tercapai, dia harus  bertapa di hutan Glagahwangi.

Sabab (sebab) ing (pada) satuhunipun (sebenarnya), kula (saya) sêdya (hendak) ngupaya (berupaya), ing (pada) margine (jalannya) sagêd (bisa) dhumatêng (menuju) ing (pada) lampus (kematian).  Sebab sebenarnya saya hendak berupaya, mencari jalan supaya bisa menuju pada kematian.

Sang Prabu menyatakan kalau sudah lama beliau hendak mencari jalan kematian, sebagai penyempurna dari kehidupannya di dunia ini. Karena sudah sangat lama beliau hidup di dunia ini. Sudah cukup pengabdian yang dilakukan dan sudah waktunya kembali ke surga. Namun jalan kematian begitu sulit ia dapatkan.

Duk (ketika) miyarsa (mendengar) (n)Jêng (Kangjeng) Susunan (Sunan), katingal (terlihat) pasêmon (raut muka) manis (manis), sumèh (ramah) wijiling (keluarnya) wicara (perkataan), nulya (lalu) tanya (bertanya) têmbung (perkataan) amêrakati (mendekatkan hati, menyenangkan), dhuh (duhai) mitraningsun (sahabatku) sinuhun (tuan), sabab (sebab) saking (dari) punapa (apa), sariranta (diri Anda) tan (tak) sagêd (bisa) tumêkèng (mencapai) lampus (kematian). Ketika mendengar Kangjeng Sunan terlihat raut mukanya manis, ramah keluarnya perkataan, lalu bertanya dengan perkataan yang menyenangkan, “Duhai Tuan sahabatku, mengapa Anda tidak bisa mencapai kematian?”

Lega hati Sang Sunan ketika mendengar bahwa Prabu Yudhistira bukan orang yang berupaya menghalangi pembabatan hutan itu. Namun memang Sang Raja mengalami masalah sendiri yang perlu diselesaikan. Atas dasar kepedulian akan hal itu, Kangjeng Sunan Kalijaga bertanya mengapa sampai Prabu Yudhistira kesulitan untuk mencapai kematian sehingga hidup terlunta-lunta di dunia sampai ratusan tahun.

Mèsêm (tersenyum) risang (sang) Yudhisthira (Yudhistira), lah (nah) makatên (begini) Sunan (Sunan) Kali (Kalijaga). Kala (ketika) ulun (saya) winisudha (diwisuda), madêg (berdiri) nata (raja) lajêng (lalu) dipunparingi (diberi), jajimat (jimat) dening (oleh) Dewagung (Dewa Agung), nama (nama) Kalimasada (Kalimasada), ingkang (yang) ugi (juga) anami (bernama) Pustaka–Jamus (Pustaka Jamus). Dumugi (sampai) ing (pada) sapunika (sekarang), taksih (masih) kula (saya) pundhi–pundhi (muliakan). Tersenyum sang Yudhistira, “Nah begini Sunan Kalijaga. Ketika saya diwisuda sebagai raja lalu diberi jimat oleh Dewa Agung, namanya Kalimasada, yang juga bernama Pustaka Jamus. Sampai sekarang masih saya muliakan.”

Prabu Yudhistira menceritakan asal mula mengapa sampai dia tidak bisa mati. Pada waktu beliau dinobatkan sebagai raja Amarta beliau diberi jimat yang berupa pustaka (buku), namanya Kalimasada. Kitab itu juga disebut Pustaka Jamus. Pustaka itu sampai sekarang masih dia muliakan.

Pratistha (menyatu, letaknya) ing (di) asta (tangan) kanan (kanan), malah–malah (malah) sampun (sudah) saklangkung (sangat) lami (lama), asta (tangan) tan (tak) sagêd (bisa) tumêlung (terayun), miwah (serta) tan (tak) sagêd (bisa) mêgar (mengembang). Letaknya menyatu di tangan kanan, malah sudah sangat lama tangan sampai tak bisa terayun dan tak bisa mengembang.

Di awal sudah disebutkan bahwa orang tinggi besar itu selalu meletakkan tangan kanan yang tergenggam di atas kening. Ternyata hal itu dilakukan karena sangat memuliakan jimat yang ada di tangan kanan itu. Karena sangat lamanya tangan itu mengepal dan diangkat sampai-sampai sulit untuk diturunkan dan dibuka genggamannya.

Sunan (Sunan) Kali (Kalijaga) kataman (terkena) aturing (perkataan) prabu (Prabu), sangsaya (semakin) pangungunira (keheranan), wasana (akhirnya) tatanya (bertanya) malih (lagi), mênggah (adapun) ungêling (bunyi) sêratan (tulisan), ing (pada) jijimat (jimat) punika (itu) kadospundi (seperti apa), kalawan (dan) suraosipun (apa maknanya). Sunan Kalijaga yang terkena perkataan Prabu (Yudhistira) semakin keheranan, akhirnya bertanya lagi, “Adapun bunyi dari tulisan pada jimat itu seperti apa dan apa maknanya?”

Sunan Kalijaga keheranan mendengar penuturan Raja Yudhistira. Begitu mengagungkan ia pada jimat yang dia pegang  sampai tangannya selalu diangkat dan digenggam. Seperti sangat takut kalau sampai sesuatu di tangannya itu jatuh. Beliau penasaran sebenarnya apa isi dari jimat pustaka itu dan apa maknanya?

Dhuh (duhai) Sunan (Sunan) Kalijaga (Kalijaga), kula (saya) matur (berkata) inggih (ya) ing (pada) sayêktosipun (sebenarnya), sampun (jangankan) ngantos (sampai) kang (yang) sumêrap (melihat), ambikak (membuka) kewala (saja) ajrih (takut). “Duhai Sunan Kalijaga, saya berkta yang sebenarnya, jangankan sampai melihat, membuka saja takut.”

Prabu Yudhistira mengatakan terus terang kalau belum pernah melihat tulisan yang ada dalam pustaka itu. Jangankan sampai melihat, hendak membuka saja takut. Sehingga isi dari pustaka itu apa juga tidak tahu.

Jalaran (karena) dhawuhing (perintah) dewa (dewa), namung (hanya) kinèn (disuruh) ngangge (memakai) jijimat (sebagai jimat) pripih (jimit), mila (maka) kula (saya) jrih (takut) kalangkung (sangat), bilih (bila) nguninganana (melihatnya). Karena perintah dewa hanya disuruh memakai sebagai jimat, maka saya sangat takut bila melihatnya.

Kata jimat pripih sebenarnya dua kata artinya sama. Dalam bahasa Jawa sering ditemui bentuk-bentuk kata yang demikian, artinya adalah menyangatkan. Misalnya kata sabar darana. Kedua kata artinya sabar. Bila digabung artinya menegaskan atau menyangatkan. Jadi Prabu Yudhistira ini sangat takut membuka pustaka Jamus karena pesan dewa yang memberinya hanya untuk dipakai sebagai jimat saja.

Sunan Kali (Sunan Kalijaga) mèsêm (tersenyum) ngandika (berbicara) jro (dalam) kalbu (hati), ika (itu) wong (orang) bodho (bodoh) balaka (lugu), nadyan (walau) ngrêti (tahu, pintar) nanging (tetapi) wêdi (takut). Sunan Kalijaga tersenyum, bicara dalam hati, “Itu orang bodoh yang lugu, walau pintar tetapi takut!”

Sunan Kalijaga mulai mendapatkan titik terang perihal mengapa Sri Yudhistira sulit untuk mencapai kematian. Sangat mungkin karena jimat yang dia pakai itu. Dalam hati Sunan tersenyum karena menemui orang yang pintar tetapi takut, seperti Sri Yudhistira ini.

 


Imajiner Nuswantoro 



Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)