KAKAWIN ARJUNAWIWAHA

0

KAKAWIN ARJUNAWIWAHA



Kakawin Arjunawiwaha adalah kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur. Karya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan Prabu Airlangga, yang memerintah berpusat di sekitar pulau Jawa bagian timur  dari tahun 1019 sampai dengan 1042 Masehi. Sedangkan kakawin ini diperkirakan selesai digubah sekitar tahun 1030 dan disebut menggambarkan kehidupan Prabu Airlangga.

Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Bidadari ini diperintahkan untuk menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari ini.

Oleh para pakar ditengarai bahwa kakawin Arjunawiwaha berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mahābharata.

Salinan teks Latin yang sangat penting berada di Belanda, yaitu dalam Jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 82 (1926) halaman 181-305.

Di bawah ini disajikan ringkasan cerita yang terdapat dalam kakawin Arjunawiwāha. Ringkasan ini berdasarkan ulasan P.J. Zoetmulder (1983:298-302) dan terjemahan Ignasius Kuntara Wiryamartana (1990:124-182).

Niwātakawaca, seorang raksasa (daitya) mempersiapkan diri untuk menyerang dan menghancurkan kahyangan Batara Indra. Karena raksasa itu tak dapat dikalahkan, baik oleh seorang dewa maupun oleh seorang raksasa, maka Batara Indra memutuskan untuk meminta bantuan dari seorang manusia. Pilihan tidak sukar dan jatuh pada sang Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakīla. Namun sebelum Arjuna diminta bantuannya, terlebih dahulu harus diuji ketabahannya dalam melakukan yoga, karena ini juga merupakan jaminan agar bantuannya benar-benar membawa hasil seperti yang diharapkan.

Maka tujuh orang bidadari yang kecantikannya sungguh menakjubkan dipanggil. Sebenarnya tujuh bidadari itu tercipta dari sebuah cahaya, yang kemudian mengalami pembiasan dan membentuk tujuh cahaya beraneka warna. Kemudian, tujuh cahaya tersebut berubah bentuk menjadi tujuh wanita, dengan nama Supraba, Tilottama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat. Dari tujuh bidadari itu, kedua bidadari yang memiliki peran penting dalam cerita ini bernama Suprabhā dan Tilottamā. Mereka semua diutus dari kahyangan untuk mengunjungi Arjuna lalu mempergunakan kecantikan mereka untuk merayunya.

Maka berjalanlah para bidadari melalui keindahan alam di gunung Indrakīla menuju tempat bertapanya sang Arjuna. Mereka beristirahat di sebuah sungai lalu menghias diri dan membicarakan bagaimana cara terbaik untuk mencapai tujuan mereka.

Mereka sampai pada gua tempat Arjuna duduk, terserap oleh samadi, lalu memperlihatkan segala kecantikan mereka dan mempergunakan segala akal yang dapat mereka pikirkan guna menggodanya, tetapi sia-sia belaka. Dengan rasa kecewa mereka pulang ke kahyangan dan melapor kepada batara Indra. Namun bagi para dewa kegagalan mereka merupakan suatu sumber kegembiraan, karena dengan demikian terbuktilah kesaktian Arjuna.

Tertinggallah hanya satu hal yang masih disangsikan: apakah tujuan Arjuna dengan mengadakan yoga semata-mata untuk memperoleh kebahagiaan dan kekuasaan bagi dirinya sendiri, sehingga ia tidak menghiraukan keselamatan orang lain? Maka supaya dalam hal yang demikian penting itu dapat diperoleh kepastian, Indra sendiri yang menjenguk Arjuna dengan menyamar sebagai seorang resi tua yang telah pikun dan bungkuk. Sang resi tua ini berpura-pura batuk dan lalu disambut dengan penuh hormat oleh sang Arjuna yang sebentar menghentikan tapanya dan dalam diskusi falsafi yang menyusul terpaparlah suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna yang sejati. Dalam segala wujudnya, termasuk kebahagiaan di sorga, kekuasaan dan nikmat termasuk dunia semu dan ilusi; karena hanya bersifat sementara dan tidak mutlak, maka tetap jauh dari Yang Mutlak. Barangsiapa ingin mencapai kesempurnaan dan moksa, harus menerobos dunia wujud dan bayang-bayang yang menyesatkan, jangan sampai terbelenggu olehnya. Hal seperti ini dimengerti oleh Arjuna. Ia menegaskan, bahwa satu-satunya tujuannya dalam melakukan tapa brata ialah memenuhi kewajibannya selaku seorang ksatria serta membantu kakaknya Yudistira untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan seluruh dunia. Indra merasa puas, mengungkapkan siapakah dia sebenarnya dan meramalkan, bahwa Batara Siwa akan berkenan kepada Arjuna, lalu pulang. Arjuna meneruskan tapa-bratanya.

Dalam pada itu raja para raksasa telah mendengar berita apa yang terjadi di gunung Indrakila. Ia mengutus seorang raksasa lain yang bernama Mūka untuk membunuh Arjuna. Dalam wujud seekor babi hutan ia mengacaukan hutan-hutan di sekitarnya. Arjuna, terkejut oleh segala hiruk-pikuk, mengangkat senjatanya dan keluar dari guanya. Pada saat yang sama dewa Siwa, yang telah mendengar bagaimana Arjuna melakukan yoga dengan baik sekali tiba dalam wujud seorang pemburu dari salah satu suku terasing, yaitu suku Kirāṭa. Pada saat yang sama masing-masing melepaskan panah dan babi hutan tewas karena lukanya. Kedua anak panah ternyata menjadi satu. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan orang Kirāṭa itu, siapa yang telah membunuh binatang itu. Perselisihan memuncak menjadi perdebatan sengit. Panah-panah Siwa yang penuh sakti itu semuanya ditanggalkan kekuatannya dan akhirnya busurnya pun dihancurkan. Mereka lalu mulai berkelahi. Arjuna yang hampir kalah, memegang kaki lawannya, tetapi pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan Siwa menampakkan diri.

Batara Siwa bersemayam selaku ardhanarīśwara 'setengah pria, setengah wanita' di atas bunga padma. Arjuna memujanya dengan suatu madah pujian dan yang mengungkapkan pengakuannya terhadap Siwa yang hadir dalam segala sesuatu. Siwa menghadiahkan kepada Arjuna sepucuk panah yang kesaktiannya tak dapat dipatahkan; namanya Pasupati. Sekaligus diberikan kepadanya pengetahuan gaib bagaimana mempergunakan panah itu. Sesudah itu Siwa lenyap.

Tengah Arjuna memperbincangkan, apakah sebaiknya ia kembali ke sanak saudaranya, datanglah dua apsara 'makhluk setengah dewa setengah manusia', membawa sepucuk surat dari Indra; ia minta agar Arjuna bersedia menghadap, membantu para dewa dalam rencana mereka untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna merasa ragu-ragu, karena ini berarti bahwa ia lebih lama lagi terpisah dari saudara-saudaranya, tetapi akhirnya ia setuju. Ia mengenakan sebuah kemeja ajaib bersama sepasang sandal yang dibawa oleh kedua apsara, dan lewat udara menemai mereka ke kahyangan batara Indra. Ia disambut dengan riang gembira dan para bidadari merasa tergila-gila. Indra menerangkan keadaan yang tidak begitu menguntungkan bagi para dewa akibat niat jahat Niwatakawaca. Raksasa itu hanya dapat ditewaskan oleh seorang manusia, tetapi terlebih dahulu mereka harus menemukan titik lemahnya. Sang bidadari Suprabha yang sudah lama diincar oleh raksasa itu, akan mengunjunginya dan akan berusaha untuk mengatahui rahasianya dengan ditemani oleh Arjuna. Arjuna menerima tugas itu dan mereka turun ke bumi. Suprabha pura-pura malu karena hubungan mereka tampak begitu akrab, akibat tugas yang dibebankan kepada mereka. Dalam kepolosannya Suprabha tidak menghiraukan kata-kata manis Arjuna dan berusaha membelokkan percakapan mereka ke hal-hal lain. Waktu sore hari mereka sampai ke tempat kediaman si raja raksasa; di sana tengah diadakan persiapan-persiapan perang melawan para dewata. Sang Suprabha, sambil membayangkan bagaimana ia akan diperlakukan oleh Niwatakawaca, merasa tidak berani melaksanakan apa yang ditugaskan kepadanya, tetapi ia diberi semangat oleh Arjuna. Ia pasti akan berhasil asal ia mempergunakan segala rayuan seperti yang diperlihatkan ketika Arjuna sedang bertapa di dalam gua, biarpun pada waktu itu tidak membuahkan hasil.

Suprabha menuju sebuah sanggar mestika (balai kristal murni), di tengah-tengah halaman istana. Sementara itu Arjuna menyusul dari dekat. Namun Arjuna memiliki aji supaya ia tidak dapat dilihat orang. Itulah sebabnya mengapa para dayang-dayang yang sedang bercengkerama di bawah sinar bulan purnama, hanya melihat Suprabha. Beberapa dayang-dayang yang dulu diboyong ke mari dari istana Indra, mengenalinya dan menyambutnya dengan gembira sambil menanyakan bagaimana keadaan di kahyangan. Suprabha menceritakan, bagaimana ia meninggalkan kahyangan atas kemauannya sendiri, karena tahu bahwa itu akan dihancurkan; sebelum ia bersama dengan segala barang rampasan ditawan, ia menyeberang ke Niwatakawaca. Dua orang dayang-dayang menghadap raja dan membawa berita yang sudah sekian lama dirindukannya. Seketika ia bangun dan menuju ke taman sari. Niwatakawaca pun menimang dan memangku sang Suprabha. Suprabha menolak segala desakannya yang penuh nafsu birahi dan memohon agar sang raja bersabar sampai fajar menyingsing. Ia merayunya sambil memuji-muji kekuatan raja yang tak terkalahkan itu, lalu bertanya tapa macam apa yang mengakibatkan ia dianugerahi kesaktian yang luar biasa oleh Rudra. Niwatakawaca terjebak oleh bujukan Suprabha dan membeberkan rahasianya. Ujung lidahnya merupakan tempat kesaktiannya. Ketika Arjuna mendengar itu ia meninggalkan tempat persembunyiannya dan menghancurkan gapura istana. Niwatakawaca terkejut oleh kegaduhan yang dahsyat itu; Suprabha mempergunakan saat itu dan melarikan diri bersama Arjuna.

Meluaplah angkara murka sang raja yang menyadari bahwa ia telah tertipu; ia memerintahkan pasukan-pasukannya agar seketika berangkat dan berbaris melawan para dewa-dewa. Kahyangan diliputi suasana gembira karena Arjuna dan Suprabha telah pulang dengan selamat. Dalam suatu rapat umum oleh para dewa diperbincangkan taktik untuk memukul mundur si musuh, tetapi hanya Indra dan Arjuna yang mengetahui senjata apa telah mereka miliki karena ucapan Niwatakawaca yang kurang hati-hati. Bala tentara para dewa, apsara dan gandharwa menuju ke medan pertempuran di lereng selatan pegunungan Himalaya.

Menyusullah pertempuran sengit yang tidak menentu, sampai Niwatakawaca terjun ke medan laga dan mencerai-beraikan barisan para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yang bertempur di belakang barisan tentara yang sedang mundur, berusaha menarik perhatian Niwatakawaca. Pura-pura ia terhanyut oleh tentara yang lari terbirit-birit, tetapi busur telah disiapkannya. Ketika raja para raksasa mulai mengejarnya dan berteriak-teriak dengan amarahnya, Arjuna menarik busurnya, anak panah melesat masuk ke mulut sang raja dan menembus ujung lidahnya. Ia jatuh tersungkur dan mati. Para raksasa melarikan diri atau dibunuh, dan para dewa yang semula mengundurkan diri, kini kembali sebagai pemenang. Mereka yang tewas dihidupkan dengan air amrta dan semua pulang ke sorga. Di sana para istri menunggu kedatangan mereka dengan rasa was-was jangan-jangan suami mereka lebih suka kepada wanita-wanita yang ditawan, ketika mereka merampas harta para musuh. Inilah satu-satunya awan yang meredupkan kegembiraan mereka.

Kini Arjuna menerima penghargaan bagi bantuannya. Selama tujuh hari (menurut perhitungan di sorga, dan ini sama lama dengan tujuh bulan di bumi manusia) ia akan menikmati buah hasil dari kelakuannya yang penuh kejantanan itu: ia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas singgasana Indra. Setelah ia dinobatkan, menyusullah upacara pernikahan sampai tujuh kali dengan ketujuh bidadari. Satu per satu, dengan diantar oleh Menaka, mereka memasuki ruang mempelai. Yang pertama datang ialah Suprabha, sesudah perjalanan mereka yang penuh bahaya, dialah yang mempunyai hak pertama. Kemudian Tilottama lalu ke lima yang lain, satu per satu; nama mereka tidak disebut. Hari berganti hari dan Arjuna mulai menjadi gelisah. Ia rindu akan sanak saudaranya yang ditinggalkannya. Ia mengurung diri dalam sebuah balai di taman dan mencoba menyalurkan perasaannya lewat sebuah syair. Hal ini tidak luput dari perhatian Menaka dan Tilottama. Yang terakhir ini berdiri di balik sebatang pohon dan mendengar, bagaimana Arjuna menemui kesukaran dalam menggubah baris penutup bait kedua. Tilottama lalu menamatkannya dengan sebuah baris yang lucu. Maka setelah tujuh bulan itu sudah lewat, Arjuna berpamit kepada Indra; ia diantar kembali ke bumi oleh Matali dengan sebuah kereta sorgawi. Kakawin ini ditutup dengan keluh kesah para bidadari yang ditinggalkan di sorga dan sebuah kolofon mpu Kanwa.

 

MANGGALA

1. Ambĕk sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakêng śūnyatā, Tan sangkêng wiṣaya prayojñananira lwir sanggrahêng lokika, santoṣâhĕlĕtan kĕlir sira sakêng sang hyang Jagatkāraṇa.

(Batin sang tahu Hakikat Tertinggi telah mengatasi segalanya karena menghayati, Kehampaan, Bukanlah terdorong nafsu indria tujuannya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi, Damai bahagia, selagi tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penjadi Dunia).

2. Uṣṇiṣangkwi lĕbūni pādukanirā sang hyang Jagatkāraṇa. Manggĕh manggalaning mikĕt kawijayân sang Pārtha ring kahyangan

(Hiasan kepalaku merupakan debu pada alas kaki dia Sang Hyang Penjadi Dunia, Terdapatkan pada manggala dalam menggubahkan kemenangan sang Arjuna di kahyangan).

 

KAKAWIN ARJUNAWIWAHA

Bagian Pertama: Penulisan Kakawin

Ini adalah Arjunawiwaha, yaitu kakawin yang suci dan indah, hasil karya Pujangga Kawi Empu Kanwa, yang telah mengikat cerita (sampun keketan ing katha), bagaikan menguntai permata, dan merangkai sajak (angiket bhasa rudita), seperti merangkai ikatan bunga (angiket sekar taji). Semuanya dituliskan pada papan, rapi, berupa goresan  (rinekaken munggw ing wiletanan aradin warna cacahan), sebagai hasil karya pujangga agung yang telah menyusun, dan menghasilkan kidung bersyair (tumatametu-metu kakawin), yang keluar dari puncak budi  (tungtung ing hidep), dan keluar dari batu-tulis (tungtung ing tanah). Maka kakawin ini adalah karya-sastra agung yang dipersembahkan bagi Sri Paduka Raja, yaitu sebagaimana disebutkan … “Sembah  kehadapan  Sri Airlangga. Dia yang dipuja sampai patah batu-tulis, memberi restu” (Sri Airlanggha namastu sang panikelanya tanah anumata).

Sang Pujangga Kawi menggalang  keindahan dengan  kiasaan  kata yang mengungkapan kiasan (alamkara), dan hiasan permainan kata dengan bunyi yang rumit (sabdalamkara), serta hiasan permainan arti yang menyarankan makna berganda (arthalamkara). Ia membukanya dengan pujaan (asir, manggala), diikuti rangkaian satuan kisah yang terdiri dari perundingan (mantra), utusan (duta), keberangkatan pasukan  (prayana), pertempuran (aji), dan kemenangan Sang Pahlawan (nayaka bhyudaya). Dibubuhkannya lukisan alam pegunungan (saila), laut (arnawa),  dan  kota (nagara), berikut gambaran musim (rtu), dan terbitnya bulan (candrodaya), ketika berlangsung permainan di taman  (udyanakrida) dan di air (salilakrida). Diungkapkannya pula ajaran tentang kewajiban hidup (dharmasastra) dan kesejahteraan hidup (arthasastra).  Kemudian diutarakannya adegan percintaan, yang dipenuhi dengan rasa asmara (srngararasa), ulah cinta penuh kesenangan (sambhogasrngara), dan kesedihan karena perpisahan atau penolakan (vipralambha), yang diakhiri dengan keadaan yang menyenangkan (rdhimat). Adapun di dalam menulis diramunya pembukaan (mukha), yang mengandung benih cerita (bija), diikuti dengan pembukaan kembali (pratimukha), perkembangan yang menjadi kandungan cerita (garbha),  pertimbangan  (vimarsa), untuk menyingkirkan halangan (avamarsa), dan kesimpulan cerita (nirvahana). Maka itulah yang disebut kelima sendi (panca-sandhi) dalam wiracarita berbentuk  kakawin.

Dibangunnya pula jalinan cita-rasa (rasa) dan perasaan (sthayibhava), yaitu asmara (srngara) dan cinta (rati), kelucuan (hasya), dan kejenakaan (hasa),  belas-kasihan (karuna) dan kesedihan (soka), keganasan (raudra), dan kemarahan (krodha),  kepahlawanan (vira) dan keteguhan (utsaha), kekuatiran (bhayanaka ) dan ketakutan (bhaya), kengerian (bibhatsa) dan kemuakan (jugupsa), serta  ketakjuban (adbhuta) dan keheranan (vismaya). Sehingga akhirnya tercapailah kedamaian (santa) dan ketenangan (sama), yang bergaya semesta, mengatasi ruang (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra), serta menjangkau kepada tingkat kesadaran tertinggi. Itulah rasa  damai-bahagia (santosa), yaitu kebahagiaan yang tertinggi (paramasukha), karena merupakan kebahagiaan yang tak mungkin kembali menjadi duka (sukha tan pabalik dukha).

Demikan pula Sang Pujangga Kawi kemudian memuja cahaya keindahan yang asali (istadewata), dalam rangka memohon pertolongan dan menyatu dengannya (dewasraya). Karena ia ingin menjadi tunas keindahan (alung-lango), yang akan menciptakan keindahan (kalangwan), sebagai tempat persemayaman, yaitu tempat yang dipuja (candi). Maka karyanya itulah pula yang akan menjadi bekal kematiannya (silunglung), dalam rangka mencapai kelepasan (moksa). Sumber keindahan itupun  turunlah, dari alam  niskala  memasuki alam sakala-niskala, bersemayam di atas padma (munggw ing sarasiya) di dalam hati dan jiwa Sang Pujangga Kawi (twas, jnana, hidep, tutur). Melalui kawi-yoga menyatulah sumber keindahan di alam niskala dengan kekaguman di lubuk-hati Sang Pujangga Kawi yang memancarkan keindahan. Di dalam keanekaan-ragaman kini ia melihat hakekat yang satu. Iapun mengembara untuk menyaksikan keindahan pada alam kehidupan seraya menjalankan tapa-brata (abrata).  Maka terbayanglah keindahan di mana-mana, yaitu keindahan yang akan dituangkan dalam karya sastra kakawin. Sang Pujangga Kawi pun tenggelam dalam keindahan alam, dan sekaligus menyatu dengan keindahan yang mutlak, di kala ia telah mampu untuk mengatasi berbagai godaan dan cobaan. Ditemukannya sumber kidung bersyair yang berada di dalam dirinya, yaitu pada ujung pemusatan pikiran (dhyana), yang menuju kepada tataran keheningan (samadhi). Maka ditulisnyalah Kakawin Arjunawiwaha, yang memuja kebajikan (yasa), sebagai buah-usaha pujangga yang berbuat jasa (yasa), dan menjadi sebuah tanda peringatan (yasa). Bagaikan sebuah candi dengan prasasti yang mengabadikan baik kebajikan dari yang dipuja maupun ke-bakti-an dari yang memuja.

Demikianlah Kakawin Arjunawiwaha kemudian menjadi jalan perenungan (sadhana), yang dapat dibaca (amaca) maupun dilagukan (angidung). Ketiga-puluh enam pupuh dalam kakawin menjadi tingkat-tingkat kesadaran yang sarat dengan gelombang rasa rokhani. Maka ketiga rasa yang utama, yaitu yang dijumpai dalam suasana pertapaan (santa), pertempuran (vira), dan percintaan (srngara), muncul secara bergantian untuk akhirnya bertemu dalam kesatuan rasa. Kesemuanya itu membawa pembaca dan pendengar kakawin, untuk beralih dari alam sakala kepada alam sakala-niskala. Maka haruslah semua yang membacanya menghadapi dan mengatasi tabir yang menyelubungi kesejatian makna (maya). Karena di dalam keindahan itupun terdapat godaan dan cobaan, yang membangkitkan gelora perasaan raga-jasmani, yaitu keadaan yang harus dilepaskan dalam rangka tercapainya hakekat rasa sejati. Selanjutnya dengan melakukan pembacaan berulang-kali akan terjadilah penggandaan buah-pikiran, yang bergerak menuju kepada satu pengertian. Sehingga pada saat alunan suara kidung berhenti terdengar, dan keheninganpun turun, tibalah jiwa pada keadaan yang mutlak. Sesungguhnya daya-cipta dalam diri Sang Pujangga Kawi menggambarkan kekuatan (sakti) yang berasal dari Hyang Batara Agung. Sedangkan kakawinnya melambangkan dunia yang telah tercipta (maya), yang penggubahannya itu menunjuk kepada kejadian penciptaan (lila). Karena itulah pembacanyapun diharapkan ikut bermain (lila), dengan menggumuli kakawin (maya), dalam rangka menemukan  makna dan daya yang sejati (sakti).

Maka barang siapa membaca Arjunawiwaha sebagai kakawin yang suci, ia akan dapat merasakan kebesaran Arjuna. Seperti Ksatria Pandawa itu ia akan dapat menghayati hukum semesta yang menjadi kewajiban hidupnya (dharma). Begitu pula ia akan terpanggil untuk ikut memulihkan ketertiban dunia dalam rangka memperjuangkan kesejahteraan hidup (artha). Sehingga iapun akan menerima pahala, yaitu kemuliaan dan kenikmatan hidup (kama).  Maka didalam segala-sesuatu yang diperbuatnya itu ia akan tetap berada pada jalan kelepasan hidup (moksa), karena itulah tujuan  jangka-panjang kehidupannya.  Sebagaimana tertulis … “Perihal dharma ksatria, jasa dan kebajikanlah yang dipentingkan. Namun demikian, dalam keyakinan berkesimpulan pula mencapai moksa …” (kunang yan dharma ksatria yasa wa lawan wirya linewih, yaya wwat ring gegwan makaputusa sanghyang kelepasan). Maka iapun akan menjadi seperti Arjuna yang  memperoleh  kejayaan di mana-mana.

 

Bagian  kedua: Pembacaan Kakawin

(Mukha)/(1.4-1.5): Sebagai sebuah wiracarita yang telah disusun di atas pemahaman rasa dan yoga, Kakawin Arjunawiwaha adalah sebuah kidung bersyair tentang ke-jaya-an  Arjuna di Kahyangan (kawijayan partha ring kahyangan). Pada permulaan kakawin ia ditampilkan sebagai calon pahlawan (nayaka), yang akan menghadapi lawannya pahlawan (pratinayaka). Maka Arjuna itu adalah seorang ksatria yang perkasa dan  seorang yogi yang berbudi. Ia adalah seorang pahlawan (sang nayaka), yang telah mencapai hakekat yang tertinggi (sang paramarthapandita). Di dalam berbagai penampilan watak, sikap, dan tindakannya sebagai seorang ksatria, dapat ditemukan rasa keperwiraan (virarasa), yang sempurna dan utuh. Akan tetapi melalui yoga dan tapa yang dijalankan secara bertahap, munculah pula rasa kedamaian (santarasa), yang memancar dari seorang yogi. Keadaan itu sangatlah berbeda dengan pembawaan Sang Niwatakawaca, raksasa sakti, yang justru masih sangat terjajah oleh hawa napsu keangkara-murkaan. Dalam keangkuhan dan kesombongan dirinya Sang Pratinayaka berniat untuk menghancurkan kahyangan  Dewa Indra dan menundukkan para dewa.

(Pratimukha)/(1.6-VI.9): Karena  kesulitan yang dihadapinya Indra membutuhkan pertolongan Arjuna. Akan tetapi kemampuan dan niat ksatria penengah Pandawa itu masih diragukannya. Maka diutuslah ketujuh bidadari (widyadhari), yang kecantikannya tak tertandingi, untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun demikian oleh karena di dalam tapanya Arjuna telah berhasil mencapai  keteguhan-hati (dhira),  maka  tidaklah ia terganggu oleh godaan para apsari yang jelita itu. Bahkan akhirnya mereka terpaksa kembali ke kahyangan dewata dalam kesedihan dan kerinduan yang mendalam, meninggalkan Arjuna yang berdiam dalam keheningan batin yang sempurna. etika itulah para dewa di kahyangan bersuka-cita, bahkan ada yang menghaturkan sembah  penghormatan kearah Indrakila. Kini telah ditemukan seorang  ksatria pahlawan yang akan membela kelestarian kahyangan dewata. Akan tetapi  Arjuna masih harus diuji, apakah ia seorang ksatria yang menjalankan tapa, ataukah ia seorang resi yang ingin menanggalkan keduniawian. Maka datanglah Indra dengan menyamar sebagai seorang resi tua untuk memperolok-olokkan dan menggugah rasa ke-ksatria-an Arjuna. Menghadapi ujian Indra nampaklah keteguhan dan ketetapan hatinya untuk memegang dharma ksatria, yang mementingkan jasa dan kebajikan (yasa lawan wirya). Karena kebaktian dan cinta-kasihnya (bakti lawan asih), kepada kakanda Sang Dharmaputra (Yudhistira Shri Dharmaatmaja), Arjunapun bertapa dengan tekun. Karena cita-citanya adalah untuk menjadi jaya dan berkuasa di dunia (digjaya wijaya). Serta hendak berbuat jasa memelihara seluruh dunia dan berbuat baik kepada sesama (mahaywang rat lawan kaparahitan). Demi cita-citanya itu ia berani menghadapi apa saja, bahkan hingga mati sekalipun. Kini keraguan Indra menjadi sirna, karena telah ditemukannya seorang ksatria berbudi-luhur yang akan mampu untuk menghadapi Sang Niwatakawaca. Dipujinya Arjuna sebagai ksatria yang berjalan mantap dan teguh dalam membina kehormatan (manadhana) dirinya dengan tepat. Akan tetapi Arjuna masih harus bertapa dalam rangka meneruskan usahanya untuk memperoleh anugerah Hyang Batara Agung. Karena tidak lama lagi keindahan Tuhan (Sang Hyang Hayu) akan datang kepadanya. Maka Arjunapun meningkatkan usahanya (prih), dengan tidak berlengah-lengah  (tan upir-upir).

(Garbha)/(VII.1-XII.14): Kini tanda-tanda keberhasilan mulai terlihat. Arjuna yang selalu bersikap waspada, tampak penuh kesiap – siagaan (yatna), ketika menghadapi cobaan Sang Mamangmurka. Ditewaskannya raksasa utusan Niwatakawaca, yang telah menjelma sebagai babi-hutan yang ganas, dengan bidikan panahnya. Bersama dengan itu  panah Ksatria Kirata juga menghujam tubuh babi hutan itu. Karena ingin menunjukkan keperwiraannya Arjuna bersikap tak hendak mengalah kepada Sang Kirata. Dengan berani ia melayani tantangan ksatria asing yang merendahkannya dengan kata-kata yang menghina. Karena merasa kehormatan dirinya diganggu Arjunapun menjadi marah (krodha). Kata-kata Ksatria Pandawa itu tandas, tetapi tidak tergesa-gesa (sahuriratereh tar agya). Serangan  Sang Kirata dan  pengiringnya  ditangkis dengan  teguh (khadhiran), dengan dahsyat (katara) Arjuna melakukan perang-tanding, dan dengan penuh kewaspadaan (saprayatna) ia membalas serangan senjata Sang Kirata.Arjuna bergulat dengan Sang Kirata dengan amat tangguh, hingga ketopongnya pecah  dengan disertai  berhamburannya  ratna. Ia  berkelahi dengan penuh siasat  (cidra), erat dipeluknya kaki Ksatria Sang Kirata itu, yang telah memukulnya hingga tersungkur ketanah. Tiba-tiba sirnalah Sang Kirata, berganti rupa menjadi Sang Hyang Siwarudra. Maka Arjuna bersujud menyembah dan memuja Hakekat Tertinggi dalam penampakkanNya itu. Karena ketulusannya kemudian diterimanya anugerah keempat kesaktian (cadusakti). Juga busur, ketopong, dan baju zirah (laras makuta lawan kawaca). Diterimanya ajaran suci berupa ilmu keakhlian memanah (aji dhanurdharasastra). Setelah Sang Hyang Batara Agung berlalu, Arjuna Sang Dhananjaya merasa amat berbahagia, atas anugerah yang telah diterimanya. Disambutnya utusan Indra yang kemudian datang untuk mengundangnya ke kahyangan, supaya segera memberi pertolongan dalam rangka menghadapi ancaman Sang Niwatakawaca. Akan tetapi karena kerendahan hatinya Arjuna hanya terdiam ketika dianggap  berkeunggulan  dan  berkemampuan tinggi (mawirya lawan maguna).

(Vimarsa)/(XIII.1 – XXI.7): Sesungguhnya Indra memandang Arjuna sebagai penolong orang yang tak berpelindung (kshatriya), yang jaya di mana-mana (sarananing anatha digjaya). Maka dalam persidangan para dewa ditetapkanlah tugas bagi Arjuna dan Suprabha. Dalam rangka itulah Arjuna menerima latihan dari Sang Wrehaspati untuk menambah kemahirannya dalam mengambil kebijakan yang cermat dan melakukan daya upaya yang tepat. Kemudian berangkatlah Arjuna didampingi Suprabha sebagai penasihat dan pelindungnya menuju ke negeri Ima-Imantaka. Di sanalah Suprabha berpura-pura menyerahkan diri kepada Sang Niwatakawaca, dengan alasan ingin menghindari nasib buruk bilamana Kahyangan ditundukkan kelak. Dengan tipu muslihat (upaya) yang telah dirancangnya bersama Arjuna, penuh kelemah-lembutan yang manja Suprabha melancarkan bujuk-rayunya terhadap raksasa sakti yang sedang kegirangan itu. Sehingga akhirnya diketahuilah  rahasia kesaktian dan jalan kematiannya, yaitu yang berada pada bagian dalam mulutnya. Ketika itulah Arjuna menghancurkan gapura kota dan membuat keonaran di Ima-Imantaka. Sungguh Sang Niwatakawaca terkecoh (kasalib), karena Suprabha lalu melarikan diri bersama Arjuna di tengah kekacauan yang sedang berlangsung. Dalam kemarahan yang menggelora Sang Niwatakawaca segera menyiapkan pasukannya dan berangkat untuk menyerbu Kahyangan Indra. Menyadari hal itu dalam persidangan para dewa, Indrapun memutuskan untuk melawan serangan bala-tentara Ima-Imantaka.

(Nirvahana)/(XXIII.1-XXXVI.2): Indra berangkat bersama pasukan para dewa dan bertempur melawan bala raksasa di lereng gunung Semeru. Ketika barisan para dewa dikalahkan oleh golongan raksasa, Arjuna datang menyerang sebagai penopang- belakang (tulak balakang) bagi mereka yang mundur minta dikasihani. Pada puncak pertempuran itu Arjuna memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), yaitu kutuk balik yang mengakhiri kesaktian Prabu Niwatakawaca. Arjuna sengaja ikut lari dengan berpura-pura kebingungan, hingga membuat raja raksasa yang sakti itu tertawa terbahak-bahak oleh karena kesenangan. Ketika dibidik dengan tomaranya Arjuna sengaja menjepitnya dan berpura-pura terjatuh di keretanya. Niwatakawaca datang berteriak menantang perang sambil tertawa kegirangan. Saat itulah ia terkecoh, terjerat tipu-muslihat (kasalib kabancana), karena tampaklah lidah pada mulut yang terbuka lebar. Maka binasalah raja raksasa yang sakti itu terkena bidikan panah manusia yang sakti pula. Arjuna dan para dewapun kembali ke kahyangan untuk merayakan kemenangan mereka. Akan tetapi ketika para dewa sedang sibuk mempercakapkan tentang perang  yang telah mereka menangkan, Arjuna yang unggul jasanya (sang agunakaya) tidak banyak berbicara (tan jewah) dan tidak pula menunjukkan sikap kegirangan (tan wijah). Kemudian daripada itu Arjunapun menerima pahala kemuliaannya, yaitu ketika ia menjalani upacara penobatannya (abhiseka) sebagai Raja di Kahyangan Indraloka, dan  melaksanakan  pernikahannya (wiwaha)  dengan ketujuh bidadari (widyadhari)  yang  utama. Arjuna, yang telah menang perang (amenang ing rananggana), dan dahulu telah mengatasi godaan para apsari jelita, kini mengalah untuk melayani mereka, karena ingin membahagiakan sesamanya (parartha). Maka setelah berada di kahyangan dewata selama tujuh purnama, yaitu sesuai dengan batasan waktu yang telah ditetapkan baginya, kembalilah Arjuna ke alam marcapada untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya. Kemudian daripada itu Arjunapun mengalami kemenangan di mana-mana (digwijaya).

 

Bagian Ketiga:  Pemahaman  Kakawin

Adapun tujuan penulisan Kakawin Arjunawiwaha itu adalah dalam rangka menghadapi karya perang (angharep samarakarya), yaitu persiapan perang Sri Airlangga yang sedang  berusaha mempersatukan Nusantara-Jawadwipa (1028-1035). Karena itu  bukanlah  dewata pilihan (istadewata) yang dipuja di dalam karya agung ini, melainkan Ksatria Arjuna sebagai gambaran Sang Prabu sendiri. Persatuannya dengan Sang Hyang Sakti diharapkan untuk dapat menjadi terwujud melalui gambaran Arjunawiwaha, yaitu pernikahan Sang Panduputra dengan ketujuh bidadari. Supaya diperolehnya kemenangan sebagaimana dilukiskan dalam kejayaan Arjuna di Kahyangan (kawijayan sang partha ring kahyangan). Maka dengan kakawin yang ditulisnya itulah Sang Pujangga Kawi mengiringkan Sang Raja (mangiring i haji), yaitu mengiringkannya dengan ilmu dan mantra  (mangiring ing aji), agar berjayalah ia di dalam perjuangannya yang luhur itu.

Adapun Arjuna itu adalah seorang ksatria pahlawan (sang nayaka), dan seorang yogi  yang tahu akan Hakekat Tertinggi (sang paramarthapandita), karena ia telah  menghayati kesuwungan (sunyata). Sebagai seorang ksatria ia mengusahakan sempurnanya jasa dan kebajikan (yasa lawan wirya), dan mengusahakan kebahagiaan seluruh dunia (sukhaningrat), dalam keunggulan dan kepahlawanannya. Sedangkan sebagai seorang yogi ia tidak dicemari oleh napsu kelima indera (tan sangkeng wisaya). Namun demikian sebagai seorang ksatria yang harus membina kesejahteraan dunia, seolah-olah saja ia menyambut yang duniawi (lwir sanggraheng lokika). Maka oleh karena kewajiban hidupnya (dharma), walaupun ia mengalami rasa damai dan bahagia dalam persatuan dengan Tuhan yang disembahnya (santosa), ia rela tetap tersekat tabir kemayaan (aheletan kelir), yang memisahkannya dari Sang Pencipta Dunia (sanghyang jagatkarana). Itulah sikap, pembawaan, dan tindakan (ambek) tokoh pahlawan                     (sang nayaka), yang telah memperoleh kejayaan di kahyangan (kawijayan ring kahyangan). Kemenangan ini berhubungan dengan pertolongan yang telah ia berikan kepada kahyangan dewata, yang sedang terancam oleh kejahatan  Sang Niwatakawaca. Maka pada benih cerita (bija) inilah tersirat semangat keperwiraan (virarasa) dan sekaligus suasana kedamaian (santarasa), yang memancar dari dalam kehidupannya.

Maka sebagai lawan dari sang pahlawan (pratinayaka) adalah Sang Prabu Niwatakawaca. Seorang raksasa (daitya) sakti yang berkuasa, bermegah, dan berjaya di mana-mana di seluruh dunia (akhyating jagad digjaya). Seorang pertapa (atapa) yang  dianugerahi  kesaktian dan keunggulan (warawirya). Berkat yoga dan tapanya iapun mencapai maksudnya (krta-krtya), yaitu tidak  akan  mati di tangan dewa, yaksa, asura, dan denawa. Karena pembatasnya hanyalah seorang manusia sakti (manusa sakti). Maka dari Sanghyang Siwarudra sendirilah Sang Niwatakawaca telah memperoleh anugerah berupa kekuasaan atas ketiga dunia (bhuh swargadi, jagad raya). Karena memuja Bhatara Bhirawa iapun mendapat kesaktian batin (siddhi), kebal tak dapat dicincang (achedya), tak apat dibunuh (amarana), dan memiliki delapan kemampuan (astaguna). Akan tetapi itu semua merupakan kesia-siaan (wiyartha), karena ia terbelenggu oleh napsu (raga), yang membawa kehancuran (hala ). Maka seperti utusannya, Sang Mamangmurka, yang menjelma menjadi babi hutan (wok, wraha), demikian pula Sang Niwatakawaca adalah makhluk (pasu) yang terikat (pasa) oleh kesemuan dunia (maya). Dalam keangkaraannya ia ingin menghancurkan kahyangan (swargaloka), menundukan Bhatara Indra (dewaraya), dan merebut Suprabha (sri sakti). Maka kegagalannya untuk memperoleh Suprabha itu diakibatkan oleh keangkaraan napsu (rajah) dan kegelapan batin (tamas) yang menyelimuti jiwanya. Karena gelora asmara yang membara ia tidak tahan terhadap bujuk rayu Suprabha, sehingga terpancinglah keluar (kahuwan) rahasia ke-sakti-annya, yaitu kelemahan yang terdapat  di ujung  lidahnya (jihwagra). Karena tidak waspada (yatna), terhadap manusia sakti, sehingga terkecoh dan tertipu (kasalib kabancana) oleh muslihat (upaya) Arjuna. Maka Sang Niwatakawaca, yang telah memojokkan Indra dalam kesulitan bahaya (durniti lawan bhaya), akhirnya mengalami kehancuran.

Kepada manusia sakti, yang akan dapat mengalahkan Sang Niwatakawaca, Indrapun berpaling. Ingin menjadikannya sekutu, teman, dan pembantu (sahaya), dalam rangka menghadapi musuh (satru). Dialah Arjuna, seorang yogi yang bertapa (atapa), dan ksatria yang bercita-cita untuk menang dalam perang (asadhyajaya ring rana). Akan tetapi hanyalah tapa seorang raja yogi (yogiswara) yang dapat memberikan karunia (wara) dan anugerah (krtanugraha). Bilamana tapanya masih dipengaruhi oleh  keinginan rendah (rajah) dan kebutaan akal (tamas), kesaktian yang diperolehnya  hanya akan menjadi sumber kehancuran bagi dirinya dan penderitaan bagi orang lain. Sesungguhnya manusia sakti yang dicari Indra adalah seorang ksatria yang tekun memuja Sang Hakekat Tertinggi (siwasmrti), sampai memperoleh anugerah (sraddha) daripadaNya. Seorang ksatria yang batinnya terbebas dari jaringan napsu kelima indera (nirwisaya), sehingga berada dalam keadaan   hening-jernih (alilang), bebas-lepas (huwa-huwa), dan bahagia-baka (sukha-dhyatmika). Maka Arjuna itulah manusia sakti (manusa sakti, wwang sakti), yang diminta bantuannya oleh Indra untuk  membela kahyangan dewata dari ancaman bahaya.

Karena sesungguhnya Arjuna telah mencapai keheningan batin yang sempurna (anasrayasamadhi), hingga mengalami keterlelapan diri (lina), yaitu memasuki suasana terlenyap dan terserap kedalam kekosongan (sunyata), yang kenikmatannya tak terlukiskan. Ketika itulah ia mengenakan keadaan yang bertubuh halus (ng sukmarira), berwujud baka (apinda niskala), dan berhakikat baka (asari niskala). Ia mengalami pencerahan rokhani (jnanawisesa), yang memberi kebahagiaan jauh melebihi kenikmatan bersenggama (sukhaning samagama). Sesungguhnya itulah kebahagiaan tertinggi yang mustahil untuk dibayangkan (ng paramasukha luput linaksana). Maka ketika berhadapan dengan para bidadari iapun tidak tergoda (niskalangka), tidak tergoyahkan (tan wikalpa), tidak terkeruh  kejernihannya (hening), karena telah mencapai tingkat keheningan batin yang cenderung tidak lagi memilah-milah di antara berbagai keadaan (nirwikalpa). Demikian pula ketika menghadapi cobaan jerat Sang Indra (bancana indrajala), yang membawa kegelapan batin (tamas), menimbulkan kebingungan akal (moha), dan melahirkan ketidak-tahuan (ajnana). Godaan ke-maya-an itupun  dihadapi dan diatasinya dengan berhasil.  Maka luluslah  Arjuna dalam ujian dewata, karena dalam keteguhannya untuk menemukan hakekat yang sejati,  ia tidaklah ragu untuk menjalankan kewajiban hidup (dharma)nya sebagai ksatria. Dijangkaunya keadaan yang mutlak tanpa melepaskan kejadian dunia yang semu (maya), yaitu permainan (lila) para  dewata. Bahkan di dalam ke-maya-an hidup itulah Arjuna menemukan kehidupan sejati. Maka bersabdalah Indra bahwa akan datang penampakan suci yang indah itu (sanghyang hayu).

Setelah masak yoganya (atasak yoganira), Arjunapun menjadi manusia berwatak dewata (manusa dibya). Ia telah mematahkan belenggu ke-maya-an, yaitu godaan bidadari, cobaan Indra, gangguan Mamangmurka, dan kemudian tantangan Sang Kirata. Melalui pergulatannya dengan Ksatria Kirata pahlawan Arjuna memasuki pergumulan batin di  alam keheningan. Dalam keteguhan hatinya Arjuna memuja Siwamurti sebagai Rudra, dan Aditya (suryasewana), serta Sang Hyang Hayu. Ia diliputi api yang menghanguskan (gumeseng), tetapi telah ditawarkan (kunda nisprabha), maka membawa keselamatan bagi dirinya. Api yang suci meresapi dirinya, sehingga iapun mengenakan cahaya (prabha) dan kecermerlangan (teja), bagaikan bulan purnama (sasangka purnama, sasiwimba). Ketujuh bidadari, yaitu daya-sakti yang bersemayam dalam ketujuh lidah  api, menyatu dengan dirinya. Di antaranya adalah dua yang utama (rwekang adi), yaitu Sang Kecermerlangan (Suprabha) berupa api, yang bernyala bersama  Sang Biji-bijian utama (Tilottama), yang  ditaburkan ke dalam api. Maka dalam samadhi-yoga, Suprabha itu adalah api yang naik di dalam tubuh untuk membakar semua racun (wisa) dan menghasilkan air kehidupan (tirta amrta), seperti halnya Sri Maha Nilakantha (siwamurti) mereguk racun yang menyertai keluarnya air kehidupan  pada pengadukan laut susu  (udadhimanthana). Api sakti  (suprabha) itu naik bersama naiknya daya biji-bijian utama (tilottama), dari ucapan mantra (bijaksara), hingga tembus di ujung kepala. Maka pecahnya ketopong Arjuna (rukuh ira remuk), yang disertai berhamburannya bunga permata (ratna), menunjukkan terjadinya pencerahan rokhani. Arjuna memeluk kaki Ksatria Kirata (jong sang hyang) melambangkan upacara untuk menurunkan dewata (dewapratistha), yang disertai dengan penerapan mantra pada setiap bagian tubuh (nyasa). Maka Sang Pencipta Dunia berkenan untuk hadir dalam rupa pria-wanita (ardhanariswara), yaitu kesatuan Siwa-Sakti, yang bersemayam di atas singgasana teratai manikam (padmasana mani).

Sungguh mahir Arjuna dalam memuja dewata (nipuna ring dewopacarana) dan benar ia tahu akan pujaan singkat untuk kemanunggalan rasa (sang siptapuja). Arjuna menyembah Sang Hyang Rudra dengan sikap tangan yang sempurna, mantra puncak yang selaras, dan pengheningan cipta tanpa bernoda (mudramwang kutamantra smrti wimala), yaitu mantra pemujaan (pujamantra), yang diucapkan dalam upacara penyembahan bunga (Puspanjali). Adapun ucapan sembahnya (uccarana) itu bermula dengan mantra suci triaksara (AUM), dan memuncak pada persatuan dengan Siwa Hakekat Tertinggi, yang kini tak berkelir tabir pemisah lagi (paramarthasiwatmanirawarana). Sesuai dengan paham Tantrayana dalam penyembahan itu disatukanlah ketiga sisi dari pengucapan mantra, yaitu suara keheningan (sabda), hembusan kehidupan (bayu), dan semangat kesadaran (hidep). Maka naiklah mantra yang suci (AUM), melalui kedua-belas tingkat keheningan diri (samadhi), yaitu kedua-belas tingkat kesadaran jiwa (ang, ung, mang, bindu, ardhacandra, nirodhika, nada, nadanta, sakti, vyapini, samana, unmana). Pada tingkat kesepuluh tercapailah daya yang meresapi (wyapi-wyapaka). Lalu pada tingkat kesebelas tercapailah keseimbangan sempurna dari segala daya (samana), di mana sang yogi mencapai ketenangan sempurna (sama). Akhirnya pada tingkat kedua-belas tercapailah keadaan yang mengatasi pikiran (unmana), di mana sang yogi menghayati ke-suwung-an (sunyata), dan masuk kealam yang mutlak (niskala). Maka pada peristiwa inilah Arjuna menerima anugerah berupa panah Pasupati (pasupatisastraka), yaitu keempat kesaktian (cadu sakti), yang keluar dari tangan Tuhan (sang iswara) dalam bentuk api. Setelah Hyang Batara sirna dari pemandangan (suksma), Arjuna merasa seolah-olah ia bukan dari dunia ini (rasa tan irat), karena seakan-seakan ia berganti tubuh, bahagia tak mungkin kembali duka (kadi maslin sarira, sukha tan pabalik prihati … sukha tan pabalik dukha).

Demikianlah Arjuna kemudian berlaga melawan Sang Niwatakawaca. Dalam suatu pertempuran ke-sakti-an di mana kekuatan kebajikan (dharma) berperang melawan kekuatan kejahatan (adharma). Arjuna berjuang untuk mengatasi kesaktian dan kekuatan gaib (siddhi). Digunakannya senjata-senjata Astramantra, yaitu Sanghyang Pasupatastramantra, Sanghyang Tripuranta Kagnisara, dan Sanghyang Naracasastra Sarirabandhana.  Maka itulah mantra (astramantra), yang dilepaskan dengan gerakan mudra (naracamudra), untuk membunuh musuh, sambil melindungi tubuh (sarira), dan mengikat  kekuatan  beragam pada alam-semesta (digbandhana). Arjuna berhasil membunuh Sang Niwatakawaca, setelah memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), dan mengenakan ilmu gaib perihal kutuk balik (suksmajnananing antasapa). Maka karena terjerat dan terkecoh oleh tipu-muslihat (kasalib kabancana), Prabu Niwatakawaca  akhirnya mati (pejah) oleh panah-api (agnisara). Dengan turunnya kutuk akhir, yaitu kutukan balik (antasapa pralina), melalui Arjuna, Bhatara Siwa bertindak untuk mengakhiri anugerah (wekas ingkang anugraha), berupa kesaktian yang telah diberi kepada Sang  Niwatakawaca, dan menyerapnya  kembali kedalam diriNya.

Dahulu Arjuna telah memenangkan Dewi Drupadi (Sri Drupadaatmaja), yang mejadi sakti  bagi kerajaan Amarta, yaitu penjelmaan Sri Laksmi, melalui pernikahannya dengan Pandawa (panca rajya).  Kini ia juga telah memenangkan Suprabha, yaitu sakti kerajaan Indra, sebagai kekuatan yang menyatu dengan dirinya. Maka dia yang masih terhitung sebagai putra Indra (sang masih atanaya) pun menjadi layak untuk menjadi raja  kehormatan di Kahyangan Indraloka. Adapun Dewi Suprabha (sri sakti) itu adalah  kekuatan (dayaguna), yang diperebutkan oleh Arjuna (manusa sakti) dan  Niwatakawaca (daitya sakti).  Arjuna adalah ksatria yang berhak untuk mempersunting Suprabha karena ia telah berhasil menyelamatkan kerajaan indra dan memulihkan kebenaran (dharma), sebagai sumber ketertiban alam-semesta. Maka dalam rangka samadhi-yoga penobatan (abhiseka) Arjuna adalah pentahbisan suci (diksa), yang  mempersatukan dirinya dengan Hakekat Tertinggi (Paramarthasiwatwa), dan pernikahan (wiwaha) Arjuna adalah persekutuan cinta (kama), yang mempersatukan dirinya dengan ketujuh daya kehidupan semesta (sri sapta apsari sakti). Karena itulah Arjuna memperoleh kemenangan di  mana-mana (digwijaya).

Demikianlah perjuangan Arjuna, Ksatria Pandawa, yang menjadi sumber keteladanan yang sempurna. Dengan penghayatan akan pencerahan rokhani, kejernihan pikiran, dan kebahagian batin itulah Arjuna mengemban kewajiban hidupnya (dharma) sebagai seorang ksatria. Dalam keyakinannya, walaupun ia tidak menanggalkan tanggung-jawab keduniawian, pada akhirnya ia juga bertujuan untuk mencapai moksa (sanghyang kalepasan), yaitu nirwana yang suwung (nirbanacintya). Sesungguhnya melaksanakan amanat ksatria-yogi itu adalah dengan memasuki alam kesemuan hidup (maya), yang merupakan sulapan permainan (lila) belaka, sebagai keadaan yang menyelubungi kesejatian yang hakiki. Bermain di dalammya tanpa terbawa hanyut dan sekaligus mengatasi segala sesuatu dalam ke-suwung-an. Dengan teguh menjalankan yoga seorang ksatria, yaitu membina kesejahteraan dunia (mahaywang rat). Maka disebutkan pula mengenai  Arjuna dalam kakawinnya  … “Pantaslah ditiru  keberhasilannya mencapai tujuan berkat  keteguhan” (satirun-tirun krtartha sira de ni kadhiran ira) … “Segala yang dikehendaki terlaksana dengan meneladani Sang Panduputra” (sakaharepen kasrada makadarsana pandusuta).

Sang Pujangga Kawi menggubah kakawin tentang Arjuna, yang unggul dalam yoga, dan di dalamnya Arjuna sendiripun menulis kakawin, yaitu seperti dikatakan oleh bidadari Tilottama … “Itulah kesetiaan namanya bagi orang seperti engkau, mengabdi seorang kawi, yang merupakan puncak kesetiaan suami” (yeka satya ngaranya ring kadi kitaniwi kawi wekas ing pati brata). Karena memang sesungguhnya mengabdi Sang Pujangga Kawi adalah sebuah jalan tapa brata, karena dia sendiri adalah puncak tapa-brata. Adalah tokoh Ksatria Arjuna, sebagai gambaran Sri Airlangga, yang kejayaannya layak untuk dituliskan. Dalam keheningan batinnya Sang Pujangga Kawi telah menerima petunjuk suci, yang kemudian diteguhnya di dalam kakawin melalui kata-kata Indra.  Ketika Arjuna berpamitan akan kembali kedunia, Indrapun memahami betapa besarnya rasa ke-bakti-an Arjuna kepada kakak dan ibunya, akan tetapi ia telah menahan Arjuna beberapa lama oleh karena adanya sebuah keinginan yang luhur. Dalam sabdanya Bhatara Indra menetapkan … “Agar indah dilukiskan kejayaanmu oleh Sang Pujangga Kawi di kemudian hari, itulah tujuanku” (rapwan ramya winarnana nikang anagatakawi wijayanta don mami). Demikianlah Arjunawiwaha kemudian digubah untuk menceritakan kebesaran Arjuna sebagai seorang ksatria yang mahir dalam yoga. Dialah Arjuna, Ksatria  Pandawa, yang diagungkan oleh dewata dan  manusia. (1996)

(Sumber Referensi :  ARJUNAWIWAHA oleh I. Kuntara Wiryamartana Duta Wacana University Press, 1990, Wikipedia)

 

TEKS KAKAWIN ARJUNAWIWAHA

Pupuh 1

Oṃ awighnamastu

Pupuh 1 – Śardūlawikrīdhita

1.

a. ambĕk sang paramārthapaṇḍita huwus limpad sakêng śūnyatā

b. tan sangkêng wişaya parayojñananira lwir sanggrahêng lokika

c. siddhāning yaśawīrya donira sukhāning rāt kininkinira

d. santoṣâhĕlĕtan kĕlir sira sakêng sang hyang Jagatkāraṇa

2.

a. uṣṇiṣaningkw i lĕbūni pādukanira sang mangkana lwirnira

b. manggĕh manggalaning mikĕt kawijayan sang Pārtha ring kahyangan

c. sambaddha pwa bhaṭāra śakra katĕkan durnīti lāwan bhaya

d. wwantĕn detya madĕg Niwātakawacâkhyatîng jagat digjaya

3.

a. jĕngning Meru kidul kuṭanya maharĕp sumyuha ng Indrâlaya

b. mwang polih warawīrya tan pĕjaha dening dewa yakṣâsura

c. nghing yan mānuṣa śakti yatna juga ko n āngling bhaṭārêriya

d. yêkā nitya hinĕm watĕk ṛṣi kabeh ring swarga hārohara

4.

a. sang hyang śakra sumimpĕni ing naya kumon pehning rasâlapkĕna

b. an wwang śakti sahāyaning mĕjahanêkang śatru petĕn tĕka

c. sang Pārtha pwa hañar karĕngwan atapâsādhyâjayā ring raņa

d. yan polih wara hundangĕn lĕwu matêwĕhning kŗtānugraha

5.

a. wyarthêkang japa mantra yan kasalimur dening rajah mwang tamah

b. nghing yan langgĕng ikang śiwasmṛti dhatang śraddha bhaṭārêswara

c. ambĕk nirwisayâlilang huwa huwā lwirnya n sukhâdhyātmikā

d. singhit mātra juga prabhedanika lāwan prih kayogīśwaran

6.

a. yângde sangśayani hyang indra tumahā sang pārtha tan dhārakā

b. hetunyan magawe ta bañcana panonê cipta sang Phalguna

c. yan hīnā mara tan harĕp-harĕp amet metâśraya len sira

d. yapwan tan kawĕnang binañcana mara n manggĕh palinggihnira

7.

a. lakşmining suraloka sampun ayaśā ngṛñcĕm tapa mwang brata

b. akweh sang pinilih pitung siki tikang hantukning okir mulat

c. rwêkang ādi Tilottamā pamĕkas ing kôcap lawan Suprabhā

d. yêka marma tuhun lĕhĕng-lĕhĕnga sangkêng rūpa sang hyang Ratih

8.

a. tambenya liningir tĕkêngkin inamĕr dening watĕk dewata

b. sampūrņa pwa ya mapradakṣiṇa ta yâmujâmidĕr ping tiga

c. hyang Brāhmā dumadak caturmukha bhāṭārêndrâmahâkweh mata

d. erang minggĕka kociwâmbĕkira yan kālanya n unggwing wukir

9.

a. yêkā rakwa kinon hyang indra sĕdhĕng amwit kapwa yâmurṣita

b. oṃ putrī silihĕnkwa rūmta sakarĕng waswās manahny arjuna

c. strīnyêkang inucap manohara subhadrā mwang si ratnôlupuy

d. tan sora pwa tĕkapnikā daśaguṇan rūpanya dentânaku

10.

a. yan tan poliha rūm sĕkarning asanânungsung rarabning rĕrĕb

b. tan pandeya raras liring ni luruning lek lwir wulatning langit

c. mwang yan kelikana ng gaḍung wahu mure mambĕt gĕlung kesisan

d. t-antuk têbu huwus hayunta kabalik hyang Kāma yan mangkana

11.

a. ling hyang śakra nahan sinambahakĕn ing widyādhārī mūr tĕhĕr

b. wĕrnyâlon kadi mandamāruta yayan menggal ḍatang ring paran

c. akweh tâpsari ceṭika milu tuhun kapwângiring doh kabeh

d. ton têkang wukir Indrakīla maparĕk mangkin tumampak ta ya

12.

a. eñjing kāla nika-n ḍatang wijah-wijah wahwâḍarat ring hĕnu

b. osik camara ring gĕgĕr ḍara-ḍaran lwirnya-n manon apsari

c. masyang-syang pakatonan ing kayu manis sinwamnya manggĕh miguh

d. kadyânangtang ibangnikang susu lawan lambe marūm-rūmana

13.

a. tingkahning wanawṛkṣa mogha tinĕngĕt ramyanya de ning hima

b. rĕm tan waspada sāparĕk juga katon mūr ng wwang muwah yâhawuk

c. sinwam kapwa sĕkar kuningnya dinĕlö kumbang humung tan katon

d. dwīning mrak rumarab kasampir i ragasning candanâpāyunan

14.

a. ābhāning patapan gihā watu putih lwirnya-n panungsung guyu

b. tut himbang magirang-girang winulatan ramyanya de sang ḍatang

c. gĕngning prihnya kunang nimittaning unang moghârarĕm ng wwang mulat

d. angde kung makuwung-kuwung langit ika truh-truh sinĕnwan rawi

15.

a. tunghāning parangan mangungkuli jurang pātāla tulyâdalĕm

b. er tambang malabuh jurang kapalĕyĕ ngkānêng lĕngisning paras

c. rĕsrĕsnya-n hana ring tawang parĕng awūr anghrit tikang sundari

d. kaywan wruh mangungang katon wĕlas-arĕpnyâlung sumambyângawe

Terjemahan bebasnya :

Om. Semoga tiada halangan.

Pupuh 1. Sardulawikridita

1.

a. Hati milik Sang Bijak Utama sudah melampaui Kehampaan.

b. Bukan karena terdorong nafsu maksudnya, seolah-olah saja menyambut yang duniawi.

c. Berhasillah jasa dan kebajikan tujuannya. Kebahagiaan dunia diusahakannya.

d. Teguh sentosa, tersekat layar pewayangan dia dari Sang Penyebab Jagad.

2.

a. Pucuk ubun-ubun sembah patik pada duli paduka yang beginilah keadaannya.

b. Teguhlah dia menjadi panutan dalam menggubah cerita kejayaan Sang Arjuna di Kahyangan.

c. Maka pada saat itu Batara Indra mengalami kesulitan bersiasah dan menghadapi bahaya.

d. Adalah seorang raksasa yang berkuasa. Termasyhur berjaya di dunialah Niwatakawaca.

3.

a. Maka di kaki Gunung Sumeru sebelah selatanlah bentengnya, ia berniat untuk menghancurkan tempat tinggal sang Indra.

b. Ia mendapatkan anugerah kesaktian, tak akan matilahi baik oleh dewa, yaksa, ataupun asura.

c. "Namun jika ada manusia sakti, berhati-hatilah engkau!" demikian kata sang Dewa kepadanya.

d. Itulah yang terus-menerus didiskusikan oleh segenap resi di sorga dengan gempar.

4.

a. Maka Dewa Indra membulatkan kebijakan, memerintahkan agar intisarinya dilaksanakan,

b. Yaitu bahwa seorang manusia sakti, sekutu dalam membunuh musuh kelak, dicari dan disuruh datang.

c. Sang Arjuna konon baru-baru terdengar, sedang bertapa dengan cita-cita agar kelak berjaya dalam perang.

d. Jika memperoleh karunia, hendaklah ia dipanggil, namun sangat susah mendapatkan anugerah.

5.

a. Tak ada gunanya japa dan mantranya, jika tergiur oleh hawa nafsu dan tamak.

b. Hanya jika langgeng dalam memuja Siwa, turunlah anugerah-Nya.

c. Hatinya tiada nafsu indria, tenang, lepas bebas, seolah-olah bahagia baka.

d. Hanya sedikit saja bedanya dengan usaha sang raja segala yogi.

6.

a. Itulah yang membuat Dewa Indra khawatir. Ia was-was, kalau-kalau Sang Arjuna tidak tahanlah.

b. Itulah sebabnya ia membuat berbagai cobaan untuk melihat hati Sang Arjuna.

c. Kalau kosong saja, tak bersedialah Beliau meminta bantuan kepadanya.

d. Jika teguh tak bisa dicobai, maka teguhlah keadaannya.

7.

a. Keindahan sorga sudah berjasa menghancurkan tapa dan brata.

b. Banyaknya yang dipilih tujuh orang, hasil daripada mengukir. Maka melihatlah

c. Dua yang utama, Tilotama, yang menjadi bunga bibir dan Supraba.

d. Mereka sungguh membangkitkan rasa gairah, benar-benar lebih unggul daripada keelokan Ratih.

8.

a. Baru saja dipahat, lalu dibelai-belai oleh kelompok Dewata.

b. Setelah sempurna, mereka pun berjalan melawan putaran jarum jam, memberikan sembah dan berpusing tiga kali.

c. Dewa Brahma seketika memiliki empat muka, Dewa Indra memiliki mata yang jumlahnya sungguh banyak.

d. Keduanya enggan berpaling, kecewa hatinya, apabila mereka berada di belakang.

9.

a. Maka mereka diberi pesan oleh Indra, sementara mereka minta diri seraya menyembah,

b. "Om, putri, hendak kupinjam sebentar kecantikan kalian. Selidiki hati Arjuna!

c. Istrinya, yang termasyhur memikat hati, Subadra dan Ratna Ulupi.

d. Tidak kalahlah kalian oleh mereka. Kalian lebihi sepuluh kali keelokan mereka berdua itu, Anakku!

10.

a. Apabila tak memperoleh keharuman bunga asana yang menyongsong rintikan gerimis,

b. Apabila tak menimbulkan keharuan pandangan redup sinar bulan, yang bagaikan wajah langit,

c. Dan jika disingkiri bunga gadung yang baru saja mekar, serupa sanggul yang terurai,

d. Pulanglah, sayang, habis sudah kecantikanmu, telah terpukul mundur Dewa Asmara, kalau begitu!"

11.

a. Demikianlah kata Indra. Maka disembahlah ia oleh para bidadari, lalu mereka pun mundur.

b. Terbanglah mereka pelan, bagaikan angin sepoi-sepoi, namun tetap cepat sampai di tujuan.

c. Banyak bidadari dayang-dayang ikut, namun semuanya mengiringkan dari jauh saja.

d. Terlihatlah Gunung Indrakila, maka semakin mendekatlah dan menapaklah mereka.

2.

a. Kala pagi saat mereka datang, melonjak-lonjak, baru saja mendarat di jalan.

b. Meliuk-liuklah pohon cemara di lereng gunung, seolah-olah berlenggak-lenggok, melihat para bidadari.

c. Memanggil-manggil kelihatannya pohon kayu manis, daun mudanya bergoyang-goyang,

d. Seolah-olah menantang merah payudara dan bibir untuk berlomba-lomba kecantikan.

13.

a. Keadaan pepohonan hutan, tertutup keindahannya oleh kabut.

b. Redup, tidak terlihat jelas, hanya yang dekatlah kelihatan; kalau menjauh, kembali tidak jelas.

c. Berdaun mudalah semua pohon bunga kuningnya, diamati kumbang berdengung, tidak nampak.

d. Sayap burung merak berdepak, tersangkut dahan cendana meranggas, berayun-ayunan.

14.

a. Wujud pertapaannya ialah gua batu putih, seolah-olah menyongsong dengan tawa.

b. Sepanjang sisinya girang bergembira, diamati keindahannya oleh yang datang.

c. Besarnya usaha itulah alasannya menjadi sedih, segera tunduklah orang yang memandang.

d. Membangkitkan gairah asmara, berpelangi langitnya, selagi hujan rintik-rintik disinari matahari.

15.

a. Puncak batu karang melampaui berada di atas jurang dan pertala, sungguh dalam.

b. Air terjun mengalir turun di jurang, terpeleset licinnya padas.

c. Penuh ketakutan ketika ada di angkasa, bersama-sama menghambur, merintih-rintih pula kinjeng tangisnya.

d. Pohon-pohon seakan mengamati, tampak welas-asihnya menjulur, tergeletak, melambai-lambai.

 

Pupuh 2

Pupuh 2 – Jagadnātha

1.

a. ikang wukir apakṣa pājaran abhasma limut adaluwang kukap magĕng

b. pĕtungnya tumĕkul marêng lwah añawuk bañu parĕng atĕkĕs macāmana

c. kayunya paḍa kāyika-n pasaji sarwaphala tinĕmuning macangkrama

d. atangkil adawā mure titir angañjali sulurika ring hañar ḍatang

2.

a. alas katĕmu sanggrahêng tamuy an āmalaku jawuh i tanggal ing kapat

b. lirangnya linĕngis huwus makatirah ya ta dunungan i tinghal ing smara

c. athâsaji sĕkar suhun kayu sĕnö humaturakĕn awaknya sumpinga

d. wungu mwang asanângruhun-ruhunakĕn sĕkar anapihi rāganing mulat

3.

a. ngĕlihning amarāngganā-n laku hañar winuwuhan i katon ing āśrama

b. atunggalan unang rumūpaka sang Arjuna wahu tĕka dūtaning lara

c. linud linĕngĕng ing wanântara katon dinuluran i pakĕmbanging gaḍung

d. rapuh ta juga rakwa murchita hatinya pinasukan i śaktining smara

4.

a. śilā śayana yan pangantyana hanârjunataru mangisapwakĕn riya

b. tĕhĕr kinĕmulan sĕwö hana pĕnĕd ya ta kunang awĕḍak-wĕḍak lumut

c. samīpa hana poh rurū wruh ing angel lwah asaji bañu tan madoh i sor

d. ikāng amarakāminī paḍa kapengin umulat i wilāsa mangkana

5.

a. araryan akĕdö-kĕdö karika jĕngnya hana katikĕlan halis waneh

b. dudū tang anguḍoḍa ring lwah angĕlih-ngĕlih asĕmu sumâmijĕt wĕtis

c. hanârahup alon tĕkapnya mañawuk bañu dudu gawayâkukur gĕlung

d. matanya dinĕlĕngnya ring bañu pilih tumaki-taki tĕkapning anglare

6.

a. alinggih agunĕm-gunĕm paḍa yathâsukha hana tamasamparan tangan

b. mucap tĕkapaning marêng sang inamĕrnya ri hati mapa kālaning tĕkā

c. sirĕm-sirĕming arka pāyungni wuwusnya mamĕnangana tambwanging wulan

d. manganti ta ya lālanângucap-ucap kĕtĕ-kĕtĕga lawan tĕkāsiha

7.

a. anêki kajĕnĕknya kocapan ingkang wwang ahayu lawan inggita mati

b. asing minanis ing samānuṣa paḍā ta tuladana ri denya molaha

c. marapwa tan asambhawā dulurananya mata ya lĕkas ing kadewatan

d. ikang hayu riniñci warṇa lawan ambĕk apuhara dudū wiṇarṇan

8.

a. hana n hayu rakĕt ngaranya kurang ambĕk amanis agĕlon maweh lara

b. tan endah aku tan padon ya mawa rūmnya tiwas ika ya tan pabhūṣaṇa

c. kapantĕs ika warṇa campaka wulatnya duga-duga tĕkâdalĕm hati

d. umom yan aharĕp huwusnya tan akung alarang alara tan harĕp-harĕp

9.

a. ikang wwang atulis wulat-wulat ahadyan arudita katon ḍatĕng rĕngu

b. anaṇḍang anamun yayâhayu gĕlungnya makusuta yayā jugâraras

c. aganggang anipis lĕwih susu kurang tĕngah apamulu gora ta pwa ya

d. titir mangarang ing puḍak mara hayunya mĕtu saka ri tungtunging tanah

Terjemahan bebasnya bait 9 :

9.

a. Orang yang tergambar pandangannya bagaikan bangsawan, sayu terlihat datang cemberut

b. Meski pakaiannya sederhana, namun tetap cantik, sanggulnya kusut, juga terlihat indah

c. Badannya lebar ramping, payudaranya penuh, pinggangnya ramping, warna kulitnya putih kekuning-kuningan

d. Senantiasa merindukan pudak, supaya kecantikannya keluar dari pucuk alat tulis

 

Pupuh 3

Pupuh 3 – Jagaddhita

1.

a. rūpâguṇḍik awarṇa daṇḍa pamatan kadi cala tĕhĕr anghĕmū guyu

b. wruh tândohi wulat wruhângĕlih-ĕlih wruh amangiwagakĕn raras hati

c. ênak ta pwa panūtnikang hayu tĕkapnya wĕkasan ahangan tininghalan

d. moghâtĕn humiras-hiras rĕngat ikang laṭi ring ri waja baśândĕlĕng mata

 

2.

a. rūpâdyah pangawaknya mambĕt angĕlih-ngĕlih umulat alon liringnika

b. aywâbhūṣaṇa tan padon kĕtĕ-kĕtĕg juga pahayun umunggu ring mata

c. warṇa śyāma kurang-kurang guyu mahā ta gisi-gisi pinöm amatyani

d. sĕngning lāṭi juga n walang-walang arĕs ng umulat awĕdi lunghid ing waja

3.

a. warṇâkryan kadi mās tatur wahu sinangling agalak amanis tikung mata

b. ambĕknyâku lĕwih ya ta pwa malarâku tak alara panarkaning mulat

c. yêka n rājasa yan hanâmaca tulis mañaritakĕn arĕngwa ta pwa ya

d. ndan ring rātri juga n kinon tĕkap i kungnya majarumana tambwang ing wulan

4.

a. nāhan tanduk i goṣṭining surawadhū pakaśaraṇa tĕkapnya molaha

b. lingsir pwa ng rawi raśmi hetuning adandana tĕka paricarikânghyasi

c. denyângendahakĕn manis paḍa dudū sahayu-sahayu tan pamingrwani

d. lwir manggiṣṭa minging gula drawa haturnya kadi madhu huwus pinaṣṭika

5.

a. mangkat śīghra katon tikang wiwara ramya pinakapatapan sang Arjuna

b. ardhâhĕt harĕpanya tan tĕka tigang ḍĕpa dunungan ikang surāngganā

c. wetan rakwa mukhanya mangharĕpakĕn jurang angĕḍap ikang walik kaḍĕp

d. kadyâkon masukâwarah ri hana sang kinira-kira sĕḍĕng pakolihĕn

6.

a. lwir tan pawwang ikang gihâluru pamurṣitanira hana kuṇḍa nisprabha

b. tistis tan hana wuryan ing sapu magātra wahu mĕtu dukutnikang natar

c. sakwehning wiwudhāngganā sĕḍĕng awor unang iriya lawan raras hati

d. kāścaryan mangunang manon kadi lingir kanaka kadi saśāngka pūrṇama

7.

a. āpan sampun ikang anāśryasamādhi tinĕmunira sang hanêng dalĕm

b. lekan rakwa sira n pasampunan angarcana kumĕñar ikang prabhângadĕg

c. tingkahnya n masilâtĕhĕr kumisapu ng tangan apatitis agranāsikā

d. līna ng sūkṣmaśarīra māri karĕngö praṇawa huwus asāri niṣkala

8.

a. ndan ambĕknikang apsarī kawĕnangā ta sira lĕkasananya bañcana

b. hamham deni manisnya parcaya ri tan wĕnanganira kumĕl tumona ya

c. tan wruh yan kadi sornikang sasawi dening acala sukhaning samāgama

d. dening jñāna wiśeṣa yan pamatĕlung paramasukha luput linakṣanan

9.

a. wwantĕn sūkṣma lĕkasnikang sawiji rakwa mara parĕk anguswakĕn wuwus

b. rakryan śrī Drupadâtmaja pĕjah ayun makatĕmahan iki-n marêng kita

c. mantuk ring suraloka tan tĕmu kitânuturakĕn gatinta satmatan

d. akweh swarga ta sanghulun mahal awanawak mami madulur anambahê kita

10.

a. lāwan toh sang apêku pamrihakĕnanta paran iku kinaryaning tapa

b. wwang sānakta huwus pĕjah pinaribhūta kinahalan ikang Suyodhana

c. nāhan wastu nikang hujar dinuluranya rĕngih inuparĕngga ring tangis

d. luhnyâwanti marêng huwang marah-arah wunga-wungani susunya yan tiba

 

11.

a. len têkang mawĕḍak hangĕ-hangĕt areh winaju-waju magātra ring wijang

b. mwang siñjangnya mirir katon wiru-wirunya mangadĕg anusar-nusar susu

c. līlânumpingakĕn sadak gaḍing adoh tinika-tika tĕkapnikang gelung

d. tinghalnya-n guyu tan pujin kirabikang waja kadi hĕlaring madhubrata

12.

a. anwam pahyas ikang waneh sĕḍĕng anūpura kumĕñar ikang murit mirah

b. kambangnya-n panĕlat rikang hasananinggahi halis ahĕmuk tĕkêng kapĕ

c. lĕnggang māntra kurugnya ring jaja magātra kadi pĕṭĕ tĕkapnikang susu

d. olug ndan inukurnya denya matapih parĕng umirira yan sirir pisan

13.

a. tunggal sang magĕlung grĕt olĕm asĕkar taji kumĕñar ikang tutup gĕlung

b. mekĕt ken mwang abāhurakṣaṇa maṇik marakata hatidarśa ring hayu

c. intĕn rūmnya marioharânighada-hadânghudani rawa sĕnĕnya ring mukha

d. sumrik kasturi ring wijang kanaka cūrṇa sakasagarit anghulap-hulap

14.

a. wwantĕn lwir arining wulan kadi kadang ring Atanu ring aweh raras hati

b. wahw adyus makĕmul putih katiṭihan gĕlung akiris atĕb hañar mure

c. pinghening waja ping tiga-n kininangan gusi-gusi juga hīngan ing mirah

d. mrik tang sapta sumār ikang lĕnga wanginya pinakamukhawāsa ning tapih

15.

a. tan ngeh buddhinikang waneh mara ri wingkinganira tumitih-titih mahā

b. nyāsanyângĕsĕsan waśângarasakĕn susu mahangĕt arūm kinumkuman

c. dening harṣa kinolakĕnya ri gulu tanganira tĕka kosap ing tĕngah

d. kenyârang kadi warṇaning hima tarangtangĕn angawara wimba ning wulan

16.

a. anyat haliyangan pupū tĕhĕr asangga wĕhang asidĕhângdĕlĕng mata

b. kāhat-hāt karawitnikang giṇa karāsikanika tinĕmunya ring mata

c. tan wruh yang hinilan wulat ri wulati ing tarunani puṇ a ring smarālaya

d. twasnya lwir patapan timah drawa katon ri mata tĕkap ikang smarālaya

 

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 4

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 5

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 6

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 7

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 8

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 9

 

Pupuh 10

Pupuh 10 - Mṛdukomala

1.

a. oṃ sambahning anātha tinghalana de Trilokaśaraṇa

b. wāhyâdhyātmika sambahi nghulun i jöngta tan hana waneh

c. sang lwir agni sakêng tahĕn kadi miñak sakêng dadhi kita

d. sang sākṣāt mĕtu yan hana wwang amutĕr tutur pinahayu

2.

a. byāpi-byāpaka sārining paramatattwa durlabha kita

b. icchānta n hana tan hanâgamal alit lawan halahayu

c. utpatti sthiti linaning dadi kitâta kāraṇanika

d. sang sangkan-paraning sarāt sakala-niṣkalātmaka kita

Tertjemahan bebasnya :

Pupuh 10 - Merdukomala

1.

a."Om, sembah hamba yang tak memiliki raja, mohon dipandang oleh Sang Pelindung Triloka.

b. Lahir batin sembah hamba di hadapan kaki-Mu tiada lain.

c. Engkaulah sang bagaikan api dari kayu, bagaikan mentega dari susu.

d. Yang bagaikan timbul jika ada orang mengaduk kesadaran dengan tutur kebajikan.

2.

a. Engkau meresapi dan meliputi segalanya, inti sari Keituan Tertinggi, yang sulit dicapai.

b. Sesuai kehendak-Mulah ada dan tiada, kasar dan halus, serta buruk dan baik.

c. Lahir, lestari dan lenyapnya semua yang ada, Engkaulah Penyebabnya.

d. Engkaulah Sang Asal dan Tujuan Sedunia, sang inti sari alam yang tampak dan tak tampak.

 

Pupuh 11

Pupuh 11 - Toṭaka

1.

a. śaśiwimba hanêng ghaṭa mesi bañu

b. ndan asing śuci nirmala mesi wulan

c. iwa mangkana rakwa kitêng kadadin

d. ring angambĕki yoga kitêng sakala

2.

a. katĕmunta marêka si tan katĕmu

b. kahiḍĕpta marêka si tan kahiḍĕp

c. kawĕnangta marêka si tan kawĕnang

d. Paramārthaśiwâstunirāwaraṇa

Terjemahan bebasnya :

Pupuh 11 - Totaka

1.

a. Wujud bulan ada di dalam jambangan yang berisi air.

b. Maka setiap yang jernih tak bernoda berisi bulan.

c. Demikian pula keadannya, Engkau hadir dalam segala yang ada.

d. Bagi dia yang mengusahakan yoga Engkau berada di alam yang terlihat.

2.

a. Ditemukanlah oleh-Mu apa yang tak ditemukan.

b. Terpikirlah oleh-Mu apa yang tak terpikirkan.

c. Terkuasailah oleh-Mu apa yang tak terkuasai.

d. Sang Siwa Yang Utama, terjadilah tanpa tirai penyekat."

Pupuh 12 1. a. Pujaannya tidak lanjut, dijawab oleh Siwa Hakikat Tertinggi, b. Anakku, telah kelihatan segala yang diinginkan kauperoleh semua. c. Ada yang hendak kuanugerahkan. Empat kesaktian berwujud panah. d. Panah Pasupati jadilah namanya. Ini, lihatlah!" 2. a. Maka begitulah kata Sang Hyang Iswara. Keluarlah api di tangan-Nya. b. Seketika tubuhnya menjadi mengerikan, memapah panah. c. Diterimalah oleh Sang Dananjaya panah itu. Maka lenyaplah Ia d. Tubuh api itu bersenyawa dengan panah pada penghabisannya.

3. a. Setelah menerima anugerah, Sang Dananjaya menyembah dengah sangat hormat. b. Diberi ganti busur dan baju zirah, luar biasa hebatnya. c. Dia pun diajar segenap ilmu keahlian memanah. d. Setelah dia diajar penerapannya, jadi lenyaplah Batara Siwa.

4. a. Dan para dewa dan siddha pengiringnya bersama-sama seketika lenyap pula. b. Serasa bukan dari dunia ini perasaan Sang Rajaputra kelihatannya. c. Seperti berganti tubuh, bahagia, tak mungkin kembali duka. d. Pantaslah ditiru keberhasilannya mencapai tujuan berkat keteguhannya.

5. a. Ada pula orang yang tak berpiutang brata, yoga, dan tapa. b. Tak tahu malu minta keunggulan, perkenanan Yang Mahakuasa, dengan paksa. c. Dibalikkanlah keadaannya, lebih lagi derita ditemuinya. d. Disiksa oleh nafsu angkara dan kelembaman, ditindih oleh kesedihan.

6. a. Bagaikan ada karma dahulu kala diduga oleh dia yang berbuat kebaikan. b. Perilaku teguh hendak memegang inti sari agama. Pikiran lurus. c. Itulah jua yang teguh bersemayam di hati orang yang unggul. d. Itulah yang menjadi sebab tambahnya bahagia baka, bila tercapai.

7. a. Siapa juga tak menemukan kebaikan dengan menjalani segala kebaikan? b. Jelaslah kejahatan ditemui dengan menjalani segala kejahatan. c. Hasilnya penat jua mengkhawatirkan karma dahulu kala. Apa pula yang diikuti? d. Segala yang kaukehendaki terlaksana dengan meneladan Sang Panduputra.

8. a. Maka sesudah mendapatkan yang dituju oleh hatinya, b. bahagia, penuh keterharuan hatinya, seraya berniat akan pulang. c. Membayangkan sukacita mereka yang akan menyongsong, bila ia datang. d. Mencengkamlah kemanusiannya, nafsu dan cinta menyelimut.

9. a. Ketika sedang demikian keadaannya, ada apsara baru saja datang. b. Tampan, dua orang jumlahnya, diutus menyampaikan panggilan dengan sangat hormat. c. Membawa baju bulu domba beserta ceripu bertatahkan permata. d. Surat bertanda Surapati, pemberian mereka, diterimanya.

10. a. "Surat Bapamu, Anakku, semoga sampai dengan membawa anugerah yang besar b. bagimu.Tolonglah aku,yang tertimpa bahaya, tanpa pertolongan. c. Kematian Asura Niwatakawaca itulah usahaku. d. Hendaklah itu kausepakati juga dan gunakan senjata panah yang ampuh itu sebagai alat tempurmu." 11. a. Ikhtisar surat Hyang Indra menyampaikan anugrah yang sangat pantas. b. Maka lesulah dia yang dipanggil, merasa kasihan akan kakak dan adiknya. c. Sedihnya orang yang ditinggalkan sama dengan rindunya orang yang meninggalkan. d. Itulah sebabnya dia diam, susah dan sedih memancar di mata.,

12. a. Lagi berkatalah mereka yang diutus, "Tuan, hendaklah berbelas kasihan. b. Untuk sementara ambil alihlah kesaktian dan keunggulan Sang Surapati, Tuan. c. Pulihkanlah keelokan Suralaya, kerusakannya besar, sangat mengerikan. d. Seperti sudah sepantasnya engkau menjadi penolong Suralaya, yang memang pantas ditolong."

13. a. Itulah sebabnya Arjuna terdiam, pasrah, tak hendak menolak. b. Sakitnya orang yang diberitakan sebagai berkeunggulan dan berkemampuan. c. Harus mempertaruhkan bahkan hidupnya sendiri seakan-akan menanggung malu. d. Berkat kemampuan anugerah dewata jua dia berhasil memenuhi tugasnya nanti.

14. a. Saling berlomba merendahkan diri perkataan mereka yang sama-sama fasih berbicara. b. Bangkit, berdirilah Sang Rajaputra, seraya bersiap. c. Telah berbaju bulu domba dan berceripu sebagai alat penolong. d. Berjalan di angkasa. Kedua apsara itu pun mengiringinya, seraya membawa panahnya

 

Pupuh 13

Pupuh 13 – Indrawangśa

1.

a. Mamwit narendrâtmaja ring tapowana

b. mangañjali ry agraning Indraparwata

c. tan wEsmṛtî sangkanikang hayun ḍatĕng

d. swābhawa sang sajjana rakwa mangkana

2.

a. mangkat ḍatĕng tolih arūm wulatnira

b. sīnambaying camara sangka ring gĕgĕr

c. pānawwang ing mrak panangisnikung alas

d. erang tininggal masaput-saput hima

3.

a. lunghânglĕngit lampahirângawetana

b. lāwan sang Erāwana Bajra naryama

c. tan warṇanĕn deśanikang katungkulan

d. āpan lĕyĕp mukṣa sahīnganing mulat

4.

a. bhāwiṣyati meh ḍatĕngêng surālaya

b. grāhādi nakṣatra kabeh paḍâkrama

c. tejomayâpūrwa kaḍatwaning langit

d. pamuktyaning janma sudhīra subrata

5.

a. tārangganâditya śaśangkamaṇḍala

b. ālit katonanya sakêng swamānuṣa

c. āgĕngnikang mangkana deni dohnika

d. kāton sakêng madhyapadânghulap-ulap

6.

a. lintang lĕwih litnya lĕyĕp tininghalan

b. rūhurnya sangkêng śaśiwimba kāraṇa

c. sādohnikâditya sakêngni śāngkara

d. yâdohnikang bhūmi sakêng diwangkara

7.

a. tingkahnikang swarga lawan halĕpnika

b. wātangnikâlālana goṣṭy atūt hawan

c. pājar sang Erāwaṇa ring nṛpâtmaja

d. kādî pangipyan tan i rāt hiḍĕpnira

8.

a. kāton tikang Indrapada prabhāswara

b. wetan sakêng Meru marĕp mangambara

c. kūṭanya malwā gupuranya pat maṇik

d. kerangning āditya śaśangka nityaśa

9.

a. sāmar dinārātrinikang surālaya

b. dening maṇik nityaśa sarwabhāswara

c. anghing sĕkarning kumudâjar ing kulĕm

d. mwang cakrawāka n papasah lawan priya

10.

a. tan ngeh ikang kārya wiśeṣa wastunĕn

b. tan warṇanĕn lwirnya tinon sang Arjuna

c. ḍatang sirâdan makire manambaha

d. ginyâkĕn ing caraka kon umañjinga

Terjemahan bebasnya :

Pupuh 13

1.

a. Berpamitanlah Putra Sang Indra dari hutan pertapaan.

b. Ia menghaturkan sembah di puncak Gunung Indra.

c. Tidak lupa asal datangnya kebajikan.

d. Sifat orang yang budiman memang demikian.

2.

a. Tibalah saat keberangkatan, pandangan matanya nampak manis.

b. Cemara-cemara melambai-lambai di lereng-lereng gunung.

c. Jerit tangis burung merak di sela-sela hutan

d. Sedih ditinggalkan, yang berselimut kabut.

3.

a. Pergi, melenyap, jalannya ingin menuju ke timur.

b. Bersama Sang Erawana dan Bajra sebagai pemimpin.

c. Tak diceritakanlah daerah yang mereka lewati.

d. Sebab sayup-sayup samar sejauh dipandang.

4.

a. Ketika itu hampir tibalah di Suralaya.

b. Planet dan lain-lain serta bintang semuanya pada tempatnya.

c. Bersinar cemerlang, tiada taranya, istana di angkasa.

d. Tempat mengecap kenikmatan bagi orang yang teguh dan unggul pantangannya.

5.

a. Bulatan bintang, matahari, dan bulan

b. Kecil kelihatannya dari manusia sendiri.

c. Besar, namun karena jauhnya.

d. Tampak dari Mercapada berkelip-kelip.

6.

a. Bintang sangatlah kecilnya, samar-samar kelihatan.

b. Ketinggiannya alasannya dari bulatan bulan.

c. Sejauh matahari dari bulan.

d. Itulah jauhnya bumi dari matahari.

7.

a. Tata sorga beserta dengan keindahannya.

b. Rasinya merupakan cengkrama, percakapan sepanjang jalan.

c. Pengajaran Sang Erawana pada Sang Pangeran.

d. Bagaikan bermimpi, tak lagi di dunia, begitulah pikirnya.

8.

a. Nampaklah kediaman Indra yang cemerlang bercahaya.

b. Tempatnya ada di sebelah timur Gunung Sumeru, menghadap ke arah angkasa.

c. Bentengnya luas, gapuranya empat, (dari batu) manikam.

d. Menjadikan malunya matahari dan bulan senantiasa.

9.

a. Tak tampak bedanya siang dan malam di Suralaya.

b. Oleh batu manikam, yang senantiasa serba gemerlap.

c. Tetapi bunga teratai putihlah yang menandai malam hari.

d. Serta burung belibis, bila berpisah dengan kekasihnya.

10.

a. Tiada habisnya keagungan karya itu, bila akan diceritakan.

b. Tak diceritakan semuanya yang tampak oleh Sang Arjuna.

c. Datanglah ia, terpikirkan segera akan menyembah.

d. Segeralah pesannya disuruh masuk.

 

Pupuh 14 - Kāmamāla

1. a. kadi harṣaning taru latângĕlih angayam-ayam labuh kapat b. sukhaning sakendran i ḍatang nṛpasuta kadi tambay ing hudan c. nguniweh tikang surawadhū dumadak asĕmi kungnya denira d. kĕtĕr ing patĕr paḍani wṛttanira lagi rinĕngwa-rĕngwakĕn

2. a. ri sĕḍĕngnira-n tama sinanggraha ta sira tĕkapning apsarī b. amapag sakêng pangungangan makapasaji manisnikang mata c. hinuwusnya ring cṛmin ikang liring aluru binangkitan guyu d. asĕgĕh manahnya tamuyan wĕnang asiliha ring samrāgama

3. a. surakanyakā sahana ning kararan atiki tan hanângungang b. kadi tan pamātra turidanya linaca-lacaning kakânghyasi c. awingit-wingit sinuruyan dali-dalihana ringrang ing hati d. agĕlĕm ta yâñalukakĕn sahaja cala tinagwatagwakĕn

4. a. hana tâpi tan wruh i ḍatang nṛpasuta maha manghade-hade b. ndan atĕn tuminghali susunya manguwahi tapihnya tan lukar c. ana lā1ananya ginawenya madana hĕlar ing madhubrata d. anasar tĕkapnya magawe hinamĕr-amĕr alaṇḍĕsan kuku

5. a. mwang ikang pitung siki tikāna kadalurung ulahnya ring giha b. kataman wirang paḍa mapet silib acatu hanâgĕlar nita c. angikĕt sĕkar taji waneh titir anguwahi mogha tan tulus d. apa tan wurung rĕngĕ-rĕngĕn pati rĕngu-rĕngu yan hanângucap

6. a. angĕnĕs waneh mapi turū mapi lara mapupuk wulan-wulan b. anganam wilāsa ri hatinya ta kunang anung endahâraras c. ulahanya lawan ujaranya hĕlĕm i sira sang hañar ḍatang d. aturu matêki wĕkasan kadi-kadi mangipîpi rakwa ya

7. a. mangucap waneh sama-samitra haguñĕpan awarṇa gopita b. lalitâharĕp-harĕpan ahya s atĕhĕr atawĕng-tawĕng cṛmin c. asalin ginoṣṭinika yan kadurugan agawe lihat dudu d. ahirit swaranya karĕngö tinuna-tuna tinungtungan halis

8. a. adawā-n kathākěna raras-raras i hati nikang surāngganā b. sira sang Dhanañjaya ḍatang dumunung i kahanan Surādhipa c. kahaḍang gumopita-ng upāya gawayira lawan Wṛhaspati d. hana dewatā milu tuhun makěḍika ta ya dumpil-dumpilan

9. a. ararěm sang Arjuna sěḍěng praṇata winuwusan Surādhipa b. śiwam astu śāśwata wěkangku śaraṇaning anātha digjaya c. t-asilêng patāraṇa sabhāgya ta kita tika tan kagiṇḍala d. Bapa kāryakāraṇa mata nghulun i kita manungsungêng bhaya

10. a. iki hetuninghulun ahěm pralayabhaya tuwi-n mapadgata b. hana detya śakti si Niwātakawaca subhagêng jagattraya c. kṛtakṛtya tan pějaha de ning asura-ṛṣi-dewa-dānawa d. kunang antakanya laki mānuṣa juga pawěkas hyang Īśwara

11. a. karĕngö pwa wṛtta mami miñjĕm i kita tumulus pakāśraya b. angutus ta yâsura wiśeṣa pĕjahana kitêng tapowana c. ya tikā warāha tĕmahanya pinarĕnganira hyang Īśwara d. makaliśya tang maburu ngūni sĕḍangira manugrahêng kita

12. a. nda huwus katon kṛtawaranta tĕkapika pakāśrayan mami b. tumihang ta rakwa ya śumīrṇa sahana-hana ring kadewatan c. alawas harĕp rumuruha-ng surapada madalĕm galaknika d. kita têki rakṣaka hanakku pakayaśani sanghulun kabeh

13. a. na wuwus hyang Indra sumahur nṛpatanaya huwus kṛtāñjali b. apa yan tahan kari tĕkapning angutusa saling Surādhipa c. inanugrahan ngaran iki-n winadal i liḍah ing huwus wibhuh d. ring apan paniṣphala-ng acāmana rarab i lĕbūni jĕng prabhu

14. a. aparan tikāng ulaha yan makaputusanikang alapkĕna b. warahĕn patik Surapati ndya ta wĕkas ing upāyasādhana c. taña sang nṛpātmaja pagĕhni manahira kumon Surādhipa d. bhagawān Wṛhaspati marah sira ri putusikang alapkĕna

15. a. laki kumwa pĕh ri hati sang Wiwudhapati lawan watĕk ṛṣi b. alĕmĕh tĕkāna niyata-ng surapada ya wiśīrṇa kambaha c. anĕkāna kapwa kita śatru parĕpĕkana tan tahĕn hati d. warawīrya śaktining bapangku juga laki hiner pakaśrayan

16. a. mwang ikang Niwātakawacâtiśaya nipuṇa śakti nītiman b. śatajarjarīkṛta ta rakwa ya ta juga hurip mawah sukha c. ri luputnikang paramaśakti hana ta ya wĕkasnikang warah d. kahananya têki winikāna wiphala-ng alagânghawag-awag

17. a. hana tāpsarī pinalakunya malawas i Surendra tan kaweh b. kinirim waneh juga ya lāgi salahasa titir harĕp-harĕp c. rinasan katuhwan atiki-n tan ika wĕnanga marwanî Ratih d. ya tikā mangunggahana jātyanika gĕrĕmĕ tan panang

 

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 15

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 16

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 17

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 18

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 19

 

Pupuh 20

Pupuh 20 – Jaloddhatagati

1.

a. sĕḍĕng mawurahan tikang sanagara

b. hanâwarah i sang Niwātakawaca

c. ndatan kahuningan tangisnika kabeh

d. pijĕr kahĕnĕngan tikĕl halisira

2.

a. apan kahilangan maṇik hiḍĕpira

b. anargha makahĕmbanan tanganira

c. pinetnira huwus mĕsat namu-namu

d. udhāni ta sira n kĕnêng kira-kira

3.

a. pamañcana bhaṭāra Śakra niyata

b. huwus manarawang katon tĕkapira

c. kunĕng wĕtuni denirâwara-warah

d. kasangśayanira ndatan karakĕtan

4.

a. wawang madĕg ikang kamānawibhawan

b. saparwata Sumeru munggu ri hati

c. ḍatĕng sahananing mahāsurabala

d. parĕng tumama ring kulĕm tan inatag

5.

a. huwus hibĕk ikang pĕkĕn pasĕk agöng

b. tĕkêng alun-alun kabeh paḍa sĕsĕk

c. inastwakĕn ujar Mahāsurapati

d. dumona Suranātha mangkata mĕne

6.

a. wanguṇ ḍahina Daityanātha mijila

b. ikang bala sĕnaddha sampun arĕpat

c. paḍâruh-aruhan humung wija-wijah

d. mṛdangga kala śangkha ghūrṇitatara

7.

a. hana n kadi gĕlap salakṣa niyuta

b. ikang parĕng asinghanāda gumuruh

c. kumĕl rasanikang samastabhuwana

d. tĕkapni bala sang Niwātakawaca

Terjemahan bebasnya :

Pupuh 20

1.

a. Sedang hiruk pikuklah senegeri,

b. Ada yang memberi tahu kepada Sang Niwatakawaca.

c. Tak dihiraukanlah tangis mereka semua.

d. Sesekali terdiam, berkerut alisnya.

2.

a. Karena kehilangan manikam, pikirnya.

b. Tak ternilai harganya, tangannya sendiri sebagai embanannya.

c. Dicarinya, telah terbang, lenyap.

d. Tahulah dia bahwa terkena tipu.

3.

a. Jelaslah tipu Dewa Indra.

b. Telah jernih bening kelihatan olehnya.

c. Adapun keluar ucapannya memberitahukan rahasia.

d. Karena ia cemas, jangan-jangan tidak dilengketi.

4.

a. Segera bangkitlah kegarangannya.

b. Sebesar Gunung Sumeru bertengger di hatinya.

c. Datanglah segenap bala tentera asura yang kuat.

d. Serentak masuk pada malam hari tanpa diperintah.

5.

a. Sudah penuh pasar pajak besar.

b. Sampai alun-alun semuanya sesak padat.

c. Dijunjung sembah titah Sang Maha-Asurapati

d. Untuk menyerang Sang Surapati, berangkat sebentar lagi.

6.

a. Pagi-pagi buta Sang Raja Daitya kendak keluar.

b. Bala tentara siap, telah tersusun rapi.

c. Saling berpanggil-panggilan, riuh-rendah, berpentalitan.

d. Genderang, gong, terompet gegap gempita.

7.

a. Adalah seperti guntur seratus milyar.

b. Mereka yang bersama-sama berteriak perang gemuruh.

c. Sungguh ngerilah rasa alam semesta.

d. Oleh bala tentara Sang Niwatakawaca.

 

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 21

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 22

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 23

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 24

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 25

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 26

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 27

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 28

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 29

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 30

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 31

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 32

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 33

Kakawin Arjunawiwāha/Pupuh 34

 

Pupuh 35

Pupuh 35 –

1.

a. ...

b. ...

c. ...

d. ...

1.

a. ...

b. ...

c. ...

d. ...

Pupuh 36

Pupuh 36 – Wijayagati

1.

a. nā sambatnikang apsarī waluyanâta gati nṛpasuta

b. cuṇḍuk ring Wadarītapowana kakinira paḍa hana

c. sākṣat wāh sukha rakwa ramya kadi megha manuruni tasik

d. sangsiptan ri tĕlasnira-n samara digjaya ta gatinira

.

a. sampun kekĕtaning kathÂrjunawiwāha ta pangaranika

b. sākṣāt tambayira mpu Kanwa tumatâmĕtu-mĕtu kakawin

c. bhrāntâpan tĕhĕr angharĕp samarakārya mangiring i haji

d. Śrī Airlanggha namâstu sang panikĕlanya tanah anumata

Terjemahan bebasnya :

Pupuh 36

1.

a. Demikianlah keluh kesah para bidadari. Hendak diceritakan kernbali perjalanan Sang Rajaputra.

b. Tiba di hutan pertapaan Wadari, kakak dan adiknya semua ada.

c. Tampak nyata ia pun berlimpah kegembiraan, senang, seperti awan turun ke laut.

d. Singkatnya, setelah selesai dia berperang, jaya di mana-mana kelakuannya.

2.

a. Telah terangkai menjadi sebuah cerita, Arjunawiwāhalah namanya.

b. Tampak nyata pertama kalinya Mpu Kanwa menyusun, menghasilkan kakawin.

c. Kacau, sebab sedang menghadapi karya perang, mengiringkan Sang Raja.

d. Sembah ke hadirat Sri Airlangga. Dia, yang dipuja sampai patah anak batu tulis, memberi restu.

 

Keterangan :

Pupuh-pupuh Kakawin Arjunawiwaha banyak yang hilang dan rusak, semoga bisa bermanfaat.

 

 

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)