MANEMBAH

0

MANEMBAH


Manembah adalah selalu sadar diri dengan iklas, sabar syukur, bahwa kita tidak bisa apa-apa, tidak punya apa- apa, tidak kuasa apa- apa. yang bisa, yang punya dan yang kuasa hanya Tuhan (Gusti Allah SWT).

Jadi kalau mau melakukan apapun mengunakan titipan-Nya, baik dalam diri maupun di luar diri kita, termasuk dalam menjalankan :

1.     Syari’at.

2.     Tareqat.

3.     Hakikat.

4.     Makrifat.


Dalam urusan keluarga, bisnis, jabatan, perekonomian, asmara dan lain lain, harus dengan petunjuk-petunjuk Nya, sambil dzikrullah mengingat nama-Nya , menyebut nama-nama Nya, mengagungkan Nya dengan petunjuk-petunjuk Nya.

Dzikiranya harus dengan petunjuk-petunjuk Nya baik bacaan maupun dalam jumlah Dzikiranya, atau kita dapat memahami difinisi mudahnya dengan Manembah kita bisa hubungan langsung dengan hati nurani kapan saja, di mana saja, sehinga kalau ada apa- apa tidak bingung lagi tingal bertanya kepada Beliau (Gusti Allah SWT) lewat Nurani.

Untuk menjaga koneksitas tersebut adalah dengan Dzikrullah dengan Petunjuk Nya, hati kita jangan di biarkan kosong, harus terus komonikasi ,karena inti hidup adalah keakraban denya- Nya.

Untuk mengetahui ciri- ciri akrab adalah kita tidak bertanya sudah di kasih petunjuk, langsung lewat nurani hati kita seiring seirama dengan- Nya. Untuk mencampai proses Manembah awal adalah dibuka nuraninya agar bisa mendengar petunjuk-petunjukNya.

 

Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Ma'rifat

Secara umum ada tiga prinsip dalam beragama Islam yang pokok yaitu Islam, Iman dan Ihsan berdasarkan pada hadis sahih riwayat Muslim dari Umar bin Khattab yang dikenal dengan hadits Jibril dimana menurut Sayyid Bakari, trilogi itu merupakan kumpulan tahapan dan tingkatan yang saling terkait dalam mengamalkan islam, lebih-lebih oleh seorang salik. Hal itu dikaitkan dengan percakapan antara malaikat Jibril dan Rasulullah yang ringkasannya sebagai berikut :

Hai Muhammad. Beritahukan kepadaku apa itu Islam.

Rasulullah Saw berkata : Islam adalah Anda bersaksi tiada Tuhan yang disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, tegakkan shalat, bayarkan zakat, puasa di bulan Ramadhan, laksanakan haji jika Anda mampu berjalan ke sana.

Ia berkata : Anda benar. Kami heran, ia bertanya kemudian ia membenarkan. Ia berkata lagi : Beritahukan kepadaku apa itu Iman.

Rasul menjawab : Anda percaya kepada Allah, MalaikatNya, kitan-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari Akhir, dan anda beriman kepada qadar baik dan buruk. Ia menjawab : Anda benar.

Ia berkata lagi : Beritahu aku apa itu Ihsan! Rasul berkata : Anda sembah Allah seolah-olah melihatnya, dan jika Anda tidak dapat melihatnya, maka Ia pasti melihatmu. (Fath al-Bari li Ibn Hajr, (125/1).

 

Sayyid Bakari seperti ingin mengatakan, bahwa islam yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah syariat, iman adalah hakikat dan ihsan itu serupa ma'rifat, ketiga jenjang ini pada dasarnya adalah pengejewantahan dari makna takwa. Maka untuk mengamalkannya butuh tarikat dari seorang pembimbing (mursyid). Agar tidak terjadi ketimpangan, maka ketiganya harus diterapkan secara keseluruhan, yakni syariat, tarekat, dan hakikat untuk mencapai puncak makrifat (pengetahuan). Syariat tanpa hakikat adalah kosong dan hakikat tanpa syariat adalah batal serta tak berdasar.

Jika dianalogikan, maka syariat itu ibarat perahu, tarekat adalah nahkodanya, hakikat adalah pulau yang hendak dituju dari perjalanan itu, sementara ma'rifat adalah tujuan akhir, yaitu bertemu dengan Sang Pemilik Pulau. Dengan demikian, hakikat dan ma'rifat tak akan mampu dituju oleh salik, tanpa menggunakan perahu dan melalui nahkoda. Karena itu menurut Sayyid Bakri, umat Islam tidak boleh terkecoh untuk mudah meninggalkan syariat atas nama hakikat atau ma'rifat.

 

والمعنى أن الطريقة والحقيقة كلاهما متوقف على الشريعة فلا يستقيمان ولا يحصلان إلا بها فالمؤمن وإن علت درجته وارتفعت منزلته وصار من جملة الأولياء لا تسقط عنه العبادات المفروضة في القرآن والسنة

Artinya :

Maknanya, tarekat dan hakikat bergantung pada (pengamalan) syariat. Keduanya takkan tegak dan hasil tanpa syariat. Sekalipun derajat dan kedudukan seseorang sudah mencapai level yang sangat tinggi dan ia termasuk salah satu wali Allah, ibadah yang wajib sebagaimana diamanahkan dalam Al-Qur’an dan sunnah tidak gugur darinya, (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, Al-Haramain: tt, h. 12).

 

Sayyid Bakri mencontohkan shalat tahajud Rasulullah SAW sehingga kedua kakinya bengkak, karena aktivitas shalat malamnya semalam suntuk. Ketika ditanya, “Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan mendatang?” Rasulullah menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur ? Maksudnya adalah kewajiban ibadah berlaku untuk memenuhi hak kehambaan dan hak syukur atas nikmat. Para wali dengan derajat kewalian mereka tidak pernah keluar dari batas kehambaan dan pihak yang menerima nikmat Allah, (Sayyid Bakri: 12). Jadi shalatnya Rasullah ini adalah bagian ibadah yang bisa dilihat dari sisi syariat.

 

Syariat dan Hakikat

Syariat adalah wujud ketaatan salik kepada agama Allah dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Syariah adalah sisi praktis dari ibadah dan muamalah dan perkara-perkara ubudiyah. Tempatnya adalah anggota luar dari tubuh. Yang mengkaji khusus ilmu syariah disebut fuqaha (ahli fiqih).

Menurut Syekh Tajudin as-Subki, syariat adalah segala sesuatu yang ditanggungkan kepada seorang hamba. Sedangkan hakikat adalah inti dan makna dari perkara tertentu. Syariat berbasis fiqih, sementara hakikat berbasis iman. Dengan kata lain, syariat adalah pengejawantahan dari perbuatan-perbuatan fiqih, yang digali dari dalil-dalil secara terperinci (Tajudin as-Subki, kitab jam’u al-jawami’ 1/42)

Relasi keduanya tak terpisahkan. Karena syariat harus diperkuat dengan hakikat dan hakikat dibatasi oleh ketentuan hukum syariat. Sehingga, keberadaan syariat seharusnya mampu mendorong komunikasi langsung syuhud antara seorang hamba dan khalik tanpa perantara apa pun.

 

Ma'rifat dan Tarekat

Makrifat adalah anugerah Allah pada kalangan Al-Arif (orang yang mencapai makrifat) berupa ilmu, rahasia (asrar) dan lataif (kelembutan). Untuk mendapatkan anugerah arifbillah ini, seorang salik tidak dapat begitu saja, tetapi, ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan. Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda karena maqāmāt itu terkait erat dengan pengalaman spiritual itu sendiri.

Yang dimaksud maqam di sini ialah puncak pencapaian spiritual yang dapat dicapai seseorang. Ibarat tangga yang mempunyai beberapa anak tangga, harus didaki para pencari Tuhan (salik) melalui berbagai usaha. Dari anak tangga pertama hingga puncak memerlukan perjuangan dan upaya spiritual, mujahadah dan riyadhah. Anak-anak tangga (maqamat) tidak sama pada setiap orang atau setiap tarekat. (Huda Darwis, At Tasawwuf wa Rasail an-Nur Li an Nursi, hal. 220).

Pencapaian maqam tertinggi yang di idamkan bagi seorang salik adalah ma'rifat, konsep ma'rifat ini bagi Abu Yazid al-Bustami dikenal dengan istilah Ittihad, bagi al-Hallaj dikenal dengan istilah hulul, bagi Al-Jilli disebut Insan al-Kamil, bagi Al-Ghazali disebut wushul dan bagi lbnu Arabi menyebutnya dengan istilah wahdat al-wujud. 

Makrifat bisa dicapai dengan lamanya bermuamalah dengan Allah. Makrifat merupakan hasil dari sikap zuhud dan penyucian diri dan ia tidak dapat dicapai kecuali dengan dzauq (rasa) dan wijdan (kekuatan batin) (Lihat, Kamal Ja'far dalam Al-Tashawwuf, hlm. 200).

 

Sementara tarekat adalah kesungguhan hati (mujahadah al-nafs) dan meningkatkan kualitas karakter hati yang kurang menuju kesempurnaan dan naik dalam posisi kesempurnaan dengan sebab ditemani oleh para mursyid. Tarikat adalah jembatan yang menjadi perantara dari syariah menuju hakikat (As-Sayyid, Takrifat, hal. 94).

Sementara bagi Imam Nawawi pokok-pokok tarikat adalah :

 

أصول طريق التصوف خمسة: تقوى الله في السر والعلانية، واتباع السنة في الأقوال والأفعال، الإِعراض عن الخلق في الإِقبال والإِدبار، الرضى عن الله في القليل والكثير، والرجوع إِلى الله في السراء والضراء

Artinya :

Pokok tarekat tasawuf ada lima: takwa pada Allah dalam rahasia atau terang, mengikuti sunnah dalam ucapan dan perbuatan, berpaling dari makhluk dari depan dan belakang, rela pada pemberian Allah dalam sedikit atau banyak, kembali pada Allah kala senang dan susah. (Imam Nawawi, Al-Maqashid fi Al-Tauhid wal Ibadah wa Ushul Al-Tashawuf, hal. 20).

Menurutnya, ulama salaf tidak keberatan dengan keberadaan tasawuf/tarekat terorganisir dengan syarat tidak ada hal-hal yang berlawanan dengan 4 sumber syariah yaitu Quran, Sunnah, ijmak dan qiyas. Imam Nawawi dalam Al-Maqashid fi Bayan Al-Aqaid wa Ushul Al-Ahkam, hlm. 92, menjelaskan soal ini :

 

أصول الدِّين أربعة : الكتابُ والسنُّة والإجماع والقياس المعتبران . وما خالف هذه الأربعة فهو بدعةُ ومرتكبُه مُبتدع , يتَعَيَّنُ اجتنابه وزجرهُ . ومن المطلوب اعتقاد من علم وعمل ولازم أدب الشريعة , وصحب الصّالحين . وأمّا من كان مسلوباً عقلهُ أو مغلوباً عليه , كالمجاذيب , فنسلّم لهم ونفوّض إلى الله شأنهم , مع وجوب إنكار ما يقع منهم مخالفا لظاهر الأمر , حفظاً لقوانين الشَّرع

Artinya :

Pokok agama ada empat : Al-Quran, hadits, ijmak dan qiyas yang muktabar. Adapun sesuatu yang berlawanan dengan sumber yang empat ini maka bid'ah (yang sesat) dan pelakunya adalah mubtadi' (ahli bid'ah) yang harus dijauhi. Dituntut untuk meyakini ulama yang mengerti dan mengamalkan ilmunya dan komitmen pada aturan syariah dan bersama kalangan orang soleh. Adapun orang yang rusak akalnya atau gila, seperti orang yang jadzab, maka kami serahkan tingkah mereka pada Allah serta wajib mengingkari pada yang terjadi pada mereka yang berlawanan dengan zhahirnya guna menjaga aturan syariah.

 

Mursyid dalam Tarekat

Tujuan tarekat adalah untuk mengenal Allah, sedangkan mursyid bertujuan untuk membimbing atau mengarahkan orang untuk mengenalkan ilmu hakikat dan ma'rifat. Mereaka tidak saja akan menjelaskan pentingnya ilmu ini dengan pemisalan yang tinggi, tapi sekaligus sebagai teladan. Sandaran dalam bertarikat harus berguru atau belajar secara langsung kepada orang yang telah ma'rifat, sebagaimana Hadits Nabi Saw :

 

عن دود عن ابن مسعود قال رسول الله ص م : كُنْ مَعَ اللهِ وَاِنْ لَمْ تَكُنْ مَعَ اللهِ فَكُنْ مَعَ مَنْ كَانَ مَعَ اللهِ فَإِنَّهُ يُوْصِلُكَ اِلَى اللهِ

Artinya :

Sertakan dirimu kepada Allah, jika kamu belum dapat menyertakan dirimu kepada Allah, maka sertakanlah dirimu kepada orang yang telah beserta Allah, maka ia akan menyampaikan kepada kamu pengenalan kepada Allah.” (H.R. Abu Dawud).

Berdasarkan keterangan Hadits di atas bahwa kita harus menyertakan diri kepada orang yang beserta Allah, artinya kita harus belajar secara langsung kepada orang yang telah dapat serta Allah yang lazim disebut mursyid atau guru atau Syekh. Maka tidaklah berlebihan jika Abu Yazid al-Busthami berpendapat bahwa : Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka syetan gurunya, pendapat tersebut didasarkan pada Hadits Nabi Saw :

 

مَنْ لاَشَيْخٌ مُرْشِدٌ لَهُ فَمُرْشِدُهُ الشَّيْطَانُ

Artinya :

Barangsiapa yang tiada Syekh Mursyid (guru) yang memimpinnya ke jalan Allah, maka syetanlah yang menjadi gurunya.

Karena pentingnya mursyid ini, seorang ulama tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah mnengatakan :

 

إِنَّ هَذَا العِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

Artinya :

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Karena itu, perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Riwayat Muslim).

Maka wajar jika seluruh syekh tarekat tasawuf sepakat bahwa tak seorang pun boleh mengajarkan dan memberikan bimbingan tentang hakikat, kecuali telah menguasai syariat secara benar dan mendalam. Langkah ini pulalah yang ditekankan oleh sejumlah tokoh tarekat terkemuka lainnya. Seperti Syekh Abu al-Hasan as-Syadzlili, pendiri tarekat as-Syadziliyah. Barangsiapa yang kehilangan akar tak akan berhasil mencapai puncak, kata imam as-Sya’rani sebagaimana dinukil Sayid Bakari. (As-Sayid, Takrifat, hal. 95). Wallahu'lam bishawab.

 

MANEMBAH  KEJAWEN

Masyarakat Kejawen memiliki cara panembah (menyembah Gusti Allah) bermacam-macam. Bagi masyarakat Kejawen, tidak ada ketentuan ataupun cara tertentu dalam melakukan Panembah marang Gusti Allah. Dalam melakukan Panembah, ada empat tataran panembah yang ada. Hal itu bisa kita simak dari penggalan Kitab Wedhatama sebagai berikut :

Samengko ingsun tutur,

Sembah catur supaya lumuntur,

Dhihin raga cipta jiwa rasa karsa,

Ingkono lamun ketemu,

Tandha nugrahaning Manon.

Maknanya :

Sekarang aku jelaskan tentang empat macam sembah. Yaitu Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Jiwa dan Sembah Rasa. Disitu akan ketemu, tanda rahmatnya Gusti Allah.

Panembah adalah berasal dari kata Sembah yang berarti kita mempersembahkan sesuatu.

Tetapi yang terjadi sekarang ini justru kita melakukan sembahyang atau shalat memiliki arti yang berbeda.

Apa perbedaannya ?

Ketika kita melakukan sembahyang atau shalat, maka kita bukan mempersembahkan sesuatu pada Gusti Allah, tetapi kita justru meminta.

Tidak ada persembahan.

 

Sembah Raga.

Sembah raga bisa juga disebut dengan sembah sarengat (syariat) yang mengutamakan gerakan raga dengan cara yang sudah ditentukan, disertai dengan doa baik dengan suara yang dapat didengar orang lain maupun ucapan di dalam batin yang tidak terdengar.

Dalam serat Wedhatama dijelaskan :

Sembah Raga puniku

Pakartining wong amagang laku

sesucine asarana saking warih

Kang wus lumrah limang wektu

Wantu wataking wawaton

Maknanya :

Sembah raga itu, pengertiannya orang yang sedang laku, caranya mensucikan diri dengan air, yang lumrah adalah lima waktu, cara-caranya sudah ditentukan)

Sembah raga ini dimaksudkan untuk membersihkan diri dengan latihan tertentu khususnya latihan jasmani. Semua itu merupakan tahap awal yang harus dilewati oleh seorang pencari kebenaran.

 

Sembah Cipta

Panembah dengan cara ini adalah mendekatkan diri dengan menggunakan sarana ciptanya. Yang dimaksud dengan sembah cipta adalah menghentikan ciptanya supaya menjadi tenang. Caranya adalah dengan berdiam diri, dan berusaha menghentikan ciptanya. Berhentinya cipta seorang manusia itu disebut heneng yang memiliki arti meneng (diam dan tenang).

Mengapa gerakan cipta harus dihentikan? Karena daya cipta manusia merupakan aling-aling (tabir penyekat yang menghalangi manusia dengan dunia ghaib). Dengan menghentikan cipta maka akan terbukalah tabir penyekat tersebut yang memungkinkan manusia masuk ke alam ghaib untuk mendekat pada Gusti Allah.

 

Sembah Rasa

Sembah rasa biasa juga disebut sembah kalbu. Rasa manusia itu ada tiga yaitu rasa luar, rasa dalam, dan rasa sejati. Rasa luar adalah rasa yang terdapat pada kulit kita. Misalnya, rasa sakit, rasa panas yang kita rasakan pada kulit kita. Sedangkan rasa dalam, adalah rasa yang ada dalam diri kita. Misalnya, rasa marah, rasa senang dan lain-lain. Sementara rasa sejati adalah rasa yang dapat menerima dan mengerti aneka macam keghaiban.

Apa saja yang bisa terjadi dalam tataran sembah rasa tersebut? Hal itu bisa disimak dari serat :

Keleme mawa emut,

Lalamatan,

Jroning alam kanyut,

Sanyatane iku kenyataan kaki,

Sejatine yen tan emut

Sayekti tan bisa amor.

(Tenggelamnya dengan selalu ingat, sayup-sayup, berada dalam alam hanyut, kebenarannya itulah kenyataannya, Sejatinya kalau tidak ingat, maka tidak akan bisa bertemu (dengan Gusti Allah)

Panembah rasa ini bisa disebut berhasil jika berada pada tingkat heneng-hening dan dapat mempertahankan kesadaran untuk masuk ke alam ghaib Gusti Allah. Jika sudah begitu, maka juga bisa disebut sumusuping rasa jati (menyusupnya rasa sejati).

Hal itu bisa disimak dari tembang pangkur berikut ini:

Tan Samar Pamoring Suksma,

Sinuksmaya winahyua ingasepi,

sinimpen, telenging kalbu,

Pambukaning warana,

Tarlen saking liyep-layaping ngaluyup,

Pindha pesathing supena,

Sumusuping rasa jati.

(Bisa melihat pamornya suksma, yang terlihat maya dan bisa dilihat di dalam sepi, tersimpan dalam dasar kalbu, Pembukaannya lantaran rasa yang liyep yang mirip mengantuk, seperti melesatnya rasa, menyatu dengan rasa sejati)

Namun dalam tataran sembah rasa tersebut, apabila sudah muncul rasa kantuk yang amat sangat maka hendaknya si pelaku spiritual tetap “eling lan waspada”. Artinya, jika rasa ngantuk tersebut dibiarkan, maka kita akan langsung tertidur pulas dan gagallah upaya untuk mendekat pada Gusti Allah.

 

Sembah Jiwa

Bagi siapa saja yang sudah bisa melakukan sembah jiwa maka jiwa/suksma manusia tersebut dapat lepas dari raga atau jasmaninya. Peristiwa ini di kalangan masyarakat Kejawen disebut “Ngrogoh Sukmo” atau “Mati Sakjroning urip”. Dalam tataran tersebut maka kedekatan hamba dengan Gusti Allah sudah boleh dikatakan dekat. Yang ada hanya rasa nikmat yang tiada taranya. Seperti diungkapkan Syech Siti Jenar bahwa rasa nikmatnya melebihi rasa bersenggama.

 Apa si manfaat yang dapat di peroleh dengan manembah, manfaatnya banyak sekali di antaranya :

1.     Kenyamanan, ketenangan akan mudah di capai. Dalam nyaman dan tenang tersebut akan mudah mendapat jalan keluar, ide ,solusi akan suatu masalah, percerahan hidup dan lainnya.

2.     Kemudahan dalam beribadah (hubungan bervertikal dengan sang Pencipta ) dan berhorisoltal atau (Hablum Minannas).

3.     Dibuka Rejeki dari arah yang tidak disangka- sangka dan di cukupkan rejekinya. Dengan kita lebih akrab dengan-Nya otomatis dimudahkan dengan segala ciptaan dan pengatura-Nya dan manfaat yang tidak kalah menariknya adalah mendapatkan ilmu laduni (ilmu yang langsung di berikan oleh-Nya.

Sembahyang memasrahkan diri kita pada Yang Maha Esa ( bukan Shalat karena Kejawen lahir sebelum Islam, Islam mengggunakan kejawen untuk persebaran agamanya artinya dioleah oleh para wali itu untuk kepentingan syiar. Apa perbedaannya? Ketika kita melakukan sembahyang atau shalat, maka kita bukan mempersembahkan sesuatu pada Allah , tetapi kita justru meminta melulu. Tidak ada persembahan)

(Menyembang kepada Gusti (Tuhan) yang membuat Dunia seisinya)

Masyarakat Kejawen memiliki cara panembah (menyembah Gusti Akaryo Jagad) bermacam-macam. Bagi masyarakat Kejawen, tidak ada ketentuan ataupun cara tertentu dalam melakukan Panembah marang Gusti Akaryo Jagad. Dalam melakukan Panembah, ada empat macam panembah yang ada.

Hal itu bisa kita simak dari penggalan Kitab Wedhatama sebagai berikut :

Samengko ingsun tutur,

Sembah catur supaya lumuntur,

Dhihin raga cipta jiwa rasa karsa,

Ingkono lamun ketemu,

Tandha nugrahaning Manon.

(Sekarang aku jelaskan tentang empat macam sembah. Yaitu Sembah Raga, Sembah Cipta, Sembah Jiwa dan Sembah Rasa. Disitu akan ketemu, tanda rahmatnya GustiAkaryo Jagad,Gusti Ingkang Moho Kuwoso dudu Rojo nanging gusti kang maringin urip lan Mati)

Panembah adalah berasal dari kata Sembah yang berarti kita mempersembahkan sesuatu. Tetapi yang terjadi sekarang ini justru kita melakukan sembahyang.Sembahyang artinya mepersembahkan kehidupan kita jiwa raga kita dipasrahkan kepada Gusti Akaryo Jagad lan saisine(seisinya) bukan meminta minta layaknya anak kecil jadi Sembahyang memasrahkan diri kita pada Yang Maha Esa ( bukan Shalat karena Kejawen lahir sebelum Islam, Islam mengggunakan kejawen untuk persebaran agamanya artinya diolah oleh para wali itu untuk kepentingan syiar. Apa perbedaannya? Ketika kita melakukan sembahyang atau shalat, maka kita bukan mempersembahkan sesuatu pada Gsti Akaryo Jagad , tetapi kita justru meminta melulu. Tidak ada persembahan.)

 

TATA CARA MANEMBAHPUN SANGAT SEDERHANA

1.     Yakin dan percaya adanya Sang Hyang Maha Kuasa serta bersikap sopan ketika manembahNya.

2.     Pakaian tidak menjadi persoalan asal bersih dan sopan serta dapat membuat raga yaman untuk manembah. Kecuali pada saat-saat upacara kita mengikuti perintahNya.

3.     Suasana manembah dalam keadaan hening lahir maupun batin.

4.     Manembah tidak ditentukan arah, karena Sang Hyang Maha Kuasa ada dimana-mana. Muka atau wajah menyentuh tanah, ubin, rumput dan tanpa alas.

Alas mengurangi rasa bakti kita kepada Sang Hyang Maha Kuasa, sebaiknya waktu manembah disaat kita menjelang tidur karena disaat-saat itulah manusia rilek dan punya waktu yang terbaik untuk manembah, tetapi jika punya waktu lain selain menjelang tidur apabila mau dipakai manembah juga tidak ada persoalan.

 

ATURAN MANEMBAH

Kosongkan pikiran, pasrahkan segala-galanya kepada Sang Hyang Maha Kuasa, hilangkan segala prasangka baik yang baik, maupun yang buruk dan yang ada adalah rasa pasrah, tenang, terang dan tidak ada beban apapun juga.

Waktu manembah jangan diikuti dengan permohonan sesuatu kepada Sang Hyang Maha Kuasa, karena pada hakekatnya memohon sama artinya dengan memerintah Sang Hyang Maha Kuasa.

Permohonan dapat dilakukan disetiap saat diluar waktu manembah, karena itu janganlah waktu manembah dikotori dengan permohonan apapun.

 

ARAH MANEMBAH

Sang Hyang Maha Kuasa berada dimana-mana, maka kemanapun kita menghadap disitu pulalah Sang Hyang Maha Kuasa berada.

Kita tidak perlu ragu menghadap Sang Hyang Maha Kuasa dan dalam keadaan bagaimanapun juga, karena Sang Hyang Maha Kuasa dimana saja tetap melindungi kita, karena itu mendekatlah kepada Sang Hyang Maha Kuasa, kemanapun arah menghadap.

Kita dapat manembah karena Sang Hyang Maha Kuasa ada dimana-mana tanpa mengenal batas waktu dan tempat, tetapi meskipun demikian kita dapat menentukan tempat yang layak dan pantas menurut akal pikiran sehat kita untuk digunakan sebagai tempat manembah.

Banyak titah manusia memohon dengan cara yang keliru aturannya dan bahkan terbalik, bukannya memohon tetapi justru memerintah Sang Hyang Maha Kuasa.

 

TATA CARA MANEMBAH

Dibaca dalam hati/batin dan menghadap kemana saja tidak ada masalah :

Sukma, Jiwa, Raga, Dunia (Saudara empat) dan Tanah, Air, Api, Angin, Matahari (Lima Pancer), menyatulah dalam kehidupan saya, marilah kita bersama-sama menghadap kepada Sang Hyang Maha Kuasa.

Sang Hyang Maha Kuasa, Sukma, Jiwa Raga, Dunia, saya haturkan kembali.

(dibaca sekali saja saat manembah dan dapat juga dibaca sekali lagi sebagai tambahan sebelum tidur, cukup didalam hati saja).

 

SIKAP MANEMBAH

Sikap manembah, duduk bersila kedua tangan ditaruh didepan hidung (sebagaimana orang sikap orang menyembah), dalam sikap manembah tersebut kemudian baca ,

Sukma, Jiwa, Raga, Dunia (Saudara empat) dan Tanah, Air, Api, Angin, Matahari (Lima Saudara Pancer), menyatulah dalam kehidupan saya, marilah kita bersama-sama menghadap kepada Sang Hyang Maha Kuasa.

Sang Hyang Maha Kuasa, Sukma, Jiwa, Raga, Dunia, saya haturkan kembali.

(Dibaca sekali didalam hati,bacaan ini juga dapat dibaca sekali lagi sebagai tambahan sebelum tidur, cukup didalam hati dan sekali saja).

 

SIKAP BENAFAS

Semula bernafas sebagaimana layaknya orang bernafas

Setelah tenang, baru tarik nafas kemudian ditahan sekuat mungkin tetapi tidak memaksakan diri

Sikap menahan nafas diulang kembali untuk beberapa kali, dan tetap tidak boleh memaksakan diri

Setelah tenang dan longgar lepaskan nafas kemudian ditahan sekuat mungkin tetapi tidak boleh memaksakan diri, sikap ini diulang-ulang minimal 5 kali dan boleh lebih asalkan tidak memaksakan diri

Setelah itu kembali bernafas sebagaimana sikapnya orang bernafas pada umumnya dengan sikap tetap hening.

 

WAKTU ATAU SAAT MANEMBAH

Waktu atau saat manembah, dapat dilakukan sewaktu-waktu, tetapi meskipun waktunya tidak ditentukan, sebaiknya waktu atau saat manembah yaitu menjelang tidur, karena disaat itulah waktu terbaik bagi manusia untuk berserah dan manembah pada Sang Hyang Maha Kuasa, meskipun demikian anda dapat memilih waktu sendiri yang anda anggap paling baik dan paling tenang.

 

LAMANYA WAKTU MANEMBAH

Manembah bukan pamer adu kekuatan atau pamer kebaikan, karena itu secukupnya sajalah, janganlah manembah seperti orang mabuk, karena “Sang Hyang Maha Kuasa tidak gila hormat”.

 

PERLU SAYA ULANGI

Jangan memohon apapun waktu manembah, memohonlah apa saja setelah menembah,tapi ingat kita hanya memohon bukan memerintah Sang Hyang Maha Kuasa.

 

MENGAPA HANYA DALAM HATI SAJA

Yang pasti, badan atau raga kita termasuk bibir tidak ikut menghadap Sang Hyang Maha Kuasa. Sukma kita telah terisi oleh rekaman-rekaman yang kita baca dalam hati tersebut sewaktu manembah.

Tanda-tanda kedekatan kita dengan Sang Hyang Maha Kuasa

Apabila kita rajin manembah dan olah pernafasan, maka Indra ke 6 kita akan dapat merasakan atau menangkap Dhawuh/Wahyu dari Sang Hyang Maha Kuasa.

 

Indra ke 6 kita akan dapat merasakan atau akan memperoleh wisik sebelum sesuatu kejadian yang pada umumnya disebut waskito atau weruh sadurunge winarah, artinya mengetahui sebelum kejadian.

Perlu diperhatikan untuk manembah dan olah pernafasan sebaiknya jangan berlebih-lebihan atau ingin segera memperoleh kelebihan indra ke 6.

Berlakulah wajar-wajar saja artinya tidak memaksakan diri dan jangan memakan waktu yang terlalu lama waktu manembah karena sikap yang berlebih-lebihan akan mendatangkan kerugian dirinya sendiri.

Bersabarlah dalam manembah dan olah pernafasan karena, Sang Hyang Maha Kuasa akan tahu kapan waktu yang tepat dan baik untuk menganugrahi ketajaman indra ke 6 anda, dan yang terpenting jangan memaksakan diri agar tidak mendatangkan kerugian diri anda sendiri, dan jangan mengharap memperoleh ketajaman indra ke 6 anda. Karena maksud manembah dan olah pernafasan adalah berserah diri pada Sang Hyang Maha Kuasa, bukan untuk memperoleh kelebihan indra ke 6.

Ketajaman indra ke 6 dengan sendirinya akan dianugrahkan pada titah yang berserah diri dan tidak mengharapkan apapun kecuali berserah diri sewaktu manembah.

Ingat tujuan manembah adalah untuk berserah diri, bukan untuk memperolah ketajaman indra ke 6 / mengharapkan menjadi waskito (Tahu sebelum kejadian).

 

Kulup Kinasihingsun

Ing Aran Manembah Kuwi Kudu Meruhi Kang Sinembah,

Tanpo Guno Lamun Siro Manembah Ning Tan Meruhi Kang Siro Sembah.

Kang Mengkono Kuwi Kang Aran Nyembah Angen Angen.

(Anaku Yang Kusayangi,

Yang Menyembah Itu Harus

Harus Mengetahui Yang

Disembah,

Tiada Berguna Sama Sekali,

Jika Engkau Menyembah Tapi

Tidak Tahu Yang Engkau

Sembah.

Yang Seperti Itu Yang Disebut

Nyembah Angen Angen.)

 

Ngertenono Sejatining Gusti Dzat Maula Kuwi Adoh Tanpo Jarak, Cedak Tanpo Sesenggolan.

Mung Gusti Kang Ngliputi Sakabehing Kahanan, Alam

Kabeh.

(Pahami Dengan Sebenar

Benarnya, Sesungguhnya

Gusti AllohbTa'ala/ Gusti

Pengeran Dzat Maula/

Sanghyang Widhi/ Disebut

Dengan Sebutan Apapun, Itu

Jauh Namun Tidak Berjarak,

Dekat Namun Tidak

Bersentuhan.

Hanya Dia Yang Meliputi

Segala Sesuatu, Seluruh

Semesta Alam).

 

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Berhubungan dengan Tuhan

1.     Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan.

(Tuhan itu dekat meski tubuh kita tidak dapat menyentuhnya, jauh tiada batasan).

2.     Mohon, mangesthi, mangastuti, marem.

 (Selalu meminta petunjuk Tuhan untuk meyelaraskan antara ucapan dan perbuatan agar dapat berguna bagi sesama).

3.     Ala lan becik iku gegandhengan, Kabeh kuwi saka kersaning Pangeran.

(Kebaikan dan kejahatan ada bersama-sama, itu semua adalah kehendak Tuhan).

4.     Golek sampurnaning urip lahir batin lan golek kusumpurnaning pati.

(Kita bertanggung jawab untuk mencari kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat).

5.     Urip kang utama, mateni kang sempurna.

(Selama hidup kita melakukan perbuatan baik maka kita akan menemukan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya).

6.     Tresna kanggo manungsa mung amerga katresnane marang Gusti Allah sing Nyipta'aken manungsa,

(Cinta kepada seorang manusia hanya dikarenakan kecintaan kepada Allah Tuhan Semesta Alam yang telah menciptakan manusia).

7.     Gusti Allah paring pitedah bisa lewat bungah, bisa lewat susah. (Allah memberikan petunjuk bisa melalui bahagia, bisa melalui derita)

8.     Gusti paring dalan kanggo uwong sing gelam ndalan.

(Tuhan memberi jalan untuk manusia yang mau mengikuti jalan kebenaran).

9.     Natas, nitis, netes.

 (Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, dan bersatu dengan Tuhan kita kembali).

10.  Kawula mung saderma, mobah-mosik kersaning hyang sukmo.

(Lakukan yang kita bisa, setelahnya serahkan kepada Tuhan).

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Kehidupan

1.     Sak apik-apike wong yen awehi pitulung kanthi cara dedemitan.

 (Sebaik-baiknya orang adalah yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi).

2.     Sabar iku ingaran mustikaning laku.

 (Bertingkah laku dengan mengedepankan kesabaran itu ibaratkan sebuah hal yang sangat indah dalam sebuah kehidupan).

3.     Yen urip mung isine isih nuruti napsu, sing jenenge mulya mesti soyo angel ketemu.

 (Jika hidup masih dipenuhi dengan nafsu untuk bersenang-senang, yang namanya kemulyaan hidup akan semakin sulit ditemukan).

4.     Ngapusi kui hakmu. Kewajibanku mung etok-etok ora ngerti yen mbok apusi.

(Berbohong itu hakmu. Kewajibanku hanya pura-pura tidak tahu kalau kamu berbohong).

5.     Witing tresno jalaran soko kulino. Witing mulyo jalaran wani rekoso.

(Bahwa cinta itu tumbuh lantaran ada kebiasaan, kemakmuran itu timbul karena berani bersusah dahulu).

6.     Manungsa mung ngunduh wohing pakarti.

(Kehidupan manusia baik dan buruk adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri).

7.     Urip iku terus mlaku, bebarengan karo wektu, sing bisa gawa lakumu, supaya apik nasibmu.

(Hidup itu terus berjalan, bersamaan dengan waktu, yang bisa membawa tingkah lakumu, biar nasibmu baik).

8.     Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter. Nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa.

 (Jangan jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar, tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa).

9.     Aja mbedakake marang sak sapadha-pada.

(Hargai perbedaan, jangan membeda-bedakan sesama manusia).

10.                        Ambeg utomo, andhap asor.

(Selalu menjadi yang utama tetapi selalu rendah hati).

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Arti Kehidupan

1.     Memayu hayuning bawana.

(Menghiasi alam semesta).

2.     Gusti Allah mboten sare.

(Tuhan tidak pernah tidur).

3.     Nek Wes Onok Sukurono, Nek Durung Teko Entenono, Nek Wes Lungo Lalekno, Nek Ilang Iklasno.

(Kalau sudah punya itu disyukuri, kalau belum datang ya dinanti, kalau sudah ditinggal pergi lupakan, kalau hilang ikhlas kan).

4.     Kudu semangat masio gak ono sing nyemangati.

(Harus Semangat Walau Tidak Ada yang Kasih Semangat).

5.     Meneng widara uleran.

(Terlihat baik namun sebenarnya buruk).

6.     Nek wes niat kerjo iku, ojo golek perkoro, nek wes diniati golek rejeki iku ora usah golek rai.

(Kalau sudah mendapatkan pekerjaan itu jangan cari perkara, kalau sudah diniati cari rezeki itu tidak usah cari muka).

7.     Urip iku koyo kopi, yen ndak iso nikmati rasane panggah pait.

(Hidup itu bagaikan secangkir kopi, Jika kalian tidak bisa menikmatinya yang dirasakan hanyalah pahit).

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Cinta

1.     Gusti yen arek iku jodohku tulung cedakaken, yen mboten jodohku tulung jodohaken.

(Tuhan jika orang itu adalah jodohku tolong dekatkanlah, dan jika bukan tolong jodohkanlah).

2.     Uwong duwe pacar iku kudu sabar ambek pasangane. Opo meneh sing gak duwe.

(Orang yang punya pacar itu harus bersabar dengan pasangan yang dimilikinya. Apalagi yang tidak punya).

3.     Arek lanang iku kuoso milih, arek wadon kuoso nolak.

(Anak laki-laku bebas memilih, anak perempuan bebas menolak).

4.     Move on kuwi dudu berusaha nglalekke ya, tapi ngikhlaske lan berusaha ngentukke sing luwih apik luwih seko sing mbiyen-mbiyen.

(Move on itu bukan berusaha melupakan ya, tetapi mengikhlaskan dan berusaha mendapatkan yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya).

5.     Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui.

(Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama).

6.     Akeh manungsa ngrasakaken tresna, tapi lalai lan ora kenal opo kui hakekate atresna.

(Banyak manusia merasakan cinta, namun mereka lupa tidak mengenal hakikat cinta sebenarnya).

7.     Iso nembang gak iso nyuling, iso nyawang gak iso nyanding.

(Bisa bernyanyi tidak bisa bermain seruling, bisa melihat tidak bisa mendampingi).

8.     Ben akhire ora kecewa, dewe kudu ngerti kapan wektune berharap lan kapan wektune kudu mandeg.

(Agar akhirnya tidak kecewa, kita harus mengerti kapan waktunya berharap dan kapan waktunya harus berhenti).

9.     Jarene wes ikhlas de'e karo sing liyo, kok iseh ngomong 'Nek Tuhan ra bakal mbales, karma sing mbales.' Mbok wes meneng wae luwih apik.

(Katanya sudah ikhlas dia dengan yang lain, kok masih bilang 'Kalau Tuhan enggak akan membalas, karma yang balas.' Sudah diam saja lebih baik).

10.                        Nek jenenge sayang kuwi kudune ra nuntut pasangane dinggo 'dadi wong liyo' mung mergo kekurangane." (Kalau namanya sayang itu harusnya enggak menuntut pasangannya dipakai 'milik orang lain' hanya karena kekuranngannya).

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Tentang Sahabat

1.     Dudu sanak, dudu kadang, yen mati melu kalangan.

(Bukan keluarga, bukan saudara, jika meninggal ikut kehilangan).

2.     Guyon ora popo, sing penting ojo jotos-jotosan, yo!

 (Bercanda tidak apa-apa, yang penting jangan hantam-hantaman, ya!).

3.     Teman Jadi Cinta. Sampek kegowo turu, ngimpi ngusap pipimu. Tansah nyoto keroso konco dadi tresno.

(Teman jadi cinta sampai terbawa tidur, mimpi mengusap pipimu. Seperti kenyataan terasa seperti teman jadi cinta).

4.     Kadang lathi iso gawe loroning ati.

(Kadang lidah bisa membuat sakit hati).

5.     Gak usah macak sok polos ndek ngarepku. Lek kenyataane sikapmu koyok asu.

(Tidak perlu pura-pura polos di depanku. Kalau kenyataannya sikapmu seperti anjing).

6.     Nek ngomong ojo dhuwur-dhuwur. Ngko lambemu kesampluk pesawat.

(Kalau berbicara jangan tinggi-tinggi, nanti mulutmu tersambar pesawat).

7.     Ngaku konco kok gur pengen nunut mulyo. Pas konco ciloko malah lungo.

(Mengaku teman tapi hanya ingin numpang tenar. Ketika teman ada masalah malah pergi).

8.     Ra sah ngaku konco kenthel nek pas awor aku atimu isih grundel.

(Tidak perlu mengaku teman kalau ketika bertemu hatimu masih mengganjal).

9.     Ampun mbedakakekn marang lintune.

(Jangan membeda-bedakan sesama, hargai perbedaan).

10.                        Ojo dadi kacang kang lali karo kulite.

(Janganlah jadi orang yang melupakan pengorbanan dan bantuan orang lain).

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Lucu

1.     Uripmu koyo wit gedhang duwe jantung tapi ora duwe ati.

(Hidupmu seperti pohon pisang, punya jantung tetapi tak punya hati).

2.     Nek ngomong ojo manis-manis, mundak cangkeme dirubung semut.

(Kalau bicara jangan manis-manis, nanti mulutnya diserbu semut).

3.     Sing wis lunga lalekno, sing durung teko entenono, sing wis ono syukurono.

(Yang sudah pergi lupakanlah, yang belum datang tunggulah dan yang sudah ada syukurilah).

4.     Niat kerjo, ora golek perkoro. Niat golek rejeki, ora golek rai. Ora balapan, opo maneh ugal-ugalan.

(Niat bekerja, bukan cari perkara. Niat mencari rejeki, bukan cari perhatian belaka. Bukan balapan, apalagi ugal-ugalan).

5.     Kacang iku gurih, tapi nek dikacangin iku perih.

(Kacang itu gurih, tapi kalau dikacangin itu perih).

6.     Waktu adalah uang. Yen kancamu mbok jak dolan raono wektu, brarti wonge lagi ra duwe duit.

(Waktu adalah uang. Kalau temanmu tidak ada waktu untuk diajak jalan, artinya dia sedang tidak punya uang).

7.     Kadang mripat iso salah ndelok, kuping iso salah krungu, lambe iso salah ngomong, tapi ati ora bakal iso diapusi.

(Terkadang mata bisa salah melihat, telinga bisa salah mendengar, mulut bisa salah mengucap, tetapi hati tak bisa dibohongi dan membohongi).

8.     Nek dipikir suwi suwi iku loro, nek dirasake yo tambah loro, loro tambah loro, papat.

(Kalau dipikir lama-lama sakit, kalau dirasakan tambah sakit, dua tambah dua, empat).

9.     Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit.

(Dosa yang paling menyedihkan adalah pada sambat tidak punya duit)

 

Kata Bijak Bahasa Jawa Bikin Tertawa

1.     O, kowe ngiri karo aku? Yowes nek ngono aku ngalah. Aku tak nganan.

(Oh, kamu iri sama aku? Kalau begitu aku mengalah saja. Aku tak ke kanan).

2.     Nek pacarmu ora gelem masang fotomu, mungkin wonge isin karo raimu.

(Kalau pacarmu tidak mau pasang fotomu, mungkin dia malu terhadap wajahmu).

3.     Truk wae duwe gandengan, mosok kowe ora duwe gandengan?

(Truk saja punya pasangan, masak kamu enggak punya pasangan?).

4.     Mending alon-alon tapi seng penting move on.

(Mending pelan-pelan tetapi yang penting bisa move on).

5.     Mergo seng gaene ngekeki cokelat bakal kalah karo seng ngekeki seperangkat alat sholat.

(Karena yang memberi cokelat akan kalah dengan orang yang memberikan seperangkat alat salat).

6.     Yen tak sawang sorote mripatmu, ketoke kowe arep nembung utang karo aku.

(Kalau aku lihat sorot matamu, sepertinya kamu akan berhutang padaku).

 

MOVE ON

Move on adalah serapan dari bahasa inggris yang bengartikan pindah, tapi banyak orang yang mengasumsikan kata move ini dengan arti yang berbeda, seperti pindah kelain hati,pindah ke lingkungan lain, melupakan kenangan yang buruk dari masa lalunya. Tergantung siapa yang menggunakan kata ini.Move on ini bersifat general, tidak selalu tentang masalah percintaan tergantung orang mengartikannya.

Biasanya yang mengartikan move on ini kedalam masalah percintaan adalah kalangan remaja, remaja SMP sampai kuliah. Karena dalam usia ini remaja terbilang masih ababil kalau bahasa jaman sekarang. Sudah banyak cerminan yang ada, ya contohnya sudah putus dengan pacarnya tapi masih belum bisa melupakannya. Ini memang kejadian yang sering terjadi pada usia ini. Biasanya temannya menyarankan utuk move on atau pindah kelain hati atau membuka diri untuk menerima cinta dari pasangan yang lain.

Disamping itu, banyak sekali kasus yang lain, seperti anak SMA yang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru di universitas. Nah arti dari move on ini bisa dengan adaptasi.

Move on ini bisa di artikan dengan banyak kata. Tapi yang paling penting adalah bagaimana cara move on.

Berikut ini adalah cara bagaimana kita bisa move on :

1.     Yang paling utama adalah ikhlas atau menerima kenyataan.

2.     Membuka diri dengan situasi atau status yang baru.

3.     Terakhir enjoy your life, karena hidup itu hanya sekali. Manfaatkanlah waktu sebaik mungkin.

Ada banyak cara bisa digunakan selain cara diatas ini. Tapi yang pasti untuk bisa move on itu harus berasal dari diri sendiri. Karena kita adalah pemain utama dari kehidupan.Biasanya yang menyuruh untuk move on adalah orang terdekat.Percuma mereka menggembor-gemborkan atau menyuruh kita untuk move on tapi dari dalam diri sendiri tidak ada niat dan tekad yang kuat untuk melakukannya.

Tapi berbeda dengan kasus yang satu ini. bila anda tidak bisa melupakan kenangan buruk dalam hidupnya. Itu hal yang sangat sulit. Karena orang tersebut akan dihantui terus menerus, mungkin selama hidupnya.

Cara yang paling ampuh adalah meyakinkan diri sendiri untuk selalu berfikir positif dan mendoktrin pada pikiran kita, bahwa kejadian tersebut tidak akan terjadi lagi.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)