TIWIKRAMA

0

TIWIKRAMA


Pada dasarnya makna filosofi dari Tiwikrama adalah kemampuan untuk mengerahkan segala pikiran, perasaan, upaya dan tenaga dalam merubah anda menjadi sosok baru diluar kekuatan apapun yang selama ini anda pikirkan.

Tiwikrama :

1.      Pengubahan diri menjadi raksasa dsb. (dalam cerita wayang).

2.      Pengerahan segenap tenaga dan pikiran untuk menyampaikan maksudnya.

Manusia mempunyai segala kelebihan dibanding mahluk lain untuk mewujudkan sifat sifat Tuhan, baik yang terlembut maupun yang tak terkalahkan sekalipun. Hanya fikiran lah yang acapkali menahan dan membatasi kita untuk melakukan banyak hal besar.

Tiwikrama adalah saat seorang telah habis kesabaran dan kebijaksanaannya. Lalu murka, kemudian menjelma wujud jadi luar biasa kuat. Pepatah lama bahwa sabar itu juga ada batasnya.

Tiwikrama adalah suatu ajian atau kemampuan untuk merubah diri menjadi Raksasa yang tak terkalahkan.

Dalam lakon Kresna Duta, Sri Kresna sebagai utusan pihak Pandawa tak mampu menahan amarahnya tatkala mendengar jawaban dan melihat kelakuan Duryudana dalam menempik janji mereka untuk menyerahkan kembali kerajaan astina pada Pandawa meskipun telah diperingatkan tetua Astina seperti Resi Bisma dan lainnya.

Sri Kresna sebagai manifestasi Betara Wishnu sontak bergegas keluar dan berubah menjadi raksasa yang siap menghancurkan segala angkara murka berikut bumi, kahyangan dan seisinya. Tak ada seorangpun yang mampu menghentikannya, sehingga kahyangan pun menurunkan Betara Dharma untuk menenangkannya.

Tak hanya Sri Kresna yang memiliki kemampuan ini, Puntadewa atau Yudistira pun mampu merubah perangai aslinya yang lembut menjadi sosok yang mengerikan. Beberapa tokoh lainnya pun memiliki kemampuan serupa, begitu juga Anda jika anda mau melakukannya.

 

Cerita Triwikrama

VERSI 1.

Triwikrama adalah kemampuan titisan Wisnu dan beberapa makhluk lainnya untuk berubah ujud menjadi raksasa yang amat besar, bertangan seribu yang disebut Tiwikrama.

Dalam pewayangan, tokoh titisan Wisnu yang tergolong sering melakukan Tiwikrama adalah Arjuna Sasrabahu dan Kresna.

Selain titisan Wisnu, Dasamuka juga bisa bertiwikrama. Dalam keadaan biasa, Dasamuka hanya berkepala satu. Namun, ketika bertiwikrama ia berkepala sepuluh dan tubuhnya menjadi jauh lebih besar.

Dalam pewayangan diceritakan, saat Kresna bertindak sebagai duta Pandawa, ia melakukan triwikrama karena Kurawa tidak mau memenuhi janjinya dan hendak mengeroyok Kresna. Karena tiwikrama Prabu Kresna, balairung istana Astina tidak mampu memuat tubuhnya sehingga jebol. Dinding-dindingnya roboh dan atapnya runtuh. Para Kurawa dan dan penghuni istana Astina lari kalang kabut untuk menyelamatkan diri.

Dalam lakon carangan berjudul Dewa Amral. Prabu Yudhistira juga melakukan triwikrama. Begitu juga Anoman, beberapa buku pewayangan menyebutkan putra Dewi Anjani itu juga sanggup melakukan tiwikrama. Misalnya ketika ia menjadi duta, waktu ia menyeberangi lautan, Anoman diterkam Wilkataksani dan ditelannya. Saat Anoman berada di dalam tenggorokan raksasa itu, ia melakukan tiwikrama sehingga leher raksasa itu bedah dan Wikataksani mati seketika.

Dalam seni kriya, khusus untuk Kresna, Arjuna dan Puntadewa, peraga wayang yang menggambarkan keadaan tiwikrama disebut Tiwikrama.

Pada pewayangan gagrak Jawatimuran, Antareja yang sedang tiwikrama dilukisakan berwajah ular naga dan badannya bersisik. Arjunasasrabahu dan Dasamuka, jika sedang tiwikrama digambarkan bertangan banyak. Tangan-tangan kecil ditambahkan pada bahu dan lengannya.

 

VERSI 2.

Tiwikrama adalah sebutan bagi raksasa besar dan menakutkan, jelmaan titisan dewa Wisnu yang sedang triwikrama (beralih rupa) dalam beberapa mitologi Indonesia.

Dalam pendalangan, Tiwikrama diceritakan sebagai raksasa sebesar gunung dengan seribu kepala dan seribu tangan, masing-masing memegang berbagai macam senjata.

Digambarkan pula, kedua matanya melotot menyeramkan. Tiwikrama, di dalam bahasa Jawa merupakan kerata basa dari kata bubrah dan ala yang artinya rusak dan jelek.

Di antara titisan Wisnu, Prabu Kresna dan Arjuna Sasrabahulah yang sering melakukan triwikrama.

Sebagian dalang Wayang Kulit Purwa, menyebut Tiwikrama dengan sebutan Balasrewu, terutama jika yang melakukan triwikrama adalah Prabu Kresna. Sedangkan Puntadewa atau Yudhistira, bila sedang menjadi Tiwikrama disebut Dewa Amral.

Pada deretan wayang (janturan), Tiwikrama dipasang paling belakang, di sebelah kiri dan kanan tokoh wayang lainnya.

Tokoh wayang ini merupakan bentuk jelmaan dari tokoh-tokoh yang dianggap suci dan dikeluarkan saat sang tokoh sedang triwikrama karena amarah yang memuncak.

Banyak kreasi para seniman wayang kulit untuk melukiskan ujud Tiwikrama ini.

Semuanya menampilkan ujud yang besar dan menakutkan.

 

Proses untuk menjadi Tiwikrama

Proses untuk menjadi Tiwikrama disebabkan oleh dua hal yang pertama adalah karena kemarahan besar yang disebut dengan triwikrama.

Tiwikrama yang kemudian mengantar Harjuna Sasrabahu menjadi Tiwikrama terjadi dua kali, yang pertama ketika Prabu Harjuna Sasrabahu marah karena ditantang Sumantri Patihnya.

Kedua, saat Harjuna Sasrabahu berhadapan dengan Dasamuka raja Alengka.

Demikian pula Kresna, ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Harjuna Sasrabahu.

Dua kali Kresna triwikrama berubah menjadi Tiwikrama.

Pertama, ketika mencuri Dewi Rukmini dan yang ke dua ketika sebagai duta di Negara Hastinapura.

Ketika menjadi duta untuk menagih bumi Hastinapura yang menjadi haknya para Pandawa, Kresna sangat marah karena dipermainkan dan di ingkari oleh Duryudana, ia kemudian melakukukan triwikrama dan menjadi Tiwikrama, mengamuk dan merobohkan beteng kedaton kraton Hastinapura, hingga menewaskan Destarastra dan Gendari.

Selain triwikrama, proses untuk menjadi Tiwikrama dapat terjadi karena niat untuk mengeluarkan kesaktiannya dengan mengetrapkan mantra sakti dibarengi tiga kali melangkahkan kaki yang disebut dengan triwikrama. Tri artinya tiga sedangkan krama artinya patrap atau keadaan tubuh.

 

Prabu Kresna menjadi Tiwikrama

Prabu Kresna melakukannya ketika ia hendak melakukan persenggamaan dengan Dewi Rukmini. Di kisah lain, diceritakan ia melakukannya ketika ia menjadi duta para Pandawa, merundingkan penyerahan kembali Kerajaan Amarta dan Separuh Astina dari para Kurawa. Dalam lakon Kresna Gugah, ketika Kresna melakukan tapa tidur Ngraga Suksma, ia dalam keadaan triwikrama berubah menjadi Tiwikrama. Namun, ketika Kresna dalam keadaan marah besar dan membunuh Sisupala dalam lakon Sesaji Rajasuya, dia tidak melakukan triwikrama dan mampu menjadi Tiwikrama. Hal ini menyimpulkan bahwa untuk menjadi Tiwikrama, Kresna tidak perlu marah, dan kalau marah tidak selalu menjadi Tiwikrama.

 

Prabu Arjuna Sasrabahu menjadi Tiwikrama

Prabu Arjuna Sasrabahu menjadi berhala ketika ketika dia berhadapan dengan Bambang Sumantri ketika dalam keadaan marah, begitu pula ketika ia berperang melawan Prabu Dasamuka.

Namun, ketika ia menjadi Tiwikrama sewaktu membendung sungai Yamuna, ia tidak sedang dalam keadaan marah. Prabu Arjuna Sasrabahu juga melakukan triwikrama ketika ia membendung sungai Gangga agar permaisurinya dapat mandi dan berenang puas di sungai itu. Di kisah lain, disebutkan bahwa ia juga melakukan triwikrama ketika menghadapi Prabu Dasamuka dari Alenka. Sebelumnya, ia juga melakukan triwikrama menjadi Tiwikrama ketika Patih Suwanda menantangnya.

 

Dewa Amral

Kisah ini menceritakan tentang Prabu Puntadewa yang berubah wujud menjadi raksasa untuk menyelamatkan adik-adiknya di Kawah Candradimuka.

 

PRABU BALADEWA BERMIMPI BURUK TENTANG PRABU PUNTADEWA

Di Kerajaan Dwarawati, Prabu Kresna Wasudewa memimpin pertemuan yang dihadiri Raden Samba Wisnubrata dari Paranggaruda, Arya Setyaki dari Swalabumi, dan Patih Udawa dari Widarakandang. Hadir pula sang kakak dari Kerajaan Mandura, yaitu Prabu Baladewa yang hanya didampingi Patih Pragota. Dalam kunjungannya itu, Prabu Baladewa berkata bahwa dirinya baru saja mimpi buruk tentang Prabu Puntadewa, pemimpin para Pandawa.

Dalam mimpinya tersebut, Prabu Baladewa melihat Prabu Puntadewa berjalan kaki mengenakan pakaian serbaputih. Kemudian datang angin kencang yang menerbangkan tubuhnya. Prabu Baladewa lalu terbangun dari tidur dan tidak mengetahui bagaimana nasib Prabu Puntadewa selanjutnya. Mengingat adiknya sangat cerdas dan mampu menafsir mimpi, Prabu Baladewa pun datang ke Kerajaan Dwarawati untuk menanyakan arti mimpinya itu kepada Prabu Kresna.

Prabu Kresna termenung sejenak, kemudian ia berkata bahwa dirinya harus segera berangkat ke Kerajaan Amarta karena ada hal buruk yang akan menimpa Prabu Puntadewa dan para Pandawa lainnya. Prabu Baladewa tidak ingin ketinggalan. Mereka pun bersama-sama berangkat dengan disertai Arya Setyaki dan Patih Pragota.

 

PRABU DEWASRANI IRI HATI KEPADA PRABU PUNTADEWA

Sementara itu di Kahyangan Dandangmangore, Batari Durga menerima kedatangan putranya, yaitu Prabu Dewasrani dari Kerajaan Nusarukmi. Dalam kunjungannya itu, Prabu Dewasrani bertanya kepada ibunya mengapa dirinya diberi nama dengan unsur kata “dewa”. Batari Durga menjawab, itu karena Prabu Dewasrani adalah putra dewa, yaitu Batara Guru, sehingga boleh memakai nama dengan unsur kata “dewa”.

Prabu Dewasrani lalu bertanya mengapa Prabu Puntadewa memakai nama yang mengandung unsur “dewa”, apakah ia memang putra salah satu dewa? Batari Durga menjawab, Prabu Puntadewa adalah putra Prabu Pandu Dewanata yang mendapat nama dengan unsur kata “dewa” dari ayahnya itu. Adapun Prabu Pandu boleh menyandang gelar Dewanata adalah karena pernah berjasa membunuh musuh kahyangan yang bernama Prabu Nagapaya.

Prabu Dewasrani berterus terang bahwa dirinya kesal mendengar ada orang lain yang memiliki nama dengan unsur kata “dewa” seperti dirinya, dan orang itu menjadi raja pula. Apalagi, ayah Prabu Puntadewa bahkan bernama Prabu Pandu Dewanata, yang artinya “raja dewa”. Nama ini jelas menyamai Batara Guru yang memiliki gelar Sanghyang Jagadnata, ataupun menyamai Batara Indra yang memiliki gelar Sanghyang Suranata.

Batari Durga berkata bahwa roh Prabu Pandu Dewanata sudah mendapat hukuman dari Batara Guru, yaitu dikurung dalam Kawah Candradimuka bersama Dewi Madrim, istri keduanya. Prabu Dewasrani tidak puas karena Prabu Puntadewa harusnya juga dihukum karena memakai nama dengan unsur kata “dewa” padahal bukan anak dewa. Apabila Prabu Puntadewa tidak dicopot dari kedudukannya sebagai raja dan juga tidak dihukum, maka Prabu Dewasrani memilih lebih baik bunuh diri saja.

Batari Durga sangat memanjakan Prabu Dewasrani. Ia pun menuruti keinginan putranya itu dan segera berangkat bersama menuju Kahyangan Jonggringsalaka untuk menghadap Batara Guru.

 

ROMBONGAN DARI KERAJAAN DWARAWATI TERHALANG PERJALANANNYA

Batari Durga dan Prabu Dewasrani berangkat dikawal pasukan Nusarukmi yang terdiri atas para raksasa, beserta para pengikut Kahyangan Dandangmangore yang berwujud kaum makhluk halus. Di tengah jalan mereka berpapasan dengan rombongan dari Kerajaan Dwarawati. Dasar watak para raksasa yang suka mencari keributan, mereka pun mengganggu rombongan tersebut.

Arya Setyaki yang berada paling depan segera menghadapi para raksasa itu. Pertempuran pun terjadi. Batari Durga tidak mau melibatkan diri. Ia pun membawa Prabu Dewasrani terbang secepat kilat menuju Kahyangan Jonggringsalaka, sedangkan pasukan mereka dipimpin Jin Jaramaya sibuk bertempur melawan orang-orang Dwarawati.

 

BATARI DURGA MENGADU KEPADA BATARA GURU

Di Kahyangan Jonggringsalaka, Batara Guru dihadap Batara Narada, Batara Indra, dan Batara Yamadipati. Tidak lama kemudian datanglah Batari Durga dan Prabu Dewasrani. Batari Durga menangis meminta Batara Guru mencegah putranya bunuh diri. Batara Guru bertanya mengapa Prabu Dewasrani ingin bunuh diri. Batari Durga pun menjawab bahwa ini semua karena Prabu Puntadewa memakai unsur nama “dewa”. Unsur nama “dewa” hanya boleh dipakai oleh putra dewa saja, seperti Prabu Dewasrani. Namun, jika ada manusia biasa, apalagi seorang raja seperti Prabu Puntadewa memakai nama “dewa”, maka lebih baik Prabu Dewasrani bunuh diri saja.

Batara Guru tidak tahan menyaksikan ratapan Batari Durga. Ia pun memutuskan bahwa Prabu Puntadewa harus melepas takhta Kerajaan Amarta dan juga melepas nama “dewa”. Apabila menolak, maka ia harus diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka. Tugas ini diserahkan kepada Batara Narada untuk pergi ke Kerajaan Amarta.

Batara Narada heran mengapa Batara Guru begitu mudah menuruti permintaan yang tidak masuk akal ini? Mengapa hanya karena bernama “dewa” lantas Prabu Puntadewa harus dihukum mati diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka segala? Bukankah ada orang lain yang juga bernama “dewa”, misalnya Prabu Baladewa ataupun Raden Sadewa? Apakah mereka semua juga harus dihukum mati?

Batara Guru tidak menjawab. Keputusannya hanya berlaku untuk Prabu Puntadewa saja, tidak ada urusan dengan yang lainnya. Sekarang yang jadi pertanyaan, apakah Batara Narada bersedia menjalankan perintah atau tidak? Batara Narada menjawab, sebagai bawahan maka dirinya tidak dapat menolak perintah ini. Ia hanya berusaha memberikan saran yang baik, syukur-syukur apabila diterima. Namun demikian, semua keputusan tetap berada di tangan Batara Guru sebagai pemimpin kahyangan. Usai berkata demikian, Batara Narada pun pamit undur diri menuju Kerajaan Amarta.

 

BATARA NARADA MENJEMPUT PRABU PUNTADEWA

Di Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa dihadap keempat adiknya, yaitu Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa. Ketika sedang membahas masalah negara, tiba-tiba datang Batara Narada turun dari angkasa. Para Pandawa pun bergantian menghaturkan sembah kepadanya.

Batara Narada berkata bahwa kedatangannya adalah untuk menyampaikan perintah Batara Guru. Perintah tersebut ialah Prabu Puntadewa harus mengganti nama yang tidak boleh mengandung unsur kata “dewa”, dan juga harus melepaskan takhta Kerajaan Amarta. Jika menolak, maka ia akan dihukum mati dengan cara diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka.

Prabu Puntadewa menjawab, nama yang ia pakai adalah pemberian orang tua, sehingga jika dilepas harus minta izin dulu kepada mereka. Yang kedua, dirinya menjadi raja adalah karena dipaksa keempat adiknya. Oleh sebab itu, jika diminta turun takhta, maka harus keempat adiknya itu yang mengizinkan.

Arya Wrekodara pun maju sebagai juru bicara keempat Pandawa. Dengan tegas ia menolak kakak sulungnya turun takhta. Menurutnya, Prabu Puntadewa adalah raja yang adil dan bijaksana, memakmurkan negara, dan memimpin rakyat Amarta bagaikan anak sendiri. Apabila Prabu Puntadewa turun takhta mengikuti perintah Batara Guru, maka rakyat akan kehilangan pemimpin sejati dan ini adalah bencana bagi Kerajaan Amarta. Untuk urusan nama, yang memberikan nama “Puntadewa” adalah Prabu Pandu, ayah para Pandawa. Dengan demikian, Prabu Puntadewa tidak akan bisa melepas namanya, karena Prabu Pandu sudah lama meninggal dunia. Itu artinya tidak akan ada lagi yang bisa memberikan izin penggantian nama tersebut.

Batara Narada merasa serbasalah. Di satu sisi ia setuju dengan ucapan Arya Wrekodara, namun di sisi lain ia harus menjalankan perintah atasan, yaitu menjemput Prabu Puntadewa dan menceburkannya ke dalam Kawah Candradimuka. Arya Wrekodara menyadari kegelisahan Batara Narada. Ia berkata bahwa nyawa Prabu Puntadewa terlalu berharga untuk dikorbankan. Sebagai gantinya, ia dan para Pandawa yang lain bersedia diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka. Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa sepakat mendukung pernyataan Arya Wrekodara.

Batara Narada terharu melihat semangat para Pandawa yang tidak takut mati demi rakyat Amarta. Arya Wrekodara dan ketiga adiknya lalu mohon pamit kepada Prabu Puntadewa. Dengan berlinang air mata, Prabu Puntadewa memeluk mereka satu persatu. Keempat adiknya itu lalu pergi bersama Batara Narada. Prabu Puntadewa pun berjalan mengantarkan sampai ke ambang pintu.

 

DEWI KUNTI MENEGUR PRABU PUNTADEWA

Tiba-tiba Dewi Kunti muncul karena mendapat firasat buruk. Ia pun bertanya mengapa Prabu Puntadewa sendirian saja. Prabu Puntadewa menceritakan dari awal hingga akhir mulai kedatangan Batara Narada, hingga bagaimana keempat adiknya bersedia dibawa ke kahyangan untuk menggantikan dirinya menjalani hukuman mati di Kawah Candradimuka.

Dewi Kunti terkejut mendengar cerita itu. Ia menegur Prabu Puntadewa sebagai kakak sulung tidak becus melindungi saudara. Bahkan, Prabu Puntadewa bersenang hati tetap menjadi raja dengan mengorbankan nyawa keempat adiknya. Dewi Kunti menyesal telah melahirkan Prabu Puntadewa ke dunia. Ia pun menagih air susu yang telah ia berikan dulu, lebih baik dikembalikan saja.

Prabu Puntadewa lemas gemetar mendengar ucapan ibunya. Jantungnya berdebar kencang dan ia pun memijat dada sendiri. Tanpa sengaja, tangan Prabu Puntadewa menyentuh pusaka Kalung Robyong Mustikarawis warisan Arya Gandamana yang melekat di dadanya. Menyentuh kalung itu dengan disertai perasaan hati yang terdesak membuat wujud Prabu Puntadewa seketika berubah menjadi raksasa tinggi besar berkulit putih bersih.

Dewi Kunti semakin marah dan menuduh Prabu Puntadewa hendak berbuat durhaka kepadanya. Prabu Puntadewa menolak tuduhan itu. Dengan wujud raksasa ini ia akan mengacau Kahyangan Jonggringsalaka agar keempat adiknya dibebaskan. Usai berpamitan kepada sang ibu, ia pun berangkat meninggalkan istana.

 

PRABU KRESNA MENYUSUL KE KAHYANGAN

Sementara itu, perjalanan Prabu Kresna dan Prabu Baladewa yang terhalang pertempuran melawan pasukan Nusarukmi membuat kedatangan mereka menjadi terlambat. Mereka baru sampai di Kerajaan Amarta ketika para Pandawa sudah pergi dan hanya bertemu Dewi Kunti menangis sendirian. Mereka lalu bertanya ada kejadian apa yang menimpa Kerajaan Amarta.

Dewi Kunti semakin marah atas pertanyaan dua keponakannya itu. Ia menuduh Prabu Kresna tidak menjalankan tugasnya sebagai pamong para Pandawa dengan baik. Kini keempat Pandawa dibawa ke kahyangan untuk dihukum mati, tetapi Prabu Kresna justru bertanya ada masalah apa. Kalau tidak punya pengetahuan yang cukup, untuk apa menyombongkan diri sebagai titisan Batara Wisnu segala?

Prabu Kresna tersenyum tidak marah atas tuduhan sang bibi. Ia pun meraba rambutnya, menyentuh Panah Kesawa sambil membaca mantra Balasrewu. Seketika tubuhnya pun berubah menjadi raksasa berkulit hitam legam. Ia lalu mohon pamit kepada Dewi Kunti untuk menyusul para Pandawa. Prabu Baladewa pun diminta agar tetap tinggal untuk menjaga Dewi Kunti dan Kerajaan Amarta.

 

KEEMPAT PANDAWA DICEBURKAN KE DALAM KAWAH CANDRADIMUKA

Sementara itu, Batara Narada dan keempat Pandawa telah sampai di Kahyangan Jonggringsalaka. Batara Guru bertanya mengapa bukan Prabu Puntadewa yang dibawa menghadap kepadanya. Arya Wrekodara menjawab, nyawa kakak sulungnya terlalu berharga jika harus dikorbankan demi suatu hal yang tidak masuk akal. Sebagai pengganti, ia dan ketiga adiknya rela mengorbankan nyawa diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka.

Batara Guru lalu bertanya kepada Batari Durga apakah nyawa keempat Pandawa bisa untuk menebus kesalahan Prabu Puntadewa. Batari Durga berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuk menyingkirkan para Pandawa. Jika keempat adiknya sudah tewas, maka tidak sulit untuk menyingkirkan Prabu Puntadewa. Berpikir demikian, Batari Durga pun menyatakan setuju untuk menceburkan keempat Pandawa itu ke dalam Kawah Candradimuka sebagai ganti Prabu Puntadewa. Dalam hati ia berpikir kelak akan mencari cara lain untuk mencelakai sulung Pandawa tersebut.

Maka, Batara Guru pun memerintahkan Batara Yamadipati untuk melaksanakan tugas. Batara Yamadipati segera menggiring Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa menuju ke Gunung Jamurdipa. Sesampainya di sana, ia menceburkan keempat Pandawa tersebut ke dalam Kawah Candradimuka.

Arya Wrekodara dan ketiga adiknya tidak takut mati. Mereka pun langsung tenggelam ke dasar kawah. Sungguh ajaib, air kawah yang mendidih itu terasa sejuk oleh mereka. Tiba-tiba mereka sudah tiba di hadapan dua orang yang duduk di dasar Kawah Candradimuka. Kedua orang itu tidak lain adalah ayah para Pandawa, yaitu Prabu Pandu beserta ibu si kembar, yaitu Dewi Madrim, yang masing-masing sudah berbadan rohani.

Arya Wrekodara terharu dan segera memeluk roh Prabu Pandu, sedangkan Raden Arjuna bersimpuh memeluk kaki ayahnya itu. Dewi Madrim juga tampak dipeluk kanan-kiri oleh Raden Nakula dan Raden Sadewa. Selang agak lama, Prabu Pandu lalu bertanya tentang kabar anak-anaknya itu. Arya Wrekodara menceritakan bahwa mereka lima bersaudara sudah mendirikan Kerajaan Amarta. Sebaliknya, ia pun bertanya bagaimana kabar Prabu Pandu dan Dewi Madrim selama bersemayam di Kawah Candradimuka.

Dahulu kala ketika Dewi Madrim sedang mengandung Raden Nakula dan Raden Sadewa, tiba-tiba terbesit keinginannya untuk bertamasya di atas kendaraan Batara Guru, yaitu Lembu Andini. Prabu Pandu pun naik ke kahyangan meminjam lembu tersebut dengan disertai sumpah bahwa kelak setelah meninggal ia rela tidak naik ke surga, tetapi rohnya ditahan saja di dalam Kawah Candradimuka. Batara Guru mengizinkan Lembu Andini dipinjam secara cuma-cuma, tetapi para dewa lainnya menganggap hal ini sebagai kelancangan. Mereka pun menuntut agar Prabu Pandu benar-benar diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka sesuai keinginannya.

Beberapa bulan kemudian, Prabu Pandu berperang melawan raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani, yaitu Prabu Tremboko. Dalam perang itu Prabu Tremboko tewas, tetapi ia sempat melukai paha Prabu Pandu. Akibat luka tersebut, Prabu Pandu menderita sakit beberapa bulan lamanya. Hingga akhirnya Batara Yamadipati datang untuk menjemput kematiannya.

Prabu Pandu meminta waktu kepada Batara Yamadipati agar Dewi Madrim melahirkan lebih dulu. Ternyata Dewi Madrim melahirkan sepasang bayi kembar. Sesuai janjinya, maka roh Prabu Pandu pun dicabut dan dibawa Batara Yamadipati. Melihat itu, Dewi Madrim merasa bersalah dan ikut meninggal pula. Rohnya kemudian ikut pergi menyertai sang suami.

Demikianlah, awal mula mengapa roh Prabu Pandu dan Dewi Madrim bersemayam di dalam Kawah Candradimuka. Arya Wrekodara merasa heran mengapa ia dan adik-adiknya tidak merasa panas saat diceburkan ke dalam Kawah Candradimuka. Prabu Pandu menjawab, Kawah Candradimuka bukanlah kawah sembarangan. Barangsiapa memiliki hati yang baik dan tulus, maka ia tidak akan mati apabila diceburkan ke dalam kawah tersebut. Arya Wrekodara dan ketiga adiknya pun bersyukur karena mereka bukan termasuk golongan berhati jahat.

Keempat Pandawa itu kemudian merasa prihatin melihat keadaan Prabu Pandu dan Dewi Madrim yang hidup menderita di dalam Kawah Candradimuka. Prabu Pandu menjawab, ia dan Dewi Madrim sama sekali tidak merasa menderita karena mereka sering mendengar nama baik para Pandawa dalam membela kebenaran dan keadilan. Sebaliknya, meskipun Prabu Pandu dan Dewi Madrim tinggal di Swargaloka, tetapi jika mendengar berita para Pandawa berbuat kejahatan di dunia, maka itu rasanya seperti tinggal di neraka.

 

DEWA AMRAL MENGAMUK DI KAHYANGAN JONGGRINGSALAKA

Sementara itu, raksasa putih penjelmaan Prabu Puntadewa telah sampai di Kahyangan Jonggringsalaka dan membuat kekacauan di sana. Ia mengaku bernama Dewa Amral dan menantang para dewa untuk menyerahkan takhta kahyangan kepada dirinya. Para dewa pun maju menyerang namun tiada satu pun yang dapat mengalahkan raksasa putih tersebut. Bahkan, mereka justru yang dibuat kalang kabut menghadapi amukan Dewa Amral.

Batara Narada segera melaporkan kekacauan ini kepada Batara Guru. Batara Guru pun memerintahkan Batara Narada untuk mencari jago yang bisa mengatasi Dewa Amral. Batara Narada mohon pamit berangkat melaksanakan tugas. Di tengah jalan ia bertemu raksasa berkulit hitam legam, yang mengaku bernama Ditya Kesawamanik. Batara Narada pun menjanjikan istri bidadari apabila Ditya Kesawamanik mampu menumpas Dewa Amral. Ditya Kesawamanik menjawab bersedia. Mereka lalu berangkat menuju tempat Dewa Amral mengamuk merusak bangunan kahyangan.

Sesampainya di sana, Ditya Kesawamanik segera maju mendekati Dewa Amral. Kedua raksasa itu berhadapan tetapi tidak saling menyerang. Ada rasa segan di dalam hati masing-masing. Setelah saling mengenal, Ditya Kesawamanik pun paham bahwa Dewa Amral adalah penjelmaan Prabu Puntadewa, sedangkan Prabu Puntadewa paham bahwa Ditya Kesawamanik adalah penjelmaan Prabu Kresna.

Ditya Kesawamanik lalu berbisik kepada Dewa Amral tentang apa yang menjadi rencananya. Dewa Amral setuju. Mereka lalu bersatu mengamuk di kahyangan. Mereka merusak bangunan dan segala benda kedewaan yang mereka temui.

 

DEWA AMRAL MEMBEBASKAN PARA PANDAWA

Dewa Amral dan Ditya Kesawamanik bergerak menuju ke Gunung Jamurdipa. Para dewa dan pasukan dorandara masih mengejar mereka. Ditya Kesawamanik menghadang para dewa tersebut, sedangkan Dewa Amral mencebur ke dalam Kawah Candradimuka.

Sesampainya di dasar kawah, Dewa Amral melihat keempat adiknya sedang bersama sepasang pria dan wanita. Dewa Amral pun terharu saat mengenali mereka adalah orang tuanya sendiri, yaitu Prabu Pandu dan Dewi Madrim. Ia lalu bersimpuh menyembah mereka berdua.

Prabu Pandu memeluk Dewa Amral dan memintanya untuk membawa keempat Pandawa pergi, karena tugas mereka di dunia masih banyak. Dewa Amral segera menggendong Arya Wrekodara, Raden Arjuna, Raden Nakula, dan Raden Sadewa, lalu berenang naik ke permukaan Kawah Candradimuka. Sesampainya di atas, ia segera mengamuk membantu Ditya Kesawamanik memukul mundur para dewa yang mengepung.

 

BATARA NARADA MENCARI  JAGO

Kahyangan Jonggringsalaka kembali kacau oleh amukan sepasang raksasa hitam-putih. Batara Guru memberi tahu Batara Narada bahwa yang bisa mengalahkan Dewa Amral dan Ditya Kesawamanik adalah permaisuri Keraajaan Amarta, yaitu Dewi Drupadi. Mendengar petunjuk tersebut, Batara Narada segera mohon pamit berangkat ke sana.

Dewi Drupadi saat itu sedang menerima kedatangan Raden Abimanyu dan Arya Gatutkaca disertai para panakawan. Tidak lama kemudian datanglah Batara Narada turun dari angkasa. Batara Narada bercerita bahwa Kahyangan Jonggringsalaka saat ini sedang dikacau oleh dua raksasa berwarna hitam dan putih. Hanya Dewi Drupadi seorang yang bisa mengalahkan mereka. Dewi Drupadi heran mengapa dirinya yang harus menjadi jago kahyangan. Mengapa tidak para Pandawa saja? Batara Narada menjawab, para Pandawa saat ini telah menjadi tawanan kedua raksasa itu. Mendengar berita tersebut, Dewi Drupadi langsung bersemangat dan ia pun berangkat disertai Batara Narada. Raden Abimanyu, Arya Gatutkaca, dan para panakawan ikut menyertai di belakang.

Sesampainya di Kahyangan Jonggringsalaka, Dewi Drupadi segera menantang Dewa Amral dan Ditya Kesawamanik. Seumur hidup Dewi Drupadi tidak pernah bertarung. Namun, demi untuk menyelamatkan para Pandawa, ia sama sekali tidak takut mati. Sebaliknya, Dewa Amral dan Ditya Kesawamanik hanya saling pandang tidak tahu harus berbuat apa. Mereka serbasalah karena tidak mungkin melayani tantangan Dewi Drupadi. Merasa sudah saatnya untuk membuka samaran, kedua raksasa itu pun kembali ke wujud semula, yaitu Prabu Puntadewa dan Prabu Kresna.

Arya Wrekodara, Raden Arjuna, dan si kembar keluar dari persembunyian. Dewi Drupadi kini telah tahu duduk permasalahannya. Ia bersyukur tidak terjadi hal buruk menimpa para Pandawa.

 

ARYA WREKODARA PERGI BERTAPA

Tiba-tiba muncul Prabu Dewasrani dan Batari Durga yang merasa kecewa karena rencana mereka gagal. Prabu Dewasrani marah dan mengerahkan pasukannya untuk mengeroyok para Pandawa. Raden Arjuna bergerak cepat menghadapi raja Nusarukmi tersebut. Dalam pertarungan itu, Prabu Dewasrani tewas terkena kerisnya sendiri.

Batari Durga marah melihat putranya tewas. Ia pun mengamuk mengerahkan pasukan makhluk halus. Kyai Semar yang tiba bersama Raden Abimanyu dan Arya Gatutkaca segera menghadapi mereka. Dengan mengerahkan kentut saktinya, para makhluk halus itu berhamburan pergi. Batari Durga pun dapat diringkus oleh Kyai Semar dengan cara ditindih tubuhnya.

Batari Durga menangis memohon ampun. Kyai Semar bersedia melepaskannya, asalkan Batari Durga tidak lagi mempermasalahkan soal nama Prabu Puntadewa. Batari Durga berjanji akan mematuhi Kyai Semar, namun ia juga meminta supaya putranya dihidupkan kembali. Karena Batari Durga sudah berjanji demikian, Prabu Kresna pun melangkah maju dan berhasil menghidupkan kembali Prabu Dewasrani menggunakan Kembang Wijayakusuma.

Setelah Prabu Dewasrani hidup kembali, Batari Durga pun mohon pamit membawa pulang putranya itu kembali ke Kahyangan Dandangmangore.

Prabu Kresna lalu mengajak para Pandawa dan Dewi Drupadi kembali ke Kerajaan Amarta.

Namun, Arya Wrekodara menolak. Ia merasa prihatin atas nasib Prabu Pandu dan Dewi Madrim yang masih disekap di dalam Kawah Candradimuka. Sebagai anak yang pernah mendapatkan ilmu sejati Sangkan Paraning Dumadi dari Dewa Ruci, ia merasa berkewajiban untuk mengentas ayah dan ibunya itu dari Kawah Candradimuka dan memindahkannya ke tempat yang lebih baik. Untuk itu, Arya Wrekodara mohon pamit melakukan tapa ngrame dengan mendirikan tempat pengobatan di Gunung Argakelasa. Prabu Puntadewa merestui. Mereka lalu berpisah. Arya Wrekodara berangkat ditemani Arya Gatutkaca, sedangkan Prabu Puntadewa, Prabu Kresna dan yang lain kembali ke Kerajaan Amarta.



Imajier Nuswantoro 


Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)