SEMAR BOYONG

0

Semar Boyong

 

Semar Boyong  menceritakan bahwa Ki Lurah Semar sedang berduka karena ditinggal pergi istrinya-Dewi Kanestren- tanpa diketahui kemana perginya. Maka ia dan anak-anaknya tidak sowan ke Amarta menjalankan tugas sebagai abdi para ksatria Pandawa. Bersamaan dengan itu Ki Lurah Semar kedatangan tamu Begawan Drona yang tidak lain adalah utusan Raja Duryudana dari Hastina. Maksud kedatangannya untuk memboyong Semar ke Hastina sebagai syarat ketentraman negara Hastina yang sedang dilanda malapetaka. Selain itu juga ada utusan dari Amarta yang membujuk Semar untuk segera menghadap ke Amarta dan menjalankan tugasnya kembali sebagai pamomong seperti sediakala. Ada lagi utusan dari Negara Poncowati yang menginginkan Semar untuk menjadi pengayom agar Negara Poncowati menjadi tentram.

Karena ada lebih dari satu yang menginginkannya, Semar mengadakan sayembara, siapa yang bisa mempersembahkan Sekar Pudhak Tunjung Biru dialah yang akan dijadikan tuannya. Ketiga utusanpun segera bergegas mencari dimana keberadaan Sekar Pudhak Tanjung Biru. Singkat cerita, dari ketiga utusan tersebut hanya satu yang berhasil mempersembahkan Sekar Pudhak Tanjung Biru yaitu Raden Arjuna utusan Pandawa. Setelah Sekar Pudhak Tanjung Biru dipegang oleh Semar berubahlah bunga itu menjadi wanita yang sangat cantik yang ternyata seorang bidadari dari kahyangan bernama Dewi Kanestren yang ternyata adalah istri Semar. Karena Raden Arjuna telah berhasil mengembalikan istri Semar, iapun berjanji akan kembali ke Amarta sebagai pamomong para ksatria Pandawa seperti semula.

Kerajaan Pancawati terserang wabah penyakit karena ditinggalkan Semar. Demikian juga Astina dan Indraprasta dapat selamat dari merabahnya jika diikuti oleh Semar. Karena itu Sri Rama raja Pancawati mengutus Lesmana, Puntadewa raja Indraprasta mengutus Arjuna, dan Duryudana raja Astina mengutus Karna, untuk memboyong Semar.

Semar bersedia diboyong ke mana pun, asalkan mereka dapat mewujudkan berupa bunga pandan Tunjungbiru. Leskaman dan Arjuna segera menuju kahyangan untuk mencari permintaan Semar. Karena yang datang lebih awal adalah Lesmana, maka bunga pandan diberikan kepada Lersmana, sehingga menjadi perebutan antara Arjuna dan Lesmana. Lesmana mendapatkan bunganya, sedangkan Arjuna hanya mendapatkan kulitnya, kemudian diberikan kepada Semar.

Sepintas memang tokoh Semar sebatas melucu dan pereda ketegangan penonton di tengah malam. Namun, menurut kisah pewayangan Jawa, Sang Hyang Wenang menciptakan Sebuah telur, cangkangnya itu Togog, putihnya menjadi Semar. Sedangkan kuningnya menjadi Batara Guru. Semar yang memiliki badan gemuk tak jelas laki-laki atau perempuan. Hal tersebut menunjukan bahwa manusia pada dasarnya tidak ada yang sempurna dan masing-masing memiliki ciri khas. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Umumnya, masyarakat mengenal bahwa Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa yang mana memiliki anugerah Mustika Manik Astagina dan delapan daya. Delapan daya itu adalah tidak pernah mengantuk, tidak pernah lapar, tak pernah jatuh cinta, tak pernah sedih, tak pernah capek, tak pernah sakit, tak pernah kepanasan, dan tak tak pernah kedinginan.

Menurut pendapat seorang sejarawan, Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar ini pertama kali ditemukan di dalam karya sastra pada zaman kerajaan Majapahit yang berjudul Sudamala. Karya sastra tersebut dalam bentuk kakawin juga dipahat dalam bentuk relief di Candi Sukuh yang dibuat tahun 1439. Tokoh Semar ini merupakan hamba atau abdi tokoh utama dalam kisah Sahadewa yang merupakan sosok dari keluarga Pandawa. Tentunya, Semar bukan hanya sebagai pengikut semata, melainkan juga sebagai penghibur lara dalam mencairkan suasana yang tegang. Di zaman berikutnya, saat kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun mulai digunakan sebagai media dakwah. Salah satunya adalah kisah Mahabarata yang mana kisah tersebut sudah melekat di benak masyarakat Jawa. Salah satu Ulama yang menggunakan wayang sebagai media dakwah adalah Sunan Kalijaga. Di dalam dakwahnya, Semar masih tetap ada, bahkan lebih dominan dibandingkan dengan kisah Sudamala.

Kemudian, di era selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat, di mana para Pujangga Jawa mulai mengkisahkan Semar bukan sebagai rakyat jelata saja, melainkan juga sebagai jelmaan Batara Ismaya yang merupakan kakanya Batara Guru alias rajanya para dewa. Banyak sekali versi yang mengisahkan asal usul Semar. Namun sebagian besar mengatakan bahwa Semar adalah jelmaan Dewa. Di setiap pementasan wayang, Semar selalu menyampaikan kata-kata bijaknya yang sifatnya lebih ke umum. Sehingga kata-kata bijak Semar masih relevan dengan siapapun dan kapanpun. Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan Jawa, jumlahnya ditambah menjadi dua, salah satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabarata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul sing sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan ksatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemangku pemerintahan, sebagai kaum kesatria asuhan Semar, yang senantiasa mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

Lakon Semar Boyong yang dibawakan merupakan bentuk lakon carangan pada cerita pewayangan Jawa. Lakon carangan atau cerita carangan adalah lakon wayang yang keluar dari jalur pakem (standar) kisah Mahabarata atau Ramayana. Namun, para pemeran dan tempat-tempat dalam cerita carangan itu tetap menggunakan tokoh-tokoh Wayang Purwa yang berdasarkan Mahabarata atau Ramayana seperti biasanya. Dalam cerita Semar Boyong dikisahkan bertemunya tiga raja penguasa untuk memperebutkan tokoh Semar dalam satu zaman. Raja Rama Wijaya dari kerajaan Pancawati, Raja Duryudana dari kerajaan Astina dan Raja Puntadewa dari kerajaan Indraprasta. Raja Rama Wijaya yang hidup pada masa kisah cerita Ramayana jelas berselisih waktu sangat jauh dengan dua raja lainnya yang hidup pada masa kisah Mahabharata. Secara kronologis cerita ini tidak berkesinambungan, tapi itulah uniknya wayang Jawa, lebih berkembang dalam hal bentuk cerita dibanding wayang asli dari India. Nilai filosofis dan ajaran moral dalam lakon Semar Boyong itulah sebenarnya yang ditonjolkan.

 

TUAH SEMAR

Sosok Semar sebagaimana uraian diatas adalah sosok bijak yang sangat dibutuhkan karomah (tuah) serta nasehatnya oleh siapapun raja yang berkuasa. Sosok Semar digambarkan dalam cerita itu mampu meredam pageblug (bencana) berupa wabah penyakit yang melanda kerajaan manapun. Sehingga dimana Semar mengabdi, disitu kerajaan akan menjadi aman tentram jauh dari bencana.

Kerajaan Pancawati terserang wabah penyakit karena ditinggalkan Semar. Demikian juga Astina dan Indraprasta dapat selamat dari merabahnya jika diikuti oleh Semar. Karena itu Sri Rama raja Pancawati mengutus Lesmana, Puntadewa raja Indraprasta mengutus Arjuna, dan Duryudana raja Astina mengutus Karna, untuk memboyong Semar.

Semar bersedia diboyong ke mana pun, asalkan mereka dapat mewujudkan berupa bunga pandan Tunjungbiru. Leskaman dan Arjuna segera menuju kahyangan untuk mencari permintaan Semar. Karena yang datang lebih awal adalah Lesmana, maka bunga pandan diberikan kepada Lersmana, sehingga menjadi perebutan antara Arjuna dan Lesmana. Lesmana mendapatkan bunganya, sedangkan Arjuna hanya mendapatkan kulitnya, kemudian diberikan kepada Semar.

Sampai makalah ini selesai disusun pembicaraan tentang Semar, tokoh wayang kulit purwa, belum usai. Arinya, setiap orang ingin mengetahui apa dan siapa Semar yang sebenarnya tidak dapat tuntas, apalagi memuaskan. Senar, tokoh fiktif, rekaan, atau sebenarnya nyata-nyata ada? Belum ada jawaban yang pasti; tergantung dari sudut pandang dan pemahaman setiap orang. Dengan demikian mungkin benar-benar ada atau pernah ada, tetapi juga barangkali memang tidak pernah ada.

Keunikan Semar, atas dasar narasi dan garapan cerita yang disajikan para dalang, adalah seperti di bawah ini :

1.     Asli wayang Jawa, tidak terdapatkan dalam kitab wiracarita Mahabarata dan Ramayana.

2.     Semar lahir dari putih telor, hasil ciptaan Sang Hyang Tunggal, ayahnya.

3.     Jenis kelamin Semar tidak jelas, bukan laki-laki, bukan perempuan, juga bukan banci; tetapi beristri (Kanastrèn) dan juga memiliki keturunan yang semua dewa (di antaranya: Yamadipati, Bongkokan, Kuwera, Candra, Surya, Kamajaya, Wrahaspati, Patuk, dan Temboro).

4.     Meskipun lebih banyak berperan sebagai abdi, tetapi bukan manusia biasa, déwa ngéjawantah, sebab sebenarnya Semar adalah penjelmaan Sang Hyang Ismaya.

5.     Asal yakin atas kebenarannya, Semar tidak pernah takut kepada siapa saja, meskipun Guru, pembesar para dewa sekalipun.

6.     Semar sangat murka apabila kebenaran, kearifan, dan keadilan mulai dilecehkan serta para ksatria dikalahkan para tirani atau pendzalim.

7.     Semar memiliki senjata yang berkekuatan sangat dahsyat, meskipun hanya berupa kentut.

 

Pada tiga dasawarsa lalu, apalagi sebelumnya, oleh sebagian besar para dalang, Semar didudukkan sebagai tokoh sangat istimewa: ‘déwa ngéjawantah,’ pamomonging para satriya, penasehat, pamomong para satriya pinilih, seperti terungkap pada Sekar Pocung di bawah ini :

Semar iku dadya darsaning rahayu,

yuwananing sedya,

supadya padha basuki,

yèn pinesu ambabar dadya warastra.

Semar iku pamongé satriya tuhu,

Trahing Witaradya,

Tut wuri pan handayani,

Yèn ngandika dadiya tepa tuladha.

Tembang di atas menunjukkan bahwa Semar bukan sekedar pelawak, dagelan, atau humoris saja. Sebenarnya, dalam cerita wayang di Jawa, Semar beserta anak-anaknya Garèng, Pétruk, dan Bagong bukan sekedar jongos yang mengikuti Pandawa dan keluarganya, tetapi seluruh tokoh ksatria yang suka memayu hayuning bangsa, memayu hayuning buwana, penegak kebenaran dan keadilan. Saya belum pernah menjumpai ada cerita wayang yang melukiskan tokoh Semar telah mengikuti pengembaraan Rahwana, Cakil, Sengkuni, Burisrawa, dan Suyudana; meskipun semua pihak ingin memboyongnya.

Dalam cerita Semar Boyong, dan beberapa repertoar lakon wayang yang lain, dikisahkan sejumlah raja sangat mengharap agar Semar bersedia tinggal di negara mereka, meskipun hanya beberapa saat. Para raja itu percaya apabila negara mereka ketempatan Semar akan memperoleh kedamaian, keamanan, dan rakyatnya menjadi makmur sejahtera.

Pada kondisi yang normal serta keseharian, Semar memang lebih bersikap pasif bahkan mengantuk seakan-akan pekerjaan utama sebab berkedudukan sebagai panakawan, abdi pendhèrèk, pamomong, atau kawan bercengkerama para ksatria. Pada kondisi yang demikian wajah Semar tergolong jelek, tua, berkeriput, mata sipit dan rembes; postur badan tambun dan pendek.

Dalam keseharian seperti ini, Semar, dalam pertunjukan wayang, memang sering dijadikan bahan ejekan untuk mencari efek ketawa, tetapi senantiasa tenang, tetap sabar, justru larut dalam suasana humor.

Judul-judul lakon yang menggunakan nama Semar adalah seperti yang tertulis pada tabel di bawah ini.

1.   Semar mBarang Jantur

2.   Semar Boyong

3.   Semar Tambal

4.   Semar Kuning

5.   Semar Tumbal

6.   Semar Mantu

7.   Semar mBangun Gedhong Kencana

8.   Semar mBangun Kayangan

9.   Semar mBangun Klampis Ireng

10.  Semar mBabar Jatidhiri

11.   Semar Raga atau Semar Kembar Papat

12.   Semar Gugat

13.    Semar Tambak

14.    Gègèr Semar

Di luar 14 judul cerita itu, masih ada sejumlah ceritera yang peran Semar cukup penting, misalnya :

1.     Wisnu Krama.

2.     Manumayasa Rabi.

3.     Pandhu Lahir.

4.     Pandhu Krama.

5.     Mintaraga.

6.     Makutharama.

7.     Kilatbuwana.

8.     Gathutkaca Sungging.

 

Hampir seluruh alur cerita di atas menunjukkan ekspresi protes, kemarahan dan/atau kekuatan Semar yang sebenarnya dalam menghadapi krisis dunia yang sangat memuncak, kecuali cerita Semar Boyong dan Semar mBarang Jantur yang kadar protesnya kecil.

Apabila Semar sudah menunjukkan kekuatan yang sebenarnya, tidak ada satu pun tokoh wayang yang berani melawannya, meskipun para dewa di kayangan. Khususnya, para ksatria yang dibelanya akan sangat menghormat dan santun (dengan menggunakan bahasa Jawa krama) kepada Semar saat-saat sedang menunjukkan kemarahannya. Sebab, dalam kondisi yang demikian itu Semar bukan lagi panakawan, bukan batur, bukan wong cilik, bukan abdi, tetapi tokoh berkekuatan supranatural yang ngédab-edabi, nggegirisi, ditakuti dan tak terkalahkan oleh siapa saja.

Ekspresi kemarahan bergantung tingkat permasalahan yang dihadapinya; dapat tetap berwujud Semar, juga dapat berubah total, lazimnya menjadi ksatria yang sangat tampan.

Apabila Pandawa menghadapi masalah berat, para dalang masa lalu, Semar selalu tampil sebagai pemegang kunci pemecahan masalah, selain Kresna dan Abiyasa. Pada saat perang Baratayuda dimulai, Semar menduduki tempat istimewa setara dengan Kresna, penasehat utama; sudah tidak lagi berkelana dengan ksatria ke hutan-hutan.

Dari uraian serba singkat tentang Semar dalam jagat pewayangan di atas, dapat dikatakan bahwa Semar merupakan tokoh khusus, penting, dan sentral. Apabila dibenarkan bahwa wayang merupakan salah satu ekspresi budaya yang terdiri atas pandangan, cita-cita, kehendak, simbo-simbol, keyakinan, dan harapan-harapan maka Semar adalah simbol dari budaya Jawa secara lebih luas. Semar didudukkan sebagai simbol: kawula (rakyat atau wong cilik) yang sabar, narima, tawakal, dan penuh pengabdian. Sepanjang kebenaran dan keadilan tetap tegak Semar berperan sebagai rakyat. Apabila terjadi sebaliknya, keadilan dan kebenaran tidak tegak, tirani (kezaliman) merajalela serta pemimpin bertindak semena-mena, maka Semar akan melakukan protes keras dengan caranya.

Terlepas kapan Semar muncul, yang terpenting adalah melalui tokoh Semar kita dapat melacak serta mengacu sumber kearifan dan/atau kebijakan Jawa secara lengkap, berupa :

1.     Kesahajaan.

2.     Toleransi.

3.     Kearifan.

4.     Kesabaran.

5.     kesetiakawanan atau kerukunan, dan sejenisnya selaras dengan sifat moral yang terpuji.

Kearifan bersama sekarang ini sangat penting, agar eksistensi bangsa tetap tegak. Apabila kearifan bersama sudah dilupakan semua pihak, jangan harap krisis bangsa ini dapat teratasi. Semoga setiap diskusi tentang wayang mampu membuahkan hasil yang berfaedah bagi orang Jawa, Indonesia yang tercinta, bahkan seluruh umat dunia.

 

Kehidupan Semar dalam masyarakat Jawa

Semar merupakan tokoh yang dikenal dalam dunia pewayangan melalui media  wayang purwa.

Semar ini menjadikan bagian dari kebudayaan di bumi Nusantara ditunjukannya keterlibatan Semar dalam aspek kehidupan lapisan kemasyarakatan.

Dalam ilmu kebatinanpun Semar sebagai simbol dewa asli Jawa.

Semar konon menurut orang jawa sebagai danyang abadi di Pulau Jawa yang bertugas menyelamatkan orang Jawa.

Dalam  lingkungan istanapun, Semar dianggap sebagai titisan dewa yang bertugas momong  keturunan para raja.

Semar sendiri dalam dunia pewayangan sebagai Paman dari Betara Guru, jadi raja dewa yang dianggap menurunkan raja- raja Mataram.

Dalam dunia kepraktisan Semar menjadi sumber inspirasi munculnya berbagai jenis barang dan penamaan suatu barang.

Sekarang ini dikenal dengan nama- nama barang seperti :

1.     Semar mendem (nama sebuah makanan).

2.     Semar mesem (nama aji pengasihan).

3.     Plinteng semar (nama batu di Wonogiri).

4.     Candi semar (nama candi di dieng).

5.     Semar tinandhu(nama arsitektur) dan masih banyak lagi nama semar yang digunakan dalam merk berdagangan dengan nama Semar.

 

Sementara di dalam kolektif islam semar dipercaya simbol Wali songo yang menyampaikan ajaran-ajaran kebijaksanaan. Dalam dunia perpolotikan, semar di simbolkan sebagai tokoh yang ngayomi masyarakat karena kerinduannya terhadap tokoh Semar.

Dalam zamar orde baru Semar disimbolkan sebagai tokoh kebijakan dalam menerapkan ajaran- ajaran pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila. Sementara Dalam dunia penciptaan seni pewayangan tokoh semar ini sering bermunculan tentang lakon tentang Semar di dalam dinamika kehidupan masyarakat seperti karya sastra Semar Gugat Karya sastra (Riantiarno 1995), Semar mencari raga dan masih banyak tokoh -tokoh novel yang menokohkan dunia persemaran ini ditunjukan bahwa dinamika ditengah masyarakat tokoh ini menjadikan idola penciptaan jenis karya seni.

Di dalam tokoh pewayangan Semar merupakan tokoh yang hidup di sepanjang jaman, Semar dalam pewayangan jawa ada beberapa kemungkinan mirip diangkat dari karya sastra jawa.

Tokoh Semar dalam pertunjukan wayang kulit hadir mengikuti tokoh pemegang peran Sumantri yang karena ketulusannya pengabdiannya kepada negara.

Dalam tokoh Semar ini selalu mengabdikan kepada satria yang selalu mengabdikan keadilan, menjaga keharmonisan penuh pengabdian dunia.

Asal mula bersama dengan cikal bakal dari keluarga Wirata yitu pada Manumayasa, dalam lakon perkawinan semar, Semar Badranaya pada suatu ketika bertemu dengan dua ekor macan putih kemudian minta bantuan seorang pertama sakti yaitu Manumayasa kedua ekor macan putih itu dipanah berubah wujud seorang bidadari yaitu Kaniraras dan Kanestren kemudian kanestren diperistri Semar sedangkan Kaniraras diperistri Pertama Manumayasa.Sejak itu Semar Badranaya menjadi punokawan keluarga Manumayasa beserta seluruh keturunannya.

Menurut pendapat Poedjosubroto dalam wayang lambang ajaran islam mengemukakan.

Semar juga disebut Badranaya (Badra = (Kebahagiaan / kebahagiaan / kesejahteraan Naya / kebijaksanaan / Politik).

Jadi Badranaya adalah Politik Kebijaksanaan yaitu kebijaksanaan yang menuju kebahagiaan dan Kesejahteraan.

Pemerintah yang memimpin rakyatnya untuk menjalankan Ibadah, agar mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan dunia dan akhirat.Badranaya yang memberi makna  Ulate kaya rembulan (wajahnya seperti bulan) Badra dapat berarti bulan tetapi naya bukan berati ulat, karena ulat dalam bahasa kawinya nayana dan bukan naya.

Kalau naya diterima sebagai bagian dari nayana maka benarlah pemberian makna itu. Penggunaan kamus sangat diutamakan agar mengutarakan segala sesuatu dengan tepat. Badra berati juga bulan yang membawakan kebahagiaan. Badra dapat pula berarti usaha  (bebadra) yang dapat pula membawakan kebahagiaan apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesadaran maknanya usaha yang besar.

Semar adalah punakawan yang berarti abdi (Pana / tahu, kawan / teman).

(Tahu akan pengertian umum / mengabdi kepada masyarakat / jiwa sosial yang penuh pengabdian dan kebaktian. Semar salah satu tokoh punokawan yang paling disenangi oleh banyak orang dalam bidang seni pedalangan).

Dalam seni pedalangan khususnya pecinta wayang semar, berpendapat, bahwa semar berasal dari kata  Samar yang berarti samar-samar, tidak jela, meragukan penuh rahasia, penuh teka-teki.

Kata samar bersal dari kata  sar yang berarti cahaya yang kemudian mendapat sisipan am menjadikan samar.

Jadi samar berarti sesuatu yang mengeluarkan cahaya.

Memang sebetulnya samar merupakan tokoh yang penuh dengan rahasia. Wajahnya mirip perempuan, dan bentuknya badanya laki- laki.

Ia sangat mempesonakan hati, padahal rupa dan wajahnya jelek, namun ia bukan manusia biasa, tetapi dari penjelmaan Dewa dari Suralaya, Ia adalah sama dengan penjelmaan dari dewa Suralaya, sama dengan ismaya, dewa yang mengatur di Suralaya.(Sumber dari R Poedjosoebroto buku wayang lambang Ajaran Islam 1978).

 

Semar DALAM IMAJINER Al-Quran

Dalam cerita pewayangan, Ki Lurah Semar jumeneng merupakan seorang begawan, namun ia sekaligus menjadi simbol rakyat jelata. Maka, Ki Lurah Semar juga dijuluki sebagai manusia setengah dewa.

Dalam perspektif spiritual, Ki Lurah Semar mewakili watak yang sederhana, tenang, rendah hati, tulus, tidak munafik, tidak pernah terlalu sedih, dan tidak pernah terlalu riang gembira. Dengan kata lain, keadaan mentalnya sangat matang. Dia tidak kagetan, tidak juga gumunan.

Ki Lurah Semar bagaikan air tenang yang menghanyutkan. Di balik ketenangan sikapnya, tersimpan kejeniusan, ketajaman batin, kekayaan pengalaman hidup, dan ilmu pengetahuan.

Semar digambarkan sebagai sosok yang berwatak rembulan, wajahnya yang pucat diekspresikan sebagai seseorang yang tidak mengumbar hawa nafsu. Dia disebut juga sebagai semareka den prayitna semare, yang artinya menidurkan diri.

Maksudnya, dia menidurkan diri agar batinnya selalu awas. Maka yang ditidurkan adalah panca inderanya dari gejolak api dan nafsu negatif. Dan yang paling penting, segala tindak-tanduk Semar selalu memohon restu dari Hyang Widhi (Allah SWT). Artinya, sosok semar adalah sosok yang berpasrah kepada Illahi, yang mana hal itu dikenal sebagai keimanan dan ketakwaan.

Dalam kepemimpinan dan politik, filsafat Semar tentang pemimpin sejati adalah paradoks. Bagi Semar, pemimpin itu adalah majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat dengan kekayaannya. Tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah.

Sehingga Semar, yang merupakan manusia setengah dewa, itu selalu menjadi pelayan atau pembantu para ksatria. Terutama pembantu Arjuna yang tampan namun kerap kali membuat onar. Semar dalam psikologi disebut sebagai sebuah filsafat, baik etik maupun politik.

Semar bagaikan watchdog para ksatria dan pemimpin. Kehadirannya disegani, dibutuhkan, dan didengar. Konsep amar makruf nahi munkar dalam diri Semar tak lepas dari modifikasi dakwah yang digelorakan Sunan Kalijaga dalam dunia seni wayang.

Semar dalam tokoh wayang itu artinya samar, samaran atau sebuah analogi atau bisa juga kita artikan simbol. Simbol yang memiliki makna dan maksud. Semar adalah tokoh yang bijak, dalam banyak sumber disebutkan beberapa ciri- ciri tubuhnya :

1.     Tubuhnya bulat sempurna seperti bumi yang dapat kita artikan memiliki sifat memelihara, rendah hati dsb.

2.     Tangan kanannya mengacung keatas yang dapat kita artikan berketuhanan yang Esa (Surat Al- Ikhlas dalam Al-quran).

3.     Tangan kirinya disembunyikan dibelakang yang artinya memelihara amanah, menjaga alam dari fitnah (bagian dari misi seorang mukmin).

4.     Wajahnya seperti orang Tua , yang artinya seorang yang sempurna atau insan kamil haruslah berilmu/ memiliki banyak pengalaman/ matang secara keilmuan / seperti orang Tua.

5.     Rambut bagian depan di kuncung/ jambul seperti anak kecil , yang artinya berhati fitrah seperti anak kecil/ memiliki hati yang suci . (QS : Assyamsi , Al- A'la).

Nabi Muhammad bersabda : Barang siapa membaca surat al- Ikhlas satu kali maka ia laksana membaca sepertiga Al- Quran . Dalam hadizt lain Nabi bahkan pernah berpesan pada aisyah bahwa hendaknya ia menghatamkan Al- Quran sebelum tidur , yang dimaksud membaca surat al-ikhlas .

Tangan semar yang mengacungkan jari telunjuknya satu keatas sudah cukup mewakili maksud Surat Al- Ikhlas tentang prinsip ke Esaan Tuhan.

Tokoh semar konon digagas oleh para Wali , dalam menyampaikan dakwah Islam. Faktor bahasa yang sangat minim kosa kata saat itu mungkin menjadi alasan mengapa wayang menjadi media dakwah saat itu.

 

Semar dalam Pewayangan

(Sosok Lakon dan Nilai Kehidupan)

Penting berkaca pada sejarah guna memahami awal proses Islamisasi Nusantara; latar belakang Indonesia sebelum Islam menjadi mayoritas. Bagaimana cara para Wali membawa Islam hingga dapat diterima masyarakat Indonesia yang kental dengan latar belakang budaya animisme-Hindu-Buddha. Sunan Kaijaga, salah satunya membawa dakwah dengan cara yang begitu unik dan ramah dengan mengedepankan kelemahlembutan tanpa pemaksaan dalam ajarannya. Metode ini dijalankan dengan model pengadopsian terhadap budaya sebelum datangnya Islam, sehingga kemudian lahirlah wayang dalam penyampaian dakwah Sunan Kalijaga. Pementasan wayang adalah gambaran kehidupan manusia dengan seluruh dimensinya mencakup keberadaan prinsip-prinsip metafisik dan khayal, seperti adanya tokoh Dewa yang diadopsi dari agama Hindu-Buddha disertai konflik dan permasalahan dalam cerita wayang tersebut beserta lakon-lakon yang memiliki karakter yang berbeda-beda sebagai perwakilan diri manusia dalam berkehidupan.

Makna filosofis itu juga hadir dari bentuk kedua tangannya. Tangan kanan Semar yang sering menghadap ke atas, bersamaan dengan tangan kiri menghadap ke bawah di belakang punggung. Di sini dapat diartikan Kiyai Semar ini dalam berpesan sangatlah bijaksana dengan tetap berkaca pada dirinya sendiri, atau sangat mengindari terjadinya pesan yang ia sampaikan tanpa banyak pertimbangan yang dilihat secara pribadi ataupun orang lain. Di sini menjadi daya tarik bagi banyak orang yang mengikuti perjalanan lakonnya untuk dapat mengambil hikmah-hikmah kehidupan yang ada di dalamnya, Tangan kiri yang kebawah itu, juga menunjukkan sifat rendah hati, ketika menyampaikan pesan tidak pernah Kiyai Semar bermaksud untuk menyombongkan diri.

 

Nilai-NILAI Kehidupan Semar

(4 falsafah kehidupan yang dipegang teguh oleh lakon wayang Semar ini) adalah :

1.     Manunggaling kawula Gusti, yaitu menyatunya seorang hamba dengan Tuhannya. Maksud dari pernyataan ini adalah usaha seorang hamba dalam menerapkan sifat-sifat ketuhanan yang telah ditransformasikan oleh Sang Pencipta yang menjadikan manusia tersebut seakan-akan menyatu dengan Tuhan, karena mempunyai sifat-sifat seperti Tuhan. Termasuk dalam berkehidupan ini, seorang hamba akan senantiasai menyertakan Allah di berbagai segi kehidupanya. Di sinilah akan sangat terasa peran dan keberaaan Tuhan di dalam kehidupan, terutama berimplikasi pada lahirnya rasa cinta dalam kehidupanyang didasari atas keberadaan Tuhan sebagai sosok Penguasa di dalam kehidupan manusia tersebut. Manunggaling kawula Gusti dapat pula diartikan sebagaimana seorang hamba bersikap terhadap tuannya. Yaitu, terutama ketika seorang hamba akan terlebih dahulu mengedepankan kehendak tuannya, dibandingkan dengan kehendaknya sendiri atau lebih mengutamakan kemauan Allah dibandingkan kemauanya sendiri. Di sini akan terjadi hukum timbal-balik, sebanyak apa pengorbanan seorang hamba terhadap tuanya, sebegitu pula seorang tuan akan mengutamakan hambanya. Begitu pula Tuhan akan memperhatikan hamba, sebesar seorang hamba mengutamakan diri-Nya; mengingat dan memperhatikan-Nya.

Kesesuaian tersebut dapat dilihat dari bacaan sholat yang selalu diucapkan :

 

إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Kesimpulanya, sebagai seorang hamba sudah sepantasnya mengabdikan seluruh kehidupanya kapada Allah, hingga seluruh pekerjaan yang dilakukanya beraliran ibadah kepada Allah.

2.     Sangkan Paraning Dumadi. Filsafat ini mengajarkan hakikat hidup manusia itu ‘dari mana dan mau ke mana;. Menurut orang Jawa, kehidupan ini dapat dibagi menjadi 3 tingkatan kehidupan yaitu alam Purwa (alam sebelum manusia dilahirkan), Madya (dunia), dan Wusana (alam kehidupan yang akan datang). Maka dari itu sering penganut kebatinan Jawa  mengibaratkan bahwa  Urip iku kaya wong mampir ngombe. Maksudnya kehidupan di dunia hanyalah sementara, dunia bukan asal kehidupan seseorang, juga bukan tujuan hidup seseorang. Maka dalam Islam manusia itu sesungguhnya adalah milik dan akan selalu kembali kepada Tuhan. Inilah yang sesungguhnya diajarkan dari kalimat Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Dalam tradisi kebatinan Jawa, banyak juga disimpulkan, “biarkan dunia berjalan apa adanya, ambil secukupnya untuk bekalmu”. Hal ini didasari pemahaman bahwa hidup ini masih akan beranjut setelah habis masa hidup di dunia. Sangat dikhawatirkan ketika hati seseorang begitu tertambat dalam kehidupan duniawi, akan membuat  jiwa manusia tersebut (nafs) tidak bisa merasakan ketenangan (mutmainnah) dan akan terus selalu mengejar kepuasan duniawi, padahal dalam surat al-Fajr dituliskan :

 

 يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ () ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

 

Jiwa atau nafs yang terbiasa kembali kepada Allah dengan jalan yang sesuai harapan penciptanya digambarkan sebagai jiwa yang tenang atau mutma’innah. Jiwa ini adalah jiwa yang mengerti asal dari kehidupanya sebagai hasil penciptaan Allah dan mengetahui kemana tujuan manusaia yaitu akhirat

3.     Sosok Semar adalah Kasedan jati, kafa bilmauti wa’idzun; cukuplah kematian sebagai nasehat. filosofi ini berisi tentang tuntunan hidup dan mati yang sempurna. Salah satu cara yang dapat dipenuhi dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan tuntunan tersebut adalah dengan cara melenyapkan ego dan mengikuti kehendak Allah semata. Dalam versi orang Jawa, untuk mengikuti kehendak dari Allah tersebut, manusia mesti menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan yang berpengaruh buruk. Salah satu contohnya adalah bagaimana cara dalam berbicara kepada orang tua.yang harus lembut dan sopan, walaupun mungkin ada sedikit pertentangan yang anak sampaikan pada orang tua. Dalam hal ini orang Jawa sangat meyakini adanya penerapan terminologi ‘kualat’, atau budaya hukum karma, yaitu adanya balasan sebagaimana perbuatan seseorang akan terjadi sebagaimana sesuai dengan apa yang dilakukanya sebelumnya.

4.     Memayu Hayuninng Bawana, atau memperindah keindahan dunia. Yang dimaksud dengan memperindah keindahan dunia adalah memaknai nilai kehidupan dan mempercantiknya dengan menanamkan kebaikan yang akan menghasilkan kebaikan pula di bumi. Sebagaimana dunia yang cantik ini, maka penduduknya juga harus cantik. Namun apabila dihuni oleh penduduk yang tidak cantik perilakunya atau kepribadianya, maka lambat laun dunia yang cantikpun akan menajdi rusak. Sebaliknya, dalam rangka mempertahankan kecantikan dunia itu, setiap orang wajib mengekang egoisme pribadi dan hawa nafsunya, sehingga tidak merusak dunia yang telah diciptakan sebegitu indah dari  berbagai seginya. Dalam menjaga keindahan dunia tersebut dapat dilakukan dengan cara melatih diri, atau niteni, membaca realita yang ada di sekitar dengan mengandalkan kepekaan atas sunatullah. Secara singkat, memayu hayuning bawana ini dapat diartikan sebagai upaya menanamkan kebaikan dan mengontrol kemaksiatan guna  menjaga keindahan dunia.

 

Prinsip Hidup Islami Semar Badranaya.

(Semar adalah Tajali Nur Muhammad)

Di antara sekian banyak tuntunan yang diajarkan Kiai Semar, berikut ini 12 prinsip hidup yang setidaknya dapat kita kaji dan ambil manfaatnya bagi kehidupan kita sebagai manusia Jawa, sekaligus umat Islam di Indonesia.

1.     Eling lan bekti marang Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Prinsip ini mengandung maksud bahwa manusia yang sadar akan dirinya hendaknya selalu mengingat dan memuja Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesempatan bagi dirinya untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini.

2.     Percoyo lan bekti marang Utusane Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Prinsip ini mengandung makna bahwa manusia sudah seharusnya menghormati dan mengikuti ajaran para Utusan Allah sesuai dengan ajarannya masing-masing, karena sudah pasti bahwa semua konsep para Utusan Allah tersebut adalah anjuran pada kebaikan.

3.     Setyo marang Khalifatullah lan Penggede Negoro.

Prinsip ini berarti bahwa setiap manusia yang tinggal di suatu wilayah, maka sudah selayaknya bahkan berkewajiban untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang dikeluarkan oleh para pemimpinnya yang baik, benar dan bijaksana.

4.     Bekti marang Bhumi Nusantoro.

Prinsip ini menekankan agar setiap manusia yang tinggal dan hidup di bumi Nusantara ini wajib dan wajar unuk merawat dan memperlakukan bumi Nusantara ini dengan baik, sebab bumi inilah yang telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya.

5.     Bekti marang Wong Tuwo.

Prinsip ini mengingatkan setiap manusia bahwa dirinya tidak serta-merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantaraan Ibu dan Bapaknya. Maka hendaknya hormatilah, muliakanlah keduanya yang telah memelihara dan membesarkan kita dengan kasih sayang dan pengorbanan tulusnya.

6.     Bekti marang Sedulur Tuwo.

Prinsip ini mengajak kita agar senantiasa sadar diri untuk menghormati saudara yang lebih tua dari sisi umur dan lebih mengerti daripada kita dari sisi ilmu, pengetahuan dan kemampuannya.

7.     Tresno marang kabeh Kawulo Mudo.

Prinsip ini mengajari kita agar selalu menyayangi mereka yang lebih muda, memberikan bimbingan dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kita kepada mereka, dengan harapan yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

8.     Tresno marang Sepepadaning Manungso.

Prinsip ini mengajarkan satu pemahaman substansial bahwa sejatinya semua manusia itu sama, meski berbeda warna kulit, bahasa, budaya dan agamanya. Maka sudah selayaknya kita hormati sesama manusia dengan kesadaran bahwa mereka semua memiliki harkat dan martabat yang sama sebagaimana halnya kita juga.

9.     Tresno marang Sepepadaning Urip.

Prinsip ini menuntun kita agar tak hanya menghormati sesama manusia, melainkan juga semua makhluk ciptaan-Nya. Sebab semua makhluk yang diciptakan Allah adalah makhluk yang keberadaannya maujud karena kehendak Allah yang Kuasa. Maka dengan menghormati semua ciptaan Allah, sama artinya kita telah menghargai dan menghormati Allah sebagai penciptanya.

10. Hormat marang Kabeh Agomo.

Prinsip ini menekankan sikap toleransi, dalam artian hendaknya kita hormati semua agama atau aliran kepercayaan yang ada, dan otomatis termasuk juga para penganutnya.

11.   Percoyo marang Hukum Alam.

Prinsip ini menggugah kesadaran kita bahwa selain menurunkan kehidupan, Allah juga telah menurunkan Hukum Alam sebagai hukum sebab-akibat. Maka disini berlaku kaidah alamiah bahwa barang siapa yang menanam maka dia pula yang akan menuai hasilnya. Siapa yang berbuat kebaikan, pasti akan berbuah kebaikan, sebaliknya bagi mereka yang berbuat jahat, sudah pasti akan tertimpa laknat. Inilah yang dalam kepercayaan manusia Jawa kadang disebut sebagai Hukum Karma.

12. Percoyo marang Kepribaden Dhewe tan Owah Gingsir.

Prinsip ini menanamkan keinsyafan bahwa setiap manusia ini pada dasarnya rapuh dan hatinya berubah-ubah, maka hendaklah setiap diri kita menyadarinya agar dapat menempatkan diri di hadapan Allah dan selalu mendapat perlindungan dan rahmat-Nya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

 

SEMAR VERSI SUNAN KALIJAGA

Pendekatan ajaran Islam dalam kesenian wayang juga tampak dari nama-nama tokoh punakawan. Ada yang menyebutkan, Semar berasal dari kata Sammir yang artinya siap sedia. Namun ada pula yang meyakini bahwa kata Semar berasal dari bahasa Arab Simar yang berarti paku. Maksudnya adalah seseorang harus memiliki iman yang kuat dan kokoh laksana paku yang menancap.

Lalu, ada yang berpendapat, Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna kebaikan atau kebagusan. Versi lain meyakini, Nala Gareng diadaptasi dari kata Nala Qariin. Orang Jawa melafalkanya menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman. Seorang Muslim harus pandai mencari banyak teman untuk diajak menuju jalan kebaikan.

Tokoh Petruk, yang berasal dari kata fat-ruuk yang berarti tinggalkan, maksudnya seseorang harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak layak disembah kecuali Allah semata. Tokoh Bagong, yang berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Maksudnya seseorang harus memberontak ketika melihat kedzaliman di hadapannya.

Sedangkan Dalang, yang berperan sebagai sutradara dibalik semua pertunjukan wayang itu berasa dari kata dalla yang artinya menunjukkan. Dalam hal ini, seorang Dalang adalah orang yang menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa seni dan kebudayaan bukan musuh dari agama. Sunan Kalijaga telah membuktikan itu, dengan keberhasilanya dalam memasukkan unsur ajaran Islam ke dalam tradisi seni dan kebudayaan, sehingga menjadikan sebuah perpaduan yang apik dan harmonis.

Sunan Kalijaga memberi pelajaran kepada kita, bahwa untuk membujuk seseorang tidak harus dengan cara serta merta. Karena jika menyerang pendirian mereka, maka mereka akan menjauh. Maka ikutilah mereka sambil mempengaruhinya.

Semar ternyata ciptaan Sunan Kalijaga untuk media dakwah empat karakter jenaka dalam pewayangan ini merupakan ciptaan Sunan Kalijaga yang awalnya digunakan sebagai sebuah metode dakwah dalam menyebarkan Islam.

Penggubahan wayang yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga itu terjadi kira-kira tahun 1443 M. Para Walisongo bahkan menciptakan gamelannya.

Untuk memainkan wayang dan gamelannya itu para Wali Songo mengarang cerita yang bernapaskan nila-nilai keislaman.

Adapun pelaku cerita dalam pewayangan yang terkenal hingga saat ini adalah cerita tentang Punakawan Pandawa (empat tokoh jenaka pengiring Ksatria Pandawa Lima) terdiri dari Semar, Petruk, Gareng dan Bagong.

Keempat pelaku yang dimunculkan para Wali Songo ini mengandung falsafah yang amat dalam, di antaranya sebagai berikut :

1.     Semar, dari bahasa Arab Simaar yang artinya Paku. Perlambang bahwa kebenaran agama Islam adalah kokoh, sejahtera bagaikan kokohnya paku yang tertancap yakni Simaaruddunya. Ada yang menyebutkan, Semar berasal dari kata Sammir yang artinya siap sedia. Namun, ada pula yang meyakini bahwa kata Semar berasal dari bahasa arab Ismar.

Contohnya seperti :

Ø Istambul dibaca Setambul.

Ø Ismar berarti paku. Tak heran, jika tokoh Semar selalu tampil sebagai pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada.

Ø  Ia selalu tampil sebagai penasihat.

2.     Lalu, ada yang berpendapat, Gareng berasal dari kata Khair yang bermakna kebaikan atau kebagusan. Versi lain meyakini, Nala Gareng diadaptasi dari kata Naala Qariin. Orang Jawa melafalkannya menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman. Hal itu sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya umat agar kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

1.     Bagaimana dengan Petruk.

Ada yang berpendapat, Petruk berasal dari kata Fatruk yang berarti meninggalkan. Selain itu, ada juga yang berpendapat kata Petruk diadaptasi dari kata Fatruk kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf, Fat-ruk kulla maa siwalLaahi (tinggalkan semua apa pun yang selain Allah).Wejangan itu menjadi watak para aulia dan mubalig pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong, artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang, papar tulisan itu.

2.     Sedangkan Bagong, diyakini berasal dari kata Bagho yang artinya lalim atau kejelekan. Pendapat lainnya menyebutkan, Bagong berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yakni, berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan.

Seperti yang sudah kita ketahui jika misi Sunan Kalijaga tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga mendidik manusia agar lebih beradab. Oleh karenanya, melalui tokoh Semar, Sunan Kalijaga menyampaikan tiga nasihat, yaitu.

1.     Ojo ngaku pinter yen durung biso nggoleki lupute awake dewe. Arti dari kalimat di atas adalah Jangan mengaku pintar jika belum bisa mencari kesalahan diri sendiri. Kebanyakan manusia memang suka menghakimi, merendahkan, menghina manusia lain tanpa berkaca terlebih dahulu, apakah dirinya sudah sempurna atau belum? Karena sesungguhnya, jika kita berkaca, introspeksi diri, pasti ada banyak kesalahan dan kekeliruan yang kita temukan dalam diri kita sendiri.

2.     Ojo ngaku unggul yen ijeh seneng ngasorake wong liyo.

Nasihat kedua adalah ‘Jangan mengaku unggul jika masih senang merendahkan orang lain’. Kita bisa lihat sendiri, berapa banyak orang yang menghina sesama. Enggak usah jauh-jauh deh, dalam berbagai media sosial kerap kali didapati orang yang menghujat dengan mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas seolah menganggap bahwa dirinya yang paling unggul dan hebat. Nah, melalui lakon Semar, Sunan Kalijaga ingin menyampaikan bahwa setiap manusia itu punya kedudukan sama, tak ada yang lebih unggul dari yang lain. Di mata Tuhan pun, semua sama, kecuali amal perbuatan mereka.

3.     Ojo ngaku suci yen durung biso manunggal ing Gusti.

Nasihat ketiga, masih berkaitan dengan poin satu dan dua, ‘Jangan mengaku suci jika masih belum bisa menyatu dalam Gusti’. Sejatinya tak ada memang yang namanya manusia suci. Semua pasti punya kesalahan dan dosa, bahkan para Nabi sekalipun juga pernah melalukan kesalahan. Hanya saja, saat khilaf kita bisa kembali kepada sang pencipta dan meminta ampun atas kesalahan yang sudah kita perbuat.

MANUMAYASYA  DALAM KONTEK SEMAR

Manumayasa dilihat sari sudut pandang penjabaran sifat dan karakter nama Manumayasa.

1.     Orang yang namanya Manumayasa adalah orang yang berani, cerdas, dan pekerja keras.

2.     Orang ini juga seorang teman yang setia.

3.     Ia memberikan banyak nasehat yang baik dan menjadi pasangan yang sangat dapat diandalkan.

4.     Ketika terlibat dalam suatu hubungan, ia cenderung memberikan segalanya.

5.     Jika ada ketidaksesuaian antara nama dan perilaku dalam kepribadian di atas, tentu itu adalah hal yang wajar.

6.     Sifat dan karakter di atas kemungkinan adalah menurut studi ahli kepribadian, bisa jadi benar atau salah.

7.     Nama Manumayasa memang tidak mencerminkan kualitas pribadinya, namun memiliki nama yang bagus akan membantu seseorang menjadi lebih percaya diri, dan lebih bersemangat untuk menjadi pribadi yang positif, serta selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat untuk banyak orang.

8.     Kepribadian nama Manumayasa dalam numerologi.

Nama Manumayasa mempunyai jumlah angka :

1)    M = 13

2)    A = 1

3)    N = 14

4)    U = 21

5)    M = 13

6)    A = 1

7)    Y = 25

8)    A = 1

9)    S = 19

10)           A = 1

Jumlah angka untuk nama Manumayasa adalah 109

 

Menurut studi numerologi, nama Manumayasa mempunyai  :

1.     Kepribadian Pemrakarsa.

2.     Pelopor.

3.     Pemimpin.

4.     Bebas.

5.     pekerja keras.

6.     Individualis (mandiri).

 

Nama yang terkait dengan Manumayasa

1.     Abdul Munim (Pria). Dalam bahasa Islami artinya Dari Asmaul husna, Hamba Allah yang memberi nikmat.

2.     Amenemhat          (Pria).  Dalam bahasa Mesir artinya Amun adalah yang paling utama.

3.     Amenemhet (Pria). Dalam bahasa Mesir artinya (bentuk lain dari amenemhat) amun adalah yang paling utama.

4.     Eminem (Pria). Dalam bahasa karakteristik artinya penuh gairah. senang di rumah, pekerja keras, artistik, memiliki selera yang bagus, tidak dibuat-buat dan penuh ide, penuh semangat,  mudah beradaptasi, mendambakan keamanan keuangan.

5.     Arti bahasa lain :

a.     Manami. (Wanita). Dalam bahasa Jepang artinya Cinta dan kecantikan.

b.     Manami (Wanita). Dalam bahasa Jepang artinya Mencintai indah.

c.      Manampiring (Wanita). Dalam bahasa Manado artinya Membuat jalan.

d.     Minami (Wanita). Dalam bahasa Jepang artinya Cinta dan kecantikan.

e.      Mingmei (Wanita). Dalam bahasa Tionghoa artinya Pintar lagi cantik.

f.       Mingmei (Wanita). Dalam bahasa Tionghoa artinya Pintar, cantik.

g.     Manimporok (Pria). Dalam bahasa Manado artinya Ke puncak.

h.     Manumakalii (Pria). Dalam bahasa Hawai artinya Burung kecil.

i.       Montmorency (Pria). Dalam bahasa Sejarah artinya Nama dari periode kebangsawanan normandia, dari nama sebuah tempat di seine-et-oise. berasal dari bahasa perancis kuno mont 'bukit' + maurentius (nama gallo-romawi).

Resi Manumayasa dikenal pula dengan nama Kanumayasa atau Kariyasa. Manumayasa lahir di Kahyangan Daksinageni (Kahyangannya Bathara Brahma). Ia putra kedua dari empat bersaudara putra Bathara Parikenan dengan Dewi Bramaneki, yang berarti cucu buyut Bathara Wisnu dan Bathara Brahma. Adapun ketiga saudaranya yang lain adalah : Dewi Kanika, Resi Manobawa dan Resi Paridarma.

Manumayasa turun ke Marcapada dengan tugas memelihara ketentraman dan kesejahteraan umat manusia. Atas seijin Prabu Basukesti, Raja negara Wirata, Manumayasa mendirikan padepokan Retawu di gunung Saptaarga. Ia menikah dengan Dewi Kaniraras/Dewi Retnowati, dan memperoleh tiga orang putra, yaitu :

1.     Bambang Manudewa.

2.     Bambang Sakutrem.

3.     Dewi Sriyati.

Bersama Sakutrem, Resi Manumayasa menjadi jago Kadewatan membinasakan Prabu Kalimantara, Arya Dadali dan Arya Sarotama, tiga raksasa dari negara Nusahantara yang mengamuk di Suralaya karena keinginannya memperistri Dewi Irimirin ditolak Bathara Guru.

Jasad ketiga raksasa tersebut berubah wujud menjadi Kitab/Jamus Kalimasada, Panah Hrudadali dan Panah Sarotama. Sementara Paksi Banarasa yang karena kesalahan paham menyerang Resi Manumayasa, ikut pula menemui ajalnya dan berubah wujud menjadi Payung Tunggulnaga. Resi Manumayasa juga mendapat anugrah Dewa berujud panah sakti bernama Pasopati.

Setelah usia lanjut, Resi Manumayasa menyerahkan Padepokan Retawu kepada Sakutrem. Ia kemudian tinggal di pertapaan Paremana (Gunung yang subur), salah satu dari tujuh puncak gunung Saptaarga. Resi Manumayasa meninggal dalam usia sangat lanjut. Jenasahnya dimakamkan di Pertapaan Paremana.

Resi Manumanasa adalah nama seorang tokoh pewayangan yang dikenal sebagai leluhur para Pandawa. Tokoh ini tidak terdapat dalam naskah Mahabharata karena merupakan asli ciptaan pujangga Jawa. Ia dianggap sebagai pendiri pertapaan Saptaarga yang di kemudian hari diwarisi oleh keturunannya yang bernama Resi Wyasa.

Manumanasa adalah putra Prabu Parikenan raja Kerajaan Gilingwesi dan Dewi Brahmaneki putri Kerajaan Wirata. Ia memiliki seorang kakak perempuan bernama Kaniraras, dan dua orang adik laki-laki bernama Manonbawa dan Paridarma.

Nama asli Manumanasa sewaktu lahir adalah Raden Kanwa. I

a kemudian diadopsi oleh Prabu Basupati, kakak ibunya yang menjadi raja Wirata. Ia dipersaudarakan dengan Basumurti dan Basukesti, putra-putra Basupati.

Kanwa pernah dijadikan jago para dewa untuk menumpas musuh kahyangan. Sejak itu namanya diganti manjadi Kaniyasa. Setelah ayahnya terbunuh oleh serangan Prabu Srikala raja Medangkamulan, ibu dan adik-adiknya pindah pula ke Negeri Wirata, sementara kakaknya, yaitu Kaniraras telah menikah dengan seorang pembuat pusaka bernama Empu Kanomayasa.

Rupanya Kaniyasa tidak tertarik dengan kehidupan istana. Ia memilih membangun pertapaan di daerah Saptaarga, yaitu sebuah pegunungan yang memiliki tujuh buah puncak.

Di sana ia menjadi pertapa bernama Manumanasa.

Pada suatu hari Manumanasa bertemu seseorang bertubuh bulat bernama Janggan Smarasanta yang sedang dikejar-kejar oleh dua ekor harimau betina, berwarna merah dan putih.

Manumansa kemudian memanah kedua binatang tersebut sehingga musnah dan berubah wujud menjadi dua orang bidadari.

Keduanya mengaku sebagai putri Batara Hira, masing-masing bernama Kanistri dan Kaniraras.

Mereka berterima kasih telah dibebaskan dari kutukan.

Keduanya pun siap melayani keperluan Manumanasa.

Manumanasa mengambil Kaniraras sebagai istri.

Karena kakaknya juga bernama Kaniraras, maka Manumanasa pun mengganti nama istrinya menjadi Retnawati.

Sementara itu Kanistri diserahkan kepada Smarasanta dan biasa dipanggil Kanastren.

Sejak saat itu, Smarasanta mengabdi di Pertapaan Saptaarga.

Namanya biasa disingkat Semar.

Di dalam serat Darmo gandul, Manumanasa dikatakan sebagai seorang wiku (Bhikkhu).

Retnawati akhirnya mengandung putra Manumanasa. Ia mengidam makan buah Sumarwana. Manumansa berhasil menemukan pohon Sumarwana namun dijaga oleh seorang makhluk Gandharwa bernama Satrutapa. Satrutapa bersedia menyerahkan buah Sumarwana asalkan ia diizinkan menitis kepada putra yang dikandung Retnawati.

Manumanasa setuju.

Satrutapa pun melesat memasuki kandungan Retnawati.

Ketika tiba saatnya, Retnawati akhirnya melahirkan seorang putra yang diberi nama Satrukem.

Beberapa tahun kemudian ia melahirkan lagi seorang putra bernama Sriati, dan disusul dengan kelahiran Manumadewa.

Satrukem kelak menjadi resi mewarisi pertapaan ayahnya, sedangkan Sriati menjadi raja dan mendirikan Kerajaan Mandaraka.

Sebagaimana disebutkan di atas, Resi Manumanasa menikah dengan Batari Kaniraras, yang namanya diganti menjadi Retnawati.

Dari perkawinan itu lahir tiga orang putra bernama Satrukem, Sriati, dan Manumadewa. Manumanasa memiliki kakak ipar sekaligus pembantunya, bernama Semar.

Ia juga memiliki cantrik atau murid berwujud kera putih bernama Supalawa. Supalawa ini terkenal sakti dan sering menumpas para raksasa yang mencoba mengganggu pertapaan.

Musuh besar Manumanasa bernama Resi Dwapara.

Ia seorang pendeta yang berhati licik, penuh iri dan dengki.

Antara lain, Dwapara pernah mengadu domba Manumanasa dengan Partawijaya, mertua cucunya, Sakri. Dalam sebuah adu kesaktian akhirnya Dwapara berhasil ditewaskan oleh Supalawa.

Manumanasa merupakan seorang resi suci yang berhasil mencapai moksa. Ia sempat terlebih dahulu mewariskan Pertapaan Saptaarga kepada Satrukem, putra sulungnya.

Ketika Manumanasa hendak naik ke kahyangan, ia dihalangi Semar yang mengaku kesepian jika berpisah dengannya.

Padahal saat itu Semar sudah didampingi dua orang anak angkat bernama Gareng dan Petruk.

Manumanasa pun menjawab bahwa Semar tidak akan kesepian karena bayangannya akan selalu menyertainya. Seketika itu pula bayangan Semar tercipta menjadi seorang laki-laki bertubuh bulat yang mirip dengannya.

Manumanasa memberinya nama Bagong.

Versi lain menyebut Bagong diciptakan dari bayangan Semar oleh Sang Hyang Tunggal.

Sang Hyang Girinata, berkehendak akan menjodohkan bidadari Dewi Retnawati dan resi Manumayasa, Dewi Kanastri dan Janggan Semarasanta. Menyadari bahwasanya Resi Manumayasa belum berkeinginan akan kimpoi, kedua bidadari diganti perwujudanya dengan bentuk dua ekor harimau, kepada sang Hyang Narada diserahkan agar segala kehendak sang Hyang Girinata terlaksana.

Di tengah hutan belantara, Resi Manumayasa dan Janggan Semarasanta, yang tengah berkelana, bertemu dengan kedua harimau jadian tersebut, akhirnya harimau dapat dibunuh, sehilangnya kedua harimau, tampak kedua bidadari tersebut, resi Manumayasa mengejarnya. Sang Hyang Narada yang merasa berhasil dalam mempertemukan resi Manumayasa dan Dewi Retnawati, Janggan Semarasanta dan Dewi Kanastri, segera mendekati sang resi, seraya berkata, , Resi Manumayasa, dan kau Janggan Semarasanta, sudah takdir dewa, bahwasanya bidadari-bidadari, Dewi Retnawati menjadi jodoh Manumayasa, dan Dewi Kanastri dengan Semarasanta, terimalah.

Pada suatu hari Dewi Retnawati mengajak suaminya Resi Manumayasa, untuk berkelana mengelilingi wukir Retawu, ditengah-tengah hutan belantara, Sang Dewi melihat buah Sumarwana, berkeinginan sekali memakannya, kepada sang Resi dimintanya memetik.

Kocap kacarito, buah Sumarwana itu milik gandarwa Satrutapa, sesuai dengan sabda dewa yang diterimanya, hai Satrutapa, jika istrimu menginginkan mempunyai anak, makanlah buah Sumarwana itu, maka ditungguilah buah Sumarwana itu sampai saat dapat dipetik dan dimakan.

Mengetahui bahwasanya buah Sumarwana telah hilang, berkatalah gandarwa Satrutapa kepada Resi Manumayasa, hai sang resi, jika kelak istrimu melahirkan anak lelaki, namailah Sakutrem hilanglah gandarwa Satrutapa, bersatu jiwa dengan Dewi Retnawati

Datanglah kemudian Prabu Karumba, raja raksasa dari Pringgadani dengan segenap prajuritnya, untuk menggempur wukir Saptaarga, dan menawan resi Manumayasa, sesuai perintah pamandanya raja Basumurti, dari Wirata, yang diperkirakan akan memberontak terhadap kerajaan pamandanya. Prabu Karumba mati oleh resi Manumayasa, demikian pula semua prajuritnya tewas.

 

MANUMAYASA  RABI

3.     Jejer Prabu Basu Murti nata ing Wiratha, anuju mios aning sitinggil binatha rata, ingkang mungging ngarsa ingkang rayi, Raden Basu Kesthi, Patih Jati Kondho, para punggawa Arya Panurta, Arya Walakas, ginem Sri Nata daat kaweken ing driya, mireng pawartos bilih putra pulunan , nama Resi Manu Mayasa ing wukir Sapta Arga araraton,  kathah para nata ing manca praja ingkang sami puruhita, kawarti badhe andaga karaton Wiratha nedya madeg ratu piyambak.

4.     Raden Basu Kesthi langkung anduparakaken wartos makaten wau. Anangeng Sri Nata adreng angyektos aken, lajeng dawuh dateng Patih Jati Kondho, kadawuhan anduta punggawa salah satunggal dateng Prabu Karomba, nata yaksa ing Pringgondani.Supados animballana Resi Manu Mayasa, lajeng bibarran.                        

Manu mayasa

Manu  =manungsa , seseorang                           

Yasa   = usaha ( membawa ajaran yang dianggap baru )

Artinya : ada orang yang dianggap mengajarkan islam yang dianggap ajaran baru,  dia kemudian terkenal karena ajaran agamanya tetap berkembang meski mendapat tantangan yang sangat besar dan dia juga dituduh mendirikan negara dalam negara.

 

Gunung Rahtawu Petilasan Para Tokoh Pewayangan

Salah satu gunung di gugusan gunung di daerah Kota Kudus-Jawa Tengah, mungkin namanya terdengar asing, khususnya bagi orang dari luar Jawa. Namun,  di balik itu tersimpan keindahan budaya tanah  Jawa yang teramat kental dan  mistik.

Gunung ini terkenal dengan sebutan Wukir Rahtawu (Puncak 29).

Rahtawu sebenarnya adalah nama desa di lereng Gunung Muria masuk Kecamatan Gebog itu. Bagi masyarakat Kudus dikenal banyak menyimpan misteri. Sekitar tiga dasa warsa yang lalu (lebih 30 tahun-Red), Rahtawu merupakan sebuah desa yang sangat terisolir. Sebab, belum ada jalan poros desa. Roda empat pun tak bisa menuju ke desa itu, termasuk angkudes. Satu-satunya jalan adalah lewat jalan setapak. Pendatang harus rela berjalan kaki sekitar lima kilometer mulai dari Desa Menawan, dengan tekad gugur gunung, jalan menuju desa tersebut sudah dilebarkan, sehingga Rahtawu menjadi seperti sekarang ini. Kini, meskipun lokasinya tidak mudah dicapai, Rahtawu mempunyai daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka melakukan ritual ziarah.

Kawasan Rahtawu banyak menyimpan petilasan dengan nama-nama tokoh pewayangan leluhur Pandawa.

Sebut saja petilasan :

1.     Eyang Sakri.

2.     Lokajaya.

3.     Pandu.

4.     Palasara.

5.     Abiyoso.

6.     Selain itu di sana juga ada kawasan yang diberi nama Jonggring Saloka dan Puncak Songolikur. Petilasan ini banyak menarik minat orang untuk datang berziarah.

Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (darah yang bercecer). Menurut mitos, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi Manumayasa sampai kepada Begawan Abiyoso yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa. Menurut cerita babad dan parwa, konon leluhur raja-raja Jawa merupakan keturunan  dinasti Bharata/para shangyang. Hingga sekarang banyak sekali tokoh-tokoh pewayangan yang petilasannya  masih dirawat oleh penduduk sekitar. Bahkan, banyak orang–orang dari luar Kudus (Jateng ) yang berdatangan untuk menikmati  suasana pegunungan dan  mistik yang ada di gunung tersebut. Tidak  salah kalau orang -orang yang  suka mistik terutama yang beraliran kejawen, berdatangan ke gunung Rahtawu, karena memang dari lereng gunung sampai puncak gunung itu berjajar banyak sekali petilasan–petilasan dari para tokoh pewayangan yang disucikan dan disebut eyang oleh penduduk sekitar.

Nama–nama petilasan para tokoh pewayangan yang ada di gunung Wukir Rahtawu, antara lain :

1.     Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu.

2.     Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloko, dukuh Semliro, desa Rahtawu.

3.     Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak gunung Abiyasa, ada juga yang menyebut Sapta Argo.

4.     Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng gunung Songolikur, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya. Eyang Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung Sangalikur sebelah timur.

5.     Eyang Lokajaya (Guru Spiritual Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng Lokajaya  nama samaran Sunan Kalijaga (sebelum bertaubat), di Rahtawu.

6.     Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun Semliro.

Memang didaerah rahtawu  peradaban Hindu, budha tidak tampak jelas karena tidak ditemukan candi/arca yang sebagai mana ditemukan di daerah lain yang mempunyai peradaban hindu/budha Yang ada hanyalah petilasan-petilasan batu datar yang merupakan bekas tempat bersemedinya para  suci. Ada satu lagi yang aneh dari  kebudayaan warga sekitar, meskipun semua petilasan yang ada di Wukir Rahtawu identik  dengan para tokoh Pewayangan (Mahabarata Hindu), tapi di sana sangat ditabukan untuk mengadakan pagelaran wayang.  Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan  dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut.

 

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)