HAWA NAFSU

0

Hawa nafsu

 

Hawa nafsu adalah sebuah perasaan atau kekuatan emosional yang besar dalam diri seorang manusia; berkaitan secara langsung dengan pemikiran atau fantasi seseorang. Hawa nafsu merupakan kekuatan psikologis yang kuat yang menyebabkan suatu hasrat atau keinginan intens terhadap suatu objek atau situasi demi pemenuhan emosi tersebut.

Dapat berupa hawa nafsu untuk pengetahuan, kekuasaan, dan lainnya,  namun pada umumnya dihubungkan dengan hawa nafsu seksual.

 

NAFSU SEKSUAL

Persetubuhan atau hubungan seksual artinya secara prinsip adalah tindakan sanggama yang dilakukan oleh manusia, tetapi dalam arti yang lebih luas juga merujuk pada tindakan-tindakan lain yang sehubungan atau menggantikan tindakan sanggama, jadi lebih dari sekadar merujuk pada pertemuan antar alat kelamin lelaki dan perempuan.

Persetubuhan mungkin didahului dengan percumbuan yang menyebabkan gairah pada pasangan, menyebabkan penis mengalami ereksi, dan pelumasan alami pada vagina.

Untuk memulai sebuah persetubuhan, penis yang telah ereksi dimasukkan ke dalam vagina dan salah satu pasangan atau keduanya menggerakkan pahanya untuk membuat penis bergerak maju dan mundur di dalam vagina dan menghasilkan gesekan, tanpa sama sekali mengeluarkan penis secara penuh. Dengan demikian, mereka merangsang diri sendiri maupun pasangannya hingga orgasme dan ejakulasi diperoleh. Penetrasi dengan penis juga dikenal dengan intromission atau dengan nama Latin immissio penis. Istilah penetrasi digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana alat kelamin pria dimasukkan ke dalam vagina. Hal ini tidak selamanya menjadi ritual yang wajib untuk mencapai kesenangan dan kenikmatan dalam berhubungan seks. Aktivitas seksual tanpa melakukan penetrasi biasanya dilakoni oleh kaum remaja dengan cara masturbasi sehingga mengeluarkan sperma.

 

MENURUT ISLAM

Hawa nafsu terdiri dari dua kata :

1.     Hawa.

2.     Nafsu .

Dalam bahasa Melayu, nafsu bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan kata hawa (hawa nafsu), biasanya dikaitkan dengan dorongan hati yang kuat untuk melakukan perkara yang tidak baik. Adakalanya bermakna selera, jika dihubungkan dengan makanan.

NAFSU SYAHWAT

Nafsu syahwat pula berarti keberahian atau keinginan bersetubuh.

Ketiga perkataan ini (hawa, nafsu dan syahwat) berasal dari bahasa Arab :

1.     Hawa (sangat cinta; kehendak).

2.     Nafsu  (roh, nyawa, jiwa, tubuh, diri seseorang, kehendak, niat; selera, usaha).

3.     Syahwat (keinginan untuk mendapatkan yang lazat (nikmat), berahi).

Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia, yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang.

Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut.

 

Menurut Kekristenan

Dalam kitab suci Perjanjian Baru bahasa Indonesia terjemahan LAI, ditemukan bahasa Yunani (sesuai yang tertulis di Septuaginta) diterjemahkan menjadi keinginan yang tidak berhubungan dengan seksual. Dan juga dalam banyak terjemahan bahasa Inggris: desire, covet, misalnya pada ASV. Beberapa contohnya yaitu:

Matius 13:17: Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.

Lukas 22:15: Kata-Nya kepada mereka: "Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita.

Kisah Para Rasul 20:33: Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga.

Secara khusus dalam bahasa Yunani terkait dengan keinginan seksual (bahasa Inggris: lust) misalnya pada Matius 5:28:

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya."

Kemungkinan hal tersebut yang menyebabkan hawa nafsu sering dikaitkan dengan keinginan seksual, baik di Indonesia maupun di banyak negara berbahasa Inggris.

 

Katolik

Hawa nafsu berasal dari yang digunakan Santo Hieronimus untuk menerjemahkan berbagai dosa dalam kitab suci (Vulgata), termasuk kemabukan dan hasrat seksual berlebih. Santo Gregorius Agung kemudian menempatkan hawa nafsu (bahasa Inggris: luxury) dalam salah satu dari tujuh dosa pokok, dan mempersempit cakupannya menjadi keinginan yang tidak teratur.Lalu Santo Thomas Aquinas dalam Summa Theologia turut menegaskan bahwa hawa nafsu memang termasuk dosa pokok; sambil mengutip kata-kata St Isidorus dari Sevilla, St Thomas mengaitkan hawa nafsu sebagai kesenangan seksual yang merusakkan pikiran manusia.[6] Perlu diketahui bahwa Alkitab Douay Rheims, yang dahulu umum digunakan kalangan Katolik berbahasa Inggris, menggunakan kata luxury bukan lust.

Secara lengkap Katekismus Gereja Katolik (KGK) #2351 mendefinisikan hawa nafsu (bahasa Inggris: lust) sebagai suatu keinginan yang tidak teratur atau kenikmatan berlebihan atas kepuasan seksual, apabila kepuasan tersebut dikejar bagi dirinya sendiri dengan melepaskannya dari tujuan prokreasi (demi kelahiran manusia baru) dan persatuan dalam cinta kasih suami- isteri (Tobit 8:4-9) --KGK #2361.

Ungkapan kebiasaan buruk hawa nafsu menghasilkan dosa berat (Lihat: Bobot Dosa) melawan kemurnian yaitu: perzinahan,, perselingkuhan, pornografi, pelacuran, perkosaan, dan tindakan homoseksual (yang merupakan dosa adalah tindakan/perbuatan seksualnya, bukan kecenderungan seksualnya).

Dengan lebih tegas St Thomas Aquinas mengatakan bahwa setiap perbuatan yang dilakukan dengan hawa nafsu termasuk dalam dosa berat, termasuk ciuman atau sentuhan yang dilakukan dengan penuh gairah dan nafsu.

Karena kadar dosa yang berat, mutlak dibutuhkan penyesalan dan rahmat dari Sakramen Pengakuan Dosa sebagai langkah awal kesembuhan dari keterikatan hawa nafsu (KGK #1856), sehingga kemudian seseorang dapat menyambut Komuni Kudus yang memampukannya untuk berjuang lebih baik dalam mengatasi bahaya dosa berat di kemudian hari (KGK #1395). Santo Paulus mengatakan bahwa hawa nafsu termasuk dalam perbuatan atau keinginan daging (Galatia 5:19), sehingga perjuangan mengatasi hawa nafsu membutuhkan keutamaan kemurnian berupa pembersihan hati dan pengendalian diri (KGK #2517).

 

HADITS

Berdasarkan hadits baginda Muhammad Saw bahwa manusia itu dilahirkan oleh Allah Swt dengan fitrahnya. Setiap manusia dilahirkan berdasarkan fitrah. Fitrah yang dimaksud adalah fitrah tauhid. Fitrah yang dimaksud bahwa kita dilahirkan dalam kondisi sudah bertauhid. Hal ini dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 172. Ketika Allah Swt mengambil persaksian dari kita bahwa kita diminta untuk bersaksi oleh Allah.

Apakah Aku ini Tuhanmu ?

Kita semuanya, umat manusia mengatakan, Betul wahai Allah, Engkau adalah Tuhan kami.” Inilah fitrah kita, yang kita persaksikan di alam ruh, sebelum lagi kita dilahirkan oleh orang tua kita. Maka kita sudah bersaksi kepada Allah, bahwa Allah adalah Rabb kita. bahwa Allah adalah Tuhan yang harus disembah.

Fitrah yang bermutu adalah fitrah ketika dia mempersaksikan Allah Swt sebagai Tuhannya. Namun ketika kita sudah dilahirkan di permukaan bumi, maka Allah Swt memberikan potensi-potensi buruk pada diri kita dan begitulah pada setiap diri manusia. Di dalam Al-Qur’an potensi buruk itu dibagi menjadi dua. Ada potensi buruk yang berasal dari diri kita sendiri, yang tidak terlepas dari diri kita selama hayat dikandung badan. Maka selama itu pula potensi buruk itu ada pada diri kita. Dan ada potensi buruk yang di luar diri kita, senantiasa akan menggerogoti diri kita.

Potensi buruk yang berasal dari diri kita sendiri oleh Al-Qur’an disebutkan dengan tiga istilah. Istilah yang pertama adalah istilah An-Nafs, ini yang dijelaskan oleh Allah di dalam surat Yusuf yang artinya, “Sesungguhnya nafsu itu menyuruh manusia berada pada perbuatan buruk.” Lalu istilah yang kedua Allah sebut dengan istilah syahwat, “Pada manusia itu dihiasi oleh Allah Swt kecintaan kepada syahwat, terlalu cinta kepada istri, kepada anak, kepada harta benda,” dan lain sebagainya. Terlalu cinta itu tidak baik dan itu akan menggerogoti fitrah kita. Selanjutnya istilah yang ketiga yang disebutkan oleh Allah Swt adalah istilah hawa,

Bagaimana menurut kalian orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan orang yang seperti ini pasti akan Allah sesatkan.

Jadi, orang yang memperturutkan hawa nafsunya, orang yang memperturutkan kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada pada dirinya. Itu pasti akan Allah sesatkan, orang yang Allah sesatkan tidak akan pernah dia mendapatkan petunjuk. Kalau seperti itu, satu keniscayaan pada diri kita untuk mampu meredam, menekan, mengendalikan hawa nafsu yang ada pada diri kita. Ketika kita mampu mengendalikan itu maka Allah Swt akan memberikan hidayah kepadanya.

Di dalam Al-Qur’an surat Al-Ankabut ayat 69 Allah Swt menyatakan yang artinya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami.” Ulama tafsir sepakat untuk menyatakan mujahadah/jihad yang dimaksud adalah memerangi diri sendiri, menekan hawa nafsu, tidak memperturutkan kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada pada diri kita. Ini yang dimaksud dengan “Orang yang berjihad di jalan kami.” Lalu Allah katakan, “Sungguh kami akan memberikan hidayah.” Sungguh kami akan memudahkan jalan menuju Allah Swt.

Jadi, orang yang memerangi hawa nafsunya, orang yang menekan hawa nafsunya, orang yang tidak menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, atau orang yang tidak memperturutkan hawa nafsunya adalah orang yang akan dimudahkan oleh Allah berada di jalannya. Orang yang akan Allah beri hidayah di dalam kehidupannya. Oleh sebab itu mari kita perangi hawa nafsu kita, kecenderungan-kecenderungan yang buruk yang ada pada diri kita harus kita kendalikan. Memang itu ada pada diri kita, dan terkadang itu boleh kita lakukan. Tetapi kalau sudah keterlaluan, dia akan menyesatkan kita. ketika kita perangi itu, Allah Swt akan jadikan fitrah kita bermutu, Allah akan jadikan kita mendapatkan hidayah di dalam kehidupan ini.

Rasulullah Saw di dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Hakim di dalam kitabnya Al-Mustadrak, beliau mengatakan, “Orang yang berjihad sesungguhnya adalah orang yang memerangi hawa nafsunya.” Dan ketika itu dilakukan sesuai dengan surat Al-Ankabut tadi, Allah akan memberikan petunjuk kepadanya. Mudah-mudahan kita tergolong kepada orang yang mampu memerangi, mengendalikan hawa nafsu kita, yang pada akhirnya Allah mudahkan kita untuk menuju jalanNya. Yakni jalan menuju kedalam surgaNya. Mudah-mudahan hal ini menjadi pencerahan bagi kita semua.

 

3 Tingkatan Manusia Melawan Hawa Nafsu Menurut Imam Ghazali

Manusia disuruh melawan dan mengendalikan hawa nafsu. Usaha manusia dalam perjuangan melawan hawa nafsu ini tentu bertingkat-tingkat, tergantung pada kemampuan dan kekuatan imannya.

Dalam buku Mizan al-'Amal, Imam Ghazali menyebutkan tiga tingkatan manusia dalam masalah ini.

1.     Pertama, orang yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsunya dan tidak dapat melawannya sama sekali. Ini merupakan keadaan manusia pada umumnya. Dengan begitu, ia sungguh telah mempertuhankan hawa nafsunya seperti dimaksud ayat ini :

 

 أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ '

Maka, pernahkah kamu melihat orang yang telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.'' (Al-Jatsiyah: 23).

2.     Kedua, orang yang senantiasa dalam pertarungan melawan hawa nafsu. Pada suatu kali ia menang dan pada kali yang lain ia kalah. Kalau maut merenggutnya dalam pertarungan ini, maka ia tergolong mati syahid.Dikatakan demikian, karena ia sedang dalam perjuangan melawan hawa nafsu sesuai perintah Nabi SAW, ''Berjuanglah kamu melawan hawa nafsumu sebagaimana kamu berjuang melawan musuh-musuhmu.'' Ini merupakan tingkatan manusia yang tinggi di bawah para nabi dan wali-wali Allah.

3.     Ketiga, orang yang sepenuhnya dapat menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya. Inilah orang yang mendapat rahmat Allah, sehingga terjaga dan terpelihara dari dosa-dosa dan maksiat. Menurut Ghazali, ini merupakan tingkatan para nabi dan wali-wali Allah.  Dalam perjuangan melawan hawa nafsu, menurut Ghazali, manusia dituntut ekstra hati-hati dan waspada secara terus-menerus, supaya ia jangan tertipu (ghurur). Kata Ghazali, banyak orang merasa telah bekerja dan berjuang untuk agama, nusa, dan bangsa, padahal sesungguhnya ia bekerja hanya untuk kepentingan dirinya sendiri dan untuk memuaskan egonya. Sikap waspada juga diperlukan karena sering timbul kerancuan (iltibas) antara perintah akal (kebaikan) dan nafsu (keburukan). Berbeda dengan nafsu, akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan. Namun, suatu saat kita bisa ragu-ragu dan tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.

 

Dalam situasi demikian, Ghazali menganjurkan agar kita berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan. Alasannya, kebaikan pada umumnya menuntut kerja keras dan pengorbanan, sehingga terkesan menyusahkan. Kata Nabi Muhammad SAW :

حُجِبَتِ الجنَّةُ بالمكَارِهِ و حُجِبتِ النَّارُ بالشَّهواتِ  

Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.

 

Mengendalikan Hawa Nafsu Dengan Cara Berpuasa

 

أَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,” (QS. Al-Furqan/25: 43)

Tujuan utama seorang muslim yang berpuasa yaitu agar bisa meraih ketakwaan. Adapun, al-Quran sendiri, sebagai kitab suci umat Islam juga menyebutkan bahwa al-Quran merupakan petunjuk, hidayah atau guidence of live bagi orang yang bertakwa (QS. Al-Baqarah/2: 2).

 Ciri-ciri orang bertakwa juga dijelaskan dalam surat yang sama, ayat ke-177. Ayat tersebut menggambarkan tipologi seorang yang bertakwa. Bahwa sejatinya, orang yang bertakwa atau orang yang mendapat kebajikan itu, ialah orang yang hanya percaya kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab-kitab Allah, para nabi, juga menegakan salat, membayar zakat, menyantuni segenap hamba Allah: fukara, orang-orang miskin, ibnu sabil. Selanjutnya, memenuhi janji ketika berjanji/ tidak pernah ingkar janji, sabar dalam keadaan terhimpit keadaan (baik ekonomi, sosial, politik maupun yang lainnya), kegersangan hidup, dan adakalanya dalam kondisi peperangan. Demikianlah gambaran orang bertakwa. Adapun, salah satu ciri lain daripada orang yang bertakwa ialah menyerahkan seluruh kehidupannaya secara total hanya untuk Allah semata, menjadi ‘ibâdullâh/ ‘ibâdurrahmân (hamba Allah atau hanya menyembah Allah semata). Namun, ternyata di samping ada orang yang menyembah hawa nafsunya, sebagaimana dalam QS. Al-Furqan/25: 43 di atas, ternyata masih banyak orang yang menyembah setan. Sehingga, disebutkan di dalam QS. Yasin/36: 60

 

(أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَٰبَنِى ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا ٱلشَّيْطَٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ)

Bukankah Aku (Allah) telah memerintahkan kepadamu wahai bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”.

Begitupun ada yang bersekutu dengan jin bahkan juga menyembahnya, sebagaimana dalam QS. Saba/34: 41,

 

((قَالُوا سُبْحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِم ۖ بَلْ كَانُوا۟ يَعْبُدُونَ ٱلْجِنَّ ۖ أَكْثَرُهُم بِهِم مُّؤْمِنُونَ

Malaikat-malaikat itu menjawab: Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. Sesungguhnya di dalam al-Quran, hanya ada dua pilihan: orang berjalan fisabilillah (di jalan Allah) atau berjuang fisabilithoghut (di jalan syaitan); orang berjuang menjadi ‘ibâdullâh (menjadi hamba Allah) atau ibâdusyaithan/ ibâduljin (menjadi hamba syaitahan/ jin).

 

Untuk itu, agar setiap muslim selamat dari penyimpangan-penyimpangan tersebut, dibutuhkan suatu cara yang efektif. Adapun, cara mengendalikan nafsu yang paling efektif dan ampuh ialah dengan berpuasa, di samping dengan melakukan zikir, salat, sedekah dan sebagainya. Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsu berarti dapat memenangkan jihad al-akbar (jihad yang lebih besar). Hawa nafsu itulah yang menjadi indikator apakah seseorang itu baik ataukah jahat. Atau bisa juga menjadi ukuran menilai seseorang, apakah secara penampilan dan hakikat membela yang haq (benar) ataukah secara penampilan/ hakikat membela yang batil (salah). Hawa nafsu memiliki banyak kategori, namun di antara nafsu yang lebih beresiko adalah nafsu syahwat kepada lawan jenis, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali ‘Imran/ 3: 14.

Lukman al-Hakim, orang yang tidak asing lagi di kalangan umat Islam, namanya diabadikan menjadi nama sebuah surat dalam al-Quran, dalam satu riwayat ia merupakan seorang budak, dan sebaya dengan Nabi Daud AS. Nama Lukman menjadi sangat masyhur karena wisdom of live atau kebijakan hikmahnya. Dalam suatu kitab diceritakan bahwa Lukman pernah berpesan kepada anaknya, wahai anakku, jika perutmu penuh dengan makananan, maka pikiranmu akan tidur, dan anggota badanmu akan malas untuk beribadah

 

Biasanya perbandingan antara bangsa yang ‘makmur’ dengan realita moral hidupnya ini terbalik. Semakin yang dimakan tidak karuan, maka moralitas bangsa tersebut going down. Amerika Serikat misalnya, negara dengan tingkat obesitas tertinggi. Jika makan secukupnya dan tidak berlebihan, maka pikiran akan menjadi jernih. Namun, apabila urusan makan diunggulkan atau kesenangan makan dimanjakan, maka akibatnya akan cukup buruk. Dengan berpuasa itulah, harapannya menjadi ‘detoksi’ ruhani dan jasmani. Terakhir, perlu menjadi kewaspadaan bersama bahwa perbedaan antara penguasa dan rakyat biasa (dhuafa) dalam menghadapi hawa nafsu. Orang yang tidak memiliki jabatan apapun atau rakyat jelata tadi ketika datang nafsu untuk berkuasa, maka hanya sebatas angan-angan saja atau dreaming. Sementara, bagi para pejabat, penguasa yang timbul nafsu tersebut dan tergelincir di dalamnya, maka akibatnya akan sangat berbahaya, bahkan mampu membahayakan seluruh rakyat yang tinggal di dalamnya.

 

Cara Kendalikan Hawa Nafsu

Allah SWT menciptakan manusia sebagai makhluk yang tidak lepas dari hawa nafsu. Berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki nafsu. Manusia harus dapat mengendalikan nafsu karena nantinya akan menyebabkan malapetaka.

Habib Husein Ja’far mengatakan nafsu tidak boleh berlebihan dan harus dikendalikan. “Nabi mengontrol nafsu dengan ibadah, zikir, hidup sederhana, dan lain-lain. Jadi, nafsu itu jangan dimanjain,” kata Habib Husein dalam kajian bertajuk Dilarang Ibadah Berlebihan di kanal Youtube Cahaya untuk Indonesia.

Nafsu mendorong manusia menjadi sempurna. Nafsu juga sebagai tantangan manusia agar menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat. Oleh karena itu, nafsu harus dilawan dalam diri. Ada tiga cara untuk mengendalikan hawa nafsu.

1.     Pertama, kita kurangin makan, mengapa? Karena sumber makanan berlebihan adalah setan. Jangan makan yang berlebih.

2.     Kedua, mengurangi bicara yang sia-sia. Berbicaralah jika ada perlunya dan bicaralah yang bermanfaat. Ketiga, mengurangi tidur.  Jangan lupa bangun tidur di tengah malam untuk beribadah. Jangan menghabiskan waktu semalaman hanya untuk tidur. Lisan itu sumbernya setan. Kita juga harus mengendalikan tidur. Jangan hanya tidur semalaman suntuk. Bangun lalu beribadah. Biasanya setan suka mengelus-elus kita agar kita nyenyak tidurnya, sampai tidak jadi shalat subuh. Itu semua harus dilawan,” tambah dia.

3.     Bisa dari rasa iri karena melihat seseorang lebih baik hidupnya dari kita. Ada salah satu Nabi yang dijamin masuk surga karena setiap malam dia menghilangkan rasa dengki dari hatinya. Daripada dengki, lebih baik kita bersaing dalam hal positif seperti mengejar urusan akhirat. Karena hidup manusia ini untuk di akhirat bukan untuk di dunia. Dunia hanyalah jembatan menuju akhirat

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)