JOWO DIGOWO - ARAB DIGARAB - BARAT DIRUWAT

0

JOWO DIGOWO - ARAB DIGARAB 

BARAT DIRUWAT



Berbicara mengenai budaya Jawa pastinya kita akan tertuju pada segala tradisi atau budaya dan istilah-istilah nya yang sangat kental. Maka dari itu wajib kiranya kita memahami makna istilah jawa jowo digowo, arab digarap, barat diruwat.

Pada istilah ini pastinya memiliki pesan yang tersendiri dari para leluhur untuk bangsa Indonesia, khususnya pada orang Jawa. Namun sayangnya tidak semua orang mengetahui apa maksud dari pernyataan tersebut. Mungkin hanya orang Jawa lah yang mengerti dan paham maksud dari istilah itu.

Maka dari itu disini kami akan memberikan sedikit ulasan agar Anda memahami makna istilah jawa “jowo digowo, arab di garap, barat diruwat”. Sebaiknya jangan berlama-lama lagi mari kita simak ulasan yang sudah kami sajikan untuk Anda seperti berikut ini.

Memahami Makna Istilah Jawa Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat

 

Jowo Digowo (Jawa Dibawa)

Untuk kalimat pertama dalam istilah jawa tersebut adalah jowo digowo, atau dalam bahasa Indonesia nya adalah jawa dibawa. Dalam hal ini istilah dalam kalimat pertama memiliki arti yakni dimanapun nantinya Anda berada, dan kapapun. Yang namanya Budi pekerti itu harus selalu dibawa atau harus diterapkan.

Jangan sampai nantinya kita menjadi “wong jowo kang ilang jawane”,pernyataan kali ini juga memiliki arti. Yakni jangan sampai kita menjadi orang yang lupa akan tatakrama nya. Perlu diketahui makana “jowo” tersebut memiliki makna subosito (tatakrama).

Jowo digowo (Jawa dibawa)

Artinya, kemanapun dan dimanapun, budi pekerti itu harus selalu dibawa/diterapkan. Jangan sampai menjadi "Wong Jowo kang ilang Jawane". Jowo di sini bermakna Subosito (Tatakrama).


Arab Digarap

Untuk kalimat kedua memahami makna istilah jawa “jowo digowo, arab digarap, barat diruwat” memiliki arti tersendiri. Yakni segala sesuatunya yang berasal dari Arab jangan langsung digunakan begitu saja. Melainkan kita harus mempelajari, mengerti, dan memahami nya terlebih dahulu.

Hal ini yang perlu diperhatikan terutama untuk semua kaum muslimin, bahwa harus bisa membedakan. Manakah yang termasuk dari budaya arab, dan manakah yang memang benar-benar ajaran islam. Karena tidak semua segala sesuatu yang dari Arab itu merupakan ajaran islam.


ARAB DIGARAP

Artinya, jangan langsung dipakai begitu saja apa-apa yang berasal dari Arab, tetapi lebih dulu harus dipelajari, dimengerti, dan dipahami. Hal ini terutama untuk kaum Muslimin harus bisa membedakan mana yang budaya Arab, dan mana yang merupakan ajaran Islam. Tidak semua yang Arab itu Islam.


BArat Diruwat

Dan kalimat yang terkahir adalah barat diruwat, maksudnya dalam hal ini adalah segala sesuatu yang datang dari negara barat. Sebaiknya harus kita ruwat, yakni kita saring apakah budaya tersebut, sesuai dengan budaya kita atau malah sebaliknya.

Jika budaya yang dibawa negara barat tersebut tidak sesuai dengan apa yang ada di budaya dan ajaran kita. Sebaiknya budaya barat tersebut dibuang dan ditinggalkan. Namun apabila masih ada kesesuaian juga harus kita saring lagi apakah hal tersebut bermanfaat atau tidak untuk kita.

Nah itulah ulasan dalam memahami istilah jawa Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat. Semoga setelah membaca artikel tersebut Anda mulai memahami apa yang dimaksud akan istilah jawa tersebut. Yang pastinya sangat bermanfaat untuk kita sebagai bangsa Indonesia khususnya orang jawa, terima kasih.

Ini adalah salah satu pesan dari para leluhur yang diwariskan kepada kita sebagai warga negara Indonesia, khususnya orang Jawa.

Barat diruwat ini kadarnya lebih rumit daripada menggarap. Apa yang datang dari barat itu harus diruwat, sesuai atau tidak dengan budaya dan ajaran kita. Jika tidak sesuai, maka harus dibuang. Jika masih ada kesesuaian, kita lihat lagi hasilnya, bermanfaat atau tidak bagi kita. Jadi tidak cuma sekedar ambil yang baik dan buang yang buruk.

 


VERSI CAK NUN

(Kiyai Kanjeng Emha Ainun Nadjib) 

Menjadi diri sendiri, tidak menganggap diri kita paling benar, akhlaq tidak boleh dipamerkan melalui pakaian dan sunah rosul yang palig mendasar adalah ahlaqnya bukan pakaiannya, ini pitutur atau nasehat dari cak Nun, simak paparan dari cak Nun berikut ini yang di kemas dalam judul Jowo digowo, Arab digarap dan Barat diruwat.

Jowo digowo, Arab digarap, dan Barat diruwat.

Walaupun seorang ulama atau kyai, tapi Cak Nun selalu berpakaian seperti layaknya orang biasa. 

Bisa dikatakan ganok bedane karo wong dodol akik, buruh pabrik atau sales kaos kaki.

Kalau saya datang dengan berpakaian gamis dan sorban, memang tidak ada salahnya. 

Cuman saya takut semua orang akan berkesimpulan bahwa saya lebih pandai daripada yang lain. Lebih parah lagi, kalau mereka berkesimpulan bahwa saya lebih alim…Kalau itu tidak benar, itu khan namanya ‘penipuan’…!

Kalaupun memang benar, apakah akhlak itu untuk dipamerkan kepada orang lain (melalui pakaian) ? Tidak boleh kan ? Maka semampu-mampu saya, berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi ‘penipuan’ saya kepada Anda. Anda tidak boleh mendewakan saya, me-Muhammad-kan saya, meng-habib-kan saya, karena saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya dan tidak karena yang lain. Maka Anda obyektif saja sama saya…” 

Menurut Cak Nun, seorang ulama harusnya bisa berpakaian yang sama dengan pakaian umatnya yang paling miskin. Cak Nun tidak mempersalahkan orang yang bergamis dan berserban. Malah salut sama mereka yang menunjukan kecintaannya pada Rasulullah dengan meniru persis apa yang ada di diri Rasul. Tapi perlu diketahui bahwa baju Rasulullah tidak sebagus dan sekinclong yang dipakai kebanyakan orang sekarang. 

Baju Rasulullah sendiri ada 3 jenis : yang dipakai, yang di dalam lemari dan yang dicuci. 

Dan semua orang Arab di jaman nabi, model pakaiannya seperti itu. 

Nggak cuma Nabi Muhammad......; Abu Jahal, Sueb, Sanusi, Atim dan orang Arab lainnya, model klambine koyok ngono iku.

Jadi sebenarnya sunnah Rasul yang paling mendasar adalah Akhlaknya bukan kostumnya. Orang yang disukai Tuhan adalah orang yang menyebut dirinya buruk, biso rumongso, nggak rumongso biso.

Orang yang diragukan keihklasannya adalah orang menyebut dirinya baik. Semua nabi mengaku dirinya dzolim : 

“Inni Kuntu Minadzolimin” (aku termasuk orang yang dzolim). Nggak ada nabi yang mengaku dirinya sholeh. Kalau ada orang yang mengaku paling benar atau alim, langsung tinggal mulih ae…ndang baliyo sriii…!

Kalau sama Tuhan kita harus 100%, kalau kepada ilmu kita, cukup 99%. Seluruh yang saya ketahui dan yakini benar itu belum tentu benar. Maka saya tidak mempertahankan yang saya yakini benar karena mungkin mendapatkan ilmu yang lebih tinggi.” 

Karena itulah saat bersama jamaahnya, Cak Nun selalu memposisikan dirinya sama, sama-sama belajar. 

Dan Cak Nun sendiri lebih suka pada jamaah yang sedang berproses daripada yang sudah ahli ibadah. 

Karena itu lebih tepat sasaran. Bukan pengajian pada orang yang sudah ngerti Al Quran, bukan pengajian yang menyuruh haji orang yang sudah berhaji, menyuruh ngaji orang yang sudah ngaji tiap hari, menyuruh orang shalat yang sudah shalat, dan seterusnya.

Tidak apa-apa kalau ilmu agamamu masih pas-pasan, itu malah membuatmu menjadi rendah hati. Banyak orang yang sudah merasa tahu ilmu agama, malah menjadikannya tinggi hati, begitu pesan Cak Nun.

Kalau saya kadang bicara pakai bahasa Jawa, jangan dibilang Jawa sentris...., saya cuman berekspresi sebagai orang Jawa...., saya lahir dan dibesar di Jawa..., diperintah Tuhan jadi orang Jawa…, maka saya mencintai dan mendalami budaya saya..siapa bilang Jawa itu tidak Islam....., kalau saya ayam saya nggak akan jadi kambing....., kalau anda kucing jangan meng-anjing-anjing-kan diri.....,

Kita memang disuruh Bhineka (berbeda-beda) kok..!

Banyak orang salah kaprah menyebut Cak Nun sebagai penganut kejawen. Kejawen ndasmu…. ‘Software’ Cak Nun lebih canggih karena laku tirakat luar biasa yang dilakukan sejak kecil. (Laku tirakat yang tidak bertujuan untuk menguasai ilmu hitam koyok mbahmu mbiyen). Sehingga beliau waskito, mempunyai sidik paningal, mempunyai pandangan yang tajam dan jernih soal kehidupan.

Little bit wagu kalau ada orang Jawa (atau Indonesia) yang malah membangga-mbanggakan budaya Arab atau Barat. Benci kebaya tapi nggak ngasih solusi bagaimana kebaya bisa Islami. Ingat : Jowo digowo, Arab digarap dan Barat diruwat.

Post a Comment

0Comments
Post a Comment (0)