SERAT ANGLING DARMA & KISAH ANGLING DARMA
Pupuh Asmaradana
1.
Asmareng tyas nawung kingkin
nurat serat anglingdarma
kagungan dalem sang katong
kang jumeneng ping sadasa
ing nagri surakarta
kapareng karsa kaklumpuk
serat baabd miwah wulang
2.
Sadaya rinuwat mungging
jro kamar sana pustaka
duk miwarni panitrane
ri soma kaping sadasa
ing wulan dulkangidah
jumakir sangkaleng taun
luhur tata ngesthi nata.
3.
Sanadyan crita puniki
carita ing jaman buda
pulo jawa pituture
nadyan budha kang utama
linuri kang carita
duk jenengira sang prabu
anglingdarma ing malawa
4.
Tan ana kang nyenyiringi
jenegira sang pamasa
tribuwana kekes kabeh
ratu winong ing jawata
kinatujon sakarsa
tuhu kalamun pinunjul
sinebut sri bathara
16.
Sang retna angandikaris
sarwi kumembeng kang waspa
biyang inya karsaninong
saupama nora prapta
sang nata sore mangkya
patren ngong pasthi cumandhuk
biyang ing jaja manira
ANGLING DARMA
Prabu Anglingdarma adalah nama seorang tokoh legenda dalam tradisi Jawa, yang dianggap sebagai titisan Batara Wisnu. Salah satu keistimewaan tokoh ini adalah kemampuannya untuk mengetahui bahasa segala jenis binatang. Selain itu, ia juga disebut sebagai keturunan Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata.
Garis silsilah
Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari Arjuna, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.
Dikisahkan bahwa, Arjuna berputra Abimanyu. Abimanyu berputra Parikesit. Parikesit berputra Yudayana. Yudayana berputra Gendrayana. Gendrayana berputra Jayabaya. Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti, dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Anglingdarma.
Kelahiran
Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.
Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.
Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.
Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.
Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.
Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.
Perkawinan pertama
Setelah dewasa, Anglingdarma membawa ibunya pindah ke sebuah negeri yang dibangunnya, bernama Malawapati. Di sana ia memerintah dengan bergelar Prabu Anglingdarma, atau Prabu Ajidarma.
Anglingdarma sangat gemar berburu. Pada suatu hari ia menolong seorang gadis bernama Setyawati yang dikejar harimau. Setyawati lalu diantarkannya pulang ke rumah ayahnya, seorang pertapa bernama Resi Maniksutra. Tidak hanya itu, Anglingdarma juga melamar Setyawati sebagai istrinya.
Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrim telah bersumpah barangsiapa ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya. Maka terjadilah pertandingan yang dimenangkan oleh Anglingdarma. Sejak saat itu, Setyawati menjadi permaisuri Anglingdarma sedangkan Batikmadrim diangkat sebagai patih di Kerajaan Malawapati.
Pada suatu hari ketika sedang berburu, Anglingdarma memergoki istri gurunya yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar. Anglingdarma pun membunuh ular jantan sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka.
Nagagini kemudian menyusun laporan palsu kepada suaminya, yaitu Nagaraja supaya membalas dendam kepada Anglingdarma. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati dan menyaksikan Anglingdarma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah. Ia pun muncul dan meminta maaf kepada Anglingdarma.
Nagaraja mengaku ingin mencapai moksa. Ia kemudian mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepada Anglingdarma. Ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia. Setelah mewariskan ilmu tersebut Nagaraja pun wafat.
Sejak mewarisi ilmu baru, Anglingdarma menjadi paham bahasa binatang. Pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung. Anglingdarma menolak berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng, membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih bunuh diri dalam api karena merasa dirinya tidak dihargai lagi. Anglingdarma berjanji lebih baik menemani Setyawati mati, daripada harus membocorkan rahsia ilmunya.
Ketika upacara pembakaran diri digelar, Anglingdarma sempat mendengar percakapan sepasang kambing. Dari percakapan itu Anglingdarma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati adalah keputusan emosional yang justru merugikan rakyat banyak. Maka, ketika Setyawati terjun ke dalam kobaran api, Anglingdarma tidak menyertainya.
Masa hukuman
Perbuatan Anglingdarma yang mengingkari janji sehidup semati dengan Setyawati membuat dirinya harus menjalani hukuman buang sampai batas waktu tertentu sebagai penebus dosa. Kerajaan Malawapati pun dititipkannya kepada Batikmadrim.
Dalam perjalanannya, Anglingdarma bertemu tiga orang putri bernama Widata, Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Anglingdarma dan menahannya untuk tidak pergi. Anglingdarma menurut sekaligus curiga karena ketiga putri tersebut suka pergi malam hari secara diam-diam.
Anglingdarma menyamar sebagai burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut. Ternyata setiap malam ketiganya berpesta makan daging manusia. Anglingdarma pun berselisih dengan mereka mengenai hal itu. Akhirnya ketiga putri mengutuknya menjadi seekor belibis putih.
Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara. Di sana ia dipelihara seorang pemuda desa bernama Jaka Geduk. Pada saat itu Darmawangsa raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan di mana seorang wanita bernama Bermani mendapati suaminya yang bernama Bermana berjumlah dua orang.
Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya, yaitu Jin Wiratsangka. Atas keberhasilannya itu, Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan Ambarawati, putri Darmawangsa.
Kembali ke Malawapati
Anglingdarma yang telah berwujud belibis putih bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia. Mereka akhirnya menikah tanpa izin orang tua. Dari perkawinan itu Ambarawati pun mengandung.
Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami. Kebetulan saat itu muncul seorang pertapa bernama Resi Yogiswara yang mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati.
Yogiswara kemudian menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati. Setelah melalui pertarungan seru, belibis putih kembali ke wujud Anglingdarma, sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrim. Kedatangan Batikmadrim adalah untuk menjemput Anglingdarma yang sudah habis masa hukumannya.
Anglingdarma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati. Dari perkawinan kedua itu lahir seorang putra bernama Anglingkusuma, yang setelah dewasa menggantikan kakeknya menjadi raja di Kerajaan Bojanagara.
ANGLING DARMA
(Tetuladhan Serat Angling Darma Ambya Madura)
Dineng nagara Malowopati, langkong raddja sarta kerta gemma, nagara ngada’in tase’, ban mongkorragin goenong, ngapet songaj ngorebin pergin, tana landoe ta’ djama’, tatanemman tolos, reng kene’ toro’ pernatan, berkattepon rato bitjaksana adil, rangrang oreng doerdjana.
Makaten pethikan Serat Angling Darma Ambya Madura pupuh I Artate. Anggitanipun Raden Sosrodanoekoesoemo. Wedalan Pangecapan G Koff and Co Surabaya taun 194l. Sampun kacathet wonten bukunipun Henri Chamber Loir sarta Oman Faturrahman asesirah Khazanah Naskah: Panduan koleksi naskah-naskah Indonesia sedunia wedalan Ecole Francais d’Extreme Orient sarta Yayasan Obor Jakarta taun 1999. Dene suraosipun tetembungan ing nginggil kirang langkung makaten
Nagari Malowopati punika langkung ageng sarta subur, nagarinipun ngajengaken seganten, ngungkuraken gunung, kaapit lepen ingkang ngelebi pasabinan sarta pategilan ingkang subur, tulus sadaya tetaneman, lampahipun mawi pranatan sarta dipun asta ratu ingkang adil wicaksana, awis sanget wonten tiyang tumindak durjana.
Wonten ing pupuh I Raden Sosrodanoekoesoemo ugi nedahaken bilih anggenipun nganggit Serat Angling Darma Ambya Madura punika nedhak saking cariyos Jawi Kina. Namung kemawon boten dipun sebataken nedhak Serat ingkang pundi sarta anggitanipun sinten.
Panganggitipun adhapur sekar macapat. Naminipun sekar sami kemawon kalihan sekar Jawi kina. Ingkang benten basa ingkang dipun ginakaken. Kados ta Artatesami kalihan Dhandhanggula, Senom-Sinom, Kasmaran-Asmarandana, Kenante-Kinanti, Pangkor-Pangkur, Pocong-pucung, Mejil-Mijil.
Pambaginipun Serat boten mawi istilah pupuh ananging mawi istilah bageyan. Saben bageyan dumados saking sawatawis sekar. Upaminipun Bageyan I bubukaning Serat mawi pupuh Artate, lajeng kasambet Senom, Mejil sarta Kasmaran. Bageyan II Kenante, Pangkor, Mejil, Durma sarta Senom. Bageyan III Mas Kumambang, Artate, Kasmaran, Artate, Pangkor, Kenante sarta Artate. Bageyan IV Kenante, Mejil, Kenante, Senom, Artate, Kenante, Mejil sarta Durma.
Ingkang nenarik wonten ing Serat punika mawi methik sawatawis tembung Jawi kangge ningkataken bobot sarta daya kekuwataning sastra. Panyeratipun wonten ingkang pleg sami, upaminipun tembung nganggit, punjul sarta sentana. Wonten ingkang dipun wewahi supados laras kalihan guru lagu sarta guru wilangan. Upamanipun tembung kayungyun dipun gantosngajoenjoen, sak solahe dipun gantos sasolana, wusana dipun gantos basanana.
Lajeng kangge nedahaken warninipun sekar ingkang dipun angge mawi sasmita gendhing.Inggih wujud tetembungan ingkang kangge pratandha sekar ingkang dipun ginakaken. Saged mawi tembung lugu kadosta tembung sandika sang roba mano, enggi sang balibis pote, tole kabit bang-tembangan, arareppen tembang mejil.Sampun cetha bilih sekar salejengipun ingkang dipun angge inggih sekar Mijil.
Ananging wonten ingkang mawiakronim, upaminipun tembunggaja duli cabissagin, sang raja pon nete en jarwanipun titiyan gajah sampun saumdya, sang prabu lajeng bidhal. Tembung bidhal punika wosipun sami kalihan tembung medal utawi mijil. Kangge pratandha namining sekar candhakipun.
Sarta mawi tetembungan ingkang ungelipun sairib. Upaminipun tembung pote minangka sesandining tembung Artate. Jangkepipun Lok-ologan kaja da’ ké demmang duli, du paman paneka’, kula ollé blibis pote, bagus tor téra’cajana. Wosipun anggenipun ngaturi Demang kanthi sora, paman, kula pikantuk peksi meliwis pethak, bagus tur malih mawa cahya wulunipun.
Wonten ing ngriki Raden Sosrodanoekoesoemo anggenipun maringi irah-irahaning Serat mawi tembungambya utawi ambyah ingkang jarwanipun mratah. Wosipun pangganggitipun serat punika supados saged mratah dipun sumerepi kalihan tiyang Madura sadaya. Sepuh anem sami tulus. Kacihna wonten tetembungankengeng badi baca’an da’ sabannya’epon bangsa Madura sadaja, towa ngoda me’ oneng semmona toles.
Sarta menangka’an toladan utawi minangka tetuladhan. Awit ngandhut sawatawis pengaji luhur ingkang dunungipun meh sami kalihan piwulang Niti. Inggih kawicaksanan minangka gegebenganing ratu salebetipun ngasta pusaraning praja. Kacihna wonten sawatawis bageyaning cariyos. Kadosta
Sepisan mituhu. Ingkang winastan mituhu punika wajib menggahing tiyang gesang. Punapa malih menggahing murid punika wajib mituhu dhateng wulang wurukipun guru pandhita. Kados ingkang kasebat wonten ing Bageyan I mawi tetembunganban potrana guru, enggi sang maha pendita, Mani’sutro mela kaemanen, eanggep panjimadan. Tegesipun kula panjenengan kedah mituhu sarta ngurmati dhateng guru sang maha pandhita, awit sadaya pangandikanipun saged dipun anggep minangka jejimat.
Kados ingkang dipun tindakaken Anglingdarma. Sanajan jejeripun ratu tetep nggadhahi wajib mituhu dhateng guru sang maha pandhita. Awit manawi mboten mituhu guru punika nama duraka, mesthi badhe nemahi bebendhu. Kados kasebat ing tetembungan Bageyan II, ungelipun reng nerrak larangna guru, maste daraka epanggi.
Kaping kalih tansah eling ing Gusti Ingkang Mahasuci. Ingkang dipun wastani eling punika panindakipun mboten namung manawi nembe nemahi kasisahan ananging prayogi katindakaken saben dinten. Kadosdene ingkang dipun lampahi Anglingdarma. Bab punika kasebat wonten ing Bageyan I ungelipun nalekana ngoladin, solana mano’ se bannya’, semmona ta’ bida oreng, emot da’ Maha Socce. Ingkang dipun wastani eling punika panindakipun mboten manawi nalika nemahi sanggarunggi ananging prayogi katindakaken saben dinten.
Kaping tiga rumaket ing raos paseduluran. Menggahing gesang bebrayan ing Madura wonten unen-unen kenca polatan, kanca taretan. Wosipun kanca ingkang polatanipun sae punika nglangkungi sedherek piyambak. Bab punika nedahaken bilih raos paseduluran kalihan tiyang sanes punika rumaketipun saged nglangkungi raos paseduluran kalihan sedherek piyambak. Awit tansah jaga jinagan. Kadosdene ingkang katindakaken Naga Partala, tansah anjagi Anglingdarma. Ing serat kasebataken mawi tetembungan Naga Pertala se esambadin, ganeko pan kenal lebat becce, ban bula ajanji, lebbi tretan onggu.
Kaping sekawan tuhu setya ing jangji. Menggahipun tiyang gesang tuhu setya ing jangji punika wajib. Punapa malih menggahing Anglingdarma manawi boten tuhu setya ing jangji badhe sangsara gesangipun. Kados ingkang kasebataken wonten bageyan III ungelipun nangeng sengko’ poma-poma ja’ padaddi rato gun dinna’, karan sengko’ reya laggi’ epaste nyandang sangsara.
Saged ugi kapidana dening para Dewa. Awit jejering ratu punika boten sanes minangka silih swantenipun Gusti Ingkang Maha Suci. Kados ingkang kasebataken wonten Bageyan II monggu rato cedra oca’ dibi’, kenneng okom laban diba lebbi, seda la epaste dapa’ claka’epon.
Mila punika kedah wantun ngakeni kalepatan sarta nyuwun gunging sih wilasa dhumateng Gusti ingkang Maha Suci kanti cara mertobat. Ing Serat kasebataken mawi tetembungan pan sengko’ dibi’ ta’ enda’ da’ totor bagus, sang raja Angling Darma lebat ngennes dalem ate, pan atobat sang rato da’ ka dibana.
Kaping gangsal santosa ing tekad. Sanajan jejering ratu punika prasasat kanggenan saliring daya kasekten ananging salebetipun nindakaken waradharmaning ratu prayogi santosa ing tekad, awit kathah godha rancana saking setan sarta iblis ingkang saged dados pepalanging lampah.
Kados ingkang dipun ngendikaken Anglingdarma dhateng Patih Batik Madrim makaten ungelipun gun jalan pan raja coba, lamon kodu maksa ngereng, kodu kellar merrangenna gudana syetan ban bellis.
BATIK MADRIM DAN ANGLING DARMO
Beberapa bulan yang lalu saya sempat dibuat terkejut oleh salah seorang penduduk asli di suatu daerah Kabupaten Sukoharjo. Dia adalah seorang bapak-bapak tua yang mungkin sudah kepala enam. Dia sangat begitu percaya diri tentang kekuasaannya di daerah tersebut. Dengan omongan yang sangat percaya diri ia mengklaim bahwa di daerah kekuasaannya itulah sebuah situs kerajaan Mlowopati yang kita kenal dengan kerajaan Angling Darma. Di situ pula ia membangun sebuah Masjid yang oleh penduduk sekitar dikenal dengan sebutan Masjid Mlowopati. Aneh memang, bukankah Angling Darma yang kita dengar selama ini hanya ada di dalam dongeng. Masalahnya tidak ada sumber sejarah yang dapat menerangkan keberadaannya, apalagi di daerah ini. Cerita Angling Darma memang sudah lama saya dengar bahkan saya begitu tertarik membaca ataupun menonton filmnya. Pada dasarnya cerita Angling Darma menceritakan perjalanan hidup seorang raja di tanah Jawa bernama Angling Darma. Angling Darma merupakan seorang raja dari kerajaan Mlowopati. Raja Angling Darma dan kerajaannya yang makmur serta sifat-sifatnya yang adil dan belas-asih kepada rakyatnya. Beristerikan Dewi Setyowati puteri Begawan Maniksutra (gurunya). Sampai pada suatu ketika terjadi hubungan Raja Angling Darma dengan permaisurinya kurang serasi. Raja pun pergi berburu untuk menghibur hati. sepulang berburu Angling Darma melihat dua ekor ular, Naga Gini dan ular Tampar bersenggama. Karena tahu bahwa Naga Gini adalah isteri sahabatnya, Naga Pertala, Angling Darma membunuh dengan panah Sang Ular Tampar; malang, panah itu menyerempet ekor Naga Gini.
Kisah ini menceritakan pula sikap orang muda yang emosional apabila melihat dua pasang burung jalak (jelmaan Sang Hyang Batara Guru dan Dewi Uma, isterinya) berasyik-masyuk di atas pohon persis di atas kepala Sang Raja. Kedua-dua ekor burung itu pun dipanahnya, matilah si burung betina. Burung jantan pun mengucapkan kutuknya: Angling Darma akan berpisah dengan isterinya ketika keduanya sedang bercinta-cintaan. Dewi Setyowati keluar menjemput kedatangan raja yang pulang dari berburu. Raja dan permaisuri memasuki peraduan, tetapi raja bermuka murung memikirkan hukuman yang akan dijatuhkan oleh Naga Pertala. Dewi Setyowati salah sangka terhadap sikap sang raja. Sang Dewi mengira Raja tidak sudi dengan dirinya. Untuk mencairkan suasana tersebut, diceritakanlah peristiwa terbunuhnya ular Tampar itu. Naga Gini memfitnah Angling Darma kepada lakinya bahwa Angling Darma sudah mencoba memperkosa dirinya. Tentu saja Sang Naga Pertala marah dan ingin menghancurkan Angling Darma. Ketika Sang Naga menyamar masuk menjadi udara, ia mendengar penuturan Angling Darma dengan sang permaisuri. Karena perbuatan Angling Darma dianggap menyelamatkan Naga Pertala dari malu, Sang Raja Mlowopati dihadiahi mukjizat seperti Nabi Sulaiman, yaitu mampu memahami bahasa semua binatang, dengan syarat tidak boleh diajarkan kepada siapapun. Ketika Raja dan Ratu beradu, terdengarlah oleh Angling Darma percakapan dua ekor cicak yang mengajak pasangannya berbuat seperti Raja dan Ratu. Mendengar hal tersebut, Angling Darma tertawa. Setyowati tersinggung hatinya, dianggapnya Sang Raja mentertawakan dirinya yang tidak mampu melayani Sang Raja. Untuk mencairkan suasana, terpaksalah Sang Raja menceritakan ilmu dari sahabatnya, Naga Pertala. Akan tetapi di sinilah awal bencana itu . Dewi Setyowati meminta diajari ilmu memahami bahasa binatang itu, jika tidak, ia akan membunuh diri dengan cara terjun ke dalam api. Untuk menunjukkan cintanya, Raja ingin bunuh diri bersama. Ketika raja dan ratu telah siap di anjungan, api mulai marak, di bawah panggung ada dua ekor domba bertengkar: si jantan dipaksa oleh si betina untuk mengambilkan daun kelapa sebagai pengubat ‘nyidam’ hamilnya. Domba jantan menolak. Ketika domba betina mengancam hendak bunuh diri, bahkan si jantan menyuruh betinanya untuk melakukannya. Setelah domba betina mati dalam api, domba jantan pun lenyap karena keduanya adalah dewa yang menyamar. Mendengar domba jantan tidak mau ikut musnah dalam api, berubahlah pikiran sang Raja: Sang Isteri dibiarkan melompat sendiri. Dan Sang Raja pun sangat berduka dan berkata: Saya tidak akan kawin lagi jika tidak ada wanita yang menyamai Dewi Setyowati.
Janji Angling Darma tersebut didengar oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih. Kedua-duanya lalu menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Ketika melihat gadis cantik dekatnya, runtuhlah iman Sang Raja yang baru kehilangan permaisurinya itu. Seketika itu, Dewi Uma menghukum Angling Darma: ia harus meninggalkan istananya, dan kerajaannya akan tampak seperti hutan sehingga hukuman selesai. Raja pun memulai pengembaraannya yang pertama di kerajaan Mloyopati. Angling Darma diberitahu oleh seorang nenek bahwa di sini tinggal tiga orang puteri raksasa yang cantik. Angling Darma ingin tahu keadaan gadis tersebut. Darah mudanya mendorongnya untuk memperisteri tiga orang gadis yang ternyata pemakan daging manusia. Ketika rahasia ketiga-tiga gadis itu terbongkar, mereka marah dan mengutuk Angling Darma menjadi burung Belibis. Mendapatkan kutuk yang kedua kali, keyakinan diri sang raja mulai menurun. Sambil terbang, dikatakannya bahwa ia lebih baik mati. Sampailah burung Belibis ke desa Wonosari, Bojonegoro, tempat tinggal Demang Klungsur dan Geduk pembantunya. Terbetik dalam hati burung belibis untuk mengabdi kepada Geduk yang pada waktu itu sedang memasang jerat untuk menangkap burung. Secara sengaja kaki belibis dimasukkan ke jerat tersebut. Belibis dibawa kepada Ki Demang. Burung belibis menasihati Ki Demang untuk berhenti menjerat burung, meningkatkan pertanian, dan belajar menjadi pedagang telur burung belibis. Ki Demang menjadi kaya-raya dan kampungnya mulai dikenal orang.
Suatu hari Raja Darmowiseso, ayah Dewi Srenggono, mendapatkan ujian berupa dua orang rakyatnya berebut isteri bernama Bermani. Kedua-duanya mengaku asli bernama Bermana. Padahal salah satunya adalah palsu. Belibis mendengar kabar tentang persoalan raja Darmowiseso dari burung gagak. Belibis membujuk Ki Demang untuk mengambil bagian dalam sayembara mengungkap suami kembar tersebut. Belibis memberitahu suatu siasat kepada Ki Demang: Siapa yang berhasil masuk ke dalam kendi ialah suami asli Bermani. Dengan siasat itu, tertangkaplah suami palsu. Sebab tidak mungkin manusia biasa bisa masuk ke dalam kendi sekecil itu. Ki Demang diangkat menjadi Patih Jaksanegara. Burung belibis menggoda Dewi Srenggonowati yang sedang duduk di taman. Dewi memerintahkan para pengiringnya menangkap belibis, tetapi tidak berhasil. Pulang ke istana sambil menangis karena menginginkan burung belibis. Patih Jaksanegara disuruh mencari belibis tersebut. Ki Patih berkata kepada raja bahwa dirinya mempunyai burung belibis putih. Burung Belibis menjadi kesayangan Dewi Srenggonowati. Burung Belibis, Dewi Srenggonowati, dan para emban bersenang-senang sambil bermain tebak-tebakan (teka-teki) atau melantunkan tembang. Tembang yang dilantunkan berisi kehebatan, kegagahan, kebagusan rupa, dan kesaktian Angling Darma yang diaku sebagai tuan/ rajanya Si Burung. Dewi Srenggonowati terharu mendengar tembang Si Burung Belibis. Ketika makan bersama belibis, Dewi Srenggono bertanya mengapa tuannya dulu meninggalkan keratonnya. Belibis menjawab bahwa rajanya ditinggal mati bunuh diri oleh isterinya. Kali ini, Sang Burung memberitahu Sang Dewi tentang syarat-syarat memilih suami. Pada waktu Sang Dewi tidur, belibis menciuminya. Burung Belibis minta kepada Dewi untuk mencabut jambul (bulu di kepala). Tahulah Sang Putri bahwa burung belibis adalah Sang Angling Darma sendiri. Kemudian, mereka berdua bersandiwara, siang menjadi belibis malam tidur berdua sebagai manusia biasa.
Sampai pada suatu ketika Sang Dewi Srenggonowati hamil. Hal ini tentu membuat Raja dan ratu susah hati. Sang Raja mengadakan sayembara: siapa yang mampu menangkap maling (pencuri) sakti boleh mempersunting puteri, diangkat sebagai raja muda, dan akan mendapat kekuasaan separuh negara. Di sisi lain Batik Madrim, patih Mlowopati, berangkat mencari rajanya. Sebelum berangkat ia menunjukkan kesaktiannya dengan mengatakan, “Jika pohon siwalan ini boleh saya cabut, Gusti Pangeran Angling Darma” masih hidup. Ternyata ia dapat mencabut pohon tersebut. Patih Madrim menugaskan Jajaningrat dan Wijanarko untuk menjaga kerajaan sewaktu dia mencari Raja Angling Darma. Madrim menyamar menjadi Pendeta Wasi Batik Madrim. Batik Madrim berjumpa dengan Patih Bojonegoro yang mencari orang sakti yang dapat menangkap maling sakti yang bersembunyi di negara Bojonegoro. Batik Madrim menyanggupi bahwa dirinya sanggup menangkap maling sakti tersebut. Batik Madrim tahu bahwa maling yang dicurigai itu bersembunyi di tempat peraduan sang puteri. Batik Madrim minta agar puteri disuruh menghadap sang raja dengan Burung Belibisnya sekali. Batik Madrim meminta Dewi menyerahkan Burung belibis karena di situlah maling itu sembunyi, tetapi Roh Angling Darma berpindah dari satu tempat ke tempat lain, termasuk antaranya ke dalam cincin yang dipakai oleh Dewi Srenggono. Maharaja Angling Darma berubah diri menjadi besar sambil membujuk Batik Madrim untuk masuk ke dalam api. Mengenali suara rajanya. Madrim kemudian menyembah dan mengaku kalah. Sambil menangis, Madrim meminta agar rajanya bersedia menghadap Raja Darmawiseso, ayahanda Dewi Srenggonowati, agar dibenarkan mempersunting puterinya. Raja Darmawiseso justru sangat gembira karena tahu bahwa menantunya adalah raja termasyhur.
Setelah perkawinan selesai, Angling Darma berkata kepada ayah mertuanya bahwa ia tidak bersedia menjadi raja. Kemudian ia berpamitan untuk meneruskan perjalanan, karena waktu hukuman/kutukan belum selesai. Batik Madrim diperintahkan kembali ke Mlowopati, tetapi ia ingin menemani Sang Raja. Dalam perjalanan, Angling Darma menyembuhkan orang tuli dan lumpuh. Kemudian, Raja dan Madrim menemukan pengumuman berisi sayembara mengobati puteri raja Basunanda, raja Kertanegara, yang bernama Trusilowati yang sakit bisu. Barang siapa dapat mengobatinya, boleh memperisterinya. Menuju Kerajaan Kertanegara. Di sana Angling Darma dan Madrim menyaksikan dukun-dukun mengobati Trusilowati. Angling Darma, menyamar menjadi pendeta, meminta izin kepada raja Basunanda untuk mengobati Trusilawati. Kata Basunanda, jika Trusilowati berhasil berbicara tiga kali, berarti ia sudah sembuh. Angling Darma mengatakan bahwa roh Trusilowati dibawa oleh Raja Raksana Pancadnyono dari negara Simbarmanyuro, karena dalu lamarannya sempat ditolak. Roh itulah yang kemudian dikembalikan oleh Angling Darma. Untuk mengujinya, Batik Madrim memberi teka-teki patung. Angling Darma menunjukkan kesaktiannya dengan cara menyuruh tempat tembakau dan lampu melanjutkan teka-teki. Telah tiga kali puteri Trusilo menjawab teka teki dengan benar. Berarti ia telah betul-betul sembuh dari penyakit bisunya. Angling Darma dikawinkan dengan Sang Puteri. Raja-raja yang pernah mencoba mengobati Sang Puteri amat marah mendengar Dewi Trusilo sudah dikawinkan. Mereka hendak menyerang Kertanegara, tetapi Angling Darma dan Madrim membela Kerajaan Kertanegara. Angling Darma meminta diri hendak meneruskan perjalanan. Trusilo memaksanya untuk ikut. Di perjalanan, Batik Madrim iri hati dengan keberhasilan Angling Darma mempersunting dua orang puteri cantik. Kata hatinya, semestinya dibagi satu-satu. Hatinya yang dengki menyusun siasat. Ketika Trusilo haus dan ingin meminta air, Madrim menyuruh Angling Darma memasuki badan burung merak untuk mengambil buah kelapa muda. Ketika roh Angling masuk ke badan burung merak, jasad Angling dimasuki roh Madrim. Madrim dengan tubuh Angling menggoda Trusilo, tetapi gagal. Ia lalu berbalik arah menuju Bojonegoro hendak memperdayakan Dewi Srenggono. Dewi Srenggono menolak untuk bertemu karena taat pesan suaminya, bahwa ia akan kembali jika ada kambing mengalahkan gajah. Kelakuan Madrim sungguh aneh. Madrim bertubuh Angling suka bermabuk-mabukan minum arak. Melihat itu semua Merak putih terbang menuju taman Bojonegoro menjumpai Dewi Srenggono isterinya yang sedang tertidur di pinggir taman. Dewi Srenggono meluapkan rindunya kepada suaminya. Juga dituturkannya keadaan puteranya yang sudah mulai besar. Disampaikannya juga perilaku Madrim dengan rupa Angling bahwa ia suka berjudi dan mengadu kambing dengan gajah.
Burung Merak dan Dewi Srenggono mengatur strategi. Madrim bertubuh Angling disuruh datang ke tempat peraduan dengan membawa kambingnya. Di situ, Madrim diberi minum arak. Setelah setengah mabuk, Dewi Srenggono minta agar kambing mengambilkan bunga gading. Tanpa berfikir panjang, roh Madrim meninggalkan jasad Angling dan masuk ke tubuh kambing. Roh Angling Darma pun segera menyusup ke tubuhnya sendiri. Ketika tahu bahwa dirinya tertipu, kambing pun mengamuk menyerang Angling Darma asli. Namun, raja mesti menang dari patihnya. Madrim pun meminta ampun. Angling Darma mengampuni kesalahan patihnya, dan menyuruhnya untuk segera mencari badan wadahnya di dalam gua di tengah hutan. Sejak itu, selesailah sudah hukuman dewa kepada Angling Darma. Kerajaan Bojonegoro selanjutnya diserahkan kepada Angling Darma oleh raja Darmowiseso.
Setelah Putera Angling dengan Dewi Srenggono yang bernama Anglingkusumo telah beranjak dewasa, ia dibawa ke pertapaan oleh datuknya. Di sisi lain Trusilo pun telah melahirkan puteranya dengan diberi nama Danurwendo. Pada waktu ini pula, Raja Raksana Pancadnyono yang merasa memiliki Trusilowati ingin merebut kembali Sang Puteri dari tangan Angling Darma. Pancadnyono menyerang Mlowopati. Patih dan rakyat Mlowopati kekalahan menghadapi serangan pasukan Pancadnyono. Patih Arjo Wijanarko bertekad hendak melawan pasukan yang menyerang. Patih Aryo Wijanarko diberitahu oleh Bagawan Maloyosidi bahwa Pancadnyono bukan tandingannya. Prabu Angling Darma bersama dengan isteri-isteri dan putera-puteranya menuju ke Mlowopati. Rombongan ini diiringi tiga ribu pasukan. Pasukan Pancadnyono dibunuh pada saat mabuk. Danurwendo berperang dengan gagah dan banyak membunuh musuh. Madrim akhirnya berhasil menemukan tubuhnya. Ia segera kembali ke Kerajaan Mlowopati untuk ikut berperang melawan patih Kalasrenggi. Angling Darma dan pasukannya akhirnya memenangi peperangan melawan Pancadnyono. Raja Mlowopati kembali ke keratonnya bersama Dewi Srenggono, Trusilo, dan Mayangkusuno serta putera-puteranya.
Imajiner Nuswantoro
