MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO ꦩꦶꦏꦸꦭ꧀ꦝꦸꦮꦸꦂꦩꦼꦤ꧀ꦝꦼꦩ꧀ꦗꦼꦫꦺꦴ

0

 MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO 

ꦩꦶꦏꦸꦭ꧀ꦝꦸꦮꦸꦂꦩꦼꦤ꧀ꦝꦼꦩ꧀ꦗꦼꦫꦺꦴ



Imajiner Nuswantoro


Mikul dhuwur, mendhem jero" adalah peribahasa Jawa yang secara harfiah berarti 'memikul tinggi, memendam dalam'. Maksud dari peribahasa ini adalah menjunjung tinggi kebaikan orang tua/keluarga dan merahasiakan keburukannya.

Mikul dhuwur mendhem jero (atau mikul duwur mendem jeru) adalah sebuah peribahasa atau falsafah moral dalam budaya Jawa yang berarti menjunjung tinggi kebaikan dan mengubur dalam-dalam keburukan. 


Arti Kata per Kata

- Mikul dhuwur: Memikul atau mengangkat tinggi-tinggi.

- Mendhem jero: Memendam atau mengubur sedalam-dalamnya. 


Makna dan Filosofi

- Menjaga nama baik: Menjunjung tinggi kehormatan, nama baik, jasa, serta harkat dan martabat orang tua, keluarga, guru, atau pemimpin. 

- Menutupi aib: Tidak mengumbar, menyebarkan, atau membicarakan kekurangan, kesalahan, atau aib orang lain (terutama orang tua atau leluhur) ke muka umum. 

Etika dan bakti: Mengajarkan anak untuk berbakti kepada orang tua dengan cara meneladani dan meneruskan kebaikan mereka, serta menjaga kehormatan keluarga.



MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO

Tegese mikule didhuwurake, anggone mendhem dijerokake. Unen-unen iki mujudake pitutur murih sapa wae gelem ngajeni lan ngurmati wong tuwa sing wis ngukir jiwa ragane awake dhewe. Dene carane ngurmati mau ora mung rikala urip wae, nanging uga tekan patine.

Sing diarani mikul dhiwir yaiku ngajeni wong tuwa sadhuwur-dhuwure. Digambarake nalika ngusung jenazah. Kudu dipikul, ora kena digotong kayadene mindhah wong turu. Maknane, kabeh jasane wong tuwa kudu dikatonake, diajeni temenan. Pituture diugemi, pawenehi diuri-uri. Awit ngendi ana wong tuwa duwe pamrih nalika menehi marang anake. Mula si anak uga kudu ngemen-emenake sadhengah warisane. Dene sing diarani mendhem jero, bisa dideleng saka anggone ngubur jenazah. Paling sithik olehe ngubur jenazah kudu sadedeg sapengawe. Ora kena olehe ngubur jenazah mung sedhengkul, ora ilok yen mung waton dipendhem. Awit jasade manungsa yen wis bosok bakal mambu. Lha yen anggone ngubur cethek, urugane amblong, bisa wae ambune sumebar menyang ngendi-endi. Werdine, gandheng mung titah sawantah wong tuwa uga nduweni dosa luput ing alam donya. Ngerti kaya ngono prayogane si anak kudu “mendhem” dosa luput mau kanthi rapet. Aja malah mbeberake menyang liyan. Yen nganti mbeberake, patrap kaya ngono kena diarani patrap anak kang durhaka.


MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO

Mikul: memikul; Dhuwur: tinggi; Mendhem: mengubur; Jero: dalam. Kalau diterjemahkan menjadi “Memikul yang tinggi dan mengubur yang dalam”. Ungkapan ini mengandung pitutur cara bersikap seseorang kepada leluhurnya, kepada pimpinannya dan satu lagi kepada “tanah air”.

“Mikul dhuwur”, pikullah yang tinggi maksudnya supaya seseorang senantiasa menjunjung tinggi nama leluhur atau pimpinan. Sebaliknya “mendhem jero”, mengandung maksud supaya kita melupakan hal-hal kurang baik leluhur kita, pimpinan kita. Kuburlah yang dalam tak usah diungkap-ungkap lagi.

Pitutur ini mengandung pro dan kontra. Kalau bicara leluhur, mungkin kita akan setuju. Andaikan bapak dulu penipu dan embah kala itu maling maka kita akan berupaya supaya hal-hal buruk yang terjadi pada mereka tidak kita ekspose dan tidak akan pernah membahas, syukur bisa melupakan samasekali. Sebaliknya hal-hal kecil terkait dengan kehebatan leluhur pasti akan kita sosialisasikan kemana-mana. Misalnya bahwa embah saya dulu berjuang keras siang malam supaya anak-anaknya bisa sekolah, alhasil semua anaknya menjadi orang. Kalau kita mampu, kita bisa buat buku tentang leluhur kita. Kalau kerja kerasnya menjadi maling, tentunya tidak kita ceriterakan. Andaikan terpaksa ceritera, mungkin yang kita ceriterakan bahwa embah kita dulu maling budiman. Beliau hanya menyateroni rumah Belanda dan pegawai-pegawai Belanda saja.

Ceriteranya menjadi lain ketika kita harus “mikul dhuwur mendhem jero” kepada pimpinan. Bagi yang berpendapat bahwa pimpinan adalah pengganti orang tua, atau menyadari bahwa kita sekarang bisa menjadi seperti ini tak lain adalah atas kebaikan pimpinan, maka kita akan berpendapat seperti di atas. Tetapi bagi yang berpendapat buat apa “mikul dhuwur mendhem jero” kalau yang dipikul tidak mutu dan banyak kelakuan yang tidak pantas dicontoh, tentunya yang terjadi akan bertolak belakang. Pada kesempatan kita ngrumpi bersama teman-teman, baik sambil bekerja maupun di kantin, semua akan “ngrasani” tidak baik kepada pimpinan. Mungkin di seberang sana kuping boss tiba-tiba terasa panas, yang kata orang Jawa ngalamat sedang “dirasani” orang.

Namanya “pitutur” memang tidak harus diikuti. Pitutur bukan perintah. Jadi semua orang bebas menentukan sikap masing-masing dalam “mikul dan mendhem”.

Satu hal yang jarang dibahas adalah “mikul dhuwur mendhem jero” terkait dengan “Cinta tanah air”. Siapkah kita berpendirian seperti Kumbakarna (baca “Serat Tripama”) yang dengan tegas menyatakan “Right or wrong my country”. Ia serahkan nyawanya untuk ibu pertiwi. Ada sebuah peribahasa dalam bahasa Indonesia “Dimana bumi dipijak disitu adat dijunjung”, ini adalah pernyataan “mikul dhuwur mendhem jero” yang amat mendalam terhadap bumi tempat kita berpijak yang tak lain adalah tanah air kita.



Imajiner Nuswantoro


MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO

Artinya memikul ntinggi, mengubur dalam-dalam. Peribahasa ini adalah nasihat agar siapa pun mau menghargai dan menghormati orang tua yang telah mendidik dan membesarkan jiwa dan raga kita. Adapun penghormayan tersebut tidak hanya diberikan ketika mereka masih hidup, tetapi juga setelah mereka tiada.

Mikul dhuwur (memikul dengan tinggi) berarti menghargai orang tua setinggi-tingginya. Gambarannya seperti ketika memikul jenazah. Jenazah harus dipikul, bukan digotong seperti mengangkat orang dari tidurnya. Maknanya seluruh jasa orang tua harus ditujukkan, sungguh-sungguh dihargai. Nasihat mereka ditepati, pemberian mereka dijaga baik-baik. Tidak ada orang tua yang memberi sesuatu dengan tidak ikhlas. Maka si anak juga harus memulikan warisan dari orang tua sebaik mungkin. Adapun yang disebut dengan mendhem jero (mengubur dalam-dalam), dapat dilihat dari cara orang mengubur jenazah. Paling tidak, kedalaman lubang kubur adalah setinggi tubuh posisi berdiri. Tidak boleh mengubur jenazah hanya selutut, karena tidak layak jika mayat dikubur asal-asalan saja. Mayat itu nantinya akan busuk dan berbau. Jadi, jika hanya dikubur di dalam lubang yang dangkal, lalu timbunan tanah makam itu melesak, bisa saja bau busuk bertebaran ke mana-mana. Maknanya, orang tua juga hanya makhluk alias ciptaan Allah, orang tua juga memiliki dosa dan salah ketika hidup di dunia. Dengan pemahaman seperti itu, seyogyanya si anak “mengubur” aib orang tua. Bukannya malah membeberkan ke mana-mana. Jika demikian, dapat disebut perbuatan anak durhaka.


Berikut adalah beberapa contoh kalimat yang menggunakan pepatah Jawa "mikul dhuwur mendhem jero" (menjunjung tinggi kebaikan dan memendam atau menutupi aib/kekurangan orang tua atau pemimpin):

- Contoh 1 (Konteks keluarga / orang tua):

"Sebagai seorang anak, sudah sepatutnya kita mikul dhuwur mendhem jero kepada kedua orang tua; menceritakan kebaikan serta jasa-jasa mereka, dan menutup rapat segala kekurangan atau aibnya."

- Contoh 2 (Kutipan / dialog):

"Bapak Presiden," jawab saya, "saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua dan senantiasa mikul dhuwur mendhem jero terhadap mereka."

- Contoh 3 (Konteks kepemimpinan / masyarakat):

"Seorang pemimpin yang baik akan mengajarkan warganya untuk saling menjaga kehormatan, yaitu dengan mikul dhuwur mendhem jero—mengangkat prestasi serta jasa sesama, dan mengubur dalam-dalam perselisihan serta aib di masa lalu."

- Contoh 4 (Konteks menjaga nama baik keluarga):

"Meskipun kondisi keluarga sedang sulit dan ada masalah di rumah, ia tetap memegang teguh prinsip mikul dhuwur mendhem jero agar tidak memperkeruh keadaan di luar."


Dalam konteks warisan atau implementasi nyata di kehidupan, bentuk perwujudan dari filosofi ini meliputi:

- Penghormatan Kepada Orang Tua Semasa Hidup: Berbakti, berbicara dengan santun, merawat saat mereka menua, dan tidak mempermalukan kekurangan orang tua di hadapan orang lain. 

- Menjaga Nama Baik Keluarga: Tidak menceritakan aib, kekurangan ekonomi, atau konflik internal keluarga kepada pihak luar, demi melindungi kehormatan keluarga besar. 

- Melanjutkan Kebaikan dan Jasa Leluhur: Merawat nilai-nilai luhur, tradisi baik, atau pesan moral yang ditinggalkan oleh kakek-nenek dan pendahulu tanpa mengumbar kesalahan masa lalu mereka. 

- Etika Hubungan Murid dengan Guru atau Bawahan dengan Pemimpin: Menghargai ilmu serta jasa seorang guru atau pemimpin, serta tidak menyebarkan kelemahan pribadi mereka secara tidak pantas ke ruang publik. 



5 Nasihat Baik di Balik Pepatah Jawa 'Mikul Dhuwur, Mendhem Jero'.

Pepatah Jawa sama halnya dengan peribahasa yang kita kenal, juga mengandung nasihat dan petuah. Hal itu biasanya bisa digunakan sebagai petunjuk untuk menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Salah satu pepatah Jawa yang terkenal adalah, 'mikul dhuwur, mendhem jero'.

Dalam bahasa Indonesia, isi pepatah ini bisa diartikan, mengangkat tinggi dan mengubur dalam. Lantas apa makna di balik pepatah tersebut ? Bagi orang Jawa, pepatah 'mikul dhuwur, mendhem jero' ini punya maksud sebagai anak, kita diwajibkan mengangkat tinggi derajat orangtua, serta menutup rapat-rapat aib keluarga.

Dari pepatah ini ada beberapa nasihat baik yang gak ada salahnya kamu ketahui. 

Berikut lima di antaranya :

1. Selalu berpikir dulu sebelum bertindak.

Sebagai seseorang yang sudah dewasa, seharusnya kamu gak lagi gegabah dalam bertindak atau mengambil keputusan. Mesti dipikir dulu apa dampak baik dan buruknya. Jangan sampai gara-gara kurang persiapan atau salah strategi, kamu malah kena sial.

Belum lagi jika konsekuensi tersebut bakal menyangkut nama baik keluargamu juga. Karena pada dasarnya, kamu tetap menyandang nama orangtua. Baik dan buruknya sikapmu, sedikit banyak bakal berpengaruh pada citra kedua orangtuamu.

Kalau kamu mendapat pujian, mereka pula yang senang. Begitu pula sebaliknya. Saat kamu mendapatkan kemalangan akibat perbuatanmu sendiri, ayah dan ibumu juga akan ikut menanggung malu, lho. Jadi, mulai sekarang lebih berhati-hati sebelum melangkah, ya.

2. Melakukan yang terbaik demi membuat orangtua bangga.

Meskipun sudah dewasa dan bisa menghidupi dirimu sendiri, jangan pernah melupakan kedua orangtuamu, ya. Sebab kesuksesan yang kamu dapatkan sekarang, gak lepas dari doa serta jerih payah mereka. Untuk itu, selagi bisa buatlah kedua orangtuamu bangga. Caranya simpel saja, mereka juga gak pernah menuntut materi darimu. Melihat anak-anaknya sukses dan hidup berkecukupan saja sudah membuat ayah serta ibumu bangga. Angkat derajat mereka dengan menjadi sosok anak yang bisa dibanggakan.

Misalnya, selesai kuliah tepat waktu, lalu memiliki pekerjaan yang stabil dengan gaji yang lumayan. Niscaya, kedua orangtuamu akan merasa bangga sekali.

3. Bertanggung jawab dengan apa yang diperbuat.

Meskipun sudah berhati-hati dalam melangkah, ada kalanya kamu jatuh juga. Jika hal tersebut terjadi padamu, gak perlu larut dalam penyesalan. Paling penting kamu harus mau bertanggung jawab. Apa pun risikonya, itu sudah jadi harga yang mesti dibayar. Jangan sampai kamu justru melibatkan orangtua dalam masalahmu ini.

Boleh saja minta saran dari mereka, tapi pantang menyuruh ayah atau ibumu untuk turun tangan dan menyelesaikannya. Apalagi, posisinya kamu yang salah. Mereka, sih kemungkinan besar akan membantumu. Tapi jika kamu bisa menyelesaikannya sendiri, pasti akan membuat keduanya lebih bangga, deh.

4. Tidak sesumbar soal masalah keluarga.

Setiap keluarga pasti punya persoalannya masing-masing. Begitu pula dengan keluargamu. Terkadang, mendengar orangtua berdebat di rumah, membuat hatimu sakit dan menderita. Alhasil, kamu merasa butuh tempat untuk berkeluh-kesah. Curhat ke teman, sih sah-sah saja. Tapi ingat, gak boleh sembarangan cari teman curhat. Harus dipastikan dulu, apakah kawanmu ini bisa dipercaya atau tidak. Selain itu, kamu harus memilah mana cerita yang boleh dibeberkan dan mana yang tidak. Jangan asal diceritakan semua, karena ini menyangkut aib keluarga. Gak mau, kan nantinya masalah keluargamu malah disebarkan ke banyak orang? Kalau sampai ayah dan ibumu tahu, mereka pasti akan sangat kecewa dan malu.

5. Menceritakan hal yang baik tentang kedua orangtua.

Setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk. Begitu pula dengan kedua orangtuamu. Nah, di antara sikap baiknya itu untuk apa kamu malah menceritakan keburukannya ? Meskipun mungkin di antara keluarga besar kalian, itu sudah menjadi rahasia umum. Tapi tetap saja kurang pantas, jika kamu malah membahasnya terus. Lebih baik kabarkan tentang kebaikan mereka. Meskipun hanya berupa hal yang sepele. Karena kata-kata itu seperti doa. Siapa tahu, kerika ayah dan ibumu mendengar, kamu selalu berbicara baik tentang mereka, keduanya akan sama-sama sadar, dan berbuat baik seperti yang kamu ceritakan. Ternyata ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari pepatah Jawa 'mikul dhuwur mendhem jero', ya. Dimana semuanya mengingatkan kita untuk selalu berusaha menjadi anak yang berbakti pada orangtua. Salah satunya dengan menjunjung tinggi harkat serta martabat mereka. Juga tak lupa untuk menutup aib keluarga. Sekarang, apakah sejauh ini para pembaca yang budiman artikel ini, sudah melakukan seperti apa kata pepatah Jawa ini ?




Imajiner Nuswantoro 



Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)